Anda di halaman 1dari 209

ADMINISTRASI DAN SUPERVISI PENDIDIKAN

BUTIR-BUTIR BAHAN DISKUSI


Untuk Perkuliahan Pada Program Studi Pendidikan Agama Islam Mahad Aly Persatuan Islam Cianjur

Dihimpun Oleh :

Drs. DJUNAEDI SAJIDIMAN, MM, M.Pd.

MAHAD ALY (STAIPI) PERSATUAN ISLAM CIANJUR -2012-

KATA PENGANTAR

Sesuai dengan tugas yang penulis terima untuk memfasilitasi mahasiswa dalam perkuliahan Administrasi dan Supervisi Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Agama Islam, Mahad Aly (Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam) Cianjur, penulis mencoba membuat ikhtisar mata kuliah dimaksud dari beberapa sumber (buku teks) dan bahan-bahan lainnya sebagai butir-butir bahan diskusi sehingga memudahkan para mahasiswa mengikutinya.

Tentu saja tiada gading yang tak retak, karenanya atas segala kekurangan atau ketidaksempurnaan ikhtisar ini, penulis menganjurkan kepada para mahasiswa untuk memperdalam lebih lanjut bahasan tentang administrasi dan supervisI pendidikan dimaksud dengan membaca buku-buku sumber yang antara lain penulis cantumkan dalam daftar kepustakaan.

Semoga usaha kecil ini ada manfaatnya.

Cianjur, Medio Juni 2012.

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI .. BAB I. PENGERTIAN ADMINISTRASI, MANAJEMEN, DAN ORGANISASI
A. PENGERTIAN ADMINISTRASI .. B. PENGERTIAN MANAJEMEN . C. PENGERTIAN ORGANISASI D. PEMBAGIAN ADMINISTRASI/MANAJEMEN

i ii 1 1 3 8 12

BAB II. PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, DAN PROSES PENDIDIKAN .. A. PENGERTIAN PENDIDIKAN B. TUJUAN PENDIDIKAN .. C. FUNGSI PENDIDIKAN D. PROSES PENDIDIKAN BAB III. SEJARAH, PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN FUNGSI ADMINISTRASI PENDIDIKAN .. A. SEJARAH DAN PENGERTIAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN . B. RUANG LINGKUP ADMINISTRASI PENDIDIKAN .. C. FUNGSI ADMINISTRASI PENDIDIKAN . BAB IV. PERENCANAAN PENDIDIKAN A. PENGERTIAN PERENCANAAN DAN RENCANA . B. TUJUAN PERENCANAAN . C. PROSES PERENCANAAN .. D. JENIS-JENIS PERENCANAAN .. E. SIKLUS PERENCANAAN PENDIDIKAN .. BAB V. PENGORGANISASIAN PENDIDIKAN .
A. PENGERTIAN . B. STRUKTUR ORGANISASI PENDIDIKAN . C. ORGANISASI PENDIDIKAN INDONESIA .. D. SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI .

14
14 18 23 25

32
32 35 40

41 41 42 43 45 47 54
54 54 56 64 72 72 73

BAB VI. KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN


A. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN . B. FUNGSI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ..

ii C. PENDEKATAN DAN STUDI KEPEMIMPINAN . D. PROSES PENGARUH TIMBAL BALIK DALAM KEPEMIMPINAN . E. SYARAT-SYARAT KEPEMIMPINAN .. F. TIPE KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN G. KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

74 82 84 85 87

BAB VII. PENGAWASAN PENDIDIKAN .


A. PENGERTIAN PENGAWASAN . B. BENTUK PENGAWASAN . C. SASARAN PENGAWASAN .. D. SIFAT ATAU CIRI-CIRI PENGAWASAN E. PROSES DASAR PENGAWASAN . F. ALAT-ALAT PENGAWASAN G. TEKNIK-TEKNIK PENGAWASAN . H. PENGAWASAN DI SEKTOR PENDIDIKAN . I. PENGAWASAN SEKOLAH J. KEGIATAN DAN MEKANISME KERJA PENGAWAS . K. PELAKSANAAN PENGAWASAN ..

107
107 107 108 109 110 111 111 112 114 117 119

BAB VIII. SUPERVISI PENDIDIKAN . 121


A. PENGERTIAN B. DIMENSI-DIMENSI SUPERVISI PENDIDIKAN .. C. KOMPETENSI KHUSUS SUPERVISOR D. TEKNIK-TEKNIK PEMBINAAN GURU 121 122 128 132 136

BAB IX. EVALUASI PENDIDIKAN A. PENGERTIAN .. B. TUJUAN EVALUASI PENDIDIKAN .. C. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN D. PRINSIP-PRINSIP DAN TEKNIK EVALUASI

136 138 143 146

BAB X. BIDANG GARAPAN ADMINISTRASI SEKOLAH . 161


A. ADMINISTRASI KEPALA SEKOLAH . B. ADMINISTRASI SISWA .. C. ADMINISTRASI KURIKULUM . D. ADMINISTRASI KETENAGAAN . E. ADMINISTRASI SARANA/PRASARANA .. F. ADMINISTRASI KEUANGAN .. G. ADMINISTRASI HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT .. 161 166 174 189 195 200 202

DAFTAR KEPUSTAKAAN 204


iii

BAB I PENGERTIAN ADMINISTRASI, MANAJEMEN DAN ORGANISASI


Sebelum mambahas tentang administrasi dan supervisi pendidikan lebih lanjut, kiranya perlu dijelaskan terlebih dahulu pengertian administrasi, manajemen, dan organisasi. Hal ini penting mengingat dalam dunia pendidikan ketiganya akan terkait satu sama lain.

A. PENGERTIAN ADMINISTRASI Berdasarkan etimologis (asal kata), istilah administrasi berasal dari bahasa Latin, yang terdiri dari ad + ministrare. Kata ad mempunyai arti yang sama dengan to dalam bahasa Inggris, yang bararti ke tau kepada. Ministrare sama artinya dengan to serve atau to conduct, yang secara operasional berarti melayani, membantu, mengarahkan, dan memenuhi. (Hadari Nawawi, 1994:24). To administer berarti pula mengatur, memelihara, dan mengarahkan. Dalam bahasa asalnya, dari perkataan ini dapat berbentuk kata benda administratio, dan kata sifat administrativus. Masuk ke dalam bahasa Inggris menjadi administration dan bahasa Belanda administratie yang dalam bahasa Indonesia administrasi yang maknanya berbeda. Administrasi yang diadopsi dari bahasa Inggris administration bermakna luas, sedangkan dari bahasa Belanda administratie bermakna sempit. Di zaman Romawi terdapat banyak istilah yang berhubungan dengan administrasi, antara lain : - administer = pembantu, abdi, kaki tangan, penganut;

- administratio = pemberian bantuan, pemeliharaan, perlakuan, pelaksanaan, pimpinan, pemerintahan, pengelolaan; - administro = membantu, mengabdi, memelihara, menguruskan, memimpin, me-

ngemudikan, mengatur; - administrator = pengurus, pengelola, pemimpin. Administrasi dalam arti luas antara lain dikemukakan oleh S.P. Siagian (1996:3), yaitu keseluruhan proses kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dari batasan tersebut dalam adiministrasi terdapat unsur -unsur :
1

1. Sekelompok manusia (dua orang atau lebih); 2. Tujuan yang hendak dicapai; 3. Tugas yang akan dilaksanakan; 4. Peralatan dan perlengkapan; yang kesemuanya membentuk suatu seni, yaitu proses yang diketahui hanya permulaannya, sedang akhirnya tidak ada. Administrasi adalah suatu proses pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu yang dimulai sejak adanya sekelompok orang yang bersepakat untuk bekerjasama mencapai suatu tujuan tertentu. Bilamana proses itu akan berakhir, tidak dapat diprediksi sebelumnya. Administrasi sebagai fungsi menunjukkan keseluruhan tindakan dari sekelompok orang dalam suatu kerjasama sesuai dengan fungsi-fungsi tertentu hingga tercapai tujuan. Fungsi yang satu berhubungan dengan fungsi yang lain dalam satu rangkaian tahapan aktivitas. Fungsi-fungsi inilah yang dianggap sebagai basic process of

administration, yang terdiri atas fungsi menentukan apa yang akan dilakukan (planning atau perencanaan), menggolong-golongkan kegiatan yang akan dilakukan dalam suatu rangkaian hubungan (organizing atau pengorganisasian), menyusun orang-orang yang tepat melakukan masing-masing jenis kegiatan (staffing atau penyusunan staf), menggerakkan dan memberi instruksi agar kegiatan berlangsung (actuating/directing atau pengarahan), dan tindakan mengusahakan agar hasil pelaksanaan relatif sesuai dengan yang diharapkan (controlling atau pengawasan/pengendalian). Istilah administrator adalah orang yang menduduki posisi puncak dalam suatu struktur. Dialah yang merumuskan tujuan dan kebijakan yang berlaku umum dan menjadi dasar atau pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan operasional. Dalam praktek, kedudukan administrator dalam administrasi negara adalah presiden, gubernur, dan bupati/walikota, sesuai dengan hierarki dalam pemerintahan. Sedangkan dalam administrasi niaga disebut eksekutif, presiden direktur, general manager, dsb. Sementara itu administrasi dalam arti sempit merupakan penyusunan dan pencatatan data dan informasi secara sistematis dengan maksud untuk menyediakan
2

keterangan serta memudahkan memperolehnya kembali secara keseluruhan dan dalam hubungannya satu sama lain. (Ulbert Silalahi, 2003:5). Administrasi dalam arti sempit ini dikenal juga dengan istilah tata usaha (clerical work, office work), yaitu kegiatan penerimaan/penghimpunan, pencatatan, pengklasifikasian, pengolahan, penyimpanan, pengetikan, penggandaan, dan pengiriman data/informasi tertulis yang diperlukan oleh dan untuk organisasi. Kegiatan-kegiatan di atas dalam prakteknya dapat dirangkum dalam tiga kelompok, yaitu : 1. Surat-menyurat (Korespondensi), yaitu aktivitas yang berkenaan dengan pengiriman data/informasi tertulis mulai dari penyusunan, penulisan, sampai dengan pengiriman, hingga sampai kepada pihak yang dituju. 2. Ekspedisi (Expedition), yaitu aktivitas mencatat setiap data/informasi yang dikirim atau diterima baik untuk kepentingan intern maupun ekstern organisasi . 3. Pengarsipan (Filing), yaitu proses pengaturan dan penyimpanan data/informasi secara sistematis sehingga dapat dengan mudah dan cepat ditemukan kembali jika diperlukan.

B. PENGERTIAN MANAJEMEN Supaya unsur-unsur administrasi dalam proses mencapai tujuannya berhasil dengan baik, maka perlu diatur, dikelola, dan dikendalikan dengan seksama. Alat utama untuk mengatur, mengelola, dan mengendalikan ini dikenal dengan manajemen. Karenanya menurut S.P. Siagian, manajemen adalah inti daripada administrasi. Batasan (definisi) manajemen sendiri dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain : 1. S.P. Siagian (1996:5) : Manajemen dapat didefisinisikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. 2. The Liang Gie dan Sutarto (1980) : Manajemen adalah kegiatan penataan yang berupa penggerakkan orang-orang dan pengarahan fasilitas kerja agar tujuan kerjasama benar-benar tercapai. 3. Ulbert Silalahi (2003:137) : Manajemen diartikan sebagai aktivitas pendayagunaan
3

sumber daya manusia dan materil dalam suatu kerjasama organisasional melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif. 4. Malayu Hasibuan (2004:2) : Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Nah, proses manajemen ini akan berjalan dengan baik atau tidak, sangat bergantung kepada kepemimpinan, karena ia merupakan motor atau daya penggerak daripada semua sumber-sumber dan alat-alat (resources) yang tersedia bagi suatu organisasi. Karena itu dikatakan bahwa kepemimpinan adalah inti daripada manajemen. Kemudian mengingat unsur manusia serta hubungan-hubungan antar manusia merupakan faktor yang sangat menentukan sukses tidaknya proses administrasi itu dijalankan, maka human relations merupakan inti daripada kepemimpinan. Human relations adalah keseluruhan rangkaian hubungan, baik yang bersifat formal, antara atasan dengan bawahan, atasan dengan atasan, serta bawahan dengan bawahan yang lain yang harus dibina dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tercipta suatu teamwork (tim kerja) dan yang bersifat informal berupa suasana kerja yang intim dan harmonis dalam rangka pencapaian tujuan. (S.P. Siagian, 1996:7). Istilah manajer (manager) adalah orang atau orang-orang yang melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan oleh administrator. Dalam melaksanakan kegiatankegiatannya itu manajer memperoleh otoritas dari dan bertanggung jawab kepada administrator. Di bawah manajer ada supervisor, yaitu orang atau orang-orang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan operasional dari setiap kegiatan hingga tercapainya tujuan yang diinginkan. Secara langsung dia bertanggung jawab kepada manajer. Kemudian ada yang disebut Staf (Staff), yaitu orang atau orang-orang yang tugasnya membantu memberi pemikiran, saran, dan pendapat kepada dan untuk dipertimbangkan oleh administrator atau manajer dalam memecahkan berbagai masalah, mengambil keputusan atau membuat kebijakan, tetapi tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan kerja. Karena itu, biasanya staf merupakan orang-orang ahli
4

(expert) dalam bidang tertentu yang diperlukan. Selanjutnya pekerja atau karyawan (worker), yaitu orang-orang yang melakukan/melaksanakan pekerjaan secara langsung sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Itulah sebabnya dalam merekrut

pekerja, harus diperhatikan kompetensinya. Nabi sendiri dalam satu haditsnya mengatakan bahwa jika sesuatu pekerjaan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggu saja saat kehancurannya. Adapun tipe atau tingkat-tingkat manajemen, manajer dapat dibedakan berdasarkan luasnya aktivitas-aktivitas organisasional dan tingkatan dalam organisasi. Berdasarkan luasnya aktivitas-aktivitas sesuai dengan pertanggungjawabannya, maka manajer terdiri atas : 1. Manajer Fungsional (Functional Manager), yaitu yang bertanggung jawab untuk hanya satu aktivitas organisasional, seperti misalnya produksi (production), pemasaran (marketing), penjualan (sales), atau keuangan (finance). 2. Manajer Umum (General Manager), yaitu yang mengawasi satu unit yang kompleks, seperti satu perseroan atau divisi pengoperasian yang berdiri sendiri. Dia

bertanggung jawab untuk semua aktivitas dari semua unit, baik produksi, pemasaran, penjualan, maupun keuangan. Berdasarkan tingkatan dalam organisasi, maka tingkatan manajemen dapat dibedakan atas : 1. Top Management (Manajemen Puncak) atau disebut juga administratif manajemen dan orang yang mendudukinya disebut top manajer yang diidentifikasikan dalam berbagai titel, misalnya chairman of the board, president, senior vice-president, chief executive officer. Manajer puncak ini bertanggung jawab untuk keseluruhan manajemen dan organisasi. 2. Middle Management (Manajemen Tengah) dan orang-orangnya disebut manajermanajer tengah yang mungkin terdiri atas satu atau lebih tingkatan dalam organisasi. Manajer tengah ini diidentifikasikan dengan titel, seperti divisional manager, regional manager, product manager, sales manager, marketing manager, personal manager, financial manager. Tanggung jawab manajer tengah ini mengge5

rakkan aktivitas dengan mengimplementasikan kebijaksanaan yang telah digariskan oleh manajer puncak. 3. Lower Management (Manajemen Bawah) atau dinamakan juga operational management, supervisory management, first level management, lowest managerial levels, yang bertanggung jawab menggerakkan operasi para pekerja. Manajer

tingkat bawah ini lebih dikenal dengan sebutan supervisor-supervisor, seperti production supervisor, technical supervisor, di samping titel foreman (mandor), department manager, dan assistant department manager. Fungsi-fungsi manajemen dikemukakan oleh beberapa ahli, di antaranya : 1. George R. Terry : POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). 2. Lindall Urwick : FPOCCC (Forecasting, Planning, Organizing, Coordinating, Commanding, Controlling). 3. Harold Koontz & Cyril ODonnel : POSDC (Planning, Organizing, Staffing, Direkcting, Controlling). 4. James A.F. Stoner : POLC (Planning, Organizing, Leading, Controlling). 5. Henri Fayol : POCCC (Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling). 6. John F. Mee : POMC (Planning, Organizing, Motivating, Controlling). 7. S.P. Siagian : POMCE (Planning, Organizing, Motivating, Controlling, Evaluating). Coba kita perhatikan fungsi-fungsi manajemen tersebut di atas, kemudian bandingkan dengan fungsi-fungsi administrasi seperti yang telah dijelaskan pada halaman 2, ternyata intinya sama. Karena itu tidak heran jika ada yang menyamakan administrasi dengan manajemen. Adapun perbedaan tugas manajer tingkat puncak, menengah, dan bawah dapat digambarkan sebagai berikut :

TM = Top Manager

MM = Middle Manager

LM = Lower Manager

Sumber : Malayu Hasibuan (2004:39).

Keterangan :

P = Planning; 0 = Organizing; D = Directing; C = Controlling.

TM, tugas/aktivitasnya lebih banyak pada P dan O daripada fungsi D dan C atau (PO > DC) karena sifat pekerjaannya yang pikir yaitu merencanakan, mengambil keputusan, membuat kebijakan, dan mengorganisasikan. Jadi, kendati TM kelihatan santai, sebetulnya dia selalu memikirkan hal-hal besar untuk mencapai tujuan.

MM, tugas/aktivitasnya terhadap P dan O seimbang dengan D dan C, karena kerja pikir dan fisiknya sama (PO = DC). Karena itu MM harus mempu menjabarkan keputusan/ kebijakan TM, juga harus bisa mengerjakan dan menjelaskannya kepada LM. Itulah sebabnya MM disebut manajer dua alam, artinya harus bisa untuk P dan O sekaligus D dan C.

LM, tugas/aktivitasnya lebih banyak pada D dan C daripada P dan O atau (DC > PO). Hal ini karena LM merupakan manajer operasional yang langsung memimpin para pekerja. Keterampilan LM lebih diutamakan kemampuan teknis (spesialisasinya) daripada kecakapan manajerialnya. Perbedaan keputusan manajer dapat dibedakan, yaitu : Manajer puncak bersifat

strategik, manajer tengah bersifat taktis, sedangkan manajer bawah bersifat operasional.
7

Kiranya perlu dijelaskan di sini, banyak kalangan ahli yang berpendapat bahwa administrasi lebih luas daripada manajemen, atau sebaliknya. Banyak juga yang

berpendapat bahwa administrasi sama dengan manajemen. Bisa jadi hal ini karena perbedaan sudut pandang dan latar belakang pendidikan mereka. Lain daripada itu karena memang jika dilihat dari fungsi-fungsinya (lihat halaman 2 dan 5-6) sama saja. C. PENGERTIAN ORGANISASI Setiap individu akan berhubungan dengan bermacam-macam orang yang begitu kompleks dan berkaitan dengan kebutuhan, baik secara ekonomis, sosial, rekreasi, pendidikan, dll. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang tidak mungkin terwujud tanpa berhubungan dan kerjasama dengan manusia lainnya, maka manusia membentuk kelompok-kelompok. Alasan utamanya adalah sosial dan material. Dalam masyarakat modern, kelompok-kelompok ini tidak lain berupa organisasi. Definisi organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian sesuatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan mana terdapat seorang/beberapa orang yang disebut atasan dan seorang/sekelompok orang yang disebut bawahan. (S.P. Siagian, 1996:7). Sementara menurut Dwigt Waldo (1971), organisasi adalah struktur hubungan-hubungan di antara orang-orang berdasarkan wewenang dan bersifat tetap dalam suatu sistem administrasi. Dengan demikian, menurut Sutarto (1983) organisasi dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu : 1. Organisasi sebagai kumpulan orang; 2. Organisasi sebagai proses pembagian kerja; 3. Organisasi sebagai sistem kerjasama, sistem hubungan atau sistem sosial. Menurut S.P. Siagian (1996:8), organisasi dapat ditinjau dari dua segi, yaitu : 1. Sebagai wadah di mana kegiatan-kegiatan administrasi dan manajemen dijalankan. Dalam hal ini sifatnya relatif statis. 2. Sebagai rangkaian hierarki antara orang-orang dalam suatu ikatan formal. Dalam hal ini organisasi sebagai proses, yaitu interaksi antar orang-orang yang menjadi anggotanya, dan sifatnya dinamis.
8

Penjelasan lebih lanjut dari Ulbert Silalahi (2003:125), beberapa karakteristik untuk disebut organisasi, yaitu : 1. Kolektivitas sekelompok orang yang bekerjasam, atas dasar 2. proses interaksi hubungan kerja, berdasarkan 3. pembagian kerja, yang ditentukan oleh 4. otoritas yang tersusun secara hierarkis dalam 5. strukturisasi fungsi dan peranan, untuk mencapai tujuan. Dari uraian tentang pengertian administrasi, manajemen, dan organisasi tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ketiganya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan perkataan lain, administrasi merupakan keseluruhan proses kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu, manajemen merupakan alat pelaksana utama daripada administrasi, dan organisasi merupakan wadah

sekaligus proses interaksi orang-orang yang ada di dalamnya untuk mencapai tujuan bersama tadi. Dari penjelasan tadi kiranya dapat dibuat suatu rumus bahwa admi-

nistrasi sama dengan manajemen plus organisasi. ADMINISTRASI = MANAJEMEN + ORGANISASI

Supaya organisasi dapat dijalankan dengan baik dalam arti efektif dan efisien dalam mencapai tujuannya, maka perlu diperhatikan asas-asas atau prinsip-prinsip organisasi sebagai arah pikiran dan tindakan, karena : 1. Asas/prinsip organisasi merupakan pangkal tolak pikiran untuk memahami suatu tata hubungan atau kasus. 2. Asas/prinsip organisasi merupakan suatu cara atau sarana untuk menciptakan suatu tata hubungan sesuai dengan kondisi yang dikehendaki. Dengan demikian asas-asas/prinsip-prinsip organisasi menjadi pedoman bagi pemimpin organisasi (administrator/manajer) dalam menjalankan tugas-tugas manajerial umumnya, dan tugas pengorganisasian khususnya. Menurut Sutarto (2006:61-196) beberapa asas/prinsip organisasi dimaksud adalah : 1. Perumusan tujuan yang jelas.
9

2. Departemenisasi. 3. Pembagian kerja. 4. Koordinasi. 5. Pelimpahan wewenang. 6. Rentangan control. 7. Jenjang organisasi. 8. Kesatuan perintah. 9. Fleksibilitas. 10. Berkelangsungan. 11. Keseimbangan. Adapun tipe atau bentuk-bentuk organisasi jika didasarkan pada hubungan otoritas, maka dapat dikategorikan ada lima macam (Ulbert Silalahi, 2003:132-133), yaitu : 1. Organisasi Lini (Garis), di mana otoritas mengalir dari puncak organisasi dilimpahkan kepada unit-unit di bawahnya dalam semua sektor pekerjaan. Pertanggungjawabannya pun mengalir dari bawah hingga ke tingkat yang paling atas secara bertahap berdasarkan hierarkis.

PIMPINAN

PELAKSANA

PELAKSANA

PELAKSANA

PELAKSANA

PELAKSANA

2. Organisasi Lini dan Staf, di mana di samping otoritas berasal dari pimpinan puncak dan dilimpahkan kepada unit-unit di bawah secara hierarkis dalam semua unit kerja, juga ada satuan unit organisasi yang membantu pimpinan dalam bidang tertentu tanpa ia ikut serta dalam otoritas lini.

10

PIMPINAN

PEMBANTU PIMPINAN

PIMPINAN PELAKSANA

PIMPINAN PELAKSANA

PIMPINAN PELAKSANA

PELAKSANA

PELAKSANA

PELAKSANA

3. Organisasi Fungsional, di mana otoritas pimpinan puncak didelegasikan kepada unit-unit organisasi hingga ke paling bawah dalam bidang pekerjaan tertentu dan masing-masing pimpinan unit mempunyai otoritas secara fungsional untuk memerintah semua pelaksana dari semua unit sepanjang berhubungan dengan pekerjaannya.

PIMPINAN

MANAJER

MANAJER

MANAJER

MANAJER

Tenaga Fungsional (Profesional) : - Perencana, - Peneliti, - Statistisi, dll.

4. Organisasi Lini Fungsional, memperlihatkan ciri organisasi lini dan organisasi fungsional.
11

5. Organisasi Lini Staf Fungsional, memperlihatkan ciri-ciri organisasi lini dan staf serta organisasi fungsional.

D. PEMBAGIAN ADMINISTRASI/MANAJEMEN Ditinjau dari perkembangannya, menurut S.P. Siagian (1996:8), administrasi dapat dibagi atas dua bagian besar, yaitu Administrasi Negara (Public Administration), dan Administrasi Privat (Privat Administration). Khusus administrasi privat, karena sebagian besar kegiatannya dilakukan oleh sektor keniagaan, maka yang lebih sering disebut Administrasi Niaga (Business Administration). Administrasi negara adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan oleh aparatur pemerintah dari suatru negara dalam usaha mencapai tujuan negara. Sedangkan administrasi niaga adalah keseluruhan kegiatan mulai dari produksi barang dan/atau jasa sampai tibanya barang dan/atau jasa tersebut di tangan konsumen. Pembagian administrasi/manajemen masih dapat dibedakan jika dilihat dari berbagai cara pengelolaan kegiatan kerjasama. Administrasi yang terdapat di semua aktivitas kerjasama organisasional dapat dibedakan atas : Administrasi/manajemen kepegawaian (personel), administrasi/manajemen perkantoran, dan administrasi/ manajemen keuangan. Khusus dalam kegiatan niaga, selain administrasi/manajemen tersebut di atas, ditemukan juga administrasi/manajemen : Produksi, pemasaran, penjualan, pembelian, transportasi dan pengangkutan, perbekalan dan pergudangan. Di samping pembagian tersebut di atas, dewasa ini pun telah mulai dikembangkan studi administrasi khusus dalam dimensi-dimensi institusional dan fungsional, di antaranya : 1. Administrasi Pembangunan. 2. Administrasi Pendidikan. 3. Administrasi Perhotelan. 4. Administrasi Rumah Sakit, 5. Administrasi Militer, dll.

12

Demikianlah karena dinamika kegiatan kerjasama yang dilaksanakan secara terencana dan sistematis berlangsung dalam suatu organisasi, maka dapat dikemukakan bahwa kegiatan administrasi/manajemen berlangsung pula dalam organisasi negara, organisasi pemerintahan (nasional, lokal/daerah), organisasi perusahaan, organisasi sosial, organisasi militer, organisasi regional, organisasi internasional, dan organisasi-organisasi lainnya. Berbagai hal juga perlu manajemen, dalam arti dikelola dengan baik, sehingga muncul manajemen konflik, manajemen kolbu, dll.

13

BAB II PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, DAN PROSES PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN Sifat dan sasaran pendidikan adalah manusia yang mengandung banyak aspek dan sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu, maka tidak ada batasan yang dianggap memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap. Itulah

sebabnya definisi yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya satu sama lain berbeda. Bisa jadi perbedaan itu terletak pada orientasinya, konsep dasarnya, falsafah yang melandasinya, dan fungsi atau aspek penekanannya. Beberapa definisi pendidikan yang berbeda berdasarkan fungsinya dapat dikemukakan di bawah ini. 1. Pendidikan sebagai Proses Transformasi Budaya. Dalam hal ini pendidikan didefinisikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Misalnya, tatkala seorang bayi dilahirkan di

lingkungan masyarakat tertentu, di dalamnya sudah ada nilai-nilai kebudayaan seperti kebiasaan-kebiasaan, perintah, anjuran, ajakan, dan larangan-larangan tertentu yang dikehendaki masyarakat. Demikian juga mengenai banyak hal seperti agama, bahasa, makanan, pekerjaan, perkawinan, cara menerima tamu, bercocok tanam dsb. Nilai-nilai budaya ini mengalami transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Bentuk transformasi ini ada tiga macam, yaitu, nilai-nilai yang dianggap masih cocok diteruskan seperti kejujuran, rasa tanggung jawab, kepedulian, kesabaran, disiplin, dll., yang kurang cocok diperbaiki, seperti tata cara pesta perkawinan/ulang tahun, dan yang tidak cocok diganti, seperti pendidikan sex yang dahulu ditabukan diganti dengan pendidikan sex melalui pendidikan formal. 2. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi. Dalam hal ini pendidikan didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang sistematik dan sistemik terarah pada terbentuknya kepribadian peserta didik. Sistematik karena
14

berlangsung melalui tahap-tahap yang berkesinambungan, dan sistemik karena berlangsung dalam semua situasi dan kondisi di semua lingkungan yang saling mengisi (rumah, sekolah, dan masyarakat). Proses pembentukan pribadi meliputi dua sasaran, yaitu bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa, dan bagi yang sudah dewasa atas usaha sendiri. Pembentukan pribadi atas usaha sendiri ini disebut zelf vorming. Seorang bayi kepribadiannya belum terbentuk, maka dalam proses pembentukan kepribadian ini diperlukan bimbingan, latihan-latihan, dan pengalaman melalui pergaulan dalam lingkungannya, khususnya lingkungan pendidikan. Bagi yang sudah dewasa, pengembangan diri agar meningkat dan lebih berkualitas dipicu oleh tantangan hidup yang selalu berubah. Pembentukan pribadi ini

mencakup pembentukan cipta, rasa, dan karsa (kognitif, afektif, psikomotor) yang sejalan dengan perkembangan fisik. Inilah yang disebut long life educations (pendidikan sepanjang hayat). 3. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warga. Dalam hal ini pendidikan didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik. Tentu saja istilah warga negara yang baik itu relatif, bergantung kepada falsafah negara dan tujuan nasional masing-masing yang berbeda. Bagi Indonesia, tentu saja yang sesuai

dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Jabaran selanjutnya terdapat dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta aturan-aturan pelaksanaannya. 4. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja. Dalam hal ini pendidikan didefinisikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja. Pembekalan dasar ini berupa

pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja. Hal ini sangat penting karena bekerja adalah kebutuhan pokok manusia untuk mencari nafkah sehingga menjadi penopang kehidupan diri dan keluarganya, tidak bergantung kepada dan menggangu orang lain.
15

Redja Mudyahardjo (2001:3-12) mengemukakan tiga definisi tentang pendidikan, yaitu definisi maha luas, definisi sempit, dan definisi alternatif atau luas terbatas. 1. Definisi maha luas : Pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Karakterisik khususnya, masa pendidikan berlangsung seumur hidup dalam setiap saat selama ada pengaruh lingkungan. Lingkungan pendidikannya adalah segala lingkungan hidup baik yang khusus diciptakan untuk kepentingan pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya. Bentuk kegiatannya terentang dari bentukbentuk yang misterius atau tak disengaja sampai dengan yang terprogram, dan berlangsung dalam aneka ragam bentuk, pola, dan lembaga. Tujuannya terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar, yaitu pertumbuhan, tidak terbatas. Dengan demikian tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup. 2. Definisi sempit : Pendidikan adalah sekolah, yaitu pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka. Karakteristik khususnya, masa pendidikan berlangsung dalam waktu terbatas, yaitu masa kanak-kanak dan remaja. Lingkungan pendidikannya diciptakan khusus untuk penyelenggaraan pendidikan, dan secara teknis berlangsung di kelas. Bentuk dan isi kegiatannya tersusun secara terprogram dalam bentuk kurikulum. Kegiatan ini lebih berorientasi pada kegiatan guru sehingga guru mempunyai peranan yang sentral dan menentukan. Tujuan pendidikannya ditentukan dari luar dan terbatas pada pengembangan kemampuankemampuan tertentu untuk mempersiapkan hidup. 3. Definisi alternatif atau luas terbatas : Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau pelatihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan
16

peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang. Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan formal, nonformal, dan informal di sekolah, dan luar sekolah yang berlangsung seumur hidup dan bertujuan optimalisasi pertimbangan kemampuankemampuan individu, agar di kemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat. Karakteristik khususnya, masa pendidikan berlangsung seumur hidup, yang kegiatan-kegiatannya tidak berlangsung sembarang, tetapi pada saat-saat tertentu. Lingkungan pendidikannya dalam sebagian lingkungan dari hidup, tidak berlangsung dalam lingkungan hidup yang tergelar dengan sendirinya. Pendidikan hanya berlangsung dalam lingkungan hidup kultural. Kegiatannya dapat berbentuk pendidikan formal, nonformal, dan informal, dan dapat berupa bimbingan, pengajaran, dan/atau pelatihan. Sementara itu definisi pendidikan dan pendidikan nasional menurut UndangUndang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah : 1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. 2. Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Berkaitan dengan sistem pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia, sekaligus saja di bawah ini dikemukakan beberapa pengertian (Pasal 1 UU No. 20/2003) : 1. Sistem Pendidikan Nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan nasional. 2. Peserta Didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
17

3. Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. 4. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. 5. Jalur Pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. 6. Jenjang Pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. 7. Jenis Pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan. 8. Satuan Pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. 9. Pendidikan Formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. 10. Pendidikan Nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. 11. Pendidikan Informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. 12. Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

B. TUJUAN PENDIDIKAN Paulo Freire (1984) dalam Made Pidarta (1997:17-18) mengemukakan pandangan tentang tujuan pendidikan, bahwa pendidikan hendaklah membuat manusia manjadi transitif, yaitu suatu kemampuan menangkap dan menanggapi masalah-masalah
18

lingkungan serta kemampuan berdialog tidak hanya dengan sesama, tetapi juga dengan dunia beserta segenap isinya. Dalam pada itu Alvin Toffler (1987) menyoroti tujuan pendidikan dikaitkan dengan kemajuan teknologi di masa depan. Teknologi masa depan akan menangani arus materi fisik, sementara itu manusia akan menangani arus informasi dan wawasan. Karenanya kegiatan manusia akan semakin terarah kepada tugas intelektual sebagai pemikir dan kreatif, bukan hanya melayani mesinmesin. Sementara itu Samuel Smith (1986) membuat kesimpulan dari pandangan para ahli tentang tujuan pendidikan mutakhir. Kesimpulannya cukup beragam, mulai dari usaha memberikan pengalaman hidup bagi para peserta didik dan warga belajar, kegiatan ilmiah, pelayanan terhadap pengembangan kemampuan dan minat, metode belajar yang baik, kebebasan individu, cinta kasih terhadap sesama, sampai dengan pentingnya hubungan antara guru dengan peserta didik dan warga belajar. Tujuan pendidikan memuat nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Oleh karenanya tujuan pendidikan memiliki dua fungsi, yaitu

pertama, memberi arah kepada segenap kegiatan pendidikan, dan kedua, merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Sebagai salah satu komponen pendidikan, tujuan pendidikan menduduki posisi penting di antara komponen-komponen pendidikan lainnya. Justru segenap komponen dari seluruh kegiatan pendidikan itu dilakukan semata-mata terarah pada dan ditujukan untuk pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Demikianlah, maka kegiatankegiatan yang tidak relevan dengan tujuan pendidikan dimaksud, dianggap menyimpang, tidak fungsional, bahkan salah, sehingga harus dicegah jangan sampai terjadi. Dengan demikian jelas terlihat bahwa tujuan pendidikan bersifat normatif, yaitu mengandung kaidah yang bersifat memaksa, tetapi tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan peserta didik, serta dapat diterima oleh masyarakat sebagai nilai kehidupan yang baik. Demikian pentingnya tujuan dan fungsi pendidikan, maka menjadi keharusan bagi kalangan pendidikan untuk memahaminya. Kekurangfahaman terhadap tujuan dan fungsi pendidikan menurut Langeveld (1955), akan berakibat kesalahan/kekeliruan
19

dalam melaksanakan proses pendidikan.

Tujuan pendidikan pun bersifat abstrak

karena memuat nilai-nilai yang juga sifatnya abstrak. Tujuan yang demikian, sifatnya umum, ideal, dan kandungannya sangat luas sehingga sangat sulit pelaksanaannya di dalam praktek. Padahal pendidikan harus berupa tindakan nyata yang ditujukan pada peserta didik dalam kondisi tertentu, tempat tertentu, waktu tertentu, dan menggunakan alat tertentu. Jadi, dalam pelaksanaannya harus dibuat jelas secara eksplisit, konkrit, dalam lingkup kandungan terbatas. Di sinilah perlunya memerinci tujuan umum sehingga menjadi tujuan yang bersifat khusus dan terbatas, agar mudah dilaksanakan dalam praktek. Itulah sebabnya tujuan pendidikan diurai menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Umar Tirtarahardja dan S.L. La Sulo (2003:38) memberikan contoh perbandingan tiga macam tujuan pendidikan. 1. Membimbing peserta didik agar menjadi manusia berjiwa Pancasila. (Sangat abstrak, umum, luas, dan sulit direalisasikan). 2. Menumbuhkan jiwa demokratis pada diri peserta didik. (Masih bersifat umum, belum mudah untuk direalisasikan). 3. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengajukan pendapat. (Lingkupnya terbatas dan mudah dilaksanakan). Selanjutnya menurut Umar Tirtarahardja, beberapa hal yang menyebabkan perlunya tujuan khusus dalam pendidikan antara lain : 1. Pengkhususan tujuan memungkinkan dilaksanakannya tujuan umum melalui proses pendidikan. 2. Adanya kekhususan dari peserta didik, yaitu yang berkenaan dengan jenis kelamin, pembawaan dan minat, kemampuan orang tua/wali, lingkungan masyarakat. 3. Kepribadian yang menjadi sasaran untuk dan dikembangkan bersifat kompleks sehingga perlu dirinci dan dikhususkan, aspek apa yang dikembangkan. 4. Adanya tahap-tahap perkembangan pendidikan. Dalam hal ini jika proses dari satu tahap pendidikan tercapai, maka disebut tujuan sementara telah tercapai, dan disambung untuk tahap pendidikan berikutnya. Contohnya : Tujuan SD, tujuan SMP, tujuan SMA, dst. 5. Adanya kekhususan masing-masing lembaga penyelenggara pendidikan seperti pen20

didikan kesehatan, pertanian, olah raga, dsb. atau pun jalur pendidikan seperti jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah. 6. Adanya tuntutan persyaratan pekerjaan di lapangan yang harus dipenuhi oleh peserta didik sebagai pilihannya. 7. Diperlukan teknik tertentu yang menunjang pencapaian tujuan lebih lanjut, misalnya membaca dan menulis dalam waktu yang relatif pendek. Tujuan khusus yang berhubungan dengan ini bersifat teknis yang berfungsi sebagai tujuan antara. Karena sifatnya teknis (tidak ideologis), maka bisa berlaku dalam pendidikan yang berbeda ideologinya. 8. Adanya kondisi situasional, yaitu peristiwa-peristiwa yang secara kebetulan muncul tanpa direncanakan. Dalam hal ini jika dipandang perlu, pendidik dapat bertindak dengan maksud/tujuan tertentu. Contohnya, ada murid yang berprestasi, guru lalu memberi pujian dengan maksud murid terdorong untuk belajar lebih giat (reinforcement). 9. Kemampuan yang ada pada pendidik sendiri. Dalam praktek, terutama pada sistem persekolahan, di dalam rentang antara tujuan umum dengan tujuan khusus, terdapat sejumlah tujuan antara. Tujuan antara ini berfungsi untuk menjembatani pencapaian tujuan umum dari selumlah tujuan khusus. Umumnya ada empat jenjang tujuan yang di dalamnya terdapat tujuan antara, yaitu : Tujuan umum, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional. 1. Tujuan Umum Pendidikan Nasional Indonesia ialah manusia Pancasila. 2. Tujuan Instansional adalah tujuan yang menjadi tugas dari lembaga pendidikan tertentu untuk mencapainya. Contohnya, tujuan pendidikan SD berbeda dengan tujuan tingkat menengah, dsb. tujuan pendidikan kesehatan tidak sama dengan tujuan pendidikan pertanian, teknik, dsb. Jika semua lembaga pendidikan dapat mencapai tujuannya, berarti tujuan nasional tercapai, yaitu terwujudnya manusia Pancasilais yang memiliki bekal khusus sesuai dengan misi lembaga pendidikan di mana seseorang menggembleng diri. 3. Tujuan Kurikuler, yaitu tujuan bidang studi atau tujuan mata pelajaran/perkuliahan. Contohnya, tujuan IPA, IPS, bahasa, matematika, dsb. Setiap lembaga pendidikan
21

dalam rangka mencapai tujuan instansionalnya menggunakan kurikulum. Nah, tujuan kurikulum ini disebut tujuan kurikuler. 4. Tujuan Instruksional, yaitu tujuan pokok bahasan dan subpokok bahasan dalam materi kurikulum bidang studi. Tujuan instruksional ini adalah penguasaan materi pokok bahasan/subpokok bahasan, yang disebut Tujuan Instruksional Umum (TIU) atau sekarang disebut Tujuan Pembelajaran Umum (TPU), dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) atau Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). TIK/TPK merupakan tujuan yang terletak pada jenjang terbawah dan paling terbatas ruang lingkupnya, serta bersifat operasional dan terkerjakan (workable). Macam-macam tujuan pendidikan tersebut di atas dapat digambarkan sebagai berikut :

Tujuan Pend. Nas.

Umum, Luas, Abstrak

T. Inst.

T. Kur.

TIU

TIK

Khusus, Terbatas, Konkrit, Workable.

Sumber : Umar T. dan S.L. La Sulo (2005:40).

Membicarakan tujuan pendidikan akan menyangkut sistem nilai dan normanorma dalam konteks kebudayaan, baik dalam mitos, kepercayaan dan relegi, filsafat,
22

ideologi, dsb. Karena itu dalam menentukan tujuan pendidikan, menurut Hummel (1977) dalam Uyoh Sadulloh (2003:58-59), terdapat tiga nilai yang harus diperhatikan, yaitu : 1. Otonomi (autonomy), yaitu memberi kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan secara maksimum kepada individu maupun kelompok untuk dapat hidup mandiri dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik. 2. Keadilan (equity), yaitu bahwa tujuan pendidikan harus memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbudaya dan kehidupan ekonomi, dengan memberi pendidikan dasar yang sama. 3. Perjuangan bertahan hidup (survival), yang berarti dengan pendidikan akan menjamin pewarisan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Sementara itu tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

C. FUNGSI PENDIDIKAN Fungsi pendidikan dalam arti sempit (mikro), menurut Fuad Ihsan (1996:11) adalah membantu (secara sadar) perkembangan jasmani dan rohani peserta didik. Sedangkan secara luas (makro) adalah sebagai alat : 1. Pengembangan pribadi. 2. Pengembangan warga negara. 3. Pengembangan kebudayaan. 4. Pengembangan bangsa. Sementara itu fungsi dasar pendidikan menurut Oteng Sutisna (1989:52-53) adalah : 1. Pengembangan individu (aspek-aspek hidup pribadi) : Etis, estetis, emosional, fisis. 2. Pengembangan cara berpikir dan teknik memeriksa : Kecerdasan yang terlatih.
23

3. Penyebaran warisan budaya : Nilai-nilai sivik dan moral bangsa. 4. Pemenuhan kebutuhan sosial yang vital, yang menyumbang kepada kesejahteraan ekonomi, sosial, dan politik (lapangan teknik). Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih luas lagi bahwa fungsi pendidikan secara nasional adalah untuk memerangi segala kekurangan, keterbelakangan, kebodohan, dan memantapkan ketahanan nasional serta meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan berdasarkan kebudayaan bangsa dan kebhinnekatunggalikaan. (Soebagio Atmodiwirio, 2000:30). Mengenai fungsi sistem pendidikan nasional, H.A.R. Tilaar, (1992) dalam Soebagio, (2000:30-31), membaginya dalam dua bagian, yaitu : 1. Fungsi umum, meliputi : a. Kategori politik, yang menekankan pada pertumbuhan nasionalisme yang sehat pada setiap sikap dan cara berpikir anak Indonesia; b. Kategori kebudayaan, yang menekankan pembudayaan nilai-nilai nasional termasuk inti kebudayaan daerah. 2. Fungsi khusus, meliputi dua dimensi : a. Dimensi teknis, meliputi hal-hal yang berkaitan dengan anak luar biasa, anak cerdas, pendidikan keluarga, hak-hak peserta didik (bakat dan minat), anak cacat, dan pentingnya bahasa daerah bagi pembentukan intelektual dan kepribadian peserta didik; b. Dimensi pembangunan, yaitu kaitan pendidikan dengan lingkungan sosial, pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat, biaya ditanggung bersama antara pemerintah dan masyarakat, hari libur sesuai dengan kondisi sosialbudaya, fungsi bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi dan memperkaya
24

bahasa nasional, peran masyarakat dalam penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. Karenanya, dengan mengacu kepada kategorisasi Jeane Bellatien (Soebagio, 2000:31), fungsi sisdiknas dapat dikategorikan dalam : 1. Fungsi sosial, memerangi segala keterbelakangan dan kebodohan. 2. Fungsi pembaharuan dan inovasi, meningkatkan kehidupan dan martabat manusia. 3. Fungsi pengembangan sosial dan pribadi, meningkatkan ketahanan nasional serta rasa persatuan dan kesatuan berdasarkan kebudayaan bangsa. 4. Fungsi seleksi, mengembangkan kemampuan (kompetensi) manusia Indonesia. Dalam pada itu tujuan dan fungsi pendidikan dalam masyarakat di semua negara sifatnya hampir universal (umum), tetapi cara mencapainya sangat beragam, bahkan di antara kelompok atau kelas sosial dalam masyarakat sendiri bisa berbeda. Hal ini dipengaruhi juga oleh tingkat industrialisasi, demikian juga sistem politik yang ada di negara bersangkutan.

