Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Perilaku hidup bersih dan sehat sangat erat kaitannya dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya yang meliputi makan dengan menu seimbang, olah raga teratur, istirahat cukup, dan kebersihan diri (Notoatmojo, 2003). Kebersihan diri atau personal hygiene bertujuan untuk mempertahankan perawatan diri, membuat rasa aman dan relaksasi, menghilangkan kelelahan, mencegah infeksi, mencegah gangguan sirkulasi darah, mempertahankan integritas pada jaringan dan untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Namun dalam pemenuhan personal hygiene tersebut, setiap individu berbeda beda (Alimul, 2006). Pemenuhan personal hygiene dipengaruhi bebagai faktor seperti budaya, nilai sosial pada individu atau keluarga, pengetahuan terhadap personal hygiene seta persepsi terhadap perawatan diri (Alimul, 2006). 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana cara pemenuhan kebutuhan personal hygiene ? 1.3 Tujuan Tujuan umum : Mengetahui bagaimana cara kebersihan diri yang baik dan benar. Tujuan khusus : 1. Menngetahui konsep dasar personal hygiene. 2. Memahami faktor faktor yang mempengaruhi praktik hygiene 3. Memahami tipe perawatan personal hygiene. 4. Memahani tentang perawatan kulit 5. Memahami tentang hygiene mulut 6. Memahami tentang perawatan kaki dan kuku

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Dasar Personal Hygiene Personal Hygiene adalah suatu tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Ukuran kebersihan atau penampilan seseorang dalam pemenuhan kebutuhan Personal Hygiene berbeda pada setiap orang sakit karena terjadi gangguan pemenuhan kebutuhan. Begitu pula pada penderita pasca stroke yang mengalami hemiplegia ataupun hemiparesis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada penderita pasca stroke. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan metode pendekatan fenomenologis. Sampel penelitian sebanyak 4 orang diperoleh dengan teknik purposive sample. Hasil penelitian dari 4 informan menunjukkan bahwa pengetahuan informan mengenai personal hygiene sudah baik terbukti informan dapat menyebutkan pengertian dan tujuan dari personal hygiene. Selain itu sebagian besar pemenuhan kebutuhan personal hygiene dapat dilakukan secara mandiri kecuali untuk perawatan kuku kaki dan tangan yang masih bergantung pada orang lain. Modifikasi juga dilakukan oleh informan untuk mempermudah dalam memenuhi kebutuhan personal hygiene. Dukungan serta bantuan keluarga masih sangat diperlukan oleh penderita pasca stroke dalam pemenuhan kebutuhan personal hygiene walaupun sebagian besar dari mereka sudah dapat melakukan sendiri secara mandiri. Perawat dapat memberikan informasi-informasi tentang personal hygiene yang lebih baik terkait dengan waktu atau frekuensi aktifitas, dan cara yang benar dalam melakukan perawatan diri. 2.2 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Praktik Hygiene Menurut Potter dan Perry (2005), sikap seseorang melakukan personal hygiene dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain: 1. Citra tubuh Penampilan umum klien dapat menggambarkan pentingnya hygiene pada orang tersebut. Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya. Citra tubuh ini dapat sering berubah. Citra tubuh mempengaruhi cara mempertahankan hygiene. Jika seorang klien rapi sekali maka perawat mempertimbaagkan rincian kerapian ketika merencanakan keperawatan dan berkonsultasi pada klien sebelum membuat keputusan tentang bagaimana memberikan 2

perawatan hygiene. Karena citra tubuh klien dapat berubah akibat pembedahan atau penyakit fisik maka perawat harus membuat suatu usaha ekstra untuk meningkatkan hygiene. 2. Praktik sosial. Kelompok-kelompok social wadah seorang klien berhubungan dapat mempengaruhi praktik hygiene pribadi. Selama masa kanak-kanak, kanak-kanak mendapatkan praktik hygiene dari orang tua mereka. Kebiasaan keluarga, jumlah orang dirumah, dan ketersediaan air panas dan atau air mengalir hanya merupakan beberapa faktok yang mempengaruhi perawatan kebersihan. 3. Status sosio-ekonomi sumber daya ekonomi seeorang mempengruhi jenis dan tingkat praktik kebersihan yang digunakan. Perawat harus menentukan apakah klien dapat menyediakan bahan-bahan yang penting seperti deodorant, shampo, pasta gigi dan kometik. Perawat juga harus menentukan jika penggunaan produk-produk ini merupakan bagian dari kebiasaan social yang dipraktikkan oleh kelompok sosial klien. 4. Pengetahuan Pengtahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene. Walaupun demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup. Klien juga harus termotivasi untuk memelihara perawatan-diri. Seringkali, pembelajaran tentang penyakit atau kondisi mendorong klien untuk meningkatkan hygiene. Pembelajaran praktik tertentu yang diharapkan dan menguntungkan dalam mngurangi resiko kesehatan dapat memotifasi seeorang untuk memenuhi perawatan yang perlu. 5. Fariabel kebudayaan Kepercayaan kebudayaan klien dan nilai pribadi mempengaruhi perawatan hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti praktik keperawatan diri yang berbeda pula. Di Asia kebersihan dipandang penting bagi kesehatan. Di Negara-negara Eropa, bagaimanapun, hal ini biasa untuk mandi secara penuh hanya sekali dalam seminggu. 6. Pilihan pribadi Setiap klien memiliki keinginan individu dan pilihan tentang kapan untuk mandi, bercukur, dan melakukan perawatan rambut . klien memilih produk yang

