Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Pada orang-orang dewasa muda, dengan usia produktif antara 20 40 tahun, aktivitas menjadi sangat tinggi. Bisa karena pekerjaan atau karena aktivitas- aktivitas lain, seperti bepergian atau acara-acara rekreasi akhir pekan dengan keluarga. Belum lagi di usia ini banyak yang sangat aktif dalam kegiatan olah raga. Pada usia di atas 40 tahun, walaupun sudah memasuki masa penuaan (degenerasi), aktivitas orang tua di perkotaan masih sangat tinggi. Dengan gaya hidup yang demikian, timbul masalah-masalah yang berhubungan dengan sendi. Untuk aktivitas mobilitas yang sangat tinggi, sendi lutut (knee joint) adalah sendi yang paling banyak menimbulkan keluhan. Keluhan di sendi lutut dapat berupa nyeri, bengkak, kaku, bunyi pada pergerakan, dan tidak stabil. Pada orang-orang dewasa muda, keluhan lutut umumnya timbul karena aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan, misalnya banyak mengangkat barang-barang berat dan sering naik turun tangga, atau karena cedera akibat aktivitas olah raga. Pada usia di atas 40 tahun, keluhan sendi biasanya berhubungan dengan keadaan degenerasi sendi dan naiknya berat badan. Pada sendi lutut terdapat ligamen-ligamen yang berperan penting untuk menjaga gerakan-gerakan pada sendi tersebut. Ligamen merupakan jaringan ikat fibrosa yang mengikat ujung luar tulang yang membentuk persendian. Ligamen tersusun atas jaringan ikat padat yang mengandung serat kolagen nonextensile (tipe 1), sehingga dikenal sebagai jaringan ikat fibrosa. Cedera pada ligamen terjadi akibat gerakan yang melebihi batas kemampuan ligamen untuk meregang, sehingga dapat terjadi keseleo (strain) atau robek. Jika terjadi cedera pada ligamen, akan berpengaruh pada kemampuan untuk melakukan gerakan sehingga dapat mengganggu aktivitas. Cedera ligamen biasanya terjadi pada ligamen di persendian lutut dan pergelangan kaki. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut sedikit terdapat jaringan otot sehingga mudah terjadi cedera. Terapi pada cedera ligamen dilakukan tergantung dari parah tidaknya cedera yang dialami. Jika hanya terjadi keseleo, bagian yang cedera dapat di gips untuk beberapa minggu. Namun jika

Ligament Injury | 1

terjadi

robekan

yang

parah,

tindakan

operasi

harus

dilakukan

untuk

mempertahankan kestabilan sendi.

I.3 Tujuan Makalah ini disusun agar mahasiswa mampu memahami tentang cedera ligamen. Mulai dari histologi ligamen, mekanisme terjadinya cedera pada ligamen, macam cedera pada ligamen,daerah yang sering mengalami cedera pada ligamen, sampai ke penatalaksanaan cedera ligamen.

Ligament Injury | 2

BAB II PEMBAHASAN II.1 Cedera Ligamen II.1.1 Definisi Ligamen Ligament merupakan jaringan ikat fibrosa yang mengikat ujung luar tulang yang membentuk persendian. Ligamen tersusun atas jaringan ikat padat yang mengandung serat kolagen nonextensile (tipe 1), sehingga dikenal sebagai jaringan ikat fibrosa. Berkas serat kolagen sejajar dengan arah kontraksi, sehingga ideal untuk ligament yang menahan gaya dari satu tulang ke tulang lain pada sebuah sendi. Sehingga ligament memiliki kekuatan tahanan yang luar biasa. Gambaran histologi ligament didominasi oleh bundle parallel padat dengan deretan fibroblast yang tersebar merata. Pada orang dewasa, perubahan fibroblast menjadi fibrosit relative tidak aktif, dan karena substansi intrasel tidak membutuhkan nutrisi, maka suplai darah menjadi sedikit. Ligamen mempunyai ikatan yang sangat kuat ke tulang pada daerah insersi oleh terusan dari serat kolagennya, yang menembus dalam ke substansi padat tulang kortikal dan menyebar di dalamnya dan dikenal sebagai serat Sharpey. Begitu kuatnya ikatan ini bahkan cedera tarikan yang kuat, ligament tidak tertarik keluar dari tulang; sebaliknya ligament tersebut robek atau tempat pelekatan ligament dan tendon tersebut mengalami avulsi. Kurangnya penekanan yang diakibatkan oleh pembatasan gerak yang terlalu lama pada sendi, dan pada ligament, dapat menyebabkan kelemahan yang progresif pada ligament dan kelemahan yang lebih parah pada sambungan antara ligament dan tulang. Bahkan, mungkin diperlukan waktu 6-12 bulan setelah dapat dilakukan gerakan hingga kekuatannya kembali normal. II.1.2 Mekanisme Terjadinya Cedera Ligamen Sebuah benturan langsung pada sendi biasanya menghasilkan memar tetapi, benturan yang cukup parah, dapat menghasilkan fraktur intra articular. Cedera tidak langsung menghasilkan ketegangan mendadak pada

