Anda di halaman 1dari 193

PENDIDIKAN PANCASILA

EDISI REVISI

BAHAN AJAR
Ikhtisar/Butir-butir Bahan Diskusi untuk Mahasiswa Strata Satu di Lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Suryakancana Cianjur

Disusun Oleh : Drs. DJUNAEDI SAJIDIMAN, MM, M.Pd.

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SURYAKANCANA CIANJUR


- 2013-

KATA PENGANTAR

Sesuai dengan tugas untuk memberikan materi kuliah Pendidikan Pancasila di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pendidikan (FKIP) dalam lingkungan Universitas Suryakancana Cianjur, penulis mencoba membuat ikhtisar berupa butirbutir bahan diskusi untuk memudahkan para mahasiswa strata satu berdiskusi pada waktu perkuliahan. Bahan ajar atau diktat ini adalah revisi yang kedua kali, disesuaikan dengan perkembangan keadaan kenegaraan dewasa ini, di samping perubahan teknis penyajiannya, dan juga koreksi terhadap kesalahan-kesalahan ketik. Bahannya diambil dari berbagai buku sumber dan bahan pendukung lainnya, mengacu kepada Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi, dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi No. 2393/D/T/2009 tentang Penyelenggaraan Perkuliahan Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Untuk pengayaan dan pendalaman materi, para mahasiswa dianjurkan untuk mempelajari lebih lanjut buku-buku yang penulis pergunakan, yang dicantumkan juga dalam daftar kepustakaan. Semoga kiranya bermanfaat.

Cianjur, Agustus 2013. Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ................................................... DAFTAR ISI .............................................................. BAB I. PENDAHULUAN .................................................. A. VISI, MISI, TUJUAN, DAN KOMPETENSI ............................................................ B. METODOLOGI PEMBELAJARAN .......................................................................... C. DASAR SUBSTANSI KAJIAN (POKOK BAHASAN) ............................................... i ii
1 2 3 4 5 5 7 10 10 15 32 47 47 54 70 70 74 75 77 78 79 80 81 82 83 86 87 90 94 99

BAB II. LANDASAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA .............................


A. LANDASAN .............................................................................................................. B. TUJUAN ...................................................................................................................

BAB III. PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH PERJUANGAN BANGSA ............


A. MASA KEJAYAAN NASIONAL ................................................................................ B. MASA PERJUANGAN MELAWAN SISTEM PENJAJAHAN ................................... C. MASA PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN DAN MENGISI KEMERDEKAAN .

BAB IV. PENGERTIAN DAN HAKIKAT PANCASILA ........................................................


A. PENGERTIAN PANCASILA ...................................................................................... B. HAKIKAT PANCASILA ..............................................................................................

BAB V. PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT .............................................................................


A. B. C. D. E. F. G. PENGERTIAN FILSAFAT . ALIRAN, OBYEK, CABANG, TUJUAN, DAN KEGUNAAN FILSAFAT PEMBAHASAN PANCASILA SECARA ILMIAH . PANCASILA DITINJAU DARI TINGKATAN ILMIAH .. NILAI-NILAI PANCASILA BERWUJUD DAN BERSIFAT FILSAFAT . PENGERTIAN PANCASILA SECARA FILSAFAT . PANCASILA SEBAGAI DASAR DAN ARAH KESEIMBANGAN ANTARA HAK DAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA . H. ALASAN PRINSIP PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP DAN IDEOLOGI.

BAB VI. PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL .....................................................


A. B. C. D. E. F. PENGERTIAN IDEOLOGI UNSUR-UNSUR IDEOLOGI .. MAKNA IDEOLOGI BAGI NEGARA PERBANDINGAN IDEOLOGI PANCASILA DENGAN IDEOLOGI LAIN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA .. PENERAPAN IDEOLOGI PANCASILA

ii

BAB VI. PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK ................................................................... 101


A. B. C. D. E. PENGERTIAN NILAI, MORAL, ETIKA, NORMA, DAN POLITIK ........................... NILAI DASAR PANCASILA ....................................................................................... KONSEP NEGARA PANCASILA ............................................................................... IDE POKOK KEBANGSAAN INDONESIA ................................................................ ETIKA POLITIK PANCASILA ..................................................................................... 101 118 120 120 121

BAB VIII. PANCASILA DALAM KONTEKS KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA ............................................................................................................................. 126
A. PENGERTIAN, KEDUDUKAN, SIFAT, DAN FUNGSI UNDANG-UNDANG DASAR 1945 .. 126 B. PEMBUKAAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 ................................................. 137 C. STRUKTUR PEMERINTAHAN NEGARA RI BERDASARKAN UUD 1945 .............. 144

BAB IX. PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA, DAN BERNEGARA .......................................................................... 182
A. PENGERTIAN PARADIGMA ..................................................................................... B. PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN ........................................ C. PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA PENGEMBANGAN IPOLEKSOSBUDHANKAMAG ..................................................................................................................... D. AKTUALISASI NILAI-NILAI PANCASILA .................................................................. E. TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI ....................................................................... F. BUDAYA AKADEMIK ............................................................................................... G. KAMPUS SEBAGAI MORAL FORCE PENGEMBANGAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA ...................................................................................................... H. HAK ASASI MANUSIA .............................................................................................. 182 182 185 188 189 191 193 194 202

PEDOMAN PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN PANCASILA (P-4) ............................

DAFTAR KEPUSTAKAAN ............................................................................................................. 206

-djuns-

iii

BAB I PENDAHULUAN

Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi berpedoman kepada Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Dalam keputusan ini Pendidikan Pancasila termasuk materi kuliah yang disatukan dalam Pendidikan Kewarganegaraan, sehingga karenanya banyak mendapat kritik dari berbagai kalangan akademisi. Sebenarnya secara normatif Pendidikan Pancasila memperoleh dasar legalitasnya dalam Pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Karena itu Dirjen Dikti kemudian mengeluarkan Surat Edaran No. 2393/D/T/2009 tentang Penyelenggaraan Perkuliahan Pancasila di Perguruan Tinggi, sebagai hasil Simposiun Nasional III Pendidikan Pengembangan Kepribadian tahun 2006 di Semarang, dan ditindaklanjuti dengan diadakannya beberapa kali simposium berikutnya, yang menghasilkan keputusan tentang penerapan Matakuliah Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi, di antaranya : 1. Hasil Simposium Nasional IV Pendidikan Pengembangan Kepribadian Tahun 2009 di Semarang. 2. Hasil Simposium Nasional Pendidikan Pancasila sebagai Pendidikan Kebangsaan Tahun 2009 di UPI Bandung. 3. Hasil Kongres Pancasila Tahun 2009 di UGM Yogyakarta. 4. Hasil Tim Pengkajian Penerapan Matakuliah Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi Tahun 2009. Dari ketentuan-ketentuan tersebut di atas, harus difahami bahwa Pendidikan Pancasila sebagai pendidikan yang akan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak bangsa yang didasarkan pada nilai-nilai yang tumbuh, hidup, dan berkembang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini selaras dengan tujuan

pendidikan nasional, yaitu ...berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,

sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

A. VISI, MISI, TUJUAN, DAN KOMPETENSI Visi, misi, tujuan, dan kompetensi Pendidikan Pancasila mengacu pada visi, misi, tujuan, dan kompetensi Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), yaitu : 1. Visi : Kelompok MPK di perguruan tinggi merupakan sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelenggaraan program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadiannya sebagai manusia Indonesia seutuhnya. 2. Misi : Membantu mahasiswa agar mampu memantapkan kepribadiannya untuk

secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebudayaan, rasa kebangsaan, dan cinta tanah air sepanjang hayat dalam menguasasi, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang dimilikinya dengan rasa tanggung jawab. 3. Tujuan : Mempersiapkan mahasiswa agar dalam memasuki kehidupan bermasyarakat dapat mengembangkan kehidupan pribadi yang memuaskan, menjadi anggota keluarga yang bahagia, serta menjadi warga negara yang berkesadaran kebangsaan yang tinggi dan bertanggung kawab kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila. 4. Kompetensi : a. Standar Kompetensi yang wajib dikuasai mahasiswa : 1) Pengetahuan tentang nilai-nilai agama, budaya, dan kewarganegaraan, dan mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya seharihari; 2

2) Memiliki kepribadian yang mantap; 3) Berpikir kritis, bersikap rasional, etis, estetis, dan dinamis; 4) Berpandangan luas; 5) Bersikap demokratis yang berkeadaban. b. Kompetensi Dasar : Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu menjadi ilmuwan yang profesional yang memiliki rasa kebangsaan (nasionalisme) dan cinta tanah air (patriotisme), demokratis yang berkeadaban, menjadi warga negara yang memiliki daya saing, berdisiplin, dan berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan yang damai berdasarkan sistem nilai Pancasila.

B. METODOLOGI PEMBELAJARAN 1. Pendekatan : Menempatkan mahasiswa sebagai subyek pendidikan, mitra dalam proses pembelajaran, dan sebagai umat/pribadi, anggota keluarga, masyarakat, dan warga negara yang baik. 2. Metode Proses Pembelajaran : Pembahasan secara kritis, analitis, induktif, deduktif, dan reflektif melalui dialog yang bersifat partisipatoris untuk meyakini kebenaran substansi dasar kajian Pancasila. 3. Bentuk Aktivitas Proses Pembelajaran : Kuliah tatap muka, ceramah, diskusi interaktif, studi kasus, penugasan mandiri, seminar kecil, dan evaluasi proses belajar. 4. Motivasi : Menumbuhkan kesadaran bahwa proses belajar mengembangkan kepribadian merupakan kebutuhan hidup.

C. DASAR SUBSTANSI KAJIAN (POKOK BAHASAN) Dasar substansi kajian atau pokok bahasan Pendidikan Pancasila disusun sebagai berikut : 1. Pendahuluan. 2. Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila. 3. Pancasila dalam Konteks Sejarah Perjuangan bangsa. 4. Pengertian dan Hakikat Pancasila. 5. Pancasila sebagai Filsafat. 6. Pancasila sebagai Ideologi Nasional. 7. Pancasila sebagai Etika Politik. 8. Pancasila dalam Konteks Ketatanegaraan Republik Indonesia. 9. Pancasila sebagai Paradigma dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara.

BAB II LANDASAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA


A. LANDASAN Landasan pendidikan Pancasila dapat ditinjau dari aspek historis (sejarah), kultural (budaya), yuridis (hukum), dan filosofis (filsafat). 1. Historis. a. Pada masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, telah ada nilai-nilai Ketuhanan (kepercayaan kepada Tuhan dan sikap toleransi), kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial; b. Diambil dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam bangsa itu sendiri. Di Indonesia Pancasila.

c. Istilah Pancasila telah dikenal sejak abad XIV di zaman Majapahit dalam buku Negarakertagama karangan Mpu Prapanca, dan Sutasoma Mpu Tantular, yaitu Pancasila Krama, yang berisi : 1) Tidak boleh melakukan kekerasan (ahimsa). 2) Tidak boleh mencuri (asteya). 3) Tidak boleh berjiwa dengki (indriya nigraha). 4) Tidak boleh berbohong (amrsawada). 5) Tidak boleh mabuk minum minuman keras (dama). d. Sejak Indonesia merdeka dan beberapa kali pergantian Undang-Undang Dasar (UUD 1945, Konstitusi RIS, UUDS, dan kembali ke UUD 1945 sampai sekarang) dalam Pembukaannya (Preambule) tetap tercantum nilai-nilai Pancasila. 2. Kultural. a. Setiap bangsa mempunyai pandangan hidup, kepribadian dan jatidirinya. Jika tidak, akan mudah terombang-ambing karena pengaruh yang berkembang dari luar negeri, lebih-lebih sekarang sudah memasuki era globalisasi. 5 karangan

b. Pancasila sebagai kepribadian dan jatidiri bangsa Indonesia merupakan pencerminan nilai-nilai yang tumbuh dalam kehidupan bangsa Indonesia. c. Nilai-nilai yang dirumuskan dalam Pancasila bukan pemikiran satu orang, melainkan pemikiran konseptual dari tokoh-tokoh bangsa seperti Mr. Muhammad Yamin, Mr. R. Supomo, Ir. Sukarno, dll.

3. Yuridis. Secara yuridis, Pancasila : a. Tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945; b. Tercantum dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 maupun penggantinya, yaitu Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; c. Tercantum dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi; d. Tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 (yang isinya a.l. Pendidikan Pancasila adalah wajib); e. Tercantum dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 30 Tahun 1990. f. Tercantum dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/ 2000 (Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi); g. Tercantum dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 (Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi). h. Hasil beberapa kali Simposium Nasional Pendidikan Pengembangan Kepribadian dan Tim Pengkajian Penerapan Matakuliah Pendidikan Pancasila berdasarkan Surat Edaran Dirjen Dikti No. 2393/D/T/2009 yang menetapkan penerapan Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi.

4. Filosofis. a. Secara filosofis dan obyektif, nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila merupakan filosofi bangsa Indonesia; b. Merupakan kewajiban moral untuk merealisasikan nilai-nilai dimaksud dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; c. Sebagai dasar filsafat, Pancasila harus menjadi sumber bagi segala tindakan penyelenggara negara, serta menjadi jiwa dari peraturan perundangundangan yang berlaku; d. Sebagai sumber nilai yang menjiwai pembangunan nasional dalam berbagai bidang (ipoleksosbudhankamag).

B. TUJUAN 1. Tujuan Nasional sekaligus visi Indonesia merdeka sebagaimana tersurat dan tersirat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat adalah Masyarakat Adil dan Makmur Berdasarkan Pancasila (Mas Adam Berdasi). Wujud konkritnya tidak lain adalah sejahtera lahir batin dalam suasana negara yang nyaman, aman tenteram, atau subur makmur, gemah ripah repeh rapih, gemah ripah loh jinawi, sugih mukti, toto trentrem kerto raharjo, atau istilah Ir. Sukarno, subur kang sarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku. Adapun indikator sejahtera adalah : a. Terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, yaitu ekonomi, khususnya daya beli; b. Terpenuhinya derajat kesehatan (masyarakat sehat sentosa); c. Terpenuhinya pendidikan (masyarakat yang cerdas). Inilah yang kemudian dijadikan ukuran kemajuan atau kesejahteraan suatu negara, daerah, ataupun rumah tangga, yang disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM). 2. Tugas atau misi yang harus dilaksanakan dalam rangka mewujudkan cita-cita/ 7

tujuan/visi di atas adalah : a. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; b. Memajukan kesejahteraan umum; c. Mencerdaskan kehidupan bangsa; d. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. 3. Tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB II Pasal 3 jo. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 6 adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 4. Arah dan Tujuan Pendidikan Pancasila : a. Arah : Ditekankan pada moral yang diharapkan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, berupa perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai Pancasila yang memancarkan iman dan taqwa terhadap Tuhan YME dalam setiap kegiatan pribadi, kelompok, masyarakat, bangsa dan negara, dan dijadikan landasan dalam masyarakat yang terdiri dari : 1) Berbagai golongan agama; 2) Kebudayaan dalam beragam kepentingan; 3) Mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan; 4) Beragam pemikiran untuk mendukung upaya terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. a. Tujuan : Menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME dengan sikap dan perilaku serta kompetensi : 1) Memiliki kemampuan untuk mengambil sikap yang bertanggung jawab sesuai dengan hati nuraninya; 2) Memiliki kemampuan untuk mengenali masalah hidup dan kesejahteraan serta cara-cara pemecahannya; 8

3) Mengenali perubahan-perubahan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni; 4) Memiliki kemampuan untuk memaknai peristiwa sejarah dan nilai-nilai budaya bangsa untuk menggalang persatuan Indonesia. b. Tujuan Perkuliahan Pancasila : Agar mahasiswa dapat : 1) Memahami, menganalisis, dan menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan bangsanya secara berkesinambungan, konsisten dengan cita-cita yang digariskan dalam Undang-Undang Dasar 1945; 2) Menghayati filsafat dan tata nilai Pancasila sehingga menjiwai tingkah lakunya sebagai warga negara Republik Indonesia. Pendidikan Pancasila yang berhasil akan membuahkan sikap mental bersifat cerdas dan penuh tanggung jawab dari peserta didik, dengan perilaku yang : a. Beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa; b. Berperikemanusiaan yang adil dan beradab; c. Mendukung dan melaksanakan persatuan bangsa; d. Mendukung dan melaksanakan kerakyatan yang mengutamakan musyawarah mufakat demi kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan atau golongan; e. Mendukung dan melaksanakan upaya mewujudkan keadilan sosial.

BAB III PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH PERJUANGAN BANGSA

A. MASA KEJAYAAN NASIONAL Menurut Mr. Muhammad Yamin, berdirinya negara kebangsaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan kerajaan-kerajaan lama yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Negara kebangsaan justru terbentuk melalui tiga tahap, yaitu : 1. Masa Kerajaan Sriwijaya di bawah wangsa Syailendra (600-1400M) yang bercirikan kedatuan. 2. Masa Kerajaaan Majapahit (1293-1525M) yang bercirikan keprabuan. 3. Masa Negara Kebangsaan Modern (setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945). 1. Masa Kerajaan Sriwijaya (1400-1600M). Sriwijaya di bawah Syailendara adalah kerajaan maritim yang menguasai Selat Malaka, Selat Karimata, dan Selat Sunda, sampai pantai Siam. Kerajaan Melayu di Jambi ditaklukkan pada tahun 686, Bangka tahun 688, demikian juga Tulangbawang di Lampung, Brunai di Kalimantan utara, dan Tarumanagara di Sunda, semuanya di bawah kekuasaan Sriwijaya. Bahkan pada tahun 775 seluruh semenanjung Malaya dikuasai, kemudian Sriwijaya mendirikan ibukota di Ligor sebagai pangkalan armadanya. Di bawah Raja Balaputradewa, cucu keluarga Syailendra dari Jawa Tengah, pada tahun 850 Sriwijaya mengalami kejayaan baik di daratan lebih-lebih di lautan. Pada saat itu bahkan Sriwijaya merupakan pusat pengembangan agama Budha di Asia Tenggara. Dalam pengembangan agama Budha, telah terjalin hubungan yang erat dengan dinasti Tang (618-907) di Cina dan dinasti Harsha di India. Sriwijaya banyak mengirim para pemudanya untuk belajar agama Budha di perguruan tinggi Nalanda di daerah Benggala, India utara, dan di Nagapatnam di pantai

10

Malabar, India selatan. Bahkan kemudian di Sriwijaya sendiri didirikan perguruan tinggi agama Budha. Kesaksian pendeta I Tsing dari cina yang menetap selama 10 tahun di Sriwijaya menceritakan lk. 1.000 orang padri yang menetap di Sriwijaya, di antaranya Dharmapala dari India, dan Sakyakitri dari Sriwijaya sendiri. Karena kebesaran kerajaan Sriwijaya di bidang pelayaran, perniagaan, pusat agama Budha dan kebudayaan di Asia Tenggara, maka mengalirlah kekayaan berupa emas dan perak, sehingga Sriwijaya terkenal dengan sebutan Swarna Dwipa (pulau emas dan perak). Ditinjau dari luasnya kekuasaan, maka sebenarnya Sriwijaya telah merupakan negara nasional besar yang mampu mempersatukan nusantara bagian barat. Pada saat itu telah tumbuh nilai persatuan dan kesatuan bangsa atau nasionalisme. Hubungan persahabatan atas dasar persamaan derajat, kemerdekaan, keadilan, dan perdamaian

saling hormat-menghormati, serta

dengan negara-negara tetangga seperti Cina, India, Siam, Laos, dll. membuktikan telah tumbuhnya nilai politik luar negeri yang bebas aktif. Sistem perdagangan sudah diatur dengan baik, antara lain dibentuk badan yang bertugas mengumpulkan hasil kerajinan rakyat dan memudahkan pemasarannya. Sistem ketatanegaraan dan administrasi pemerintahan telah teratur dan disiplin. Terdapat pegawai pengelola pajak, harta benda kerajaan, dan pengawas teknis pembangunan gedung-gedung. Kehidupan keagamaan, kebudayaan, dan kesenian telah mengalami kebesaran. Hal ini membuktikan pada masa kerajaan Sriwijaya telah tumbuh nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Keadilan Sosial, yang mampu memberikan landasan batin pada jiwa masyarakatnya. Cita-cita kenegaraan

Sriwijaya tercermin dalam perkataan marvuat vannua crivijaya siddhayatra subhiksa (suatu cita-cita yang adil dan makmur). Dokumen tertulis dalam prasasti di Talagabatu, Kedukanbukit, Karangbrahi, Talangtuo, dan Kotakapur, membuktikan nilai-nilai Pancasila telah dihayati dan dilaksanakan, antara lain : a. Nilai Sila Pertama : Umat agama Budha dan Hindu hidup berdampingan secara damai. Terdapat kegiatan pembinaan agama Budha; b. Nilai Sila Kedua : Terjadinya hubungan baik antara Sriwijaya dengan India, Ci11

na, dll. melalui misalnya pengiriman pelajar/mahasiswa. Juga telah dilaku-kan politik luar negeri yang bebas aktif; c. Nilai Sila Ketiga : Menerapkan konsep negara kepulauan sesuai dengan

konsep wawasan nusantara; d. Nilai Sila Keempat : Memiliki kedaulatan sangat luas meliputi Semenanjung Melayu (wilayah RI sekarang), dan Siam; e. Nilai Sila Kelima : Menjadi pusat pelayaran dan perdagangan sehingga

kehidupan rakyat makmur. 2. Masa Kerajaan Majapahit (1293-1478M). Sebelum Majapahit, terdapat kerajaan-kerajaan : Kalingga (abad VII), Sanjaya (abad VIII), Isyana (abad IX), dan Singosari (abad XIII) yang ada sangkut-pautnya dengan munculnya Majapahit. Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya (Brawijaya) pada tahun 1293, dan mencapai puncak kebesarannya pada masa kekuasaan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada. Majapahit adalah kerajaan Hindu dengan pusat kerajaan terletak di daerah sungai Brantas. Sungai dan lembah Brantas yang sangat subur yang

bermuara di Ujung Galuh, merupakan faktor penunjang perkembangan kerajaan ini, baik sebagai negara agraris, maupun sebagai negara maritim, bahkan menjadi pusat pelayaran dan perdagangan serta pangkalan armada laut. Pada masa Hayam Wuruk yang dibantu Gajah Mada, Majapahit berhasil mempersatukan hampir seluruh wilayah nusantara. Pribadi Gajah Mada sebagai pemimpin besar yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk keagungan Majapahit mempunyai ciri-ciri : a. Satya bhakti aprabu (setia bakti kepada negara dan kerajaan); b. Tan satresna (tak pernah memikirkan kepentingan pribadi dan balas jasa); c. Hanyaken musuh (keberanian dan kemampuan menghalau segenap musuh negara); d. Prabu ginung pratina (selalu mengagungkan kebesaran raja dan negara). Tahun 1331 pada saat dilantik menjadi Panglima Mandala dengan tugas menumpas pemberontakan Sadeng, Gajah Mada mengucapkan Sumpah

12

Palapa yang isinya merupakan prasetya kebulatan tekad untuk memp ersatukan seluruh nusantara, yang bunyinya, Tidak akan hamukti (menikmati) palapa sebelum berhasil menguasai dan mempersatukan Gurun, Sarah, Tanjungpura, Haru, Pahan, Dompo, Bali, Palembang, dan Tumasik. Selain berhasil mempersatukan hampir seluruh nusantara, Majapahit pun mengadakan persahabatan dengan negara-negara tetangga atas dasar Mitreka Satata, yaitu persahabatan atas dasar persamaan derajat dan saling hormatmenghormati. Mpu Prapanca seorang pujangga besar Majapahit, menulis buku Negarakertagama pada tahun 1365 yang isinya menceritakan ketatanegaraan Majapahit sebagai berikut : a. Bidang Ketatanegaraan : 1) Negara Pusat/Negara Agung, meliputi ibukota Majapahit yaitu Wilwaltikta, dan daerah sekitarnya antara lain Kediri, Janggala, Singasari, Tuban, dan Madura; 2) Daerah bawahan, meliputi daerah pantai utara Jawa dan daerah seberang. Daerah seberang meliputi Delapan Daerah Mandala yaitu seluruh Jawa, Andalas, Kalimantan (Tanjungnegara), semenanjung Malaya, kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, Maluku, dan Irian (Papua). b. Susunan Pemerintahan : 1) Raja sebagai Kepala Negara/Pemerintahan; 2) Raja didampingi oleh Dewan Mahkota atau Dewan Sapta Prabu, yang terdiri atas tujuh orang keluarga raja, bertugas menangani masalahmasalah istana, pengangkatan pejabat utama, penggantian mahkota, dan masalah-masalah penting lainnya; 3) Dewan Menteri yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dengan tugas menyelenggarakan pemerintahan dan keamanan; 4) Majelis Pendeta atau Dharmadyaksa yang dipimpin oleh Mpu Prapanca dengan anggota pendeta agama Hindu, agama Budha, dan Resi. Selain itu terdapat peninggalan-peninggalan sejarah berupa : Bangunanbangunan candi, seperti : Candi Penataran di Blitar, Candi Kedaton di Besuki, dan 13

candi Sukuh di lereng Gunung Lawu. Bangunan-bangunan istana, pintu gerbang, tempat pemandian (Pandaan, Trowulan) dan kanal-kanal. Buku-buku kropak yang ditulis pada daun lontar selain Negarakertagama, antara lain : Buku

Pararaton, Kitab Kidung Ranggalawe, Kidung Sorandaka, dan Kidung Sundayana, serta Kitab Syair Sutasoma karangan Mpu Tantular yang di dalamnya ada motto Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua. (Berbeda-beda tetapi satu jua adanya, dan pada hakikatnya tak ada perbedaan tujuan pada tiaptiap agama). Terdapat juga cap kerajaan Majapahit berupa Garuda Mukha. Dalam kehidupan keagamaan, raja memeluk agama campuran Hindu, Budha, dan unsur agama asli, yaitu syncretisme. Unsur-unsur kebudayaan sangat tinggi, yaitu kepercayaan kepada zat mutlak/ruh, Hyang Tunggal/Esa, gotong royong, kekeluargaan, musyawarah, toleransi hidup beragama, bercocok tanam di sawah dan ladang, batik, wayang, rithme, tata masyarakat yang teratur di bawah hukum adat, ilmu falak, perahu bercadik, alat lalu lintas, persenjataan, dan alat-alat pertanian. Dari hal-hal yang dikemukakan di atas, jelaslah di Majapahit telah ada pengamalan Pancasila yang mapan, yaitu : a. Nilai Sila Pertama : Agama Budha dan Hindu hidup berdampingan secara damai; b. Nilai Sila Kedua : Terdapat hubungan baik antara Raja Hayam Wuruk dengan kerajaan Cina, Ayodya, Champa, India, Kamboja, dan negara-negara tetangga lainnya atas dasar mitreka satata; c. Nilai Sila Ketiga : Terwujud keutuhan kerajaan sesuai dengan Sumpah

Palapa Mahapatih Gajah Mada yang berisi cita-cita mempersatukan seluruh wilayah nusantara; d. Nilai Sila Keempat : Kerukunan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat telah menumbuhkan adat bermusyawarah untuk mufakat. lembaga penasihat raja seperti Rakryan I Hino, I Sirikan, dan I Halu; e. Nilai Sila Kelima : Ditopang dengan kemakmuran rakyat. Terdapat

14

B. MASA PERJUANGAN MELAWAN SISTEM PENJAJAHAN 1. Perjuangan Sebelum Abad XX. Kesuburan wilayah Indonesia yang melimpah ruah terutama rempah-rempah yang sangat dibutuhkan, menarik bangsa-bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda) masuk ke Indonesia yang mulanya berdagang, tetapi kemudian menjajah. Perlawanan terhadap penjajah pada abad VII dan VIII digerakkan antara lain oleh Sultan Agung Mataram (1645), Sultan Agung Tirtayasa Banten dan Sultan Hasanuddin di Makassar (1660), Iskandar Muda di Aceh (1635), Untung Surapati dan Trunojoyo di Jatim (1670), Ibnu Iskandar di Minangkabau (1680), dll. Demikian juga Pattimura di Maluku (1817), Imam Bonjol di Minangkabau (1822-1837), Pr. Diponegoro di Jawa Tengah, (18251830), Badaruddin di Palembang (1817), Pr. Antasari di Kalimantan (1860), Jelantik di Bali (1850), Anak Agung Made di Lombok (1895), Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro dan Cut Nyak Din di Aceh (1873-1904), Sisingamangaraja XII di Sumatera Utara (1900), dll.

2. Kebangkitan Nasional 1908 dan Sumpah Pemuda 1928. Salah satu kegagalan perjuangan mengusir penjajah sebelum abad XX tersebut di atas, adalah karena tidak adanya persatuan dan kesatuan serta belum terorganisasi dengan baik. Sadar akan kegagalan tersebut, tanpa melihat ras,

agama, suku bangsa, budaya, bahasa, dll., maka dengan perasaan senasib dan sepenanggungan, akhirnya bangsa Indonesia bersatu mendirikan organisasiorganisasi perjuangan yang dimulai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo. Pendirian BO diilhami cita-cita untuk meningkatkan kedudukan dan martabat rakyat yang dikampanyekan oleh dr. Wahidin Sudirohusodo kemudian disambut dengan baik oleh para pelajar STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) atau sekolah dokter Jawa, dan Sutomo diangkat sebagai ketua. (Marwati, V,1993:177). Setelah BO kemudian bermunculan organisasi-organisasi perjuangan dan keagamaan seperti Sarekat Dagang Islam oleh K.H. Samanhudi (1909) yang

15

kemudian berubah menjadi Sarekat Islam oleh H.O.S. Cokroaminoto, (1911), Muhammadyah oleh K.H. Ahmad Dahlan, Insische Partij oleh Douwes Dekker, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara), dan dr. Cipto Mangunkusumo (1913), Partai Nasional Indonesia oleh Ir. Sukarno (1927), dll. Dengan organisasiorganisasi tersebut maka perjuangan rakyat Indonesia disebut pergerakan nasional Indonesia. Kebulatan tekad untuk makin mengokohkan perjuangan kemerdekaan tercapai dengan adanya Kongres Pemuda kedua yang diselenggarakan di Jakarta dari tanggal 26 s/d 28 Oktober 1928 yang pada acara penutupannya pada tanggal 28 diucapkan Sumpah Pemuda. Para peserta kongres pemuda itu adalah para pemuda dari berbagai wilayah (Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumateranen Bond, Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Celebes, Timorees Verbond, Pemuda Pasundan, dll.), dengan tokoh di antaranya Mr. Muhammad Yamin, Kuncoro Purbopranoto, dan Wongsonegoro. Isi sumpah pemuda adalah : a. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. b. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. c. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. 3. Perjuangan pada Masa Penjajahan Jepang. Tanggal 7 Desember 1941 meletus Perang Fasifik dengan pengeboman Pearl Harbour oleh Jepang. Dengan cepat Jepang merebut daerah-daerah penjajahan Sekutu termasuk Indonesia. Tanggal 8 Maret 1942 Jepang masuk ke Indonesia dengan mendarat di Kalijati Subang dan menerima penyerahan kekuasaan dari Belanda. Jepang mempropagandakan kehadirannya di Indonesia untuk membebaskan bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajah Belanda dengan Gerakan Tiga A (Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia). Jepang juga mengaku bahwa bangsa Indonsesia adalah saudara tua bagi Jepang.

16

Jepang membolehkan pengibaran bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, bahkan sekaligus menjanjikan kemerdekaan Indonesia di kelak kemudian hari. Tetapi sebenarnya ini semua hanyalah tipu muslihat

semata. Untuk merealisasikan janjinya, pada tanggal 1 Maret 1945 pemerintah pendudukan Jepang di bawah pimpinan Letjen Kumakici Harada mengumumkan pembentukan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, yaitu Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Inipun dilakukan karena Jepang menghadapi situasi yang kritis mengingat seluruh garis pertahanannya di Fasifik mulai bobol oleh Sekutu sehingga perlu adanya dukungan dari rakyat Indonesia. Peresmian BPUPKI diumumkan pada tanggal 29 April 1945 dengan Ketua diangkat dr. K.R.T. Rajiman Wedyodiningrat. Di BPUPKI inilah dirumuskan dasar negara apabila kelak Indonesia merdeka. Rumusan-rumusan dimaksud antara lain dikemukakan oleh Mr. R. Supomo, Mr. Muhammad Yamin, dan Ir. Sukarno, pada tanggal 29 Mei, 1 Juni, dan 22 Juni 1945 yang kemudian menghasilkan Piagam Jakarta (Jakarta

Charter). 4. Proses Perumusan Dasar/Falsafah Negara Pancasila. Sebagaimana telah dikemukakan di muka, pada tanggal 8 Maret 1942 Jepang mendarat di Indonesia. Dengan penyerahan tanpa syarat oleh Letjen H. Ter Poorten, Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda atas nama Angkatan Perang Serikat (Sekutu) di Indonesia kepada tentara ekspedisi Jepang di bawah pimpinan Letjen Hitoshi Imamura, maka berakhirlah pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia (Marwati,VI, 1993:5). Pada tanggal 7 September 1944 di dalam sidang istimewa ke 85 Teikoku Ginkei (Parlemen Jepang) di Tokyo, Perdana Menteri Koiso (pengganti PM Tojo) mengumumkan tentang pendirian pemerintah kemaharajaan Jepang, bahwa daerah Hindia Timur (Indonesia) diperkenankan merdeka kelak di kemudian hari. Janji kemerdekaan ini sebenarnya bukan karena Jepang mempunyai niat baik, akan tetapi karena semakin terjepitnya angkatan perang Jepang. Bahkan kepulauan Saipan jatuh ke tangan Amerika Serikat, yang menimbulkan kegon-

17

cangan dalam masyarakat Jepang. Hal ini diperparah karena produksi perang merosot, yang mengakibatkan kurangnya persediaan senjata dan amunisi, ditambah soal-soal logistik karena hilangnya sejumlah kapal angkut dan kapal perang. Dengan demikian janji kemerdekaan itu hanyalah taktik belaka dari Jepang supaya rakyat di daerah pendudukan (Indonesia) menyambut baik dan membantu Jepang. Langkah nyata pertama bagi pelaksanaan janji PM Koiso tentang kemerdekaan Indonesia kelak di kemudian hari itu pada tanggal 1 Maret 1945 diumumkan oleh pemerintah pendudukan Jepang di Jawa di bawah pimpinan Letjen Kumakici Harada, dengan pembentukan BPUPKI, yang peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 29 April 1945. Adapun susunan pimpinan dan anggota BPUPKI dimaksud (Ismaun, 1977:112-113) secara lengkap adalah : Ketua (Kaityoo) : dr. K.R.T. Rajiman Wedyodiningrat.