berbeda (misalnya : Sabun, shampo, deodorant, dan pasta gigi) menurut pilihan pribadi. 7. kondisi fisik. Orang yang menderita penyakit tertentu (misalnya : Kanker tahap lanjut) atau menjalani operasi sering kali kekurangan energi fisik atau ketangkasan untuk melakukan hygiene pribadi. 2.3 Type Perawatan Hygiene Menurut Alimul (2006) personal hygiene berdasarkan waktu pelaksanaannya dibagi menjadi empat yaitu: 1. Perawatan pagi hari, perawat menyediakan higiene dasar untuk klien yang baru bangun, perawatan pagi hari termasuk menawarkan bedpan atau urinal jika klien tidak mampu ambulasi, mencuci tangan dan muka klien, dan membantu perawatan mulut. 2. Perawatan pagi atau setelah sarapan, perawatan yang dilakukan setelah melakukan sarapan, perawat membantu dengan menawarkan pispot atau urinal pada klien yang terbatas untuk berada di tempat tidur, memandikan klien, memberikan perawatan mulut, kaki, kuku, dan rambut, memberikan gosokan pada punggung, mengganti pakaian atau piyama klien, mengganti linen tempat tidur, dan merapikan unit dan ruangan. Hal ini sering disebut denagn perawatan pagi yang lengkap. 3. Perawatan Siang Hari, perawatan diri yang di lakukan setelah melakukan berbagai tindakan pengobatan atau pemeriksaan dan setelah makan siang. Berbagai tindakan perawatan diri yang dapat di lakukan, antara lain mencuci muka dan tangan, membersihkan mulut, merapikan tempat tidur dan melakukan pemeliharaan kebersihan lingkungan kesehatan pasien. 4. Perawatan malam hari atau sebelum tidur, perawatan diri yang dilakukan pada saat menjelang tidur agar pasien dapat tidur atau beristirahat dengan tenang. Berbagai kegiatan yang dapat di lakukan, antara lain membantu pemenuhan kebutuhan eliminasi (buang air besar dan kecil), mencuci tangan dan muka, membersihkan mulut, dan memijat daerah punggung. Tujuan umum perawat adalah untuk mempertahankan perawatan diri, baik secara sendiri maupun dengan menggunakan bantuan, dapat melatih hidup sehat atau bersih dengan cara memperbaiki gambaran atau persepsi tehadap kesehatan dan kebersihan, 4

serta menciptakan penampilan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan. Membuat rasa nyaman dan relaksasi dapat dilakukan untuk menghilangkan kelelahan serta mencegah infeksi, mencegah gangguan sirkulasi darah, dan mempertahankan integritas pada jaringan. 2.4 Perawatan Kulit kulit merupakan organ aktif yang berfungsi sebagai pelindung dari berbagai kuman atau trauma, sekresi, eksresi, pengatur temperature, dan sensasi, sehingga diperlukan perawatan yang adekuat dalam mempertahankan fungsinya. Kulit memiliki 3 lapisan utama yaitu epidermis, dermis, dan subkutan. Ketika pasien tidak mampu atau melakukan perawatan kulit pribadi maka perawat memberikan bantuan atau mengajarkan keluarga bagaimana melaksanakan personal higiene. Seorang pasien yang tidak mampu bergerak bebas karena penyakit akan beresiko terjadinya kerusakan kulit. Bagian badan yang tergantung dan terpapar tekanan dari dasar permukaan tubuh (misalnya matrasi gips tubuh atau lapisan linen yang berkerut), akan mengurangi sirkulasi pada bagian tubuh yang terkena sehingga dapat menyebabkan dekubitus. Pelembab pada permukaan kulit merupakan media pertumbuhan bakteri dan menyebabkan iritasi lokal, menghaluskan sel epidermis, dan dapat menyebabkan maserasi kulit. Keringat, urine, material fekal berair, dan drainase luka dapat mengakumulasikan pada permukaan kulit dan akan menyebabkan kerusakan kulit dan infeksi. Pasien yang menggunakan beberapa jenis alat eksternal pada kulit seperti gips, baju pengikat, pembalut, balutan, dan jaket ortopedik dapat menimbulkan tekanan atau friksi terhadap permukaan kulit sehinggga menyebabkan kerusakan kulit. Tujuan perawatan kulit adalah pasien akan memiliki kulit yang utuh, bebas bau badan, pasien dapat mempertahankan rentang gerak, merasa nyaman dan sejahtera, serta dapat berpartisifasi dan memahami metode perawatan kulit. 1) Indikasi dan Kontraindikasi pada perawatan kulit, contoh memandikan pasien. a. Indikasi a) Pada pasien bed rest total b) Pada pasien yang tidak dapat dan tidak diizinkan mandi sendiri c) Pada pasien baru yang dalam keadaan kotor dan tidak mampu secara mandiri d) Pada pasien dengan indikasi Imobilisasi

