Anda di halaman 1dari 134

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI

Kedelai
TAHUN 2013
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian 2013

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI

Kedelai
TAHUN 2013

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian 2013

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

KATA PENGANTAR
Kebutuhan kedelai nasional meningkat setiap tahunnya, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya kesadaran masyarakat akan gizi makanan, berkembangnya industri pangan dan pakan ternak. Melihat peran yang sangat strategis tersebut, peluang pengembangan kedelai dalam negeri cukup luas, iklim yang sesuai, ketersediaan teknologi tepat guna, besarnya permintaan dalam negeri serta dukungan program Pemerintah. Dalam rangka tercapainya produksi kedelai tahun 2013 upaya yang dilakukan melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam, maka disusun pedoman teknis kedelai sebagai acuan bagi daerah. Diharapkan untuk kelancaran pelaksanaan di daerah agar pedoman teknis tersebut dijabarkan kedalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) di tingkat Provinsi dan Petunjuk Teknis (Juknis) di tingkat Kabupaten/Kota. Dengan adanya Pedoman Teknis Pengelolaan Produksi Kedelai Tahun 2013 ini, diharapkan semua pihak dapat saling berkoordinasi dan bersinergi sehingga kegiatan pelaksanaan kedelai dapat berjalan sesuai yang diharapkan dan produksi kedelai tercapai. Jakarta, Januari 2013

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Udhoro Kasih Anggoro NIP. 19561106 198403 1 002

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN I. PENDAHULUAN i ii iv v 1 1 2 6 6 6 11 11 13 14

A. B. C. D. E.
II.

Latar Belakang Dasar Hukum Tujuan Maksud Pengertian

SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

A. Sasaran B. Strategi C. Kebijakan


III. PROGRAM, KEGIATAN, ANGGARAN DAN INDIKATOR KEBERHASILAN

17 17 18 22 26

A. B. C. D.

Program Kegiatan Anggaran Indikator Keberhasilan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

ii

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

IV

PENGORGANISASIAN DAN KEGIATAN

PELAKSANANAAN

PROGRAM 27 27 47 49 55 55 55 55 56 58

A. Pengorganisasian B. Tata Hubungan Kerja Operasional C. Jadwal dan Mekanisme Pengadaan Barang Jasa
V. PENGENDALIAN, EVALUASI DAN PELAPORAN

A. B. C. D.
VI.

Pengendalian Evaluasi Pelaporan Pelaksanaan Program

PENUTUP

iii

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Kedelai Tahun 2013 Skenario Peningkatan Produksi Kedelai Tahun 2013 Kriteria Kawasan SL-PTT Kedelai Indikator Kinerja dan Keluaran (Output) Kegiatan Peningkatan Produksi dan Produktivitas Kedelai Tahun 2013 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan SL-PTT Kedelai 50 51 52 60 68 71 Tahun 2013 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Model PTT Kedelai Tahun 2013 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai Tahun 2013 Kriteria Kesesuaian Agroklimat Untuk Tanaman Kedelai Daftar Nama Kedelai Berdasarkan Umur dan Warna Biji Penyebaran Varietas Kedelai Tahun 2010 26 11 12 19

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

iv

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Kedelai Tahun 2013 per Provinsi Rincian Kegiatan Pengembangan Kedelai Tahun 2013 yang Dibiayai APBN per Provinsi Rincian SL-PTT Kedelai Tahun 2013 Per Kabupaten Pembagian Lokasi SL-PTT Berdasarkan Bantuan Benih Subsidi Rincian Biaya (Unit Cost) SL-PTT Kedelai Tahun 2013 Rincian Pengembangan Kedelai Model Tahun 2013 per Kabupaten Rincian Biaya (Unit Cost) Pengembangan Model PTT Kedelai Rincian Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai Tahun 2013 per Kabupaten Daftar Calon Petani dan Calon Lokasi Penerima Bantuan Benih Bersubsidi SL-PTT dan Bansos SL-PTT Tahun 2013 Lampiran 10 Lampiran 11 Contoh Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota Lampiran Surat Keputusan Kepala Dinas Kabupaten/ Kota Penetapan Kelompoktani Penerima Dana Bansos untuk LL dan Dana Pertemuan Kelompok SL-PTT Tahun 2013 Lampiran 12 Lampiran Surat Keputusan Kepala Dinas Kabupaten/ Kota Penetapan Kelompoktani Penerima Bantuan Benih Subsidi SL-PTT Tahun 2013 Lampiran 13 Rencana Usaha Kelompok Pelaksanaan SL-PTT Tahun 2013 102 101 100 97 96 94 93 92 81 87 73 74 72

