Anda di halaman 1dari 10

CORPUS ALIENUM DI HIDUNG

PENDAHULUAN Hidung adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan sekitar atau sesuatu dari aroma yang dihasilkan. Kita mampu dengan mudah mengenali makanan yang sudah busuk dengan yang masih segar dengan mudah hanya dengan mencium aroma makanan tersebut. Di dalam hidung kita terdapat banyak sel kemoreseptor untuk mengenali bau. Hidung berfungsi sebagai indera pembau. Ujung-ujung saraf pembau terletak pada selaput lender rongga hidung bagian atas, kerang hidung atas dan permukaan atas kerang hidung yang tengah. Pada ujungs araf pembau terdapat selaput lender yang berfungsi sebagai pelembab Bau yang busuk pada rongga hidung waktu kita menarik napas ditangkap oleh ujung saraf kemudian dibawa ke pusat pembau di otak sehingga kita dapat menerima rangsang bau. Corpus Alienum (benda asing) pada saluran pernafasan merupakan istilah yang sering digunakan di dunia medis. Benda asing di saluran pernafasan adalah benda yang berasal dari luar tubuh atau dari dalam tubuh, yang dalam keadaan normal tidak ada pada saluran pernafasan tersebut. Benda asing pada saluran napas dapat terjadi pada semua umur terutama anak-anak karena anak-anak sering memasukkan benda ke dalam mulutnya bahkan sering bermain atau menangis pada waktu makan. Sekitar 70% kejadian aspirasi benda asing terjadi pada anak berumur kurang dari 3 tahun. Hal ini terjadi karena anak seumur itu sering tidak terawasi, lebih aktif, dan cenderung memasukkan benda apapun ke dalam mulutnya. Benda asing dalam saluran pernafasan dapat menyebabkan keadaan yang berbahaya, seperti penyumbatan dan penekanan ke jalan nafas. Gejala sumbatan benda asing di saluran napas tergantung pada lokasi benda asing, derajat sumbatan, sifat, bentuk dan ukuran benda asing. Pada prinsipnya benda asing di esofagus dan saluran napas ditangani dengan pengangkatan segera secara endoskopik dalam kondisi yang paling aman dan trauma yang minimal.1,2,3,4,5

ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG Secara anatomi, hidung adalah penonjolan pada vertebrata yang mengandung nostril, yang menyaring udara untuk pernafasan. Hidung sebagai suatu istilah, dapat juga digunakan untuk menunjukkan ujung sesuatu, seperti hidung pada pesawat terbang. Secara anatomi, hidung adalah penonjolan pada vertebrata yang mengandung nostril, yang menyaring udara untuk pernafasan. Hidung sebagai suatu istilah, dapat juga digunakan untuk menunjukkan ujung sesuatu, seperti hidung pada pesawat terbang. Hidung manusia Hidung adalah bagian yang paling menonjol di wajah, yang berfungsi menghirup udara pernafasan, menyaring udara,menghangatkan udara pernafasan, juga berperan dalam resonansi suara. Hidung terdiri daripada bahagian eksternal dan internal. Bagian eksternal terdapat dipermukaan muka dan terdiri daripada rangka penyokong yang dibentuk oleh tulang dan rawan. Rangka hidung diliputi oleh kulit dan permukaan dalamnya dilapisi oleh membran mukus. Di bawah hidung terdapat dua pembukaan yang disebut lubang hidung atau nares eksternal. Bahagian internal hidung terdiri daripada kaviti yang besar di tengkorak terletak atas dari mulut dan di antara dua kaviti orbit. Bahagian dalam hidung eksternal dan internal dibahagikan kepada bahagian kanan dan kiri oleh pembahagi vertikal yang dikenali sebagai septum hidung. Setiap kaviti hidung mempunyai atap, lantai, dinding lateral dan dinding medial (septum hidung). Kaviti hidung membuka di anterior melalui lubang hidung. Posterior, kaviti ini berhubung dengan farinks melalui pembukaan hidung internal.