b. Kontraindikasi a) Pada pasien luka bakar total b) Hindari tindakan yang menimbulkan rasa malu pada pasien dan tetap menjaga kesopanan. 2.4.1 Proses Keperawatan Pada Perawatan Kulit 1. Pengkajian a. Pengkajian fisik kulit a) Mengkaji seluruh permukaan tubuh klien inspeksi dan palpasi. b) Menentukan kondisi kulit observasi warna, tekstur, turgor, temperatur, dan hidrasi kulit. c) Mengkaji masalah kulit yang dipengaruhi cara-cara higienis. d) Mencatat kondisi lesi. b. Perubahan perkembangan c. Kemampuan perawatan diri d. Resiko kerusakan kulit a) Imobilisasi b) Penurunan sensasi c) Perubahan nutrisi dan hidrasi d) Sekresi dan ekskresi pada kulit e) Insufisiensi vaskular f) Peralatan eksternal 2. Diagnosa keperawatan a. Kurangnya perawatan diri:mandi/hygiene berhubungan gangguan kognitif, kurangnya motivasi, gangguan penglihatan, gangguan jantung. b. gangguan. integritas kulit berhubungan dengan immobility, gangguan sirkulasi vena, arteri, dan kekurangan atau kelebihan nutrisi dan cairan, dan penurunan sensasi 3. Intervensi a. Diaknosa 1 a. Kaji pengetahuan pasien tentang personal hygiene b. Observasi kulit pasien 6

c. Beri motivasi pada pasien tentang kebutuhan personal hygiene d. Lakukan masase pada ps kecuali area lesi e. Bantu ps mandi di tempat tidur bila tidak mampu (prosedur terlampir) f. Pelihara kehangatan pasien b. Diaknosa 2 a) Lakukan pendekatan pada pasien b) Observasi kulit pasien c) Rawat luka pasien d) Beri obat luka bila perlu e) Lakukan mobilisasi 2 jam sekali f) Beri posisi yang nyaman pada pasien 4. Implementasi a. Implementasi 1 a) Mengkaji pengetahuan pasien tentang personal hygiene b) Melakukan observasi pada kulit pasien c) Memberi motivasi pada pasien ttg kebutuhan personal hygiene d) Melakukan masase pada pasien kecuali area lesi e) Membantu ps mandi di tempat tidur bila tidak mampu (prosedur terlampir) f) Memelihara kehangatan pasien b. Implementasi 2 a) Melakukan pendekatan pada pasien b) Melakukan observasi kulit pasien c) Merawat luka pasien d) Memberi obat luka bila perlu e) Melakukan mobilisasi 2 jam sekali f) Memberi posisi yang nyaman pada pasien 5. Evaluasi a. Keberhasilan intervensi c. Persiapan perubahan rencana jika hasil tidak dicapai d. Pencapaian dari hasil yang diharapkan e. Tindakan pemeriksaan fisik, pertanyaan yang mengukur pengetahuan klien tentang teknik higiene.

2.4.2 Prosedur pemenuhan kebutuhan merawat kulit 1. Pengertian Perawatan kulit daerah tertekan merupakan tindakan keperawatan untuk mempertahankan integritas kulit untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut. Daerah yang sering terjadi luka tekan ( dekubitus ) antara lain tonjolan tulang dan daerah mana saja yang mendapat atau mengalami tekanan. 2. Tujuan Mencegah dan mengatasi terjadinya luka dekubitus akibat tekanan lama dan tidak hilang. 3. Tahap persiapan alat dan bahan a. b. c. d. e. f. g. h. 4. a. b. c. 5. a. b. c. a. b. c. Baskom cuci Sabun Air Agens pembersih Balutan Pelindung kulit Plester Sarung tangan Melakukan verifikasi program pengobatan yang telah dijalani sebelumnya oleh klien . Mencuci tangan. Menyiapkan alat di dekat pasien. Memberikan salam kepada pasien dan sapa nama pasien. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien/keluarga. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan. Tutup pintu ruangan ( untuk menjaga privacy klien ) Cuci tangan dan gunakan sarug tangan Atur posisi pasien dengan miring kanan atau kiri