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17

Surat Pernyataan Berita Acara Pemeriksaan Barang Bantuan Paket Teknologi Budidaya Kedelai Kegiatan PATB TA. 2013 Berita Acara Serah Terima Barang Bantuan Paket Teknologi Budidaya Kedelai Kegiatan PATB TA. 2013 Rekapitulasi Berita Acara Serah Terima Barang Bantuan Paket Teknologi Budidaya Kedelai Kegiatan PATB TA. 2013

103 104 106

108 110 111 112

Lampiran 18 Lampiran 19 Lampiran 20 Lampiran 21

Laporan Kelompok Tani Pelaksana SL-PTT Mekanisme Pencairan Dana Bantuan SL-PTT Pola Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) TA. 2013 Berita Acara Penerimaan Dana Bantuan SL-PTT/ Pengembangan Model PTT Tahun 2013 Blangko Laporan Bulanan Kecamatan Realisasi SL- PTT/Pengembangan Model PTT/PATB Kedelai Tahun 2013

113 114 115 116 117 118 Akhir Provinsi Realisasi 119

Lampiran 22 Lampiran 23 Lampiran 24 Lampiran 25 Lampiran 26 Lampiran 27

Blangko Laporan Bulanan Kabupaten Realisasi SL-PTT/ Model PTT Kedelai Tahun 2013 Blangko Laporan Bulanan Kabupaten Realisasi PATB Kedelai Tahun 2013 Blangko Laporan Bulanan Provinsi Realisasi SL-PTT /Pengembangan Model PTT Kedelai Tahun 2013 Blangko Laporan Bulanan Provinsi Realisasi PATB Kedelai Tahun 2013 Blangko Laporan Akhir Provinsi Realisasi SL-PTT Kedelai Tahun 2013 Blangko Laporan Pengembangan Model PTT/PATB Kedelai Tahun 2013

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

vi

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 28 Lampiran 29 Lampiran 30

Laporan Awal Pengelolaan Produksi Tanaman Kedelai Tahun 2013 Laporan Bulanan Pengelolaan Produksi Tanaman Kedelai Tahun 2013 Laporan Akhir Pengelolaan Produksi Tanaman 122 Kedelai Tahun 2013 121 120

vii

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebutuhan akan kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan pertumbuhan penduduk. Dalam kurun waktu lima tahun ke depan (tahun 2010-2014) kebutuhan kedelai setiap tahunnya 2.300.000 ton biji kering, akan tetapi kemampuan produksi dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sebanyak 851.286 ton (ATAP Tahun 2011, BPS) atau 37,01 % dari kebutuhan sedangkan berdasarkan ARAM II tahun 2012 baru mencapai 783.158 ton atau 34,05 %. Sehingga untuk memenuhi kekurangan kebutuhan tersebut harus dipenuhi dari impor. Adanya impor tersebut akan menyebabkan berbagai kerugian bagi Indonesia antara lain: a) hilangnya devisa negara yang cukup besar, b) mengurangi kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, dan c) meningkatkan ketergantungan jangka panjang. Sehingga dengan adanya, fenomena ini akan mempengaruhi sistem ketahanan pangan nasional. Beberapa dekade ini, isu pangan nasional sering mengalami guncangan baik karena praktek perdagangan maupun karena isu perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi. Baru-baru ini, negara yang menjadi produsen kedelai seperti Amerika Serikat semakin hati-hati mengelola komoditi strategis akibat prediksi iklim kekeringan yang akan terjadi. Momentum ini merupakan suatu pembelajaran penting bagi Indonesia dalam merevitalisasi kemampuan produksi komoditi strategis yang dimiliki.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Beberapa permasalahan terjadi rendahnya produksi kedelai adalah: 1. 2. Menurunnya luas pertanaman dan luas panen kedelai. Masih rendahnya produktivitas kedelai yang dicapai, dimana di tingkat petani produktivitas rata-rata kedelai hanya mencapai 13,78 ku/ha (ARAM II Tahun 2012, BPS), sedangkan potensi produksi beberapa varietas unggul dapat mencapai 20,00 35,00 ku/ha. Hal ini dikarenakan belum optimalnya penerapan teknologi spesik lokasi di lapangan. 3. Adanya persaingan harga antar komoditi, dimana harga kedelai di tingkat petani cenderung rendah akibat dari membanjirnya kedelai impor dengan harga yang lebih murah menjadi penyebab utama berkurangnya minat petani menanam kedelai. 4. Kepemilikan lahan petani kedelai mayoritas kecil/gurem (<0,5 ha)dan komoditi kedelai seringkali dijadikan pilihan terakhir bagi petani. Bila dilihat dari perspektif waktu swasembada kedelai tahun 2014 hanya menyisakan 2 tahun pertanaman (Oktober 2012-September 2013 untuk mencapai sasaran produksi 2013 dan Oktober 2013-September 2014 untuk mencapai sasaran produksi 2014). Oleh karena itu diperlukan kerja keras untuk pencapaian produksi. Berangkat dari konteks di atas Direktorat Jenderal Tanaman Pangan merancang kegiatan untuk peningkatan produksi kedelai tahun 2013.

