Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur pada Allah subhanahu wa taala yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami , sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan dengan Child Abuse. Penulisan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas kuliah Perawatan Komunitas. Makalah ini disusun sesuai dengan pengetahuan yang kami miliki saat ini. Kami berharap makalah ini dapat memenuhi persyaratan kelulusan mata kuliah Perawatan Komunitas. Meskipun makalah ini masih jauh dari kesan sempurna karena keterbatasan pengetahuan kami, mengenai Asuhan Keperawatan dengan Child Abuse. Dengan segenap kesadaran diri, kami sangat mengharapkan saran dan kritik untuk membangun dan penyempurnaan makalah yang kami tulis .

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang Akhir-akhir ini, kekerasan pada anak semakin merajalela di mana-mana. Hamper setiap hari dimedia masa mulai dari kekerasan ringan hingga kekerasan yang merenggut nyawa anak tersebut. Fenomena-fenomena kekerasan yang terjadi mengundang keprihatinan dari banyak pihak terutama komnas HAM. Kekerasan memiliki dampak negative secara psikologis terhadap anak yang menjadi korban kekerasan dari orang tuanya. Kekerasan pada anak tentu memberikan dampak-dampak serius kepada perilaku anak dimsa yang akan datang. Menurut harian kompas (2010), seorang ibu tega memukul anaknya setiap kali anaknya berbuat kesalahan karena pada waktu masa kecilnya ia pun mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh orang tuanya. Bukankah fenomena tersebut sangat berdampak buruk secara psikologis terhadap perkembangan anak ? Kekerasan pada anak merupakan masalah serius yang seharusnya mendapatkan perhatian bagi masyarakat karena akan memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap lingkungan sekitar mereka. Sebagian besar perilaku agresif yang timbul dalam diri seorang remaja disebabkan oleh masalalu mereka yang tidak terima dengan apa yang telah terjadi. Dala ilmu psikologis, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk memberikan penanganan terhadap korban yang pernah mengalami kekerasan. Salah satu pendekatan yang bias dilakukan adalah dengan hipnoterapi, dimana posisi terapis adalah menggali segala informasi dalam alam bawah sadar seorang individu agar mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi.

B. Rumusan masalah 1. Bagaimana pengertian child abuse ? 2. Apa saja klasifikasi dari child abuse ? 3. Bagaimana etiologi dari child abuse ? 4. Apa saja manifestasi klinis dari child abuse ?

5. Apa saja komplikasi dari child abuse ?

C. Tujuan 1. Agar mahasiswa dapat memahami pengertian child abuse 2. Agar mahasiswa dapat memahami klasifikasi dari child abuse 3. Agar mahasiswa dapat memahami etiologi dari child abuse 4. Agar mahasiswa dapat memahami manifestasi klinis dari child abuse 5. Agar mahasiswa dapat memahami komplikasi dari child abuse

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Child Abuse adalah tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi (David Gill, 1973). Sedangkan menurut Synder, 1983, Child Abuse adalah perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual. Dan Child Abuse juga diartikan sebagai penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak, dimana ini adalah hasil dari perilaku manusia yang keliru terhadap anak.Child Abuse adalah tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi (David Gill, 1973)Child abuse yaitu trauma fisik atau mental, penganiayaan seksual, kelalaian pengobatan terhadap anak di bawah usia 18 tahun oleh orang yang seharusnya memberikan kesejahteraan baginya. (Hukum masyarakat Amerika Serikat

mendefinisikan, 1974). Child Abuse adalah perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual (Synder, 1983). Child abuse adalah sebagai suatu kelalaian tindakan / perbuatan

oleh orang tua atau yang merawat anak yang mengakibatkan terganggu kesehatan fisik emosional serta perkembangan anak. (Patricia, 1985). Child Abuse adalah penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak, dimana ini adalah hasil dari perilaku manusia yang keliru terhadap anak

B. KLASIFIKASI Perlakuan salah pada anak, menurut sifatnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Penganiayaan fisik Erik Erikson dalan Townsend (1996) menyatakan bahwa dosa terberat adalah mutilasi terhadap spirit anak-anak. Anak-anak merupakan makhluk yang lemah dan tidak berdaya. Tindakan yang salah pada anak dapat berakibat sangat dalam dan berjangka panjang. Penganiayaan anak didefinisikan sebagai cidera fisik atau emosi, penelantaran fisik atau emosi, atau tindakan emosi yang dilakukan oleh orang yang seharusnya mengasuh mereka (Kansas Child Abuse Prevention Council, 1992). Penganiayaan fisik dapat berupa tindakan memukul, menendang,

