Anda di halaman 1dari 29

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Status gizi masyarakat merupakan salah satu indikator pembangunan kesehatan

di Indonesia dikatakan berhasil. Oleh, sebab itu, pemerintah mencanangkan visi pembangunan gizi, yakni Mewujudkan keluarga mandiri sadar diri untuk mencapai status gizi masyarakat atau keluarga yang optimal (Wahyu, 2009). Bahkan hingga saat ini pun, Indonesia masih menghadapi banyak permasalahan status gizi, utamanya pada kelompok usia balita dan anak. Permasalahan gizi yang terjadi pada kelompok usia balita dan anak tidak hanya gizi kurang ( Underweight), kekerdilan (Stunting), ataupun kekurusan (Wasting) namun juga gizi lebih (Overweight) yang biasa dikenal dengan sebutan obesitas. Padahal kita ketahui bahwa masa balita merupakan proses pertumbuhan anak yang pesat dimana anak sangat memerlukan perhatian dan kasih saying dari orang tua serta lingkungannya. Selain itu, balita pun sangat membutuhkan asupan zat gizi yang seimbang supaya status gizinya baik, serta proses tumuh kembangnya tidak terhambat. Namun, sayangnya berdasarkan data Riskesdas tahun 2010, diperkirakan prevalensi balita di Indonesia mengalami gizi lebih dan kegemukan (obesitas) yaitu sebesar 14,2 %. Angka ini mengalami peningkatan yang sangat drastis. Berdasarkan Laporan Nasional Riskesdas Tahun 2007, persentase balita yang mengalami gizi lebih yaitu sebesar 12,2 %. Permasalahan obesitas tidak dapat dianggap mudah begitu saja, karena obesitas dan kegemukan pada anak berpotensi meningkatkan resiko timbulnya berbagai gangguan kesehatan. Sehingga, sangat perlu pemerintah menekan angka prevalensi obesitas pada balita sedini mungkin dengan beberaa program dan juga pemerintah diharapakan lebih menegaskan pada masyarakat untuk ikut berperan yaitu dengan meningkatkan pemahaman serta kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Dan saat ini pun, pemerintah telah mencanangkan program SUN ( Scalling Up Nutrition) yaitu suatu program gerakan yang difokuskan pada Percepatan Perbaikan Gizi pada 1000 hari pertama kehidupan.

Subsistem Status Gizi | 1

1.2. 1.2.1. 1.2.2.

Rumusan Masalah Bagaimana fenomena obesitas atau kegemukan pada anak balita di Indonesia ? Upaya apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam menekan angka prevalensi obesitas atau kegemukan pada anak balita ?

1.3. 1.3.1.

Tujuan Untuk mengetahui fenomena obesitas atau kegemukan pada anak balita di Indonesia.

1.3.2.

Untuk mengetahui dan memahami upaya yan dilakukan pemerintah dalam menekan angka prevalensi obesitas atau kegemukan pada anak balita.

Subsistem Status Gizi | 2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. 2.1.1.

Status Gizi Pengertian Status Gizi Gizi adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas

karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat, air, dan komponen lain yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia (RI, 2012). Gizi sangat berperan penting dalam alur daur kehidupan karena di setiap tahap daur kehidupan, semua orang membutuhkan nutrien yang sama namun dalam jumlah yang berbeda sesuai dengan kebutuhan setiap orang. Sedangkan WHO mengartikan ilmu gizi sebagai ilmu yang mempelajari proses yang terjadi pada organisme hidup, yang mana proses tersebut mencakup pangambilan dan pengolahan zat padat dan cair dari makanan yang dibutuhkan untuk memelihara kehidupan, pertumbuhan dan untuk menghasilkan energi. Status gizi adalah keadaan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi. Status gizi baik bila jumlah asupan zat gizi sesuai dengan yang dibutuhkan. Status gizi tidak seimbang dapat diprestasikan dalam bentuk gizi kurang dari yang dibutuhkan. Sedangkan status gizi lebih bila asupan zat gizi melebihi dari yang dibutuhkan. Sehingga status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2003). Status gizi ini menjadi sangatlah penting karena merupakan salah satu faktor resiko terjadinya morbiditas dan mortalitas. Status gizi berkontribusi terhadap kesehatan seseorang, dimana seseorang dengan status gizi yang baik maka kesehatannnya pun baik, selain itu kalaupun kondisi seseorang tersebut mengalami kesakitan maka status gizi yang baik juga akan berkontribusi terhadap kemampuan seseorang tersebut dalam pemulihan. Status gizi tidak dapat ditentukan begitu saja tanpa mengetahui dan memahami ukuran baku atau yang disebut dengan reference. Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia adalah World Health Organizations National Centre for Health Statistics (WHO NCHS). Berdasarkan reference tersebut, status gizi dibagi menjadi empat: Pertama, gizi lebih untuk overweight, termasuk kegemukan dan obesitas. Kedua, gizi baik untuk well nourished. Ketiga, gizi kurang untuk underweight yang mencakup mild dan moderat, PCM (Protein Calori Malnutrition). Keempat, gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwarshiorkor dan kwarshiorkor (Supariasa, 2002). Namun, terdapat beberapa kelompok rentang gizi. Kelompok rentan gizi merupakan suatu kelompok di dalam masyarakat yang paling mudah menderita gangguan kesehatannya atau rentan karena kekurangan gizi. Kelompok-kelompok rentang gizi ini terdiri dari:

Subsistem Status Gizi | 3

a. Kelompok bayi, umur 0-1 tahun. b. Kelompok di bawah lima tahun (balita), umur 1-5 tahun. c. Kelompok anak sekolah, umur 6-12 tahun. d. Kelompok remaja, umur 13-20 tahun. e. Kelompok ibu hamil dan menyusui. f. Kelompok usia (usia lanjut). (Notoatmodjo, 2003). Maka status gizi sangatlah penting utnuk diketahui untuk mengontrol dan mengawasi status gizi kelompok-kelompok yang rentang gizi dikarenakan mereka merupakan kelompok yang sangat mudah terkena penyakit jika kekurangan gizi.

2.1.2.

Faktor Determinan Status Gizi UNICEF (1988) menyatakan bahwa status gizi kurang dipengaruhi oleh

penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Faktor penyebab kurang gizi dapat dilihat pada bagan sebagai berikut:

Sumber : (UNICEF, 1988) oleh Direktorat Gizi Masyarakat

Subsistem Status Gizi | 4

a. Penyebab Langsung Dilihat dari bagan UNICEF, terdapat dua penyebab yang secara langsung dapat mempengaruhi status gizi yaitu asupan makanan dan penyakit infeksi. Gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi juga dikarenakan penyakit infeksi. Anak yang mendapa cukup makan tetapi sering menderita sakit, pada akhirnya pun akan menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak memperoleh cukup makan maka daya tahan tubuhnya akan melemah sehingga mudah terserang penyakit. Imunisasi yang tidak dilakukan secara lengkap dapat berpengaruh pada anak, karena dapat menyebabkan anak tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit infeksi, akibtanya pun anak akan jatuh sakit sehingga status gizinya turun. Hal ini dikarenakan penyakit infeksi berhubungan erat satu sama lain dengan asupan makanan dalam pengaruhnya terhadap status gizi. b. Penyebab tidak Langsung Pada bagan UNICEF, dapat dilihat adanya tiga faktor penyebab tidak langsung terhadap status gizi seseorang. Dikatakan faktor penyebab tidak langsung karena ketiga faktor ini tidak langsung mempengaruhi keadaan status gizi seseorang. Ketiga faktor tersebut diantaranya yaitu ketidak cukupan ketersediaan pangan keluarga, pola pengasuhan anak, dan sanitasi air bersih atau pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Ketersediaan pangan keluarga Ketersediaan pangan keluarga yang dimaksud adalah ketahanan pangan keluarga. Ketahanan pangan keluarga merupakan kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga dalam jumlah cukup, baik cukup jumlahnya maupun mutu gizinya. Ketahanan pangan ini terkait dengan ketersediaan pangan, baik dari hasil produksi senidir maupun dari pasar ataupun dari sumber lain, serta terkait dengan harga pangan dan daya beli keluarga serta pengetahuan tentang gizi dan kesehatan. Pola pengasuhan anak Pola pengasuhan anak adalah kemampuan keluarga dan masyarakat

untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan terhadap anak, agar anak dapat tumbuh kembang dengan sebaik-baiknya secara fisik, mental maupun sosial. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makan, merawat, menjaga kebersihan, member kasih sayang dan sebagainya. Semua hal tersebut berikatan erat dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan (fisik dan mental), status

Subsistem Status Gizi | 5

gizi, pendidikan umum, pengetahuan tentang pola pengasuhan yang baik dan benar,serta peran dalam keluarga atau masyarakat,. Pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan Pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan adalah tersedianya ar bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersi dan pelayanan kesehatan yang baik seperti imunisasi, pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pendidikan kesehatan dan gizi, penimbangan anak serta sarana pelayanan kesehatan seperti posyandu, puskesmas, praktek bidan atau dokter dan rumah sakit. Semakin cukup ketersediaan air bersih untuk keluarga serta semakin dekat dengan jangkauan keluarga terhadap pelayanan dan sarana kesehatan ditambah dengan pemahaman ibu tentang kesehatan, maka semakin kecil resiko anak terkena penyakit infeksi dan mengalami gizi kurang.