B.

Dasar Hukum
Menimbang : a. bahwa dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 02/ Permentan/OT.140/1/2012 telah ditetapkan Pedoman Pengelolaan Bantuan Sosial Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2012

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

b.

bahwa

dalam

rangka

pemberdayaan

sosial,

perlindungan sosial, penanggulangan kemiskinan, dan penanggulangan bencana, kegiatan penyaluran Bantuan Sosial untuk Pertanian perlu dilanjutkan dan disempurnakan pada Tahun Anggaran 2013; c. bahwa atas dasar hal tersebut di atas, dan agar pelaksanaan kegiatan Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2013 dapat berjalan dengan baik, maka perlu menetapkan Pedoman Umum Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Bantuan Sosial Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2013; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286); 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355); 3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4400); 4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2012 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2013 (Lembaran Negara Tahun 2012

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Nomor 228, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5361); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Tahun 2006 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4609) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4855); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5165); 7. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; 8. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah juncto Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah; 9. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2012 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013; 10. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 73 Tambahan Lembaran Negara 4212) juncto

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; 11. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/ PMK.06/2005 Belanja Negara; 12. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 61/Permentan/ OT.140/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian; 13. Peraturan 2013; 14. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 6452/Kpts/ KU.410/12/2012 tentang Penetapan Pejabat Pengelola Keuangan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2013; 15. Keputusan Direktur Jenderal Tanaman pangan Selaku Kuasa Pengguna Anggaran Nomor I/KPA/ SK.310/12/2013 tentang Pengangkatan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)/ dan Penanggung Jawab Teknis Kegiatan pada Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan; Menteri Keuangan Nomor 37/ PMK.02/2012 tentang Standar Biaya Umum Tahun tentang Pedoman Pembayaran

Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

C.

Tujuan
Pedoman teknis pengelolaan produksi kedelai bertujuan untuk :

1.

Menyediakan acuan bagi pelaksanaan pengembangan budidaya kedelai untuk mendukung kegiatan peningkatan produksi tahun 2013 di Provinsi dan Kabupaten/Kota

2. Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan peningkatan


produksi kedelai melalui kegiatan pengembangan budidaya kedelai antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota

3. Mempercepat penerapan komponen teknologi PTT/spesik lokasi


kedelai oleh petani sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usahataninya untuk mendukung peningkatan produksi nasional

4. Memfasilitasi dan memediasi stakeholders terkait dalam rangka


mendukung peningkatan produksi dan pengembangan komoditas kedelai dari hulu hingga hilir

5. Meningkatkan produktivitas, produksi dan pendapatan serta


kesejahteraan petani kedelai

D.

Maksud
Sebagai bahan acuan bagi pelaksanaan kegiatan dan petugas di tingkat lapang.

