Anda di halaman 1dari 14

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pisang (Musa Paradisica) merupakan salah satu komoditas buah-buahan penting di Jawa Barat, karena banyak dikonsumsi oleh masyarakat mengingat harganya relative lebih murah dari buah-buahan lainnya tetapi banyak mengandung zat gizi.Permintaan akan komoditas pisang terus meningkat terutama di dalam negeri sebagai buah meja atau diolah menjadi berbagai jenis makanan olahan. Pengembangan pisang merupakan salah satu program Dinas Pertanian Propinsi Jawa Barat dalam Penganekaragaman sumber pangan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan pisang mempunyai kandungan gizi lengkap selain kaya kalsium, magnesium, fosfor, besi serta kalsium selain itu juga mengandung vitamin A, B dan C. Pisang sebagai salah satu produk unggulan di jawa barat khususnya di Kabupaten Cianjur mempunyai tingkat produksi cukup tinggi, bahkan pada saat panen raya produksinya tidak terpasarkan, dengan kondisi tersebut maka pengembangan agroindustri merupakan salah upaya yang memungkinkan untuk memanfaatkan potensi produksi pisang di Jawa Barat. Pisang dapat ditanam diberbagai kondisi alam dan berbagai olahan di Jawa Barat.Walaupun pisang sudah cukup berkembang di Jawa Barat, namun usaha tani pisang oleh masyarakat belum berdampak secara nyata terhadap pendapatan, hal ini disebabkan karena usaha tani pisang belum dilaksanakan secara komersial yang berdampak pada rendahnya produktivitas, mutu dan efisiensi usaha. 1.2 Tujuan Pisang mempunyai arti penting dalam menunjang program agribisnis dan ketahanan pangan karena: 1. Sebagai Bahan Pangan Benilai Gizi Tinggi 2. Sebagai Bahan Baku Industri 3. Sebagai Sumber Pendapatan

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Prospek Buah Pisang Pisang merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia.Usaha tani pisang mampu memberikan keuntungan yang cukup besar dalam waktu yang relatif singkat (1 2 tahun). Dari segi produksi, pisang memberikan kontribusi antara 40 45% terhadap produksi buah nasional maupun keragaman penggunaan seperti buah konsumsi segar, olahan, bahan baku industri dan pakan ternak serta keragaman varietas yaitu memiliki kekayaan kurang lebih 300 varietas dengan 14 varietas ekonomis.Kabupaten Cianjur merupakan salah satu wilayah sentra produksi pisang dengan total produksi pada tahun 2007 mencapai 1 981 234 kuintal, dengan total keseluruhan di Jawa Barat mencapai 14 536 645 kuintal. Pemanfaatan pisang pada saat ini adalah sebagian besar masih dalam bentuk segar dan dalam bentuk olahan berupa sale, dodol, puree, keripik dan lain-lain. Tabel 1. Komposisi Daging Buah Komponen Air (%) Karbohidrat (gr) Lemak (gr) Protein Kasar (gr) Serat Abu Sumber : Harvey T, Chan 1983 Permintaan akan komoditi buah pisang dunia memang sangat besar, terutama jenis pisang cavendish yang meliputi 80% dari permintaan total dunia. Hal ini menunjukkan bahwa pisang memang komoditas perdagangan yang sangat tidak mungkin diabaikan. Relatif besarnya volume produksi nasional dan luas panen dibandingkan dengan komoditas buah lainnya, menjadikan buah pisang merupakan tanaman unggulan di Indonesia. Pisang Meja (Matang) Pisang Rebus (Mangkal) 83,0 2,0 0,1 19,1 11,0 77,8 347,0 0,3 0,1 85,6 20,0 13,0

