Anda di halaman 1dari 56

BUKU PETUNJUK PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK BLOK HEMATO IMMUNOLOGI

Penyusun :
TIM PATOLOGI KLINIK

LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK JURUSAN KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2009

TATA TERTIB PRAKTIKUM


1. 2. 3. 4. Mahasiswa wajib mengikuti semua kegiatan praktikum yang telah dijadwalkan Mahasiswa wajib hadir 10 menit sebelum praktikum dimulai. Mahasiswa wajib memakai jas praktikum. Mahasiswa wajib mengisi daftar hadir praktikum setiap kali mengikuti kegiatan praktikum 5. Sebelum praktikum dimulai dilakukan pretest, nilai pretest masuk dalam komponen penilaian praktikum. 6. Praktikum dilaksanakan dengan tertib dan sungguh-sungguh. 7. Mahasiwa wajib mengikuti praktikum dengan tertib, dilarang merokok bersendau gurau, tidak berbicara diluar konteks mata acara praktikum yang sedang berlangsung dan atau melakukan kegiatan/perilaku yang dapat mengganggu kegiatan praktikum 8. Di dalam ruang praktikum, mahasiswa wajib bekerja dengan hati-hati untuk menghindari kecelakaan di dalam ruang praktikum (laboratorium) 9. Mahasiswa wajib mengganti alat-alat praktikum. apabila merusakkan. 10. Tiap kelompok wajib membuat laporan sementara hasil praktikum dan disahkan oleh dosen pembimbing praktikum. 11. Sebelum meninggalkan ruangan, pastikan alat-alat dan reagen praktikum dalam keadaan bersih dan rapi. 12. Laporan kelompok dikumpulkan 3 hari setelah praktikum. 13. Mahasiswa yang berhalangan hadir dalam praktikum wajib memberitahukan secara tertulis kepada seksi akademik atau ketua blok. 14. Ketidakhadiran dalam praktikum harus disertai dengan alasan yang dapat diterima. Alasan yang dapat diterima untuk tidak hadir dalam praktikum adalah: i) Ada anggota keluarga (Bapak, Ibu dan Adik/Kakak) yang meninggal ii) Sakit, yang harus dibuktikan dengan surat keterangan dokter. Ketua dan seksi akademik blok HEMATO IMMUNOLOGI berwenang memutuskan apakah surat keterangan sakit tersebut valid atau tidak iii) Melaksanakan tugas dari Jurusan Kedokteran FKIK Unsoed, yang dibuktikan dengan surat tugas dari Sekjur III

PENGAMBILAN BAHAN PEMERIKSAAN


A. SIKAP DAN PEMERIKSAAN Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan bahan untuk pemeriksaan hematologi : 1. Faktor pemeriksa - Tidak kasar / sabar. - Tidak menakutkan terutama bila penderita anak kecil. - Tidak menunjukkan sikap ragu ragu. - Terampil dan tidak ceroboh. - Bekerja secara sistematis. - Bekerja secara aseptis, bersih. - Tidak makan / minum / merokok di laboratorium. - Hindarkan pencemaran lingkungan. - Perhatikan keselamatan orang lain dan diri sendiri. 2. Persiapan penderita - Bila tidak ada keperluan tertentu, bahan pemeriksaan diambil dalam keadan puasa 12 jam. - Bila penderita makan sesaat sebelum diambil darahnya, maka akan meningkatkan volume plasma. - Aktivitas fisik akan meningkatkan, Hb, Eritrosit, LED. - Posisi pada saat pengambilan tidur akan menurunkan nilai Hb dan Hematokrit. - Beberapa jenis obat akan mempengaruhi hasil pemeriksaan. B. MACAM BAHAN PEMERIKSAAN Macam bahan yang akan diambil sesuai dengan pemeriksaan yang akan dilakukan. Misal darah vena: untuk pemeriksaan darah rutin, darah kapiler untuk hitung sel. Macam bahan pemeriksaan : 1. Darah Vena Bayi baru lahir : Vena Umbilicalis. Bayi : Vena Jugularis Ekterna. Dewasa : Semua Vena Superficial. Terbaik Vena Mediana Cubiti. 2. Darah Kapiler Anak : Ujung ibu jari kaki. Dewasa : Ujung jari tangan. C. CARA PENGAMBILAN DARAH KAPILER Sampel darah kapiler dapat digunakan untuk pemeriksaan : Hb. Hitung sel. Mikrohematokrit. Golongan darah. Parasit malaria. Alat yang digunakan : Lanset steril dan kapas. 3

Reagensia : alkohol 70 %. Cara pengambilan : 1. Masase jari tangan ( telunjuk, jari tengah atau jari manis ). Desinfeksi dengan alkohol 70 %, biarkan kering jangan ditiup. Gambar :

2. Lokasi penusukan ujung jari tangan sebelah kiri / kanan ( lihat gambar ) lakukan penusukan dengan lancet secara sekonyong konyong, sedalam kurang lebih 2 3 mm sampai darah mengalir bebas. Gambar :

3. Buang tiga tetesan yang pertama. Gambar :

4. Mengambil sampel langsung dari jari. Gambar :

5. Gunakan kapas untuk menghentikan darah sesudah pengambilan sampel selesai. Gambar :

Catatan : Bila melakukan penusukan kemungkinan akan mendapatkan kesulitan, bungkus dulu ujung jari dengan kain yang dicelupkan kedalam air hangat. Harus bekerja secara cepat agar darah tidak membeku. Bila penusukan lambat akan menyebabkan darah membeku sebagian dan akan menyebabkan hasil rendah palsu. Bila tusukan kurang dalam dan kemudian diperas peras akan menyebabkan hasil rendah palsu. Tempat tusukan cyanotic juga akan mempengaruhi hasil pemeriksaan. DARAH VENA Sampel darah yang didapat ditampung dengan atau tanpa antikoagulan. Dengan darah vena dapat diperoleh bermacam macam sampel yaitu : Whole Blood / darah penuh. Plasma. Serum. Defibrinated Blood. Clot Blood. Tempat pengambilan : Semua vena superficialis, biasanya vena mediana cubiti. Alat yang dipergunakan : - Disposible spuit. - Torniquet. - Kapas. - Botol penampung. Reagensia : - Alkohol 70 %. - Antikoagulan. Cara pengambilan : 1. Bendung di sebelah proximal vena yang akan diambil agar tampak lebih jelas, penderita diminta mengepal ngepalkan tangannya. Gambar :

2. k k n

la u a

desinfeksi pada daerah tersebut dengan kapas alkohol 70 % 5

Gambar :

3. Periksa spuit, adakah udara, jarum kencang, bisa dihisap dengan mudah. Gambar :

4. Setelah alkohol kering ( tidak ditiup tiup ), kulit ditegangkan, tusuk dengan jarum dengan sudut 45 derajat , arah jarum sejajar dengan arah vena, jarum menghadap keatas. Gambar :

5. Setelah vena terasa tertusuk, jarum diputar menghadap ke bawah. Tusukan dilanjutkan menghadap ke vena. Darah mengalir dengan sendirinya bila tusukan tepat. Kepalan tangan dibuka, darah dihisap pelan pelan. Ambil darah sesuai kebutuhan. Gambar :

6. Lepas torniquet, jarum ditarik, tekan dengan kapas alkohol. Penderita diminta untuk tetap menekan dengan kapas alkohol. Gambar : 7.

Lepas jarum dari spuit, tuang darah kedalam botol penampung, dengan cara mengalirkan darah lewat dinding botol penampung. Campur perlahan lahan dengan cara menggeser atau membolak balikkan botol. 8. Jangan lupa memberi identitas penderita. Gambar :

Catatan : Daerah pengambilan mengalami kongesti akan menyebabkan hemokonsentrasi. Khusus untuk pemeriksaan koagulasi penusukan harus satu kali / tidak diulang ulang. Alat penampung harus bersih dan kering. Bila ada penundaan pemeiksaan harus diberi anti koagulan. Pada saat menuang darah spuit kedalam botol, jarum harus dilepas, tidak boleh disemprotkan ( harus dialirkan lewat diding tabung ) dan tidak boleh dikocok terlalu keras. D. ANTIKOAGULANSIA Karena suatu hal kadang kadang kita tidak dapat segera melakukan pemeriksaan sehingga kita memerlukan zat yang menyebabkan darah tidak membeku. Ada macam macam cara yang dilakukan : 1. Dengan memakai antikoagulansia. 2. Dengan memperoleh darah defebrilasi. 3. Dengan menggunakan alat alat yang dilapisi silicon ( dengan alat ini pembekuan diperlambat )