D. PROSES PENDIDIKAN Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik yang terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Proses pendidikan ini sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan meliputi dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Dua segi kualitas proses ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, atau dengan kata lain saling bergantungan membentuk sistem. Dengan demikian, kendati komponenkomponennya seperti prasarana dan sarana serta biayanya cukup baik, tetapi jika tidak ditunjang dengan pengelolaan yang handal, maka capaian tujuan tidak akan optimal. Sebaliknya, jika pengelolaanya cukup baik tetapi dalam kondisi serba kekurangan, hasil capaian juga tidak akan optimal. Pengelolaan proses pendidikan ini meliputi ruang lingkup makro, meso, dan mikro. Lingkup makro adalah berupa kebijakan-kebijakan pemerintah yang lazimnya dituangkan dalam bentuk Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan atau
25

Keputusan Menteri Pendidikan, Keputusan atau Edaran Direktorat Jenderal di lingkungan Kementerian Pendidikan, serta dokumen-dokumen pemerintah di sektor pendidikan tingkat nasional. Lingkup meso merupakan implikasi kebijakan-kebijakan nasional ke dalam kebijakan operasional dalam ruang lingkup wilayah di bawah tanggung jawab Gubernur dan Bupati/Walikota cq. Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Sedangkan lingkup mikro merupakan aplikasi kebijakan-kebijakan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan sekolah, kelas, sanggar-sanggar belajar, dan satuan-satuan pendidikan lainnya dalam masyarakat. Dalam ruang lingkup mikro, kepala sekolah, guru, tutor, dan tenaga-tenaga kependidikan lainnya memegang peranan penting di dalam pengelolaan pendidikan untuk menciptakan kualitas proses dan capaian hasil pendidikan. Contohnya, seorang guru wajib menguasai pengelolaan kegiatan belajar-mengajar, termasuk di dalamnya pengelolaan siswa dan kelas. Tujuan utama dari pengelolaan proses pendidikan adalah terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar peserta didik yang optimal. Berkembangnya tingkah laku peserta didik sebagai tujuan belajar, justru hanya dimungkinkan karena adanya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal itu. Dalam hal ini pemanfaatan/ pendayagunaan teknologi pendidikan sangat memegang peranan penting. Itulah

sebabnya pengelolaan proses pendidikan mesti memperhitungkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Setiap tenaga kependidikan (kepala sekolah, guru, tutor, dsb.) menjadi wajib mengikuti dengan seksama inovasi-inovasi pendidikan terutama yang didiseminasikan secara meluas oleh pemerintah seperti belajar tuntas (mastery learning), pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), keterampilan proses, muatan lokal, dan kurikulum, dll. agar dapat mengambil manfaatnya. Selanjutnya berkaitan dengan proses pendidikan, terdapat konsep pendidikan sepanjang hayat (PSH) atau pendidikan sepanjang raga, atau juga pendidikan seumur hidup (long life education). Sebenarnya hal ini bukan hal baru, sebab 14 abad yang lalu, Nabi Besar Muhammad Saw. telah mencanangkan dengan haditsnya tuntutlah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat. (utlubul ilma minal mahdi ilallahdi). Itu
26

artinya, pendidikan harus dimulai sejak anak baru dilahirkan hingga ia mati kelak. Konsep ini bermakna pula bahwa tujuan pendidikan untuk membuat persiapan yang berguna di akhirat nanti setelah usai kehidupan di alam fana. Dunia ini adalah buku yang paling besar dan lengkap yang tidak akan habis dikaji untuk difahami dan diambil manfaatnya sepanjang hayat. Itulah pula kiranya wahyu pertama yang diterima Nabi untuk membaca/iqro (= belajar). Belajar di sini sangat luas cakupannya, yaitu

mempelajari ayat-ayat Alloh berupa Al-Quran, dan kauniah berupa alam semesta (jagat raya) dengan segala isi dan permasalahannya. Yang harus dicatat, bahwa pendidikan itu tidak identik dengan persekolahan saja, sehingga PSH merupakan proses yang berlangsung sepanjang hidup melalui berbagai cara sehingga menembus batas-batas kelembagaan, pengelolaan, dan program yang telah berabad-abad mendesakkan diri pada sistem pendidikan. Cropley (1967) mendefinisikan pendidikan sepanjang hayat sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan. Pengorganisasiannya dan penstrukturan ini diperluas mengikuti seluruh rentangan usia, dari manusia yang paling muda sampai paling tua. Jadi, PSH bukan suatu sistem

pendidikan yang berstruktur, melainkan suatu prinsip yang menjadi dasar yang menjiwai seluruh organisasi sistem pendidikan yang ada. John Dewey, seorang ahli filsafat dan pendidikan dari Amerika Serikat (1859-1952), menaruh keyakinan bahwa yang pokok dalam pendidikan adalah kegiatan anak itu sendiri. Kegiatan itu

merupakan manifestasi dari kehidupan. Tidak ada kehidupan tanpa kegiatan! Ciri-ciri PSH dapat dikemukakan sebagai berikut (Umar T., 2005:48-49) : 1. Menghilangkan tembok pemisah antara sekolah dengan lingkungan kehidupan nyata di luar sekolah. 2. Menempatkan kegiatan belajar sebagai bagian terpadu dari proses hidup yang berkesinambungan, sedangkan bersekolah hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan proses belajar yang dialami seseorang semasa hidupnya. 3. Lebih mengutamakan pembekalan sikap dan metode daripada isi pendidikan. Jadi, bukan masalah apa yang harus dipecahkan, melainkan bekal dasar apa, dan cara pe27

mecahan yang bagaimana yang harus disiapkan. 4. Menempatkan peserta didik sebagai individu yang menjadi pelaku utama di dalam proses pendidikan, yang mengarah pada pendidikan diri sendiri (self education), autodidak yang aktif kreatif, tekun, bebas dan bertanggung jawab, tabah, tahan bantingan, dan yang sejalan dengan penciptaan masyarakat gemar belajar (learning). Di samping ciri-ciri tersebut di atas, PSH perlu digalakkan, karena : 1. Pada hakikatnya belajar berlangsung sepanjang hidup. 2. Sekolah tradisional tidak dapat memberikan bekal kerja yang coraknya semakin tidak menentu dan cepat berubah. 3. Pendidikan masa balita (di bawah lima tahun) punya peranan penting sebagai fondasi pembentukan kepribadian dan bagi aktualisasi diri. Sekolah tidak dapat mengisi pendidikan di masa balita ini. Catatan : Sekarang ada PAUD (Pendidikan Usia Dini) yang pesertanya boleh di bawah umur lima tahun. 4. Sekolah tradisional mengganggu pemerataan keadilan untuk memperoleh kesempatan berpendidikan. 5. Biaya penyelenggaraan sekolah tradisional sangat mahal. Pengelolaan termasuk di dalamnya penyelenggaraan. Berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan, prinsipnya menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 adalah : 1. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. 2. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. 3. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. 4. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

28

5. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung (calistung) bagi segenap warga masyarakat. Proses pendidikan melibatkan banyak hal yang meliputi unsur-unsur pendidikan, yaitu : 1. Subyek yang dibimbing (peserta didik). 2. Orang yang membimbing (pendidik). 3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif). 4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan). 5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan). 6. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode). 7. Tempat di mana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan). Berkaitan dengan peserta didik dan pendidik, di bawah ini dijelaskan sebagai berikut : 1. Peserta Didik : Peserta didik berstatus sebagai subyek didik, dan tanpa memandang usia. Sebagai subyek, dia adalah pribadi yang mempunyai ciri khas dan otonom yang ingin diakui eksistensinya (keberadaannya). menerus Dia ingin mengembangkan diri secara terus-

guna memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai sepanjang

hidupnya. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan adalah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran dan pelatihan, serta masyarakat/organisasi. pendidik adalah : a. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik. b. Individu yang sedang berkembang. c. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi. d. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri. Ciri khas peserta didik yang perlu difahami oleh

29

2. Pendidik : Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Hal yang perlu mendapat perhatian dari pendidik adalah soal kewibawaan. Kewibawaan adalah suatu pancaran batin atau kekuasaan batin mendidik, bukan penggunaan kekuasaan lahir yang semata-mata didasarkan pada unsur wewenang jabatan. Kewibawaan akan menimbulkan pada pihak lain (peserta didik) sikap mengakui, menerima, dan menuruti dengan penuh pengertian atas kekuasaan tersebut. Kewibawaan mendidik ini hanya dimiliki oleh mereka yang sudah dewasa. Sengaja kata dewasa memakai tanda trema karena bukan hanya dilihat dari aspek usia. Dewasa di sini maksudnya rohani yang ditopang oleh jasmani. Kedewasaan rohani tercapai jika individu telah memiliki cita-cita dan pandangan hidup yang tetap. Cita-cita dan pandangan hidup ini terjalin di dalam dirinya untuk selanjutnya diwujudkan dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan. Kedewasaan jasmani

tercapai jika individu mencapai puncak perkembangan fisik yang optimal, atau telah mencapai proporsi yang sudah mantap. Sebagai pendidik, realisasi cita-cita dan pandangan hidupnya itu secara nyata berlangsung melalui aktivitas statusnya sebagai orang tua maupun pendidik. Jadi, dia adalah orang yang mampu mempertanggungjawabkan segenap aktivitas yang bertalian dengan statusnya. Bertanggung jawab, maksudnya mampu untuk menyatukan diri dengan norma-norma hidup serta mendukungnya. Pendidik mempunyai tugas untuk mentransformasikan norma-norma itu kepada peserta didik. Pendidik akan memiliki kewibawaan di mata peserta didik jika yang dibutuhkan peserta didik, antara lain perlindungan, bantuan, bimbingan, dan rasa kasih sayang yang ikhlas, terpenuhi. Kewibawaan pendidik itu harus dibina dan dirawat karena bisa saja memudar. Menurut Langeveld (1955:42-44), pembinaan kewibawaan itu meliputi kepercayaan, kasih sayang, dan kemampuan. Kepercayaan di sini maksudnya pendidik harus percaya dirinya bisa mendidik dan harus percaya pula bahwa peserta didik dapat
30

dididik. Sedangkan kasih sayang mengandung dua makna, yaitu penyerahan diri kepada yang disayangi, dan pengendalian terhadap yang disayangi. Dengan

penyerahan diri, maka akan timbul kesediaan berkorban yang bentuk konkritnya berupa pengabdian dalam bekerja. Dan dengan pengendalian terhadap yang disayangi, maka peserta didik tidak akan berbuat yang merugikan dirinya. Sementara kemampuan mendidik dapat dikembangkan melalui berbagai cara, antara lain pengkajian terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi terutama yang berkaitan dengan kependidikan, mengikuti pelatihan, sarasehan atau seminar pendidikan, mengambil manfaat dari pengalaman kerja, dll.

31

BAB III SEJARAH, PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN FUNGSI ADMINISTRASI PENDIDIKAN
A. SEJARAH DAN PENGERTIAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN 1. Sejarah Administrasi Pendidikan. Studi administrasi pendidikan di dunia mulai berkembang pada pertengahan pertama abad ke-20, terutama sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Di Indonesia sendiri administrasi pendidikan baru diperkenalkan melalui FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) pada beberapa Universitas yang kemudian berdiri sendiri menjadi IKIP sejak tahun 1960-an. Sekarang ini, kecuali Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang sebelumnya IKIP Bandung, yang tetap mempertahankan nama salah satu program studinya, yaitu administrasi pendidikan, hampir seluruh bekas IKIP yang telah berubah menjadi Universitas Negeri bahkan mengubahnya menjadi manajemen pendidikan. Di samping sebagai program studi, administrasi pendidikan pun merupakan salah satu mata kuliah di FKIP/STKIP atau mata pelajaran di SGA/SPG sejak tahun ajaran 1965/1966. Oleh karenanya tidak mengherankan jika di kalangan pendidik sendiri banyak yang belum dapat memahami betapa perlu dan pentingnya administrasi pendidikan dalam penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan pada umumnya. Dalam beberapa segi, seperti telah disinggung terdahulu, kita melihat bahwa pengertian administrasi kadang disamakan dengan manajemen, sehingga administrasi pendidikan = manajemen pendidikan. Dewasa ini administrasi/manajemen pendidikan sebagai ilmu terus mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan pendidikan itu di dunia.

2. Pengertian Administrasi Pendidikan. Mengacu pada pengertian administrasi, administrasi pendidikan adalah ilmu terapan yang mempelajari keseluruhan proses kerjasama sekelompok orang yang melakukan kegiatan bersama di bidang pendidikan, dengan menggunakan tenaga, peralatan serta perlengkapan yang tersedia untuk mencapai tujuan secara efektif
32

dan efisien. (Wijono, 1989:35). Kendati segala kegiatan yang dilakukan dalam proses administrasi pendidikan pada akhirnya bermaksud untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, namun administrasi pendidikan tidaklah sama dengan pendidikan. Tidak semua kegiatan pencapaian tujuan pendidikan itu adalah administrasi pendidikan. Administrasi pendidikan adalah segenap proses pengerahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personil, spiritual maupun material, yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan. (Ngalim Purwanto, 1998:3-4). Dengan demikian, di dalam proses administrasi pendidikan, segenap usaha orang-orang yang terlibat dalam proses pencapaian tujuan pendidikan itu diintegrasikan, diorganisasi, dan dikoordinasikan secara efektif, dan semua materi yang diperlukan dan yang telah ada dimanfaatkan secara efisien. Sedangkan pendidikan, baik yang dimaksud sebagai proses maupun produk, adalah masalah perseorangan. Peserta didik sendirilah yang harus membuat perubahan di dalam dirinya sesuai dengan yang dikehendakinya. Jadi, proses pendidikan terjadi di dalam diri individu, dan produk pendidikan diwujudkan dalam tingkah lakunya. Jelaslah kiranya di sini

bahwa administrasi pendidikan tidak sama dengan pendidikan. Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian administrasi pendidikan, di bawah ini dikutipkan beberapa definisi lainnya. a. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1971/1972) merumuskan, Administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan, kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan pembiayaan, dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personil, material, maupun spirituil, untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Singkatnya, administrasi pendidikan adalah pembinaan, pengawasan, dan pelaksanaan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan-urusan sekolah. b. Good Carter V. dalam Dictionary of Education (1959) menyatakan, Administrasi
33

pendidikan adalah segenap teknik dan prosedur yang dipergunakan dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan. c. Stephen G. Knezevich dalam Administration of Public Education (1962) mengemukakan, Administrasi pendidikan adalah suatu proses yang berususan dengan penciptaan, pemeliharaan, stimulasi dan penyatuan tenaga-tenaga dalam suatu lembaga pendidikan dalam usaha merealisasikan tujuan-tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dari definisi-definisi tersebut di atas, maka jelaslah administrasi pendidikan sebenarnya adalah penerapan konsep administrasi di bidang atau sektor pendidikan, yang unsur-unsurnya adanya sekelompok manusia (sedikitnya dua orang), adanya tujuan yang hendak dicapai, adanya tugas/fungsi yang harus dilaksanakan (kegiatan kerjasama), dan adanya alat/perlengkapan yang diperlukan. Semua unsur ini harus dikelola sedemikian rupa sehingga mengarah pada tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengertian administrasi pendidikan dimaksud sangat luas maknanya, karena : a. Bukan hanya sekedar kegiatan-kegiatan tata usaha seperti dilakukan di kantorkantor tata usaha sekolah, perguruan tinggi, departremen (kementerian), dsb. b. Mencakup kegiatan-kegiatan yang luas yang meliputi antara lain kegiatan perumusan tujuan, perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan/ pengendalian, dsb. yang menyangkut bidang-bidang personil, material, pembiayaan, peralatan/perlengkapan, pemasaran pada umumnya, dan khususnya pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. c. Merupakan proses keseluruhan dan kegiatan-kegiatan bersama yang harus dilakukan oleh semua pihak yang terlibat di dalam tugas-tugas kependidikan. Oleh karenanya administrasi pendidikan seyogianya diketahui bukan hanya oleh kepala sekolah atau pemimpin-pemimpin pendidikan lainnya, tetapi juga diketahui dan dijalankan oleh para guru dan tenaga kependidikan lainnya sesuai dengan jabatannya masing-masing. Tanpa adanya pengertian bersama, sulit di34

dharapkan adanya kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam administrasi pendidikan sifatnya umum yang dilakukan oleh semua lembaga yang mengurusi masalah pendidikan. Lembaga dimaksud bukan hanya sekolah-sekolah, tetapi juga departemen (kementerian) di pusat dan daerah, dinas-dinas di daerah sampai ke tingkat kecamatan. Sedangkan administrasi pendidikan di sekolah-sekolah kegiatannya terbatas pada pelaksanaan operasional pengelolaan pendidikan. Karenanya, kita mengenal administrasi SD, administrasi SLTP, administrasi SLTA, administrasi PT, yang kesemuanya merupakan bagian atau subsistem dari administrasi pendidikan. Hanya saja karena sekolah merupakan lembaga yang dalam kegiatan-kegiatannya secara operasional menangani secara langsung peserta didik, maka titik berat pembicaraan tentang ruang lingkup administrasi pendidikan ditekankan pada kegiatan-kegiatan yang menyangkut sekolah, seperti kepemimpinan kepala sekolah, supervisi terhadap guru-guru, bimbingan siswa, dsb.

B. RUANG LINGKUP ADMINISTRASI PENDIDIKAN Ditinjau dari unsur-unsur pokok administrasi seperti dikemukakan di atas, jelaslah bahwa bidang-bidang garapan dalam proses administrasi pendidikan itu sangat luas. Marilah kita urai bidang-bidang dimaksud. 1. Unsur Manusia. Unsur kelompok manusia melahirkan timbulnya administrasi kepegawaian (personil) yang antara lain menyangkut pemilihan, pengangkatan, penempatan, pembimbingan, dan pengawasan/pengendalian semua pegawai yang terlibat dalam kegiatan administrasi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Di sini tercakup pula masalah kepemimpinan, yaitu bagaimana sikap dan sifat seorang pemimpin yang dikehendaki dalam pendidikan, tipe-tipe yang sesuai, syarat-syarat yang diperlukan sebagai seorang pemimpin pendidikan yang baik, dsb.

35

2. Unsur Tujuan. Tujuan pendidikan tergambarkan di dalam kurikulum sekolah masing-masing. Adanya unsur tujuan ini menimbulkan perlunya pengadministrasian pelaksanaan kurikulum yang menjadi tugas dan tanggung jawab kepala sekolah bersama guruguru dan pegawai (tenaga kependidikan) lainnya. 3. Unsur Tugas Pokok dan Fungsi. Adanya unsur tugas pokok dan fungsi menunjukkan bahwa dalam setiap kegiatan administrasi perlu adanya pengorganisasian (= staffing) yang baik dan teratur. Semua manusia yang terlibat di dalamnya harus diorganisasikan sehingga mereka mempunyai tanggung jawab dan wewenang, serta hak dan kewajiban, sesuai dengan kedudukan (status) dan fungsinya masing-masing. Dalam hal ini diperlukan pula adanya koordinasi, pengawasan/pengendalian, dan supervisi yang baik dari pimpinan. 4. Unsur Pembiayaan. Segala kagiatan apa pun tanpa ditunjang dengan unsur keuangan (pembiayaan) tidak akan berjalan optimal, kalau pun tidak dikatakan mustahil sama sekali. 5. Peralatan/Perlengkapan. Peralatan dan perlengkapan merupakan unsur administrasi yang tidak dapat diabaikan. Mengapa? Karena bagaimana pun pandai dan berkualitas hebat personil sebagai pelaksana pendidikan, baiknya sistem dan program pendidikan yang tersusun di dalam kurikulum, tanpa ditunjang dengan peralatan/perlengkapan yang memadai dan sesuai peruntukkannya, sulit untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Demikianlah, maka dapat disimpulkan bahwa administrasi pendidikan mencakup bidang-bidang garapan yang amat luas, yang di antaranya meliputi kepegawaian, kepemimpinan, kurikulum, pengawasan dan supervisi, keuangan, peralatan/perlengkapan, organisasi/kelembagaan pendidikan, dsb.

36

Di bidang persekolahan, bidang garapan administrasi pendidikan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. 1. Administrasi Tatalaksana Sekolah : a. Organisasi dan susunan pegawai tata usaha; b. Otorisasi dan anggaran belanja keuangan sekolah; c. Kepegawaian dan kesejahteraan pegawai; d. Perlengkapan dan perbekalan; e. Keuangan dan pembukuannya; f. Korespondensi; g. Laporan-laporan (bulanan, kuartalan, tengah tahunan, tahunan); h. Pengangkatan, penempatan, pemindahan, dan pemberhentian pegawai; i. Pengisian buku pokok, klapper, rapor, dsb. 2. Administrasi Kepegawaian (Guru dan Tenaga Kependidikan) : a. Pengangkatan dan penempatan guru dan tenaga kepentidikan; b. Organisasi personil guru-guru; c. Kepegawaian dan kesejahteraan guru/tenaga kependidikan; d. Rencana orientasi dan diklat bagi guru/tenaga kependidikan yang baru; e. Konduite dan penilaian guru/tenaga kependidikan; f. Pelatihan dalam jabatan dan pengingkatan kapasitas (up-grading) guru/tenaga kependidikan. 3. Administrasi Siswa/Murid : a. Organisasi dan perkumpulan murid; b. Kesehatan dan kesejahteraan murid; c. Penilaian dan pengukuran kemajuan murid; d. Bimbingan dan penyuluhan bagi murid. 4. Administrasi Supervisi Pengajaran : a. Usaha membangkitkan dan merangsang semangat guru-guru/tenaga kependidikan (tata usaha) dalam menjalankan tugas mereka masing-masing dengan sebaik-baiknya;
37

b. Usaha mengembangkan, mencari, dan menggunakan metode-metode baru dalam mengajar dan belajar yang lebih baik; c. Mengusahakan dan mengembangkan kerjasama yang baik antara guru, murid, dan pegawai tata usaha sekolah; d. Mengusahakan cara-cara menilai hasil pendidikan dan pengajaran; e. Usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru-guru (inservice training dan upgrading). 5. Administrasi Pelaksanaan dan Pembinaan Kurikulum : a. Mempedomani dan merealisasikan apa yang tercantum dalam kurikulum sekolah yang bersangkutan dalam usaha mencapai dasar-dasar dan tujuan pendidikan dan pengajaran; b. Menyusun dan melaksanakan organisasi kurikulum beserta materi-materi, sumber-sumber, dan metode-metode palaksanaannya, disesuaikan dengan pembaharuan pendidikan dan pengajaran serta kebutuhan masyarakat dan lingkungan sekolah; c. Kurikulum bukanlah yang mutlak harus diikuti begitu saja tanpa ada kesempatan perubahan sedikit pun. Kurikulum lebih merupakan pedoman bagi para guru dalam menjalankan tugasnya. Dia berhak dan wajib memilih dan menambah (improvisasi) materi-materi, sumber-sumber, ataupun metode-metode palaksanaan yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan perkembangan masyarakat lingkungan sekolah. Karena itu jika sudah tidak sesuai lagi dengan kemajuan dan kebutuhan masyarakat dan negara, dapat dikurangi atau dibuang. 6. Administrasi Pendirian dan Perencanaan Bangunan Sekolah : Pada umumnya perencanaan dan pendirian bangunan sekolah menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi dalam prakteknya sesuai dengan kemajuan dan perkembangan dunia pendidikan dan pengajaran, maka keikutsertaan masyarakat (orang tua/wali murid), dunia usaha (swasta), kalangan pendidik (guru), dan dengan difasilitasi pemerintah (daerah) menjadi keniscayaan. Karenanya pengetahuan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan perencanaan dan pendirian bangunan se38

kolah perlu juga dimiliki oleh guru, antara lain mengenai : a. Cara memilih lokasi dan menentukan luas tanah yang dibutuhkan; b. Mengusahakan, merencanakan, dan menggunakan biaya pendirian bangunan sekolah; c. Menentukan jumlah dan luas ruangan-ruangan kelas, kantor, gudang, asrama, lapangan olah raga, podium, kebun sekolah, tempat parkir kendaraan, serta komposisinya masing-masing; d. Cara-cara penggunaan bangunan sekolah dan fasilitas-fasilitas lainnya yang efektif, produktif, serta pemeliharaannya secara berlanjut; e. Alat-alat/perlengkapan sekolah dan alat pelajaran (peraga) sekolah yang dibutuhkan, dsb. 7. Administrasi Hubungan Sekolah dengan Masyarakat : Hubungan di sini mencakup : a. Hubungan sekolah dengan sekolah lain; b. Hubungan sekolah dengan pemerintah setempat (kabupaten/kecamatan, desa/kelurahan); c. Hubungan sekolah dengan instansi/lembaga pemerintah atau swasta (dunia usaha); d. Hubungan sekolah dengan tokoh dan masyarakat umumnya. Hubungan-hubungan tersebut di atas hendaknya merupakan simbiosis mutualistis, baik di bidang paedagogis, sosiologis, dan produktif, sehingga mendatangkan keuntungan dan perbaikan serta kemajuan bagi semua pihak. peranan kepala sekolah sangat penting dan menentukan. Dari apa yang diuraikan di muka, maka bidang-bidang yang tercakup dalam administrasi pendidikan, dapat dikelompokkan sebagai berikut. 1. Administrasi Kepegawaian (Personil), yaitu kegiatan administrasi yang menyangkut personil guru dan tanaga kependidikan lain, termasuk murid. Dalam hal ini masalah kepemimpinan dan supervisi sangat memegang peranan penting.
39

Dalam hal ini

2. Administrasi Keuangan (Pembiayaan), yaitu kegiatan administrasi yang menyangkut keuangan atau pembiayaan sekolah. 3. Administrasi Material, yaitu kegiatan administrasi yang menyangkut materi/benda (alat-alat/perlengkapan/perbekalan). 4. Administrasi Kurikulum, yang di dalamnya mencakup penyusunan kurikulum, pembinaan kurikulum, pelaksanaan kurilukum, penyusunan silabus, penyusunan garisgaris besar program pembelajaran atau rencana pelaksanaan pelajaran, pembagian tugas guru-guru mata pelajaran, persiapan harian, mingguan, dsb. (Catatan : Lebih luas, garapan administrasi sekolah akan dibahas dalam bab tersendiri).

C. FUNGSI ADMINISTRASI PENDIDIKAN Administrasi berjalan dalam proses-proses tertentu. Proses administrasi termasuk administrasi pendidikan itu meliputi fungsi-fungsi sebagaimana halnya dengan manajemen, yaitu perencanaan (planning), pengarahan (actuating/directing), pengorganisasian (organizing), pengkoordinatian (coordinating), pemberian motivasi, (motivating), pengkomunikasian (communicating), pengawasan/pengendalian (evaluating), penyusunan staf (staffing), penganggaran (budgeting), dsb. Dari fungsi-fungsi tersebut di atas, menurut Wijono (2000:35), fungsi pokok administrasi pendidikan meliputi perencanaan yang mencakup pembuatan keputusan dan penyusunan program, pengorganisasian yang mencakup penyusunan struktur dan komunikasi, pimpinan yang mencakup pengkoordinasian dan komando, pemberian stimulus, dan pengawasan yang mencakup pemeriksaan dan penilaian. Uraian lebih lanjut dari fungsi-fungsi administrasi pendidikan, masing-masing akan disampaikan dalam bab tersendiri, yang meliputi : 1. Perencanaan Pendidikan. 2. Pengorganisasian Pendidikan. 3. Kepemimpinan Pendidikan. 4. Pengawasan/Supervisi Pendidikan.
40

BAB IV PERENCANAAN PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN PERENCANAAN DAN RENCANA Perencanaan (planning) adalah fungsi dasar (fundamental) manajemen, karena fungsifungsi lainnya (organizing, staffing, actualing/directing, budgeting, controlling, dll.), pun harus direncanakan terlebih dahulu. Perencanaan sifatnya dinamis, ditujukan pada masa depan yang penuh dengan ketidakpastian, karena adanya perubahan kondisi dan situasi. Perencanaan adalah masalah memilih, artinya memilih tujuan dan cara terbaik untuk mencapai tujuan dari beberapa alternatif yang ada. Tanpa alternatif, perencanaan pun tidak ada. Perencanaan diproses oleh perencana (planner), hasilnya menjadi rencana (plan). Dalam suatu rencana, ditetapkan tujuan yang ingin dicapai dan pedoman bagaimana mencapai tujuan itu. Dengan demikian, perencanaan dan rencana itu sangat penting, karena : 1. Tanpa perencanaan dan rencana, berarti tidak ada tujuan yang ingin dicapai. 2. Tanpa perencanaan dan rencana, tidak ada pedoman pelaksanaan sehingga akan banyak terjadi pemborosan. 3. Tanpa perencanaan dan rencana, berarti tidak ada keputusan, dan proses manajemen pun tidak ada. 4. Rencana adalah dasar pengendalian, jadi tanpa ada rencana, pengendalian tidak dapat dilakukan. Rencana itu memang bisa tertulis maupun tidak tertulis, tetapi sebaiknya dibuat secara tertulis untuk memudahkan proses manajemen selanjutnya. Untuk lebih jelasnya tentang pengertian perencanaan, di bawah ini dikemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli. 1. G.R. Terry : Planning is the selecting and relating of facts and the making and using of assump41

tions regarding the future in the visualizations and formulation of proposed activations believed necessary to achieve desired results. (Perencanaan adalah memilih dan menghubungkan fakta dan membuat serta menggunakan asumsiasumsi mengenai masa datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan). 2. Billy E. Goetz : Planning is the fundamentally choosing and a planning problem arisesonly when alternative course of action is discovered. (Perencanaan adalah pemilihan yang fundamental dan masalah perencanaan timbul jika terdapat alternatif-alternatif). 3. Louis A. Allen : Planning is the determinations of the course of action to achieve a desired results. (Perencanaan adalah menentukan serangkaian tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan). Dari definisi-definisi tersebut di atas, Malayu Hasibuan (2004:92) menyimpulkan bahwa perencanaan/rencana adalah sejumlah keputusan mengenai keinginan dan berisi pedoman pelaksanaan untuk mencapai tujuan yang diinginkan itu. Jadi, setiap rencana mengandung dua unsur, yaitu tujuan dan pedoman. Sementara itu menurut Soebagio Atmodiwirio (2000:77-78), setiap perencanaan memiliki empat hal, yaitu : 1. Permasalahan yang merupakan perkaitan tujuan dengan sumber dayanya. 2. Cara untuk mencapai tujuan atau sasaran rencana dengan memperhatikan sumber dayanya dan alternatif atau kombinasi alternatif yang dipandang terbaik. 3. Penerjemahan rencana dalam program kegiatan yang konkrit. 4. Penetapan jangka waktu pencapaian tujuan atau sasaran.

B. TUJUAN PERENCANAAN Pada dasarnya tujuan perencanaan adalah sebagai pedoman untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan, dan sebagai alat ukur dalam membandingkan
42

antara hasil yang dicapai dengan apa yang diharapkan. Dilihat dari pengambilan keputusan, tujuan perencanaan adalah untuk : 1. Penyajian rancangan keputusan-keputusan atasan untuk disetujui pejabat tingkat nasional yang berwenang. 2. Menyediakan pola kegiatan-kegiatan secara matang bagi berbagai bidang/satuan kerja yang bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan.

C. PROSES PERENCANAAN Perencanaan pada dasarnya merupakan suatu siklus tertentu, dan melalui siklus tersebut suatu perencanaan dapat dievaluasi sejak awal persiapan sampai dengan pelaksanaan dan penyelesaian perencanaan. Secara umum, langkah-langkah dalam proses perencanaan yang perlu diperhatikan, menurut LAN (Lembaga Administrasi Negara) adalah : 1. Perencanaan yang efektif dimulai dengan tujuan secara lengkap dan jelas. Jika tujuannya banyak, maka dipilih yang mudah dalam pencapaiannya. Berdasarkan pertimbangan tertentu, penetapan skala prioritas sangat penting. 2. Setelah tujuan ditetapkan, langkah berikutnya adalah perumusan kebijakan dengan memperhatikan dan menyesuaikan tindakan-tindakan yang akan dilakukan dengan faktor-faktor lingkungan jika tujuan telah tercapai. 3. Analisis dan penetapan cara dan sarana untuk mencapai tujuan dalam kerangka kebijakan yang telah dirumuskan. 4. Penunjukan orang-orang yang akan menerima tugas dan tanggung jawab melaksanakannya (pemimpin, pembantu pemimpin, pelaksana) termasuk yang akan melakukan pengawasan. 5. Penemuan sistem pengendalian yang memungkinkan pengukuran dan pembandingan apa yang harus dicapai dengan apa yang telah tercapai, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Adapun tahapan-tahapan dalam proses perencanaan pendidikan prinsipnya adalah pada semua tataran sistemnya (operasional, institusional, dan struktural). Menurut Udin Syaefudin Saud dan Abin Syamsuddin Makmun (2007:45), proses pe43

rencanaan pendidikan dimaksud dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Mendefinisikan permasalahan perencanaan pendidikan. 2. Analisis bidang telaah permasalahan perencanaan. 3. Mengkonsepsikan dan merancang rencana. 4. Evaluasi rencana. 5. Menentukan rencana. 6. Implementasi rencana. 7. Evaluasi implementasi rencana dan umpan baliknya. Untuk lebih jelasnya, proses perencanaan pendidikan di bawah ini digambarkan dalam bagan. PROSES PERENCANAAN PENDIDIKAN Pendahuluan

Mendefinisikan PermaSalahan Perencanaan. A. Ruang lingkup permaSalahan pendidikan. B. Pengkajian sejarah pe renc. pendidikan. C. Perbedaan antara keNyataan dasn harapan. D.Sumber daya dan ham batan pernc.penddkan. E.Menentukan bagian2 dari perenc.pend. beSerta prioritasnya.

Analisis Bidang Telaahan Permasalahan Peren perecanaan. A.Bidang atau wilayah dan sistem-sistem sub bidang telaahan. B.Pengumpulan data. C.Tabulasi data. D.Prakiraan perncanaan.

Mengkonsepsikan dan Merancang Rencana. A.Mengidentifikasi kecenderungan umum. B.Menentukan tujuan & sasaran. C.Mendesain perencanaan.

Menentukan Rencana A.Rumusan masalah. B.Laporan hasil.

Evaluasi Rencana A.Perenc. melalui simulasi. B.Evaluasi perencanaan C.Pemilihan rencana.

Evaluasi Implementasi Rencana dan Umpan Baliknya. A.Monitoring rencana. B.Evaluasi rencana. C.Menyelesaikan, mengubah, dan mendesain u lang rencana.

Implementasi Rencana. A.Persiapan program. B.Persetujuan perenc. C.Pengaturan unit2 operasional perencanaan.

Sumber : Udin Syaefudin Saud dan Abin S.M. (2007:45).

44

D. JENIS-JENIS PERENCANAAN Jenis-jenis perencanaan dapat digolongkan menurut waktu, sifat, sektor, luas jangkauan, wewenang pembuatnya, obyek, dan jenjang. 1. Menurut Waktu : a. Perencanaan jangka panjang, yang memuat rencana yang bersifat umum, global, belum terinci, serta bersifat perspektif. Jangka waktunya 10, 20, atau 25 tahun; b. Perencanaan jangka menengah, yang disusun berdasarkan perencanaan jangka panjang untuk dijabarkan lebih lanjut pada perencanaan jangka pendek. Jangka waktunya antara 4-7 tahun; c. Perencanaan jangka pendek, yang disebut juga perencanaan operasional, yang siklusnya berulang tiap tahun. 2. Menurut Sifat : a. Perencanaan kuantitatif, yang targetnya ditetapkan secara jumlah (bilangan); b. Perencanaan kualitatif, yang targetnya ditetapkan berdasarkan mutu, tidak bias dihitung jumlahnya. 3. Menurut Sektor dan Regional : a. Perencanaan sektoral, yaitu perencanaan menurut sektor-sektor sosial, misalnya sektor pendidikan, sektor kebudayaan, sektor agama, dsb. b. Perencanaan regional, yaitu perencanaan yang berorientasi pada wilayah dan kepentingan wilayah. 4. Menurut Luas Jangkauan : Perencanaan ini dibedakan antara perencanaan makro dan mikro. Makro artinya menyeluruh (umum) yang bersifat nasional, sedangkan mikro lingkupnya terbatas, yaitu perencanaan untuk suatu institusi yang lebih rinci dan konkrit. 5. Menurut Wewenang Pembuatnya : a. Perencanaan sentralisasi, yang disusun oleh Pusat; b. Perencanaan desentralisasi, yang penyusunanannya diserahkan kepada daerah
45

sesuai dengan kebutuhan daerah. 6. Menurut Obyek yang Direncanakan : a. Perencanaan rutin, yaitu perencanaan yang mempersiapkan kegiatan atau kumpulan pekerjaan yang bersifat terus-menerus dalam rangka usaha mencapai hasil akhir suatu program; b. Perencanaan pembangunan, yaitu perencanaan yang dapat menjangkau waktu panjang, sedang, dan pendek. 7. Menurut Jenjang : Merupakan perencanaan yang berjenjang, dari unit tingkat daerah (kabupaten/ kota, provinsi) sampai ke tingkat pusat. Berkenaan dengan sektor pendidikan, perencanaan yang relevan mempunyai empat unsur, yaitu : 1. Unsur Kualitatif : Pendidikan merupakan suatu subsistem dari sistem yang lebih luas, yaitu kebudayaan. Dengan demikian keberhasilan program pendidikan tidak hanya dilihat dari komponen (subsistem) pendidikan saja seperti jumlah peserta didik, jumlah tenaga kependidikan, jumlah gedung sekolah, dll. tetapi juga dilihat dari subsistem lainnya seperti ekonomi, sosial, politik, hukum, dsb. Kualitas pendidikan ditandai dengan hasil lulusannya yang produktif. Jadi ada keterkaitan antara program di sekolah dengan program masyarakat industri/perdagangan, atau ada kesepadanan antara hasil (lulusan) dengan kebutuhan masyarakat. 2. Unsur Intersektoral : Perencanaan pendidikan tidak terlepas dari sektor-sektor lainnya yang terkait dan mendukungnya. Dalam kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia yang merupakan tujuan utama, maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menggodok peningkatan harkat dan martabat manusia, perencanaan pendidikan adalah pemasok manusia berkualitas atau manusia seutuhnya bagi
46

sektor-sektor lainnya.

Memang sifat pembangunan nasional Indonesia yang

berwajah manusia atau manusia seutuhnya adalah development with human face. 3. Unsur Interdepartemental : Perencanaan pendidikan bukan saja bersifat intersektoral yang mencakup kepentingan seluruh sektor dalam pembangunan, tetapi juga bersifat interdepartemental (seluruh kementerian). 4. Unsur Kewilayahan : Karena pembangunan nasional juga dilaksanakan di daerah, maka pendekatan kewilayah bersifat strategis. Program pembangunan di daerah langsung menyentuh kepentingan masyarakat sehingga diharapkan muncul partisipasi aktif masyarakat. Di sinilah pentingnya sektor pendidikan mamasok tenaga-tenaga terampil untuk menggerakkan industri yang tersebar di daerah-daerah.

E. SIKLUS PERENCANAAN PENDIDIKAN Siklus adalah suatu proses yang berlangsung berulang (berdaur). Demikianlah dalam perencanaan pendidikan, terdapat tahapan-tahapan yang harus dilalui secara berdaur. Menurut Soebagio Atmodiwirio (2000:83-89), ada 11 langkah yang harus dilalui dalam proses perencanaan pendidikan, yaitu : 1. Pengumpulan dan Pengolahan Data. Kegiatan pokoknya adalah kompilasi data pendidikan, pengorganisasian data, penyusunan indikator-indikator yang diperlukan, menghimpun hasil penelitian, serta evaluasi dan monitoring program yang lalu. Data dan informasi harus lengkap, akurat, dan baru, sesuai dengan keperluan untuk pengambilan keputusan. Data dan informasi yang diperlukan dalam perencanaan pendidikan adalah : a. Dari luar sistem pendidikan : 1) Informasi perencanaan makro bidang ekonomi, alokasi sumber pembiayaan, dan persyaratan tenaga kerja;
47

2) Data kependudukan; 3) Data tentang tradisi, nilai sosial, dan kesadaran politik; 4) Data tentang infra struktur yang ada kaitannya dengan perencanaan pendidikan; b. Dari dalam sistem pendidikan : 1) Jumlah murid per provinsi menurut area dan jenis kelamin; 2) Jumlah kelas dan jenis sekolah/lembaga pendidikan; 3) Keadaan tenaga pengajar dan tenaga administrasi; 4) Jumlah dan jenis fasilitas; 5) Standar biaya per daerah; 6) Keadaan lingkungan. c. Bentuk data dan informasi pendidikan : 1) Tulisan/gambar : a) Instrumen : Kuesioner, checklist observasi, hasil tes, biodata/curriculum vitae, daftar riwayat hidup. b) Daftar tabel : Tabel tunggal, table ganda, table komprehensif. c) Grafik dan bagan : Diagram garis, konjungtur, diagram balok/batang,

diagram lingkaran, diagram gambar. d) Peta : Peta geografis, topografi, demografis, pendidikan (lokasi sekolah, tipe sekolah, arus murid). e) Clipping : Bentuk informasi yang bersumber dari Koran atau majalah. f) Panel : Bentuk penyajian data/informasi yang menarik dan mudah

dimengerti. g) Buku referensi : Bentuk penyajian data/informasi yang paling popular, yaitu kertas kerja (makalah), laporan berkala (bulanan, triwulanan, tengah tahunan, dasn tahunan), rencana induk, dll. 2) Visual (alat pandang) : a) Foto : Gambar statis yang menunjukkan suatu peristiwa. b) Micro fiche : Gambar statis dalam riil film yang diproyeksikan pada layar khusus. Peristiwanya digambarkan secara episode.

48

c) Film slide :

Gambar statis dalam bingkai daftar terpisah/lepas, tetapi

peristiwanya digambarkan secara utuh. d) Film strip : Gambar dinamis bergerak berurutan untuk suatu peristiwa tertentu. e) Kaset video : Seperti biodkop dalam satu reel kaset ditayangkan melalui tv. f) Transparansi : Penyajian data/info dengan menggunakan kertas cellopohan (celluloid) yang diproyeksikan melalui OHP (Overhead Projector). g) Disket atai CD : Piringan computer sebagai alat penyimpan data/info yang deprogram lebih dulu, yang sewaktu-waktu dapat dipanggil kembali untuk disajikan atau diperbaiki (dirubah, ditambah, dikurangi). 3) Audio (alat dengar) : Kaset/cd audio merupakan rekaman hasil pembicaraan, wawancara, atau pidato. Bentuknya ada yang standar ada yang mini. d. Data primer dan data sekunder : 1) Data primer : a) Kuesioner sekolah dari Balitbang yang setiap tahun diisi oleh kepala sekolah (SD, SLTP, SLTA) pada awal tahun ajaran. Waktu hitung (counting date) biasanya ditetapkan pada setiap tanggal 31 Agustus. Variabel data yang dijaring adalah data murid, data guru dan non guru, data sarana dan prasarana, dan data keuangan. b) Kuesioner unit utama lainnya, misalnya variabel data yang disaring tergantung dari kegiatan pokok menjadi fungsi dan tanggung jawab setiap fungsi utama. Counting date dan setiap periodisasi penjaringan datanya belum bersifat periodic. c) Data dan informasi dalam bentuk pemetaan, piranti pandang dengan (audio visual aids) atau alat bantu pandang dengar, dilakukan oleh unit utama Kemendikbud menurut kebutuhan. 2) Data sekunder : a) Tabel rangkuman, yaitu hasil pengolahan data sekolah melalui kuesioner Balitbang. Untuk SD, SLTP, SLTA dibuat Tabel Rangkuman Kecamatan (RC), Kabupaten (RK), Provinsi (RP). Di Balitbang pusat RP diolah menjadi Tabel Rangkuman Nasional (RN).
49

b) Analisis Kohor, yaitu hasil pengolahan data arus murid (entrollment) secara bertingkat pada masing-masing jenjang sekolah (SD, SLTP, SLTA). Variabel data murid yang naik kelas, mengulang, atau putus belajar digambarkan dalam kotak-kotak yang datanya dimasukkan ke dalam kotak dan di luar kotak berurut mengikuti tahun secara diagonal ke bawah. c) Proyeksi, yang merupakan prakiraan data dan informasi pada masa-masa yang akan datang berdasarkan tren (gejala) pada tahun-tahun sebelumnya. d) Abstrak (sari karangan), merpupakan informasi penting yang memuat halhal pokok tentang suatu pendapat atau kebijakan. e) Indeks, adalah petunjuk atau pedoman berupa angka, huruf, kode, atau kunci untuk memudahkan mencari sesuatu obyek yang diinginkan. f) Profil pendidikan, yaitu data yang menggambarkan wajah pendidikan di suatu daerah. g) Monografi, yaitu data komprehensif tentang keadaan dasn kondisi suatu daerah. h) Pemetaan pendidikan dan kebudayaan, yaitu peta geografis yang dilengkapi dengan berbagai indicator pendidikan. i) Clipping, yaitu guntingan Koran/majalah yang memuat informasi tentang suatu kejadian. j) Pidato/makalah/ceramah, yaitu bentuk karangan yang memuat informasi tentang kebijaksanaan, pendapat, atau instruksi suatu permasalahan. 2. Analisis dan Diagnosis. Yang dimaksud dengan analisis dan diagnosis data adalah mempelajari dan memilih data yang ada serta membuat interpretasi yang diperlukan. Kegunaan analisis data adalah : a. Sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan; b. Sebagai bahan masukan untuk penyusunan rencana dan program, baik rutin maupun pembangunan; c. Sebagai bahan masukan untuk penyusunan laporan.

