Anda di halaman 1dari 32

Visum et Repertum

Mutia Prayanti Errufana

10/27/2013

PENGERTIAN VISUM ET REPERTUM


KETERANGAN TERTULIS YANG DIBUAT DOKTER ATAS PERMINTAAN TERTULIS (RESMI) PENYIDIK TENTANG PEMERIKSAAN MEDIS TERHADAP SESEORANG MANUSIA, BAIK HIDUP ATAUPUN MATI ATAU BAGIAN DARI TUBUH MANUSIA, BERUPA TEMUAN DAN INTERPRETASINYA, BERDASARKAN KEILMUANNYA, DI BAWAH SUMPAH, DAN UNTUK KEPENTINGAN PERADILAN

PERMINTAAN VISUM ET REPERTUM


menurut Ps 133 KUHAP
WEWENANG PENYIDIK TERTULIS (RESMI) TERHADAP KORBAN, BUKAN TERSANGKA ADA DUGAAN AKIBAT PERISTIWA

SANKSI HUKUM
BILA MENOLAK MEMBUAT VISUM ET REPERTUM
Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
PASAL 216 KUHP

PEJABAT YG BERWENANG MEMINTA VISUM ET REPERTUM


PASAL 133 KUHAP : PENYIDIK PASAL 6 (1) KUHAP : PENYIDIK ADALAH :
PEJABAT POLISI NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEJABAT PNS TERTENTU YG DIBERI WEWENANG KHUSUS OLEH UNDANGUNDANG

YG MEMBUTUHKAN VISUM ET REPERTUM ADALAH KASUS PIDANA UMUM, SEHINGGA PENYIDIKNYA ADALAH POLISI. PENYIDIK PNS TIDAK BERWENANG MEMINTA VISUM ET REPERTUM

PASAL 11 KUHAP : PENYIDIK PEMBANTU MEMPUNYAI WEWENANG SEPERTI TERSEBUT DALAM PASAL 7 (1), KECUALI MENGENAI PENAHANAN YANG WAJIB DIBERIKAN DENGAN PELIMPAHAN WEWENANG DARI PENYIDIK. MENDATANGKAN AHLI ATAU MEMINTA VISUM ET REPERTUM BOLEH DILAKUKAN PENYIDIK PEMBANTU.

JADI, YANG BERWENANG MEMINTA VISUM ET REPERTUM ADALAH : PENYIDIK POLISI DAN PENYIDIK PEMBANTU POLISI

KECUALI PIDANA PELANGGARAN HAM BERAT: KEJAGUNG

DALAM PRAKTEK :
SURAT PERMINTAAN VISUM ET REPERTUM SURAT TERTULIS SURAT RESMI (KOP SURAT, NOMOR, TANGGAL, ALAMAT SURAT, ISI, TANDATANGAN, NAMA JELAS, PANGKAT, NRP, STEMPEL DINAS) MENGATAS-NAMAKAN KAPOLSEK (PENYIDIK) SEBAGAI PEJABAT ATRIBUTIF. PENANDATANGAN SURAT (PEJABAT MANDAT) BOLEH SIAPA SAJA YANG SECARA ORGANISATORIS BERWENANG MENGATASNAMAKAN PEJABAT ATRIBUTIF.

KETENTUAN LAIN VER KORBAN HIDUP


SURAT PERMINTAAN VER DAPAT TERLAMBAT :
KORBAN LUKA DIBAWA KE DOKTER (RS) DULU SEBELUM KE POLISI SPV MENYEBUTKAN PERISTIWA PIDANA YANG DIMAKSUD VER = SURAT KETERANGAN, JADI DAPAT DIBUAT BERDASARKAN REKAM MEDIS (RM telah menjadi barang bukti sejak datang SPV) PEMBUATAN VER TANPA IJIN PASIEN, SEDANGKAN SKM LAIN HARUS DENGAN IJIN.