2.2. 2.2.1.

Balita Pengertian Balita Balita adalah kelompok anak usia dibawah lima tahun. Masa balita merupakan

periode penting dalam tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dasar pada masa balita ini akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Perkembangan kemampuan bahasa, kreatifitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensinya berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya (Soetjiningsih, 1995). Balita adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun dan anak prasekolah 3-5 tahun. Saat usia batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan kegiatan penting seperti mandi, buang air dan makan. Perkembangan berbicara dan berjalan sudah bertambah baik. Namun, kemampuan lain masih terbatas. (Budi Sutoma, 2010). Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena tu sering disebut golden age atau masa keemasan.

2.2.2.

Karakteristik Balita Menurut karakteristik, balita terbagi dalam dua kategori yaitu anak usia 1 3

tahun (batita) dan anak usia prasekolah (Uripi, 2004). Anak usia 1-3 tahun merupakan

Subsistem Status Gizi | 6

konsumen pasif, artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Laju pertumbuhan masa batita lebih besar dari masa usia pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif besar. Namun perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil dari anak yang usianya lebih besar. Oleh karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering. Pada usia pra-sekolah anak mulai enjadi konsumen aktif. Hal ini dikarenakan mereka sudah dapat memilih makanan yang disukainya. Selain itu, pada usia ini anak mulai bergaul dengan lingkungannya atau bersekolah playgroup sehingga anak mengalami beberapa perubahan dalam perilakunya. Pada masa ini pula lah anak akan mencapai fase gemar memprotes sehingga mereka akan mengatakan tidak terhadap setiap ajakan yang tidak mereka inginkan. Pada masa ini berat badan anak pun cenderung mengalami penurunan, akibat dari aktivitas yang mulai banyak dan pemilihan maupun penolakan terhadap makanan. Diperkirakan pula bahwa anak perempuan relatif lebih banyak mengalami gangguan status gizi bila dibandingkan dengan anak laki-laki.

2.2.3.

Perilaku Makan Anak Balita Perillaku dan kebiasaan orangtua dalam hal makanan yang dipengaruhi oleh

faktor budaya akan mampengaruhi sikap suka dan tidak suka seorang anak terhadap makanan. Orangtua dan saudara kandung yang lebih tua memiliki pengaruh paling besar terhadap perilaku anak yang berhubungan dengan makanan dan pilihan makanan selama masa usia sekolah. Orangtua masih tetap memegang peranan penting sebagai model atau contoh bagi anak-anaknya dalam hal perilaku makan yang sehat. Orangtua bertanggungjawab terhadap masalah makanan di rumah, jenis-jenis makanan pa yang tersedia dan kapan makanan tersebut disajikan juga harus memberikan petunjuk mengenai hal-hal yan penting kepada anak-anak sehingga mereka mampu menentukan makanan yang sehat di saat mereka jauh dari rumah (Sulistiyoningsih, 2011). satu keluarga sebaiknya berusaha untuk makan bersama. Makan bersamadalam satu keluarga dapat dijadikan sebagai salah satu wadah untuk menjalin komunikasi antar anggita keluarga, ketika di waktu lain masing-masing disibukkan oleh aktivitas di luar. Sebuah studi yang dilakukan terhadap sekelompok anak usia 9-14 tahun menunjukkan terdapat hubungan yang positif antara kegiatan makan malam bersama dalam keluarga dengan kualitas diet anak secara menyeluruh. Persentase jumlah anak yang makan malam bersama keluarga menurun dengan bertambahnya umur anak dengan persentase tertinggi pada kelompok anak umur 9 tahun. Anak yang biasa makan bersama keluarga mempunyai asupan energy, serat, kalsium, folat, zat besi dan vitamin-vitamin B6, B12, C dan E yang lebih tinggi. Anak-anak ini juga mengonsumsi buah dan sayur-sayuran lebih

Subsistem Status Gizi | 7

banyak, dan saat mereka tidak di rumah lebih sedikit makan makanan yang digoreng serta minum soft drinks lebih sedikit (Sulistiyoningsih, 2011). Pola makan anak juga dipengaruhi oleh media massa dan lingkungan (guru, teman sebaya). Anak-anak ingin mencoba makanan-makanan yang diiklankan di media televise. Pengaruh teman sebaya juga menjadi besar karena anak usia sekolah lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebayanya dibandingkan dengan

keluarganya. Peningkatan pengaruh teman sebaya berdampak terhadap perilaku pola dan jenis makanan pilihan mereka. Anak secara tiba-tiba meminta suatu jenis makanan baru atau menolak makanan pilihan mereka terdahulu, akibat rekomendasi dari temanteman sebayanya. Pengaruh guru juga besar terhadap sikap seorang anak terhadap jenis dan pola makan. Apa yang dipelajari di dalam kelas tentang kesehatan dan makanan bergizi harus ditunjang dengan makanan yang tersedia di kafetaria sekolah (Sulistiyoningsih, 2011).

2.2.4.

Kebutuhan Gizi pada Anak Balita Kebutuhan masing-masing zat gizi untuk kelompok balita dan anak dapat dilihat

pada Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (Lampiran 1). Selain zat gizi esensial, kebutuhan cairan juga harus diperhatikan karena penting bagi anak untuk mencegah dehidrasi selama bergerak dan berolahraga, karena anak-anak beresiko stress akibat dehidrasi dan panas. Anak-anak berkeringat dan semakin kepanasan saat bergerak. Beberapa jenis olahraga seperti sepakbola dan hoki, membutuhkan pertahanan khusus, yang mencegah tubuh lemas. Anak0anak yang melakukan jenis olahraga tersebut harus minum air sebelum, selama dan sesudah latihan. Mekanisme haus mungkin tidak bekerja selama anak-anak latihan, dan anak-anak bisa tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan air. Sebaiknya tidak memberikan soft drinks dan jus buah yang tidak diencerkan kepada anak-anak karena pemberian karbohidrat tinggi dapat menyebabkan kram perut, mual dan diare. Konsumsi softdrinks anak tidak sebanyak yang dikonsumsi anak remaja namun lebih banyak dari yang dikonsumsi anak balita, hal ini memperlihatkan bahwa konsumsi softdrinks semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Softdrinks yang berlebihan tidak dianjurkan bagi anak-anak usia sekolah karena tidak mengandung kalori dan menyebabkan kerusakan gigi

(Sulistiyoningsih, 2011).

2.2.5.

Penentuan Status Gizi Balita Ada dua jenis antropometri yang digunakan dalam mengidentifikasi status gizi,

yaitu berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Kedua ini disajikan dalam bentuk indeks dan rasio berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan terhadap umur (TB/U) dan

Subsistem Status Gizi | 8

rasio berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). Status gizi yang diukur dengan rasio BB/U mencerminkan status masa sekarang. Karena, berat badan mencerminkan kondisi outcome tentang status gizi pada masa sekarang. Tinggi badan merupakan outcome kumulatif status gizi sejak dilahirkan hingga saat sekarang sehingga rasio TB/U mampu mencerminkan status gizi masa lalu. Di masa lalu, rujukan pertumbuhan dikembangkan menggunakan data dari satu negara dengan mengukur contoh anak-anak yang dianggap sehat, tanpa memperhatikan cara hidup dan lingkungan mereka. Mengingat hal tersebut World Health Organization (WHO) telah mengembangkan standar pertumbuhan yang berasal dari sampel anakanak dari enam negara yaitu Brazil, Ghana, India, Norwegia, Oman dan Amerika Serikat. WHO Multicentre Growth Reference Study (MGRS) telah dirancang untuk menyediakan data yang menggambarkan bagaimana anak-anak harus tumbuh, dengan cara memasukkan kriteria tertentu (misalnya: menyusui, pemeriksaan kesehatan, dan tidak merokok). Penelitian tersebut mengikuti bayi normal dari lahir sampai usia 2 tahun, dengan pengukuran yang sering pada minggu pertama. Kelompok anak-anak lain umur 18 sampai 71 bulan, diukur satu kali. Data dari kedua kelompok umur tersebut disatukan untuk menciptakan standar pertumbuhan anak umur 0 sampai 5 tahun. Indikator pertumbuhan digunakan untuk menilai status pertumbuhan anak dengan mempertimbangkan umur, jenis kelamin dan hasil pengukuran. Dalam modul ini akan dijelaskan cara melakukan penilaian status pertumbuhan berdasarkan empat indikator berikut: Panjang/Tinggi Badan Menurut Umur Berat Badan Menurut Umur Berat Badan Menurut Panjang/Tinggi Badan Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut Umur Untuk mengetahui ada tidaknya penurunan atau kenaikan berat badan (BB) dapat dilihat pada Kartu Menuju Sehat (KMS). Prinsipnya adalah anak yang sehat, bertambah umur bertambah berat badan. Menurut Standar WHO BB ideal anak laki-laki usia 2 tahun adalah 12,2 kg dan anak perempuan 11,5 kg. untuk seterusnya setelah usia 2 tahunsampai 5 tahun, pertambahan BB rata-rata 2-2,5 kg per tahun. Pemntauan panjang / tinggi badan juga perlu agar dapat diketahui keadaan tau status gizi yang lebih akurat.

