Anda di halaman 1dari 12

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

MODUL MAKROFOSIL 2

KOMPETENSI DASAR 4.2 Menjelaskan proses pemfosilan

TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Kognitif a) Siswa dapat menjelaskan pengertiaan fosil b) Siswa dapat menjelaskan syarat fosil c) Siswa dapat menjelaskan pengertian pemfosilan d) Siswa dapat menjelaskan syarat pemfosilan e) Siswa dapat menjelaskan faktor penghalang proses pemfosilan f) Siswa dapat menjelaskan asal usul fosil g) Siswa dapat menjelaskan proses pemfosilan h) Melalui diskusi, siswa dapat menyimpulkan materi pembelajaran dengan ringkas, tepat dan benar. i) Melalui penugasan, siswa dapat menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan pengertian, tujuan dan manfaat, serta langkah-langkah eksplorasi

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

2. Afektif: a) Membaca dan Memahami Informasi Yang Disajikan Dalam Buku, Modul, dan Persentasi b) Menulis Dan Mengkomunikasikan Informasi Sehinga Orang Lain Memperhatikan dan Memahaminya c) Menggunakan Teknologi Internet untuk Memperkaya Wawasan dan

Pengetahuan Tentang Materi Ajar d) Memahami dan Bekerja dalam Dinamika Kelompok e) Akuntabel Terhadap Tindakan Diri dan Kelompok f) Menghargai Usaha baik Diri Sendiri Dan Usaha Baik Orang Lain

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

Pendahuluan
Tidak terhitung banyaknya spesies fauna telah menghuni planet bumi kita ini. Boleh dikata tidak banyak dari jumlah itu yang masih tersimpan sebagai fosil untuk dapat diselidiki kembali. Sisanya hancur tidak berbekas oleh berbagai proses alam seperti metamorfosa, kikisan, gunung api, gempa bumi, dan lain sebagainya. Dari fosil yang ditemukan, yang paling banyak jumlahnya adalah sangat lembut dan kecil ukurannya seperti serbuk sari, cangkang hewan kecil seperti forminifera, ostrakoda, dan radiolaria. Hean lebih besar biasanya hancur bercerai berai dan bagiannya tertentu ditemukan kembali sebagai fosil. Untuk dapat berobah menjadi fosil, yang utama ialah bahwa jasad hidup yang mati itu terhindar dari pembusukan. Dengan kata lain, segera setelah mereka mati, hendaknya mereka dibungkus ataupun terkubur sedemikian rupa sehingga bakteri pembusuk tidak dapat menghinggapinya. Atau keadaan keliling tempat mati tempat mati jasad tersebut sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan bakteri pembusuk dapat hidup. Bahan pembungkus tersebut dapat berbagai macam sifatnya, mulai dari sedimen biasa, laisan es, aspal, damar dan lain-lain. Dalam prinsipnya, proses terjadinya fosil mirip seperti halnya membuat buah ataupun sayuran kalengan, tetapi fosil lebih lama bertahan daripada hasil manusia tersebut. Meskipun demikian dalam berjutajuta tahun kemudian, fosil dapat rusak dan hancur ataupun lenyap sama sekali karena berbagai proses geologi misalnya orogenesa, pelipatan, kikisan, kegiatan gunung api, gempa bumi ataupun oleh manusia itu sendiri. Fosil tidak harus merupakan sisa hewan atau tumbuhan dalam keadaan lengkapnya. Keadaan yang akhir ini malahan merupakan suatu ketidak biasaan, karena hampir semua fosil yang ditemukan selalu memperlihatkan kerusakan

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

ataupun kekurangan dalam morfologinya. Jadi sobekan daun, sekeping sisik, tapak kaki, koprolit (kotoran), telor, sebuah gigi, dan lain-lain bagian yang kecil dan lembut yang disebut fosil. Oleh sebab itu oleh bangsa romawi diciptakan istillah fosil untuk berbagai benda ajaib dan aneh yang digali dari dalam tanah. Fosil tidak hanya mencakup fauna ataupun flora yang telah musnah di zaman lampau. Sebagai misalnya, species tertentu dari rodentia yang diketemukan sebagai fosil di Eropa dan Australia ternyata ditemukan dalam keadaan masih hidup di kedua daratan tersebut pada waktu sekarang. Demikian pula ikan coelacant yang dianggap punah di zaman devon, sekitar 320 juta tahu yang lalu, ternyata masih hidup di lautan dalam sekitar kepulauan comoro, diantara benua Afrika dan pulau Malagasi. Pengertian Fosil