MACAM ANTIKOAGULANSIA 7

1. EDTA ( Ethylen Diamine Tetra Acetic Acid ) - Dipakai dalam bentuk garam Natrium atau Kaliumnya. - Sedikit toxic. - Dipakai untuk hematologi rutin. - Takaran yang diperlukan adalah 1 mg / ml darah. - Bila dosis > 2 mg / ml darah akan menyebabkan : Sel merah degenerasi. Hematokrit menurun. MCV menurun. MCHC meningkat. Trombosit false meningkat. - Digunakan untuk pemeriksaan : Rutin. Hematokrit. Osmotic Fragility Test. Golongan darah. Hitung sel. Tidak dapat digunakan dalam studi koagulasi, prothrombin time. Dapat digunakan dengan konsentrasi 10 %. 2. HEPARIN - Takaran menurut Dacie : 12,5 17,5 IU / ml darah. - Kosasih : 1,0 mg / 10 ml darah. - Harga mahal. - Guna untuk pemeriksaan : - Osmotic Fragility Test. - Hemoglobin. - Hitung sel. - Hematokrit. - Golongan darah. - Tidak dapat digunakan untuk darah hapus yang menggunakan cat Romanowsky. 3. TRI SODIUM SITRAT - Dipergunakan dalam bentuk larutan : 0,106 M = 3,13 % - Takaran = 9 volume darah : 1 volume anti koagulan. - Digunakan untuk studi koagulasi. 4. NATRIUM SITRAT 3,8 % - Tidak toxic, maka dapat dicampur dalam spuit saat pengambilan darah. - Aturan pakai : Untuk studi koagulasi dipakai perbandingan darah dan antikoagulan 9 : 1. LED dipakai darah dan antikoagulan 4 : 1. - Dapat digunakan untuk pemeriksaan : - LED ( Laju Endap Darah ) - Studi koagulasi. - Transfusi. 5. NATRIUM FLUORIDE - Digunakan untuk pemeriksaan glukosa darah. - Antikoagulan ini dapat mencegah glukolisis. - Takaran pemakaian 10 mg / ml darah. 8

6. ACD ( Acid Citrate Dextrose ) - Takaran pakai tiap 1 ml untuk 4 ml darah. - Digunakan dalam : - Dinas transfusi. - Menyimpan darah. - Pemeriksaan radio isotop ( pemeriksaan hematology ) Penyimpanan bahan Untuk pemeriksaan hematologi dapat mungkin tidak menunda pemeriksaan, tetapi bila terpaksa menunda harus diberi antikoagulan. Batas waktu yang disarankan bila darah disimpan di temperatur ruang : - Hemoglobin : relatif stabil. - Leukosit : 2 jam. - Eritrosit / hematokrit : 6 jam. - Hapusan darah : 1 jam. - LED : 2 jam. - Trombosit : 1 jam. - Retikulosit : 6 jam. Pengiriman bahan Bila bahan pemeriksaan hematologi harus kita kirim / rujuk ke lain tempat maka harus diperhatikan hal hal di bawah ini : - Jarak tempat rujukan dengan batas kadaluwarsa. - Penampung harus benar benar rapat, terfixir sehingga tidak ada yang tumpah, tidak hemolisis karena goncangan, tidak ada es yang tercampur. - Harus diberi es / es kering. - Perhatikan proses pengangkutan bila kita tidak mengirim sendiri bahan tersebut. E. PROSES PEMERIKSAAN Dipengaruhi oleh berbagai macam sebab : - Bahan pemeriksaan. - Alat yang digunakan. - Reagensia yang dipakai, batas kedaluwarsa dan kualitasnya. - Suhu ruangan. - Stabilitas tegangan listrik. - Metode yang digunakan. - Faktor pemeriksa : - Penguasaan teori. - Teliti. - Trampil. - Motivasi. F. PENCATATAN DAN PELAPORAN Pencatatan dan pelaporan sangat penting sebab walaupun semua proses berjalan dengan baik kalau proses pencatatan dan pelaporan tidak baik, hasil yang keluar juga tidak baik. G. SISTEM SATUAN NILAI DAN NILAI RUJUKAN Dalam pelaporan hasil harus diperhatikan : - Satuan yang dipergunakan menggunakan satuan konvensional atau Satuan Internasional ( SI ) - Nilai normal yaitu nilai yang didapatkan pada kelompok orang yang nampak sehat. - Nilai rujukan yaitu nilai yang didapatkan pada kelompok tertentu 9

PEMERIKSAAN DARAH RUTIN


MACAM PEMERIKSAAN DARAH RUTIN : 1. Hemoglobin. 2. Jumlah Leukosit. 3. Laju Endap Darah. 4. Hitung jenis Leukosit / Diff. Count. 1. PEMERIKSAAN KADAR HEMOGLOBIN Metode yang dipergunakan : A. Kolorimetri visual 1. Tallquis. 2. Spencer. 3. Haden Housser. 4. Sahli. B. Kolorimetrik / Fotoelektrik A.4. Metode SAHLI Alat yang dipergunakan : - Alat untuk mengambil darah vena atau kapiler. - Hemometer Sahli. Hemometer Sahli terdiri dari : 1. Tabung pengencer panjang 12 cm, dinding bergaris mulai angka 2 (bawah) s/d 22 ( atas ) 2. Tabung standart Hb. 3. Pipet Hb dengan pipet karet panjang 12,5 terdapat angka 20 ul. 4. Pipet HCL. 5. Botol tempat aquadest dan HCL 0,1 N. 6. Batang pengaduk ( dari kaca ) Gambar :

Prinsip pemeriksaan : Mengukur kadar Hb berdasar warna yang terjadi akibat perubahan Hb menjadi asam hematin setelah penambahan HCL 0,1 N ( tidak semua Hb terukur ). Sampel : - Darah vena. - Darah kapiler. Cara pemeriksaan : 10

Isi tabung pengencer dengan HCL 0,1 N sampai angka 2 ( 5 tetes). Dengan pipet Hb hisap darah sampai angka 20 ul, jangan sampai ada gelembung udara yang ikut terhisap. Hapus darah yang ada pada ujung pipet. Tuang darah kedalam tabung pengencer, bilas dengan HCL bila masih ada darah dalam pipet, aduk sampai darah dan reagen tercampur. Diamkan 1 3 menit Tambahkan aquadest tetes demi tetes, aduk dengan batang kaca pengaduk. Bandingan larutan dalam tabung pengencer dengan warna larutan standart. Persamaan campuran dgn batang standard harus dicapai dalam waktu 3 5 menit setelah darah tercampur dengan HCL. Bila sudah sama warnanya penambahan aquadest dihentikan, baca kadar Hb pada skala yang ada di tabung pengencer / gr / 100 ml darah. : 12,5 18,0 gr % : 11,5 16,5 gr % : 13,5 19,5 gr % : 9,5 13,5 gr % : 10,5 13,5 gr % : 12,0 14,0 gr % : 11,5 14,5 gr %

Nilai rujukan menurut Dacie : - Dewasa laki laki - Dewasa wanita - Bayi < 3 bulan - Bayi > 3 bulan - Umur 1 tahun - Umur 3 6 tahun - Umur 10 12 tahun Pemeliharaan alat : -

BEGITU SELESAI PEKERJAAN LANGSUNG DIBERSIHKAN. TABUNG PENGENCER SANGAT LUNAK SEHINGGA PERLU DILETAKAN PADA DASAR YANG LUNAK.

Catatan : - Cara Sahli kurang teliti jika dibandingkan dengan cara cyanmethemoglobin tetapi masih jauh lebih baik daripada Tallquis yang menggunakan kertas dan dicocokan dengan kertas standar. - Kesalahan sebesar 10 %. - Kesalahan yang terjadi akibat : 1. Keadaan alat : - volume pipet tidak tepat. - warna tabung standar sudah pucat. 2. Tehnik / pemeriksa : - Ketajaman mata berbeda beda. - Intensitas sinar kurang. - Terdapat gelembung udara. - Darah pada ujung pipet tidak dihapus. - Waktu tidak tepat satu menit, sehingga asam hematin belum sempurna terbentuk. 3. Reagensia : HCL 0,1 N. Bila menggunakan darah kapiler kemungkinan akan memberikan hasil yang lebih rendah bila dipijit pijit pada waktu pengeluaran darah setelah penusukan.

