Anda di halaman 1dari 3

Indonesia memiliki lebih kurang 30.

000 spesies tumbuhan dan 940 spesies di antaranya termasuk tumbuhan berkhasiat obat sehingga merupakan potensi pasar obat herbal (Herbal medicine). Obat herbal telah diterima secara luas di negara berkembang dan negara maju (Anonim, 2001). Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa Indonesia memiliki lebih kurang 30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies di antaranya 80% penduduk negara berkembang telah menggunakan obat herbal dan pada tahun 2000 diperkirakan penjualan obat herbal di dunia mencapai US $ 60 milyar. WHO juga merekomendasikan penggunaan obat herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit terutama untuk penyakit kronis, degeneratif dan kanker (Jacqueline, 2004). Hal ini menunjukkan dukungan WHO untuk back to nature yang dalam standardisasi bahan obat maka zak aktif diekstraksi lalu dibuat sediaan atau bahkan dimurnikan sampai diperoleh zat murni. Sumber bahan alam sebagai bahan baku obat herbal dapat diperoleh dari tanaman, hewan, mikroorganisme, dan kehidupan laut. Bahan alam yang paling banyak diteliti adalah tanaman karena secara historis telah dimanfaatkan oleh masyarakat secara klinis sebagai obat tradisional. Pemilihan bahan alam untuk penelitian dapat berasal dari bahan yang mempunyai aktivitas secara tradisional dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menanggulangi penyakit (etnofarmakologi). Pemilihan bahan ini lazim dilakukan karena tanpa harus melalui skrining aktivitas terlebih dahulu, sehingga penelitian langsung bisa diarahkan pada aktivitas tertentu. Sistem penelitian ini kebanyakan hanya suatu pembuktian secara ilmiah mengenai aktivitas seperti yang telah dilakukan oleh masyarakat. Bahan penelitian yang dipilih berdasarkan skrining aktivitas farmakologi tertentu, maka pembuktian selanjutnya mengikuti prosedur yang ada pada literatur. Hal ini akan berbeda dengan penanganan bahan penelitian hasil skrining aktivitas farmakologi secara keseluruhan (hipokratik skrining). Skrining bahan ini dimulai pada sampel yang belum diketahui khasiatnya maka skrining aktivitas farmakologi perlu dilakukan untuk memastikan khasiat bahan (Anonim, 2004; Wahyuono, 2005). Cara pemilihan bahan ini memerlukan biaya yang cukup mahal dan waktunya panjang dibandingkan dengan cara etnofarmakologi dan uji aktivitas farmakologi tertentu. Setelah bahan ditentukan dengan cermat dan matang, maka tujuan penelitian segera ditentukan untuk mengetahui arah tujuan penelitian yang jelas baik dari aspek tujuan umum maupun tujuan khususnya.

P e n g g u n a a n t a n a m a n o b a t d i k a l a n g a n m a s ya r a k a t s a n g a t l u a s , mulai untuk bahan penyedap hingga bahan baku industri obat-obatan dan kosmetika. Namun, di dalam sistim pelayanan kesehatan masyarakat,kenyataannya peran obat-obat alami belum sepenuhnya diakui, walaupunsecara empiris manfaat obat-obat alami tersebut telah terbukti. Sebagai salah satu contoh adalah penggunaan jamu sebagai obat kuat, obat peg al linu, mempertahankan keayuan,pereda sakit saat datang bulan dan lainl a i n , m e n yi r a t k a n p e n g g u n a a n j a m u ya n g s a n g a t l u a s d i m a s ya r a k a t . M e m a n g d i s a d a r i , b a h w a p r o d u k s i j a m u b e l u m b a n y a k t e r s e n t u h o l e h hasil-hasil penelitian karena antara lain disebabkan para produsen jamu p a d a u m u m n y a m a s i h b e r p e g a n g t e g u h p a d a r a m u a n y a n g d i t u r u n k a n t u r u n t e m u r u n . A k i b a t n y a , h i n g g a s a a t i n i o b a t t r a d i s i o n a l m a s i h merupakan bahan pengobatan alternatif di samping obat modern. Kecenderungan kuat untuk menggunakan pengobatan dengan bahan ala m , t i d a k h a n ya b e r l a k u d i I n d o n e s i a , t e t a p i j u g a b e r l a k u d i banyak nega ra karena cara-cara pengobatan ini menerapkan konsep back to nature atau kembali ke alam yang diyakini mempunyai efek samping yang lebih kecil dibandingkan obat-obat modern .Mengingat peluang obat-obat alami dalam mengambil bagian didalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat cukup besar dan supayad a p a t m e n j a d i u n s u r d a l a m s i s t e m i n i , o b a t a l a m i p e r l u d i k e m b a n g k a n l e b i h l a n j u t a g a r d a p a t m e m e n u h i p e r s ya r a t a n k e a m a n a n , k h a s i a t d a n mutu.Obat alami bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk

hewan.Penggunaan obat tradisional untuk hewan juga telah lama dilakukan oleh para petani di pedesaan dan ternyata penggunaannya semakin meningkat pula akhir-akhir ini. Biasanya, obat yang dikenal untuk obat hewan merupakan obat klasik farmasetik antibiotik dan antiparasitik. Mengingat dala m penggunaan obat-obatan pada hewan harus diwaspadai adanya dampak r e s i d u o b a t t e r u t a m a r e s i d u a n t i b i o t i k , m a k a s e m a k i n m e n i n g k a t n ya k e s a d a r a n m a s ya r a k a t a k a n b a h a ya r e s i d u t e r s e b u t t e l a h m e n d o r o n g masyarakat untuk mencari alternatif pengganti antibiotik sebagai obat bagi ternaknya. Dan sebagai pilihan pengganti adalah penggunaan tanaman obat sebagai imbuhan pakan yang ternyata terbukti selain menambah dayatahan tubuh ternak juga menambah nafsu makan. Efek Obat Bahan Alam Anggapan masyarakat bahwa obat yang berasal dari bahan alam adalah aman, terbebas dari efek toksik merupakan pendapat keliru. Setiap bahan atau zat memiliki potensi bersifat toksik, seberapa besar efek itu ditimbul k a n tergantung dari takarannya dalam tubuh. Efek toksik merupakan efek yang dapat menimbulkan gejala-gejala keracunan dengan tingkat gangguan yang bervariasi dari ringan sampi terjadinya kematian. Obat bahan alam adalah obat yang dikembangkan dari tanaman atau tumbuhan. Sebagaimana obat konvensional, obat bahan alam juga mesti diwaspadai. Pasalnya, keberadaan obat dalam takaran ter t e n t u d a p a t menimbulkan efek toksik. Kadar obat dalam tubuh akan menentukan seberapa besar efek suatu obat atau dikenal dose-response relationship . Dalam hal ini,toksikologi akan berperan untuk menentukan berapa besar efek toksik yangditimbulkan oleh suatu obat. Obat bahan alam, selayaknya bahan kimia, akan mengalami proses kinetik, berupa proses absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Absorpsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian masuk ke sirkulasi sistemik. Distribusi sendiri merupakan proses perdaran obat ke seluruh cairan tubuh baik kedalam cairan antar sel ( interstitial) maupun ke d a l a m s e l (intracellular). Pada wanita hamil, obat dapat pula terdistribusi ke dalam janin. Melalui proses ditribusi , o b a t a k a n s a m a p a i k e o r g a n t a r g e t t e m p a t o b a t bekerja. Sedangkan metabolisme atau biotrasformasi adalah proses perubahan senyawa obat dalam tubuh. Pada akhirnya kebanyakan senyawa aktif akan mengalami perubahan menjadi senyawa tidak aktif dan le b i h m u d a h diekskresi, sehingga efek obat tersebut akan hilang. Proses metabolisme ini bisa terjadi diseluruh jaringan tubuh, dimana hati merupakan organ metabolisme obat yang paling utama. Sementara ekskresi adalah proses pengularan obat dari tubuh, baik dalam bentuk senyawa aktif maupun senyawa tidak aktif. Berkurangnya senyawa aktif, menyebakan berkurang efek obat tersbut. Organ yang paling berperan dalam proses ekskresi adalah ginjal. Di samping

i t u , proses ekskresi juga dapat terjadi melalui empedu, sekres cairan intestinal,keringat , saliva, dan air susu ibu.Di pasaran dikenal tiga jenis obat bahan alam, yaitu obat tradisional,o b a t h e r b a l t e r s t a n d a r , d a n f i t o f a r m a k a . P e n g e m b a n g a n o b a t bahan alamt e r s e b u t h a r u s m e l a l u i p r i n s i p p r i n s i p i l m i a h . B i s a b e r a w a l d a r i o b a t tradisional, atau dari tanaman yang diduga memiliki khasiat sebagai obat. Bilaobat tradisional telah dibuktikan khasiat dan keamanannya melalui uji klinik,maka obat tersebut digolongkan sebagai fitofarmaka.S e d i k i t n y a a d a e m p a t t a h a p y a n g m e s t i d i l a l u i u n t u k m e n j a d i fitofarmaka, yaitu standarisasi bahan baku dari tanaman, pembuktian terbebasd a r i b a h a n c e m a r a n , u j i p r a k l i n i k , d a n u j i k l i n i k t e r h a d a p k h a s i a t d a n keamanannya. Sementara obat herbal terstandar adalah obat baha alam yang bahan bakunya telah mengalami standarisasi dan telah melalui tahapan uji praklinik.

Standarisasi obat bahan alam tidak berbeda dengan obat konvensional.Begitu pula dengan pemanfaatannya, dimana dalam memakai obat bahan alam juga mempertimbangkan faktor dosis dan lama pemberian, usia, kehamilan dan menyusui, jenis penyakit khususnya yang disertai dengan gangguan fungsihati dan ginjal, serta kombinasi obat