50

3. Perumusan Kebijakan. Kebijakan merupakan suatu pembahasan gerak tentang apa yang akan dijadikan keputusan oleh pihak lain. Diagnosis kegiatan pendidikan secara garis besar

menunjukkan kepincangan atau kekurangan yang harus diperbaiki demi peningkatan mutu, relevansi, efektivitas, dan efisiensi. Tindakan korektif harus didasarkan pada garis-garis besar kebijakan pemerintah. Para perencana pendidikan dalam hal ini tidak berwenang menetapkan kebijakan. Garis-garis kebijakan ditetapkan oleh keputusan pada eselon tertentu. Dengan demikian para perencana pendidikan merupakan staf yang dapat memberikan masukan teknis berupa bahan rancangan kebijakan krepada pimpinan. 4. Prakiraan Kebutuhan yang Akan Datang. Perencana harus memprakirakan kebutuhan masa depan dalam rangka pembangunan pendidikan. Kebutuhan dimaksud meliputi : a. Jumlah penduduk kelompok usia sekolah yang perlu ditampung di kelas 1 SD; b. Jumlah lulusan SD yang akan ditampung di kelas 1 SLTP; c. Jumlah lulusan SLTP yang akan ditampung di kelas 1 SLTA; d. Jumlah guru yang dibutuhkan; e. Jumlah guru menurut bidang studi yang perlu ditatar; f. Pemetaan mutu guru baik di perkotaan maupun di pedesaan; g. Jumlah ruang belajar dan ruang praktek yang diperlukan atau ditambah beserta perabotannya; h. Jumlah dan jenis buku, alat peraga, alat keterampilan, dll. yang perlu disediakan; i. Penyempurnaan kurikulum dan metode belajar yang perlu disesuaikan dengan persyaratan tenaga kerja dan tuntutan pembangunan di segala bidang; j. Pemberian beasiswa dan tunjangan lain; k. Peningkatan mutu tenaga Pembina teknis dan pengelolaan pendidikan; l. Penyempurnaan sistem pengelolaan pendidikan; m. Inovasi teknologi dalam pendidikan. 5. Penetapan Sasaran. Sasaran ditetapkan dengan parameter yang bisa diukur dan dikuantifikasikan. Da51

lam hal ini perencana harus mengecek kembali seluruh rancangan kebutuhan termasuk kegiatan dan sasaran yang layak untuk dilaksanakan. 6. Penyusunan Alternatif Strategi yang Layak. Kegiatan yang penting dilakukan adalah pemilihan dan penetapan tujuan, sasaran (hasil proyeksi kuantitatif), dan cara yang efisien untuk pencapaian tujuan ke dalam rencana pendidikan. 7. Perumusan Rencana. Perumusan rencana adalah upaya merumuskan tujuan, kegiatan, dan sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu tertentu, serta ancar-ancar biaya yang diperlukan untuk mencapai sasaran, unsur pelaksanaan kegiatan dan jadwal kegiatan. Perumusan rencana mengandung pengertian atas jawaban terhadap pertanyaan : Apa yang diusulkan, mengapa diusulkan, dan bagaimana usul-usul itu akan dilaksanakan. 8. Penganggaran. Perencana harus memperhitungkan biaya yang dibutuhkan dalam rangka penyusunan rencana. Dalam hal ini harus diketahui dari mana sumber-sumber pembiayaan untuk penyangga keberlangsungan proses pendidikan. Biasanya

sumber ini dari pemerintah, dunia usaha (swasta), dan masyarakat, serta tidak menutup kemungkinan adanya bantuan luar negeri. 9. Perincian Rencana. Rencana dirinci sehingga setiap satuan kegiatan menjadi lebih jelas (sasaran, pelaksanaan, hasil yang diharapkan, jadwal, sarana yang diperlukan, dan biaya). Proses rincian rencana terdiri atas dua langkah pokok, yaitu penyusunan program, dan identifikasi perumusan proyek. 10. Pelaksanaan Rencana. Ini tidak termasuk proses perencanaan. Keberhasilan pelaksanaan rencana sangat erat kaitannya dengan pola operasional rencana yang disusun. Suatu pola opera52

sional yang baik harus mempunyai ciri-ciri : Tujuan yang dirumuskan secara jelas, hasil yang diharapkan harus konkrit, jaringan kerja yang baik, sistem dan mekanisme perencanaan yang rinci. 11. Evaluasi Rencana dan Pelaksanaannya. Langkah ini sangat penting karena melalui evaluasi, keberhasilan suatu perencanaan dapat diukur. Evaluasi sudah harus dibuat pada saat perencanaan. Evaluasi bertujuan untuk : a. Menyoroti kelemahan perencanaan dalam rangka upaya perbaikan atau revisi atas perencanaan yang kurang; b. Merupakan suatu diagnosis terhadap setiap rantai kegiatan pada siklus perencanaan yang memberikan dasar-dasar bagi penyusunan yang sudah dibuat; c. Untuk melihat dampak kegiatan yang sudah dilakukan.

53

BAB V PENGORGANISASIAN PENDIDIKAN


A. PENGERTIAN Pengorganisasian adalah keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, wewenang dan tanggung jawab sedemikian rupa, sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Melalui pengorganisasian diatur struktur organisasi yang di dalamnya tercakup pembagian kerja, hubungan kerja, prosedur kerja, tata kerja dan tata laksana, sekaligus pendelegasian wewenang. Dengan demikian terciptalah kerjasama yang baik dan sinergis di antara orang-orang yang ada dalam organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Itulah sebabnya organisasi sebagai wadah bersifat statis (pasif), tetapi sebagai proses bersifat dinamis (aktif) karena merupakan interaksi antar orang-orang yang membentuk organisasi dengan berbagai kegiatan yang merupakan suatu sistem. Yang dimaksud sistem di sini adalah keseluruhan (totalitas) komponen yang terdiri dari subkomponen-subkomponen yang masing mempunyai fungsi tertentu dan satu sama lain saling berkaitan dan bergantungan (interdepedensi) membentuk suatu keterpaduan.

B. STRUKTUR ORGANISASI PENDIDIKAN Untuk menerjemahkan aktivitas antar subkomponen dan komponen dalam organisasi agar dapat dipahami dan dijadikan pedoman kerja bagi orang-orang yang ada dalam organisasi, maka dituangkan dalam struktur organisasi. Menurut James L. Gibson, Ivancevich, dan Donnelly (1996:18), struktur organisasi adalah pola formal aktivitas dan hubungan antar berbagai sub unit organisasi. Jadi, struktur organisasi tidak lain adalah kerangka kerjasama yang berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan kerja. Melalui struktur organisasi, orang/anggota organisasi dapat mengetahui tugas dan peranan masing-masing, yaitu apa yang harus dilaksanakan, siapa yang harus melaksanakan, siapa yang harus bertanggung jawab, kepada siapa pertanggungjawaban disampaikan, dll. sesuai dengan status (kedudukannya). Kedudukan di sini
54

akan terlihat jelas, yaitu sebagai pimpinan, pembantu pimpinan, dan pelaksana, atau dengan kata lain ada yang disebut pemimpin, pembantu pemimpin, dan ada yang disebut bawahan. Dengan struktur organisasi orang bisa menggambarkan kedudukan dan peranan setiap anggota dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan organisasi. Sebagaimana telah dikemukakan dalam bab sebelumnya (Bab I) tentang bentukbentuk atau tipe-tipe organisasi, maka struktur organisasi pun bermacam-macam, yaitu : Struktur lini (garis/Jalur), struktur garis dan staf, struktur fungsional, dan struktur matriks (metrics). 1. Struktur Lini. Struktur ini disebut juga struktur garis, jalur, skalar, atau tipe militer. Dalam tipe ini hanya ada satu hubungan langsung yang sifatnya vertikal antara berbagai tingkatan dalam organisasi. Wewenang (authority) dari pimpinan puncak mengalir secara langsung ke bagian-bagian bawahannya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seluruh bagian berkaitan langsung dengan pencapaian tujuan organisasi. Atasan pada suatu bagian tidak berwenang memerintah bagian lain. Setiap bawahan hanya memiliki satu orang atasan langsung. Tugas dan tanggung jawabnya dilaksanakan dengan pasti. Wewenang dari atasan dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi di bawahnya dalam semua bidang pekerjaan, baik pekerjaan pokok maupun pekerjaan bantuan. 2. Struktur Lini dan Staf. Struktur dengan tipe ini mempunyai hubungan langsung, vertikal antara berbagai tingkat, tanggung jawab khusus untuk memberikan bantuan, dan saran kepada pimpinan lini. Wewenang dari atasan dilimpahkan kepada satuan organisasi di bawahnya dalam suatu bidang pekerjaan pokok maupun tambahan, dan di bawah pimpinan diangkat pejabat pembantu pimpinan (staf) yang tidak memiliki wewenang komando, melainkan hanya nasihat, saran, pertimbangan, dan bantuan dalam bidang keahlian tertentu.

55

3. Struktur Fungsional. Struktur ini merupakan modifikasi dari struktur lini dan staf, di mana staf bagian diberi wewenang dan kepercayaan dalam bidang-bidang khusus atau pekerjaan tertentu. Untuk pekerjaan tertentu ini (staf) sering diangkat seorang atau beberapa orang pakar/ahli atau spesialis. Pimpinan berhak memerintah kepada semua bawahannya (pimpinan unit, pelaksana, dan staf) yang ada agar mengikuti bidang kerjanya. Seorang spesialis diberi kewenangan fungsional antara lain member

perintah atas nama pimpinan dalam menetapkan sesuatu di bidangnya. 4. Struktur Matrik. Struktur ini bersifat permanen (tetap) dan didesain untuk mencapai tujuan khusus dengan menggunakan tim spesialis dari berbagai fungsi dalam organisasi. Struktur ini digunakan dalam hal-hal yang khusus yang memiliki berbagai keahlian untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam waktu yang relatif singkat, sehingga organisasi tidak diam (stagnan). Jadi, ciri utama struktur ini adalah kedinamikaan, sehingga setiap unit organisasinya berfungsi dengan dinamis.

C. ORGANISASI PENDIDIKAN INDONESIA Organisasi pendidikan Indonesia adalah organisasi penyelenggara pemerintahan di sektor pendidikan, yaitu departemen (sekarang kementerian), dinas, termasuk persekolahan. Pengorganisasian pendidikan ini berpedoman pada Pancasila, UUD 1945, dan Undang-Undang yang mengatur tentang pendidikan (sekarang UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional) dan aturan-aturan pelaksanaannya, seperti Peraturan Pemerintah di sektor pendidikan dan kebudayaan, Peraturan/Keputusan Presiden, Peraturan/Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Keputusan/Surat Edaran Dirjen di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dst. Asas-asas atau prinsip-prinsip pengorganisasian dikemukakan oleh para ahli di antaranya Henri Fayol, James D. Money, Joseph L. Massie, Malayu Hasibuan, Sutarto, dll. namun untuk pengorganisasian pendidikan itu mengacu pada asas-asas atau prinsip pengorganisasian kelembagaan aparatur pemerintah yang dibuat oleh Lembaga
56

Administrasi Negara (LAN), dengan tujuan agar tugas pokok dan fungsi aparatur pemerintah dimaksud tercapai dengan baik. Asas-asas atau prinsip pengorganisasian dimaksud adalah : 1. Asas Pembagian Tugas. Asas ini menentukan agar organisasi aparatur pemerintah merumuskan bagi setiap anggotanya tugas yang jelas untuk menghindari duplikasi, benturan, dan kekaburan. Dalam pemerintahan hendaknya tidak ada satu pun aktivitas yang tidak ditangani oleh kelembagaan pemerintah (pembagian habis tugas). 2. Asas Fungsionalisasi. Asas ini menekankan perlunya tanggung jawab secara fungsional, dan mekanisme koordinasi antar instansi/lembaga/satuan kerja yang secara fungsional bertanggung jawab melakukan tugasnya. 3. Asas Koordinasi. Asas ini menekankan peningkatan kewajiban koordinasi yang mantap dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan. 4. Asas Keseimbangan. Asas ini mengharuskan adanya institusionalisasi dalam pelaksanaan, dalam arti, bahwa tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan harus berjalan secara terus-menerus dengan dengan kebijakan dan program yang telah ditetapkan, tanpa bergantung pada diri pejabat/pegawai bersangkutan. 5. Asas Keluwesan (Fleksibilitas). Asas ini menghendaki agar selalu mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan keadaan, sehingga dapat dihindari kekakuan dalam pelaksanaan tugasnya. 6. Asas Akordeon. Asas ini menekankan bahwa organisasi dapat berkembang atau mengecil sesuai dengan tuntutan tugas dan beban kerjanya. Prinsip yang ideal adalah miskin struktur
57

kaya fungsi. 7. Asas Pendelegasian Wewenang. Asas ini menentukan tugas-tugas yang perlu didelegasikan, dan tugas-tugas yang tetap dipegang oleh pimpinan (yang tidak boleh didelegasikan). 8. Asas Rentang Kendali. Asas ini dimaksudkan agar dalam menentukan jumlah satuan organisasi atau orang yang dibawahi oleh seorang pejabat pimpinan diperhitungkan secara rasional, mengingat terbatasnya kemampuan seorang pimpinan/atasan dalam pengendalian bawahannya. Di sini ada hukum Graicunas, yaitu seberapa orang setiap pemimpin dapat mengendalikan bawahannya. 9. Asas Jalur/Garis dan Staf. Asas ini menekankan bahwa dalam penyusunan organisasi perlu dibedakan antara satuan-satuan yang melakukan tugas pokok instansi/lembaga, dengan satuansatuan yang melakukan tugas bantuan atau penunjang. 10. Asas Kejelasan dan Pembaganan. Asas ini mengharuskan setiap organisasi pemerintah menggambarkan susunan organisasinya dalam bentuk bagan. Berdasarkan asas-asas pengorganisasian tersebut di atas, maka pola susunan organisasi pemerintah diatur organisasi lini dan staf, yaitu adanya unsur pimpinan, pembantu pimpinan, dan pelaksana. Demikianlah, maka di lingkungan kementerian (departemen) Pendidikan dan Kebudayaan pun ada unsur pimpinan, yaitu Menteri, unsur pembantu pimpinan, yaitu Sekretaris Jenderal, dan unsur pelaksanana, yaitu Direktur Jenderal, ditambah unsur pengawasan, yaitu Inspektur Jenderal, badan/pusat (lembaga teknis), staf ahli, dst. Untuk lebih jelasnya, pengaturan tentang pengorganisasian lembaga pemerintah ini awalnya ditetapkan dalam Keppres No. 44 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Organisasi Departemen, dan Keppres No. 45 tentang Susunan Organisasi Departemen,
58

yang kemudian disempurnakan dengan Keppres No. 15 Tahun 1984, kemudian dengan Kepres No. 76 Tahun 1985, dan Keppres No. 12 Tahun 1986. Di era pemerintahan orde reformasi sekarang ini, juga telah berubah lagi. Akan tetapi, kalau mengacu pada organisasi lini dan staf, maka intinya tetap, yaitu : 1. Menteri, sebagai unsur pimpinan kementerian (departemen), sekaligus pembantu Presiden dalam bidang yang menjadi tugas kewajibannya. 2. Sekretaris Jenderal, sebagai unsur pembantu pimpinan, berada langsung di bawah Menteri dan memimpin Sekretariat Jenderal. 3. Inspektorat Jenderal, sebagai unsur pengawasan, berada langsung di bawah Menteri dan memimpin Inspektorat Jenderal. 4. Direktur Jenderal, sebagai unsur pelaksana dari sebagian tugas pokok kementerian (departemen), berada langsung di bawah Menteri dan memimpin Direktorat Jenderal. 5. Organisasi lain dan staf ahli, terdiri atas : a. Badan atau Pusat, yang dapat dibentuk oleh Presiden sebagai pelaksanaan tugas tertentu, karena sifatnya tidak tercakup baik oleh unsur pembantu pimpinan, unsur pelaksana, maupun unsur pengawasan. b. Staf Ahli. 6. Instansi Vertikal, sebagai penyelenggara tugas pokok dan fungsi kementerian di wilayah pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Catatan : Sekarang ini, dengan telah berlaku/berjalannya otonomi daerah dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak ada lagi instansi vertikalnya di daerah, karena semuanya sudah menjadi bagian dari tugas pokok dan fungsi pemerintah daerah, yang ditangani oleh Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Nomenklaturnya pun jadi beragam karena ada fungsi lain yang keluar (kebudayaan) ke pariwisata, misalnya ada Dinas Pendidikan, dan Dinas Pendidikan Nasional. Di beberapa provinsi dan kabupaten/kota, fungsi kebudayaan masuk ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Sekarang ini di Pusat, fungsi kebudayaan ini kembali masuk ke kementerian pendidikan, sehingga menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sementara Kementerian Kebudayaan
59

dan Pariwisata berubah menjadi Kementeri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kedudukan dan fungsi kementerian (departemen) adalah : 1. Kementerian berkedudukan sebagai bagian pemerintahan negara dipimpin oleh seorang menteri yang bertanggung jawab kepada Presiden. 2. Tugas pokok kementerian adalah menyelenggarakan sebagian dari tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang masing-masing. 3. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut kementerian menyelenggarakan fungsifungsi : a. Kegiatan perumusan kebijakan pelaksanaan, kewajiban teknis, pemberian bimbingan, pembinaan serta pemberian perizinan, sesuai dengan kebijakan umum yang telah ditetapkan oleh Presiden berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku; b. Pengelolaan atas milik negara yang menjadi tanggung jawabnya; c. Pelaksanaan sesuai dengan tugas pembangunan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku; d. Pengawasan atas pelaksanaan tugas pokoknya sesuai dengan kebijakan umum yang telah ditetapkan oleh Presiden berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. Adapun susunan organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 1 Tahun 2012 adalah : 1. Menteri Pendidikan Nasional. 2. Wakil Menteri Pendidikan Nasional. 3. Sekretariat Jenderal. 4. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal. 5. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar. 6. Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah. 7. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 8. Inspektorat Jenderal. 9. Badan Penelitian dan Pengembangan.
60

10. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 11. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan, Kebudayaan, dan Penjaminan Mutu Pendidikan. 12. Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan. 13. Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat. 14. Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 15. Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. 16. Staf Ahli Bidang Hukum. 17. Staf Ahli Bidang Sosial dan Ekonomi Pendidikan. 18. Staf Ahli Bidang Kerjasama Internasional. 19. Staf Ahli Bidang Organisasi dan Manajemen. 20. Staf Ahli Bidang Budaya dan Psikologi Pendidikan. Adapun susunan organisasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 21 Tahun 2008, adalah sebagai berikut : 1. Kepala Dinas. 2. Sekretariat, membawahkan : a. Sub Bagian Perencanaan dan Program; b. Sub Bagian Keuangan; c. Sub Bagian Kepegawaian dan Umum. 3. Bidang Pendidikan Dasar, membawahkan : a. Seksi Pembinaan TK dan SD; b. Seksi Pembinaan SMP; c. Seksi Pembinaan Sekolah Standar Nasional dan Sekolah Bertaraf Internasional. 4. Bidang Pendidikan Menengah dan Tinggi, membawahkan : a. Seksi Pembinaan SMA; b. Seksi Pembinaan SMK; c. Seksi Pembinaan Sekolah Standar Nasional, Sekolah Bertaraf Internasional, dan Kerjasama Pendidikan Tinggi. 5. Bidang Pendidikan Luar Biasa, membawahkan : a. Seksi Kurikulum Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus;
61

b. Seksi Alat Bantu Media Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus; c. Seksi Bina Promosi Kompetensi Siswa. 6. Bidang Pendidikan Nonformal dan Informal, membawahkan : a. Seksi Pendidikan Anak Usia Dini; b. Seksi Kesetaraan dan Pendidikan Masyarakat; c. Seksi Kursus dan Kelembagaan. Sementara itu organisasi dan tata kerja Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Cianjur No. 07 Tahun 2008, unsur-unsurnya adalah sebagai berikut : 1. Unsur Pimpinan, adalah Kepala Dinas. 2. Unsur Pembantu Pimpinan, adalah Sekretaris. 3. Unsur Pelaksana, adalah Kepala Bidang, Sub Bagian, Seksi, UPTD, dan Kelompok Jabatan Fungsional. Adapun susunan organisasi Dinas Pendidikan dimaksud selengkapnya adalah : 1. Kepala Dinas. 2. Sekretariat, membawahkan : a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian; b. Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan; c. Sub Bagian Penyusunan Program. 3. Bidang Bina Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar, membawahkan : a. Seksi Kurikulum dan Peningkatan Mutu Pendidik/Tenaga Kependidikan TK/SD; b. Seksi Kesiswaan TK/SD; c. Seksi Sarana dan Prasarana TK/SD. 4. Bidang Bina Sekolah Menengah Pertama, membawahkan : a. Seksi Kurikulum dan Peningkatan Mutu Pendidik/Tenaga Kependidikan SMP; b. Seksi Kesiswaan SMP; c. Seksi Sarana dan Prasarana SMP. 5. Bidang Bina Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan, membawahkan : a. Seksi Kurikulum dan Peningkatan Mutu Pendidik/Tenaga Kependidikan SMA/K; b. Seksi Kesiswaan SMA/K;
62

c. Seksi Sarana dan Prasarana SMA/K. 6. Bidang Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga, membawahkan : a. Seksi Pendidikan Masyarakat, Kelembagaan, dan Kursus; b. Seksi Pembinaan Pemuda dan Olah Raga; c. Seksi Pembinaan Anak Usia Dini dan Kesetaraan. 7. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD). 8. Kelompok Jabatan Funsional. Catatan : Organisasi dan tatakerja Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota dibentuk berdasarkan adanya penyerahan urusan pemerintahan dari pemerintah pusat (desentralisasi atau otonomi daerah), dan pembentukannya biasanya konkordan atau menyesuaikan dengan kelembagaan (departementasi/kementerian) di pusat. Karena di pemerintahan pusat pada Kabinet Indonesia Bersatu I dan II (KIB I/II pemerintahan SBY), urusan kebudayaan dialihkan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menjadi bagian dari tugas pokok dan fungsi di Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, maka umumnya di Dinas Pendidikan yang dibentuk di daerah pun urusan kebudayaan dipindahkan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Tatkala baru-baru ini di pemerintahan pusat (KIB II) terjadi perubahan kembali susunan departemen dengan nomenklaturnya kementerian, antara lain Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), kemudian Departemen Pariwisata dan Kebudayaan (Depparbud) menjadi Kementerian

Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparek), di daerah tidak sertamerta berubah, sebab prosesnya membutuhkan waktu serta harus di-perda-kan terlebih dahulu. Untuk itu perlu ada instruksi dari pemerintah pusat berupa Perubahan atau Penggantian PP No. 41 Tahun 2001 tentang Organisasi Perangkat Daerah sebagai payung hukumnya, serta petunjuk teknis dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Karena perubahan atau penggantian PP tersebut di atas dan juknisnya belum ada, maka sampai dengan sekarang (waktu tulisan ini dibuat pertengahan Juni 2012), urusan kebudayaan masih berada di lingkungan Dinas Pariwisata dan Kabudayaan. Organisasi pendidikan berikutnya adalah sekolah, yaitu institusi (lembaga) pendidikan sebagai suatu sarana dalam rangka melaksanakan pelayanan belajar dan
63

proses pendidikan. Dalam hal ini sekolah tidak hanya dimaknai sebagai tempat berkumpulnya guru dan murid (peserta didik), melainkan sebagai suatu sistem yang sangat kompleks dan dinamis. Mengingat kompleksitas sekolah ini, maka pembahasan mengenai organisasi sekolah dibuat tersendiri, di bawah ini.

D. SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI 1. Pengertian Sekolah. Untuk menjelaskan pengertian sekolah, dalam Syaiful Sagala (2007:70-71) dikemukakan pendapat para ahli, di antaranya : a. Hadari Nawawi (1082): Sekolah tidak boleh diartikan hanya sebuah ruangan atau gedung saja, tempat anak berkumpul dan mempelajari sejumlah materi pengetahuan, tetapi sebagai institusi yang peranannya jauh lebih luas daripada itu. Sekolah sebagai lembaga pendidikan terikat akan norma dan budaya yang mendukungnya sebagai suatu sistem nilai; b. Postman dan Weingartner (1973) : "School as institution is the specific set of essential function is serves in our society. (Sekolah sebagai lembaga yang spesifik dari seperangkat fungsi-fungsi yang mendasar dalam melayani masyarakat); c. Reimer (1987) : Sekolah adalah lembaga yang menghendaki kehadiran penuh kelompokkelompok umur tertentu dalam ruang-ruang kelas yang dipimpin guru untuk mempelajari kurikulum-kurikulum yang bertingkat; d. Nanang Fatah (2003) : Sekolah merupakan wadah tempat proses pendidikan, memiliki sistem yang kompleks dan dinamis. Dalam kegiatannya, sekolah adalah tempat yang bukan hanya tempat berkumpul guru dan murid, melainkan berada dalam suatu tatanan sistem yang rumit dan saling berkaitan; e. Gorton (1976) : Sekolah adalah suatu sistem organisasi, di mana terdapat sejumlah orang yang
64

bekerjasama dalam rangka mencapai tujuan sekolah, yang dikenal sebagai tujuan instruksional. Demikianlah, maka sekolah sebagai organisasi yang di dalamnya terjadi proses pembelajaran (belajar-mengajar), terdapat sekelompok orang yang melakukan hubungan kerjasama, yaitu : a. Kepala sekolah; b. Kelompok guru dan tenaga fungsional lain; c. Kelompok tenaga administrasi atau staf tata usaha; d. Kelompok siswa atau peserta didik; e. Kelompok orang tua/wali siswa. Dari hubungan kerjasama mereka, menurut Wahjosumidjo (1999:134-135) dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori : a. Seorang atau mereka yang bertanggung jawab atau diberi tugas untuk memimpin, dalam hal ini adalah kepala sekolah; b. Sekelompok orang yang berkepentingan untuk mengajar atau memberikan pelajaran, atau tugas-tugas pendidikan yang lain, dalam hal ini mereka adalah guru dan tenaga fungsional lainnya; c. Sekelompok atau orang tua/wali siswa yang bergabung dalam suatu organisasi di sekolah yang diharapkan membantu kepala sekolah dalam mendukung tercapainya proses belajar-mengajar. Dahulu namanya Persatuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG), kemudian berubah menjadi Persatuan Orangtua Murid (POM), dan sekarang menjadi Komite Sekolah; d. Kelompok para siswa/peserta didik, yaitu mereka yang menerima pelajaran. Mereka pun diikat oleh Organisasi Intra Sekolah (OSIS). Hubungan kerjasama dalam kehidupan sekolah dapat dibedakan dalam hubungan kekuasaan dan hubungan koordinasi. Hubungan kekuasaan terjadi

antara kepala sekolah sebagai pemimpin dan penanggung jawab penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, dengan kelompok guru, tenaga administratif, orang tua/wali siswa, dan para siswa. Sedangkan hubungan koordinatif adalah hubungan

65

antarsesama guru, antarsesama staf administratif, antarsesama siswa, dan antarsesama orang tua/wali, dsb.

2. Tugas Pokok dan Fungsi Sekolah. Tugas pokok sekolah adalah membentuk kepribadian anak (peserta didik) menjadi manusia dewasa dari sudut usia dan intelektualnya, serta terampil dan bertanggung jawab sebagai upaya mempersiapkan generasi pengganti yang mampu mempertahankan eksistensi kelompok atau masyarakat bangsanya dengan budaya yang mendukungnya. (Syaiful Sagala, 2007:75). Sekolah mempunyai fungsi sosial yang penting dalam bentuk dan kombinasi tertentu, yaitu sebagai pencipta realita sosial peserta didik, sekaligus menciptakan kinerja yang berkualitas bagi guru-guru di sekolah. Dengan demikian tugas pokok dan fungsi sekolah adalah meneruskan,

mempertahankan, dan mengembangkan kebudayaan masyarakat melalui pembentukan kepribadian peserta didik dengan memberikan ilmu pengetahuan (kognitif), keterampilan teknis tertentu (psikomotor), dan penanaman nilai-nilai yang mendukungnya berupa sikap perilaku (afektif).

3. Komponen Organisasi Sekolah. Idealnya komponen organisasi sekolah meliputi : a. Kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin pendidikan; b. Wakil kepala sekolah sebagai pendukung kepemimpinan kepala sekolah; c. Guru sebagai penanggung jawab proses pembelajaran; d. Konselor sebagai pendukung kualitas belajar siswa/peserta didik; e. Tenaga ekependidikan lain sebagai perencana pendidikan/sekolah bertanggung jawab menyediakan informasi kebijakan pendidikan; f. Tenaga ahli kurikulum sebagai pelayan manajemen kurikulum; g. Supervisor yang melaksanakan supervisi pengajaran di sekolah.

4. Sekolah Sebagai Birokrasi.


Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi untuk mencapai tugas-tugas administratif yang besar dengan cara mengkoordinasi secara sistematis pekerjaan dari orang
66

banyak (Wahyudi Kumorotomo, 1992:74). Kata birokrasi juga bermakna suatu metode organisasi yang rasional dan efisien (David Osborne dan Ted Gaebler, 1999:14). Birokrasi sebagai salah satu sistem pemerintahan di dalamnya ditandai dengan adanya berbagai indikasi, seperti kedudukan yang bersifat hierarkis, hubungan otoritas, fungsi-fungsi khusus, peraturan perundang-undangan, pengelolaan, tugas-tugas, dan interaksi dengan lingkungan yang mendukung. Berdasarkan indikasi tersebut di atas, maka sekolah sebagai organisasi juga mempunyai karakteristik birokrasi, antara lain : a. Di dalamnya terhimpun kelompok-kelompok manusia yang masing-masing, baik secara individu maupun kelompok melakukan hubungan kerjasama untuk mencapai tujuan. Kelompok-kelompok ini tidak lain merupakan sumber daya

manusia yang terdiri dari : 1) Kepala sekolah; 2) Guru-guru; 3) Tenaga administrasi/tata usaha; 4) Murid/peserta didik; 5) Orang tua/wali murid. b. Tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan, tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai penjabaran lebih lanjut dari salah satu tugas/misi negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian dijabarkan lebih

lanjut dalam tujuan instansional, tujuan sekolah (satuan pendidikan), tujuan kurikulum, dsb. c. Ada pembagian tugas untuk mendukung agar proses interaksi antar manusia dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, yaitu : 1) Kepala sekolah memimpin pengelolaan sekolah; 2) Guru bidang studi (mata pelajaran, pembimbing, piket/jaga); 3) Administratif/ketatausahaan seperti keuangan, kepegawaian, perlengkapan, dll. d. Ada serangkaian peraturan sebagai pedoman dalam proses interaksi, sehingga dapat berjalan teratur, terencana, berkelanjutan, lancar, tertib, dan terkoordi67

nasi. Terdapat tingkat-tingkat peraturan, dari mulai Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan/Keputusan Menteri, Keputusan/Edaran Dirjen di lingkungan Kemendikbud, Peraturan/Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota, Keputusan Kepala Dinas, sampai dengan peraturan operasional di sekolah. Contoh peraturan yang berkaitan dengan pelajaran : 1) Program, yang meliputi : Pengelompokan program, lama pendidikan, susunan program kurikulum; 2) Pelaksanaan program, yang meliputi : Kegiatan pengajaran, pendekatan dan strategi belajar-mengajar, dan pola penyelenggaraan; 3) Penilaian, yang mencakup : Kegiatan dan kemajuan belajar, hasil belajar. Contoh peraturan yang mengatur unsur penunjang tercapainya proses belajarmengajar : 1) Penggunaan sarana dan fasilitas sekolah; 2) Pengaturan waktu masuk, belajar, istirahat, pulang; 3) Pembinaan personil, dll. e. Hubungan struktural atau hierarkis yang berisi tugas, wewenang, dan tanggung jawab tertentu. Konsekuensi dari hubungan ini adalah adanya pemimpin (kepala sekolah) yang mempunyai wewenang untuk memberi arahan dan perintah, dan yang dipimpin atau bawahan (guru, tenaga fungsional, staf administratif, murid, orang tua/wali murid) yang diperintah untuk mengerjakan tugas pokok dan fungsi atau memenuhi kewajibannya sesuai dengan kedudukan masing-masing baik secara individual mapun kelompok. Dalam hal ini kedudukan kepala sekolah sebagai birokrasi atau pemimpin formal bersifat legitimatif, karena pengangkatannya dikukuhkan dengan keputusan pejabat berwenang sehingga

mempunyai kekuatan hukum. Tetapi yang perlu diketahui dalam peraturan perundang-undangan bidang kepegawaian, jabatan resmi kepala sekolah adalah tugas tambahan dari kedudukannya sebagai pejabat fungsional pendidik (guru) bukan pejabat struktural seperti di lingkungan dinas pendidikan. Jadi, yang dimaksud hubungan struktural/hierarkis antara kepala sekolah dengan guru, tenaga fungsional, staf administrasi, murid, dll. adalah hubungan atasan-

68

bawahan sekolah.

dalam proses penyelenggaraan pembelajaran dan pendidikan di

f. Sebagai suatu birokrasi, interaksi kerjasama dalam mencapai tujuan, terikat oleh suatu sistem komunikasi tertentu. Artinya, dalam hubungan kerjasama antarmanusia dalam organisasi diatur melalui suatu prosedur tertentu yang disebut tata kerja atau mekanisme kerja. Demikian halnya sistem komunikasi di sekolah yang melibatkan berbagai pihak (guru, tenaga fungsional, staf administrasi, murid, orang tua/wali). Wujud yang perlu dikomunikasikan di antaranya kepada siapa, oleh siapa, materi apa, kapan, di mana, dll. tidak terjadi begitu saja. Di sekolah juga ada sistem insentif tertentu (gaji, sarana/fasilitas yang mendukung, penghargaan, kesejahteraan, suasana kerja yang kondusif, dll,) untuk merangsang atau membangkitkan semangat kerja dalam rangka mencapai tujuan. 5. Sekolah sebagai Sistem Sosial. Sebagai suatu sistem sosial, sekolah merupakan organisasi yang dinamis dan berkomunikasi secara aktif. Di dalamnya melibatkan dua orang atau lebih yang saling berkomunikasi dalam rangka mencapai tujuan. Membicarakan sekolah sebagai sistem sosial di dalamnya terdapat dimensi-dimensi, semangat, serta konflik. Konsep dasar sistem sosial dari Parson (1951) yang dalam administrasi pendidikan dikembangkan oleh Getzel, Guba, Lipham, dan Compbell (1968) melalui suatu model perilaku sistem sosial. Berdasarkan model tersebut memberikan

petunjuk bahwa suatu organisasi, termasuk sekolah di dalamnya terdapat beberapa dimensi : a. Sederetan unsur yang terdiri dari : Institusi, peran dan harapan-harapan, yang secara bersama membentuk dimensi normatif atau sosiologis; b. Sederetan unsur yang mencakup : Individu, kepribadian, dan keperluan watak (need dispositions), yang secara bersama melahirkan dimensi kepribadian atau psikologis; c. Perilaku sosial sebagai hasil interaksi antara faktor institusi dengan unsur-unsur di dalamnya dengan faktor individu beserta unsur-unsurnya.

69

6. Bagan Struktur Organisasi Sekolah. Di bawah ini digambarkan contoh bagan struktur organisasi sekolah, yaitu SMA Negeri dan SMA Swasta. Adapun yang lain-lainnya konkordan, atau sesuai dengan kebutuhan.

SMA NEGERI :

KEPALA SEKOLAH

KOMITE SEKOLAH WAKIL KEPALA SEKOLAH

TATA USAHA SEKOLAH

KOORDINATOR GURU MATA PELAJARAN (MGMP PKn)

KOORDINATOR GURU MATA PELAJARAN (MGMP Agama)

KOORDINATOR GURU MATA PELAJARAN (MGMP dst.)

WALI KELAS, GURU MATA PELAJARAN, GURU BP/BK, DAN TENAGA KEPENDIDIKAN LAINNYA

PESERTA DIDIK

70

SMA SWASTA :

YAYASAN PENDIDIKAN

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN/KOTA KEPALA SEKOLAH

TATA USAHA

WAKASEK KEPESERTADIDIKAN

WAKASEK KURIKULUM

WAKASEK SARPRAS

BIMBINGAN DAN KONSELING

WALI KELAS

GURU-GURU

TENAGA KEPENDIDIKAN LAIN

PESERTA DIDIK (SISWA-SISWI) Kelas I ABCDEFGH Kelas II ABCDEFGH Kelas III ABCDEFGH

71

BAB VI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN Kepemimpinan sebagai salah satu fungsi manajemen sangatlah penting. Menurut S.P. Siagian, kepemimpinan (leadership) merupakan inti daripada manajemen, karena pemimpin adalah motor atau daya penggerak daripada semua sumber dan alat-alat (resources) yang tersedia bagi suatu organisasi. Terdapat dua golongan besar resources, yaitu human resource (man = sumber daya manusia), dan non human resources (money, materials, machines, method, market). Kepemimpinan ini sangat penting mengingat sukses atau gagalnya suatu organisasi sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh orang-orang yang diserahi tugas memimpin organisasi itu. Menurut S.P. Siagian (1996:36), pemimpin ialah setiap orang yang mempunyai bawahan. Sukses tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya tergantung dari cara-cara memimpin yang dipraktekkan oleh orang-orang atasan itu. Kesuksesan dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya dimaksud tidak semata ditentukan oleh tingkat keterampilan teknis (technical skill) yang dimilikinya, tetapi lebih pada keahliannya menggerakkan orang lain untuk bekerja dengan baik (managerial skill). Definisi kepemimpinan menurut G.R. Terry dan Leslie W. Rue (2005:192) adalah kemampuan seseorang atau pemimpin untuk mempengaruhi perilaku orang lain menurut keinginan-keinginannya dalam suatu keadaan tertentu. Sementara itu menurut Mardjiin Sjam (1966:11), kepemimpinan adalah keseluruhan tindakan guna mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan. Berdasarkan pengertian kepemimpinan tersebu di atas, maka kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan menggerakkan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Yang harus diberi arahan dan digerakkan
72

adalah semua unsur yang terlibat dalam bidang atau sektor pendidikan, terutama orang-orangnya.

B. FUNGSI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN Menurut Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto (1988:4), fungsi kepemimpinan pendidikan itu terbagi atas dua bagian, yaitu : 1. Fungsi yang bertalian dengan tujuan yang hendak dicapai. 2. Fungsi yang bertalian dengan penciptaan suasana kerja yang sehat dan menyenangkan sambil memeliharanya. 1. Fungsi yang bertalian dengan tujuan yang hendak dicapai : a. Berpikir dan merumuskan dengan teliti tujuan kelompok serta menjelaskan agar para anggota selalu dapat menyadari pentingnya kerjasama dalam upaya mencapai tujuan; b. Memberi dorongan kepada para anggota kelompok serta menjelaskan situasi dengan maksud untuk menemukan rencana-rencana kegiatan kepemimpinan yang dapat memberi harapan baik; c. Membantu para anggota kelompok dalam mengumpulkan keteranganketerangan yang diperlukan agar dapat mengadakan pertimbangan-

pertimbangan yang sehat; d. Memanfaatkan kesanggupan dan minat khusus dari anggota kelompok; e. Memberi dorongan kepada setiap anggota kelompok untuk berpikir dan berperan dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi; f. Memberi kepercayaan dan menyerahkan tanggung jawab kepada anggota kelompok dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan kemampuan masingmasing demi kepentingan bersama. 2. Fungsi yang bertalian dengan penciptaan suasara kerja yang sehat : a. Memupuk dan memelihara kesediaan kerjasama di dalam kelompok demi tercapainya tujuan bersama; b. Menanamkan dan memupuk rasa persatuan karena mereka merupakan bagian
73

dari kelompok sehingga memiliki jiwa dan semangat kebersamaan. Berikan penghargaan atas usaha-usaha mereka dengan ramah dan suasana gembira/ menyenangkan; c. Mengusahakan tempat kerja yang menyenangkan; d. Mamanfaatkan kelebihan-kelebihan yang ada pada pemimpin untuk memberkan kontribusi kepada anggota kelompok dalam rangka mencapai tujuan

bersama. Lain daripada itu pemimpin dapat mengembangkan kesanggupankesanggupan anggota untuk hal yang sama.

C. PENDEKATAN STUDI KEPEMIMPINAN Hampir seluruh penelitian kepemimpinan dapat dikelompokkan ke dalam lima macam pendekatan, yaitu pendekatan pengaruh kewibawaan, pendekatan sifat, pendekatan perilaku, dan pendekatan kontingensi (kemudian berkembang menjadi kepemimpinan situasional) dan pendekatan kewibawaan. (Wahjosumidjo, 1999:19-33). 1. Pendekatan Menurut Pengaruh Kewibawaan (Power Influence Approach). Menurut pendekatan ini, keberhasilan pemimpin dipandang dari segi sumber dan terjadinya sejumlah kewibawaan yang ada pada pemimpin itu, dan dengan cara yang bagaimana pemimpin itu menggunakan kewibawaannya kepada bawahan. Berdasarkan hasil penelitian French dan Raven (Wahjosumidjo, 1999:21), terdapat pengelompokkan sumber dari mana kewibawaan itu berasal, yaitu : a. Reward Power : Bawahan mengerjakan sesuatu agar memperoleh penghargaan yang dimiliki oleh pemimpin; b. Coersive Power : Bawahan mengerjakan sesuatu agar terhindar dari hukuman yang dimiliki oleh pemimpin; c. Legitimate Power : Bawahan melakukan sesuatu karena pemimpin memiliki kekuasaan untuk meminta bawahan, dan bawahan mempunyai kewajiban untuk mematuhinya; d. Expert Power : Bawahan mengerjakan sesuatu karena percaya bahwa pemimpin memiliki pengetahuan khusus dan keahlian tertentu, sehingga mengetahui apa yang diperlukan;
74

e. Referent Power : Bawahan melakukan sesuatu karena merasa kagum terhadap pemimpin, dan membutuhkan restu pemimpin, serta mau berperilaku seperti pemimpin tadi. 2. Pendekatan Sifat (The Trait Approach). Pendekatan ini menekankan pada kualitas pemimpin. Keberhasilan pemimpin ditandai oleh kecakapan luar biasa yang dimilikinya, seperti : a. Penuh energi, tidak kenal lelah; b. Intuisi (naluri) yang tajam; c. Tinjauan ke masa depan yang tidak sempit (visioner); d. Kecakapan meyakinkan yang sangat menarik (irresistible persuasive skill). Berdasarkan pendekatan ini, terdapat tiga macam sifat pribadi pemimpin : a. Ciri-ciri fisik (physical characteristics), seperti tinggi badan, penampilan, energik; b. Kepribadian (personality), seperti menjunjung tinggi harga diri (self esteem), berpengaruh (dominant), dan stabilitas emosional (emotional stability); c. Kemampuan/kecakapan (ability), seperti kecerdasan umum (general intellegence), lancar berbicara (verbal fluency), keaslian (originality), dan wawasan sosial (social insight). Demikianlah, sifat-sifat pribadi dan keterampilan (skills) seorang pemimpin sangat berperan dalam keberhasilan memimpin. Sifat-sifat dan keterampilan yang menjadi ciri keberhasilan pemimpin dapat digambarkan dalam matriks sebagai berikut : SIFAT-SIFAT PRIBADI - Kemampuan menyesuaikan diri terhadap situasi kondisi - Selalu siap terhadap lingkungan sosial - Berorientasi pada cita-cita keberhasilan - Tegas - Kerjasama
75

KETERAMPILAN - Cerdik

- Konseptual

- Kreatif

- Diplomatis dan taktis - Banyak mengetahui tugas-tugas

- Mampu mengambil keputusan - Berpengaruh/berwibawa - Energik - Gagah/perkasa - Percaya diri - Sabar, tahan uji - Mau bertanggung jawab

kelompok - Kemampuan mengatur - Kemampuan meyakinkan - Kemampuan berkomunikasi

3. Pendekatan Perilaku (The Behavior Approach). Pendekatan ini menekankan pentingnya perilaku yang dapat diamati atau dilakukan oleh pemimpin dari sifat-sifat pribadi atau sumber kewibawaan yang dimilikinya. Perilaku seorang pemimpin digambarkan ke dalam istilah pola aktivitas, peranan manajerial, atau kategori perilaku. Dengan pendekatan perilaku, para ahli mengembangkan teori kepemimpinan perilaku ke dalam berbagai macam klasifikasi, yaitu : a. Teori Dua Faktor (Two Factor Theory), yaitu struktur inisiasi (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Struktur inisiasi (Si) adalah perilaku kepemimpinan yang menggambarkan hubungan kerja dengan bawahan, baik secara pribadi maupun kelompok, serta adanya usaha keras untuk menciptakan polapola organisasi, saluran komunikasi, dan metode, serta prosedur yang ditetapkan dengan baik. Sementara konsiderasi menunjukkan perilaku bersahabat, saling adanya kepercayaan, saling hormat-menghormati, dan hubungan yang hangat di dalam kerjasama antara pemimpin dengan anggota-anggota kelompok. Teori dua faktor ini dapat digambarkan pada hubungan kuadran sebagai berikut :

76

Tinggi

I
+ Si - K + Si +K

II

Rendah

Tinggi

- Si - K

- Si +K

III

IV

Rendah Keterangan : Terdapat empat variabel dimensi perilaku kepemimpinan, yaitu : Kuadran I : Si tinggi, dan K rendah; Kuadran II : Si tinggi, dan dan K tinggi; Kuadran III : Si rendah, dan K rendah; Kuadran IV : Si rendah, dan K tinggi. Secara umum, penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan yang tinggi, dalam struktur inisiasi dan konsiderasi (+Si, +K) yang terletak pada kuadran II, adalah perilaku kepemimpinan yang paling efektif di dalam mencapai hasil organisasi dan perseorangan yang telah direncanakan. Stogdill (1963) dalam Wahjosumidjo (Ibid), mengemukakan bahwa untuk menilai perilaku kepemimpinan ada 12 faktor yang perlu diperhatikan, yaitu : 1) Perwakilan (Representation) : Pemimpin berbicara dan bertindak sebagai wakil kelompok; 2) Tuntutan perdamaian (Reconciliation) : Pemimpin mendamaikan tuntutan konflik dan mengurangi ketidakteraturan dari sistem yang ada;
77

3) Toleran terhadap ketidakpastian (Tolerence of Uncertainty) : Pemimpin mampu memberikan toleransi terhadap ketidakpastian dan penundaan, tanpa kekhawatiran atau gangguan; 4) Keyakinan (Persuasiveness) : Pemimpin mempergunakan persuasi dan organisasi secara efektif, serta memperlihatkan keyakinan yang kuat (conviction); 5) Struktur inisiasi (Inisiation of Structure) : Pemimpin dengan jelas mendefinisikan peranan kepemimpinan dan memberikan kesempatan bawahan mengetahui apa yang diharapkan dari mereka; 6) Tolerasi kebebasan (Tolerence of Freedom) : Pemimpin membiarkan bawahan berkesempatan untuk berinisiatif, terlibat dalam keputusan, dan berbuat; 7) Asumsi peranan (Role Assumption) : Pemimpin secara aktif menggunakan peranan kepemimpinannya daripada menyerahkannya kepada yang lain; 8) Konsiderasi (Concideration) : Pemimpin memperhatikan ketenangan, kesejahteraan, dan kontribusi bawahan; 9) Penekanan pada hal-hal yang produktif (Productive Emphasise) : Pemimpin lebih mementingkan atau menekankan pada hal-hal yang bersifat produktif; 10) Ketepatan yang bersifat prediktif (Predictive Accuracy) : Pemimpin memperlihatkan wawasan ke depan, dan kecakapan untuk memprakirakan hasil yang akan datang secara akurat; 11) Integrasi (Integration) : Pemimpin memelihara secara akrab jaringan (knit) organisasi dan mengatasi konflik antar anggota; 12) Orientasi kepada atasan (Superior Orientation) : Pemimpin memelihara hubungan dengan penuh ramah-tamah dengan para atasan yang mempunyai pengaruh terhadap pemimpin (mereka), dan berjuang untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi. b. Teori Empat Faktor (Four Factor Theory), yaitu usaha untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan yang meliputi dimensi struktural, fasilitatif, suportif, dan partisipatif, yaitu : 1) Kepemimpinan Struktural : - Cepat mengambil tindakan dalam keputusan yang mendesak;
78

- Melaksanakan pendelegasian yang jelas dan menentukan kepada para anggota staf; - Menekankan kepada hasil dan tujuan organisasi; - Mengembangkan suatu pandangan organisasi yang kohesif sebagai dasar pengambilan keputusan; - Memantau penerapan keputusan; - Memperkuat relasi yang positif dengan pemerintah ataupun masyarakat setempat. 2) Kepemimpinan Fasilitatif : - Mengusahakan dan menyediakan sumber-sumber yang diperlukan; - Menetapkan dan memperkuat kembali kebijakan organisasi; - Menekan atau memperkecil kertas kerja yang birokratis; - Memberikan saran atas masalah kerja yang terkait; - Membuat jadwal kegiatan; - Membantu pekerjaan agar dilaksanakan. 3) Kepemimpinan Suportif : - Memberikan dorongan dan penghargaan atas usaha orang lain (bawahan); - Menunjukkan keramahan dan kemampuan untuk melakukan pendekatan; - Mempercayai orang lain dengan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab; - Memberikan ganjaran atas usaha perseorangan; - Meningkatkan moral/semangat staf. 4) Kepemimpinan Partisipatif : - Pendekatan akan berbagai persoalan dengan pikiran terbuka; - Mau dan bersedia memperbaiki posisi-posisi yang telah terbentuk; - Mencari masukan dan nasihat yang menentukan; - Membantu perkembangan kepemimpinan yang posisional dan kepemimpinan yang sedang tumbuh; - Bekerja secara aktif dengan perseorangan atau kelompok; - Melibatkan orang lain secara tepat dalam pengambilan keputusan.