Tahap Pra Interaksi

Tahap Orientasi

6. Tahap Kerja

d. e. f. g. h. b. c. d. e. f. 2.5 Hygiene Mulut

Kaji luka atau kulit tertekan dengan memperhatikan warna, kelembaman, penampilan sekitar kulit, ukur diameter kulit dan ukur kedalaman. Cuci kulit sekitar luka dengan air hangat atau sabun cuci secara menyeluruh. Dengan berlahan keringkan kulit secara menyeluruh dengan masase. Bersihkan luka secara menyeluruh dengan normal atau agens pembersih, gunakan semprit irigasi luka pada luka yang dalam. Setelah selesai berikan obat atau agens topikal. Mengevaluasi hasil tindakan yang baru dilakukan. Berpamitan dengan pasien. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula. Mencuci tangan. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

7. Tahap Terminasi

pasien immobilisasi terlalu lemah untuk melakukan perawatan mulut, sebagai akibatnya mulut menjadi terlalu kering atau teriritasi dan menimbulkan bau tidak enak. Masalah ini dapat meningkat akibat penyakit atau medikasi yang digunakan pasien. Perawatan mulut harus dilakukan setiap hari dan bergantung terhadap keadaan mulut pasien. Gigi dan mulut merupakan bagian penting yang harus dipertahankan kebersihanny sebab melalui organ ini berbagai kuman dapat masuk. Hygiene mulut membantu mempertahankan status kesehatan mulut, gigi, gusi, dan bibir, menggosok membersihkan gigi dari partikel partikel makanan, plak, bakteri, memasase gusi, dan mengurangi ketidaknyamanan yang dihasilkan dari bau dan rasa yang tidak nyaman. Beberapa penyakit yang mungkin muncul akibat perawatan gigi dan mulut yang buruk adalah karies, gingivitis (radang gusi), dan sariawan. Hygiene mulut yang baik memberikan rasa sehat dan selanjutnya menstimulasi nafsu makan. Tujuan perawatan hygiene mulut pasien adalah pasien akan memiliki mukosa mulut utuh yang terhidrasi baik serta untuk mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui mulut (misalnya tifus, hepatitis), mencegah penyakit mulut dan gigi, meningkatkan daya tahan tubuh, mencapai rasa nyaman, memahami praktik hygiene mulut dan mampu melakukan sendiri perawatan hygiene mulut dengan benar. 1) Indikasi dan Kontraindikasi pada hygiene mulut 9

a. Indikasi a) Pada pasien yang tidak mampu melakukan perawatan mulut secara mandiri. b) Pada pasien lumpuh/struk/koma c) Pada pasien dengan kawat gigi d) Pada pasien sakit berat e) Pada pasien apatis f) Pada pasien stomatitis g) Pada pasien yang mendapatkan oksigenasi dan Naso Gastrik Tube (NGT), h) Pada pasien yang giginya tidak boleh di gosok dengan sikat gigi misalkan karena tomatitis hebat i) Pasien sesudah operasi mulut atau yang menderita patah tulang rahang. j) Pasien yang memiliki masalah mulut seperti halitosis, keliosis, gusi berdarah, dan radang pada gusi. b. Kontraindikasi Perhatikan perawatan mulut pada klien yang menderita penyakit diabetes karena jika tidak hati hati bisa berakibat fatal jika terjadi luka. 2.5.1 Proses Keperawatan Pada Perawatan Higiene Mulut 1. Pengkajian a. Kaji kelengkapan gigi, warna mukosa, warna gusi, kelembapan pada daerah lidah, tekstur dan posisi lidah b. Perubahan perkembangan c. Pola makan d. Pilihan dan praktek higienis e. Pengkajian faktor-faktor resiko untuk masalah higiene mulut 2. Diagnosa keperawatan a. Nyeri berhubungan dengan radang pada daerah gusi b. Perubahan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat akibat radang pada gigi/gusi. 3. Perencanaan a. Kaji pngetahuan ps ttg oral hygiene b. Observasi keadaan mulut dan gigi c. Bantu ps untuk oral hygiene bila tidak mampu(prosedur terlampir) d. Ajarkan teknik perawatan gigi palsu pada ps ( prosedur terlampir) 10

e. Beri nutrisi yang adekuat f. Pertahankan kenyamanan pasien 4. Implementasi a. Memberi/menjelaskan hygiene b. Melakukan pemeriksaan mulut dan gigi c. Membantu pasien untuk oral hygiene bila tidak mampu(prosedur terlampir) d. Mengajarkan teknik perawatan gigi palsu pada ps ( prosedur terlampir) e. Memberi nutrisi yang adekuat f. Memberi kenyamanan pada pasien 5. Evaluasi a. Mulut dan gigi bersih b. Tidak ada halitosis, tidak ada ginggivitis, tidak ada karies, tidak ada stomatitis, tidak ada glostitis,tidak ada chilosis dan tidak ada peridontal desease c. Intake pasien adekuat d. Pasien terlihat nyaman 2.5.2 Prosedur pemenuhan kebutuhan dasar merawat mulut dan gigi 1. Pengertian Tindakan ini dapat dilakukan oleh pasien yang sadar secara mandiri atau denagan bantuan perawat. Untuk pasien yang tidak mampu mempertahankan kebersiahn mulut dan gigi secara mandiri harus di bantu sepenuhnya oleh perawat. 2. Tujuan a. Mencegah infeksi gusi dan gigi b. Mempertahankan rongga mulut 3. Tahap persiapan alat dan bahan a. Handuk dan kain pengalas b. Gelas kumur berisi air masak/NaCl, obat kumur, borax gliserin. c. Spatel lidah yang telah dibungkus kain kasa. d. Kapas lidi. e. Bengkok. f. Kain kasa. 11 pngetahuan pada pasien tentang pentingnya oral