Pengembangan pisang berskala kebun rakyat dan besar akan membuka peluang agribisnis hulu, seperti industri perbenihan dan industri peralatan mekanisasi pertanian, yang tentunya akan membuka kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Selain sebagai buah yang dimakan segar, pisang juga dapat diolah baik untuk skala rumah tangga seperti keripik, getuk dan sale, maupun industri berskala besar seperti tepung, puree dan jam, yang dapat merangsang tumbuhnya agribisnis hilir. Agribisnis hilir akan berkembang dengan cara memberdayakan industri pengolahan skala keluarga (home industry) dan menengah maupun skala besar (investor dalam dan luar negeri). Permintaan pisang untuk industri pengolahan skala rumah tangga (10-50 kg/hari), skala UKM kripik (100-120 kg/hari), sale (1,5-2 ton/bln), ledre (70-120 kg/hari), puree (300-500 kg/h) dan tepung (700-1000 kg/minggu). Skala besar, membutuhkan kapasitas + 10-12 ton pisang segar/hari. 2.2 Pengolahan buah pisang Pada dasarnya,pengolahan komoditi pisang tidak hanya mengolah daging buahnya saja,tetapi segala unsure yang terdapat pada tanaman pisang dapat diolah dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.Seperti : Kulit pisang. Bisa diolah menjadi selai kulit pisang,anggur kulit pisang.Kulit pisang dari jenis pisang raja dan ambon dapat diolah menjadi bahan baku minuman anggur.Lebih dari itu kulit pisang juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan nata de banana,yaitu produk makanan yang terbentuk dari kumpulan biomassa yang terdiri dari selulosa dan memiliki penampilan seperti agar-agar warna putih seperti nata de coco. Daun Pisang. Daun yang tua yang sudah robek bisa untuk pakan ternak karena banyak mengandung unsure yang diperlukan oleh tubuh hewan. Jantung Pisang. Untuk makanan lauk pauk ( dendeng jantung pisang ). Bonggol Pisang (Batang pisang bagian bawah ).

Bisa diolah menjadi keripik bonggol pisang,urap,lalapan,bisa juga dijadikan pupuk dengan cara batang tersebut diiris-iris lalu dibakar jadi abu.Air bonggol pisang kapok dan klutuk dapat dijadikan obat disentri,pendarahan usus,obat kumur,serta untuk menghitamkan rambut Buah Industri pengolahan buah pisang skala besar lebih diarahkan pada industri tepung (1,5-2 ton/mg ),puree (600kg-1,5 ton/hari ) dan jam ( 1-2 ton/hari ). Sebagai contoh,pengubahan bentuk buah pisang menjadi tepung pisang akan mempermudah dan memperluas pemanfaatan pisang sebagai bahan

makanan,misalnya untuk kue,roti,bubur,kerupuk,dan lain-lain.Untuk membuat tepung pisang,diperlukan beberapa langkah diantaranya

Pengupasan,pengirisan,pengeringan,penepungan,dan,penyimpanan. Pengolahan pisang menjadi tepung agar mempunyai masa simpan lebih lama, lebih mudah dalam pengemasan dan pengangkutan, lebih praktis untuk diversifikasi produk olahan, mampu memberikan nilai tambah buah pisang, dan mampu menciptakan peluang usaha pengembangan agroindustri pedesaan. Pemanfaatan tepung pisang sebagai bahan subtitusi pembuatan roti tawar, makanan bayi, biskuit maupun snack sebagai upaya untuk menambah keanekaragamaan pengaplikasian dari tepung pisang, disamping itu produk tersebut cara pengolahannya mudah dan ekonomis. 2.3 Prospek Agroindustri Buah pisang Keripik pisang adalah makanan ringan yang paling banyak diproduksi dan diperdagangkan di Indonesia. Hal ini bisa dimaklumi, karena pisang juga merupakan buah yang paling banyak dibudidayakan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, pisang juga merupakan buah tanpa musim. Hingga agroindustri keripik pisang bisa berlangsung sepanjang tahun tanpa berhenti. Meskipun pada musim kemarau, produksi pisang tidak sebanyak pada musim penghujan, hingga para perajin keripik sering kesulitan bahan baku. Bahan keripik adalah pisang ambon dan kepok kuning. Sebab dua jenis pisang ini paling mudah dijumpai di pasaran. Dan dua jenis pisang ini, juga akan menghasilkan keripik dengan kualitas terbaik. Ambon kuning, selama ini

