Anda di halaman 1dari 12

Metodologi Penelitian Ilmu Tafsir

BAB PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumber ajaran Islam yang pertama dan utama adalah Al-quran. Al-Quran memperkenalkan dirinya antara lain sebagai petunjuk dan sebagai kitab yang diturunkan agar manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang . 1: ) ( Kitab suci ini menempatkan posisi sebagai sentral, bukan saja dalam perkembangan ilmuilmu keislaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu, dan pemandu gerakan-gerakan umat Islam. Demikian, maka pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Quran melalui penafsiranpenafsirannya, mempunyai peranan penting bagi maju mundurnya umat. Kemudian, adanya upaya mengembangkan keilmuan yang sedang berjalan, ditekankannya pada penguasaan Metodologi keilmuan yang dikembangkan. Dalam hal ini, Ilmu tafsir sudah sejak dahulu melalui proses penelitian. Tumbuh dan berkembang sejak zaman nabi dan para Sahabat atau periode awal Islam, kemudian Periode Tabiin abad ke 1 H sampai abad ke 2 H, dan abad ke 2 H sampai abad ke 3 H pada periode tabiit-tabiin. Banyak ulama yang melakukan riset atau penelitian terhadap Al-quran yang melahirkan banyak kitab-kitab yang menjelaskan pemahaman Al-quran. Tentu dengan ciri khasnya masing-masing. Inilah yang kemudian, menjadikan kita memahami Al-quran melalui beberapa metode pemahamannya dari yang sudah banyak dijabarkan para ulama. . Karenanya, Mukti Ali pernah mengatakan bahwa Metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan Ilmu. Studi Islam yang semakin berkembang, menuntut kita untuk memahami dan mendalaminya. Karena, suatu saat metodologi yang ada, masih akan membutuhkan metodologi lainnya untuk membantu kita memahami ajaran agama kita. I

B. Rumusan Masalah Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang tersebut disusun rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apakah pengertian Metodologi Penelitian Ilmu Tafsir? 2. Apa sajakah Metodologi ilmu tafsir dalam pandangan ulama? 3. Bagaimanakah pandangan pribadi penyusun terhadap metodologi penelitian ilmu tafsir yang ada? C. Tujuan dan Kegunaan Makalah 1. Pemakalah mengetahui dan memahami pengertian Metodolgi Penelitian Ilmu Tafsir. 2. Pemakalah dapat memaparkan Metodologi ilmu Tafsir dalam pandangan Ulama. 3. Menyebutkan pandangan pribadi terhadap metodolgi yang dipaparkan. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian 1. Metodologi
1

