Anda di halaman 1dari 5

I.

Definisi Psoriasis ialah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronis dan residif, ditandai dengan adanya bercak bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis lapis dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner 1. Psoriasis adalah penyakit kulit akibat inflamasi kronis dengan riwayat kuat genetik, dicirikan dengan perubahan komplek pertumbuhan epidermis dan diferensiasi dan abnormalitas biokimia multipel, imunologis dan vaskuler, dan belum adanya kejelasan hubungannya dengan sistem saraf yang berefek pada kulit dan sendi2,3. II. Sinonim Psoriasis juga disebut psoriasis vulgaris berarti psoriasis yang biasa, karena ada psoriasis lain, misalnya psoriasis pustulosa1. III. Epidemiologi Kasus Psoriasis makin sering dijumpai. Meskipun penyakit ini tidak menyebabkan kematian, tetapi menyebabkan gangguan kosmetik, terlebih mengingat bahwa perjalanannya menahun dan residif. Insiden pada orang kulit putih lebih tinggi daripada penduduk kulit berwarna. Di eropa dilaporkan sebanyak 3 7 %, di Amerika Serikat 1-2 %, sedangkan di Jepang 0,6%. Pada bangsa berkulit hitam, misalnya di Afrika, jarang dilaporkan, demikian pula bagnsa Indian di Amerika. Insiden pada pria sama dengan wanita2,3,4 , psoriasis terdapat pada semua usia, tetapi umunya pada orang dewasa1 , meskipun biasanya muncul pertama kali pada umur 15 25 tahun.2 IV. Etiopatogenesis Psoriasis adalah penyakit kulit akibat inflamasi kronis dengan riwayat kuat genetik, dicirikan dengan perubahan komplek pertumbuhan epidermis dan diferensiasi dan abnormalitas biokimia multipel5, imunologis dan vaskuler, dan belum adanya kejelasan hubungannya dengan sistem saraf 3,7. Faktor Genetik Berperan. Bila orang tuanya tidak menderita psoriasis resiko mendapat psoriasis 12 %, sedangkan jika salah seorang orang tuanya menderita psoriasis, resikonya mencapai 34 39% 1, dan jika saudara kandungnya menderita psoriasis resikonya 6% 3. Berdasarkan awitan penyakit dikenal dua tipe : psoriasis tipe I dengan awitan dini bersifat familial dan psoriasis tipe II dengan awitan lambat dan non familial. Hal lain yang menyokong adanya faktor genetik ialah bahwa psoriasis berkaitan dengan HLA. Psoriasis tipe I berhubungan dengan HLA B13, B17, Bw57 dan Cw6. Psoriasis tipe II berkaitan dengan HLA-B27 dan Cw2, sedangkan psoriasis pustulosa berkaitan dengan HLA-B271,3,7. Faktor imunologik juga berperan. Defek genetik pada psoriasis dapa diekspresikan pada salah satu dari tiga jenis sel, yakni limfosit T, sel penyaji antigen (APC dermal), atau keratinosit. Lesi psoriatik matang umumnya penuh dengan sebukan limfosit T pada dermis terutama T CD4, sedangkan pada lesi baru umumnya didominasi oleh limfosit T CD8. Pada Psoriasis pembentukan epidermis (turn over time) lebih cepat, hanya 3 4 hari, sedangkan pada kulit yang normal lamanya 27 hari. Nikoloff (1998) berkesimpulan bahwa psoriasis merupakan penyakit autoimun. Lebih dari 90% kasus dapat mengalami remisi setelah diobati dengan imunosupresif. Berbagai faktor pencetus pada psoriasis yang disebut dalam kepustakaan, diantaranya stes psikis, infeksi lokal, trauma (fenomena kobner), endokrin, gangguan metabolik7, obat, juga alkohol dan merokok.3,4

V. Gejala Klinis Keadaan umum tidak dipengaruhi, kecuali pada psoriasis yang menjadi eritroderma. Sebagian penderita mengeluh gatal ringan. Tempat predileksi pada skalp, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut dan daerah lumbosakral.1,2,3,4,6 Kelainan kulit terdiri atas bercak bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama di atasnya. Eritema sirkumskrip dan merata tetapi pada stadium penyembuhan sering eritema di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapis lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan berariasi : lentikular, numular atau plakat, dapat berkonfluensi1,2. Jika seluruhnya atau sebagian besar lentikular disebut psoriasis gutata1. Terdapat fenomena tetesan lilin, auspitz sign dan Kobner (isomorfik). Kedua fenomena yang disebut terlebih dahulu dianggap khas, sedangkan yang terakhir tidak khas, hanya kira kira 47% yang positif dan didapati pula pada liken planus dan veruka plana juvenilis1. Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada goresan, seperti lilin yang digores, disebabkan oleh perubahan indeks bias. Pada fenomena Auspitz tampak serum atau darah yang disebabkan oleh papilomatosis. Trauma pada kulit penderita psoriasis, misalnya garukan, dapat menyebabkan kelainan yang disebut fenomena Kobner. Psoriasis dapat menyebabkan kelainan kuku, yakni sebanyak kira kira 50%,yang khas ialah pitting nail atau nail pit.1,2,3,4,8 oil spots (perubahan kuku menjadi kuning-coklat) dan onikolisis (terangkat dan terbelahnya ujung kuku)10 Disamping menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku, penyakit ini dapat pula menyebabkan kelainan pada sendi.1,9 Umumnya bersifat poliartikular, terbanyak pada sendi interphalangs distal, terbanyak pada usia 30 50 tahun1, dialami oleh 10 30% penderita psoriasis9. Bentuk Klinis : 1. Psoriasis Vulgaris (Psoriasis Plak) 2. Psoriasis Gutata 3. Psoriasis Inversa (Psoriasis Flexural) 4. Psoriasis Eksudativa 5. Psoriasis Seboroik (seboroiasis) 6. Psoriasis Pustulosa 7. Eritroderma Psoriatik 1,2 Derajat Keparahan :