E.

Pengertian
1. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) adalah suatu pendekatan inovatif dalam upaya meningkatkan produktivitas dan esiensi usahatani melalui perbaikan sistem / pendekatan dalam perakitan paket teknologi yang sinergis antar komponen teknologi, dilakukan secara partisipatif oleh petani serta bersifat spesik lokasi. Komponen teknologi dasar PTT adalah teknologi yang dianjurkan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

untuk diterapkan di semua lokasi. Komponen teknologi pilihan adalah teknologi pilihan disesuaikan dengan kondisi, kemauan, dan kemampuan 2. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) adalah suatu tempat pendidikan non formal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usahatani, mengatasi permasalahan, mengambil keputusan dan menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usahataninya menjadi esien, berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan. Dengan luasan minimal 500 ha per Kabupaten/Kota 3. Laboratorium Lapangan (LL) adalah kawasan / area yang terdapat dalam kawasan SL-PTT yang berfungsi sebagai lokasi percontohan, temu lapang, tempat belajar dan tempat praktek penerapan teknologi yang disusun dan diaplikasikan bersama oleh kelompoktani / petani 4. Petugas/PemanduLapangan (PL) adalah Penyuluh Pertanian, Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), Pengawas Benih Tanaman (PBT) yang telah mengikuti pelatihan SL-PTT 5. POSKO I - V adalah Pos Simpul Koordinasi sebagai tempat melaksanakan koordinasi dalam rangka mendukung kelancaran pelaksanaan SL-PTT, POSKO yang dimaksud adalah POSKO yang telah ada misalnya POSKO P2BN 6. Rencana Usahatani Kelompok (RUK) adalah rencana kerja usahatani dari kelompoktani untuk satu periode musim tanam yang disusun melalui musyawarah dan kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani sehamparan wilayah kelompoktani yang memuat uraian kebutuhan, jenis, volume, harga satuan dan jumlah uang yang

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

diajukan untuk pembelian saprodi 7. Pupuk Organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, antara lain pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos (humus) berbentuk padat yang telah mengalami dekomposisi 8. Pengawalan dan Pendampingan oleh Peneliti adalah kegiatan yang dilakukan oleh peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) didukung oleh peneliti UK/UPT Lingkup Badan Litbang Pertanian guna meningkatkan pemahaman dan akselerasi adopsi PTT dengan menjadi narasumber pada pelatihan, penyebaran informasi, melakukan uji adaptasi varietas unggul baru, demplot, dan supervisi penerapan teknologi 9. Pengawalan dan Pendampingan oleh Penyuluh adalah kegiatan yang dilakukan oleh Penyuluh guna meningkatkan penerapan teknologi spesik lokasi sesuai rekomendasi BPTP dan secara berkala hadir di lokasi khususnya lokasi LL dalam rangka pemberdayaan kelompoktani sekaligus memberikan bimbingan kepada kelompok dalam penerapan teknologi 10. Pengawalan dan Pendampingan oleh POPT (Pengawas Organisme Pengganggu Tanaman) adalah kegiatan pendampingan oleh Pengawas OPT dalam rangka pengendalian hama terpadu 11. Pengawalan dan Pendampingan oleh Pengawas Benih Tanaman adalah kegiatan pendampingan oleh Pengawas Benih dalam rangka pengawasan benih 12. Kelompoktani adalah sejumlah petani yang tergabung dalam satu hamparan / wilayah yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan untuk meningkatkan usaha agribisnis dan memudahkan pengelolaan dalam proses distribusi, baik benih, pestisida, sarana produksi dan lain-lain