Fosil, dari bahasa Latin fossa yang berarti "menggali keluar dari dalam tanah. Fosil adalah semua sisa, jejak, ataupun cetakan dari manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan yang telah terawetkan dalam suatu endapan batuan dari masa geologis atau prasejarah yang telah berlalu. Fosil mahluk hidup terbentuk ketika mahluk hidup pada zaman dahulu (lebih dari 11.000 tahun) terjebak dalam lumpur atau pasir dan kemudian jasadnya tertutup oleh endapan lumpur. Endapan lumpur tersebut akan mengeras menjadi batu di sekeliling mahluk hidup yang terkubur tersebut. Dari fosil yang ditemukan, yang paling banyak jumlahnya adalah yang sangat lembut ukurannya seperti serbuk sari, misalnnya foraminifera, ostracoda dan radiolarian. Sedangkan, hewan yang besar biasanya hancur bercerai-cerai dan bagian tertentu yang ditemukan sebagai fosil. Fosil adalah sisa-sisa organisme yang pernah hidup di waktu silam, yang diawetkan oleh alam.

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

B. Pengertian Fosilisasi Fosilisasi / proses pemfosilan adalah semua proses yang melibatkan

penimbunan hewan atau tumbuhan dalam sedimen yang terakumulasi serta pengawetan ( seluruh atau sebagian ) maupun pada jejak-jejaknya.

* Transportasi : proses terangkutnya endapan klastik dari lokasi batuan induknya untuk di pindahkan ke tempat lain. * Pelaksana transportasi : air, angin, gletser * Transportasi akan terhenti : tenaga yang mentransport sudah lemah sehingga tidak mampu melaksakan transportasi tersebut : lereng landai pada saat transportasi berhenti terjadi proses deposisi (pengendapan) * Pengendapan : proses teronggoknya endapan klastik di suatu tempat akibat sudah

berhentinya proses transportasi. * Tempat pengendapan : Pengendapan terjadi pada tempat-tempat yang disebut sebagai lingkungan pengendapan : tempat-tempat di muka bumi yang berupa lekukan (cekungan) dimana sedimen mengalami pengonggokan * lingkungan pengendapan : darat (non marine) : sungai, danau, rawa, padang pasir laut (marine) : delta, teluk, lagun, laut dangkal, daerah terumbu (reef), laut dalam.

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

C. Syarat Fosilisasi Syarat syarat terjadinya fosilisasi : 1. Terjadi secara alami 2. Berumur lebih dari 11.000 tahun 3. Cepat terkubur oleh sedimentasi 4. Setelah terkubur tidak terserang air tanah yang bersifat korosif 5. Berjumlah banyak dan relatif berukuran kecil 6. Tidak Rusak Karena Proses Pelapukan, Tektonik, Magmatik Atau Metamorfisme 7. Mahkluk hidup yang mati tidak menjadi mangsa mahkluk lainnya. 8. Punya bagian tubuh seperti rangka (tulang/gigi) yang keras (resisten) 9. Rongga-rongga pada bagian yang keras terisi oleh zat kerisik sehingga struktur kimianya berubah tanpa mengubah struktur fisik. 10. Terkondisikan dengan pengawetan oleh Es atau salju 11. Organisme mengalami penutupan / kejatuhan oleh Getah 12. Organisme berada pada lingkungan Anaerob (tida ada kandungan oksigen) 13. Terbebas dari bakteri pembusuk *Cangkang / bagian tubuh yang keras Cangkang atau bagian tubuh keras memungkinkan untuk tidak gampang rusak oleh proses pembusukan, erosi dan transportasi. * Jumlah banyak & Ukuran Kecil 1. Jumlah yang banyak memungkinkan masih ada sisa yang relatif utuh seandainya sebagian besar mengalami kerusakan 2. Ukuran kecil sukar mengalami abrasi, sehingga dalam satu volume batuan yang kecil masih dijumpai banyak fosil yang berukuran kecil sedang kalau ada fosil besar paling merupakan perwakilan dari satu macam organisme saja. *Cepat terkubur oleh sedimentasi 1. Organisme terbebas dari faktor predasi (pemangsa) dan bakteri pembusuk. 2. Organisme terbebas dari faktor pelapukan dan abrasi * Tidak diserang air tanah sehingga Fosil yang tersimpan tidak akan laru

