Anda di halaman 1dari 87

PENGARUH PENERAPAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN GIANT HYPERMARKET BOTANI SQUARE BOGOR

Oleh PUTRI RESTU MELISSA H24051307

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

PENGARUH PENERAPAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN GIANT HYPERMARKET BOTANI SQUARE BOGOR
SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI Pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Oleh

PUTRI RESTU MELISSA H24051307

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

ABSTRAK Putri Restu Melissa. H24051307. Pengaruh Penerapan Total Quality Management terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Giant Hypermarket Botani Square Bogor. Di bawah bimbingan H. Musa Hubeis Persaingan yang ketat akan menuntut perusahaan untuk memberikan produk yang bermutu kepada konsumen. Namun perhatian perusahaan tidak terbatas pada mutu produk yang dihasilkan, tetapi juga pada aspek proses, sumber daya manusia (SDM) dan lingkungan. Giant hypermarket merupakan perusahaan ritel di Indonesia yang menghadapi persaingan dalam bisnis ritel yang berkembang semakin pesat, salah satu cara yang dilakukan Giant hypermarket agar tetap bersaing dengan menerapkan Total Quality Management (TQM), melalui perbaikan secara terus menerus terhadap produk, tenaga kerja, proses dan lingkungannya. TQM merupakan suatu sistem untuk mencapai sasaran organisasi, salah satunya peningkatan produktivitas karyawan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui penerapan TQM di Giant hypermarket; (2) Menganalisis pengaruh penerapan TQM terhadap produktivitas karyawan di Giant hypermarket; (3) Menganalisis faktor-faktor yang paling dominan yang mempengaruhi keberhasilan penerapan TQM dan produktivitas kerja karyawan di Giant hypermarket. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dari hasil wawancara dan kuesioner, serta data sekunder dari studi pustaka, internet, literatur dan dokumen perusahaan. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 150 orang dipilih dengan simple random sampling dan data diolah dengan metode Structural Equation Modeling (SEM) dengan menggunakan software Linear Structural Relationship (LISREL) 8.30. Penerapan TQM di Giant hypermarket dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif terhadap unsur-unsur TQM, yaitu SDM, Standar, Sarana, Organisasi, Audit Internal dan Diklat. Berdasarkan hasil analisis LISREL terlihat bahwa penerapan TQM di Giant hypermarket berpengaruh terhadap produktivitas karyawan sebesar 0,95. TQM diukur dari SDM, Standar, Sarana, Organiasi, Audit Internal dan Diklat. Organisasi memberikan pengaruh terbesar dalam pembentukan TQM (0,80). Produktivitas Kerja diukur dari Kemauan Kerja, Kemampuan Kerja, Hubungan Kerja dan Lingkungan Kerja. Kemampuan Kerja memiliki pengaruh paling besar terhadap produktivitas kerja (0,79).

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

PENGARUH PENERAPAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN GIANT HYPERMARKET BOTANI SQUARE BOGOR

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Oleh Putri Restu Melissa H24051307

Menyetujui, Mei 2009

Prof.Dr.Ir.H Musa Hubeis, MS, Dipl. Ing.,DEA Dosen Pembimbing

Mengetahui,

Dr. Ir. Jono Mintarto Munandar, M.Sc Ketua Departemen Tanggal Ujian : Tanggal Lulus :

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Payakumbuh pada tanggal 22 Mei 1987. Penulis merupakan anak terakhir dari empat orang bersaudara pasangan Drs. H. Syafruddin dt Keraing dan Hj. Nurmahelis. Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Bhayangkari Payakumbuh pada tahun 1993, lalu melanjutkan ke Sekolah Dasar Negeri 11 Air Tabit Payakumbuh. Pada tahun 1999, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1 Payakumbuh dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Umum Negeri 2 Payakumbuh. Pada tahun 2005, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Ujian Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI) dan pada tahun 2006 diterima pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama studi penulis pernah tergabung pada himpunan profesi di manajemen yaitu Center Of Management (COM@) sebagai staf Production Operation and Business (POB).

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa di panjatkan ke khadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi berjudul Pengaruh Penerapan Total Quality Management terhadap produktivitas kerja karyawan Giant hypermarket Botani Square Bogor yang merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Banyak pihak yang telah memberikan saran, masukan, bimbingan, bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung sejak awal penulisan sampai skripsi ini terselesaikan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Prof.Dr. Ir. H. Musa Hubeis, MS, Dipl. Ing., DEA sebagai dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, saran, motivasi dan pengarahan kepada penulis. 2. Ibu Heti Mulyati, S.TP, MT dan Ibu Erlin Trisyulianti, S.TP, M.Si atas kesediaanya meluangkan waktu menjadi dosen penguji. 3. Bapak Untung Kartika yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di Giant, Bapak Tajudin Noor dan Mbak Cahaya, serta seluruh karyawan Giant hypermarket Botani Square yang telah memberikan informasi serta masukan dalam penelitian. 4. Seluruh dosen Departemen Manajemen yang telah memberikan ilmu kepada penulis dan kepada seluruh staf yang telah membantu penulis dalam seminar dan sidang. 5. Kedua orang tua tercinta dan kakak-kakak yang telah memberikan perhatian dan dukungan. 6. Fuad Makayasa Putra, terima kasih atas perhatian, dukungan dan bantuannya. 7. Mbak Ami, Mas Didi Supriadi, Mas Roes dan Kak Dani Surahman yang telah sabar dalam mengajar penulis dalam mengolah data. 8. Teman-teman Manajemen 42 : ita dan ocy, teman-teman satu bimbingan (nina, nope, lonik, epe, indri, fury, adinda, yeyen, lutfan, fariz), ria, novi,

nindya, wibi, iqbal, momon, galih, alfa, ao, resty, rani , reki, wulan, puti, fany, velma, , dan semua mene 42 lainnya. 9. Anak-anak PTD : Tuty, Mas Abdul, Yuges, Kak Demin, Kak Deni, Kak Ari, Kak Yance, Tanjung, Victor dan Handy. 10. Semua pihak yang tidak disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga skripsi ini dapat membawa manfaat bagi semua pihak.

Bogor, Mei 2009 Penulis

DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK RIWAYAT HIDUP............ KATA PENGANTAR........ DAFTAR TABEL.............. DAFTAR GAMBAR.......... DAFTAR LAMPIRAN....... I. PENDAHULUAN.......... 1.1. Latar Belakang......... 1.2.Perumusan Masalah...... 1.3.Tujuan Penelitian...... II. TINJAUAN PUSTAKA... 2.1. Definisi Mutu.......... 2.2. Dimensi Mutu......... 2.3. TQM....................... 2.4. Manfaat Implementasi TQM... 2.5. Produktivitas Kerja..... 2.6. Hypermarket........... 2.7. Penelitian Terdahulu yang Relevan. III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian.. 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian.. 3.3. Metode Penelitian 3.3.1. Pengumpulan Data 3.3.2. Pengolahan dan Analisis Data... IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Perusahaan. 4.1.1. Sejarah Perusahaan 4.1.2. Visi dan Misi Perusahaan.. 4.1.3. Fungsi Sosial dan Ekonomi PT. Hero Supermarket.. 4.1.4. Struktur Organisasi Perusahaan. 4.1.5. Gambaran Produk.. 4.2. Penerapan TQM Giant hypermarket 4.3. Uji Coba Kuesioner. 4.3.1. Uji Validitas. 4.3.2. Uji Reliabilitas.. 4.4. Karakteristik Responden.. 4.4.1. Jenis Kelamin... 4.4.2. Usia.. 4.4.3. Pendidikan i iii iv viii ix x 1 1 3 3 4 4 5 6 10 11 13 14 16 16 18 18 18 20 27 27 27 29 29 30 32 34 37 37 38 38 38 39 39

4.4.4. Lama Bekerja 4.5. Analisis SEM... 4.5.1. Peubah Laten Bebas Penerapan TQM... 4.5.2. Peubah Laten Terikat Produktivitas Kerja. 4.6. Implikasi Manajerial KESIMPULAN DAN SARAN................................................................... 1. Kesimpulan... 2. Saran. DAFTAR PUSTAKA................................................................................. LAMPIRAN

40 40 45 46 48 50 50 50 52 54

DAFTAR TABEL

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pangsa pasar hypermarket Indonesia Tiga proses umum manajemen mutu Jumlah gerai PT. Hero Supermarket. Jenis toko Giant Jumlah karyawan Giant hypermarket Botani Square Bogor Peubah-peubah dalam penelitian.. Nilai estimasi muatan faktor dan R2........................................ Uji kecocokkan model.. Nilai construct reliability dan variance extracted penelitian...

Halaman 2 7 28 28 35 41 43 44 44

DAFTAR GAMBAR

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Manfaat penerapan TQM bagi perusahaan Kerangka pemikiran penelitian.. Gambar model SEM penelitian. Karakteristik responden berdasarkan usia. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan.. Karakteristik responden berdasarkan lama bekerja Nilai estimasi struktural.

Halaman 11 17 25 39 39 40 41

DAFTAR LAMPIRAN

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kuesioner penelitian Struktur organisasi Giant hypermarket Uji validitas kuesioner. Uji reliabilitas kuesioner. Ouput Lisrel 8.30. Perhitungan Construct Reliability dan Variance Extracted

Halaman 55 61 62 64 65 73

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Dalam era perdagangan setiap perusahaan akan menghadapi persaingan ketat dengan produsen lain dari seluruh dunia. Meningkatnya intensitas persaingan dan jumlah pesaing menuntut setiap produsen memenuhi kebutuhan konsumen dengan cara yang lebih memuaskan daripada yang dilakukan oleh para pesaing, sehingga dalam perdagangan global ini diperlukan suatu persamaan persepsi dalam mendefinisikan suatu produk. Oleh karena itu, mutu merupakan faktor penting bagi produsen. Namun perhatian produsen tidak terbatas pada mutu produk yang dihasilkan, tetapi juga pada aspek proses, sumber daya manusia (SDM) dan lingkungan. Sedangkan lingkungan yang dihadapi produsen semakin kompleks dan hanya produsen yang benar-benar bermutu yang dapat bersaing dalam pasar global. Persaingan di pasar Internasional hanya akan dimenangkan oleh perusahaan yang adaptif dan memiliki keunggulan dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Kompleksitas persaingan global juga menyebabkan setiap produsen untuk selalu berusaha meningkatkan mutu agar memenuhi kebutuhan konsumen. Dunia bisnis ritel modern di Indonesia berkembang demikian pesat sesuai dengan perkembangan dinamika perekonomian yang terus mengalami proses modernisasi dalam era globalisasi ini. Perkembangan bisnis ritel modern dapat dilihat dari segi omzet yang meningkat secara nyata, yaitu Rp 42 triliun pada tahun 2005, meningkat menjadi Rp 58 triliun pada tahun 2007 dan tahun 2008 mencapai Rp 67 triliun. Peningkatan omzet ini didorong semakin maraknya pembukaan gerai baru hypermarket dan minimarket (www.indocashregister.com, 2009). Giant hypermarket merupakan salah satu bisnis ritel modern yang memiliki pangsa pasar kedua terbesar di Indonesia. Pada tahun 2008, pangsa pasar Giant mencapai 19,16% (Tabel 1).

Tabel 1. Pangsa pasar hypermaket Indonesia Nama Carrefour Giant Hypermart Lainnya Total Sumber : www.korantempo.com, 2008. Salah satu cara yang digunakan Giant hypermarket agar bersaing adalah menerapkan Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu. TQM merupakan suatu pendekatan yang dapat dilakukan perusahaan untuk memperbaiki mutu produk, meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi. TQM mencoba meningkatkan daya saing perusahaan melalui perbaikan secara terus menerus terhadap produk, tenaga kerja, proses dan lingkungannya (Nasution, 2004). TQM bukan merupakan tujuan akhir perusahaan atau organisasi, melainkan merupakan suatu cara unuk mencapai sasaran organisasi (Ariani, 2002). Salah satu sasaran perusahaan adalah meningkatkan produktivitas perusahaan. Penerapan TQM akan memberikan pengaruh bagi poduktivitas perusahaan, salah satunya adalah produktivitas tenaga kerja. Tenaga kerja merupakan faktor yang paling menentukan tingkat produktivitas karena dua hal. Pertama, tenaga kerja merupakan bagian dari biaya yang terbesar dalam pengadaan barang atau jasa. Kedua, masukan pada sumber daya manuasia lebih mudah dihitung dibandingkan dengan masukan faktor lain seperti modal (Kussriyanto dalam Kintarti, 2005). Penelitian dengan menganalisis pengaruh TQM terhadap produktivitas kerja pada Giant hypermarket diharapakan dapat memberikan jawaban mengenai penerapan TQM dan pengaruhnya terhadap produktivitas kerja di perusahaan, sehingga Giant hypermarket tetap bersaing di era yang kompetitif ini. Pangsa pasar (%) 66,73 19,16 10,88 3,23 100

1.2. Perumusan masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah : 1. Bagaimana penerapan TQM di Giant hypermarket ? 2. Seberapa besar pengaruh penerapan TQM terhadap produktivitas kerja karyawan di Giant hypermarket ? 3. Faktor-faktor apakah yang paling dominan dalam mempengaruhi keberhasilan penerapan TQM dan produktivitas hypermarket ? 1.3. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui penerapan TQM di Giant hypermarket. 2. Menganalisis pengaruh penerapan TQM terhadap produktivitas karyawan di Giant hypermarket. 3. Menganalisis faktor-faktor yang paling dominan yang mempengaruhi keberhasilan penerapan TQM dan produktivitas kerja karyawan di Giant hypermarket. kerja di Giant

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Mutu Gaspersz (2003) mengemukakan bahwa mutu secara konvensional dapat diartikan sebagai karakteristik langsung dari suatu produk, seperti kinerja (performance), keandalan (reability), mudah dalam penggunaan (ease of use), estetika (esthetics) dan sebagainya. Secara strategik, mutu dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan. Menurut Juran dalam Nasution (2004), mutu merupakan kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Kecocokan penggunaan ini didasarkan atas lima ciri, yaitu : 1. Teknologi, yaitu kekuatan atau daya tahan. 2. Psikologis, yaitu cita rasa atau status. 3. Waktu, yaitu kehandalan. 4. Kontraktual, yaitu adanya jaminan. 5. Etika, yaitu sopan santun, ramah, atau jujur. Philips B. Crosby dalam Nasution (2004) mendefinisikan mutu sebagai Conformance to Requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan. Dengan definisi ini Crosby menitikberatkan kegiatan mutu perusahaan untuk mencoba mengerti harapan dan memenuhi harapan konsumen tersebut, sehingga perlu pandangan eksternal tentang mutu agar penyusunan sasaran mutu lebih realistis dan sesuai dengan permintaan atau keinginan. Deming dalam Nasution (2004) menyatakan, bahwa mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar. Perusahaan harus benar-benar dapat memahami apa yang dibutuhkan konsumen atas suatu produk yang akan dihasilkan. Feigenbaum dalam Nasution (2004) berpendapat bahwa mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfaction). Suatu produk bermutu apabila dapat memberi kepuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen atas suatu produk. Garvin

dan Feigenbaum dalam Nasution (2004) menyatakan bahwa mutu merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Dari semua definisi yang dikemukakan oleh para ahli, terdapat beberapa kesamaan, yaitu dalam unsur-unsur berikut : a. Mutu mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. b. Mutu mencakup produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan. c. Mutu merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya, apa yang dianggap merupakan mutu saat ini, mungkin dianggap kurang bermutu pada masa mendatang). 2.2. Dimensi Mutu Menurut Garvin dalam Tjiptono dan Diana (2001), terdapat delapan dimensi mutu, yaitu : 1. Kinerja (performance), yaitu karakteristik operasi pokok dari produk inti. 2. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features), yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap. 3. Kehandalan (reability), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai. 4. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications), yaitu sejauhmana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya. 5. Daya tahan (durability), berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan. 6. Serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi dan penanganan keluhan yang memuaskan. 7. Estetika, yaitu daya tarik produk terhadap panca indra. 8. Mutu yang dipersepsikan (perceived quality), yaitu citra dan reputasi produk serta tanggungjawab perusahaan terhadapnya.