merupakan pisang favorit sebagai buah meja. Sementara kepok kuning paling banyak diminati sebagai pisang goreng. Hingga agroindustri keripik pisang, harus berebut bahan baku ambon kuning dengan pasar buah segar, serta kepok kuning dengan pedagang pisang goreng.Pisang tanduk, sebenarnya juga bisa menjadi bahan keripik dengan kualitas cukup baik. Namun ukurannya terlalu besar, dan nilai pisang segarnya juga cukup tinggi, hingga harga keripiknya akan menjadi terlalu mahal. Pisang raja sereh dan raja bulu, sebenarnya juga akan menghasilkan keripik dengan kualitas cukup baik. Namun ketersediaan dua pisang ini sangat terbatas. Untuk pasar segar pun masih kurang, apalagi untuk keripik. Pisang kepok putih, sebenarnya tersedia dalam volume melimpah, namun kualitas keripiknya kurang bagus. Yang juga tersedia melimpah adalah pisang cavendish. Sebab baru pisang jenis inilah yang sudah dikebunkan secara massal. Ketika suplai ambon dan kepok kuning kurang, maka perajin keripik banyak yang lari ke cavendish. Sebab tidak ada alternatif lain. Kelemahan cavendish adalah, rasanya sedikit masam, dan kadar patinya tidak sebaik ambon maupun kepok kuning. Hingga ketika digoreng susutnya terlalu banyak. Karena rasanya sedikit masam, maka hasil keripiknya pun juga agak masam. Para perajin menyiasati masamnya keripik cavendish, dengan memberi gula serta tambahan rasa lainnya. Namun ketika bahan baku ambon dan kepok kuning tersedia, maka perajin akan menolak pisang cavendish. Kepok kuning, akan menghasilkan keripik ukuran kecil, sementara ambon kuning menjadi keripik standar. Ketersediaan kepok kuning, sebenarnya juga lebih kecil dibanding ambon kuning. Hingga keripik pisang yang beredar di pasar, kebanyakan berbahan baku ambon kuning. Berikut ini disajikan nilai gizi buah pisang dalam 100 gram: Pisang (acuminata) Nutrisi Pisang Kering Pisang Basah Air (%) 75.7 Karbohidrat (g) 22.2 91.4 Protein (g) 1.1 4.5 Lemak (g) 0.2 0.8 Abu (g) 0.8 3.3

Vitamin Vitamin A (SI) As. Ascorbic (mg) Vitmin B (mg) Thimin (mg) Riboflavin (mg) Niacin (mg)

Gros Michel 3.8 13.3 25.0 3.3 3.8 4.7

Cavendish 5.1 20.0 2.6 5.3 4.8

2.4 Pisang untuk bahan baku keripik, Syaratnya harus memenuhi syarat ketuaan. Pisang yang masih agak muda, memang tetap bisa diperam hingga masak dan laku dijual sebagai buah segar. Tetapi pisang muda tidak mungkin untuk dijadikan keripik. Selain susutnya akan terlalu banyak, rasa keripik juga sedikit sepet (kelat). Hingga bahan baku keripik haruslah pisang yang benar-benar tua, dengan tingkat kemasakan 80%. Karenanya, harga pisang sebagai bahan baku keripik, sering lebih tinggi dibanding pisang untuk buah meja. Karena menuntut spesifikasi khusus, maka pemasok pisang untuk agroindustri keripik, beda dengan pedagang pisang segar untuk pasar induk, atau industri pemeraman di Ciawi dan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Para pedagang pisang segar di Lampung, selama ini mengumpulkan dan mengirim pisang rames ke Jakarta. Yang disebut pisang rames adalah aneka macam varietas pisang, dengan aneka macam grade. Sementara pemasok agroindustri keripik, dituntut untuk mengumpulkan dan mengirim pisang yang homogen. Bandar pisang dari Lampung, umumnya mengirim pisang rames ke Jakarta. Sementara pedagang dari Bengkulu, seringkali mendapatkan pisang yang homogen. Biasanya kepok kuning. Sesampai di bandar pisang di Lampung, pisang dari Bengkulu yang sudah homogen itu akan kembali dicampur dengan aneka pisang lain, hingga menjadi pisang rames. Sebab pedagang pasar induk Cibitung, tidak mau menerima pisang yang homogen. Atau membayarnya dengan harga lebih rendah dari pisang rames. Dengan kondisi pasar bahan baku seperti ini, para perajin keripik terpaksa harus mencari bahan baku sendiri, atau menjalin hubungan baik dengan para