Ligament Injury | 3

ligamen yang mungkin dapat menyebabkan peregangan ligamen yang parah, sehingga terjadi robekan kecil dan beberapa perdarahan (keseleo pada ligamen) tanpa kehilangan stabilitas sendi. Sebuah cedera yang lebih parah menghasilkan robekan ligamen besar baik sebagian atau lengkap dengan mengakibatkan hilangnya stabilitas sendi. Jika ligamen itu sendiri tidak robek, mungkin terjadi retakan pada tulang di tiap ujung ligamen. Sebuah regangan ligamen, sebaliknya, mengacu pada pemanjangan bertahap ligamen yang dihasilkan dari peregangan ringan yang berulang secara terusmenerus. II.1.3 Keseleo pada Ligamen (Strain) Keseleo akut disebabkan oleh peregangan mendadak ligamen yang ringan, robek sebagian dan perdarahan lokal tanpa kehilangan kestabilan. Terkilir akan terlihat dengan pembengkakan lokal, nyeri, dan rasa sakit yang diperburuk oleh gerakan sendi yang meregangkan ligamen yang terkilir. Karena ligamentum belum terlalu meregang, tidak ada ketidakstabilan sendi. Pemeriksaan radiografi diperlukan untuk menyingkirkan dislokasi,

subluksasi, atau patah. Radiografi tambahan diambil saat sendi sedang ditekan sangat penting untuk menyingkirkan ketidakstabilan sendi yang tersembunyi. Pengobatan keseleo ligamen yang sederhana bertujuan untuk melindungi ligamentum terluka dari peregangan yang tidak diinginkan selama proses penyembuhan. Imobilisasi lengkap jarang diperlukan kecuali terjadi nyeri hebat, untuk mebatasi pergerakan sendi yang tidak diinginkan dapat menggunakan perban yang sangat rekat (adhesive strapping) yang berfungsi sebagai ligament sementara untuk mengurangi rasa sakit. Latihan aktif penting untuk mempertahankan gerakan sendi dan meningkatkan kekuatan otot yang mengontrol gerakan yang melibatkan sendi. II.1.4 Robekan pada Ligamen Robekan lengkap pada ligamen besar tertentu, seperti ligamen kolateral lutut, harus diperbaiki melalui pembedahan sesegera mungkin setelah cedera, karena apabila perbaikan yang tertunda hasilnya akan kurang memuaskan dibandingkan dengan perbaikan yang langsung dilakukan. Pada

Ligament Injury | 4

ligamen lain, seperti ligamen lateral pergelangan kaki atau ligamentum kolateral dari jari-jari, imobilisasi sendi diperlukan untuk melindungi cidera ligament dan capsulnya dari peregangan berlebih selama proses

penyembuhan. Imobilisasi sendi setelah pengurangan dislokasi diperlukan untuk memperoleh stabilitas. Tidak seperti tulang, yang sembuh tanpa bekas luka, ligamen yang robek sembuh dengan jaringan parut fibrosa yang tidak sekuat ligamen normal. Sebagian robekan dalam ligamen sembuh dengan cukup baik asalkan ligamen tetap dilindungi selama proses penyembuhan. Pada robekan lengkap, biasanya terdapat celah yang cukup besar antara robekan ligamen celah yang hanya dapat diperbaiki dengan jaringan parut fibrosa. Dalam keadaan ini, walaupun robekan telah sembuh, keduanya memanjang dan relatif lemah. Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan normal robekan ligamen bervariasi sesuai dengan ukuran dan gaya yang biasanya dikenai. Sehingga, ligamen sendi jari dapat sembuh dalam waktu 3 minggu, sedangkan ligamen utama lutut mungkin memerlukan waktu 3 bulan. Waktu penyembuhan pada anak relatif lebih cepat dibandingkan pada orang dewasa, tetapi pengaruh usia tidak terlalu signifikan dalam penyembuhan ligamen daripada penyembuhan patah tulang.