Subsistem Status Gizi | 9

Indikator Pertumbuhan Menurut Z-score Indikator Pertumbuhan Z-score PB/U atau TB/U BB/U BB/PB BB/TB Sangat gemuk (Obes) Gemuk Lihat Catatan 2 Risiko Gemuk Di atas 1 (Lihat Catatan3) 0 (Angka Median) Di bawah -1 Pendek (Stunted) (Lihat Catatan 4) BB Kurang (Underweig ht) BB Sangat Sangat Di bawah -3 Pendek Kurang (Severe Underweig ht) Sumber: Modul C Pelatihan Penilaian Pertumbuahan Anak WHO 2005 Sangat Kurus (Severe Wasted) Sangat Kurus Kurus (Wasted) Risiko Gemuk (Overweight) Gemuk (Overweight) atau IMT/U Sangat gemuk (Obes)

Di atas 3

Lihat Catatan 1

Di atas 2

(Lihat Catatan 3)

Di bawah -2

Kurus (Wasted)

(Severe Stunted) (Lihat Catatan 4)

(Severe Wasted)

Catatan: 1. Seorang anak pada kategori ini termasuk sangat tinggi dan biasanya tidak

menjadi masalah kecuali anak yang sangat tinggi mungkin mengalami gangguan endokrin seperti adanya tumor yang memproduksi hormon pertumbuhan. Rujuklah anak tersebut jika diduga mengalami gangguan endokrin (misalnya anak yang tinggi sekali menurut umurnya, sedangkan tinggi orang tua normal). 2. Seorang anak berdasarkan BB/U pada katagori ini, kemungkinan mempunyai

masalah pertumbuhan, tetapi akan lebih baik bila anak ini dinilai berdasarkan indikator BB/PB atau BB/TB atau IMT/U.

Subsistem Status Gizi | 10

3.

Hasil ploting di atas 1 menunjukkan kemungkinan risiko. Bila kecenderungannya

menuju garis Z-score 2 berarti risiko lebih pasti. 4. Anak yang pendek atau sangat pendek, kemungkinan akan menjadi gemuk bila

mendapatkan intervensi gizi yang salah. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor resiko yang paling berhubungan paling dominan dengan status gizi balita (BB/U) adalah penyakit diare setelah dikontrol oleh sumber air minum, ketersediaan jamban, status sosial ekonomi, jumlah anggota keluarga, jenis kelamin dan pemanfaatan yankes, penyakit ISPA, pekerjaan ibu dan lama pemberian ASI sampai 2 tahun. Sedangkan variabel yang paling dominan berhubungan dengan malnutrisi menurut indikator (TB/U) adalah ketersediaan jamban setelah dikontrol oleh kebiasaan cuci tangan, status sosial ekonomi, sumber air minum, lama pemberian ASI sampai 3 tahun, penyakit diare, jumlah anggota dan jenis kelamin. Jenis kelamin setelah dikontrol oleh umur, sumber air minum, jarak serta waktu menuju pelayanan kesehatan terdekat, variabel pemanfaatan pelayanan kesehatan dan penyakit ISPA merupakan faktor resiko yang paling dominan pada status BB/TB. Status BB/TB balita yang menggambarkan kekurangan gizi akut yang terjadi dalam waktu yang singkat dan mempengaruhi keadaan status gizi seseorang. Misalnya saja terserang penyakit infeksi, hal ini tentu saja akan berpengaruh langsung kepada status gizi anak, atau mungkin saja kerena kekurangan asupan makanan yang bisa di pengaruhi oleh status ekonomi, pengetahuan ibu yang kurang terhadap masalah gizi, dan pola asuh yang mengakibatkan baik balita yang BBLR ataupun yang normal dapat menjadi balita yang berbadan kurus. Sedangkan TB/U menggambarkan keadaan kronis balita, menunjukkan keadaan yang sudah terjadi sejak lama, atau dengan kata lain merupakan outcome kumulatif status gizi sejak lahir hingga sekarang. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah menandakan kurang terpenuhinya kebutuhan zat gizi pada saat kehamilan atau karena sebagai akibat dari ibu yang juga menderita KEK.

2.3. 2.3.1.

Kegemukan dan Obesitas Pengertian Kegemukan dan Obesitas Kegemukan dan obesitas saat ini merupakan masalah gizi berlebih yang kian

marak dijumpai hamper pada anak di seluruh negeri. Kegemukan pada anak merupakan konsekuensi dan akibat dari asupak kalori (energi) yang melebihi jumlah kalori yang dilepaskan atau dibakar melalui proses metabolisme di dalam tubuh sehingga mengakibatkan kalori yang tidak terbakar disimpan di dalam tubuh sampai akhirnya melebihi batas seharusnya. Kegemukan (obesitas) ternyata berbeda dengan kelebihan berat badan (Oberweight). Kegemukan dapat diartikan penimbunan lemak tubuh yang berlebihan

Subsistem Status Gizi | 11

sehingga berat badan anak balita jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan anak. Overweight adalah suatu keadaan berat badan anak balita yang melebihi berat badan normal atau seharusnya. Dengan demikian, anak yang menderita kegemukan pasti mengalami kelebihan berat badan, tetapi anak yang mengalami kelebihan berat badan belum tentu menderita kegemukan (Obesitas) (Dina Agoes, 2003). Kasus lainnya, seorang anak balita yang mempunyai berat badan lebih besar dari teman seusianya, belum tentu menderita kegemukan karena kemungkinan anak tersebut mempunyai rangka tulang dan otot yang besar, bukan karena kelebihan timbunan lemak. Biasanya, anak tersebut disebut bongsor. Selain itu, kita ketahui bahwa lemak sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup setiap manusia. Jumlah minimumnya 3% dari berat badan atau disebut dengan lemak esensial. Di dalam tubuh, lemak esensial terdapat di beberapa organ tubuh, seperti sumsum tulang belakang, sekitar jantung, membrane sel paru-paru, hati, limpa dan ginjal. Jika jumlah lemak esensial dalam tubuh melebihi 3% berat badan disebut timbunan lemak. Fungsi timbunan lemak memeng berguna untuk melindungi organ tubuh, tetapi jika jumlahnya berlebihan, hal ini dapat menyebabkan kegemukan (Dina Agoes, 2003). Kegemukan dan obesitas pada anak dapat dinilai melalui berbagai metode atau teknik pemeriksaan. Salah satunya adalah pengukuran indeks massa tubuh atau Body Mas Index (BMI). Pengukuran BMI dilakukan dengan cara membagi nilai berat badan (kg) dengan nilai kuadrat dari tinggi badan (m). nilai ini kemudian diplot pada kurva pertumbuhan anak, yang disesuaikan dengan jenis kelamin dan usia anak. BMI ini merupakan metode yang mudah dan paling banyak digunakan di seluruh penjuru negeri untuk menilai timbunan lemak yang berlebihan di dalam tubuh secara tidak langsung. Namun, BMI tidak dapat digunakan pada setiap individu, Misalnya, pada atlet maupun binaragawan. Hal ini dikarenakan para atlet dan binaragawan memiliki nilai BMI tinggi, disebabkan oleh indeks massa otot yang besar dan bukan karena timbunan lemak yang berlebihan. Selain itu, kegemukan dan obesitas dapat pula dinilai dengan teknik densitometry, Analisis Impedansi Multifrekuensi (MIA) serta teknik pencitraan melalui Magnetic Resonance Imaging (MRI). Namun, teknik pemeriksaan ini relative rumit dan tidak mudah diterapkan dalam praktik dokter sehari-hari, mengingat biaya pemeriksaan yang mahal dan keterbatasan persediaan alat-alat pemeriksaan (Wahyu, 2009).