melempar, menyundut dengan rokok, dan berbagai bentuk kekerasaan lainnya yang dapat menimbulkan cidera. Cidera fisik dapat terjadi karena penganiayaan dari yang ringan hingga berat, bahkan mengancam kehidupan. Jenis cidera fisik yang mungkin dialami korban meliputi cidera pada kulit atau jaringan lunak, cidera internal; dislokasi dan fraktur; gigi rontok; luka bakar; abrasi atau kebiruan karena dicambuk dengan ikat pinggang, rambut rontok karena dijambak, luka tembak, tusuk pisau, atau objek tajam lainnya, pendarahan pada retina dan perdarahan di konjungtiva (Fontaine,1996). Kekerasan ringan atau berat berupa trauma, atau penganiayaan yang dapat menimbulkan risiko kematian. Yang termasuk dalam katagori ini meliputi memar, perdarahan internal, perdarahan subkutan, fraktur, trauma kepala, luka tikam dan luka bakar, keracunan, serta penganiayaan fisik bersifat ritual. 2. Penganiayaan seksual Ada dua kategori penganiaayan seksual, yaitu inses (incest) dan penganiayaan seksual yang dilakukan oleh anggota keluarga. Penganiayaan oleh anggota keluarga lebih traumatic bagi anak, karena mereka kehilangan rasa percaya, merasa tidak aman di lingkungan rumahnya sendiri, dan merupaan ancaman yang paling mendasar dalm kehidupan anak. Perilaku penganiayaan berkisar dari yang paling ringan, perilaku tertutup, hingga tidakan seksual yang terbuka. Misalnya, tidak menghormati privasi anak, memandang anak secara sensual, meminta anak untuk telanjang, hingga berhubungan seksual. Berbagai faktor dapat memediasi dampak penganiayaan seksual terhadap anak. Secara umum, anak yang lebih muda dengan riwayat masalah emosional mungkin dapat lebih traumatis daripada yang berusia lebih tua dengan jiwa yang lebih stabil. Penganiayaan yang terjadi secara berulang kali dan dalm jangka waktu yang lama disertai tindak kekerasan dan penetrasi tubuh mengakibatkan trauma yang lebih hebat. Penganiayaan seksual yang dilkukan oleh seseorang yang di ketahui dan di percyai ole anak akan menimbulkan trauma ynga lebih parah. Reaksi negaatif dari orang yang dekat dengan korban, tenaga kesehatan, atau orang lain dapat memperparah trauma. 3. Penganiayaan emosional Walaupun penganiayaan fisik dan seksual merupakan pengalaman yang traumatic bagi anak, tetapi perkembangan diri anak juga lebih besar bahayanya, karena pesan yanr tersirat dari penganiayaan tersebut adalah Saya tidak peduli kamu. Saya lebih

berkuasa daripada kamu. Kamu adalah milik saya. Dan tidak punya hak atas tubuh anda (Garbarino, 1993). Lima kategori penelantara emosional terhadap anak adalah menolak, menisolasi, meneror, mengaabaaikan, dan mengorupsi anak. Ditandai dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan anak, tidak mengakui sebagai anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain 4. Penganiayaan psikologis Yang termasuk dalam kategori ini meliputi trauma psikologik yang dapat menganggu kehidupan sehari-hari seperti ketakutan, ansietas, depresi, isolasi, tidak adanya respons dan agresi yang kuat. 5. Penelantaran anak Penelantaran anak (child neglect) merupakan suatu bentuk penganiayaan anak yang paling sering dilaporkan (Fontaine, 1996). Ada beberapa jenis pengabaian, yaitu gagal melindungi anak, penelantaran fisik, dan penelantaran medic. Termasuk gagal melidungi anak adalah melindungi berbagai macam cidera kecelakaan, seperti terminum racun, kesetrum listrik, jatuh dan terbakar. Penelantaran fisik meliputi gagal member makan, pakaian tempat tinggal indicator penelantaran fisik adalah infeksi pada kulit, rambut berkutu, scabies, penampilan yang kotor, pakaian yang tidak sesuai dan lingkungan kehidupan yang tidak aman dan tidak bersih. Penelantaran medic atau kesehatan mencakup gagal untuk member kebutuhan pelayanan kesehatan pada anak, termasuk gagal mencarikan pelayanan kesehatan yang sesuai atau gagal mematuhi tindakan yang di berikan. Indicator penelantaran dalam berikut ini adalah kujungan kesehatan yang dilakukan berulang kali, ketidakmapuan dan komplikasi.

6. Pengetahuan Pengabaian disengaja, tetapi dapat juga karena ketidaktahuan atupun akibat kesulitan ekonomi. Yang termasuk dalam kategori ini meliputi: a. Pengabaian nutrisi atau dengan sengaja kurang memberikan makanan, paling sering dilakukan pada bayi yang berat badan rendah. Gagal tumbuh, yaitu suatu kegagalan dalam pemenuhan masukan kalori serta kebutuhan emosi anak yang cukup.

b.

Pengabaian medis bagi anak penderita suatu penyakit akut atau kronik sehingga mengakibatkan memburuknya keadaan, bahkan kematian.

c.

Pengabaian pendidikan anak setelah mencapai usia sekolah, dengan tidak menyekolahkannya.

d. Pengabaian emosional, dimana orangtua kurang perhatian terhadap anaknya. e. Pengabagian keamanan anak. Anak kurang pengawasan sehingga menyebabkan anak mengalami risiko tinggi terhadap fisik dan jiwanya. 7. Sindroma munchausen Sindroma munchausen merupakan permintaan pengobatan terhadap penyakit yang dibuat dengan pemberian keterangan medis palsu oleh orang tua, yang menyebabkan anak banyak mendapat pemeriksaan/prosedur rumah sakit. Faktor-Faktor Penyebab 1. Ekonomi Faktor kemiskinan menyebabkan rendahnya kemampuan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar kelurga. Kesulitan ekonomi ini selanjutnya akan memicu timbulnya ketegangan dalam kehidupan keluarga. Apabila rendahnya ekonomi keluarga berlanjut tanpa ada perbaikan, maka para orang tua cenderung menjadi panik dan gelap mata, maka mereka tega melakukan penyiksaan atau kekerasan fisik terhadap anaknya tanpa mempertimbangkan dampak negatif atau trauma yang akan terjadi dari kekerasan yang mereka lakukan. 2. Budaya Masih kuatnya nilai budaya lokal yang memposisikan orang tua sebagai satu kekuasaan yang membuat orang tua merasa punya hak penuh untuk memperlakukan apa saja terhadap anaknya baik dalam menghukum, melakukan kekerasan, mempekerjakan anaknya secara eksplotatif dalam jenis pekerjaan apa saja terhadap anaknya. Mereka lupa bahwa anak itu bukan miliknya, namun anak adalah amanah Tuhan yang harus dibina dengan baik dan dipenuhi hak- haknya 3. Cara Pandang Masih kuatnya anggapan bahwa anak adalah anggota dan milik keluarga, sehingga apapun urusan dan masalah anak adalah urusan internal yang tidak perlu dicampuri oleh orang luar. Adanya anggapan tersebut membuat warga sekitar enggan untuk mencampuri apabila ada kasus kekerasan terjadi pada ewarganya. Hal ini menyebabkan kasus kekerasan tidak /jarang terungkap ke permukaan dan kasus kekerasan terus berlanjut di masyarakat.