PASIEN / KLIEN BOLEH TIDAK DIANTAR PETUGAS KEPOLISIAN, ALASAN :


KORBAN LUKA DIBAWA KE DOKTER (RS) DULU SEBELUM KE POLISI TAK ADA PERATURAN YANG MENGHARUSKAN ADANYA PETUGAS PENGANTAR KORBAN
MEMANG SEBAIKNYA DIANTAR PETUGAS AGAR DAPAT DIPASTIKAN IDENTITAS KORBAN DAN STATUSNYA SEBAGAI BARANG BUKTI MEMANG SEBAIKNYA DILENGKAPI SPV AGAR JELAS STATUSNYA SEBAGAI BARANG BUKTI

BAGAIMANA DENGAN PEMERIKSAAN MEDIKOLEGAL ?


DAPATKAH PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KORBAN HIDUP DIHALANG-HALANGI? ATAU BOLEHKAH KORBAN MENOLAK PEMERIKSAAN? TIDAK ADA PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN YANG MENGHARUSKAN ATAU MEMBERI SANKSI BAGI PELANGGARNYA KORBAN ADALAH JUGA PASIEN YANG MASIH MEMILIKI HAK AUTONOMINYA (RIGHTS TO SELF DETERMINATION) (STATUS BARANG BUKTI = BUKAN ORANGNYA)

PERAN VER ?
SEBAGAI ALAT BUKTI SAH SURAT, YAITU KETERANGAN AHLI DALAM BENTUK TERTULIS MENGUATKAN KETERANGAN SAKSI, SEHINGGA MESKIPUN HANYA SATU SAKSI DAPAT MENJADI ALAT BUKTI SAH JADI BERPERAN DALAM UPAYA PEMBUKTIAN ILMIAH

SISTEM PEMBUKTIAN DI INDONESIA


PS 183 KUHAP :
PUTUSAN HAKIM BERDASARKAN MINIMAL 2 ALAT BUKTI SAH + KEYAKINAN HAKIM
NEGATIEF WETTELIJKE BEWIJS THEORIE
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

ALAT BUKTI SAH


PS 184 KUHAP KETERANGAN SAKSI KETERANGAN AHLI SURAT PETUNJUK KETERANGAN TERDAKWA

KETERANGAN AHLI
DIBERIKAN SECARA LISAN

PASAL 186
Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

PENJELASAN PASAL 186


Keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau pekerjaan (BAP saksi ahli).

ALAT BUKTI SAH KETERANGAN AHLI

KETERANGAN AHLI
DIBERIKAN SECARA TERTULIS

PASAL 187 KUHAP


Surat sebagaimana tesebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c , dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah :
(c) surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;

ALAT BUKTI SAH SURAT

KETERANGAN SAKSI (PASAL 185 KUHAP)


YG SAKSI NYATAKAN DI SIDANG TENTANG YG DIALAMI, DILIHAT, DIDENGAR SENDIRI UNUS TESTIS NULLUM TESTIS SATU SAKSI + ABS LAIN = ABS PENDAPAT / REKAAN : TAK DIBENARKAN SAKSI HARUS KOMPETEN SAKSI TAK DISUMPAH : BUKAN ABS

KETERANGAN SAKSI (PASAL 185 KUHAP)


YG SAKSI NYATAKAN DI SIDANG TENTANG YG DIALAMI, DILIHAT, DIDENGAR SENDIRI UNUS TESTIS NULLUM TESTIS SATU SAKSI + ABS LAIN = ABS PENDAPAT / REKAAN : TAK DIBENARKAN SAKSI HARUS KOMPETEN SAKSI TAK DISUMPAH : BUKAN ABS

RAHASIA KEDOKTERAN
PASAL 1 PP No 10 TAHUN 1966
Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran.

PASAL 2 PP No 10 TAHUN 1966


Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang yang tersebut dalam pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi dari pada PP ini menentukan lain

APAKAH MEMBUAT VISUM ET REPERTUM MELANGGAR WAJIB SIMPAN RAHASIA?


KEWAJIBAN PEMBUATAN VISUM ET REPERTUM DIDASARKAN ATAS UNDANGUNDANG (Lebih tinggi dari PP No 10 / 1966) BILA SPV DATANG :
DASAR HUKUMNYA UNDANG-UNDANG SEHINGGA MENGGUGURKAN WAJIB SIMPAN RAHASIA KEDOKTERAN (dalam membuat VER)

Ps 50 KUHP : Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan UU, tidak dipidana.