2.3. TQM TQM muncul pertama kali di Amerika Serikat, tetapi kemudian

diorganisasikan dan dilaksanakan di beberapa perusahaan Jepang, khususnya setelah Perang Dunia II, TQM diseminarkan sekaligus diterapkan dalam bentuk program-program pelatihan di berbagai sektor industri. Dua pakar terkemuka dalam TQM, baik di Jepang maupun Amerika Serikat adalah W. Edward Deming dan Joseph M. Juran. Deming mengemukakan bahwa pihak manajemen harus bertanggung jawab penuh dalam penerapan sistem mutu produk secara total dalam menghasilkan produk yang baik dan tidak cacat (Prawirosentono, 2001). Empat belas poin Deming merupakan ringkasan dari keseluruhan pandangan Deming terhadap apa yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk melakukan transisi positif dari bisnis biasa hingga menjadi bisnis bermutu di tingkat dunia. Empat belas poin Deming tersebut adalah : 1. 2. Ciptakan kondisi yang langgeng untuk memperbaiki produk dan jasa. Adopsi falsafah baru. Dalam hal ini manajemen harus memahami adanya era ekonomi baru dan siap menghadapi tantangan, belajar bertanggung jawab dan mengambil alih kepemimpinan. 3. 4. 5. Hentikan ketergantungan pada inspeksi dalam membentuk mutu produk. Hentikan praktek menghargai kontrak berdasarkan tawaran yang rendah. Perbaiki secara konstan dan terus menerus sistem produksi dan jasa, untuk meningkatkan mutu dan produktivitas, yang pada gilirannya secara konstan menurunkan biaya. 6. 7. 8. 9. Lembagakan on the job trainning. Lembagakan kepemimpinan. Hapuskan rasa takut, sehingga setiap orang dapat bekerja secara efektif. Hilangkan dinding pemisah antar departemen, sehingga orang dapat bekerja sebagai suatu tim. 10. Hilangkan slogan, desakan, dan target bagi tenaga kerja. Hal-hal tersebut dapat menciptakan permusuhan. 11. Hilangkan kuota dan manajemen berdasarkan sasaran, tetapi dengan kepemimpinan.

12. Hilangkan penghalang yang dapat merusak kebebasan karyawan atas keahliannya. 13. Giatkan program pendidikan self-improvement. 14. Buatlah transformasi pekerjaan setiap orang dan siapkan setiap orang untuk mengerjakannya. Juran dalam Muhandri dan Kadarisman (2008) mengemukakan bahwa TQM diimplementasikan apabila mengikuti tiga proses manajerial, yaitu (1) perencanaan mutu, (2) pengendalian mutu dan (3) peningkatan/perbaikan mutu. Proses yang dikembangkan Juran ini dikenal dengan istilah Trilogi Juran. Kegiatan dari masing-masing proses tersebut dapat dilihat pada Tabel 2 : Tabel 2. Tiga proses umum manajemen mutu Perencanaan Mutu Menetapkan tujuan mutu Mengidentifikasi pelanggan Menentukan kebutuhan pelanggan Membangun keistimewaan produk yang merespon Mengembangkan proses yang mampu menghasilkan keistimewaan produk Menetapkan pengendalian proses; menerjemahkan rencana ke kegiatan operasional Pengendalian Mutu Mengevaluasi kinerja aktual Membandingkan kinerja aktual bertindak menangani perbedaan Peningkatan Mutu Menguji kebutuhan Menetapkan infrastruktur Mengidentifikasi proyek peningkatan mutu Menetapkan tim proyek Menyediakan tim dengan sumber daya, pelatihan,dan motivasi untuk mendiagnosis penyebab dan upaya untuk mengatasinya Menetapkan pengendalian agar tetap pada jalurnya

TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat mutu sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi. TQM merupakan sistem manajemen yang

berfokus pada orang/karyawan dan bertujuan untuk terus menerus meningkatkan nilai yang diberikan kepada pelanggan dengan biaya penciptaan nilai yang rendah tersebut. TQM merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus terhadap produk, jasa, tenaga kerja, proses dan lingkungannya (Nasution, 2004). TQM merupakan penerapan metode kuantitatif dan pengetahuan kemanusiaan untuk: (1) memperbaiki material dan jasa yang menjadi masukan organisasi, (2) memperbaiki semua proses penting dalam organisasi, dan (3) memperbaiki upaya memenuhi kebutuhan para pemakai produk dan jasa pada masa kini dan waktu yang akan datang (Harjosoedarmo, 2004). Menurut Ibrahim dalam Arthatiani (2008), konsep dasar TQM memuat prinsip-prinsip dasar yang pada akhirnya akan menentukan berhasil atau gagalnya penerapan TQM, oleh karena itu prinsip-prinsip dasar dari TQM sangat berperan dalam pelaksanaannya. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. Komitmen Manajemen Manajemen sebagai penanggungjawab dalam bidang kepemimpinan yang bertugas sebagai penunjuk dan pemberi semangat bagi perusahaan, karena keberadaannya sangat didukung dalam penerapan TQM agar dapat terlaksana dengan baik. 2. Perbaikan Mutu dan Sistem Secara Berkesinambungan Mutu sebagai hal yang penting dalam produksi harus terus dilakukan perbaikan secara terus menerus. Hal ini tidak hanya dilakukan pada akhir proses saja, tetapi juga harus dilakukan dari awal proses sehingga produk yang dihasilkan tidak memiliki cacat. 3. Perspektif Jangka Panjang Waktu yang singkat tidak hanya dapat menunjukkan keberhasilan ataupun kegagalan dari penerapan TQM, tetapi butuh waktu yang panjang. 4. Fokus Pada Pelanggan Perbaikan yang dilakukan secara terus menerus diharapkan akan dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan harapan konsumen.

5. Keterlibatan dan Pemberdayaan Karyawan Keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan akan menanamkan rasa loyalitas karyawan terhadap perusahaan dan timbul rasa memiliki dari karyawan tersebut terhadap perusahaan. Cara untuk meningkatkan keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan tersebut adalah dengan memberikan pelatihan serta kompensasi tidak hanya dalam bentuk uang, tetapi pujian dan penghargaan, agar apa yang dilakukan dihargai perusahaan. 6. Kerjasama Tim Kerjasama tim sangat dibutuhkan dalam TQM, sehingga produk X tidak hanya dilakukan oleh departemen X melainkan tanggungjawab semua departemen. Menurut Ibrahim dalam Arthatiani (2008), unsur-unsur utama dari TQM yang sangat mempengaruhi pelaksanaan TQM adalah : 1. SDM Pihak-pihak yang berhubungan dengan dengan kegiatan perusahaan. 2. Standar Spesifikasi produk yang dihasilkan dan acuan dalam menjalankan semua kegiatan untuk menghasilkan produk sesuai yang diinginkan perusahaan. 3. Sarana Peralatan yang digunakan untuk menjalankan kegiatan pengendalian mutu. 4. Pengorganisasian Pendelegasian tugas dan wewenang di dalam perusahaan. 5. Audit Internal Kegiatan pengendalian berkala untuk mengidentifikasi penyimpangan terhadap standar. 6. Diklat Kegiatan untuk menyebarkan gagasan mengenai pengendalian mutu, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan karyawan dalam

memecahkan masalah, serta untuk mengembangkan sistem pengendalian mutu.

7. Visi dan Misi Tujuan jangka panjang atau target jangka panjang yang ingin dicapai oleh perusahaan yang membedakannya dengan perusahan lain dan menjadi prioritas bagi setiap pelaku manajemen dalam perusahaan. 2.4. Manfaat Implementasi TQM Menerapkan TQM di perusahaan akan memberikan manfaat bagi perusahaan (Gambar 1) maupun karyawannya. Dengan menerapkan TQM, manfaat yang diperoleh perusahaan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari perbaikan posisi persaingan dan dari pengurangan cacat produk yang dihasilkan. Jika produk cacat dapat diminimumkan, maka biaya mutu (produk gagal, pekerjaan ulang, pemeriksaan dan pengembalian dari konsumen) akan berkurang, dan lebih jauh lagi mengurangi total biaya produksi. Perusahaan yang menghasilkan mutu produk yang lebih baik dan mampu memberikan jaminan kepada konsumen, akan mendapatkan citra positif dari konsumen. Selanjutnya, posisi persaingan semakin baik, pemasaran semakin luas, bahkan sampai ke posisi ekspor. Harga produk dapat lebih ditingkatkan, sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi lebih besar (Muhandri dan Kadarisman, 2008). Menurut Hardjosoedarmo (2004), penerapan TQM akan memberikan dampak yang positif bagi karyawan, yaitu : 1. Karyawan akan menjadi lebih loyal kepada organisasinya dan menganggap bahwa keberhasilan organisasi identik dengan keberhasilan pribadi. 2. Karyawan akan menunjukkan pekerjaan mutu, karena percaya akan mutu, sehingga organisasi tidak lagi terlalu bertumpu pada struktur untuk menciptakan tatalaku mutu. 3. Karyawan akan mengorganisasikan dirinya secara sukarela untuk melakukan perbaikan proses tanpa campur tangan, tekanan, ataupun dorongan manajemen. 4. Karyawan baru, terlepas dari latar belakang dan orientasinya, dengan mudah akan menyesuaikan diri pada budaya mutu yang telah terbentuk

dalam organisasi oleh karena itu pergantian, absensi, dan unjukrasa dapat dikurangi, bahkan ditiadakan.

Perbaikan mutu

Perbaikan posisi persaingan

Peningkatan produk bebas cacat

Harga lebih tinggi

Peningkatan pangsa pasar

Peningkatan penghasilan

Penurunan biaya produksi

Peningkatan laba perusahaan Gambar 1. Manfaat penerapan TQM bagi perusahaan (Muhandri dan Kadarisman, 2008)

2.5. Produktivitas Kerja Produktvitas merupakan rasio antara hasil kegiatan (output) dengan segala pengorbanan (input) dalam menghasilkan sesuatu (Nasution, 2004). Menurut Mangkuprawira dan Hubeis (2007), input terdiri dari manajemen, tenaga kerja, biaya produksi, peralatan dan waktu. Output meliputi produksi, produk, penjualan, pendapatan, pangsa pasar dan kerusakan produk. Dalam perspektif normatif, pengertian produktivitas adalah jika hari ini karyawan lebih baik daripada kemarin dan hari esok lebih baik daripada sekarang. Terdapat tiga macam produktivitas berdasarkan sumber input, yaitu produktivitas modal, produktivitas bahan baku dan produktivitas tenaga kerja.

Produktivitas tenaga kerja menunjukkan perbandingan antara hasil kerja seorang tenaga kerja dengan satuan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk (Ravianto, 1990). Produktivitas tenaga kerja dapat dirumuskan : Produktivitas tenaga kerja = Jumlah hasil produksi atau penjualan .(1) Satuan waktu Menurut Ravianto (1990), produktivitas kerja seseorang pada dasarnya sangat dipengarugi oleh beberapa faktor seperti tingkat pendidikan dan pelatihan, fisik dan biologis, tingkat penghasilan, teknologi dan sarana penyerta produksi, kemampuan manajerial pimpinan dan faktor kesempatan. Produktivitas kerja dipengaruhi oleh harapan karyawan dan perusahaan. Harapan karyawan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dirinya sendiri dan keluarga. Harapan perusahaan merupakan harapan kepada karyawan yang tidak selalu searah dengan harapan karyawan sendiri. Harapan perusahaan dalam banyak hal, berbeda dengan harapan karyawan. Perpaduan antara dua macam harapan ini akan menentukan besar kecilnya nilai produktivitas. Nasution (2004) mengemukakan bahwa individu yang produktif memiliki karakteristik berikut : 1. Secara konsisten selalu mencari gagasan-gagasan yang lebih baik dan cara penyelesaian tugas yang lebih baik lagi. 2. 3. 4. 5. 6. Selalu memberi saran-saran untuk perbaikan secara sukarela. Menggunakan waktu secara efektif dan efisien. Selalu melakukan perencanaan dan menyertakan jadwal waktu. Bersikap positif terhadap pekerjaannya. Dapat berlaku sebagai anggota kelompok yang baik sebagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. 7. 8. 9. Dapat memotivasi dirinya sendiri melalui dorongan dari dalam. Memahami pekerjaan orang lain yang lebih baik. Bersedia mendengar ide-ide orang lain yang lebih baik.

10. Hubungan antarpribadi dengan semua tingkatan dalam organisasi berlangsung dengan baik.

11. Sangat menyadari dan memperhatikan masalah pemborosan dan biayabiaya. 12. Mempunyai tingkat kehadiran yang baik (tidak banyak absen dalam pekerjaannya). 13. Sering melampui standar yang telah ditetapkan. 14. Selalu mempelajari sesuatu yang baru dengan cepat. 15. Tidak selalu mengeluh dalam bekerja. Menurut Simanjuntak dalam Indraswari (2007), faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja digolongkan pada tiga kelompok, yaitu : 1. Mutu dan kemampuan fisik pekerja yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, latihan, motivasi kerja, etos kerja, mental dan kemampuan fisik pekerja yang bersangkutan. 2. Sarana pendukung kerja mencakup lingkungan kerja dan kesejahteraan tenaga kerja. Lingkungan kerja termasuk teknologi dan cara produksi, sarana dan peralatan produksi yang digunakan, tingkat keselamatan dan kesehatan kerja, serta suasana dalam lingkungan itu sendiri.