g. Pinset atau arteri klem. h. Sikat gigi dan pasta gigi. 4. Tahap pra Interaksi a. Mencuci tangan. b. Menyiapkan alat di dekat pasien. 5. Tahap Orientasi a. Memberikan salam kepada pasien dan sapa nama pasien. b. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien/keluarga. c. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan. 6. Tahap Kerja 1) Pada pasien tidak sadar a. Tutup pintu ruangan/scat ( untuk menjaga privacy klien ) b. Atur posisi dengan tidur miring kanan/kiri. c. Pasang handuk di bawah dagu/pipi pasien. d. Ambil pinset dan bungkus dengan kain kasa yang dibasahi dengan air hangat. e. Gunakan tong spatel ( sudip ) lidah untuk membuka mulut pada saat membersihkan gigi/mulut. f. Lakukan pembersiahan dimulai dari dinding rongga mulut, gusi, gigi, dan lidah. g. Keringkan dengan kasa steril yang kering. h. Setelah bersih oleskan borax gliserin. i. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan. 2) Untuk pasien sadar, tetapi tidak mampu melakukan sendiri. a. Tutup pintu ruangan/scat ( untuk menjaga privacy klien ) b. Atur posisi dengan duduk. c. Pasng handuk di bawah dagu. d. Ambil pinset dan bungkus dengan kasa yang berisis air hangat/masak. e. Kemudian bersihkan pada daerah mulut mulai dari rongga mulut, gusi, gigi, dan lidah lalu bilas dengan larutan NaCl. f. Setelah bersih, oleskan borax gliserin. g. Untuk perawatan gigi lakukan penyikatan dengan pergerakan naik turun.

12

7. Tahap Terminasi a. Mengevaluasi hasil tindakan yang baru dilakukan. b. Berpamitan dengan pasien. c. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula. d. Mencuci tangan. e. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan. 2.6 Perawatan Kaki dan Kuku kaki dan kuku seringkali memerlukan perhatian khusus untuk mencegah infeksi, bau, dan cedera pada jaringan. Tetapi seringkali orang tidak sadar akan masalah kaki dan kuku sampai terjadi nyeri atau ketidaknyamanan. Menjaga kebersihan kuku penting dalam mempertahankan personal hygiene karena berbagai kuman dapat masuk kedalam tubuh melalui kuku. Oleh sebab itu, kuku seharusnya tetap dalam keadaan sehat dan bersih. Perawatan dapat digabungkan selama mandi atau pada waktu yang terpisah. Tujuan perawatan kaki dan kuku adalah pasien akan memiliki kulit utuh dan permukaan kulit yang lembut, pasien merasa nyaman dan bersih, pasien akan memahami dan melakukan metode perawatan kaki dan kuku dengan benar. 1) Indikasi dan Kontraindikasi pada perawatan kaki dan kuku. a. Indikasi Pada pasien yang kukunya panjang yang tidak dapat melakukan pembersihan/pemotongn kuku secara mandiri b. Kontraindikasi Memotong kuku pasien tidak terlalu dalam pada pasien diabetes memotong kuku harus dengan hati hati karena bisa berakibat fatal. 2.6.1 Proses Keperawatan Pada Perawatan Kaki dan kuku 1. Pengkajian ( keadaan normal ) a. Pengkajian fisik (warna, bentuk dan keadaan kuku) b. Faktor perkembangan c. Alas kaki d. Pengetahuan tentang praktik perawatan kaki dan kuku 2. Diagnosa keperawatan 13

