Anda di halaman 1dari 12

Disusun Oleh : Bagus Jarot Kurniawan D2D009098

Jurusan Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Taufik dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan papper ini. Penulis mengambil mengambil tema Segmentasi Pasar. Sedangkan judul papper ini adalah Perilaku Konsumen Global. Karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis, maka tentu saja banyak kesalahan-kesalahan atau kekurangan, sehingga Papper ini masih jauh dari sempurna. Dalam membuat papper ini penulis telah banyak menerima bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa treima kasih kepada : 1. Dra. Naili Farida, MSi selaku dosen mata kuliah Perilaku Konsumen yang telah membimbing sehingga penulis dapat menyelesaikan papper ini. 2. Ayah Ibunda tercinta yang telah memberikan bekal materiil maupun doa restu kepada penulis. 3. semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun papper ini.

Untuk itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun, agar penulis dapat memperoleh pelajaran dan dapat memperbaiki pada kesempatan yang lain. Akhir kata, semoga papper ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan yang bermanfaat bagi penulis khususnya bagi para pembaca pada umumnya.

Semarang, 7 November 2010

Penulis

Bab I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pada masa sekarang ini produk yang dihasilkan oleh market pasar macamnya sudah beraneka ragam mulai dari yang kecil biasa sampai ke produk yang mewah. Hal utama yang menyebabkan ini yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara terus menerus. Dengan kemajuan teknologi itu menyebabkan pengetahuan semakin mengglobal. Pengetahuan yang mengglobal tersebut juga mempengaruhi perilaku konsumen secara mengglobal. Perilaku konsumen itu juga membuka pengetahuan tentang tiap-tiap manusia memiliki kebutuhan yang hampir sama dimana subbagian tersebut dapat dijangkau dengan bauran pemasaran yang berbeda-beda. Agar segmen ini berguna, maka mereka harus memiliki karakteristik dapat diukur (measurability), dapat dijangkau (accesibility), dan cukup besar (substansial). Dalam rangka mengukur segmen,seorang manajer harus dapat menilai setiap karakteristik, kebutuhan dan keinginan melalui berbagai pengukuran demografi, psikografi, sikap, dan/atau kepribadian. Agar segmen pasar dapat di jangkau, para konsumen harus dapat dicapai dengan bauran pemasaran. Segmen pasar yang tidak dapat dicapai dengan pesan-pesan promosi dan produk itu sendiri, bukan merupakan target yang baik.akhirnya agar segmen dapat berguna secara manajerial. Segmen tersebut harus cukup substansial dari segi ukuran dan pendapatan untuk menghasilkan penjualan yang mencukupi. Pemilahan pasar menjadi subbagian konsumen yang memiliki kebutuhan dan keinginan tertentu yang tidak termasuk dalam konsumen pada umumnya yang membuat perusahaan selalu berusaha memerluas seluruh pasar potensial untuk kelas produk yang bersifat umum. Sebagai contoh, pasar potensial jam tangan secara keseluruhan meningkat ketika pembuat jam tangan mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan khusus konsumen, yaitu jamtangan untuk gaya, menyelam, lari, jam kantong,pakaian dan lain-lain. Jika hanya menawarkan satu jenis jamtangan untuk semua tujuan, maka penjualan jam tangan akan lebih rendah daripada yang sekarang terjadi. Dengan mengembangkan jam tangan untuk segmen tertentu, pembuat jam tangan dapat meningkatkan total jam tangan yang terjual. Keunggulan dan manfaat segmentasi : Memungkinkan sebuah perusahaan untuk merancang bauran pemasaran atas kebutuhan dan keinginan subbagian konsumen yang homogen Dapat mendeteksi kecenderungan perubahan pasar

Merencanakan produk yang sesuai dengan permintaan pasar Menentukan penampilan iklan secara efektif Memanfaatkan penggunana promosi yang layak dalam media yang benar pada segmen dengan keuntungan yang terbesar