pemasok khusus. Para perajin dan pemasok khusus ini, akan mencari bahan baku langsung di petani, atau menyeleksi pisang rames yang sudah berada di tangan bandar. Pola kerja seperti ini, juga ikut berpengaruh terhadap tingginya harga bahan baku keripik, dibanding dengan pisang segar yang akan diperam sampai masak menjadi buah meja. Sesampai di tangan perajin, pisang bahan baku keripik ini dionggokkan di ruang terbuka, berupa tandanan. Setiap hari pasti ada pisang yang masuk ke perajin keripik. Pisang-pisang ini diseleksi, untuk memperoleh pisang dengan tingkat kemasakan yang tepat, yakni setengah masak. Ciri pisang setengah masak adalah, kulit sudah agak empuk, tetapi daging buahnya masih keras, dan rasanya belum manis. Pisang setengah masak seperti mudah dikupas dengan tangan tanpa bantuan pisau dan alat lainnya. Karena pisang yang sampai ke tangan perajin berasal dari berbagai petani, maka ukuran tandan, sisir, buah, dan juga tingkat ketuaannya tidak seragam. Karyawan perajin keripik akan meng grade pisang-pisang yang masuk, sesuai dengan tingkat ketuaan dan kemasakannya. Ada yang bisa langsung diproses hari itu juga. Ada yang perlu waktu satu dua hari, ada yang sampai beberapa hari untuk menunggu menjadi setengah masak. Hingga pisang yang datang, tidak semuanya bisa diolah hari itu juga. 2.5 Proses Pembuatan Keripik pisang Proses pembuatan keripik pisang terdiri dari tahap pengupasan, pengirisan dan penggorengan. Tiga tahap ini harus dilakukan secara simultan dan dalam waktu pendek. Kalau antara tahap pegupasan, pengirisan dan penggorengan, jarak waktunya terlalu lama, maka ada kemungkinan irisan pisang yang belum tergoreng, akan mengalami oksidasi hingga menjadi cokelat. Terlebih, kalau pisang itu masih mentah, maka begitu dikupas, akan langsung teroksidasi. Pisang yang sudah setengah masak, tidak teroksidasi dengan mudah. Hingga para perajang harus mengupas satu-per satu pisang setengah masak yang ada di samping mereka, dan begitu terkupas, langsung dirajang menggunakan alat perajang manual. Irisan pisang yang jatuh ke dalam wadah, langsung dimasukkan ke dalam wajan untuk digoreng sampai kering. Pengirisan

pisang ini memerlukan keterampilan tersendiri. Baik keterampilan memilih pisang dengan tingkat kemasakan yang tepat, maupun keterampilan mengoperasikan alat perajang. Kadang dalam satu sisir pisang, masih ada yang terlalu keras dan susah dikupas. Pisang demikian akan dilewatkan, untuk diiris setelah benar-benar mencapai tingkatan setengah masak. Kedua, para perajang pisang harus terampil menggerakkan pisang yang sudah dikupas di atas serutan, hingga secara kuantitas menghasilkan irisan cukup banyak, tetapi secara kualitas irisan tersebut juga cukup rapi. Hanya dengan berlatih beberapa hari, para perajang sudah cukup terampil mengiris pisang. Alat perajang dalam industri keripik adalah serutan berupa papan kayu yang ditaruh terlentang, dan pisang digerakkan membujur berulangkali di atas pisau yang terpasang pada papan tersebut. Pisang akan teriris dengan tingkat ketipisan sama. Perajang pisang dalam agroindustri keripik, umumnya perempuan, dan selalu mengenakan sarung tangan. Guna sarung tangan untuk menghindari luka terkena pisau, menjaga agar hasil irisan higienis, juga guna melindungi tangan dari getah pisang Ada tiga metode pengeringan buah, hingga menjadi keripik. Pertama dengan menggoreng biasa menggunakan minyak panas. Kedua dengan menggoreng, sekaligus menyedot uap air yang keluar dari minyak (hot vacum). Ketiga, dengan mendinginkan sampai mendekati 0o C, dan menyedot uap air yang keluar dari buah (cold vacum). Alat untuk proses cold vacum harganya paling tinggi. Hingga di Indonesia masih jarang kita jumpai agroindustri keripik buah dengan peralatan cold vacum. Agroindustri keripik pisang di Indonesia, umumnya masih menggunakan proses penggorengan biasa, dengan kompor minyak maupun briket batubara. Ada juga yang masih memanfaatkan tungku berbahan bakar kayu dan sekam. Proses penggorengan dilakukan dengan sangat cepat untuk menghindari hangus. Keripik yang telah kering, ditiriskan, untuk dikemas, atau diproses lebih lanjut dengan pemberian cokelat, keju, atau gula. Baru kemudian keripik dikemas dalam kaleng atau plastik.