a. Resiko infeksi berhubungan dengan proses masuknya kuman akibat garukan dari kuku b. Nyeri yang berhubungan dengan pembentukan kalus, kuku jari kaki yang tumbuh kedalam c. Resiko infeksi yang berhubungan dengan kulit yang rusak atau trauma d. Defisit pengetahuan perawatan kaki dan kuku yang berhubungan dengan kurang informasi. 3. Intervensi Perencanaan yang matang untuk pertimbangan tujuan: a. Klien akan memiliki kulit utuh dan permukaan kulit yang lembut b. Klien akan mencapai rasa nyaman dan bersih c. Klien akan berjalan dan menanggung berat badan dengan normal d. Klien akan memahami dan melakukan metode perawatan kaki dan kuku dengan benar. e. Kaji pengetahuan ps tentang perawatan kaki dan kuku f. Observasi keadaan kuku baik dari bentuk dan warna g. Lakukan kebersihan pada kuku dan bila tidak mampu bantu ps melakukan tindakan tersebut.(prosedur terlampir) h. Pertahankan integritas kuku dan mencegah infeksi 4. Implementasi a. Mengkaji dan menjelaskan pada pasien tentang perawatan kaki dan kuku b. Mengobservasi keadaan kuku baik dari bentuk dan warna c. Membantu pasien membersihkan kuku jika pasien tidak mampu secara mandiri. (prosedur terlampir) d. Mempertahankan integritas kuku dan mencegah infeksi 5. Evaluasi Kebersihan kuku : a. kuku bersih b. tidak ada radang c. kuku tidak berbau d. dasar kuku warna merah muda e. tebal kuku kurang lebih 0,5 mm f. tidak ada ingrown nail, paronychia dan rams horn nail

14

2.6.2

Prosedur pemenuhan kebutuhan dasar merawat kaki dan kuku 1. Pengertian Merawat kuku merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu merawat kuku secara mandiri. 2. Tujuan Perawatan kaki dan kuku adalah pasien akan memiliki kulit utuh dan permukaan kulit yang lembut, pasien merasa nyaman dan bersih, pasien akan memahami dan melakukan metode perawatan kaki dan kuku dengan benar. Perawatan kaki dan kuku juga dapat menjaga kebersihan kuku dan mencegah timbilnya luka atau infeksi akibat kuku yang panjang. 3. Tahap persiapan alat dan bahan a. b. c. d. e. f. g. Alat pemotong kuku Handuk Baskom berisi air hangat Bengkok Sabun Kapas Sikat kuku

4. Tahap pra Interaksi a. Mencuci tangan. b. Menyiapkan alat di dekat pasien. 5. Tahap Orientasi a. Memberikan salam kepada pasien dan sapa nama pasien. b. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien/keluarga. c. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan. 6. Tahap kerja a. Atur posisi pasien duduk atau tidur b. Tentukan kuku yang akan dipotong c. Rendam kuku dengan air hangat + 2 menit dan sikat dengan air sabun bila kotor. d. Keringkan tangan dan kaki dengan handuk e. Letakkan tangan di atas bengkok dan lakukan pemotongan kuku 15

7. Tahap Terminasi a. Mengevaluasi hasil tindakan yang baru dilakukan. b. Berpamitan dengan pasien. c. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula. d. Mencuci tangan. e. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan. 2.7 Perawatan genitalia perawatan genitalia merupakan bagian dari mandi lengkap. Pasien yang paling butuh perawatan genitalia yang teliti adalah pasien yang beresiko terbesar memperoleh infeksi. Pasien yang mampu melakukan perawatan diri dapat diizinkan untuk melakukannya sendiri. Perawat mungkin menjadi malu untuk memberikan perawatan genitalia, terutama pada pasien yang berlainan jenis kelamin. Dapat membantu jika memiliki perawat yang sama jenis kelamin dengan pasien dalam ruangan pada saat memberikan perawatan genitalia. Tujuan perawatan genitalia adalah untuk mencegah terjadinya infeksi, mempertahankan kebersihan genitalia, meningkatkan kenyamanan serta mempertahankan personal higiene. 1) Indikasi dan Kontraindikasi pada hygiene genetalia. a. Indikasi a) Pada psien yang tidak mampu secara mandiri merawat kelaminnya b) Pada pasien pasca bersalin c) Pada pasien yang terkena edema pada erea genetalnya d) Pada pasien yang sedang menstruasi b. Kontraindikasi a) Berikan perhatian pada pasien yang sedang menstruasi b) Pada pasien yang terjadi luka bakar pada area genetlia

2.7.1

Proses keperawatan pada perawatan genetalia 1. Pengkajian : 16

1) Inspeksi a. b. Memeriksa uretra dari bagian meatus dan jaringan sekitarnya Observasi adanya penyempitan, perdarahan, mukus atau cairan purulent (nanah). c. d. Observasi kulit dan mukosa membran disekitar jaringan Perhatikan adanya lesi hiperemi atau keadaan abnormal lainnya pada penis, scrotom, labia dan orifisium Vagina. e. Iritasi pada uretra ditunjukan pada klien dengan keluhan ketidak nyamanan pada saat akan mixi. 2) Pengkajian Psikososial : a. b. Respon emosional pada penderita sistim perkemihan, yaitu : menarik diri, cemas, kelemahan, gelisah, dan kesakitan. Respon emosi pada pada perubahan masalah pada gambaran diri, takut dan kemampuan seks menurun dan takut akan kematian. 2. Diagnosa Perawatan yang sering timbul: a. b. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi ntuk mencegah terjadi sakit yang berulang. Cemas sehubungan dengan ketidaknyamanan pada proses miksi dan fungsi seksual menurun. 3. Intervensi c. Diaknosa 1 a) Tingkatkan kemampuan pada : Hygiene perorangan, eliminasi, dan pergerakkan. b) Jelaskan tentang pentingnya kebersihan kelamin (pada wanita catat bila terjadi kelainan pada vagina). c) Hindari penggunaan bedak pada kelamin.