B. Cyanmethemoglobin ( Kalorimetri Fotometrik ) 11

Reagen larutan Drabkin, yang terdiri dari : Sodium Bikarbonat ( NaHCO3 ) 10,0 gram. Potasium Ferrycyanida ( K3 Fe ( CN ) 6 ) 0,2 gram. Aquadest 1000,0 cc. Stabilitas : Tahan 3 minggu 1 bulan. Simpan dalam botol berwarna coklat, ditempat yang sejuk. Prinsip pemeriksaan : Hb ( Fe ++ ) Ferry Cyanida Hemoglobin Hb ( Fe +++ ) Methemoglobin KCN Hb ( Fe +++ ) Methemoglobin Hb ( Fe +++ ) CN Cyanmethemoglobin

Cara kerja : Ke dalam tabung kolorimeter masukan 5,0 ml larutan Drabkin. Dengan pipet hemoglobin diambil 20 ul darah ( kapiler, EDTA, atau oxalat ) bagian luar ujung pipet dibersihkan, lalu darah itu dimasukan kedalam tabung kolorimeter dengan membilas beberapa kali. Campurlah isi tabung dengan membalikkannya beberapa kali. Bacalah dalam spektrofotometer pada gelombang 540 nm,sebagai blanko digunakan larutan Drabkin. Kadar Hb ditentukan dari perbandingan absorbansinya dgn absorbansi standard cyanmethemoglobin atau dibaca dari kurve tera. Kesalahan yang mungkin terjadi : Sampel. Metode. Analisis. Alat. Akurasi dipengaruhi : Pipet : - akurat 20 ul. - kering. - bersih. - tidak retak. Tuang darah tepat diatas larutan reagen, bilaslah. Waktu inkubasi tepat. Alat : - Warming up 5 10 menit. - Panjang gelombang 546 nm. - Alat ditera. Reagen tidak kadaluwarsa.

12

2. JUMLAH LEUKOSIT. Alat yang digunakan : Hemositometer : - Bilik hitung. - Pipet Leukosit. - Pipet Eritrosit. - Bilik hitung

Kaca penutup. Mikroskop. Bilik hitung terbaik untuk pemeriksaan jumlah leukosit adalah bilik hitung Neubauer Improved atau Burker karena mempunyai daerah perhitungan yang luas. Neubauer Improved : Luas seluruh bilik = 3 x 3 mm2. Didalam bilik terdapat : Kotak besar : 1 x 1 mm2. Kotak sedang ada 2 macam : Ditengah : 1/5 x 1/5 mm2. Di empat sudut : x mm2. Kotak kecil : 1/20 x 1/20 mm2. Tinggi / dalam : 0,1 mm. Kotak sedang : W : Leukosit ( 1,3,7,9 ) : x mm2. R : Eritrosit ( 5 ) : 1/5 x 1/5 mm2. Gambar :

Pipet Leukosit : - Didalamnya terdapat bola berwarna putih. - Mempunyai garis 0,5 1 11. Gambar :

13

Reagensia : Larutan Turk terdiri dari : Gentian Violet 1 % : 1 ml. Asam Acetat Glacial : 1 ml. Aquadest ad : 100 ml. Bahan : Darah vena atau darah kapiler. Prinsip pemeriksaan : Menghitung sel leukosit di dalam suatu larutan yang merusak sel sel lain dengan bilik hitung. Cara kerja : Bilik hitung dicari dengan mikroskop, cari kotak sedang di pojok ujung bilik hitung. Hisap darah dengan pipet leukosit sampai angka 1 ( pengenceran = 10 kali ) atau sampai 0,5 ( pengenceran = 20 kali ). Gambar :

Hapus darah yang melekat pada ujung pipet. Kemudian dengan ujung pipet yang sama hisap larutan Turk sampai garis tanda 11. Hati hati jangan sampai ada gelembung udara Angkatlah pipet dari cairan tutup ujung pipet dengan ujung jari lalu lepaskan karet penghisap. Kocok dengan arah horizontal selama 15 30 detik.

Gambar :

Buang 3 tetesan yang pertama. Tuang pada bilik hitung yang telah ditutup dengan kaca penutup dan diletakan di mikroskop. Gambar : 14

Lakukan penghitungan sel leukosit dengan pembesaran obyektif 10 x atau 40 x.

Perhitungan : Jumlah Leukosit = Jumlah leukosit x 16 x 10 (tinggi bilik hitung) x 10 (pengenceran) Jumlah kotak Contoh : Dihitung dalam 12 kotak sedang = 90 sel Leukosit. Pengenceran = 10 x. 90 Jumlah sel Leukosit = x 16 x 10 x 10 = 12.000 / mm3 12 Nilai rujukan menurut Dacie : Dewasa pria : 4 11 ribu / mm3. Dewasa wanita : 4 11 ribu / mm3. Bayi : 10 25 ribu / mm3. 1 tahun : 6 18 ribu / mm3. 12 tahun : 4,5 13 ribu / mm3. Kesalahan biasanya oleh karena : Alat. Reagensia. Sampel. Pemeriksa. Perawatan alat : Pipet leukosit : Begitu selesai digunakan harus segera dicuci, dengan aquadest dan disemprot aceton. Bila tersumbat jendalan darah diambil dengan kawat lembut. Bila gagal rendam dalam larutan ( salah satu ): Ethanol 95 %. Asam Acetat 0,5 %. Dikromat cleaning solution. Larutan Sodium Bikarbonat 1 %. Bilik hitung : Bersihan secepat mungkin. Rendam dalam larutan deterjen 2 3 jam. Bilas air. 15

Bilas alkohol. Keringkan dengan kain halus.

3. LAJU ENDAP DARAH ( L E D ) Macam pemeriksaan Laju Endap Darah : 1. Westergreen. 2. Wintrobe ( juga dapat mengukur hematokrit sekaligus ) 3. Cutler. 4. Hellige vollmer ( menggunakan darah kapiler ) Prinsip Pemeriksaan : Apabila sejumlah darah diberi antikoagulan, diletakan dalam tabung gelas dalam posisi tegak lurus maka sel sel akan mengendap, sebaliknya plasma akan bergerak ke atas. Hal ini karena perbedaan berat jenis. WESTERGREEN Alat : 1. Tabung Westergreen. 2. Rak Westergreen. Reagensia : Larutan Natrium Sitrat 3,8 %. Bahan : Darah EDTA. Cara pemeriksaan : Isaplah dalam semprit steril 0,4 ml lar natrium sitrat 3,8 %, masukan dalam tabung Hisaplah 1,6 ml darah, masukan tabung, campur dengan Na sitrat 3,8%, sehingga mendapatkan 2,0 ml campuran. Isaplah darah itu ke dalam pipet Westergreen sampai garis bertanda 0 mm, kemudian biarkan pipet itu dalam keadaan tegak lurus dalam rak Westergreen selama 60 menit. Bacalah tingginya lapisan plasma dg milimeter dan laporkanlah angka itu sebagai laju endap darah. Gambar :

Nilai rujukan menurut : JENIS KELAMIN PRIA WANITA Pemeliharaan alat : 16 DACIE 0 5 mm / jam 0 7 mm / jam WESTERGREEN 0 15 mm / jam 0 20 mm / jam

Tidak boleh dicuci dengan deterjen. Cuci dengan aquadest, bilas dengan aceton.

Catatan : kesalahan karena : Sampel harus fresh kurang dari 2 jam, darah tidak beku diberi antikoagulan. Alat kotor akan menyebabkan hemolisa. Kolom tidak sesuai, misalnya sempit maka akan lebih lama. Analisis : Terhisap gelembung udara. Posisi tabung dalam rak miring. Diletakan ditempat yang panas dan sebagainya. Adanya vibrasi ( getaran ) 4. MEMBUAT PREPERAT DARAH HAPUS. Yang digunakan pulasan menurut prinsip Romanowsky: 1. Wright. 2. Giemsa. 3. Pulasan paduan May Grunwald & Giemsa. Alat yang dibutuhkan : 1. Obyek glass yang bersih. 2. Spreader / penggeser. 3. Pipet darah dan pengaduk. 4. Bak pengecatan. 5. Bak pengeringan. 6. Timer. 7. Gelas ukur. Reagensia : 1. Giemsa. 2. larutan penyangga pH 6,4 atau dengan aquadest pH 6,4. 3. Methanol ( 90 % ) untuk fiksasi. Bahan : Darah vena atau kapiler. Cara membuat preparat darah hapus : 1. Ambil obyek glass yang bersih, letakan 1 tetes darah ( tidak melebihi 2 mm ) disisi kanan. Gambar :

17

2. Sentuh tetesan darah dengan spreader, darah akan melebar sepanjang spreader. Gambar :

3. Dorong spreader ke arah kiri dengan sudut 450 keringkan. Gambar :

4. Amati preparat baik bila : Tipis. Rata. Tidak terputus putus. Ekor tidak robek. Bentuk seperti peluru. Gambar :

Biarkan sediaan kering di udara, beri identitas di kepala dengan menggunakan lidi/ pensil/ label. 18