Bab II ISI

2.1

Pembahasan Perilaku konsumen merupakan disiplin ilmu yang masih baru. Meskipun demikian, nenek moyang intelektual ilmu ini lebih tua. Sebagai contok, seorang ahli sosiolog/ ekonomi Amerika, Thorstein Veblen, membahas masalah konsumsi yang mencolok (conspicuous consumption) pada tahun 1899, dan pada awal tahun 1900-an para pengarang menyatakan bahwa prinsip-prinsip psikologis dapat membantu para pembuat iklan. Pada tahun 1950-an ide-ide dari seorang psikolog Freud dipopulerkan oleh para peneliti motivasi dan dipergunakan oleh para pembuat iklan. Konsep pemasaran juga telah diungkapkan pada tahun 1950-an, yang menyoroti pentingnya studi perilaku konsumen. Perilaku konsumen didefinisikan sebagai studi tentang unit pembelian dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi, dan pembuangan barang, jasa, pengalaman, serta ide-ide. Definisi yang sederhana ini mengandung sejumlah konsep penting. Pertukaran, seorang konsumen tidak dapat mengelak dari proses pertukaran dimana segala sumber daya ditransfer diantara kedua belah pihak. Sebagai contoh, terjadi pertukaran antara dokter dengan seorang pasiennya. Dokter memperdagangkan jasa medisnya untuk memperoleh uang. Sumber daya lainnya seperti perasaan, informasi, dan status mungkin juga dipertukarkan di antara kedua belah pihak. Segmentasi Pasar Menurut Philip Kotler segmentasi pasar adalah usaha pemisahan pasar dalam kelompok-kelompok pembeli menurut jenis-jenis produk tertentu dan memerlukan bauran pemasaran sendiri. Dalam kegiatan bisnis, segmentasi pasar digunakan untuk memilih pasar sasaran, mencari peluang, menggerogoti segmen pemimpin pasar, merumuskan pesan-pesan komunikasi, melayani lebih baik, menganalisis perilaku konsumen, mendesain produk, dan lain sebagainya. Segmentasi dapat digunakan pada berbagai jenis kehidupan bisnis maupun non bisnis. Segmentasi dapat dilakukan cara membatasi dengan menentukan ciri-ciri lahiriah (fisik seperti tinggi, berat, warna, dan sebagainya, hingga nonfisik seperti usia, suku, agama, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya) yang dilanjutkan dengan aspek-aspek psikologis (seperti sifat kepribadian dan gaya hidupnya). Segmentasi pasar sebenarnya adalah konsep yang paling banyak dikenal oleh para profesional. Selain itu sebagian besar konsep segmentasi yang dipelajari di Indonesia adalah segmentasi apriori, yaitu segmentasi yang dilakukan sebelum suatu produk/jasa/ide/kampanye diluncurkan di pasar. Dengan cara apriori para profesional menunjukkan siapa sasaran pasarnya, brapa usianya, brapa penghasilannya perbulan, dimana letak kelas sosialnya, dimana mereka dapat dijangkau, dan tentu saja perilaku mereka. Segmentasi berdasarkan demografis, geografis, dan fisiografis dimana semua pendekatan tersebut adalah pendekatan apriori.

Philip Kotler, (Jaka Wasana, 1986:371) mengemukakan bahwa persyaratan segmentasi yang efektif adalah sebagai berikut : Dapat diukur, Besar dan daya beli setiap segmen harus dapat diukur dengan tingkat tertentu. Dapat dicapai, Seberapa jauh segmen dapat dijangkau dan dilayani secara efektif. Cukup besar, Suatu kelompok akan pantas disebut segmen apabila cukup besar atau cukup menguntungkan. Jadi satu segmen harus merupakan kelompok yang homogen. Dapat dilaksanakan, seberapa jauh program efektif dapat disusun untuk menarik untuk segmen. Dalam memilih dasar segmentasi ada dua metode yaitu metode apriori dan metode clustering. Metode apriori digunakan jika kemajuandidasarkan untuk dasar segmentasi. Misalnya, dampak terhadap kenaikan harga, pengukuran penghasilan konsumen sebagai dasar segmentasi. Sedangkan metode clustering digunakan untuk memilih dasar segmentasi. Misalnya, variabel kelompok konsumen, seperti kebutuhan, sikap dan karakteristik gaya hidup konsumen. Selama memilih dasar segmentasi, ahli pemasaran harus dapat menentukan apakah elastisitas dari perbedaan kelompok nyata dan merupakan faktor penyebab atau paling tidak ada hubungan dengan perbedaan diantara kelompok. Faktor tersebut harus dapat diidentifikasi, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam membagi pasar ke dalam segmensegmen. Di dalam segmentasi pasar dibagi atas beberapa variabel yaitu: 1. Psikologis 2. Perilaku/behavior 3. Demografis 4. Keluarga 5. Individu 2.1.1 Psikologis Dalam egmentasi psikologis, perilaku konsumen diobservasi melalui gaya hidup, nilai-nilai kehidupan yang dianut, dan kepribadiannya. Gaya hidup pada prinsipnya adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu uangnya. Para peneliti pasar yang menganut pendekatan gaya hidup cenderung mengklasifikasikan konsumen berdasarkan variabel-variabel AIO, yaitu Aktifitas, Interest (minat), dan Opini (pandangan-pandangan). 2.1.2 Perilaku/Behavior Perilaku /behavior bisa disebut dengan sikap, kebiasaan, tindakan, dll. Tujuan utama pemasar adalah untuk memprediksi, memahami dan mempengaruhi perilaku konsumen yang terdiri dari semua tindakan konsumen untuk memperoleh, menggunakan, dan membuang barang atau jasa. Sebelum bertindak, seseorang sesekali mengembangkan keinginan berperilaku berdasarkan kemungkinan tindakan yang akan dilakukan. Jadi konsumen dapat membentuk keinginan untuk mencari informasi, memberitahukan orang lain tentang pengalamannya dengan sebuah produk, membeli produk atau jasa tertentu, atau membuang produk dengan cara tertentu.