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

13. Swadaya adalah semua upaya yang berasal dari modal petani sendiri 14. Benih subsidi adalah benih padi hibrida, padi lahan kering, jagung (hibrida dan komposit) dan kedelai bersertikat kelas benih sebar (BR) yang mendapatkan subsidi bersumber dari dana APBN dalam proses pengadaan dan penyalurannya oleh PT. SHS (Persero) dan PT. Pertani (Persero) 15. Kawasan pertumbuhan adalah kawasan esksiting yang belum berkembang dengan titik berat pengembangan pada kegiatan on farm, penerapan teknologi budidaya, penyediaan sarana dan prasarana pertanian, penguatan kegiatan, penyuluhan pertanian 16. Kawasan pengembangan adalah kawasan pada kondisi yang cukup berkembang dengan titik berat pengembangan on farm, kelembagaan tani, penyediaan sarana dan prasarana, penyuluhan 17. Kawasan pemantapan adalah kawasan yang telah berkembang dengan titik berat pengembangan pada penguatan kelembagaan, peningkatan mutu, penguatan akses pemasaran, pengembangan pasca panen, pengembangan olahan 18. Pengembangan Model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Kedelai adalah sarana mempercepat desiminasi/transfer teknologi PTT dengan luasan minimal 5.000 ha per Kabupaten/Kota 19. Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai adalah perluasan areal tanam kedelai pada lahan-lahan yang sebelumnya tidak pernah ditanami kedelai dan atau dulu pernah ditanam kedelai tetapi sekarang tidak ditanami lagi (peningkatan IP) bisa pada lahan sawah beririgasi, sawah tadah hujan, lahan pasang surut/rawa, lahan kering, lahan perhutani dll dengan luasan minimal 250 ha per Kabupaten/Kota 20. Belanja bantuan bansos adalah pengeluaran berupa transfer uang,

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

barang atau jasa yang diberikan oleh Pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi masyarakat dari kemungkinan terjadinya resiko sosial, meningkatnya kemampuan ekonomi dan / atau kesejahteraan masyarakat 21. Dana bantuan sosial adalah penyaluran atau transfer uang kepada kelompok/masyarakat pertanian yang mengalami resiko sosial keterbatasan modal sehingga mampu mengakses pada lembaga permodalan secara mandiri

10

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

II. SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN


A. Sasaran
1. Sasaran Produksi Tahun 2013 Dalam upaya peningkatan produksi kedelai menuju swasembada tahun 2014, maka ditetapkan sasaran produksi kedelai tahun 2013 sebesar 50% dan tahun 2014 sebesar 80%. Sasaran produksi kedelai tahun 2013 sebesar 1.500.000 2.250.000 ton, jika dibanding dengan produksi berdasarkan Aram II 2012 sebesar 783.158 ton meningkat 91,53% 187,30%. Sasaran luas tanam, luas panen, produktivitas dan produksi kedelai tahun 2013 seperti pada tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Kedelai Tahun 2013
No 1 2 3 4 Uraian Luas Tanam (ha) Luas Panen (ha) Produktivitas (ku/ha) Produksi (ton) Roadmap Awal 1,538,000 1,465,000 15.36 2,250,000 Usulan Revisi 1,018,500 970,000 15.46 1,500,000

2.

Skenario Pencapaian Produksi Dari sasaran tersebut diatas pencapaian produksi kedelai tahun 2013 akan ditempuh melalui Peningkatan Produktivitas pada areal tanam yang selama ini telah terbiasa melakukan budidaya kedelai seluas 600.000 ha dan Perluasan Areal Tanam yang diarahkan merupakan lahan areal tanam baru diluar areal tanam yang sudah terbiasa bertanam kedelai, seluas 418.500 ha. Adapun

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

11

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

secara rinci sasaran capaian produksi kedelai 2013 seperti pada tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Skenario Peningkatan Produksi Kedelai Tahun 2013
No. 1 Uraian Peningkatan Produktivitas a. Kegiatan SL-PTT pada eksisting area pola kawasan b. Pembinaan areal Swadaya + subsidi Rhizobium+Ca 2 Perluasan Areal Tanam a. Pengembangan Model PTT areal baru b. Perluasasan Areal Tanam Baru (PATB) peningkatan IP c. Pengembangan kedelai Perhutani (GP3K) d. Perluasan areal swadaya JUMLAH di lahan Luas Tanam (Ha) 600,000 455,000 145,000 418,500 110,000 118,250 10,000 180,250 1,018,500 Luas Panen (Ha) 571,440 433,342 138,098 398,560 104,764 112,621 9,523 171,652 970,000 Produktivitas (ku/ha) 15.07 16.00 14.14 15.68 17.00 17.00 15.00 13.73 15.46 Produksi (Ton) 888,618 693,347 195,271 611,382 178,099 191,456 13,244 228,583 1,500,000