Sentra terbesar agroindustri keripik pisang, berada di Lampung. Namun agroindustri ini sudah merata di mana-mana. Ada beberapa kategori rasa keripik pisang, yakni tawar, asin, manis, cokelat, dan keju. Komoditas pisang, memang berpotensi menjadi bahan baku aneka makanan. Mulai dari keripik, sale basah (asap), sale kering (goreng), sampai ke ledre. Ledre adalah pisang raja masak yang dihancurkan dan dioleskan tipis-tipis ke pemanggang panas lalu digulung. Hasilnya adalah crackers yang disebut ledre 2.6 Pemasaran Dalam skala industri,aspek pemasaran tidak hanya dijuruskan dalam negeri saja,tetapi sudah mengarah untuk ekspor.Pemasaran buah pisang sebenarnya cukup mudah,karena buah pisang memiliki keistimewaan

tertentu.Oleh karena itu,banyak orang mencarinya.Selain itu,harga buah pisang juga tergolong murah sehingga buah pisang dapat dikonsumsi oleh masyarakat berbagai golongan.Kenyataan demikian ini dapat dilihat dari terus meningkatnya permintaan buah pisang dari tahun ke tahun. Kegiatan pengumpulan dan pengangkutan dari sentra produksi ketempat pemasarannya sebagian besar dilakukan oleh pedagang pengumpul yang sudah mempunyai jaringan pemasarannya. Pedagang pengumpul pada umumnya merangkap sebagai tengkulak. Buah pisang dikumpulkan dari petani dengan cara sistem ijon, yaitu dengan membayar buah pisang yang masih muda dengan harga murah dan memanennya setelah agak tua. Disamping itu, pengumpul juga membeli pisang dari petani yang menjual langsung kepadanya. Setelah buah pisang yang terkumpul mencapai kapasitas 1 truk (4-5 ton), buah pisang diangkut ke tujuan pemasaran. 2.6.1 Pemasaran lokal Untuk pemasaran local,petani lebih suka memetik pada stadia matang penuh.Buah yang dipetik pada stadia ini dalam 3-4 hari akan menjadi matang penuh. Pemasaran yang memerlukan waktu, misal keluar daerah, keluar pulau atau untuk ekspor,maka buah dipanen pada tingkat ketuaan penuh. Hal ini dimaksudkan agar daya simpan pisang menjadi lebih lama.Buah menjadi matang setelah 7-19 hari penyimpanan.

2.6.2

Pemasaran Swalayan

Untuk konsumsi pasar swalayan,dipilih pisang yang tingkat ketuaanya optimum,penampakannya menarik,tanpa cacat,dan dari varietas

tertentu.Jenis0jenis pisang yang dipasarkan di pasar swalayan adalah jenis pisang ambon dalam bentuk tangkaian dua-dua yang dikemas dalam kantong plastik berlubang,pisang barangan,pisang raja bulu,dan jenis-jenis lainnya dipasarkan dalam bentuk sisiran. Selain pemasaran dalam bentuk buah segar,pemasaran dalam bentuk olahan juga mempunyai peluang yang baik.Bentuk olahan yang umum diperdagangkan seperti sale segar,sale goreng,dsb. 2.6.3 Kendala pemasaran oleh petani