5. Fiksasi dengan methanol 90 % selama 10 menit ( beberapa buku menyebutkan cukup 2 3 menit )

6. Preparat yang telah difiksasi digenangi larutan Giemsa selama 20 menit. 7. Bilaslah dengan air yang mengalir, keringkan di udara. 5. MEMBACA PREPARAT HAPUS DARAH TEPI . Gambar :

II

III

IV

VI

Preparat darah tepi dibagi dalam beberapa zone seperti diatas. Bila dilihat dengan mikroskop akan tampak sebagai berikut : Gambar :

Zone I (Irreguler zone) 3%

Zone II (Thin zone) 14%

Zone III Thick zone) 45%

Zone IV (Thin Zone) 18%

Zone V (even zone) 11%

Zone VI (Very thin zone) 14%

Dengan pemeriksaan 10 x ( obyektif ) Orientasi seluruh lapangan pandang. Periksa adanya sel sel asing, parasit. Estimasi jumlah leukosit. Dengan pembesaran 40 x ( obyektif ) Hitung jenis sel darah putih. Morfologi sel darah merah. 19

Dengan pembesaran 100 x ( obyektif ) Penegasan. Bangunan khas. Estimasi Trombosit menurut Barbara Brown. 6..HITUNG JENIS LEUKOSIT. Arah perhitungan tertentu seperti dibawah ini : Gambar :

Bandingkan ukuran masing masing sel dan amati bentuk inti, granula. Stab / batang.

Segmen.

Eosinofil.

Basofil

Limfosit.

Monosit.

20

Tabel hitung jenis leukosit normal. 1 Eos Bas Staf Sg Limf Mono Jml 2 3 4 5 6 7 8 9 10 jumlah

10

10

10

10

10

10

10

10

10

10

100

Distribusi sel Limfosit : di tengah. Monosit : tepi / ekor. Neutrofil : tepi / ekor. Pelaporan : Eos / Baso / Staf netro / Segmen netro / Limfo / Mono Misal : 4 / - / 1 / 56 / 38 / 1. Eritrosit berinti muda dilaporkan :./ 100 Leukosit. Nilai normal menurut Miller : Eosinofil : 1 4 %. Basofil : 0 1 %. Stab : 2 5 %. Segmen : 50 70 %. Limfosit : 20 40 %. Monosit : 1 6 %.

21

PEMERIKSAAN DARAH KHUSUS / LAIN


A. PEMERIKSAAN JUMLAH ERITROSIT
Alat : Alat untuk mengambil darah vena / kapiler Hemositometer : - Bilik hitung Neubauer Improve. - Kaca penutup. - Pipet Eritrtosit : pipet dengan bola merah dengan skala 0,5 1 101. - Mikroskop. Reagen : - Lar. Hayem tdd : - Na2SO4 kristal : 5,0 gram. - NaCl : 1,0 gram. - HgCl2 : 0,5 gram. - Aquadest : 200,0 ml. Prinsip pemeriksaan : Menghitung sel eritrosit dalam larutan yang menghancurkan sel sel lain. Cara pemeriksaan : Serupa menghitung sel Leukosit : - Bilik hitung yang telah ditutup dengan kaca penutup diletakkan di bawah mikroskop. - Cari kotak kecil / kotak eritrosit ( bila menggunakan bilik hitung Neubauer Improve ada ditengah ) Gambar :

- Dengan pipet eritrosit, pipet darah sampai angka 1 ( pengencerran 100 x ) Atau sampai angka 0,5 ( pengenceran 200 x ). Bersihkan ujung pipet. - pertahankan posisi pipet, hisap lar Hayem sampai angka 101. - Bersihkan ujung pipet. - Kocok dengan arah horizontal. - Buang 3 tetes yang pertama. - Teteskan ke bilik hitung lewat sela sela kaca penutup. Perhitungan : Jumlah eritrosit = jumlah eritrosit
Jml kotak kecil yg dihitung

x 400 x 10 (tinggi bilik hitung) x 100 (pengenceran)

Contoh: Didapatkan 460 sel eritrosit dalam 80 kotak kecil ( 1 / 5 x 1 / 5 mm ) maka: 22

Jumlah eritrosit

= 460 x 400 80 = 2.300.000 / mm3

10

100

Nilai rujukan : - Pria dewasa - Wanita dewasa - < 3 bulan - 3 bulan - 1 tahun - 12 tahun

: 4,5 6,5 juta / mm3 : 3,9 5,6 juta / mm3 : 4,0 5,6 juta / mm3 : 3,2 4,5 juta / mm3 : 3,6 5,0 juta / mm3 : 4,2 5,2 juta / mm3

B. PEMERIKSAAN HEMATOKRIT
Nilai Hematokrit adalah : Besarnya volume sel sel eritrosit seluruhnya didalam 100 mm3 darah dan dinyatakan dalam %. Prinsip pemeriksaan : Darah dengan antikoagulan diputar / disentrifuge, kemudian dibandingkan kolom merah dengan kolom total. Terdapat 2 metode pemeriksaan : Makro Hematokrit tabung Wintrobe. Mikro Hematokrit tabung kapiler.

panjang

Mikro Hematokrit
Alat : Alat untuk memeperoleh darah vena / kapiler. Pipet Hematokrit : panjang 7,5 cm. diameter 1,2 mm. Lampu spiritus / vasellin. Sentrifuge yang dapat memutar dengan kecepatan 16.000 rpm. Skala pembaca Ht. Reagensia : Heparin ( biasanya sudah melapisi lumen pipet kapiler Ht ) Bahan : Darah vena / darah kapiler. Cara pemeriksaan : Bila menggunakan darah kapiler : 1. lakukan pengambilan darah kapiler : Gambar :

23

2. Isi tabung kapiler dengan darah sampai 3/4 tabung. Gambar :

3. Bakar ujung tabung yang kosong dengan lampu spiritus atau disumbat dengan vasellin, hingga benar benar tertutup. Gambar :

4. Sentrifuge dengan kecepatan 16.000 rpm selama 3 5 menit. Gambar :

5. Baca dengan skala hematokrit panjang kolom merah. Gambar :

Bila tidak punya skala Ht dipakai perhitungan : Ht = Panjang kolom merah x 100 % Panjang total ko Keuntungan mikro Hematokrit : - Cepat, mudah. - Kesalahan lebih kecil. - Vol darah lebih sedikit.

24

Sumber kesalahan : Sentrifuge tidak benar. Lupa mengocok sampel. Penutupan ujung kapiler tidak rapat. Antikoagulan tidak tepat. Tabung kapiler tidak ditera

Nilai rujukan menurut DACIE : Pria : 47 7 %. Wanita : 42 5 %. Bayi baru lahir : 54 10 %. 3 Bulan : 38 6 %. 3 6 bulan : 40 45 %. 10 12 tahun : 41 4 % C. NILAI ERITROSIT RATA- RATA ( NILAI INDEKS ERITROSIT ) TUJUAN : Untuk memperkirakan : - Ukuran Eritrosit rata rata. - Banyaknya Hemoglobin tiap Eritrosit. Macam : 1. MCV ( Mean Corpusculer Volume ) 2. MCH ( Mean Corpusculer Hemoglobin ) 3. MCHC ( Mean Corpusculer Hemoglobin Concentration ) 1. MCV/V E R (Mean corpusculum volume/ volume eritrosit rata rata) (Satuan Femtoliter) MCV = VER = Hematokrit Jumlah Eritrosit (dalam juta) x 10

Nilai normal = 82 92 Femtoliter. 2. MCH/H E R (Mean corpusculum hemoglobin/ Hemoglobin eritrosit rata rata) Adalah : Banyaknya Hb pereritrosit, (Satuan Pikogram) . MCH = HER = Hemoglobin x 10 Jumlah Eritrosit (dalam juta) Nilai normal : 27 32 Pikogram. 3. MCHC/KHER (Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata rata) Adalah : Kadar Hemoglobin Eritrosit yang didapat per Eritrosit. (Satuan : %). MCHC = KHER = Hb Ht x 100 %.

Nilai normal : 32 37 %. 25

PENETAPAN GOLONGAN DARAH ABO Cara Gelas Obyek Gambar :

Anti A

anti B

anti AB

Teteskan anti A, anti B, kontrol pada tempat yang berbeda, masing masing 1 tetes. Kemudian masing masing ditetesi darah 1 tetes. Aduk, perhatikan adanya aglutinasi. INTERPRESTASI HASIL : Anti A + + Anti B + + Anti A, Anti B + + + Golongan Darah O A B AB

Reagen / Kit golongan darah : Serum anti A Hijau / Biru. Serum anti B Kuning. Serum anti A, anti B Tidak berwarna. Catatan : Untuk membedakan poliaglutinasi, teteskan NaCl fisiologis. Bila poliaglutinasi, aglutinasi akan hilang.