79

4. Pendekatan Kontingensi/Situasional (Contingency Approach). Pendekatan ini menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan dan mencoba untuk mengukur atau memprakirakan ciri-ciri pribadi ini, dan membantu pimpinan dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan pada kombinasi dari kemungkinan yang bersifat kepribadian dan situasional. Model kepemimpinan situasional, 1977, timbul karena model-model lain (model Fiedler, 1974; model Houses Path Goal, 1974; model Vroom-Yetton, 1973 (Wahjosumidjo, Ibid:29), tidak dapat memberikan jawaban terhadap persoalanpersoalan yang muncul dalam kepemimpinan. Model kepemimpinan situasional ini mengandung pokok-pokok pikiran : a. Di mana pemimpin itu berada, dalam melakukan tugasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor situasional, yaitu jenis pekerjaan, lingkungan organisasi, dan karakteristik individu yang terlibat dalam organisasi; b. Perilaku kepemimpinan yang paling efektif adalah yang disesuaikan dengan tingkat kematangan bawahan; c. Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang selalu membantu bawahan dalam mengembangkan dirinya dari tidak matang menjadi matang. Ada tujuh tingkat proses pematangan, yaitu : 1) Pasif aktif. tidak tergantung. banyak cara.

2) Tergantung

3) Mampu melakukan sedikit cara 4) Minat yang dangkal

minat yang matang. pandangan luas.

5) Pandangan jangka pendek 6) Jabatan bawahan 7) Kurang percaya diri

jabatan atas. sadar diri dan terkontrol.

d. Perilaku kepemimpinan cenderung berbeda-beda dari satu situasi ke situasi lain. Karena itu dalam kepemimpinan situasi, penting bagi setiap pemimpin untuk mengadakan diagnosis dengan baik terhadap sitruasi. pemimpin yang baik adalah yang :
80

Menurut teori ini,

1) Mampu mengubah-ubah perilakunya sesuai dengan situasi dan kondisi; 2) Memperlakukan bawahan sesuai dengan tingkat kematangannya yang berbeda-beda. e. Pola perilaku kepemimpinan berbeda-beda sesuai dengan situasi yang ada. Ada perilaku pemimpin yang mengarahkan (direktif), yang selalu memberi petunjuk kepada bawahan, dan ada pula yang cenderung memberikan dukungan (suportif). Perilaku kepemimpinan sebagai proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah dapat diidentifikasikan ke dalam empat macam kategori atau tipe, yaitu : a. Tipe Direktif; b. Tipe Konsultatif; c. Tipe Partisipatif; d. Tipe Delegatif. Dari ke empat tipe ini yang terbaik adalah tipe kepemimpinan yang dapat mengintegrasikan secara maksimal antara produktivitas dan kepuasan, serta partumbuhan dan pengembangan manusia dalam semua situasi. Dalam hal ini yang

terpenting adalah apabila pemimpin dapat menyesuaikan tipe kepemimpinannya dengan situasi yang dihadapi. Pengertian situasi mencakup : Waktu, tuntutan pekerjaan, kemampuan bawahan, para pimpinan, teman sekerja, kemampuan dan harapan bawahan, maupun tujuan organisasi. Sejauh mana seorang pemimpin harus memperhatikan situasi, sangat bergantung pula pada tingkat kematangan bawahan, yaitu : a. Bawahan yang mempunyai tujuan, termasuk pula kemampuan untuk menentukan tugas; b. Bawahan yang mempunyai rasa tanggung jawab, dalam arti, bawahan memiliki kemauan (motivasi) dan kemampuan (kompetensi) untuk menentukan tujuan, dsb. c. Mempunyai pendidikan dan pengalaman; d. Tingkat kematangan yang meliputi :
81

1) Kemampuan dan pengetahuan teknis untuk melaksanakan tugas; 2) Rasa percaya diri sendiri dan harga diri. 5. Pendekatan Kewibawaan (Charismatic Approach). Cara kerja teori ini didasarkan pada dalil dan penemuan penelitian berbagai macam disiplin ilmu sosial. Teori ini membantu mengurangi beberapa misteri yang menyelimuti kepemimpinan karismatik dengan mengadakan identifikasi, yaitu : a. Bagaimana beberapa pemimpin berbeda dari orang-orang lain; b. Bagaimana mereka berperilaku; c. Bagaimana keadaan di bawah kepemimpinan karismatik yang paling mungkin atau banyak terjadi. Ada beberapa indikasi sebagai ciri kepemimpinan karismatik, yaitu : a. Bawahan/pengikut menaruh kepercayaan terhadap kebenaran dan keyakinan pemimpin; b. Ada kesamaan keyakinan bawahan dengan keyakinan pemimpin; c. Penerimaan tanpa perlu dipersoalkan atau bulat-bulat dari bawahan terhadap pemimpin; d. Terdapat rasa kasih sayang (affection) pengikut kepada pemimpin; e. Kemauan untuk patuh dari bawahan terhadap pemimpin; f. Keterlibatan secara emosional dari para bawahan dalam melaksanakan misi organisasi; g. Mempertinggi penampilan dalam melaksanakan tugas para bawahan; h. Ada keyakinan bawahan bahwa pemimpin karismatik akan mampu memberikan bantuan demi keberhasilan misi kelompok/organisasi.

D. PROSES PENGARUH TIMBAL BALIK DALAM KEPEMIMPINAN Inti dari kepemimpinan adalah mempengaruhi orang/pihak lain terutama bawahan. Tanpa bawahan, pemimpin tidak akan ada. Akan tetapi proses pengaruhmempengaruhi antara pemimpin dengan bawahan tidak searah. Pemimpin mempengaruhi bawahan, tetapi bawahan pun dapat mempengaruhi pemimpin.

82

Ada beberapa sumber pengaruh dari para pemimpin dan sumber pengaruh dari bawahan. Sumber pengaruh dari pemimpin adalah kewibawaan atau menurut Amitai Etzione (dalam Wahjosumidjo, 1999:35), mengalir dari position dan personal power, yaitu pengaruh yang bersumber dari kedudukan dan atau kepribadian pemimpin. Sedangkan menurut French dan Raven berasal dari legitimate, coercive, reward, expert, dan referent. Pengaruh bawahan terhadap pemimpin disebut kewibawaan tandingan (counter power) yang akan membantu sebagai pengendali pemakaian kewibawaan pemimpin. Sumber utama kewibawaan tandingan bawahan adalah

ketergantungan pemimpin terhadap bawahan itu sendiri. Ketergantungan ini terjadi dalam berbagai bentuk. Para pemimpin menanamkan pengaruhnya berdasarkan

keahlian, daya tarik dan status yang legalistik. Kewibawaan pemimpin ini bisa lenyap jika pemimpin gagal dalam memberikan kepuasan terhadap harapan bawahan. Sebaliknya kewibawaan tandingan bawahan hanya dapat berperan dengan jelas dan dilaksanakan secara efektif jika : 1. Para bawahan bersatu untuk melakukan tindakan secara bersama-sama (collective), misalnya dengan membentuk serikat, asosiasi, dll. untuk memperbaiki kepentingannya. 2. Para bawahan baik secara perseorangan maupun kelompok mengadakan satu aliansi dengan orang-orang/kelompok yang mempunyai kekuasaan seperti atasan pemimpin, atau dari luar organisasi seperti kelompok lobbying, dll. yang dapat digunakan sebagai alat penekan. 3. Para bawahan memperlihatkan kecakapan khusus dan keahlian dalam menghadapi masalah-masalah yang penting dalam organisasi, yang bisa jadi pemimpin tidak dapat mengerjakannya sendiri. 4. Pada organisasi-organisasi yang mempunyai sifat birokratis yang tinggi pemahaman terhadap peraturan perundang-undangan organisasi oleh bawahan, merupakan tipe lain dari keahlian yang menjadi sumber kewibawaan balasan. 5. Sumber terakhir pengaruh bawahan adalah unjuk rasa/demonstrasi yang telah mendapat restu dan kesetiaan orang-orang yang mempunyai kewibawaan.

83

Menurut James A. Lee, kewibawaan tandingan bawahan dibedakan dalam tiga kategori, yaitu : 1. Kewibawaan Kolektif (Collective Power), karena bawahan mempunyai kedudukan atau peranan di dalam berbagai organisasi (asosiasi, partai, dll.) di luar tempat kerja bawahan tersebut. 2. Kewibawaan Legal (Legal Power), karena ada kesepakatan atau pengaturan antarpemimpin dengan bawahan, seperti jam kerja, gaji, hak cuti, agama, persyaratan kerja, kesepakatan, keamanan, dsb. 3. Kewibawaan Kekayaan/Kemakmuran (Affluence Power), yang tampak pada berbagai gejala atau kecenderungan dari perilaku bawahan, seperti menentang perubahan, meninggalkan pekerjaan, tidak masuk kerja, kelambatan, ancaman, melanggar peraturan dan kebijakan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini pemimpin sulit mengatasinya.

E. SYARAT-SYARAT KEPEMIMPINAN Menurut Kartini Kartono (1998:31), konsepsi mengenai persyaratan kepemimpinan itu harus selalu dikaitkan dengan tiga hal penting, yaitu kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan. 1. Kekuasaan, ialah kekuatan, otoritas dan legalitas yang memberikan wewenang kepada pemimpin guna mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu. 2. Kewibawaan, ialah kelebihan, keunggulan, keutamaan, sehingga orang mampu mbawani atau mengatur orang lain, sehingga orang tersebut patuh pada pemimpin, dan bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. 3. Kemampuan, ialah segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan/ keterampilan teknis maupun sosial, yang dianggap melebihi dari kemampuan anggota biasa. Sementara itu menurut Stogdill dalam bukunya Personal Factor Associated with Leadership yang dikutip oleh James A. Lee dalam bukunya Management Theories

84

and Prescriptions (Kartini Kartono, ibid) menyatakan bahwa pemimpin itu harus memiliki beberapa kelebihan, yaitu : 1. Kapasitas : Kecerdasan, kewaspadaan, kemampuan berbicara (verbal facility), keaslian, kemampuan menilai. 2. Prestasi/achievement : Gelar kesarjanaan, ilmu pengetahuan, perolehan dalam olah raga, dan atletik, dll. 3. Tanggung jawab : Mandiri, berprakarsa, tekun, ulet, percaya diri, agresif, dan punya hasrat untuk unggul. 4. Partisipasi : Aktif, memiliki sosiabilitas tinggi, mampu bergaul, kooperatif, atau suka bekerjasama, mudah menyesuaikan diri, punya rasa humor. 5. Status : Mempunyai kedudukan sosial-ekonomi yang cukup tinggi, populer, tenar.

F. TIPE KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN Mengenai tipe-tipe kepemimpinan banyak para ahli yang berbeda pendapat. Menurut Koontz, bagaimana pemimpin itu menggunakan kekuasaanya, ditemukan tiga buah tipe dasar, yakni autocratic, democratic atau participative, dan free rein atau laissez faire. 1. Tipe Otokratik (Autocratic). Pemimpin tipe ini dipandang sebagai orang memberikan perintah dan mengharapkan pelaksanaannya secara dogmatis dan selalu positif. Dengan segala kemampuannya, ia berusaha menakut-nakuti bawahannya dengan memberikan hukuman tertentu bagi yang berbuat negatif, tetapi hadiah untuk seseorang bawahan yang bekerja dengan baik (reward and funishment). 2. Tipe Demokratik (Democratic). Pemimpin tipe ini selalu mengadakan konsultasi dengan para bawahannya tentang tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan yang diambil, serta berusaha memberikan dorongan untuk turut secara aktif melaksanakan semua kebijakan/ keputusan dan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan. Tipe kepemimpinan ini berada pada sebuah spektrum yang diurutkan mulai dari orang yang bertindak atas persetujuan dengan bawahan, sampai kepada yang membuat keputusan85

keputusan, namun sebelumnya sudah dikonsultasikan dahulu dengan para anggota/ bawahan. 3. Tipe Free Rein (Laissez Faire). Pemimpin tipe ini sangat sedikit menggunakan kekuasaannya, bahkan memberikan tingkat kebebasan yang tinggi terhadap para bawahannya atau bersifat free rein (laissez faire) dalam segala tindakan mereka. Pemimpin ini mempunyai ketergantungan yang besar pada anggota kelompok untuk menetapkan tujuan-tujuan dan cara-cara mencapainya. Para pemimpin laissez faire menganggap bahwa mereka sebagai orang yang berusaha memberikan kemudahan (fasilitas) kerja para pengikut dengan jalan menyampaikan informasi terbuka kepada orang-orang yang dipimpinnya, dan sebagai penghubung dengan lingkungan yang ada di luar kelompok. Grave di Stanford University melaporkan adanya empat tipe kepemimpinan, yaitu tipe authoritarian, laissez faire, demokratis, dan pseudo demokratis. (Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto, 1988:7). Tipe authoritarian sama dengan otokratis, sedangkan pseudo demokratik adalah demokratik semu. Artinya, seorang pemimpin yang mempunyai sifat pseudo demokratis hanya menampakkan sikapnya saja yang demokratis, tetapi di balik kata-katanya yang penuh tanggung jawab ada siasat yang sebenarnya merupakan tindakan yang absolut. Pemimpin macam ini penuh dengan manipulasi sehingga pendapatnya sendiri yang harus disetujui dan dijalankan. Sementara itu Kartini Kartono (1998:69) mengembangkan lebih lanjut tipe-tipe kepemimpinan itu, ialah : 1. Tipe Kharismatik. 2. Tipe Paternalistik dan maternalistik. 3. Tipe Militeristik. 4. Tipe Otokratik/Otoritatif (authoritative, dominator). 5. Tipe Laissez Faire. 6. Tipe Populistik. 7. Tipe Administratif.
86

8. Tipe Demokratif (Group Developer).

G. KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH 1. Kepala Sekolah Sebagai Pejabat Formal. Dalam suatu organisasi, kepemimpinan terjadi melalui dua bentuk, yaitu kepemimpinan formal (formal leadership) dan kepemimpinan informal (informal leadership). Kepemimpinan formal dalam organisasi jika diisi oleh orang-orang yang ditunjuk atau dipilih melalui proses seleksi. Dasar pertimbangannya adalah kriteria-kriteria tertentu seperti : Latar belakang pendidikan atau pengalaman, usia, kepangkatan, integritas, harga diri, dsb. Dalam hal ini jelas pula terlihat tugas, wewenang, tanggung jawab, masa jabatan, serta pembinaan kariernya. Jabatan formal ini biasa pula disebut dengan istilah birokrasi dan orangnya (pejabat) disebut birokrat. Sedangkan kepemimpinan informal diisi oleh orang-orang yang muncul dan berpengaruh terhadap orang/kelompok lain karena kecakapan khsusus atau berbagai sumber yang dimiliki dirasakan mampu memecahkan persoalan organisasi serta memenuhi kebutuhan dari anggota organisasi bersangkutan. Demikianlah, maka kepala sekolah termasuk kepemimpinan atau jabatan formal, karena tidak bisa diisi oleh orang-orang tanpa didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan latar belakang pendidikan dan pengalaman, usia, kepangkatan, integritas, harga diri (moralitasnya), dll. Jadi, pengangkatan/penunjukkannya dilakukan melalui suatu prosedur tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. a. Pengangkatan. Peraturan dan prosedurnya dirancang dan ditetapkan oleh suatu unit yang bertanggung jawab di bidang sumber daya manusia, dan biasanya bekerjasama dengan unit-unit yang berkaitan dengan pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah. Di Indonesia adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Badan Kepegawaian Negara (BKN) serta Pemerintah Daerah. Prosedur pengangkatan memberikan petunjuk tentang sumber dari mana kepala sekolah dicalonkan, yaitu :
87

1) Siapa yang mencalonkan, mulai dari tingkat sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Provinsi, sampai Kementerian di tingkat Pusat; 2) Instansi-instansi yang terkait (yang terlibat) dalam prose pencalonan dimaksud. Sedangkan peraturan-peraturannya lebih ditekankan pada persyaratan atau kinerja yang mesti dipenuhi oleh calon. Adapun klasifikasi yang perlu diperhatikan, yaitu : 1) Yang bersifat administratif, meliputi : - Usia minimal dan maksimal; - Pangkat; - Masa kerja; - Pengalaman; - Berkedudukan sebagai tenaga fungsional guru. 2) Yang bersifat akademis, adalah latar belakang pendidikan formal dan pelatihan terakhir yang dimiliki calon. 3) Yang menyangkut kepribadian : - Bebas dari perbuatan tercela (integritasnya jelas); - Setia dan taat kepada Pancasila, UUD 1945, dan pemerintah yang sah. Calon yang yang memenuhi syarat dan mekanismenya sesuai dengan prosedur, kemudian akan diangkat oleh pejabat yang berwenang dengan suatu surat keputusan pengangkatan sebagai kepala sekolah. Selanjutnya kepala sekolah akan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh unit pengelola penyelenggara sekolah, yaitu : 1) Tugas dan fungsi kepala sekolah secara rinci; 2) Kewajiban dan larangan (yang harus dan tidak boleh dilaksanakan); 3) Petunjuk-petunjuk lain yang berkaitan dengan ke-kepalasekolah-an (the principalship). b. Pembinaan. Dalam rangka pembinaan kepala sekolah sebagai pejabat formal, maka : 1) Diberikan gaji, tunjangan dan pendapatan lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
88

2) Memperoleh kedudukan dalam jenjang kepangkatan tertentu; 3) Memperoleh hak kenaikan gaji atau kenaikan pangkat; 4) Memperoleh kesempatan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi; 5) Memperoleh kesempatan untuk pengembangan diri; 6) Memperoleh penghargaan atau fasilitas lain; 7) Dapat diberi teguran/peringatan oleh atasannya karena sikap, perbuatan, serta perilakunya yang dirasa dapat mengganggu tugas dan tanggung jawab sebagai kepala sekolah; 8) Dapat dimutasikan atau diberhentikan dari jabatan kepala sekolah karena hal-hal tertentu. c. Tugas dan Tanggung Jawab. Sebagai pejabat formal, kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab kepada atasan, kepada rekan para kepala sekolah lain atau lingkungan terkait, dan kepada bawahan. 1) Kepada atasan : - Wajib loyal dan melaksanakan apa yang digariskan oleh atasan; - Wajib berkonsultasi atau memberikan laporan mengenai pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya; - Wajib selalu memelihara hubungan yang bersifat hierarki antara kepala sekolah dengan atasan. 2) Kepada sesama rekan kepala sekolah atau lingkungan terkait : - Wajib memelihara hubungan kerjasama yang baik dengan para kepala sekolah lain; - Wajib memelihara hubungan kerjasama yang baik dengan instansi terkait, tokoh-tokoh masyarakat, dunia usaha, dan komite sekolah. 3) Kepada bawahan. - Wajib menciptakan hubungan yang baik dengan guru-guru dan tenaga kependidikan yang ada di lingkungannya; - Wajib menciptakan hubungan yang baik dengan tenaga administrasi (staf tata usaha) dan para siswa.

89

Peranan kepala sekolah sebagai pejabat formal, dapat disimpulkan sebagai berikut : a. Kedudukannya diangkat dengan surat keputusan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Catatan : Sekarang ini jabatan kepala sekolah negeri tidak termasuk pada jabatan struktural, melainkan tugas tambahan sebagai tenaga fungsional guru; b. Memiliki tugas dan tanggung jawab yang jelas serta hak-hak dan sanksi yang perlu dilaksanakan/dipatuhi; c. Secara hierarki mempunyai atasan (langsung ataupun tidak langsung), dan bawahan; d. Mempunyai hak kepangkatan, gaji, dan karier; e. Terikat oleh kewajiban sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku; f. Berkewajiban dan bertanggung jawab atas keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan/misinya; g. Ada batas waktu atau masa pengabdiannya; h. Kariernya dapat dikembangkan ke jabatan yang lebih tinggi; i. Sewaktu-waktu dapat diganti, dipindahkan, diberhentikan (pensiun atau pemecatan) sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dikaitkan dengan teori Harry Mintzberg, tidak berbeda dengan peranan pemimpin secara umum, maka kepala sekolah pun mempunyai tiga macam peranan, yaitu peranan hubungan antar perseorangan (interpersonal), peranan informasional (informational), dan pengambil keputusan (decisional maker/roles). a. Peranan Hubungan antar Perseorangan (Interpersonal). Peranan ini timbul akibat otoritas formal dari seorang manajer, meliputi lambang (figurehead), kepemimpinan (leadership), dan penghubung (liaison). 1) Lambang (figurehead). Sebagai lambang, kepala sekolah mempunyai kedudukan yang selalu melekat dengan sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah harus selalu dapat menjaga integritas diri agar peranannya sebagai lambang tidak menodai
90

nama baik sekolah. 2) Kepemimpinan (Leadership). Hal ini mencerminkan tanggung jawab kepala sekolah untuk menggerakkan seluruh sumber daya yang ada di sekolah, sehingga lahir etos kerja dan produktivitas yang tinggi dalam mencapai tujuan pendidikan. 3) Penghubungan (Liaison). Yang dimaksud adalah penghubung baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Di dalam (internal), kepala sekolah menjadi perantara antara perwakilan guru/tenaga kependidikan, staf/tata usaha, dan siswa dalam menyelesaikan kepentingan mereka. Dengan pihak luar antara lain dengan pejabat pemerintahan, dunia usaha (swasta), orang tua/wali, masyarakat, dll. yang akan berguna dalam menjalin hubungan baik demi kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. b. Peranan Informasional (Informational). Dalam hal ini kepala sekolah berperan untuk menerima dan meneruskan/ menyebarluaskan informasi kepada para guru/tenaga kependidikan, staf tata usaha, siswa dan orang tua/wali (komite), serta mungkin juga kepada pihak luar lainnya. Dalam fungsi ini kepala sekolah adalah pusat urat syaraf (nerve centre) sekolah. Di sini kepala sekolah berperan sebagai monitor, disseminator, dan spoksman. 1) Sebagai Monitor. Kepala sekolah selalu mengadakan pengamatan terhadap lingkungan, yaitu kemungkinan adanya berita-berita/informasi negatif yang berpengaruh terhadap penampilan dan eksistensi sekolah, misalnya gosip, desas-desus, kabar angin, dsb. 2) Sebagai Disseminator. Kepala sekolah bertanggung jawab untuk meneruskan/menyebarluaskan atau menyosialisasikan informasi yang diperlukan kepada para guru/tenaga kependidikan, staf tata usaha, siswa, dan orang tua/wali siswa, dll.

91

3) Sebagai Spoksman. Kepala sekolah sebagai juru bicara atau wakil resmi sekolah yang menye barkan informasi kepada lingkungan di luar sekolah jika dianggap perlu. c. Pengambil keputusan (Decision Maker/Roles). Peranan ini sangat penting mengingat di sinilah tugas, wewenang, dan tanggung jawab utama yang harus dijalankan kepala sekolah. Ada empat macam peranan kepala sekolah sebagai pengambil keputusan, yaitu : Entrepreneur, disturbance handler, resource allocater, dan negotiator roles. 1) Wirausahawan (Entrepreneur). Kepala sekolah selalu berusaha untuk memperbaiki penampilan sekolah melalui berbagai macam pemikiran dan usaha, termasuk survei untuk memperlajari berbagai persoalan yang timbul di lingkungan sekolah. Wirausaha di sini tidak selalu berarti membisniskan sekolah. 2) Penanganan Gangguan (Disturbance handler). Gonjang-ganjing atau gangguan yang timbul di lingkungan sekolah tidak hanya sebagai akibat kepala sekolah tidak/kurang memperhatikan situasi, tetapi bisa juga karena kepala sekolah tidak mampu mengantisipasi semua akibat keputusan yang telah diambil. Maka kepala sekolah dituntut untuk mampu menangani (mengantisipasi dan mengatasi) segala hal yang telah, sedang, dan mungkin akan muncul yang akan menggangu kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolahnya. 3) Penyedia Segala Sumber (Research Allocater). Kepala sekolah bertanggung jawab dalam menentukan siapa/pihak mana yang akan memperoleh atau menerima sumber-sumber yang disediakan. Sumber dimaksud a.l. sumber daya manusia, biaya, alat/perlengkapan, asset, dll. 4) Perunding (Negosiator). Kepala sekolah harus mampu merundingkan, membicarakan atau memusyawarahkan dengan pihak luar hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama. Untuk itu perlu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, misalnya dalam hal penempatan kerja lulusan, penyesuaian kurikulum yang sesuai dengan
92

kebutuhan masyarakat dan dunia kerja/usaha, tempat praktek tenaga pengajar dan siswa, dll. Biasanya fungsi negosiator ini lebih banyak dilakukan oleh sekolah-sekolah kejuruan, khususnya dengan dunia usaha dan industri. Demikianlah, seperti halnya pemimpin formal lain, kepala sekolah sebagai pejabat formal, akan berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya jika selalu memperhatikan tujuh hal yang sangat berpengaruh, yaitu : a. Peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah; b. Variabel-variabel yang terjadi baik di dalam maupun di luar sekolah; c. Interaksi antar sumber daya manusia (guru/tenaga kependidikan, staf, siswa, orang tua/wali siswa), sistem, dan berbagai macam peralatan/perlengkapan, dsb. d. Efektivitas; e. Masalah untung dan rugi. f. Terpercaya dan berpengalaman, artinya, kepala sekolah harus selalu memelihara kepercayaan yang diberikan oleh atasan. Dalam hal ini kepala sekolah harus membuka diri untuk menerima dan mencari pengalaman sesuai dengan perkembangan keadaan (situasi dan kondisi); g. Kewibawaan, status, stress, dan konflik. (Peter P. Dowson, 1985 dalam Wahjosumidjo, 1999:93). 2. Kepala Sekolah Sebagai Manajer. Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan usaha anggota-anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Terdapat tiga hal penting yang perlu diperhatikan dari pengertian manajemen tersebut di atas, yaitu proses, pendayagunaan seluruh sumber daya organisasi, dan pencapaian tujuan organisasi. a. Proses. Proses adalah suatu cara yang sistematis dalam mengerjakan sesuatu, melalui alur kegiatan-kegiatan yang saling berkaitan untuk didayagunakan dalam rang93

ka pencapai tujuan. Kegiatan-kegiatan dimaksud adalah : 1) Merencanakan, dalam arti, kepala sekolah harus benar-benar memikirkan dan merumuskan suatu program/rencana kerja yang akan dilaksanakan; 2) Mengorganisasikan, dalam arti, kepala sekolah harus mampu menghimpun dan mengkoordinasikan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya (pembiayaan, paralatan/perlengkapan, metode, pemasaran, dll.); 3) Memimpin, dalam arti, kepala sekolah mampu mengarahkan dan mempengaruhi sumber daya manusia yang ada (guru/tenaga kependidikan, staf/ tata usaha, siswa) untuk melakukan tugas-tugas mereka yang esensial; 4) Mengawasi/mengendalikan, dalam arti, kepala sekolah memperoleh jaminan bahwa sekolah berjalan mencapai tujuan. Jika terdapat kesalahan/ kekeliruan di antara bagian-bagian (komponen) yang ada di sekolah, kepala sekolah harus dapat memberi petunjuk dan meluruskannya. b. Pendayagunaan Sumber daya Organisasi. Meliputi unsur manusia, dana (pembiayaan), alat-alat/perlengkapan, data/ informasi, metode, pemasaran, dll. Unsur penting sumber daya manusia

dimanfaatkan sebagai pemikir, perencana, pelaku, serta pendukung untuk pencapaian tujuan organisasi. c. Pencapaian Tujuan Organisasi. Artinya, kepala sekolah harus berusaha untuk mencapai tujuan akhir yang bersifat khusus (specific ends) dari sekolahnya. Memang tujuan akhir ini berbeda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. James A.F. Stoner menggambarkan fungsi manajemen (termasuk manajemen sekolah) sebagai berikut.

94

M A N A J E

Merencanakan Program Sumber daya manusia Dana Sarana Prasarana Informasi Suasana

Mengorganisasikan

Memimpin
M E

Tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya

Mengendalikan

Sumber : Wahjosumidjo (1999:95)

Menurut Stoner, ada delapan macam fungsi seorang manajer yang perlu dilaksanakan, yaitu : a. Bekerja dengan, dan melalui orang lain; b. Bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan; c. Dengan waktu dan sumber yang terbatas mampu menghadapi berbagai persoalan; d. Berpikir secara realistik dan konseptual; e. Sebagai juru penengah; f. Sebagai seorang politisi; g. Sebagai seorang diplomat; h. Pengambil keputusan yang sulit. Dalam hal kepala sekolah sebagai manajer, maka penerapannya sebagai berikut. a. Kepala sekolah bekerja dengan, dan melalui orang lain (work with and through other people). Pengertiannya tidak hanya dengan para guru, staf, siswa, dan orang tua/wali, melainkan termasuk juga dengan atasan, para kepala sekolah lain, serta pihak-pihak yang perlu hubungan dan kerjasama (stakeholders). Kepala sekolah karenanya berperilaku pula sebagai saluran komunikasi (as channels of communications within the organization);
95

b. Kepala sekolah bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (responsible and accountable). Dalam hal ini keberhasilan dan kegagalan bawahan adalah pencerminan langsung dari keberhasilan dan kegagalan pemimpin. Dengan demikian kepala sekolah bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan bawahan, termasuk siswa dan orang tua/wali siswa. Kalau meminjam istilah militer tidak ada prajurit yang salah; c. Dengan keterbatasan waktu dan sumber daya, kepala sekolah harus mampu menghadapi berbagai persoalan (managers balance competing goals and set priorities), harus dapat mengatur pemberian tugas kepada bawahan secara tepat, dan dapat menentukan prioritas jika terjadi konflik antara kepentingan bawahan dengan kepentingan sekolah; d. Kepala sekolah harus berpikir analitis dan konsepsional (must think analytically and conceptionally). Artinya, harus dapat memecahkan persoalan melalui analisis dan menyelesaikannya dengan suatu solusi yang feasible. Karenanya semua persoalan harus dilihat sebagai suatu sistem, yaitu keseluruhan komponen atau bagian yang saling berkaitan secara terpadu; e. Kepala sekolah sebagai juru penengah (mediators) harus dapat melerai adanya konflik di antara bawahan, dan mengarahkannya menjadi kemaslahatan bersama. Adanya konflik atau pertentangan ini memang tidak dapat dihindarkan dalam suatu organisasi karena setiap manusia/anggota mempunyai perbedaanperbedaan satu sama lain, misalnya dalam hal latar bekalang pendidikan/ pengalaman, watak, keinginan, ekonomi, sosial-budaya, agama, dll. f. Kepala sekolah sebagai politisi (politician), harus selalu berusaha meningkatkan tujuan organisasi dengan program-program jauh ke depan (forecasting dan visioner). Pengertian politisi di sini bukan berarti masuk ke ranah politik praktis yaitu menjadi anggota salah satu partai politik dan mengedepankan gagasan-gagasan politik kenegaraannya. Yang dimaksud adalah membangun hubungan kerjasama dan koordinasi dengan berbagai pihak melalui pendekatan persuasi dan kesepakatan (compromise), antara lain : 1) Mengembangkan prinsip jaringan saling pengertian terhadap kewajiban masing-masing;
96

2) Membentuk aliansi atau koalisi, seperti organisasi profesi, OSIS, komite (dulu POMG atau BP3); 3) Membangun kerjasama dengan berbagai pihak sehingga aneka macam aktivitas dapat dilaksanakan dengan baik. g. Kepala sekolah sebagai diplomat, yaitu aktif dan berperan dalam berbagai macam pertemuan/silaturahmi resmi mewakili sekolahnya, dan berdiplomasi untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kemajuan sekolah; h. Kepala sekolah sebagai pengambil keputusan/kebijakan yang sulit (make difficult decision), diharapkan dapat menyelesaikan setiap persoalan yang ada. Hal ini mengingat dalam setiap organisasi termasuk sekolah, tidak selalu berjalan mulus tanpa ada problem. Problem dimaksud misalnya menyangkut dana, alat-alat/perlengkapan, kepegawaian, perbedaan pendapat, dsb. Itulah sebabnya dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas manajerial, menurut Paul Hersey dalam Wahjosumidjo (1999:100), paling tidak diperlukan tiga macam keterampilan, yaitu keterampilan teknis (technical skills), keterampilan hubungan manusia (human skills), dan keterampilan konsepsional (conceptual skills). a. Technical Skills : 1) Menguasai pengetahuan tentang metode, proses, prosedur, dan teknik untuk melaksanakan kegiatan khusus; 2) Kemampuan untuk memanfaatkan serta mendayagunakan sarana, alat-alat/ perlengkapan yang diperlukan dalam mendukung kegiatan yang bersifat khusus tersebut di atas. b. Human Skills : 1) Kemampuan untuk memahami perilaku manusia dan proses kerjasama; 2) Kemampuan untuk memahami isi hati, sikap, dan motif orang lain, mengapa mereka berkata, bersikap, berperilaku begitu; 3) Kemampuan untuk berkomunikasi secara jelas dan efektif; 4) Kemampuan menciptakan kerjasama yang efektif, kooperatif, praktis, dan diplomatis; 5) Kemampuan diri berprilaku yang dapat diterima orang lain.
97

c. Conceptual Skills : 1) Kemampuan analisis; 2) Kemampuan berpikir rasional; 3) Cakap atau ahli dalam berbagai macam konsepsi; 4) Mampu menganalisis berbagai kejadian, dan mampu menilai berbagai kecenderungan; 5) Mampu mengantisipasi perintah; 6) Mampu mengenali bermacam-macam kesempatan (peluang) dan permasalahan sosial. 3. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin. Menurut Koontz, ODonnel, dan Weihrich (1980:659-686) dalam Wahjosumidjo (1999:103), bahwa yang dimaksud kepemimpinan secara umum merupakan pengaruh, seni atau proses mempengaruhi orang lain, sehingga mereka dengan penuh kemauan berusaha ke arah tercapainya tujuan organisasi. Berangkat dari pengertian dari Koontz tersebut, kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu : a. Mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri para guru/tenaga kependidikan, staf, dan siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing; b. Memberikan bimbingan, arahan, dan dorongan kepada para guru/tenaga kependidikan, staf, dan siswa, serta memacu dan berdiri di depan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan. Itu berarti, jika ingin berhasil menggerakkan para guru/tenaga kependidikan, staf dan siswa, kepala sekolah harus : a. Menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap mereka; b. Sebaliknya, kepala sekolah harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru/tenaga kependidikan, staf, dan siswa dengan cara : 1) Meyakinkan (persuade), bahwa apa yang dilakukan adalah benar;
98

2) Membujuk (induce), bahwa apa yang dikerjakan adalah benar. Kepala sekolah sebagai pemimpin, menurut Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto (1988:9), perlu menerapkan kepemimpinan demokratik yang dalam melaksanakan tugasnya atas dasar musyawarah, sehingga unsur-unsur demokrasinya nampak dalam seluruh tata kehidupan di sekolah, misalnya : a. Menghargai martabat tiap anggota (guru/tenaga kependidikan, staf tata usaha, siswa) yang mempunyai perbedaan individu; b. Dapat menciptakan situasi pekerjaan sedemikian rupa sehingga nampak dalam kelompok yang saling menghargai dan saling menghormati; c. Menghargai cara berpikir bawahan meskipun dasar pikiran itu bertentangan dengan pendapatnya sendiri; d. Menghargai kebebasan individu. Sementara itu menurut H.G. Hicks dan C.R. Gullet (Wahjosumidjo, 1999:106), ada delapan rangkaian fungsi/peranan kepemimpinan (leadership function), yaitu : Adil, memberikan sugesti, mendukung tercapainya tujuan, sebagai katalisator, menciptakan rasa aman, sebagai wakil organisasi, sumber inspirasi, dan bersedia menghargai. Berangkat dari pendapat Hicks tersebut, maka kepala sekolah harus berupaya memperhatikan dan mempraktekannya dalam kehidupan sekolah, yaitu : a. Bertindak arif bijaksana dan adil kepada para guru/tenaga kependidikan, staf, dan siswa, dalam arti tidak ada pihak yang dianak-emaskan atau dianak-tiri kan (arbritrating); b. Memberikan sugesti agar para guru/tenaga kependidikan, staf, dan siswa dimaksud bersemangat, rela berkorban, penuh rasa kebersamaan dan kepedulian dalam melaksanakan tugas masing-masing (suggesting); c. Memberikan dukungan baik berupa waktu, dana, alat-alat/perlengkapan (sarana) dan fasilitas-fasilitas lain yang diperlukan kepada para guru/tenaga kependidikan, staf, dan siswa sehingga dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik (supplying objectives); d. Mampu menimbulkan dan menggerakkan semangat para guru/tenaga kependidikan, staf dan siswa dalam pencapaian tujuan. Jika patah semangat, kehilangan
99

kepercayaan, dll. harus dibangkitkan kembali (catalyzing); e. Mampu memberikan rasa aman dalam lingkungan sekolah sehingga para guru/tenaga kependidikan, staf, dan siswa dalam melaksanakan tugasnya bebas dari segala perasaan gelisah, khawatir, dll. (providing security); f. Mampu menjaga integritas, selalu terpercaya, dihormati baik sikap, perilaku, maupun perbuatannya, sehingga mencerminkan kepala sekolah yang representative (representing); g. Mampu menjadi sumber semangat bagi para para guru/tenaga kependidikan, staf dan siswa, sehingga mereka menerima dan memahami tujuan sekolah secara bertanggung jawab ke arah tercapainya tujuan (inspiring); h. Mampu memberikan penghargaan terhadap apa pun yang dikerjakan atau dihasilkan oleh para guru/tenaga kependidikan, staf dan siswa yang menjadi tanggung jawabnya. Pengakuan dan penghargaan ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti insentif, kenaikan pangkat, kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan, dsb. (praising). Berdasarkan fungsi/peranan kepala sekolah tersebut di atas, maka hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah : a. Kepala sekolah merupakan jabatan pimpinan yang bersifat kompleks dan unik; b. Keberhasilan kepala sekolah sebagai seorang pemimpin akan ditentukan oleh faktor-faktor mendasar kepemimpinan yang dimilikinya; c. Jabatan kepala sekolah yang kompleks dan unik menuntut kualifikasi khusus, yaitu kompetensi, selain persyaratan umum kepemimpinan; d. Persyaratan umum dan kualifikasi khusus diharapkan akan melahirkan profil kepala sekolah yang ideal sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan; e. Jika terjadi kesenjangan (gap) antara profil yang diinginkan dengan profil senyatanya, akan terjadi persoalan atau masalah; f. Persoalan/masalah yang terjadi, hanya bisa dipecahkan jika diketahui faktorfaktor penyebabnya. Untuk itu penting lebih dulu difahami siklus atau tahaptahap pengelolaan jabatan kepala sekolah yang meliputi : Identifikasi, rekrutmen, seleksi, diklat, pengangkatan dan penempatannya, orientasi dan sosialisasi,
100

pembinaan dan pengembangan, serta evaluasi dan kariernya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah yang dikehendaki adalah kepala sekolah yang memiliki karakter atau ciri-ciri khusus yang mencakup : 1) Kepribadian; 2) Keahlian dasar; 3) Pengetahuan dan pengalaman profesional; 4) Diklat dan keterampilan profesional; 5) Pengetahuan administrasi dan pengawasan kompetensi kepala sekolah. Sayang sekali, dengan otonomi daerah di sektor pendidikan, sekarang ini terjadi distorsi, sehingga jabatan kepala sekolah termasuk yang menjadi lahan kepentingan politik dari Kepala Daerah atau Dinas. Akibatnya banyak dari mereka yang diangkat, dipindahkan, atau diberhentikan, bukan dengan alasan-alasan yang ideal seperti dikemukakan di atas, tetapi karena bersifat politis, bahkan alasan wani piro? Ironis sekali! 4. Kepala Sekolah Sebagai Pendidik. Memahami arti pendidikan tidak cukup berpegang pada konotasi yang terkandung dalam definisi pendidikan, tetapi juga harus dipelajari keterkaitannya dengan makna pendidikan, sasaran pendidikan, dan bagaimana strategi pendidikan itu dilaksanakan. Arti pendidik sendiri menurut KUBI (2007:291) adalah orang yang mendidik, sedangkan mendidik adalah memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai ahlak dan kecerdasan pikiran, sehingga pendidikan dapat diartikan sebagai proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Indikasi dari batasan pendidikan tersebut di atas, adalah bahwa proses pendidikan di samping diselenggarakan secara khusus melalui sekolah (formal), juga dapat diselenggarakan di luar sekolah, yaitu melalui keluarga (informal), dan masyarakat (nonformal). Kepala sekolah sebagai seorang pendidik, mempunyai tugas dan peranan yang berat karena harus mampu menanamkan, memajukan, meningkatkan paling tidak
101

empat nilai, yaitu : a. Mental, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan sikap batin dan watak manusia; b. Moral, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan ajaran baik-buruk, mengenai perbuatan, sikap dan kewajiban. Diartikan juga sebagai akhlak, budi pekerti, atau kesusilaan; c. Fisik, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan kondisi jasmani yang memperlihatkan penampilan manusia secara lahiriah; d. Artistik, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan kepekaan manusia terhadap seni dan keindahan. Peranan kepala sekolah sebagai pendidik mencakup dua hal pokok, yaitu kepada siapa pendidikan itu diarahkan (sasarannya), dan bagaimana peranan sebagai pendidik itu dilaksanakan. Ada tiga sasaran utama pendidikan, yaitu

guru/tenaga kependidikan lain, tenaga administrasi/staf tata usaha, dan para siswa/ peserta didik. Tiga sasaran ini berupa manusia yang memiliki unsur fisik dan

kejiwaan yang berbeda-beda. Karenanya itu dalam penanaman nilai-nilai mental, moral, fisik, dan estetika tidak dapat dipaksanakan begitu saja, tetapi memerlukan persuasi dan keteladanan. Persuasi, artinya kepala sekolah harus mampu meyakinkan melalui pendekatan secara halus, sehingga para guru/tenaga kependidikan, staf tata usaha, dan siswa yakin akan kebenaran, merasa perlu dan menganggap penting nilai-nilai yang terkandung dalam aspek mental, moral, fisik, dan estetika ke dalam kehidupan seseorang atau kelompok orang. Sedangkan keteladanan adalah hal-hal yang patut, baik, dan perlu dicontoh dan ditampilkan oleh kepala sekolah melalui sikap, perbuatan/perilaku, termasuk penampilan fisik dan penampilan kerja atau kinerja (performance). Wujud konkritnya adalah berupa : Kejujuran, kedisiplinan, penuh tanggung jawab (responsibilitas, akuntabilitas), bersahabat, kebersamaan, kepedulian, toleransi, dll. Ini dapat dilihat pula dari cara berpakaian yang bersih, rapi, dan serasi, cara dan sikap berbicara atau berkomunikasi yang santun, bersemangat dan energik, dsb. Sasaran lainnya adalah kelompok, yang biasanya sudah terorganisasi, yaitu organisasi guru (PGRI, ISPI, dll.), organisasi siswa (OSIS), dan organisasi orang
102

tua/wali siswa (Komite). Secara ringkas ketiga organisasi dimaksud dan kaitannya dengan peranan kepala sekolah dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Organisasi Guru. Organisasi ini termasuk organisasi profesi, karena di dalamnya terhimpun para guru atau tenaga fungsional kependidikan yang mempunyai latar belakang pendidikan yang sama, yaitu bidang atau dunia pendidikan. Ada dua hal pokok yang penting menjadi acuan, yaitu pertama, sebagai salah satu wadah pembinaan dan pengembangan profesi keguruan baik di tingkat SD, SLTP, SLTA, maupun PT, dan kedua, diharapkan mampu menanamkan dan membina kode etik guru bagi para anggotanya, sehingga dapat menjadi tumpuan harapan di masa depan yang terhindar dari perbuatan tercela, sekaligus sarana untuk perjuangan kesejahteraannya. Organisasi guru ini diharapkan mampu pula berperan membantu kelancaran tugas-tugas sekolah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Karenanya kepala sekolah harus dapat memanfaatkan dengan sebaikbaiknya. Dewasa ini ternyata Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) bukan satu-satunya organisasi guru yang ada di Indonesia, karena ada juga Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Persatuan Guru Independen Indonesia (PGII), dll. b. Organisasi Siswa. Organisasi ini diperlukan sebagai wadah bagi para siswa dalam menumbuhkembangkan berbagai minat, bakat, dan kreativitas melalui program-program ko kurikuler maupun ekstra kurikuler. Karenanya organisasi siswa dalam bentuk OSIS lebih banyak dibina ke arah terwujudnya keberhasilan program di luar kurikuler dengan berbagai materi dan sasaran, seperti : Sikap mental ideologis (Pancasila), agama, budi pekerti, watak dan kepribadian, kesadaran berbangsa dan bernegara, kemampuan berorganisasi dan manajemen, keterampilan, pendidikan jasmani dan kesehatan, serta apresiasi dan kreasi seni budaya. Keberhasilan program di luar kurikuler diharapkan akan mampu menciptakan situasi yang memacu keberhasilan keseimbangan antara program kurikuler dan ekstra kurikuler.