2.3.2.

Tipe dan Jenis Obesitas Menurut Hirsch dan Knittle (1970) dalam Dina Agoes (2003), menyatakan bahwa

berdasarkan selnya, kegemukan dapat digolongkan dalam beberapa tipe. 1) Tipe hiperplastik

Subsistem Status Gizi | 12

Kegemukan yang terjadi karena jumlah sel yang lebih banyak dibandingkan kondisi normal, tetapi ukuran sel-selnya dengan ukuran sel normal. Tipe ini biasa terjadi pada masa anak-anak. Upaya menurunkan berat badan ke kondisi normal di usia anak-anak akan lebih sulit. 2) Tipe hipertropik Kegemukan ini tejadi karena ukuran sel yang lebih besar dibandingkan ukuran sel normal, tapi jumlah sel normal. Kegemukan tipe ini terjadi pada usia dewasa dan upaya untuk menurunkan berat badan akan lebih mudah dibandingkan tipe hiperplastik. 3) Tipe hiperplastik dan hipertropik Kegemukan tipe ini terjadi karena jumlah dan ukuran sel melebihi normal. Kegemukan tipe ini dimulai pada masa anak-anak dan berlangsung tersu setelah dewasa. Upaya untuk menurunkan berat badan paling sulit dan paling beresiko terjadinya komplikasi penyakit, seperti penyakit degeneratif.

2.3.3.

Penyebab Obesitas pada Anak Balita Secara umum, penyebab kegemukan dan obesitas pada anak belum diketahui

secara pasti hingga saat ini. Namun, berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa penyebab kegemukan dan obesitas pada anak bersifat mulitifakor. Dan terdapat beberapa faktor yang dipengaruhi berperan besar meningkatkan resiko terjadinya kegemukan dan obesitas pada anak, yakni faktor genetik (keturunan), pola aktivitas , faktor hormonal (metabolisme), faktor psikologis dan pola makan. Faktor Genetik (Keturunan) Kegemukan atau obesitas pada anak merupakan kensekuensi dari asupan kalori (energi) yang melebihi jumlah kalori yang dibakar pada proses metabolisme di dalam tubuh. Kemungkinan seorang anak beresiko menderita kegemukan sebesar 80%, jika kedua orangtuanya menderita kegemukan sebesar 40%, jika salah satu orangtuanya menderita kegemukan (Dietz, 1995). Keterlibatan faktor genetik ini dalam meningkatkan resiko kegemukan dan obesitas diketahui berdasarkan fakta yang ada , yaitu adanya perbedaan kecepatan metabolisme tubuh antara satu individu dan individu lainnya. Individu yang memiliki kecepatan metabolisme lebih lamnat memiliki resiko lebih besar menderita kegemukan dan obesitas. Berbagai penelitian pun mengungkapkan fakta bahwa beberapa gen terlibat dalam resiko terjadinya obesitas pada anak. Selain itu, latar belakanh ras juga berkaitan dengan perbedaan kecepatan metabolisme tubuh. Di Amerika serikat, ras kulit putih pada periode prapubertas memiliki kecepatan metabolisme yang lebih besar dibandingkan sebaya mereka dari ras kulit

Subsistem Status Gizi | 13

hitam. Ras kulit hitam di Amerika Serikat cenderung lebih menderita kegemukan dan obesitas dibandingkan ras kulit putih (Wahyu, 2009). Namun, tidak sedikit para ahli kesehatan yang menilai bahwa faktor genetik bukanlah hal utama dalam peningkatan resiko kegemukan dan obesitas pada anak. Hal ini mengacu pada fakta bahwa tidak terdapat perubahan genetik yang bermakna pada manusia selama kurun waktu tiga dasawarsa terakhir, sedangkan peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas di seluruh negeri menunjukkan fenomena sebaliknya. Dan fakta bahwa genetik bukanlah faktor resiko utama bagi kegemukan dan obesitas pada anak, member pasan kuat bagi para orangtua di seluruh negeri untuk tidak bersikap pasif dan cenderung menyalahkan garis keturunan terkait kegemukan dan obesitas pada anak. Sebaliknya, para orangtua mesti lebih aktif mencegah kegemukan dan obesitas pada anak-anak mereka dengan cara membatasi asupan kalori dalam menu hariannya, serta memotivasi mereka untuk lebih aktif bergerak dan berolahraga (Wahyu, 2009). Faktor Aktivitas Pola aktivitas anak yang minim berpengaruh besar dalam peningkatan resiko kegemukan dan obesitas pada anak, hal ini dikarenakan mereka enggan melakukan aktivitas sehari-hari sehingga menyebabkan tubuhnya kurang membakar kalori yang ada dalam tubuhnya. Oleh karena itu, jika asupan energi berlebih tanpa diimbangi dnegan aktivitas fisik yang seimbang maka seorang anak akan mudah menderita kegemukan. Dampak kemajuan teknologi menyebabkan anak-anak cenderung menggemari permainan yang kurang menggunakan energi, seperti menonton televise, permainan dengan menggunakan remote control, play station, atau game di computer. Selain itu, kebiasaan menonton televise berjam-jam pada anak dengan menyediakan berbagai makanan camilan, dapat menyebabkan kebiasaan ngemil pada anak yang tanpa disadarinya dapat memicu terjadinya kenaikan berat badan anak. Berikut ini criteria makanan yang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi anak, yaitu (1) makanan dengan kadar kalori tinggi yang dapat menyebabkan kegemukan, (2) makanan dengan kadar garam yang tinggi, jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang dapat meningkatkan tekanan darah, dan (3) makanan dengan kadar gula yang tinggi, dapat merusak gigi dan menderita kegemukan dalam jangka waktu tertentu serta menyebabkan diabetes mellitus dalam jangka panjang dengan bertambahnya usia (Dina Agoes, 2003). Padahal diketahui bahwa aktivitas bermain bagi anak sangat bermanfaat. Bermain bagi anak semestinya bukan hanya sekedar aktivitas fisik biasa, melainkan dapat menjadi sarana belajar yang menyenangkan dan berolahraga secara tidak langsung bagi anak. Terdapat beberapa hal penting yang arus diperhatikan oleh orangtua ataupun para pengasuh yaitu sikap cermat dalam memilih jenis permainan yang sesuai dengan

Subsistem Status Gizi | 14

jenis kelamin dan usia. Selain itu yang tidak kalah penting yaitu permainan tersebut harus terjamin keamanannya dan juga menyehatkan bagi anak, tidak menyebabkan timbulnya penyakit pada anak. Dan umumnya permainan tradisional memenuhi seluruh kriteri ini. Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kini anak-anak cenderung beralih pada permainan modern dan meninggalkan permainan tradisional. Kurangnya kebiasaan aktivitas fisik pada anak ini juga dipengaruhi oleh tersedianya sarana transportasi sehingga anak-anak jarang melakukan aktivitas jalan kaki, meskipun jaraknya dekat atau dapat ditempuh dengan berjalan kaki untuk ukuran anak-anak. Selain itu, sempitnya lahan atau tempat bermain anak-anak menyebabkan anak kurang leluasa untuk bermain di tempat terbuka untuk berlari-larian, bersepeda, atau sekedar berjalan-jalan. Faktor Hormonal Kegemukan bisa juga disebabkan oleh faktor hormonal, misalnya menurunnya fungsi kelenjar tiroid dalam tubuh. Akibatnya, metabolisme dalam tubuh menjadi lambat, artinya kalori atau energi yang dikeluarkan tubuh berkurang sehingga terjadi peningkatan timbunan lemak dalam tubuh. Berat badan pun bertambah. Jika kondisi ini tidak diimbangi dengan upaya penurunan berat badan, misalnya dengan aktivitas fisik kusus untuk baita, cepat atau lambat, kegemukan pun pasti terjadi. Hormon insulin yang diproduksi oleh pancreas dipicu secara berlebihan (hiperinsuline) karena konsumsi makanan sehari-hari dalam jumlah berlebihan, khususnya makanan berkadar kalori tinggi. Peningkatan hormone insulin menyebabkan sintesis lemak dalam tubuh semakin meningkat, yang berarti timbunan lemak dalam tubuh juga meningkat sebagai penyebab terjadinya kegemukan. Penurunan aktivitas kelenjar kelamin atau disebut hipogonadisme juga

menyebabkan lambatnya metablisme tubuh. Hal ini berarti tubuh sangat hemat dalam mengeluarkan kalori sehingga terjadi peningkatan timbunan lemak tubuh. Hiperaktivitas atau hiperfungsi dari kelenjar adrenal kortikal juga menyebabkan kelainan metabolisme (sindrom cushing), ternyata dapat menyebabkan kegemukan yang sering terjadi pada anak-anak (Dina Agoes, 2003). Faktor Psikologis Faktor psikologis mempengaruhi kebiasaan makan anak, misalnya kepuasan anak dengan mengonsumsi makanan yang sedang tren, yaitu fast food (fried chicken, pizza, atau hamburger). Tentu saja, kegemaran anak-anak mengonsumsi fast food yang tinggi kalori secara berlebihan dapat menyebabkan kenaikan berat badan disertai dengan kenaikan timbunan lemak tubuh. Aspek psikologis dari orangtua juga dapat memicu terjadinya kegemukan pada anak, misalnya adanya anggapan bahwa anak yang gemuk adalah anak yang sehat dan