Skenario pencapaian produksi 2013 dapat terealisasi apabila seluruh faktor kunci dan pendukung peningkatan produksi berikut ini dapat dipenuhi: a. Fasilitasi pemerintah dalam penyediaan bantuan sarana produksi. b. Kebijakan harga (HPP) dan pemasaran hasil kedelai c. Penyediaan anggaran dan pembiayaan Berdasarkan skenario pencapaian 2013 kedelai di atas kegiatan yang dibiayai oleh APBN 2013 adalah SL-PTT Kedelai seluas 455.000 ha, Pengembangan Model PTT Kedelai seluas 110.000 ha dan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) kedelai seluas 118.250 ha. Sedangkan untuk swadaya di lahan eksisting seluas 145.000 ha dan perluasan areal swadaya seluas 180.250 ha, dan perluasan areal tanam di lahan perhutani seluas 10.000 ha sehingga sasaran produksi kedelai 2013 diharapkan akan tercapai sebesar 1.500.000 2.250.000 ton.

12

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

B.

Strategi
Pencapaian peningkatan produksi kedelai tahun 2013 dilakukan melalui strategi sebagai berikut : 1. Peningkatan Produktivitas Upaya peningkatan produktivitas dilaksanakan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas sistem perbenihan kedelai, perbaikan teknik budidaya kedelai di tingkat petani, memperlancar penyediaan saprodi, modal dan teknologi, dan mempercepat adopsi paket teknologi melalui SL-PTT disertai pengawalan, sosialisasi, pemantauan, pendampingan dan koordinasi. 2. Perluasan Areal dan Pengelolaan Lahan Perluasan areal dan optimasi lahan dilaksanakan dengan menarik minat dan gairah petani dan investor dalam pengembangan kedelai, meningkatkan IP, dalam rangka optimalisasi lahan dan teknologi, perluasan wilayah baru, untuk mengembangkan pusat pertumbuhan, pengembangan kerjasama investor dengan petani dan kooperasi, pengembangan produksi kedelai skala besar untuk bahan baku industri, dan pengembangan budidaya tumpang sari dengan ubi kayu. 3. Pengamanan Produksi Pengamanan produksi dilakukan melalui pengendalian OPT dan antisipasi dampak fenomena iklim serta pengurangan kehilangan hasil dengan menerapkan gerakan manajemen pasca panen, teknologi panen melalui mobilisasi peralatan, sabit bergerigi, terpal, pedal dan power threser.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

13

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

4.

Penyempurnaan Manajemen Strategi tersebut dilakukan melalui 1) Kebijakan pasar, distribusi dan harga hasil produksi, 2) Perbaikan system perkreditan pertanian, 3) Penguatan sistem data, 4) Pengembangan kawasan food estate, 5) Pengembangan system resi gudang, 6) Penguatan petugas lapangan, 7) Pemantapan pola pengadaan saprodi, 8) Penataan kebijakan subsidi pertanian, 9) Meningkatkan intensitas koordinasi Pusat, daerah dan seluruh stakeholder.

C.

Kebijakan
Kebijakan yang ditempuh untuk swasembada kedelai tahun 2014 pada dasarnya diarahkan untuk mendorong terwujudnya usaha tani kedelai yang memiliki daya saing terhadap kedelai impor, memenuhi kebutuhan kedelai nasional serta untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dasar pengambilan kebijakan tersebut berasal dari 4 (empat) Sukses Program Kementerian Pertanian, Gema Revitalisasi Pertanian. Kebijakan kebijakan yang di tempuh meliputi: 1. 2. 3. 4. Meningkatkan produksi kedelai menuju swasembada tahun 2014 Mengembangkan agribisnis kedelai dengan menumbuhkembangkan peran swasta, koperasi dan BUMN Meningkatkan sumber permodalan usaha tani yang mudah di akses petani Mengembangkan sistem pemasaran hasil panen dan merevitalisasi tata niaga yang kondusif bagi petani