Bagian- bagian hidung adalah : 1. Saraf pembau yg terletak pd selaput lendir di rongga hidung atas, kerang hidung atas dan permukaan atas kerang hidung tengah. 2. Selaput lender, , berfungsi utk menahan kotoran yg terbawa oleh udara yg kita hirup 3. Bulu - bulu hidung, berfungsi utk menahan kotoran yg terbawa oleh udara yg kita hirup.1,2,3

Fungsi Hidung Bulu hidung di dalam kaviti hidung menapis debu dan mikroorganisma dari udara yang masuk dan lapisan mukus yang memerangkapnya. Bekalan darah yang banyak ke membran mukus membantu mengawal udara yang masuk menjadi hampir sama dengan suhu badan di samping melembabkannya. Selain itu hidung juga berfungsi sebagai organ untuk membau kerana reseptor bau terletak di mukosa bahagian atas hidung. Hidung juga membantu menghasilkan dengungan (fonasi). Mekanisme kerja hidung adalah bau sampai ke hidung ( bau diterima hidung (bau merangsang ujung-ujung syaraf indera pembau ( rangsangan diteruskan ke otak ( otak memproses sehingga kita dapat mencium bau ).1,2,3

Benda Asing di Hidung Definisi Corpus alienum pada hidung adalah benda asing yang berasal dari luar tubuh atau dari dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada pada hidung tersebut.4

Epidemiologi Sering terjadi pada anak-anak 2-4 tahun atau pasien dengan mental yang terbelakang.4 Etiologi dan Klasifikasi Benda asing yang berasal dari luar tubuh disebut benda asing eksogen sedangkan yang berasal dari dalam tubuh disebut benda asing endogen. Benda asing eksogen biasanya masuk melalui hidung atau mulut. Benda asing eksogen terdiri dari benda padat, cair atau gas. Benda asing eksogen padat dapat berupa zat organik seperti kacang-kacangan dan tulang, ataupun zat anorganik seperti paku, jarum, peniti, batu dan lain sebagainya. Benda asing eksogen cair dapat berupa benda cair yang bersifat iritatif, yaitu cairan dengan pH 7,4. Benda asing endogen dapat berupa secret kental, darah atau bekuan darah, nanah, krusta, cairan amnion, atau mekonium yang dapat masuk ke dalam saluran nafas bayi pada saat persalinan.5,6

Faktor Predisposisi Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing ke dalam saluran napas, antara lain: 1. Faktor individual; umur, jenis kelamin, pekerjaan, kondisi sosial, tempat tinggal. 2. Kegagalan mekanisme proteksi yang normal, antara lain; keadaan tidur, kesadaran menurun, alkoholisme dan epilepsi. 3. Faktor fisik; kelainan dan penyakit neurologik. 4. Proses menelan yang belum sempurna pada anak. 5. Faktor kejiwaan, antara lain, emosi, gangguan psikis. 6. Ukuran, bentuk dan sifat benda asing. 7. Faktor kecerobohan, antara lain; meletakkan benda asing di hidung, persiapan makanan yang kurang baik, makan atau minum tergesa-gesa, makan sambil bermain, memberikan kacang atau permen pada anak-anak.7,8,9 Manifestasi Klinis Hidung tersumbat oleh sekret mukopuru1en yang banyak dan berbau busuk di satu sisi rongga hidung, kanan atau kiri, tempat adanya benda asing. Setelah sekret hidung dihisap, benda asing akan tampak dalam kavum nasi. Kadang disertai rasa nyeri, demam, epistaksis, dan bersin. Pada pemeriksaan tampak edema dengan inflamasi mukosa hidung unilateral dan dapat terjadi ulserasi. Bila benda asing tersebut adalah binatang lintah, terdapat epistaksis berulang yang sulit berhenti meskipun sudah diberikan koagulan. Pada rinoskopi anterior tampak benda asing berwama coklat tua, lunak pada perabaan, dan melekat erat pada mukosa hidung atau nasofaring.5,7,9,10

Pemeriksaan Penunjang Dilakukan pemeriksaan radiologi untuk benda asing radioopak yang tidak jelas pada rinoskopi anterior. 8,10

Penatalaksanaan Benda asing dengan permukaan kasar dapat dikeluarkan memakai forsep. Bila benda asing bulat dan licin, misalnya manik-manik, dipergunakan pengait yang ujungnya tumpul. Bagian pengait yang bengkok dimasukkan ke dalam hidung bagian atas menyusuri atap kavum nasi, sampai menyentuh nasofaring. Setelah itu pengait diturunkan sedikit, sampai ke belakang obyek, kemudian ditarik ke depan. Dapat dipakai cunam Nortman atau wire loop. Bila tidak ada alat yang sesuai sebaiknya dirujuk ke rumah sakit atau ahli THT.