Namun dalam memasarkan buah pisang terdapat beberapa kendala yang dihadapi petani,antara lain sebagai berikut : 1. Pola pemasaran sekarang tidak menghargai produk bermutu dan selalu menerapakan harga borongan. 2. Penetapan harga cenderung dilakukan oleh pedagang pengumpul. 3. Sistem pemasaran yang ada saat ini belum berpihak kepada petani. 4. Fungsi kelompok tani untuk saat ini belum optimal. 5. Sebagian besar sentra produksi belum memiliki Sub Terminal Agribisnis (STA). 2.6.4 Solusi dari Pemerintah

Maka dari itu untuk Pemerintah harus bisa mengatasinya,adapun diantaranya sebagai berikut : 1. Menciptakan Kelompok Usaha Bersama Agribisnis ( KUBA ) yang dijiwai oleh semangat kemitraan dan koperatif. 2. Mendorong berkembangnya Koperasi pedesaan dengan kegiatan produktifnya agribisnis komoditi pisang dan mampu bermitra usaha dengan pihak luar 2.7 Segmen Pasar Segmen pasar yang ditawarkan oleh buah pisang adalah dengan keanekaragaman jenis buah pisang seperti: pisang cavendish (merupakan buah

pisang yang sangat digemari oleh konsumen baik lokal maupun mancanegara), pisang raja, pisang barangan, pisang jambe, pisang raja sere, pisang kapok, pisang bali, pisang mas, pisang lampung, dan sebagainya. Selain itu, standar mutu lain yang harus dipenuhi adalah pengelompokkan buah pisang, bentuk fisik buah pisang (ketahanan buah pisang terhadap hama penyakit), maupun kebersihannya untuk menjaga kepercayaan konsumen. Disamping itu mereka memperketat sortasi buah pisang yang diterima dari petani/kelompok tani sehingga tidak semua produk yang dihasilkan petani/kelompok tani dapat diterima oleh segmen pasar.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Sesuai dengan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa : 1. Pisang merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia.Usaha tani pisang mampu memberikan keuntungan yang cukup besar dalam waktu yang relatif singkat (1 2 tahun). Dari segi produksi, pisang memberikan kontribusi antara 40 45% terhadap produksi buah nasional maupun keragaman penggunaan seperti buah konsumsi segar, olahan, bahan baku industri dan pakan ternak serta keragaman varietas yaitu memiliki kekayaan kurang lebih 300 varietas dengan 14 varietas ekonomis.T 2. Tanaman pisang mempunyai banyak manfaat, salah satunya adalah dapat diolah menjadi macam-macam bentuk makanan olahan seperti keripik pisang, sale pisang, dan lain-lain.Indonesia merupakan negara tropis, sangat subur untuk sebagian besar tanaman, termasuk buah pisang. Buah pisang dapat tumbuh dimana-mana, baik sebagai tanaman sela, batas/pagar disekitar rumah dan dipekarangan-pekarangan termasuk kebun. Oleh sebab itu, tanaman pisang dalam pembangunan negara dapat merupakan suatu sumber devisa negara yang sangat baik.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin A.Sukarti, Bertanam buah-buahan di Pekerangan (Bogor : Bagian hortikultura Departemen Agronomi IPB, 1977). Anonim, Anjuran Pemupukan Tanaman Jeruk dan Pisang, Liptan, BIP Departemen Pertanian Jawa Timur, No. 13, tahun 1988. _______, Banpres Pisang dan Kambing Gunung Kidul, Sinar Tani, 25 Januari 1989. ______, Hama dan Penyakit Tanaman (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1974). Utami Dewi, Pengaruh Lama Penyimpanan Bahan Baku Terhadap Mutu Keripik Pisang, Evaluasi Hasil-hasil Penelitian Pasca Panen Holtikultura selama Pelita III (Jakarta : SBPHP, 1982). http://usahakebunpisang.blogspot.com/2012/05/aneka-olahan-pisang-untuk-nilaitambah.html diakses pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 17.30 WIB http://em-ridho.blogspot.com/2011/12/makalah-management-agribisniskomoditi_30.html diakses pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 17.30 WIB http://diperta.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/1649 diakses pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 17.30 WIB

http://foragri.wordpress.com/2011/06/23/prospek-agroindustri-keripik-pisang/ diakses pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 17.30 WIB


http://www.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&i d=124&Itemid=160 diakses pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 17.50 WIB