Subsistem Status Gizi | 15

menunjukkan keadaan sosial ekonomi keluarga. Di samping itu, anggapan bahwa mengonsumsi fast food menjadi bagian gaya hidup dan dapat meningkatkan gengsi

sehingga mereka cenderung membiarkan anak-anaknya menggemari bahkan menjadi pola makan sehari-hari (Dina Agoes, 2003). Pola Makan Selain faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumbya, terdapat satu faktor juga yang ikut berpengaruh dalam peningkatan resiko kegemukan pada anak, yakni faktor pola makan.Jika seorang anak mengonsumsi makanan dengan kandungan energi sesuai yang dibutuhkan tubuhnya oleh sebab itu maka tidak ada energi yang disimpan. Sebaliknya, jika anak mengonsumsi energi melebihi yang dibutuhkan tubuh maka kelebihan energi akan disimpan sebagai cadangan energi. Cadangan energi secar berkesinambungan ditimbun setiap hari yang akhirnya akan menimbulkan kegemukan. Konsumsi zat energi yang berlebihan pada anak balita dapat dipengaruhi oleh beberapa hal berikut: a. Pergeseran pola makan masyarakat Saat ini, pola makan masyarakat kita, terutama yang tinggal di kota-kota besar telah mengelami pergeseran. Mereka cenderung enggan mengonsumsi makanan tradisional seperti gado-gado, lotek, dan sebagainya yang kaya serat dan gizi serta rendah kadar kalorinya. Alasan ketidakpraktisan mungkin menjadi salah satu pertimbangan masyarakat kota meninggalkan makanan tradisional. Masyarakat kota besar lebih gemar

mengonsumsi makanan cepat saji serta produk makanan dalam kemasan yang dapat disajikan secara instan. Selain itu, citra kuno yang melekat pada produk makanan maupun minuman tradisional, membuat sebagian masyarakat di perkotaan enggan menjadikan makanan yang sehat ini sebagai bagian dari gaya hidup modernnya. Makanan dan minuman tradisional dianggap tidak menunjang gaya hidup metropolitan (Wahyu, 2009). b. Pola makan atau gaya hidup tidak dapat dipungkiri, kesibukan dan aktivitas tinggi pada masyarakat yang ebkerja dan tinggal di daerah perkotaan menuntut gaya hidup yang serba cepat dan instan. Peluang ini dimanfaatkan secara jeli oleh para produsen makanan cepat saji. Oleh karena itu, tumbuh suburlah restoran-restoran cepat saji di daerah perkotaan, bak cendawan di musim hujan. Hal yang lebih mencemaskan ialah saat ini restoran-restoran cepat saji juga kian mudah dijumpai tidak hanya di kota besar namun juga dijumpai di daerah pinggiran kota besar (suburban). Bahkan, telah merambah di daerah pedesaan (rural). Masyarakat di daerah-daerah tersebut pun secara perlahan kini mulai beradaptasi dengan pola makan cepat saji ini.

Subsistem Status Gizi | 16

Selain itu, beberapa restoran cepat saji membidik anak-anak sebagai salah satu sasaran utama penjualan produk mereka. Berbagai menu disajikan khusus untuk anakanak. Mulai dai kemasan bergambar tokoh-tokoh kartun yang disukai anak-anak hingga iming-iming hadiah berupa mainan anak-anak. Ironisnya, pemerintah tampak tidak berdaya membatasi gempran iklan produsen makanan junk food ini, terutama bagi kalangan anak. Sikap diam pemerintah secara tidak langsung menunjukkan

ketidakberpihaan terhadap pola makan sehat bagi anak. Kondisi ini sangat bertolak belakang dnegan langkah serius peerintah di negara maju dalam mebatasi segala bentuk promosi makanan cepat saji yang ditujukan bagi kalangan anak. Hal ini telah dilakukan pemerintah Swedia, Yunani, dan beberapa negara lain (Wahyu, 2009). c. Pengetahuan yang kurang Kurangnya pengetahuan ibu tentang makanan anak balita yang seimbang sesuai dengan angka kecukupan gizinya. Hal ini berdampak pada perilaku ibu dalam pemberian makanan pada anaknya. Misalnya saja bayi yang diberikan susu setiap kali menangis. Padahal, bayi yang menangis belum tentu merasa lapar atau haus. Oleh karena itu, seorang ibu harus tahu kapan dan saat waktu yang tepat untuk memberikan makanan pada anaknya. Bahkan terkadang dijumpai pemberian makanan tambahan dengan kalori tinggi pada abayi yang usianya masih teralu dini (Dina Agoes, 2003). d. Kemampuan atau daya beli Meningkatnya kemampuan atau daya beli menyebabkan banyak keluarga muda yang memanjakan anaknya, termasuk dalam pemberian makanan yang berlebihan, khususnya tinggi kalori dan lemak seperti pemberian susu formula sebagai pengganti ASI. e. Promosi produk makanan Dampak promosi di media massa cukup berpengaruh, baik cetak maupun elektronik berupa iklan-iklan menarik yang menawarkan berbagai produk-produk makanan yang bekalori dan berlemak tinggi. Iklan tersebut punya andil yang cukup besar sehingga mempengaruhi perilaku makan anak sehari-hari dengan kadar gizi tidak

seimbang (Dina Agoes, 2003).

2.3.4.

Resiko Obesitas pada Anak Balita Kegemukan dan Obesitas pada anak dapat meningkatkan resiko timbulnya

berbagai keluhan dan penyakit pada anak. Secara sederhana, gangguan kesehatan yang terjadi pada anak penderita kegemukan dan obesitas terbagi tiga, yakni gangguan klinis, mental dan sosial (Wahyu, 2009). Berbagai Gangguan kesehatan klinis pada anak penderita kegemukan dan obesitas a. Kegemukan dan obesitas pada anak dan kencing manis (DM tipe 2)

Subsistem Status Gizi | 17

Kencing manis atau disebut juga Diabetes Melitus tipe 2(DM tipe 2) merupakan penyakit yang ditandai dengan ketidakmampuan hormone insulin mengontrol kadar gula darah dalam batas normal. Insulin berperan mengubah kadar gula di dalam darah (glukosa), yang meningkat setelah makan, menjadi cadangan gula di dalam otot (glukagon). Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kadar gula di dalam darah tetap normal, sebagai bahan baku energi yang utama pada berbagai proses metabolisme tubuh. Namun, karena berbagai sebab, kerja insulin dapat mengalami gangguan. Fenomena ini disebut sebagai resistensi insulin. Resinstensi insulin merupakan kondisi ketika jumlah insulin yang diproduksi memadai, tetapi tidak mampu mengontrol kadar gula di dalam darah dalam batas normal. Kondisi semacam ini banyak dijumpai pada anak penderita kegemukan dan obesitas, juga pada anak yang kurang beraktivitas fisik maupun berolahraga. Resistensi insulin yang tidak segera ditangani dengan tepat dapat berkembang menjadi penyakit DM tipe 2. Resistensi insulin menjadi fase penentu (kritis) bagi anak untuk berkembang menjadi DM tipe 2 atau kembali menjadi sehat. Pada fase ini, pembatasan asupan kalori, serta upaya untuk meningkatkan aktivitas fisik anak sangat penting untuk dilakukan. Jika tidak, anak akan menderita DM tipe 2. Hal penting yang perlu dicatat dan dipahami yaitu usia penderita DM tipe 2 di seluruh negeri kini tidak lagi dimonopoli oleh kaum manula. Namun, juga dewasa muda dan remaja. Pergeseran pola makan ke arah yang tidak sehat, dan kian malasnya remaja bergerak disinyalir sebagai penyebab utamanya. Usia penderita DM tipe 2 yang kian bergeser ke arah dewasa muda dan remaja menjadi keprihatinan kita semua karena berpotensi mengurangi generasi usia produktif yang sehat di masa depan sebagai pemeran utama pembangunan nasional (Wahyu, 2009). b. Kegemukan dan Obesitas pada anak dan asma bronkhiale Asma Bronkhiale atau lebih dikenal dengan asma atau mengi merupakan kelainan sistem pernapasan yang ditandai dengan penyempitan pada saluran napas (bronkhus) yang bersifat sementara dan dapat sembuh secara spontan tanpa pengobatan. Asma terjadi dalam tiga derajat yakni, ringan, sedang, maupun berat. Kelainan asma ringan tidak berbahaya bagi kesehatan dan dapat sembuh secara spontan. Namun, kelainan ini sangat mengganggu aktivitas akibat arsa sesak yang ditimbulkannya. Sementara itu, asma derajat sedang dan berat umumnya memerlukan terapi jangka panjang, bahkan mungkin perlu menjalani rawat inap. Kegemukan dan obesitas pada anak meningkatkan resiko timbulnya asma bronkiale, terutama setelah beraktivitas fisik maupun olahraga yang melelahkan. Hal ini terungkap dari hasil penelitian Sara Rosenkraz, mahasiswi program doctoral ilmu gizi anak yang dipublikasikan Kansas State University pada 12 Desember 2008 lalu. Penelitian Sara menunjukkan bahwa anak penderita kegemukan dan obesitas yang