4.

Pendidikan Masih rendahnya pemahaman dan kesadaran para orangtua akan hak- hak anak yang perlu dipenuhi agar anak dapat tumbuh dan berkambang secara baik. Dengan rendahnya pemahaman dan kesadaran ini, maka pola pengasuhan anak yang salah sering terjadi di sebagian masyarakat. Anak harus patuh dan tunduk kepada orang tua tanpa diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya dalam memilih mana yang terbaik untuk dirinya.

5. Perkawinan Perkawinan usia dini merupakan perkawinan yang dipaksakan dan menjadikan ketidaksiapan pasangan baru ini, baik dari segi pengetahuan maupun cara- cara mendidik anaknya secara baik dan benar tanpa tindak kekerasan. C. ETIOLOGI Perlakuan salah terhadap anak bersifat multidimensional, tetapi ada 3 faktor penting yang berperan dalam terjadinya perlakuan salah pada anak, yaitu: 1. Karakteristik orangtua dan keluarga Faktor-faktor yang banyak terjadi dalam keluarga dengan child abuse antara lain: a. Para orangtua juga penderita perlakuan salah pada masa kanak-kanak. b. Orangtua yang agresif dan impulsif. c. d. Keluarga dengan hanya satu orangtua. Orangtua yang dipaksa menikah saat belasan tahun sebelum siap secara emosional dan ekonomi. e. f. g. h. i. j. k. Perkawinan yang saling mencederai pasangan dalam perselisihan. Tidak mempunyai pekerjaan. Jumlah anak yang banyak. Adanya konflik dengan hukum. Ketergantungan obat, alkohol, atau sakit jiwa. Kondisi lingkungan yang terlalu padat. Keluarga yang baru pindah ke suatu tempat yang baru dan tidak mendapat dukungan dari sanak keluarga serta kawan-kawan. 2. Karakteristik anak yang mngalami perlakuan salah Beberapa faktor anak yang berisiko tinggi untuk perlakuan salah adalah: a. Anak yang tidak diinginkan.

b.

Anak yang lahir prematur, terutama yang mengalami komplikasi neonatal, berakibat adanya keterikatan bayi dan orangtua yang membutuhkan perawatan yang berkepanjangan.

c. d. e.

Anak dengan retardasi mental, orangtua merasa malu. Anak dengan malformasi, anak mungkin ditolak. Anak dengan kelainan tingkah laku seperti hiperaktif mungkin terlihat nakal.

f. g.

Anak normal, tetapi diasuh oleh pengasuh karena orangtua bekerja. Beban dari lingkungan: Lingkungan hidup dapat meningkatkan beban terhadap perawatan anak.

Penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa penyiksaan anak dilakukan oleh orang tua dari banyak etnis, letak geografis, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan dan social ekonomi. Kelompok masyarakat yang hidup dalam kemiskinan meningkatkan laporan penyiksaan fisik terhadap anak-anak. Hal ini mungkin disebabkan karena: a. Peningkatan krisis di tempat tinggal mereka (contoh: tidak bekerja atau hidup yang berdesakan). b. c. d. Akses yang terbatas ke pusat ekonomi dan sosial saat masa-masa krisis. Peningkatan jumlah kekerasan di tempat tinggal mereka. Hubungan antara kemiskinan dengan faktor resiko seperti remaja dan orang tua tunggal (single parent).

D. MANIFESTASI KLINIS Anak- anak yang menjadi korban child abuse rata-rata perkembangan psikologis mengalami gangguan.Mereka terlihat murung, tertutup, jarang beradaptasi dan bersosialisasi, kurang konsentrasi, dan prestasi akademik menurun (Hefler, 1976). Studi lain menemukan bahwa anak-anak usia di bawah 25 bulan yang menjadi korban child abuse, skor perkembangan kognitifnya lemah. Hal ini ditandai oleh empat perbedaan perilaku dan perkembangan anak, yakni perbuatan kognitif, penyesuaian fungsi-fungsi di sekolah, perilaku di ruang kelas. Dan perilaku di rumah (Mackner, 1997). Anak yang berulang kali mengalami jelas pada susunan saraf pusatnya dapat mengalami keterlambatan dan keterbelakangan mental, kejang-kejang hidrosefalus,