26

PEMERIKSAAN KOAGULASI PENDAHULUAN Hemostasis adalah usaha tubuh menghentikan keluarnya darah dari pembuluh darah dan mempertahan supaya darah tetap cair dan mengalir dalam pembuluh darah sehingga keadaan faali tubuh dapat terpelihara. Mekanisme hemostasis dipelihara oleh : 1. Sistem pembuluh darah. 2. Trombosit 3. Faktor-faktor koagulasi. Kegagalan dalam proses hemostasis dapat menyebabkan perdarahan yang abnormal, sedangkan kegagalan dalam memelihara viskositas supaya darah tetap cair mengakibatkan trombosit. Untuk mendeteksi adanya kelainan dalam proses hemostasis/ trombosis dilakukan pemeriksaan skrining dengan tujuan untuk mengetahui/mengarahkan letak defek hemostasis dan selanjutnya dapat dilakukan tes khusus untuk mencari kelainan tertentu. Pemeriksaan skrining koagulasi antara lain : 1. Rumple Leed 2. Jumlah trombosit 3. Waktu perdarahan 4. Waktu pembekuan 5. Retraksi bekuan & konsistensi bekuan 6. Lysis bekuan 7. PPT 8. APPT Waktu perdarahan, waktu pembekuan, PPT & APPT dipergunakan untuk pre operasi. Dalam diktat ini hanya dibicarakan pemeriksaan skrining no. 1 , 3, 4. PEMERIKSAAN RUMPLE LEED Pemeriksaan rumple leed merupakan salah satu pemeriksaan penyaring untuk mendeteksi kelainan sistem vaskuler dan trombosit. Prinsip pemeriksaan : Dengan melakukan bendungan terhadap vena pada tekanan tertentu, bila dinding kapiler kurang kuat akan rusak/pecah oleh bendungan dan terjadi perdarahan di bawah kulit. Alat dan reagen : Alat : - tensimeter - stetoskop Reagen :Cara pemeriksaan : 1. Ukur tekanan sistole dan diastole, ambil rata-ratanya. 2. Lakukan bendungan pada lengan atas dengan tekanan rat-rata tersebut, maksimal 100 mmHg dan pertahankan selama 10 menit. 3. Baca hasilnya pada volar lengan bawah kira-kira 4 cm di bawah lipat siku dengan penampang 5 cm. Penilaian hasil : Normal : bila dalam waktu 10 menit tak tampak perdarahan pada area pembacaan atau timbul petechiae kurang dari 5 buah. Positif : dalam waktu 10 menit timbul 10 atau lebih petechiae. Negatif : dalam waktu 10 menit atau lebih tidak timbul petechiae atau kurang dari 10 buah. 27

Catatan : 1. Bila dalam waktu kurang dari 10 menit sudah tampak lebih dari 10 buah petechiae, percobaan dihentikan. 2. Bil adalm 10 menit tak tampak petechiae atau timbul bercak kurang dari 10 buah, percobaan dihentikan, tunggu 5 menit dan ulangi pembacaanya. Bila tak ada perubahan penilaiannya negatif. 3. Sebelum percobaan dihentikan apakah ada bekas gigitan nyamuk pada daerah volar lengan bawah/noda hitam yang mungkin menyebabkan hasil menjadi positif palsu. 4. Bila rat-rata tekanan darah lebih dari 100 mmHg lakukan bendungan vena maksimal pada tekanan 90 mmHG. Arti klinis : RL positif : - gangguan vaskuler - gangguan trombosit.

Kegunaan pemeriksaan : untuk menguji kapiler dan fungsi trombosit. PEMERIKSAAN WAKTU PERDARAHAN Pemeriksaan ini terutama menilai faktor-faktor hemostasis yang ekstravaskuler, tetapi keadaan dinding vaskuler dan trombosit juga berpengaruh. Metode pemeriksaan : 1. DUKE 2. IVY letaknya

Metode DUKE Prinsip pemeriksaan : Mengukur / menghitung waktu yang digunakan saat keluarnya darah dari luka yang dibuat dengan standart tertentu sampai berhentinya perdarahan lewat luka tersebut. Alat dan Reagen : Alat : 1. Lancet 2.Kapas alkohol 3. Gelas obyek 4. Kertas saring 5. Stop watch, penggaris Reagen : (-) Cara Pemeriksaan : 1. Cuping telinga tempat pemeriksaan dipijit-pijit atau digosok supaya hiperemis. 2. Bersihkan cuping telinga tersebut dengan kapas alkohol , biarkan kering. 3. Tusuk daerah tersebut (no. 2 ) dengan lancet sedalam 2-3 mm dan biarkan darah keluar dengan bebas, saat darah keluar jalankan stopwatch. 4. Isap darah vena yang keluar dengan kertas saring tiap setengah menit sampai darah berhenti mengalir jangan sampai kertas saring menyentuh luka, hentikan stopwatch saat darah tidak dapat dihisap lagi, dan catat waktunya. Catatan : 1. Pemeriksaan berhasil bila bercak pertama mempunyai penampang 3-5 mm. 2. Lakukan pada cuping telinga yang lain sebagai kontrol. Penilaian hasil : Normal : 1-3 menit.

28

PEMERIKSAAN WAKTU PEMBEKUAN Waktu pembekuan adalah waktu yang diperlukan darah untuk membeku, hasilnya dapat dijadikan ukuran aktivitas faktor-faktor koagulasi. Metode pemeriksaan : 1. Gelas arloji. 2. Lee and White. a. Metode Lee and White Pemerikasaan waktu pembekuan dengan menggunakan darah lengkap seperti metode ini merupakan pemeriksaan yang kasar tetapi masih dianggap yang terbaik. Alat dan Reagen : Alat : 1. Tabung reaksi 2. Alat pengambilan darah vena. 3. Stopwatch 4. Rak tabung 5. Inkubator ( kalau ada ) Reagen : (-) Cara Pemeriksaan : 1. Siapkan 3 tabung reaksi yang bebas dari kotoran letakkan pada rak. 2. Ambil darah vena 5 ml secara legeartis, saat darah mulai keluar jalankan stopwatch ( catat waktunya ). 3. Masukkan sampel ( no.2 ) perlahan-lahan pada 3 tabung pertama dengan posisi miring masing-masing 1,5 ml, sisanya masukan dalam tabung ke-3 sebagai kontrol. 4. Diamkan 2-3 menit kemudian setiap 0.5 menit tabung I catat waktunya. Bila sudah timbul bekuan lakukan hal yang sama terhadap tabung ke-2 catat waktunya. 5. Amati tabung ke-3 apakah sudah timbul bekuan bila belum tampak bekuannya lakukan hal yang sama seperti tabung yang lain. Penilaian hasil : Waktu pembekuan dinyatakan dengan menentukan rata-rata hasil pemeriksaan tabung I dan tabung II tersebut. Contoh : misal tabung I beku dalam waktu 9 menit, tabung II beku dalam waktu 10 menit, maka waktu pembekuannya = ( 9+10 ) : 2 = 9,5 menit. Arti klinis : Normal : 9 15 menit. Memanjang : kelainan beberapa faktor koagulasi ( koagulopati ) inhibitor dalam darah misal heparin. Catatan : 1. Pengambilan darah tidak boleh terlalu banyak tusukan supaya cairan jaringan tak ikut masuk dalam darah ( mempercepat timbulnya bekuan darah ) 2. Waktu pengambilan darah tidak boleh lebih dari 30 detik supaya tak terjadi proses pembekuan sebelum pemeriksaan dikerjakan. 3. Alat-alat yang digunakan untuk pemeriksaan harus bebas kotoran dan kering.

29

MORFOLOGI SEL DARAH ERITROSIT KELAINAN BENTUK ERITROSIT : a. Ovalosit. b. Ciger cell / sel cerutu

. c. Elliptosit. d. Sferosit ( bulat seperti bola )

e. Sel Burr.

f. Sel Krenasi

. g. Acantosit ( duri lebih panjang daripada crenasi )

h. Target cell / Mexican hat cell / Sel topi Meksiko / sel sasaran.

30

i. Tear Drop Cell / sel tetes air mata.

j. Pear Shape Cell / seperti buah pear.

k. Fragmentosit / Schistosit.

l. Sel sabit / Sikle Cell

m. Sel Lepuh / Blister Cell.

n. Fragmentosit, Helmet Cell.

o. Stomatosit. / Central pollar seperti mulut.

p. Triangulosit.