Ketua Muda (Fuku Kaityoo) : R. Panji Soeroso. Ketua Muda (Fuku Kaityoo) : Itibangse Yosio. Anggota-anggota adalah orang Indonesia atau yang merasa dirinya senasib dengan bangsa Indonesia, yaitu : 1. Ir. Sukarno 2. Mr. Muhammad Yamin 3. Dr. R. Kusumah Atmaja 4. R. Abdurrahim Pratalykrama 5. R. Aris 6. Ki Hajar Dewantara 7. Ki Bagus Hadikusumo 8. B.P.H. Bintoro 9. K.H. Abdul Kahar Muzakkir 10. B.P.H. Purboyo 11. R.A.A. Wiranatakusumah 12. R. Ashar Sutejo Munandar 13. Oei Tjiang Tjoei 14. Drs. Mohamad Hatta 18

15. Oei Tiong Hauw 16. H. Agus Salim 17. M. Sutarjo Kartohadikusumo 18. R.M. Margono Joyohadikusumo 19. K.H. Abdul Halim 20. K.H. Masykur 21. R. Sudirman 22. Prof. Dr. P.A. Husein Jayadiningrat 23. Prof. Dr. Mr. R. Supomo 24. Prof. Ir. R. Rooseno 25. Mr. R.P. Singgih 26. Mr. Ny. Maria Ulfah Santoso 27. R.M.T.A. Suryo 28. Ruslan Wongsokusumo 29. Mr. R. Susanto Tirtoprojo 30. Ny. R.S.S. Sunaryo Mangunpuspito 31. Dr. R. Buntaran Martoatmojo 32. Liem Koen Hian 33. Mr. J. Latuharhary 34. Mr. R. Hendromartono 35. Sukarjo Wiryopranoto 36. H. Ahmad Sanusi 37. A.M. Dasaad 38. Mr. Tan Eng Hoa 39. Ir. R.M.P. Surachman Cokroadisuryo 40. R.T.A. Sumitro Kolopaking Purbonegoro 41. K.R.M. Wuryaningrat 42. Mr. Ahmad Subarjo 43. Prof. Dr. R. Jenal Asikin Wijayakusumah 44. Abikusno Cokrosuyoso 45. Parada Harahap 19

46. Mr. R. Sartono 47. K.H. Mas Mansur 48. Dr. K.R.T.A. Sastrodiningrat 49. Mr. R. Suwandi 50. K.H. Wahid Hasyim 51. R.F. Dahler 52. Dr. Sukiman Wiryosanjoyo 53. Mr. K.R.T.M. Wongsonegoro 54. R. Oto Iskandar Dinata 55. A.R. Baswedan 56. Abdul Kadir 57. Ir. Samsi 58. Mr. A.A. Maramis 59. Mr. R. Samsudin 60. Mr. R. Sastromulyono Persidangan BPUPKI dibagi dua masa sidang, yaitu masa sidang pertama yang disebut Babak Perancangan, dilaksanakan dari tanggal 29 Mei s/d 1 Juni 1945 yang menghasilkan usulan-usulan rumusan dasar negara, serta masa sidang kedua yang disebut Babak Perumusan, dilaksanakan dari tanggal 10 s/d 17 Juli yang menghasilkan rumusan hukum dasar negara. Yang diuraikan di bawah ini hanya masa persidangan pertama dari tanggal 29 Mei s/d 1 Juni 1945 karena hanya akan membicarakan proses perumusan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. a. Pada tanggal 29 Mei 1945 sidang pertama dibuka oleh Ketua, dr. K.R.T. Rajiman Wedyodiningrat. Sidang ini dimaksudkan untuk mencari dan merancang dasar negara Indonesia yang akan merdeka. Pada kesempatan ini Mr. Muhammad Yamin berpidato menyampaikan prasaran (usul) berjudul Asas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia. Usul yang beliau sampaikan tentang dasar negara Indonesia yang akan merdeka itu terdiri atas lima asas dan dasar : 1) Peri Kebangsaan. 20

2) Peri Kemanusiaan. 3) Peri Ke-Tuhanan. 4) Peri Kerakyatan. 5) Kesejahteraan Rakyat. Ke lima asas ini tidak diberi nama dan beliau pun tidak mengemukakan ringkasan atau perasan asas-asas dimaksud, tetapi malah secara panjang lebar menguraikan asas-asas tersebut dengan segala persyaratan rancangan dasar negara serta perbandingan-perbandingannya. Setelah berpidato, beliau pun saat menyampaikan usul tertulis mengenai rancangan Undang-Undang Dasar (UUD) RI, di dalam Pembukaannya tercantum rumusan lima asas negara yang berbunyi : 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kebangsaan Persatuan Indonesia; 3) Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab; 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonbesia. b. Pada tanggal 31 Mei 1945, bertempat di gedung Chuuo Sangiin Jakarta, sidang BPUPKI mendengarkan pidato Mr. R. Supomo dan Mr. Muhammad Yamin. Mr. R. Supomo menguraikan tentang teori negara secara yuridis, politis, dan sosiologis, syarat-syarat berdirinya negara, bentuk negara dan bentuk pemerintahan, serta hubungan antara negara dengan agama. Mr. Muhammad Yamin menguraikan panjang lebar tentang daerah negara, kebangsaan Indonesia atas dasar tinjauan yuridis, historis, politis, sosiologis, geografis, dan konstitusional yang meliputi seluruh nusantara raya. c. Pada tanggal 1 Juni 1945, giliran Ir. Sukarno berpidato mengemukakan pendapatnya. Pidato beliau disampaikan secara lisan sebagai cetusan hatinya tanpa disiapkan lebih dulu dalam bentuk teks tertulis, tetapi dicatat secara stenografis oleh notulis. Usul dasar negara yang beliau kemukakan terdiri atas lima asas atau prinsip yang diberinya nama Pancasila, yang berisi lima asas

21

pokok fundamental yang merupakan satu rangkaian kesatuan yang bulat, yaitu : 1) Kebangsaan Indonesia. 2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan. 3) Mufakat atau Demokrasi. 4) Kesejahteraan Sosial. 5) Ke-Tuhanan. Kendati Pancasila itu sudah menjadi keyakinan beliau untuk dijadikan dasar filsafat negara Indonesia merdeka, namun beliau terlebih dulu menawarkan kepada sidang untuk mempersilakan memilih bilangan asas/dasar negara yang disepakati bersama, dengan alternatif Pancasila boleh diperas menjadi tiga (Trisila), yaitu : 1) Socio-Nationalism (Kebangsaan dan Perikemanusiaan). 2) Socio-Democratie (Demokrasi dan Kesejahteraan). 3) Ke-Tuhanan. Selanjutnya beliau menjelaskan lagi bahwa kita mendirikan negara Indonesia yang kita harus mendukungnya, bukan dari satu orang maupun satu golongan, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua. Jadi yang lima dapat diperas menjadi tiga, dan yang tiga dapat diperas lagi menjadi satu, maka dapatlah diberi nama satu perkataan Indonesia, yaitu Gotong-Royong (Ekasila). d. Setelah pidato Ir. Sukarno, pada tanggal 1 Juni 1945 itu sidang BPUPKI belum mencapai kata sepakat mengenai dasar/filsafat negara Indonesia yang akan merdeka. Maka dibentuklah satu panitia kecil yang bertugas memeriksa usulusul yang masuk untuk ditampung dan dilaporkan pada sidang pleno BPUPKI kelak pada masa sidang kedua. Panitia itu dinamakan Panitia Delapan karena terdiri dari delapan orang, yaitu : 1) Ir. Sukarno sebagai Ketua (Syuusa) merangkap anggota; 2) Ki Bagus Hadikusumo, anggota; 3) K.H. Wahid Hasyim, anggota; 4) Mr. Muhammad Yamin, anggota; 22

5) M. Sutarjo Kartohadikusumo, anggota; 6) Mr. A.A. Maramis, anggota; 7) R. Oto Iskandar Dinata, anggota; 8) Drs. Mohamad Hatta, anggota. Rapat gabungan antara Panitia Delapan dengan sejumlah anggota Tyuuo Sangi-In (badan penasihat pemerintah balatentara Jepang) yang merangkap sebagai anggota BPUPKI dan sejumlah orang anggota BPUPKI yang bukan anggota Tyuuo Sangi-In, menghasilkan putusan : 1) Supaya selekas-lekasnya Indonesia merdeka; 2) Supaya hukum dasar yang akan dirancang diberi semacam preambule (kata pembukaan atau mukaddimah); 3) Menerima anjuran Ir. Sukarno supaya BPUPKI terus bekerja sampai terwujudnya suatu hukum dasar; 4) Membentuk satu panitia kecil penyelidik usul-usul/perumus dasar negara yang dituangkan dalam mukaddimah hukum dasar. Panitia kecil dimaksud terbentuk yang terdiri dari sembilan orang sehingga disebut Panitia Sembilan yang terdiri dari : 1) Ir. Sukarno sebagai Syuusa/Ketua merangkap anggota; 2) Drs. Mohamad Hatta, anggota; 3) Mr. A.A. Maramis, anggota; 4) K.H. Wahid Hasyim, anggota; 5) Abdul Kahar Muzakkir, anggota; 6) Abikusno Cokrosuyoso, anggota; 7) H. Agus Salim, anggota; 8) Mr. Ahmad Subarjo, anggota; 9) Mr. Muhammad Yamin, anggota. Panitia Sembilan terus bekerja keras, dan pada sidang tanggal 22 Juni 1945 pk. 20.00 waktu Jawa, bertempat di rumah kediaman Ir. Sukarno, Jl. Pengangsaan Timur No. 56 Jakarta, mencapai satu modus, satu persetujuan antara pihak golongan Islam dengan pihak golongan kebangsaan (nasionalis), yang termaktub dalam rancangan mukaddimah hukum dasar atau rancangan 23

preambule hukum dasar yang akan dipersembahkan pada sidang pleno BPUPKI. Naskah rancangan hukum dasar itu disetujui secara bulat, kemudian dikenal dengan Piagam Jakarta. Adapun bunyi naskah Piagam Jakarta dimaksud adalah : MUKADDIMAH Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke dapan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jakarta, 22-6-2605*) *) 22 Juni 2605 adalah tahun Sumera/Nippon = 22 Juni 1945.

24

Rancangan Preambule (Mukaddimah) itu kemudian oleh Mr. Muhammad Yamin dinamakan Jakarta Charter atau Piagam Jakarta yang merupakan kesepakatan yang luhur atau gentlemens agreement antara golongan Islam dan golongan kebangsaan (nasionalis). Dengan mencermati naskah Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 tersebut di atas, khususnya pada alinea IV bagian terakhir, ternyata berisi rumusan atau prinsip-prinsip dan sistematika urutan Pancasila yang pertama, yang jika diberi angka (Ismaun, 1978:166) akan berbunyi : 1) Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya. 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3) Persatuan Indonesia, dan 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lain daripada itu dalam alinea III memuat rumusan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang pertama, yang berbunyi, Atas Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Jadi, dapatlah dikatakan rumusan kalimat teks proklamasi kemerdekaan tersebut di atas, sebagai Declaration of Indonesian Independence yang tidak kalah nilainya jika dibandingkan dengan isi Declaration of Independence Amerika Serikat. (Thomas Jefferson, cs.). Sebenarnya pada masa sidang kedua BPUPKI dari tanggal 10 s/d 16 Juli 1945 ketika merumuskan hukum dasar, sempat dirumuskan pula naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia, akan tetapi ternyata yang jadi dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah yang dikonsep oleh Ir. Sukarno, bersama Drs. Mohamad Hatta, dan Mr. Ahmad Subarjo di rumah Laksamana Maeda, yang disaksikan oleh Miyoshi, Sukarni, Mbah Diro, dan B.M. Diah. (Marwati, VI, 1993:84). 25

e. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno Hatta di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Keesokan harinya setelah proklamasi kemerdekaan, yaitu tanggal 18 Agustus 1945, sidang pleno Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Zyunbi Iinkai, mengambil tiga buah keputusan, yaitu : 1) Mengesahkan Undang-Undang Dasar RI dengan jalan : a) Menetapkan Piagam Jakarta dengan beberapa perubahan sebagai Pembukaan Undang-Undang Dasar RI; b) Menetapkan Rancangan Hukum Dasar yang telah diterima BPUPKI pada tanggal 17 Juli 1945 setelah mengalami berbagai perubahan sebagai Undang-Undang Dasar Negara RI (tahun 1945). 2) Memilih Presiden dan Wakil Presiden yang pertama (Ir. Sukarno dan Drs. Mohamad Hatta). 3) Menetapkan berdirinya Komite Nasional sebagai Badan Musyawarah Darurat. (Ismaun, loc.cit. 183). PPKI ini sendiri dibentuk pada tanggal 9 Agustus 1945 sebagai peningkatan dari BPUPKI, sehingga kesan badan bentukan Jepang untuk menerima hadiah kemerdekaan hilang, karena PPKI benar-benar merupakan Badan Nasional Indonesia yang dibentuk oleh bangsa Indonesia sendiri. (Darji Darmodiharjo, 1991:30). PPKI ini mempunyai kedudukan dan fungsi yang sangat penting, karena : 1) Mewakili seluruh bangsa Indonesia; 2) Sebagai pembentuk negara (yang menyusun negara RI setelah proklamasi 17 Agustus 1945); 3) Menurut teori hukum, badan seperti ini mempunyai wewenang untuk meletakkan dasar negara/pokok kaidah negara yang fundamental. (Dardji, ibid:30).). Demikianlah, dengan telah resminya Indonesia menjadi negara yang merdeka dan berdaulat, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka resmi pulalah keberadaan Pancasila sebagai dasar falsafah negara karena tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (1945). 26

Berkenaan dengan sejarah singkat proses perumusan Pancasila seperti yang diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa konsep rumusan dasar negara itu, ada empat versi : a. Rumusan Usulan Mr. Muhammad Yamin : 1) Peri Kebangsaan. 2) Peri Kemanusiaan. 3) Peri Ke-Tuhanan. 4) Peri Kerakyatan. 5) Kesejahteraan Rakyat. yang kemudian disusul dengan usulan tertulis dalam rancangan Pembukaan UUD RI : 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kebangsaan Persatuan Indonesia; 3) Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab; 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonbesia. b. Rumusan Usulan Ir. Sukarno : 1) Kebangsaan Indonesia. 2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan. 3) Mufakat atau Demokrasi. 4) Kesejahteraan Sosial. 5) Ke-Tuhanan. Kelima asas itu diberi nama Pancasila (lima asas atau dasar) yang merupakan satu rangkaian kesatuan yang bulat. Pancasila dapat diperas menjadi tiga (Trisila), yaitu : 1) Socio Nationalism (Kebangsaan dan Perikemanusiaan). 2) Socio Democratie (Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial). 3) Ke-Tuhanan yang berkeadaban. Trisila pun dapat diperas lagi menjadi satu (Ekasila), yaitu Gotong Royong. 27

c. Rumusan dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945 : 1) Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya. 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3) Persatuan Indonesia, dan 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. d. Rumusan dalam Pembukaan UUD 1945 : 1) Ketuhanan Yang Maha Esa. 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3) Persatuan Indonesia. 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bangsa Indonesia telah sepakat bahwa dasar/falsafah negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia dinamakan Pancasila. Dan dari rumusanrumusan dasar/falsafah Pancasila sebagaimana dikemukakan di atas, yang sekarang berlaku mengikat bagi negara, pemerintah, dan seluruh rakyat Indonesia, tentu saja yang secara resmi tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, walaupun istilah Pancasilanya sendiri tidak disebutkan. Hal ini mengingat UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis negara Republik Indonesia yang memuat dasar dan garis besar hukum dalam penyelenggaraan negara, dan berkedudukan sebagai landasan struktural dalam penyelenggaraan pemerintahan negara RI. Hal ini sesuai pula dengan pendapat Notonagoro (1971:17) bahwa tempat terdapatnya Pancasila ialah dalam Pembukaan UUD 1945. Jika sekarang kembali muncul suara dan pendapat bahwa Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945, berarti adalah Pancasilanya rumusan Ir. Sukarno, salah seorang pengusul atau perumus dasar negara. Padahal pada waktu itu belum ada kesepakatan secara nasional di BPUPKI atas usulan-usulan dasar negara dimaksud, termasuk usulan dari Mr. Muhammad Yamin. Justru kesepakatan 28

dicapai pada tanggal 22 Juni 1945 dengan lahirnya Piagam Jakarta. Akan tetapi kemudian ada masalah pada Piagam Jakarta dengan tercantumnya tujuh kata yang menyertai Ketuhanan, yaitu dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, sehingga orang-orang Indonesia bagian timur berkeberatan, karena negara Indonesia yang akan dibentuk bukanlah negara agama. Maka setelah diadakan pembicaraan mendalam antara golongan Islam dan nasionalis/non Islam dicapai konsensus atau kesepakatan, yaitu menghilangkan tujuh kata dimaksud tetapi dengan mencantumkan Yang Maha Esa setelah Ketuhanan, sehingga menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Golongan Islam

berpendapat bahwa dengan pencantuman Yang Maha Esa, berarti syariat Islam tetap masuk, karena berarti negara berdasarkan agama tauhid, sebagai landasan utama agama Islam, kendati tidak benar-benar memuaskan. Jadi, 1 Juni 1945 itu, yang benar adalah tanggal atau hari lahirnya istilah Pancasila untuk nama dasar/falsafah negara Indonesia. 5. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Maknanya. Perjuangan pergerakan bangsa Indonesia mencapai puncaknya berupa pelepasan diri dari kekuasaan penjajah dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Sukarno dan Drs. Mohamad Hatta pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 pagi di Pagangsaan Timur Jakarta. Hal ini diawali dengan kekalahan Jepang oleh Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Inggris oleh Sekutu diserahi tugas untuk menerima penyerahan Indonesia dari Jepang. Situasi kekosongan kekuasaan di Indonesia ini dimanfaatkan dengan baik oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Teks Proklamasi : PROKLAMASI Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05 Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta
Tahun 05 maksudnya 2605, yaitu tahun Sumera Jepang, bertepatan dengan tahun masehi 1945.

29

Naskah proklamasi tulisan tangan Ir. Sukarno kemudian diketik oleh Sayuti Melik. Tanggal, bulan, dan tahun 05 Sumera Jepang (2605) diganti menjadi 17 Agustus 1945. Makna proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah : a. Sebagai titik puncak (kulminasi) perjuangan bangsa Indonesia; b. Sebagai sumber lahirnya negara Republik Indonesia; c. Merupakan norma pertama dari tata hukum negara Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Indonesia ini mempunyai akibat : a. Secara yuridis, berarti telah bebas dari ikatan tata hukum pemerintahan kolonial; b. Secara politis, berarti telah bebas dari lembaga politik rumah tangga kolonial dan akan mengatur rumah tangga sendiri; d. Secara ideologis, berarti telah bebas dari penindasan dan pemerasan ideologi kolonialisme dan imperialisme, dan mampu menerapkan ideologi sendiri, yaitu Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara; e. Secara moral dan kulktural, berarti telah bebas dari tindakan-tindakan yang bertentangan dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan serta nilai-nilai budaya barat yang individualistis, liberalistis, dan kapitalistis, menjadi bangsa yang berperikemanusiaan dan berkeadilan, serta mampu membina dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan nasional yang sesuai dengan kepribadian bangsa sendiri, yaitu Pancasila; f. Secara ekonomis, berarti telah bebas dan dapat mengatur kehidupan ekonomi nasional dalam rangka mengisi kemerdekaan menuju masyarakat adil dan makmur berdasarakan Pancasila. Piagam Jakarta kemudian dijadikan Pembukaan UUD (1945) dengan beberapa perubahan di sana-sini, sehingga karenanya menurut Ir. Sukarno Piagam Jakarta menjiwai Pembukaan UUD 1945. Adapun perubahan-perubahan dimaksud dapat dilihat pada matrik di bawah ini.

PIAGAM JAKARTA
- Mukaddimah - ...dalam suatu hukum dasar negara.

PEMBUKAAN UUD (1945)


- Pembukaan - ...dalam suatu Undang-Undang Dasar Nega-

30

- ...dengan berdasar kepada : Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. - ...menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

ra... - ...dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa. - ...Kamanusiaan yang adil dan beradab.

Perubahan pun terjadi menyangkut Pasal-pasal dalam Rancangan Hukum Dasar menjadi UUD (1945), yaitu :

RANCANGAN HUKUM DASAR


- Istilah Hukum Dasar - dua orang Wakil Presiden

UUD (1945)
- - Undang-Undang Dasar - - seorang Wakil Presiden

- Presiden harus orang Indonesia asli yang- - Presiden harus orang Indonesia asli. bera beragama Islam. - selama perang, pimpinan perang dipegang- - dihapus. oleh oleh Jepang dengan persetujuan Pemerinta rintah Indonesia.

Tanggal 19 Agustus 1945, pada sidang PPKI berhasil ditetapkan : a. Daerah-daerah provinsi, dengan pembagian : 1) Jawa Barat; 2) Jawa Tengah; 3) Jawa Timur; 4) Sumatera; 5) Borneo (Kalimantan); 6) Sulawesi; 7) Maluku; 8) Sunda Kecil. b. Departemen atau Kementerian, yang terdiri dari : 1) Dalam Negeri; 2) Luar Negeri; 3) Kehakiman; 4) Keuangan; 5) Kemakmuran; 6) Kesehatan; 31

7) Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan; 8) Sosial; 9) Pertahanan; 10) Penerangan; 11) Perhubungan; 12) Pekerjaan Umum.

C. MASA PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN DAN MENGISI KEMERDEKAAN 1. Masa Revolusi Fisik. a. UUD (1945) dirumuskan dalam waktu singkat oleh BPUPKI. BPUPKI kemudian berubah (ditingkatkan) menjadi PPKI; b. Disadari untuk membentuk peraturan perundang-undangan sebagaimana dikehendaki membutuhkan waktu lama, padahal tenaga dan pikiran para pemimpin waktu itu dipusatkan dan ditujukan untuk mempertahankan kemerdekaan yang mendapat penentangan dari Belanda yang ingin menjajah kembali; c. Karena itu segala sesuatunya diatur dalam aturan peralihan UUD sebagai berikut : Pasal I : Patitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengatur dan menyelenggarakan kepindahan pemerintahan kepada pemerintah Indonesia. Pasal II : Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini. Pasal III : Untuk pertama kali Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Pasal IV : Sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan De-

32

wan Pertimbangan Agung dibentuk menurut Undang-Undang Dasar ini, segala kekuasaannya dijalankan oleh Presiden dengan bantuan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Berdasarkan Maklumat Wakil Presiden No. X (baca : nomor eks) tanggal 16 Oktober 1945 tentang Pemberian Kekuasaan Legislatif kepada KNIP, maka KNIP dianggap sebagai DPR dan bahkan MPR. 2. Masa Demokrasi Liberal. Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia kedua (PD-II), Belanda dengan

membonceng tentara Sekutu yang bertugas melucuti Jepang, datang lagi di Indonesia dengan maksud menjajah kembali. Sisa-sisa penguasa Belanda yang lari ke Australia pada masa pendudukan Jepang tahun 1942 mendirikan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) di bawah pimpinan Van der Plas dan Van Mook yang tujuannya ingin mengembalikan kekuasaan kolonialnya di Indonesia. Dalam rangka memecah belah dan menguasai (devide et impera), Belanda berhasil membentuk negara-negara kecil yang bersifat kedaerahan. Jadi, pada waktu itu terdapat : a. Pemerintah Republik Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 yang berkedudukan di Yogyakarta; b. Pemerintah negara-negara kecil di sebagian wilayah Indonesia bentukan Belanda : Negara Indonesia Timur (1946), Negara Sumatera Timur (1947), Negara Pasundan (1948), Negara Sumatera Selatan (1948), Negara Jawa Timur (1948), dan Negara Madura (1948). Negara-negara bentukan Belanda ini bergabung dalam Bijjenkomst voor Federal Overleg (BFO) atau Pertemuan untuk Permusyawaratan Federal. Karena kemudian banyak pertentangan dan perlawanan di mana-mana yang dilakukan bangsa Indonesia, Belanda mengupayakan pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS). Upaya ini didahului tekanan-tekanan secara diplomatis antara lain melalui Persetujuan Linggarjati (25 Maret 1947) dan Persetujuan Renville (17 Januari 1945). Isi persetujuan-persetujuan tersebut pada hakikatnya

33

merugikan dan mempersempit wilayah serta kekuasaan Republik Indonesia. Coba saja kita lihat : a. Isi persetujuan Linggarjati 15 November 1966 : 1) Pemerintah Belanda mengakui kekuasaan de facto RI atas Jawa, Madura, dan Sumatra; 2) Pemerintah Indonesia dan Belanda akan mendirikan Negara Indonesia Serikat pada tanggal 1 Januari 1949; 3) Negara Indonesia Serikat bergabung dengan negeri Belanda dalam suatu Uni Indonesia-Belanda. (Catatan : Delegasi Indonesia dipimpin oleh PM Sutan Syahrir dan delegasi Belanda dipimpin oleh Schermerhorn). b. Isi persetujuan Renville 17 Januari 1948 : 1) Pemerintah RI harus mengakui kedaulatan Belanda atas Hindia Belanda sampai pada waktu yang ditetapkan oleh kerajaan Belanda untuk mengakui negara Indonesia Serikat. 2) Di daerah Jawa, Madura, dan Sumatra diadakan pemungutan suara untuk menentukan, apakah daerah-daerah tersebut ingin masuk RI atau masuk RIS. Akibat persetujuan Renville, adalah : a. Wilayah RI menjadi lebih kecil, yaitu Yogyakarta saja, padahal pada waktu persetujuan Linggajati meliputi Jawa, Madura, dan Sumatra; b. TNI yang berada di wilayah Jawa Barat harus dipindahkan (hijrah) ke Jawa Tengah. Anggota TNI yang ingkar bergabung menjadi gerombolan DI-TII di Jawa Barat pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo. Dipandang upayanya akan mengalami kegagalan, maka Belanda melakukan agresi militer sampai dua kali. Yang pertama terjadi pada 21 Juli 1947 dan kedua 19 Desember 1948. Pihak Belanda menamakan Aksi Polisionil untuk menentramkan keadaan, padahal kenyataannya yang dikerahkan seluruh kekuatan tentaranya. Pada aksi militer kedua ini kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, bahkan Presiden dan Wakil Presiden serta beberapa Menteri ditangkap dan diasingkan ke Bangka dan Prapat di Sumatera Utara. Dengan jatuhnya Yogya34

karta, Belanda mengira riwayat RI sudah tamat. Tetapi ternyata tidak, karena para pemimpin sebelumnya telah memperhitungkan kelangsungan hidup RI, yaitu dengan berdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada tanggal 19 Desember 1948 oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara, dkk. di Bukittinggi, Sumatra Barat. Pemerintah sekaligus menunjuk Mr. Syafruddin Pra-

wiranegara sebagai Kepala Pemerintahan yang meneruskan tugas pemerintahan RI. Pada tahun 2006 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara. Perlawanan pihak Indonesia bukan mengendur, malah semakin menggelora, sehingga situasi menjadi gawat, dan akhirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) campur tangan menyelesaikan pertikaian RI dengan Belanda ini. Maka dengan difasilitasi PBB, pada tanggal 23 Agustus s/d 2 November 1949 di Den Haag negeri Balanda, diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang isinya : a. Didirikan Republik Indonesia Serikat (RIS); b. Pengakuan kedaulatan oleh Kerajaan Belanda atas Pemerintah RIS; c. Didirikan Uni antara RIS dengan Kerajaan Belanda. (Catatan : Delegasi RI dipimpin oleh Drs. Mohamad Hatta, delegasi Belanda dipimpin oleh Van Maarseveen, delegasi BFO dipimpin oleh Sultan Hamid II, dan Komisi PBB diwakili oleh Harremans, Merle Cochran, Critchley, dan Romanos). Pengakuan kedaulatan Pemerintah RIS dilakukan tanggal 27 Desember 1949. Indonesia terpaksa menerima kesepakatan KMB sebagai taktik untuk pengakuan dunia internasional terlebih dulu, yang pada perjuangan berikutnya berupaya kembali ke Negara Kesatuan. Hal ini terbukti yang asalnya banyak Negara-negara Bagian di dalam RIS, kemudian bergabung ke Negara Bagian RI/Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 (Yogyakarta), sehingga akhirnya hanya tinggal tiga Negara Bagian saja, yaitu RI, Negara Indonesia Timur, dan Negara Sumatera Timur. Semangat untuk kembali ke Negara Kesatuan terwujud setelah musyawarah antara Pemerintah RIS dengan Negara Bagian RI yang pada tanggal 5 Mei 35

1950 bersepakat untuk bersama-sama melaksanakan Negara Kesatuan sebagai penjelmaan RI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. UUD (1945) pun diganti dengan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS 1950) dengan mengubah bagian-bagian dari Konstitusi RIS yang tidak sesuai dengan jiwa negara kesatuan. Pada periode 1949-1950 pada kenyataanya Indonesia berorientasi pada pemerintahan yang berasaskan demokrasi liberal, antara lain dengan penerapan Kabinet Parlementer (dewan menteri/penyelenggara pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri, dibentuk/diangkat oleh dan bertanggung jawab kepada Parlemen). Demikian juga saat berlakunya UUDS 1950 s/d 1959 yang ditandai dengan kuatnya kedudukan parlemen, sehingga kabinet sering jatuh bangun. Benar pada saat itu sejarah Indonesia menunjukkan sistem politik yang sangat demokratis, tetapi ternyata menyebabkan kehancuran politik dan perekonomian nasional. Konflik politik yang berkepanjangan tidak memberi kesempatan dan waktu bagi pemerintah memikirkan masalah-masalah sosial ekonomi serta menyusun dan melaksanakan program-program pembangunan. 3. Masa Orde Lama (Orla). Pemilihan Umum (Pemilu) pertama tahun 1955 adalah Pemilu yang sangat demokratis tetapi pada kenyataannya tidak dapat memenuhi harapan rakyat. Tidak ada kestabilan politik, ekonomi, sosial, maupun pertahanan keamanan. Hal ini disebabkan oleh : a. Makin berkuasanya modal-modal raksasa (kapitalisme) terhadap perekonomian Indonesia; b. Akibat silih bergantinya kabinet, maka pemerintah tidak mampu menyalurkan dinamika masyarakat ke arah pembangunan terutama bidang ekonomi; c. Sistem demokrasi liberal berdasarkan UUDS 1950 mengakibatkan kabinet sering jatuh bangun, sehingga pemerintahan tidak stabil. Pada saat itu sampai tujuh kali pergantian kabinet : a. Kabinet Natsir (6 September 1950 s/d 27 April 1951); b. Kabinet Sukirman (27 April 1951 s/d 3 April 1952);

36

c. Kabinet Wilopo (3 April 1952 s/d 31 Juli 1953); d. Kabinet Ali Sastroamidjojo (1 Agustus 1953 s/d 12 Agustus 1955); e. Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 s/d 24 Maret 1956); f. Kabinet Ali Sastroamidjojo II (24 Maret 1956 s/d 9 April 1957); g. Kabinet Djuanda (9 April 1957 s/d 10 Juli 1959). Hasil Pemilu 1955 yang demokratris ternyata di dalam DPR tidak mencerminkan perimbangan kekuatan politik yang sebenarnya hidup di masyarakat, sebab banyak golongan-golongan di daerah-daerah belum terwakili. Konstituante yang bertugas membentuk UUD baru, ternyata gagal. Karena

alasan-alasan ini, Presiden Soekarno menyatakan ketatalaksanaan Indonesia dalam keadaan membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa serta keselamatan negara. Maka dengan landasan Hukum Tatanegara Darurat atau negara dalam keadaan bahaya (noodstaats-recht), pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden mengeluarakan Dekrit Presiden, yang isinya : a. Pembubaran Konstituante; b. Penetapan berlakunya kembali UUD tahun 1945; c. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya akan dibentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Catatan : a. Sejak peristiwa Dekrit Presiden 5 Juli 1959 itulah UUD ditambah dengan pencantuman angka tahun 1945 (menunjuk pada UUD yang asal, yang dirumuskan oleh BPUPKI dan diresmikan oleh PPKI); b. Dekrit adalah suatu putusan dari Kepala Negara (hak prerogatif) yang merupakan penjelmaan kehendak yang sifatnya sepihak. Landasan hukum darurat dibedakan atas dua macam, yaitu : 1) Hukum Tatanegara Darurat Subyektif, yaitu suatu putusan yang memberi wewenang kepada Kepala Negara untuk apabila perlu mengambil tindakantindakan hukum demi penyelamatan negara yang dalam keadaan bahaya walaupun melanggar UUD dan hak asasi manusia. Presiden 5 Juli 1959. 37 Contohnya Dekrit

2) Hukum Tatanegara Darurat Obyektif, yaitu suatu putusan yang memberi wewenang kepada Kepala Negara untuk mengambil tindakan-tindakan hukum demi penyelamatan negara namun tetap berlandaskan pada UUD atau konstitusi yang berlaku. Contohnya Supersemar (Surat Perintah 11 Maret 1966) dari Presiden Sukarno kepada Jenderal Suharto pasca peristiwa G-30-S/PKI. Namun saat Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) pada tahun 2001 mengeluarkan Dekrit Pembekuan/Pembubaran DPR dan MPR tidaklah tepat, karena negara tidak dalam keadaan bahaya (hanya perseteruan antara Presiden dengan DPR/MPR). Atas tindakan ini justru Presiden dianggap melanggar haluan negara yang mengakibatkan Presiden (setelah dikeluarkan memorandum I dan II) dilengserkan atau dimakzulkan (impeachment) oleh MPR di bawah pimpinan Amien Rais pada Sidang Istimewa, dan kedudukannya digantikan oleh Wakil Presiden Megawati Sukarnoputri. Sejak Dekrit Preside 5 Juli 1959 itu Presiden Sukarno sebagai Kepala Pemerintahan (ekskutif) menetapkan demokrasi terpimpin. Kendati maksudnya ingin menuju kepada masyarakat adil dan makmur yang penuh dengan kebahagiaan material dan spiritual sesuai dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, tetapi dalam kenyataannya justru bertentangan dengan atau menyimpang dari Pancasila dan UUD 1945. Penyimpangan-

penyimpangan dimaksud antara lain : a. Dengan Penetapan Presiden (Penpres) Nomor 4 Tahun 1960, DPR hasil Pemilu 1955 dibubarkan, kemudian dibentuk DPR Gotong Royong yang anggotaanggotanya diangkat dan diberhentikan oleh Presiden; b. Pembentukan MPRS dan DPAS yang anggota-anggotanya juga diangkat dan diberhentikan oleh Presiden; c. Lembaga-lembaga negara tersebut dipimpin oleh Presiden sendiri; d. Pengangkatan Presiden seumur hidup dengan Ketetapan MPRS Nomor II dan III/MPRS/1963; e. Melalui Ketetapan MPRS Nomor I/MPRS/1963, Manifesto Politik Presiden dijadikan Garis-garis Besar Haluan Negara; 38

f. Hak budget tidak berjalan karena Presiden tidak mengajukan Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU-APBN) untuk mendapatkan persetujuan DPR. Saat RAPBN diajukan pun karena DPR tidak menyetujui, maka DPR dibubarkan oleh Presiden; g. Menteri-menteri Kabinet diperbolehkan menjabat sebagai Ketua MPRS, DPRGR, DPA, dan MA; h. Atas rancangan Partai Komunis Indonesia (PKI), ideologi Pancasila diganti dengan Manipol-USDEK (Manifesto Politik - Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian Indonesia) dan ditetapkan konsep Nasakom (Nasional-Agama-Komunis). 4. Masa Orde Baru (Orba). Pasca pemberontakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G-30S/PKI) tahun 1965, pemerintahan Presiden Sukarno atau disebut Orde Lama (Orla) jatuh dan dimulailah pemerintahan baru yang dikenal dengan sebutan Orde Baru (Orba) dengan maksud sebagai tatanan kehidupan masyarakat dan pemerintahan baru yang menuntut dilaksanakannya Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Munculnya Orba ini diawali tuntutan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) yang dipelopori oleh aksi-aksi pelajar dan mahasiswa antara lain : KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), organisasi masa pelajar dan mahasiswa seperti PII (Pelajar Islam Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), dan unsur-unsur masyarakat lainnya yang juga didukung oleh tentara dan polisi yang waktu itu bergabung dalam ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Tuntutannya dikenal dengan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat), yaitu : a. Bubarkan PKI beserta Ormas-ormas onderbownya; b. Turunkan harga-harga; c. Bersihkan Kabinet dari unsur-unsur G-30-S/PKI. Dalam rangka kestabilan keamanan dan ketertiban dibentuk lembaga Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Untuk menjaga

39

terpeliharanya kekuasaan dan kelanjutan pembangunan, ditetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) melalui Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1973, dan tahun 1983 dikeluarkan lima paket Undang-Undang bidang politik, yaitu tentang : a. Susunan dan Kedudukan MPR/DPR; b. Pemilihan Umum; c. Partai Politik dan Golongan Karya; d. Organisasi Kemasyarakatan; e. Referendum. Untuk memantapkan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945, melalui Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1978 ditetapkan Pedoman Penghayan dan Pengamalan Pancasila (P-4) atau disebut juga Eka Prasetya Pancakarsa, dan untuk mensosialisasikan/melaksanakannya dibentuk lembaganya, yaitu Badan Pembinaan Pendidikan Palaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, disingkat BP-7. Berawal dari Pidato Presiden Suharto tanggal 16 Agustus 1982, maka dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1985 sebagai perubahan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1973 tentang Parpol dan Golkar, Pancasila dijadikan asas tunggal bagi seluruh organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan. Keseragaman asas ini tujuannya antara lain untuk mengurangi seminimal mungkin potensi konflik ideologi. Termasuk tidak dibenarkan adanya oposisi. Tetapi ini berarti mengingkari kebhinnekaan masyarakat yang berkembang menurut keyakinan masing-masing. Dalam kenyataannya Orba pun menyimpang dari perjuangannya semula. Hal ini dapat dilihat antara lain : a. Tidak mengakui tanggal 1 Juni sebagai hari kelahiran Pancasila; b. Butir-butir P-4 secara halus mendidik ketaatan individu kepada kekuasaan, sementara itu tidak ada satu butir pun yang mencantumkan kewajiban negara kepada rakyatnya; c. Pengamalan Pancasila dengan membentuk citra pembangunan sebagai ideoologi, sehingga ada rekayasa mendukung Presiden Suharto sebagai Bapak 40

Pembangunan melalui kebulatan-kebulatan tekad; d. Pimpinan MPR dan DPR dirangkap; e. Di sana-sini terjadi KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Keadaan masa itu memang lebih baik jika dibandingkan dengan masa Orla, antara lain : a. Stabilitas ekonomi dan politik baik; b. Sumber daya manusia lebih baik; c. Sistem ekonomi dan politik terbuka (western oriented); d. Kondisi ekonomi politik lebih baik; e. Keamanan dan ketertiban terkendali; f. Kemauan (political will) pemerintah untuk pembangunan kuat. Akan tetapi kelemahan-kelemahan Orba pun banyak, antara lain : a. Fungsi check and balances tidak jalan, dan parlemen (DPR) hanya sebagai stempel karet (yes man) bagi penguasa; b. Pemerintahan mengacu kepada karakter individu sang pemimpin (kultus individu); c. Institusi kontrol/pengawasan (DPR) lemah; d. Praktek monopoli ekonomi (konglomeratisme); e. Lembaga kepresidenan adalah the ruler yang mengatur segalanya; f. Korporatisme diartikan sebagai sistem kenegaraan, di mana pemerintah dan swasta (dunia usaha) saling berhubungan secara tertutup, yang ciri-cirinya : 1) Kekuasaan menjadi lahan subur bagi redistributive combine di antara segelintir orang; 2) Kepentingan ekonomi dan politik menyatu dalam format ekonomi; 3) Sumber-sumber ekonomi hanya dinikmati segelintir pelaku ekonomi yang dekat dengan kekuasaan; 4) Perburuan rente sangat subur dalam situasi ekonomi politik tertutup. 5) Nilai-nilai agama dan budaya tidak dijadikan etika berbangsa dan bernegara; 6) Pancasila sebagai ideologi negara ditafsirkan sepihak oleh penguasa yang ingin mempertahankan kekuasaannya; 41