Subsistem Status Gizi | 18

kurang beraktivitas fisik maupun olahraga, cenderung mangalami serangan mirip asma bronkhiale pasca-berolahraga dan beraktivitas. Penelitian ini melibatkan 40 siswa sekolah dasar dengan rentang usia 8-10 tahun. Para siswa yang diteliti merupakan anak dalam kondisi sehat dan tidak sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, serta tidak memiliki riwayat penyakit asma bronkhiale sebelumnya. Para siswa usia sekolah dasar ini kemudian diminta untuk berolahraga selama interval waktu tertentu. setelah itu, mereka diuji dengan alat uji napas yang disebut spirometer untuk menilai ada atau tidaknya penyempitan saluran napas setelah berolahraga. Mereka juga diminta untuk mengisi kuesioner untuk dinilai apakah mereka termasuk anak yang aktif berolah raga atau tidak sebelumnya. Peneliti juga mengukur kadar lemak para siswa tersebut. Dan kesimpulan dari penelitian tersebut ialah siswa yang memiliki kadar lemak lebih tinggi dan kurang aktif berolahraga sebelumnya cenderung lebih mengalami serangan sesak napas akibat penyempitan saluran napas. Gejala ini mirip dengan serangan asma meskipun diperlukan penelitian lanjutan, penelitian Sara menunjukkan bahwa kegemukan dan obesitas pada anak yang kurang beraktivitas fisik maupun berolahraga meningkatkan resiko timbulnya serangan sesak napas yang mirip penyakit asma bronkhiale. c. Kegemukan dan obesitas pada anak dan hipertensi Tekanan darah meruapakn salah satu penanda kesehatan anak. Tekanan darah yang normal memungkinkan terjadinya sirkulasi O 2, CO2, makanan dan hasil metabolisme, serta zat-zat yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh dapat berdistribusi seacra optimal. Sala satu kelainan pada tekanan darah yaitu hipertensi, yang mana dapat terjadi atau diderita oleh siapapun, tanpa mengenal jenis kelamin dan usia. Anakanak pun dapat menderita hipertensi. Peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak di seluruh negeri ikut mendongkrak prevalensi hipertensi pada anak, terutama hipertensi primer. Obesitas diketahui merupakan salah satu faktor yang meningkatkan resiko hipertensi primer pada anak. Oleh karena itu, upaya menurunkan prevalensi kegemukan dan obesitas akan menurunkan prevalensi hipertensi pada anak secara tidak langsung. Hipertensi pada anak merupakan fenomena yang mencemaskan karena dapat menimbulkan kerusakan pada berbagai organ tubuh seperti ginjal, jantung, saraf mata, serta kelainan fungsi otak dan sebagainya. Oleh karena itu, upaya pencegahan hipertensi dan kegemukan serta obesitas pada anak mesti segera dilakukan. d. Kegemukan dan obesitas pada anak dan Sleep Apnea Kegemukan dan obesitas pada anak juga berpotensi menimbukan gangguan pada saluran napas ketika tidur, yang dikenal dengan istilah sleep apnea. Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya bahwa anak yang menderita obesitas berpotensi

Subsistem Status Gizi | 19

mengalami sleep apnea. Sebuah penelitian juga menyebutkan bahwa kelainan sleep apnea dijumpai pada sekitar 7% anak penderita obesitas. Meskipun hubungan antara obesitas dan sleep apnea belum jelas, diduga penderita obesitas memiliki saluran (jalan) napas yang lebih sempit akibat penumpukan lemak berlebih di beberapa otot yang berada di sekitar jalan napas. Selain itu, pangkal lidah mereka juga diperkirakan lebih mudah terdorong ke arah belakang dan menyumbat jalan napas ketika tidur. e. Kegemukan dan Obesitas pada anak dan gangguan tulang serta sendi Kegemukan danobesitas pada anak berpotensi menimbulkan kelainan bentuk dan ukuran (deformitas) tulang, ketidakseimbangan , maupun rasa nyeri yang sangat kuat baik ketika anak berdiri, berjalan, maupun berlari. Kegemukan dan obesitas pada anak diduga memberikan tekanan dan regangan yang lebih besar terutama pada tulang kaki, dibandingkan anak dengan berat badan normal. Fakta ini terbukti melalui beberapa penelitian. Penelitian yang dilakukan oleh Stewart Morriso dkk dari University of East London yang dimuat di situs Bio-Medicine pada 2006, melibatkan 200 anak dari kota Glasgow. Sebanyak 54 anak penderita obesitas berat, 15 anak penderita obesitas, dan 30 anak lainnya mengalami kegemukan, dan sisanya memiliki berat badan normal. Kemudian para peneliti melakukan penelitian lanjutan yang melibatkan 44 anak dengan usia 9-11 tahun, setengah dari jumlah sampel mengalami obesitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak penderita obesitas membutuhkan waktu lebih lama untuk menyeimbangkan kakinya ketika berdiri, beralan, maupun berlari dibandingkan anak dengan berat badan normal. Melalui dua penelitian tersbeut, para peneliti menyimpulkan bahwa anak penderita obesitas maupun obesitas berat cenderung tidak seimbang (imbalans) dan tidak dapat berjalan maupun berlari secara efisien. Penelitian Stewart dkk menarik untuk dikemukakan karena secara tidak langsung menyatakan bahwa merekomendasikan anak penderita obesitas untuk lebih aktif bergerak bukanlah alternative terbaik, mengingat keterbatasan kondisi telapa kaki mereka. Para peneliti juga menyebutkan bahwa meskipun segala keluhan ini dapat diterapi dengan terapi ortopedi terbaru, tindakan pencegahan kegemukan dan obesitas pada anak tetaplah yang terbaik. Hal ini dikarenakan upaya pencegahan labih mudah, murah dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi anak. Gangguan Kesehatan Mental pada anak penderita obesitan dan kegemukan Anak penderita kegemukan dan obesitas juga rentan mengalami gangguan kejiwaan seperti depresi. Hal ini antara lain disebabkan oleh ejekan atau cemoohan dari teman sebayanya, terutama ketika mereka mulai memasuki usia sekolah. Depresi yang terjadi pada anak penderita kegemukan dan obesitas bisa ringan maupun berat. Para orangtua maupun pengasuh harus mengenali gejala-gejala ringan maupun berat agar dapat segera membawa anak berobat ke dokter ahli kesehatan jiwa (psikiater) ataupun

Subsistem Status Gizi | 20

ahli ilmu perilaku (psikolog). Gejala depresi ringan tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena penyakitnya dapat berlanjut menjadi depresi berat. Dan gejala depresi berat ini diitandai dengan adanya keinginan untuk bunuh diri. Gangguan Sosial pada Anak penderita kegemukan dan Obesitas Selain gangguan klinis dan masalah kejiwaan yang mungkin akan dialami oleh anak penderita kegemukan dan obesitas, kendala hubungan sosial terutama dengan teman sebayanya juga berpotensi mengancam mereka. Anak penderita obesitas dengan konsep diri buruk, diperburuk dengan adanya penolakan sosial yang berlangsung lama, membuat mereka rentan terjebak dalam berbagai gangguan kejiwaan seperti depresi ringan maupun berat. Oleh karena itu, dukungan orangtua seperti mendengar keluh kesah anak penderita kegemukan dan memberikan semangat kepada mereka, memang terlihat remeh namun sebenarnya dukungan seperti inilah yang sangat berpengaruh pada mereka.