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

*Tidak

Rusak

Karena

Proses

Pelapukan,

Tektonik,

Magmatik

Atau

Metamorfisme 1. Proses tektonik kemungkinan akan merusak atau menghancurkan jenis fosil yang berukuran besar

2. Proses hilang

magmatik

dan

metamorfisme

akan

menghancurkan

(merekristalisasikan) semua jenis fosil dari semua ukuran sehingga

D. Faktor Penghambat Fosilisasi

Faktor faktor penghambat fosilisasi adalah suatu kondisi di mana mahkluk hidup yang mati tdak akan menjadi fosil karena terganggu proses pemfosilanya yang disebabkan oleh : 1. Setelah mahkluk hidup mati, organisme tersebut di makan oleh pemangsa 2. Setelah mahkluk hidup mati, organisme tersebut di uraikan oleh bakteri pembusuk 3. Adanya pengaruh lamanya pengendapan atau proses sedimentasi 4. Pegaruh besarnya butir pada material sediment yang merusakkan fosil

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

10

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

5. Pengaruh dari proses proses geologi yang berakibatkan merusak calon fosil (contoh : kekar, sesar, intrusi magma dll) 6. Adanya pengaruh dari zat zat kimia yang merusakkan fosil (contoh : zat yang dapat melarutkan dan menghancurkan fosil dll)

E. Asal Usul dari Fosil

Asal usul dari Fosil (dengan tinjauan tempat dan proses hidup sampai pemfosilannya) di bagi menjadi dua yaitu : 1. Biocoenoses : fosil yang dari masa hidupnya sampai terfosilkannya berada di tempat yang sama 2. Thanatocoenoses : fosil yang dari masa hidupnya sampai terfosilkannya berada di tempat yang berbeda F. Proses Pemfosilan 1. Proses Tak Termineralisasi : Kondisi pemfosilan yang tidak ada campur tangan mineral yang masuk dalam fosil (sangat mirip dengan kondisi awal saat hidup) a) Fosil yang tidak mengalami perubahan : fosil yang bentuknya sama dengan kondisi diwaktu fosil tersebut masih hidup. Contoh : Fosil mammoth dalam lapisan es & Fosil lalat pada batu amber ,lalu mati ,lalu mati

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

11

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

b) Fosil yang terubah sebagian : fosil yang ditemukan dengan bentuk tidak utuh dan hanya tertinggal dalam bentuk bagian bagian tubuh yang keras. Contoh : taring, tulang, kuku, cangkang dll.

c) Distilasi atau hasil karbonisasi : hilangnya zat zat kimia di dalam tubuh mahkluk hidup yang terfosilkan dan meninggalkan sisa / residu karbon ( C ) yang kemudian terkumpul dan terakumulasi. Contoh : Batu bara.

d) Tertetesi / Amber : suatu kondisi dimana suatu mahkluk hidup terfosilkan karena terperangkap oleh getah tanaman . ciri ciri dari amber adalah fosil yang terjadi bila di keluarkan dari amber akan terasa lunak dan kondisinya masih bagus seperti aslinya. Contoh : serangga yang terjebak di dalam getah pohon pinus dan damar.

e) Pemfosilan berupa mumi Seperti pemfosilan di gua yang yang sangat kering (tidak lembab) sehingga hewan dan tumbuhan terhidar dari bakteri pembusuk.