7) Terjadi konflik sosial budaya dan diperburuk oleh penguasa yang menghidupkan kembali feodalisme dan paternalisme; 8) Hukum menjadi alat kekuasaan yang dalam pelaksanaannya diselewengkan; 9) Perilaku ekonomi berlangsung dengan praktek KKN dan berpihak kepada sekelompok pengusaha besar (lihat kasus BLBI = Bantuan Likuiditas Bank Indonesia); 10) Sistem politik otoriter; 11) Pemerintahan mengabaikan proses demokrasi (misalnya terdapat anggota MPR/DPR termasuk DPRD yang diangkat atau tidak melalui proses Pemilu); 12) Pemerintahan sentralistik yang menimbulkan kesenjangan antara Pusat dengan Daerah sehingga menimbulkan sparatisme; 13) Penggunaan tangan besi (contoh Daerah Operasi Militer) untuk menyelesaikan konflik di daerah sehingga melanggar HAM; 14) Penyalahgunaan kekuasaan karena lemahnya pengawasan; 15) Peran dwi fungsi ABRI sehingga ABRI dijadikan alat kekuasaan yang mengakibatkan tidak berkembangnya demokrasi; 16) Peralihan kekuasaan akhirnya berdarah-darah. 5. Masa Globalisasi. Penyimpangan-penyimpangan parah yang dilakukan Orba mencapai puncaknya berupa krisis moneter tahun 1997 yang mengakibatkan lengsernya Presiden Suharto tahun berikutnya. Dimulailah pemerintahan di era globalisasi ini

dengan reformasi, sehingga disebut pemerintahan reformasi. Pada masa ini sampai tiga kali pergantian Presiden, yaitu Presiden B.J. Habibie dengan Kabinet Reformasi Pembangunan, Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) dengan Kabinet Persatuan Nasional, dan Presiden Megawati Sukarnoputri dengan Kabinet Gotong Royong. Yang perlu dicatat pada era ini adalah pembangunan nasional tidak lagi dilaksanakan seperti pada masa Orba dengan Repelita (Rencana Pembangun-

42

an Lima Tahun), tetapi dengan Propenas (Program Pembangunan Nasional) yang disusun oleh BAPPENAS (Badan Perencana Pembangunan Nasional) yang berlaku untuk tahun 2000-2004. Akan tetapi di masa pemerintahan Presiden Megawati telah berhasil ditetapkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, sehingga memudahkan pemerintahan berikutnya (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla) menyusun program berdasarkan SPPN ini, yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 20042009. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah Presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2004 berdasarkan Undang-undang Dasar 1945 yang telah dirubah (amandemen). Dan untuk kedua kalinya SBY yang berpasangan dengan Prof. Dr. Budiono pada Pilpres tahun 2009 terpilih kembali menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Beberapa hal mengenai program pembangunan nasional tersebut antara lain : a. Berdasarkan Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001, ditetapkan visi Indonesia Masa depan, yaitu : 1) Visi Indonesia masa depan ialah cita-cita luhur sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945; 2) Visi lima tahunan dirumuskan dalam GBHN; 3) Visi antara masa depan dan lima tahunan disebut visi Indonesia 2020. b. Visi Indonesia 2020 adalah Terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil, sejahtera, maju, mandiri, serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara; c. Pembangunan politik, meliputi : 1) Politik Dalam Negeri : a) Pengembangan konstitusi; b) Penataan sutruktur politik; c) Pemilu; d) Kepemimpinan nasional; e) Partisipasi politik; 43

f) Kesadaran berbangsa; g) Pendidikan dan budaya politik; h) Kemandirian TNI, dsb. 2) Politik Luar Negeri : a) Penguatan politik luar negeri dan diplomasi; b) Peningkatan kerjasama luar negeri; c) Perluasan perjanjian ekstradisi dengan negara tetangga, dll. d. Penyelenggara Negara : Mewujudkan penyelenggara negara yang baik dan profesional. e. Otonomi Daerah : 1) Pemantapan perimbangan keuangan Pusat dan Daerah; 2) Penguatan kemampuan sumber daya manusia; 3) Penataan kelembagaan daerah; 4) Pembinaan dan pengawasan. f. Pembangunan Ekonomi, meliputi : 1) Sistem ekonomi kerakyatan; a) Pengembangan sistem ekonomi kerakyatan; b) Pengentasan kemiskinan; c) Peningkatan pemerataan serta pemberdayaan Usaha Kecil Me-nengah (UKM) dan koperasi. 2) Percepatan proses pemulihan ekonomi : a) Program pengelolaan ekonomi makro dan mikro; b) Peningkatan efektivitas pengelolaan keuangan negara; c) Peningkatan efektivitas pengelolaan utang luar negeri; d) Penuntasan restrukturisasi perbankan dan lembaga keuangan; e) Pengembangan ketenagakerjaan. g. Pembangunan Hukum : 1) Penataan sistem dan kelembagaan hukum; a) Perencanaan dan pengembangan sistem hukum nasional; b) Pembentukan dan penyusunan hukum; c) Pembinaan kelembagaan hukum. 44

2) Penegakkan hukum : a) Penegakkan dan pelayanan hukum; b) Pembinaan peradilan, dsb. 3) Peningkatan kualitas aparat penegak hukum dan sarpras hukum, dll. Tantangan yang harus dijawab adalah : a. Pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa; b. Sistem hukum yang adil; c. Sistem politik yang demokratis; d. Sistem ekonomi yang adil dan produktif; e. Sistem sosial budaya yang beradab; f. Sumber daya manusia yang berkualitas; g. Globalisasi. Sebagai acuan dalam rangka perencanaan pembangunan nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang perlu dicatat adalah : a. Tidak ada lagi GBHN yang ditetapkan oleh MPR untuk dijalankan Presiden, dan karenanya Presiden bukan lagi mandataris MPR; b. Program-program yang akan dijalankan Presiden/Wakil Presiden dalam jangka waktu lima tahun (masa jabatannya) adalah RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) yang berasal dari visi dan misi, serta program kerja pasangan calon Presiden/Wakil Presiden yang disampaikan pada waktu pencalonan dan kampanye pemilihan Presiden. Setelah empat kali amandemen UUD 1945, tahun 2004 diselenggarakan pemilihan Presiden/Wakil Presiden secara langsung oleh rakyat. Hasilnya terpilih pasangan Presiden Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Drs. Muhammad Jusuf Kalla dengan masa jabatan dari tahun 2004 s/d 2009. Lima tahun kemudian, yaitu tahun 2009, diselenggarakan lagi Pilpres oleh rakyat, dan hasilnya terpilih pasangan Presiden SBY dan Wakil Presiden Prof. Dr. Budiono untuk masa jabatan dari tahun 2009 s/d 2014. RPJMN ditetapkan oleh Presiden dalam bentuk Peraturan Presiden, (Perpres) karena merupakan rencana untuk mewujudkan janji-janjinya pada saat 45

kampanye. Untuk tahun 2004-2009 RPJMN ditetapkan dengan Perpres Nomor 7 Tahun 2005. RPJMN ditempuh melalui strategi pokok yang dijabarkan dalam agenda pembangunan nasional, memuat sasaran-sasaran pokok yang harus dicapai, arah kebijakan, dan program-program pembangunan. Adapun untuk RPJMN tahun 2009-2014 ditetapkan dengan Perpres No. 5 Tahun 2010. Untuk lebih jelasnya proses pelaksanaan pembangunan di masa reformasi didasarkan pada : a. UUD 1945; b. UU No. 7 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; c. UU No. 25 Tahun 2004 tentang SPPN; d. Perpres tentang RPJMN; e. UU-APBN.

46

BAB IV PENGERTIAN DAN HAKIKAT PANCASILA

A. PENGERTIAN PANCASILA Untuk memahami Pancasila secara kronologis baik menyangkut rumusan maupun peristilahannya, pengertian Pancasila dapat dibahas secara etimologis, historis, dan terminologis. 1. Pengertian Pancasila secara Etimologis. a. Pancasila berasal dari bahasa Sanskerta (kasta Brahmana). Menurut Muhammad Yamin (1960:437) :

Panca

= Lima

Syila (vokal i pendek)

= Batu sendi, alas, dasar.

Syiila (vokal i panjang) = Peraturan tingkah laku yang baik, yang penting, yang senonoh.

Pancasyila

= Berbatu sendi/alas/dasar yang lima.

Pancasyiila

= Lima aturan tingkah laku yang penting/baik.

b. Istilah Pancasila mula-mula dipergunakan di lingkungan masyarakat Budha di India. Ketika pengikut ajaran Budha semakin banyak, mereka membentuk sangha (umat Budhis) dan terdiri atas dua golongan, yaitu : 1) Pengikut biasa atau awam, yang laki-laki disebut upasaka, dan yang perempuan upasika; 2) Pendeta, yaitu bhiksu (laki-laki), dan bhiksuni (perempuan). Golongan pendeta harus diam dalam vihara-vihara. Mereka harus menjalankan dan menepati sepuluh larangan yang disebut dasasyila atau 47

dasasykkha padani, yang berisi sepuluh peraturan moral, yaitu : 1) Dilarang membunuh; 2) Dilarang mencuri; 3) Dilarang berzina; 4) Dilarang berdusta; 5) Dilarang minum minuman keras; 6) Dilarang makan berlebihan; 7) Dilarang hidup bermewah-mewah dan pelesir; 8) Dilarang memakai pakaian yang bagus-bagus, perhiasan-perhiasan, dan wangi-wangian; 9) Dilarang tidur di tempat tidur yang enak atau mewah; 10) Dilarang menerima pemberian uang atau memiliki emas dan perak. (Ismaun, 1978:89). Mereka pun harus mencukur rambut sampai gundul, memakai baju jubah yang berwarna kuning-merah. Pada waktu-waktu tertentu mereka harus menjalankan upawasa (puasa). Sementara itu, Pancasyiila menurut ajaran Budha yang bersumber dari kitab suci Tripitaka yang terdiri dari tiga buku besar (Suttha Pitaka, Abhidama Pitaka, Vinaya Pitaka) berupa lima larangan (Five Moral Principles), yang diterapkan untuk orang awam, yaitu : 1) Panatipada veramani sikhapadam samadiyani. (Jangan mencabut nyawa mahluk hidup = dilarang membunuh). 2) Dinna dana veramani sikhapadam samadiyani. (Jangan mengambil barang yang tidak diberikan = dilarang mencuri). 3) Kameshu miccharaca veramani sikhapadam samadiyani. (Jangan berhubungan kelamin = dilarang berzina). 4) Musawada veramani sikhapadam samadiyani. (Jangan berkata palsu = dilarang berbohong). 5) Sura meraya masjja pamada tikana veramani. (Jangan minum minumam yang menghilangkan pikiran = dilarang mabuk-mabukan). 48 minum minuman keras atau

Dengan masuknya ajaran Budha di Indonesia, pada zaman Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk dibantu Mahapatih Gajah Mada, ditemukan dalam keropak Negarakertagama berupa kekawin (syair pujian) oleh Mpu Prapanca, pada sarga 53 bait 2, yang isinya : Yatnaggegwani pancasyiila kertasangskarbhisekaka krama (Raja menjalankan dengan setia ke lima pantangan, yaitu mateni, maling, madon, madat, main). Dalam bahasa Jawa disebut Mo Limo (maksudnya lima m). 2. Pengertian Pancasila secara Historis. Sebagaimana telah diungkapkan terdahulu, pengertian Pancasila secara historis dapat dilihat sejak proses perumusan dasar/falsafah negara dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah Ketua dr. K.R.T. Rajiman Wedyodiningrat mengajukan pertanyaan di depan

sidang tanggal 29 Mei 1945 tentang rencana dasar negara Indonesia yang akan dibentuk, maka tampil sebagai pengusul adalah Mr. Muhammad Yamin, Mr. R. Supomo, dan Ir. Sukarno. Pada tanggal 29 Mei 1945, Mr. Muhammad Yamin mengusulkan rumusan dasar negara dengan lima asas, yaitu : a. Peri Kebangsaan; b. Peri Kemanusiaan; c. Peri Ke-Tuhanan; d. Peri Kerakyatan; e. Kesejahteraan Rakyat. Dalam usul tertulis menyangkut rancangan UUD RI, beliau mengusulkan rumusan yang berbeda, yaitu : a. Ketuhanan Yang Maha Esa; b. Kebangsaan Persatuan Indonesia; c. Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab; d. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 49

Pada tanggal 31 Mei 1945 Mr. R. Supomo menjelaskan tentang teori negara secara yuridis, politis, dan sosiologis, syarat-syarat berdirinya negara, bentuk negara dan bentuk pemerintahan, serta hubungan antara negara dengan agama. Pada tanggal ini pun Mr. Muhammad Yamin kembali berpidato dan menguraikan tentang daerah negara, kebangsaan Indonesia atas dasar tinjauan yuridis, historis, politis, sosiologis, geografis, dan konstitusional yang meliputi seluruh wilayah nusantara. Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Sukarno dalam pidatonya mengajukan lima asas sebagai dasar negara Indonesia yang akan dibentuk, yang berdasarkan bisikan salah seorang teman ahli bahasa (mungkin Prof. Dr. P.A. Husein Jayadiningrat), diberinya nama Pancasila, yaitu : a. Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia; b. Internasionalisme atau Perikamanusiaan; c. Mufakat atau Demokrasi; d. Kesejahteraan Sosial; e. Ke-Tuhanan. Menurut beliau, nasionalisme dan internasionalisme dapat digabung menjadi sosio nasionalisme, demokrasi dan kesejahteraan sosial dapat digabung menjadi sosio demokrasi, dan ditambah dengan Ketuhanan yang berkebudayaan, menjadi Trisila (tiga sila). Dan Trisila ini pun dapat digabung menjadi Ekasila, yaitu gotong royong. Pada tanggal 22 Juni9 1945, Panitia Sembilan dalam BPUPKI yang diberi tugas merumuskan lebih lanjut rancangan dasar negara yang akan dibentuk, berhasil menyusun naskah yang dikenal dengan Piagam Jakarta (Jakarta Charter) yang pertama kali disepakati oleh sidang. tercantum rumusan dasar negara, yaitu : a. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya; b. Kemanusiaan yang adil dan beradab; c. Persatuan Indonesia; d. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarat50 Dalam alinea empat Piagam ini

an perwakilan; e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Piagam Jakarta ini kemudian setelah diadakan perubahan di sana-sini pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dijadikan Pembukaan Undang-Undang Dasar (1945). Berikut adalah naskah Pembukaan UUD 1945 (coba bandingkan dengan Piagam Jakarta). UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA PEPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke dapan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

51

Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kalimat dalam alinea terakhir dalam Pembukaan UUD (1945) itu jika diberi angka, adalah : a. Ketuhanan Yang Maha Esa; b. Kemanusiaan yang adil dan beradab; c. Persatuan Indonesia; d. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ke lima asas atau sila-sila ini merupakan kesatuan yang bulat terpadu dan tidak boleh terpisahkan sehingga karenanya disebut majemuk tunggal dan hierarki piramidal. Asas-asas ini disepakati oleh seluruh bangsa Indonesia

sebagai dasar/falsafah negara diberi nama Pancasila. 3. Pengertian Pancasila secara Terminologis. Sehari setelah Indonesia merdeka, yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945, untuk melengkapi alat-alat kelengkapan negara, sidang PPKI berhasil menetapkan/ mengesahkan UUD (1945) yang terdiri dari Pembukaan, Batang Tubuh yang terdiri dari XVI BAB, 37 Pasal, 1 Aturan Peralihan yang terdiri atas 4 Pasal, dan 1 Aturan Tambahan yang terdiri atas 2 Ayat, serta Penjelasannya. Pembukaan UUD terdiri dari empat alinea, dan pada alinea keempat tercantum rumusan Pancasila seperti telah disebutkan di atas. Ketika bentuk negara dan pemerintahan berubah akibat campur tangan Belanda yang hendak menjajah kembali, yaitu dari NKRI menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat), ternyata dalam Konstitusi RIS (29 Desember 1949 - 17 Agustus 1950) pun tercantum rumusan Pancasila, yaitu : a. Ketuhanan Yang Maha Esa; b. Peri Kemanusiaan; c. Kebangsaan; d. Kerakyatan 52

e. Keadilan Sosial. Tatkala Indonesia kembali menjadi NKRI (17 Agusutus 1950 5 Juli 1959), dalam Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS), tercantum pula rumusan Pancasila, yaitu : a. Ketuhanan Yang Maha Esa; b. Peri Kemanusiaan; c. Kebangsaan; d. Kerakyatan; e. Keadilan Sosial. Sementara itu, dalam masyarakat berkembang beraneka ragam rumusan Pancasila, di antaranya yang paling populer adalah : a. Ketuhanan Yang Maha Esa; b. Peri Kemanusiaan; c. Kebangsaan; d. Kedaulatan Rakyat; e. Keadilan Sosial. Mulai tanggal 5 Juli 1959 setelah Dekrit Presiden menyatakan Indonesia kembali ke UUD tahun 1945, maka rumusan Pancasila yang benar dan sah, serta mengikat negara dan seluruh warga negara sampai saat ini adalah rumusan Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan UUD tahun 1945. Mulai Dekrit Presiden itulah dalam menyebut UUD selalu disebutkan pula atau muncul angka tahun 1945, menjadi UUD 1945. Pada saat ini (era reformasi), UUD 1945 telah mengalami empat kali perubahan (amandemen), yaitu : a. Perubahan pertama ditetapkan oleh MPR pada tanggal 19 Oktober 1999; b. Perubahan kedua ditetapkan oleh MPR pada tanggal 18 Agustus 2000; c. Perubahan ketiga ditetapkan oleh MPR pada tanggal 9 November 2001; d. Perubahan keempat ditetapkan oleh MPR pada tanggal 10 Agustus 2002. Perubahan dimaksud hanya pada BAB, Pasal, dan Ayat tertentu yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan. Akan tetapi

53

Pembukaannya sesuai dengan komitmen bangsa Indonesia, tetap, tidak akan, dan tidak dapat diubah oleh siapa pun termasuk MPR.

B. HAKIKAT PANCASILA Pancasila merupakan satu kesatuan organis atau satu kesatuan keseluruhan yang bulat utuh. Sila yang satu tidak dapat dilepas-lepaskan dari sila yang lainnya. Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut (Darji, 1991:37) : Sila 1 Sila 2 : Ketuhanan Yang Maha Esa, meliputi dan menjiwai Sila 2, 3, 4, dan 5. : Kemanusiaan yang adil dan beradab, diliputi dan dijiwai Sila 1, meliputi dan menjiwai Sila 3, 4, dan 5. Sila 3 : Persatuan Indonesia, diliputi dan dijiwai Sila 1 dan 2, meliputi dan dijiwai Sila 4 dan 5. Sila 4 : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, diliputi dan dijiwai Sila 1, 2, 3, meliputi dan dijiwai Sila 5. Sila 5 : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, diliputi dan dijiwai Sila 1, 2, 3, dan 4. Untuk lebih jelasnya dapat diberikan contoh sebagai berikut. Paham kemanusiaan kiranya dimiliki pula oleh bangsa-bangsa lain di dunia, tetapi bagi bangsa Indonesia, kemanusiaan yang adil dan beradab yang dirumuskan dalam sila 2 adalah paham kemanusiaan yang dibimbing oleh Ketuhanan Yang Mahas Esa, yaitu kemanusiaan sebagaimana diajarkan oleh oleh Tuhan YME. Inilah yang dimaksud dengan sila 2 diliputi dan dijiwai oleh sila 1. Demikian halnya dengan sila-sila yang lain. Maka dapat dikatakan bahwa sila-sila 2, 3, 4, dan 5 pada hakikatnya merupakan penjabaran dan penghayatan sila 1. Inilah yang disebut majemuk tunggal dan hierakis piramidal. Jika digambarkan sebagai berikut :

54

Sekalipun sila-sila di dalam Pancasila itu merupakan satu kesatuan yang tidak terlepas satu sama lainnya, tetapi dalam hal memahami hakikat pengertiannya sangatlah diperlukan uraian sila demi silanya. Akan tetapi uraian atau penafsirannya harus tetap bersumber, berpedoman, dan berdasar pada Pembukaan, Batang Tubuh, dan Penjelasan UUD 1945. Hakikat pengertian Pancasila dimaksud adalah : 1. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan berasal dari kata Tuhan, ialah Alloh Swt., pencipta alam semesta dan segala isinya, termasuk makhluk hidup seperti manusia, binatang, dan tumbuhtumbuhan. Yang dimaksud dengan Tuhan Yang Maha Esa ini, memang menurut Prof. Hazairin (1990:31) dalam bukunya Demokrasi Pancasila yang dikutip Adian Husaini (2013:6) dalam artikelnya di Harian Republika tanggal 3 Juni 2013, tentang Pancasila dan Agama, adalah Alloh Swt., dengan konsekuensi (akibat mutlak) berarti pengakuan kekuasaan Alloh atau kedaulatan Alloh. Dengan demikian, negara RI wajib menjalankan syariat Islam bagi orang Islam, syariat Nasrani bagi orang Nasrani, syariat Budha bagi orang Budha, dan syariat Hindu bagi orang Bali, dsb. sesuai dengan agama yang ada di Indonesia. Yang Maha Esa artinya Yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya. Esa dalam zatnya, artinya tidak terdiri dari zat-zat yang banyak lalu menjadi satu. Esa dalam sifatnya, artinya sifat Tuhan adalah Maha Sempurna. Esa dalam perbuat55

annya, artinya perbuatan Tuhan tidak dapat disamai oleh apa dan siapa pun. Keyakinan akan adanya Tuhan YME itu bukanlah suatu dogma atau kepercayaan yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya melalui akal pikiran, melainkan suatu kepercayaan yang berakar pada pengetahuan yang benar yang dapat diuji atau dibuktikan melalui kaidah-kaidah logika atau filsafat. Atas keyakinan yang demikian itulah, maka negara Indonesia berdasarkan Ketuhanan YME memberikan jaminan kebebasan kepada setiap rakyat untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya dan beribadah menurut ajaran agama dan kepercayaannya itu. Di negara Indonesia tidak boleh ada pertentangan dalam hal Ketuhanan YME, tidak boleh ada sikap dan perbuatan yang anti Ketuhanan YME dan anti agama, serta tidak boleh ada paksaan dalam agama. Dengan perkataan lain di dalam negara Indonesia tidak ada dan tidak boleh ada paham yang meniadakan atau tidak percaya akan adanya Tuhan YME (atheisme). Dalam pada itu setiap orang harus mengembangkan sikap toleransi terhadap kebebasan untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya, dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu. Juga tidak boleh ada sempalan-sempalan dalam suatu

agama yang mengingkari atau bertentangan dengan ajaran agama bersangkutan. Sila pertama Ketuhanan YME dalam Pancasila menjadi sumber pokok nilainilai kehidupan bangsa Indonesia, menjiwai dan mendasari serta membimbing perwujudan kemanusiaan yang adil dan beradab, penggalangan persatuan Indonesia yang telah membentuk NKRI yang berdaulat penuh, yang bersifat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hakikat pengertian ini sesuai dengan : a. Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa .. b. Pasal 29 UUD 1945 : 1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan 56

kepercayaannya itu. 2. Sila Kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kemanusiaan berasal dari kata manusia, yaitu makhluk berbudi yang memiliki potensi cipta, rasa, dan karsa. Karena potensi ini manusia menduduki dan memiliki derajat/martabat yang tinggi. Dengan akal budinya manusia berkebudayaan, dengan budi nuraninya manusia menyadari nilai-nilai dan norma-norma. Kemanusiaan berarti sifat manusia yang esensinya memiliki identitas dan martabat kemanusiaannya (human dignity). Adil mengandung arti bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas norma-norma yang obyektif, tidak subyektif dan sewenang-wenang. Beradab berasal dari kata adab yang berarti budaya. Jadi, beradab berarti berbudaya, yang mengandung arti bahwa sikap hidup, keputusan, dan tindakan selalu didasarkan atas nilai-nilai budaya, terutama norma-norma sosial dan kesopanan (moral). Adab juga mengandung pengertian tata kesopanan, kesusilaan, atau moralitas. Demikianlah, maka beradab dapat ditafsirkan sebagai berdasarkan nilai-nilai kesusilaan atau moralitas khususnya, dan kebudayaan pada umumnya. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kesadaran sikap dan perbuatan manusia yang didasarkan pada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan umumnya, baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, maupun terhadap alam sekitar. Pada prinsipnya kemanusiaan yang adil dan beradab adalah sikap dan perbuatan manusia yang sesuai dengan kodrat hakikat manusia yang berbudi, sadar nilai, dan budaya. Potensi kemanusiaan dimiliki oleh semua manusia di dunia, tidak pandang ras, etnis, atau warna kulitnya. Mereka sama-sama memiliki martabat kemanusiaan yang tinggi. Mereka pun harus diperlakukan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk Tuhan yang mulia. Sila Kedua diliputi dan dijiwai sila Pertama. Hal ini berarti bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab bagi bangsa Indonesia bersumber dari ajaran Tuhan YME (agama) sesuai dengan kodrat manusia sebagai ciptaan-Nya. pengertian ini sesuai dengan : 57 Hakikat

a. Pembukaan UUD 1945 alinea pertama, Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan perikeadilan. b. Pasal-pasal 27, 28, 29, 30, dan 31 UUD 1945 : 1) Pasal 27 : (1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya; (2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan; (3) Setiap warga negara berhak dan wajib ikutserta dalam upaya pembelaan negara. 2) Pasal 28 : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagaimnya ditetapkan dengan undang-undang. 3) Pasal 28A : Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. 4) Pasal 28B : (1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah. (2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

5) Pasal 28C : (1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. 58

(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya. 6) Pasal 28D : (1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. (2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. (3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. (4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan. 7) Pasal 28E : (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. 8) Pasal 28F : Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. 9) Pasal 28G : (1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan un59

tuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. (2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. 10) Pasal 28H : (1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. (2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. (3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. (4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun. 11) Pasal 28I : (1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. (2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif. (3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban. (4) Perlindungan, pemajuan, penegakkan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah. (5) Untuk menegakkan dan melindung hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang60

undangan. 12) Pasal 28J : (1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam (2) tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegra. (3) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormat-an atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, kea-manan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. 13) Pasal 29 : (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. 14) Pasal 30 : (1) Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikutserta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara; (2) Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung; (3) Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara sebagai alat negara bertugas mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara; (4) Kepolisian negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, malayani masyarakat, serta menegakkan hukum; (5) Susunan dan kedudukan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, hubungan kewenangan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia di dalam menjalankan tugasnya, 61

syarat-syarat keikutsertaan warga negara dalam usaha pertahanan dan keamanan negara, serta hal-hal yang terkait dengan pertahanan dan keamanan negara diatur dengan undang-undang. 15) Pasal 31 : (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan atu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang; (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi niali-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. 3. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia. Persatuan berasal dari kata satu, yang berarti utuh tidak terpecah-belah. Persatuan mengandung pengertian bersatunya bermacam corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan. Berkenaan dengan Indonesia, mengandung dua makna. Pertama, makna geografis, yang berarti sebagian bumi yang membentang dari 95 - 141 derajat Bujur Timur, dan dari 6 - 11 derajat Lintang Selatan. Kedua, makna bangsa dalam arti politis, yaitu bangsa yang hidup di dalam wilayah itu. Yang dimaksud sila ketiga Pancasila ini adalah Indonesia dalam pengertian bangsa secara politis. Dengan demikian, persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia dengan batas geografis tersebut di atas, yaitu wilayah bekas Hindia Belanda, dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Pulau Rote. 62

Bangsa Indonesia bersatu karena didorong untuk mencapai kehidupan kebangsaan yang bebas dalam wadah negara yang merdeka dan berdaulat, yaitu NKRI. Persatuan Indonesia merupakan faktor yang dinamis dalam kehidupan bangsa Indonesia, bertujuan untuk terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Mas Adam Berdasi), melalui upaya melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Persatuan Indonesia adalah perwujudan paham kebangsaan Indonesia yang dijiwai oleh Ketuhanan YME serta Kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena itu paham kebangsaan atau nasionalisme Indonesia tidaklah sempit (chauvinistis), tetapi dalam arti menghargai pula bangsa lain sesuai dengan sifat kehidupan bangsa itu sendiri. Nasionalisme Indonesia mengatasi paham golongan, suku bangsa, etnis, ras, tetapi sebaliknya membina tumbuhnya persatuan dan kesatuan sebagai satu bangsa yang padu, tidak terpecah-pecah oleh sebab apa pun. (Darji, ibid:43). Hakikat pengertian ini sesuai dengan : a. Alinea keempat Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia.... b. Pasal-pasal 1, 32, 35, 36 UUD 1945 : 1) Pasal 1 : (1) Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik; (2) Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar; (3) Negara Indonesia adalah negara hukum. 2) Pasal 32 : (1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradab63

an dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya; (2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. 3) Pasal 35 : Bendera negara Indonesia ialah Sang Merah Putih. 4) Pasal 36 : Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia. 5) Pasal 36A : Lambang negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. 6) Pasal 36B : Lagu kebangsaan ialah Indonesia Raya. 4. Sila Keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Kerakyatan berasal dari kata rakyat, yang berarti sekelompok manusia yang berdiam dalam satu wilayah tertentu. Kerakyatan dalam hubungan sila keempat ini berarti bahwa kekuasaan yang tertinggi berada di tangan rakyat atau disebut kedaulatan rakyat, atau juga demokrasi (kekuasaan/pemerintahan rakyat). Hikmat kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan selalu mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan rakyat dan dilaksanakan dengan sadar, jujur, dan bertanggung jawab, serta didorong oleh itikad baik sesuai dengan hati nurani. Permusyawaratan adalah suatu tata cara khas kepribadian Indonesia untuk merumuskan atau memutuskan sesuatu hal berdasarkan kehendak rakyat, hingga dicapai kesepakatan secara mufakat bulat. Akan tetapi jika kesepakatan tidak tercapai, dapat saja dilakukan voting (pemungutan suara), yang rumusnya 50+1 (setengah atau 50% ditambah satu). Perwakilan adalah suatu sistem atau tata cara, prosedur, dalam mengusahakan turutsertanya rakyat mengambil bagian dalam kehidupan bernegara, antara lain dilakukan dengan melalui badan-badan perwakilan. 64

Demikianlah, maka kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, berarti rakyat dalam menjalankan kekuasaannya melalui mekanisme perwakilan dan keputusan-keputusannya diambil dengan jalan musyawarah yang dipimpin oleh pikiran yang sehat serta penuh rasa tanggung jawab, baik kepada Tuhan YME maupun kepada rakyat yang diwakilinya. Sila keempat ini merupakan sendi penting asas kekeluargaan masyarakat Indonesia. Juga merupakan suatu asas bahwa tata pemerintahan RI didasarkan atas kedaulatan rakyat. Hakikat pengertian ini sesuai dengan : a. Alinea keempat Pembukaan UUD 1945, ...maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang berkedaulatan rakyat.... b. Pasal-pasal 1, 2, 3, 28, dan 37 UUD 1945 : 1) Pasal 1 : (1) Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik; (2) Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar; (3) Negara Indonesia adalah negara hukum. 2) Pasal 2 : (1) Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih lanjut dengan undang-undang; (2) Majelis Permusyawaratan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibukota negara; (3) Segala putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat ditetapkan dengan suara terbanyak. 3) Pasal 3 : (1) Majelis Permusyawaratan Rakyat berwenang mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar; (2) Majelis Permusyawaratan Rakyat melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden; 65

(3) Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut UndangUndang Dasar. 4) Pasal 28 : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. 5) Pasal 37 : (1) Usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar dapat diagendakan dalam sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat apabila diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat; (2) Setiap usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar diajukan secara tertulis dan ditunjukkan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya; (3) Untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar, sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat; (4) Putusan untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar dilakukan dengan persetujuan sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat; (5) Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat dilakukan perubahan. 5. Sila Kelima : Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial berarti keadilan yang berlaku dalam masyarakat di segala bidang kehidupan, baik material maupun spiritual. Seluruh rakyat Indonesia berarti setiap orang yang menjadi rakyat atau warga negara Indonesia, baik yang berdiam di wilayah kekuasaan RI maupun yang berada di luar negeri. Jadi, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berarti bahwa setiap orang Indonesia mendapat perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Makna keadilan sosial mencakup pula pengertian adil dan 66

makmur, sehingga adil dalam kemakmuran, dan makmur dalam keadilan. Kehidupan manusia itu meliputi kehidupan jasmani dan rohani. Maka keadilan itu pun meliputi keadilan di dalam pemenuhan tuntutan-tuntutan hakiki bagi kehidupan jasmani, serta keadilan di dalam pemenuhan tuntutan-tuntutan hakiki bagi kehidupan rohani. Atau dengan perkataan lain, keadilan itu meliputi keadilan di bidang fisik-material, dan mental-spiritual. Sila keempat atau keadilan sosial ini adalah tujuan dari empat sila sebelumnya, dan merupakan tujuan bangsa Indonesia dalam bernegara, yang perwujudannya ialah tata masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila (Mas Adam Berdasi). Hakikat pengertian ini sesuai dengan : a. Alinea kedua Pembukaan UUD 1945, Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke dapan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. b. Pasal-psal 23, 27, 28, 29, 31, 33, dan 34 UUD 1945 : 1) Pasal 23 : (1) Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; (2) Rancangan undang-undang anggaran pendapat dan belanja negara diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah; (3) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara yang disulkan oleh Presiden, Pemerintah menjalankan anggaran pendapatan dan belanja negara tahun yang lalu. 2) Pasal 23A : Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara 67

diatur dengan undang-undang. 3) Pasal 23B : Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang. 4) Pasal 23C : Hal-hal lain mengenai keuangan negara diatur dengan undang-undang. 5) Pasal 23D : Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan, tanggung jawab, dan independensinya diatur dengan undang-undang. 6) Pasal 27 : (1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya; (2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan; (3) Setiap warga negara berhak dan wajib ikutserta dalam upaya pembelaan negara. 7) Pasal 28 : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagaimnya ditetapkan dengan undang-undang. 8) Pasal 29 : (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. 9) Pasal 31 : (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan atu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang di68

datur dengan undang-undang; (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. 10) Pasal 33 : (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan; (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat; (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional; (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. 11) Pasal 34 : (1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara; (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan; (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak; (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. 69

BAB V PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT

A. PENGERTIAN FILSAFAT
1. Filsafat berasal dari bahasa Latin, philos + sophia. Philos berarti gemar, senang, menekuni, menghayati, mengamalkan. Sedangkan sophia berarti bijak (wise), peduli (care), berbagi (share), adil, jujur, berbudi luhur (fair). Dengan demikian filsafat berarti gemar, senang menekuni, menghayati, dan mengamalkan perilaku bijak. Atau berusaha mengetahui terhadap sesuatu secara mendalam (hakikat, fungsi, ciri-ciri, kegunaan, masalah, dan memecahkan masalah-masalah itu). Dari filsafat kemudian muncul pengetahuan, ilmu, dan ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Kaelan (2004:56), bahwa keseluruhan arti filsafat meliputi berbagai masalah yang dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu : a. Sebagai produk, yang mencakup pengertian : 1) Jenis pengetahuan, ilmu, konsep, dan pemikiran-pemikiran dari para filsuf (ahli filsafat) zaman dahulu yang lazimnya merupakan aliran atau sistem filsafat tertentu, misalnya rasionalisme, materialisme, pragmatisme, dll. 2) Jenis problem yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat, yaitu dalam mencari kebenaran yang timbul dari persoalan yang bersumber pada akal. b. Sebagai suatu proses, yaitu suatu bentuk aktivitas pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan cara atau metode tertentu sesuai dengan obyeknya. Dalam pengertian ini filsafat adalah suatu sistem pengetahuan yang dinamis. 2. Ilmu pengetahuan diperoleh bermula dari rasa ingin tahu yang merupakan suatu ciri manusia yang membedakannya dengan mahluk hidup lain. Rasa ingin tahu manusia ini asalnya mengenai benda-benda di sekelilingnya, alam sekitarnya, seperti matahari, bulan, bintang-bintang, dll. yang dilihatnya, bahkan kemudian ingin tahu tentang dirinya sendiri. Proses ingin tahu ini dilakukan melalui nalar (pikirannya) dengan kontemplasi (merenung) untuk mencari jawaban terhadap 70

apa yang dilihatnya itu. Inilah yang disebut berfilsafat. Namun ada kalanya jawaban yang diharapkannya tidak juga didapat sehingga timbul mitos, yaitu berbaurnya nalar dengan kepercayaan karena ingin segera mendapat jawaban atas sesuatu tetapi tidak sampai. Contoh, mengapa gunung meletus? Karena nalar belum jalan, tetapi harus segera dijawab, akhirnya jawabannya, katanya, karena sang penunggunya (Sunda : nu ngageugeuh) sedang marah. Demikian juga tentang pelangi, katanya pelangi itu adalah selendang bidadari, dsb. Sementara itu menurut Noor Ms Bakry (2009: 25), secara terminologis, atau berdasarkan apa yang terkandung dalam istilahnya, filsafat didefinisikan sebagai pemikiran secara kritik dan sistematik untuk mencari hakikat atau kebenaran sesuatu. Definisi ini tinjauan secara ontologis adalah untuk mencari hakikat sesuatu, dan secara epistemologis adalah untuk mencari kebenaran sesuatu. 3. Pendekatan dalam menemukan kebenaran itu didapat melalui antara lain : a. Akal sehat (common sense); b. Prasangka (praejudice); c. Naluri (instinct); d. Secara coba-coba (trial and error); e. Secara kebetulan (by chance, coincidentally); f. Wahyu/ilham (revelation/inspiration). Dari pendekatan-pendekatan itu kemudian menjadi pengetahuan, yaitu hasil pemikiran asosiatif yang menghubungkan atau menjalin sebuah pikiran dengan pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang tanpa pemahaman kausalitas. Apabila disertai pemahaman kausalitas (sebab-akibat) dari suatu obyek tertentu menurut metode dan sistematis, maka jadilan ilmu. Dikatakan ilmu apabila mempunyai ciri-ciri : a. Bersifat empirik b. Rasional c. Bersifat umum d. Akumulatif dapat dibuktikan dengan panca indera; hubungan kausalitasnya (sebab-akibat) jelas; universal; tumbuh dan berkembang dari masa ke masa dan saling mengoreksi.