atau ataksia. Selanjutnya, keluarga-keluarga yang tidak mendapat pengobatan serta perawatan yang memadai cenderung akan menghasilkan anak remaja yang nakal dan menjadi penganiaya anak sendiri pada generasi berikutnya. Anak yang telah mengalami penganiayaan seksual dapat menyebabkan perubahan tingkah laku dan emosi anak, antara lain depresi, percobaan bunuh diri. Gangguan stress post traumatik, dan penggunaan makan. Seorang anak laki-laki korban penganiayaan seksual di kemudian hari. Wanita yang secara fisik mengalami kekerasan pada waktu anak-anak akan dua kali lebih tinggi rentan atas penyakit atau gejala kegagalan untuk makan. Sebuah dampak yang membuat para wanita itu ketika beranjak dewasa mengalami masalah dengan mengkonsumsi makanan. Namun dampak yang paling besar dialami adalah akibat perlakuan keras dan pelecehan seksual saat mereka masih gadis. Kekerasan saat kecil memang sudah lama menjadi satu faktor penyebab timbulnya gejala atau penyakit sulit makan seperti anorexia dan bulimia. Gejala bulimia ini pernah dialami oleh mendiang Putri Wales, Putri Diana yang stress akibat perlakuan yang diterimanya. Gejala anorexia dan bulimia hampir terjadi pada semua responden wanita dimana 102 wanita memiliki gejala yang jelas sementara 42 wanita lainnya harus melakukan konsultasi dengan dokter mengenai gejala yang mereka alami. Seorang gadis akan mengalami gejala perlakuan keras semasa kecil. Bahkan resiko itu akan naik tiga hingga empat kali pada wanita yang mengalami kekerasan fisik dan seksual sekaligus. Manifestasi Klinis dari Penganiayaan dan Pengabaian Anak 1. Cidera Kulit Cidera kulit adalah tanda-tanda penganiayaan anak yang paling umum dan paling mudah dikenali. Bekas gigitan manusia tampak sebagai daerah lonjong dengan bekas gigi, tanda hisapan atau tanda dorongan lidah. Memar multiple atau memar pada tempat-tempat yang tidak terjangkau menunjukkan bahwa anak itu telah mengalami penganiayaan. Memar yang ada dalam berbagai tahap penyembuhan menunjukkan adanya trauma yang terjadi berulang kali. Memar berbentuk objek yang dapat dikenali umumnya bukan suatu kebetulan. 2. Kerontokan Rambut Traumatik Kerontokan rambut traumatik terjadi ketika rambut anak ditarik, atau dipakai untuk menyeret atau menyentak anak. Akibatnya pada kulit kepala dapat memecahkan pembuluh darah di bawah kulit. Adanya akumulasi darah dapat

membantu membedakan antara kerontokan rambut akibat penganiayaan atau non-penganiayaan. 3. Jatuh Jika seorang anak dilaporkan mengalami jatuh biasa, namun yang tampak adalah cidera yang tidak biasa, maka ketidaksesuaian riwayat dengan trauma yang dialami tersebut menimbulkan kecurigaan adanya penganiayaan terhadap anak. 4. Cidera Eksternal pada Kepala, Muka dan Mulut Luka, perdarahan, kemerahan atau pembengkakan pada kanal telinga luar, bibir pecah-pecah, gigi yang goyang atau patah, laserasi pada lidah dan kedua mata biru tanpa trauma pada hidung, semuanya dapat mengindikasikan adanya penganiayaan. 5. Cidera Termal Disengaja atau Diketahui Sebabnya Luka bakar terculap, dengan garis batas jelas, luka bakar sirkuler kecil-kecil dan banyak dalam berbagai tahap penyembuhan, luka bakar setrikaan, luka bakar daerah popok dan luka bakar tali semuanya memberikan kesan adanya tindakan jahat yang disengaja. 6. Sindroma Bayi Terguncang Guncangan pada bayi menimbulkan cidera pada otak, menyebabkan regangan dan pecahnya pembuluh darah. Hal ini dapat menimbulkan cidera berat pada system saraf pusat, tanpa perlu bukti-bukti cidera eksternal. 7. Fraktur dan Dislokasi yang Tidak Dapat Dijelaskan Fraktur Iga Posterior dalam berbagai tahap penyembuhan, fraktur spiral atau dislokasi karena terpelintirnya ekstremitas merupakan bukti cidera pada anak yang tidak terjadi secara kebetulan. E. KOMPLIKASI 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Mengalami keterlambatan dan keterbelakangan mental Kejang-kejang Hidrocepalus Ataksia Kenakalan remaja Depresi dan percobaan bunuh diri Gangguan Stress post traumatic Gangguan makan

Dampak Penganiayaan dan Kekerasan Pada Anak Dampak penganiayaan dan kekerasan pada anak akan mengakibatkan gangguan biopsiko-sosial anak. Hal ini dapat terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Anak mempunyai masa depan yang masih panjang sehingga perlu pemantauan dan program tindakan yang terus-menerus bagi anak korban penganiayaan dan kekerasan. Indikator yang perlu diperhatikan akibat penganiayaan dan kekerasan pada anak dapat dilihat pada tabel 2.1. Diharapkan tindakan/program dilakukan tanpa menunggu tanda/indikator muncul.

Tabel 2.1. Indikator fisik dan perilaku pada penganiayaan anak (Child Abuse) Indikator Fisik 1) Aniaya Fisik meliputi ; kerusakan kulit 1) dan skeletal. Kerusakan kulit ; memar Indikator Perilaku Aniaya Fisik meliputi ; takut kontak dengan orang dewasa, prihatin jika ada anak

dengan menangis,waspada/ketakutan,

berbagai tingkat penyembuhan, luka agresif/pasif/menarik diri bakar, lecet dan goresan Kerusakan Skeletal ; fraktur, luka pada mulut, bibir, rahang, mata, perineal 2) Penelantaran/Pengabaian meliputi ; 2) kelaparan, kebersihan diri Penelantaran/Pengabaian meliputi ; pengemis,

kurang, sendiri tanpa pengasuh pada waktu yang panjang,

pakaian tidak terurus, tidak diurus dalam penjahat, pencuri, datang cepat dan pulang waktu lama, tidak pernah periksa lambat dari sekolah, pasif, agresif, penuntut

kesehatan 3) 3) Aniaya Seksual meliputi ; harga diri negatif,

Aniaya Seksual meliputi ; sukar jalan tidak percaya pada orang lain (sukar dekat dan duduk, pakaian dalam berdarah, dengan orang lain), disfungsi kognitif dan bernoda, genital gatal, memar dan motorik, defisit kemampuan personal dan sosial,

berdarah pada daerah perineal, penyakit penjahat atau lari dari rumah, ketergantungan kelamin, pertumbuhan ketergantungan dan obat, obat, ide bunuh diri dan depresi, melaporkan

perkembangan aniaya seksual, psikotik

terlambat, hamil pada usia remaja

4)

Aniaya Emosional meliputi ; gagal 4)