II.2 Cedera Ligamen pada Sendi Lutut Lutut pada dasarnya adalah sendi engsel yang dapat bergerak secara fleksi, ekstensi, dan rotasi derajat kecil. Stabilitas pada bagian medial dan lateralnya dijaga oleh ligamen kolateral medial dan lateral yang kuat, dan stabilitas anterior dan posteriornya oleh ligamen krusiat anterior dan posterior. Sehingga, ligamenligamen tersebut rentan terhadap cedera parah akibat gaya yang memaksa lutut bergerak pada posisi yang abnormal atau di luar rentang gerak normalnya. Cedera seperti ini biasanya terjadi pada olahraga, contohnya sepak bola dan hoki. Ligamen mungkin hanya keseleo (tertarik dengan robekan pada beberapa serat) atau bisa saja terjadi robekan sebagian atau robekan penuh. II.2.1 Ligamen-Ligamen pada Lutut yang Sering Mengalami Cedera

Ligament Injury | 5

a. Ligamen cruciatum anterior Berjalan di depan eminentia intercondylare tibia ke permukaan medial condylus lateralis femur yang berfungsi menahan hiperekstensi dan menahan bergesernya tibia ke depan. b. Ligamen cruciatum posterior Berjalan dari facies lateralis condylus medialis femur menuju ke fossa intercondylare tibia yang berfungsi menahan bergesernya tibia ke belakang. c. Ligamen collateral medial (tibiae) Berjalan dari epicondylus medialis menuju ke permukaan medial tibia yang berfungsi menahan gerakan valgus atau samping luar. d. Ligamen collateral lateral (fibulae) Berjalan dari epicondylus lateralis ke caput fibula, yang berfungsi menahan gerakan varus atau samping dalam.

II.2.2 Mekanisme Cedera Sebagian besar cedera ligamen terjadi di saat lutut menekuk, sehingga merelaksasikan kapsul dan ligamen, dan memungkinkan terjadinya rotasi. Daya perusak dapat berupa dorongan lurus (misalnya : cedera dashboard yang mendesak tiba ke belakang) atau, lebih sering, kombinasi cedera rotasi dan tumbukan pada lutut penahan beban yang sedang tertekuk seperti pada cedera pesepak bola. Berbagai jenis cedera kompleks dapat timbul.

Ligament Injury | 6

Ligamen medial adalah yang paling sering terkena; penyebabnya biasanya adalah cedera pemuntiran dengan lutut yang berotasi dan terdorong ke dalam valgus. Jaringan mengalami ruptur dari lapisan ke lapisan; pertama ligamen kapsul dangkal, kemudian ligamen kolateral medial, dan kemudian karena tibia berotasi luar ligamen krusiatum anterior. Cedera yang sama terjadi (meskipun jauh lebih jarang) pada sisi lateral bila lutut dipaksa ke dalam varus, dan cedera ligamen krusiatum posterior bila tiba terdorong ke belakang dalam hubungannya dengan femur. II.2.3 Pengelompokan Cedera Ligamen pada Lutut 1. Robekan pada ligamen kolateral medial Mekanisme trauma Robekan pada ligamen medial lebih sering ditemukan. Robekan terjadi sewaktu tibia mengalami abduksi pada femur disertai trauma rotasi. Urutan robekan ligamen tergantung beratnya trauma : a. Robekan pada selaput sendi bagian superfisial b. Robekan pada ligamen kolateral medial c. Robekan ligamen krusiatum anterior; terjadi bila trauma berlanjut dengan tibia rotasi ke arah ekstern Robekan ligamen kolateral medial dan krusiatum anterior dapat disertai dengan robekan meniskus medialis dan disebut dengan Trias ODonoghue. Gambaran klinis Pembengkakan pada sendi lutut disertai dengan efusi pada sendi lutut. Nyeri tekan bagian medial pada daerah ligamen medial terutama bagian proksimal yang melekat pada femur. Pemeriksaan Radiologis Pemerikasaan radiologis dilakukan dibawah pembiusan dengan foto AP dan foto stres AP. Pada foto AP mungkin ditemukan avulsi disertai fragmen kecil tulang. Bergesernya bagian proksimal medial dari tibia terhadap femur menunjukkan robekan pada ligamen medial saja, apabila pergeseran lebih hebat maka mungkin terjadi juga robekan pada ligamen krusiatum. Untuk menentukan stabilitas sendi dapat dilakukan tes drawer dan tes menurut