103

c. Organisasi Orang Tua/Wali Siswa. Organisasi ini diperlukan sebagai perangkat pembantu kepala sekolah dalam ikutserta membina dan mendukung keberhasilan proses belajar-mengajar, tetapi tidak dilibatkan pada hal-hal yang sifatnya teknis pendidikan. Keberadaannya lebih banyak dibutuhkan dalam membantu dan mengatasi keperluan berbagai sumber daya dalam pembinaan kehidupan sekolah seperti : Dana, sarara dan prasarana, jasa, dan pemikiran-pemikiran untuk memajukan sekolah sekaligus dan pembinaan kesiswaan khususnya pelaksanaan program-program ekstra kurikuler. Dulu organisasi ini namanya Persatuan Orangtua Murid dan Guru (POMG), kemudian berubah menjadi Persatuan Orang tua Murid (POM), Badan Pembina Penyelenggaraan Pendidikan (BP3), dan kini Komite Sekolah.

5. Kepala Sekolah Sebagai Staf. Sebagai staf, artinya sebagai pembantu pimpinan, karena pada hakekatnya keberadaan sekolah merupakan komponen/bagian (subordinated) dalam lingkungan organisasi pemerintahan yang lebih luas, yaitu departemen (kementerian) pendidikan dan kebudayaan, yang karenanya kepala sekolah berada di bawah kepemimpinan pejabat lain (atasan). Untuk SD misalnya atasan dimaksud adalah Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan (sekarang adalah Kepala Pusat Pembinaan Pendidikan = Pusbindik, yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas), yang berada di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Untuk SMP dan SMA/K atasannya Kepala Bidang di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, kemudian Kepala Dinas yang barada di bawah Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah (Sekda). Karenanya, sebagai bawahan, kepala sekolah juga melakukan tugas-tugas staf, artinya, membantu atasan dalam proses pengelolaan organisasi pendidikan yang lebih luas. Membantu atasan mengandung arti juga memberikan saran, masukan, pendapat, pertimbangan, dalam : a. Merencanakan dan pengendalikan kegiatan; b. Mengambil keputusan dan kegiatan manajemen yang lain;
104

c. Memecahkan masalah yang dihadapi; d. Mengkoordinasikan kegiatan operasional; e. Melakukan penilaian, dll. Agar tugas-tugas sebagai staf dapat dilaksanakan dengan baik, maka kepala sekolah harus selalu : a. Melihat, memperhatikan, dan mencari cara-cara baru untuk maju; b. Memberikan informasi yang diperlukan tentang sebab-sebab dan akibat sesuatu tindakan; c. Dapat memilih prioritas, cara berpikir tepat waktu, strategik, perspektif, dan pertimbangan-pertimbangan lain; d. Menyadari kedudukannya sebagai pemikir (braintrust), atau otak (brainpower) dari pemimpin, bukan sebagai pengambil keputusan/kebijakan atau pemberi perintah. Memperhatikan tugas-tugas tersebut di atas, maka hakikat pekerjaan staf adalah : a. Merupakan bagian terpadu (integral) dari kegiatan yang harus diselenggarakan di lingkungan organisasi (sekolah atau dinas); b. Mendukung kegiatan manajemen dan berperan membantu atasan/pimpinan untuk menjadi lebih efektif dan efisien; c. Meningkatkan kemampuan kerja dan mewujudkan perbaikan-perbaikan yang diperlukan; d. Meningkatkan produktivitas organisasi sebagai satu keseluruhan. Tugas-tugas kepala sekolah sebagai staf akan berhasil dengan baik (efektif dan efisien), jika menyadari dan memahami peranannya sebagai staf, serta mampu mewujudkannya dalam tindakan. Karena itu seorang kepala sekolah selaku staf pimpinan, harus : a. Memiliki kualitas umum kepemimpinan; b. Memiliki persyaratan khusus kepemimpinan; c. Menguasai teknik pengendalian;
105

d. Pandai menyesuaikan diri; e. Taat pada norma, etika, dan hierarki organisasi; f. Mampu menciptakan suasana keterbukaan; g. Terbuka terhadap kritik; h. Menguasai situasi dan kondisi bawahan; i. Mampu mengendalikan diri; j. Mampu menganalisis situasi; k. Memiliki keahlian khusus; l. Taat pada hubungan dan tata kerja yang berlaku; m. Loyal terhadap birokrasi yang berlaku; n. Mempunyai kemauan bekerja keras dan cerdas; o. Memiliki optimisme tinggi. Berkaitan dengan peran kepala sekolah dalam hal memberikan saran, masukan, pendapat, nasihat, dan pertimbangan-pertimbangan terhadap berbagai persoalan pengelolaan organisasi, maka kualifikasi yang harus dimiliki adalah : a. Memahami hakikat tujuan, tugas pokok dan fungsi organisasi; b. Menguasai filsafat yang dianut oleh pimpinan organisasi; c. Mendalami sistem pembagian tugas organisasi; d. Loyal terhadap atasan; e. Low profile; f. Menyadari keterbatasan peranan staf (bukan sebagai pengambil keputusan); g. Mampu meyakinkan atasan atas ide/gagasan, saran dan pendapat yang diajukan; h. Gagasan atau saran-sarannya mempunyai relevansi atau merupakan pencerminan dengan kenyataan hidup dalam organisasi; i. Menyadari bahwa kegiatan staf merupakan bagian integral dari seluruh proses manajemen organisasi.

106

BAB VII PENGAWASAN PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN PENGAWASAN Pengawasan adalah suatu proses kegiatan seorang pimpinan untuk menjamin agar pelaksanaan kegiatan organisasi sesuai dengan rencana, kebijakan, dan ketentuanketentuan yang telah ditetapkan. Beberapa definisi lain tentang pengawasan dapat dikemukakan misalnya dari : 1. Harold Koontz dan Cyrill ODonnel (1988:490) : Pengawasan adalah pengukuran dan koreksi atas pelaksanaan kerja dengan maksud untuk mewujudkan kenyataan atau menjamin bahwa tujuan-tujuan organisasi dan rencana yang disusun dapat/telah dilaksanakan dengan baik. 2. S.P. Siagian (1996:135) : Pengawasan adalah proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. 3. Ibrahim Lubis (1985:154) : Pengawasan adalah kegiatan manajer yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan atau dengan hasil yang dikehendaki. Perencanaan dan pengawasan sangat berkaitan, dan sedemikian eratnya antara perencanaan dengan pengawasan, malahan Harold Koontz & Cyrill ODonnel

mengatakan bahwa planning and controlling are the two sides of the same coin. (perencanaan dan pengawasan adalah dua sisi dari mata uang yang sama). Penga-

wasan atau pengendalian menyeluruh terhadap semua aktivitas organisasi disebut administrative control sedangkan pada bagian-bagian atau unit tertentu disebut management control.

B. BENTUK PENGAWASAN Terdapat beberapa bentuk pengawasan, yaitu pengawasan fungsional, pengawasan yang bersifat politis, pengawasan masyarakat, dan pengawasan melekat. 107

1. Pengawasan fungsional. Adalah pengawasan yang dilakukan secara fungsional oleh aparat pengawasan yang dibentuk khusus untuk itu yang ditugasi membantu pimpinan untuk melakukan pengawasan ataupun pemeriksaan dalam batas kewenangan yang ditentukan. Pengawasan ini di dalam lingkungan organisasi departemen (kementerian) dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian dan/atau lembaga pemerintah non departemen, di lingkungan pemerintahan (eksekutif) oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan untuk kelembagaan Negara oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Di daerah pun ada Badan Pengawas Daerah (Bawasda) atau Inspektorat Daerah (Irda). 2. Pengawasan yang bersifat politis. Dilakukan oleh DPR/DPRD yang mempunyai tugas mengawasi jalannya pemerintahan dan pembangunan, selain legislasi dan anggaran. 3. Pengawasan masyarakat. Yang dilakukan oleh masyarakat dalam beragam bentuk, misalnya secara lisan dan tertulis langsung atau melalui media massa, termasuk unjuk rasa/demonstrasi. 4. Pengawasan melekat. Yaitu pengawasan yang dilakukan oleh atasan langsung (pimpinan) secara berjenjang, dari mulai tingkat bawah sampai atas.

C. SASARAN PENGAWASAN Sasaran terakhir pengawasan/pengendalian adalah efisiensi. bandingan terbaik antara output dengan input. Efisiensi adalah per-

Artinya, hasil harus lebih besar

daripada masukan (biaya, alat, dan tenaga, dll. yang tersedia). Lain daripada itu terdapat pula sasaran-sasaran antara, yaitu : 1. Bahwa melalui pengawasan, pelaksanaan tugas-tugas yang telah ditentukan sesuai dengan pola yang telah digariskan dalam rencana. 2. Bahwa struktur dan hierarki organisasi sesuai dengan pola yang telah digariskan 108

dalam rencana. 3. Bahwa penempatan orang-orang sesuai dengan bakat, keahlian, pendidikan, dan pengalamannya, dan bahwa pengembangan keterampilan bawahan dilaksanakan secara berencana, kontinyu dan sistematis. 4. Bahwa penggunaan alat-alat diusahakan sehemat-hematnya. 5. Bahwa sistem dan prosedur kerja tidak menyimpang dari garis-garis kebijakan yang ditetapkan dalam rencana. 6. Bahwa pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang obyektif rasional, tidak atas dasar suka tidak suka (like and dislike). 7. Bahwa tidak terdapat penyimpangan dan penyelewengan dalam menggunakan kedudukan, kekuasaan, dan kewenangan dalam berbagai hal misalnya barangbarang dan terutama keuangan.

D. SIFAT ATAU CIRI-CIRI PENGAWASAN Sifat-sifat atau ciri-ciri pengawasan adalah : 1. Pengawasan harus bersifat fact finding atau menemukan fakta-fakta mengenai bagaimana tugas-tugas dijalankan dalam organisasi, yang dikaitkan pula dengan biaya, tenaga kerja, sistem dan prosedur kerja, struktur organisasi, faktor-faktor psikologis, dsb. 2. Pengawasan harus bersifat preventif, artinya dijalankan untuk mencegah timbulnya penyimpangan/penyelewengan dari rencana yang telah ditetapkan. 3. Pengawasan diarahkan pada masa sekarang, artinya terhadap kegiatan-kegiatan yang kini sedang dilaksanakan. 4. Pengawasan hanya sekedar alat untuk meningkatkan efisiensi, bukan tujuan. 5. Pelaksanaan pengawasan harus mempermudah tercapainya tujuan. 6. Pelaksanaan pengawasan harus efisien, jangan malah menghambat peningkatan efisiensi. 7. Pengawasan tidak untuk mencari siapa yang salah jika terjadi ketidakberesan, tetapi untuk menemukan apa yang tidak benar dan bagaimana seharusnya. 109

8. Pengawasan harus bersifat membimbing agar para pelaksana meningkatkan kemampuannya untuk melaksanakan tugas sesuai ketentuan. 9. Secara filosofis pengawasan itu memang perlu, mengingat manusia tidak selamanya benar, suatu ketika dia keliru, salah, atau paling tidak, khilaf.

E. PROSES DASAR PENGAWASAN Proses dasar pengawasan terdiri atas tiga hal, yaitu : 1. Penetapan Standar. a. Penetapan standar merupakan langkah pertama dalam proses pengawasan/ pengendalian; b. Karena fungsi pengawasan/pengendalian berkaitan dengan pengukuran kinerja, maka penetapan standar sangat penting. Dalam hal ini manajemen dapat melihat apa yang terjadi dan apa yang seharusnya terjadi; c. Sebagai tolok ukur, standar yang pada hakikatnya berupa rencana, harus bersifat spesifik, terukur, dan dapat dicapai, serta terjadwal; d. Dalam praktek, rencana sangat bervariasi, ada rencana produksi, rencana investasi, rencana pendapatan, dll. Keanekaragaman rencana ini telah menyulitkan pada manajer dalam penetapan standar yang ideal; e. Diperlukan adanya standar yang baku berupa standar prestasi. Standar prestasi ini dipilih dari kriteria yang dapat dipergunakan untuk membandingkan dan evaluasi. Contoh standar prestasi : Standar moneter (Rp, $, f, Y, dll.), standar fisik (m, km, g, kg, ton, kubik, dll.), standar abstrak (baik, bagus, efektif, memuaskan, dll.); f. Agar standar abstrak dapat digunakan secara operasional, perlu diterjemahkan terlebih dulu ke dalam standar moneter atau standar fisik (diangkakan). 2. Pengukuran Prestasi Kerja. Pengukuran prestasi kerja (kinerja) adalah pembandingan antara standar dengan pelaksanaan hendaknya berdasarkan pandangan ke depan. Dengan pandangan ke depan, menurut Ranupandojo berarti jika ada penyimpangan maka penyim110

pangan ini akan diperbaiki dalam pelaksanaanya nanti/yang akan datang. Hal ini sesuai pula dengan pendapat Nickels (1987) bahwa fungsi pengendalian berkaitan dengan pengukuran perbandingan terhadap sasaran-sasaran dan standarstandar dan mengadakan perbaikan jika diperlukan. 3. Perbaikan Penyimpangan. a. Tindakan perbaikan dilakukan jika ternyata terdapat penyimpangan/penyelewengan, sehingga pelaksanaan dan tujuan sesuai dengan rencana; b. Bentuk-bentuk tindakan perbaikan yang dilaksanakan antara lain meninjau kembali rencana, memodifikasi tujuan, mengubah fungsi organisasi, menambah atau mengurangi (rasionalisasi) karyawan, dan tindakan-tindakan lainnya.

F. ALAT-ALAT PENGAWASAN Alat-alat pengawasan atau pengendalian yang dapat dipergunakan oleh ganisasi/ perusahaan adalah anggaran (budget), dan bukan anggaran (non budget). 1. Budget adalah suatu ikhtisar hasil yang diharapkan dari pengeluaran yang disediakan untuk mencapai hasil tersebut. 2. Pengendalian budget (budgetary control) dapat diketahui/diawasi, apakah hasil yang diharapkan dari penerimaan dan pengeluaran itu sesuai dengan yang diinginkan atau tidak. 3. Pengendalian berdasarkan anggaran merupakan tipe pengendalian yang populer. Anggaran adalah rencana yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka uang (unit moneter). Setiap kegiatan akan disusun anggarannya. Dengan demikian anggaran merupakan tolok ukur atau standar dari suatu kegiatan. 4. Alat-alat nonbudget antara lain adalah personal observation, laporan-laporan, statistik, financial statement, break even point, internal audit, rencana dan program, pengendalian mutu, serta umpan balik (feed-back).

G. TEKNIK-TEKNIK PENGAWASAN Teknik-teknik pengawasan adalah : 111

1. Pengawasan Langsung, yaitu apabila pimpinan organisasi mengadakan sendiri pengawasan terhadap kegiatan yang sedang dijalankan. Bentuk pengawasan ini biasanya : a. Inspeksi langsung; b. On the spot observation; c. On the spot raport. 2. Pengawasan Tidak Langsung, yaitu pengawasan dari jarak jauh. Hal ini terjadi karena kompleksnya tugas pimpinan, di samping organisasinya besar. Pengawasan ini bisa berbentuk tertulis dan lisan. Kelemahan pengawasan ini adalah seringnya bawahan melaporkan hal-hal yang baik saja (ABS = Asal Bapak Senang), lebih-lebih apabila pimpinan suka menghukum bawahan yang melaporkan hal-hal yang kurang/tidak baik/jelek. Padahal yang kurang/tidak baik atau negatif pun harus mendapat perhatian untuk bahan perbaikan-perbaikan. Sebaiknya pengawasan langsung dan pengawasan tidak langsung kedua-duanya dilaksanakan dengan baik.

H. PENGAWASAN DI SEKTOR PENDIDIKAN Pengawasan pendidikan adalah penerapan fungsi pengawasan di sektor pendidikan. Hal ini berlaku baik di tingkat pusat maupun di daerah, termasuk di tingkat operasional sekolah dan perguruan tinggi, baik yang dilakukan secara fungsional oleh aparat pengawasan internal (inspektorat pengawasan) dan pengawasan melekat, maupun eksternal oleh BPKP, BPK, termasuk oleh masyarakat dan DPR/DPRD. Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan adalah : 1. Tahap Perencanaan : a. Pada tahap ini ditentukan kebijakan dan perumusan tujuan yang akan dilaksanakan oleh setiap tim (kelompok kerja pengawas yang dibentuk), yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pelaporan;

112

b. Kebijakan dan tujuan yang telah ditetapkan dijabarkan oleh setiap Inspektur sesuai dengan pembidangannya (wilayah dan penanggung jawab bidang); c. Berdasarkan penjabaran itu, oleh masing-masing Irwil/Irbid dimintakan persetujuan Irjen; d. Sekretariat Itjen membuat perencanaan umum secara menyeluruh tentang program kerja tahunan Itjen, termasuk program pengawasan (Wasrik Umum, Riksus, Sidak, dan monitoring) meliputi sasaran wilayah, sasaran unit, jumlah personil, jumlah dana, jumlah sarana, dan jadwal waktu; e. Irwil selaku Ketua Tim (Wasrik) wilayah dan Irban, dan pemeriksa masing-masing melaksanakan persiapan teknis yang menyangkut pelaksanaan pemeriksaan (substansi). 2. Tahap Pelaksanaan : a. Menentukan waktu dan kegiatan temu awal; b. Melaksanakan temu awal dilanjutkan melakukan kegiatan-kegiatan pemeriksaan sesuai dengan rencana; c. Sementara wasrik berjalan, dilakukan kegiatan-kegiatan pengendalian intern dan kegiatan/tindakan operasional sasaran pemeriksaan; d. Melaksanakan rapat-rapat koordinasi tim wasrik; e. Mempersiapkan bahan temuan dan melaksanakan temu akhir. 3. Tahap Pelaporan. a. Menghimpun semua kertas data temuan; b. Melakukan rapat evaluasi hasil wasrik, dan penyusunan laporan; c. Merumuskan temuan yang menonjol dan menyusunnya ke dalam laporan singkat hasil pemeriksaan; d. Menyusun laporan lengkap hasil pemeriksaan; e. Sementara pimpinan tim segera melaporkan kepada Irjen setelah kembali ke Jakarta; f. Menyampaikan laporan hasil pemeriksaan lengkap sesuai dengan ketentuan. (Pengawasan untuk lingkup Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota, prinsip-

113

nya sama (konkordan) dengan pengawasan ini. Demikian juga yang dilakukan oleh Irda (Bawasda).

I. PENGAWASAN SEKOLAH Pengawasan sekolah merupakan salah satu fungsi manajemen Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini

dapat digolongkan sebagai pengawasan staf, yang merupakan pengawasan teknis fungsional/administratif. Titik beratnya adalah pada penilaian dan pengendalian

secara kontinyu, efektif, dan efisien. Penggunaan metode penyajian, sarana, dana, tenaga, dan waktu dalam menyelenggarakan pendidikan sebagai suatu proses. Adapun rinciannya sebagai berikut. 1. Tugas dan Fungsi Pengawasan. a. Menyusun rencana kegiatan tahunan pengawasan sekolah yang menjadi tanggung jawabnya; b. Mengendalikan termasuk membimbing pelaksanaan kurikulum yang meliputi isi, metode penyajian, penggunaan alat bantu pengajaran dan evaluasi agar berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku; c. Mengendalikan termasuk membimbing tenaga kependidikan sekolah agar memenuhi persyaratan persyaratan formal yang berlaku, dan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang ada; d. Mengendalikan termasuk membimbing pengadaan, penggunaan dan pemeliharaan sarana sekolah sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundangundangan yang berlaku, serta menjaga agar kualitas sarana sekolah memenuhi ketentuan dan persyaratan; e. Mengendalikan termasuk membimbing tata usaha sekolah yang meliputi urusan kepegawaian, ketatalaksanaan dan urusan keuangan, termasuk RAPBS agar berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; f. Mengendalikan termasuk membimbing hubungan kerjasama sekolah dengan instansi pemerintah, dunia usaha (swasta) dan organisasi kemasyarakatan (BP3/ POMG atau sekarang Komite); 114

g. Menilai hasil pelaksanaan kegiatan sekolah antara lain kelender pendidikan, PMB, mutasi siswa, ulangan/ujian (dulu ebta), pembagian rapor, dan kegiatan insidental lainnya; h. Menilai hasil pelaksanaan kurikulum berdasarkan ketentuan yang berlaku dan ketepatan waktu; i. Menilai pendayagunaan sekolah; j. Menilai efisiensi dan efektivitas tata usaha sekolah; k. Menilai hubungan sekolah dengan instansi pemerintah, dunia usaha (swasta), dan organisasi kemasyarakatan lain termasuk Komite; l. Mempersiapkan DP-3 (daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan) kepala sekolah, guru, dan pegawai sekolah; m. Menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tugasnya kepada Kepala Dinas Pendidikan. 2. Tujuan Pengawasan. a. Membina dan menyelia pembinaan sekolah baik yang bersifat edukatif maupun administratif; b. Membina dan menyelia kerjasama sekolah dengan instansi yang terkait; c. Membina dan menyelia pelaksanaan PMB, dan ulangan/ujian (UTS/UAS); d. Menyelia tingkat keberhasilan sekolah menurut paket kepengawasan kabupaten/kota, dan provinsi; e. Membina dan menyelia kepala sekolah yang pernah mengikuti KKS, dan guru yang pernah mengikuti PKG, SOKG/LKS, agar melaksanakan pengajaran dengan pola PKG; f. Mendorong dan memberi motivasi kepada kepala sekolah agar mengimbaskan perolehannya di LKS kepada semua kepala sekolah yang belum mengikuti LKKS; g. Mendorong dan memberi motivasi kepada guru-guru agar mengimbaskan perolehannya di PKG, SPKG/LKG kepada semua guru yang belum mengikuti PKG/SPKG, KKG; h. Membina dan menyelia pelaksanaan sanggar PKG dan sanggar MGMP.

115

3. Kedudukan Pengawas. a. Pengawas berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota; b. Pelaksanaan tugas pengawasan sehari-hari dikoordinasikan oleh Kepala Bidang Dikdas, Dikmen, dan PT, dalam bidang yang serupa dengan tugasnya; c. Hubungan kerja kepengawasan dengan Kepala Dinas dan Kepala Bidang diatur dalam satu mekanisme kerja yang efektif dan efisien. 4. Ruang Lingkup Pengawasan. a. Pelaksanaan kurikulum yang meliputi isi, metode pangajaran, penggunaan alat bantu pelajaran dan evaluasi; b. Pendayagunaan tenaga teknis sekolah dalam rangka terlaksananya proses belajar-mengajar yang efektif dan efisien; c. Pendayagunaan sarana sekolah sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku; d. Ketatausahaan sekolah yang meliputi urusan kepegawaian, keuangan, perkantoran, termasuk proyek-proyek agar berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; e. Hubungan kerja sekolah dengan instansi pemerintah, dunia usaha (swasta), dan organisasi kemasyarakatan termasuk Komite. 5. Sasaran. a. TK/SD/SLTP yang diasuh oleh Bidang Dikdas, dan SLTA oleh Bidang Dikmen; b. Kepala sekolah, guru, dan tenaga pelaksana di TK/SD, SLTP, dan SLTA; c. Kegiatan sanggar PKG dan sanggar MGMP; d. Sarana dan prasarana sekolah; e. Pemanfaatan sarana yang menunjang KBM baik di sekolah maupun di sanggar PKG/MGMP; f. Administrasi sekolah yang meliputi : 1) Administrasi kesiswaan; 2) Administrasi ketenagaan; 116

3) Administrasi kepala sekolah; 4) Administrasi kurikulum; 5) Administrasi perlengkapan; 6) Administrasi keuangan termasuk pengurusan dana dari masyarakat; 7) Administrasi persuratan (tata usaha); 8) Administrasi BP/BK; 9) Administrasi laboratorium/keterampilan/perpustakaan. 6. Hubungan Kerja. a. Dengan Pemda (mulai tingkat RT/RW sampai provinsi) : 1) Kamtibmas; 2) Pelaksanaan 6K (keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan, kerindangan); 3) Koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. b. Dunia usaha (Swasta) : 1) Pengamatan langsung terhadap dunia usaha (swasta) sebagai bahan masukan bagi siswa tentang lapangan kerja; 2) Kegiatan yang berkaitan dengan keterampilan di sekolah; 3) Kegiatan penunjang (ko-kurikulum). c. Komite : 1) Pembentukan kepengurusan Komite sesuai dengan ketentuan yang ada; 2) Uraian tugas Komite; 3) Program kerja Komite dalam menunjang program/kegiatan sekolah; 4) Laporan pertanggungjawaban keuangan Komite setiap tahun. 7. Perwakilan Gabungan Pengawas. Ini khusus di DKI Jakarta. Wagabwas ini adalah gabungan dari masing-masing Bidang yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi.

J. KEGIATAN DAN MEKANISME KERJA PENGAWAS 1. Mekanisme Kerja : a. Program kerja tahunan bidang disusun oleh masing-masing; 117

b. Berdasarkan program kerja tahunan, disusun rencana kegiatan pengawasan yang meliputi komponen kurikulum, tenaga teknis, kesiswaan, sarana/prasarana, tata usaha sekolah, dan hubungan sekolah dengan masyarakat; c. Berdasarkan rencana kegiatan pengawasan tahunan/semesteran, pengawas melaksanakan tugas kepengawasannya; d. Hasil pengawasan berbentuk sebuah laporan ekspositoris yang disampaikan kepada Kepala Dinas up. Kepala Bidang yang relevan, dan laporan khusus non teknis disampaikan langsung kepada Kepala Dinas; e. Hasil pengelolaan laporan pengawas, oleh Bidang disampaikan kepada Kepala Dinas dan tembusan kepada Bidang yang relevan; f. Rapat koordinasi antar bidang sekolah dan Pengawas diadakan secara periodic, minimal lima bulan sekali. 2. Jenis Rapat : a. Rapat Direktif. b. Rapat Koordinatif : 1) Secara periodik; 2) Secara insidental. 3. Rencana Kegiatan Pengawas Tahunan/Semesteran : Dibuat secara matriks dan deskriptif operasional yang berisi : a. Komponen pengawasan; b. Sasaran pengawasan; c. Kegiatan pengawasan; d. Waktu pelaksanaan pengawasan. 4. Laporan Hasil Pengawasan : a. Laporan Bulanan : Hasil kegiatan pengawasan selama satu bulan yang dilakukan dalam bentuk laporan analisis; b. Laporan Semester : Hasil kegiatan pengawasan menyeluruh berdasarkan wilayah yang dilakukan selama satu semester; c. Laporan Tahunan : Hasil kegiatan pengawasan menyeluruh selama satu tahun; 118

d. Laporan Khusus : Laporan teknis dan nonteknis mengenai sesuatu masalah tertentu yang harus disampaikan kepada Kepala Dinas, dengan tembusan kepada unit/bidang yang relevan.

K. PELAKSANAAN PENGAWASAN 1. Wilayah Pengawasan : a. Diatur menurut wilayah/daerah; b. Tiap wilayah pengawasan terdiri atas paket-paket lokasi pengawasan yang meliputi sejumlah sekolah; c. Paket lokasi pengawasan diatur dengan menggunakan prinsip berimbang menurut situasi wilayahnya, meliputi : 1) Jumlah sekolah; 2) Lokasi yang mungkin berdekatan; 3) Pengaturan lokasi sekolah; 4) Jumlah sekolah negeri dan swasta; 5) Jenis dan jenjang sekolah; 6) Waktu menyelenggarakan sekolah; 7) Situasi dan kondisi sekolah; d. Paket pengawasan sebaiknya dikelompokkan dalam satu wilayah. 2. Rotasi Pengawasan : Maksudnya adalah perpindahan tugas seseorang pengawas dari satu paket lokasi ke paket lokasi pengawasan lain, baik dalam wilayahnya maupun ke wilayah lain. Perpindahan ini diatur oleh Kepala Bidang dengan persetujuan Kepala Dinas. 3. Tata Kerja Pengawasan : a. Kepala Bidang bersama-sama pengawas menyusun rencana kegiatan tahunan pengawasan dan menentukan sasaran serta urutan prioritas aspek yang akan disupervisi dan dijalankan dari program pengawasan bidang; b. Pengawas membuat judul tugas pengawasan bulanan dan diserahkan kepada sekretariat pengawas; 119

c. Pada setiap kunjungan pengawas diusahakan sedapat mungkin menjaring segala aspek permasalahan yang berkaitan dengan teknis edukatif, administratif, psikologis dan politis; d. Hasil pengamatan dan kunjungan pengawas di sekolah dituangkan dalam lembaran pengamatan; e. Laporan pengawasan berbentuk laporan analisis berisi kesimpulan dan saran yang ditujukan kepada Kepala Dinas up. Bidang yang relevan; f. Laporan yang sifatnya mendesak atau harus segera diketahui oleh Kepala Dinas atau memerlukan pengarahan Kepala Dinas segera disampaikan dan tembusan kepada Kepala Bidang yang relevan dan sekretariat pengawas; g. Laporan tengah tahunan dan tahunan pengawasan disusun oleh Wagabwas dan disampaikan kepada Kepala Dinas up. Kepala Bidang yang relevan. Kepala Bidang dimaksud melaporkan secara ekspositoris kepada Kepala Dinas dengan tembusan kepada Direktorat yang relevan. 4. Metode Pengawasan. Dilakukan dalam rangka pembinaan, melalui : a. Observasi. b. Kunjungan/pemantauan. c. Rapat-rapat pimpinan sekolah/guru.

120

BAB VIII SUPERVISI PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN Sebenarnya supervisi adalah bagian atau salah satu bentuk pengawasan yang merupakan salah satu fungsi manajemen. Supervisi biasanya dilaksanakan pada unit kerja yang berbentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT). Akan tetapi dalam dunia pendidikan supervisi itu mengandung banyak hal, karenanya sengaja penulis buatkan bab tersendiri melengkapi bab tentang pengawasan pendidikan. Menurut Soebagio Atmodiwirio (2000:201) yang mengutip pendapat Piet Sahertian dan Frans Mateheru, supervisi adalah usaha dari pengawas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru serta merevisi tujuan pendidikan, bahan pengajaran, metode mengajar dan evaluasi pengajaran. Supervisi bertugas melihat dengan jelas masalah-masalah yang muncul dalam mempengaruhi situasi belajar dan menstimulasi guru ke arah usaha perbaikan. Wijono dalam bukunya Administrasi dan Supervisi Pendidikan (1989), mengemukakan definisi lain dari supervisi yang dikemukakan oleh para pakar di antaranya : 1. Glen G. Eye et.al. (1971:31), mendefinisikan supervisi sebagai masa administrasi sekolah yang memusatkan terutama pada pencapaian tujuan pengajaran yang tepat pada sistem pendidikan. 2. Ben Harris & Wailand Bessent (1969:11), mendefinisikan supervisi adalah apa yang dikerjakan personil sekolah dengan orang-orang dan barang-barang untuk penjagaan atau pengubahan pelaksanaan sekolah agar dapat mempengaruhi langsung pencapaian tujuan pokok pengajaran sekolah. 3. Morris Cogan (1973:9), memberi definisi supervisi umum, karenanya, menunjukkan kegiatan-kegiatan seperti penulisan dan perbaikan kurikulum, penyiapan unit121

unit dan bahan-bahan pengajaran, pengembangan proses dan peralatan untuk laporan kepada orang tua, dan masalah yang berhubungan dengan evaluasi keseluruhan program pendidikan. 4. James R. Mark, et.al. (1978:15), memberi definisi, supervisi adalah tindakan dan percobaan ditujukan untuk penyempurnaan pengajaran dan program pengajaran.

Dari definisi-definisi tentang supervisi yang dikemukakan para pakar tersebut di atas, ternyata kediatannya paling tidak terdapat enam hal, yaitu berpusat pada : Administrasi, kepemimpinan. kurikulum, pengajaran, hubungan manusia, manajemen, dan

B. DIMENSI-DIMENSI SUPERVISI PENDIDIKAN Peranan supervisor mempunyai banyak dimensi atau segi-segi, dan karenanya supervisi sering tumpang tindih dengan fungsi-fungsi administratif, kurikuler, dan pengajaran. Tumpang tindih ini dianggap wajar mengingat peran kepemimpinan

dalam suatu unit organisasi termasuk sekolah di antaranya adalah mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan belajar dan proses pembelajaran yang sangat banyak aspeknya. Kepemimpinan supervisor meliputi proses pemikiran, perencanaan, pengorganisasian, dan evaluasi. Pada tahap pemikiran dan perencanaan untuk menyempurnakan pengajaran sangat mungkin ada formasi dan administrasi kebijakan. Pada tahap pengorganisasian untuk program-program pengajaran sangat mungkin berbaur untuk kurikulum karena ada gagasan-gagasan penerjemahan pada kegiatan-kegiatan program pengajaran, dan lain sebagaimnya. Fungsi evaluasi pada supervisi diarahkan pada kegiatan-kegiatan pengajaran pada lembaga pendidikan. Demikianlah maka

ketiga dimensi, yaitu administrasi, kurikulum, dan pengajaran, merupakan tugas yang harus ditangani oleh supervisor secara terpadu.

122

1. Administrasi. Tugas-tugas supervisi administrasi, di antaranya meliputi : a. Menempatkan dan menentukan prioritas tujuan-tujuan, yaitu membantu orang lain di sekolah yang dipusatkan pada tujuan untuk menetapkan prioritas dari berbagai banyak kemungkinan program-program yang ada; b. Menempatkan standar dan mengembangkan kebijakan, yaitu menerjemahkan tujuan-tujuan ke dalam tingkat-tingkat harapan yang baku, lengkap, dengan petunjuk dan peraturan untuk melaksanakan tindakannya; c. Mengadakan perencanaan jangka panjang, yaitu merancang harapan dalam hal tindakan-tindakan dan kegiatan-kegiatan yang dikerjakan sepanjang waktu; d. Merancang struktur organisasi, yaitu membentuk hubungan struktural antara orang-orang dan kelompok-kelompok dalam sekolah; e. Mengidentifikasi dan mengamankan sumber-sumber, yaitu mendapatkan letak sumber-sumber dan melihat bahwa sumber-sumber dimaksud tersedia untuk berbagai struktur organisasi; f. Memilih personil dan menentukan staf, yaitu mengidentifikasi orang-orang yang diperlukan untuk melengkapi program-program dan tugas-tugas untuk struktur organisasi; g. Menyediakan fasilitas yang tepat, yaitu menyesuaikan fasilitas yang tersedia dengan kebutuhan-kebutuhan program, serta mengembangkan fasilitas-fasilitas baru apabila diperlukan; h. Mengatur pembiayaan, yaitu menggunakan uang untuk membiayai programprogram yang tepat; i. Mengorganisasikan pengajaran, yaitu memberi tugas kepada staf dan personil pengajaran, serta pembantu yang lain pada struktur organisasi; j. Mempromosikan hubungan sekolah-masyarakat, yaitu mengadakan dan memelihara hubungan baik antara sekolah dengan masyarakat yang mendukung program-program pendidikan. 2. Kurikulum. Tugas-tugas supervisi kurikulum (curriculum oriented) di antaranya adalah :
123

a. Menentukan tujuan-tujuan pengajaran, yaitu menerjemahkan tujuan-tujuan pada tujuan yang lebih khsusus atau lebih operasional bagi pengajaran; b. Menyurvei kebutuhan-kebutuhan dan mengadakan penelitian, yaitu menilai kondisi-kondisi yang ada untuk menentukan bagaimana program-program sekolah dapat secara efektif memenuhi kebutuhan siswa/peserta didik; c. Mengembangkan program-program dan merencanakan perubahan-perubahan, yaitu mengorganisasikan isi pengajaran dan menelaah program-program yang ada untuk meningkatkan relevansinya; d. Menghubungkan program-program dengan berbagai pelayanan khusus, yaitu mengikat tali hubungan dari berbagai komponen pengajaran, baik di dalam sekolah maupun di masyarakat; e. Memilih bahan dan mengalokasikan sumber-sumber, yaitu menganalisis sumbersumber pengajaran yang tersedia dan menempatkan mereka ke programprogram yang tepat; f. Mengarahkan dan memperbaharui staf pengajar, yaitu mengantarkan program sekolah untuk guru-guru baru dan staf rutin yang ada dalam rangka mengup grade kemampuan mereka; g. Menyarankan perubahan fasilitas, yaitu merancang suatu rencana untuk mengatur kembali fasilitas-fasilitas yang ada disesuaikan dengan programprogram pengajaran, dan jika perlu menyarankan fasilitas-fasilitas tambahan; h. Memprakirakan pengeluaran yang dibutuhkan untuk pengajaran, yaitu menghitung prakiraan biaya pengembangan program dan membuat rekomendasi untuk penerapan biaya yang ada dan yang diharapkan; i. Mempersiapkan program-program pengajaran, yaitu membentuk berbagai unit dan tim pengajaran, mengadakan kesempatan-kesempatan inservice untuk pengembangan pengajaran; j. Mengembangkan dan menyebarluaskan deskripsi program-program sekolah, yaitu menulis deskripsi yang cermat tentang program-program sekolah dan menginformasikan kegiatan-kegiatan yang berhasil kepada masyarakat/umum.

124

3. Pengajaran. Tugas-tugas supervisi dalam bidang pengajaran, meliputi : a. Mengembangkan rencana pengajaran, yaitu bekerja dengan guru-guru untuk membuat kerangka dan memperlengkapi program-program pengajaran; b. Mengevaluasi program, yaitu mengadakan tes dan jenis evaluasi lainnya untuk menentukan apakah program-program pengajaran memenuhi standar; c. Berinisiatif menemukan program-program baru, yaitu mempertunjukkan teknikteknik baru dan sebaliknya memberikan dasar untuk program-program baru; d. Merancang kembali organisasi pengajaran, yaitu menelaah organisasi pengajaran yang ada untuk efektivitas, dan jika kurang sesuai membuat perubahan; e. Membagi sumber-sumber pengajaran, yaitu meyakinkan bahwa guru-guru memiliki bahan-bahan pengajaran yang diperlukan dan mengharapkan kebutuhan material di masa dating; f. Memberi nasihat dan membantu guru-guru, yaitu kesediaan berkonsultasi dengan guru-guru yang berperan membantu keberhasilan proses pembelajaran; g. Mengevaluasi fasilitas dan mengawasi perubahan-perubahan, yaitu menilai fasilitas pengajaran untuk ketepatan pengajaran dan membuat kunjungan ke lokasi untuk meyakinkan bahwa perubahan-perubahan yang ada memang direncanakan; h. Membagi dan menerapkan pembiayaan, yaitu mengikuti alur penggunaan uang untuk mengetahui apakah penerapannya sesuai dengan program-program yang telah direncanakan; i. Memimpin dan mengkoordinasikan program-program inservice, yaitu membimbing program-program inservice training sehingga mereka memenuhi kebutuhan pengajaran; j. Menjawab kebutuhan dan pertanyaan-pertanyaan masyarakat, yaitu menerima umpan balik (feedback) dari masyarakat tentang program-program sekolah dan mengirim informasi kepada orang tua/wali murid melalui komite.

125

Contoh kegiatan supervisi pendidikan : Tugas-tugas Administrasi


1. Menetapkan dan menyusun prioritas tujuantujuan 2. Menentukan standar dan kebijakan 3. Mengadakan perencanaan jangka panjang 4. Merancang struktur organisasi 5. Mengidentifikasi dan mengamankan sumbersumber 6. Memilih personil dan staf 7. Menyediakan fasilitas yang tepat 8. Menyiapkan dana yang diperlukan 9. Mengorganisasikan pengajaran 10. Mempromosikan hubungan sekolah dengan masyarakat
Sumber : Wijono (1989:186-187).

Tugas-tugas Kurikulum

Tugas-tugas Pengajaran
rencana

Menentukan tujuan-tujuan Mengembangkan pengajaran pengajaran Survey kebutuhan dan mengadakan penelitian Mengembangkan programprogram dan merencanakan perubahan-perubahan Menghubungkan programprogram pelayanan khusus Memilih bahan-bahan dan mengalokasikan sumbersumber Orientasi dan memperbaharui staf pengajaran Memberi saran perubahan fasilitas Memprakirakan pengeluaran yang diperlukan untuk pengajaran Mempersiapkan programprogram pengajaran Menyebarluaskan deskripsi program sekolah

Evaluasi program-program sehubungan dengan standar Berinisiatif untuk programprogram baru Merancang kembali organisasi pengajaran di mana perlu Menyampaikan sumbersumber poengajaran Menasihati dan membantu guru-guru Memeriksa perubahan fasilitas Membagi dan menggunakan dana Mengkoordinasikan kegiatankegiatan inservice Menjawab pertanyaan tentang program-program sekolah kepada masyarakat

Kepala sekolah dan pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan supervisi (supervisor) berkewajiban untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan terhadap apa yang telah dilaksanakan. Oleh karena itu tujuan supervisi secara operasional adalah : 1. Membantu guru melihat dengan jelas tujuan pendidikan. 2. Membantu guru membimbing siswa dalam belajar. 3. Membantu guru dalam menggunakan sumber-sumber pengalaman belajar. 4. Membantu guru dalam menggunakan metode dan alat pelajaran modern. 5. Membantu guru dalam memenuhi kebutuhan belajar siswa. 6. Membantu guru dalam hal menilai kemajuan murid dan hasil pekerjaan guru itu sendiri.
126

7. Membantu guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan. 8. Membantu guru baru di sekolah sehingga merasa gembira dengan tugas yang diembannya. 9. Membantu guru agar lebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap masyarakat dan cara-cara menggunakan sumber-sumber yang ada. 10. Membantu guru agar waktu dan tenaga tercurahkan sepenuhnya dalam pembinaan siswa di sekolahnya. Menurut Soebagio Atmodiwirio (2000:202-203), supervisi dan pembinaan profesional guru dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan tugas pokoknya sehari-hari di sekolah, yaitu mengelola proses belajar-mengajar dengan segala aspek pendukungnya agar berjalan dengan baik, sehingga tujuan PBM khususnya, dan tujuan pendidikan pada umumnya tercapai dengan optimal. Adapun kemampuan yang perlu ditingkatkan meliputi : 1. Merencanakan kegiatan belajar-mengajar dengan baik. 2. Kegiatan belajar-mengajar. 3. Menilai proses dan hasil belajar. 4. Memberikan umpan balik secara teratur dan terus-menerus. 5. Membuat dan menggunakan alat bantu baru dalam mengajar secara sederhana. 6. Menggunakan/memanfaatkan lingkungan sebagai sumber dan media pembelajaran. 7. Membimbing dan melayani siswa yang mengalami kesulitan. 8. Mengelola dan mengadministrasikan kegiatan belajar-mengajar, ko dan ekstra kurikuler, serta kegiatan-kegiatan sekolah lainnya. Terdapat delapan fungsi supervisi pendidikan, yaitu : 1. Mengkoordinasikan semua usaha sekolah. 2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah. 3. Memperluas pengalaman guru. 4. Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif. 5. Memberikan fasilitas dan penilaian yang terus-menerus.
127

6. Menganalisis situasi belajar-mengajar. 7. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf. 8. Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.