17

d) Jelaskan tehnik penanmpungan urine bila terjadi gangguan (perdarahan ) e) Bila perlu disarankan untuk sirkumsisi d. Diaknosa 2 a) Mengatasi kecemasan. Rasionalnya dengan mengurangi rasa cemas dapat membantu proses penyembuhan. 4. Implementasi a. b. Memberi penjelasan kepada pasien tentang pentingnya menjaga dan cara merawat kebersihan klamin. Laksanakan Kolaborasi dengan memberikan obat-obatan analgetik, untuk mengatasi nyeri. Rasionalnya dengn memberikan obat-obat narkotik, analgetik seperti Oxybutimin cloride (diazepam) dan propantelin bromid (pro-banthin) 5. Evaluasi a. b. c. d. 2.7.2 Keberhasilan intervensi Persiapan perubahan rencana jika hasil tidak dicapai Pasien dapat mengerti tentang dan cara hygiene genetalia Kenyamanan pasien atau hilangnya kecemasan pasien pasien .

Prosedur pemenuhan kebutuhan dasar merawat genetalia wanita ( vulva ) 1. Pengertian Hygiene vulva merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu secara mandiri dalam membersihkan vulva. Memberikan tindakan pada vulva merupakan tindakan untuk menjaga kebersihan pada vulva. 2. Tujuan a. Untuk mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum maupun uterus. b. Untuk penyembuhan luka perineum/jahitan pada perineum. c. Untuk kebersihan perineum dan vulva. d. Memberikan rasa nyaman ( dilakukan pada ibu pasca melahirkan ) 3. Tahap persiapan alat dan bahan 18

a. Bak instrument berisi Kassa dan pinset anatomis b. Perlak dan pengalas. c. Selimut mandi. d. Hand schoen 1 pasang. e. Bengkok 2 buah. f. Tas plastic 2 buah. g. Baskom berisi kapas basah (air dan kapas direbus bersama). h. Celana dalam dan pembalut wanita. i. Pispot. j. Botol cebok berisi air hangat. k. Obat luka perineum. 4. Tahap Pra Interaksi a. Melakukan verifikasi program pengobatan klien. b. Mencuci tangan. c. Menyiapkan alat. 5. Tahap Orientasi a. Memberikan salam kepada pasien dan sapa nama pasien. b. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan padaklien/keluarga. c. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelumkegiatan dilakukan. 6. Tahap Kerja a. Memasang sampiran/menjaga privacy. b. Memasang selimut mandi. c. Mengatur posisi pasien dorsal recumbent. d. Memasang alas dan perlak dibawah pinggul/ pantat. e. Melepas celana dan pembalut kemudian memasang pispot,sambil memperhatikan lochea. Celana dan pembalut dimasukkan dalam tas plastic yang berbeda. f. Mempersilahkan pasien untuk BAK/BAB bila ingin. g. Perawat memakai sarung tangan kiri. h. Mengguyur vulva dengan air matang. i. Mengambil pispot. j. Meletakkan bengkok ke dekat vulva. k. Memakai sarung tangan kanan, kemudian mengambil kapas basah. l. Membuka vulva dengan ibu jari dan jari telunjuk kiri 19

n. Membersihkan vulva mulai dari labia mayora kiri, labiamayora kanan, labia minora kiri, labia minora kanan,vestibulum, perineum. Arah dari atas ke bawah dengan kapasbasah (1 kapas, 1 kali usap). o. Mengobati luka dan menutup luka dengan kassa steril. p. Memasang celana dalam dan pembalut wanita. q. Mengambil alas, perlak dan bengkok . r. Merapikan pasien, mengambil selimut mandi. 7. Tahap Terminasi a. Mengevaluasi hasil tindakan yang baru dilakukan. b. Berpamitan dengan pasien. c. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula. d. Mencuci tangan. e. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan 2.7.3 Prosedur pemenuhan kebutuhan dasar merawat genetalia pria ( penis ) 1. Pengertian Hygiene penis merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu secara mandiri dalam membersihkan pada daerah penis. Memberikan tindakan pada penis merupakan tindakan untuk menjaga kebersihan pada penis. 2. Tujuan a. Untuk mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum maupun uterus. b. Untuk penyembuhan luka perineum/jahitan pada perineum. c. Untuk kebersihan perineum dan vulva. d. Memberikan rasa nyaman. 3. Tahap persiapan alat a. Baskom mandi/botol cebok berisi air hangat dengan suhu air 410-430 C b. Selimut mandi c. Sabun d. Waslap 2 buah e. Handuk ukuran kecil / sedang f. Bengkok 20

g. Handscone bersih dalam tempatnya h. Tisu kamar mandi i. Tempat kain kotor j. Kapas air hangat dalam tempatnya 4. Tahap Pra Interaksi d. Melakukan verifikasi program pengobatan klien. e. Mencuci tangan. f. Menyiapkan alat. 5. Tahap orientasi a. Memberikan salam kepada pasien dan sapa nama pasien. b. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan padaklien/keluarga. c. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelumkegiatan dilakukan.