Untuk lintah, diteteskan dulu air tembakau agar terlepas dari mukosa hidung atau nasofaring, kemudian dijepit dengan pinset dan tarik ke luar. Pemberian antibiotik sistemik selama 5-7 hari hanya bila ada infeksi hidung dan sinus. Tidak dianjurkan mendorong ke arah nasofaring dengan tujuan agar masuk ke mulut, karena dapat terus masuk ke laring dan saluran napas bawah, sehingga timbul sesak napas dan kegawatan. SOP pengambilan benda asing di hidung: Tujuan : 1. Agar luka tidak terjadi infeksi lanjut 2. mengembaliukan fungsi indera Prosedur : PERSIAPAN ALAT : Streril 1. Bak instrumen a. Spuit irigasi 50 cc b. Pinset anatomis c. Pinset chirrugis d. Arteri klem 2. THT shet 3. Kassa dan depres dalam tromol 4. Handschone / gloves steril 5. Neerbeken (bengkok) 6. Lampu kepala 7. Kom kecil/ sedang 8. Tetes telingga 9. Cairan pencuci luka dan disinfektan (Cairan NS)

Non Streril 1. Schort / gown 2. Perlak + alas perlak / underpad 3. Handschone / gloves bersih 4. Sketsel / tirai 5. Neerbeken / bengkok A PENATALAKSAAN CORPUS ALIENUM PADA HIDUNG . 1. Perawat memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga/pasien menandatangani Informed concent. 2. 3. Perawat menyiapkan alat dan didekatkan pada pasien Perawat memeriksa lokasi corpus alienum di hidung baik dengan langsung atau memakai lampu kepala 4. Perawat menetukan tindakan yang akan dilakukan berdasarkan letak dan jenis benda yang masuk ke hidung antara lain : a. Benda Padat Biji-bijian dan Benda kotak a) Perawat memakai alat sonde hidung (ukuran sonde sesuai dangan ukuran biji di dalam) b) Perawat memasukan sonde ke hidung dengan arah masuk melalui bagian luar biji-bijian tersebut. c) Setelah sonde masuk ke dalam hidung dan posisi sonde sudah lebih dalam dari pada posisi biji-bijian, maka dilakukan pergerakan untuk mengeluarkan bijibijian. d) Bila biji-bijian belum keluar dilakukan pengulangan mulai dari awal.

b. Binatang 1) Lintah a) Perawat memasukan sonde kedalam hidung dengan arah masuk melalui bagian luar lintah tersebut. b) Setelah sonde masuk kedalam hidung dan posisi sonde sudah lebih dalam dari pada posisi lintah, maka dilakukan pergerakan untuk mengeluarkan lintah c) Perawat memakai alat sonde hidung (ukuran sonde sesuai dangan ukuran lintah didalam) d) Bila lintah belum keluar dilakukan pengulangan mulai awal11,12,13 Komplikasi Usaha mengeluarkan dengan alat yang tidak sesuai dapat mendorong benda asing ke belakang dan jika masuk ke saluran napas akan membahayakan.14,15

DAFTAR PUSTAKA 1. Soepardi E.Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL. Ed.6. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.2007, H : 9-19, 46-48. 2. Effendi H, Santoso. Embriologi Anatoi dan Fisiologi Telinga, Boies L, Higler P.Boies Buku Ajar Pentakit THT. EGC.jakarta.1994, H : 27-38, 46-53. 3. Edwards, dkk. Corpus Alienum : Colman B hall da Colmans Disease of the nose, Throath and ear, and head and neck. ELBS. Singapore. 1992, H : 267-271. 4. Ballenger J. Penyakit THT dan kepala leher. Ed.13. jlid II. FKUI. Jakarta. 2002, H: 297-303 5. Oswari J. Corpus Alienum di Hidung: Ludman H. Petunjuk Penting pada Penyakit THT. Hipokrates. Jakata, : 13-19 6. Ballenger J. Penyakit THT dan kepala leher. Ed.13. jlid II. FKUI. Jakarta. 2007, H: 305-325 7. Mansjoer A. Kapita Selekta edoktran. FKUI. Jakarta, 2007, H: 85-90. 8. Santoso B.Fisilogi Manusis dari selke sistem. EGC. Jakarta, H : 176-184. 9. Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC. Jakarta. 10. George L, Adams. 1997. BOEIS : Buku ajar Penyakit THT. Edisi 6. EGC. Jakarta. 11. Iskandar, H. Nurbaiti,dkk 1997. Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 12. Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab/UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan RSUD Dr Soetomo Surabaya 13. Rukmin, Sri; Herawati, Sri. 1999. Teknik Pemeriksaan THT. EGC. Jakarta. 14. http://www.nezfine.files.wordpress.com20100520.pdf 15. http://www.scribd.com/doc/23723412/TULI-SENSORINEURAL

10