71

Pengertian Ilmu Pengetahuan adalah : a. Sekelompok pengetahuan yang terorganisasi dan sistematis yang mempelajari gejala-gejala alam dan sosial melalui eksperimen dan pengamatan; b. Suatu obyek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil, dan rumus yang melalui percobaan-percobaan yang sistematis dilakukan berulangkali dan teruji kebenarannya, dapat diajarkan dan dipelajari. (S.P. Siagian, 1996:20). Adapun pembagian ilmu dapat digambarkan di bawah ini. BAGAN PEMBAGIAN ILMU

llmu-ilmu Eksakta

Matematika Fisika Kimia Statistika Teknik Kalkulus, dsb. Sejarah Hukum Psikologi Ekonomi Politik Sosiologi Antropologi Administrasi, dsb. Seni Sastra Seni Tari Seni Suara Seni Musik Seni Lukis Seni Patung, dsb.
Sumber : S.P. Siagian, 1996:22.

FILSAFAT

Ilmu-lmu Sosial

Humaniora

Hubungan ilmu, seni, dan teori : a. Ilmu mengajarkan tentang sesuatu; b. Seni mengajarkan bagaimana sesuatu itu dilakukan, atau penerapan pengetahuan dalam pelaksanaan pekerjaan;

72

c. Teori : 1) Prinsip umum yang dirumuskan untuk menerangkan sekelompok gejala yang saling berkaitan; 2) Penjelasan tentang bagaimana peristiwa tertentu terjadi sehingga membentuk batang tubuh pengetahuan. 4. Beberapa pengertian filsafat menurut para ahli : a. Para filsuf Yunani dan Romawi : 1) Plato (427-348 sM) : Filsafat ialah ilmu pengetahuan untuk mencapai kebenaran yang asli. 2) Aristoteles (382-322 sM) : Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, sostetika. 3) Cicero (106-043 sM) : Filsafat ialah ibu dari semua ilmu pengetahuan lainnya. Filsafat ialah ilmu pengetahuan terluhur dan keinginan untuk mendapatkannya. b. Para Filsuf Abad Pertengahan : 1) Descrates (1596-1650) : Filsafat ialah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikannya. 2) Immanuel Kant (1724-1804) : Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan, yaitu : a) Apakah yang dapat kita ketahui? Jawabannya termasuk bidang metafisika. b) Apakah yang seharusnya kita kerjakan? Jawabannya termasuk bidang etika. c) Sampai di manakah harapan kita? Jawabannya termasuk bidang agama. d) Apakah yang dinamakan manusia itu? Jawabannya termasuk bidang antropologi.

73

c. Para Pakar Indonesia : 1) I.R. Pudjawijatna : Filsafat ialah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan atas pikiran belaka. 3) Dardji Darmodihardjo : Filsafat ialah pemikiran manusia dalam usahanya mencari kebijak-sanaan dan kebenaran yang sedalam-dalamnya sampai ke akar-akarnya (radikal; radik = akar), teratur (sistematik), dan menyeluruh (universal).

B. ALIRAN, OBYEK, CABANG, TUJUAN, DAN KEGUNAAN FILSAFAT 1. Aliran-aliran Filsafat. a. Materialisme : Mengajarkan bahwa hakikat realitas adalah kesemestaan, termasuk mahluk hidup, manusia, ialah materi (kebendaan). Semua realitas ditentukan oleh materi serta terikat pada hukum alam dan hukum sebab-akibat (kausalitas) yang bersifat obyektif; b. Idealisme/Spiritualisme : Mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang menentukan hidup dan pengertian manusia. Kesadaran atas realitas dirinya dan kesemestaan karena ada akal budi dan kesadaran rohani. Manusia yang tidak sadar atau mati, sama sekali tidak menyadari dirinya. Jadi hakikat diri dan kenyataan ialah akal budi (ide dan spirit); b. Realisme : Merupakan sintesis dari ke dua aliran di atas. Jadi, realisme adalah perpaduan antara jasmaniah-rohaniah, materi dan non materi.

2. Obyek Filsafat. a. Forma untuk mengerti segala sesuatu yang ada sedalam-dalamnya,

hakikatnya metafisis; b. Materia mengenai segala sesuatu yang ada dan mungkin ada.

74

3. Cabang-cabang Filsafat. a. Metafisika yang membahas tentang hal-hal bereksistensi di balik fisis,

yang meliputi bidang ontologi, kosmologi, dan antropologi; b. Epistemologi c. Ontologi yang dikaji; d. Aksiologi e. Metodologi pengetahuan; f. Logika yang berkaitan dengan filsafat berpikir, yaitu rumus-rumus dan bidang yang menyelidiki nilai. Atau nilai kegunaan ilmu. yang berkaitan dengan persoalan hakikat metode dalam ilmu yang berkaitan dengan persoalan hakikat pengetahuan; yang menyelidiki hakikat dari realita yang ada, atau hakikat apa

dalil-dalil berpikir yang benar; g. Etika h. Estetika 4. Tujuan Filsafat. a. Teoritis b. Praktis berusaha mencapai kenyataan/mencapai hal yang nyata; untuk memperoleh pedoman hidup. yang berkaitan dengan mora;litas dan tingkah laku manusia; yang berkaitan dengan hakikat keindahan.

5. Kegunaan Filsafat. Untuk memberikan dinamika dan ketekunan dalam mencari kebenaran, arti, dan makna hidup.

C. PEMBAHASAN PANCASILA SECARA ILMIAH Menurut Pujawiyatna, syarat-syarat ilmiah harus berobyek, bermetode, bersistem, dan bersifat universal. Berkenaan dengan Pancasila, maka : 1. Obyek. a. Obyek Formal : Pancasila sebagai suatu sudut pandang tertentu :

75

1) Moral 2) Ekonomi

moral Pancasila; ekonomi Pancasila.

b. Obyek Material : Pancasila merupakan sarana pembahasan dan pengkajian baik yang bersifat empiris maupun non empiris. 1) Empiris 2) Non Empiris hasil budaya bangsa; nilai-nilai budaya, moral, yang tercermin dalam kepribadi-

an, sifat, karakter, dan pola-pola budaya dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 2. Metode. Menggunakan hukum-hukum logika dalam menarik kesimpulan : a. Hermeneutika b. Analitico Synthetic c. Koherensi Historis untuk menemukan makna di balik obyek; perpaduan analisis dan sintesis; keterkaitan obyek yang runtut dalam sejarah;

d. Pemahaman, penafsiran, dan interpretasi. Kesemuanya dipakai karena Pancasila dapat ditinjau dari berbagai aspek, misalnya berkaitan dengan nilai-nilai hasil budaya dan obyek sejarah. 3. Sistem. Sistem adalah keseluruhan (totalitas) daripada komponen yang terdiri dari sub komponen - sub komponen yang masing-masing mempunyai fungsi sendirisendiri, tetapi satu sama lain saling berkaitan (interrelasi) dan bergantungan (interdependensi) sehingga membentuk keterpaduan. Pengetahuan ilmiah harus merupakan sesuatu yang bulat dan utuh. Bagian-bagiannya harus saling berhubungan (interrelasi dan interdependensi) menjadi satu kesatuan. Berkaitan

dengan Pancasila, maka sila-silanya merupakan kesatuan yang terpadu, saling kait-mengkait, bergantungan (interdepedensi), tidak terpisahkan, sehingga disebut majemuk tunggal dan hierarkis piramidal. 4. Universal. Umum, tidak terbatas oleh waktu, ruang, keadaan, situasi, kondisi, maupun jum76

lah tertentu. Dalam hal ini intisari, esensi, dan makna dari sila-sila Pancasila adalah universal, dalam arti, dapat diterapkan kapan saja, di mana saja, dan dalam situasi apa saja.

D. PANCASILA DITINJAU DARI TINGKATAN PENGETAHUAN ILMIAH Tingkatan pengetahuan ilmiah adalah : Deskriptif, kausal, normatif, dan esensial. 1. Deskriptif menjawab pertanyaan bagaimana?

Pancasila dikaji secara obyektif dengan menerangkan, menjelaskan, dan menguraikan sesuai dengan kenyataan sebagai hasil budaya bangsa. Hal ini akan berkaitan dengan sejarah perumusan, nilai-nilai, kedudukan dan fungsi Pancasila. Dalam hal ini Pancasila adalah sebagai dasar filsafat dan ideologi negara, pandangan hidup bangsa, moral pembangunan, dsb. 2. Kausal menjawab pertanyaan mengapa?

Memberikan jawaban sebab-akibat. Proses kausalitas terjadinya Pancasila meliputi empat kausa, yaitu materialis, formalis, efisien, dan finalis. Pancasila

sebagai sumber nilai dalam segala realisasi dan penjabarannya berkaitan dengan hukum kausal. 3. Normatif menjawab pertanyaan ke mana?

Berkaitan dengan suatu ukuran, parameter, dan norma-norma. Karena Pancasila untuk diamalkan, direalisasikan, dan dikonkritisasikan, maka harus memiliki norma yang jelas, yaitu norma hukum, moral, etika, dan norma kenegaraan. 4. Esensial menjawab pertanyaan apa?

Memberikan jawaban mendalam tentang hakikat sesuatu. Kajian Pancasila secara esensial adalah untuk mendapatkan pengetahuan tentang intisari atau makna yang dalam dari sila-sila Pancasila. Menurut Lili Rajidi dalam Filsafat Hukum Pancasila (1967:10), hakekat sesuatu adalah tempat sesuatu di dalam semesta dan hubungan sesuatu tadi dengan isi alam semesta yang lain. Jadi yang

77

berfilsafat itu adalah manusia, dan dirinyalah pertama-tama yang memperoleh perhatiannya.

E. NILAI-NILAI PANCASILA BERWUJUD DAN BERSIFAT FILSAFAT Filsafat (falsafah) Pancasila = Pengetahuan yang mendalam tentang Pancasila. Pengertian yang mendalam didapat dari sila-sila Pancasila. Hakikat dan pokokpokok dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dimaksud adalah : 1. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dijadikan dasar dan pedoman

dalam mengatur sikap dan tingkah laku manusia Indonesia dalam hubungannya dengan Tuhan, masyarakat, dan alam semesta. 2. Pancasila sebagai dasar negara dijadikan dasar dan pedoman dalam meng-

atur kehidupan bernegara. Dalam kegiatan praktis operasional dijabarkan dalam peraturan perundang-undangan. 3. Pancasila yang dirumuskan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 merupakan kebulatan yang utuh. 4. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan uraian rinci dari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dijiwai oleh Pancasila. 5. Pokok-pokok Pikiran yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan dijabarkan dalam Batang Tubuh (Bab dan Pasal-pasalnya) adalah perwujudan dari jiwa Pancasila. 6. Kesatuan tafsir sila-sila Pancasila harus bersumber dan berdasarkan Pembukaan dan Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945. 7. Nilai-nilai yang hidup berkembang dalam masyarakat yang belum tertampung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 perlu diselidiki untuk memperkuat dan memperkaya nilai-nilai Pancasila : a. Nilai-nilai yang memperkuat dan menunjang kehidupan bermasya-rakat, berbangsa, dan bernegara diterima, asal tidak bertentangan dengan kepribadian bangsa dan nilai-nilai Pancasila; b. Nilai-nilai yang bertentangan dan melemahkan, jangan dimasukkan sebagai nilai-nilai Pancasila, bahkan jangan sampai hidup apalagi berkembang; 78

c. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Batang Tubuhnya dipergunakan sebagai batu ujian dari nilai-nilai yang lain agar dapat diterima sebagai nilai-nilai Pancasila.

F. PENGERTIAN PANCASILA SECARA FILSAFAT Terdapat dua hal tentang filsafat, yaitu sebagai metode dan sebagai suatu pandangan. Berkaitan dengan Pancasila, maka : 1. Yang dapat menjadi substansi pembentukan ideologi Pancasila sebagai metode, menunjukkan cara berpikir dan analisis untuk menjalankan ideologi Pancasila. 2. Sebagai suatu pandangan, berupa nilai dan hasil pemikiran. Jadi, filsafat Pancasila adalah refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa. Dengan mengikuti definisi filsafat menurut Noor Ms Bakry (2009:25), maka filsafat Pancasila adalah pemikiran secara kritik dan sistematik untuk mencari hakikat atau kebenaran lima prinsip kehidupan manusia. Pemikiran secara kritik yang dimaksudkan di sini selalu menanyakan tentang hakikat atau kebenaran, misalnya : 1. Apa Pancasila itu sehingga dinyatakan sebagai jiwa bangsa Indonesia? 2. Apa benar kepribadian bangsa Indonesia adalah Pancasila? Dua pertanyaan tersebut di atas membutuhkan pembuktian dan penelitian yang mendalam untuk menjawabnya. Dan jawabannya berhubungan satu sama lain sebagai satu kesatuan dan tidak ada kontradiski di dalamnya, sehingga merupakan suatu uraian yang sistematik. Lebih lanjut Noor Ms Bakry (2009:46-53), mengemukakan penetapan Pancasila menjadi dasar filsafat negara, memiliki tiga keseimbangan, yaitu : 1. Kesimbangan Konsensus Nasional. Hal ini terjadi karena pada saat perumusan dasar negara dan hukum dasar negara di BPUPKI terdapat perbedaan pendapat dan cita-cita mendirikan negara merdeka, khususnya antara golongan agama Islam yang memperjuangkan pembentukan negara Islam, yaitu negara yang berdasarkan syariat Islam, dengan

79

golongan kebangsaan atau nesionalis yang menginginkan negara sekuler, yaitu negara yang tidak berurusan dengan agama. Maka Pancasila adalah jalan tengah yang mempertemukan dua gagasan dari perbedaan dimaksud, di antaranya pencantuman tambahan kalimat Yang Maha Esa mengikuti sila pertama Ketuhanan, yang mencerminkan ketauhidan, atau masuknya ajaran agama dalam dasar falsafah Pancasila, sehingga dapat diterima oleh golongan agama (Islam). Sementara itu keinginan golongan nasionalis pun diterima karena memuat unsur-unsur yang dijunjung tinggi oleh semua golongan dan lapisan masyarakat Indonesia yang merupakan kesatuan nilai-nmilai luhur yang menjadi kepribadian bangsa. Karenanya negara Indonesia disebut juga Negara Theis Demokrasi. 2. Keseimbangan Sistem Kemasyarakatan. Hal ini adalah bentuk keseimbangan antara sifat individu dan sifat sosial, yang keduanya merupakan kodrat manusia. Masyarakat tidak mungkin ada jika tidak ada individu-individu manusia, sebaliknya individu tidak berati apa-apa tanpa kehidupan bermasyarakat. Jadi, Pancasila menyeimbangkan sifat individu dan sifat sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sehingga merupakan titik perimbangan yang mempertemukan aliran individualisme dan kolektivisme, sehingga disebut Negara Monodualisme. 3. Keseimbangan Sistem Kenegaraan. Dalam hal ini Pancasila merupakan sintesis antara dasar-dasar kenegaraan modern tentang sistem demokrasi dengan tradisi lama kehidupan bangsa Indonesia, yaitu sistem musyawarah mufakat untuk menegakkan negara modern. Dengan perkataan lain, sintesis antara ide-ide besar dunia dengan ide-ide asli Indonesia, menjadi paham dialektik kenegaraan, yang bertitik tolak dari paham bangsa yang hidup bersama dalam kekeluargaan bangsa-bangsa, sehingga terbuka untuk pemikiran baru dan dinamis, dan negaranya disebut Negara Dialektik.

G. PANCASILA SEBAGAI DASAR DAN ARAH KESEIMBANGAN ANTARA HAK DAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA Nilai-nilai Pancasila mengandung beberapa hubungan manusia yang melahirkan ke80

seimbangan antara hak dengan kewajiban. 1. Hubungan Vertikal antara manusia dengan sang Khalik sebagai penjelmaan

nilai-nilai Ketuhanan YME : a. Manusia memanfaatkan alam ciptaan Tuhan YME; b. Manusia harus bertaqwa kepada Tuhan YME; c. Akan ada pembalasan atas amal manusia 2. Hubungan Horizontal Surga dan Neraka.

antara manusia dengan sesamanya, baik dalam fungsi-

nya sebagai warga masyarakat, warga bangsa, dan warga negara. Dari sini melahirkan hak dan kewajiban yang harus seimbang. 3. Hubungan Alamiah antara manusia dengan alam sekitarnya, yaitu dengan

hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alam beserta kekayaan yang terkandung di dalamnya. Alam dimanfaatkan oleh manusia, tetapi manusia wajib melestarikan alam.

H. ALASAN PRINSIP PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP DAN IDEOLOGI 1. Mengakui adanya kekuatan gaib yang ada di luar diri manusia 2. Keseimbangan dalam hubungan, keserasian, dan keselarasan dalian diri. 3. Dalam mengatur hubungan, peranan dan kedudukan manusia sebagai anggota masyarakat dan bangsa sangat penting merupakan nilai sentral. 4. Kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan, dan musyawarah untuk mufakat sendi kehidupan bersama. 5. Kesejahteraan tujuan hidup bersama. persatuan dan kesatuan bangsa Tuhan YME. perlu pengen-

Sebagai suatu pemikiran filsafat tentang negara, Pancasila memberikan jawaban mendasar dan menyeluruh terhadap lima masalah :

81

1. Apa negara itu? Jawabannya dengan prinsip kebangsaan (Persatuan Indonesia). 2. Bagaimana hubungan antarbangsa/antarnegara? Jawabannya dengan prinsip beradab). 3. Siapakah sumber dan pemegang kekuasaan negara? Jawabannya dengan prinsip demokrasi (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan). 4. Apa tujuan negara? Jawabannya dengan prinsip kesejahteraan (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). 5. Bagaimana hubungan antara agama dengan negara? Jawabannya dengan prinsip Ketuhanan (Ketuhanan Yang Maha Esa). perikemanusiaan (Kemanusiaan yang adil dan

82

BAB V PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL

A. PENGERTIAN IDEOLOGI Ideologi berasal dari bahasa Yunani, idea (eidos) + logos = gagasan berdasarkan pemikiran yang dalam dan merupakan pemikiran filsafat. Dalam arti luas

(terbuka), ideologi berarti segala kelompok cita-cita, nilai-nilai dasar, dan keyakinan-keyakinan yang hendak dijunjung tinggi sebagai pedoman normatif. Sedangkan dalam arti sempit (tertutup), ideologi berarti gagasan atau teori yang menyeluruh tentang makna hidup dan nilai-nilai yang hendak menentukan dengan mutlak bagaimana manusia harus hidup dan bertindak. Beberapa definisi ideologi dikemukakan juga oleh para ahli : 1. Menurut Gunawan Setiardja (1993), ideologi dapat dirumuskan sebagai seperangkat ide asasi tentang manusia dan seluruh realitas yang dijadikan pedoman dan cita-cita hidup. 2. Menurut Padmo Wahyono, ideologi adalah kesatuan yang bulat dan utuh dari ide-ide dasar yang merupakan kelanjutan atau konsekuensi daripada pandangan atau falsafah hidup bangsa, berupa seperangkat tata nilai yang diutamakan akan terealisasi dalam kehidupan berkelompok. 3. Menurut Alfian, ideologi adalah suatu pandangan hidup atau sistem nilai yang menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang oleh suatu masyarakat tentang bagaimana cara sebaiknya yaitu yang secara moral dianggap benar dan adil, mengatur tingkah laku bersama dalam kehi-dupan duniawi. 4. Menurut Noor Ms Bakry (2009:64), definisi ideologi secara umum adalah kesatuan gagasan-gagasan dasar yang sistematik dan menyeluruh tentang manusia dan kehidupannya baik individual maupun sosial dalam kehidupan kenegaraan. 5. Menurut BP-7 Pusat (1993), ideologi juga diartikan sebagai ajaran, doktrin, teori, atau ilmu yang diyakini kebenarannya, yang disusun secara sistematis dan

83

diberi petunjuk pelaksanaanya dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi (dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara). Ideologi berada setingkat di bawah filsafat. Bedanya, filsafat digerakkan oleh kecintaan kepada kebenaran dan tanpa pamrih, sementara ideologi digerakkan oleh tekad untuk mengubah keadaan yang tidak diinginkan menuju ke arah keadaan yang diinginkan. Dengan demikian, dalam ideologi sudah ada

komitmen dan wawasan masa depan yang dikehendaki atau untuk diwujudkan dalam kenyataan. Bagi suatu bangsa dan negara, ideologi itu adalah wawasan, pandangan hidup atau falsafah kebangsaan dan kenegaraan. Oleh karenanya dengan ideologi, akan menjawab secara meyakinkan pertanyaan mengapa dan untuk apa menjadi satu bangsa dan mendirikan negara. Jadi, ideologi adalah landasan sekaligus tujuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ideologi berintikan serangkaian nilai, norma, atau sistem nilai dasar yang bersifat menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang oleh suatu masyarakat atau bangsa sebagai wawasan atau pandangan hidup mereka. Melalui rangkaian atau sistem dasar itu mereka mengetahui bagaimana cara yang paling baik, yang secara moral dan normatif dianggap benar dan adil dalam bersikap dan bertingkah laku untuk memelihara, mempertahankan, dan membangun kehidupan duniawi bersama dengan berbagai dimensinya. (Oetojo Oesman, ibid:6). Dalam perkembangannya kemudian, ideologi mempunyai pengertian yang berbeda : 1. Sebagai Weltanschuung (Jrmn), yaitu pengetahuan yang mengandung pemikiran-pemikiran dan cita-cita besar mengenai sejarah, manusia, masyarakat, dan negara (science of ideas). 2. Sebagai pemikiran yang tidak memperhatikan kebenaran internal dan kenyataan empiris, tumbuh berdasarkan pertimbangan kepentingan tertentu. Kecenderungannya bersifat tertutup. 3. Sebagai suatu belief system, dan karenanya berbeda dengan ilmu, filsafat, ataupun teologi yang secara formal merupakan suatu knowledge system (ber-

84

sifat reflektif, sistematis, dan kritis). Terdapat empat tipe ideologi : 1. Ideologi Konservatif, yang memelihara keadaan yang ada (statusquo). 2. Kontra Ideologi, yang melegitimasi penyimpangan yang ada dalam masyarakat sebagai yang sesuai, dan malah dianggap baik. 3. Ideologi Reformis, yang berkehendak mengubah keadaan. 4. Ideologi Revolusioner, yang bertujuan mengubah seluruh sistem nilai masyarakat yang ada. Dikenal juga ideologi negara, ideologi bangsa, dan ideologi nasional. Ideologi negara dikaitkan dengan pengaturan penyelenggaraan pemerintahan negara. Ideologi bangsa dikaitkan dengan pandangan hidup bangsa. Sedangkan ideologi nasional mencakup kedua-duanya, yaitu ideologi negara dan bangsa. Ideologi nasional bangsa Indonesia yang tercermin dan terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 adalah ideologi perjuangan yang sarat dengan jiwa dan semangat perjuangan bangsa Indonesia untuk mewujudkan negara merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dalam alinea pertama Pembukaan UUD 1945 terkandung motivasi, dasar, dan pembenaran perjuangan (kemerdekaan adalah hak segala bangsa; penjajahan bertentangan dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan). Dalam alinea kedua terkandung cita-cita bangsa (negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur). Dalam alinea ketiga termuat petunjuk atau tekad pelaksanaannya (menyatakan kemerdekaan atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa). Dan dalam alinea keempat termuat tujuan nasional/tugas negara, penyusunan undangundang dasar, bentuk susunan negara yang berkedaulatan rakyat dan dasar negara Pancasila. Pembukaan UUD 1945 yang mengandung pokok-pokok pikiran yang dijiwai Pancasila, dijabarkan lebih lanjut dalam Pasal-pasal Batang Tubuh UUD 1945. Karenanya Pembukaan UUD 1945 memenuhi persyaratan sebagai ideologi yang memuat ajaran, doktrin, teori, dan/atau ilmu tentang cita-cita/ide bangsa Indonesia yang diyakini kebenarannya dan disusun secara sistematis serta diberi

85

petunjuk pelaksanaannya. Pancasila sebagai ideologi nasional dapat diartikan sebagai suatu pemikiran yang memuat pandangan dasar dan cita-cita mengenai sejarah, manusia, masyarakat, hukum, dan negara Indonesia yang bersumber dari kebudayaan Indonesia.

B. UNSUR-UNSUR IDEOLOGI Ideologi selalu berkaitan dengan pandangan hidup suatu bangsa sebagai dasar filsafatnya yang merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur yang diyakini kebenarannya. Menurut Kunto Wibisono dalam Noor Ms Bakry (2009:64-65), setiap ideologi selalu bertolak dari suatu keyakinan filsafati tertentu, yaitu pandangan tentang apa, siapa, dan bagaimana manusia itu sebagai pendukungnya, terutama dalam kaitannya dengan kebebasan pribadi dalam konteks hak dan kewajibannya terhadap masyarakat dan negara, baik dalam dimensi material maupun dimensi spiritualnya. Penjabarannya tercermin dalam kehidupan praktis, baik di bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, maupun pertahanan keamanan. Kunto Wibisono mengemukakan bahwa dalam setiap ideologi selalu tersimpul adanya tiga unsur pokok, yaitu keyakinan, mitos, dan loyalitas. 1. Unsur Keyakinan. Setiap ideologi selalu memuat konsep-konsep dasar yang menggambarkan seperangkat keyakinan yang diorientasikan kepada tingkah laku para pendukungnya untuk mencapai suatu tujuan yang dicita-citakan. Contohnya, liberalisme meyakini kebebasan mengejar hidup di tengah-tengah kekayaan material yang melimpah dan didapat dengan bebas, akan tercapai kesejahteraan hidup. Komunisme meyakini bahwa kesetaraan sosial (tanpa kelas), kerjasama sosial, dan solidaritas sosial akan mendatangkan kebahagiaan bersama. Demikianlah Pancasila bagi bangsa Indonesia merupakan seperangkat nilai luhur yang diyakini kebenarannya, akan mewujudkan masyarakat Indonesia yang aman sejahtera, selaras, serasi, dan seimbang antara kehidupan individu dengan kehidupan masyarakat, fisik-material dan mental-spiritual, bahkan dunia dan akhirat karena didasari juga 86

ajaran agama, sebagai bentuk konkrit dari Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Unsur Mitos. Setiap ideologi selalu memitoskan suatu ajaran dari seseorang atau beberapa orang sebagai kesatuan, yang secara fundamental mengajarkan cara bagaimana sesuatu hal ideal itu pasti akan dapat dicapai. Contohnya, liberalisme memitoskan Herbert Spencer, Harold J. Laski, Thomas Hobbes, Jean Jacques Rousseau, dll. yang mengajarkan kebebasan. Komunisme memitoskan ajaran Karl Marx tentang sosial, ekonomi, politik, yang kemudian disistematisasikan oleh Frederick Engel, dan diikuti oleh Lenin, Stalin, Mao Zedong. Demikianlah Pancasila yang diagungkan dari PPKI bukanlah konsep orang-perorang, tetapi konsensus nasional, karena kemudian disepakati bersama dan diyakini akan membawa kemaslahatan hidup bagi bangsa Indonesia. 3. Unsur Loyalitas. Setiap ideologi selalu menuntut adanya kesetiaan serta keterlibatan optimal para pendukungnya. Untuk mendapatkan derajat penerimaan optimal ini terkandung juga tiga sub unsur, yaitu rasional, penghayatan, dan kesusilaan. Contohnya, pendukung liberalisme setia, karena membela hak asasi manusia, dapat dinalar, dan dapat diwujudkan dalam kehidupan. Komunisme setia, karena dapat memberikan suasana hidup aman tanpa pertentangan kelas, dapat dinalar, dan dapat dilaksanakan dalam kehidupan. Demikianlah pendukung Pancasila setia, karena dapat menyatukan bangsa yang majemuk, dapat dipikirkan, diwujudkan dalam kehidupan, serta sesuai dengan keadaban.

C. MAKNA IDEOLOGI BAGI NEGARA Pancasila sebagai ideologi nasional mengandung nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, yaitu cara berpikir dan cara kerja perjuangan. Karena itu perlu dipahami

dengan latar belakang sejarah perjuangan bangsa. Pancasila sebagai dasar negara perlu difahami dengan latar belakang konstitusi proklamasi atau hukum dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yaitu dari komponen UUD 87

1945 yang terdiri dari Pembukaan, Batang Tubuh, dan Penjelasannya. Menurut Suryanto Puspowardoyo dalam Oetojo Oesman (1991:48), ideologi mempunyai beberapa fungsi, yaitu memberikan : 1. Struktur kognitif, ialah keseluruhan pengetahuan yang dapat merupakan landasan untuk memahami dan menafsirkan dunia dan kejadian-kejadian dalam alam sekitarnya. 2. Orientasi dasar dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta menunjukkan tujuan dalam kehidupan manusia. 3. Norma-norma yang menjadi pedoman dan pegangan bagi seseorang untuk melangkah dan bertindak. 4. Bekal dan jalan bagi seseorang untuk menemukan identitasnya. 5. Kekuatan yang mampu menyemangati dan mendorong seseorang untuk menjalankan kegiatan dan mencapai tujuan. 6. Pendidikan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami, menghayati, serta memolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma yang terkandung di dalamnya. Pancasila bersifat integralistik, yaitu faham tentang hakikat negara yang dilandasi konsep kehidupan bernegara, ialah persatuan dan kebersamaan. Pancasila bersifat integralistik karena : 1. Mengandung semangat kekeluargaan dalam kebersamaan. 2. Adanya semangat kerjasama. 3. Memelihara persatuan dan kesatuan. 4. Mengutamakan musyawarah untuk mufakat. Untuk memahami konsep integralistik Pancasila, ada baiknya jika dikemukakan beberapa teori (faham) mengenai dasar negara sebagai perbandingan. 1. Teori Perseorangan (Individualistik). Tokohnya Herbert Spencer (1820-1903) dan Harold J. Laski (1893-1950). Menurut teori ini negara adalah masyarakat hukum legal (legal society) yang disusun atas kontrak antar seluruh orang yang ada dalam masyarakat itu ( social contract). Negara dipandang sebagai organisasi kesatuan pergaulan hidup yang 88

tertinggi. Hak orang-orang (HAM) lebih tinggi kedudukannya daripada negara yang merupakan hasil bentukan individu-individu. Lebih-lebih dengan semangat renaissance seolah menemukan kembali kepribadiannya sebagai orang bebas, dalam kedudukan dan taraf yang sama. 2. Teori Golongan (Class Theory). Tokohnya Marl Marx (1818-1883). Menurut teori ini negara merupakan Negara

penjelmaan dari pertentangan-pertentangan kekuatan ekonomi.

dipergunakan sebagai alat oleh mereka yang kuat untuk menindas golongan lemah. Yang kuat adalah yang memiliki alat-alat produksi, sedangkan yang tidak punya apa-apa (umumnya kaum buruh) disebut proletar. Jika dalam masyarakat sudah tidak ada lagi perbedaan kelas dan pertentangan ekonomi, negara akan lenyap dengan sendirinya. Negara terjadi dalam sejarah perkembangan masyarakat melalui tiga fase : Fase Borjuis, fase Kapitalis, dan fase SosialisKomunis.

3. Teori Kebersamaan (Integralistik). Tokohnya Spinoza dan Adam Muhler. Menurut teori ini negara adalah susunan masyarakat yang integral di antara semua golongan dan semua bagian. Persatuan masyarakat sifatnya organis. Negara menyatu dengan rakyat dan tidak memihak ke salah satu golongan. Kepentingan pribadi perlu, tetapi tidak lebih diutamakan. Kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai satu kesatuan tidak dapat dipisah-pisahkan. Mr. R. Supomo menganggap teori ini yang paling pas untuk bangsa

Indonesia, lebih-lebih jika diingat masyarakatnya yang beraneka ragam. Menurut beliau, negara dalam cara pandang integralistik, pemerintah tidak akan memiliki kepentingan sendiri yang terlepas atau bertentangan dengan kepentingan rakyat. Semua pihak mempunyai fungsi masing-masing dalam suatu kesatuan yang utuh sebagai suatu totalitas. Faham integralistik menurut Syahrial Syarbaini (2011:44) adalah faham negara persatuan, yang tercermin dalam nilai-nilai dasar kekeluargaan, antara 89

lain : a. Persatuan dan kesatuan serta saling ketergantungan satu sama lain dalam masyarakat; b. Bertekad dan berkehendak sama untuk kehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka, dan bersatu; c. Cinta tanah air dan bangsa serta kebersamaan; d. Kedaulatan rakyat dengan sikap demokratis dan toleran; e. Kesetiakawanan sosial dan nondiskriminatif; f. Berkeadilan sosial dan kemakmuran rakyat; g. Menyadari bahwa bangsa Indonesia berada dalam tata pergaulan dunia dan universal; h. Menghargai harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam kaitan itu Notonagoro (1971:25), mengemukakan bahwa negara kita sifatnya mutlak monodualis kemanusiaan, bukan negara liberal, bukan negara kekuasaan belaka atau diktator, bukan negara materialis. Negara kita adalah negara terdiri atas perseorangan yang bersama-sama hidup baik dalam kelahiran maupun dalam kebatinan, yang mempunyai kedua-duanya kebutuhan dan kepentingan perseorangan serta kebutuhan dan kepentingan bersama.

D. PERBANDINGAN IDEOLOGI PANCASILA DENGAN IDEOLOGI LAIN 1. Ideologi Liberalisme. Ideologi ini mulai tumbuh di Inggris sebagai akibat alam pemikiran yang disebut zaman pencerahan (aufklaruung) yang menyatakan bahwa manusia memberikan penghargaan dan kepercayaan yang besar pada rasio. sebagai kekuatan yang menerangi segala sesuatu di dunia. Ajaran liberalisme bertitik tolak dari hak asasi yang melekat pada manusia sejak lahir yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun termasuk penguasa, kecuali dengan persetujuan yang bersangkutan. Hak asasi memiliki nilai-nilai Rasio dianggap

90

dasar (intrinsic) berupa kebebasan dan kepentingan pribadi yang menuntut kebebasan individu secara mutlak untuk mengejar kebahagiaan hidup di tengahtengah kekayaan material yang melimpah dan diperoleh dengan bebas. Faham liberalisme selalu mengaitkan pikirannya dengan hak asasi manusia. Ideologi liberalisme jelas tidak sesuai dengan Pancasila yang memandang manusia sebagai mahluk Tuhan, yang mengemban tugas sebagai pribadi (individu) sekaligus masyarakat (sosial), sehingga dalam kehidupannya wajib menyelaraskan kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat, dan haknya selalu dikaitkan dengan kewajibannya terhadap masyarakat. 2. Ideologi Komunisme. Ideologi ini disebut juga sosialisme, didasarkan atas kebendaan, dan tidak percaya kepada Tuhan (atheisme). Agama dikatakannya sebagai racun masyarakat. Ajaran ini dikemukakan oleh Karl Marx kemudian diikuti dan ditambah oleh Hegel, F. Engels, dan Lenin, sehingga kemudian sering disebut MarxismeLeninisme. Sementara di China dikembangkan oleh Mao Tse Tung (Mao Zedong). Di Indonesia oleh H.J.F.M. Sneevliet, seorang anggota Social Demo-

cratische Arbeiderspartij (SDAP) atau partai buruh sosial demokrat Belanda yang diikuti Semaun, Darsono, Alimin, Muso, dll. sampai D.N. Aidit. Masyarakat

komunis tidak bercorak nasional. Masyarakat yang hendak dibangun adalah masyarakat komunis dunia (Komintern = Komunis Internasional). Seruannya adalah, Kaum buruh di seluruh dunia bersatulah! Masyarakat komunis masa depan adalah masyarakat tanpa kelas yang dianggap akan memberikan suasana hidup aman tenteram, dengan tidak adanya hak milik pribadi atas alat produksi dan hapusnya pembagian kerja. Perombakan masyarakat hanya mungkin dapat dilakukan oleh kaum proletar dengan jalan revolusi. Setelah revolusi sukses maka kaum proletar saja yang akan memegang pimpinan pemerintahan, tetapi kenyataannya pemerintahan di negara-negara komunis dijalankan secara mutlak (diktator proletariat). Jelas ajaran atau ideologi komunis ini tidak sesuai dengan Pancasila yang mengajarkan Ketuhanan YME, dan nasionalisme yang dijiwai oleh kemanusiaan 91

yang adil dan beradab, persatuan, musyawaah, dan keadilan sosial. Ternyata ada juga sosialisme yang bukan komunis, seperti di negara-negara Barat, termasuk juga di Australia. Di sini demokrasi adalah untuk kolektifitas, masyarakat sama dengan negara, dan peran negara untuk pemerataan, yang diutamakan adalah keadilan distributif. Untuk lebih jelasnya perbandingan ideologi-ideologi dimaksud dapat dilihat pada matrik di bawah ini.
IDEOLOGI LIBERALISME ASPEK 1 POLITIK HUKUM 2 - Demokrasi liberal. - Hukum untuk meraklindungi individu. - Politik memen-mut tingkan individu. - Peran negara kecil. dom - Swasta menominasi. - Monopolisme. - Persaingan bebas. - Urusan pribadi.- Bebas memilih agama, atau tidak beragama. 3 - Demokrasirakyat. - Yang berkuasa mutlak satu parpol. - Hukum untuk melanggengkan Komunis. - Peran negara dominan. - Kolektivitas untuk negara. - Monopoli negara. - Racun masyaRakat. - Harus dijauhkan dari masyarakat. 4 - Demokrasi - -ko- lektivitas. casila - Diutamakan Kebersamaan. - Masyarakat sama dengan negara. M - Peran negara untuk pemera taan. - Yang diutama kan keadilan distributif. - Harus mendorong berkembangnya keber samaan. - Masyarakat - le bih penting- da ripada individu. 5 - Demokrasi Pan casila. - Hukum untuk menjunjung tinggi keadilan dan keberadaan individu & masyarakat. - Peran negara agar tidak terja di monopoli, dll. Yang merugikan rakyat. - Bebas memilih satu agama. - Harus menjiwai kehidupan bermasyarakat, berbang sa, dan bernegara. - Individu diakui keberadaannya. - Masyarakat diakui keberadanya. - Masyarakat ada karena ada Individu, dan Individu hanya punya arti jika hidup di tengah-tengah masyarakat. KOMUNISME SOSISLISME PANCASILA

EKONOMI AGAMA

PANDANGAN TERHADAP INDIVIDU DAN MASYARAKAT

- Individu lebih pen ting daripada masyarakat. - Masyarakat diabdikan bagi individu. -

- Individu tidak penting. - Masyarakat - tidak penting. - Kolektivitas yg dibentuk negara lebih pen ting.