Kesejahteraan tenaga kerja tercermin dalam sistem pengupahan dan jaminan sosial, serta jaminan kelangsungan kerja. 3. Supra sarana, meliputi kebutuhan pemerintah, hubungan industrial dan kemampuan dalam mencapai sistem kerja yang optimal. 2.6. Hypermarket Hypermarket merupakan salah satu jenis warehouse retailing, yaitu pedagang enceran yang memiliki fasilitas kombinasi gudang dan ruang pamer (display)toko. Hypermarket menyediakan berbagai jenis barang, menyimpan dan menjual produk makanan dan barang-barang seperti pakaian dan elektronik. Hypermarket menggunakan prinsip gudang untuk mengurangi biaya operasi dan memberikan harga diskon kepada konsumen. Dengan pelayanan sendiri (self-service), pengecekan secara terpusat dan penanganan material yang baik, hypermarket mampu menetapkan harga lebih rendah dibandingkan pedagang eceran lainnya sebesar 15%-20% (Lewinson and Delozier, 1989).

Lewinson and Delozier (1989) mengemukakan ada 10 jenis ritel berdasarkan karakteristiknya, yaitu : 1. Specialty Store Retailing 2. Department Store Retailing 3. Chain Store Retailing 4. Discount Store Retailing 5. Off-Price Retailing 6. Supermarket Retailing 7. Convenience Store Retailing 8. Contractual Retailing 9. Warehouse Retailing 10. Nonstore Retailing Menurut Levy dan Weitz dalam Yusrianti (2008), hypermarket merupakan jenis pedagang eceran dengan gerai besar dan menawarkan produk dengan harga rendah. Luas hypermarket mencapai 30.000 kaki atau enam kali lapangan sepak bola dan memiliki persediaan produk hingga 50.000 item. 2.7. Penelitian Terdahulu yang Relevan Indraswari (2007) dalam penelitiannya yang berjudul "Pengaruh Penerapan Manajemen Mutu ISO 9001:2000 Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan PTPN VIII Gunung Mas Bogor. Penelitian ini menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM). Hasil Penelitian ini menjelaskan bahwa Penerapan Manajemen Mutu ISO 9001:2000 pada PTPN VIII Gunung Mas Bogor mempengaruhi produktivitas kerja karyawan sebesar 36%. Peubah komunikasi dan koordinasi mempunyai kontribusi paling besar membentuk Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2000 dan kontribusi terbesar terhadap produktivitas diberikan oleh peubah kemampuan kerja dan peubah lingkungan kerja memberikan kontribusi yang paling kecil. Dengan menggunakan diagram Pareto dan Proses Hirarki Analitik (PHA) pada PT. Maya Food Industries di kota Pekalongan, Arthatiani (2008) mengemukakan bahwa terdapat tujuh permasalahan penting yang dihadapi oleh perusahaan dalam menerapkan TQM, yaitu job description, kinerja

quality control yang kurang maksimal, sistem pelaksanaan pelaporan belum dijalankan dengan baik, ketersediaan bahan baku yang tidak kontinu, sanitasi dan higienitas belum optimal, daya tawar pemasok tinggi dan kurangnya prasarana. Untuk mengatasi masalah ini, prioritas alternatif perbaikan yang diperoleh dengan analisis PHA disesuaikan dengan kondisi perusahaan adalah kinerja organisasi, perbaikan dan peningkatan mutu SDM, modernisasi peralatan, perbaikan sistem administrasi dan penerapan sistem informasi

manajemen (SIM). Nita (2006) melakukan kajian penerapan MMT di CV. Banyu Biru, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Pelaksanaan MMT di CV. Banyu Biru sudah berjalan baik, namun masih terdapat permasalahan. Permasalahan ini kemudian dianalisis dengan metode PHA dan didapatkan bahwa masalah yang dihadapi oleh perusahan adalah masalah mutu, waktu, kontinuitas, jumlah dan biaya. Untuk mengatasi permasalahannya, maka susunan prioritas alternatif perbaikan secara berturut-turut adalah team work, diklat, patok duga, sistem informasi, variasi produk, perbaikan sistem adminstrasi dan info manajemen.

III. METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Persaingan yang semakin ketat menuntut setiap perusahaan untuk mempunyai keunggulan kompetitif, salah satunya dengan menerapkan TQM. Penerapan TQM memiliki manfaat baik untuk perusahaan maupun karyawannya. Salah satu tujuan dari penerapan TQM adalah peningkatan produktivitas kerja karyawan perusahan. Penelitian ini dimulai dengan menganalisis bagaimana penerapan TQM di Giant hypermarket dengan menggunakan analisis deskriptif. Tahap berikutnya adalah mengidentifikasi faktor-faktor untuk mengetahui hubungan TQM dengan produktivitas kerja. Pelaksananan TQM di Giant hypermarket didasarkan pada unsur-unsur TQM yang faktor-faktornya adalah SDM, Standar, Sarana, Organisasi, Audit Internal dan Diklat (Ibrahim dalam Arthatiani, 2008). Sedangkan faktor-faktor produktivitas adalah Kemauan Kerja, Kemampuan Kerja, Lingkungan Kerja, Hubungan Kerja (Sinungan, 1995). Seluruh faktor TQM dan faktor produktivitas kerja merupakan peubah indikator. Setelah data terkumpul, selanjutnya diolah dengan menggunakan metode SEM untuk mengidentifikasi pengaruh peubah indikator terhadap peubah laten maupun pengaruh peubah laten bebas (TQM) terhadap peubah laten terikat (produktivitas kerja). Hasil akhir yang diperoleh dapat digunakan masukan bagi pihak manajemen untuk melakukan tindakan lebih lanjut mengenai penerapan TQM dan pengaruhnya terhadap produktivitas kerja karyawan.

Giant hypermarket Botani Square Bogor

Penerapan TQM Faktor-faktor produktivitas


Kemauan Kerja Kemampuan Kerja Lingkungan Kerja Hubungan Kerja

Faktor-faktor TQM
SDM Standar Sarana Organisasi Audit Internal Diklat

Structural Equation Modeling (SEM)

Pengaruh TQM terhadap produktivitas kerja

Faktor-faktor dominan mempengaruhi TQM

Faktor-faktor dominan mempengaruhi produktivitas kerja

Masukan bagi pihak Manajemen

Gambar 2. Kerangka pemikiran penelitian

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Giant hypermarket Botani Square Jl. Pajajaran Bogor, pada bulan Februari sampai Maret 2009. 3.3. Metode Penelitian 3.3.1. Pengumpulan Data Penggunaan metode SEM membutuhkan jumlah contoh yang besar agar diperoleh hasil yang mempunyai kredibilitas cukup. Sampai saat ini tidak ada kesepakatan tentang jumlah minimum contoh yang dibutuhkan, namun ada beberapa pertimbangan praktis yang dapat dijadikan acuan dalam menentukan ukuran contoh. Model SEM dengan jumlah peubah laten sampai lima buah dan setiap konstruk dijelaskan oleh tiga atau lebih indikator, jumlah contoh 100-150 data sudah dianggap memadai (Santoso, 2007). Dalam penelitian ini jumlah responden adalah 150 orang, dipilih dengan metode simple random sampling dari jumlah keseluruhan karyawan sebanyak 222 orang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung, pengisian kuesioner (Lampiran 1) serta wawancara dengan pihak manajemen perusahaan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen perusahaan, buku, jurnal, artikel-artikel, internet dan literatur terkait lainnya. Pengambilan data, terutama untuk kuesioner akan dilakukan pengujian yang menentukan apakah kuesioner sebagai alat pengukur tersebut sahih atau tidak andal dengan cara berikut : 1. Uji Validitas Validitas menunjukkan sejauhmana suatu alat pengukur (kuesioner) itu mengukur apa yang ingin diukur. Teknik analisis yang digunakan adalah korelasi product moment Pearson, yaitu untuk menghitung korelasi antar masing-masing pertanyaan dengan skor total (Umar, 2006) dengan rumus berikut :

(2)

Dimana, r n x y = angka korelasi = jumlah contoh dalam penelitian

= skor pertanyaan = skor total responden dalam menjawab seluruh pertanyaan

2. Uji Reliabilitas Setelah alat ukur dinyatakan sahih, maka berikutnya alat ukur tersebut diuji reliabilitasnya, yaitu suatu nilai yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. Untuk mengukur reabilitas kuesioner digunakan teknik alpha cronbanch (Umar, 2006), dengan rumus berikut : (3) Dimana, r k = reliabilitas instrumen = banyak butir pertanyaan = ragam = jumlah ragam butir

Rumus ragam yang digunakan :

Dimana, n x = jumlah responden = nilai skor yang dipilih (total nilai dari nomor-nomor butir pertanyaan)

Nilai alpha lebih besar dari 0,6 dikatakan andal dan begitu juga sebaliknya. 3.3.2. Pengolahan dan Analisis Data Analisa data pada penelitian ini menggunakan SEM atau model persamaan struktural. SEM adalah teknik analisis multivariate yang memungkinkan peneliti untuk menguji hubungan antara peubah yang kompleks baik recursive maupun non-recursive untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai keseluruhan model (Ghozali dan Fuad, 2005). SEM terdiri dari peubah laten (latent variables) dan peubah teramati (measured variables). Peubah laten merupakan peubah kunci yang menjadi perhatian dalam SEM dan merupakan konsep abstrak. Peubah laten dibagi atas peubah eksogen (1) yang merupakan peubah bebas pada semua persamaan yang ada dalam SEM dan peubah endogen () yang terikat paling sedikit satu persamaan dalam model. Parameter yang menunjukkan regresi peubah laten endogen pada peubah laten eksogen disimbolkan dengan (gamma), sedangkan regresi peubah laten endogen terhadap peubah laten endogen lainnya disimbolkan dengan (beta). Peubah teramati merupakan peubah yang dapat diamati atau dapat diukur secara empiris dan sering disebut dengan indikator. Peubah teramati merupakan efek atau ukuran dari peubah laten. Pada metode survei dengan menggunakan kuesioner, setiap pertanyaan pada kuesioner mewakili sebuah peubah teramati. Muatan faktor yang menghubungkan peubah laten dengan peubah teramati disimbolkan dengan (lambda). Simbol diagram lintasan dari peubah teramati adalah bujur sangkar/empatpersegi panjang dan pemberian nama peubah diamati biasanya menggunkan notasi matematika ( X dan Y). Model pada SEM terdiri dari dua, yaitu model persamaan struktural yang menggambarkan hubungan antara peubah laten dan model pengukuran yang menggambarkan hubungan antara peubah laten dengan peubah teramati. (Wijianto, 2008).

Salah satu kelebihan metode SEM adalah dapat mengidentifikasi kesalahan pengukuran. Kesalahan struktural menunjukkan peubah bebas tidak dapat memprediksi peubah terikat secara sempurna, kesalahan struktural dilambangkan dengan (zeta). Kesalahan pengukuran mengidentifikasikan peubah teramati dari suatu peubah laten tidak dapat merefleksikan peubah laten secara sempurna, sehingga penambahan kesalahan pegukuran diperlukan agar model menjadi lengkap. Kesalahan pengukuran yang berkaitan dengan peubah teramati X dilambangkan dengan (delta) dan peubah teramati Y dilambangkan dengan (epsilon). Semakin kecil nilai kesalahan pengukuran maka model semakin baik, dengan nilai cut off error 0,6, artinya apabila nilai error melebihi 0,6 maka peubah indikator tidak sahih sebagai manifestasi dari peubah latennya (Sitinjak dan Sugiarto, 2006). SEM memiliki karakteristik yang berbeda dengan regresi biasa. Regresi biasa pada umumnya menspesifikasikasikan hubungan kausal antara peubah yang teramati, sedangkan pada model peubah laten SEM, hubungan kausal terjadi diantara peubah-peubah tidak teramati atau peubah-peubah laten. Secara umum, prosedurnya melalui tahap-tahap berikut : 1. Spesifikasi model Tahap ini berkaitan dengan pembentukan model awal persamaan struktural, sebelum dilakukan estimasi. Model awal diformulasikan berdasarkan suatu teori atau penelitian sebelumnya. 2. Identifikasi Tahap ini berkaitan dengan pengkajian tentang kemungkinan diperolehnya nilai yang unik untuk setiap parameter yang ada di dalam model dan kemungkinan persamaan simultan tidak ada solusinya. 3. Estimasi Tahap ini berkaitan dengan estimasi terhadap model untuk menghasilkan nilai-nilai parameter dengan menggunakan salah satu metode estimasi yang tersedia. Pemilihan metode estimasi yang

digunakan biasanya ditentukan berdasarkan karakteristik dari peubah-peubah yang dianalisis. 4. Uji kecocokan Tahap ini berkaitan dengan pengujian kecocokan antara model dengan data. Beberapa kriteria kecocokan atau Goodness Of Fit (GOF) dapat digunakan untuk melaksanan langkah ini. Uji kecocokan terdiri dari : a. Chi-square Digunakan untuk menguji seberapa dekat kecocokan antara matrik kovarian contoh dengan matrik kovarian model. Menurut Wijanto (2008), nilai yang semakin kecil semakin baik. b. RMSEA (Root Mean Square Error of Approximation) RMSEA adalah rata-rata perbedaan per derajat perbedaan yang diharapkan terjadi dalam populasi, bukan dalam contoh. McCallum dalam Wijanto (2008) menjelaskan nilai RMSEA sebagai berikut : 0,05 < RMSEA 0,08 (good fit) 0,08 < RMSEA 0,10 (marginal fit) RMSEA > 0,10 (poor fit) c. GFI (Goodness-of-Fit Index) GFI merupakan ukuran kesesuaian model secara deskriptif. GFI 0,90 merupakan tingkat kecocokan yang baik. (Schumacker dan Lomax dalam Kusnendi 2007) d. AGFI (Adjusted Goodness-of-Fit Index) AGFI merupakan perluasan dari GFI yang disesuaikan dengan degree of freedom. Menurut Sharma dalam Surahman (2008), AGFI 0,8 memiliki tingkat kecocokan yang baik. e. NFI (Normed Fit Index) NFI merupakan ukuran komparatif terhadap base line atau model null. NFI = 0,90 artinya model diindikaskan 90% lebih baik bila dibandingkan model nullnya. NFI 0,90 memiliki

tingkat kecocokan yang baik (Schumacker dan Lomax dalam Kusnendi 2007). f. NNFI (Non Normed Fit) NNFI merupakan ukuran kesesuaian model sebagai koreksi terhadap ukuran NFI. NNFI 0,90 memiliki tingkat kecocokan yang baik (Schumacker dan Lomax dalam Kusnendi 2007). g. CFI (Comparative Fit Index) CFI merupakan ukuran kesesuaian model berbasis komparatif dengan model null. CFI mempunyai nilai dalam kisaran 0,0 sampai 1,0. CFI > 0.90 mengindikasikan model cocok dengan data. Selain uji kecocokan di atas, dalam metode SEM terdapat uji kecocokan pengukuran yang dilakukan terhadap setiap konstruk atau model pengukuran (hubungan antara sebuah peubah laten dengan beberapa peubah yang teramati) secara terpisah melalaui evaluasi validitas dan reliabilitas dari model pengukuran. a. Uji validitas Validitas berhubungan dengan apakah suatu peubah mengukur apa yang seharusnya diukur. Menurut Rigdon dan Ferguson dalam Wijanto (2008), suatu peubah memiliki validitas yang baik terhadap konstruk atau peubah latennya, apabila : 1) Nilai t muatan faktornya (loading factor) lebih besar dari nilai kritis (atau 1,96 atau untuk praktisnya 2) 2) Muatan faktor standarnya (standardized loading factors) 0,70. b. Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah konsistensi suatu pengukuran. Reliabilitas tinggi menunjukkan bahwa indikator memiliki konsistensi tinggi dalam mengukur konstruk latennya. Uji reliabilitas dihitung dengan rumus (Hair et.al., dalam Wijanto, 2008) :