Metodologi berasal dari kata Metode yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu. Sedangkan Logos adalah Ilmu Pengetahuan. Jadi, Metodologi adalah cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan. 2. Penelitian Penelitian dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis, yang bertujuan untuk menemukan, dan merevisi fakta-fakta. 3. Tafsir Berasal dari bahasa Arab, fassara-yufassiru-tafsiiron yang artinya penjelasan, pemahaman, dan perincian. Dalam Wikipedia bebas, Tafsir menurut bahasa adalah penjelasan atau keterangan, seperti yang bisa dipahami dari Quran Surat Al-Furqon :33. Ucapan yang ditafsirkan berarti ucapan yang tegas dan jelas. Menurut Istilah, pengertian Tafsir adalah ilmu yang mempelajari kandungan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW. Imam Al-Zarqani mengatakan bahwa tafsir adalah Ilmu yang membahas kandungan AlQuran baik dari segi pemahaman makna atau arti sesuai kehendak Allah , menurut kadar pemahaman manusia. Abu Hayyan mendefinisikan tafsir sebagai, Ilmu yang membahsa tentang pengucapan lafadz-lafadz Al-Quran, indicator-indikatornya, masalah hokum-hukumnya baik yang independen maupun yang berkaitan dengan yang lain, serta tentang makna-maknanya yang berkaitan dengan kondisi struktur lafadz yang melengkapinya. Dengan demikian, pengertian Metodologi Penelitian Ilmu Tafsir adalah cara yang dilewati melalui kegiatan Ilmiah untuk membahas, menjelaskan serta mereflesikan kandungan AlQuran dengan seksama terhadap penafsiran Al-Quran yang pernah dilakukan generasi terdahulu untuk diketahui secara pasti tentang berbagai hal yang terkait dengannya. B. Metodologi Penelitian Ilmu Tafsir Seperti yang kita ketahui bahwa Rasulullah SAW adalah merupakan orang pertama yang berhak untuk menafsirkan Al-Quran (mufassir awwal), karena pada masa Nabi segala persoalan yang berkaitan dengan persoalan umat bisa langsung ditanyakan kepada beliau. Diantara pendekatannya antara alain : Pertama, pendekatan dengan Al-quran itu sendiri.Ayat yang masih bersifat global terdapat penjelasannya pada ayat yang lain. Ayat yang mutlak penjelasannya ada pada ayat qayid. Umum pada ayat yang khusus. Kedua, penafsiran yang dikembalikan kepada Nabi. Hal ini dilakukan terutama ketika para sahabat Nabi mendapatkan kesulitan dalam memahami suatu ayat dari Al-Quran. Ketiga, Pemahaman dan ijtihad sahabat Nabi. Hal ini, jika mereka tidak menemukan tafsiran suatu ayat yang dalam kitab Allah dan juga tidak menemukannya dalam Hadits Nabi. Metode Penelitian untuk mendekatkan kita pada pemahaman Al-Quran : a) Tafsir Tahlili Tafsir Tahlili ialah, mengkaji ayat-ayat Al-Quran dari segala segi dan maknanya, ayat demi ayat dan surat demi surat, sesuai dengan urutan mushaf Utsmani.Metode ini mengkaji kosa kata dan lafadz. Menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, menjelaskan apa yang dapat diisttinbthkan dari ayat serta mengemukakan kaitan antara ayatayat dan relevansinya dengan surat sesudah dan sebelumnya. Karenanya, rujukannya ialah asababun nuzul ayat, hadits-hadits Rasulullah SAW, riwayat para sahabat dan tabiin. Para ulama membagi wujud tafsir Al-Quran dengan metode Tahlily kepada tujuh macam, yaitu : 1. Tafsir Bil-Matsur Penafsiran Ayat Al-Quran terhadap maksud ayat Al-Quran yang lain.
2

2. Tafsir Bir-Rayi Penafsiran yang dilakukan para mufassir dengan menjelaskan ayat Al-Quran berdasarkan pendapat atau akal. Para Ulama menegaskan bahwa Tafsir Bir-Rayi ada yang diterima dan ada yang ditolak. 3. Tafsir Shufi Penafsiran yang dilakukan para sufi yang pada umumnya dikuasai oleh ungkapan mistik. Ungkapan-ungkapan tersebut tidak dapt dipahami kecuali oleh orang-orang shufi dan yang melatih diri untuk menghayati ajaran tasawuf. 4. Tafsir Fikih Penafsiran ayat Al-Quran yang dilakukan tokoh suatu madzhab untuk dapat dijadikan sebagai dalil atas kebenaran madzhabnya. 5. Tafsir Falsafi Penafsiran ayat Al-Quran dengan menggunakan teori-teori filsafat. 6. Tafsir Ilmi Penafsiran ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam Al-Quran dengan mengaitkannya dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern yang timbul pada masa sekarang. 7. Tafsir Adabi Penafsiran ayat-ayat Al-Quran dengan mengungkapkan segi balaghoh Al-Quran dan kemukjizatannya, menjelaskan makna-makna dan sasaran-sasaran yang dituju Al-Quran, mengungkapkan hokum-hukum alam, dan tatanan-tatanan kemasyarakatan yang dikandungnya. b) Tafsir Ijmali Tafsir Ijmali yaitu, penafsiran Al-Quran dengan uraian singkat dan global, tanpa uraian panjang lebar. Mufasiir menjelaskan arti dan makna ayat Al-Quran dengan uraian singkat yang dapat menjelaskan sebatas artinya tanpa menyinggung hal-hal selain arti yang dikehendaki. c) Tafsir Muqaran Metode Tafsir yang ditempuh seorang mufassir dengan cara mengambil sejumlah ayat AlQuran, kemudian mengemukakan penafsiran para Ulama tafsir terhadap ayat-ayat itu, dan mengungkapkan pendapat mereka serta membandigkan segi-segi dan kecenderungan masingmasing yang berbeda dalam menafsirkan Al-Quran. Kemudian dijelaskan bahwa diantara mereka ada yang corak penafsirannya ditentukan oleh disiplin Ilmu yang dikuasai. Diantaranya, ada yang menitikberatkan pada bidang nahwu, yakni segi-segi Irab. Demikian pula, ada yang cenderung kepada Balaghoh. Seorang mufassir dengan metode muqaran dituntut harus mampu menganalisis pendapatpendapat para Ulama tafsir yang ia kemukakan, lalu ia harsu mengambil sikap menerima penafsiran yang dinilai benar, dan menolak penafsiran yang tidak dapat diterima rasionya, serta menjelaskan kepada pembaca alas an dari sikap yang diambilnya, sehingga pembaca merasa puas. Selain itu, metode dengan tafsir Muqaran mempunyai pengertian dan lapangan yang luas, yaitu membandingkan ayat-ayat Al-Quran dengan Hadits-hadits nabi yang lahiriyahnya berbeda, serta mengkompromikan dan menghilangkan dugaan adanya pertentangan antara hadits-hadits Rasulullah SAW itu, dan akjian-kajian lain yang sangat berharga. d) Tafsir Maudhui Metode tafsir maudhuI atau tematik yaitu metode yang ditempuh seorang mufassir dengan cara menghimpun seluruh ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang satu masalah/tema (maudhu) serta mengarah kepada satu pengertian dan satu tujuan, sekalipun ayat-ayat itu cara turunyya berbeda, tersebar pada berbagai surat dalam Al-Quran dan berbeda pula waktu dan tempat turunnya.
3