Ligament Injury | 7

Lachman. Pemeriksaan artroskopi dapat menentukan kelainan-kelainan yang terjadi. Pengobatan a. Konservatif, bila robekan tidak hebat (tidak total) dapat dilakukan aspirasi lutut dan pemasangan gips silinder. b. Operatif, bila terdapat robekan yang besar dengan penjahitan pada ligamen yang robek. 2. Robekan pada ligamen kolateral lateral Robekan ligamen lateral lebih jarang ditemukan dan terjadi akibat adduksi tibia terhadap femur (strain arus). 3. Robekan pada ligamen krusiatum Robekan ligamentum krusiatum anterior dapat bersama-sama dengan robekan ligamen kolateral medial. Hal ini terjadi karena pergerakan bagian proksimal tibia terhadap femur ke depan secara keras atau terjadi karena lutut dalam keadaan hiperekstensi. Robekan ligamen krusiatum posterior terjadi akibat pergerakan hebat bagian proksimal tibia ke belakang terhadap femur. Pengobatan Pengobatan pada robekan ligamen krusiatum anterior dengan cara operasi dan rekonstruksi kembali biasanya kurang memuaskan. Pengobatan pada robekan ligamen krusiatum posterior dapat dilakukan rekonstruksi dari ligamen sendiri atau dengan operasi lain yang memberikan stabilitas pada sendi. Operasi dapat secara terbuka atau dengan mempergunakan alat artroskop. 4. Strain ligamen medial dan lateral Strain (keseleo) terjadi bila trauma yang ada tidak cukup kuat untuk menyebabkan suatu robekan total pada ligamen ini. Strain pada ligamen medial lebih sering terjadi daripada ligamen lateral. Mekanisme trauma Robekan pada bagian medial terjadi karena trauma abduksi sedangkan robekan bagian lateral karena trauma adduksi. Gambaran klinis

Ligament Injury | 8

Pada anamnesis ditemukan adanya riwayat trauma abduksi atau adduksi disertai nyeri pada daerah ligamen. Terdapat pembengkakan pada daerah lutut serta nyeri tekan pada daerah ligamen yang terkena. Dengan pemeriksaan stres, penderita mengeluh lebih sakit tetapi sendi lutut stabil. Mungkin ditemukan sedikit cairan dalam sendi lutut. Pemeriksaan artroskopi dilakukan untuk menegakkan diagnosis. Pengobatan dilakukan dengan pemakaian gips silinder selama 23 minggu. II.2.4 Gambaran Klinis Pasien memiliki riwayat cedera pemuntiran dan mungkin bahkan menyatakan telah terdengar suatu letupan di saat jaringan robek. Lutut terasa nyeri dan (biasanya) bengkak dan, berbeda dengan riwayat cedera meniskus, pembengkakan muncul hampir dengan segera. Nyeri tekan yang hebat pada ligamentum yang robek, dan menekan salah satu sisi sendi dapat menimbulkan nyeri yang sangat hebat. Lutut mungkin terlalu nyeri untuk memungkinkan dilakukannya palpasi dalam atau banyak gerakan. Meski semua tampak konsisten, penemuan dapat sedikit mengacaukan: misalnya, pada robekan lengkap, pasien dapat mengalami sedikit atau tanpa nyeri, dan biasanya dapat berjalan atau bahkan berlari; pada robekan sebagian, lutut terasa nyeri dan pasien berjalan pincang. Pembengkakan juga lebih buruk pada robekan sebagian, karena pendarahan tetap terbatas di dalam sendi; pada robekan lengkap kapsul yang mengalami ruptur memungkinkan darah keluar dari sendi dan berdifusi. Pada robekan sebagian usaha untuk melakukan gerakan selalu menimbulkan nyeri; gerakan abnormal pada robekan lengkap sering tidak nyeri atau terhalang oleh spasme. Abrasi menunjukan tempat benturan, tetapi memar lebih penting dan menunjukkan letak kerusakan. Rasa seperti adonan pada suatu hemartrosis dapat membedakan cedera ligamen dari cedera meniskus yang disertai fluktuasi akibat efusi sinovial. Nyeri tekan menunjukkan tempat lesi, tetapi tempat nyeri yang sangat jelas pada robekan sebagian (biasanya di bagian medial dan 2,5 cm di atas garis ujung) berbeda sekali dengan nyeri tekan yang difusi pada robekan lengkap. Seluruh tungkai harus diperiksa untuk