Derajat psoriasis digolongkan dalam tingkatan ringan (dialami <3%>10% tubuh). Ada beberapa skala lain yagn digunakan untuk memperkirakan derajat keparaha psoriasis. Derajat keparahan umumnya berdasar beberapa faktor : proporsi dari permukaan tubuh yang terkena, aktifitas penyakit (derajat kemerahan, ketebalan dan skala plak), respon terapi sebelumnya dan dampak penyakit terhadap penderita. VI. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan darah rutin, Albumin, gula darah kolesterol dan asam urat8 VII. Pemeriksaan Histopatologi Psoriasis memberikan gambaran histopatologi yang khas, yakni parakeratosis dan akantosis. Pada stratum spinosum terdapat kelompok leukosit yang disebut abses Munro. Selain itu terdapat pula papilomatosis dan vasodilatasi subepidermis. VIII. Diagnosis Diagnosis ditegakkan bila didapatkan adanya bercak bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis lapis dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan histopatologis sifatnya membantu dalam penegakan diagnosis klinis. IX. Diferensial Diagnosis 1. Dermatofitosis 2. Sifilis Psoriasiformis 3. Dermatitis Seboroik 4. Pitiriasis rosea 5. Parapsoriasis 1,8,12 X. Terapi Tidak ada pengobatan yang paling bagus. Menggunakan rotational terapi. Pengobatan Sistemik 1. Kortikosteroid 2. Obat Sitostatik 3. Levodopa 4. DDS

5. Etretinat 6. Siklosporin Pengobatan Topikal 1. Preparat ter 2. Kortikosteroid 3. Ditranol (antralin) 4. Pengobatan dengan penyinaran 5. Calcipotriol 6. Tazaroten 7. Emolien PUVA XI. Prognosis Meskipun psoriasis tidak menyebabkan kematian tetapi bersifat kronis dan residif.

DAFTAR PUSTAKA 1. Djuanda A. 2007. Dermatosis Eritroskuamosa. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima Cetakan kedua. Editor: Adhi Djuanda. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. pp: 189 - 195 2. Wikipedia. 2009. Psoriasis (diakses 29 Juli 2009). Tersedia di: http://en.wikipedia.org/wiki/Psoriasis 3. Rea T & Modlin R. 2008. Psoriasis. Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. Edisi Ketujuh, Volume 2. New York. McGraw-Hill Book Co. pp: 169 - 193 4. Wolf K & Johnson RA. 2009. Psoriasis. Fitzpatrick's Color Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi Keenam. New York. McGraw-Hill Book Co. pp: 53 - 67 5. Grove T & Mulfinger L. 2001. The Pathogenesis of Psoriasis: Biochemical Aspects. (diakses 29 Juli 2009). Diambil di :

http://www.jyi.org/volumes/volume4/issue1/articles/grove.html 6. Gordon R. 2009. Psoriasis. (diakses 30 Juli 2009). Tersedia di : http://emedicine.medscape.com/article/762805-overview 7. Rahat SA & Joel MG. 2008. Psoriasis and Metabolic Disease: Epidemiology and Pathophysiology. (diakses 30 juli 2009). Tersedia di : http://www.medscape.com/viewarticle/576496 8. Siregar RS. 1996. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta : EGC. 9. Wikipedia. 2009. Psoriatic Arthtiris (diakses 31 Juli 2009). Tersedia di : http://en.wikipedia.org/wiki/Psoriatic_arthritis 10. Wikipedia. 2009. Nail Psoriasis (diakses 31 Juli 2009) Tersedia di : http://en.wikipedia.org/wiki/Psoriatic_nails 11. Lui H. 2009. Psoriasis, Plaque: Differential Diagnoses & Workup. (diakses 31 juli 2009). Tersedia di : http://emedicine.medscape.com/article/1108072-diagnosis. 12. Wong HK. 2009. Parapsoriasis. (diakses 31 Juli 2009). Tersedia di : http://emedicine.medscape.com/article/1107425-overview