14

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Secara

operasional,

kebijakan

pembangunan

tanaman

pangan

khususnya untuk Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi diprioritaskan pada pencapaian swasembada kedelai tahun 2014. Dalam pencapaian swasembada tersebut perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif. Dukungan kebijakan untuk menciptakan iklim usahatani kedelai yang kondusif diantaranya dengan: 1. Harga Usaha tani kedelai dapat berjalan apabila petani memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. Oleh karena itu pemerintah perlu menjaga kestabilan harga dan pasar melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah. Dalam pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan stakeholder terkait, baik pada tingkat pusat, Propinsi maupun Kabupaten/Kota. 2. Penetapan Tarif Bea Masuk Produk kedelai impor sering membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Hal ini dapat menghancurkan agribisnis kedelai dalam negeri. Oleh karena itu perlindungan terhadap petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut. Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan dengan produk impor, pemerintah menerapkan pemberlakuan tarif bea masuk impor.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

15

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

3.

Penyederhanaan Tataniaga Rantai tataniaga kedelai dalam negeri cenderung rumit dan panjang sehingga selisih harga di tingkat produsen (petani) dengan harga di tingkat grosir dan eceran cukup mencolok. Untuk meminimalisir hal tersebut, pemerintah perlu mengatur tataniaga kedelai agar lebih sederhana dengan rantai tataniaga yang lebih pendek.

16

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

III. PROGRAM, KEGIATAN, ANGGARAN DAN INDIKATOR KEBERHASILAN


A. Program
Dalam mewujudkan sasaran utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, program yang ditetapkan tahun 2013 adalah Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Indikator keberhasilan kinerja Program Peningkatan Produksi,

Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan adalah perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat yang didukung oleh sistem penanganan pascapanen dan penyediaan benih serta pengamanan produksi yang esien untuk mewujudkan produksi tanaman pangan yang cukup dan berkelanjutan. Pelaksanaan Program Pengelolaan Produksi, Produktivitas dan Mutu Kedelai dilakukan melalui tahapan kegiatan antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Penetapan sasaran luas tanam, luas panen, produktivitas, dan produksi bulanan dan tahunan Penyusunan kegiatan untuk pencapaian sasaran produksi Penyusunan kebutuhan sarana prasarana factor produksi Monitoring dan evaluasi pencapaian sasaran luas tanam, luas panen, produktivitas, dan produksi bulanan, triwulan dan tahunan Koordinasi dan monitoring daerah pengembangan kedelai

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

17

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Program disusun dan dilaksanakan secara berjenjang sebagai berikut: 1. Program Tingkat Nasional disusun dan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang dikelola oleh Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, dengan mempertimbangkan hasil koordinasi dengan Provinsi dan instansi terkait serta pemangku kepentingan lainnya. 2. Program Tingkat Provinsi merupakan penjabaran dari Program Nasional, disusun dan dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Provinsi dengan mempertimbangkan hasil koordinasi dengan Kabupaten/ Kota dan instansi terkait serta pemangku kepentingan lainnya. 3. Program Tingkat Kabupaten merupakan penjabaran dari Program Provinsi, dengan mempertimbangkan hasil koordinasi dengan Kecamatan dan instansi terkait serta pemangku kepentingan lainnya. Hasil penyusunan Program Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota agar disampaikan pada awal tahun Anggaran, sedangkan hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan dikirim ke pusat setiap bulan.

B.

Kegiatan
Kegiatan yang melekat pada Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi dalam rangka mewujudkan program tanaman pangan adalah Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Indikator output kinerja Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya tanaman aneka kacang dan umbi yang berkelanjutan.

18

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Dalam mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai, maka dilakukan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) Kedelai, Pengembangan Model PTT Kedelai dan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai, Pengembangan Kedelai secara swadaya dan Perluasan Areal Tanam di Lahan Perhutani yang diharapkan ada kerjasama dengan BUMN. Pelaksanaan kegiatan pengelolaan produksi kedelai meliputi : 1. SL-PTT Pelaksanaan sekolah lapangan pengelolaan tanaman terpadu (SLPTT) kedelai tahun 2013 dibagi berdasarkan pendekatan kawasan dan bantuan benih. Menurut pendekatan kawasan, SL-PTT dibagi kedalam 3 (tiga) kawasan yaitu kawasan pertumbuhan, kawasan pengembangan dan kawasan pemantapan. Sasaran tanam SL-PTT Kedelai tahun 2013 seluas 455.000 Ha yang terdiri dari 47.500 Ha kawasan Pemantapan, 394.500 Ha kawasan Pengembangan dan 13.000 Ha kawasan Pertumbuhan. Luas minimal kawasan SL-PTT kedelai adalah 500 Ha. Adapun kriteria masing-masing kawasan sebagai berikut: Tabel 3 . Kriteria Kawasan SL-PTT Kedelai
Kawasan Pertumbuhan Kawasan Pengembangan Kawasan Pemantapan