Construct reliability =

( (
k i 1 ij

k i 1 ij

2 k i 1

(4)

v( )i

Variance extracted =
(
k i 1

(
2 ij

k i 1

2 ij

)
k i 1

(5)
v( )i

Sebuah konstruk memiliki nilai reliabilitas yang baik apabila nilai construct reliability 0,70 dan variance extracted 0,5. 5. Respesifikasi Tahap ini berkaitan dengan respesifikasi model berdasarkan atas hasil uji kecocokan tahap sebelumnya. Analisa data digunakan untuk menjelaskan hubungan antara penerapan TQM terhadap produktivitas kerja karyawan. Analisa data juga digunakan untuk menentukan faktor dominan dari setiap unsur TQM dalam mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Analisa masing-masing peubah akan diolah dengan menggunakan software Linear Structural Relationship (LISREL) 8.30. Peubah penerapan TQM dengan indikator berikut : X1 = SDM X2 = Standar (STD) X3 = Sarana (SAR) X4 = Organisasi (ORG) X5 = Audit Internal (AUD) X6 = Diklat (DIK) Peubah diatas dikorelasikan dengan peubah produktivitas kerja karyawan (PK), dengan indikator berikut : Y1 = Kemauan kerja (MAU) Y2 = Kemampuan kerja (MAM) Y3 = Lingkungan kerja (LIN) Y4 = Hubungan kerja (HUB)

Secara umum model SEM penelitian Pengaruh Penerapan TQM terhadap Produktivitas Kerja Karyawan d apat dijelaskan pada Gambar 3. Notasi matematika dari persamaan struktural adalah : PK = TQM + Notasi matematika dari persamaan pengukuran adalah : X1 = X1 TQM + 1 X2 = X2TQM + 2 X3 = X3 TQM + 3 X4 = X1 TQM + 4 X5 = X1 TQM + 5 X6 = X1 TQM + 6 Y1 = Y1 PK + 1 Y2 = Y2 PK + 2 Y3 = Y3 PK + 3 Y4 = Y4 PK + 4

X1
X 1

Y1

X2
X 2

Y1

Y2
TQM

X3

X 3 X 4

Y2
PK

Y3

4 5 6

X4

X 5

Y4

Y3

3 4

Y4 X5
X 6

X6

Gambar 3. Gambaran model SEM penelitian

Perumusan Hipotesis dalam penelitian ini adalah: H1 : terdapat hubungan positif antara penerapan TQM dengan produktivitas kerja karyawan Giant hypermarket Botani Square Bogor H2 : terdapat hubungan positif antara SDM, standar, sarana, organisasi, audit internal dan diklat terhadap penerapan TQM H3 : terdapat hubungan positif antara kemauan kerja, kemampuan kerja, lingkungan kerja, hubungan kerja terhadap produktivitas kerja karyawan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1. Sejarah Perusahaan Giant hypermarket adalah salah satu unit usaha dari PT.Hero Supermarket Tbk yang merupakan perusahan ritel terkemuka di Indonesia. Pencetus berdirinya PT. Hero Supermarket adalah Bapak Mohammad Saleh Kurnia, yang mengawali usahanya pada tahun 1951 dengan membuka toko kelontong Hero di gang Ribal. Pada tahun 1971, Hero Mini Market pertama didirikan di Jl. Falarehan I No.23 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Tanggal 30 Juni 1989 perusahaan Hero Supermarket berubah menjadi perusahaan terbuka dan terdaftar di bursa efek Jakarta, serta menjadi perusahaan ritel pasar swalayan pertama di Indonesia yang memperoleh kepercayaan untuk menjual sahamnya kepada masyarakat luas. Selain Giant hypermarket, PT Hero Supermarket Tbk memiliki beberapa unit usaha lainnya, yaitu Hero Supermarket, Star Mart,

Guardian, Giant Supermarket dan Mitra Toko Diskon. Hingga tahun 2008, jumlah gerai yang dimiliki oleh PT. Hero Supermarket Tbk mencapai 368 gerai (Tabel 3). Giant sendiri didirikan oleh Teng Meng Chun (Teng Family) tahun 1944, diawali dengan toko kecil di Sentul Market, Malaysia. Mini market pertama didirikan tahun 1971 dengan nama TMC (Teng Mini Market Center) di Bangsar Kuala Lumpur. Toko tersebut masih ada sampai sekarang dan terkenal dengan namaTMCdan pada tahun 1985 Giant pertama dibuka di Kelana Jaya. Pada bulan Februari 1988 melakukan strategi aliansi dengan Dairy Farm Hongkong, anggota Jardine Matheson Group dan menjadi Giant hypermarket.

Tabel 3. Jumlah gerai PT. Hero Supermarket Tbk sampai tahun 2008 No 1 2 3 4 5 6 Total Sumber : PT. Hero Supermarket Tbk, 2008. Giant memiliki konsep One Stop Shopping, Lower Prices Everyday menyediakan barang berjumlah 35.000-50.000 item. Giant terdiri dari empat jenis toko, yaitu Hypermarket, Superstore, Small Superstore dan Supermarket. Perbedaan jenis toko tersebut terletak luas toko dan jumlah karyawannya (Tabel 4). Tabel 4. Jenis toko Giant Jenis Toko Luas (m2) Jumlah Karyawan Hypermarket Superstore Small Superstore Supermarket 6.000-10.000 5.000-6.000 3.000-6.000 <3.000 275-360 210-275 190-210 <100 Jenis Toko Hero Supermarket Star Mart Guardian Giant Hypermarket Giant Supermarket Mitra Jumlah Gerai 86 91 141 17 22 11 368

Sumber : Giant hypermarket Botani Square Bogor, 2008. Giant pertama yang didirikan di Indonesia adalah Giant Villa Melati Mas Serpong Tangerang, yang didirikan pada tahun 2002. Hingga tahun 2008, gerai Giant terus bertambah menjadi 17 gerai yang tersebar di delapan kota, yaitu : Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Surabaya dan Sidoarjo. Giant

hypermarket Botani Square Bogor berdiri pada tanggal 25 Agustus

2006 dengan luas 9.995 m2. Giant hypermarket Bogor berada di gedung IPB International Convention Center, Botani Square Jl. Pajajaran No. 3 Tegalega Kota Bogor. 4.1.2. Visi dan Misi Perusahaan Setiap perusahaan memiliki visi dan misi agar tujuan yang ingin dicapai perusahaan menjadi jelas dan terarah. Visi dan misi Giant hypermarket sama dengan visi dan misi PT. Hero Supermarket Tbk, yaitu : Visi : Menjadi peritel terkemuka di Indonesia dalam segi penjualan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham. Misi : Meningkatkan nilai investasi pemegang saham Hero melalui keberhasilan komersial dengan menarik pelanggan dan

meningkatkan daya saing yang mantap. Disamping visi dan misi, PT. Hero Supermarket, Tbk juga memiliki falsafah yang diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan negara, mencapai kesejahteraan sesama karyawan dan menuju kemajuan perusahaan. Falsafah PT. Hero Supermarket adalah : 1. Selalu mengutamakan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan 2. Selalu menyediakan produk bermutu tinggi sesuai dengan keinginan pelanggan. 3. Bersama-sama menciptakan kesatuan manajemen yang sempurna. 4.1.3. Fungsi Sosial dan Ekonomi PT. Hero Supermarket Tbk PT. Hero Supermarket, Tbk merupakan perusahaan ritel modern yang bertujuan untuk mendapatkan laba dari barang-barang dijual. Selain bertujuan untuk memperoleh laba, PT Hero Supermarket juga memiliki fungsi sosial dan fungsi ekonomi, yaitu : a. Fungsi Sosial 1. Memberikan kesempatan kerja PT. Hero Supermarket telah memberikan kesempatan kerja kepada 10.000 karyawan sampai tahun 2008 yang tersebar di

gerai-gerai Hero Supermarket, Guardian, Shop in, Star Mart dan Head Office. 2. Kesejahteraan karyawan Kesejahteraan karyawan sangat diperhatikan oleh PT. Hero Supermarket, salah satunya adalah gaji memadai di atas Upah Minimum Provinsi (UMP). Disamping hari itu tua, perusahaan kecelakaan,

memberikan tunjangan

kesehatan,

kematian, uang makan dan uang transport. 3. Kepemilikan umum Hero merupakan perusahaan terbuka (Go Publik), sehingga saham Hero dapat dimiliki oleh masyarakat. 4. Kegiatan sosial masyarakat Bentuk kegiatan sosial yang dilakukan antara lain menyumbang yayasan kurang mampu (fakir miskin), membantu

pengembangan koperasi dan usaha kecil melalui kegiatan kemitraan serta menyelenggarakan perayaan keagamaan, hari kemerdekaan dan lain-lain. b. Fungsi Ekonomi 1. Membantu menyediakan bahan makanan yang baik dan sehat. 2. Membantu meningkatkan penghasilan negara melalui kontribusi pajak. 3. Meramaikan bursa efek. 4.1.4. Struktur Organisasi Struktur Organisasi yang dimiliki Giant hypermarket dipimpin oleh seorang manajer yang disebut Store General Manager (SGM). SGM membawahi empat orang manajer divisi. Tiap divisi dibantu oleh DHADH (Departement Head-Assistant Departmen Head), supervisor dan staf. Tiga divisi utama dibagi berdasarkan pengelompokan produk, yaitu divisi Fresh, Grocery, Generale Marchandise dan satu divisi pendukung yang disebut divisi sales and support (Lampiran 2). Tugas SGM, Manajer, DH-ADH, supervisor dan staf adalah :

a. SGM : memimpin dan mengawasi semua kegiatan di Giant hypermarket. b. Manajer divisi : bertanggungjawab terhadap divisi yang

dipimpinnya serta mengawasi kinerja bawahannya. c. DH-ADH : Membantu tugas manajemen, mengawasi dan

memonitor semua kegiatan supervisor dan staf di divisi masingmasing, mengecek penjualan, menyusun rencana diskon terhadap suatu barang (dilakukan sekali dalam seminggu) serta mengontrol penyediaan barang. d. Supervisor : Mengawasi kerja staf, melakukan kontrol terhadap departemen bersangkutan, serta menjadi jembatan komunikasi antara staf dan DH. e. Staf : mengecek area masing-masing, mengecek barang-barang yang kosong, mengambil barang-barang yang kosong dari gudang dan memajang barang-barang. Selain itu staf memiliki tugas

tambahan yaitu : mengontrol Sales Promotion Girl (SPG) dan Sales Promotion Man (SPM), mempromosikan barang-barang yang sedang promosi serta melakukan pelimpahan tugas kepada shif selanjutnya. f. Receiving : Menerima dan mengecek barang yang datang dari supplier. g. Marketing : Menarik konsumen untuk berbelanja dan

meningkatkan penjualan. h. LP (Lost Prevention) : Mengawasi keamanan toko, serta sistem dan prosedur yang berlaku di toko. i. j. IT : Mengolah seluruh data dan komputerisasi toko. HRD : Mengatur semua hal yang berhubungan dengan karyawan, seperti absensi, cuti, keterlambatan, keluar masuk karyawan dan melakukan kegiatan administrasi lainnya. k. Accounting : Mengatur masalah keuangan dan melakukan koordinasi dengan accounting pusat mengenai penjualan, profit dan data stock.

4.1.5 Gambaran Produk Giant hypermarket menyediakan berbagai produk, mulai dari makanan dan minuman, pakaian, peralatan rumah tangga, kosmetik, barang-barang elektronik, dan lain-lain. Jumlah barang yang terdapat di Giant hypermarket sangat besar yaitu, 35.000-50.000 item. Produk ini dikelompokan menjadi tiga bagian, yaitu Grocery, Fresh dan General Marchandise (GMS). 1. Grocery Produk yang ada di grocery merupakan barang kebutuhan seharihari. Produk grocery terbagi dua yaitu Food dan Non food. Produk Food terdiri dari Grocery 1(produk yang bisa langsung dimakan, seperti makanan dan minuman ringan) dan Grocery 2 (produk yang harus diolah dahulu sebelum dimakan seperti barang-barang sembako). Untuk bagian Non food terdiri dari Grocery 3( seperti sabun dan detergen) dan Grocery 4 ( alatalat kosmetik). 2. Fresh Produk Fresh merupakan produk yang memiliki sifat daya tahan dan kesegaran yang singkat. Produk Fresh terdiri dari : a. b. c. d. e. f. Produce : sayuran dan buahan. Seafood : ikan, udang, kepiting dan hasil laut lainnya. Daging dan Ayam Ready to eat : makanan siap saji Bakery : Roti dan kue Dairy and daily : susu segar, makanan olahan, dan lain-lain.

3. Generale Marchandise (GMS) Produk GMS terdiri dari : a. Textile : home textile, pakaian, sepatu, perlengkapan bayi dan anak. b. Bazaar : peralatan rumah tangga, mainan dan furniture, dan lainlain. c. Barang-barang elektronik.