APAKAH MEMBUAT VISUM ET REPERTUM MELANGGAR WAJIB SIMPAN RAHASIA?


KEWAJIBAN PEMBUATAN VISUM ET REPERTUM DIDASARKAN ATAS UNDANGUNDANG (Lebih tinggi dari PP No 10 / 1966) BILA SPV DATANG :
DASAR HUKUMNYA UNDANG-UNDANG SEHINGGA MENGGUGURKAN WAJIB SIMPAN RAHASIA KEDOKTERAN (dalam membuat VER)

Ps 50 KUHP : Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan UU, tidak dipidana.

RAHASIAKAH VISUM ET REPERTUM


VER HANYA UNTUK :
PENYIDIK SIDANG PENGADILAN

RAHASIA BAGI PIHAK LAIN

PEMBUATAN VISUM ET REPERTUM


SYARAT FORMAL SYARAT MATERIAL

VISUM ET REPERTUM
SYARAT FORMAL ADMINISTRATIF
KOP SURAT NOMOR & TANGGAL PRO JUSTITIA TANDATANGAN, NAMA JELAS, NIP/NRP STEMPEL DINAS DIKETIK, BHS INDONESIA, TIDAK SINGKATAN

VISUM ET REPERTUM
SYARAT FORMAL SUBSTANSI
PENDAHULUAN
IDENTITAS DOKTER & INSTITUSINYA IDENTITAS PENYIDIK PEMINTA + NO & TGL SURAT IDENTITAS KORBAN WAKTU & TEMPAT

HASIL PEMERIKSAAN KESIMPULAN PENUTUP

VISUM ET REPERTUM
SYARAT FORMAL SUBSTANSI
PENDAHULUAN HASIL PEMERIKSAAN
HASIL ANAMNESIS YG PENTING KEADAAN UMUM PERLUKAAN PEMERIKSAAN PENUNJANG TINDAKAN / PERAWATAN KEADAAN SAAT DIPULANGKAN

KESIMPULAN PENUTUP

Hasil Pemeriksaan: 1. Korban datang dalam keadaan umum T .. N .. S ..kesadaran . 2. Pada korban luka : 1. Pada pergelangan tangan kanan terdapat memar berwarna merah ungu berukuran tiga sentimeter kali duasentimeter. 2. Pada selaput dara ditemukan robekan baru sampai dasar pada jam 5.

3. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan cairan mani

VISUM ET REPERTUM
SYARAT FORMAL SUBSTANSI
PENDAHULUAN HASIL PEMERIKSAAN KESIMPULAN
JENIS PERLUKAAN JENIS KEKERASAN KUALIFIKASI LUKA / DERAJAT LUKA

PENUTUP

Kesimpulan: Pada korban perempuan ini ditemukan memar pada pergelangan tangan kanan dan robekan selaput dara serta ditemukan cairan mani, ini diakibatkan oleh kekerasan tumpul dan persetubuhan

VISUM ET REPERTUM
SYARAT FORMAL SUBSTANSI
PENDAHULUAN HASIL PEMERIKSAAN KESIMPULAN PENUTUP
PERNYATAAN TENTANG KEBENARAN PERNYATAAN TENTANG SUMPAH

Demikian visum et repertum ini saya buat dengan benar dengan menggunakan keilmuan saya yang sebaik-baiknya dan dengan mengingat sumpah, sesuai dengan Undang-undang No 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Jakarta, 7 SEPTEMBER 2005 dr Wakino NIP

PEMERIKSAAN MEDIKOLEGAL UNTUK PENGADAAN VISUM ET REPERTUM


PENDEKATAN
IMPARTIALITAS, OBYEKTIF, ILMIAH ETIS MEDIKO-LEGAL FASILITASI PROSEDUR HUKUM

TUJUAN PEMERIKSAAN
MEMASTIKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KORBAN / TERPERIKSA MEMBANTU PENYIDIK DALAM MENGUNGKAP KEJAHATAN MELALUI PEMBUKTIAN ILMIAH