C. KOMPETENSI KHUSUS SUPERVISOR PENDIDIKAN Dari hasil konsultasi dengan para supervisor pendidikan di beberapa Negara Bagian di Amerika Serikat, John Wils dan Joseph Bondi (dalam Wijono, 1989:192-198), mengemukakan ada delapan bidang keterampilan khusus yang merupakan bidang kompetensi bagi para supervisor, yaitu : 1. Supervisor adalah orang yang mengembangkan manusia (supervisors are developers of People). a. Supervisor yang baik tidak pernah lupa bahwa sekolah adalah lingkungan belajar yang dirancang untuk membantu pertumbuhan anak. Hal ini menuntut pengetahuan proses perkembangan anak sebagaimana halnya sifat khusus anak di berbagai kelompok di sekolah; b. Terdapat perbedaan dan persamaan di antara anak-anak di sekolah, antara lain dalam hal latar belakang sosial dan pengalaman anak sebelum masuk sekolah, kemampuan belajarnya, ada yang lebih kuat daripada yang lain, ada yang lebih dapat menerima keberhasilan dan kegagalan, dll. Hal ini harus ditampung oleh pimpinan sekolah dan berbeda cara menilainya; c. Bagi beberapa anak yang demikian berbeda sehingga cenderung istimewa, karena tidak dapat menyesuaikan dengan suatu norma yang didasarkan pada program pengajaran, diperlukan program-program khusus. Di sinilah bahayanya jika supervisor menjadi prison dumb (dungu) yang lupa terhadap tujuan sekolah, untuk apa menyelenggarakan sekolah, dan untuk siapa kurikulum dan program pengajaran direncanakan. 2. Supervisor adalah pengembang kurikulum (Supervisors are curriculum developpers).
128

a. Kurikulum yang riil adalah apa yang dialami anak di kelas. Jadi, apa yang seharusnya diajarkan di kelas mesti dikuasai oleh guru. Perbuatan guru menyampaikan kurikulum secara nyata adalah pembuatan program studi. Mengingat supervisor bekerja langsung dengan para guru, maka dia memiliki kesempatan yang baik untuk mempengaruhi perkembangan kurikulum; b. Perkembangan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu siklus yang dimulai dari analisis tujuan untuk pendirian sekolah, kejelasan filsafat dan tujuan-tujuan, penunjukkan prioritas-prioritas yang tepat, dan menggali konsep-konsep program dan langkah pengembangannya. Kemudian dilanjutkan dengan rancangan kurikulum termasuk mengembangkan standard dan tujuan serta mempertimbangkan pendekatan untuk perbaikannya. Langkah selanjutnya adalah dengan memperlengkapi atau membuat usulan perubahan-perubahan. Siklus kemudian diakhiri dengan evaluasi usaha itu dan identifikasi kebutuhan yang lebih jauh; c. Supervisor bekerja dengan administrator dan guru-guru, juga mempunyai suatu pandangan dari atas (bird eye view) tentang proses pengembangan kurikulum. Karena mereka bekerja di kelas dengan guru-guru yang menyampaikan kurikulum riil, maka supervisor adalah agen pengawas yang pokok. Kemam puan supervisor memadukan praktek dengan kebijakan umum, menjadikannya penyetor informasi kritik tentang penyempurnaan kurikulum. 3. Supervisor adalah spesialis pengajaran (Supervisors are Instructional Specialists). a. Peranan supervisi pengajaran paling tidak memiliki tiga dimensi, yaitu riset, komunikasi, dan pengajaran. 1) Dalam peran riset, supervisor harus mengetahui makna dari banyak penelitian yang dilakukan dalam bidang pengajaran yang cukup lama (lk. 25 tahun lalu). Penelitian ini a.l. tentang guru dan efektivitas sekolah, gaya belajar, memberi banyak saran perubahan di kelas. Jadi, supervisor adalah seorang analis pengajaran dan sumber pengetahuan yang relevan tentang bidang pengajaran;

129

2) Dalam peran komunikasi (sebagai komunikator), supervisor membantu para guru dari berbagai bidang studi menyatukan pendapat, menerima usulan, keluhan, dll. kemudian membicarakan/memusyawarahkan pemecahan masalahnya. Penting juga kecakapan dalam menyampaikan apa yang diamati, siapa yang merencanakan pelaksanaan sekolah, atau menghubungkan guru dengan sumber-sumber yang lebih besar yang ada di luar lingkungan sekolah; 3) Dalam peran pengajaran, supervisor adalah guru yang istimewa di kelas. Keahliannya diuji dalam membantu guru baru atau dalam mendemonstrasikan teknik baru untuk guru yang belum berpengalaman. Di sini dia membantu guru kelas menjadi berpengetahuan dan berpengalaman, dan bergabung di antara para guru menyampaikan gagasan-gagasan baru, pergi ke kelas untuk mendemonstrasikan cara mengajar yang baik dan efektif. 4. Supervisor adalah pekerja hubungan manusia (Supervisors are human relations workers). a. Kebanyakan kerja supervisor adalah informasi dari orang ke orang, apakah bekerja dengan guru-guru secara individual atau kelompok. Juga berkomunikasi dengan staf pengajar dan staf administratif. Karena itu supervisor harus mempunyai pengetahuan dasar-dasar hubungan manusia (human relations); b. Supervisor harus peka (sensitif) memperhatikan kebutuhan berbagai macam kelompok kliennya, kepada siapa dia mengadakan interaksi. Dia harus

melakukan diplomasi dalam penggunaan bahasa, berasumsi bahwa apa yang dikatakannya akan didengar dan dapat mempengaruhi orang lain. Dia pun harus sebagai pendengar yang baik, yang terucap maupun tidak oleh kliennya; c. Supervisor juga harus mampu memotivasi orang lain, terutama para guru. Karena kedudukannya, supervisor juga harus mampu menerjemahkan kebijakan/ keputusan sekolah dalam tingkah laku para guru dan staf sekolah, termasuk siswa; d. Supervisor juga harus memiliki kecakapan bermusyawarah karena bekerja di lingkungan kelompok-kelompok dalam rangka perbaikan pendidikan; e. Supervisor adalah spesialis hubungan umum secara teratur di sekolah.
130

5. Supervisor adalah pengembang staf (Supervisors are staff developers). a. Supervisor bertugas memperbaiki kesempatan belajar siswa sekaligus meningkatkan keterampilan guru-guru dan tenaga staf di bidang pekerjaannya masingmasing. Ini berarti mengembangkan sumber daya manusia, yang berarti juga pengembangan staf; b. Sekolah adalah organisasi manusia, karenanya upaya perbaikan perbuatan (tingkah laku) orang-orangnya (guru-guru, staf tata usaha, tenaga teknis fungsional lain, dan para siswa) menjadi penting, dan merupakan bagian tugas pembinaan dari supervisor. Supervisor harus siap dengan model training dari pengalamannya kepada mereka; c. Cara pengembangan staf di antaranya dengan pelatihan jabatan (inservice training) yang secara individual dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilakunya, sehingga dapat tumbuh berlanjut dan terarah secara tim; d. Supervisor karenanya harus dapat mengidentifikasi dan menyusun jadwal bantuan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan masing-masing staf. Bantuan harus berkualitas dalam arti bermanfaat bagi perbaikan pengajaran di sekolah. 6. Supervisor adalah administrator (Supervisors are administrators). a. Supervisor sebagai administrator memerlukan keterampilan dasar administratif. Ia harus mampu membimbing pembantu dan sekretarisnya dalam mengelola informasi termasuk pencatatan dalam bidang pengajaran; b. Tugas administrator lebih luas dari sekedar manajerial, karena itu perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang ilmu administrasi, manajemen, organisasi, ketatausahaan, dll. serta teknik-tekniknya. 7. Supervisor adalah pemimpin perubahan (Supervisors are managers of change). a. Dulu (20 tahunan yang lalu) para supervisor melaksanakan tugasnya berdasarkan hubungan antarpribadi, memperbaiki pengajaran dengan bekerja langsung dengan orang-orang. Dewasa ini hubungan antarpribadi sudah berkurang,

karena komunikasi dapat dilakukan melalui berbagai cara dan media; b. Kegiatan-kegiatan pembinaan dan pengembangan di bidang pengajaran dapat
131

dilakukan melalui berbagai metode. Buku teks, media, program komputer dapat dimanfaatkan dengan baik. Karena itu segala hal hal berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas supervisor termasuk monitor dan evaluasi lebih mudah; c. Secara keseluruhan, fungsi-fungsi manajemen termasuk interaksi yang berkaitan dengan tugasnya harus dapat dilaksanakan dengan baik.

8. Supervisor adalah penilai (Supervisors are evaluators). a. Supervisor menempati posisi sebagai penilai tetap, yaitu menilai kemampuan guru dan staf, pencapaian program, bahan-bahan pengajaran dan buku-buku teks, analisis hasil tes, dll. b. Supervisor secara teratur diharapkan menemukan kebutuhan akan penilaian dan mengadakan survei serta tindak lanjut penelitiannya. Organisasi informasi dan penerjemahan data yang didapat akan menjadi bahan perbaikan pengajaran dan sekolah; c. Supervisor diharapkan pula memegang semua hasil penelitian dalam bidang pendidikan dan menerjemahkan penemuan-penemuannya untuk bahan masukan para guru dan staf di sekolah.

D. TEKNIK-TEKNIK PEMBINAAN GURU Di antara tugas supervisor adalah pembinaan guru. Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa cara, di antaranya : 1. Kunjungan kelas secara berencana untuk memperoleh gambaran tentang proses belajar-mengajar yang dilaksanakan oleh guru. 2. Pertemuan pribadi pada waktu-waktu yang telah disepakati antara pembina dengan guru untuk masalah-masalah yang dianggap khusus. 3. Rapat rutin antara pembina dengan para guru, biasanya menyangkut masalahmasalah yang sifatnya umum. 4. Kunjungan antar kelas atau sekolah, untuk saling tukar pengalaman serta hal-hal lain yang menyangkut usaha untuk menunjang pelaksanaan interaksi belajarmengajar.

132

5. Pertemuan-pertemuan, misalnya pada KPPS (Kelompok Kerja Penilik Sekolah), KKKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah), KKG (Kelompok Kerja Guru), dan di forum PKG (Pusat Kegiatan Guru). Dalam melaksanakan supervisi, dapat dipergunakan teknik-teknik sebagai berikut. 1. Teknik yang bersifat individual : a. Kunjungan kelas; b. Observasi kelas; c. Percakapan pribadi; d. Saling mengunungi kelas; e. Menilai diri sendiri. 2. Teknik yang bersifat kelompok : a. Orientasi tehadap guru baru; b. Rapat guru; c. Studi kelompok antar guru; d. Diskusi kelompok; e. Tukar-menukar pengalaman. Dalam praktek, teknik-teknik tersebut di atas tidak dapat sekaligus diterapkan, karenanya perlu adanya bimbingan secara sistematis dari kepala sekolah atau pembinanya. Penerapan teknik supervisi di lapangan dapat dilakukan melalui kegiatan membantu guru : 1. Melihat dengan jelas proses belajar-mengajar sebagai suatu sistem. 2. Melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan. 3. Menyusun kegiatan belajar-mengajar. 4. Menerapkan metode mengajar yang lebih baik. 5. Menggunakan sumber pengalaman belajar. 6. Menciptakan alat peraga dan penggunaannya. 7. Menyusun program belajar-mengajar. 8. Menyusun tes prestasi belajar. 9. Belajar mengenal siswa dengan baik. 10. Membina moral dan kegembiraan kerja.
133

11. Membina kode etik jabatan guru dan peningkatan semangat/etos kerja. Guru-guru di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kementerian Agama umumnya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) kecuali yang memang masih berstatus guru bantu, honorer, tenaga kerja suka rela, dll. Jabatan guru PNS adalah jabatan fungsional, yaitu kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang PNS dalam suatu organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan keahlian atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. Pembinaan jabatan fungsional guru dilakukan oleh instansi pembina jabatan fungsional, yaitu instansi yang menggunakan jabatan fungsional dan mempunyai kegiatan sesuai dengan tugas pokok instansi dimaksud, atau instansi jika dikaitkan dengan bidang tugasnya dianggap mampu untuk ditetapkan sebagai pembina jabatan fungsional. Instansi pembina jabatan fungsional guru adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di daerah, ya Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Salah satu contoh mekanisme pembinaan jabatan fungsional guru, adalah apa yang telah dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Dasar terhadap guru-guru SD, yang bentuk wadah pembinaannya : 1. Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKS) : Merupakan wahana untuk diskusi, tukar-menukar informasi/pengalaman, mencari/ menemukan alternatif pemecahan dan penyelesaian masalah, dan menetapkan keseragaman dalam pembinaan. KKS juga merupakan wahana koordinasi dalam upaya pembinaan mata pelajaran, proses interaksi belajar-mengajar sesuai dengan tujuan pembelajaran. 2. Kelompok Kerja Guru (KKG). Merupakan wahana untuk meningkatkan kemampuan guru dalam meteri pelajaran, persiapan, pengadaan/pembuatan alat, bahan atau sumber belajar, pelaksanaan belajar-mengajar, penilaian pelayanan khusus bagi siswa tertentu, mencari alternatif penyelesaian berbagai masalah, dan penetapan keseragaman berbagai kegiatan.
134

3. Pusat Kegiatan Guru (PKG). Merupakan wadah bagi guru, kepala sekolah, dan penilik untuk mengadakan pertemuan dan latihan-latihan pada tingkat kecamatan. PKG sekaligus sebagai pusat sumber belajar bagi guru. 4. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Merupakan forum musyawarah bagi guru-guru yang menangani bidang studi (mata pelajaran) tertentu, misalnya dalam hal menyamakan persepsi terutama dalam kaitan dengan metode pengajaran, atau mungkin juga jika dikaitkan dengan mata pelajaran kelompok ilmu sosial yang sedikit banyak akan mendapat pengaruh lingkungan dan sistem politik kenegaraan.

135

BAB IX EVALUASI PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN Selain istilah evaluasi, terdapat pula istilah pengukuran dan penilaian. Ketiga istilah itu cenderung diartikan sama, walaupun sebenarnya ada perbedaannya. Mengukur

adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran dan bersifat kuantitatif. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk, dan bersifat kualitatif. menilai. Sementara evaluasi meliputi keduanya, yakni mengukur dan

Fokus pengukuran kegiatannya pada proses pengumpulan, penyusunan,

pengolahan, dan penafsiran data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan fokus penilaian kegiatannya pada proses pemberian nilai serta peringkat kompetensi yang menggambarkan kinerja (unjuk kerja/penampilan kerja atau performansi), berdasarkan hasil pengukuran, yaitu kriteria atau norma tertentu. Kita mengenal dua macam ukuran, yaitu ukuran yang berstandar (meter, kilogram, ohm, derajat, dsb.), ukuran tidak berstandar (jengkal, depa, langkah, dsb.) dan ukuran prakiraan berdasarkan hasil pengalaman, contohnya jeruk manis adalah yang warnanya kuning, besar, dan halus kulitnya. Istilah asing dari pengukuran adalah measurement, sedangkan penilaian adalah evaluation. Dari kata evaluation diperoleh kata Indonesianya evaluasi yang berarti menilai atau penilaian. Untuk lebih menjelaskan pengertian evaluasi, berikut adalah definisi yang diberikan oleh para ahli. (Daryanto, 1999:1-2). 1. Bloom (1971) : Evaluation, as we see it, is the systematic collection of evidence to determine whether in fact certain changes are taking place in the learners as well as to determine the amount or degree of change in individual students. (Evaluasi, sebagaimana kita lihat, adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa).
136

2. Stufflebeam (1971) : Evaluation is the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives. (Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan). 3. Suke Silverius (1991) : Professional judgment or a process that allows one to make a judgment about the desirability or value of something. (Pertimbangan prafesional atau suatu proses yang memungkinkan seseorang membuat pertimbangan tentang daya tarik atau nilai sesuatu). 4. S.P. Siagian (1996:141) : Penilaian adalah Proses pengukuran dan pembandingan daripada hasil-hasil pekerjaan yang nyatanya dicapai dengan hasil-hasil yang seharusnya dicapai. 5. Syaiful Sagala (2007:177) : Penilaian dan pengukuran ialah upaya sistematis mengumpulkan, menyusun, mengolah, dan menafsirkan fakta, data, dan informasi (yang dapat dipertanggungjawabkan) dengan tujuan menyimpulkan nilai atau peringkat kompetensi seseorang dalam satu jenis atau bidang keahlian keprofesian seperti kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan berdasarkan norma kriteria tertentu, serta menggunakan kesimpulan tersebut dalam proses pengambilan keputusan kinerja yang direkomendasikan. 6. Daryanto : Mengemukakan adanya batasan lain, The determination of the congruence between performance and objectives. (Penentuan kesesuaian antara penampilan (unjuk kerja/kinerja) dan tujuan). Dari definisi-definisi tersebut di atas yang perlu diperhatikan adalah : 1. Penilaian merupakan fungsi organik sebab pelaksanaan fungsi dimaksud turut menentukan mati-hidupnya suatu organisasi.
137

2. Penilaian adalah suatu proses, berarti kegiatannya harus terus-menerus dilakukan oleh administrasi dan manajemen. 3. Penilaian menunjukkan jurang pemisah (gap) antara hasil pelaksanaan yang sesungguhnya dicapai (das sein), dengan hasil yang seharusnya dicapai (das solen). Memang benar jika dikatakan bahwa tidak ada satu organisasi yang selalu mencapai tujuannya seratus prosen memuaskan. Tetapi usaha-usaha serius perlu dilakukan untuk : 1. Menentukan tujuan yang realistis dan pragmatis. 2. Menentukan standar kualitas pekerjaan yang diharapkan. 3. Meneliti sampai pada tingkat apa standar yang telah ditentukan itu dapat dicapai. 4. Mengadakan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan baik penyesuaian rencana, organisasi, cara motivasi atau pengawasan. Penyesuaian pun dapat pula ditujukan terhadap tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

B. TUJUAN EVALUASI PENDIDIKAN Evaluasi pendidikan adalah kegiatan menilai dalam bidang pendidikan. Penilaian ini dilakukan oleh semua komponen yang ada di lembaga-lembaga pendidikan, baik di lingkungan pemerintah (Kemendikbud, dan Pemda), di lingkungan swasta (Yayasan), termasuk di sekolah-sekolah sebagai satuan yang menyelenggarakan operasional pendidikan dan pengajaran. Penilaian diarahkan pada kinerja (performance) orangorang yang terlibat dalam pelaksanaan suatu kegiatan dalam organisasi/institusi. Kinerja adalah manifestasi hasil kerja yang dicapai oleh suatu institusi. Ukuran keberhasilan suatu institusi mencakup seluruh kegiatan setelah melalui uji tuntas terhadap tujuan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan. Proses dan mekanisme kegiatan evaluasi secara instansional di lingkungan lembaga-lembaga pendidikan sudah ada aturannya tersendiri. Karena itu pembahasan dalam diktat atau makalah ini dibatasi hanya penilaian yang dilaksanakan di sekolah, yaitu upaya kepala sekolah dan guru atau pengelola pengajaran untuk melihat keberhasilan belajar para siswanya. Dengan demikian yang dibicarakan di sini adalah
138

pengukuran dan penilaian kinerja siswa saja dalam proses pembelajarannya. Jika digambarkan dalam bentuk diagram, proses penilaian terhadap siswa tersebut akan terlihat sebagai berikut.

INPUT

TRANSFORMASI

OUTPUT

Feedback

1. Masukan (Input) : Yaitu bahan mentah yang dimasukkan ke dalam transformasi (perubahan bentuk menjadi). Dalam dunia sekolah, maka bahan mentah dimaksud adalah calon siswa baru. Sebelum diterima, calon siswa itu dinilai dulu kemampuannya, apakah ia akan mampu mengikuti pelajaran dan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. 2. Keluaran (Output) : Yaitu bahan jadi yang dihasilkan oleh transformasi, ialah siswa lulusan sekolah bersangkutan. Untuk menentukan apakah seorang siswa berhak lulus atau tidak, perlu diadakan kegiatan evaluasi. 3. Perubahan Bentuk (Transformasi) : Yaitu mesin yang bertugas mengubah bahan mentah (calon siswa) menjadi bahan jadi (siswa lulus). Jika siswa tidak lulus, berarti ada masalah. Adapun unsur-unsur transformasi sekolah tersebut adalah : a. Guru dan personal lainnya; b. Bahan pelajaran; c. Metode mengajar dan sistem evaluasi; d. Sarana penunjang; e. Sistem administrasi.
139

4. Umpan Balik (Feedback) : Yaitu segala informasi baik yang menyangkut output maupun transformasi. Umpan balik ini diperlukan untuk memperbaiki input maupun transformasi. Lulusan yang kurang bermutu atau yang belum memenuhi harapan, akan menggugah semua pihak untuk mengambil tindakan yang berhubungan dengan penyebab kurang bermutunya lulusan. Di antara penyebab dimaksud adalah : a. Input yang mutunya kurang baik; b. Guru dan personal sekolah yang kurang baik; c. Materi pelajaran yang kurang atau tidak cocok; d. Metode mengajar atau sistem evaluasi yang kurang memadai; e. Kurangnya sarpras penunjang; f. Sistem administrasi yang kurang tepat. Evaluasi di sekolah menyangkut calon siswa, lulusan, dan proses pendidikan secara menyeluruh, yaitu : a. Manfaat bagi siswa : Dengan penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana ia berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasilnya ada dua kemungkinan : 1) Memuaskan, sehingga menyenangkan dan menjadi motivasi untuk lebih giat lagi belajar; 2) Tidak memuaskan, harapannya ia akan belajar lagi lebih giat agar tidak terulang. Tetapi kenyataannya bisa jadi malah putus asa. b. Manfaat bagi guru : Dengan penilaian, maka guru akan mengetahui : 1) Siswa-siswa mana yang berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan dan yang belum berhasil. Dalam hal ini guru harus memusatkan perhatiannya lebih kepada yang belum berhasil, terlebih jika diketahui sebab-sebabnya; 2) Apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa; 3) Apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika sebagian besar nilai para siswa jelek, ini merupakan indikasi bahwa metode atau pendekatan yang dilakukan kurang tepat. Di sini guru mestinya mawas diri dan mencoba
140

mencari metode dan pendekatan lain; c. Manfaat bagi sekolah : Dari penilaian yang dilakukan dan bermanfaat bagi guru, maka kemudian dikembangkan menjadi bahan masukan bagi sekolah : 1) Hasil belajar siswa merupakan cermin kualitas suatu sekolah, karena itu sekolah perlu menciptakan kondisi agar sesuai dengan harapan, misalnya dengan perbaikan kurikulum, metode pengajaran, dll. 2) Jika kurikulum yang dianggap kurang tepat, maka menjadi bahan perencanaan sekolah di masa mendatang; 3) Informasi hasil penilaian dari tahun ke tahun dapat digunakan sebagai bahan dan pedoman bagi sekolah untuk menilai apakah penyelenggaraan pendidikan sudah sesuai dengan standar atau belum. Sesuai dengan urutan kejadiannya, dalam proses transformasi, evaluasi dibedakan atas tiga hal, yaitu sebelum, selama, dan sesudah terjadi proses dalam kegiatan sekolah. Dalam hal ini para pelaksana pendidikan harus berorientasi pada tujuan yang akan dicapai, dan tinjauannya diarahkan pada siswa secara individual maupun kelompok (kelas atau per angkatan). Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses pembelajaran adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh para siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya. Tindak lanjut ini merupakan fungsi evaluasi yang dapat berupa : 1. Penempatan pada tempat yang tepat. 2. Pemberian umpan balik. 3. Diagnosis kesulitan belajar siswa. 4. Penentuan kelulusan. Untuk masing-masing tindak lanjut tersebut di atas terdapat tes, yaitu : 1. Tes penempatan. 2. Tes formatif. 3. Tes diagnostik. 4. Tes sumatif.

141

1. Tes Penempatan (Placement Test). Tes ini dilakukan pada awal tahun ajaran untuk mengukur kesiapan siswa dan mengetahui tingkat pengetahuan yang telah dicapai sehubungan dengan materi yang akan disajikan. Dengan demikian siswa dapat ditempatkan pada kelompok yang sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya itu. Akan tetapi hal ini tidak berlaku untuk sistem klasikal seperti yang umumnya dilaksanakan di Indonesia. Tes ini biasanya disusun dengan ruang lingkup yang luas dan memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi, sehingga dapat membedakan antara siswa yang sudah dan yang belum menguasai pelajaran. Tes semacam ini dibuat dan mengacu pada norma, sehingga disebut tes acuan norma (norma referenced test). 2. Tes Formatif (Formative Test). Tes ini dilakukan di tengah program pengajaran, untuk memantau (memonitor) kemajuan belajar siswa demi memberikan umpan balik, baik kepada siswa maupun kepada guru. Berdasarkan hasil tes ini, guru dan siswa dapat mengetahui apa yang masih perlu dijelaskan kembali agar materi pelajaran dapat dikuasai lebih baik. Guru maupun siswa dapat melihat bagian mana umumnya materi yang belum dikuasasi. Tes formatif umumnya mengacu pada kriteria, karena itu disebut tes acuan kritaria (critrerion referenced test). Di sini dibuatkan tugas-tugas berupa tujuan instruksional yang harus dicapai siswa untuk dapat dikatakan berhasil dalam belajarnya. Tugas-tugas itulah yang merupakan kriteria untuk menilai apakah siswa berhasil atau tidak dalam belajarnya. 3. Tes Diagnostik (Diagnostic Test). Tes ini bertujuan untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa dan mengupayakan perbaikannya. Sepintas lalu tampak seperti tes formatif, akan tetapi penyusunannya berbeda dari tes formatif atau lainnya. Karena tujuannya untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa, maka perlu diketahui lebih dulu bagian mana dari pelajaran yang menyulitkan belajar siswa. Itu artinya, perlu disajikan dulu hasil tes formatif sehingga diketahui bagian-bagian pelajaran yang tidak/belum dikuasasi siswa. Barulah kemudian dibuatkan butir-butir soal yang lebih memusatkan pada bagian
142

itu sehingga dapat dipakai untuk mendeteksi bagian-bagian mana dari pokok bahasan atau subpokok bahasan yang belum dikuasai. Untuk tiap unit dalam pokok bahasan atau subpokok bahasan yang belum dikuasasi itu dibuatkan beberapa soal yang tingkat kesukarannya relatif rendah. Hal ini untuk memperoleh informasi bahwa unit tertentu belum dikuasasi sehingga soalnya tidak dapat dijawab kendati umumnya mudah. Atas dasar informasi ini, guru dapat mengupayakan perbaikannya. 4. Tes Sumatif (Summative Test). Tes ini diberikan pada akhir tahun ajaran atau akhir dari suatu jenjang pendidikan. Makna ini kemudian diperluas dan dipakai pada akhir catur wulan atau akhir semester, sehingga ada ulangan atau Ujian Tengah Semester (UTS) di samping Ujian Akhir Semester (UAS), dan Ujian Sidang bagi mahasiswa, yaitu ujian komprehensif dalam mengakhiri jenjang pendidikan. Itulah sebabnya tes ini dimaksudkan untuk memberikan nilai yang menjadi dasar dalam menentukan kenaikan kelas (tingkat) atau kelulusan siswa, atau pemberian sertifikat bagi yang berhasil menyelesaikan pelajaran dengan baik. Karena sekarang ini banyak sekolah yang sudah menerapkan sistem kredit, maka tidak ada lagi istilah tidak naik kelas/tingkat. Oleh karena itu siswa/mahasiswa dapat terus mengikuti pelajaran di kelasnya, dengan catatan yang belum lulus harus diselesaikan menyusul.

C. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN Dengan mengetahui tujuan dan manfaat evaluasi ditinjau dari beberapa segi dalam sistem pendidikan, maka dapat disimpulkan pula bahwa fungsi evaluasi ada beberapa hal, yaitu : 1. Evaluasi Berfungsi Selektif. Dengan evaluasi, guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya dengan berbagai tujuan : a. Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah; b. Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya;
143

c. Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa; d. Untuk memilih siswa yang sudah berhak meningggalkan sekolah (lulus). 2. Evaluasi Berfungsi Diagnostik. Jika instrumen dan proses evaluasi memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa, dan yang menjadi penyebabnya. Jadi, dengan evaluasi sebenarnrnya guru tengah mendiagnosis kebaikan dan kelemahan baik mengenai kurikulum maupun metode pengajaran yang dilakukan, sehingga dapat ditentukan upaya perbaikannya. 3. Evaluasi Berfungsi Penempatan. Sistem baru pendidikan di dunia Barat yang kini populer adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar yang berbentuk modul atau lainnya. Timbulnya sistem ini karena adanya pengakuan yang besar terhadap kemampuan individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakatnya sendiri-sendiri, sehingga pelajaran akan lebih efektif jika disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan keterbatasan sarpras dan tenaga pendidikan, yang bersifat individual kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah dengan cara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana siswa harus ditempatkan, maka dilakukan evaluasi. Para siswa yang dari hasil evaluasinya cenderung sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar. 4. Evaluasi Berfungsi sebagai Pengukuran Keberhasilan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu faktor guru, kurikulum, metode mengajar, dan sarpras. Lain daripada itu, evaluasi dalam kaitan dengan pengembangan sistem pendidikan dimaksudkan untuk :

144

1. Perbaikan Sistem. Dalam konteks tujuan ini, peranan evaluasi lebih bersifat konstruktif, karena informasi yang didapat akan dijadikan masukan bagi perbaikan-perbaikan yang diperlukan dalam sistem pendidikan yang sedang dikembangkan. Dalam hal ini evaluasi lebih merupakan kebutuhan yang datang dari dalam sistem sendiri, karena evaluasi dipandang sebagai faktor yang memungkinkan dicapainya hasil pengembangan yang optimal dari sistem bersangkutan. 2. Pertanggungjawaban. Pada akhir fase pengembangan sistem pendidikan, perlu adanya pertanggungjawaban dari pihak pengembang kepada berbagai pihak yang berkepentingan ( stakeholders). Pihak-pihak dimaksud mencakup baik pihak yang menyeponsori kegiatan pengembangan sistem, maupun pihak yang akan menjadi konsumen dari sistem yang dikembangkan. Pihak-pihak dimaksud adalah pemerintah, dunia usaha (swasta), masyarakat, orang tua/wali, petugas pendidikan, dan lain-lain yang terlibat kegiatan pengembangan. Bagi pihak pengembang, tujuan pengembangan tidak hanya dipandang sebagai suatu kebutuhan dari dalam, melainkan lebih merupakan suatu keharusan dari luar. Hal ini tidak dapat dihindari karena merupakan konsekuensi logis dari adanya pertanggungjawaban sosial, politik, ekonomi, maupun moral. Dalam pertanggungjawaban hasil yang telah dicapainya, pihak pengembang perlu mengemukakan kekuatan dan kelemahan dari sistem yang tengah dikembangkannya, serta usahausaha lebih lanjut yang diperlukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tadi. Nah, untuk menghasilkan informasi tentang kekuatan dan kelemahan tersebut diperlukan evaluasi. 3. Penentuan Tindak Lanjut Hasil Pengembangan. Tindak lanjut hasil pengembangan sistem pendidikan dapat berbentuk jawaban atas dua kemungkinan pertanyaan : Pertama, apakah sistem baru akan atau tidak akan disebarluaskan? Kedua, dalam kondisi yang bagaimana dan dengan cara bagaimana pula sistem baru tersebut akan disebarluaskan? Ditinjau dari proses pengembangan
145

sistem yang sudah berlangsung, pertanyaan pertama dianggap tidak tepat diajukan pada akhir fase pengembangan, karena hanya mempunyai dua kemungkinan jawaban, ya atau tidak. Jika jawabannya tidak, akan dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan, misalnya dalam hal biaya, tenaga, dan waktu yang telah dikerahkan, para siswa yang yang telah menggunakan cara baru selama proses pengembangan pun telah terlanjur dirugikan, demikian juga sekolah-sekolah tempat proses pengembangan harus kembali menyesuaikan diri kepada yang lama. Jadi, lambat laun akan timbul sikap skeptis di kalangan orang tua/wali dan masyarakat terhadap pembaruan pendidikan dalam bentuk apa pun. Pertanyaan yang kedua dipandang lebih tepat untuk diajukan pada akhir fase pengembangan, karena mengimplikasikan sekurang-kurangnya tiga anak pertanyaan : Aspek-aspek mana dari sistem tersebut yang masih perlu diperbaiki atau disesuaikan, strategi penyebarluasan yang bagaimana yang sebaiknya ditempuh, dan persyaratan-persyaratan apa yang perlu dipersiapkan lebih dulu di lapangan. Pertanyaan-pertanyaan ini dirasa lebih konstruktif ditinjau dari segi sosial, politik, ekonomi, moral, maupun teknis. Untuk mendapat jawaban pertanyaan ini sebagai informasi, diperlukan evaluasi.

D. PRINSIP-PRINSIP DAN TEKNIK EVALUASI PENDIDIKAN 1. Prinsip-prinsip Evaluasi. Betapa pun baiknya prosedur evaluasi yang diikuti dan sempurnanya teknik evaluasi yang diterapkan, akan tetapi jika tidak dipadukan dengan berbagai prinsip-prinsip penunjangnya, maka hasil evaluasi akan kurang dari apa yang diharapkan. Prinsipprinsip dimaksud adalah : a. Keterpaduan. Evaluasi merupakan komponen terintegrasi (terpadu) dalam program pengajaran di samping tujuan instruksional dan materi serta metode pengajarannya. Tujuan instruksional, materi dan metode pengajaran, serta evaluasi merupakan kesatuan terpadu yang tidak boleh terpisahkan. Karenanya, perencanaan evaluasi

harus sudah diterapkan pada waktu penyusunan satuan pengajaran sehingga


146

dapat disesuaikan secara harmonis dengan instruksional dan materi pengajaran yang akan disajikan. b. Keterlibatan Siswa. Hal ini berkaitan erat dengan metode belajar CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang menuntut keterlibatan siswa. Untuk dapat mengetahui sejauh mana siswa berhasil dalam kegiatan belajar yang dijalaninya secara aktif, siswa membutuhkan evaluasi. Jadi, evaluasi bagi siswa sudah merupakan kebutuhan, bukan sesuatu yang harus dihindari. Penyajian evaluasi oleh guru merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan siswa akan informasi tentang kemajuan dalam belajarnya. Siswa akan kecewa jika usahanya dalam belajar tidak dievaluasi. c. Koherensi. Prinsip ini dimaksudkan agar evaluasi berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disampaikan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur. Jadi, tidak dibenarkan menyusun alat evaluasi hasil/pencapaian belajar yang belum disajikan dalam kegiatan belajar-mengajar, demikian halnya jika alat evaluasi berisi butir yang tidak berkaitan dengan bidang kemampuan yang hendak diukur. d. Pedagogis. Evaluasi juga perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi pedagogis. Evaluasi dan hasilnya hendaknya dapat dipakai sebagai alat motivasi bagi siswa dalam kegiatan belajarnya. Hasil evaluasi hendaknya dirasakan oleh siswa sebagai reward (ganjaran), yakni penghargaan bagi yang berhasil, sekaligus funishment (hukuman) bagi yang kurang/tidak berhasil. e. Akuntabilitas. Sejauh mana keberhasilan program pengajaran harus disampaikan kepada pihakpihak yang berkepentingan sebagai laporan pertanggungjawaban (accountability). Pihak-pihak dimaksud adalah orang tua/wali siswa, calon majikan, masyarakat lingkungan, dan lembaga pendidikan sendiri baik pemerintah maupun swasta. Masalah yang dihadapi di sini adalah sampai di manakah gambaran yang harus diperoleh mengenai kemajuan siswa, karena tiap siswa merupakan sesuatu
147

yang kompleks. Untuk mengetahui keadaan siswa secara lengkap, berarti harus diungkap segenap segmen kepribadiannya yang meliputi temperamen (perangai), waktu penyesuaian diri (adjustment), pola minat dan bakatnya, dll. Selanjutnya harus diungkap pula tingkat kecerdasannya, jenis prestasinya dalam bidang pelajaran, keadaan keluarganya, lingkungan budayanya, dll. 2. Teknik Evaluasi. Secara garis besar, teknik evaluasi itu dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu teknik tes, dan teknik nontes. a. Teknik Tes. Pengertian tes sendiri ada beberapa definisi (Daryanto, 1999:35). 1) Amir D. Indrakusuma : Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan obyektif untuk memperoleh data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat. 2) Muchtar Buchori : Tes ialah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seseorang murid atau kelompok murid. 3) Websters Collegiate : Test = any series of questions or exercise or other means of measuring the skill, knowledge, intelligence, capacities of aptitudes or an individual or group. (Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok). Dari kutipan-kutipan definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa tes merupakan suatu alat pengumpul informasi, tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat lain, tes ini sifatnya lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan. Jika diterapkan di sekolah maka tes ini mempunyai fungsi ganda, yaitu untuk mengukur siswa dan untuk mengukur keberhasilan pengajaran. Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanya tiga macam tes, yaitu tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif.
148

Perbedaan antara tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif paling tidak ditinjau dari sembilan aspek, yaitu : Fungsi, waktu, titik berat atau penakannya, alat evaluasi, cara memilih tujuan yang dievaluasi, tingkat kesulitan soal-soal tes, cara menyekor, tingkat capaian, dan metode menuliskan hasil tes. 1) Ditinjau dari fungsinya : Tes Diagnostik : - Menentukan apakah bahan prasyarat telah dikuasai atau belum; - Menentukan tingkat penguasaan siswa terhadap bahan yang dipelajari; - Memisah-misahkan (mengelompokkan) siswa berdasarkan kemampuan dalam menerima pelajaran yang akan dipelajari; - Menentukan kesulitan-kesulitan belajar yang dialami untuk menentukan cara yang khusus untuk mengatasi atau memberikan bimbingan. Tes Formatif : - Sebagai umpan balik bagi siswa, guru, maupun program untuk menilai pelaksanaan satu unit program. Tes Sumatif : - Untuk memberikan tanda kepada siswa bahwa telah mengikuti suatu program, serta menentukan posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan kawan-kawannya dalam kelompok. 2) Ditinjau dari waktu : Tes Diagnostik : - Pada waktu penjaringan calon siswa; - Pada waktu membagi kelas atau awal memberikan pelajaran; - Selama pelajaran berlangsung jika guru akan memberikan bantuan kepada siswa. Tes Formatif : - Selama pelajaran berlangsung untuk mengetahui kekurangan agar pelajaran dapat berlangsung dengan baik. Tes Sumatif : - Pada akhir catur wulan, semester, atau akhir pendidikan. 3) Ditinjau dari titik berat/penekanan penilaian :
149

Tes Diagnostik : - Tingkat laku kognitif, afektif, dan psikomotor; - Faktor-faktor fisik, psikologis, dan lingkungan. Tes Formatif : - Menekankan pada tingkah laku kognitif. Tes Sumatif : - Pada umumnya menekankan pada tingkah laku kognitif, namun ada kalanya pada tingkah laku psikomotor, dan kadang pada afektif. Kesemuanya yang diukur adalah tingkatan yang lebih tinggi, bukan hanya sekedar ingatan atau hafalan. 4) Dilihat dari segi alat evaluasi : Tes Diagnostik : - Tes prestasi belajar yang sudah distandarisasikan; - Tes buatan guru; - Pengamatan dan daftar cocok (check list). Tes Formatif : - Tes prestasi belajar yang telah tersusun dengan baik. Tes Sumatif : - Tes ujian akhir. 5) Ditinjau dari cara memilih tujuan yang dievaluasi : Tes Diagnostik : - Memilih tiap-tiap keterampilan prasyarat; - Memilih tujuan tiap program pelajaran secara berimbang; - Memilih yang berhubungan dengan tingkah laku fisik, mental, dan perasaan. Tes Formatif : - Mengukur semua tujuan instruksional khusus. Tes Sumatif : - Mengukur tujuan instruksional umum. 6) Ditinjau dari tingkat kesulitan tes : Tes Diagnostik : - Untuk mengukur keterampilan dasar diambil banyak soal tes yang mudah,
150

yang tingkat kesulitannya (indeks kesukaran) 0,65 atau lebih. Tes Formatif : - Belum dapat ditentukan. Tes Sumatif : - Rata-rata mempunyai tingkat kesulitan antara 0,35 sampai dengan 0,70, ditambah beberapa soal yang mudah dan beberapa soal yang sangat sukar. 7) Ditinjau dari cara menyekor (scoring) : Tes Diagnostik : - Menggunakan standar mutlak dan standar relatif (criterion referenced and norm referenced). Tes Formatif : - Menggunakan standar mutlak (criterion referenced). Tes Sumatif : - Kebanyakan menggunakan standar relatif (norm referenced), tetapi dapat pula dipakai standar mutlak (criterion referenced). 8) Ditinjau dari tingkat pencapaian : Tingkat pencapaian yang dimaksud adalah skor yang harus dicapai siswa dalam setiap tes. Tentu tidak akan sama. Rendahnya tuntutan terhadap tingkat pencapaian tergantung dari fungsi dan tujuan masing-masing tes. Tes Diagnostik : - Yang sifatnya memoninor tingkat kemajuan, tingkat pencapaian siswa merupakan informasi tentang keberhasilannya. Tindakan guru selanjutnya adalah menyesuaikan dengan hasil tes ini; - Tes prasyarat adalah tes diagnostik yang sifatnya khusus, fungsinya untuk mengetahui penguasaan bahan prasyarat yang sangat penting untuk kelanjutan studi bagi pengetahuan berikutnya. penguasaannya dituntut 100%. Tes Formatif : - Digunakan untuk mengetahui apakah siswa sudah mencapai tujuan instruksional umum yang diuraikan menjadi tujuan instruksional khusus. Dulu, tidak ada tuntutan terhadap pencapaian tik, namun tahun 1975 dengan
151

Untuk itu maka tingkat

keluarnya kurikulum 1975 dan modul, tingkat pencapaian untuk tes formatif adalah 75%. Siswa yang belum mencapai skor 75% dari skor yang diharapkan diwajibkan menempuh kegiatan perbaikan (renudial program) sampai lulus, yang berarti siswa tersebut telah mencapai 75% dari skor maksimal yang diharapkan. Tes Sumatif : - Sesuai dengan fungsi tes ini, maka di sini tidak diperlukan suatu tuntutan harus berapa tingkat penguasaan yang dicapai. Perlu diingat bahwa tes ini dilaksanakan pada akhir program, berarti nilainya dipergunakan untuk menentukan kenaikan kelas atau kelulusan. Secara terpisah tidak ditentukan tingkat pencapaiannya, tetapi secara keseluruhan akan dikenakan suatu norma tertentu, yaitu norma kenaikan kelas atau norma kelulusan. 9) Ditinjau dari cara pencatatan hasil : Tes Diagnostik : - Dicatat dan dilaporkan dalam bentuk profil. Tes Formatif : - Prestasi tiap siswa dilaporkan dalam bentuk catatan berhasil atau gagal menguasai sesuatu tugas. Tes Sumatif : - Keseluruhan atau sebagian skor dari tujuan-tujuan yang dicapai. Sementara itu Scawia B. Anderson dalam Daryanto (1999:52) yang dikutip dari Suharsimi Arikunto (1995:23-48), membedakan tes dimensi seperti tersebut di bawah ini. 1) Tes ditinjau dari unsur suatu kegiatan, dapat dibedakan atas tes pengukur proses dan tes pengukur hasil; 2) Tes ditinjau dari tujuan penggunaan hasil, dibedakan atas tes formatif, tes subsumatif, dan tes sumatif; 3) Tes ditinjau dari konstruksi yang diukur, dibedakan atas tes kepribadian, tes bakat, tes kemampuan, dan tes minat, perhatian, sikap; menurut dimensi-

152

4) Tes ditinjau dari isi atau bidang studi, dibedakan atas tes matematik, sejarah, IPA, olah raga, keterampilan, dsb. 5) Tes ditinjau dari lingkup materi yang diungkap, dibedakan atas tes pencapaian dan tes penelusuran. Tes hasil belajar mengungkap materi yang luas, sedang tes penelusuran dikenakan pada sebagian kecil bahan, agar tester (yang mengetes) dapat lebih cermat mengamati sesuatu; 6) Tes ditinjau dari keragaman butir atau tugas, dibedakan atas tes homogen (seragam) dan tes heterogen (beragam). Tes yang digunakan untuk mengukur sesuatu aspek misalnya faktor minat, maka tesnya terdiri dari butir-butit yang seragam. Tes terstandar biasanya terdiri dari butir-butir yang beragam. 7) Tes ditinjau dari cara tester memberikan respons , dibedakan atas tes tertulis, tes lisan, tes penampilan, dan tes pengenalan (benar-salah, pilihan berganda, menjodohkan, dsb.); 8) Tes ditinjau dari cara skoring, dibedakan atas tes obyektif (dikenal dengan check point) dan tes subyektif, yaitu yang memerlukan pertimbangan subyektifitas penilai. 9) Tes ditinjau dari standar dalam menentukan jawaban, yakni tes yang menuntut adanya kebenaran mutlak (mengenal benar-salah) dan tes yang dimaksudkan untuk sekedar mengetahui keadaan seseorang, misalnya tes untuk sikap atau pendapat; 10) Tes ditinjau dari cara pengadministrasiannya, dibedakan atas tes awal (pre test), yang dilakukan sebelum diberikan perlakuan, dan tes akhir (post test) yang dilakukan setelah adanya perlakuan; 11) Tes ditinjau dari tekanan aspek yang diukur, dibedakan atas speed test, yakni tes yang digunakan untuk mengukur kecepatan testee (peserta tes) bekerja, dan power test yakni tes yang digunakan untuk mengukur kemam puan testee. Pembedaan atas tes berdasarkan aspek ini dijumpai pada tes psikologi seperti halnya mengukur tes kemampuan umum (TKU); 12) Tes ditinjau dari banyaknya testee, dibedakan atas tes individual dan tes kelompok. Tes pengukuran intelegensi yang sifatnya klinis merupakan contoh tes individual, sedangkan tes-tes yang berhubungan dengan capaian di
153

lapangan seperti pendidikan, industri, atau militer, pada umumnya merupakan tes kelompok; 13) Tes ditinjau dari penyusunannya, dibedakan atas tes buatan guru dan tes yang diperdagangkan, yang dikenal dengan tes berstandar. Teknis tes juga digunakan untuk mengukur yang berkaitan dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. 1) Pengukuran Ranah Kognitif. Menurut taksonomi Bloom (1956), aspek kognitif dibedakan atas enam jenjang yang diurutkan secara hierarki piramidal, yaitu : - Pengetahuan; - Pemahaman; - Penerapan; - Analisis; - Sistesis; - Penilaian. Digambarkan dalam bagan sebagai berikut :
Penilaian Sintesis Analisis (Evaluating) (Synthesis) (Analysys)

Penerapan Pemahaman Pengetahuan

(Application) (Comprehension) (Knowledge)

Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling dasar.

2) Pengukuran Ranah Afektif. Meliputi lima jenjang kemampuan, yaitu : - Menerima (receiving) : Menanyakan, menjawab, menyebutkan, memilih,
154

mengidentifikasi, memberikan, mencandrakan, mengikuti, menyeleksi, menggunakan, dsb. - Menjawab (responding) : Menjawab, melakukan, menulis, berbuat, menceritakan, membantu, mendiskusikan, melaksanakan, mengemukakan, melaporkan, dsb. - Menilai (valuing) : Menerangkan, membedakan, memilih, mempelajari, mengusulkan, menggambarkan, menggabung, mempelajari, menyeleksi, bekerja, membaca, dsb. - Organisasi (organization) : Mengorganisasikan, menyiapkan, mengatur, mengubah, membandingkan, mengintergrasikan, memodifikasi, menyusun, memadukan, menyelesaikan, mempertahankan, menjelaskan, menyatukan, menggeneralisasikan, dsb. - Karakteristik dengan satu nilai atau kompleks nilai (characterization by a value or value complex) : Menggunakan, mempengaruhi, memodifikasi, mengusulkan, menerapkan, memecahkan, merevisi, bertindak, mendengarkan, mengusulkan, menyuruh, membenarkan, dsb. 3) Pengukuran Ranah Psikomotor. Terdapat tiga kelompok utama dalam ranah psikomotorik, yaitu : - Keterampilan motorik (muscular or motor skills) : Memperlihatkan gerak, menunjukkan hasil (pekerjaan tangan), menggerakkan, menampilkan, melompat, dsb. - Manipulasi benda-benda (manipulation of materials or object) : Menyusun, membentuk, memindahkan, menggeser, mereparasi, dsb. - Koordinasi neuromuscular : Menghubungkan, mengamati, memotong, dsb. Peranan ranah psikomotor semakin dirasakan pentingnya, akan tetapi tidak diterangkan lebih luas di sini. Sekedar mendapatkan gambaran global tentang tingkat klasifiksi dan subkategori dari ranah tersebut, di bawah ini dijelaskan secara matriks.

155

Tingkat Klasifikasi dan Kategori


1. Gerakan Refleks : a. Segmental; b. Intersegmental; c. Suprasegmental. 2. Gerakan Fundamental yang Dasar : a. Gerakan Lokomotor; b. Gerakan Nonlokomotor; c. Gerakan manipulatif. 3. Kemampuan Perseptual : a. Diskriminasi Kinestetis; b. Diskriminasi Visual; c. Diskriminasi Auditeoris; d. Diskriminasi Tektil; e. Diskriminasi Terkoordinir. 4. Kemampuan Fisik : a. Ketahanan; b. Kekuatan; c. Fleksibilitas; d. Agilitas. 5. Gerakan Terampil : a. Keterampilan Adaptif; b. Keterampila Adaptif Terpadu; c. Keterampilan Adaptif Kompleks. 6. Komunikasi Nondiskursif : a. Gerakan Ekspresif; b. Gerakan Interpretif.