Produk yang ada di Giant hypermarket berasal dari Hero pusat, tetapi terdapat juga barang yang dipasok langsung oleh supplier. Barang-barang yang berasal dari Hero pusat berlokasi di Cibitung (Hero Sentral Distribusi). Dari sini, barang-barang langsung dikirimkan ke masing-masing gerai. Disamping itu terdapat juga barang yang langsung dipasok supplier ke gerai yang bersangkutan, pemilihan supplier tetap harus mendapat persetujuan dari Hero Pusat. Barang yang datang dari supplier (pemasok) langsung diterima oleh bagian receiving, bagian ini akan mengecek spesifikasi barang, apakah sesuai dengan pemesanan yang dilakukan, seperti jumlah, ukuran dan tanggal kadaluarsa. Bagian receiving juga memeriksa mutu barang yang masuk apakah sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Apabila ada barang yang rusak atau tidak sesuai maka dikembalikan lagi kepada supplier. Setelah melalui bagian receiving, barang-barang kemudian dimasukkan ke dalam gudang. Dari gudang barang-barang tersebut akan dimasukkan ke dalam toko untuk dipajang dan dijual. Khusus untuk barang-barang Fresh, dilakukan penyortiran terlebih dahulu. Produk-poduk yang kurang bagus akan diproses lebih lanjut, yaitu diolah dan dijual lagi. Produk yang diolah untuk dijual harus tetap diperhatikan mutunya, tetapi produk yang benar-benar rusak total akan dimusnahkan. Barang yang sudah disortir akan dipajang di toko untuk siap dijual. Pemajangan barang dilakukan berdasarkan jenis, ukuran, warna dan spesifikasi barang. Pemajangan yang baik akan dapat menarik perhatian konsumen sehingga konsumen tertarik untuk membeli produk tersebut. Pada saat toko akan ditutup, dilakukan proses penyimpanan. Produk-produk Fresh memerlukan perlakuan khusus dalam penyimpanan karena menyangkut sifat fisiknya yang mudah rusak. Apabila toko dibuka pada hari berikutnya, kegiatan dimulai dari kegiatan penyortiran dan seterusnya.

4.2. Penerapan TQM Giant hypermarket Giant hypermarket membutuhkan sejumlah unsur yang digunakan sebagai alat untuk menerapkan TQM. Keberadaan dan penerapan unsur-unsur ini sangat menentukan keberhasilan TQM. Unsur-unsur TQM di Giant hypermarket adalah : a. SDM Karyawan yang ada di Giant hypermarket sampai bulan Maret 2009 berjumlah 222 orang. Jumlah karyawan pada Giant hypermarket dapat dilihat pada Tabel 5, karyawan Giant hypermarket bekerja setiap hari Senin sampai Minggu dan jam kerja karyawan dibagi menjadi dua shif, yaitu shif pagi pukul 06.00-14.00 WIB dan shif siang pukul 14.0022.00 WIB. Proses penerimaan karyawan dilakukan oleh Hero Pusat, tetapi apabila memerlukan tenaga kerja tambahan, Giant akan merekrut langsung karyawan melalui persetujuan dari Hero pusat. Karyawan yang telah diterima akan menjalani pelatihan di LCDC (Learning and Career Development Center) selama dua minggu. Pelatihan dilakukan untuk memberikan pengetahuan bagi karyawan mengenai pekerjaan yang akan mereka lakukan. Selain pelatihan di LCDC, karyawan juga diberikan pelatihan langsung di lapangan atau on the job trainning, apabila kinerja yang dihasilkan bagus, maka karyawan tersebut akan diangkat menjadi karyawan tetap. Giant hypermarket setiap bulannya akan memilih karyawan teladan yang dipilih berdasarkan absensi dan kinerja karyawan. Manajer tiap-tiap divisi akan merekomendasikan karyawannya dan SGM akan memilih satu karyawan teladan melalui beberapa penilaian. Dengan melaksanakan pemilihan karyawan teladan, perusahaan berharap karyawan termotivasi untuk bekerja dengan baik.

Tabel 5. Jumlah karyawan Giant hypermarket Botani Square Bogor Jabatan Tenaga kerja (orang) SGM (Store General Manager) DM (Division Manager) DH (Division Head) ADH (Assistant Division Head) Supervisor Chasier Staf Total Sumber : Giant hypermarket Botani Square Bogor, 2009 b. Standar Semua barang yang ada di Giant hypermarket memiliki standar yang telah ditentukan oleh Hero Pusat, baik kualitas maupun kuantitas. Giant hypermarket memiliki prinsip bersedia menukar produknya apabila konsumen mendapatkan produk yang tidak sesuai dengan standar pasar. Standar mutu lebih difokuskan pada divisi Fresh karena sifat produk yang tidak tahan lama dan mudah rusak. Giant hypermarket memiliki grade terhadap suatu produk, dimana produk dipisahkan menurut pengkhususan yang telah ditetapkan. Produk pada grade pertama merupakan produk yang bermutu tinggi sehingga harga jualnya juga akan tinggi. Disamping produk, karyawan juga memiliki standar dalam melakukan pekerjaan berupa Standard Operational Procedure (SOP). Dengan adanya SOP karyawan dapat mengetahui tugas dan tanggung jawabnya sehingga dapat melakukan pekerjaan dengan baik dan benar. c. Sarana Sarana merupakan seluruh peralatan yang digunakan untuk mendukung terlaksananya pengendalian mutu. Pengangkutan produk dari pemasok ke Giant hypermarket menggunakan mobil box, khusus untuk produk Fresh pengangkutan produk menggunakan mobil refrigerated, yaitu mobil box yang dilengkapi dengan pendingin. Pada bagian gudang, 1 4 2 9 29 38 139 222

produk akan disusun pada rak besar dan dikelompokkan menurut jenis dan karakteristik. Untuk memudahkan karyawan dalam mengambil dan memindahkan barang, Giant hypermarket memiliki forklift dan handpalet. Produk yang dijual di toko ditempatkan pada rak sesuai dengan karakteristik dari masing-masing barang tersebut. Semua barang dikelompokkan dengan baik dan jelas kemudian dipajang degan rapi dan semenarik mungkin sehingga akan memudahkan konsumen dalam berbelanja. Produk yang memiliki daya simpan yang tidak lama akan ditempatkan pada peralatan khusus, misalnya box freezer, fish bed, chiller, stockist dan akuarium, sehingga mutu dan kesegaran produk akan tetap terjaga. TQM merupakan suatu sistem yang fokus terhadap pelanggan, sehingga sarana dan prasarana untuk konsumen juga diperhatikan. Untuk memberikan kenyamanan bagi konsumen untuk berbelanja, Giant hypermarket menyediakan tempat parkir yang luas bagi pengendara mobil dan motor. Sarana penunjang lainnya adalah toilet, pendingin ruangan (AC), kebersihan dan keamanan yang terjaga, pemilihan lampu penerangan dan musik untuk melengkapi kenyaman dalam berbelanja. Konsumen juga diberikan sarana dalam menyampaikan saran, masukan ataupun keluhan melalui customer center. d. Organisasi Struktur organisasi di Giant hypermarket sudah terdefinisi dengan jelas, karena pembagian divisi dibagi berdasarkan produk-produk yang dijual sehingga setiap karyawan akan fokus dalam mengendalikan mutu produk di divisi masing-masing. Karyawan diberikan kebebasan dalam mengeluarkan ide, pendapat ataupun keluhannya. Penyampaian ide saran atau keluhan dari karyawan akan disampaikan kepada supervisor, dilanjutkan ke DH, manajer divisi dan SGM. Begitu juga sebaliknya, pendelegasian tugas dan wewenang disampaikan oleh SGM kepada manajer masing-masing divisi diteruskan hingga ke staf. Setiap satu minggu sekali, akan dilakukan briefing karyawan mengenai informasi toko dan aktivitasnya.

e.

Audit Internal Audit dilaksanakan untuk menilai apakah hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan komitmen, sasaran dan tujuan perusahaan. Audit internal pada Giant hypermarket dilakukan dua kali dalam setahun oleh Hero Pusat dan sekali dalam setahun oleh pihak Dairy Farm- Jardine Matheson Group. Auditor akan memeriksa kinerja karyawan dan kinerja perusahaan terkait penjualan dan pendapatan serta memeriksa produkproduk yang ada di toko apakah sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

f. Diklat Pengembangan dan pelatihan yang dilakukan Giant hypermarket terhadap kayawan yaitu memberikan pendidikan dan pelatihan (diklat) yang tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan serta kecakapan dalam melakukan pekerjaan. Setiap karyawan baru akan mendapatkan Diklat di LCDC selama dua minggu. Pendidikan yang diberikan berupa Pendidikan Dasar Usaha Ritel (PDUR). Disamping itu Giant

hypermarket juga melakukan on the job training kepada karyawan. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala bagian HRD, diklat yang dilakukan oleh Giant hypermarket hanya dilakukan oleh kepala bagian atau manajer divisi, selanjutnya mengaplikasikan dan membagikan ilmu yang diperoleh dari diklat tersebut kepada karyawan yang lain. 4.3. Uji Coba Kuesioner Uji validitas dan reliabilitas digunakan agar kuesioner yang digunakan akurat dan layak untuk disebarkan kepada responden. Pengujian validitas dan reliabilitas kuesioner dilakukan terhadap 30 jawaban responden awal yang telah mengisi kuesioner. 4.3.1. Uji Validitas Pengujian validitas instrumen dilakukan dengan menghitung nilai kolerasi pada setiap instrumen pertanyaan terhadap skor totalnya, dengan menggunakan rumus korelasi product moment Pearson

diperoleh nilai korelasi untuk masing-masing instrumen pertanyaan. Hasil uji validitas instrumen dapat dilihat pada Lampiran 3. Nilai korelasi yang diperoleh dari masing-masing instrumen kemudian dibandingkan dengan angka kritik tabel korelasi nilai r, dengan n=30 dan taraf nyata 5% diperoleh nilai r tabel 0,361. Berdasarkan hasil perhitungan uji validitas dengan menggunakan bantuan software Mirosoft Exel 2007 diperoleh kesimpulan bahwa semua instrumen pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner tersebut valid (sahih) pada taraf nyata 5%, karena nilai korelasi besar dari 0,361. Hal tersebut berarti instrumen yang digunakan akurat dalam mengukur apa yang hendak diukur. 4.3.2. Uji Reliabilitas Pada penelitian ini, reliabilitas dihitung dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach. Berdasarkan hasil perhitungan uji reliabilitas dengan menggunakan Software SPSS 15.0 for windows diperoleh nilai alpha sebesar 0,969. Nilai alpha tersebut mengidentifikasikan bahwa instrumen tersebut reliabel karena lebih besar 0,6 atau instumen tersebut dikatakan konsisten sebagai suatu alat ukur penelitian. Uji reliabilitas kuesioner dan masing-masing peubah dapat dilihat pada Lampiran 3. 4.4. Karakteristik Responden 4.4.1. Jenis Kelamin Resoponden dalam penelitian ini berjumlah 150 orang, meliputi semua bagian di Giant hypermarket. Dari 150 orang responden sebanyak 65,33% laki-laki dan 34,67% perempuan. Melalui wawancara dengan bagian Human Resource Development (HRD), jumlah karyawan laki-laki memiliki jumlah yang lebih besar dengan karyawan perempuan. Hal ini dikarenakan banyak pekerjaan yang menggunakan tenaga fisik, seperti pemindahan barang dan melakukan display barang di toko. Karyawan perempuan lebih banyak bekerja pada bagian kasir dan pramuniaga.

4.4.2. Usia Usia responden yang paling banyak adalah di bawah 25 tahun, yaitu 44% dan yang paling sedikit diatas 45 tahun sebesar 5,33%. Giant hypermarket sengaja merekrut karyawan muda karena pada usia yang muda, karyawan bekerja lebih semangat dan mudah dalam memberikan pendidikan dan pelatihan. Karakteristik karyawan berdasarkan usia dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Karakteristik respoden berdasarkan usia 4.4.3. Pendidikan Berdasarkan Gambar 5, tingkat pendidikan terakhir SLTA memiliki persentase paling besar (74,67%), dikarenakan staf pada Giant hypermarket memiliki komposisi terbanyak dan sebagian besar memiliki pendidikan terakahir SLTA. Sedangkan untuk lulusan D3 dan S1 menempati posisi atasan dalam organisasi.

Gambar 5. Karakeristik responden berdasarkan pendidikan terakhir

4.4.4. Lama bekerja Giant hypermarket Botani Square baru dibuka selama tiga tahun sehingga persentase lama bekerja kurang dari tiga tahun menempati posisi paling banyak (40,7%). Untuk karyawan yang lama bekerja lebih dari tiga tahun, merupakan karyawan pindahan dari Giant daerah lainnya.

Gambar 6. Karakteristik respoden berdasarkan lama bekerja 4.5 Analisis SEM Pengaruh penerapan TQM terhadap produktivitas kerja karyawan dapat diketahui dengan menggunakan metode SEM yang terdiri dari peubah laten bebas (TQM) dan peubah laten tidak bebas (produktivitas karyawan). TQM diukur dengan indikator SDM, Standar, Sarana, Organisas, Audit Internal dan Diklat. Produktivitas karyawan diukur dengan indikator kemauan kerja, kemampuan kerja, lingkungan kerja dan hubungan kerja. Keterangan mengenai peubah penelitian dapat dilihat pada Tabel 6. Setiap peubah indikator terdiri dari beberapa pertanyaan, sehingga terlebih dahulu ditentukan nilai pemusatan peubah indikator berupa total pertanyaan untuk masing-masing peubah indikator. Dari semua pertanyaan kuesioner kemudian data diolah menggunakan software LISREL 8.30, sehingga menghasilkan estimasi model seperti pada Gambar 7. Rincian perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 5.