Ligament Injury | 9

mencari ada tidaknya cedera lain dan untuk mencari kerusakan pembuluh darah atau saraf. Bagian pemeriksaan yang paling penting adalah menguji stabilitas ligamentum. Robekan sebagian tidak memungkinkan gerakan abnormal, tetapi apabila dicoba akan menimbulkan nyeri. Robekan lengkap memungkinkan gerakan abnormal yang kadang-kadang tidak terasa nyeri. Keduanya sangat perlu dibedakan karena terapinya berbeda; jadi kalau terdapat keraguan pemeriksaan di bawah anastesia harus dilakukan. Kemiringannya ke samping diperiksa; pertama lutut berfleksi 30

derajat dan kemudian dengan posisi lutut lurus. Gerakan dibandingkan dengan sisi yang normal. Kalau lutut hanya berangulasi dalam sedikit fleksi, mungkin terdapat robekan pada ligamen kolateral; kalau lutut berangulasi dalam ekstensi penuh, hampir pasti terdapat robekan pada ligamentum krusiatum di samping pada ligamen kolateral. Stabilitas anteroposterior dinilai pertama-tama dengan mnempatkan lutut 90 derajat dengan kaki beristirahat di dipan dan dari sisi dicari ada tidaknya kelonggaran posterior pada tiba proksimal; bila ditemukan, ini merupakan tanda ketidakstabilan krusiatum posterior yang dapat dipercaya. Berikutnya uji laci (drawer Test) dilakukan dengan cara biasa; tanda laci positif merupakan diagnostik adanya robekan, tetapi uji yang negatif tidak menyingkirkan adanya robekan. Uji Lachman lebih dapat dipercaya; pergeseran anteroposterior diuji dengan posisi lutut fleksi 15-20 derajat. Stabilisasi rotasional biasanya hanya dapat diuji di bawah anestesi. II.2.5 Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan Gerakan Sendi Lutut Pemeriksaan gerakan sendi lutut sangat penting karena setiap kelainan pada lutut akan memberikan gangguan pergerakan lutut. Pada pemeriksaan perlu diketahui apakah gerakan disertai nyeri atau krepitasi. Secara normal gerakan fleksi pada sendi lutut sebesar 120-145 derajat dan gerakan ekstensi 0 derajat dan mungkin ditemukan hiperekstensi sebesar 10 derajat. Uji stabilitas sendi lutut yang dapat dilakukan :

Ligament Injury | 10

1. Pemeriksaan ligamentum kolateral medial dan lateral Robekan pada ligamentum kolateral medial dapat diperiksa melalui uji abduction stress dan pada ligamentum kolateral lateral melalui uji adduction stress. Pada pemeriksaan ini sendi lutut dalam keadaan ekstensi penuh, satu tangan pemeriksa memegang pergelangan kaki dan satunya pada lutut. Dengan kedua tangan dilakukan abduksi untuk menguji ligamentum medial, dan adduksi untuk menguji lgamentum lateral. Apabila terdapat robekan pada ligamentum kolateral maka dapat dirasakan sendi bergerak melebihi batas normal. 2. Pemeriksaan ligamentum krusiatum anterior dan posterior Kedua ligamentum ini berfungsi untuk stabilisasi sendi lutut karah depan dan belakang. Ligamentum krusiatum anterior berfungsi untuk mencegah tibia tergelincir ke depan femur, sedangkan ligamentum krusiatum posterior pada arah sebaliknya. Cara pemeriksaan : Uji Drawer Lutut difleksikan 90 derajat dan pemeriksa duduk pada kaki pasien untuk mencegah gerakan kaki. Dengan meletakkan kedua tangan di belakang tibia bagian proksimal dan kedua ibu jari pada kondilus femur, kemudian dilakukan tarikan pada tibia ke depan dan ke belakang. Kecurigaan adanya robekan pada ligamentum krusiatum apabila ada gerakan yang abnormal, baik ke depan ataupun ke belakang. Uji Lachman Pada pemeriksaan ini lutut difleksikan 15-20 derajat. Satu tangan memegang tungkai atas pada kondilus femur, sedangkan tangan lainnya memegang tibia proksimal. Kedua tangan kemudian digerakkan ke depan dan belakang antara tibia proksimal dan femur. Pemeriksaan pivot shift lateral