2.4

Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan Saat ini, pemerintah bersama organisasi profesi dan organisasi masyarakat

sedang melakukan inisiatif baru dalam bentuk suatu gerakan untuk menanggulangi perbaikan gizi baik kekurangan maupun kelebihan gizi, yang mana memfokuskan pada Percepatan Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan atau Scalling Up Nutrition (SUN) (2012). Sasaran dari gerakan ini yang ingin dicapai pada akhir tahun 2025 yang disepakati yaitu sebagai berikut : 1. Menurunkan proporsi anak balita yang stunting sebesar 40 persen 2. Menurunkan proporsi anak balilta yang menderita kurus (wasting) kurang dari 5 persen. 3. Menurunkan anak yang lahir berat badan rendah sebesar 30 persen 4. Tidak ada kenaikan proporsi anak yang mengalami gizi lebih 5. Menurunkan proporsi ibu usia subur yang menderita anemia sebanyak 50 persen 6. Meningkatkan prosentase ibu yang memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan paling kurang 50 persen Dan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan untuk penunjang program 1000 Hari Pertama Kehidupan dibagi menjadi dua yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik merupakan tindakan atau kegiatan yang dalam perencanaannya ditujukan khusus untuk kelompok 1000 HPK. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan. Intervensi spesifik bersifat jangka pendek, hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek.

Subsistem Status Gizi | 21

Jenis-jenis intervensi gizi spesifik yang cost efektif adalah sebagai berikut : Ibu Hamil 1. Suplementasi besi folat 2. Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil KEK 3. Penanggulangan kecacingan pada ibu hamil 4. Pemberian kelambu berinsektisida dan pengobatan bagi ibu hamil yang positif malaria Kelompok 0 6 Bulan 1. Promosi menyusui (konseling individu dan kelompok) Kelompok 7 23 Bulan 1. Promosi menyusui 2. KIE perubahan perilaku untuk perbaikan MP ASI 3. Suplementasi Zink 4. Zink untuk manajemen diare 5. Pemberian Obat Cacing 6. Fortifikasi besi 7. Pemberian kelambu berinsektisida dan malaria Sedangkan intervensi sensitif Berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umum, tidak khusus untuk 1000 HPK. Namun apabila direncanakan secara khusus dan terpadu dengan kegiatan spesifik, dampaknya sensitif terhadap keselamatan proses pertumbuhan dan perkembangan 1000 HPK. Dampak kombinasi dari kegiatan spesifik dan sensitif bersifat langgeng (sustainable) dan jangka panjang. Intervensi gizi sensitif meliputi : 1. Penyediaan air besih dan sanitasi 2. Ketahanan pangan dan gizi 3. Keluarga Berencana 4. Jaminan Kesehatan Masyarakat 5. Jaminan Persalinan Dasar 6. Fortifikasi Pangan 7. Pendidikan gizi masyarakat 8. Intervensi untuk remaja perempuan 9. Pengentasan Kemiskinan Peran pemerintah dalam program ini merupakan sebagai inisiator, fasilitator dan motivator terlaksananya dengan baik program tersebut. Namun, dalam pelaksanaan program pemerintah in, pemerintah bekerjasama oleh banyak pihak, diantaranya mitra pembangunan, lembaga sosial kemasyarakatan, dunia usaha, serta mitra pembangunan (Organisasi PBB).

Subsistem Status Gizi | 22

BAB 3. PEMBAHASAN

3.1.

Fenomena Kegemukan dan Obesitas di Indonesia Hingga hari ini, Indonesia masih menghadapi paradox dalam hal kesehatan gizi

masyarakat, terutama pada kelompok usia anak. Paradoks yang dimaksud ialah persoalan kekurangan gizi (malnutrisi) di satu sisi dan peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas di sisi lainnya, terutama di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya,dan sebagainya. Meskipun tidak mudah mendapatkan data yang akurat mengenai jumlah dan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak di Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Dr. Damayanti bersama koleganya yang tergabung dalam Masyarakat Pediatri Indonesia dapat menjadi gambaran mengenai fenomena ini. Penelitian dilakukan terhadap anak-anak sekolah dasar di sepuluh kota besar Indonesia periode 2002-2005dengan metode acak. Hasilnya, prevalensi kegemukan pada anak-anak usai sekolah dasar secara berurutan dari yang tertinggi ialah Jakarta (25%), Semarang (24,3%), Medan (17,75%), Padang (7,1%), Manado (5,3%), Yogyakarta (4%), dan Solo (2,1%). Rata-rata prevalensi kegemukan di sepuluh kota besar tersebut mencapai 12,2%. Fenomena peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak di Indonesia sangat mencemaskan. Fenomena yang banyak dijumpai pada anak terutama di kota-kota besar pada masyarakat kelas menengah dan atas ini terjadi akibat rendahnya kesadaran masyarakat dalam mendidik anak-anak mereka untuk hidup lebih sehat dengan cara mencukupi kebutuhan asupan serat hariannya, banyak beraktivitas dan cukup berolahraga, serta menghindari mengonsumsi makanan-makanan cepat saji dan sebagainya. Selain itu, disesalkan pula minimnya upaya pemerintah dan institusi kesehatan dalam melakukan komunikasi, menyebarkan informasi, serta edukasi yang intensif pada masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat, serta bahaya kegemukan dan obesitas pada anak serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah maupun mengobati gizi berlebih ini sehingga dapat menekan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak di Indonesia. Kegemukan dan obesitas pada anak merupakan bom waktu yang siap meledakkan sejumlah persoalan kesehatan di kemudian hari. Untuk itu, diperlukan upaya sungguh-sungguh dari masyarakat, pemerintah, instansi kesehatan, dan para pemangku kepentingan di bidang kesehatan lainnya untuk secara bersama-sama menekan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak di Indonesia.

Subsistem Status Gizi | 23

3.2.

Pembahasan Artikel Masalah gizi di Indonesia tidak hanya masalah kekurangan gizi namun juga

kelebihan gizi yang ternyata dinilai juga dapat mengakibatkan kematian utamanya di Indonesia. Berdasarakan data Riskesdas, diketahui sekitar 14,2% prevalensi anak balita mederita kegemukan. Angka prevalensi ini meningkat, dari angka prevalensi terakhir yaiti 12,2% yang tercatat pada Riskesdas tahun 2007. Hal ini merupakan suatu hal yang mencemaskan. Meskipun Indonesia telah mampu mencapai target untuk menurunkan angka prevalensi gizi buruk, namun dengan adanya peningkatan prevalensi kegemukan maka Indonesia belum dapat dikatakan berhasil dalam pencapaian MDGs. Menurut kami, peningkatan prevalensi ini terjadi tidak hanya disebabkan oleh faktor genetik, tetapi juga disebabkan oleh beberapa faktor lain. Saat ini, anak-anak yang seharusnya bisa aktif bermain, telihat duduk santai dengan cemilan dan permainan modernnya. Permainan zaman sekarang membuat anak semakin malas beraktivitas, sangat berbeda dengan permainan-permainan tradisional sebelumnya.Kurangnya aktivitas anak inilah yang juga berpengaruh dalam meningkatkan resiko terkena kegemukan dan obesitas. Bagaimana tidak hal ini bisa terjadi ? Asupan makanan yang mereka konsumsi sehari-harinya selalu menghasilkan kalori dan energi, yang mana bagaimanapun juga harus dibakar oleh proses metabolisme tubuh. Namun,

kenyataannya saat ini anak-anak sulit bermain dengan leluasa, mereka hanya menghabiskan waktu bermainnya di depan layar komputer, ipad, games dan masih banyak lainnya. Hal tersebut menyebabkan tidak terbakarnya kalori-kalori yang masuk dalam tubuh kita. Sebenarnya kalori yang tidak terbakar, bukan merupakan penyebab langsung terjadinya obesitas dan kegemukan pada anak, namun karena seringnya anak diberi asupan makanan yang tinggi kalori dan diberikan permainan modern maka terjadi penumpukan kalori yang nantinya menjadi tumpukan lemak. Hal ini yang masih belum disadari oleh masyarakat. Obesitas dan kegemukan pada balita merupakan tanggung jawab orang tua, di mana orangtua harus memiliki pengetahuan yang baik, sehingga para orangtua tidak perlu terus-menerus memberikan aupan tinggi kalori ataupun makanan yang cepat saji, yang mana kedua tipe makanan seperti itu sampai saat ini sering diberikan oleh para ibu kepada anak balitanya. Kebanyakan para orangtua mengungkapkan alasan mereka seringnya menggunakan makanan cepat saji dikarenakan tidak memerlukan waktu banyak untuk membuatnya. Hal in banyak terjadi pada kelompok ekonomi kelas atas. Banyaknya iklan di tv mengenai makanan cepat saji, seperti fast food, junk food, ataupun softdrinks semakin membuat anak-anak tertarik untuk membeli dan