Kemudian, ditentukan tentang ayat-ayat itu sesuai dengan masa tturunnya, mengemukakan sebab turunnya, menguraikan dengan sempurna dan menjelaskan makna dan tujuannya, mengkaji terhadap seluruh segi dan apa yang dapat diistinbathkan atau diambil kesimpulannya, egi Irabnya, unsure-unsur balaghohnya, segi-segi Ijaznya dan lain-lain. Sehingga satu tema dapat dipecahkan secara tuntas berdasarkan seluruh ayat Al-Quran itu dan oleh karenya, tidak dipelukan ayat-ayat lain. e) Tafsir Bil-Matsur Pada saat Al-Quran diturunkan, Rasulullah SAW berfungsi sebagai Mubayyin, menjelaskan kepada para Sahabatnya tentang arti dan kandung Al-Quran, khusunya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau samar artinya. Keadaan ini berlangsung sampai wafatnya Rasulullah SAW. Walaupun harus diakui bahwa penjelasan tersebut tidak semua kita ketahui, akibat tidak sampainya riwayat-riwayat tentangnya atau karena memang Rasulullah SAW sendiri tidak menjelaskan semua kandungan Al-Quran. Sedangkan, menurut pandangan beberapa ulama terhadap metode penelitian tafsir diantaranya : 1. Model Qurasih Shihab Hasil penelitian Quraish Shihab terhadap metodologi tafsir di bagi menjadi dua bagian. Matsur dan penalaran. a) Matsur (riwayat) b) Metode Penalaran 1) Metode Tahlily 2) Metode Ijmali 3) Metode Muqorin 4) Metode Maudhui 2. Model Syaikh Muhammad Al-Ghazali Beliau membagi metodologi ilmu tafsir ke dalam dua bagian. Metode klasik dan modern BAB III