2.1.3

Demografis Konsumen dibeda-bedakan berdasarkan karakteristik demografi seperti usia, gender, pendidikan, usia, pekerjaan, pendapatan, jumlah anggota dalam rumah tangga, daur hidup (family life cycle), agama, suku, kebangsaan, dan sebagainya. 2.1.3.1 Usia 1. Anak-anak Segmen anak ini dapat dibagi lagi menjadi segmen yang lebih mendasar yaitu: Pra sekolah Anak-anak dibawak usia 2 tahun (bayi) Anak-anak usia 2-4 tahun Dan antara 4-9 tahun Sekolah dasar 9-14 tahun 2. Remaja 14-20 tahun 3. Dewasa 20-29 tahun 4. Orang tua 29 tahun keatas Anak-anak sering disebut dengan Dream Target karena anak-anak cenderung peka terhadap merek, dan tidak sensitif terhadap harga. Peningkatan penghasilan di kota-kota besar, membuat keluarga-keluarga mempunyai anak yang lebih sedikit, tetapi memiliki penghasilan yang lebih baik. Dengan demikian, orang tua mengalokasikan penghasilan yang lebih besar untuk anaknya. Ciri-ciri keluarga di kota besar : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Istri bekerja, keluarga dengan penghasilan ganda Menunda usia perkawinan Menunda kelahiran anak pertama Jumlah anak sedikit Ingin memberi kualitas pada anak-anak Ada rasa bersalah di hati orang tua, ketika meninggalkan anakanaknya untuk bekerja 7. Sebagian anak-anak dibesarkan oleh keluarga besar, pembantu, atau baby sitter Menurut Mowen (1977), ada tiga jenis pasar anak-anak: 1. Pasar utama Anak-anak adalah konsumen utama produk-produk tertentu seperti makanan, mainan, pakaian, dan sebagainya. 2. Pasar pengaruh Anak-anak mempengaruhi orangtuanya, memutuskan produkproduk yang dibelanjakannya. Dimana anak-anak membuka hati orang dewasa lewat iklan-iklan dan impiannya. 3. Pasar Masa Depan Dipercayai pula siapa yang bisa menguasai otak anak-anak, ia akan menguasai masa depannya.