KELAINAN WARNA ERITROSIT. Warna ditentukan oleh central pollar. Disebut kromasi Normokrom : Normal (CP 1/3 sel) Hipokrom : Central pollar melebar (CP > 1/3 sel) Hiperkrom : Gelap (CP < 1/3 sel) Polikromasi : Ada sel yang warnanya lebih gelap

31

BENDA INKLUSI ERITROSIT : a. Basophilik Stippling. b. Pappenheimer Body ( granula siderotik )

c. Howell Jolly

d. Cincin Cabot ( denaturasi protein

e. Benda Heinz ( hanya terlihat pada cat supra vital )

SUSUNAN SEL DARAH MERAH : a. Aglutinasi oleh karena antibodi.

b. Rouleaux oleh karena susunan protein serum yang abnormal.

Ukuran eritrosit

32 Makro Normal Mikro

SEL DARAH PUTIH / LEUKOSIT Macam : 1. Estimasi jumlah. 2. Hitung jenis. 3. Abnormalitas. 1. Estimasi jumlah Leukosit. Pedoman pasti belum ada. Pembesaran 10 x. Bila ditemukan antara 20 30 sel SDP / LPK kira-kira = 5000/mm3 darah. 2. Hitung jenis Leukosit ( lihat didepan ) 3. Abnormalitas Leukosit. a. Hipersegmentasi Polimorfonuklear. b. Limfosit plasma biru : ( pada DHF )

c. Pelger Huet (hiposegmentasi)

d. May Hegglin = Dohle Bodies oleh karena kelainan degenerasi.

e. Chediak Higasi.

f. Alder Reilly.

33

i. Sel L.E.( Lupus Erimatosus )

j. Batang Auer : pada AML ( Akut Myeloblastic Leukemia )

k. Iklusi Supras : pada AML.

m. Granula Toksik.

n. Bentuk Piknotik / degenerasi.

SEL BEKU DARAH / TROMBOSIT. 1. Estimasi jumlah ( Barbara Brown ) 2. Bentuk abnormal. Ad. 1. Estimasi jumlah. Bentuk Trombosit normal : Ukuran 1 4 mikron. Sitoplasma biru muda. Granula ditengah ( tidak jelas )

Bentuk Trombosit abnormal : a. Giant Platelet / Trombosit raksasa. 34 b. seperti ular

Ringkasan Pembacaan Preparat Darah Hapus Tepi. a. Orientasi Umum : - Parasit. - Sel ganas. b. Evaluasi Eritrosit : - Estimasi derajat anemi. - Ukuran. - Bentuk. - Warna. - Inklusi. - Susunan. c. Evaluasi Leukosit : - Estimasi jumlah. - Hitung jenis ( rutin ) - Abnormalitas. d. Evaluasi Trombosit : - Estimasi jumlah. - Abnormalitas.

DARAH TEPI ABNORMAL MEMBACA PREPARAT DARAH TEPI ABNORMAL 35

BAHAN PENGECATAN ZONA BACA

: Darah segar vena/kapiler dengan / tanpa antikoagulan EDTA : Giemsa : Zona IV, V, VI dimana eritrosit tersebar rata dan tidak saling berdesakan. Pembesaran Mikroskop Lensa Obyektif 10x : - Orientasi semua zona selayang pandang - Periksa adanya sel asing / ganas / parasit - Estimasi leukosit Lensa Obyektif 40x: - Hitung jenis leukosit - Morfologi eritrosit Lensa Obyektif 100x ( harus dengan oli emersi ) : - Identifikasi sel yang kurang jelas - Benda inklusi lebih jelas - Hitung jenis juga dapat dilakukan dengan pembesaran ini. Pembagian zona dan arah gerakan lapang pandang mikroskop sama seperti pada pembacaan darah tepi normal. Pemeriksaan Darah tepi Abnormal meliputi : A. Hitung jenis leukosit B. Gambaran Darah tepi : - Seri Leukosit - Seri Eritrosit - Seri trombosit HITUNG JENIS LEUKOSIT Tabel pembantu hitung jenis leukosit : 1 Eosinofil Basofil Staf Segmen Limfosit Mielosit Sel Blas Promielosit Mielosit Meta M Jml Sel 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jml Sel %

10

10

10

10

10

10

10

10

10

10

100

Pada keadaan normal hitungan sel max 100 sel lekosit. Untuk jumlah SDP yang meningkat : 20.000 30.000/mm3, maka hitung lekosit sampai 200 sel. > 30.000/mm3, maka hitung lekosit sampai 300 sel. Laporkan hasil hitung jenis lekosit sebagai berikut : Eosinofil ...........% Sel Blas ...........% Basofil ...........% Promielosit ...........% Staf ...........% Mielosit ...........% 36

Segmen Limfosit Monosit

...........% ...........% ...........%

Metamielosit ...........%

Sel eritrosit Sel eritrosit berinti dilaporkan dalam berapa jumlah sel eritrosit berinti/100 sel lekosit. Misalnya 10/100 lekosit. Normal : tidak ditemukan eritrosit berinti dalam darah tepi. Smudge sel dilaporkan dalam ........% Jika < 5% disebabkan oleh karena pembuatan preparat. Abnornal jika >15%, disebabkan keganasan lekosit. Kelainan bentuk inti : Inti ganda Inti multiple Inti piknotik Pematangan inti dan sitoplasma yang tidak sinkron.

Tanda-tanda akut leukemia : - Sel Bas meninggi antara 30-90%, bahkan lebih dan tampak monoton - Perubahan pada sitoplasma sel Blas : vacuolisasi, benda inklusi. - Hitung leukemikus positif. Akut leukemia : -AML & ALL Tanda-tanda kronis leukemia : Lekosit 5.000 50.000/mm3 Sel Blas kurang dari 5% Semua spektrum sel tampak ( Hiatus Leukemikus negatif ) Kronis Leukemia : - CML & CLL Eo Bs LEFT Staf >20% - Leukemia - Infeksi Hiatus Leukemikus : Pada hitung jenis bentuk sel muda ( blas ) banyak sekali, bentuk yang lebih tua sedikit sekali ( mielosit & metamielosit ) , sedangkan bentuk tua banyak sekali ( segmen ). Sehingga seakan-akan terjadi kekosongan hitung jenis. Tanda-tanda keganasan umum : Sel : - Ukuran abnormal - Bergerombol - Monoton Sitoplasma : - Granula abnormal - Inklusion bodies. - Rapuh Inti : - Bercelah - Hipersegmentasi Berlekuk-lekuk - Megaloblastoid - Multinukleus 37 St Sg L M RIGHT Segmen > 70% - Hipersegmentasi - Hiperlobulasi

Morfologi Sel Darah 1. Morfologi seri granulosit Mieloblas

Promielosit

Mielosit Eosinofil

Mielosit Basofil

Mielosit Netrofil

AML M4(Case 4)

Bone Marrow, May Giemsa x 1000

Metamielosit Netrofil

Metamielosit Eosinofil

Metamielosit Basofil

38

Staf Eosinofil

Staf Basofil

Staf Netrofil

Segmen Eosinofil

Segmen Basofil

Segmen Netrofil

2. Morfologi Seri Eritrosit Pro eritroblas Basofilik eritroblas Polikromatik eritroblas

Ortokromatik eritroblas

Retikulosit

Eritrosit

3. Morfologi seri trombosit Megakarioblas Promegakariosit

39

Megakariosit

Trombosit

3. Morfologi Seri Limfosit Limfoblas Prolimfosit Limfosit

4. Morfologi Seri Monosit Monoblas Promonosit Monosit

5. Morfologi Seri plasma sel Plasmoblas Proplasmosit Plasmosit

GAMBARAN DARAH TEPI 1. Seri Lekosit 40

2. Seri Eritrosit 3. Seri Trombosit GAMBARAN DARAH TEPI SERI LEKOSIT 1. Jumlah lekosit ( kuantitas ) 2. Bentuk abnormal ( kualitas ) Kuantitas : Dilakukan estimasi jumlah leukosit dengan cara : - mengunakan mikroskop dengan pembesaran objektif 10 X - dilakukan penghitungan jumlah leukosit - normal ditemukan leukosit 20 -30 / lapangan pandang, yang sebanding dengan jumlah lekosit 5000 6000 /mm3 - interpretasi: jumlah < 20 / lapangan pandang leukopenia jumlah > 30 / lapangan pandang leukositosis 1. Lekopeni Jumlah SDP kurang dari 4.000/mm3 (biasanya didapatkan netropeni) Dijumpai pada penyakit : - Infeksi usus - Obat - Anemia aplastik - Infiltrasi sumsum tulang dari sel ganas 2. Lekositosis Jumlah SDP lebih dari 12.000/mm3 Gambaran darah tepi nampak peningkatan jumlah lekosit. Peningkatan lekosit : Netrofilia : - inflamasi - uremia - trauma Eosinofilia : - alergi - Infeksi parasit - syndroma Loffer - Limfoma Hogkin Basofilia :- myxedeme ( virus) - cacar air. Limfositosis : - Infeksi - Limfoproliferatif - Infeksi mononukleosis Monositosis : - leukemia monositik Leukositosis fisiologis ditemukan pada : - kerja berat - emosi - hamil/pansus/haid Bentuk-bentuk leukosit abnormal dan Benda inklusi : 1. Barr Bodies/Drum Stik : Tonjolan kecil pada inti netrofil ( pada wanita , merupakan inaktif kromosom X ) 2. Tocix granulasi: granula biru hitam pada netrrofil ( pada infeksi akut, keracunan, kebakaran ) 3. Hipersegmentasi: lobus 6 buah / lebih ( pada defisiensi B12 / asam folat ) 41

