Anda di halaman 1dari 12

Asbab al-Nuzul

KAJIAN KONTEKSTUALISASI; Al-Mumtahanah : 8 ~ Al-Baqarah : 223 ~ Al-Nur : 26 Dosen Pembimbing: Dr. Ahmad Khusnul Hakim, MA

Hasrul

INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA FAKULTAS USHULUDDIN TAFSIR HADIS TAHUN AKADEMIK 2012-2013

Oleh : Hasrul NPM : 10.31.0264

ASBAB AL-NUZUL;

Kajian Kontekstualisasi
Al-Mumtahanah : 8 ~ Al-Baqarah : 223 ~ Al-Nur : 26

Fakultas Ushuluddin Semester VI

INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA SELATAN 2012-2013

Kajian Kontekstualisasi Ayat al-Quran | Asbab

al-Nuzul

Oleh : Hasrul NPM : 10.31.0264

BAB I PEMBAHASAN SURAH AL-MUMTAHANAH AYAT 8 A. SURAH AL-MUMTAHANAH AYAT 8

-:.
Artinya: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. [Q.S. al-Mumtahanah : 8] B. ASBAB AL-NUZUL SURAH AL-MUMTAHANAH AYAT 8 Adapun sekilas riwayat-riwayat terkait asbab al-nuzul dari surah al-Mumtahanah ayat 8 dan 9, sebagai berikut: 1) Pertama:

: . ( : . .
Artinya: Dari Amir bin Abdullah bin Zubair memberitahu kami dari ayahnya, ia bercerita: Qutailah pernah datang menemui putrinya, Asma binti Abu Bakar dengan membawa daging dhabb (biawak) dan minyak samin sebagai hadiah dan ketika itu ia wanita musyrik. Maka Asma pun menolak pemberianya itu dan tidak memasukan ibunya ke dalam rumahnya. Kemudian Aisyah bertanya kepada Nabi Saw mengenai hal tersebut lalu Allah SWT menurunkan ayat ini kemudian beliau menyuruh Asma menerima pemberian ibunya itu dan mempersilakannya masuk ke dalam rumahnya. 1 2) Kedua:

: :
1

( : :

Al-Wahidy, Asbab al-Nuzul (Hadramaut: Darr al-Kitab al-Islamiyah, 2010), Cet. I, hal. 262 Kajian Kontekstualisasi Ayat al-Quran | Asbab

al-Nuzul

Oleh : Hasrul NPM : 10.31.0264

Artinya: Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Asma binti Abu Bakar berlata : saya dikunjungi oleh ibu kandungku (Siti Qutailah). Setelah itu Asma bertanya kepada Rasulullah saw: bolehkah saya berbuat baik kepadanya? Rasululah menjawab: ya (boleh) Turunlah ayat ini yang berkenaan dengan peristiwa tersebut yang menegaskan bahwa Allah tidak melarang berbuat baik kepada orang yang tidak memusuhi agama Allah. (HR. Bukhari dari Asma binti Abu Bakar).2 3) Ketiga:

: / . (
Artinya: Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Siti Qatilah (bekas istri Abu Bakar) yang telah diceraikan pada masa zaman jahiliyyah datang kepada anaknya, Asma binti Abu Bakar dengan membawa bingkisan. Asma menolak pemberian itu bahkan tidak memperkenankan ibunya masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu ia mengutus seseorang kepada Aisyah (saudaranya) untuk bertanya tentang hal ini kepada Rasulullah saw. Maka Rasul pun memerintahkan untuk menerima bingkisannya serta menerimanya dengan baik. Allah menurunkan ayat terkait hal ini: () .3 C. KONTEKSTUALISASI SURAH AL-MUMTAHANAH AYAT 8 Ayat di atas masih menerangkan tentang hukum bersikap loyal terhadap orang-orang kafir. Ketika Allah mengharamkan hal ini, ternyata orang-orang beriman atau para sahabat ada yang masih memiliki kerabat yang masih kafir. Pada sisi lain, Perintah untuk memusuhi kaum kafir (non muslim) yang di uraikan oleh ayat-ayat sebelumnya secara tersurat menunjukkan kesan bahwa semua non muslim harus dimusuhi. Karena perintah dari iman dan sebagai bentuk taat terhadap panggilan Allah, para sahabat akhirnya memutuskan hubungan kekerabatan dengannya. Kemudian Allah Swt memberikan kabar gembira di dalam surat yang mulia ini bahwa Allah Maha Kuasa untuk menjadikan di antara mereka dan kerabatnya yang kafir rasa saling mencintai. Allah Swt membebaskan kota mekkah dengan tangan Rasul-Nya, kemudian para pendudukanya masuk Islam semunya kecuali hanya beberapa orang saja yang menolak masuk Islam. Sesungguhnya rasa cinta, sikap loyal dan persaudaraan di antara mereka adalah bukti kebenaran Firman Allah:

:
Jalaluddin al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut : Darr al-Kitab al-Araby, 2011M/1432 H), hal. 234 3 Jalaluddin al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, hal. 234 Kajian Kontekstualisasi Ayat al-Quran | Asbab
2

al-Nuzul

Oleh : Hasrul NPM : 10.31.0264

Artinya: Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Mumtahanah : 7) ) Allah tidak Firman Allah ( melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu, dengan bermacam-macam tekanan maka kamu dibolehkan berbuat baik kepada mereka, seperti memberi makanan, pakaian, dan kendaraan serta berbuat adil kepada mereka. Ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh waktu dan tempat terhadap semua orang kafir asalkan sesuai dengan syarat-syarat yang telah disebutkan oleh Allah, yaitu:4 1. Mereka tidak memerangi kita atas nama Agama, 2. Mereka tidak mengusir kita dari kampung halaman kita. Misalnya, tidak mengintimidasi kita sehingg menyebabkan kita berhijrah ke kampung lain, dan 3. Tidak membantu musuh-musuh kita dengan bantuan apapun, baik dengan ikut serta bermusyawarah, menyumbangkan pikiran, apalagi dengan bantuan tenaga dan senjata. Sementara sebagian ulama bermaksud membatasi ayat tersebut hanya ditunjukan kepada kaum musyrik mekah, tetapi ulama-ulama sejak masa Ibn Jarir al-Thabari telah membantahnya. Thahir Ibn Asyur menulis bahwa pada masa Nabi saw sekian banyak sukusuku Musyrik yang justru bekerjasama dengan Nabi Saw serta menginginkan kemenangan beliau menghadapi suku Quraiys di Mekkah. Berkata al-Hasan dan Abu Salib mereka itu adalah Khuzaah, Bani Al-Harist ibn Kaab dan Muzainah.5 )Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Firman Allah, ( berlaku adil. Potongan ayat ini merupakan anjuran untuk kaum Muslimin untuk senantiasa berlaku adil walaupun terhadap orang-orang kafir. Allah Swt berfirman ( ) Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu, yaitu Allah melarang kamu bersikap loyal terhadap orang-orang yang memerangimu dan mengusirmu dari kampong halamanmu dan ikut berperan dan membantu orang lain dalam mengusirmu. ( ) barangsiapa yang menjadikan mereka (orang-orang kafir) sebagai kawan, maka mereka itulah termasuk orang-orang yang dzalim terhadap diri mereka sendiri dan menghadang siksa dan murka dari Allah karena telah meletakkan sikap loyal bukan pada tempatnya setelah memahami dan mengetaui hukum-hukumnya.6 Jadi, pandangan Islam yang menentukan tentang problematika antara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang menantang mereka adalah akidah semata-mata. Islam menetapkan bahwa bahwa nilai yang diusung setiap oleh mukmin dan harus dibela dengan mati-matian dengan berperang sekalipun adalah perkara akidah semata-mata. Dengan semikian, tidak ada permusuhan dan peperangan selama kebebasan dakwah dan kebebasan berkenyakinan tetap dihormati.7
Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Quran al-Aisar terj. Azhari Hatim dan Mukti, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2006), cet. I, hal. 401-402 5 Mustahfa Maraghi, Tafsir Maraghi (Semarang: Toha Putra, 1992), Cet. II, JIlid 28, hal. 112 6 Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Quran al-Aisar terj. Azhari Hatim dan Mukti (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2006), cet. I, hal. 401-402 7 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Quran terj. Asad Yasin, dkk. (Jakarta: Gema Insani, 2004), cet. I, hal. 50 Kajian Kontekstualisasi Ayat al-Quran | Asbab
4