Tabel 6. Peubah-peubah dalam penelitian Peubah penelitian Penerapan TQM Kompenen yang diukur SDM Standar (STD) Sarana (SAR) Organisasi (ORG) Audit Internal (AUD) Diklat (DIK) Nomor pertanyaan 1,2,3,4,5 6,7,8,9,10 11,12,13,14,15 16,17,18,19,20 21,22,23,24,25 26,27,28,29,30

Produktivitas Karyawan

Kemauan kerja (MAU) Kemampuan kerja (MAM) Lingkungan kerja (LIN) Hubungan kerja (HUB)

31,32,33,34,35 36,37,38,38,40 41,42,43,44,45 46,47,48,49,50

SDM
0.38

MAU
0.41 0.79

STD
0.42 0.76 0.77

MAM
0.38 0.79

SAR
0.50

0.71

TQM

0.95

PK
0.73

0.80 0.36

LIN

0.47

ORG
0.73

0.76

HUB
0.46

AUD

0.78

0.42

DIK
0.38

Chi-Square=74.07 , df=34 , P-value=0.00008 ,

RMSEA=0.089

Gambar 7. Nilai estimasi struktural

Dari hasil estimasi diperoleh nilai muatan faktor (loading factor) dan Koefisien Determinasi (R2). Muatan faktor merupakan koefisien yang menunjukkan seberapa besar tingkat kontribusi (pengaruh) peubah indikator dalam membentuk peubah laten. Nilai muatan faktor yang paling besar menunjukkan bahwa peubah indikator tersebut merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam membentuk peubah laten. Dengan kata lain, semakin besar nilai muatan faktor, maka semakin besar kontribusi (pengaruh) suatu peubah indikator dalam membentuk peubah laten. Nilai R2 setiap peubah merupakan koefisien determinasi atau penjelas, artinya menunjukkan seberapa besar peubah indikator dapat menjelaskan atau mempengaruhi peubah laten. Sama halnya dengan muatan faktor, nilai R2 yang paling besar menunjukkan bahwa peubah indikator tersebut memiliki bagian terbesar dalam membentuk (mempengaruhi) peubah laten. Keterangan nilai muatan faktor dan R2 dapat dilihat pada Tabel 7. Berdasarkan Gambar 7, notasi matematika model struktural dari penelitian adalah : PK = 0,95TQM + 0,098 Notasi matematika model pengukuran peubah teramati terhadap peubah laten adalah : SDM = 0,79TQM + 0,38 STD = 0,76TQM + 0,42 SAR = 0,71TQM + 0,50 ORG = 0,80TQM + 0,36 AUD = 0,73TQM + 0,46 DIK = 0,78TQM + 0,38 Dari hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa penerapan TQM di Giant hypermarket mempengaruhi produktivitas karyawan sebesar 0,95, dengan kesalahan pengukuran 0,098 (9,8%). Hasil ini dinyatakan nyata karena t hitung (3,88) lebih besar dengan t tabel (1,96) dengan taraf nyata 5%. Penerapan TQM memiliki hubungan yang positif dengan produktivitas kerja. SDM, standar, sarana, organisasi, audit internal dan diklat memiliki hubungan yang positif terhadap penerapan TQM dan kemauan kerja, kemampuan kerja, MAU = 0,77PK + 0,41 MAM = 0,79PK + 0,38 LIN = 0,73PK + 0,47 HUB = 0,76PK + 0,42

lingkungan kerja dan hubungan kerja memiliki hubungan positif dengan produktivitas kerja karyawan, sehingga semua hipotesis dalam penelitian diterima. Peubah indikator yang besar kontribusinya dalam membentuk penerapan TQM adalah Organisasi (0,80) dan peubah indikator yang paling besar membentuk produktivitas kerja adalah kemampuan kerja (0,79). Penerapan TQM yang dilaksanakan dengan adanya SDM yang memahami mutu, standar yang baik dan jelas, sarana yang memadai, pengorganisasian yang baik, pelaksanaan audit internal dan diklat akan menghasilkan penerapan TQM yang efektif, sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan. TQM memiliki hubungan positif dengan produktivitas kerja, artinya peningkatan penerapan TQM akan meningkangkatkan produktivitas kerja. Tabel 7. Nilai estimasi muatan faktor dan R2 Peubah penelitian Penerapan TQM SDM Standar (STD) Sarana (SAR) Organisasi (ORG) Audit Internal (AUD) Diklat (DIK) Produktivitas Karyawan Kemauan kerja (MAU) Kemampuan kerja (MAM) Lingkungan kerja (LIN) Hubungan kerja (HUB) Komponen yang diukur Muatan faktor 0,79 0,76 0,71 0,80 0,73 0,78 0,77 0,79 0,73 0,76 R2 0,62 0,58 0,50 0,64 0,54 0,62 0,59 0,62 0,53 0,58

Setelah melakukan estimasi, tahap selanjutnya melakukan uji kecocokan. Uji kecocokan dilakukan untuk memeriksa tingkat kesesuaian data dengan model, validitas dan reliabilitas model pengukuran dan nyatanya koefisien dari model struktural (Tabel 8).

Tabel 8. Uji kecocokan model Ukuran GOF


Chi-Square /df RMSEA (Root Mean Square Error of Approximation)

Tingkat-tingkat kecocokan
3,00 0,05< RMSEA 0,08 (good fit) 0,08< RMSEA 0,10 (marginal fit) RMSEA > 0.10 (poor fit) GFI 0,90 AGFI > 0,08

Hasil estimasi
2,21 0,089

Tingkat kecocokan
baik Cukup baik (marginal fit)

GFI (Goodness-ofFit Index) AGFI (Adjusted Goodness-of-Fit Index) NFI (Normed Fit Index) NNFI (Non Normed Fit Index) CFI

0,91 0,85

Baik (good fit) Baik (good fit)

NFI 0,90 NNFI 0,90 CFI 0,90

0,91 0,93 0,95

Baik (good fit) Baik (good fit) Baik (good fit)

Uji validitas terhadap data diperoleh nilai t muatan faktor setiap indikator 1,96 dan factor loading 0,70 sehingga dapat disimpulkan bahwa model memiliki validitas baik terhadap konstruk atau peubah latennya. Untuk uji reliabilitas, TQM dan produktivitas kerja memiliki nilai Construct reliability 0,70 dan Variance extracted 0,5 (Tabel 9), sehingga dapat disimpulkan model memiliki reliabilitas yang baik. Tabel 9. Nilai Construct reliability dan variance extracted Peubah TQM Produktivitas Kerja Construct reliability 0,893 0,847 Variance extracted 0,582 0,580

Berdasarkan uji kecocokkan model, secara keseluruhan model memiliki kesesuaian yang respesifikasi. 4.5.1. Peubah Laten Bebas Penerapan TQM Peubah laten bebas penerapan TQM diukur dari beberapa indikator dimana besarnya pengaruh indikator dapat dijelaskan sebagai berikut : a. SDM TQM merupakan sistem yang melakukan kegiatan perbaikan terus menerus, salah satunya terhadap karyawan. Penerapan TQM efektif apabila setiap karyawan memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai mutu serta dapat memahami harapan dan kebutuhan pelanggan. Peubah SDM memberikan kontribusi 0,79 terhadap penerapan TQM. Hal ini menunjukkan bahwa semakin bagus SDM, maka akan semakin efektif penerapan TQM. b. Standar Standar terhadap produk/jasa disesuaikan dengan keinginan baik, sehingga tidak memerlukan

konsumen sehingga konsumen merasa puas. Dalam bekerja standar digunakan agar pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan tujuan perusahaan. Peubah Standar memberikan kontribusi 0,76 dalam pembentukan TQM. Peubah standar memiliki hubungan positif terhadap penerapan TQM. Adanya standar yang terdefinisi dengan baik dan jelas memberikan pengaruh terhadap keefektifan penerapan TQM. c. Sarana Peubah sarana memiliki kontribusi paling kecil diantara peubahpeubah yang memengaruhi penerapan TQM, yaitu 0,71. Sarana memiliki hubungan positif terhadap penerapan TQM, tetapi peningkatan ini hanya memberikan pengaruh sedikit didalam menerapkan TQM efektif.

d. Organisasi Peubah organisasi memberikan kontribusi paling besar terhadap penerapan TQM (0,80). Pengorganisasian diukur dari struktur organisasi yang terdefinisi dengan baik, sehingga tugas tanggung jawab setiap karyawan menjadi jelas. Perusahaan melibatkan karyawan dalam mengambil keputusan dan keputusan yang diambil didasarkan pada fakta dan informasi. Disamping itu perusahaan juga harus membina hubungan baik dengan pelanggan, karena TQM memilki prinsip fokus terhadap pelanggan. Pengorganisasian yang baik sangat mempengaruhi penerapan TQM di Giant hypermarket. e. Audit Internal Pelaksanaan Audit internal yang dilakukan di Giant hypermarket mempunyai kontribusi 0,73 dalam membentuk penerapan TQM, sehingga adanya pelaksanaan audit internal yang teratur dan tepat dapat meningkatkan keefektifan penerapan TQM. f. Diklat Peubah Diklat mempengaruhi penerapan TQM sebesar 0,78 dalam membentuk keefektifan penerapan TQM. Pelaksanaan diklat dapat meningkatkan penerapan TQM, apabila sering dilakukan perusahaan dan sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan karyawan, sehingga karyawan dapat memahami manfaat dari diklat yang dilaksanakan. Diklat yang dilakukan sesuai dengan tujuan perusahaan dapat meningkatkan produktivitas. 4.5.2. Peubah Laten Terikat Produktivitas Kerja Karyawan a. Kemauan kerja Kemauan kerja seorang karyawan dapat dilihat dari kesungguhan dan tanggungjawabnya dalam melaksanakan pekerjaan dan

mengikuti semua peraturan yang berlaku di Giant hypermarket Botani Square Bogor. Peubah kemauan kerja mempunyai kontribusi 0,77 dalam membentuk produktivitas kerja karyawan. Kemauan

kerja yang besar apabila karyawan bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya walaupun tidak ada pengawasan dari atasan.

b. Kemampuan kerja Peubah kemampuan kerja memiliki kontribusi paling besar dalam membentuk produktivitas kerja (0,79). Produktivitas kerja karyawan meningkat, apabila karyawan memiliki kemampuan dalam

mengerjakan tugas dan tanggungjawab dengan baik dan tepat waktu, misalnya kasir sanggup melayani konsumen yang membayar barang yang dibeli dengan cepat atau staf yang mampu dengan cepat tanggap menangani produk yang kosong di toko, mengambil di gudang dan memajang kembali ke toko. Dalam bekerja setiap karyawan berusaha memberikan hasil terbaik bagi perusahaan dan meminta saran dari rekan kerja atau atasan mengenai pekerjaan yang sulit. c. Lingkungan Kerja Giant hypermarket Botani Square Bogor selalu memperhatikan lingkungan kerja baik dari aspek keamanan dengan adanya bagian Lost Prevention yang bertugas mengendalikan keamanan, maupun dari aspek keselamatan karyawan dalam bekerja di toko dan gudang. Peubah Lingkungan kerja memiliki kontribusi paling kecil dalam membentuk produktivitas kerja (0,73). Hal ini menjelaskan bahwa Lingkungan kerja di Giant hypermarket hanya memberikan pengaruh sedikit dalam meningkatkan produktivitas kerja karyawannya. d. Hubungan Kerja Membina sebuah hubungan kerja yang baik dengan sesama rekan kerja dan atasan merupakan hal yang penting dilakukan karyawan agar karyawan dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Hubungan kerja yang ada di Giant hypermarket dibangun dengan adanya komunikasi yang baik antara sesama karyawan maupun dengan atasan. Dengan adanya komunikasi yang efektif maka semua pihak yang ada di perusahaan dapat bekerjasama dalam menjalankan

tugas dan mencapai tujuan. Peubah hubungan kerja memiliki kontribusi 0,76 dalam membentuk produktivitas kerja karyawan dan memiliki hubungan positif. Semakin baik hubungan kerja karyawan, maka produktivitas kerja karyawan akan meningkat. 4.6. Impikasi Manajerial Hasil yang diperoleh dari penelitian ini memiliki implikasi yang positif bagi pihak manajemen Giant hypermarket Botani Square. Implikasi ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi pihak manajemen untuk menerapkan TQM lebih baik lagi dan meningkatkan produktivitas kerja karyawannya. Penerapan TQM di Giant hypermarket memberikan pengaruh yang besar terhadap produktivitas kerja karyawannya. Berdasarkan hasil penelitian, penerapan TQM paling besar dipengaruhi oleh peubah organisasi, artinya pengorganisasian yang baik akan menjadikan pelaksanaan TQM menjadi lebih efektif. Pengorganisasian perusahaan dapat dilakukan dengan lebih memperjelas tugas dan tanggungjawab karyawan, sehingga karyawan akan fokus dalam bekerja dan memberikan hasil maksimal terhadap pekerjaannya. Disamping itu, perusahaan agar lebih meningkatkan lagi keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah, karena keputusan menjadi lebih baik dengan adanya masukan dari setiap pihak yang dipengaruhi oleh keputusan tersebut. Produktivitas karyawan dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kemampuan karyawan dalam bekerja dengan memberikan pelatihan yang sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan karyawan. Dari segi produksi, pengadaan barang dari pemasok dilakukan dengan sistem Just In Time (JIT) agar barang yang dijual tetap dalam keadaan baru. Disamping itu penanganan barang dari gudang ke toko menggunakan prinsip First In First Out (FIFO) sehingga mutu produk yang dijual tetap terjaga. Dari segi pemasaran, bagian marketing lebih aktif lagi dalam mengidentifikasi harapan dan kebutuhan pelanggan dan mengkomunikasikannya kepada divisi perusahaan yang terkait. Penerapan TQM di Giant hypermarket dapat dijadikan sebagai salah satu sarana promosi dengan adanya standar mutu yang baik dari produk yang dijual dan layanan, sehingga akan timbul kepercayaan konsumen

untuk berbelanja dan pada akhirnya konsumen akan merasa terpuaskan dengan produk dan layanan yang diberikan di Giant hpermarket. Pada akhirnya perbaikan mutu yang dilakukan secara berkesinambungan akan mengurangi adanya produk cacat. Jika produk cacat diminimumkan, maka biaya mutu akan berkurang dan mengurangi biaya total produksi sehingga dapat meningkatkan laba perusahaan.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan a. Penerapan TQM yang diikuti dengan SDM yang memahami mutu, standar yang baik dan jelas, sarana yang memadai, pengorganisasian yang baik, pelaksanaan audit internal dan diklat akan menghasilkan penerapan TQM yang efektif sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan. b. Pelaksanaan TQM di Giant hypermarket memberikan pengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan , hal ini ditunjukkan oleh model persamaan struktural PK= 0,95TQM + 0,098. c. Penerapan TQM diukur dengan peubah SDM, Standar, Sarana, Organisasi, Audit Internal dan Diklat. Organisasi memberikan kontribusi yang besar terhadap penerapan TQM, artinya pengorganisasian yang baik menjadikan penerapan TQM semakin efektif. Produktivitas kerja diukur dengan peubah Kemauan kerja, Kemampuan kerja, Lingkungan kerja dan Hubungan kerja. Kemampuan kerja memberikan kontribusi paling besar terhadap pembentukan produktivitas kerja. Hal ini menunjukkan semakin besar kemampuan kerja karyawan, maka produktivitasnya semakin meningkat. 2. Saran a. Pihak perusahaan diharapkan dapat menerapkan TQM untuk