mengonsumsi. Apalagi saat ini sudah banyak produsen makanan cepat saji yang

Subsistem Status Gizi | 24

membidik sasarannya yaitu kelompok anak-anak dengan pemberian hadiah dan masih banyak lainnya. Hal ini pula yang meningkatkan keinginan anak untuk mengonsumsinya. Disinilah lagi-lagi peran orangtua sangat dibutuhkan yaitu orangtua harus mampu memberikan pengetahuan dan informasi kepada anak mengenai makanan cepat saji tersebut, selain itu orangtua tidak seharusnya menjadikan makanan cepat saji sebagai salah satu menu makanan anak sehari-hari. Namun, pada permasalahan ini, tidak hanya peran orang tua yang diharapkan dapat tegas mencegah permasalahan ini, namun juga pemerintah yang seharusnya bisa tegas memperingatkan produsen yang amsih memproduksi makanan cepat saji utamanya mereka yang membidik kelompok anak-anak untuk produknya. Hal ini sangat berkebalikan jauh dengan yang terjadi di negara lain. Di negara kita, Indonesia, mengonsumsi makanan cepat saji dianggap suatu hal yang membanggakan sehingga para anak-anak terus menerus masih tetap ingin mengonsumsi makanan cepat saji tersebut. Sedangkan di luar negeri, mengonsumsi makanan cepat saji merupakan suatu hal yang sangat memalukan, sehingga banyak dari mereka yang menghindari konsumsi makanan cepat saji. Tidak hanya itu, perlu kita ketahui bahwa kegemukan dan obesitas dapat menyebabkan beberapa gangguan tidak hanya pada fisik, namun juga psikis anak serta sosialnya. Utamanya pada anak yag menderita kegemukan dan obesitas, mereka mudah sekali mengalami gangguan psikis maupun sosial. Gangguan fisik yang diakibatkan oleh kegemukan dan obesitas yakni menderita diabetes mellitus tipe 2, asma atau penyempitan saluran napas, hipertensi dan sebagainya. Jika saja anak-anak Indonesia sejak balita sudah menderita kegemukan dan obesitas, hal ini semakin mempersulit keadaan dimana kegemukan dan obesitas sejak lahir berpotensi menderita kegemukan dan obesitas lagi di usia remaja ataupuan usia dewasanya nanti. Hal ini dapat mengurangi jumlah generasi penerus bangsa. Namun saat ini, pemerintah telah berupaya dalam menekan angka prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak balita yaitu dengan program suatu gerakan yang dititikberatkan pada percepatan perbaikan gizi pada 1000 hari pertama keidupan. Gerakan ini mengintegrasikan intervensi langsung dan tidak langsung yang mana diselenggarakan oleh berbagai sector pembangunan. Oleh sebab itu, sangat dihrapakan upaya tegas pemerintah dalam pelaksanaan program ini. Selain itu, pemerintah juga seharusnya mampu bersikap tegas kepada para produsen makanan cepat saji, serta memberikan pengetahuan dan informasi khususnya kepada para ibu muda, supaya nanti mereka dapat mencegah terjadinya obesitas dan kegemukan pada anakn-anak mereka.

Subsistem Status Gizi | 25

BAB 4. PENUTUP

4.1.

Kesimpulan Kegemukan (obesitas) berbeda dengan kelebihan berat badan ( Oberweight). Kegemukan yaitu penimbunan lemak tubuh yang berlebihan sehingga berat badan anak balita jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan anak. Dan overweight adalah suatu keadaan berat badan anak balita yang melebihi berat badan normal atau seharusnya.

Hingga hari ini, Indonesia masih menghadapi paradox dalam hal kesehatan gizi masyarakat, terutama pada kelompok usia anak yaitu mengenai persoalan kekurangan gizi (malnutrisi) di satu sisi dan peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas di sisi lainnya, terutama di kota-kota besar di Indonesia.

Saat ini, pemerintah bersama organisasi profesi dan organisasi masyarakat sedang melakukan inisiatif baru dalam bentuk suatu gerakan untuk menanggulangi perbaikan gizi baik kekurangan maupun kelebihan gizi, yang mana memfokuskan pada Percepatan Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan atau Scalling Up Nutrition (SUN).

4.2.

Saran Dalam upaya menekan angka prevalensi kegemukan dan obesitas pada ank,

diharapkan tidak hanya keluarga yang berperan ataupun hanya pemerintah saja yang berperan, namun dari semua pihak baik pemerintah, masyarakat, dan peran dari yang lainnya. Hal ini ditujukan agar target penurunan angka prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak dapat tercapai secepatnya.

Subsistem Status Gizi | 26

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2003. Budi Sutoma, Dwi Yanti Anggraini. 2010. Menu Sehat Alami untuk Batita dan Balita. Jakarta : Demedia, 2010. Dietz, WH. 1995. Childhood Obesity, Text book of Pediatriies Nutrition. New york : Raven Press, 1995. Dina Agoes, Maria Poppy. 2003. Mencegah dan Mengatasi Kegemukan pada Balita. Jakarta : Puspa Swara, 2003. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Kesehatan MAsyarakat : Ilmu dan Seni. Yogyakarta : PT Rineka Cipta, 2003. RI, UU. 2012. Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Jakarta : s.n., 2012. Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC, 1995. Sulistiyoningsih, Hariyani. 2011. Gizi untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta : Graha Ilmu, 2011. Supariasa, I Nyoman Dewa, Bachtiar Bakri, Ibnu Fajar. 2002. Penilaian Status Gizi. s.l. : EGC, 2002. Syarifah, Fitri. 2013. Liputan 6. Liputan 6.com. [Online] Maret 02, 2013. [Cited: April 21, 2013.] http://health.liputan6.comread525236menkes-obesitas-pada-

balitapenyebab-kematian-utama-di-indonesia.htm. Uripi. 2004. Pengaruh Penyuluhan Gizi terhadap Perilaku Ibu dalam Pemenuhan Gizi Seimbang pada Balita. s.l. : Universitas Sumatera Utara, 2004. Wahyu, Genis Ginanjar. 2009. Obesitas pada Anak. Yogyakarta : Penerbit B First, 2009. 2012. Pedoman Perencanaan Program Gerakan Nasional Sadar Gizi dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan. Jakarta : s.n., 2012.

Subsistem Status Gizi | 27

LAMPIRAN

1)

Tabel Angka Kecukupan Gizi bagi Orang Indonesia

Subsistem Status Gizi | 28

2)

Artikel

17 April 2013 | 22:26:48 Menkes: Obesitas Pada Balita,Penyebab Kematian Utama di Indonesia oleh Fitri Syarifah Posted: 02/03/2013 11:05

Menkes Nafsiah Mboi. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah) Liputan6.com, Jakarta : Masalah gizi adalah hal yang sangat penting dan mendasar dari kehidupan manusia. Namun, ternyata bukan hanya masalah kekurangan gizi yang menjadi masalah di Indonesia tapi kelebihan gizi yang dinilai juga merupakan penyebab kematian utama Indonesia. Seperti dicatat dari data Riskesdas, tahun 2010 prevalensi gizi kurang pada balita di Indonesia masih sebesar 17,9 persen dan stunting masih 35,6 persen. Di samping itu, diperkirakan 14.2% balita di Indonesia mengalami gizi lebih dan kegemukan (obesitas). Bahkan, pada kelompok dewasa, prevalensi gizi lebih telah mencapai 21%. Kelebihan gizi merupakan risiko utama penyakit tidak menular (PTM) yang juga merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia, ujar Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi seperti dikutip dari siaran Pers, Sabtu (2/3/2013). Menurut Menkes, walaupun Indonesia sudah berhasil menurunkan angka gizi buruk, tapi masih butuh usaha ek stra untuk mencapai target MDGs. Kita sudah berhasil menurunkan angka gizi buruk. Tetapi untuk menurunkan membutuhkan extra effort untuk mencapai target MDGs, kata Menkes. Seperti diketahui, kekurangan gizi di Indonesia selain dapat menimbulkan masalah kesehatan (morbiditas, mortalitas dan disabilitas), juga menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa. Bahkan, kekurangan gizi dapat menjadi ancaman bagi ketahanan dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Untuk menanggulangi perbaikan gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi, saat ini pemerintah bersama organisasi profesi dan organisasi masyarakat, sedang melakukan inisiatif baru dalam bentuk suatu gerakan yang difokuskan pada Percepatan Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan atau Scaling Up Nutrition (SUN). "Gerakan ini mengintegrasikan intervensi langsung dan intervensi tidak langsung yang diselenggarakan oleh berbagai sektor pembangunan,"tambah Nafsiah. (Syarifah, 2013)

Subsistem Status Gizi | 29