4. Dohle bodies : small blue granula nerofil ( pada infeksi, keracunan, luka bakar ) 5. Netrofil degenerasi dengan inti piknotik : nukleus menggumpal, kromatin tak tampak. 6. Pelger Huet Anomali : SDP netrofil berlobus 2 . 7. Vakuolisasi Netrofil : phagositosis aktif pada infeksi bakteri. 8. Auer Rods : akut leukemia, batang merah ungu pada sel mieloblas. 9. Smudge sel / basket sel, SDP yang mati, sisa inti. 10. Giant lisosom = Supras bodies : pada akut leukemia. Gambar kelainan leukosit 1. Barr Bodies/Drum Stik 2. Toxic granulasi

3. Hipersegmentasi

4. Dohle bodies

5. Netrofil agranular

6. Pelger Huet Anomali

7. Vakuolisasi Netrofil

8. Auer Rods

42

AML M3 (Case (Case 4.1)

Bone Marrow, May Giemsa x 1000

9. Smudge sel / basket sel


ALL L2(Case 3)

10. Giant lisosom= Supras bodies

Bone Marrow, May Giemsa x 1000

SERI ERITROSIT Pembacaan seri eritrosit meliputi : 1. Kelainan ukuran / anisositosis dibagi menjadi 3 : Anisositosis ringan : 1-2 variasi mis : normosit & mielosit Anisositosis sedang : 2-3 variasi mis : mikrosit, normosit, makrosit. Anisositosis berat : 4 variasi / lebih: mikrosit, normosit, makrosit, megalosit. 2. Kelainan bentuk sel / poikilositosis dibagi menjadi 3 : Poikilositosis ringan : 1-2 variasi mis : normosit, ovalosit Poikilositosis sedang : 2-3 variasi mis : normosit, ovalosit, target sel. Poikilositosis berat : lebih dari 4 variasi : ovalosit, mikrosit, burr sel, tear drop sel, target sel, stomatosit. 3. Kelainan warna : Hiperkromasi : sentral palor melebar, misal anulosit/ sel cincin. Hipokromasi : central palor menyempit. Polikromasi : adanya variasi pewarnaan sel pada lapang pandang dimana tampak bersamaan normokrom dan hiperkrom atau normokrom dan sperosit atau normokrom dan retikulosit. ( warna lebih gelap ) 4. Benda inklusi - Basophilik stipling : granula halus dan kasar keunguan pada sitoplasma SDM. 43

- Pappenheimer bodies : granula keunguan mengelompok timbunan besi. - Howell Jolly bodies : granula keunguan , 1 atau 2. - Cabot rings : benang tipis warna ungu berbentuk cincin atau angka 8. 5. Susunan - Formasi Rouleaux : serangkaian sel darah merah yang saling bertumpukan pada permukaanya, seperti tumpukan uang logam - Aglutinasi

Gambar kelainan eritrosit 1. Kelainan ukuran/anisositosis

2. Kelainan bentuk sel / poikilositosis

3. Hiperkromasi

4. Hipokromasi

5. Polikromasi

Benda Inklusi pada Eritrosit 1. Basophilik stipling

2. Cabot rings

44

3.Pappenheimer bodies

4. Howel Jolly Bodies

Bentuk-bentuk eritrosit Abnormal : 1. Spherosit

2. Target sel

3. Normal eritrosit (no 2, ukuran sama dengan limfosit) 4. Mikrosit ( no 1) 5. Makrosit

Limfosit 6. Ovalosit-eliptosit

makrosit 45

megalosit

7. Acantosit 8. Burr sel burr sel akantosit

eliptosit 9. Sel Krenasi 10. Schistosit

11. Sel sabit

12. Stomatosit

13. Formasi Rouleaux.

46

SERI TROMBOSIT Pembacaan seri trombosit meliputi : 1. Estimasi jumlah ( Barbara Brown ) 2. Bentuk abnormal 1. ESTIMASI JUMLAH Menurut Barbara Brown, dengan pembesaran 10x Hitung jumlah trombosit /LPB, lakukan minimal 3x ( dalam lapangan pandangan yang berbeda ). Hitung reratanya. Perhitungan : rerata trombosit x 20.000 = Estimasi jumlah trombosit. Trombositopeni : pada jumlah trombosit yang menurun pada preparat darah tepi. pada jumlah trombosit 150.000 400.000/mm3 sama dengan 8 20 trombosit/LPB (40x) Pada : ITP Leukemia Anemia Aplastik Obat-obatan/bahan kimia Hipoplasi megakariosit kongenital Sindroma Fankoni Sindroma Aldrich DIC Trombositosis : kenaikan jumlah trombosit Pada : - perdarahan akut - trauma - anemia defisiensi besi 2. BENTUK ABNORMAL Bentuk trombosit normal : Ukuran 1 4 Micrometer Sitoplasma biru muda Granula ditengah ( tidak jelas ) Bentuk abnormal : 1. - Giant Platelet/trombosit raksasa - Seperti ular 2. Kelainan ukuran dan bentuk: Pada perdarahan, bentuk dan ukuran bisa besar. Menggumpal oleh karena darah membeku pada waktu pembuatan preparat darah tepi.

47

PRAKTIKUM DARAH TEPI ABNORMAL


Tujuan : Mengetahui jenis/bentuk abnormal pada darah tepi dan melaporkan hasilnya dengan benar. Prinsip pemeriksaan : Pemeriksaan darah tepi abnormal meliputi : 1. Hitung jenis lekosit. 2. Gambaran darah tepi : - lekosit - eritrosit - trombosit Bahan / materi preparat : 1. AML 2. CML 3. ALL 4. CLL 5. Leukositosis 6. Leukopeni 7. Eosinofilia 8. Trombositosis 9. Trombositopeni 10. Anemia 11. Thalasemia 12. LPB Alat dan Bahan : Mikroskop Oil emersi

Harga normal hitung jenis lekosit darah tepi - Eosinofil : 1-4% - Basofil : 0-1% - Staf : 2-5% - Segmen : 50-70% - Limfosit : 20-40% - Monosit : 1-6% - Blast : 0% - Promielosit : 0% - Mielosit : 0% - Metamielosit : 0% PREPARAT LEUKEMIA 48

1. AML : Akut Mieloid Leukemia Biasanya lekositosis Hitung jenis : - mieloblas meninggi (> 20% menurut kriteria WHO) - Promieloblas meninggi - Mielosit jumlahnya kecil - metamielosit jumlahnya kecil - batang meninggi - segmen jumlahnya tinggi - Hiatus leukemikus (+) Cara kerja : 1. Pasang preparat pada mikroskop 2. Periksa dengan pembesaran obyektif 10x, 40x dan 100x 3. Gambaran masing-masing sel yang ditemukan ( identifikasi ) 4. Lakukan hitung jenis lakosit. 2. CML : Chronik Mieloid Leukemi - Leukositosis : 100.000 500.000 / mm3 - Hitung jenis : - mieloblas dan promielosit ada 5% - mielosit, metamielosit, batang, segmen banyak - hiatus leukemikus negatif ( semua stadium ada ) - Eritrosit : kurang Retikuosit normal / sedikit meninggi - Kadang-kadang Basofil dan Eosinofil meningkat Cara kerja : 1. Pasang preparat pada mikroskop 2. Periksa dengan pembesaran obyektif 10x, 40x dan 100x 3. Gambaran masing-masing sel yang ditemukan ( identifikasi ) 4. Lakukan hitung jenis lakosit. 3. ALL Leukosit : Predominan Limfoblas 50 90% Gambaran : limfoblas : sel besar, inti besar Sitoplasma relatif sedikit Kromatin inti agak gelap Nukleoli 1- 2 Bentuk limfosit tua sedikit Cara kerja : 1. Pasang preparat pada mikroskop 2. Periksa dengan pembesaran obyektif 10x, 40x dan 100x 3. Gambaran masing-masing sel yang ditemukan ( identifikasi ) 4. Lakukan hitung jenis lakosit. 4. CLL Lekosit : leukositosis Predominan limfosit kecil 65 75% Stadium lanjut : limfosit kecil 95 98% Limfoblas sedikit Limfosit besar sedikit Kadang-kadang tampak gambaran monoton Smudge cell meningkat Cara kerja : 49

1. 2. 3. 4.