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

12

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

f) Pemfosilan dalam aspal Beberapa aspal di dunia terdapat berbagai tempat dimana aspal keluar dari dalam tanah dan menjadi danau aspal. Banyak hewan yang terjebak kedalam danau aspal ini dan kemudian tidak dapat keluar lagi dan mati ditempat itu. Dengan begini tempat itu mengandung beratus-ratus fosil seperti misalnya yang ditemukan di racho la brea di california dan di daerah eropa g) Pemfosilan dengan cara pembekuan Dalam hal ini hewan mati tertutupserta terlindung oleh lapisan es yang membekukannya dengan segera. Oleh karena dinginnya es tersebut maka tidak ada bakteri pembusuk yang dapat hidup dalam bangkai tersebut, Contohnya fosil mammouth yaitu sebangsa gajah purba dari zaman glasial (zaman es) di daerah siberia, eropa dan amerika utara

2.

Proses Termineralisasi

Berdasarkan material yang mengubahnya serta cara terubahnya 1) Replacement / pergantian. Pergantian total materi penyusun rumah organisme oleh mineral-mineral asing. Contoh fosil cangkang tergantikan oleh mineral kalsium karbonat 2) Histometabasis. Pergantian total tiap molekul dari jaringan tumbuhan oleh mineral asing yang meresap kedalam jasad tumbuhan, namun struktur mikropisnya masih terpelihara dan Nampak dengan jelas mineral pengganti tersebut. Contoh agate, chert, kalsedon, dan opak. 3) Permineralisasi. Pengisian oleh mineral asing kedalam tiap pori dalam kulit kerang tanpa mengubah material penyusunnya yang semula (tulang/kulit kerang) 4) Dehydrasi/Leaching/Pelarutan Proses pelarutan oleh dinding tanah 5) Rekristalisasi. Berubahnya seluruh/sebagian tubuh fosil akibat P (Suhu) & T (Tekanan) yang tinggi, sehingga molekul-molekul dari tubuh fosil ( nonkristalin) akan mengikat agregat tubuh fosil itu sendiri menjadi kristalin.
13

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

c.

Proses pemfosilan yang lain

1) Mold, Cetakan tapak yang ditinggalkan oleh organisme berelief tinggi. Mold ada 2, yaitu internal mold (yang tercetak adalah bagian dalam/jejak bagian dalam) dan external mold (cetakan tapak atau jejak bagian luar) 2) Cast, Cetakan dari jejak oleh material asing yang terjadi apabila rongga antar tapak dan tuangan terisi oleh zat lain dari luar tetapi fosilnya sendiri telah lenyap. Cast terbagi 2, yaitu internal cast (yang tercetak adalah bagian dalam dari mold) dan external cast (yang tercetak adalah bagian luar dari mold) 3) Gastrolit, Fosil yang dahulu tertelan oleh salah satu hewan tertentu. Contoh reptile, membantu proses pencernaan. 4) Koprolit, adalah kotoran binatang yang menjadi fosil yang berbentuk nodul-nodul memanjang dengan komposisi phosphatik. 5) Foot print, Jejak kaki hewan yang terfosilkan. 6) Trail, Jejak ekor binatang yang terfosilkan 7) Track, Jejak kuku binatang yang terfosilkan 8) Burrow, yaitu lubang-lubang tempat tinggal yang ditinggalkan binatang purba atau lubang yang dibuat oleh organisme untuk mencari mangsa/makan dan hidup. 9) Borrings, yaitu lubang yang digunakan untuk menyimpan makanan. 10) Tube, yaitu lubang hasil aktivitas organisme yang berbentuk pipa/tabung. 11) Impression, yaitu jejak-jejak organisme yang memiliki relief yang rendah. Contoh : bekas daun yang jatuh di lumpur, jadi yang tercetak hanya jejaknya. G. Fosil dan Litologi Batuan

1. Batuan Beku Pada batuan beku tidak akan dijumpai fosil karena batuan beku terbentuk dari hasil pembekuan magma, sehingga tidak mungkin terdapat fosil 2. Batuan Sedimen

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

14

Makrofosil SMK Kelas X

Ilmu paleontologi terapan

Batuan sedimen sangat baik untuk pengendapan organisme, sehingga akan banyak terkandung fosil di dalam batuan sedimen tersebut 3. Batuan Metamorf Pada batuan metamorf, masih mungkin dijumpai, namun sedikit sekali & umumnya fosil tersebut telah hancur bahkan telah hilang oleh proses metamorfisme

Created By: Yosep Permana PPGT Geology Pertambangan UNP

15