PENUTUP A. Kesimpulan 1) Metodologi Penelitian Ilmu Tafsir adalah cara yang dilewati melalui kegiatan Ilmiah untuk membahas, menjelaskan serta mereflesikan kandungan Al-Quran dengan seksama terhadap penafsiran Al-Quran yang pernah dilakukan generasi terdahulu untuk diketahui secara pasti tentang berbagai hal yang terkait dengannya. 2) Metodologi Penelitian ilmu tafsir yang disusun oleh pemakalah adalah a. Tafsir Tahlily terbagi menjadi tujuh macam, yaitu : Tafsir Bi- al Matsur, Tafsir Bi alRayi, Tafsir Shufi, Tafsir Falasafi, Tafsir Fiqhi, Tafsir Ilmi, Tafsir Adabi. b. Tafsir Ijmaly c. Tafsir Muqaran d. Tafsir Maudhui e. Tafsir Bi al-Matsur 3) Metodologi Ilmu Tafsir dalam penelitian Quraish Shihab, a. Matsur (riwayat) b. Metode Penalaran. Terbagi menjadi, Metode Tahlily, Metode Ijmali, Metode Muqorin, Metode Maudhui 4) Pandangan Pribadi pemakalah terhadap metodologi penelitian ilmu tafsir. Al-quran, kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. adalah kalam Ilahi yang tidak ada satupun yang dapat menandinginya. Ia hadir sebagai pedoman dan sumber keilmuan umat. Dalam perkembangannya, Al-Quran menyajikan berbagai pemecahan
4

masalah yang sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Kemudian berlanjut kepada para sahabat dan tabiin yang berusaha memecahkan masalah baru, yang belum dijelaskan oleh Rasulullah SAW. sebelumnya. Banyak para Ulama yang mencoba memahami Al-Quran dengan berbagai cara atau metode. Setiap pendekatan melalui beberapa metodologi yang disajikan para Ulama, ada yang mudah dipahami secara luas oleh bebagai kalangan masyarakat. Ada pula yang rumit untuk dipahami oleh sekelompok orang yang belum memahami keilmuan Islam. Tidak baik jika kita menghakimi satu metode sebagai metode yang paling benar sendiri atau paling tidak cocok untuk pendekatan pemahaman terhadap Al-Quran. Karena, setiap metode yang digunakan memilki tujuan yang sama, yatu mencoba memahami Al-quran melalui berbagai metode yang ada. Asalkan tidak keluar dari kode etik penafsiran Al-Quran yang benar, maka sah-sah saja kita memahami Al-Quran melalui metode yang ada. DAFTAR PUSTAKA Al-Quranul Karim Al-Qathathan, Manna. 2011. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. Agil, Said Husin Al-Munawar. 2003. Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki. Jakarta : Ciputat Press. Cholid Narbuko dan Abu achmadi.2001. Metodologi Penelitian, Jakarta: Sinar Grafika Mustofa, Agus. 2004. Pusaran Energi Kabah. Padma Press, M. Al-Fatih Suryadilaga, dkk. 2005. Metodologi Ilmu Tafsir. Yogyakarta : Teras. Nata, Abuddin. 2009.Metodologi Study Islam. Jakarta : Rajawali Press W.J.S. Poerwadarminta. 1991. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. http ://sanadthkhusus.blogspot.com/2011/05/konsep-dasar-metodologi-penelitian.html (online). Diakses pada 28 Oktober 2012.

SILABUS METODOLOGI PENELITIAN TAFSIR (MPT) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PENGEMBANGAN ILMU AL-QUR'AN (STAI-PIQ) SUMATERA BARAT

1. Tafsir

Pengertian Tafsir Dasar-dasar Tafsir Urgensi Tafsir

2. Metodologi Tafsir

Pengertian dan Metodologi Tafsir Perkembangan Metodologi Tafsir Posisi Metodologi Tafsir dalam Ilmu Tafsir

3. Jenis- jenis Tafsir


Tafsir bi al-Matsur Tafsir bi al-Rayi

4. Metode Penelitian Tafsir A. Metode Ijmali (Metode Global) 1. 2. 3. 4. Pengertian Ciri-ciri Metode Ijmali Kelebihan dan Kekurangan Metode Ijmali Urgensi Metode Ijmali

B. Metode Tahlili (Metode analitis) 1. 2. 3. 4. Pengertian Ciri-ciri Metode Tahlili Kelebihan dan Kekurangan Metode Tahlili Urgensi Metode Tahlili

C. Metode Mawdhui 1. 2. 3. 4. Pengertian Ciri-ciri Metode Mawdhui Kelebihan dan Kekurangan Metode Mawdhui Urgensi Metode Mawdhui

D. Metode Muqarran (Metode Perbandingan/Komparatif)

1. 2. 3. 4.