al-Nuzul

Oleh : Hasrul NPM : 10.31.0264

Demikianlah beberapa tuntunan Islam dalam pergaulan dengan orang-orang nonmuslim. Ini sekali lagi mununjukkan akan ajaran-ajaran Islam yang universal dalam kehidupan umat manusia. Tuntunan tersebut harus terus dibina dan di amalkan dalam kehidupan sehari-hari yang sarat dengan homogen kepecayaan dan lebih-lebih dalam hubungan internasional. Islam membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja dalam kehidupan sosial untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Namun ironisnya, banyak masyarakat yang masih kurang memahami akan pesan ayat ini sehingga dimana-mana terjadi anarkisme dan fanatisme buta terhadap kepercayaannya masing-masing. REFERENSI PEMBAHASAN I Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. Tafsir al-Quran al-Aisar terj. Azhari Hatim dan Mukti, cet. I, Jakarta: Darus Sunnah Press, 2006 Al-Suyuti, Jalaluddin. Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Beirut: Darr al-Kitab al-Araby, Cet. V, 2011 Al-Wahidy, Asbab al-Nuzul, cet. I, Hadramaut : Darr al-Kitab al-Islamiyah, 2010 Maraghi, Mustahfa. Tafsir Maraghi, Cet. II, JIlid 28, Semarang: Toha Putra, 1992 Quthb, Sayyid. Tafsir Fi Zhilalil Quran terj. Asad Yasin, dkk., cet. I, Jakarta: Gema Insani, 2004 BAB II PEMBAHASAN SURAH AL-BAQARAH AYAT 223 A. SURAH AL-BAQARAH AYAT 223

:
Artinya: Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. [Q.S. al-Baqarah: 223] B. ASBAB AL-NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 223 Adapun sekilas riwayat-riwayat terkait asbab al-nuzul dari surah al-Baqarah ayat 223, sebagai berikut: 1) Pertama:

:( : : : . (
Kajian Kontekstualisasi Ayat al-Quran | Asbab

al-Nuzul

Oleh : Hasrul NPM : 10.31.0264

Artinya: Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, berkata: Umar suatu ketika datang menghadap Rasulullah Saw dan berkata: Ya Rasulullah, celakalah saya! Nabi bertanya: apa yang menyebabkan kamu celaka? Ia menjawab: aku pindahkan sukdufku (berjimak dengan istri dari belakang) tadi malam. Nabi Saw Terdiam dan turunlah ayat ini yang kemudian beliau lanjutkan: Berbuatlah dari muka ataupun dari belakang, tetapi hindarkanlah dubur (anus) dan bilamana istri sedang. 8 2) Kedua:

(
Artinya: seseorang menjima istrinya dari arah belakang. Maka, orang-orang pun menyalahkan karena hal itu. Lalu turunlah firman Allah () .9 3) Ketiga:

: : : : : . (: :
Artinya: Dari Jabir, berkata: orang-orang Yahudi beranggapan apabila menggauli istrinya dari belakang ke farjinya, maka anaknya akan lahir bermata juling. Lalu Allah menurunkan ayat () .10 C. PEMAHAMAN DAN KONTEKSTUALISASI AYAT Allah SWT memberi peluang bagi suami-istri untuk menikmati seks dalam bentuk apapun selama hal itu dilakukan di tempat persemaian. Allah SWT menggunakan kata harts di sini untuk menerangkan bahwa penanaman di lakukan pada tempatnya. ( ) harts ialah tempat tumbuhnya tumbuhan, bisa berbentuk sawah atau kebun. Maka pengertian ( ) ialah datangilah istrimu di tempat anak lahir (vagina) dan di tempat yang anak tidak mungkin lahir (dubur) jangan didekati. Sebagian manusia salah menafsirkan firman Allah ( )dengan tafsiran datangilah istrimu dari mana saja. Ini salah, karena ( ) artinya tempat penanaman (vagina) dan hasil tanaman bagi suami-istri adalah keturunan berupa anak.11 Dubur bukanlah tempat bercocok tanam, maka tidak mengandung kemungkinan adanya pilihan tempat lain selain dari tempat keluarnya anak. Ayat ini mengandung jawaban dari pertanyaan dan beberapa keadaan ketika turunnya; apakah diperbolehkan mendatangi istri pada kemaluannya tetapi dari belakangnya. Maka Allah SWT memberitahukan bahwa hal itu tidaklah mengapa asalkan tetap pada kemaluan (vagina) dan wanita itu suci dari darah haidh dan nifas. Wanita dinamakan lading karena rahimnya dapat mendatangkan anak sebagaimana tumbuh-tumbuhan tumbuh pada bumi yang
Jalaluddin al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut : Darr al-Kitab al-Araby, 2011M/1432 H), hal. 41 9 Jalaluddin al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, hal. 42 10 Al-Wahidy, Asbab al-Nuzul (Hadramaut: Darr al-Kitab al-Islamiyah, 2010), Cet. I, hal. 48 11 Mutawalli Syarawi, Tafsir Syarawi (Medan: Duta Azhar, 2006), Cet. I, Jilid 1, hal. 711 Kajian Kontekstualisasi Ayat al-Quran | Asbab
8