Pasang preparat pada mikroskop Periksa dengan pembesaran obyektif 10x, 40x dan 100x Gambaran masing-masing sel yang ditemukan ( identifikasi ) Lakukan hitung jenis lakosit.

PREPARAT NON LEUKEMIA 1. Leukositosis Jumlah lekosit dalam darah tepi meningkat Jumlah lekosit > 12.000/mm3 Variasi bentuk sel yang ditemukan pada seri : Netrofil, Eosinofil, Basofil, Lymfosit, Monosit Cara kerja : 1. Pasang preparat pada mikroskop 2. Periksa dengan pembesaran obyektif 10x lakukan penghitungan estimasi jumlah leukosit 3. Periksa kelainan/variasi bentuk sel yang ditemukan 2. Leukopeni Jumlah lekosit dalam darah tepi menurun Jumlah lekosit < 4.000/mm3 Variasi bentuk sel yang ditemukan pada seri : Netrofil, Eosinofil, Basofil, Lymfosit, Monosit Cara kerja : 1. Pasang preparat pada mikroskop 2. Periksa dengan pembesaran obyektif 10x lakukan penghitungan estimasi jumlah leukosit 3. Periksa kelainan/variasi bentuk sel yang ditemukan 4. Eosinofilia Jumlah eosinofil > 4% Cara kerja : 1. Pasang preparat pada mikroskop 2. Periksa dengan pembesaran obyektif 10x, 40x (dan 100x jika kurang jelas) 3. Lakukan hitung jenis leukosit 5.Trombositosis Jumlah trombosit > 400.000/mm3 Cara kerja : 1. Pasang preparat pada mikroskop 2. Periksa dengan pembesaran obyektif 100x lakukan penghitungan estimasi jumlah trombosit dengan cara Barbara Brown 3. Periksa kelainan ukuran / bentuk trombosit yang ditemukan

6. Trombositopeni Jumlah trombosit < 150.000/mm3 Cara kerja : 1. Pasang preparat pada mikroskop 2. Periksa dengan pembesaran obyektif 100x lakukan penghitungan estimasi jumlah trombosit dengan cara Barbara Brown 3. Periksa kelainan ukuran / bentuk trombosit yang ditemukan 7. Anemia 50

Cara kerja : 1. Pasang preparat pada mikroskop 2. Periksa dengan pembesaran obyektif 10x, 40x, 100x 3. Periksa gambaran darah tepi eritrosit meliputi : kelainan ukuran, warna, bentuk, susunan dan benda inklusi 8. Thalasemia Cara kerja : 1. Pasang preparat pada mikroskop 2. Periksa dengan pembesaran obyektif 10x, 40x, 100x 3. Periksa gambaran darah tepi eritrosit meliputi : kelainan ukuran, warna, bentuk, susunan dan benda inklusi 9. Limfosit Plasma Biru : - Mempunyai bentuk limfosit atipik - Limfosit dengan sitoplasma kebiruan - Inti bervariasi : Seperti inti monosit ( monositoid ) Seperti inti plasmosit ( Plasmositoid ) Mempunyai nukleoli ( Blastoid ) - Dijumpai pada penyakit virus, khususnya DHF. - Dilaporkan dalam : .... berapa sel / 100 lekosit.

51

PRAKTIKUM SUMSUM TULANG Sumsum tulang merupakan tempat yang aktif didalam proses hematopoesis. Sumsum tulang selain terisi sel-sel darah juga terisi oleh lemak. Pemeriksaan sumsum tulang meliputi : Hitung jenis sel lekosit. Hitung jenis sel eritrosit Hitung jenis sel limfosit Hitung jenis sel monosit Hitung jenis sel plasma Hitung sel seri megakariosit Penilaian trombosit Ada tidaknya metastase sel ganas Ada tidaknya parasit Aktivitas eritrosit dan granulosit ME Ratio Panilaian Selularitas Perbesaran mikroskop : 10x : 1. Menguju pulasan 1. Memilih bagian yang diperiksa/fragmen yang baik. 2. Menilai selularitas 3. Melihat megakariosit 40x/100x : 1. Identifikasi / Morfologi sel 2. Selularitas 3. Megakariosit 4. Sel asing / ganas 5. ME Ratio 6. Hitung jenis Preparat sumsum tulang : 1. Preparat Spread 2. Preparat Squash 1. PREPARAT SPREAD Dibuat seperti hapusan darah tepi Dibaca didaerah trail Fragmen didaerah ekor Untuk : - Identifikasi sel - Hitung jenis sel - Selularitas Gambar :
SUMSUM TULANG Macam preparat
1. Spread

Fragmen

trail tempat pembacaan

52

2. PREPARAT SQUASH Dibuat dengan cara susmsum tulang dikumpulkan lalu dijepit diantara dua gelas obyek. Preparat Squash : - Dibaca didaerah tengah ( Core ) - Untuk estimasi selularitas dan jenis sel Gambar :
2. Squash

Core tempat pembacaan

Harga normal menurut Dacie dan Lewis : Myeoloblas : 0,1 3,5% Promyeloblas : 0,5 5% Myelosit Netrofil : 5 20% Eosinofil : 0,1 3% Basofil : 0 0,5% Metamyelosit : 10 30% Segmen Netrofil : 7 2,5% Eosinofil : 0,2 3% Basofil : 0 -0,5% Limfosit : 5 20% Monosit : 0 0,2% Plasma sel : 0,1 3,5% Retikulum sel : 0,1 2% Megakariosit : 0,1 0,5% Pro Eritroblast : 0,5 5% Polikromatik Eritroblas : 2 20% Orthokromatik Eritroblas : 2 10% ME Ratio :24:1 Pemeriksaan Selularitas : Selularitas dibedakan menjadi : 1. Normoseluler 2. Hiperseluler 3. Hiposeluler

53

NORMOSELULER

Sel lemak

Sel hemopoietik

HIPERSELULER

HIPOSELULER

Sel lemak Sel-sel hemopoetik

: bulat dan kepucatan : Daerah yang tercat biru.

Normoseluler : sel lemak kurang lebih 25% sel hemopoetik Hiperseluler : hampir semua sel lemak diganti sel hemopoetik (sel lemak < 25%) Hiposeluler : sebagian besar fragmen merupakan sel lemak (sel lemak > 25%) ME Ratio : Perbandingan jumlah sel sistem myeloid dan sistem eritroid yang masih berinti. Normal :M:E=2:14:1 Megakariosit Tentukan jumlah megakariosit dan morfologinya. Estimasi jumlah trombosit 54

Hitung jenis sel-sel berinti : - Sel Myeloid / granuler - Seri Eritrosit - Seri limfosit - Seri monosit - Seri plasmosit SUMSUM TULANG ABNORMAL Pada keadaan abnormal terjadi peninggian fungsi hematopoesis sehingga terjadi perubahan aktifitas hematopoesis dalam sumsum tulang. Biasanya terjadi expansi kearah perifer. Data-data reaksi jaringan haemopoetik kadang-kadang kurang sempurna hanya dengan pemeriksaan darah perifer saja, oleh karena itu aspirasi sumsum tulang menjadi penting. Materi praktikum : 1. CLL 2. ALL 3. CML 4. AML Jenis preparat : 1. Spread 2. Squash Selularitas : 1. Hiperseluler 2. Hiposeluler 3. Normoseluler M : E Ratio Normal : 2-4 : 1 ( Mieloid : Eritroid ) : proporsi prekursor granulosit terhadap sel darah merah dalam sumsum tulang, Ratio ini menurun bila eritropoesis meningkat secara selektif sehingga disebut eritropoesis hiperplasi. Berdasarkan M : E Ratio dibagi menjadi III 1. Eritroid hiperplasi ringan : 1,5 2,5 : 1 2. Eritroid hiperplasi sedang : 0,5 1,5 : 1 3. Eritroid hiperplasi berat : <0,5 : 1 Pemeriksaan sumsum tulang meliputi : Hitung jenis sel lekosit Hitung jenis sel eritrosit berinti Hitung jenis sel limfosit Hitung jenis sel monosit Hitung jenis sel sel plasma Hitung jenis sel megakariant Penilaian trombosit Ada tidaknya metastase sel ganas Ada tidaknya parasit Aktifitas eritrosit Aktifitas granulosit Penilaian selularitas 55

56