2.1.3.2 Gender Gender hanya terbagi menjadi dua kelompok yaitu laki-laki dan perempuan. Akan tetapi dalam hubungannya dengan produk-produk, segmentasi gender lebih mengarah pada gaya hidup, seperti gaya hidup, pakaian, rokok, sepatu, kendaraan, sepatu, peralatan rumah tangga dan sebagainya. Terdapat beberapa mitos tentang gender di Indonesia : 1. Wanita adalah pembelanja 2. Pria adalah pengambil keputusan big-ticket items (seperti mobil barang-barang durabel, travel dan sebagainya) 3. Anak-anak adalah tanggung jawab ibu 4. Dunia kerja adalah dunia laki-laki 5. Wanita adalah emosional, sedang pria adalah rasional Pada saat ini mitos diatas mulai bergeser posisinya menjadi : 1. Wanita terbiasa dengan small-ticket items, tetapi wanita sekarang memiliki posisi tawar menawar yang lebih kuat dalam rumah tangganya. 2. Kalau wanita lebih berpendidikan dan posisi tawar menawarnya lebih kuat, big-ticket items diputuskan bersamasama 3. Trend new man, melahirkan pasangan baru yang merawat anak bersama-sama 4. Wanita perkotaan cenderung bekerja 5. Pria pun bisa emosional bila berhadapan dengan small-ticket items. 2.1.3.3 Family Life-cycle Daur hidup dari keluarga berkembang dari belum menikah (single), baru menikah tapi belum punya anak, menikah dengan memiliki anak-anak usia balita, menikah dengan memiliki anak usia remaja, menikah dengan memiliki anak-anak yang telah dewasa, tua dengan anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri, dan keluarga kepompong (keluarga yang sudah ditingggalkan anak-anaknya) 2.1.3.4 Pekerjaan Setiap jenis pekerjaan konsumen akan menentukan pola hidup konsumsinya. Pada segmen pekerjaan dapat dikelompokkan pada beberapa jenis yaitu : Pemerintah dan Swasta. 2.1.3.5 Pendidikan Setiap pendidikan yang telah berhasil dicapai oleh konsumen akan menentukan pendapat dan kelas sosial, serta tingkat intelektualitas konsumen tersebut. Pendidikan saat ini dapat dikelompokkan pada beberapa tingkat yaitu : tidak bersekolah, SD (tidak tamat), SD (tamat), SMP, SMA, Akademi, Universitas (S1, S2, S3). 2.1.3.6 Agama Segmentasi cara ini umumnya sangat sensitif dan memerlukan keseriusan dalam menjalin hubungan dengan konsumennya. Segmentasi berdasarkan agama hanya dapat diterapkan pada komoditi tertentu yang pasarnya amat sensitif terhadap simbol-simbol agama.

2.1.3.7 Suku dan Kebangsaan Produsen juga dapat melakukan segmentasiberdasarkan suku atau kebangsaan konsumennya sepanjang suku0suku tersebut memiliki perbedaan yang mencolok dalam hal kebiasaan-kebiasaan dan kebutuhan-kebutuhannya apabila dibandingkan dengan suku lainnya. Selain itu tentu saja segmennya harus cukup besar, potensial, dan memiliki daya beli yang cukup tinggi. 2.1.3.8 Kelas sosial Lloyd Warner membagi pasar ke dalam 6 kelas sosial, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kelas atas (A+) Kelas atas bagian bawah (A) Kelas menengah atas (B+) Kelas menengah bawah (B) Kelas bawah bagian atas (C+) Kelas bawah bagian bawah (C)

2.1.3.9 Geografis Segmentasi geografis berdasarkan area. Geografis ini dapat diukur dengan kode pos, metropolitan, urbanisasi, ruralisasi; kota, desa, luar kota, sub urban, pusat kota; propinsi, regional, negara anggota kesatuan atau asosiasi politik/ekonimi (seperti ASEAN) 2.1.4 Keluarga

Keluarga adalah sama dengan perusahaan, keluarga adalah organisasi yang terbentuk untuk mencapai fungsi tertentu yang lebih efektif dibandingkan individu yang hidup sendiri. Dalam keluarga terdapat empat variable yang sangat berpengaruh atau memiliki dampak pada keputusan pembelian, yaitu : a. Usia kepala rumah tangga b. Status perkawinan c. Kehadiran anak d. Status pekerjaan Dalam segmentasi pasar keluarga dapat dilakukan dengan membedakan pasar menurut besarnya anggota keluarga. Ukuran keluarga dibagi menjadi dua yaitu : 1. Keluarga yang hanya terdiri dari keluarga inti saja tanpa campur tangan keluarga besar 2. Extended family (dengan paman, bibi, kakek-nenek)

2.1.5

Individu Setiap individu memiliki sejumlah kebutuhan keinginan, dan aspirasi yang unik. Namun, para pemasar beruntung karena kebutuhan dan keinginan tertentu dipergunakan bersama-sama oleh sejumlah besar konsumen, sehingga produk atau jasa dapat dikembangkan untuk memenuhinya. Johnstone psikolog inggris mengemukakan tipe-tipe konsumen sebagaimana diuraikan oleh Faisal Affif (1981:39) antara lain :