al-Nuzul

Oleh : Hasrul NPM : 10.31.0264

subur. Jika masalahnya seperti itu, maka seorang suami dapat mendatangi istrinya kapan dia mau, dari depan atau dari belakang selama tujuannya tercapai, yaitu terjaga dari perbuatan keji dan untuk memperoleh keturunan yang baik.12 Istri sebagai ladang bukan saja mengisyaratkan bahwa anak yang lahir adalah buah dari benih yang ditanam ayah. Istri hanya berfungsi sebagai ladang yang menerima benih. Kalau demikian, jangan salahkan istri jika dia melahirkan anak perempuan sedangkan anda menginginkan anak lelaki. Sebab, dua kromosom yang merupakan faktor kelamin yang terdapat pada wanita sebagai pasangan homolog adalah (XX) dan pada lelaki sebagai pasangan yang tidak homolog adalah (XY). Jika X pada jantan/lelaki bertemu dengan X yang ada pada wanita, maka anak yang lahir perempuan. Adapun, jika Y pada jantan/lelaki bertemu dengan X pada wanita, maka anak yang lahir lelaki. Jadi bukankah wabita hanya lading dan suami adalah petani yang menabur. Namun, seorang suami juga harus cerdas memilih ladang yang subur. Dalam artian, seorang petani tidak baik menanam benih di tanah yang gersang. Pandai-pandailah memilih tanah garapan dan pandai-paidailah memilih pasangan. Tanah yang subur harus di atur masa dan musim tanamnya. Jangan menanam benihsetiap saat, jangan paksa ia berproduksi setiap waktu. Begitupun seorang suami, pilihlah waktu yang tepat, atur masa kehamilan, jangan setiap saat anda panen karena ini merusak ladang.13 ( ) Dan kerjakanlah amal baik untuk dirimu. Ayat ini mencegah muslim dari pemahaman bahwa semua itu dilakukan semata-mata demi tersalurnya kepuasaan seksual. Allah memerinthakan agar dengan kepuasaan seksual itu tercapai perlindungan atas apa yang dilahirkan hingga terjamin kelangsungan umat manusia. Hubungan seksual jangan sampai menjadi tujuan utama, tetapi jadikanlah ia sarana untuk mencapai tujuan yang mulia. Untuk itu, setiap muslim dianjurkan mengikuti sunnah Rasul tatkala menikmati hubungan seksual dengan berdoa:

.
Artinya: Ya Allah, jauhilah saya dari syetan dan jauhilah apa yang kamu rezekikan kepadaku dari syetan. Seorang suami hendaknya berlaku baik terhadap istrinya yang dapat membahagiakannya dan memperpanjang harapan kamu berdua. Jangan tinggalkan ia sendirian, hindarkan darinya segala ganguan, beri ia segala yang sesuai guna menyiapkan pertumbuhan dan perkembangan janin yang akan atau sedang dikandungnya. Bila tiba saatnya ia mengandung, maka beri perhatian lebih besar, kemudian setelah melahirkan, pelihara anakmu hingga dewasa agar dapat bermanfaat untuk orang tuanya, keluarga bahkan kemanusiaan serta bangsa dan tanah air. ( ) dan bertakwallah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. Makna bertakwalah kepada Allah yaitu hindarilah murka Allah dan tetap bertakwa dengan prinsip yang tidak diragukan lagi bahwa kamu pasti bertemu dengan-Nya.14 Jika demikian, jangan sembunyikan sesuatu terhadap pasangan yang seharusnya ia ketahui
Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Quran al-Aisar terj. Azhari Hatim dan Mukti, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2006), cet. I, jilid. I, hal. 365 13 Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2001), Cet. I, Volume 1, hal. 449 14 Mutawalli Syarawi, Tafsir Syarawi (Medan: Duta Azhar, 2006), Cet. I, Jilid 1, hal. 712 Kajian Kontekstualisasi Ayat al-Quran | Asbab
12