meningkatkan produktivitas kerja karyawan melalui perbaikan SDM agar lebih memahami mutu, menyediakan sarana yang lebih baik dalam pengendalian mutu dan melaksanakan diklat yang sesuai dengan hal yang dilakukan karyawan, misalnya dengan melakukan on the job trainning mengenai produk-produk yang ada di toko. b. Pihak perusahaan diharapkan melaksanakan pengorganisasian dengan lebih baik, misalnya memperjelas tugas dan tanggungjawab karyawan, karyawan lebih dilibatkan lagi dalam mengambil keputusan, seperti keputusan target penjualan yang akan dicapai perusahaan, menentukan barang yang akan dipromosikan atau diskon, penentuan jumlah persediaan dan pemesanan barang serta tata tertib atau peraturan yang menyangkut

kepentingan semua karyawan. Disamping itu, Giant hypermarket dapat meningkatkan hubungan yang baik dengan pelanggan, misalnya dengan memberikan pelayanan yang baik dan cepat tanggap dalam menangani keluhan konsumen. Dengan adanya pengorganisasian yang baik

pelaksanaan TQM akan lebih efektif sehingga meningkatkan produktivitas kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. http://www.indocashregister.com [ 10 Mei 2009]. Anonim. 2009. http://www.korantempo.com [ 10 Mei 2009]. Ariani, DW. 2002. Manajemen Mutu Pendekatan Sisi Kualitatif. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. Arthatiani, F.Y. 2008. Penerapan Manajemen Mutu Terpadu pada PT.Maya Food Industries di Kota Pekalongan. Skripsi pada Departemen Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan Kelautan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Gaspersz, V. 2003. Total Quality Management. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Ghozali, I. dan Fuad. 2005. Structural Equation Modeling. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Giant hypermarket Botani Square Bogor. 2008. Data Jenis Toko Giant. [11 April 2009]. Giant hypermarket Botani Square Bogor. 2009. Jumlah karyawan Giant hypermarket Botani Square Bogor. [11 April 2009]. Hardjosoedarmo, S. 2004. Bacaan Terpilih tentang Total Quality Management. ANDI, Yogyakarta. Indraswari. 2007. Pengaruh Penerapan Manajemen Mutu ISO 9001:2000 Terhadap Produktivitas Kaja Karyawan PTPN VIII Gunung Mas Bogor. Skripsi pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Kintarti, S. 2005. Analisis Hubungan Kompensasi, Motivasi dan Produktivitas Kerja Karyawan. Skripsi pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Kusnendi. 2007. Model-Model Persamaan Struktural, Satu dan Multigrup Contoh dengan LISREL. CV Alfabeta, Bandung. Lewinson, D.M, and M. W. Delozer. 1989. Retailing. Merril Publishing Company, Colombus, Ohio.

Mangkuprawira, S. dan A.V.Hubeis. 2007. Manajemen Mutu Sumber Daya Manusia. Ghalia Indonesia, Jakarta. Muhandri, T dan D. Kadarisman. 2008. Sistem Jaminan Mutu Industri Pangan. IPB Press, Bogor. Nasution, M.N. 2004. Manajemen Mutu Terpadu. Ghalia Indonesia, Jakarta. Nita, S.D. 2006. Kajian Penerapan Manajemen Mutu Terpadu di CV. Banyu Biru Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Skripsi pada Departemen Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan Kelautan Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Prawirosentono, S. 2001. Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu Terpadu Total Quality Management Abad 21 Studi Kasus dan Analisis. PT. Bumi Aksara, Jakarta. PT. Hero Supermarket Tbk. 2008. Jumlah Gerai PT. Hero Supermarket Tbk sampai tahun 2008 [Diakses 11 Maret 2009]. Ravianto, J. 1990. Orientasi Produktivitas dan Ekonomi Jepang : Apa yang Harus Dilakukan Indonesia. UI Press, Jakarta. Santoso, S. 2007. Structural Equation Modelling Konsep dan Aplikasi dengan Amos. PT Elex Media Komputindo, Jakarta. Sinungan, M. 1995. Produktivitas : Apa dan Bagaimana. Bumi Aksara, Jakarta. Sitinjak dan Sugiarto. 2006. LISREL. Graha Ilmu, Yogyakarta. Surahman, D. 2008. Tingkat Loyalitas Pengguna Trans Pakuan dengan Menggunakan Model Persamaan Struktural. Skripsi pada Departemen Statistik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Tjiptono, F dan A. Diana. 2003. Total Quality Management. ANDI, Yogyakarta. Umar, H. 2006. Metode Riset Perilaku Konsumen Jasa. Ghalia Indonesia, Jakarta. Wijianto, S.H. 2008. Structural Equation Modeling dengan Lisrel 8.8 Konsep dan Tutorial. Graha Ilmu, Yogyakarta. Yusrianti, A. 2008. Pengaruh In-Store Promotion Terhadap Keputusan Impulse Buying pada Konsumen Giant Hypermarket. Skripsi pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner penelitian Terima kasih atas kesediaanya untuk mengisi kuesioner ini dalam membantu penelitian tentang Pengaruh Penerapan Total Quality Management terhadap Produktivitas Kerja Karyawan pada Giant Hypermarket Botani Square Bogor. Semua keterangan dari Bapak/Ibu dijamin kerahasiaannya dan semata-mata untuk mendukung skripsi saya. Atas kesediaan Bapak/Ibu saya ucapkan terima kasih.

Putri Restu Melissa ( Mahasiswa Departemen Manajemen, FEM, IPB)

BAGIAN I. IDENTITAS RESPONDEN Petunjuk pengisian : Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang Bapak/Ibu anggap sesuai. 1. Jenis Kelamin : a. Pria 2. Usia ? a. < 25 tahun, sebutkan... b. 25 34 tahun 3. Pendidikan terakhir : a. SLTP b. SLTA 4. Lama bekerja : a. < 3 tahun, sebutkan... sebutkan... b. 3 5 tahun c. > 5 tahun, c. D3 d. S1 e. S2 f. Lainnya, sebutkan... c. 34 45 tahun d. > 45 tahun, sebutkan... b.Wanita

BAGIAN II. PERTANYAAN PILIHAN Petunjuk pengisian : Isilah kuesioner di bawah ini dengan tanda silang (X) pada pilihan yang menurut Bapak/Ibu paling tepat terkait dengan Pengaruh Penerapan TQM terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Hypermarket Giant. SS : Sangat Setuju S : Setuju No A. SDM 1. Karyawan memahami kebutuhan dan harapan pelanggan. 2. Karyawan saling bekerjasama dalam menghasilkan produk/jasa bermutu yang diinginkan pelanggan. 3. 4. Karyawan memahami konsep mutu Dalam menerima karyawan, perusahaan memperhitungkan pengalaman kerja atau pendidikan yang berhubungan dengan mutu 5. Para karyawan pada semua level memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkan mutu produk/jasa. B.Standar 6. Dalam penetapan standar sudah sesuai dengan keinginan konsumen 7. Standar yang digunakan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai perusahaan. 8. Prosedur kerja dalam setiap kegiatan sesuai dengan dengan tujuan perusahaan. R : Ragu-ragu TS : Tidak Setuju PERTANYAAN SS S R TS STS STS : Sangat Tidak Setuju

NO 9.

PERTANYAAN Karyawan dilibatkan dalam menetapkan standar

SS

TS

STS

10.

Perusahaan memiliki standar dari setiap pekerjaan yang ada

C. Sarana 11. Perusahaan memiliki bagian/departemen khusus untuk melakukan tugas pengendalian mutu. 12. Terdapat sarana yang memadai bagi pelanggan untuk menyampaikan keluhannya. 13. Sarana yang ada di dalam perusahaan sudah menunjang dalam pelaksanaan diklat. 14. Sarana yang ada diperusahaan sudah memenuhi kenyamanan, keselamatan. 15. Sistem atau prosedur kerja mengenai sarana atau peralatan sudah jelas. D.Organisasi 16. Struktur organisasi perusahaan sudah terdefinisi dengan baik. 17. Perusahaan membina hubungan dengan pelanggannya. 18. Karyawan dilibatkan dalam pengambilan keputusan perusahaan. 19. Tugas dan tanggungjawab karyawan sudah terdefinisi dengan jelas. aspek kesehatan keamanan, dan

NO

PERTANYAAN

SS

TS

STS

20.

Pengambilan keputusan didasarkan fakta dan informasi.

E. Audit Internal 21. 22. Audit internal dilakukan secara teratur Hasil dari audit internal berpengaruh dalam pengendalian mutu perusahaan.

23.

Pelaksanaan audit internal dipengaruhi oleh keluhan dari konsumen.

24.

Audit

internal

yang

dilakukan

perusahaan bermanfaat untuk mencapai tujuan perusahaan. 25. Audit yang dilakukan dapat

meningkatkan efisiensi dan efektivitas fungsi organisasi. F. Diklat 26. Pendidikan dan latihan sering dilakukan perusahaan. 27. Karyawan memahami manfaat dari

pendidikan dan pelaihan. 28. 29. Diklat dapat meningkatkan produktivitas Diklat yang dilakukan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai perusahaan. 30. Diklat yang diberikan sesuai dengan pekerjaan yang dibutuhkan karyawan.

PERTANYAAN G. Kemauan Kerja 31. Saya bertanggungjawab atas pekerjaan yang saya lakukan 32. Saya selalu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan pekerjaan 33. 34. Saya selalu mematuhi peraturan kerja Saya selalu mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan 35. Saya berusaha bekerja sungguh-sungguh, meskipun tidak ada pengawasan dari atasan

SS

TS

STS

H. Kemampuan Kerja 36. Saya dapat dengan baik . 37. Saya dapat menyelesaikan tugas dengan tepat waktu. 38. Saya dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai jabatan. 39. Saya selalu berusaha untuk memberikan hasil yang terbaik bagi perusahaan. 40. Saya sering meminta saran kepada rekan kerja atau atasan mengenai pekerjaan yang sulit. I. Lingkungan Kerja 41. Kondisi lingkungan kerja saya nyaman dan kondusif, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik melaksanakan pekerjaan

NO 42.

PERTANYAAN Saya mempunyai rekan kerja yang nyaman untuk diajak bekerjasama

SS

TS

STS

43.

Kesadaran dan kepedulian karyawan terhadap lingkungan perusahaan semakin meningkat

44.

Lingkungan kerja saya memenuhi aspek keamanan dan keselamatan kerja.

45.

Lingkungan kerja dapat mendorong saya untuk bekerja lebih semangat.

J. Hubungan Kerja 46. Saya mampu bekerjasama dengan orang lain 47. Saya sering meminta bantuan untuk menyelesaikan tugas saya, pekerjaan yang sulit 48. Saya bersedia membantu menyelesaikan tugas yang bukan pekerjaan pokok saya 49. Saya selalu melaporkan hasil kerja menurut keadaan yang sebenarnya 50. Saya memiliki hubungan yang baik dengan rekan kerja terutama

Lampiran 2. Struktur Organisasi

Store General Manager

Divisi Manager Grocery

Divisi Manager GMS

Divisi Manager Fresh

Divisi Manager Sales Support

Perishable
DH Grocery Food DH Grocery N. Food
ADH Grocery 1 ADH Grocery 3 SPV Grocery 1 Staff Grocery 1 ADH Grocery 2 SPV Grocery 4 Grocery 2 Staff Staff Grocery 4 Grocery 2 Children ADH Mens Staff Children SPV & Grocery 3 Staff Grocery 3 ADH Tekstil ADH Grocery 4 Children Spv SPV Toys SPV Toys Staff Toys Staff Tekstil Ladies DIY & ADH Staff ADH Ladies & SPV Tekstil Ladies

Meat & Chicken Seafood

Bakkery RTE

DH Check Out SPV Check Out SPV SPV Front Line Chasier

ADH Front Desk SPV FR Desk Staff FR Desk DH ME SPV ME Staff ME DH IT SPV IT Staff IT

ADM Support ADH HR SPV HR Staff HR ADH Accounting SPV Accounting Staff Acct ADH LP SPV

DH
DH

Bazaar
ADH DIY

Fruit
Electronic
DH House

Vegetables Admin Dairy Fresh Frozen Pool Order Fresh

SPV hold DIY

Banking

ADH Instore AP SPV Instore AP Staff Instore AP

DH Receiving

ADH Receiving SPV Receiving

SPV Mens Staff Mens

LP Staff LP Store

Staff Admin Receiving

responden p1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 5 5 4 5 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 3 4 5 5 3 4 5 4 5 5 5 p2 5 5 5 5 5 4 5 5 4 4 4 4 5 3 4 5 4 3 4 4 4 4 4 4 5 5 4 5 5 5

SDM p3 5 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 5 3 4 4 4 4 3 3 4 3 4 5 4 4 4 5 4 5 p4 5 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 3 5 4 1 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 2 5 4 4 p5 5 5 4 4 5 5 4 5 5 4 4 5 5 4 2 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 1 5 4 5 p6 5 5 4 5 4 4 4 4 5 3 4 4 5 3 3 5 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 5 4 5 p7 5 5 5 5 5 4 4 4 5 4 4 4 5 5 3 5 3 5 4 4 4 4 5 5 5 5 3 5 4 5

STANDAR p8 3 5 4 5 5 4 4 4 5 4 4 4 5 4 3 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 3 5 4 4 p9 5 5 4 5 3 5 4 5 4 4 4 3 2 5 3 5 5 3 3 4 4 3 3 4 5 5 3 5 4 4 p10 5 5 5 5 4 4 4 4 5 4 4 5 3 5 3 5 4 4 4 4 3 4 4 5 5 4 3 5 4 4 p11 5 4 4 5 5 4 4 4 5 4 4 2 4 5 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 p12 3 5 5 4 5 5 4 4 5 4 4 4 5 5 4 4 3 5 4 4 4 4 4 5 4 4 1 4 5 4

SARANA p13 5 4 4 5 5 3 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 5 3 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 p14 4 4 4 5 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 2 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 5 p15 5 4 4 5 5 2 4 4 5 4 4 2 3 5 2 4 5 4 4 5 4 4 4 4 3 4 4 4 4 5 p16 5 4 4 5 4 2 3 4 5 4 4 3 3 5 3 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 5 4 5 p17 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 3 3 5 5 3 4 3 3 3 5 3 4 4 3 5 4 4

ORGANISASI p18 4 5 4 5 3 4 4 4 3 4 2 4 5 4 3 5 4 5 3 4 4 4 4 4 4 4 3 5 4 4 p19 5 4 4 5 4 3 3 4 5 4 4 3 5 5 2 5 3 4 4 5 3 4 4 5 3 5 4 5 4 5 p20 5 4 4 5 3 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 5 4 4 5 4 4 3 4 4 3 5 3 5 4 5 p21 5 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 p22

