Anda di halaman 1dari 2

21 keputusan pada berbagai pilihan, dan terkadang diwujudkan dalam konfrontasiantara kekuatan sosial.

Dalam arti luas, konsep konflik telah ditarik dandipergunakan untuk menggambarkan setiap perselisihan yang dihasilkan olehsetiap aspek dari situasi sosial.Konflik manusia menurut Campbell (2006: 157) mempunyai derajatkompleksitas dan intensitas yang dapat di temui dalam individu, kelompok dannegara-negara seluruh dunia. Konflik sosial biasanya timbul ketika dua belahpihak atau lebih mencapai tujuan yang tidak kompatibel dan pada tahapberikutnya keduanya melakukan perjuangan untuk mencapai tujuan dan salingmengalahkan. Potensi konflik akan meningkat seiring dengan meningkatnyapartisipasi sosial dan perubahan budaya yang cepat. Variasi budaya menyebabkanbervariasinya tingkatan dan bentuk konflik.Ritzer (2005: 134) membagi konsep teori konflik yang muncul di Amerikamenjadi tiga, dua dikhususkan untuk menghidupkan kembali Marx dan Weber(dengan memasukkan unsur-unsur Simmelian) dan sepertiga menggabungkanunsur-unsur baik Marx dan Weber. Hal ini menandai tumbuhnya teori konflik neo-Marxis, neo-Weberian, dan historis-komparatif. Di samping itu muncul jugateori umum yang lebih spesifik terkait dengan gerakan sosial dan identitas politik (misalnya, etnis dan gender). Bagaimanapun teori kritis tidak mengalamikebangkitan yang sama di Amerika, sebagian didominasi Eropa atau telahdimasukkan ke dalam kebangkitan teori konflik Marxis.Pendekatan yang agak berbeda dari Marxis dan Weberian menurut Ritzer(2005: 136) adalah teori konflik dalam tradisi sejarah komparatif dengan menekankan pada dua faktor dasar. Satu faktor adalah kondisi yang menyebabkanmassa melakukan mobilisasi ideologi, politik, dan organisasi untuk melakukankonflik terhadap negara dan elit yang mendominasi mereka. Faktor dasar keduaadalah kekuatan yang mengarah pada kerusakan pada kekuasaan negara dandikarenakan kapasitasnya untuk melakukan kontrol terhadap populasi. Faktorpertama memiliki penekanan Marxis, dengan perbaikan Weberian, sedangkanyang kedua adalah lebih sejalan dengan kekhawatiran Weber tentang kapasitasnegara untuk mendominasi populasi.Termasuk juga dalam teori ini menurut penulis adalah Teori collectivebehavior NJ. Smelser. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam bukunyaCollective Behavior (1971: 4) bahwa dalam konteks pendekatan historis menurutSmelser meneliti perilaku kolektif dilakukan dengan tiga alasan. Pertama karenaperilaku kolektif terjadi secara spontan dan berubah-ubah. Perilaku ini bisaberawal dari perilaku seseorang yang menjadi sentral kemudian berkembangmenjadi kerumunan, kelompok massa menjadi terpengaruh dan akhirnya mencarisebuah pembenar perilaku bersama. Kedua, banyak perilaku kolektif membangkitkan reaksi emosional yang kuat. Ketiga, Kejadian perilaku kolektif rata-rata tidak dapat diamati dengan eksperimen . Hal ini ditegaskan kembali olehSmelser dalam bukunya International Encyclopedia of the Social & BehavioralSciences (2001: 2207) bahwa perilaku kolektif ini apabila dirunut secara ilmiahmerupakan keberlanjutan dari pendekatan historis komparatif dalam teori konflik.Dalam menguak latar belakang terjadinya konflik kekerasan pasca pilkada diTuban tahun 2006, pendekatan collective behavior menurut penulis sesuai dandapat diterapkan dalam menganalisis. Kesesuaian tersebut menurut asumsi penulisdidasarkan pada kasus kerusuhan pasca pilkada yang terjadi di Tuban dilakukanoleh massa dengan jumlah yang sangat banyak. Massa tersebut bukan hanya darisatu elemen masyarakat, akan tetapi berasal dari berbagai elemen yang bersatu.Ada sebuah kondisi menyebabkan massa melakukan mobilisasi ideologi, politik,dan organisasi untuk melakukan konflik terhadap pemerintah dan elit yangmendominasi mereka. Kerusuhan yang ditimbulkan pun tidak di tempat yangsembarangan, akan tetapi pada setiap aset-aset yang dimiliki oleh lawan. Perilaku Kolektif (Collective Behavior) Istilah collective behavior /perilaku kolektif belum ada sebuah pembakuan.Istilah yang paling umum selama ini dipergunakan adalah perilaku kolektifmeskipun tidak mengacu pada fenomena penyerangan sebuah kelas. Brown dalamSmelser (1971: 2) seorang psikolog menyatakan bahwa istilah perilaku kolektif dinisbatkan untuk tindakan yang mencakup perilaku massa dan dinamika kolektif.Istilah dinamika kolektif kemudian di dukung oleh Lang-lang yangmenggambarkan tentang hubungan

khusus dalam perubahan sosial tentangperilaku kolektif. Istilah yang lebih akurat yang mencakup peristiwa yang terjadidalam kelompok-kelompok adalah ledakan kolektif dan gerakan kolektif. Ledakankolektif menurut Smelser (1971: 3) mencakup kepanikan, kegilaan, ungkapanpermusuhan, semua ini ada pemicunya dan melakukan gerakan bersama dalamperombakan nilai dan norma. Dalam arti luas perilaku kolektif mengacu padaperilaku dari dua atau lebih individu yang bertindak secara bersama-sama secara