Ligament Injury | 11

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui defisiensi pada ligamentum krusiatum anterior. Caranya kaki yang mengalami kelainan diangkat, Dimana kaki kanan diangkat tangan kanan dan kaki kiri diangkat dengan tangan kiri dan lutut dalam keadaan ekstensi maksimal. Dengan satu tangan pemeriksa memutar dari arah luar tungkai bawah persis di sebelah bawah lutut sehingga terjadi tekanan valgus. Pada saat yang bersamaan tibia dirotasi ke medial. Selanjutnya lutut difleksi secara perlahan-lahan dari posisi ekstensi. Pemeriksaan positif apabila kondilus lateralis tibialis terelokasi secara spontan pada kondilus femur ketika fleksi mencapai 30-35 derajat. b. Pemeriksaan Radiologi Foto polos dapat memperlihatkan bahwa ligamen telah mengavulsikan sepotong tulang kecil ligamen medial biasanya dari femur, ligamen lateral dari fibula, ligamen krusiatum anterior dari spina tibia dan krusiatum posterior dari bagian belakang tibia atas. Film tekanan (kalau perlu dibawah anestesi) dapat menunjukkan apakah engsel sendi terbuka ke satu sisi. c. Pemeriksaan Artroskopi Bila terjadi robekan hebat pada ligamen kolateral dan kapsul, artroskopi tidak boleh dilakukan karena ekstravasasi cairan akan menghambat diagnosis dan menyulitkan prosedur selanjutnya. Indikasi utama untuk melakukan artroskopi adalah pada robekan ligamentum krusiatum terisolasi yang dicurigai, dan pada sprain yang lebih ringan untuk menyingkirkan cedera internal lain misalnya robekan meniskus, yang (kalau ada) dapat ditangani seketika itu juga.

Ligament Injury | 12

II.2.6 Terapi a. Robekan Sebagian Serat yang utuh membebat serat yang robek dan akan terjadi penyembuhan spontan. Perlekatan akan membahayakan, maka latihan aktif akan dilakukan sejak awal, dibantu dengan aspirasi efusi yang tegang, aplikasi kompres es pada lutut dan, kadang-kadang, injeksi anestesi lokal ke daerah yang nyeri. Pembebanan diperbolehkan tetapi lutut dilindungi dari rotasi atas strain angulasi dengan pembalutan Ligament Injury | 13

berbantalan atau bebat posterior. Gips yang lengkap tidak diperlukan dan merugikan; ini menghambat gerakan dan mencegah penilaian ulang setiap minggu suatu peringatan penting kalau kesalahan ingin dihindari. Dengan program latihan itu, pasien biasanya dapat kembali berlatih olah raga setelah 6-8 minggu. b. Robekan Lengkap Dalam teori, penyembuhan dapat terjadi asalkan ujung yang robek disposisi dengan teliti dan dipertahankan tanpa gerakan dalam gips. Tetapi hasilnya tak menentu. Lebih bijaksana bila dilakukan operasi dan merupakan kesempatan terbaik untuk menghindari ketidakstabilan di masa mendatang. Prinsip pedomannya adalah : 1. Melakukan operasi dini (lebih awal lebih baik dan harus dalam 14 hari) 2. Menggunakan insisi yang cukup lebar (kalau struktur posterior juga robek dan akses tidak adekuat, insisi posterior yang kedua akan membantu) 3. Memperbaiki setiap struktur yang robek dengan kuat dan, kalau mungkin, dengan penempelan ulang pada tulang (staples, atau penjahitan lewat lubang bor, diperlukan) 4. Mempertimbangkan penguatan perbaikan dengan autograf atau implan 5. Melindungi perbaikan selama 6 minggu dalam gips di atas lutut. Pada robekan yang luas sendi harus di eksplorasi, dan bagian meniskus yang robek atau lepas dibuang. Kalau ligamen krusiatum terobek,ligamen itu juga harus diperbaiki. Kapsul posteromedial mungkin terpakasa ditempel ulang dengan menjahitnya lewat lubang bor pada tulang. Ligamen yang berjumbai dapat diperkuat dengan salah satu dari struktur tendinosa di sekitarnya (misalnya, pas anserinus atau semimembranosa). Ligamentum krusiatum anterior dapat terevaluasi pada kedua ujungnya. Ini dapat ditempel ulang dengan fiksasi sekrup atau dengan penjahitan yang melewati lubang bor yang ditempatkan dengan sesuai