al-Nuzul

Oleh : Hasrul NPM : 10.31.0264

dan jangan membohonginya. Disisi lain, jangan membongkar rahasia rumah tangga yang sarusnya dirahasiakan. Kalaupun ada cekcok, selesaikan ke dalam dan jangan selesaikan melalui orang lain kecuali jika terpaksa. Allah kelak akan menyelesaikannya karena kelak kamu semua akan menemui-Nya. Demikian kesan al-Haralli, seorang ulama dan pengamal tasawuf yang banyak dikutip pendapatnya oleh al-Biqai.15 Melihat keadaan sosial saat ini khususnya dalam kaitannya dengan pergaulan bebas sungguh bertentangan dengan pesan ayat ini. Banyak dan mudahnya dijangkau berbagai media informasi merupakan salah satu faktor rusaknya mental dan maraknya pergaulan remaja sekarang. Ini merupakan awal dari rusaknya generasi masa depan umat. Hal inilah yang diisyartakan dalam ayat di atas bahwa hubungan yang baik antara suami-istri akan melahirkan keturunan yang baik pula. Dari sini jugalah dasar untuk membanagun generasi masa depan yang yang baik dan tangguh. Ini semuanya berawal dari pembinaan kehidupan keluarga yang akan melahirkan keturunan. Dengan demikian, awal dan akhir yang baik semuanya berawal dari kita juga. REFERENSI PEMBAHASAN II Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. Tafsir al-Quran al-Aisar terj. Azhari Hatim dan Mukti, cet. I, Jakarta: Darus Sunnah Press, 2006 Al-Suyuti, Jalaluddin. Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Beirut: Darr al-Kitab al-Araby, Cet. V, 2011 Al-Wahidy, Asbab al-Nuzul, cet. I, Hadramaut : Darr al-Kitab al-Islamiyah, 2010 Shihab, Quraish. Tafsir al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, Cet. I, 2001 Syarawi, Mutawalli. Tafsir Syarawi, cet. I, jilid I, Medan: Duta Azhar, 2006 BAB III PEMBAHASAN SURAH AL-NUR AYAT 26 A. SURAH AL-NUR AYAT 26

:
Artinya: Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). [Q.S. al-Nur : 26]
15

Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2001), Cet. I, Volume 1, hal. 450 Kajian Kontekstualisasi Ayat al-Quran | Asbab

al-Nuzul

Oleh : Hasrul NPM : 10.31.0264

10

B. ASBAB AL-NUZUL SURAH AL-NUR AYAT 26 Adapun sekilas riwayat-riwayat terkait asbab al-nuzul dari surah al-Nur ayat 26, sebagai berikut: 1) Pertama:

( . :
Artinya: Al-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang para perawinya tziqat dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam tentang firman-Nya, perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki ynag keji, bahwa ayat ini turun tentang Aisyah ketika difitnah orang munafik lalu Allah menyatakan kebersihannya dari tuduhan itu.16 2) Kedua:

: : { }
Artinya: Al-Thabrani juga meriwayatkan dari Hakam bin Utaibah bahwa ketika orang-orang membicarakan perihal Aisyah, Rasulullah mengutus seseorang menemui Aisyah dengan pertanyaan, Aisyah, apa yang dibicarakan orang-orang itu? Ia menjawab: saya tidak meminta maaf atas apa pun hingga turun uzur saya dari langit. Maka Allah menurunkan mengenai dirinya lima belas ayat dari surah al-Nur lalu ia membaca sampai ayat, perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji.17 C. PEMAHAMAN DAN KONTEKSTUALISASI SURAH AL-NUR AYAT 26 Beberapa ayat dalam surah ini sebelum ayat 26 telah menguraikan bahwa Allah telah membersihkan Aisyah r.a dari kebohongan yang dituduhkan padanya, kemudian menjelaskan bahwa orang yang menuduh wanita yang baik-baik akan dijauhkan dari Rahmat Allah. Adapun dalam ayat ini (Surah al-Nur ayat 26), menyajikan dalil yang menghilngkan keraguan tentang Aisyah r.a bahwa sunnah yang berlaku di antara makhluk di dasarkan atas kesamaan akhlak dan sifat antara suami-istri. Maka, wanita yang baik adalah bagi lelaki yang baik, wanita yang keji adalah bagi lelaki yang keji pula. Rasulullah Saw adalah orang terbaik di antara para lelaki yang baik, maka sudah barang tentu menurut logika yang sehat dan adat yang tersebar di tengah-tengh makhluk, Aisyah pun merupakan wanita yang terbaik di antara para wanita yang baik.18 Sehingga, Syarawi di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa di antara bentuk kesetaraan adalah ayat yang kita bahas ini.19
Jalaluddin al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut : Darr al-Kitab al-Araby, 2011M/1432 H), hal. 171 17 Jalaluddin al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, hal. 171 18 Mustahfa Maraghi, Tafsir Maraghi (Semarang: Toha Putra, 1989), Cet. I, JIlid 18, hal. 162-163 19 Mutawalli Syarawi, Tafsir Syarawi (Medan: Duta Azhar, 2006), Cet. I, Jilid 9, hal. 584 Kajian Kontekstualisasi Ayat al-Quran | Asbab
16