Batasan
Kegiatan yang timbul tanpa sadar dalam menjawab rangsangan. Pola-pola gerakan yang dibentuk dari paduan gerakan-gerakan refleks dan merupakan dasar gerakan terampil kompleks. Interpretasi stimulasi dengan berbagai cara yang memberi data untuk siswa membuat penyesuaian dengan lingkungannya.

Tingkah Laku
Bungkuk, meregangkan badan, penyesuaian postur tubuh. Jalan, lari, lompat, luncur, guling, mendaki, dorong, tarik, pelintir, pegang, dsb.

Hasil-hasil kemampuan perseptual diamati dalam semua gerakan yang disengaja.

Karakteristik fungsional dari kekuatan organik yang esensial bagi perkembangan gerakan yang sangat terampil. Sutu tingkat efisiensi jika melakukan tugas-tugas gerakan kompleks yang didasarkan atas pola gerakan intern. Komunikasi melalui gerakan tubuh mulai dari ekspresi muka sampai gerakan koreografis yang rumit.

Lari jauh, berenang, gulat, bungkuk, balet, mengetik, dsb.

Semua keterampilan yang dibentuk atas dasar lokomotor dan pola gerakan manipulasi.

Postur tubuh, gerakan muka, semua gerakan tarian dan koreografis yang dilakukan dengan efisien.

Sumber : Daryanto (1999:122-123).

b. Teknik Nontes. Ada beberapa teknik nontes, yaitu : 1) Skala bertingkat (rating scale); 2) Kuesioner (questionaire); 3) Daftar cocok (check list); 4) Wawancara (interview); 5) Pengamatan (observation); 6) Riwayat hidup (biodata atau curriculum vitae).
156

Penjelasannya adalah sebagai berikut : 1) Skala Bertingkat (Rating Scale) : Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasil pertimbangan. Contohnya, adalah skor atau biji yang diberikan oleh guru di sekolah untuk menggambarkan tingkat prestasi belajar siswa. Siswa yang mendapat skor 8, digambarkan di tempat yang lebih kanan dalam skala, disbandingkan penggambaran skor 5, dst. . 4 . 5 . 6 . 7 . 8

Jarak antara angka-angka harus sama, dan meletakkannya secara bertingkat dari yang rendah di sebelah kiri, dan ke yang tinggi di sebelah kanan. Oleh karena itu skala ini disebut skala bertingkat. Kita dapat menilai segala sesuatu dengan skala, maksudnya agar pencatatannya obyektif. Termasuk misalnya dalam menggambarkan kepribadian seseorang, atau skala sikap (Likert). Contohnya, kecenderungan seseorang terhadap jenis kesenian tertentu, maka bisa saja sikapnya :

. 1

. 2

. 3
Biasa

. 4
Suka

. 5
Sangat suka

Sangat tidak Tidak suka Suka

2) Kuesioner (Questionaire) : Juga sering disebut angket (anquette), yaitu daftar pertanyaan yang harus diisi orang yang akan diukur (responden). Dengan kuesioner ini orang dapat

diketahui tentang keadaan/data diri, pengetahuan, pengalaman, sikap, pendapatnya, dll. Kuesioner ini bermacam-macam ditinjau dari beberapa aspeknya. - Ditinjau dari siapa yang menjawab : + Kuesioner langsung, jika kuesioner tersebut dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang dimintai jawaban tentang dirinya;

157

+ Kuesioner tindak langsung, jika dikirimkan dan diisi oleh bukan orang yang diminta keterangan. Biasanya digunakan untuk mencari keterangan tentang bahan, anak, saudara, tetangga, dsb. - Ditinjau dari cara menjawab : + Kuesioner tertutup, yaitu yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban langkah, sehingga pengisi hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih, misalnya dengan daftar cocok atau tanda checklist (V). Contoh dalam formulir isian tentang pendidikan, mahasiswa mengisi pada kotak PT.

SD

SLTP

SLTA

PT

+ Kuesioner terbuka, yaitu yang disusun sedemikian rupa sehingga responden bebas mengisi berupa pendapatnya sendiri. Hal ini jika macam

jawabannya belum rinci dengan jelas sehingga kemungkinannya beragam. Contoh untuk nama, alamat, orang tua, dll. tidak mungkin diberikan dengan cara memilih pilihan jawaban. Biasanya kuesioner ini digunakan untuk meminta tanggapan atau pendapat seseorang. 3) Daftar Cocok (Check list) : Adalah deretan pernyataan (biasanya singkat-singkat), yang akan didisi oleh responden yang dievaluasi, dengan tinggal membubuhkan tanda check list pada jawaban yang dianggap cocok/setuju dari pernyataan yang disediakan. Contoh : Berilah tanda check list pada kolom yang sesuai dengan pendapat Anda.

Pendapat Penting Pernyataan 1. Melihat pemandangan 2. Olah raga tiap hari


158

Biasa

Tidak Penting

3. Nonton film 4. Belajar bela diri 5. Tulisan bagus 6. Berkunjung ke teman

Ada pendapat yang mengatakan, sebenarnya skala bertingkat dapat digolongkan ke dalam daftar cocok, karena responden sama-sama diminta untuk memberikan tanda cocok pada pilihan jawaban yang tepat. 4) Wawancara (Interview) : Adalah suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. Dikatakan sepihak lantaran dalam wawancara ini responden tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mengajukan pertanyaan. Jadi, pertanyaan hanya diajukan oleh subyek (pelaku) evaluasi. Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : - Wawancara bebas, jika responden diberi kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang dibuat oleh subyek (pewawancara); - Wawancara terpimpin, jika pertanyaan-pertanyaannya telah disusun lebih dulu oleh pewawancara. Jadi, responden pada waktu menjawab pertanyaan tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan oleh pewawancara. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang besifat memimpin, mengarahkan, artinya si responden sudah dipimpin oleh sebuah daftar cocok, sehingga dalam menuliskan jawaban, tinggal membubuhkan tanda cocok di tempat yang sesuai dengan keadaan responden. 5) Pengamatan (Observation) : Observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis. Ada tiga macam observasi : - Observasi partisipan, yaitu yang dilakukan oleh pengamat, tetapi si penga159

mat memasuki dan ikut kegiatan kelompok yang sedang diamati. Dalam hal ini pengamat benar-benar mengikuti kegiatan kelompok, tidak pura-pura, sehingga ia dapat menghayati dan merasakan seperti yang dirasakan oleh orang-orang dalam kelompok yang diamati. Contoh, untuk mengamati

kehidupan mahasiswa kos (sewa kamar), pengamat pun menjadi mahasiswa kos. - Observasi sistematik, yaitu jika faktor-faktor yang diamati sudah didaftar secara sistematis, dan diatur menurut kategorinya. Dalam hal ini si

pengamat berada di luar kelompok yang diamati, sehingga tidak dibingungkan dengan situasi yang melingkungi dirinya. - Observasi eksperimental, terjadi jika si pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok. Dalam hal ini ia dapat mengendalikan unsur-unsur penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi itu dapat dikendalikan sesuai dengan tujuan evaluasi. 6) Riwayat Hidup : Riwayat hidup yang juga biasa dituangkan dalam biodata atau CV adalah gambaran keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subyek evaluasi dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan, dan sikap dari obyek yang dievaluasi.

160

BAB X BIDANG GARAPAN ADMINISTRASI SEKOLAH

A. ADMINISTRASI KEPALA SEKOLAH Tentang tugas dan fungsi kepala sekolah sudah dibicarakan dalam kepemimpinan kepala sekolah (lihat Bab VI. Kepemimpinan Pendidikan). Yang dibicarakan dalam administrasi sekolah di sini adalah beberapa dokumen sekolah yang menjadi garapan dan tanggung jawab kepala sekolah untuk menyelesaikannya. Kepala sekolah harus mempunyai tempat khusus untuk menyimpan dokumendokumen, paling tidak berupa file. Beberapa dokumen sekolah dimaksud meliputi : Dokumen pendirian sekolah, program kerja, kalender pendidikan/sekolah, daftar pembagian tugas termasuk daftar piket, jadwal pelajaran, notula rapat-rapat, buku tamu, serta daftar keadaan guru, pegawai, dan siswa. 1. Dokumen Pendirian Sekolah. Masyarakat umum memandang kepala sekolah adalah orang yang paling tahu mengenai sekolah yang dipimpinnya. Kapan sekolah itu berdiri sering merupakan pertanyaan yang muncul sewaktu acara perpisahan siswa yang tamat pada akhir tahun ajaran. Dengan mengetahui kapan sekolah berdiri, menghitung jumlah usia sekolah, orang tua/wali siswa dan masyarakat dapat mengukur seberapa keberhasilan sekolah dari beberapa aspek, misalnya fisik dan luas bangunannya termasuk jumlah ruangan dan fasilitas/sarana yang ada, jumlah guru, tenaga fungsional dan pegawainya, jumlah siswanya, jumlah dan keberhasilan alumninya dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, atau keberhasilannya dalam dunia kerja, olah raga, kesenian, olympiade matematika, fisika, dsb. Hal ini akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat khususnya orang tua/wali siswa. Dokumen pendirian yang berupa surat keputusan pejabat yang berwenang (bagi sekolah negeri) atau piagam yayasan penyelenggaraan pendidikan (bagi sekolah swasta), harus ada dan tersimpan dengan baik. Jika perlu perbanyak dengan cara fotokopi untuk menjaga kehilangan yang aslinya. Ini akan menjadi sejarah dan
161

orang akan mengingat jasa-jasa pionir tatkala sekolah masih sederhana dengan ruangan sedikit dan sarana dan prasarana seadanya sampai kemudian berkembang dengan baik, bahkan mungkin menjadi sekolah paforit kebanggaan masyarakat. 2. Dokumen Program Kerja. Kegiatan perencanaan oleh kepala sekolah melalui berbagai strategi dan teknik, menghasilkan suatu rencana, yaitu dokumen yang berisi rumusan tujuan yang hendak dicapai, kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan, hambatan-hambatan yang mungkin timbul, alternatif-alternatif pemecahan masalah, kriteria keber-

hasilan dan keterangan-keterangan mengenai tindakan-tindakan masa datang yang akan diambil. Rencana yang sifatnya masih umum perlu dijabarkan ke dalam program-program rinci untuk memudahkan pelaksanaannya. Program adalah

rumusan yang lebih konkrit mengenai jenis kegiatan, tempat, waktu, dana, material, dan orang-orang yang akan melaksanakannya. Kepala sekolah harus membuat program kerja tahunan sekolah yang meliputi masalah yang bersifat umum, pembangunan atau rehabilitasi gedung dan perlengkapan sekolah, guru-guru/tenaga fungsional kependidikan, tata usaha, siswa, kurikulum, kegiatan ekstra kurikuler siswa, hubungan sekolah dengan masyarakat, dsb. Untuk itu perlu dibuat format isian untuk menuangkan masalahmasalah atau kegiatan-kegiatan yang diprogramkan. Contoh format tersebut misalnya :

PROGRAM KERJA SMA NEGERI . TAHUN AJARAN 2011-2012


No.
1

JENIS PROGRAM
2

TUJUAN
3

KEGIATAN
4

WAKTU
5

SASARAN
6

PELAKSANA
7

SUMBER DANA
8

KET.

162

Program tersebut di atas dapat juga dirinci per jenis kegiatan yang masing-masing disebutkan tujuannya, pelaksananya, sasarannya, waktu mulai dan selesainya, tempat pelaksanaan, sumber dana dan besarnya, ditambah keterangan. Contohnya : RINCIAN PROGRAM KERJA Sekolah : .. Tahun : .. Urusan : Administrasi
No. 1 JENIS KEGIATAN 2 TUJUAN 3 PELAKSANA 4 SARANA 5 WAKTU Mulai Selesai 6 7 TEMPAT 8 BIAYA Sumber Besar 9 10 KET. 11

Jika ingin membuat program kerja dengan penekanan pada waktunya untuk memudahkan kepala sekolah mengingat kapan suatu kegiatan yang telah direncanakan akan/harus dilaksanakan, dapat dibuat seperti format berikut. JADWAL KEGIATAN PELAKSANAAN PROGRAM KERJA Sekolah : Tahun : 2011-2012. Urusan : Administrasi .
JANUARI No. WAKTU KEGIATAN Minggu ke 1 2 3 4 5 1 2 PEBRUARI Minggu ke 3 4 5 Dst.

163

3. Kalender Pendidikan. Kalender pendidikan memuat catatan-catatan kegiatan pendidikan di sekolah selama satu tahun ajaran. Manfaatnya, pertama, untuk menghitung jumlah minggu dan hari-hari efektif masuk sekolah dalam satu tahun ajaran, yaitu hari-hari yang dapat dipergunakan untuk merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah. Jumlah hari masuk sekolah adalah jumlah hari menurut kalender dikurangi jumlah hari Minggu dan hari-hari libur (nasional, umum, khusus, semester, akhir tahun), dan hari untuk ulangan/ujian hasil belajar semester I dan II (UTS/UAS). Kedua, untuk memudahkan kepala sekolah melihat kegiatan-kegiatan apa yang akan dikerjakan pada hari-hari berikutnya yang belum tersusun dalam agenda, misalnya untuk karya wisata, lomba olah raga, gelar/festival seni, termasuk persahabatan antar sekolah, dll. 4. Daftar Pembagian Tugas. Kepala sekolah harus mengkoordinasikan seluruh kegiatan sekolah yang dilakukan oleh seluruh personil yang ada sesuai dengan yang tercantum dalam susunan organisasi sekolah, seperti : Bagian tata usaha terdiri dari seorang kepala dan beberapa orang pegawai, wakil kepala sekolah yang membidangi urusan kesiswaan, kurikulum, sarana dan prasarana, hubungan masyarakat, koordinator BP/BK dan para anggotanya, serta guru-guru untuk tugas mengajar dan piket di sekolah. Tugas-tugas yang dibebankan kepada para personil perlu dibuatkan surat tugas resmi kepada mereka, dan sebaiknya dibuatkan juga uraian/rincian tugas secara tertulis. Bentuk surat tugas atau uraian/rincian tugas dapat dibuat dengan berbagai macam sesuai dengan selera kepala sekolah jika memang belum ada pedoman resminya. Yang penting dalam surat tugas itu dimuat nama, jabatan, tugas pokok, tugas tambahan, dan rincian tugas yang menjabarkan lebih lanjut tugas pokok dan tugas tambahan. Untuk beberapa kegiatan, sering harus dibicarakan lebih dulu dengan masing-masing yang bersangkutan.

5. Jadwal Pelajaran. Jadwal pelajaran menunjukkan jam berapa ada kegiatan belajar-mengajar, mata pelajaran apa, di kelas mana, gurunya siapa. Daftar pelajaran ini mestinya ada di
164

meja kepala sekolah atau di dinding ruang kepala sekolah, juga di ruang dewan guru. Kutipan daftar pelajaran ini dapat juga dipasang di ruang kelas masing-masing siswa. 6. Notula Rapat. Merupakan dokumen sekolah yang berisi cacatan rapat yang meliputi susunan acaranya, uraian jalannya rapat, pembicara dan yang disampaikannya (pandangan, usul/saran), serta keputusan yang diambil. Rapat ini berfungsi ganda, dapat berupa kegiatan administratif, dan dapat pula kegiatan supervisi. Disebut kegiatan

administratif jika tujuannya untuk mengarahkan, merencanakan sesuatu, dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan sekolah. Disebut supervisi jika yang dibahas adalah masalah-masalah yang dihadapi guru/tenaga kependidikan, tata usaha, kepegawaian, siswa, dll. serta upaya pemecahannya. Karena maksudnya berbeda, memang sebaiknya rapat ini terpisah. Yang pertama disebut notula rapat sekolah, dan yang kedua disebut notula rapat pembinaan. 7. Buku Tamu. Buku tamu disiapkan untuk catatan tamu yang berkunjung, secara umum berisi hari/tanggal kunjungan, nama dan jabatan tamu, alamat, maksud kunjungan, pesan dan kesan yang disampaikan, serta paraf atau tanda tangan. Jenis kunjungan tamu ada yang umum dengan berbagai tujuan, ada pula yang khusus dalam rangka pembinaan yang biasa dilakukan oleh pengawas atau supervisor. Karena itu

sebaiknya dipisah, ada Buku Tamu Umum, dan ada Buku Tamu Khusus Pembinaan. Aspek penting dalam Buku Tamu Khusus Pembinaan adalah catatan (pesan dan kesan) yang disampaikan berupa saran-saran masukan. Hal ini merupakan gambaran nilai keseluruhan penyelenggaraan sekolah, sekaligus merupakan sumbang pikir untuk tindakan-tindakan perbaikan. Bagi sekolah-sekolah swasta, tamu untuk maksud pembinaan ini akan datang dari dua arah, yaitu dari Dinas Pendidikan (pemerintah) yang berkaitan dengan wewenang pembinaan teknis edukatif, dan dari yayasan penyelenggara sekolah yang biasanya menyangkut teknis administratif, termasuk urusan sarana/prasarana dan pembiayaan.
165

8. Daftar Keadaan Guru, Siswa dan Pegawai. Kepala sekolah harus hafal nama-nama guru dan pegawai yang ada. Karena itu harus ada daftar keadaan guru dan pegawai. Ini sebaiknya disusun berdasarkan jenjang kepangkatannya (jika kalangan PNS) sehingga memudahkan dalam penyusunan Daftar Urut Kepangkatan (DUK), atau bisa juga berdasarkan struktur organisasi sekolah. Kepala sekolah pun harus siap jika sewaktu-waktu ada yang bertanya jumlah siswa kelas I, II, III, demikian juga menurut jenis kelamin mereka. Juga tentang agama mereka, asal sekolah apakah dari negeri atau swasta, berapa orang siswa yang masuk dan keluar, dll. Karena itu daftar keadaan siswa perlu dibuat dengan baik dalam administrasi siswa.

B. ADMINISTRASI SISWA Yang dimaksud administrasi siswa atau murid adalah kegiatan pencatatan siswa mulai dari proses penerimaan sampai dengan siswa tamat atau keluar dari sekolah (pindah atau sebab lain). Catatan-catatan dimaksud meliputi : Buku Penerimaan Siswa Baru, Buku Induk, Buku Mutasi Siswa, Buku Klapper, Buku Daftar Kelas, Buku Kumpulan Nilai, Daftar Kelas, Buku Daftar Hadir Siswa, Buku BP/BK Siswa, dll. 1. Buku Penerimaan Siswa. Waktu penerimaan siswa baru sudah tercantum dalam kalender pendidikan dan program kerja sekolah. Kebijakan ini mengikuti penetapan dari Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan, termasuk dalam upaya pemerataannya, sehingga ada juga pengaturan tentang tanggal-tanggal penerimaan siswa baru untuk sekolah negeri, sekolah swasta disamakan, sekolah swasta diakui, dan sekolah swasta terdaftar. Aturan juga berupa pedoman/petunjuk tentang persyaratan-persyaratan dan uang pendaftaran, serta proses atau tata cara pendaftarannya. Untuk itu biasanya dibentuk tim atau panitia pendaftaran siswa baru, yang tugasnya antara lain menyusun jadwal pendaftaran, seleksi, pengumuman penerimaan, pendaftaran ulang, serta persyaratan-persyaratan yang harus dilengkapi oleh calon siswa. Umumnya persyaratan penerimaan siswa baru itu meliputi uang pendaftaran,
166

mengisi blanko yang telah disiapkan, menyerahkan fotokopi STTB yang telah dilegalisasi, pasfoto, dll. Untuk sekolah-sekolah tertentu biasanya menghendaki pula peringkat prestasi siswa dengan passing grade, yaitu dilihat dari NEM (Nilai Ebtanas Murni) atau sekarang IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) dari ujian nasional. Jadi, yang dapat diterima adalah yang NEM atau IPK-nya paling rendah sekiansekian. Tetapi sekarang, dengan adanya aturan dari negara tentang BOS (Biaya Operasional Sekolah) bagi sekolah-sekolah negeri, termasuk swasta yang mendapat jatah, ada larangan untuk tidak memungut biaya pendaftaran penerimaan siswa baru. Setelah seluruh kegiatan penerimaan siswa baru selesai, kepala sekolah segera membuat laporan tentang jumlah siswa yang mendaftar, berapa yang diterima, berapa nilai tertinggi dan terendah siswa yang diterima, berapa siswa yang berasal dari sekolah negeri dan sekolah swasta (disamakan, diakui, dan terdaftar), berapa siswa yang berasal dari daerah dan luar daerah, termasuk juga agama yang dianut masing-masing siswa. Laporan ini disampaikan ke Dinas Pendidikan untuk kepentingan pendataan dan perencanaan pendidikan. 2. Buku Induk Siswa. Pengisian buku induk siswa merupakan pekerjaan pokok di sekolah. Dalam buku ini segala macam informasi tentang seorang siswa dapat ditelusuri. Buku ini berisi catatan siswa : a. Nomor Induk Siswa; b. Jenis kelamin; c. Nama; d. Alamat; e. Orang tua/wali dan pekerjaannya; f. Agama; g. Kapan masuk sekolah ini dan di kelas berapa; h. Bilamana naik kelas ke kelas I, II, III; i. Kapan meninggalkan sekolah dan sebabnya; j. Prestasi belajar dan nilai-nilai mata pelajaran pada tiap semester yang dicapai;
167

k. Keterangan-keterangan lain yang mendukung identitas siswa yang bersangkutan (bisa jadi ada catatan kepolisian karena tindak kriminal anak-anak, dll.). Buku induk yang lengkap akan memuat pasfoto siswa waktu masuk dan waktu keluar sekolah. Untuk kehati-hatian dalam mengisi buku induk ini diperlukan alat bantu berupa blanko isian yang dapat mengorek keterangan siswa yang diperlukan. Pekerjaan ini harus cermat dan teratur, tidak menunggu selesai akhir tahun atau kalau mau ada supervisi, sebab buku ini merupakan pegangan pokok informasi siswa. 3. Buku Klapper. Buku klaper tidak lain adalah pelengkap buku induk, untuk memudahkan menelusuri informasi siswa pada buku induk. Misalnya, seorang siswa yang sudah sekian tahun lamanya, datang ke sekolah minta keterangan atau pengganti ijazah yang hilang, maka perlu dicek kebenarannya. Hal ini akan mudah jika mantan siswa bersangkutan ingat nomor induknya atau ada data berupa fotokopi/salinannya, karena buku induk disusun berdasarkan urutan nomor. Tetapi jika tidak ingat atau tidak ada data lain yang dibawa, maka buku klaperlah yang membantu menemukannya, karena buku klaper disusun alfabetis, menurut urutan abjad nama siswa sekaligus berisi keterangan nomor induk dan tahunnya. 4. Buku Mutasi Siswa. Buku ini adalah buku yang dipergunakan untuk mencatat siswa yang masuk, pindah, atau keluar pada tiap-tiap bulan. Buku ini juga merupakan alat bantu untuk mengisi data mutasi pada buku induk dan data statistik tentang keadaan siswa di sekolah. Contoh halaman dari buku mutasi tersebut dapat dilihat di bawah ini. Siswa Masuk :
No. NAMA SISWA KELAS ASAL NOMOR INDUK KETERANGAN

168

Siswa Keluar :
No. NAMA SISWA KELAS NOMOR INDUK KETERANGAN

5. Buku Kelas. Buku atau daftar kelas adalah buku yang memuat keterangan-keterangan seperti pada buku induk, tetapi untuk masing-masing kelas. Isinya meliputi : Nomor urut siswa, nomor induk, nama, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, agama, nama orang tua/wali, alamat orang tua/wali, agama orang tua/wali, pekerjaan orang tua/wali, prestasi siswa, bilamana naik kelas/tinggal kelas, kapan keluar dan alasannya, serta keterangan-keterangan lainnya. Buku ini pengelolaannya menjadi tugas dan tanggung jawab para wali kelas, karenanya harus cermat dalam membuatnya. 6. Buku Kumpulan Nilai. Buku ini berisi nilai masing-masing siswa tiap-tiap kelas, yang dikutip dari laporan para guru bidang studi (mata pelajaran) setiap akhir semester. Para wali kelas wajib berkoordinasi untuk mengumpulkan nilai-nilai dari pada guru pengampu mata pelajaran. 7. Buku Daftar Hadir (Presensi) Siswa. Merupakan catatan kehadiran siswa tiap-tiap hari belajar. Yang tidak hadir diberi tanda, s = sakit, i = izin, a = alpha, artinya tanpa keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Setiap bulan, ketidakhadiran siswa dihitung dengan rumus : Jumlah hari tidak masuk kali 100% dibagi jumlah siswa satu kelas kali jumlah hari masuk. Makin kecil hasil prosentase ketidakhadiran siswa dinilai makin baik,

sebaliknya makin besar prosentase ketidakhadiran makin kurang baik.

169

8. Kartu Buku dan Fotokopi STTB. Setiap siswa yang telah menamatkan pendidikan di sekolah dibuatkan Kartu Buku dan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Yang blankonya disediakan oleh Dinas Pendidikan. Kartu buku berisi Nomor STTB yang dipakai, kutipan nilai pada STTB, cap tiga jari kiri, tanda tangan dan pasfoto siswa yang bersangkutan. Kartu buku kemudian disusun menurut urutan induk yang tamat pada tahun itu. Maksud adanya kartu buku ini adalah untuk dokumen tentang tanda tangan, gambar, dan cap jari siswa yang tamat, serta nilai STTB. Untuk melengkapi kartu buku umumnya sekolah menyimpan juga fotokopi STTB untuk masing-masing siswa yang tamat, yang disusun berdasarkan urutan nomor STTB atau nomor induk siswa, kemudian dijilid (dibukukan). Walaupun sebenarnya tidak perlu, tetapi dipandang baik untuk kehati-hatian dan menjaga jika dokumen di tempat lain sulit diketemukan. 9. Bimbingan dan Penyuluhan. a. Pengertian. Bimbingan dan Penyuluhan (BP) adalah terjemahan dari Guidance and Counseling (GK), sekarang malah campur ada yang menyebut Bimbingan dan Konseling (BK). Guidance (bimbingan) mempunyai makna yang luas, mencakup pemberian berbagai macam bantuan kepada siswa agar lebih dapat berintegrasi dengan program sekolah, sedangkan counseling (Penyuluhan) adalah pemberian nasihat. Bimbingan melengkapi program-program pengajaran melalui layanan penyusuhan (counseling service), termasuk tes individual atau kelompok untuk diagnostik atau tujuan-tujuan penempatan, monitoring dan pencatatan kehadiran siswa, bantuan belajar, bantuan penempatan kerja dan kegiatan-kegiatan tindak lanjut siswa. Penyuluhan belajar, pribadi, sosial, karier, dan pekerjaan, sebenarnya adalah komponen pokok dari program bimbingan. Karena penyuluhan merupakan bagian dari bimbingan, maka dengan kata bimbingan saja sebenarnya sudah mencakup pengertian bimbingan dan penyuluhan. b. Tugas dan Fungsi BP. Tugas dan tanggung jawab pembimbing (counselor), menurut James W. Guthrie & Roodney J. Reed dalam Wijono (1989:118) adalah :
170

1) Mengetahui dan peka terhadap perbedaan-perbedaan individual dan kelompok karena budaya, suku, atau latar belakang sosial-ekonomi; 2) Mendiskusikan hubungan siswa, staf sekolah dengan orang tua/wali siswa; 3) Memberikan nasihat dan bantuan akademis dengan penempatan dan pemilihan program studi; 4) Membantu siswa dengan perencanaan karier dan pekerjaan; 5) Bekerja dengan siswa dan staf sekolah untuk menciptakan dan memelihara lingkungan sekolah untuk belajar dan pertumbuhan; 6) Menyiapkan penyuluhan dan pelatihan pribadi dan sosial kepada siswa, staf sekolah, orang tua/wali dan kelompok-kelompok masyarakat. Fungsi bimbingan merupakan salah satu bentuk pendidikan juga, yaitu proses bagi individu mengadakan perubahan-perubahan dalam dirinya sesuai dengan yang dikehendakinya. Guru maupun pembimbing hanya menyediakan kesempatan-kesempatan atau situasi-situasi yang berguna sesuai untuk mengembangkan dirinya itu. c. Program Bimbingan. Tujuan pokok dari program bimbingan adalah membantu siswa untuk lebih mendalami diri mereka sendiri, dan merealisasikan kemampuan mereka secara optimal. Untuk mencapai tujuan ini program bimbingan harus menyediakan serangkaian layanan kepada para siswa dan orang lain yang bekerja membantu para siswa tersebut. d. Peranan Pembimbing. Layanan BP yang efektif berpusat pada peranan si pembimbing (konselor). Pembimbing memberikan layanan program bimbingan seperti guru menyampaikan pelajaran kepada siswa. Uraian peranan pembimbing dimaksud antara lain : 1) Tanggung jawab terhadap siswa. - Mendemonstrasikan hormat pada nilai, martabat, dan kualitas hak asasi siswa; - Membantu siswa dalam merencanakan pendidikan, karier, dan perkembangan pribadi serta sosial;

171

- Memberi peralatan siswa untuk evaluasi dirinya sendiri, memahami dirinya sendiri, dan mengarahkan dirinya sendiri untuk membuat keputusan yang taat asas dengan tujuan jangka pendek maupun jangka panjang; - Membantu siswa mengembangkan kebiasaan yang sehat dan sikap yang positif serta nilai-nilai; - Mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah; - Berpartisipasi dalam perencanaan dan rancangan penelitian yang dapat memberikan keuntungan bagi anak bimbingannya; - Membantu siswa dalam mengembangkan kesadaran akan dunia kerja dan dalam pemanfaatan sumber-sumber sekolah dan masyarakat untuk mencapai tujuan; - Membantu siswa untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang dunia kerja melalui program-program yang berhubungan dengan dunia kerja; - Mendorong siswa untuk merencana dan memanfaatkan waktu luang dan meningkatkan kepuasan pribadinya; - Menunjukkan secara jelas kondisi mana bimbingan dapat diperoleh dengan komunikasi yang istimewa; - Membantu siswa menyesuaikan dirinya dengan sekolah dan mengevaluasi kemajuan akademisnya; - Menyerahkan sumber-sumber yang tepat apabila profesi atau peranannya terbatas; - Membantu siswa dalam memahami kekuatannya, kelemahannya, minat, nilai, kemampuan dan keterbatasannya. 2) Hubungan Pembimbing dengan Guru. - Guru dianggap sebagai tim bimbingan; - Bertindak sebagai interpreter (penerjemah) program bimbingan sekolah kepada guru dan membiasakan diri mereka dengan layanan bimbingan yang ada; - Kembangkan sosial-pribadi, dan kemajuan-kemajuan sekolah secara keseluruhan;
172

- Menerjemahkan program-program bimbingan sekolah kepada orang tua/ wali dan membiasakannya dengan layanan bimbingan yang ada; - Melibatkan orang tua/wali dalam kegiatan-kegiatan bimbingan dalam sekolah. 3) Hubungan Pembimbing dengan Hal-hal lain. - Memelihara komunikasi yang baik dengan lembaga-lembaga pemerintah, dunia usaha (swasta), dll. - Memelihara kerjasama dengan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan; - Konsultasi dengan pembimbing sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan dan pertimbangan; - Memelihara hubungan dekat dan kerjasama dengan pembimbing sekolah lanjutannya. e. Dokumen-dokumen Program Bimbingan. Dokumen-dokumen program bimbingan yang perlu ada, meliputi : Kartu pribadi tiap siswa, catatan kasus, peta kelas, peta siswa, dan buku bimbingan. 1) Kartu pribadi siswa berisi informasi kumulatif lengkap tentang siswa yang meliputi : Nama, tempat dan tanggal lahir, suku bangsa, agama, keluarga, riwayat pendidikan, data tes hasil belajar, kecerdasan, bakat, kegemaran, kegiatan di luar sekolah, kesehatan jasmani, penyakit-penyakit yang pernah dideritanya, dll. 2) Catatan kasus adalah hasil penelitian yang dilakukan secara mendalam kepada seseorang siswa yang menghadapi masalah agak gawat; 3) Peta kelas adalah gambaran yang menunjukkan siapa saja siswa yang selalu mempunyai masalah dan membuat keributan dalam kelas dan tempat duduknya; 4) Peta murid adalah gambaran yang memberikan petunjuk siapa-siapa yang selalu mempunyai masalah atau membuat permasalahan dalam ruang lingkup sekolah. Perlu digambarkan dalam bentuk sosiogram; 5) Buku bimbingan merupakan catatan harian kegiatan bimbingan di sekolah, yang berisi tanggal kejadian, masalah yang terjadi, siapa yang mendapatkan

173

masalah, siapa yang menangani atau menyelesaikan, bagaimana penyelesaiannya, serta catatan-catatan lain yang dianggap perlu.

C. ADMINISTRASI KURIKULUM Kurikulum adalah penjabaran dari kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, bukan hanya sekedar kumpulan mata pelajaran-mata pelajaran. Kebijakan pemerintah ini sudah menampung kehendak, harapan, dan tuntutan masyarakat, yang kemudian dijabarkan dalam landasan dan program kurikulum yang dilaksanakan di sekolahsekolah atau lembaga-lembaga pendidikan. Kurikulum itu terdiri dari komponenkomponen rumusan tujuan, rincian mata pelajaran, garis besar pokok bahasan, penilaian, serta pedoman dan petunjuk pelaksanaannya. Jika komponen-komponen itu dipadukan dengan waktu, tempat, sarana, dan personalia, maka akan terbentuk program pengajaran yang dijabarkan menjadi kegiatan-kegiatan belajar-mengajar. Kegiatan belajar-mengajar ini berkaitan dengan penyediaan perlengkapan laboratorium dan perpustakaan. Demikianlah, maka pembicaraan administrasi kurikulum akan me-

nyangkut masalah pengelolaan program pengajaran, laboratorium, dan perpustakaan. 1. Pengelolaan Program Pengajaran. Apa yang harus diajarkan kepada siswa dituangkan ke dalam buku yang disebut Garis-garis Besar Program Pengajaran atau istilah sekarang Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP). Adapun GBPP itu memuat komponen-komponen sebagai berikut. a. Tujuan Kurikuler : Adalah tujuan yang pencapaiannya dibebankan pada sesuatu mata pelajaran (bidang studi) yang mencakup kemampuan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor). Tujuan kurikuler harus mengacu pada

tujuan instansional, dan lebih lanjut dijabarkan pada tujuan yang lebih operasional, yaitu tujuan instruksional. b. Tujuan Instruksional : Adalah tujuan yang pencapaiannya dibebankan pada suatu program dari sesuatu mata pelajaran. Tujuan instruksional umum mencakup kemampuan pengetahu174

an, sikap, dan keterampilan yang rumusannya masih bersifat umum, dan perlu dijabarkan lebih lanjut ke dalam tujuan-tujuan instruksional khusus. c. Bahan Pengajaran : Adalah pokok bahasan beserta uraiannya yang disajikan dalam GBPP. Pokok bahasan untuk setiap mata pelajaran merupakan serangkaian pokok bahasan inti konsep-konsep esensial. Tata urut bahan pengajaran disesuaikan dengan perkembangan siswa, yaitu : 1) Dari yang mudah ke yang sukar; 2) Dari yang sederhana ke yang lebih rumit (kompleks); 3) Memberikan pengalaman baru; 4) Berkorelasi antara pokok bahasan yang satu dengan pokok bahasan lainnya. Pokok bahasan yang disajikan dalam GBPP masih bersifat umum, sehingga guru perlu mengembangkannya (improvisasi) sesuai dengan kebutuhan dalam proses belajar-mengajar. Di dalam GBPP umumnya setiap pokok bahasan disertai dengan uraian, maksudnya untuk memberikan gambaran ruang lingkup (tingkat kedalaman, tingkat keluwesan) pokok bahasan dimaksud. Uraian ini pun penting untuk mebedakan pokok bahasan yang sama tetapi ruang lingkupnya berbeda, sehingga tergambar dalam uraian yang isinya berbeda. d. Program. Program dalam kelas tertentu dalam satu semester ditetapkan alokasi waktunya (jam pertemuannya). Untuk itu perlu diatur per semester sekaligus, sehingga semua pokok bahasan yang perlu diajarkan mendapat jatah waktunya, terlebih jika setiap mata pelajaran ditetapkan dengan sistem kredit. Pada dasarnya sistem kredit bertujuan untuk memberikan batas, beban, atau makna pada suatu proses belajar. Kredit adalah hadiah, penghargaan, atau kepercayaan atas upaya yang telah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, tekun, dan ulet. Seorang siswa yang telah melakukan proses belajar satu jam tatap muka (45 menit) ditambah jam tugas rumah per minggu per semester, mendapatkan satu kredit. Dengan sistem kredit, kegiatan siswa dalam proses belajar-mengajar perlu dimonitor dengan ketat, karena hanya siswa yang secara tuntas belajar dengan sungguh-sungguh berdasarkan beban belajar yang ditentukan, akan memperoleh
175

penghargaan berupa kredit. Oleh sebab itu mekanisme pencatatan presensi (kehadiran) siswa dalam keikutsertaan dalam proses belajar perlu dikelola dengan cermat dan berkesinambungan. Dalam menentukan ketuntasan belajar secara ketat, maka siswa dituntut hadir 100% dalam seluruh pertemuan selama satu semester. Dalam praktek ada juga yang lebih longgar misalnya 90% atau cukup 75% kehadiran saja. Dalam menyusun program kegiatan belajar-mengajar, guru hendaknya mampu menjabarkan kaitan antara tujuan, pokok bahasan, dan alokasi waktu yang tersedia. Yang harus dilakukan adalah : 1) Menentukan hari dan jam efektif pada semester yang bersangkutan. Jika mengajar kelas paralel, cukup mengambil satu-satu kelas saja sebagai dasar; 2) Mencatat materi pelajaran yang harus diajarkan. Agar tidak terlalu banyak pokok bahasan, dapat mengelompokkan beberapa pokok bahasan menjadi satu-satuan bahasan yang dituangkan dalam satu pelajaran; 3) Satuan pelajaran yang telah tersusun diberi bobot waktu yang disediakan hingga materi dapat tersampaikan secara tuntas; 4) Jika awktu yang tersedia tidak mencukupi, maka yang diajarkan dalam kegiatan intra kurikuler materi pokok saja, sedang materi yang lain diberikan dalam bentuk kegiatan ko-kurikuler; 5) Agar tidak ada materi yang tidak tersampaikan karena bermacam-macam alasan, maka disediakan waktu cadangan dalam membuat program. Untuk menyusun program semester tersebut, perlu disiapkan format-format perhitungan jam efektif, satuan bahasan, alokasi waktu, dan analisis program pengajaran. Adapun contoh format dimaksud adalah : Format Perhitungan Jam Efektif :
BULAN JUMLAH MINGGU JUMLAH HARI JUMLAH JAM KETERANGAN

176

Format Satuan Bahasan dan Alokasi Waktu :


No. SATUAN BAHASAN POKOK BAHASAN SUB POKOK BAHASAN JUMLAH JAM INTRA KO

Format Analisis Program Pengajaran : I. IDENTITAS : 1. MATA PELAJARAN 2. KELAS 3. SEMESTER 4. PROGRAM : : : :

II. JATAH WAKTU : 1. YANG DITETAPKAN DALAM GBPP : . JAM. 2. YANG TERSEDIA : a. TATAP MUKA : .. JAM.

b. TES SUB SUMATIF : .. JAM. c. TES SUMATIF d. CADANGAN : .. JAM. : .. JAM.

III. BAHAN PENGAJARAN


No. POKOK BAHASAN SUB POKOK BAHASAN JUMLAH JAM INT KO RANAH EVALUASI K P A METODE ALAT SUMBER

177

IV. METODE
No. POKOK BAHASAN SUB POKOK BAHASAN INTRA KURIKULER METODE LANGKAH KO-KURIKULER METODE LANGKAH

V. SARANA
OBYEK JUDUL BUKU NAMA PENGARANG KETERANGAN

Guru-Murid

VI. PENILAIAN
JENIS PENILAIAN POKOK BAHASAN RANAH PENILAIAN ALAT PENILAIAN

Cianjur, .2012. Guru Mata Pelajaran,

_________________

Program satuan pelajaran yang merupakan persiapan guru dalam pelaksanaan program belajar-mengajar, berisi nama mata pelajaran, satuan bahasan, kelas, semester, waktu, rumusan tujuan instruksional umum, rumusan tujuan instruksional khusus, materi, kegiatan belajar-mengajar, alat, dan penilaian.

178

e. Metode. Dalam memilih metode belajar-mengajar hendaknya memperhatikan kepentingan siswa, tingkat kemampuan siswa, lingkungan sekitar, mengaktifkan dan membangkitkan motivasi siswa. Berbagai metode dapat dipilih seperti ceramah, diskusi, demonstrasi, pemberian tugas, karyawisata, dll. f. Sarana/Sumber. Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan program pengajaran, biasanya diperlukan sarana/sumber berupa buku-buku sumber, buku-buku bacaan yang isinya sesuai dengan pokok bahasan atau materi yang diajarkan, termasuk perlengkapan seperti gambar, lukisan, radio, televisi, komputer, dsb. g. Penilaian. Sistem kredit mengaitkan proses dan hasil, karenanya pengolahan penilaian hasil belajar siswa harus dikelola secara sistematis, cermat, dan berkesinambungan. Penilaian/evaluasi hasil belajar biasanya dijadwalkan secara terpadu dengan jadwal pelajaran, biasanya meliputi tiga jenis, jaitu penilaian formatif (untuk mengukur penguasaan siswa terhadap suatu tujuan instruksional), penilaian sub sumatif (diadakan setelah satuan pelajaran dilaksanakan), dan penilaian sumatif (diadakan pada akhir semester). Untuk mengadakan penilaian, melalui beberapa langkah, yaitu : 1) Perencanaan, untuk menentukan TIK, membuat kisi-kisi, membuat lembar soal dan jawaban, serta kunci jawaban, menentukan standar penilaian, dan table penilaian; 2) Pelaksanaan, dengan tertib dan disiplin; 3) Pengolahan dan pembobotan, caranya dapat dengan cara kuantitatif, kualitatif, kuantitatif dan kualitatif yang dikuantitatifkan. Standar penilaian digunakan standar mutlak, artinya hasil penilaian untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa secara perorangan dan kedudukannya dalam kelompok. Guru sebagai ujung tombak pelaksanaan kurikulum diharapkan dapat mengetahui sampai di mana atau seberapa jauh target pencapaian kurikulum yang telah dicapai dan dapat menghitung daya serap siswa terhadap penguasaan mata pelajaran yang diajarkan. Daya serap ini dapat dihitung dengan rumus :
179

Jumlah nilai X 100% DS = -------------------------- = % Jumlah siswa X 10 Menurut kriteria penilaian untuk akreditasi SMP/SMA swasta, daya serap siswa diharapkan lebih dari 80%. 2. Laboratorium. Di samping kegiatan belajar-mengajar intrakurikuler yang dijadwalkan, ada juga kegiatan ko-kurikuler. Ciri-ciri kegiatan ko-kurikuler adalah : a. Waktu pelaksanaan di luar jam pelajaran intrakurikuler yang ditetapkan dalam struktur program; b. Dikerjakan kurang memerlukan kehadiran guru secara tatap muka; c. Bertujuan menunjang kegiatan intrakurikuler; d. Metode belajarnya berupa pemahaman masalah, inkuire, diskoveri, tugas, dan kegiatan kelompok; e. Kegiatan belajarnya a.l. penelitian, percobaan, dan diskusi kelompok; f. Pokok bahasannya meliputi pokok bahasan dalam intrakurikuler yang bersangkutan dengan atau bahan lain yang berkaitan atau untuk memperkaya (elaborasi). Salah satu sarana untuk kegiatan ko-kurikuler adalah adanya ruang laboratorium beserta perlengkapan/peralatannya. Kegiatan-kegiatan di laboratorium harus diadminitrasikan dengan baik agar tujuan kegiatan dapat tercapai, dan penggunaan baik ruang maupun perlengkapan/peralatan efektif dan efisien. Penggunaan alatalat praktikum harus dikelola dengan baik agar tidak terjadi pemborosan bahan, waktu, dan tenaga. Umumnya pengadministrasian laboratorium meliputi : a. Pengorganisasian personil laboratorium yang terdiri dari seorang kepala (koordinator) dibantu oleh beberapa orang guru pembimbing praktikum dan tenaga lainnya; b. Untuk keselamatan penyimpanan barang, perlu dibuat buku petunjuk (penuntun) penyimpanan barang; c. Untuk keselamatan para praktikan (siswa) harus dibuat aturan tata tertib a.l. ten180

tang berpakaian, bersikap, dan berperilaku; d. Untuk keselamatan umum perlu adanya peralatan pemadam kebakaran; e. Dalam menggunakan alat-alat/perlengkapan dan bahan, harus dibuatkan buku log, yaitu buku untuk mencatat penggunaan peralatan dan bahan yang ada di ruang laboratorium. Ada dua macam : 1) Buku log untuk mencatat masalah penerimaan dan pengeluaran peralatan dan bahan-bahan praktikum; 2) Buku log untuk mencatat pemakaian peralatan serta jadwal dan keterangan tentang kondisinya pada waktu akan dipergunakan serta setelah dipergunakan. 3. Perpustakaan. Perpustakaan sekolah adalah suatu unit kerja yang bertugas mengelola pengadaan, penyimpanan, pemeliharaan, dan pendayagunaan bahan pustaka untuk menunjang program belajar-mengajar di sekolah. Mengelola pengadaan berarti merencanakan, mengatur, dan melaksanakan usaha mendapatkan bahan pustaka. Mengelola penyimpanan berarti mengatur bahan pustaka dengan suatu sistem tertentu sehingga sewaktu-waktu akan dipergunakan dapat diketemukan dengan mudah dan cepat. Mengelola pemeliharaan berarti mengatur dan memperlakukan bahan pustaka sehingga tidak lekas rusak atau hilang. Mengelola pendayagunaan berarti memberikan pelayanan dengan sistem tertentu kepada para pembaca (siswa, guru, staf, dll.) untuk menggunakan bahan pustaka. Adapun yang dimaksud bahan

pustaka adalah segala bahan informasi hasil budi daya manusia baik berupa bahan tercetak maupun noncetak, fiksi maupun nonfiksi. Contoh bahan cetak adalah buku, majalah, surat kabar, jurnal, dll. Contoh bahan noncetak adalah kaset, compact disk (CD), transparan, dll. Contoh fiksi adalah cerita-cerita binatang, manusia, planet, dll. Contoh nonfiksi adalah buku-buku ilmu pengetahuan. Perpustakaan sekolah mempunyai fungsi sebagai penunjang program kegiatan belajar-mengajar. Karenanya koleksi bahan pustaka yang ada harus sesuai dengan kurikulum sekolah, sehingga koleksi antar perpustakaan sekolah yang satu dengan yang akan berbeda. Misalnya perpustakaan SD, SMP, dan SMA atau Kejuruan satu
181

sama lain akan berbeda. Agar perpustakaan sekolah berfungsi dengan baik, maka sebaiknya dikelola oleh ahlinya, yaitu pustakawan guru (teacher librarians atau school librarians). Mereka adalah guru yang pernah mendapatkan pendidikan dan pelatihan atau kursus di bidang perpustakaan, biasanya waktunya sampai satu tahun. Contohnya Teacher Training Library Certificate di Australia. Di Indonesia memang belum ada diklat atau kursus khusus pustakawan untuk guru, tetapi di universitas-universitas ada program studi perpustakaan. Untuk dapat memfungsikan perpustakaan sekolah dengan baik, selain diperlukan tenaga pengelola, juga pengadministrasiannya harus baik. Misalnya dari segi perencanaan ada kegiatan pengadaan, dari segi pengorganisasian ada kegiatan pengklasifikasian, katalogisasi, pengaturan buku dan kartu, dari segi pengawasan ada kegiatan pemeliharaan buku, dan akhirnya ada kegiatan pelayanan kepada pemakai (pembaca) yang menjadi tugas utamanya. a. Pengadaan (Acquisition). Pengadaan adalah kegiatan pemilihan dan usaha mendapatkan bahan pustaka. Pemilihan buku merupakan pekerjaan yang penting dalam perpustakaan sekolah, karena akan menentukan macam, kadar, dan luas cakupan pengetahuan yang dikandung oleh koleksinya. Kegiatan pemilihan buku perpustakaan sekolah hendaknya mengikutsertakan para guru bidang studi, guru keterampilan, dan para siswa dalam batas tertentu, karena merekalah sebenarnya yang akan memanfaatkan koleksi perpustakaan sekolah dimaksud. Perpustakaan sekolah hendaknya memiliki koleksi bahan pustaka : 1) Buku-buku acuan pokok untuk sumber belajar-mengajar di kelas sesuai dengan kurikulum yang berlaku; 2) Buku-buku pengetahuan penunjang masing-masing mata pelajaran (bidang studi); 3) Buku-buku fiksi pengetahuan, cerita pembinaan, dan cerita-cerita hiburan; 4) Buku-buku keterampilan, sesuai dengan program-program kurikulum yang dipilih oleh sekolah; 5) Bahan pustaka bukan buku yang menunjang program sekolah.