92

CIRI KHAS -

- Penghargaan berlebih atas HAM. - Demokrasi. - Negara hukum - Menolak dogmatisme. - Reaktif terhadap absoluitisme. -

- Atheisme. - Dogmatisme. - Otoriter. - Ingkari HAM. - Reaktif terhadap liberalisme dan kapita lisme.

- Kebersamaan. - Akomodatif. - Jalan tengah. da-

- Hubungan indi vidu dan masyarakat selaRas, serasi, seImbang. - Keselarasan, keserasian, keseimbangan dalam setiap aspek kehidup an.

Setelah mengetahui dan meyakini mengenai keunggulan ideologi Pancasila dibanding dengan ideologi-ideologi lain di dunia, maka hendaknya Pancasila dapat diinternalisasikan pada jiwa dan semangat dalam kehidupan setiap warga negara Indonesia, dan menjadi landasan nasionalisme atau faham kebangsaan atau karakter bangsa. Karakter dapat diartikan sebagai sistem daya juang (daya dorong, daya gerak, dan daya hidup) yang berisikan tata nilai kebajikan akhlak dan moral yang terpatri dalam diri manusia. (Syahrial Syarbaini, 2011:211). Dewasa ini MPR gencar mencanangkan dan mensosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Hal ini perlu dimulai dengan tertanamnya rasa kebangsaan atau nasionalisme berlandaskan Pancasila. Nilai-nilai pembentukan karakter bangsa dapat disebutkan antara lain : a. Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa; b. Kejujuran; c. Kedisiplinan; d. Keikhlasan; e. Tanggung jawab; f. Persatuan dan kesatuan; g. Saling hormat-menghormati; h. Toleransi; i. Kerjasama; j. Gotong royong; 93

k. Musyawarah; l. Ramah tamah; m. Keserasian, keselarasan, dan keseimbangan; n. Patriotisme; o. Kesederhanaan; p. Martabat dan harga diri; q. Kerja keras dan cerdas; r. Pantang menyerah. Pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan dengan membentuk kebiasaan (habits forming) yang baik. Hal ini harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat, yang kemudian meluas berbangsa dan bernegara. dalam kebidupan

Pembangunan karakter bangsa harus mendapat

prioritas utama dalam pembangunan nasional, agar bangsa Indonesia terhindar dari berbagai krisis. Pembangunan karakter dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa dapat dilakukan dalam berbagai aktivitas, di antaranya : a. Kepedulian sosial (social sensitivity); b. Melindungi dan menjaga hubungan baik (naturance and care); c. Mengembangkan sifat berbagi, kerjasama, dan adil (share, cooperation, and fairness); d. Mengedepankan sifat jujur (honesty); e. Mengedapankan moraql dan etika (moral and ethics); f. Mampu mengontrol dan introspeksi diri (self control and self monitoring); g. Pribadi yang suka menolong/membantu orang lain (helping others); h. Mampu menyelesaikan masalah dan konflik sosial (problem solving and social conflict solution).

E. PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA 1. Arti dan Ciri Ideologi Terbuka. Ideologi terbuka adalah ideologi yang dapat berinteraksi dengan perkembangan zaman dan adanya dinamika secara internal. Sumber semangat ideologi terbuka 94

dapat dilihat dalam Penjelasan UUD 1945 yang menyatakan : Terutama bagi negara baru dan negara muda, lebih baik hukum dasar yang tertulis itu hanya memuat aturan-aturan pokok, sedangkan aturan-aturan yang menyelenggarakan aturan pokok itu diserahkan kepada undang-undang yang lebih mudah cara membuatnya, mengubahnya, dan mencabutnya. Selanjut-nya : ... Yang

sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hidupnya bernegara ialah semangat, semangat para penyelenggara negara, semangat para pemimpin pemerintahan. Meskipun dibuat Undang-Undang Dasar yang menurut katakatanya bersifat kekeluargaan, apabila semangat para penyelenggara negara, para pemimpin pemerintahan itu bersifat perseorangan, Undang-Undang Dasar itu tentu tidak ada artinya dalam praktek. Sebaliknya, meskipun Undang-Undang Dasar itu tidak sempurna, akan tetapi jikalau semangat para penyelenggara pemerintahan baik, Undang-Undang Dasar itu tentu tidak akan merintangi jalannya negara. Jadi yang paling penting ialah semangat. Maka semangat itu hidup, atau dengan lain perkataan dinamis. Berhubung dengan itu, hanya aturan-aturan pokok saja yang harus ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar, sedangkan hal-hal yang perlu untuk menyelenggarakan aturan-aturan pokok itu harus diserahkan kepada undang-undang. Noor Ms Bakry (2009:67) mengemukakan bahwa yang dimaksud ideologi terbuka adalah kesatuan prinsip pengarahan yang berkembang dialektis serta terbuka penafsiran baru untuk melihat perspektif ke masa depan dan aktual antisipatif dalam menghadapi perkembangan dengan memberikan arah dan tujuan yang ingin dicapai dalam melangsungkan hidup dan kehidupan nasional. UUD 1945 memberi kepercayaan yang amat besar pada semangat kekeluargaan. Hal ini mencerminkan hakikat nilai kultural yang terdapat dalam seluruh kebudayaan rakyat Indonesia di daerah-daerah, dan merupakan salah satu rahasia kekuatan UUD 1945, serta Pancasila yang menjiwainya. Sejarah politik di mana pun membuktikan bahwa setiap struktur dan budaya politik yang mempunyai akar kultural yang kuat, akan mempunyai daya tahan yang amat kokoh. Dan dengan konsep itulah bangsa Indonesia membangun negara kekelu-

95

argaan. Ciri khas ideologi terbuka adalah bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak dipaksakan dari luar, melainkan digali dan diambil dari kekayaan rohani, moral, dan budaya masyarakatnya sendiri. sendiri, tidak diciptakan oleh negara. Dengan demikian ideologi terbuka adalah milik seluruh rakyat. Masyarakat dapat menemukan dirinya di dalamnya. Itulah sebabnya ideologi terbuka bukan hanya dapat dibenarkan tetapi juga dibutuhkan. Keterbukaan ideologi Pancasila tidak berarti memusnahkan atau meniadakan ideologinya itu sendiri. Nilai-nilai dasarnya tetap harus dipertahankan. Suatu ideologi terbuka mengandung semacam dinamika internal yang memungkinkannya untuk memperbaharui diri atau maknanya dari waktu ke waktu, sehingga isinya tetap relevan dan komunikatif sepanjang zaman, tanpa menyimpang dari, apalagi mengingkari hakikat atau jatidirinya. Pembaharuan diri (self renewal) atau pengembangan maknanya itu bukan berarti merevisi apalagi mengganti nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya. Jika nilai-nilai dasar itu direvisi apalagi sama sekali diganti, maka ideologi tersebut sudah kehilangan hakikat atau jatidirinya, dan oleh karena itu meskipun secara formal mungkin ia masih ada, tetapi secara substansi tidal lagi hadir karena sudah berubah sama sekali. (Oetojo Oesman, 1991:5). Dinamika internal yang terkandung dalam ideologi terbuka biasanya mempermantap, mempermapan, dan memperkuat relevansi ideologi itu dalam masyarakatnya. Hal ini bergantung pula pada kehadiran beberapa faktor. Dasarnya adalah konsensus masyarakat

Faktor-faktor dimaksud, antara lain : a. Kualitas nilai-nilai dasar yang terkandung dalam ideologi itu; b. Persepsi, sikap, dan tingkah laku masyarakat terhadapnya; c. Kemampuan masyarakat mengembangkan pemikiran-pemikiran baru yang relevan tentang ideologinya itu; d. Seberapa jauh nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi itu membudaya, dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara de-

96

ngan berbagai dimensinya. 2. Faktor-faktor Pendorong Ideologi Terbuka. Faktor-faktor yang mendorong pemikiran tentang keterbukaan ideologi Pancasila adalah : a. Kenyataan dalam proses pembangunan nasional dan dinamika masyarakat, berkembang secara cepat; b. Kenyataan juga menunjukkan bahwa bangkrutnya ideologi tertutup dan beku cenderung meredupkan perkembangan dirinya; c. Pengalaman sejarah politik Indonesia di masa lalu; d. Tekad untuk memperkokoh kesadaran akan nilai-nilai Pancasila yang bersifat abadi dan hasrat mengembangkan secara kreatif dan dina-mis dalam rangka mencapai tujuan nasional. Terdapat tiga tingkat nilai tentang Pancasila : a. Nilai Dasar, yaitu asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang banyak sedikitnya bersifat mutlak. Kita menerima nilai dasar sebagai suatu hal yang tidak dipertanyakan lagi. Nilai dasar bersifat abstrak tidak dapat diamati melalui panca indera manusia, tetapi berhubungan dengan tingkah laku atau berbagai aspek kehidupan manusia. Setiap nilai memiliki nilai dasar, berupa hakikat, esensi, intisari, atau makna yang dalam dari nilai-nilai tersebut. Nilai dasar juga bersifat universal karena menyangkut kenyataan obyektif dari segala sesuatu. Misalnya hakikat Tuhan, manusia, atau makhluk lainnya. Demikian juga semangat kekeluargaan bisa disebut sebagai nilai dasar, sifatnya mutlak, dan tidak akan diubah lagi; b. Nilai Instrumental, yaitu pelaksanaan umum dari nilai dasar, atau sifatnya operasional, biasanya dalam wujud norma sosial ataupun norma hukum, yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam lembaga-lembaga. Nilai instrumental adalah nilai yang menjadi pedoman pelaksanaan dari nilai dasar. Nilai instrumental merupakan formula serta parameter yang jelas dan konkrit yang menjabarkan nilai dasar. Nilai kendati lebih rendah dari nilai dasar, namun tidak kalah penting karena menguraikan nilai dasar yang umum dalam wujud 97

yang nyata, serta sesuai dengan keadaan dan perkembangan zaman. Sifatnya dinamis dan kontekstual, yaitu sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu. Nilai instrumental adalah semacam tafsir positif terhadap nilai dasar yang umum. c. Nilai Praksis, yaitu nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam realitas, atau merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai instrumental dalam kehidupan yang lebih nyata. ini seyogianya sama semangatnya dengan nilai dasar dan nilai instrumental di atasnya. Lebih dari itu, nilai praksis inilah yang sesungguhnya akan merupakan batu ujian apakah nilai dasar dan nilai instrumental itu sungguh-sungguh hidup dalam masyarakat atau tidak. Nilai praksis dalam kehidupan ketatanegaraan misalnya, dapat ditemukan dalam undang-undang organik, yaitu semua peraturan perundang-undangan di bawah UUD 1945 sampai kepada yang sifatnya teknis yang dibuat oleh pemerintah yang paling bawah, sesuai dengan tata urut peraturan perundangundangan itu. Jadi, yang tidak boleh berubah itu adalah nilai atau norma dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, karena merupakan pilihan dan hasil konsensus bangsa yang disebut kaidah pokok dasar negara yang fundamental (staatsfundamentalnorm). Artinya, perwujudan atau pelaksanaan nilai-nilai instrumental dan praksis harus tetap mengandung jiwa dan semangat yang sama dengan nilai dasarnya. Adapun ciri atau sifat ideologi terbuka memiliki tiga dimensi penting, yaitu sebagai berikut : a. Dimensi Realitas, yaitu nilai-nilai yang terkandung di dalam dirinya bersumber dari nilai-nilai riil (nyata) yang hidup dalam masyarakat dan tertanam sejak ideologi itu lahir, sehingga masyarakat betul-betul merasakan dan menghayati bahwa nilai-nilai dasar itu milik bersama; b. Dimensi Idealisme, yang mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Citacita dimaksud berisi harapan yang masuk akal, rasional, dan sangat mungkin

98

dapat dicapai; c. Dimensi Fleksibilitas, yaitu yang dapat memperbesar dirinya, memelihara, dan memperkuat relevansinya dari waktu ke waktu. Dapat juga disebut dimensi pengembangan, yaitu dengan pemikiran-pemikiran baru tanpa khawatir akan kehilangan hakikat dirinya. 3. Batas-batas Keterbukaan Ideologi Pancasila. Keterbukaan ideologi Pancasila ada batas-batasnya yang tidak boleh dilanggar, yaitu : a. Harus dapat menjaga stabilitas nasional yang dinamis; b. Larangan terhadap ideologi Marxisme, Leninisme, dan komunisme; c. Mencegah berkembangnya faham liberalisme, dan kapitalisme; d. Larangan terhadap pandangan ekstrim yang menggelisahkan kehidupan masyarakat (baik ekstrim kanan maupun kiri); e. Penciptaan norma yang baru harus melalui konsensus.

F. PENERAPAN IDEOLOGI PANCASILA Sebagai ideologi, Pancasila dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, misalnya : 1. Pancasila sebagai ideologi ditinjau dari aspek pandangan hidup bersama. 2. Pancasila sebagai cita hukum dalam kehidupan hukum bangsa Indonesia. 3. Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan ketatanegaraan/pemerintahan. 4. Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan budaya. 5. Pancasila sebagai ideologi dalam kaitannya dengan kehidupan beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahas Esa. 6. Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan sosial. 7. Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan politik. 8. Pancasila sebagai ideologi dalam pergaulan Indonesia dengan dunia internasional.

99

9. Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan ekonomi. 10. Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan demokrasi. 11. Pancasila sebagai ideologi birokrasi/aparatur pemerintah. 12. Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan pertahanan keamanan. 13. Pancasila sebagai ideologi dan moral pembangunan, dll.

100

BAB VII PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK

A. PENGERTIAN NILAI, MORAL, ETIKA, NORMA, DAN POLITIK Sebelum membahas Pancasila sebagai etika politik, di bawah ini perlu dijelaskan terlebih dulu pengertian tentang nilai, moral, etika, norma, dan politik.

1. Nilai. a. Sesuatu yang berharga, berguna, indah, memperkaya batin, serta menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya; b. Keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness); c. Kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia; d. Sifat atau kualitas yang melekat pada suatu obyek, tetapi bukan obyeknya itu sendiri; e. Merupakan prinsip-prinsip yang disepakati bersama dan dijadikan tolok ukur menentukan baik atau buruk, benar atau salah, indah atau jelek. Tingkatan (Hierarki) Nilai : a. Nilai Kenikmatan : Mengenakkan dan tidak mengenakkan; b. Nilai Kehidupan c. Nilai Kejiwaan : Kesehatan, kesejahteraan; : Keindahan, kebenaran, keadilan, pengetahuan;

d. Nilai Kerohanian : Kebenaran, keadilan, kebaikan, keindahan, religiusitas. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga macam : a. Nilai Material : Segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani/ragawi manusia; b. Nilai Vital : Segala sesuatu yang berguna bagi aktivitas manusia; c. Nilai Rohani : Segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia, yang meliputi nilai kebenaran, nilai keindahan, nilai kebaikan, dan nilai religius. Sementara Walter G. Everett macam : menggolongkan nilai menjadi delapan

101

a. Nilai Ekonomis, menunjukkan terhadap semua benda yang dapat diuangkan, dibeli, harga pasar; b. Nilai Jasmani, membantu kesehatan, efisiensi, dan keindahan badan; c. Nilai Hiburan, permainan dan waktu senggang yang berkontribusai pada pengayaan kehidupan; d. Nilai Sosial, keutuhan kepribadian dan sosial yang diinginkan; e. Nilai Watak, keseluruhan dari keutuhan kepribadian/perangai yang diinginkan; f. Nilai Etika, keindahan alam dan karya seni; g. Nilai Intelektual, pengetahuan dan pengajaran kebenaran; h. Nilai Agama, menuntun kehidupan dunia dan akhirat. Yang mengandung nilai itu bukan hanya sesuatu yang berwujud material saja, akan tetapi juga yang non material. Nilai-nilai material lebih mudah diukur dengan menggunakan alat indera maupun alat ukur lain (contoh : kuat, panjang, lebar, tinggi, berat, dsb.). Nilai-nilai kerohanian/spiritual alat ukurnya hati nurani manusia dibantu alat indera : Cipta, rasa, karsa, dan keyakinan.

2. Moral. a. Mos (mores) = Kesusilaan, tabiat, kelakuan, budi pekerti; b. Keseluruhan norma yang menentukan baik buruknya sikap dan perbuatan manusia; c. Dalam wujudnya dapat berupa aturan-aturan. 3. Etika. Etika merupakan cabang ilmu filsafat yang membahas masalah baik dan buruk. Ranah pembahasannya meliputi kajian praksis dan reflektif filsafati atas moralitas secara normatif. Kajian praksis menyentuh moralitas sebagai perbuatan sadar yang dilakukan dan didasarkan pada norma-norma masyarakat yang mengatur perbuatan baik (susila) atau buruk (a susila). Sedangkan refleksi filsafat adalah ajaran moral filsafat yang mengajarkan bagaimana moral dimaksud dapat dijawab secara rasional dan bertanggung jawab.

102

Adapun pengertian etika sendiri dapat dijelaskan : a. Suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandanganpandangan moral; b. lmu yang membahas bagaimana dan mengapa kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab dengan berbagai ajaran moral; c. Membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan predikat susila dan tidak susila atau baik dan buruk. 4. Norma. a. Petunjuk tingkah laku yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan motivasi tertentu; b. Suatu kesadaran dan sikap luhur yang dikehendaki oleh tata nilai untuk dipatuhi; c. Aturan-aturan yang harus dipatuhi; d. Wujudnya : Norma kesopanan, norma kesusilaan, norma agama, norma hukum, dsb. 5. Politik. Secara etimologis, kata politik berasal dari bahasa Yunani politeia, dengan akar kata : Polis : kota, kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri Teia : urusan. Politik (politics) dalam bahasa Indonesia berarti kepentingan umum warga negara suatu bangsa. Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan, jalan, cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki. Politik memberikan cara, jalan, arah, dan medannya. Sementara policy (kebijakan) memberikan pertimbangan cara pelaksanaan asas, jalan, dan arah dimaksud sebaik-baiknya. Secara umum, politik menyangkut proses penentuan tujuan negara dan cara melaksanakannya. Pelaksanaan tujuan tersebut memerlukan kebijakankebijakan (public policies) yang menyangkut pengaturan (regulation), pembagian, (distribution) atau alokasi (allocation) sumber-sumber yang ada. Penentuan, 103 negara.

pengaturan, pembagian, maupun alokasi sumber-sumber yang ada dimaksud memerlukan kekuasaan (power) dan wewenang (authority). Kekuasaan dan wewenang ini memainkan peran yang sangat penting dalam pembinaan kerjasama dan penyelesaian konflik yang mungkin timbul dalam proses pencapaian tujuan. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini definisi politik yang diberikan oleh para ahli : a. Roger F. Soltau : Political science is the study of the state, its aims and purposes the institutions relized, its relations with its individual members and other states . (Ilmu politik mempelajari negara, tujuan-tujuan negara dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan-tujuan itu, hubungan antar negara dengan warga negaranya, serta dengan negara lain). b. J. Barents : De wetenschap der politiek is de wetenschap die het leven de staat bestudeerteen maatschappelijk levenwaarvan de staat een onderdeel vormt. Aan het onderzook van die staten, zoals ze werken, is de wetenschap der politiek gewijd. (Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kehidupan negara yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, ilmu politik mempelajari negara-negara itu melakukan tugas-tugasnya). c. W.A. Robson : Ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat, yaitu sifat hakiki, dasar-dasar, proses-proses, ruang lingkup dan hasil-hasil. Fokus perhatian pada perjuangan dan mempertahankan kakuasaan, atau pengaruh atas orang/kelompok lain, atau menentang pelak-sanaan kekuasaan. d. Harold Laswell dan A. Kaplan : 1) Ilmu politik mempelajari pembentukan dan pembagian kekuasaan; 2) Politik adalah siapa mendapat apa, kapan, dan di mana? e. Miriam Budiardjo : Politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik atau negara yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu 104

dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Konsep-konsep pokok politik meliputi : a. Negara (State); b. Kekuasaan (Power); c. Pengambilan Keputusan (Decision Making); d. Kebijakan (Policy, beleid); e. Pembagian (Distribution) atau Alokasi (Allocation). Uraian daripada konsep-konsep pokok politik yang berkaitan dengan implementasi Pancasila sebagai etika politik tersebut di atas dapat dijelaskan di bawah ini. a. Negara. Pengertian Umum Negara : 1) Organisasi kekuasaan suatu bangsa; 2) Suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya; 3) Suatu organisasi kekuasaan dari manusia (masyarakat) dan merupakan alat yang akan dipergunakan untuk mencapai tujuan bersama; 4) Merupakan kesatuan sosial (masyarakat) yang diatur secara konstitusional untuk mewujudkan kepentingan bersama. Pendapat para Ahli : 1) J.H.A. Logemann : Keberadaan negara bertujuan untuk mengatur dan menyelenggarakan masyarakat yang dilengkapi dengan kekuasaan tertinggi. 2) George Jellinek : Negara ialah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman di wilayah tertentu. 3) G.W.F. Hegel : Negara merupakan organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan universal.

105

4) Krannenburg : Negara adalah suatu organisasi yang timbul karena kehendak dari suatu golongan atau bangsanya sendiri. 5) Roger F. Soltau : Negara adalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat. 6) R. Djokosoetono : Negara ialah suatu organisasi atau kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama. 7) R. Soenarko : Negara ialah suatu organisasi masyarakat yang mempunyai daerah

tertentu, di mana kekuasaan negara berlaku souvereign (kedaulatan). Membicarakan politik, tidak dapat dipisahkan dengan membicarakan masalah negara dan bangsa. Di bawah ini dikemukakan sedikit teori tentang negara dan bangsa. Secara etimologis, negara berasal dari bahasa Latin status atau statum yang berarti menempatkan dalam keadaan berdiri, atau membuat berdiri. Dalam bahasa Belanda dan Jerman berubah menjadi staats dan dalam bahasa Inggris state. Sedangkan dalam bahasa Indonesia untuk pengertian yang sama berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu negara. Teori Terjadinya Negara : 1) Teori Kenyataan; 2) Teori Ketuhanan; 3) Teori Perjanjian; 4) Teori Penaklukan. Unsur Negara menurut konvensi Montevideo : 1) Unsur Konstitutif : a) Rakyat bersatu; b) Wilayah/daerah; c) Pemerintah yang berdaulat. 2) Unsur Deklaratif : Adanya pengakuan dari negara lain. 106

Bentuk Negara : 1) Negara Kesatuan : a) Sentralisasi; b) Desentralisasi (Otonomi Daerah). Di Indonesia otonomi daerah berarti hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan perundang-undangan, dan diselenggarakan dengan : 1) Asas Dekonsentrasi, yaitu pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu; 2) Asas Desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang pemerintahan oleh

pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); 3) Asas Tugas Pembantuan (Medebewind), yaitu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan/atau desa, dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa, serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. Sifat-sifat dari negara kesatuan sistem desentralisasi/otda : a) Kedaulatan negara (ke dalam dan ke luar) di tangan Pemerintah Pusat; b) Negara hanya mempunyai 1 UUD, 1 Kepala Negara, 1 Dewan Menteri, dan 1 DPR; c) Hanya ada 1 kebijakan yang menyangkut persoalan politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan. 2) Negara Serikat (Federasi) : a) Merupakan gabungan beberapa negara yang menjadi Negara-negara Bagian dari Negara Serikat; b) Negara-negara Bagian tersebut semula merupakan negara yang merdeka dan berdaulat serta berdiri sendiri; c) Negara-negara Bagian tersebut melepaskan sebagian dari kekuasaannya dan menyerahkannya kepada Negara Serikat (Pusat). 107 Yang

diserahkan itu antara lain yang berkaitan dengan urusan hubungan luar negeri, pertahanan negara, keuangan (moneter), serta pos dan telekomunikasi. Terdapat bentuk kenegaraan lain : 1) Dominion; 2) Protektorat : a) Kolonial; b) Internasional. 3) Uni : a) Riil; b) Personil; c) Uni Sui Generis. b. Bentuk Pemerintahan. Bentuk pemerintahan menurut Plato (429-347 sM) : 1) Monarki, yaitu pemerintahan yang dipegang oleh seseorang (=Raja) dan dijalankan untuk kepentingan rakyat. 2) Tirani, yaitu pemerintahan yang dipegang oleh seseorang dan dijalan-kan untuk kepentingan pribadi sang pemimpin (tiran). 3) Aristokrasi, yaitu pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok orang (ningrat) dan dijalankan untuk kepentingan rakyat. 4) Oligarki, yaitu pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok orang dan dijalankan untuk kepentingan kelompoknya. 5) Mobokrasi (Okhlokrasi), yaitu pemerintahan yang dipegang oleh rakyat tetapi tidak tahu apa-apa (bodoh, tidak berpendidikan, tidak paham, tidak berpengalaman) sehingga tidak berhasil untuk kepentingan rakyat. 6) Demokrasi, yaitu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Menurut Nicollo Machiavelli, bentuk pemerintahan ada dua : 1) Monarki, yaitu bentuk pemerintahan kerajaan. Pemimpin negara umumnya raja, ratu, sultan, atau kaisar. Pengangkatan atau penunjukannya berdasarkan warisan/keturunan.

108

2) Republik, yaitu bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Presiden yang pengangkatannya berdasarkan hasil pemilihan rakyat. Macam-macam pemerintahan menurut Aristoteles (384-322 sM) : 1) Monarki (Kerajaan) 2) Aristokrasi 3) Republik bentuk merosotnya, tirani; bentuk merosotnya, oligarki; bentuk merosotnya, demokrasi. okhlokrasi.

Pendapat lain : Demokrasi bentuk merosotnya, c. Sistem pemerintahan. 1) Monarki : a) Absolut; b) Konstitusional; c) Parlementer. 2) Republik : a) Absolut; b) Konstitusional; c) Parlementer. 3) Sistem Pemerintahan Dewan Menteri : a) Kabinet Presidensial; b) Kabinet Parlementer; c) Kabinet Campuran; d) Kabinet Komunis. d. Bangsa. 1) Pengertian Umum :

Bangsa adalah kumpulan masyarakat yang membentuk negara. 2) Arti Sosiologis : Bangsa termasuk kelompok paguyuban (gemeinschaft) yang secara kodrati ditakdirkan hidup bersama, dan senasib sepenanggungan di dalam suatu negara. 3) Pendapat para Ahli : a) Ernest Renan : 109

Bangsa terbentuk karena adanya keinginan untuk hidup bersama (hasrat bersatu) dengan perasaan setiakawan. b) Otto von Bauer : Bangsa adalah kelompok manusia yang mempunyai persamaan dan karakteristik, tumbuh karena adanya persamaan nasib. c) B.F. Ratzel : Bangsa terbentuk karena adanya hasrat bersatu. Hasrat itu timbul karena adanya rasa kesatuan di antara manusia dan tempat tinggalnya (faham geopolitik). d) Hans Kohn : Bangsa adalah buah hasil tenaga hidup manusia dalam sejarah. Suatu bangsa merupakan golongan yang dirumuskan secara eksak. Kebanyakan bangsa memiliki faktor-faktor obyektif tertentu yang membedakannya dengan bangsa lain. Faktor-faktor itu berupa : (1) Persamaan keturunan; (2) Wilayah; (3) Bahasa; (4) Adat-istiadat; (5) Kesamaan politik; (6) Perasaan dan agama. e) Moerdiono : (1) Negara kebangsaan bukanlah suatu komunitas sosio-antropologis yang tumbuh secara alamiah. Negara kebangsaan adalah suatu komunitas politik yang dirancang, dibangun, dan dioperasikan berdasarkan wawasan kebangsaan; (2) Wawasan kebangsaan itu sendiri timbul, berkembang, dan beroperasi berdasarkan persetujuan terus-menerus dari unsur-unsur komunitas politik itu. Jadi kesimpulannya : Bangsa adalah rakyat yang telah mempunyai Caranya ialah

kesatuan tekad untuk membangun masa depan bersama.

110

dengan mendirikan negara yang akan mengurus terwujudnya aspirasi dan kepentingan bersama secara adil. Setiap bangsa mempunyai empat unsur aspirasi, yaitu : 1) Keinginan untuk mencapai kesatuan nasional sosial, ekonomi, agama, kebudayaan, komunikasi, dan solidaritas. 2) Keinginan untuk mencapai kemerdekaan dan kebebasan nasional sepenuhnya, yaitu bebas dari dominasi dan campur tangan bangsa asing terhadap urusan dalam negerinya. 3) Keinginan dalam kemandirian dan keunggulan, misalnya menjunjung tinggi bahasa nasional yang mandiri. 4) Keinginan untuk menonjol (unggul) di antara bangsa-bangsa dalam mengejar kehormatan, pengaruh, dan prestise. e. Kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain untuk mengikuti keinginannya. Hal ini berlaku juga dalam hal kekuasaan negara atau pemerintahan, yaitu keinginan dari pelaku yang menyangkut kenegaraan. Padanan kata kekuasaan adalah kedaulatan, namun biasanya diterapkan dalam kekuasaan tertinggi negara (ke dalam dan keluar). Berdaulat asal katanya daulat, dari bahasa Arab, yang artinya kekuasaan. Jadi berdaulat berarti mempunyai kekuasaan. Daulat juga berasal dari bahasa Latin supremus, yang artinya supremasi atau yang tertinggi. Jadi, kedaulatan adalah kekuasaan yang tertinggi dalam suatu negara. Berkaitan dengan kedaulatan, di bawah ini beberapa teori : 1) Bentuk Kedaulatan : Menurut Jean Bodin (1530-1596), kedaulatan suatu negara meliputi : a) Kedaulatan Ke Dalam (Interne Souvereinteit), yaitu kekuasaan atau kewenangan tertinggi dalam mengatur dan menjalankan organisasi negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ini pemerintah memiliki kekuasaan untuk mengatur kehiduppolitik,

111

an negara melalui lembaga-lembaga negara atau alat perlengkapan negara yang dibentuk untuk itu. Contoh kedaulatan negara Indonesia ke dalam menurut Pembukaan UUD 1945, tampak dari tugas negara, yaitu : (1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. (2) Memajukan kesejahteraan umum. (3) Mencerdaskan kehidupan bangsa. b) Kedaulatan Ke Luar (Externe Souvereinteit), yaitu suatu pemerintahan suatu negara yang bebas tidak terikat dan tidak tunduk kepada kekuatan atau kekuasaan negara lain, selain ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh negara bersangkutan. Di antara negara-negara di dunia harus saling menghormati kedaulatan negara masing-masing, lebih-lebih yang bertetangga dekat. Demikianlah, maka di antara negara-negara tersebut mengadakan kerjasama di berbagai bidang, selain mengadakan hubungan diplomatik. Contoh kedaulatan ke dalam negara Indonesia : (1) Menurut Pembukaan UUD 1945 : Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. (2) Menurut Pasal 11 UUD 1945 : Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. (3) Pasal 13 Ayat (1) : Presiden mengangkat duta dan konsul. Ayat (2) : Presiden menerima duta dan konsul. 2) Sifat Kedaulatan : a) Asli, artinya, kedaulatan itu tidak berasal dari kekuasaan lain yang lebih tinggi dan tidak berasal dari kedaulatan lain; b) Bulat, artinya, merupakan satu-satunya kekuasaan tertinggi dalam negara dan tidak dapat diserahkan atu dibagi-bagikan kepada badanbadan lain; c) Permanen, artinya, kedaulatan negara akan tetap ada walaupun pemeRintahannya berganti-ganti, dan baru akan lenyap jika negara itu juga 112

bubar/musnah; d) Tidak terbatas, artinya, kedaulatan itu tidak dibatasi oleh siapa pun atau kekuatan/kekuasaan apa pun. Jika ada kekuasaan lain yang membatasinya, maka berarti negara bersangkutan tidak berdaulat lagi atau kekuasaan tertingginya lenyap. 3) Teori Kedaulatan : a) Teori Kedaulatan Tuhan (Theokrasi), yang mengajarkan bahwa negara atau pemerintah memperoleh kekuasaan tertinggi dari Tuhan. Prinsipnya, apa pun yang ada di dunia ini adalah berasal atau ciptaan Tuhan, sehingga pemerintahan negara atau raja-raja juga berasal dari Tuhan dan harus mempergunakan kekuasaannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Contohnya, bangsa Jepang sebelum PD-II menganggap Tenno Heika adalah keturunan dewa matahari, demikian juga raja-raja Mesir dahulu. Tokoh teori ini a.l. Agustinus, Thomas Aquino, John F. Hegel, dll. b) Teori Kedaulatan Raja, yang mengajarkan bahwa kedaulatan negara berada di tangan raja sebagai penjelmaan kehendak Tuhan. Raja dianggap keturunan dewa atau wakil Tuhan di bumi yang mendapatkan kekuasaan langsung dari Tuhan. Agar negara kuat, maka raja harus berkuasa mutlak dan tidak terbatas (absolut). Raja harus ada di atas undang-undang, dan rakyat harus rela menyerahkan hak-hak asasi dan kekuasaannya secara mutlak kepada raja. Contohnya, Perancis pada masa Raja Louis XIV (1638-1715) dengan semboyannya Letat cest moi, negara adalah saya. Tokoh teori ini a.l. Nicollo Machiavelli, Jean Bodin, Thomas Hobbes, dll. c) Teori Kedaulatan Negara, yang mengajarkan bahwa negara adalah kodrat alam, termasuk kekuasaan tertinggi yang ada pada pemimpin negara. Kedaulatan sudah ada sejak lahirnya negara, jadi negara adalah sumber daripada kedaulatan. Hukum itu mengikat karena dikehendaki negara yang menurut kodratnya mempunyai kekuasaan mutlak. Contohnta, di Rusia pada masa Tsar yang sangat totaliter menjelang 113

revolusi Bolshevik (1917), di Jerman pada masa Adolf Hitler dan di Italia pada masa Benito Mussolini. Mereka menganggap dirinya sebagai pusat kekuasaan negara dan pemerintah. Tokoh teori ini a.l. Paul Laband dan George Jellinek. d) Teori Kedaulatan Hukum, yang mengajarkan kekuasaan hukum merupakan kekuasaan tertinggi dalam negara. Pemerintah dan rakyat memperoleh kakuasaan itu dari hukum. Hukum dimaksud meliputi hukum tertulis dan tidak tertulis. Pemerintah melaksanakan kekuasaannya dibatasi oleh norma, aturan, atau undang-undang, sehingga tidak bersifat absolut. Contohnya di negara-negara Eropa dan Amerika, termasuk Indonesia. Terdapat tiga asas atau prinsip umum negara hukum, yaitu : (1) Supremasi hukum (kekuasaan tertinggi pada hukum); (2) Equality before the law (kesamaan/kesetaraan dalam hukum); (3) Legalitas hukum (hukum tertulis yang ditetapkan secara kelembagaan yang berwenang). Tokoh teori ini adalah Hugo De Groot, Krabe, Immanuel Kant, dan Leon Duguit. e) Teori Kedaulatan Rakyat, yang mengajarkan bahwa rakyatlah yang memegang kuasaan tertinggi negara. Rakyat memberikan sebagian haknya kepada penguasa untuk kepentingan bersama. Artinya, rakyatlah yang memilih dan menentukan penguasa melalui lembaga perwakilan. Teori ini muncul sebagai reaksi terhadap kekuasaan raja yang absolut. Kekuasaan negara ini perlu dibatasi dengan pembagian kekuasaan seperti dalam ajaran Trias Politika Montesquieu, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Teori kedaulatan rakyat dipakai hampir di seluruh negara merdeka. Akan tetapi Indonesia tidak sepenuhnya melaksanakan teori Trias Politika, karena antar lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif masih ada kaitan tugas kewajiban sehubungan dengan hak prerogatif Presiden selaku Kepala Negara. Contohnya, Presiden yang turut ambil 114

bagian dalam kekuasaan legislatif (UU dibuat oleh DPR bersama Presiden), dan dalam kekuasaan yudikatif (Presiden memberi grasi, amnesti, abolisi, rehabilitasi). Dengan demikian di Indonesia bukan pemisahan kekuasaan, tetapi distribusi (pembagian) kekuasaan. Ciri-ciri umum negara yang menganut kedaulatan rakyat adalah : (1) Adanya jaminan atas hak-hak warga negara; (2) Adanya partisipasi rakyat terhadap pemerintahan; (3) Adanya pemilihan umum yang bebas, jujur, dan adil; (4) Adanya lembaga perwakilan rakyat; (5) Adanya pengawasan terhadap jalannya pemerintahan, baik oleh lembaga legislatif, maupun pengawasan langsung rakyat. Tokoh teori ini a.l. John Lock, Montesquieu, Jean Jacques Rousseau, dll. Konsep kedaulatan rakyat tak terlepas dari sejarah teori perjanjian masyarakat dalam memahami pembentukan negara. Kedaulatan rakyat hanya mungkin dilaksanakan jika negara dibangun atas dasar teori perjanjian masyarakat atau teori kontrak sosial (du contract sociale). Tokoh teori ini adalah Thomas Hobbes, John Lock, dan J.J. Rousseau. (1) Menurut Thomas Hobbes, terdapat perjanjian yang disebut pactum subjections, yaitu perjanjian pemerintahan dengan jalan segenap individu yang berjanji menyerahkan semua hak-hak kodrat yang mereka miliki ketika hidup dalam keadaan alamiah kepada seseorang atau kelompok orang yang ditunjuk untuk mengatur kehidupan mereka. Orang atau kelompok orang yang ditunjuk itu harus diberi kekuasaan mutlak, sehingga kekuasaan negara tidak dapat disaingi oleh kekuatan apa pun. (2) Menurut John Lock, kekuasaan penguasa (pemerintah) tidak pernah mutlak, selalu ada batasnya. Dalam perjanjian yang dilakukan, tidak seluruh orang atau kelompok menyerahkan keseluruhan dari hakhak alamiah mereka. Ada hak-hak individu yang dalam ikatan kenegaraan tidak dapat dilepaskan dan harus dihormati, yaitu life, 115

liberty, dan estate. Hak-hak itu merupakan hak kodrat yang dimiliki individu sebagai manusia yang melekat sejak dia dilahirkan dalam keadaan alami. Hak-hak ini mendahului adanya perjanjian masyarakat, sehingga tidak bergantung pada kontrak sosial dimaksud. Justru fungsi utama kontrak sosial itu untuk menjamin dan melindungi hak-hak kodrat tersebut. Ajaran John Lock kemudian menghasilkan negara konstitusional, bukan negara absolut. teorinya ini John Lock disebut Bapak Hak Asasi Manusia. (3) Menurut J.J. Rousseau, setiap manusia dilahirkan merdeka (tuot homme ne libre). Untuk menjamin kepentingannya, tiap individu dengan sukarela menyerahkan hak dan kekuasaannya kepada suatu organisasi yang didirikan bersama yang diberi nama negara. Dalam negara itu tiap individu menyerahkan kemerdekaan alamiahnya, tetapi dari negara itu individu mendapatkan kemerdekaan sipil, yaitu kebebasan berbuat segala sesuatu asal dalam batas undangundang (status civils). Pemerintah merupakan wakil dari rakyat, sebab yang memiliki kekuasaan adalah rakyat. Karena itu pemerintah bisa diganti jika dalam menjalankan tugasnya tidak sesuai dengan kehendak umum (rakyat) atau volonte generale. Dengan perjanjian masyarakat ini, J.J. Rousseau menghasilkan bentuk negara demokrasi. Berkaitan dengan Indonesia, maka prinsip-prinsip sebagai negara yang menganut kedaulatan rakyat, sesuai dengan UUD 1945 dapat dikemukakan : (1) Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk republik. {Pasal 1 Ayat (1)}; (2) Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar. {Pasal 1 Ayat (2)}; (3) Negara Indonesia adalah negara hukum. {Pasal 1 Ayat (3)}; (4) Presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat. (Pasal 7C); 116 Dengan

(5) Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden {Pasal 17 Ayat (2)}; (6) Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang Dasar. {Pasal 3 Ayat (3)}.

f. Pengambilan Keputusan. 1) Keputusan : Membuat pilihan di antara beberapa kemungkinan (alternatif); 2) Pengambilan keputusan : Menunjuk pada proses yang terjadi sampai keputusan itu tercapai. 3) Pengambilan keputusan dalam konsep politik menyangkut keputusankeputusan yang diambil secara kolektif yang mengikat seluruh masyarakat. g. Kebijakan Umum (Policy, Beleid). Suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau kelompok politik dalam usaha memilih tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan itu. h. Pembagian (Distribution) dan Alokasi (Allocation). Pembagian dan alokasi (penjatahan) dari nilai-nilai dalam masyarakat. Nilainilai ini bisa bersifat abstrak seperti penilaian (judgement) atau suatu asas misalnya kejujuran, keadilan, kebebasan berpendapat, kebebasan mimbar, dsb. Bisa juga bersifat konkrit (material) seperti rumah, kekayaan, dsb. 6. Bidang-bidang Ilmu Politik. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) suatu badan PBB, membagi ilmu politik menjadi empat bidang, yaitu : a. Teori Politik : 1) Teori politik; 2) Sejarah perkembangan ide-ide politik. b. Lembaga-lembaga Politik : 117

1) Undang-undang Dasar; 2) Pemerintah nasional; 3) Pemerintah daerah dan lokal; 4) Fungsi ekonomi dan sosial dari Pemerintah; 5) Perbandingan lembaga-lembaga politik. c. Partai-partai Politik, Golongan-golongan, dan Pendapat Umum : 1) Partai-partai politik; 2) Golongan-golongan, ormas, LSM, dan asosiasi; 3) Partisipasi warga negara dalam pemerintahan dan administrasi; 4) Pendapat umum. d. Hubungan Internasional : 1) Politik internasional; 2) Organisasi-organisasi dan administrasi internasional; 3) Hukum internasional.