Aniaya Emosional meliputi ; perilaku yang

dalam perkembangan, pertumbuhan fisik ekstrim : pasif sampai agresif, kebiasaan yang tertinggal, gangguan bicara tergang-gu/destruktif, neurotik, percobaan bunuh diri

F. Aspek Hukum Pencederaan Anak di Indonesia Orang tua adalah yang pertama-tama bertanggung jawab atas terwujudnya kesejahteraan anak baik secara rohani, jasmani, maupun sosial (Pasal 9 UU No.4/1979), UU No. 12 tahun 2002 menjelaskan tentang penganiayaan fisik pada anak. Di Indonesia tanggung jawab pelaku pencederaan anak tertera dalam Kitab UU hukum pidana (KUHP) yang pasal-pasalnya berkaitan dengan jenis & akibat pencederaan anak. Dalam KUHP penerapan pasal-pasalnya tergantung dari jenis & akibat pencederaannya. 1. Pencederaan anak yang bersifat penganiayaan dan bersifat menimbulkan cidera fisik diterapkan dalam pasal 351 ayat 1 (ancaman hukuman penjara paling lama 2 tahun 8 bulan). Ayat 2 bila mengakibatkan luka-luka berat (ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun). Ayat 3 bila mengakibatkan mati (ancaman hukuman penjara paling lama 7 tahun) 2. Bagi orang tua sebagai pelaku pencederaan anak (fisik) hukuman dapat ditambah dengan sepertiga (pasal 356) Bila pencederaan anak berupa penelantaran sehingga anak terlantar pasal 1 butir 7 tahun 1979, dapat kemungkinan diterapkan. Pasal 301 (ancaman hukuman pidana penjara paling lama 4 tahun). Pasal 304 (ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan). Pasal 306 ayat 1 bila mengakibatkan luka (ancaman pidana penjara paling lama 9 tahun). Bagi orang tua sebagai pelaku ancaman pidana pada pasal 305 dan 306 dapat ditambah dengan 1/3 (pasal 307) 3. Pencederaan anak bersifat seksual, diterapkan pasal 287 (ancaman pidana penjara paling lama 9 tahun). Pasal 290 butir 3 (ancaman pidana penjara paling lama 7 tahun). Hak Hak Anak Berdasarkan konvensi PBB tahun 1989 tentang Hak- Hak Anak ( convention on The Rights of The Child ), hak anak dapat dikelompokkan sebagai berikut ;

1. Hak Terhadap Kelangsungan Hidup ( Survival Rights ) Hak kelangsungan hidup berupa hak- hak anak untuk melestarikan dan mempertahankan hidup dan hak untuk memperoleh standar kesehatan tertinggi dan perawatan yang sebaik- baiknya. Hak anak akan kelangsungan hidup dapat berupa; hak anak untuk mendapatkan nama dan kewarganegaraan semenjak dilahirkan, hak anak untuk hidup bersama, hak anakuntuk memperoleh perlindungan dari segala bentuk kekerasan yang dilakukan orang tua atau orang lain yang bertanggung jawab atas pengasuhan, hak anak penyandang cacat untuk memperoleh pengasuhan, pendidikan dan latihan khusus yang dirancang untuk membantu mereka demi mencapai tigkat kepercayaan diri yang tinggi, dan hak anak untuk menikmati standar kehidupan yang memadai dan hak atas pendidikan. 2. Hak Terhadap Perlindungan ( Protection Rights ) Hak perlindungan yaitu perlindungan anak dari diskriminasi, tindak kekerasan dan keterlantaran bagi anak yang tidak mempunyai keluarga dan bagi anak pengungsi. Hak perlindungan dari diskriminasi berupa ; hak perlindungan anak penyandang cacat untuk memperoleh pendidikan, perawatan dan latihan khusus, ha anak dari kelompok masyarakat minoritas dan penduduk asli dalam kehidupan masyarakat negara. Perlindungan dari kekerasan dan ketelantaran dapat berupa ; perlindungan dari gangguan kehidupan pribadi, perlindungan dari keterlibatan dalam pekerjaan yang mengancam kesehatan, pendidikan dan perkembangan anak, perlindungan dari penyalahgunaan obat bius dan narkoba, pengeniayaan seksual, pornografi, perlindungan dari upaya penjualan, penyelundupan dan penculikan anak. 3. Hak untuk Tumbuh dan Berkembang ( Development Rights ) Hak untuk tumbuh dan berkembang meliputi segala bentuk pendidikan baik formal maupun nonformal dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial anak. Hak untuk tumbuh dan berkembang berupa ; hak untuk memperoleh informasi, hak untuk bermain dan rekreasi, hak untuk kebebasan berfikir dan beragama, hak untuk mengembangkan kepribadian, hak untuk memperoleh identitas, hak untuk didengar pendapatnya, dan hak untuk memperoleh pengembangan kesehatan dan fisik. 4. Hak untuk Berpartisipasi ( Participation Rights )