182

Beberapa pertimbangan dalam memilih buku, antara lain : 1) Pilihlah buku yang sesuai dengan kurikulum atau tingkat dan jenis sekolah; 2) Pilihlah buku yang banyak diminati oleh para pemakai perpustakaan (siswa, guru, staf, dll.); 3) Pilihlah buku yang dirancang dengan wajah atau format yang bagus dan menarik, sehingga merangsang siswa untuk membacanya; 4) Jangan memilih buku yang bertentangan dengan politik atau kebijakan pemerintah atau yang berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) yang bisa mengakibatkan sikap negatif para siswa. Beberapa alat untuk kegiatan pengadaan buku adalah : 1) Bibliografi, yaitu daftar buku yang memuat informasi tentang pengarang, judul, edisi, kota terbit, nama penerbit, dan tahun terbit. Ada juga yang disertai keterangan singkat isi buku yang terdaftar, disebut bibliografi beranotasi; 2) Book in-print, yaitu buku yang memuat daftar buku-buku yang diterbitkan pada suatu tahun atau periode tertentu. Keterangan-keterangan tentang buku yang ada dalam daftar buku tersebut selain seperti tersebut di atas, juga tentang keadaan jilid (cover), misalnya hard cover atau paper back, dengan harganya; 3) Book review, yaitu timbangan atau resensi buku, memuat informasi tentang isi buku beserta pertimbangan apa yang ada, misalnya kelebihan atau kekurangannya, sehingga dapat membantu pemikiran untuk memilih buku dimaksud sebagai koleksinya; 4) Katalog penerbit, yaitu daftar buku-buku yang diterbitkan oleh suatu penerbit untuk memberikan informasi kepada pembaca. Biasanya mengenai contoh gambar sampul/jilid, harga, dan cara pemesanannya diinformasikan pula; 5) Saran pemakai perpustakaan, yaitu saran dari para guru mata pelajaran dan para siswa mengenai buku-buku yang mereka inginkan ada di perpustakaan yang sesuai dengan program kegiatan sekolah. Buku-buku yang diterima/diperoleh dari kegiatan pengadaan menjadi koleksi perpustakaan sekolah, dan harus dicatat dalam buku inventaris atau buku
183

induk perpustakaan. Buku inventaris atau buku induk perpustakaan memuat nomor induk buku, nama pengarang, judul, penerbit, kota dan tahun terbit, macam buku, asal buku (pembelian, hadiah, dsb.), harganya (jika hasil pembelian), dan keterangan. Buku yang telah dicatat dalam buku inventaris atau buku induk perpustakaan harus diberi nomor induk dan dicap (stempel) Milik Perpustakaan Sekolah .. sebagai tanda bahwa buku itu milik perpustakaan sekolah. Pemberian nomor induk diletakkan pada halaman judul di kiri atas, sedangkan cap dibubuhkan pada tiga tempat, yaitu di halaman judul (jangan menutupi tulisan judu), halaman belakang, dan halaman khusus yang ditentukan oleh pihak perpustakaan sekolah. b. Klasifikasi. Buku dan bahan pustaka lainnya yang telah menjadi koleksi perpustakaan sekolah dikelompok-kelompokkan ke dalam : Kelompok buku acuan (referensi), kelompok buku umum, kelompok buku fiksi, dan kelompok bukan buku, biasanya alat tampak dengar atau audio-visual. Kemudian masing-masing kelompok dikelompok-kelompokkan lagi berdasar suatu sistem klasifiksi tertentu. Yang umum dipakai di sekolah adalah Sistem Klasifikasi Persepuluhan Dewey (Dewey Decimal Classification atau disingkat DDC). Sistem DDC mengelompokkan bidang ilmu pengetahuan yang ada di dunia menjadi sepuluh kelas utama, kemudian masing-masing kelas utama dibagi-bagi lagi ke dalam sepuluh divisi, dan masingmasing divisi dibagi-bagi lagi ke dalam sepuluh seksi, dan selanjutnya pembagian lebih rinci diadakan dengan kelipatan bilangan sepuluh. Buku-buku perpustakaan diberi nomor klasifikasinya yang ditulis di halaman judul di bawah nomor inventaris. Ada perpustakaan yang memberi nomor klasifikasi pada buku fiksi atau cerita, tetapi juga ada perpustakaan yang hanya memberi kode C (cerita) saja pada kolom untuk nomor klasifikasi dengan pertimbangan buku tersebut akan lebih mudah diatur berdasarkan urutan abjad nama pengarangnya. c. Katalogisasi. Katalogisasi adalah kegiatan membuat katalog. Katalog adalah daftar buku yang memuat keterangan-keterangan seperti pada bibliografi, namun lebih ditujukan untuk mempermudah para pembaca menelusuri/menemukan buku yang dicari di
184

perpustakaan. Perbedaan antara bibliografi dan katalog adalah, yang pertama tidak memberikan informasi di mana buku-buku yang terdaftar berada, sedang yang kedua memberi keterangan di mana buku itu berada. Katalog perpustakaan A akan memuat daftar buku yang ada di perpustakaan A. Bentuk katalog ada yang berupa buku, disebut buku katalog, ada yang berupa berkas-berkas, disebut katalog berkas (sheat catalog), ada juga yang berupa kartu disebut katalog kartu (card catalog). Di perpustakaan sekolah umumnya menggunakan bentuk katalog kartu, karena mudah untuk menambah kartu jika ada tambahan buku baru, dan sebaliknya mudah mencabutnya jika sebuah buku harus dikeluarkan dari ruang baca perpustakaan. Karena itu harus nyata bahwa katalog yang ada di perpustakaan mesti menunjukkan bahwa buku yang diwakili oleh katalog itu memang ada di perpustakaan. Jadi jika bukunya tidak ada atau sudah musnah, maka katalognya pun harus dikeluarkan dari lemari katalognya. Kartu katalog ukurannya sudah dibuat standar untuk semua perpustakaan, yaitu 12,5 cm panjang dan 7,5 cm lebar, di bagian tengahnya berlubang untuk menusukkan kawat pengaman. Adapun isi informasi yang dikandungnya adalah : 1) Tanda buku (call number), terdiri dari nomor klasifikasi (baris pertama), tiga huruf pertama nama pengarang (baris kedua), dan satu huruf pertama judul (baris ketiga); 2) Nama pengarang (author), dengan aturan penulisan seperti pada bibliografi, yaitu nama keluarga di depan; 3) Judul buku (title), beserta anak judulnya secara lengkap; 4) Edisi (edition), ke berapa buku tersebut; 5) Impresum atau teraan (imprint), memuat keterangan tentang kota terbit, nama penerbit, dan tahun terbit; 6) Kolasi (collation), memuat jumlah halaman, ilustrasi dan ukuran buku; 7) Catatan (note), memuat ketarangan lain yang perlu untuk pemakai perpustakaan; 8) Jejakan (tracing), yaitu petunjuk untuk mengadakan penelusuran buku tersebut.
185

Setiap buku milik perpustakaan sekolah dibuatkan tiga macam katalog untuk disediakan di tempat menjelang ruang baca, yaitu katalog pengarang, merupakan katalog yang menggunakan nama pengarang sebagai tajuk (heading)nya; katalog judul, merupakan katalog yang menggunakan judul sebagai tajuknya; dan katalog subyek, merupakan katalog yang menggunakan pokok masalah sebagai tajuknya. Selain itu masih ada lagi jenis katalog yang disebut self-list yang isinya sama dengan katalog pengarang, namun ditambah nomor inventaris buku dan dengan warna kartu yang berbeda dengan kartu katalog. Tapi self list ini hanya berguna untuk kepentingan perpustakaan sendiri. d. Pengaturan Buku dan Kartu Katalog. Buku-buku dan bahan pustaka lainnya diatur di ruang baca pada rak-rak buku dan tempat lain yang disediakan. Buku-buku kelompok referensi diatur menurut urutan nomor klasifikasi sesuai dengan arah putar jarum jam. Demikian halnya dengan buku-buku umum. Sedangkan kelompok buku-buku fiksi/cerita disusun berdasarkan urutan abjad nama pengarang. Bahan-bahan pustaka bukan buku yang berisi informasi (nonfiksi) diatur juga menurut urutan nomor klasifikasi. Pengaturan buku-buku dan bahan pustaka lain di runag baca ini disebut shelving. Kartu-kartu katalog yang telah dibuat disusun pada kotak katalog yang ditempatkan pada lemari katalog. Ada dua cara penyusunannya, yaitu susunan katalog kamus (dictionary catalog), dan susunan katalog terbagi (devided catalog). Yang pertama, tiga macam katalog (katalog pengarang, judul, dan subyek) dijadikan satu, kemudian disusun menurut urutan abjad. Yang kedua, masing-masing macam katalog dipisahkan satu sama lain dan disusun menurut urutan abjad, sehingga ada susunan katalog pengarang, katalog judul, dan katalog subyek. Cara menyusun kartu katalog berdasarkan abjad ada dua patokan, yaitu patokan huruf demi huruf dan kata demi kata. Patokan pertama lebih mudah, karena hanya memikirkan urutan huruf pertama, kedua, dan seterusnya untuk menentukan kata mana yang didahulukan dalam susunannya. Sedangkan patokan yang kedua, harus dipikirkan pula masing-masing kata. Contoh banding186

an kedua macam susunan pada kata-kata yang sama : Menurut aturan huruf demi huruf : mata matahari mata jarum mata kaki mata sapi mataram Menurut aturan kata demi kata : mata mata jarum mata kaki mata sapi matahari mataram

Kegiatan penyusunan kartu katalog di dunia perpustakaan disebut filing. Pekerjaan filing dan shelving merupakan pekerjaan rutin perpustakaan, dan para pembaca tidak diperkenankan menempatkan buku yang telah dibacanya kembali ke raknya, cukup ditinggalkan di ruang baca saja. e. Pemeliharaan Bahan Pustaka. Bahan pustaka yang menjadi koleksi perpustakaan sekolah harus dipelihara dengan baik agar tidak lekas rusak dimakan usia atau hilang karena kecerobohan manusia. Beberapa faktor yang merusak buku adalah : 1) Faktor alam, berupa kelembaban udara, tekanan, air, debu, dan sinar matahari. Untuk mencegahnya, hendaknya : - Buku tidak ditumpuk, tetapi disusun tegak dengan punggung tampak; - Buku dijauhkan dari kemungkinan terkena air hujan; - Buku selalu dijaga agar tetap bersih dan disampul; - Buku dijauhkan dari sinar matahari langsung. 2) Faktor biologis, seperti rengat, serangga, kecoa, dll. Untuk mencegahnya hendaknya diberi bahan-bahan yang dapat menghalau atau mematikannya, misalnya kapur barus (kamper); 3) Faktor kecerobohan manusia dalam menggunakan bahan pustaka, seperti membaca sambil makan kacang goreng, merokok, memberi batas halaman setelah membaca dengan benda tebal sehingga merusak jilid buku, melipat setelah membaca, dsb.

187

f. Pelayanan Pembaca. Pelayanan dapat dibedakan, yaitu pelayanan referensi dan pelayanan sirkulasi. Yang pertama, adalah pemberian informasi kepada para pemakai baik langsung maupun tidak langsung mengenai hal-hal yang dicarinya, dan penyajian bukubuku atau bahan acuan yang hanya boleh dibaca di perpustakaan. Yang kedua, adalah peminjaman dan pengembalian buku. Untuk pelayanan sirkulasi, dibutuhkan peralatan administrasi peminjaman dan pengembalian buku. Setiap buku, termasuk buku referensi, pada punggungnya sebelah bawah diberi tanda buku yang terdiri dari nomor klasifikasi, tiga huruf pertama nama pengarang, dan satu huruf judul. Apabila punggung buku tipis, maka tanda buku ditempatkan pada halaman muka atau cover pada bagian bawah belakang seperti pada punggung buku tebal. Setiap buku yang dipinjamkan dibuatkan kartu buku yang memuat keterangan tentang nama pengarang, judul buku, penerbit, tanda buku, nomor inventaris, dan kolom-kolom untuk mencatat tanggal kembali dan nomor atau nama anggota peminjam. Kartu buku itu ditempatkan pada kantung kartu buku yang ditempelkan pada kulit buku belakang bagian dalam sebelah bawah. Di halaman terakhir buku perlu ditempel kertas slip buku yang berguna untuk mencatat kapan buku kembali. Sedang bagi para pemakai dibuatkan kartu peminjaman atau kartu anggota yang sekaligus sebagai kartu peminjaman. Cara peminjaman buku : 1) Buku yang akan dipinjam ditemukan dengan bantuan kartu katalog atau langsung ke tempat rak buku; 2) Buku dibawa ke meja sirkulasi untuk diadministrasikan oleh petugas sirkulasi; 3) Kartu buku dicabut dari kantung kartu buku, diberi cap tanggal kembali, dan kertas slip diberi cap tanggal kembali; 4) Kartu peminjam diisi tanda bukti buku yang dipinjam dan tanggal kembali; 5) Kartu buku ditinggal pada petugas sirkulasi bersama kartu pinjamnya, buku dibawa oleh peminjam. Cara pengembalian buku :

188

1) Buku yang sudah waktunya kembali dibawa ke meja sirkulasi untuk dikembalikan; 2) Keadaan buku diperiksa petugas, apakah ada kelambatan pengembalian atau tidak. Kalau terlambat, dikenakan sanksi seperti yang ditetapkan dalam peraturan peminjaman. Kalau ada kerusakan, dipertimbangkan pula apakah kena denda atau harus menukar/mengganti, sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan; 3) Kartu buku dan kartu peminjaman diketemukan kembali, dicoret catatan tanggal kembalinya, kartu buku dimasukkan lagi ke kantung kartu bukunya dan kartu peminjam diberikan kembali kepada peminjam; 4) Buku dikembalikan ke tempat raknya oleh petugas. Sistem pelayanan perpustakaan dibedakan menjadi sistem pelayanan tertutup (closed accesss) dan sistem pelayanan tebuka (open access). Dalam sistem pelayanan tertutup, para pemakai tidak diperkenankan mengambil sendiri buku yang akan dipinjam atau dibaca, petugaslah yang akan mengambilkan. Dalam sistem ini susunan penempatan buku akan terjaga rapi dan keamanannya terjamin, namun kelemahannya pemakai tidak langsung dapat menemukan buku yang dikehendaki. Sementara dalam sistem pelayanan terbuka, para pemakai diperkenankan mencari sendiri buku yang akan dipinjam/dibaca di rak tempat buku berada. Dalam hal ini susunan penempatan buku mudah berubah dan rusak, keamanannya pun kurang terjamin. Untuk mencegah itu terjadi, pada waktu mengembalikannya tidak boleh langsung disimpan di rak buku oleh peminjam. Lain daripada itu pengunjung perpustakaan dilarang membawa tas dan jacket, karenanya perlu disediakan tempat penitipan, kecuali jika perpustakaan sudah menerapkan sistem keamanan canggih dengan adanya CCTV (Close Circuit Television) atau signal pelacak pencurian, dsb. seperti halnya di AS.

D. ADMINISTRASI KETENAGAAN Sekolah sebagai lembaga pendidikan telah mempunyai struktur yang kuat atau mapan.
189

Struktur ini dapat dilihat dari personalia yang terdiri dari kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha, petugas BP, dan bimbingan karier, maupun dari sistem penyelenggaraan sekolahnya yang menganut bentuk 6-3-3, yaitu enam tahun untuk SD, tiga tahun untuk SLTP, dan tiga tahun untuk SLTA yang berlangsung sejak lama. Akan tetapi pengolongannya sekarang sudah berubah. Dulu, SD disebut pendidikan tingkat dasar, sedangkan SLTP dan SLTA disebut tingkat menengah, sekarang ini yang disebut tingkat dasar adalah SD dan SLTP, sedangkan tingkat menengah hanya SLTA. Jadi, yang diprogramkan oleh negara tentang Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) Sembilan tahun, maksudnya jangan ada lagi warga negara Indonesia yang tidak mengenyam pendidikan dasar tingkat SD dan SLTP. Ke depan bahkan ada rencana setiap warga negara pendidikan minimalnya sampai dua belas tahun, artinya sampai SLTA. Struktur personalia sekolah relatif tetap, dalam arti, bentuk dan polanya jarang berubah. Struktur formal sekolah adalah jabatan berdasarkan struktur organisasi sekolah yang baku, diangkat oleh instansi yang berwenang (pemerintah atau pemerintah daerah dhi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota, atau Pengurus Yayasan untuk sekolah-sekolah swasta). Jadi, secara organisatoris jabatan-jabatan itu merupakan perangkat resmi dari organisasi sekolah. Adapun personal sekolah dapat dibagi menurut bidang garapan, yaitu personal yang digolongkan sebagai staf pengajar yang tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) mengajar, dan staf administratif yang tupoksinya melaksanakan kegiatan administrasi. Yang termasuk staf pengajar adalah guru-guru, fasilitator, termasuk BP, sedangkan staf administratif adalah tenaga tata usaha. Akan tetapi wakil kepala sekolah, koordinator, dan wali kelas, biasanya dirangkap oleh tenaga pengajar kendati tupoksinya sebenarnya cenderung administratif. 1. Pengadaan Personal Sekolah. Keadaan personal guru khususnya di SLTP dan SLTA, karena setiap guru memegang bidang studi tertentu, maka pengadaan guru dimaksud harus memenuhi keperluan semua bidang studi yang diprogramkan, jangan sampai kelebihan untuk bidang studi tertentu tetapi bagi yang lainnya kekurangan. Untuk mengatasi dan memprakirakan kebutuhan guru di sekolah diperlukan perhitungan-perhitungan tertentu.
190

Beberapa cara perhitungan tersebut menurut Supandi dalam Wijono (1989:147), sebagai berikut : a. Perbandingan antara banyak kelas dengan banyak guru. Ratio atau nisbah antara kelas dan siswa merupakan perhitungan yang paling sederhana. Rumusannya adalah : Jumlah guru sama banyaknya kelas ditambah satu. b. Perbandingan antara banyaknya siswa dengan guru. Ukuran ini sering dipergunakan, dan yang menjadi masalah adalah berapa jumlah guru yang ideal untuk sejumlah siswa. Ketetentuan inilah yang sukar ditetapkan. Untuk sementara, perbandingan yang ideal seorang guru adalah untuk 25 siswa. c. Perhitungan berdasar beban mengajar guru. Beban guru mengajar pada SLTP dan SLTA adalah 28 jam pelajaran per minggu. Satu jampel berlangsung antara 40-45 menit. Contoh perhitungannya : Di

sebuah SLTP kekurangan guru bahasa Inggris dengan data : 1) Jumlah kelas ada 10 dengan dengan rincian : Kelas I = 5 kelas, kelas II = 3 kelas, dan kelas III = 2 kelas; 2) Jumlah pelajaran bahasa Ingris tiap minggu : Kelas I = 4 jam, kelas II = 3 jam, kelas III = 2 jam; 3) Menghitung seluruh jampel bahasa Inggris yang disajikan per minggu : - Kelas I = 5 x 4 = 20 jampel per minggu; - Kelas II = 3 x 3 = 9 jampel per minggu; - Kelas III = 2 x 3 = 6 jampel per minggu; ----------------------------Jumlah . = 34 jampel per minggu. 4) Menghitung keperluan guru b. Inggris dengan dasar beban kerja : 34 jampel per minggu - 28 jamplel per minggu = ----------------------------- = 1,21 28 jampel per minggu Guru yang ada seorang. Jadi, masih kurang 1,21 1,00 = 0,21 orang guru. Karena 0,21 kurang dari setengah, maka kekurangan itu dapat diabaikan. Kekurangan guru dapat juga dihitung dengan cara sebagai berikut : - Yang harus disajikan = 34 jampel
191

- Beban guru yang ada = 1 x 28 = 28 jampel ---------------- Selisih = 6 jampel Selisih 6 jampel per minggu ini masih layak dibebankan kepada guru yang ada. Karenanya tidak perlu penambahan tenaga. Tetapi ini mungkin untuk SD yang seorang guru menangani beberapa mata pelajaran dalam kelas yang dipegangnya, dan mungkin berbeda dengan di SLTP/SLTA karena tiap guru memegang mata pelajaran tertentu. Perhitungan guru ini dapat pula

dipakai untuk menghitung kebutuhan-kebutuhan guru total sekolah. Untuk menghitung kekurangan tenaga administrasi (tata usaha), didasarkan pada lowongan formasi jabatan struktural. Status kepegawaian antara tenaga pengajar dan tenaga administratif sama untuk PNS. Proses penerimaan, pengangkatan, dan penempatannya didasarkan atas kemampuan dan potensi calon dalam rangka pengisian jabatan. Hal ini sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di bidang kepegawaian. 2. Pembinaan Ketenagaan Sekolah. Tujuan pembinaan ketenagaan sekolah adalah agar para guru dan pegawai sekolah lainnya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, sesuai dengan aturan yang ada. Bagi PNS tentunya menurut peraturan perundang-undangan bidang kepegawaian yang berlaku, yaitu Undang-Undang No. 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian, beserta aturan pelaksanaannya, baik dalam PP, Perpres/Keppres, Permen/Kepmen Dikbud, BKN, termasuk juga dari Pemda. Pembinaan kepegawaian di lingkungan PNS dilakukan melalui dua jalur, yaitu kedinasan dan luar kedinasan. Di luar kedinasan dilakukan melalui wadah Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI). Sementara bagi yang bukan PNS (honorer, TB, TKS, dll.) yang bertugas di sekolah-sekolah negeri, disesuaikan dengan aturan bagi PNS, sedangkan bagi pegawai di sekolah-sekolah swasta tentu ada aturanaturan tersendiri yang dikeluarkan oleh Yayasan penyelenggaraan sekolah dimaksud.

192

Pembinaan melalui jalur kedinasan PNS dilakukan melalui penyadaran akan kedudukan, kewajiban, hak-hak, profesi, dan kesejahteraan pegawai. a. Penyadaran akan kedudukan bagi PNS, adalah sebagai unsur aparatur negara, abdi negara, dan abdi masyarakat yang dengan penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila, UUD 1945, negara dan pemerintah, menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan. Bagi yang bukan PNS termasuk yang bertugas di sekolah-sekolah swasta, tentu harus menyesuaikan atau ada aturan tertentu yang dibuat oleh Yayasan penyelenggara sekolah. Secara eksplisit, selain

mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, tiap sekolah pun berwenang membuat peraturan sendiri yang berisi penjabarkan lebih lanjut secara teknis di sekolah; b. Penyadaran akan kewajibannya bagi PNS, tercantum dalam aturan kepegawaian, yaitu : 1) Wajib setia dan taat kepada Pancasila, UUD 1945, negara dan pemerintah; 2) Wajib menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab; 3) Wajib memenuhi kewajiban dan menjauhi larangan. Ini tercantum dalam PP No. 30 Tahun 1980 yang sekarang diganti dengan PP No. 53 Tahun 2010 tentang Peraturan Disiplin PNS. Dalam menjabarkan kewajiban tersebut di atas, hendaknya kepala sekolah dan segenap pegawai yang ada, secara operasional harus : 1) Mendalami kurikulum; 2) Menyusun program semester; 3) Menyusun satuan pelajaran dan agenda guru; 4) Menyiapkan prasarana dan sarana mengajar; 5) Menyusun kisi-kisi; 6) Menyusun soal-soal tes; 7) Melaksanakan proses belajar-mengajar; 8) Mengevaluasi hasil tes; 9) Memantau daya serap;
193

10) Menyusun dan melaksanakan perbaikan pengajaran; 11) Menyelenggarakan administrasi; 12) Mengembangkan profesi. c. Pelayanan akan hak-hak PNS, yaitu gaji yang layak sesuai dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya, cuti, perawatan jika ditimpa kecelakaan karena dan dalam menjalankan tugas kewajibannya, dll. Gaji adalah balas jasa atau penghargaan atas hasil kerja seseorang, sedangkan cuti adalah tidak masuk kerja yang diizinkan dalam jangka waktu tertentu yang meliputi cuti tahunan, cuti sakit, cuti besar, cuti bersalin (bagi perempuan), cuti karena alasan penting, dan cuti di luar tanggungan negara. d. Pembinaan profesional, dimaksudkan sebagai serangkaian usaha memberian bantuan kepada guru yang berwujud pembinaan professional yang dilakukan oleh kepala sekolah, pengawas, dan mungkin pembina sesama guru lainnya untuk meningkatkan proses dan hasil belajar-mengajar. Bimbingan profesional adalah kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan guru dalam proses belajar-mengajar, juga sebagai usaha terlaksananya sistem kenaikan pangkat dalam jabatan profesional guru. Sasaran pembinaan adalah guru bidang studi dan petugas BP, dengan prioritas guru baru. Adapun ruang lingkupnya meliputi : 1) Penanaman kesadaran profesi guru; 2) Peningkatan mutu pengelolaan proses belajar-mengajar dan mutu hasil belajar siswa; 3) Peningkatan wawasan wiyata mandala; 4) Penanaman sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam bidang pengabdian kemasyarakatan dan kemanusiaan dalam rangka meningkatkan proses belajar-mengajar. e. Kesejahteraan pegawai, meliputi tabungan asuransi sosial, asuransi kesehatan, dsb. Di kalangan guru malah ada perhatian khusus dari negara, yaitu : 1) Tunjangan jabatan pendidikan; 2) Perpanjangan batas usia pensiun dari 56 menjadi 60 tahun; 3) Kesempatan untuk menjadi guru teladan sehingga dimungkinkan untuk menDapatkan kepangkatan yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih pen194

dek dari umumnya, dan bebas mengikuti ujian dinas; 4) Kenaikan pangkat yang lebih terbuka. Jam kerja kantor di lingkungan pemerintahan umumnya 37,5 jam per minggu. Untuk guru pengalokasian waktu dimaksud adalah : 1) Wajib mengajar per minggu 24 jam pelajaran; 2) Kegiatan selain mengajar : - Mempelajari materi/mencari sumber; - Menyusun program semester; - Menyiapkan prasarana dan sarana; - Menyusun kisis-kisi; - Menyusun soal-soal tes; - Memberikan tugas rumah siswa dan memeriksanya; - Memeriksa hasil tes; - Menyusun rencana perbaikan dan pengayaan; - Menyusun dan menganalisis daya serap; - Menyelenggarakan administrasi; - Mengembangkan profesi; - Pengabdian masyarakat.

E. ADMINISTRASI SARANA/PRASARANA Nama lain dari administrasi sarana adalah administrasi peralatan/perbekalan, atau juga administrasi material, yaitu segenap proses penataan yang bersangkut-paut dengan pengadaan, pendayagunaan, dan pengelolaan sarana agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Adapun sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar-mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien. Prasarana, secara etimologis adalah alat yang sebelumnya harus sudah ada/siap, dan tidak langsung berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai dalam pendidikan, misalnya lokasi/tempat, akses jalan, tanah, bangunan, lapangan olah raga, tempat
195

parkir kendaraan, dll. Sedangkan sarana adalah alat-alat yang langsung berkaitan dengan tujuan, misalnya buku-buku, media pengajaran, laboratorium, alat peraga, dsb. Pengertian sarana yang dimaksud oleh Tim Penyusun Pedoman Pembakuan Media Pendidikan, Depdikbud mencakup pengertian prasarana juga. Sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari tiga kelompok besar, yaitu : 1. Bangunan dan perabot sekolah. 2. Alat pelajaran yang terdiri dari buku, alat-alat peraga, dan alat-alat laboratorium. 3. Media pendidikan yang dapat dikelompokkan menjadi audiovisual yang menggunakan alat penampil (OHP=Pewayang Pandang dan Terawangan, LCD Projector, dll.), dan media yang tidak menggunakan alat penampil. Dalam kaitan dengan penilaian untuk akreditasi SMP/SMA swasta, yang termasuk sarana dan prasarana sekolah adalah status tanah, status bangunan gedung, kesesuaian luas ruang kelas dengan jumlah siswa, ruang praktikum, ruang keterampilan, ruang laboratorium bahasa, ruang perpustakaan, ruang BP, ruang khusus kepala sekolah, ruang khusus dewan guru, ruang tata usaha, gudang, ruang ibadah (masjid/mushola), kamar kecil (WC), kondisi tanah, kondisi gedung, perabot dan perlengkapan tiap ruang kelas, dan fasilitas olah raga. Sarana dan prasarana sekolah ini perlu diadministrasikan dengan baik, mulai dari proses perencanaan, pengaturan, sampai dengan pengawasannya. 1. Perencanaan. Kepala sekolah bersama staf menyusun daftar kebutuhan sarpras dan mempersiapkan prakiraan tahunan untuk diusahakan pengadaannya. Untuk itu langkahlangkahnya dilakukan melalui : a. Mengadakan analisis terhadap materi pelajaran, mana yang membutuhkan alat atau media dalam penyampaiannya, dan kebutuhan alat-alat lain. Kemudian dibuatkan daftar kebutuhan alat-alat dan media dimaksud; b. Mengadakan perhitungan taksiran biayanya; c. Jika taksiran biaya untuk pengadaan sarpras lebih besar dari dana yang tersedia, maka perlu disusun skala prioritas; d. Prioritas-prioritas kebutuhan yang berada pada urutan bawah, dapat ditunda un196

tuk anggaran tahun berikutnya; e. Menugaskan kepada staf urusan perbekalan untuk proses pengadaan sarpras tersebut. Untuk ini staf harus benar-benar terampil dan jeli akan kualitas dan harga barang-barang yang akan dibeli, dsb. di samping tentu saja jujur. Jika perlu, dibentuk tim atau panatia pengadaan barang dan pemeriksa barang. 2. Pengaturan dan Penggunaan. Pengaturan dan penggunaan sarpras pendidikan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena dilaksanakan silih berganti. Terdapat dua kategori sarpras : a. Alat-alat yang langsung digunakan dalam proses belajar-mengajar, seperti alat pelajaran, alat peraga, dan media pendidikan lainnya; b. Alat-alat yang tidak langsung terlibat dalam proses belajar-mengajar, seperti bangunan sekolah, meja guru, perabot sekolah, dsb. yang disebut prasarana. Kegiatan pertama setelah pengadaan adalah pencatatan, pemberian nomor kode barang/inventaris, dan pencatatan ke dalam buku induk barang/inventaris. Kemudian pengaturan tempat penyimpanannya. Pengaturan yang dilakukan

sebelum alat-alat digunakan disebut pengaturan awal, meliputi : a. Memberikan identitas pada alat, yaitu nomor inventaris dengan kode tertentu untuk jenis tertentu; b. Pencatatan ke dalam buku inventaris, yaitu buku yang dipergunakan untuk mencatat semua kekayaan sekolah. Buku ini berfungsi untuk memudahkan pengontrolan barang-barang milik sekolah; c. Penempatan barang ke dalam lemari atau rak yang juga sudah diberi kode. Untuk sekolah besar dan mempunyai banyak alat/barang, pemisahan didasarkan atas pemisahan dalam lemari, sedangkan untuk sekolah kecil dan jika alat/barangnya hanya sedikit, pemisahannya berdasarkan penempatan pada rak. Setelah pengaturan awal, maka alat-alat sudah siap digunakan. Pengaturan alat diperhitungkan atas empat faktor, yaitu : a. Banyaknya alat untuk tiap macam; b. Banyaknya kelas yang menggunakan alat; c. Banyaknya siswa pada setiap kelas;
197

d. Banyaknya ruangan/lokal yang ada di sekolah. Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas, pengaturan alat dapat dikerjakan sebagai berikut : a. Alat pelajaran untuk kelas tertentu. Jika banyaknya alat mencukupi banyaknya kelas yang membutuhkan, maka alat-alat tersebut dapat disimpan di kelas yang menggunakan; b. Alat pelajaran untuk beberapa kelas. Jika jumlah alat terbatas sedangkan yang membutuhkan banyak, maka alat-alat tersebut dipergunakan secara bergantian dan penyimpanannya di ruang tertentu; c. Alat pelajaran untuk semua siswa. Penempatan alat-alat untuk semua kelas seharusnya di ruang tertentu yang penggunaannya diatur dengan suatu tata tertib penggunaan. Beberapa prinsip penyimpanan alat yang perlu diperhatikan agar tidak lekas rusak : a. Semua alat dan perlengkapan sekolah harus disimpan di tempat yang bebas dari faktor-faktor perusak seperti panas, lembab, pelapukan, dan gangguan serangga; b. Harus mudah dikerjakan untuk menyimpan maupun mengeluarkan alat-alat; c. Mudah diketemukan jika sewaktu-waktu akan dipergunakan; d. Semua penyimpanan harus diadministrasikan menurut ketentuan bahwa persediaan yang lama harus lebih dahulu dipergunakan; e. Harus diadakan pemeriksaan secara berkala; f. Tanggung jawab untuk pelaksanaan yang tepat dari riap-tiap penyimpanan harus dirumuskan secara rinci dan difahami dengan jelas oleh semua pihak yang berkepentingan. 3. Penyusutan. Jika sekolah selalu menambah pengadaan barang-barang sementara tempat penyimpanannya kurang atau tidak memadai, maka perlu ada kegiatan penyusutan. Penyusutan adalah memusnahkan atau menghapuskan barang-barang yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi, sehingga tempatnya dapat dipergunakan untuk penyimpanan barang-barang baru atau yang masih dapat dipergunakan. Untuk
198

menghapuskan barang-barang milik Negara dari buku inventaris di sekolah ada aturannya, yang salah satunya memenuhi kriteria sebagai berikut : a. Keadaan barang rusak berat sehingga tidak dapat diperbaiki atau dipergunakan lagi; b. Perbaikan akan menelan biaya besar sekali sehingga merupakan pemborosan; c. Secara teknis dan ekonomis kegunaannya tidak seimbang dengan biaya pemeliharaan; d. Sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan masa kini, misal mesin hitung diganti dengan kalkulator, mesin tulis biasa diganti dengan IBM atau komputer; e. Barang lebih, yang jika disimpan lebih lama akan rusak dan tidak dapat dipakai lagi; f. Ada penurunan efektivitas kerja, misal dengan mesin tulis baru sebuah konsep dapat diselesaikan lima hari, tetapi dengan mesin tulis yang rusak lebih lama lagi; g. Dicuri, dibakar, diselewengkan, musnah akibat bencana alam, dsb. Adapun tahap-tahap penghapusan/pemusnahan barang-barang inventaris adalah : a. Pemilihan/penyeleksian barang-barang yang akan dihapuskan; b. Memperhitungkan faktor-faktor penghapusan ditinjau dari nilai uang; c. Membuat surat pemberitahuan atau mohon izin kepada atasan yang berwenang. Izin hanya diperlukan bagi barang-barang yang nilainya cukup besar; d. Melaksanakan penghapusan dengan cara : - Pelelangan (umum atau terbatas); - Dihibahkan kepada orang/badan; - Dibakar. e. Proses penghapusan, jika besar, harus melalui pantia penghapusan yang dibentuk khusus dan disaksikan oleh atasan serta dibuatkan berita acaranya. 4. Pemeriksaan dan Pengawasan. Kepala sekolah selaku manajer harus selalu melaksanakan pemeriksaan dan pengawasan atas barang-barang secara berkala, paling tidak satu kali pada setiap akhir tahun ajaran. Hal ini penting untuk mengetahui keadaan dan kondisi barang-barang
199

untuk kepentingan sekolah sekaligus untuk bahan perencanaan serta penganggarannya.

F. ADMINISTRASI KEUANGAN Keuangan atau modal pembiayaan merupakan masalah penting bagi terselenggaranya segala sesuatu kegiatan termasuk sekolah. Kegiatan keuangan meliputi tiga hal, yaitu penyusunan anggaran (budgeting), pembukuan (accounting), dan pemeriksaan (auditing). 1. Penyusunan Anggaran. Di sekolah harus ada kegiatan penyusunan anggaran, yang hasilnya adalah Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Hal ini dibuat dengan melibatkan Komite untuk diterapkan dalam periode satu tahun anggaran, yang mengikuti tahun ajaran. Dalam RAPBS, uang masuk dalam satu tahun, dan dari mana sumbernya harus ditentukan, demikian juga pengeluaran untuk apa saja dan berapa besarnya. Biasanya uang masuk atau pendapatan didapat dari bantuan pemerintah (sekarang BOS), dari Yayasan (untuk sekolah swasta), Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) dari siswa, dan dari pendapatan lain-lain. Adapun pengeluaran untuk belanja sekolah umumnya untuk : a. Gaji dan honorarium guru/pegawai sekolah; b. Pemeliharaan bangunan sekolah; c. Alat-alat pelajaran dan pemeliharaannya; d. Perlengkapan administrasi sekolah termasuk ATK; e. Kegiatan-kegiatan pengajaran; f. Transportasi; g. Kesejahteraan; h. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat; i. Pengembangan profesi guru; j. Kegiatan olah raga; k. Tes hasil belajar; l. Kegiatan penelitian;
200

m. Evaluasi (ulangan/ujian akhir); n. Lain-lain. Untuk masing-masing pos anggaran pengeluaran perlu ada cadangan biaya, agar dalam pelaksanaannya tidak mengalami hambatan dan atau kekurangan perhitungan. 2. Pembukuan. Pengurusan pembukuan meliputi dua hal, yaitu pertama, yang menyangkut kewenangan menentukan kebijakan menerima dan mengeluarkan uang; dan kedua, menyangkut urusan tindak lanjut dari urusan yang pertama, yaitu menerima, menyimpan, dan mengeluarkan uang. Urusan kedua inilah yang disebut urusan perbendaharaan. Berdasarkan ICW (Indische Comptabiliteits Wet) yang kemudian

diubah menjadi Indonesische Comptabiliteits Wet, kemudian Undang-Undang Perbendaharaan Negara, Peraturan Akuntasi, dll., bendahara adalah orang atau badan yang oleh negara diserahi tugas menerima, mencatat, menyimpan, dan membayar/ menyerahkan uang atau surat berharga dan barang-barang, sehingga dengan jabatannya itu ia atau mereka mempunyai kewajiban mempertanggungjawabkan apa yang menjadi urusannya kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 3. Pemeriksaan. Pemeriksaan (auditing) adalah semua kegiatan yang menyangkut pertanggungjawaban penerimaan, penyimpanan, dan pembayaran atau penyerahan uang/ barang yang dilakukan oleh bendaharawan kepada pihak-pihak yang berwenang. Bagi unit-unit dalam lingkungan kementerian/departemen, pertanggungjawaban pengurusan keuangan ini kepada BPK melalui kementerian/departemennya masingmasing. Pemeriksaan sangat penting dan bermanfaat paling tidak untuk empat pihak : a. Bagi bendaharawan, dapat mengetahui dengan jelas batas wewenang dan kewajibannya, serta ada kontrol bagi dirinya; b. Bagi lembaga/institusi (kementerian/departemen/unit kerja) memungkinkan ada nya sistem kepemimpinan terbuka dan tidak menimbulkan rasa curiga201

mencurigai, serta ada arah yang jelas dalam penggunaan uang yang diterima; c. Bagi atasan, mengetahui bagian anggaran yang telah dilaksanakan dan tingkat keterlaksanaan, serta kendala yang dihadapi yang berguna sebagai bahan untuk penyusunan anggaran tahun ajaran berikutnya; d. Bagi BPK, ada patokan yang jelas dalam melakukan pengawasan terhadap uang milik negara, dan ada dasar yang tegas untuk mengambil tindakan jika terjadi penyimpangan/penyelewengan.

G. ADMINISTRASI HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT Bahwa sekolah adalah organisasi yang hidup di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Organisasi sekolah bersifat terbuka, dalam arti program dan kegiatannya dipengaruhi oleh lingkungan di mana sekolah berada. Karenanya sekolah juga merupakan anggota dari lingkungan masyarakat, yang mau tidak mau perlu menjalin hubungan dengan masyarakat. Hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk saling mengisi antara apa yang diinginkan sekolah dari masyarakat, dan apa yang diinginkan masyarakat dari sekolah. Di sinilah perlunya peran humas sekolah. Humas dapat terjadi di internal sekolah maupun eksternal, dengan berbagai wadah atau forum. Ditinjau dari kepentingan sekolah dan kebutuhan masyarakat, hubungan sekolah dengan masyarakat ini menurut T. Sianipar (1984:2-3) mempunyai tujuan : 1. Bagi Sekolah : a. Memelihara kelangsungan hidup sekolah; b. Meningkatkan mutu pendidikan sekolah; c. Memperlancar proses belajar-mengajar; d. Memperoleh bantuan dan dukungan dari masyarakat yang diperlukan dalam pelaksanaan dan pengembangan program sekolah.

2. Bagi Masyarakat : a. Memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam hal mental-spiritual; b. Memperoleh bantuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang diha202

dapi masyarakat; c. Menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat; d. Memperoleh kembali anggota-anggota masyarakat yang makin meningkat kemampuannya.

203

DAFTAR KEPUSTAKAAN

A. BUKU-BUKU : Atmodiwirio, Soebagio. 2000. Manajemen Pendidikan Indonesia. Cetakan Pertama. Jakarta : PT. Ardadizya. Daryanto, H. 1999. Evaluasi Pendidikan. Cetakan Pertama. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Gibson, James L., Ivancevich, John M., Donnelly, James H. Jr. 1996. Organisasi : Perilaku, Struktur, Proses. Jilid I. Alih bahasa Nunuk Adiarni. Edisi Kedelapan. Jakarta : Binarupa Aksara. Hasbullah. 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Edisi Revisi. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. Hasibuan, Malayu S.P. 2004. Manajemen : Dasar, Pengertian, dan Masalah. Edisi Revisi. Cetakan ketiga. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Ihsan, Fuad. 1996. Dasar-dasar Kependidikan. Cetakan Pertama. Jakarta : Rineka Cipta. Kartono, Kartini. 1998. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah Pemimpin Abnormal itu? Edisi Baru. Cetakan kedelapan. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. Mudyahardjo, Redja. 2001. Pengantar Pendidikan. Cetakan pertama. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. Nawawi, Hadari dan Martini. 1994. Ilmu Administrasi. Jakarta : Ghalia Indonesia. Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan : Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Cetakan Pertama. Jakarta : Rineka Cipta. --------------------. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Edisi Revisi. Cetakan Kedua. Jakarta : Rineka Cipta. Purwanto, Ngalim. 1998. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Cetakan kedelapan. Bandung : Remaja Rosdakarya. Sadulloh, Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Cetakan ke-1. Bandung : Alfabeta. Sagala, H. Syaiful. 2007. Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Cetakan Kesatu. Bandung : Alfabeta. Saud, Udin Syaefudin dan Syamsuddin Makmun, Abin. 2007. Perencanaan Pendidikan :
204

Suatu Pendekatan Komprehensif. Cetakan ketiga. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Siagian, Sondang P. 1996. Filsafat Administrasi. Cetakan kedua puluh empat. Jakarta : PT. Toko Gunung Agung. Silalahi, Ulbert. 2033. Studi Tentang Ilmu Administrasi : Konsep, Teori, dan Dimensi. Cetakan Kelima. Bandung : Sinar Baru Algensindo. Sjam, Mardjiin. 1966. Kepemimpinan dalam Organisasi. Surabaya : Yayasan Pendidikan Practice. Soetopo, Hendiyat dan Soemanto, Wasty. 1988. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Cetakan kedua. Jakarta : Bina Aksara. Sutarto. 2006. Dasar-dasar Organisasi. Cetakan ke-21. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Sutisna, Oteng. 1989. Administrasi Pendidikan. Edisi Kelima. Bandung : Angkasa. Terry, George R. dan Leslie W. Rue. 2005. Dasar-dasar Manajemen. Alih bahasa G.A. Ticoalu. Cetakan kesembilan. Jakarta : Bumi Aksara. Tilaar, H.A.R. 1992. Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Edisi Revisi. Cetakan Kedua. Jakarta : Rineka Cipta. Wahjosumidjo. 1999. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Cetakan pertama. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. Wijono, 1989. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta : Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikti Depdikbud.

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN : Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

205