Pengertian Ciri-ciri Metode Muqarran Kelebihan dan Kekurangan Metode Muqarran Urgensi Metode Muqarran

5. Corak-corak Tafsir

Corak Tafsir Shufi Corak Tafsir Falsafi Corak Tafsir Fiqh Corak Tafsir Ilmi Corak Tafsir Adab al-Ijtimai

6. Objek dan Tujuan Penelitian Tafsir 7. Pengenalan Kitab-kitab Tafsir 8. Pengenalan Kitab-kitab yang dipergunakan dalam Penelitian Tafsir (Kitab Mujam, Kitab Asbab al-Nuzul) 9. Langkah-langkah Penulisan Proposal Tafsir

Penulisan Latar Belakang Masalah Rumusan Masalah Penjelasan Judul

Referensi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Abd al-hayy al-Farmawi: Metode Tafsir Mawdhui (terj.) Muhammad Husain al-Dzahabiy: al-Tafsir wa al-Mufasirun Manna Khalil al-Qaththan: Mabahits fiy Ulum al-Quran Mushthafa Muslim: Mabahits fiy al-Tafsir al-Mawdhui M. Quraish Shihab: Membumikan al-Quran Nashruddin Baidan: Metodologi Penafsiran al-Quran Shalah abd al-Fatah al-Khalidiy: Tarif al-Darisin bi Manahij al-Mufassirin Kopertais Wil. VI Sumbar: Panduan Penulisan Karya Ilmiyah

METODOLOGI STUDI AL-QURAN / TAFSIR

2 Votes

METODOLOGI STUDI AL-QURAN / TAFSIR A. Pengertian Metodologi Studi Al-Quran / Tafsir 1. Pengertian Metodologi Metodologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Metoda dan Logi. Metoda artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu. logi berasal dari kata Logos artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi metodologi artinya suatu ilmu yang membicarakan cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan atau menguasai kompetensi tertentu. 2. Pengertian Al-Quran Secara etimologi, Al-Quran berasal dari kata qaraa, yaqrau, qiraatan, atau quranan yang berarti mengumpulkan (al-jamu) dan menghimpun (al-dhammu) huruf-huruf serta katakata dari satu bagian ke bagian yang lain secara teratur. Sedangkan pengertian Al-Quran dari segi terminologinya dapat dipahami dari pandangan beberapa ulama berikut: a. Muhammad Salim muhsin mengemukakan dalam bukunya Tarikh Al-Quran Al-Karim Menyatakan bahwa Al-Quran adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammmad SAW yang tertulis dalam mushaf-mushaf dan dinukilkan /diriwayatkan kepada kita dengan jalan yang mutawatir dan membacanya dipandang ibadah serta sebagai penentang (bagi yang tidak percaya) walaupun surat terpendek. b. Abdul Wahab Khalaf mendefinisikan Al-Quran sebagai firman Allah SWT yang diturunkan melalui jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan bahasa Arab, isinya dijamin kebenarannya. c. Muhammad Abduh mendefinisikan Al-Quran sebagai kalam yang diturunkan oleh Allah kepada yang paling sempurna (muhammad SAW), ajarannya mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan. 3. Pengertian tafsir Secara etimologis, tafsir berasal dari bahasa Arab, yaitu fassara, yufassiru, tafsiran yang berarti penjelasan, pemahaman, dan perincian. Selain itu tafsir dapat pula berarti al-idlab wa al-tabyin yaitu penjelasan dan keterangan. Secara terminologis pengertian tafsir dikemukakan pakar Al-Quran dalam tampil formulasi berbeda-beda, namun esensinya sama seperti berikut: a. Al-Jurjani mengatakan bahwa tafsir adalah menjelaskan makna ayat-ayat Al-Quran dari berbagai seginya, baik konteks, historisnya maupun sebab An-nuzulnya. b. Imam Al-Zarqani tafsir adalah ilmu yang membahas kandungan Al-Quran baik segi pemahaman makna atau arti sesuai dikehendaki Allah menurut kadar kesanggupan manusia.
8