Hak untuk berpartisipasi yaitu hak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal yang mepengaruhi anak. Hak untuk berpartisipasi berupa; hak untuk berpendapat dan memperoleh pertimbangan atas pendapatnya, hak untuk mendapat dan mengetahui informasi serta untuk mengekspresikan, hak untuk berserikat dan hak untuk memperoleh informasi yang layak dan terlindung dari informasi yang tidak sehat. G. Pencegahan dan Penanggulangan Penganiayaan dan Kekerasan pada Anak Pencegahan dan penanggulangan penganiayaan dan kekerasan pada anak merupakan tanggung jawab semua pihak. 1. Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan dapat melakukan berbagai kegiatan dan program yang ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat. Misalnya, Pelatihan bagi tenaga profesional untuk deteksi dini perilaku kekerasan, Kelas persiapan menjadi orang tua di rumah sakit, rujuk orang tua baru pada perawat PUSKESMAS untuk tindak lanjut (follow up), pelayanan sosial untuk keluarga, unit gawat darurat dan unit layanan 24 jam untuk memberi pelayanan segera, tempat perawatan atau foster home untuk korban. 2. Pendidik Sekolah mempunyai hak istimewa dalam mengajarkan bagian badan yang sangat pribadi, yaitu penis, vagina, anus, mammae dalam pelajaran biologi. Perlu ditekankan bahwa bagian tersebut sifatnya sangat pribadi dan harus dijaga tidak diganggu orang lain. Sekolah juga perlu meningkatkan keamanan anak di sekolah. Sikap atau cara mendidik anak juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi aniaya emosional. Guru juga dapat membantu mendeteksi tanda-tanda aniaya fisik dan pengabaian perawatan pada anak. 3. Penegak Hukum dan Keamanan Hendaknya Undang-Undang No. 4 tahun 1979, tentang kesejahteraan anak cepat ditegakkan secara konsekuen. Hal ini akan melindungi anak dari semua bentuk penganiayaan dan kekerasan. Bab II pasal 2 menyebutkan bahwa anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar. 4. Media Massa Pemberitaan penganiayaan dan kekerasan pada anak hendaknya diikuti oleh artikel-artikel pencegahan dan penanggulangannya. Dampak pada anak baik

jangka pendek maupun panjang diberitakan agar program pencegahan lebih ditekankan. H. Asuhan Keperawatan Angka kejadian penganiayaan dan penelantaran anak di Indonesia belum diketahui secara jelas, tetapi dengan dimasukkannya permasalahan ini dalam buku pedoman upaya pelayanan kesehatan jiwa anak dan remaja, berarti masalah penganiayaan dan penelantaran anak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Penganiayaan terhadap anak tidak saj berupa penganiayaan fisik, tetapi juga penganiayaan dan penelantaran emosional, verbal, dan seksual. Cambell dan Humphreys (1984) mendefinisikan anak teraniaya sebagai berikut. setiap tindakan yang mencelakakan atau dapat mencelakakan kesehatan dan kesejahteraan anak yang dilakukan oleh orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak tersebut. Perawat berperan penting dalam mengidentifikasi dan menemukan kasus anak teraniaya dan terlantar, terutama pada saat pengkajian keperawatan. Seringkali perawat juga tidak percaya bahwa ada orang tua yang sampai hati mencelakakan anak kecil yang tidak berdaya. Asuhan keperawatan pada keluarga yang menggunakan kekerasan pada anak mereka perlu berlandaskan dua proses keperawatan yang diawali dengan pengkajian yang cermat. Rasa takut yang dialami perawat mungkin akan menghambat mereka untuk menggali kemungkinan tindak kekerasan dalam keluarga. Oleh karena itu, perawat perlu menghayati perasaanya sendiri terhadap penganiayaan dan

penelantaran.

Penghayatan tentang system nilai dan norma yang dianut perawat

sangat perlu untuk mencegah intervensi yang tidak terapeutik. Kekuatan yang dimiliki keluarga sangat perlu dipertimbangkan sebagai dasar asuhan keperawatan (Clunn, 1991). 1. Pengkajian Wawancara terpisah yang dilakukan pada saat pengkajian memerlukan ketenangan dan privasi. Apabila telah terjadi penganiayaan, perawat kemungkinan besar akan menghadapi orangtua yang menolak. Oleh karena itu, perawat perlu tetap tegas dengan nada suara terkendali dan tidak bersikap mengancam. Kerjasama yang baik dengan orangtua akan sangat memungkinkan proses pemulihan anak. Perawat perlu mengantisipasi sikap orangtua yang bermusuhan

dan menyadari bagaimanapun juga anak akan tetap mencintai dan bergantung pada orangtuanya, walaupun ia telah dianiaya. Menurut Beck, Rawlins & Williams (1993), pengkajian meliputi dimensi atau aspek fisik, emotional, intelektual, social, dan spiritual, sebagai berikut: a. Pertama, aspek fisik. Gambaran penting yang terdapat pada tubuh anak yang teraniaya adalah berbekasnya akibat tindakan yang terjadi berulang kali terlihat bekas trauma yang sering diikuti dengan petunjuk lain berupa bekas luka atau patah tulang. Perawat perlu memeriksa seluruh bagian tubuh anak dengan hati-hati sehingga tidak ada bagian yang terlepas dari pengamatan. Pemeriksaan dilakukan setenang mungkin. Semua tanda-tanda trauma eksternal dicatat meliputi bentuk, ukuran, lokasi, dan warna. Trauma kepala merupakan penyebab utama kematian pada anak usia 2 tahun kebawah. Oleh karena itu, perawat perlu memeriksa telinga bagian dalam. Semua lubang yang terdapat pada tubuh anak diperiksa untuk menemukan indikasi trauma. Keadaan gigi yang buruk juga menjadi pertanda penganiayaan. Perlu dikaji tingkat perkembangan anak, apakah sesuai dengan usianya. Pada umumnya, luka yang ditemukan pada anak yang teraniaya antara lain sebagai berikut. 1. Luka kepala akibat pukulan pada bagian atas tubuh dengan benda tumpul atau dengan membanting anak ke dinding. 2. 3. Luka internal akibat tendangan atau dilempar dari tangga. Laserasi dan kontusio akibat pukulan dengan ikat pinggang atau gantungan pakaian. 4. 5. Kontusio multiple karena tusukan. Luka bakar karena sundutan rokok, disiram air panas, atau dipaksa untuk meletakkan tangannya pada kompor berapi. 6. 7. Hematoma Bekas gigitan manusia