B. NILAI DASAR PANCASILA Sebagai etika, moral, norma, dan etika pilitik, Pancasila mempunyai nilai dasar fundamental bagi bangsa dan negara Indonesia. dimaksud : 1. Bersifat universal. 2. Mempunyai nafas humanisme, karena dapat diterima dengan mudah oleh siapa saja. 3. Perbedaannya terletak pada fakta sejarah, karena nilai-nilai Pancasila dirangkai dan secara resmi disahkan menjadi kesatuan yang berfungsi sebagai basis perilaku politik dan sikap moral bangsa Indonesia. Pancasila sebagai nilai dasar adalah seperangkat nilai yang terpadu berkenaan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai dasar Pancasila dimaksud adalah : Pancasila sebagai nilai dasar

118

1. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa. a. Memuat pengakuan eksplisit akan eksistensi Tuhan sebagai sumber dan pencipta universum; b. Memperlihatkan relasi esensial antara pencipta dan yang diciptakan, menunjukkan ketergantungan yang diciptakan kepada yang mencipta. 2. Sila Kedua : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. a. Refleksi lebih lanjut dari sila pertama; b. Memperlihatkan secara mendasar dari negara atas harkat dan martabat manusia sekaligus komitmen untuk melindunginya; c. Manusia karena kedudukannya yang khusus di antara ciptaan Tuhan mempunyai hak dan kewajiban untuk mengembangkan kesempatan dirinya menjadi orang yang bernilai. 3. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia. Meminta perhatian setiap manusia Indonesia sebagai warga negara akan hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya kepada negara, khususnya dalam menjaga eksistensi bangsa dan negara. 4. Sila Keempat : Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. a. Pengakuan negara serta perlindungan atas kedaulatan rakyat yang dilaksanakan dalam suasana musyawarah dan mufakat; b. Keterbukaan untuk saling mendengar, mempertimbangkan satu sama lain, menerima dan memberi; c. Setiap orang diakui dan dilindungi haknya untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik. 5. Sila Kelima : Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. a. Menekankan keseimbangan antara hak dengan kewajiban; b. Setiap warga negara harus dapat menikmati keadilan secara nyata; c. Keadilan sosil menuntut formasi struktur-struktur soaial, ekonomi, politik, budaya, dan ideologi ke arah yang lebih akomodatif terhadap kepentingan masyarakat.

119

C. KONSEP NEGARA PANCASILA Konsep ini adalah faham negara persatuan yang meliputi kehidupan masyarakat yang : 1. Bersifat sosialistis-religius; 2. Semangat kekeluargaan dan kebersamaan; 3. Semangat persatuan; 4. Musyawarah untuk mufakat; 5. Menghendaki keadilan sosial (masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila).

D. IDE POKOK KEBANGSAAN INDONESIA Dapat dilihat dari sifat keseimbangan Pancasila : 1. Keseimbangan antara golongan agama (khususnya Islam) dengan golongan nasionalis (negara theis demokrasi); 2. Keseimbangan antara sifat individual dengan sifat sosial (aliran monodualisme); 3. Keseimbangan antar ide-ide asli Indonesia (faham dialektis). Ide pokok kebangsaan Indonesia adalah faham integralistik (faham negara persatuan). Hal ini tercermin dalam nilai-nilai dasar faham kekeluargaan, yaitu : 1. Persatuan dan kesatuan serta saling ketergantungan satu sama lain dalam masyarakat; 2. Bertekad dan berkehendak sama untuk kehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka, dan bersatu; 3. Cinta tanah air dan bangsa serta kebersamaan; 4. Kedaulatan rakyat dengan sikap dan kemakmuran rakyat; 5. Menyadari bahwa bangsa Indonesia berada dalam tata pergaulan dunia dan universal; 6. Menghargai harkat dan martabat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

120

E. ETIKA POLITIK PANCASILA Etika adalah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma yang menyangkut bagaimana manusia harus hidup sebagai manusia, serta masalah-masalah kehidupan manusia yang mendasar pada nilai dan norma-norma moral yang diterima (Sonny Keraf, 2005:13). Secara umum, etika merupakan prinsip-prinsip bagi segenap tindakan manusia, sedangkan secara khusus adalah : 1. Etika Individual, membahas kewajiban manusia sebagai individu terhadap dirinya sendiri dan melalui suara hati terhadap Tuhannya; 2. Etika Sosial, membahas kewajiban serta norma-norma moral yang harus dipatuhi tentang hubungannya dengan sesama manusia, masyarakat, bangsa, dan negara. Adapun etika politik menuntut agar kekuasaan dalam negara dijalankan sesuai dengan : 1. Asas legalitas (legitimasi hukum); 2. Disahkan dan dijalankan secara demokratis (legitimasi demokrasi); 3. Dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip moral atau tidak bertentangan dengan moral (legitimasi moral), yaitu moral agama (religiusitas) dan moral kemanusiaan (humanity). Menurut Ketetapan MPR No. VI/MPR/2001, etika politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bersumber dari ajaran agama yang bersifat universal, dan nilai-nilai budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Pembangunan moral politik yang berbudaya adalah untuk melahirkan kultur politik yang berdasarkan iman dan taqwa terhadap Tuhan YME, menggalang suasana kasih sayang sesama manusia Indonesia yang berbudi luhur, yang mengindahkan kaidah-kaidah musyawarah secara kekeluargaan yang bersih dan jujur, dan menjamin asas pemerataan keadilan di dalam menikmati dan menggunakan kekayaan negara. Etika politik karenanya lebih banyak bergerak dalam wilayah di mana seseorang secara ikhlas dan jujur melaksanakan hukum yang berlaku tanpa adanya rasa

121

takut pada sanksi. Etika politik tidak diatur dalam hukum tertulis secara lengkap, tetapi melalui moralitas yang bersumber dari hati nurani dan rasa malu kepada masyarakat, serta rasa takut (= taqwa) kepada Tuhan YME. Pokok-pokok etika dalam kehidupan berbangsa mengedepankan amanah, keteladanan, sportifitas, disiplin, etos kerja, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, tanggung jawab, menjaga kehormatan, serta harkat/martabat diri sebagai warga negara. Etika kehidupan berbangsa dalam Tap MPR seperti disebutkan di atas meliputi : 1. Etika sosial dan budaya; 2. Etika politik dan pemerintahan; 3. Etika ekonomi dan bisnis; 4. Etika penegakkan hukum yang berkeadilan; 5. Etika keilmuan; 6. Etika lingkungan. Kesemuanya harus berlandaskan pada Pancasila sebagai sumber etika, yang tercermin dalam sila-silanya, yang menurut Syahrial Syarbaini (2011:11) adalah : 1. Sila Pertama : Menghormati setiap orang atau warga negara atas berbagai kebebasannya dalam menganut agama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing, serta menjadikan ajaran-ajarannya sebagai panutan untuk menuntun maupun mengarahkan jalan hidupnya. 2. Sila Kedua : Menghormati setiap orang dan warga negara sebagai pribadi

(persona) yang utuh sebagai manusia, manusia sebagai subyek pendukung, penyangga, pengemban, serta pengelola hak-hak dasar kodrati, yang merupakan suatu keutuhan dengan eksistensi dirinya secara bermartabat. 3. Sila Ketiga : Bersikap dan bertindak adil dalam mengatasi segmentasi-

segmentasi atau primordialisme sempit dengan jiwa dan semangat Bhinneka Tunggal Ika yaitu bersatu dalam perbedaan, dan berbeda dalam persatuan. 4. Sila Keempat : Kebebasan, kemerdekaan, kebersamaan, dimiliki dan dikembangkan dengan dasar musyawarah untuk mencapai kemufakatan secara jujur dan terbuka dalam menata berbagai aspek kehidupan.

122

5. Sila Kelima : Membina dan mengembangkan masyarakat yang berkeadilan sosial yang mencakup kesamaan deraqjat (equality) dan pemerataan (equity) bagi setiap orang atau setiap warga negara. Pembinaan etika politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah urgent (penting). Langkah awal dimulai dengan membangun konstruksi berpikir untuk menata kembali kultur politik bangsa. Sebagai warga negara setiap individu memiliki hak-hak politik. Pelaksanaan hak-hak politik dalam kehidupan bernegara akan saling bersosialisasi, berkomunikasi, dan berinteraksi antarsesama warga negara dalam berbagai wadah, yaitu infra dan supra struktur politik. Sosialisasi, komunikasi, dan interaksi dalam infra struktur politik, misalnya tatkala unjuk rasa/demonstrasi, mimbar bebas, bicara melalui lisan dan tulisan, kampanye pemilu penghitungan suara di TPS saat pemilu/pilpres/pilkada/pilkades, dll. baik yang dilakukan secara perorangan atau pun melalui orpol dan ormas. Sedangkan dalam wadah supra struktur politik misalnya tatkala aktivitas berlangsung dalam lembagalembaga negara dan pemerintahan sampai ke tingkat paling rendah misalnya Desa/Kelurahan. Kesemuanya telah diatur dengan peraturan perundang-undangan. Persoalannya, sudahkah setiap warga negara dalam melakukan segala aktivitasnya yang berkaitan dengan hak-hak politik itu berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku? Jawaban yang sesuai pastilah hati nurani dan kejujuran batin, karena hukum positif yang berlaku tidak menjamin bahwa hak-hak politik warga negara telah dilaksanakan dengan baik. Beberapa kasus yang dapat dilihat seperti KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme), pelanggaran pemilu, money politic (politik uang) dalam memperebutkan jabatan, dll., adalah contoh yang dapat dirasakan, tetapi sangat sulit dibuktikan secara hukum, sehingga terjadi bermacam ketidakadilan. Itulah sebabnya semua pelanggaran dan kejahatan sulit diberantas melalui jalur hukum, kecuali hanya dengan etika berpolitik yang berasaskan nilainilai Pancasila. Jadi, etika politik banyak bergerak dalam wilayah di mana seseorang secara ikhlas dan jujur melaksanakan hukum yang berlaku tanpa adanya rasa takut pada sanksi hukum yang berlaku. Etika politik di Indonesia belum benar-benar membudaya, karena selalu berangkat dari aturan normatif, bukan dari hati nurani. Seorang pejabat yang tidak 123

mampu atau gagal menjalankan tugasnya, diduga atau dituduh korupsi, dll., dia akan berusaha mempertahankan kedudukannya, bahkan sampai pengadilan sekali pun. Sementara di luar negeri pejabat demikian dengan kesadaran sendiri, berangkat dari hati nurani dan kejujuran, sudah mengundurkan diri. Di sini terjadi

perbedaan persepsi. Bagi pejabat di luar negeri, contohnya di Jepang, Korea, AS, dll., pengunduran diri dari suatu kedudukan publik itu adalah suatu tanggung jawab karena merasa ada yang salah, sementara di Indonesia, mengundurkan diri itu berarti tidak mempunyai rasa tanggung jawab, atau melepaskan diri dari tanggung jawab. Bicara mengenai etika politik dalam kehidupan bernegara, tampaknya di Indonesia lebih banyak pengaruh subyektifnya. Banyak politisi yang melihat dan mencari kesalahan pada orang dan kelompok lain. Mereka lupa, apakah etika tersebut telah dilaksanakan dengan baik pada diri sendiri dan kelmpoknya. Oleh karena itu, terwujudnya etika politik dengan baik dalam kehidupan bernegara sangat ditentukan oleh kejujuran dan keihkhlasan hati nurani dari masing-masing warga negara yang telah memiliki hak-hak politiknya. Salah satu upaya agar etika politik terwujud, maka di berbagai institusi (lembaga) perlu dibentuk Dewan Kehormatan. Hal ini merupakan ketetapan MPR yang merespon suara rakyat, yaitu Tap MPR No. VI/MPR/2002 tentang Rekomendasi Atas Laporan Pelaksanaan Putusan MPR oleh Presiden, DPR, DPA, MA, dan BPK. DPR misalnya telah menindaklanjuti dengan membentuk Dewan Kehormatan untuk memeriksa anggota yang kurang/tidak disiplin, dan meningkatkan kinerja anggotanya dengan landasan moral, etika, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Dalam Pasal 6 Tata Tertib tentang Kode Etik DPR misalnya disebutkan : Ayat (1) Anggota DPR harus mengutamakan tugasnya dengan cara menghadiri secara fisik setiap rapat yang menjadi kewajibannya; Ayat (2) Ketidakhadiran secara fisik sebanyak tiga kali berturut-turut dalam rapat sejenis tanpa izin pimpinan fraksi merupakan suatu pelanggaran kode etik. Faktor-faktor yang merupakan ancaman serius terhadap persatuan bangsa dan kemunduran dalam pelaksanaan etika politik, ada yang berasal dari dalam dan ada yang dari luar negeri. 124

1. Dari dalam negeri : a. Masih lemahnya pengamalan ajaran agama dan munculnya pemahaman agama yang keliru dan sempit; b. Sistem sentralisasi pemerintahan di masa lampau sehingga timbul fanatisme daerah (primordialisme); c. Tidak berkembangnya pemahaman kemajemukan dalam kehidupan berbangsa; d. Terjadinya ketidakadilan ekonomi dalam kurun waktu yang panjang sehingga muncul perilaku ekonomi yang bertentangan dengan moralitas dan etika; e. Kurangnya keteladanan bersikap dan berperilaku para pemimpin bangsa. 1. Dari luar negeri : a. Pengaruh globalisasi yang luas dengan persaingan bangsa-bangsa yang semakin tajam; b. Makin tingginya intensitas intervensi kekuatan global dalam perumusan kebijakan nasional.

125

BAB VIII PANCASILA DALAM KONTEKS KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

A. PENGERTIAN, KEDUDUKAN, SIFAT, DAN FUNGSI UUD 1945 1. Pengertian Hukum Dasar. Hukum dasar adalah aturan-aturan dasar (pokok) yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara. Hukum dasar ada yang tertulis disebut Konstitusi, atau Undang-Undang Dasar (UUD), dan ada yang tidak tertulis disebut Konvensi. Konvensi mempunyai sifat-sifat : a. Kebiasaan yang berulangkali dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara; b. Tidak bertentangan dengan UUD; c. Diterima oleh seluruh rakyat; d. Bersifat sebagai pelengkap jika tidak terdapat dalam UUD. Contoh konvensi di negara kita : a. Upacara Bendera pada Peringatan HUT Kemerdekaan RI tiap tanggal 17 Agustus; b. Pidato kenegaraan Presiden RI setiap tanggal 16 Agustus di dalam sidang DPR dalam rangka memperingati Kemerdekaan RI yang berisi laporan kemajuan (progress rapport) dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pembinaan kemasyarakatan dalam tahun anggaran berjalan; c. Pidato Presiden RI yang diucapkan sebagai keterangan pemerintah tentang nota keuangan atau Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) pada minggu pertama pada bulan Januari setiap tahun; d. Pemberian grasi, amnesti, abolisi, dan rehabilitasi pada hari kemerdekaan RI atau pada hari raya keagamaan; e. Setiap terbentuk DPR baru hasil Pemilu legislatif, sebelum ada pimpinan resmi hasil pemilihan, maka dipilih pimpinan sementara dengan memperhatikan usia (yang tertua sebagai Ketua, dan yang termuda sebagai Wakil Ketua); 126

f. Tata cara pemilihan anggota Kabinet oleh Presiden; g. Menyambut tamu negara dengan : 1) Pagelaran kesenian; 2) Tukar-menukar cendera mata. h. Setiap periode kepemimpinan nasional, sebelum mengakhiri masa tugasnya, ada jeda waktu yang disebut demisioner. Pada masa ini tidak boleh melakukan kegiatan-kegiatan kenegaraan yang bersifat prinsipil, kecuali seremonial. i. Dsb. 2. Pengertian Konstitusi dan UUD. Dalam bahasa Latin istilah konstitusi merupakan gabungan dari dua kata, yaitu cume yang berarti bersama dengan dan statuere yang berarti membuat sesuatu agar berdiri sehingga semuanya berarti bersama mendirikan, menetapkan sesuatu. Dalam bahasa Perancis istilah konstitusi berasal dari kata constituer yang berarti membentuk, maksudnya adalah pembentukan, penyusunan, atau pernyataan suatu negara. Dalam bahasa Inggris disebut

constitution dan Belanda constitutie yang memiliki makna yang sama dengan grondwet dalam bahasa Jerman (grond = tanah, dasar; wet = undang-undang) yang menunjukkan naskah tertulis. Dalam praktek ketatanegaraan, umumnya konstitusi dapat memiliki makna yang lebih luas daripada UUD atau sama dengan pengertian UUD. (Kaelan, 2004:180). Sementara itu menurut A. Ubaedillah (2010:60), konstitusi adalah keseluruhan peraturan yang mengatur secara mengikat cara-cara bagaimana suatu pemerintahan diselenggarakan dalam suatu masyarakat. Pengertian konstitusi dapat disimpulkan sebagai berikut : a. Kumpulan kaidah yang memberikan pembatasan kekuasaan kepada penguasa; b. Dokumen tentang pembagian tugas dan wewenang dari sistem politik yang diterapkan; c. Deskripsi yang menyangkut masalah hak asasi manusia. Secara garis besar tujuan dan fungsi konstitusi adalah membatasi tindakan sewenang-wenang pemerintah, menjamin hak-hak rakyat yang diperintah, dan 127

menetapkan pelaksanaan kekuasaan berdaulat. Sedangkan menurut Sri Soemantri, yang mengutip pendapat Steenbeck, terdapat tiga muatan pokok dalam konstitusi, yaitu : a. Jaminan hak-hak asasi manusia; b. Susunan ketatanegaraan yang bersifat mendasar; c. Pembagian dan pembatasan kekuasaan. Adapun istilah konstitusi atau UUD di Indonesia adalah terjemahan dari bahasa Jerman grondwet, atau bahasa Belanda constitutie, sehingga pada saat NKRI berubah menjadi Republik Indonesia Serikat atau negara federal pada tahun 1949-1950, kita mengenal atau menggunakan istilah konstitusi, yaitu Konstitusi RIS. 3. Pengertian UUD 1945. UUD 1945 adalah adalah hukum dasar tertulis negara Republik Indonesia yang memuat dasar dan garis besar hukum dalam penyelenggaraan negara. 4. Kedudukan UUD 1945. Kedudukan UUD 1945 adalah sebagai landasan struktural dalam penyelenggaraan pemerintahan negara RI. 5. Sifat UUD 1945. Sifat UUD 1945 singkat dan supel, karena hanya memuat aturan-aturan pokok yang setiap saat dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Lebih lanjut dijabarkan dalam peraturan perundang-undangan di bawahnya (yang lebih rendah derajat/tingkatannya). Contohnya : 1) Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945 : Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Maka saat ini dijabarkan lebih lanjut dalam Undang-Undang : a. No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik; b. No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden; c. No. 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik; 128

d. No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum; e. No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD; 2) Pasal 30 Ayat (5) UUD 1945 : Susunan dan kedudukan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, hubungan kewenang Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia di dalam menjalankan tugasnya, syarat-syarat keikutsertaan warga negara dalam usaha pertahanan dan keamanan negara, serta hal-hal yang terkait dengan pertahanan dan keamanan diatur dengan undang-undang. Maka saat ini dijabarkan dalam Undang-Undang : a. No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia; b. No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara; c. No. 34 Tahun 2003 tentang Tentara Nasional Indonesia. 3) Pasal 31 Ayat (3) UUD 1945 : Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Maka saat ini dijabarkan lebih lanjut dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentan Sistem Pendidikan Nasional. Demikian juga Pasal-pasal UUD 1945 yang lainnya. Selanjutnya UU dalam pelaksanaannya dapat dijabarkan lebih lanjut dalam PP, Perpres, Inpres, Permen, Perda, dan seterusnya sesuai dengan pembidangannya masing-masing. 6. Fungsi UUD 1945. Fungsi UUD 1945 adalah sebagai alat kontrol norma-norma hukum positif yang lebih rendah dalam tata urutan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tata urutan (hierarki) peraturan perundang-undangan RI pernah empat kali berubah, yaitu : a. Menurut Kepetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 : 1) Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945 (UUD 1945); 2) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR);

129

3) Undang-Undang (UU); 4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU); 5) Peraturan Pemerintah (PP); 6) Keputusan Presiden (Keppres); 7) Instruksi Presiden (Inpres); 8) Keputusan Menteri (Kepmen); 9) Instruksi Menteri (Inmen); 10) Peraturan Daerah (Perda): 11) Keputusan Gubernur (Kepgub); 12) Keputusan Bupati/Walikota Madya); 13) Dst. b. Menurut Ketetapan MPR Nomor III/MPR/2000 adalah : 1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 (UUD 1945); 2) Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR); 3) Undang-undang (UU); 4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPPU); 5) Peraturan Pemerintah (PP); 6) Keputusan Presiden (Keppres); 7) Peraturan Daerah (Perda). c. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah : 1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 (UUD 1945); 2) Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (UU/ PERPPU); 3) Peraturan Pemerintah (PP); 4) Peraturan Presiden (Perpres); 5) Peraturan Daerah (Perda). d. Terakhir, menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagai pengganti Undang-Undang No. 10 Tahun 2004, dan yang sekarang berlaku, adalah : 1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 (UUD 1945); 130

2) Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR); 3) Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (UU/ PERPPU); 4) Peraturan Pemerintah (PP); 5) Peraturan Presiden (Perpres); 6) Peraturan Daerah Provinsi (Perda Provinsi); 7) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (Perda Kabupaten/Kota). Terhadap konstitusi atau UUD menurut Karl Loewentein dalam Kusnardi, 1983:72-75) terdapat tiga jenis penilaian : a. Nilai Normatif berlaku efektif sebagai sumber hukum yang dilaksanakan

secara murni dan konsekuen; b. Nilai Nominal berlaku tidak sempurna karena ada pasal-pasal tertentu yang

oleh penguasa tidak diberlakukan. Contoh pasal 28 UUD 1945 mengenai kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan, pada masa Orba dalam praktek pelaksanaannya banyak bergantung pada kemauan penguasa; c. Nilai Semantik berlaku hanya simbolik yang dalam pelaksanaannya diganArtinya, kebijakan dan keputusan

tikan dengan kepentingan penguasa.

negara/pemerintah tidak konsekuen berdasarkan UUD. Contoh pelaksanaan UUD 1945 pada masa Orla dan Orba. 7. Perubahan (Amandemen) Undang-Undang Dasar. Perubahan atau amandemen UUD suatu negara adalah hal yang wajar karena untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman/keadaan. Terdapat dua sistem yang dianut oleh negara-negara dalam mengamandemen UUD, yaitu : a. Sistem Eropa Kontinental, yaitu amandemen dengan membuat UUD baru secara keseluruhan untuk menggantikan UUD yang ada. Ini dianut misalnya oleh Belanda, Jerman, dan Perancis.

131

b. Sistem Anglo-Saxon (Amerika), yaitu jika konstitusi berubah, maka yang asli tetap berlaku, dalam hal ini adanya bab, pasal, dan ayat perubahan adalah sebagai lampiran dari konstitusinya. Negara Indonesia menganut sistem yang berkembang di negara AngloSaxon, dengan alasan : a. Perubahan UUD itu tidak perlu dilakukan secara keseluruhan, melainkan beberapa bab, pasal, atau ayat yang nyata-nyata dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan atau bersebrangan dengan tuntutan reformasi; b. Bab, pasal, atau ayat hasil perubahan merupakan bagian dari UUD aslinya, sehingga tidak ada distorsi sejarah antara konstitusi asli dengan hasil perubahannya. Adapun terhadap prosedur perubahan UUD terdapat pendapat para ahli sebagai berikut (Syahrial Syarbaini, 2011:223) : a. George Jellinek, membedakan cara perubahan UUD itu : 1) Dengan sengaja sesuai dengan ketentuan dalam UUD-nya sendiri; 2) Tidak sesuai dengan cara yang ditentukan dalam UUD-nya, melainkan dengan prosedur istimewa, misalnya karena revolusi, coup detat (baca : kudeta), konvensi, dsb. b. C.F. Strong, menyebut empat cara mengubah UUD, yaitu : 1) Diubah oleh legislatif dengan persyaratan khusus; 2) Dilakukan oleh rakyat melalui referendum; 3) Dalam negara serikat (federal) diajukan/disetujui oleh negara-negara bagian; 4) Melalui konvensi khusus oleh suatu lembaga negara yang dibentuk untuk itu. c. K.C. Wheare, menyebut empat cara mengubah UUD, yaitu : 1) Beberapa ketentuan bersifat primer yang disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, hukum, sosial, dll. 2) Perubahan yang diatur oleh konstitusi, yaitu perubahan melalui legislatif biasa sebagaimana diatur dalam UUD-nya; 3) Penafsiran secara hukum yang dilakukan oleh badan peradilan tanpa peru132

bahan kata-kata UUD; 4) Praktik biasa dan konvensi yang terdapat dalam bidang ketatanegaraan, yaitu memberlakukan kebiasaan dalam praktek penyelenggaraan negara. Di Indonesia pada masa Orba hampir tidak mungkin melakukan perubahan terhadap UUD 1945 karena faktor politis, dengan keluarnya Ketetapan MPR dan UU tentang Referendum. Jadi, kendati mengubah UUD itu adalah wewenang MPR, tetapi lebih dulu harus ditanyakan kepada rakyat melalui referendum. UUD 1945 bahkan disakralkan seolah-olah sudah sempurna, tidak boleh diutakatik lagi. Padahal intinya adalah faktor politis karena memang Orba ingin melanggengkan kekuasaannya. Berkaitan dengan perubahan atau amandemen UUD 1945 sampai empat kali, atau malah kemudian diusulkan lagi untuk perubahan yang kelima kalinya, karena memang dimungkinkan setelah ketentuan tentang referendum dicabut, dan bergulirnya reformasi. a. Dalam Pasal 37 UUD 1945 sendiri ada norma, yaitu : 1) Wewenang untuk mengubah UUD ada pada MPR; 2) Harus memenuhi quorum, yaitu sidang MPR harus dihadiri sekurangkurangnya 2/3 dari jumlah anggota, hadir; 3) Putusan perubahan harus disetujui oleh 2/3 dari jumlah anggota yang hadir. b. Untuk menuju Indonesia baru yang demokratis, dipandang perlu mengamandemen UUD 1945 dengan pertimbangan-pertimbangan seperti dikemukakan oleh Laica Marzuki (1999) dalam Syahrial Syarbaini (2011:224) antara lain : 1) Menurut Ir. Sukarno selaku Ketua PPKI dalam rapat tanggal 18 Agustus 1945 di Pejambon, Jakarta, bahwa UUD yang disahkan rapat PPKI bersifat sementara, dan kelak akan dibuat UUD yang lebih lengkap dan sempurna; 2) UUD 1945 ternyata menumbuhkan figur Presiden yang diktatorial, karena dalam Pasl 7 masa jabatannya tidak ada batasan, yang bunyinya, Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali. Hal ini terbukti Presiden Suharto

memegang jabatannya selama 32 tahun (tujuh kali masa jabatan dipilih 133

terus oleh MPR), yang berakibat terjadinya kemunduran di bidang ketatanegaraan. Hal ini belajar juga dari sejarah AS yang semula dalam

konstitusinya (1787) tidak membatasi masa jabatan Presiden, tetapi pada akhirnya diubah oleh Kongres pada tanggal 12 Maret 1947 yang membatasi masa jabatan Presiden selama dua kali empat tahun; 3) Mahkamah Agung (MA) perlu dibekali dengan hak uji materil UU (judicial review), karena dengan kedudukan Presiden yang kuat dalam sistem pemerintahan, dibutuhkan perimbangan kekuasaan yang cukup kuat pula di pihak MA dengan kewenangan pengujian (toetsing). Akan tetapi kemudian ternyata hak menguji UU terhadap UUD 1945 itu menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi (MK), sementara MA mempunyai hak menguji aturan-aturan di bawah UU. Bukti kemunduran di bidang ketatanegaraan ketika Presiden Suharto berkuasa selama 32 tahun itu, menurut Muchsan (1999:3-7) antara lain : 1) Dengan adanya fusi antar partai politik sehingga hanya terdapat dua parpol (PPP dan PDI) serta satu Golkar, memberangus sistem demokrasi; 2) Adanya single-mayority, sama dengan one party system; 3) Secara material Presiden memiliki kekuasaan yang tidak terbatas, meliputi kekuasan eksekutif, legislatif, dan yudikatif; 4) Semua lembaga pengawasan terhadap pemerintah dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak berdaya; 5) MPR merupakan corong Presiden, menyatakan tidak akan mengubah UUD 1945; 6) Secara material jabatan Presiden tidak terbatas; 7) Lembaga-lembaga tinggi negara yang lain melakukan politik yes men, sumuhun dawuh, opo karepe sampeyan ae kepada Presiden. Sedangkan menurut Mahfud MD (1999) dalam Syahrial Syarbaini (2011: 235) UUD 1945 dari berbagai studi yang dilakukan mempunyai kelemahankelemahan muatan yang menyebabkan tidak mampu menjamin lahirnya pemerintahan yang demokratis-konstitusional, yaitu : 1) Tidak ada mekanisme check and balances; 134

2) Terlalu banyaknya atribut kewenangan; 3) Adanya pasal-pasal yang multitafsir; 4) Terlalu percaya pada semangat orang (penyelenggara negara). Di era reformasi, melihat kelemahan-kelemahan UUD 1945 itu, maka kemudian MPR melakukan amandemen terhadap UUD 1945, sampai empat kali, yaitu : 1) Perubahan pertama pada tanggal 19 Oktober 1999; 2) Perubahan kedua pada tanggal 18 Agustus 2000; 3) Perubahan ketiga pada tanggal 1-10 November 2001; 4) Perubahan keempat pada tanggal 1-11 Agustus 2002. Dengan telah disahkannya perubahan pertama, kedua, ketiga, dan keempat UUD 1945 dalam sidang tahunan MPR, hal tersebut merupakan lompatan besar ke depan bagi bangsa Indonesia, karena telah memiliki sebuah UUD yang lebih baik dibandingkan dengan UUD 1945 sebelumnya (yang asli). Kalaupun nantinya ditemukan adanya kekurangsempurnaan

dalam rumusan perubahan tersebut, harus diakui memang tidak ada pekerjaan manusia yang sempurna di mana pun. Tetapi paling tidak, MPR telah menuntaskan sebagian tugas reformasi konstitusi sebagai suatu langkah demokrasi dalam upaya menyempurnakan UUD 1945 menjadi konstitusi yang demokratis, sesuai dengan semangat zaman untuk mewadahi dinamika kehendak rakyat. Perubahan itu suatu lembaran sejarah lanjutan setelah BPUPKI dan PPKI pada tahun 1945 berhasil merumuskan dan mengesahkan UUD 1945. Memang sekarang ini masih dirasakan adanya kelemahan-kelemahan UUD 1945 kendati sudah diamandemen empat kali. Salah satunya adalah yang diwacanakan oleh DPD mengingat peran dan fungsinya dirasa masih timpang dalam pembahasan UU bersama DPR, karena hanya ikut aktif tatkala membahas hal-hal yang berkaitan dengan otonomi daerah, sementara di bidang lain hanya memberi masukan tanpa mempunyai hak untuk ambil bagian membahasnya bersama DPR, padahal DPD sama-sama sebagai anggota MPR dengan sistem bikameral. Demikian pula keberadaan lembaga-lembaga 135

negara yang bersifat ektra struktural seperti contohnya KPK, semestinya ada payung hukum, rujukan, atau cantolannya dalam UUD 1945. Khusus mengenai keberadaan KPK, sebenarnya dengan melihat sistem ketatanegaraan Indonesia berdasarkan UUD 1945 itu tidak perlu, mengingat sudah lengkapnya lembaga negara dan pemerintahan yang tugas pokok dan fungsinya menegakkan hukum, yang berarti juga dapat mencegah dan memberantas KKN khususnya korupsi. Lembaga-lembaga dimaksud adalah : 1) BPK, sebagai lembaga negara yang mempunyai tugas pokok dan fungsi memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara {UUD 1945 Pasal 23E Ayat (1)}; 2) MA, MK, dan KY sebagai lembaga negara yang mempunyai tugas pokok dan fungsi yudikatif (peradilan) adalah pilar penegak hukum dan keadilan termasuk terhadap perbuatan korupsi; 3) DPR sebagai lembaga negara yang juga mempunyai fungsi pengawasan secara politis atas jalannya pemerintahan; 4) POLRI, Kejaksaan Agung, dan BPKP adalah lembaga pemerintahan yang juga mempunyai tugas pokok dan fungsi pemeriksaan dan penegakkan hukum termasuk terhadap tindak pidana korupsi; 5) Di lingkungan Kementerian (Departemen dan Non Departemen) juga ada Inspektur Jenderal yang secara fungsional mempunyai tugas pokok dan fungsi pengawasan dan pemeriksaan atas jalannya pemerintahan dan pembangunan di lingkungan instansinya masing-masing sampai ke daerah; 6) Di lingkungan Pemda (Provinsi dan Kabupaten/Kota) juga ada aparat pengawasan fungsional, yaitu Inspektur Daerah (dh. Bawasda); 7) Adanya program waskat (pengawasan melekat), yaitu pengawasan langsung oleh atasan setiap aparatur negara/pemerintahan, dll. Namun demikian, semua lembaga dimaksud ternyata tidak optimal dalam menjalankan tugas dan fungsinya, bahkan banyak terjadi penyalahgunaan wewenang, penyelewengan, dan kolusi (kongkalingkong) dengan pihak berperkara, sehingga perbuatan KKN khususnya korupsi tetap merajalela. Maka rakyat menganggap perlu ada terobosan lain dengan 136

membentuk lembaga anti rasuah, yang khusus menangani pemberantasan korupsi. Atas dasar tuntutan rakyat ini, dengan suatu Undang-Undang (No. 30 Tahun 2002) dibentuklah Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK). Harapan akan bebasnya Indonesia dari kejahatan korupsi kini diemban oleh KPK, selain tentu saja lembaga-lembaga yang disebutkan di atas pun dituntut membenahi diri dan melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan baik.

B. PEMBUKAAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 1. Makna Pembukaan UUD 1945. a. Merupakan sumber dari motivasi dan aspirasi perjuangan serta tekad bangsa Indonesia untuk mencapai tujuan nasional; b. Merupakan sumber dan cita-cita hukum/moral yang ingin ditegakkan baik dalam lingkungan nasional maupun dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia (internasional); c. Mempunyai nilai-nilai universal dan lestari yang dijunjung tinggi bangsabangsa beradab di muka bumi; d. Merupakan satu rangkaian dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 (Proklamasi = Proclamation of Independence, sedangkan Pembukaan UUD 1945 = Declaration of Independence), yaitu pernyataan kemerdekaan terperinci yang mengandung cita-cita luhur bangsa dan memuat Pancasila sebagai dasar negara; e. Merupakan pokok-pokok kaidah negara yang fundamental yang menjadi landasan dan peraturan hukum tertinggi bagi hukum-hukum lainnya. 2. Pokok-pokok Kaidah Negara. a. Dasar-dasar Pembentukan Negara : 1) Tugas Negara : Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan

137

kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. 2) Politik Negara : Pemerintahan negara Indonesia berbentuk republik dan berkedaulatan rakyat. 3) Asas Kerohanian Negara : Dasar falsafah Pancasila yang meliputi hidup kenegaraan dan tertib hukum. b. Ketentuan diadakannya UUD : 1) Menunjukkan sebab keberadaan sumber hukum undang-undang dasar negara. 2) Kaidah negara yang fundamental (staatsfundamentalnorm) yang mempunyai hakikat dan kedudukan sangat kuat serta tidak berubah. Maksudnya Pembukaan UUD 1945 tidak dapat diubah secara hukum, karena merubah Pembukaan UUD 1945 berarti pembubaran negara proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. 3. Makna Alinea-alinea dalam Pembukaan UUD 1945. Alinea Pertama : Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Makna yang terkandung dalam alinea ini : a. Adanya keteguhan dan kuatnya pendirian bangsa Indonesia menghadapi kemerdekaan melawan penjajah; b. Tekad bangsa Indonesia untuk tetap berdiri di barisan terdepan menentang dan menghapuskan penjajahan di atas dunia; c. Mengungkapkan suatu dalil obyektif, yaitu bahwa penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, karenanya harus ditentang dan dihapuskan agar semua bangsa di dunia dapat menjalankan kemerdekaannya sebagai hak asasi; d. Pengungkapan suatu dalil subyektif, yaitu aspirasi bangsa Indonesia sendiri untuk membebaskan diri dari penjajahan. Dalil ini meletakkan tugas kewajib138

an kepada bangsa/pemerintah Indonesia untuk senantiasa melawan setiap bentuk penjajahan dan mendukung setiap kemerdekaan sesuatu bangsa. Pendirian bangsa Indonesaia ini menjadi landasan pokok dalam menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif. Bebas aktif tidak berarti netral, sebab kalau netral berarti tidak memihak ke mana-mana atau kepada siapa pun (misalnya blok Barat dan blok Timur) tanpa ada upaya apa-apa, sedangkan bebas aktif, juga tidak memihak, akan tetapi turut aktif ambil bagian atau berkontribusi dengan segala upaya misalnya dengan diplomasi, atau turut mengirimkan tentara atas nama Tim Perdamaian PBB untuk menyelesaikan sengketa di lokasi konflik antara negara-negara yang sedang berselisih, untuk menghindari perang. Alinea Kedua : Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Makna yang terkandung dalam alinea ini : a. Perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai pada saat yang menentukan; b. Momentum yang telah sampai itu harus dimanfaatkan untuk menyatakan kemerdekaan; c. Kemerdekaan bukan tujuan akhir, tetapi masih harus diisi dengan usaha mewujudkan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Istilah Bung Karno (Ir. Sukarno), kemerdekaan adalah Jembatan Emas untuk menuju Indonesia yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo, atau subur kang sarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku.

139

Alinea Ketiga : Atas berkat rahmat Alloh Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Makna yang terkandung dalam alinea ini : a. Motivasi spiritual yang luhur bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia adalah berkat rahmat Tuhan YME; b. Keinginan yang didambakan untuk hidup berkeseimbangan antara kehidupan material dan spiritual, dunia dan akhirat; c. Pengukuhan proklamasi kemerdekaan sebagai suatu negara kebangsaan. Karena itu Pembukaan UUD 1945 disebut sebagai proklamasi yang rinci, atau sebagai tindak lanjut dan pengukuhan atas proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Alinea Keempat : Kemudian daripada itu untuk membentuk pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Makna yang terkandung dalam alinea ini : a. Tujuan sekaligus tugas negara adalah : 1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; 2) Memajukan kesejahteraan umum; 140

3) Mencerdaskan kehidupan bangsa; 4) Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. b. Negara Indonesia berbentuk Republik dan berkedaulatan rakyat; c. Dasar falsafah negara Indonesia adalah Pancasila. Dari makna Pembukaan UUD 1945 tersebut di atas, terkandung nilai hukum Tuhan, hukum kodrat, hukum etis, dan hukum filosofis. Hal ini dapat digambarkan pada bagan di bawah ini. Alinea 1 Hukum Kodrat Hukum Etis Cita-cita Kemerdekaan Hukum Tuhan Hukum Etis Hukum Filosofis (Pancasila) Hukum Positif dan Pelaksanaannya Sumber, Bentuk dan Sifat Pelaksanaan Negara Indonesia
Sumber : Kaelan, 2004.

Sumber Bahan dan Sumber Nilai

Alinea 2

Alinea 3

Alinea 4

Pelaksanaan Negara Indonesia

4. Pokok-pokok Pikiran dalam Pembukaan UUD 1945. Pokok Pikiran Pertama : Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan ini menunjukkan pokok pikiran Persatuan : a. Negara melindungi segenap bangsa seluruhnya; b. Negara mengatasi segala faham golongan dan perseorangan; c. Negara, penyelenggara negara, dan warga negara, wajib mengutamakan kepentingan negara/umum.

141

Pokok Pikiran Kedua : Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Rumusan ini menunjukkan pokok pikiran Keadilan Sosial : a. Manusia Indonesia (warga negara) mempunyai kewajiban dan hak yang sama; b. Negara harus mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Pokok Pikiran Ketiga : Negara yang berkedaulatan rakyat berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan/perwakilan. Rumusan ini menunjukkan pokok pikiran Kedaulatan Rakyat : a. Sistem negara harus berdasarkan kedaulatan rakyat dan permusyawaratan/ perwakilan; b. Kedaulatan di tangan rakyat. Pokok Pikiran Keempat : Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusia-an yang adil dan beradab. Rumusan ini menunjukkan pokok pikiran Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab : a. Negara dan penyelenggara negara wajib memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur; b. Memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. Keempat pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 ini disebut sebagai pancaran dari Pancasila, dan lebih lanjut dijabarkan dalam Pasal-pasal UUD 1945. Jika digambarkan dalam diagram, hubungan empat pokok pikiran dimaksud adalah sebagai berikut :

142

FUNDAMEN MORAL NEGARA P4


Ketuhanan Yang Maha Esa Menurut dasar Kemanusiaan yang adil dan beradab S1 & S2 menjiwai

FUNDAMEN POLITIK NEGARA


DASAR NEGARA SISTEM NEGARA Negara Persatuan P3 P1 melindungi Kerakyatan Segenap Permusyawaratan Bangsa Indonesia Perwakilan S3 S4 TUJUAN NEGARA Keadilan Sosial bagi P2 Seluruh Rakyat Indonesia S5

Sumber : Noor Ms Bakry, 2009:34.

5. Hubungan Pembukaan UUD 1945 dengan Batang Tubuh UUD 1945. Secara umum, antara Pembukaan UUD 1945, Batang Tubuh UUD 1945, dan Penjelasan UUD 1945 (dimuat dalam Berita Republik Indonesia Tahun II Nomor 7) merupakan satu kesatuan (komponen) yang disebut UUD 1945. Tetapi ada yang perlu dijelaskan sebagai berikut : a. Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 meliputi suasana kebatinan dari UUD 1945 negara Indonesia dalam mewujudkan citacita hukum yang menguasai hukum dasar tertulis dan tidak tertulis, yang selanjutnya dijelmakan dalam pasal-pasal (Batang Tubuh), tidak lain dijiwai atau bersumber pada dasar falsafah negara Pancasila; b. Atas dasar hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa Pembukaan UUD 1945 mempunyai fungsi hubungan langsung dengan Batang Tubuh UUD 1945 yang bersifat kausal organik, dan merupakan rangkaian kesatuan nilai dan norma yang terpadu; c. Alinea 1, 2 dan 3 Pembukaan UUD 1945 merupakan rangkaian peristiwa dan keadaan yang mendahului terbentuknya negara, adalah pernyataan yang tidak mempunyai hubungan kausal organik dengan Batang Tubuh, sedangkan 143

alinea 4 merupakan ekspresi dari peristiwa dan keadaan setelah negara Indonesia terwujud, sehingga mempunyai hubungan yang bersifat kausal organik dengan Batang Bubuh, yang mencakup beberapa segi, yaitu : 1) UUD ditetapkan akan ada; 2) Yang diatur dalam UUD adalah tentang pembentukan pemerintahan negara yang memenuhi berbagai persyaratan dan meliputi segala aspek penyelenggaraan negara; 3) Negara Indonesia berbentuk republik yang berkedaulatan rakyat; 4) Ditetapkannya dasar kerohanian negara/dasar filsafat negara Pancasila. 6. Dalam Kaitannya dengan Sistem Tertib Hukum Indonesia : a. Kaitannya dengan tertib hukum, maka Pembukaan UUD 1945 mempunyai hakikat kedudukan yang terpisah dengan Batang Tubuh, dan dalam kaitannya sebagai kaidah pokok negara yang fundamental, Pembukaan UUD 1945 mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada Batang Tubuh; b. Pembukaan UUD 1945 merupakan suatu tertib hukum tertinggi, karena itu mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada Batang Tubuh; c. Pembukaan UUD 1945 merupakan pokok kaidah negara yang fundamental yang menentukan adanya UUD 1945, yang menguasai hukum dasar negara baik yang tertulis (UUD) maupun yang tidak tertulis (konvensi), jadi merupakan sumber hukum dasar negara; d. Pembukaan UUD 1945 berkedudukan sebagai pokok kaidah negara yang fundamental mengandung pokok-pokok pikiran yang harus dijabarkan ke dalam Pasal-pasal UUD 1945.

C. STRUKTUR PEMERINTAHAN NEGARA RI BERDASARKAN UUD 1945 1. Demokrasi Indonesia. a. Selain mengakui adanya kebebasan dan persamaan hak, sekaligus juga mengakui perbedaan dan keanekaragaman sesuai dengan semboyan

144

Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan moral persatuan, Ketuhanan YME, serta kemanusiaan yang adil dan beradab; b. Kebebasan individu harus diletakkan dalam kerangka tujuan bersama sebagai asas kebersamaan dan kekeluargaan, tetapi bukan nepotisme (familiisme); c. Sistem pemerintahan demokratis senantiasa mengandung unsur-unsur : 1) Keterlibatan warga negara dalam pembuatan keputusan-keputusan politik; 2) Tingkat persamaan tertentu di antara warga negara; 3) Tingkat kebebasan/kemerdekaan tertentu yang diakui dan dipakai oleh warga negara; 4) Suatu sistem perwakilan; 5) Suatu sistem pemilihan kekuasaan mayoritas. d. Sebagai komponen tegaknya demokrasi, dikenal adanya infra struktur politik dan supra struktur politik. 1) Infra Struktur Politik : a) Partai Politik; b) Golongan-golongan (yang tidak berdasarkan Pemilu); c) Golongan-golongan penekan (pressure group); d) Alat komunikasi politik; e) Tokoh-tokoh politik. 2) Supra Struktur Politik : Meliputi lembaga-lembaga/alat-alat kelengkapan negara (legislatif, eksekutif, yudikatif), Lembaga-lembaga dimaksud adalah : Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Presiden/Wakil Presiden, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkamah Agung (MA), Mahkamah Konstitusi (MK), dan Komisi Yudisial (KY). Di negara-negara tertentu termasuk Indonesia masih ditemukan

adanya lembaga-lembaga lain seperti Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komisi Pemilihan

145

Umum (KPU), Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Komisi Kepolisian Negara, Komisi Kejaksaan, Komisi Perlindungan Anak, dll. e. Rincian struktural ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan demokrasi menurut UUD 1945 adalah : 1) Konsep Kekuasaan : a) Kekuasaan/kedaulatan di tangan rakyat; b) Pembagian kekuasaan (distribution of power) : (1) Legislatif (MPR, DPR, DPD); (2) Eksekutif (Presiden/Wakil Presiden); (3) Yudikatif (MA, MK, KY); (4) Inspektif (BPK); (5) Konstitutif (MPR); (6) Konsultatif (DPA), sudah tidak ada lagi. (7) Pembatasan kekuasaan melalui mekanisme lima tahunan (Pemilu). 2) Konsep Pengambilan Keputusan : Pengambilan keputusan yang dianut dalam ketatanegaraan RI berdasarkan UUD 1945 : a) Musyawarah untuk mufakat; b) Jika tidak tercapai, dimungkinkan melalui suara terbanyak dengan cara pemungutan suara (voting). 3) Konsep Pengawasan : Pengawasan terhadap kebijakan dan jalannya pemerintahan dan pembangunan dilakukan : a. Oleh seluruh warga negara, yaitu pengawasan masyarakat (wasmas) karena kekuasaan berada di tangan rakyat; b. Secara formal ketatanegaraan dilakukan oleh DPR (pengawasan rakyat yang bersifat politis); c. Secara fungsional dilakukan oleh lembaga-lembaga pengawasan fungsional (wasnal) seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Pem-

146

bangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian/LPNK, Inspektorat Daerah/Irwilda, dll.); d. Secara budaya kerja organisasi dilakukan oleh atasan langsung, yaitu pengawasan melekat (Waskat). 4) Konsep Partisipasi : Konsep ini menyangkut kewajiban dan hak warga negara dalam seluruh aspek kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan : a) Segala warga negara mempunyai kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan; b) Mempunyai kemerdekaan berserikat, berkumpul, serta mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan; c) Berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan dan pertahanan negara. 5) Indonesia adalah Negara Hukum : Indonesia adalah negara hukum (rechtstaats) yang berdasarkan Pancasila dan bukan berdasarkan atas kekuasaan (machstaats). Sifat negara hukum ditunjukkan jika alat-alat kelengkapan negara bertindak menurut dan terikat pada aturan-aturan yang ditentukan. Ciri-ciri negara hukum adalah : a) Pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia yang mengandung persamaan di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya; b) Peradilan yang bebas dari pengaruh kekuasaan atau kekuatan lain dan tidak memihak; c) Adanya jaminan kepastian hukum, yaitu dapat difahami, dapat dilaksanakan, dan aman dalam pelaksanaannya. Berkaitan dengan demokrasi, maka demokrasi di Indonesia semestinya mengembangkan demokrasi Pancasila. Beberapa kriteria yang harus dimiliki dalam suatu negara demokrasi yang benar-benar menggunakan demokrasi dalam sistem pemerintahan dan sistem politiknya adalah : a) Partisipasi rakyat; b) Persamaan di depan hkum; 147

c) Distribusi pendapatan secara adil; d) Kesempatan pendidikan yang sama; e) Ketersediaan dan keterbukaan informasi; f) Mengindahkan tata krama politik; g) Dsb. Dalam pada itu harus pula dikembangkan pendidikan demokrasi. Pendidikan demokrasi ini dibagi atas tiga bagian, yaitu : a) Pendidikan demokrasi secara formal, adalah pendidikan yang melewati tatap muka, diskusi, presentasi, studi kasus, dll., untuk memberikan gambaran kepada peserta didik (murid, siswa, mahasiswa) agar memiliki kemampuan untuk cinta bangsa dan negara. Hal ini biasanya dilakukan di sekolah-sekolah, PT, atau lembaga-lembaga pendidikan lain semacam diklat PNS, dll. b) Pendidikan demokrasi secara informal, adalah pendidikan yang melewati tahap pergaulan di rumah/lingkungan keluarga, masyarakat, dll., sebagai bentuk aplikasi nilai berdemokrasi dari hasil interaksi terhadap lingkungan sekitarnya, yang langsung dapat dirasakan hasilnya; c) Pendidikan demokrasi nonformal, adalah pendidikan melewati tahap di luar atau lingkungan masyarakat lebih luas (makro) dalam berinteraksi, karena pendidikan di luar sekolah mampunyai variabel maupun parameter yang signifikan terhadap pembentukan jiwa seseorang. Syahrial Syarbaini (2011:238-239) mengemukakan visi dan misi pendidikan demokrasi sebagai berikut : a) Visi Pendidikan Demokrasi adalah : Sebagai wahana substantis, paedagogis, dan sosial kultural untuk membangun cita-cita, nilai, konsep, prinsip, sikap dan keterampilan demokrasi dalam diri warga negara melalu pengalaman hidup dan berkehidupan demokraqsi dalam berbagai konteks. b) Misi Pendidikan Demokrasi : (1) Memfasilitasi warga negara untuk mendapatkan berbagai akses kepada dan menggunakan secara cerdas berbagai sumber informasi 148

tentang demokrasi dalam teori dan praktik untuk berbagai konteks kehidupan, sehingga memiliki wawasan yang luas dan memadai; (2) Memfasilitasi warga negara untuk dapat melakukan kajian konseptual dan operasional secara cermat, dan bertanggung jawab terhadap berbagai cita-cita, instrumentasi praksis demokrasi guna mendapatkan keyakinan dalam melakukan pengambilan keputusan individual dan/atau kelompok dalam kehidupannya sehari-hari serta berargumentasi atas keputusannya itu; (3) Memfasilitasi warga negara untuk memperoleh dan memanfaatkan kesempatan berpartisipasi serta cerdas dan bertanggung jawab dalam praktik kehidupan demokrasi di lingkungannya, seperti mengeluarkan pendapat, berkumpul, berserikat, memilih, serta memonitor dan mempangaruhi kebijakan publik. 2. Bentuk dan Kedaulatan Negara. a. Bentuk negara adalah Negara Kesatuan (NKRI); b. Bentuk pemerintahan adalah Republik; c. Kepala Negara adalah Presiden. 3. Sistem Pemerintahan Negara. Sistem pemerintahan negara RI berdasarkan UUD 1945 dikenal dengan Tujuh Kunci Pokok Sistem Pemerintahan Negara, yaitu : a. Indonesia ialah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtstaats), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtstaats). b. Sistem konstitusional, artinya pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolut. c. Kekuasaan negara yang tertinggi di tangan rakyat (tetapi tidak lagi dijelmakan/dipegang oleh MPR).

149

d. Presiden ialah penyelenggara pemerintahan negara yang tertinggi di samping MPR dan DPR. Karena langsung dipilih oleh rakyat, maka Presiden tidak lagi merupakan mandataris MPR. e. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. Dalam membentuk UndangUndang (gezetzgebung) dan menetapkan APBN (Staatsbegrooting), Presiden harus bekerjasama dengan DPR, akan tetapi tidak bertanggung jawab kepada DPR. f. Menteri Negara ialah Pembantu Presiden, Menteri Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR. Dalam melaksanakan tugas pemerintahan Presiden

dibantu oleh Menteri-menteri negara yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden (Kabinet Presidensial). g. Kekuasaan Kepala Negara tidak tak terbatas. Meskipun Kepala Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR, tetapi ia bukan Diktator. 4. Kelembagaan Negara. MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT (MPR) Berdasarkan UUD 1945 yang telah empat kali diamandemen, MPR sekarang bukan lagi lembaga tertinggi negara, tetapi sejajar dengan lembaga-lembaga kenegaraan lainnya atas dasar pembagian (distribusi) kekuasaan. Tugas MPR sekarang hanya tiga macam : a. Mengubah UUD; b. Melantik Presiden dan Wakil Presiden; c. Impeachment (pemakzulan atau pelengseran Presiden dan Wakil Presiden). MPR menjalankan sistem majelis perundang-undangan kembar (bikameral) yang keanggotaannya terdiri dari seluruh anggota DPR dan DPD hasil Pemilu. Adapun alasan menjadi lembaga bikameral adalah : a. Utusan daerah dan golongan pada masa MPR sebelumnya tidak jelas orientasi keterwakilannya; b. Kebutuhan mengakomodasi kepentingan masyarakat daerah secara struktural melalui lembaga formal di tingkat nasional;

150

c. Kebutuhan menerapkan sistem check and balances untuk mendorong demokratisasi ketatanegaraan Indonesia. Anggota MPR sekarang berjumlah 692 orang, terdiri dari 560 anggota DPR dan 132 anggota DPD. Komposisi MPR sebagai lembaga bikameral dapat digambarkan pada bagan sebagai berikut. MPR DPR DPD

Perbedaan MPR sebelum dan sesudah perubahan (amandemen) UUD 1945.


PERBEDAAN Komposisi

SEBELUM PERUBAHAN
Anggota DPR, Utusan Daerah, dan Utusan Golongan Anggota DPR (lewat Pemilu dan diangkat). Utusan Daerah dan Golongan diangkat. Oleh DPR.

SETELAH PERUBAHAN
Anggota DPR dan DPD.

Rekrutmen

Seluruh anggota DPR dan DPD dipilih lewat Pemilu.

Legalisasi

Kekuasaan legislatif ada di DPR, tetapi DPD juga dapat mengajukan dan mambahas RUU yang berkaitan dengan Otda. Terbatas hanya tiga, yaitu mengubah UUD, melantik Presiden/Wakil Presiden, serta impeachment (pemakzulan) Presiden/Wakil Presiden.

Kewenangan

Tidak terbatas.

PRESIDEN Presiden mempunyai dua kedudukan, yaitu sebagai Kepala Negara dan sebagai Kepala Pemerintahan. a. Kekuasaan sebagai Kepala Negara : 1) Dengan persetujuan DPR mengangkat dan memberhentikan pimpinan (Panglima) TNI, pimpinan (Kepala) POLRI, dan Gubernur Bank Indonesia; 151

2) Dengan persetujuan DPR menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain; 3) Menyatakan negara dalam keadaan bahaya; 4) Dengan persetujuan DPR mengangkat duta dan menerima duta negara lain; 5) Dengan persetujuan DPR membuat perjanjian internasional; 6) Dengan memperhatikan pertimbangan MA memberi grasi dan rehabilitasi dan dengan memperhatikan pertimbangan DPR memberi amnesti dan abolisi; 7) Memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan. b. Kekuasaan sebagai Kepala Pemerintahan : 1) Dalam menjalankan kewajibannya Presiden dibantu oleh seorang Wakil Presiden. Hubungan kerja antara Presiden dengan Wakil Presiden ditentukan oleh Presiden setelah mereka mengadakan pembicaraan; 2) Presiden berhak mengajukan RUU kepada DPR dan dalam keadaan kegentingan yang memaksa (noodverordeningsrecht) berhak menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPPU); 3) Untuk menjalankan pemerintahan, berhak menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) untuk menjalankan Undang-Undang (pouvoir reglementair); 4) Presiden dan Wakil Presiden (merupakan satu pasangan) dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum Presiden (Pemilupres). Pada saat ini untuk pemilu Presiden/Wakil Presiden diatur dalam Undang-Undang No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Karena tugas Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan demikian padat dan kompleks, di luar struktur lembaga pemerintahan, dipandang perlu ada dewan penasihat/pertimbangan, selain staf ahli dan juru bicara keperesidenan. Sementara itu DPA sudah tidak ada lagi. Maka

berdasarkan UU No. 19 Tahun 2006 jo. Perpres No. 10 Tahun 2006, Presiden dapat membentuk Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang anggota-anggotanya independen (steril dari kepentingan Parpol). 152

c. Prosedur Pemilihan Presiden secara Langsung : 1) Pasangan Capres/Cawapres diusulkan oleh Parpol atau gabungan Parpol peserta Pemilu; 2) Pasangan yang mendapat suara 50% dan sedikitnya 20% di setiap provinsi yang tersebar di lebih setengah provinsi seluruh Indonesia, jadi; 3) Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi, dua pasang calon suara terbanyak dipilih kembali secara langsung oleh rakyat (dua putaran), dan yang mendapat suara terbanyak dilantik oleh MPR menjadi pasangan Presiden/ Wakil Presiden. d. Jika Terjadi Kekosongan Presiden/Wakil Presiden : 1) Jika Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden; 2) Dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden, selambat-lambatnya 60 hari, MPR menyelenggarakan sidang untuk memilih Wakil Presiden dari dua orang calon yang diusulkan Presiden; 3) Jika Presiden dan Wakil Presiden kosong, maka pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, dan Menteri Pertahanan secara bersama. Selambat-lambatnya 30 hari setelah itu, MPR menyelenggarakan sidang untuk memilih Presiden dan wakil Presiden dari dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan Parpol/ gabungan Parpol yang pasangan calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam Pemilupres sebelumnya. e. Impeachment (Pemakzulan) Presiden/Wakil Presiden : 1) Apabila Presiden/Wakil melanggar hukum (berhianat kepada Pancasila, UUD 1945, bangsa dan negara, berbuat kriminal, KKN, dll.); 2) Pemakzulan atau pelengseran terlebih dulu diusulkan oleh DPR melalui penggunaan Hak Mengeluarkan Pendapat. Syarat HMP di DPR berdasarkan UU No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD, pasal 184 Ayat (4), harus diusulkan oleh dari seluruh anggota DPR. 153 Tetapi hal ini

kemudian oleh MK dengan putusan No. 23-26/PUU-VIII/2011 tanggal 12 Januari 2011 (pada proses uji materil UU tersebut di atas), dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan karenanya tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Oleh sebab itu kembali pada ketentuan semula, yaitu cukup diusulkan oleh sedikitnya 2/3 dari seluruh anggota DPR. 3) Usulan pemakzulan oleh DPR disampaikan dulu kepada MK untuk proses pengadilan Presiden. Putusan (vonis) MK disampaikan ke DPR dan oleh DPR diusulkan kepada MPR; 4) Pemberhentian Presiden/Wakil Presiden diambil dalam sidang paripurna MPR yang dihadiri minimal dan disetujui 2/3 dari anggota MPR yang hadir.

KEMENTERIAN NEGARA Sesuai dengan UUD 1945, dalam menyelenggarakan pemerintahan, Presiden dibantu oleh Menteri-menteri yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. a. Menteri-menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan; b. Menteri-menteri bertanggung jawab kepada Presiden, tidak bergantung kepada DPR. Dalam pergantian ini yang dianut adalah sistem Presidensial; c. Pembentukan, perubahan, dan pembubaran kementerian diatur dalam Undang-Undang. Saat ini UU dimaksud adalah UU No. 39 Taun 2008 tentang Kementerian Negara. PEMERINTAH DAERAH Pemerintah RI adalah negara kesatuan yang menganut sistem desentralisasi. a. Negara RI dibagi atas daerah-daerah besar dan kecil, yaitu provinsi, dan provinsi dibagi atas kabupaten dan kota; b. Penyelenggaraan pemerintahan daerah didasarkan atas asas otonomi daerah dan tugas pembantuan; c. Kepala daerah provinsi adalah gubernur, kabupaten adalah bupati, dan kota adalah walikota, yang diproses melalui pemilihan langsung oleh rakyat (Pemilukada);

154

d. Terdapat juga Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan daerah-daerah lain dengan otonomi khusus, seperti Nangro Aceh Darussalam dan Papua (dh. Irian Jaya); e. Untuk mendukung keberhasilan otonomi daerah, terdapat dana sebagai sumber penerimaan pelaksanaan desentralisasi berupa perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Pengaturan tentang Pemerintah Daerah ini telah beberapa kali dilakukan semenjak berdirinya NKRI, yaitu : a. UU No. 1 Tahun 1945 tentang Pemerintahan Daerah; b. UU No. 22 Tahun 1948 tentang Susunan Pemerintah Daerah yang Demokratis; c. UU No. 1 Tahun 1957 tentang Pemerintah Daerah; d. UU No. 18 Tahun 1965 tentang Pemerintah Daerah; e. UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; f. UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, disertai UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah; g. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (yang sekarang berlaku). Untuk mencukupi sumber penerimaan dalam rangka pelaksanaan otonomi Daerah, terdapat alokasi dana perimbangan sebagai berikut.
No.
1. 2. 3. 4. 5.

PENERIMAAN DARI
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Biaya Pendaftaran Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Sumber Daya Alam (Kehutanan, Pertambangan Umum, Perikanan) Minyak Bumi (setelah dikurangi pajak) Gas Alam (setelah dikurangi pajak)

BAGIAN DANA PUSAT


10 % 20 % 20 % 85 % 75 %

DAERAH
90 % 80 % 80 % 15 % 25 %

Sementara itu daerah sendiri harus mengupayakan Pendapatan Asli Daerah (pajak daerah, retribusi daerah, dan pendapatan lain-lain). DEWAN PERWAKILAN RAKYAT (DPR) Keanggotaan DPR merangkap keanggotaan MPR sehingga kedudukannya kuat, karena itu tidak dapat dibubarkan oleh Presiden. 155

a. DPR mempunyai kekuasaan atau fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan; b. Tugas dan wewenang DPR meliputi : 1) Bersama-sama Presiden membentuk UU; 2) Bersama-sama Presiden menetapkan UU-APBN; 3) Melakukan pengawasan terhadap jalannya pelaksanaan UU-APBN dan kebijakan pemerintah; 4) Meratifikasi dan/atau memberikan persetujuan pernyataan perang,

pembuatan perdamaian dan perjanjian dengan negara lain yang dilakukan oleh Presiden; 5) Membahas hasil pemeriksaan keuangan negara yang disampaikan oleh BPK; 6) Melakukan hal-hal yang ditugaskan oleh Tap MPR kepada DPR. Untuk melaksanakan tugas dan wewenang tersebut di atas, DPR dan anggota-anggotanya mempunyai hak : a. Meminta keterangan pemerintah (interpelasi); b. Mengadakan penyelidikan (angket); c. Mengadakan perubahan (amandemen); d. Mengajukan pernyataan pendapat; e. Mengajukan rancangan UU (inisiatif); f. Mengajukan pertanyaan, protokoler, dan keuangan/administratif; g. Mengajukanh/menganjurkan seseorang, jika ditentukan oleh suatu oleh suatu peraturan perundang-undangan. Dengan amandemen UUD 1945, terjadi pengurangan kekuasaan Presiden, sementara kekuasaan DPR bertambah, yaitu : a. Presiden harus memperhatikan pertimbangan DPR dalam mengangkat dan menerima duta, serta dalam pemberian amnesti dan abolisi; b. Presiden harus mendapat persetujuan DPR dalam mengangkat Panglima TNI, Kapolri, dan Gubernur BI; c. DPR memilih anggota-anggota lembaga negara (MA berikut Hakim Agung, dan BPK) untuk diangkat oleh Presiden. Demikian juga untuk anggota KPU,

156

BPK, dan KY, termasuk KPK. Biasanya dilakukan melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) DPD adalah lembaga negara yang seluruh anggotanya juga anggota MPR. Mereka merupakan wakil-wakil dari provinsi. a. Keanggotaannya dipilih melalui Pemilu (perseorangan) yang pelaksanaannya bersamaan dengan pemilihan anggota DPR dan DPRD; b. Persidangan sedikitnya sekali dalam satu tahun; c. Kewenangannya mengajukan rencangan UU kepada DPR yang berkaitan dengan otonomi daerah (ikut membahas), serta memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan UU-APBN, rancangan UU yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama (tidak ikut membahas); d. Melakukan pengawasan atas pelaksanaan UU yang berkaitan dengan otonomi daerah, yang hasilnya disampaikan kepada DPR. Yang berkaitan dengan otonomi daerah dimaksud antara lain : a. Hubungan pusat dan daerah; b. Pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah; c. Pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya; d. Masalah perimbangan keuangan pusat dan daerah. Untuk lebih jelasnya, kewenangan DPD yang berkaitan dengan pembahasan peraturan perundang-undangan, dll. tersebut di atas dapat dilihat dalam matrik di bawah ini.
1. RUU yang berkaitan dengan : 1. Otonomi Daerah 2. Hubungan Pusat dan Daerah 3. Pembangunan, pemek aran, dan penggabungan Daerah 4. Pengelolaan SDA dan SD ekonomi lainnya 5. Perimbangan keuangan Pusat dan Daerah Dapat mengajukan ya ya ya ya ya Ikut membahas ya ya ya ya ya Memberi pertimbangan Dapat melakukan pengawasan ya ya ya ya ya

157

6. RAPBN 7. Pajak 8. Pendidikan 9. Agama 2. Pemilihan anggota BPK :

ya ya ya ya ya

ya ya ya ya -

Melihat kewenangan tersebut di atas jelas terbatas, sehingga DPD gencar memperjuangkan menambah fungsi dan peranannya dalam pembahasan peraturan perundangan-undangan mengingat kedudukannya sama dengan DPR sebagai anggota MPR (bikameral), dengan mengusulkan perubahan (amandemen) UUD 1945 yang kelima kalinya. Keanggotaan DPD mirip Senat di Amerika Serikat (wakil Negara Bagian), karena mewakili daerah provinsi dengan jumlah tiap provinsi empat orang, dan jumlah seluruhnya tidak dari 1/3 anggota DPR, atau sekarang 132 orang.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BPK) BPK adalah lembaga negara yang mempunyai tugas memeriksa tanggung jawab keuangan negara (inspektif). Badan ini bebas dari pengaruh dan kekuasaan pemerintah. a. Hasil pemeriksaan BPK diserahkan kepada DPR, DPRD, dan DPD. Lembaga perwakilan rakyat ini dan instansi pemerintah harus menindaklanjutinya; b. BPK terdiri dari seorang Ketua merangkap anggota, seorang Wakil Ketua merangkap anggota, dan lima orang anggota; c. Keanggotaan BPK dipilih melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and profer test) oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD, kemudian diresmikan oleh Presiden; d. Ketua BPK dipilih dari dan oleh para anggota; e. BPK berkedudukan di ibukota negara, dan memiliki perwakilan di tingkat provinsi.

158

MAHKAMAH AGUNG (MA) MA adalah lembaga negara yang mempunyai tugas yudikatif, dan mempunyai kewenangan mengadili pada tingkat kasasi serta menguji peraturan perundangundangan di bawah UU. a. Ketua dan Wakil Ketua MA dipilih dari dan oleh para Hakim Agung; b. Calon Hakim Agung diusulkan oleh KY kepada DPR untuk mendapat persetujuan melalui uji kelayakan dan kepatutan, kemudian ditetapkan oleh Presiden; c. Badan-badan peradilan yang berada di bawah MA adalah peradilan umum, peradilan militer, peradilan agama, dan peradilan tata usaha negara, serta termasuk juga peradilan tindak pidana korupsi (tipikor).

MAHKAMAH KONSTITUSI (MK) Kewenangan MK adalah menguji UU terhadap UUD, memutuskan sengketa kelembagaan negara, memutuskan pembubaran Parpol, dan perselisihan hasil Pemilu. Kewajibannya memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran Presiden menurut UUD 1945. Keanggotaan MK sembilan orang. Proses rekrutmennya dilakukan melalui uji kelayakan dan kepatutan oleh DPR, yang calonnya masing-masing diajukan tiga orang oleh MA, tiga orang oleh DPR, dan tiga orang oleh Presiden. Setelah pengangkatan oleh Presiden, selanjutnya pemilihan Ketua dan Wakil Ketua MK dilakukan oleh dan di antara para anggota MK. Keberadaan MK dibentuk dengan UU No. 24 Tahun 2003 dan diubah dengan UU No. 8 Tahun 2011.

KOMISI YUDISIAL (KY) Kewenangan KY adalah mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR, serta menjaga kehormatan, keluhuran martabat dan perilaku hakim. Keanggotaannya diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas persetujuan DPR. Persetujuan DPR dilakukan melalui uji kelayakan dan kepatutan terlebih dulu.

159

Untuk lebih menjelaskan susunan kelembagaan negara berdasarkan UUD 1945, di bawah ini digambarkan bagan struktur ketatanegaraan sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945. BAGAN STRUKTUR KETATANEGARAAN RI SEBELUM PERUBAHAN UUD 1945

UUD 1945

MPR

BPK

DPR

PRESIDEN

DPA

MA

INSPEKTIF

LEGISLATIF

EKSEKUTIF

KONSULTATIF

YUDIKATIF

KONSTITUTIF

BAGAN STRUKTUR KETATANEGARAAN RI SESUDAH PERUBAHAN UUD 1945

UUD 1945

MPR BPK DPR DPD

PRESIDEN WAPRES

KEKUASAAN KEHAKIMAN MK MA KY

INSPEKTIF

LEGISLATIF

EKSEKUTIF

YUDIKATIF

160

BAGAN STRUKTUR LENGKAP DENGAN BADAN-BADAN LAINNYA

UUD 1945

PUSAT

BPK KPU

PRESIDEN
Kementerian Negara

DPR

MPR

DPD

MA

MK

KY

Bank Sentral

Wantimpres TNI/POLRI

KPUD

Perw. BPK

Pemda Provinsi Gub. DPRD

Lingkungan Peradl. Umum Lingkungan Peradl. Agama Lingkungan Peradl. Militer Lingkungan Peradl. TUN Peradl.Tipikor

Pemda Kab/Kota Bup/WK DPRD

DAERAH

Untuk lebih jelasnya, secara keseluruhan, perubahan (amandemen) UUD 1945 dapat dilihat pada matrik di bawah ini.
SEBELUM PERUBAHAN Kekuasaan Presiden seolah-olah tidak terbatas. Peran DPR dalam membentuk UU tidak tegas. Presiden mengangkat/menerima duta tanpa pertimbangan DPR. Presiden memberi grasi, amnesti, abolisi, dan rehabilitasi tanpa pertimbangan MA dan DPR. Pemerintahan bersifat sentralistik walaupun secara resmi desentralisasi. HAM tidak diatur secara lengkap. MPR memegang kedaulatan rakyat. SETELAH PERUBAHAN - Dibatasi hanya dua kali masa jabatan. - DPR tegas memegang kekuasaan membentuk UU. - Presiden mengangkat/menerima duta dengan pertimbangan DPR. - Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan pertimbangan MA, amnesti dan abolisi dengan pertimbangan DPR. - Desentralisasi pemerintahan dengan otonomi yang nyata. - HAM diatur secara lengkap. - MPR tidak lagi memegang kedaulatan

161

- Presiden /Wakil Presiden dipilih oleh MPR. - Tidak diatur apakah Presiden dapat membekukan/membubarkan DPR. - Ada DPA. - Tidak ada DPD, MK, dan KY. - Komposisi MPR terdiri dari DPR, Utusan Daerah, dan utusan Golongan.

rakyat. - Presiden/Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat. - Presiden tidak lagi dapat membekukan/ membubarkan DPR. - Tidak ada DPA. - Ada DPD, MK, dan KY. - Komposisi MPR terdiri dari DPR dan DPD.