al-Nuzul

Oleh : Hasrul NPM : 10.31.0264

11

Penjelasan tentang kisah bohong itu diakhiri dengan penjelasan tentang keadilan Allah dalam pilihan-Nya yang telah diaturnya dalam fitrah dan hal itu direalisasikan pada praktik nyata dalam kehidupan manusia. Keadilan tersebut ialah bersatunya jiwa yang buruk dengan jiwa yang buruk dan jiwa yang baik bersatu dengan jiwa yang baik pula. Atas dasar inilah, terbangun hubungan yang kokoh antara pasangan suami istri. Sebagai contoh, tidak mengherankan jika kalangan artis dan aktor yang paling banyak tersandung kasus perceraian karena itulah dunia kehidupan mereka.20 Para wanita yang keji hanya akan dimiliki oleh para lelaki yang keji pula. Mereka tidak akan melewati batas itu. Dan para lelaki yag keji hanya akan dimiliki oleh para wanita yang keji pula karena kesamaan jenis merupakan faktor tercapainya kecintaan dan kekalnya persahabatan. Sebaliknya, para wanita yang baik-baik diperuntukkan bagi para lelaki yang baik-baik pula. Karena, sebagaimana diketahui bahwa rasa akrab akan muncul dengan orang yang memiliki sifat, keutamaan, dan kesempurnaan yang anda miliki. Demikian pula para lelaki yang baik-baik, diperuntukan bagi para wanita yang baik-baik, mereka tidak akan mencari selain para wanita yang baik-baik pula.21 Uraian ayat ini merupakan akhir dari penjelasan tentang berita bohong yang di alami Aisyah r.a. Berita tersebut yang sempat membebani kaum muslimin dengan ujian yang paling besar. Ini merupakan ujian kepercayaan kepada kesucian rumah tangga Rasulullah Saw, ujian dalam pengawasan Allah terhadap Nabi-Nya, perihal memasukkan orang ke dalam rumah-nya hanya orang-orang yang suci dan mulia saja. Allah telah menjadikannya sebagai pertunjukkan untuk mendidik kaum muslimin sehingga menjadi bersih, bening, dan terangkat ke dalam naugan-naugan cahaya Allah dalam surah al-Nur ini. Dari kejadian tuduhan berat kepada keluarga Rasulullah ini kita mendapat peringatan penting untuk bersikap filter terhadap semua informasi sampai mengetahui kebenarannya. Hal ini disebutkan dalam surah al-Hujurat ayat 6:


Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [Q.S. al-Hujurat : 6] Inilah pedoman orang beriman dan pegangan orang yang berbudi baik. Sekiranya menerima kabar buruk, selediki terlebih dahulu sumbernya agar tidak terjerumus pada hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah.

SEKIAN
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Quran terj. Asad Yasin, dkk. (Jakarta: Gema Insani, 2004), cet. I, jilid. 16, hal. 33 21 Mustahfa Maraghi, Tafsir Maraghi (Semarang: Toha Putra, 1989), Cet. I, JIlid 18, hal. 163 Kajian Kontekstualisasi Ayat al-Quran | Asbab
20

al-Nuzul

Oleh : Hasrul NPM : 10.31.0264

12

REFERENSI PEMBAHASAN III Maraghi, Mustahfa. Tafsir Maraghi, Cet. II, JIlid 28, Semarang: Toha Putra, 1992 Quthb, Sayyid. Tafsir Fi Zhilalil Quran terj. Asad Yasin, dkk., cet. I, Jakarta: Gema Insani, 2004 Al-Suyuti, Jalaluddin. Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Beirut: Darr al-Kitab al-Araby, Cet. V, 2011 Syarawi, Mutawalli. Tafsir Syarawi, cet. I, jilid I, Medan: Duta Azhar, 2006

Kajian Kontekstualisasi Ayat al-Quran | Asbab

al-Nuzul