Penundaan untuk minta bantuan tenaga kesehatan merupakan suatu indikasi kemungkinan telah terjadi suatu penganiayaan. Hasil pengkajian

didokumentasikan terutama sangat diperlukan apabila hal yang sama terjadi lagi. Biasanya, orangtua (penganiaya) akan minta bantuan pengobatan

ditempat lain untuk menghindari kecurigaan.

b. Kedua, aspek emosional. Anak yang biasa dianiaya oleh orang yang seharusnya melimpahkan kasih sayang, sering mengalami kesulitan untuk memeprcayai orang lain. Dalam hal ini, perawat perlu dan tidak perlu menuntuk anak untuk member keterangan sesegera mungkin. Mereka menjadi korban penganiayaan, karena mereka tidak mampu memenuhi harapan dan tuntutan orangtruanya, walaupun sebenarnya tuntutan tersebut tidak realistis. Sangat sulit bagi anak untuk mempercayai bahwa ada orang yang ingin

membantunya, sementara orangtuanya sendiri tidak demikian. Pengkajian emosional meliputi rasa takut, sedih, tidak berdaya, putus asa, depresi, malu, tidak percaya, menarik diri, agresif, bermusuhan, melawan, dan berperilaku aneh. Tiap anak mungkin mengalami keadaan emosi tersebut dengan berbagai alas an yang mendasarinya. Perawat bertanggungjawab untuk memenuhi arti respons emosional anak atau berkonsultasi dengan seseorang tentang arti respon anak tersebut. c. Ketiga, aspek intelektual. Tugas utama perawat dalam mengkaji aspek intelektual anak adalah memahami arti ucapan anak. Untuk itu, perawat harus mengerti proses perkembangan kognitif anak. Misalnya, pada usia berapa anak mampu berpikir secara abstrak. Tidak jarang ditemui keterbatasan

perbendaharaan kata dan keterlambatan bicara pada anak-anak teraniaya. Penganiayaan dan penelantaran menghambat proses perkembangan dan kematangan anak. Hubungan ibu anak yang terganggu dapat mengakibatkan anak menolak makanan sehingga kekurangan gizi pada anak mengakibatkan keterlambatan perkembangan kognitif anak. d. Keempat, aspek social. Perawat perlu mengamati dengan cermat interaksi antara orangtua dan anak. Perhatikan apakah orangtua tidak bersedia meninggalkan anaknya sendirian dengan perawat atau tenaga kesehatan lainnya? Apakah orangtua tampak terlalu melindungi anak? Apakah orangtua membiarkan anaknya menjawab langsung pertanyaan perawat atau orangtua cenderung memotong pembicaraan dan selalu ingin menjawab pertanyaan? Orangtua mungkin saja takut anaknya akan menceritakan kejadian sebenanya. Apabila orangtua menuntut untuk selalu menjawab pertanyaan perawat dan selalu mendampingi anaknya perawat perlu dengan tugas mengingatkan orangtua bahwa pertanyaan dan komentar yang diajukan adalah untuk mendapat jawaban langsung dari anak. Apakah anak tampak takut pada

orangtuanya. Rasa takut dapat terlihat pada mata anak dan ia mungkin cenderung menghindari pandangan mata orangtuanya. Pada umumnya, anak yang teraniaya tidak diperkenankan orangtuanya untuk membina hubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, kapasitas untuk mempercayai oranglain pun sangat rendah akibat interaksi social yang sangat terbatas. e. Kelima, aspek spiritual. Pada awalnya anak belajar tentang ini dari orangtua atau pengasuhnya. Apabila anak telah belajar mengenai Yang Maha Kuasa mungkin ia akan mengalami kesulitan untuk mengintegrasikan penganiayaan dengan konsep tersebut. Berbeda dengan anak yang lebih tua, ia mungkin mempertanyakan mengapa yang maha kuasa membiarkan penganiayaan yang dialaminya. Ia bahkan merasa ditinggalkan oleh tuhan. Anak merasa tidak dicintai atau merasa dirinya jahat sehingga mendapat hukuman. Oleh karena itu, perawat perlu mengetahui usisa anak karena usia turut menentukan persepsi anak terhadap penganiayaan dalam konteks spiritual. Dalam tahap pengkajian, perawat perlu memerhatikan dan mencatat riwayat terjadinya luka/memar, pemeriksaan fisik, keadaan gizi, keadaan emosional, tingkat tumbuh kembang anak secara menyeluruh, interaksi keluarga, interaksi interpersonal, dan riwayat kesehatan. 2. Rencana asuhan keperawatan Diagnosa Keperawatan 1 :Tidak efektifnya koping keluarga;

kompromi berhubungan dengan faktor-faktor yang menyebabkan Child Abuse Tujuan : Mekanisme koping keluarga menjadi efektif

Intervensi 1. Identifikasi menyebabkan faktor-faktor rusaknya yang

Rasional 1. Dengan mengidentifikasi faktorfaktor yang dilakukan intervensi yang dibutuhkan dan penyerahan pada pejabat yang berwenang

mekanisme

koping pada keluarga, usia orang tua, anak ke berapa dalam keluarga, status

sosial ekonomi terhadap perkembangan keluarga, adanya support system dan kejadian lainnya

pada pelayanan kesehatan dan organisasi sosial

2.

Konsulkan pada pekerja sosial dan pelayanan kesehatan pribadi yang tepat mengenai problem keluarga, tawarkan terapi untuk individu atau keluarga

2. Keluarga dengan Child Abuse & neglect biasanya memerlukan

kerja sama multi disiplin, support kelompok memecahkan spesifik. 3. Dengan mendorong keluar-ga dapat membantu, yang

3.

Dorong anak dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang apa yang mungkin menyebabkan perilaku kekerasan.

masalah

dengan mendiskusikan masalah orang tua tentang mereka maka dapat dicari jalan keluar untuk memodifikasi

4.