Ligament Injury | 14

pada tibia atau femur. Robekan di dalam bahan ligamen sulit dijahit; perbaikan dapat diperkuat dengan menggunakan salah satu dari tendon yang berdekatan atau implan yang bebas. Pada ligamentum krusiatum posterior perbaikan atau penguatan dapat lebih mudah dilakukan melalui pendekatan posterior. Pasca operasi tungkai diimobilisasi dalam gips panjang dengan posisi lutut fleksi 40 derajat (kaki harus berotasi ke medial terutama kalau struktur medial terlibat, berotasi ke lateral bila terjadi kerusakan lateral). Gips ini biasanya dapat diganti dengan gips penyangga berengsel setelah 3-4 minggu. Pembebanan bebas tidak diperbolehkan hingga 8 minggu setelah perbaikan ligamen. Latihan penguatan otot secara aktif diperlukan dan harus dilanjutkan sekurang-kurangnya 6 bulan. c. Terapi Non-Operasi Kalau pasien bukan atlet atau tidak lagi muda (atau jika diagnosa meragukan), terapi non-operasi mungkin lebih baik. Tentu saja, robekan ligamentum kolateral medial (yakni, bila lutut stabil dalam ekstensi penuh) dapat diterapi secara efektif tanpa operasi. Tungkai demobilisasi dalam gips selama 6-8 minggu; selama waktu itu pasien diperbolehkan menahan beban dengan keruk penopang. Hasilnya, meskipun hasilnya tidak sebaik hasil setelah operasi dengan keahlian dan teknik yang modern, namun dapat diterima. Ketidakstabilan yang tersisa dapat ditangani kemudian, kalau perlu dengan pembedahan rekonstruksi. II.2.7 Komplikasi Perlekatan terjadi apabila lutut dengan robekan ligamen sebagian tidak digunakan secara aktif, serat yang putus menempel pada serat yang utuh dan tulang. Lutut dapat lepas dengan disertai rasa nyeri; terdapat nyeri tekan lokal, dan rasa nyeri pada rotasi medial atau lateral. Kekacauan dengan meniskus yang robek dapat diatasi dengan uji penggerusan, atau dengan manipulasi dan injeksi di bawah anestesi, yang biasanya kuratif. Kalau masih terdapat keraguan mengenai kemungkinan robeknya meniskus, artroskopi diindikasikan. Kadang-kadang cedera abduksi diikuti dengan perkapuran dekat perlekatan bagian atas pada ligamen medial (penyakit

Ligament Injury | 15

Pallegrini-Stieda). Perkapuran pada sendi lutut biasanya akan timbul pada usia lebih dari 60 tahun, tetapi gejala perkapuran sudah sangat nyata pada kasus-kasus cedera lutut yang tidak ditangani dengan baik, sering kali pada usia 40 tahun.

II.3 Cedera Ligamen pada Pergelangan Kaki II.3.1 Robekan ligamen Deltoid Ruptur pada ligamen deltoid biasanya berhubungan dengan fraktur pada ujung distal fibula atau robekan pada ligamen tibiofibula distal (atau keduanya). Robekan terjadi karena adanya trauma abduksi. Robekan dapat bersama-sama dengan lepasnya fragmen kecil dari maleolus medialis (avulsi). Diagnosis dibuat dengan sinar X : terdapat pelebaran ruang sendi medial pas foto mortise; kadang-kadang talus miring, dan diastasis sendi tibiofibular dapat tampak jelas. Terapi: asalkan ruang sendi medial benar-benar tereduksi, ligamen akan sembuh. Fraktur fibula atau diastasis harus direduksi dengan tepat, jika perlu dengan operasi terbuka dan fiksasi internal. Kadang-kadang ruang seni media tidak dapat direduksi; sehingga eksplorasi harus dilakukan untuk membebaskan jaringan lunak yang terjebak dalam sendi. Gips di bawah lutut dipasang dengan kaki plantigrad dan dipertahkankan selama 8 minggu.