AUDIT INTERNAL p23 5 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 5 5 3 4 4 5 4 3 4 3 3 4 5 4 3 4 4 4 5 4 4 4 5 2 3 3 3 4 2 3 5 4 3 4 5 4 3 4 4 4 4 5 4 5 3 5 4 4 p24 5 4 4 5 5 4 4 4 5 4 4 5 5 5 3 4 4 3 4 5 3 3 4 4 4 4 3 5 4 5 p25 5 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 3 5 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 5 4 4 3 5 4 5

Jumlah Rataan Pearson Keterangan

129 4.3 0.417 valid

132 4.4 0.4 7 vali d

124 4.1 3 0.4 3 vali d

121 4.033 0.773 valid

126 4.2 0.719 valid

123 4.1 0.771 valid

133 4.433 0.777 valid

125 4.17 0.64 valid

121 4.03 0.38 valid

127 4.233 0.626 valid

126 4.2 0.3 7 vali d

125 4.1 7 0.3 8 vali d

116 3.87 0.44 valid

112 3.73 0.68 valid

120 4 0.4 7 vali d

120 4 0.682 valid

119 3.9 7 0.6 2 vali d

119 3.97 0.55 valid

123 4.1 0.666 valid

125 4.167 0.555 valid

123 4.1 0.6 6 vali d

122 4.067 0.591 valid

116 3.8 6 0.5 66 vali d

125 4.17 0.71 valid

123 4.1 0.7 3 vali d

n = 30, taraf nyata 5% diperoleh r tabel 0,361 pearson >0,361 valid

DIKLAT p26 3 4 4 5 4 2 4 3 3 4 4 3 5 4 2 5 4 4 4 4 4 4 4 4 p27 5 5 4 5 4 3 4 4 4 4 4 3 5 4 2 5 3 5 4 3 3 3 3 3 p28 5 5 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 3 4 4 4 4 4 p29 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 3 4 3 5 4 4 4 4 4 4 4 4 p30 5 4 4 5 5 3 3 3 4 4 4 5 4 4 3 5 5 3 4 4 3 5 4 5 p31 5 5 4 5 5 5 4 4 5 4 4 5 5 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 p32

KEMAUAN KERJA p33 5 5 4 5 5 4 4 4 5 4 4 5 5 5 2 5 3 5 3 4 4 4 3 4 5 5 4 5 5 4 4 4 5 4 4 5 5 5 2 4 4 4 4 5 4 4 4 4 p34 5 5 4 5 4 2 3 3 4 4 3 3 5 4 2 4 4 5 3 4 4 4 3 3 p35 5 5 4 5 5 5 4 4 5 4 4 5 5 5 2 4 3 4 4 4 3 3 4 4 p36 5 5 4 5 5 4 4 4 5 4 4 5 5 4 4 4 4 3 5 4 4 4 4 4

KEMAMPUAN KERJA p37 4 4 4 4 5 4 3 3 5 4 3 4 5 4 3 5 3 4 4 5 3 3 4 3 p38 3 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 3 5 4 4 4 4 4 4 4 4 p39 5 5 4 5 4 4 4 5 5 4 4 5 5 4 3 5 4 4 4 5 4 4 3 4 p40 5 4 5 5 5 4 3 5 4 4 4 5 5 4 4 4 4 4 3 4 3 3 4 4 p41 5 4 4 5 4 2 3 5 4 4 4 4 3 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4

LINGKUNGAN KERJA p42 4 4 4 5 4 3 4 5 4 4 3 4 4 4 1 5 4 5 4 4 4 5 5 3 p43 5 4 5 5 4 2 3 4 4 4 4 4 3 3 2 5 5 4 4 3 4 4 4 4 p44 5 4 4 5 4 2 4 4 4 4 4 4 3 4 2 4 4 4 4 4 4 4 5 4 p45 5 4 4 5 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 5 3 4 4 4 p46 5 4 5 5 5 4 4 4 4 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 p47

HUBUNGAN KERJA p48 5 4 4 5 4 2 4 4 3 4 2 4 5 4 4 4 5 3 5 5 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 3 p49 5 4 4 5 5 4 3 4 4 4 3 4 5 4 2 5 4 4 4 4 3 4 5 5 p50 5 4 4 5 5 4 4 4 5 4 4 4 5 4 1 5 5 4 3 4 4 4 4 4

Total

238 222 207 245 222 180 189 202 215 199 190 201 224 210 147 228 200 201 194 202 187 193 199 202

3 4 2 5 4 5 114 3.8 0.7 valid

4 4 2 5 4 4 115 3.833 0.822 valid

4 4 2 5 4 5 125 4.17 0.81 valid

4 4 3 4 4 4 121 4.03 0.61 valid

4 4 3 4 4 4 121 4.033 0.584 valid

4 4 4 5 4 5 132 4.4 0.607 valid

3 4 2 5 4 5 124 4.1333 0.8125 valid

4 4 2 5 4 5 127 4.233 0.857 valid

4 5 2 5 4 4 114 3.8 0.801 valid

4 4 2 5 4 4 123 4.1 0.767 valid

4 4 3 4 4 5 127 4.233 0.574 valid

4 5 3 4 4 4 117 3.9 0.558 valid

3 4 3 5 4 5 122 4.067 0.528 valid

4 4 3 5 4 5 128 4.27 0.76 valid

4 4 3 5 4 4 123 4.1 0.6 valid

4 4 3 5 4 5 121 4.03 0.58 valid

4 5 1 5 5 4 120 4 0.725 valid

4 5 3 5 4 4 118 3.93 0.65 valid

4 4 3 5 4 5 119 3.97 0.69 valid

3 4 3 4 4 4 117 3.9 0.68 valid

4 4 2 5 4 4 125 4.17 0.71 valid

4 5 2 5 4 4 120 4 0.55 valid

4 4 3 5 2 4 121 4.03 0.54 valid

5 4 2 5 4 4 122 4.07 0.82 valid

4 4 2 5 4 4 122 4.067 0.846 valid

200 212 139 239 203 223

Lampiran 4. Uji reliabilitas kuesioner

Scale: ALL VARIABLES


Reliability Statistics

AUDIT INTERNAL
Cronbach's Alpha .969 Reliability Statistics N of Items 50 Cronbach's Alpha .788 N of Items 5

SDM
Reliability Statistics Cronbach's Alpha .717

DIKLAT
Reliability Statistics N of Items 5 Cronbach's Alpha .799

STANDAR
Reliability Statistics Cronbach's Alpha .780

N of Items 5

KEMAUAN KERJA
Reliability Statistics N of Items 5 Cronbach's Alpha .901 N of Items 5

SARANA
Reliability Statistics Cronbach's Alpha .635

KEMAMPUAN KERJA
Reliability Statistics N of Items 5 Cronbach's Alpha .785

ORGANISASI
Reliability Statistics Cronbach's Alpha .749

N of Items 5

LINGKUNGAN KERJA
Reliability Statistics N of Items 5 Cronbach's Alpha .867 N of Items 5

HUBUNGAN KERJA
Reliability Statistics Cronbach's Alpha .827

N of Items 5

Lampiran 5. Output Lisrel 8.30


DATE: 4/19/2009 TIME: 20:09

L I S R E L

8.30

BY Karl G. Jreskog and Dag Srbom

This program is published exclusively by Scientific Software International, Inc. 7383 N. Lincoln Avenue, Suite 100 Chicago, IL 60646-1704, U.S.A. Phone: (800)247-6113, (847)675-0720, Fax: (847)675-2140 Copyright by Scientific Software International, Inc., 1981-99 Use of this program is subject to the terms specified in the Universal Copyright Convention. Website: www.ssicentral.com

The following lines were read from file

D:\DANI\PUTRI\TEST.SPJ:

observed varibels SDM STD SRN ORG AUD DIK MAU MAM LIN HUB correlation matrix from file d: sample size 150 latent peubahs TQM PK relationships SDM STD SRN ORG AUD DIK = TQM MAU MAM LIN HUB = PK PK = TQM

Lanjutan Lampiran 5.
options rs options SC path diagram !Method of Estimation: Unweighted Least Squares end of problem Sample Size = 150

LISREL Estimates (Maximum Likelihood)


MAU = 0.77*PK, Errorvar.= 0.41 (0.19) 4.11 (0.056) 7.29 , R = 0.62 , R = 0.59

MAM = 0.79*PK, Errorvar.= 0.38 (0.19) 4.13 (0.053) 7.08

LIN = 0.73*PK, Errorvar.= 0.47 (0.18) 4.07 (0.062) 7.60

, R = 0.53

HUB = 0.76*PK, Errorvar.= 0.42 (0.19) 4.10 (0.058) 7.38

, R = 0.58

SDM = 0.79*TQM, Errorvar.= 0.38 (0.070) 11.23 (0.051) 7.43

, R = 0.62

STD = 0.76*TQM, Errorvar.= 0.42 (0.071) 10.73 (0.055) 7.60

, R = 0.58

SRN = 0.71*TQM, Errorvar.= 0.50 (0.073) (0.063)

, R = 0.50

9.65

7.90

Lanjutan Lampiran 5.
ORG = 0.80*TQM, Errorvar.= 0.36 (0.069) 11.57 (0.049) 7.29 , R = 0.54 , R = 0.64

AUD = 0.73*TQM, Errorvar.= 0.46 (0.072) 10.18 (0.059) 7.77

DIK = 0.78*TQM, Errorvar.= 0.38 (0.070) 11.18 (0.052) 7.45

, R = 0.62

PK = 0.95*TQM, Errorvar.= 0.098, R = 0.90 (0.24) 3.88

Keterangan

Muatan faktor
MAU = 0.77*PK, (0.19) 4.11 Errorvar.= 0.41 (0.056) 7.29

koefisien error

standard error t value koefisien determinasi

standard error t value

R = 0.59

Correlation Matrix of Independent Variables TQM 1.00

Lanjutan Lampiran 5.
Covariance Matrix of Latent Variables PK PK TQM 1.00 0.95 1.00 TQM

Goodness of Fit Statistics


Degrees of Freedom = 34 Minimum Fit Function Chi-Square = 82.91 (P = 0.00) Normal Theory Weighted Least Squares Chi-Square = 74.09 (P = 0.00) Estimated Non-centrality Parameter (NCP) = 40.09 90 Percent Confidence Interval for NCP = (19.01 ; 68.90) Minimum Fit Function Value = 0.56 Population Discrepancy Function Value (F0) = 0.27 90 Percent Confidence Interval for F0 = (0.13 ; 0.46) Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) = 0.089 90 Percent Confidence Interval for RMSEA = (0.061 ; 0.12) P-Value for Test of Close Fit (RMSEA < 0.05) = 0.013 Expected Cross-Validation Index (ECVI) = 0.78 90 Percent Confidence Interval for ECVI = (0.64 ; 0.97) ECVI for Saturated Model = 0.74 ECVI for Independence Model = 6.47 Chi-Square for Independence Model with 45 Degrees of Freedom = 944.70 Independence AIC = 964.70 Model AIC = 116.09 Saturated AIC = 110.00 Independence CAIC = 1004.81 Model CAIC = 200.31 Saturated CAIC = 330.58

Root Mean Square Residual (RMR) = 0.042

Lanjutan Lampiran 5.
Standardized RMR = 0.042 Goodness of Fit Index (GFI) = 0.91 Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) = 0.85 Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI) = 0.56 Normed Fit Index (NFI) = 0.91 Non-Normed Fit Index (NNFI) = 0.93 Parsimony Normed Fit Index (PNFI) = 0.69 Comparative Fit Index (CFI) = 0.95 Incremental Fit Index (IFI) = 0.95 Relative Fit Index (RFI) = 0.88 Critical N (CN) = 101.75

Standardized Solution

LAMBDA-Y

PK MAU MAM LIN HUB 0.77 0.79 0.73 0.76

LAMBDA-X

TQM SDM STD SRN ORG AUD DIK 0.79 0.76 0.71 0.80 0.73 0.78

Lanjutan Lampiran 5.
GAMMA

TQM PK 0.95

Correlation Matrix of ETA and KSI

PK PK TQM 1.00 0.95

TQM

1.00

PSI PK 0.10

Regression Matrix ETA on KSI (Standardized) TQM PK 0.95

Completely Standardized Solution

LAMBDA-Y

PK

MAU MAM LIN HUB

0.77 0.79 0.73 0.76

LAMBDA-X

TQM SDM STD SRN ORG AUD DIK 0.79 0.76 0.71 0.80 0.73 0.78

GAMMA

TQM PK 0.95

Correlation Matrix of ETA and KSI

PK PK TQM 1.00 0.95

TQM

1.00

THETA-EPS MAU 0.41 MAM 0.38 LIN 0.47 HUB 0.42

Lanjutan Lampiran 5.
THETA-DELTA

SDM 0.38

STD 0.42

SRN 0.50

ORG 0.36

AUD 0.46

DIK 0.38

Regression Matrix ETA on KSI (Standardized)

TQM PK 0.95

The Problem used Works Time used:

15624 Bytes (=

0.0% of Available

0.063 Seconds

Lampiran 6. Hasil Perhitungan Construct reliability dan Variance extracted

Hasil Perhitungan Construct reliability

TQM =

(0,79 + 0,76 + 0,71 + 0,80 + 0,73 + 0,78 )2 (0,79 + 0,76 + 0,71 + 0,80 + 0,73 + 0,78 )2 + ( 0,38 + 0,42 + 0,50 + 0,36 + 0,46 + 0,38 )

20,8849 20,8849 + 2,5

= 0,893

Produktivitas Kerja =
= 9,3025

(0,77 + 0,79 + 0,73+ 0,76)2 (0,77 + 0,79 + 0,73+ 0,76)2 + (0,41 + 0,38 + 0,47 + 0,42 )

9,3025 + 1,68 = 0,847

Hasil Perhitungan Varianced Extracted


TQM = (0,792 + 0,762 + 0,712 + 0,80 2+ 0,732 + 0,782) (0,792 + 0,762 + 0,712 + 0,80 2+ 0,732 + 0,782) +( 0,38 + 0,42 + 0,50 + 0,36 + 0,46 + 0,38) = 3,4871 3,4871 + 2,5 = 0,582

Produktivitas Kerja =
= 2,3275 2,3275 + 1.68 = 0,580

(0,772 + 0,792 + 0,732+ 0,762) (0,772 + 0,792 + 0,732+ 0,762) + (0,41 + 0,38 + 0,47 + 0,42 )