c. Al-Zarkasyi mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang fungsinya untuk mengetahui kandungan kitabullah. Dari pendapat para pakar Al-Quran di atas dapat disimpulkan bahwa tafsir ialah ilmu yang menjelaskan tentang cara mengucapkan lafadh-lafadh Al Quran, makna-makna yang ditunjukkannya dan hukum-hukumnya, baik ketika berdiri sendiri atau tersusun, serta maknamakna yang dimungkinannya ketika dalam keadaan tersusun. Jadi dapat disimpulkan bahwa Metodologi Tafsir Al-Quran (manhij al-mufassiriin) adalah Ilmu yang membahas tentang jalan dan cara yang dipakai oleh setiap Mufassir dalam menafsirkan Al Quran, dimana dengannya dapat diketahui secara jelas akan perbedaan antara satu Mufassir dengan yang lainnya dari aspek sumber pengambilan, cara penyampaian dan orientasinya, kemudian kita kembalikan penafsiran mereka kepada syariat dan kaedahkaedah baku yang telah disepakati oleh jumhur ulama. B. Latar Belakang Dilakukan Studi / Penelitian 1. Terjadinya gabungan dari tiga sumber yaitu penafsiran Rasulullah SAW, penafsiran para sahabat dan penafsiran para tabiin. 2. semakin pesatnya perkembangan agama islam dikalangan masyarakat sehingga muncullah atau beredarnya hadis-hadis palsu dan lemah dikalangan masyarakat. Semantara perubahan sosial semakin menonjol dan timbullah beberapa persoalan yang belum pernah terjadi atau dipersoalkan pada masa nabi Muhammad SAW, para sahabat dan tabiin. 3. sejalan dengan lajunya perkembangan masyarakat, berkembang dan bertambah besar porsi peranan akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat Al-Quran sehingga bermunculan berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam coraknya. Senada dengan ini, Sanusi Lathef mengungkapkan bahwa akibat munculnya beberapa persoalan yang belum pernah terjadi atau dipersoalkan pada masa nabi Muhammad SAW, para sahabat dan para tabiin maka penelitian tafsir ini berfungsi sebagai pedoman dalam mencari penyelesaian persoalan yang terjadi saat sekarang ini. C. Tujuan Studi / Penelitian Tafsir 1. Sebagai salah satu ayat untuk dapat memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan sebaik-baiknya 2. Agar dapat memahami arti dan maksud ayat-ayat Al-Quran itu, agar kita dapat melaksanakan petunjuk-petunjuk, ajaran-ajaran, peraturan-peraturan, dan hukum-hukum yang dibawa Al-Quran itu dalam kehidupan kita sehari-hari D. Ruang Lingkup Studi / Penelitian Tafsir Dengan semakin mapannya kajian keislaman, kata tafsir menemukan kompleksitasnya sebagai sebuah istilah akademik yang tidak hanya mencakup makna dalam lingkup aspek penjelasan terhadap al-Quran, tetapi lebih merupakan istilah bagi disiplin keilmuan yang terkait dengan kajian Al-Quran secara umum. Kesan akan kompleksitas makna tafsir secara terminologis dapat dilihat dalam defenisi yang Abu Hayyan, yang memaknai tafsir sebagai ilmu yang membahas tentang tatacara melafalkan ayat-ayat al-Quran, makna dan hukumhukumnya baik yang berdiri sendiri (ifrad) maupun yang terbentuk dalam sebuah struktur kalimat (tarkibiyyah), juga makna-makna yang ditunjukkan oleh sebab bentukan sintaksis tadi serta segala kelengkapan yang terkait dengan itu. (Suyuti, Itqn, ii, 174) Oleh karenanya, bila kita berpijak pada definisi makna tafsir yang begitu kompleks, maka secara generik kita dapat mengatakan bahwa kata tafsir sudah bisa mewakili kajian multi-disiplin terhadap Al-Quran seutuhnya, yang sebagai konsekuensinya lingkup kajian ini tidak melulu dibatasi pada upaya untuk memberikan penjelasan terhadap makna-makna yang dikandung oleh ayat-ayat al-Quran, tetapi juga termasuk tata cara melafalkannya dan aspek-aspek akademik lain yang berkenaan dengan Al-Quran atau populer disebut dengan istilah ulm al-Qurn (lihat Subhi al-Salih, Mabahis, 121).
9