Ajarkan

perkembangan & pertum-buhan anak sesuai tingkat umur. Ajarkan kemampuan merawat spesifik dan terapkan tehnik disiplin

perilaku mereka. 4. orang tua mungkin mempunyai harapan yang tidak realistis

tentang pertumbuhan dan perkembangan anak

Diagnosa

Keperawatan

Perubahan

pertumbuhan

dan

perkembangan

anak berhubungan dengan tidak adekuatnya perawatan : Perkembangan kognitif anak, psikomotor dan psikososial dapat disesuai-kan dengan tingkatan umurnya Intervensi 1. Diskusikan hasil test kepada 1. Orang Rasional tua dan anak akan

orang tua dan anak

menyadari, dapat jangka

sehingga

mereka tujuan jangka

merencanakan panjang dan

2. Melakukan

aktivitas

(seperti,

pendek 2. Kekerasan pada anak akan

membaca, bermain sepeda, dll) antara orang tua dan anak untuk meningkatkan dari penurunan per-kembangan kemampuan dan

menyebabkan perkembangan keluarga. engkoreksi perkembangan

keterlambatan karena tugas dapat masalah akibat dari

Aktivitas

kognitif psikososial.

psikomotor

3. Tentukan tahap perkembang-an anak seperti 1 bulan, 2 bulan, 6 bulan dan 1 tahun

hubungan yang terganggu 3. Dengan menentukan anak tahap dapat

perkembangan

membantu perkembangan yang diharapkan 4. Program 4. Libatkan kembangan yang normal keterlambatan dan permembantu perkembangan intervensi yang tepat pertumbuhan stimulasi dapat

meningkatkan menentukan

Diagnosa Keperawatan 3: Resiko perilaku kekerasan oleh anggota keluarga yang lain berhubungan dengan kelakuan yang maladaptif. Tujuan : Perilaku kekerasan pada keluarga dapat berkurang Intervensi 1. Identifikasi perilaku kekerasan, saat menggunakan/ Rasional 1. Dengan mengidentifikasi prilaku kekerasan dapat membantu

mengkonsumsi alkohol atau obat atau saat menganggur. 2. Selidiki faktor yang dapat

menentukan intervensi yang tepat 2. Dengan mengidentifikasi faktorfaktor yang menyebabkan

mempengaruhi perilaku kekerasan seperti minum alkohol atau obatobatan 3. lakukan konsuling kerjasama

perilaku kekerasan akan lebih memberikan kesadaran akan tipe situasi perilaku, yang mempengaruhi dirinya

membantu

mencegah kekambuhan. 3. konseling dapat membantu yang

multidisiplin, termasuk organisasi komunitas dan psikolologis 4. Menyarankan keluarga kepada

perkembangan efektif.

koping

seorang terapi keluarga yang tepat 5. Melaporkan seluruh kejadian

4. Terapi keluarga menekan dan memberikan support kepada

yang aktual yang mungkin terjadi kepada pejabat berwenang

seluruh keluarga untuk mencegah kebiasaan yang terdahulu. 5. Perawat mempunyai tang-gung jawab legal untuk melaporkan semua kasus dan menyimpan keakuratan data untuk investigas.

Diagnosa Keperawatan 4: Peran orang tua berubah berhubungan dengan ikatan keluarga yang terganggu Tujuan : Perilaku orang tua yang kasar dapat menjadi lebih Intervensi 1. Diskusikan ikatan yang wajar dan perikatan dengan orang tua yang keras Rasional 1. Menyadarkan orang tua akan perikatan normal dan proses pengikatan akan efektif

membantu dalam mengembangkan keahlian menjadi orang tua yang tepat 2. Berikan model peranan untuk orang tua 2. Model peranan untuk orang tua, memungkinkan orang tua untuk menciptakan perilaku orang tua yang 3. Dukung pasien untuk mendaftarkan tepat

dalam kelas yang mengajarkan keahlian 3. Kelas akan memberikan teladan & forum orang tua tepat 4. Arahkan orang tua ke pelayanan praktek untuk mengembangkan keahlian orang tua yang efektif

kesehatan yang tepat untuk konsultasi 4. Kelas akan memberikan teladan & forum dan intervensi seperlunya praktek untuk mengembangkan keahlian orang tua yang efektif

KESIMPULAN
Banyak orangtua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan adalah bagian dari mendisiplinkan anak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikis. Dampak dari kekerasan terhadap anak antara lain : a. Kerusakan fisik atau luka fisik

b. Anak akan menjadi individu yang kurang percaya diri c. pendendam dan agresif d. memiliki perilaku menyimpang e. Pendidikan anak yang terabaikan. Akibat pada fisik anak, antara lain: Lecet, hematom, luka bekas gigitan, luka bakar, patah tulang, perdarahan retina akibat dari adanya subdural hematom dan adanya kerusakan organ dalam lainnya. Akibat pada tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang mengalami perlakuan salah, pada umumnya lebih lambat dari anak yang normal, yaitu: Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi kemungkinan terjadinya kekerasan pada anak dan di rumah tangga. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan melakukan pendidikan kesehatan tentang child abuse dan mengidentifikasi resiko terjadinya child abuse.

DAFTAR PUSTAKA
Betz, Cicilia. (2002). Keperawatan Pediatric,Jakarta : EGC Budi Keliat, Anna. 1998. Penganiayaan Dan Kekerasan Pada Anak. Jakarta: FKUI Gordon,et all. (2002). Nanda Nursing Diagnoses.Definition and classification.

Phildelpia : NANDA

MAKALAH PERAWATAN KOMUNITAS KELUARGA DENGAN CHILD ABUSE

DISUSUN OLEH KELOMPOK 8 DEA APRILYA DIAH RIANTINA M. PRIBADI WICAKSONO RAHADATUL AISYU SHALDA NURUL UTAMI

KELAS 2A SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN PONYIANAK TAHUN AJARAN 2012/2013