6. Tahap kerja a. Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien b. Dekatkan alat-alat pada klien c. Tutup pintu, dan jendela / tirai kamar klien d. Atur tempat tidur klien untuk posisi kerja kita agar nyaman e. Mencuci tangan f. Ganti selimut klien dengan selimut mandi, dengan satu ujung selimut diantara kedua tungkai klien, dua ujung lainnya mengarah ke masingmasing sisi tempat tidur, dan satu ujung yang lain pada dada klien. Jika selimut mandi trlalu besar maka selimut mandi digunakan seperti biasa. g. Atur posisi klien dorsal recombent, dan lepaskan pakaian bawah klien

21

h. Kemudian lilitkan ujung selimut ke sekeliling tungkai terjauh klien dengan menarik ujung selimut mandi dan melipatnya dibawah panggul. Lakukan demikian juga pada tungkai dekat perawat. i. Gunakan handscone j. Perlahan-lahan angkat penis dan letakkan handuk dibawahnya. Dengan perlahan pegang ujung penis. Bila klien tidak disirkumsisi, retrasikan kulup. Tunda prosedur bila mengalami ereksi. k. Bersihkan ujung penis pada miotus uretra pertama kali. Lakukan gerakan memutar, bersihkan dari miotus ke arah penis. Jangan biarkan sabun masuk kedalam miotus. l. Kembalikan kulup pada posisi asalnya. m. Basuh batang penis perlahan, tetapi kuat dengan menggosok kearah pangkal penis, gunakan waslap dan air hangat. n. Basuh dan keringkan penis secara menyeluruh. Minta klien untuk sedikit merenggangkan kakinya. o. Dengan perlahan bersihkan skrotum. Angkat testis dengan hati-hati dan cuci lipatan kulit di bawahnya. Basuh dengan waslap dan keringkan. p. Lipat selimut mandi ke belakang perinium dan bantu klien untuk miring. q. Bersihkan daerah anal dengan mengusap dari arah perieum ke anus satu gosokan,ulangi dengan gosok waslap bersih sampai dengan bersih. r. Keringkan dengan handuk kecil/tissu kamar mandi s. Bantu klien untuk telentang. t. Lepaskan handscone u. Bantu klien menggunakan pakaian bawahnya v. Ganti selimut mandi dengan selimut tidur w. Rapikan dan atur posisi klien agar nyaman 22

7. Tahap Terminasi a. Mengevaluasi hasil tindakan yang baru dilakukan. b. Tanyakan apakah pasien telah merasa nyaman dan bersih c. Berpamitan dengan pasien. d. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula. e. Mencuci tangan. f. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

23

Personal Hygiene adalah suatu tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Ukuran kebersihan atau penampilan seseorang dalam pemenuhan kebutuhan Personal Hygiene berbeda pada setiap orang sakit karena terjadi gangguan pemenuhan kebutuhan. Selain itu sebagian besar pemenuhan kebutuhan personal hygiene dapat dilakukan secara mandiri kecuali untuk perawatan kuku kaki dan tangan yang masih bergantung pada orang lain. Modifikasi juga dilakukan oleh informan untuk mempermudah dalam memenuhi kebutuhan personal hygiene. Pemeliharaan personal hygiene berarti tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan diri seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikisnya. 3.2 Saran Demikian makalah yang telah kami susun, semoga dengan makalah ini dapat menambah pengetahuan serta lebih bisa memahami tentang pokok bahasan makalah ini bagi para pembacanya dan khususnya bagi mahasiswa yang telah menyusun makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua.

DAFTAR PUSTAKA Aziz Alimul Hidayat.A, Musrifatul Uliyah.2004.kebutuhan dasar manusia.Jakarta:EGC http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/111/jtptunimus-gdl-faradisayu-5538-2-babi.pdf 24

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/2108806-personal-hygiene/#ixzz1qAmmpsfI http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24132/2/Chapter%20II.pdf http://www.scribd.com/doc/111796315/93471297-Standar-Operasional-Prosedur-Keperawatan http://www.scribd.com/doc/20525942/Buku-Standar-Asuhan-Keperawatan Hannydarliany /2011/12/ http://hannydarliany.blogspot.com personal-hygiene_04.html

25