Objek pembahasan tafsir, yaitu al-Quran merupakan sumber ajaran Islam. Kitab suci ini menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkernbangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu gerakan-gerakan ummat Islam sepanjang lima belas abad sejarah pergerakan umat ini. Bersarkan kedudukan dan peran AlQuran tersebut Qurasy Shihab mengatakan jika demikian halnya, maka pemahaman terhadap ayat-ayat al-Quran, melalui penafsiran-penafsirannya, mempunyai peranan sangat besar bagi maju mundurnya ummat. Sekaligus penafsiran-penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka. E. Metode Studi / Penelitian Tafsir Quraish Shihab, dalam membumikan Al-Quran, membagi tafsir dengan melihat corak dan metodenya menjadi; tafsir yang bercorak matsur dan tafsir yang menggunakan metode penalaran. Berikut ini akan penulis jelaskan metode-metode tafsir dengan mengikuti pola pembagian AlFarmawi. 1. Metode Tafsir Tahlily Metode Tafsir Tahlily adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Quran dari seluruh aspeknya. Di dalam tafsirnya, penafsir mengikuti runtutan ayat sebagaimana yang telah tersusun di dalam mushaf. Penafsiran memulai uraiannya dengan mengemukakan arti kosa kata diikuti dengan penjelasan mengenai arti global ayat. Metode Tahlily kebanyakan dipergunakan para ulama masa-masa klasik dan pertengahan. Di antara mereka, sebagian mengikuti pola pembahasan secara panjang lebar (ithnab), sebagian mengikuti pola singkat (ijaz) dan sebagian mengikuti pula secukupnya (musawah). Mereka sama-sama menafsirkan Al-Quran dengan metode tahlily, namun dengan corak yang berbeda. 2. Metode Tafsir Ijmaly Metode Tafsir Ijmaly adalah suatu metode Tafsir yang menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan cara mengemukakan makna global. Di dalam sistematika uraiannya, penafsir akan membahas ayat demi ayat sesuai dengan susunan yang ada di dalam mushaf; kemudian mengemukakan makna global yang dimaksud oleh ayat tersebut. 3. Metode Tafsir Muqaran Yang dimaksud dengan metode ini adalah mengemukakan penafsiran ayat-ayat Al-Quran yang ditulis oleh sejumlah para mufassir. Objek kajian tafsir dengan metode muqaran dapat dikelompokkan kepada tiga, yaitu: a. Perbandingan ayat Al-Quran dengan ayat lain b. Perbandingan ayat Al-Quran dengan hadits c. Perbandingan penafsiran mufassir dengan mufassir yang lain. 4. Metode Tafsir Maudhui Metode tafsir Maudhuiy juga disebut dengan dengan metode tematik yaitu menghimpun ayat-ayat Al-Quran yang mempunyai maksud yang sama, dalam arti, sama-sama membicarakan satu topik masalah dan menyusunnya berdasar kronologis serta sebab turunnya ayat-ayat tersebut. Tafsir Maudhuiy mempunyai dua bentuk, yaitu: a. Tafsir yang membahas satu surat secara menyeluruh dan utuh dengan menjelaskan maksudnya yang bersifat umum dan khusus, menjelaskan korelasi antara berbagai masalah yang dikandungnya, sehingga surat itu tampak dalam bentuknya yang betul-betul utuh dan cermat. b. Tafsir yang menghimpun sejumlah ayat dari berbagai surat yang sama-sama membicarakan satu masalah tertentu; ayat-ayat tersebut disusun sedemikian rupa dan diletakkan di bawah satu tema bahasan, dan selanjutnya ditafsirkan secara Maudhuiy.
10