II.3.2 Robekan pada Ligamen Tibiofibula Inferior Ligamen tibiofibula inferior dapat robek, sehingga dapat menyebabkan separasi sendi tibiofibular sebagian atau lengkap (diastasis). Diastasis lengkap, dengan robekan pada kedua serat anterior pada posterior, terjadi akibat strain abduksi yang hebat. Diastasis sebagian, dengan robekan hanya pada serat anterior, diakibatkan oleh adanya rotasi luar. Cederaini dapat terjadi secara tersendiri, tetapi biasanya disertai dengan fraktur pada maleolus. a. Gambaran Klinik Setelah cedera pemuntiran, pasien mengeluh nyeri pada bagian depan pergelangan kaki. Terdapat pembengkakan dan nyeri tekan yang jelas tepat pada sendi tibiofibular inferior. b. Sinar X

Ligament Injury | 16

Pada robekan sebagian, fibula biasanya terletak pada posisi normal dan pemeriksaan sinar X tampak normal. Pada robekan lengkap sendi tibiofibular terpisah dan mortise pergelangan kaki melebar; kadang-kadang ini hanya akan tampak jelas bila pergelangan kaki ditekan dalam abduksi. Mungkin terdapat fraktur pada tibia distalatau fibula, atau fraktur yang terisolasi di bagian yang lebih proksimal pada fibula. c. Terapi Robekan sebagian dapat diterapi dengan mengikat pergelangan kaki dengan kuat selama 2-3 minggu. Sesudah itu dianjurkan untuk melakukan latihan. Robekan lengkap paling baik ditangani dengan fiksasi internal dengan pemasangan sekrup melintang tepat di atas sendi. Ini harus dilakukan secepat mungkin sehingga ruang tibiofibular tidak tersumbat akibat berkumpulnya hematoma dan jaringan fibrosa. Kalau pasien terlambat ditangani dan pergelangan kaki nyeri dan tidak stabil, pembersihan sindesmosis secara terbuka dan fiksasi sekrup melintang mungkin diperlukan. Pergelangan kaki diimobilisasi dalam gips selama 6 minggu, setelah itu sekrup dilepas. Tetapi tingkat ketidakstabilan tertentu biasanya terus berlanjut.

Ligament Injury | 17

BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan Ligament merupakan jaringan ikat fibrosa yang mengikat ujung luar tulang yang membentuk persendian. Ligamen tersusun atas jaringan ikat padat yang mengandung serat kolagen nonextensile (tipe 1). Cedera pada ligamen dapat terjadi akibat benturan atau gerakan yang dapat mengakibatkan ligamen meregang melebihi kemampuan normalnya. Cedera pada ligamen sering terjadi pada ligamen di bagian lutut, dan pergelangan kaki. Penatalaksanaannya tergantung dari tingkat keparahan cedera. Untuk keseleo, terapi bisa dilakukan dengan pemasangan gips selama beberapa minggu, sedangkan untuk robekan ligamen ditangani dengan operasi untuk menjaga kestabilan sendi.

Ligament Injury | 18

DAFTAR PUSTAKA

Louis, Solomon, Apley, A., Graham.(1995) Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley Edisi 7. Jakarta : Widya Medika Pontoh, Andre. Diagnosa Gangguan pada Lutut.

http://www.rspondokindah.co.id/rspi/Download-document/373Diagnosa-Gangguan-Pada-Lutut-119-KB.html Diunduh pada tanggal 2 Oktober 2013. Rasjad, Chairuddin.(2009) Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : PT. Yarsif Watampone Salter, Robert, B.(1999) Textbook Of Disorder Ana Injuries of The Musculoskeletal System Third De. Baltimore: Williams & Wilkins

Ligament Injury | 19