Selain lembaga-lembaga negara tersebut di atas, terdapat juga lembagalembaga penyelenggara pemerintahan, yaitu : a. Tingkat Pusat : 1) Menteri Koordinator (Menko) : Ada tiga (membidangi Polhukam, Perekonomian, dan Kesra; 2) Menteri Negara (Meneg) : Ada yang memimpin kementerian/departemen, ada yang tidak; 3) Lembaga Pemerintah Non Kementerian/Depertemen (LPNK/D) : a) LAN (Lembaga Administrasi Negara); b) ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia); c) BKN (Badan Kepegawaian Negara); d) PERPUSNAS (Perpustakaan Nasional);BAPPENAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional); e) BSN (); f) BAPETEN (); g) BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional); h) BIN (Badan Intelijen Negara); i) LEMSANEG (Lembaga Sandi Negara); j) PERUM BULOG (Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik); k) BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional); l) LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional); m) BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan); n) BAKORSURTANAL (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional); o) LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia); p) BPPT (Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi); 162

q) BPN (Badan Pertanahan Nasional); r) BPOM (Badan Pemeriksa Obat dan Makanan); s) LIN (); t) BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika); u) LEMHANAS (Lembaga Pertahanan Nasional). 4) Kesekretariatan yang membantu Presiden : a) Sekretariat Negara; b) Sekretariat Kabinet. 5) Kejaksaan Agung (Kejagung); 6) TNI; 7) POLRI; 8) Badan Ekstra Struktural : a) WANTIMPRES (Dewan Pertimbangan Presiden); b) DEN (Dewan Ekonomi Nasional); c) DPUN (Dewan Pemulihan Usaha Nasional); d) DPOD (Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah); e) BAPEK (Badan Pertimbangan Kepegawaian); f) Badan Pelaksana APEC; g) BAPERJANAS (Badan Pertimbangan Jabatan Nasional); h) BSF (Badan Sensor Film); i) Tim Bakolak Inpres 6 (Badan Koordinasi Pelaksana Inpres 6); j) TPI (Tim Pengembangan Industri); k) KONI (Komite Orahraga Nasional); l) KOMNAS HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia); m) Ombudsman RI (Lembaga Pengawas Pelayanan Publik); n) KPU (Komisi Pemilihan Umum); o) KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) p) BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia). 9) Perwakilan RI di Luar Negeri : a) Kedutaan Besar; 163

b) Konsulat Jenderal; c) Konsulat RI; d) Perutusan Tetap RI di PBB; e) Perwakilan RI tertentu yang bersifat sementara. 10) Aparatur Perekonomian Negara : a) Perusahaan Negara (PN); b) Badan Usaha Milik Negara (BUMN); c) PT Persero. b. Tingkat Daerah : 1) Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota); 2) Pemerintah Daerah didasarkan pada tiga asas : Dekonsentrasi, Desentralisasi, dan Tugas Pembantuan. 3) Pemerintah Daerah terdiri dari unsur-unsur : a) DPRD sebagai badan legislatif daerah; b) Kepala Daerah dan Perangkat Daerah sebagai badan eksekutif daerah; c) Pemerintah Desa. 4) Perangkat Daerah teridiri dari : a) Sekretariat Daerah (Setda); b) Dinas Daerah; c) Lembaga Teknis Daerah (Lemtekda); d) Kecamatan; e) Kelurahan. Catatan : 1) Sekretariat Daerah (Setda) adalah unsur staf Pemerintah Daerah yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda), mempunyai tugas dan kewajiban membantu Gubernur/Bupati/Walikota dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan Dinas Daerah dan Lembaga Teknis Daerah. Sekda

Provinsi membawahkan Asisten dan Biro-biro, Sekda Kabupaten/Kota membawahkan Asisten dan Bagian-bagian. 2) Sekretariat DPRD (Setwan) adalah unsur pelayanan terhadap DPRD, dipimpin oleh Sekretaris DPRD (Sekwan), mempunyai tugas menyelengga164

rakan administrasi kesekretariatan, administrasi keuangan, mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD, dan menyediakan serta mengkoordinasikan tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. 3) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh Kepala Dinas, mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas desentralisasi dan tugas pembantuan. 4) Lembaga Teknis Daerah (Lemtekda) adalah unsur pendukung tugas Kepala Daerah, dipimpin oleh Kepala Badan/Kantor/Direktur, mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik. Lemtekda dapat berbentuk Badan, Kantor, dan Rumah Sakit. 5) Kecamatan merupakan wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kabupaten/kota. Camat mempunyai tugas melaksanakan kewenangan

pemerintahan yang dilimpahkan oleh Bupati/Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. 6) Kelurahan merupakan wilayah kerja Kepala Kelurahan (Lurah) sebagai perangkat daerah kabupaten/kota dalam wilayah kecamatan. Lurah

berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. 7) Desa atau disebut dengan nama lain (nagari, dll.) adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten. 8) Wilayah administrasi adalah wilayah kerja gubernur selaku wakil pemerintah pusat. Daerah provinsi karenanya berkedudukan pula sebagai wilayah administrasi. Jadi, pada satu sisi gubernur adalah Kepala Daerah Provinsi (dalam rangka asas desentralisasi), dan pada sisi lain adalah wakil pemerintah pusat (dalam rangka asas dekonsentrasi).

165

9) Instansi vertikal adalah perangkat kementerian/departemen atau LPNK di daerah. c. Aparatur Perekonomian Negara/Daerah : Aparatur pemerintah juga mencakup perusahaan milik negara dan milik daerah selaku aparatur perekonomian negara/daerah. Fungsinya di satu sisi sebagai institusi yang mampu menyediakan pelayanan masyarakat, dan pada sisi lain sebagai perusahaan yang memiliki kewajiban memaksimalkan keuntungan (bisnis). Aparatur perekonomian negara mencakup : 1) Perusahaan Negara (PN) atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN). BUMN disebut juga Badan Usaha Negara (BUN); 2) Perusahaan Daerah (PD) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

5. Pemilihan Umum. Dalam negara demokrasi modern atau demokrasi tidak langsung, yang menjalankan kedaulatan negara itu adalah wakil-wakil rakyat yang ditentukan oleh rakyat sendiri. Untuk menetapkan siapakah yang akan mewakili rakyat dilaksanakanlah pemilihan umum (pemilu). Pemilu adalah suatu cara untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat, serta sebagai ajang pelayanan hak-hak asasi warga negara dalam bidang politik. Dengan pemilu diharapkan wakil-wakil rakyat yang terpilih benar-benar mewakili aspirasi, keragaman, kondisi, serta keinginan dari rakyat (konstituent) yang memilihnya. Dalam ilmu politik, secara teoritis dikenal dua cara atau sistem memilih wakil-wakil rakyat, yaitu : 1. Single-Member Constituenty, ialah satu daerah pemilihan memilih seorang wakil, yang biasa disebut sistem distrik. Sistem ini didasarkan pada kesatuan geografis, di mana satu kesatuan geografis mempunyai seorang wakil di lembaga perwakilan (parlemen). Sistem distrik dipakai di negara-negara yang mempunyai sistem dwipartai seperti Inggris dan Amerika Serikat. Tetapi juga dapat dipakai di negara-negara yang menganut multipartai seperti di Indo-

166

nesia. Secara alamiah sistem distrik mendorong partai-partai untuk berkoalisi dalam menghadapi pemilu. Terdapat keuntungan/positif dan kelemahan/negatif dalam pemilu sistem distrik ini. Keuntungannya antara lain : a. Karena kecilnya distrik, maka wakil yang terpilih dikenal oleh penduduk distrik itu, sehingga hubungannya dengan penduduk pemilih lebih erat. Wakil tersebut kentara akan serius memperjuangkan kepentingan distrik, lebih independen terhadap partainya, karena penduduk akan lebih mempertimbangkan faktor integritas pribadi sang wakil. Akan tetapi tentu saja wakil tersebut akan terikat pada partainya karena memanfaatkan kesempatan dan fasilitas yang diberikan oleh partai; b. Lebih cenderung ke arah koalisi partai-partai, karena kursi yang diperebutkan dalam satu daerah (distrik) hanya satu. Hal ini akan mendorong partai menonjolkan kerjasama dari perbedaan, setidaknya menjelang pemilu melalui stembus accord; c. Fragmentasi partai atau kecenderungan untuk membentuk partai beru dapat terbendung, malah dapat dilakukan penyederhanaan partai secara alamiah tanpa paksaan. Di Inggris dan AS malah sistem ini menunjang bertahannya sistem dwipartai; d. Lebih mudah bagi satu partai untuk mencapai mayoritas dalam parlemen, sehingga tidak perlu diadakan koalisi dengan partai lain untuk mendukung suatu kebijakan, misalnya stabilitas nasional; e. Sistem ini sederhana, mudah, dan murah untuk dilaksanakan. Adapun kelemahannya, antara lain : a. Kurang memperhatikan partai-partai kecil dan golongan minoritas, lebihlebih jika golongan dimaksud terpencar dalam beberapa distrik; b. Kurang representatif karena partai yang kalah dalam suatu distrik akan kehilangan suara yang telah mendukungnya. Suara dimaksud tidak diperhitungkan lagi, sehingga dianggap kurang/tidak adil oleh golongan yang dirugikan;

167

c. Ada kecenderungan si wakil lebih mementingkan kepentingan daerah pemilihnya tinimbang kepentingan nasional; d. Umumnya kurang efektif bagi suatu masyarakat heterogen. 2. Multy-Member Constituenty, ialah satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil, yang biasa disebut sistem proporsional. Sistem ini adalah prosentase kursi di parlemen yang dibagi kepada tiap-tiap partai politik, sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya dalam pemilu, khusus di daerah pemilihan. Jadi, jumlah kursi yang diperoleh suatu partai sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya dalam masyarakat. Untuk keperluan ini ditentukan suatu perimbangan, misalnya 1 (seorang) wakil : 400.000 penduduk. Sistem proporsional ini sering dikombinasikan dengan beberapa prosedur lain, seperti sistem daftar (list system), di mana setiap partai mengajukan daftar calon (calon legislatif/caleg), dan si pemilih memilih partai dengan semua calon yang diajukan oleh partai dimaksud untuk bermacam-macam kursi yang sedang diperebutkan. Keuntungan sistem ini antara lain : a. Sistem proporsional dianggap lebih demokratis dalam arti lebih egalitarian, karena asas one man one vote dilaksanakan secara penuh tanpa ada suara yang hilang; b. Dianggap representatif, karena jumlah kursi partai dalam parlemen sesuai dengan jumlah suara yang diperoleh dari masyarakat pemilihnya. Adapun kelemahannya, antara lain : a. Mempermudah fragmentasi partai (pembentukan partai baru) jika terjadi konflik internal partai. Anggota yang kecewa cenderung membentuk partai baru, sehingga peluang untuk bersatu kurang. Bahkan perjuangannya bukan lagi ideologis, akan tetapi pragmatisme transaksional, memperebutkan jabatan atau kursi saja di parlemen; b. Sistem ini lebih memperbesar perbedaan yang ada dibanding dengan kerjasama, sehingga ada kecenderungan memperbanyak jumlah partai. Jika alam keterbukaan berpolitik makin bebas, maka jumlah partai sulit dibendung, seperti halnya di Indonesia fasca reformasi 1998;

168

c. Sistem ini memberikan peran atau kekuasaan yang sangat kuat kepada pimpinan partai, karena pimpinan sangat menentukan orang-orang yang akan dicalonkan menjadi waki, rakyat. Bahkan ada kecenderungan wakil rakyat lebih menjaga kepentingan dewan pimpinan atau partainya tinimbang kepentingan rakyat. Di zaman Orba, sistem ini digunakan oleh pimpinan partai untuk merecall anggotanya yang vokal atau tidak sejalan dengan haluan partai di parlemen; d. Wakil yang terpilih ikatannya renggang dengan penduduk yang memilihnya, karena saat pemilihan yang lebih menonjol adalah partainya daripada kepribadian sang wakil, lebih-lebih wilayah pemilihannya yang besar. Timbullah istilah memilih kucing dalam karung karena rakyat pemilih hanya memilih tanda gambar partai peserta pemilu, tanpa mengetahui dengan pasti siapa sang wakil yang akan dipilihnya; e. Karena banyaknya partai yang bersaing, maka sulit bagi suatu partai meraih mayoritas dalam parlemen. Untuk lebih menjelaskan perbandingan antara pemilu sistem proporsional dengan distrik murni, di bawah ini digambarkan secara matrik. Sistem Unsur
1. Daerah Pemilihan

Proporsional Murni
a. Basis Wilayah b. Ukuran besar c. Jumlah daerah pemilihan sedikit a. Lebih dari satu daerah pemilihan b. Asal wakil bebas c. Hubungan dengan pemilih melalui oartai d. Kurang/tidak dikenal e. Dicalonkan oleh partai f. Pengaswasanh pemilih kurang g. Bertanggung jawab kepada partai

Distrik Murni
a. Basis Penduduk b. Ukuran kecil c. Jumkah daerah pemilihan banyak a. Hanya satu daerah pemilihan b. Ada ketentuan domisili c. Hubungan dengan pemilih langsung atau melalui partai d. Diawasi oleh pemilih e. Dicalonkan oleh pemilih atau partai f. Pengawasan pemilih kuat g. Bertanggung jawab kepada pemilih a. Ada yang hilangt b. Mayoritas sederhana a. Merugikan partai kecil b. Cenderung bipartai c. Kekuasaan kecil terhadap wakil

2. Wakil

3. Suara

4. Partai

a. Tidak ada yang hilang b. Mayoritas mutlak a. Menguntungkan partai kecil b. Cenderung multi partai c. Kekuasaan besar terhadap

169

5. Organisasi Pelaksana 6. Sistem Pemerintahan

wakil d. Organisasi partai sampai setingkat desa Bersifat otonom a. Mengarah pada pemerintahan koalisi b. Sentralisasi

d. Organisasi partai setingkat desa Bersifat otonom a. Tidak mengarah pada pemerintahan koalisi b. Desentralisasi

Sumber : LIPI dalam Syahrial Syarbaini, 2011:242.

Pemilu di Indonesia untuk memilih anggota DPR dan DPRD (provinsi dan kabupaten/kota) dicalonkan oleh Parpol dan dilaksanakan dengan sistem proporsional dengan daftar calon terbuka, agar rakyat mengetahui benar kredibilitas, kapabilitas, serta integritas moral calon yang akan dipilih. Mulai Pemilu tahun 2009 calon terpilih tidak didasarkan pada nomor urut, tetapi perolehan suara terbanyak. Penentuan jumlah kursi dan daerah pemilihan berdasarkan Bab V Pasal 21 s/d 31 UU No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah sebagai berikut. a. Jumlah Kursi dan Daerah Pemilihan Anggota DPR (Pusat) : 1) Jumlah kursi anggota DPR ditetapkan 560 orang; 2) Daerah pemilihan anggota DPR adalah provinsi, kabupaten/kota, atau gabungan kabupaten/kota; 3) Jumlah kursi setiap daerah pemilihan anggota DPR paling sedikit 3 kursi dan paling banyak 10 kursi; 4) Dalam hal penentuan daerah pemilihan pada butir 2) tidak dapat diberlakukan, penentuan daerah pemilihan menggunakan bagian kabupaten/kota; 5) Penentuan daerah pemilihan anggota DPR dilakukan dengan mengubah ketentuasn daerah pemilihan pada pemilu terakhir berdasarkan ketentuan pada butir 3); 6) Daerah pemilihan tersebut pada butir b tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari UU No. 8/2012. b. Jumlah Kursi dan Daerah Pemilihan Anggota DPRD Provinsi :

170

1) Jumlah kursi DPRD Provinsi ditetapkan paling sedikit 35 dan paling banyak 100 orang; 2) Jumlah kursi dimaksud didasarkan pada jumlah penduduk provinsi bersangkutan yang ketentuannya : a) Jumlah penduduk s/d 1 juta orang memperoleh alokasi 35 kursi; b) Jumlah penduduk lebih dari 1 juta s/d 3 juta memperoleh alokasi 45 kursi; c) Jumlah penduduk lebih dari 3 juta s/d 5 juta memperoleh 55 kursi; d) Jumlah penduduk lebih dari 5 juta s/d 7 juta memperoleh alokasi 65 kursi; e) Jumlah penduduk lebih dari 7 juta s/d 9 juta memperoleh alokasi 75 kursi; f) Jumlah penduduk lebih dari 9 juta s/d 11 juta memperoleh alokasi 85 kursi; g) Jumlah penduduk lebih dari 11 juta memperoleh alokasi 100 kursi. 3) Daerah pemilihan anggota DPRD Provinsi adalah kabupaten/kota atau gabungan kabupaten/kota; 4) Jumlah kursi setiap daerah pemilihan anggota DPRD Provinsi oaling sedikit 3 dan paling banyak 12 kursi; 5) Dalam hal penentuan daerah pemilihan pada butir 3) tidak dapat diberlakukan, penentuan daerah pemilihan menggunakan bagian kabupaten/kota; 6) Ketentuan lebih lanjut tentang daerah pemilihan dan alokasi kursi ditetapkan oleh Peraturan KPU. c. Jumlah Kursi dan Daerah Pemilihan Anggota DPRD Kabupaten/Kota : 1) Jumlah kursi DPRD Kabupaten/Kota ditetapkan paling sedikit 20 dan paling banyak 50 orang; 2) Jumlah kursi DPRD Kabupaten/Kota pada butir 1) tersebut didasarkan pada julah penduduk kabupaten/kota bersangkutan, yang ketentuannya : a) Jumlah penduduk s/d 100 ribu orang memperoleh alokasi 20 kursi; 171

b) Jumlah penduduk lebih dari 100 ribu s/d 200 ribu memperoleh alokasi 25 kursi; c) Jumlah penduduk lebih dari 200 ribu s/d 300 ribu memperoleh alokasi 30 kursi; d) Jumlah penduduk lebih dari 300 s/d 400 ribu memperoleh alokasi 35 kursi; e) Jumlah penduduk lebih dari 400 ribu s/d 500 ribu memperoleh alokasi 40 kursi; f) Jumlah penduduk lebih dari 500 s/d 1 juta memperoleh alokasi 45 kursi; g) Jumlah penduduk lebih dari 1 juta memperoleh alokasi 50 kursi. 3) Daerah pemilihan anggota DPRD Kabupaten/Kota adalah kecamatan, atau gabungan kecamatan; 4) Jumlah kursi setiap daerah pemilihan anggota DPRD Kabupaten/Kota paling sedikit 3 dan paling banyak 12 kursi; 5) Dalam hal penentuan dalam butir 3) tidak dapat diberlakukan, penentuan daerah pemilihan menggunakan bagian kecamatan atau nama lain; 6) Ketentuan lebih lanjut tentang daerah pemilihan dan alokasi kursi anggota DPRD Kabupaten/Kota ditetapkan dalam Peraturan KPU; 7) Dalam hal terjadi bencana yang mengakibatkan hilangnya daerah pemilihan, daerah pemilihan tersebut dihapuskan; 8) Alokasi kursi akibat hilangnya daerah pemilihan tersebut pada butir 7) dihitung kembali sesai dengan jumlah penduduk; 9) Jumlah kursi anggota DPRD Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah pemilu ditetapkan berdasarkan ketentuan dalam UU No. 8/2012; 10) Alokasi kursi pada daerah peilihan anggota DPRD Kabupaten/Kota dimaksud pada butir 9) ditentukan paling sedikit 3 dan paling banyak 12 kursi; d. Jumlah Kursi DPD untuk Tiap Provinsi : 1) Ditetapkan 4 (empat) orang; 172

2) Daerah pemilihannya adalah provinsi. Persyaratan bakal calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, adalah sebagai berikut : a. Telah berusia 21 tahun atau lebih; b. Bertakwa kepada Tuhan YME; c. Bertempat tinggal di wilayah NKRI; d. Cakap berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia; e. Berpendidikan paling rendah tamat SMA/MA/SMK/MAK atau pendidikan lain yang sederajat; f. Setia kepada Pancasila, UUD 1945, dan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945; g. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hokum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih; h. Sehat jasmani dan rohani; i. Terdaftar sebagai pemilih; j. Bersedia bekerja penuh waktu; k. Mengundurkan diri sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah, PNS, anggota TNI, anggota POLRI, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada BUMN dan/atau BUMD atau badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara, yang dinyatakan dengan surat pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali; l. Bersedia untuk tidak berpraktek sebagai akuntan publik, advokat/ pengacara, notaris, PPAT, atau tidak melakukan pekerjaan penyedia barang dan jasa yang berhubungan dengan keuangan negara serta pekerjaan lain yang dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan tugas, wewenang, dan hak sebagai anggotaq DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; m. Bersedia untuk tidak merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada BUMN dan/atau

173

BUMD serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara; n. Menjadi anggota Parpol peserta Pemilu; o. Dicalonkan hanya di 1 (satu) lembaga perwakilan; p. Dicalonkan hanya di 1 (satu) daerah pemilihan. Kesemuanya itu harus disertai bukti kelengkapan administratif seperti KTP, Ijazah/STTB, surat pernyataan di atas kertas bermeterai mengenai tidak pernah dipidana dengan ancaman hukuman lima tahun atau lebih, atau surat keterangan dari LP bagi yang pernah dijatuhi pidana, surat keterangan sehat jasmani rohani, surat tanda bukti telah terdaftar sebagai pemilih, surat pernyataan tentang kesediaan untuk bekerja penuh waktu, surat pernyataan kesediaan untuk tidak berpraktik sebagai akuntan publik, advokat/pengacara, notaris, PPAT, dan/atau melakukan pekerjaan penyedia barang dan jasa yang berhubungan dengan keungan negara, dll., yang ditanda tangani di atas kertas bermeterai cukup. Kemudian surat pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah, PNS, anggota TNI, anggota POLRI, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada BUMN dan/atau BUMD serta pengurus badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara, kartu tanda anggota Parpol peserta pemilu, surat keterangan kesediaan hanya dicalonkan oleh 1 (satu) parpol untuk 1 (satu) lembaga perwakilan yang ditanda tangani di atas kerja bermeterai cukup, serta surat keterangan pernyataan tentang kesediaan hanya dicalonkan pada 1 (satu) daerah pemilihan, yang ditanda tangani di atas kertas bermeterai cukup. Jika peserta pemilu untuk anggota DPR dan DPRD pencalonannya diajukan oleh Partai Politik, maka untuk anggota DPD adalah perseorangan. Persyaratan dukungan minimal dari penduduk provinsi adalah sebagai berikut : a. Provinsi yang berpenduduk s/d 1 juta orang, harus mendapat dukungan dari paling sedikit 1 ribu pemilih; b. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 1 juta s/d 5 juta orang, harus mendapat dukungan dari paling sedikit 2 ribu pemilih; 174

c. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 5 juta s/d 10 juta orang, harus mendapat dukungan dari paling sedikit 3 ribu pemilih; d. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 10 juta s/d 15 juta orang, harus mendapat dukungan dari paling sedikit 4 ribu pemilih; e. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 15 juta orang, harus mendapat dukungan dari paling sedikit 5 ribu pemilih; f. Dukungan tersebut di atas terwebar di paling sedikit 50% dari juumlah kabupaten/kota provinsi bersangkutan; g. Dukungan dimaksud dibuktikan dengan daftar dukungan yang dibubuhi tanda tangan atau cap jempol jari tangan dan dilengkapi fotokopi KTP tiap pendukung; h. Seorang pendukung tidak boleh memberi dukungan kepada lebih dari seorang calon anggota DPD serta melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan seseorang, dengan memaksa dengan menjanjikan atau dengan memberian uang atau materi lainnya untuk memperoleh dukungan bagi pencalonan anggota DPDD dalam pemilu. Jika terjadi hal tersebut di atas, maka pencalonnya batal/tidak sah; i. Jadwal waktu pendaftaran peserta pemilu anggota DPD ditetapkan oleh KPU. Proses Pemilu sebagai mekanisme kenegaraan lima tahunan dapat digambarkan sebagai berikut :

PARPOL/GAB. PARPOL

PARPOL

PERSEORANGAN

PEMILIHAN UMUM Luber Jurdil setiap lima tahun.

KPU

PRESIDEN/ WAPRES

ANGGOTA DPR

ANGGOTA DPRD

ANGGOTA DPD

175

Penjelasan : a. Pemilihan dilakukan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil; b. Calon legislatif untuk DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dicalonkan melalui Parpol; c. Calon untuk DPD adalah perseorangan; d. Calon untuk pasangan Presiden/Wakil Presiden diajukan oleh Parpol atau gabungan Parpol. (Jika perolehan suara Parpol dalam Pemilu legislatif mencapai 25 % dapat mengajukan sendiri Capres/Cawapresnya, sedangkan jika kurang harus bergabung/koalisi dengan Parpol lain); e. Penyelenggara Pemilu adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU); f. Jumlah anggota DPR yang dipilih pada Pemilu tahun 2009 sebanyak 560 orang (sebelumnya 550 orang), dan DPD 132 orang; Untuk Pemilu tahun 2014 yang akan datang dari beberapa puluh parpol yang mendaftar, setelah diseleksi oleh KPU hanya akan diikuti oleh 12 Parpol, (belum termasuk Parpol lokal di Aceh), yaitu : 1) Partai Demokrat (PD); 2) Partai Golkar (PG); 3) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP); 4) Partai Keadilan Sejahtera (PKS); 5) Partai Amanat Nasional (PAN); 6) Partai Persatuan Pembangunan (PPP); 7) Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA); 8) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); 9) Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA); 10) Partai Nasional Demokrat (NASDEM); 11) Partai Bulan Bintang (PBB); 12) Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). (Sengaja tidak diurutkan berdasarkan nomor kepesertaan dalam Pemilu hasil undian oleh KPU). g. Pemilu yang sudah dilaksanakan sebelumnya, yaitu : 1) Tahun 1955 : 176

Pemilu pertama sejak Indonesia merdeka, dilaksanakan pada masa pemerintahan sistem parlementer untuk memilih anggota DPR dan Badan Konstituante (pembentuk UUD). Terdapat 28 Parpol peserta pemilu, yaitu : a) Partai Nasional Indonesia (PNI); b) Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi); c) Nahdlatul Ulama (NU); d) Partai Komunis Indonesia (PKI); e) Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII); f) Partai Kristen Indonesia (Parkindo); g) Partai Katholik; h) AKUI; i) PPTI; j) Partai Sosialis Indonesia (PSI); k) Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI); l) Partai Islam Perti; m) PRN; n) Partai Buruh; o) PRI; p) PPPRI; q) PRD; r) PRIM; s) Partai Murba; t) Baperki; u) PIR Wongsonegoro; v) Permai; w) Garindra; x) Persatuan Daya; y) Partai Hazairin; z) Acoma; aa) Partai R. Soedjono Prawiro Soedarmo; 177

bb) GPPS. 2) Tahun 1971 : Pemilu pertama pada zaman Orba untuk memilih anggota DPR, MPR, dan DPRD. Terdapat anggota yang diangkat (tidak melalui proses pemilu). Terdapat 10 Partai peserta pemilu, yaitu : a) Golongan Karya (Golkar), yang tidak mau disebut sebagai parpol, karena dalam UU-nya pun disebut UU Parpol dan Golkar; b) Partai Nasional Indonesia (PNI); c) Nahdlatul Ulama (NU); d) Partai Katholik; e) Partai Murba; f) Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII); g) Ikatan Pendukung Kemertdekaan Indonesia (IPKI); h) Partai Kristen Indonesia (Parkindo); i) Partai Muslimin Indonesia (Parmusi); j) Partai Islam Perti. 3) Tahun 1977 1997 : Masih Pemilu pada zaman Orba yang berhasil menyederhanakan jumlah partai dari 10 menjadi 3 karena harus berasas tunggal Pancasila kecuali ciri. Masih ada anggota DPR, MPR, dan DPRD yang diangkat, misalnya dari ABRI diberi jatah 10 anggota untuk DPRD Kabupaten/Kota, 25 anggota untuk DPRD Provinsi, dan 100 anggota untuk DPR. serta pemilu yang tiga itu adalah : a) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan penyatuan atau fusi partai-partai Islam, bercirikan Islam; b) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang merupakan penyatuan partaipartai nasional, bercirikan kebangsaan; c) Golongan Karya (Golkar) bercirikan kekaryaan, dan tetap tidak mau disebut partai. 4) Tahun 1999 : Partai pe-

178

Pemilu era reformasi pertama setelah kejatuhan Orba tahun 1998, dengan multi partai karena keran demokrasi dibuka lebar oleh Presiden B.J. Habibi. Semua anggota DPR dan MPR tidak ada lagi yang diangkat, semuanya melalui proses pemilu. Dalam UU-nya pun disebut UU tentang Parpol. Partai peserta pemilu ada 48, akan tetapi yang memperoleh suara terbanyak adalah : a) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di bawah Megawati Sukarnoputri yang merupakan pecahan/sempalan dari PDI, sementara PDI-nya Suryadi tidak lagi berkibar; b) Partai Golkar; c) Partai Persatuan Pembangunan (PPP); d) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); e) Partai Amanan Nasional (PAN); f) Partai Bulan Bintang (PBB). 5) Tahun 2004 : Pemilu kedua era reformasi, diikuti oleh 28 partai peserta pemilu, akan tetapi yang memiliki suara terbanyak adalah : a) Partai Golkar; b) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P); c) Partai Persatuan Pembangunan (PPP); d) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); e) Partai Demokrat (PD); f) Partai Amanat Nasional (PAN); g) Partai Keadilan Sejahtera (PKS); h) Partai Bintang Reformasi (PBR), pecahan/sempalan dari PPP; i) Partai Damai Sejahtera (PDS); j) Partai Bulan Bintang (PBB). 6) Tahun 2009 : Pemilu ketiga era reformasi, diikuti oleh 38 partai ditambah enam partai lokal Aceh. Partai peserta pemilu dimaksud adalah : a) Demokrat; 179

b) Golkar; c) PDI-P; d) PKS; e) PAN; f) PPP; g) PKB; h) Gerindra; i) Hanura; j) PBB; k) PDS; l) PKNU; m) PKPB; n) PBR; o) PPRN; p) PKPI; q) PDP; r) Barnas; s) PPPI; t) PDK; u) RepublikaN; v) PPD; w) Patriot; x) PNBK; y) Kedaulatan; z) PMB; aa) PPI; bb) Pakar Pangan; cc) Pelopor; dd) PKDI; ee) PIS; ff) PNI Marhaen; 180

gg) Partai Buruh; hh) PPIB; ii) PPNUI;

jj) PSI; kk) PPDI; ll) Merdeka. Dari 38 parpol ini yang memperoleh kursi atau wakilnya di parlemen hanya ada sembilan yang didasarkan pada ketentuan ambang batas parlemen (Parliamentary Threshold) 2,5 %, yaitu : a) Demokrat ..... 148 kursi; b) Golkar ..... 108 kursi; c) PDI-P ..... 93 kursi; d) PKS ..... 59; e) PAN ..... 42 kursi; f) PPP ..... 39 kusi; g) Gerindra ..... 30 kursi; h) PKB ..... 26 kursi; i) Hanura ..... 15 kursi.

181

DAFTAR KEPUSTAKAAN

A. BUKU-BUKU : Bahar, Saafroedin (Tim Penyunting), dkk. 1995. Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Cetakan kedua : Edisi III. Jakarta : Sekretariat Negara RI. Bakry, Noor Ms. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. BP-7 Pusat. 1994. Bahan Penataran P-4, Undang-Undang Dasar 1945, dan GBHN. Jakarta. Budiardjo, Miriam. 1977. Dasar-dasar Ilmu Politik. Cetakan IV. Jakarta : PT. Gramedia. Darmodihardjo, Dardji. 1974. Orientasi Singkat Pancasila. Jakarta : Gita Karya. --------------------------------, et.al. 1991. Santiaji Pancasila. Cetakan ke 10 Surabaya : Usaha Nasional. Ismaun. 1981. Tinjauan Pancasila Dasar Filsafat Negara Republik Indonesia. Bandung : Carya Remaja. Kaelan. 2004. Pendidikan Pancasila. Edisi Kedelapan. Yogyakarta : Paradigma. Kansil, C.S.T. dan Christine Kansil. 2003. Pancasila dan UUD 1945 (Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi). Cetakan ke 21. Jakarta : PT. Pradnya Paramita. Krissantono (ed). Jakarta : CSIS. 1976. Pandangan Presiden Soeharto tentang Pancasila.

Kusnardi dan Ibrahim, Harmaily. 1983. Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta : FH-UI. Laboratorium Pancasila IKIP Malang. 1979. Pokok-pokok Pembahasan Pancasila Dasar Filsafat Negara. Surabaya : Usaha Nasional. Marsudi, Subandi Al. 2004. Pancasila dan UUD 1945 dalam Paradigma Reformasi. Cetakan keempat. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

206

Notonagoro. 1971. Pantjasila Setjara Ilmiah Populer. Djakarta : Pantjuran Tudjuh. -----------------. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila. Jakarta : Pancuran Tujuh. Oesman, Oetojo, dan Alfian. 1991. Pancasila sebagai Ideologi dalam Berbagai Bidang Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara. Jakarta : BP-7 Pusat. Pangeran Alhaj, S.Z.S. 1985. Buku Materi Pokok Pendidikan Pancasila. Modul 13. Jakarta : Universitas Terbuka Depdikbud. Patria, Usmani Surya. 1985. Buku Materi Pokok Pendidikan Pancasila. Modul 46. Jakarta : Universitas Terbuka Depdikbud. Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Notosusanto, Nugroho. 1993. Sejarah Nasional Indonesia. Jilid V dan VI. Jakarta : Balai Pustaka. Pranarka, A.M.W. 1985. Implementasi Pancasila. Jakarta : Analisis CSIS No. 1. Rahardjo, Satjipto. 1991. Pembangunan Kualitas Manusia dan Masyarakat dalam Ilmu Hukum. Jakarta : Analisis CSIS No. 1. Setiadi, Elly M. 2005. Panduan Kuliah Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Syarbaini, Syahrial. 2004. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Cetakan Kedua. Jakarta : Ghalia Indonesia. --------------------------. 2011. Pendidikan Pancasila : Implementasi Nilai-nilai Karakter Bangsa di Perguruan Tinggi). Cetakan Keempat (Revisi). Jakarta : Ghalia Indonesia. Wahyono, Padmo. 1983. Indonesia Negara Berdasarkan Atas Hukum. Jakarta : Ghalia Indonesia. Widjaja, H.A.W. 2002. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Pancasila pada Perguruan Tinggi. Cetakan Kedua. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. Yamin, Muhammad. 1982. Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia. Jakarta : Ghalia Indonesia.

207

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN : Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Undang-Undang No. 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden. Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Undang-Undang No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. Undang-Undang No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Undang-Undang No. 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan. Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. 208

Undang-Undang No. 2 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Undang-Undang No. 8 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Undang-Undang No. 12 Tahun 1011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Undang-Undang No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum. Undang-Undang No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2009-2014.

209

PEDOMAN PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN PANCASILA (EKA PRASETYA PANCAKARSA) *)

Sila Kesatu : KETUHANAN YANG MAHA ESA 1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 2. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Mengembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Mahas Esa. 4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa yang dipercaya dan diyakininya. 6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. 7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sila Kedua : KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB 1. Mengakui memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa. 2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. 202

3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia. 4. Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepa selira. 5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. 6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. 7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. 8. Berani membela kebenaran dan keadilan. 9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. 10. Mengembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Sila Ketiga : PERSATUAN INDONESIA 1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. 2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan. 3. Mengembangkan rasa cinta tanah air dan bangsa. 4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. 5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. 6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. 7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sila Keempat : KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN 1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. 2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

203

3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. 4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan. 5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah. 6. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah. 7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. 8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. 9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama. 10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan permusyawaratan.

Sila Kelima : KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA 1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. 2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama. 3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. 4. Menghormati hak orang lain. 5. Suka memberikan pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri. 6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain. 7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.

204

8. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum. 9. Suka bekerja keras. 10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan kesejahteraan bersama. 11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan keadilan sosial.

*) 45 butir nilai P-4 ini ditetapkan pada zaman Orba ketika Pancasila dijadikan satusatunya asas untuk Orpol/Ormas, berdasarkan Tap MPR No. II/MPR/1978. Tap MPR dimaksud kini telah dicabut. Penulis menganggap perlu mencantumkan butirbutir P-4 ini untuk pengetahuan di samping sebagai gambaran jabaran dari sila-sila Pancasila, kendati bukan merupakan tafsir daripada Pancasila.

205