F. Pendekatan dalam Studi / Penelitian Tafsir Dalam rangka menjelaskan isi pesan kitab suci, tafsir menggunakan berbagai pendekatan sesuai dengan disiplin ilmu. Imam suprayayogo mengemukakan ada beberapa pendekatan dalam penelitian tafsir sebagai berikut yaitu: 1. Pendekatan sastra bahasa. 2. Pendekatan filosofis. Pendekatan teologis. Pendekatan ilmiah. Pendekatan fiqih atau hukum. Pendekatan tasawuf. Pendekatan sosiologi dan . pendekatan kultural. Pendekatan ini digunakan agar penafsiran yang dilakukan sesuai dengan perkembangan zaman dalam kebudayaannya dari ajaran agama atau Al-Quran. Adapun metode penafsiran yang berkembang dalam tradisi intelektual islam dan cukup populer, yaitu tahlily, ijmaly, muqaron, dan maudhui. Abuddin nata juga membahas tentang bagaimana memahami Al-Quran atau dengan kata lain mengenai cara-cara memahami al-quran. Dia mengemukakan dua bahasan yaitu: 1. Konsep maqul dan ghairu maqul dalam ibadah dan muamalah. Konsep maqul dan ghairu maqul dalam ibadah dan muammalah. Dari segi penerapan hukum, sebagian besar kandungan nas Al-Quran dianggap zanni dan hanya sebagian kecil yang masih diterima sebagai qathi. 2. Pemahaman kontekstual. Yang dimaksud dengan pemahaman kontekstual adalah upaya memahami ayat-ayat AlQuran sesuai dengan aspek sejarah ayat itu, sehingga nampak gagasan atau maksud yang sesungguhnya dari setiap yang digagaskan dalam Al-Quran. G. Contoh Model Studi / Penelitian Tafsir Model penelitian tafsir adalah suatu contoh, ragam, acuan atau macam dari penyelidikan secara seksama terhadap penafsiran Al-Quran yang pernah dilakukan generasi terdahulu untuk diketahui secara pasti tentang berbagai hal yang terkait dengannya. 1. Model Quraish Shihab Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh Quraisy Shihab lebih banyak bersifat eksploratif, deskriptif, analitis dan perbandingannya. Selanjutnya dengan tidak memfokuskan pada tokoh tertentu, Quraish Shihab telah meneliti hampir seluruh karya tafsir yang dilakukan para ulama terdahulu. Dari penelitian tersebut telah dihasilkan beberapa kesimpulan yang berkenaan dengan tafsir. Antara lain tentang: a. periodesasi pertumbuhan dan perkembangan tafsir, b. corak-corak penafsiran c. macam-macam metode penafsiran Al-Quran, d. syarat-syarat dalam menafsirkan al- Quran, e. hubungan tafsir modernisasi. 2. Model Ahmad Al-Syarbashi Pada tahun 1985 Ahmad Syarbashi melakukan penelitian tentang tafsir dengana menggunakan metode deskriptif eksploratif dan analisis sebagaimana halnya yang dilakukan Quraish Shihab. Sumber yang digunakan adalah bahan-bahan bacaan atau kepustakaan yang ditulis para ulama tafsir. Hasil penelitiannya itu mencakup tiga bidang: a. mengenai sejarah penafsiran al-Quran yang dibagi ke dalam Tafsir pada masa Sahabat Nabi. b. mengenai corak tafsir, yaitu tafsir ilmiah, tafsir sufi dan tafsir politik. c. mengenai gerakan pembaharuan di bidang tafsir. 3. Model Syaikh Muhammad Al-Ghazali Sebagaimana para peneliti tafsir lainnya Muhammad Al-Ghazali menempuh cara penelitian tafsir yang bercorak eksploratif deskriptif dan analitis dengan berdasar pada rujukan kitabkitab tafsir yang ditulis ulama terdahulu. sumber
11

Ramayulis, Metodologi Pendidkan Agama Islam, (Jakarta:Kalam Mulia,2005), h.4 Muhaimin, Kawasan Dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta:Prenada Media,2005), h.81-83 Abuddin,Metodologi StudiI islam, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,1998),h.161 Rosniati Hakim, Metodologi studi Islam II, (padsang:Hayfa Press,2009), h.53 http://jasafa dilahginting.blogspot.com/2011/01/metodologi-tafsir-al-quran.html Rosniati Hakim, Metodologi Studi Islam, Jilid I, 2000 (Padang: Baitul Hikmah). Hal. 80-82 Sanusi Latief, Pengantar Tafsir Jilid II, 1982, Padang. Hal. 14 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam,2002, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada). Hal.73 http://munfarida.blogspot.com/2010/03/metode-tafsir-al-quran.html Rosniati Hakim, Metodologi Studi Islam, Jilid II, 2009 (Padang: Hayfa Press). Hal. 53-54 Rosniati Hakim, Metodologi Studi Islam, Jilid I, 2000 (Padang: Baitul Hikmah). Hal. 80-82

12