1. Pembeli pria Mudah terpengaruh oleh bujukan penjual Sering tertipu karena tidak sabaran untuk memilih dulu sebelum membeli sesuatu Punya perasaan kurang enak jika memasuki toko tanpa membeli sesuatu Kurang begitu berminat untuk berbelanja sehingga sering terburu-buru mengambil keputusan pembeli Mudah dipengaruhi oleh nasihat yang baik, argumentasi yang objektif 2. Pembeli wanita Tidak mudah terbawa arus atau bujukan penjual Lebih tertarik pada warna dan bentuk, bukan pada kegunaannya karena wanita lebih perasaan daripada pria Juga lebih tertarik pada gejala mode, terutama pada remaja putri dan bahkan belakangan ini remaja putra pun mulai tertarik Mementingkan status sosial, dalam hal ini wanita jauh lebih peka Menyenangi hal-hal yang romantis daripada yang objektif. Ini bisa anda perhatikan pada bunyi reklame yang biasanya berkisar antara kesejahteraan anak, kebahagiaan rumah tangga, kesehatan suami dan sebagainya Mudah meminta pandangan, pendapat, ataupun nasihat dari orang lain Kurang begitu tertarik pada hal-hal teknis dari barang yang akan dibeli Senang berbelanja sehingga seringkali sukar untuk cepat menentukan barang mana yang akan dibeli Cepat merasakan suasana toko 3. Pembeli remaja Remaja amat mudah terpengaruh oleh rayuan penjual Mudah terbujuk rayuan iklan, terutama pada erapian kertas bungkus (apalagi jika dihiasi dengan warna-warna yang menarik). Tidak berpikir hemat Kurang realistis, romantis, dan mudah terbujuk (impulsif) 4. Pembeli lanjut usia Umumnya kelompok ini memiliki pola berfikir yang sesuai dengan pengalaman hidupnya. Sering kali menampakkan tingkah laku seolah-olah mereka adalah yang terpandak; penjual sering dianggap sebagai anak kecil yang tidak mengetahui apapun (seperti anak yang baru lahir) Tidak bisa mengikuti perputaran zaman sehingga sering menanyakan barang-baarang yang sudah tidak diproduksi lagi (bahkan barang tersebut sudah berubah bentuk ataupun kualitas) sehingga seringkali gagasan mereka ini terasa kolot. Tidak terburu-buru dalam membeli barang, bahkan senang berbincang-bincang dulu dengan penjual (untuk sekedar meluapkan kesunyian dirumah)

Kehidupan sekarang dirasakannya amat tidak menyenangkan sebab zaman sekarang adalah zaman tergesa-gesa. Mereka umumnya bertindak lamban dalam membeli barang Bersikap tenang dan ramah, terutama kaum wanitanya cenderung untuk menunjukkan rasa keibuan kepada yang lebih muda (juga kepada pelayan toko)

Bab III PENUTUP

3.1

Kesimpulan Segmentasi pasar didefinisikan sebagai pemilahan pasar menjadi bagianbagian konsumen tertentu yang memiliki kebutuhan dan keinginan yang hampir sama, dimana setiap kelompok dapat dicapai dengan bauran pemasaran yang berbeda. Segmen yang berguna memiliki karakteristik dapat diukur, dapat dicapai, dan banyak jumlahnya. Keunggulan segmentasi adalah memungkinkan perusahaan menyesuaikan bauran pemasaran untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dari subbagian konsumen yang homogen. Karena setiap subbagian ini memiliki kebutuhan dan keinginan tertentu yang tidak terpenuhi oleh kelompok konsumen yang lebih besar, maka segmentasi memperluas pasar potensialnya untuk kelas produknya yang bersifat umum. Daftar Pustaka Prabu,anwar.2009.Perilaku Konsumen.Bandung: PT Refika Aditama. John C. Mowen and, Michael Minor.2002.Perilaku Konsumen edisi kelima jilid satu.Jakarta: Erlangga James F. Engel,dkk.1994.Perilaku Konsumen edisi keenam jilid satu.Jakarta: Binarupa Aksara.

3.2