- Produktivitas lebih rendah dari rata-rata Provinsi - Pemanfaatan lahan belum optimal - Tingkat kehilangan hasil masih tinggi

- Produktivitas hampir sama dengan produktivitas rata-rata Provinsi atau rata-rata Pusat - Pemanfaatan Lahan hampir optimal - Mutu hasil belum optimal - Tingkat kehilangan hasil sedang

- Produktivitas sudah lebih tinggi dari produktivitas rata-rata pusat - Mutu hasil belum optimal - Efesiensi usaha belum berkembang - Optimalisasi pendapatan melalui produksi subsektor tanaman sudah maksimal

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

19

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Berdasarkan bantuan benih, SL-PTT dibagi menjadi SL-PTT benih subsidi dan SL-PTT benih non subsidi. Karena keterbatasan jumlah benih kedelai bersubsidi sehingga kawasan SL-PTT tidak seluruhnya mendapatkan bantuan benih subsidi. Kawasan SL-PTT yang mendapat bantuan benih bersubsidi atau sumber benih lainnya seluas 375.000 Ha, sedangkan 80.000 Ha SL-PTT dipenuhi dari swadaya petani dengan persyaratan benih yang akan digunakan adalah benih varietas unggul bermutu, berproduktivitas tinggi. Areal SL-PTT yang tidak mendapatkan bantuan benih bersubsidi adalah areal SL-PTT yang termasuk kawasan pemantapan dan sebagian kawasan pengembangan yang terdapat Kegiatan Pengembangan Model PTT, dengan pertimbangan kawasan pemantapan sudah mampu menyediakan benih sendiri. 2. Swadaya Areal yang biasa ditanami kedelai (eksisting) yang tidak mendapat bantuan SL-PTT diharapkan dapat dikelola secara swadaya. Dalam areal swadaya ini dilakukan pengawalan dan pendampingan oleh petugas lapangan (PPL/POPT/Petugas Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota). Luas areal pengembangan kedelai secara swadaya sebesar 325.250 Ha. 3. Pengembangan Model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Kedelai Pengembangan Model melalui PTT dilaksanakan pada areal baru yang belum pernah ditanami kedelai atau areal yang sudah lama tidak ditanami kedelai atau penambahan Indeks Pertanaman (IP). Diharapkan dengan adanya pengembangan model PTT ini terjadi

20

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

penambahan luas tanam dan ada diseminasi teknologi kepada petani. Sasaran tanam Pengembangan Model PTT Kedelai tahun 2013 seluas 110.000 Ha, diharapkan sebagian dari pertanaman dapat dijadikan benih untuk pertanaman selanjutnya. Agar proses diseminasi teknologi dapat terjadi maka setiap hektar dari areal Pengembangan Model PTT Kedelai diberi bantuan paket lengkap untuk dijadikan areal percontohan dan penambahan areal tanam. Bantuan saprodi yang diberikan berupa bansos dengan transfer uang langsung ke kelompoktani. 4. Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai dilaksanakan di lahan sawah/tadah hujan/lahan kering/pasang surut/lebak/lahan perhutani dll dengan luasan minimal 250 ha per Kabupaten/Kota yang merupakan areal baru, penambahan IP yang sesuai untuk kedelai dan diharapkan akan menambah luas tanam kedelai tahun 2013 sehingga meningkatkan produksi tahun 2013. Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai direncanakan seluas 118.250 Ha di 12 Provinsi pada 47 Kabupaten, diberi bantuan paket lengkap teknologi budidaya sesuai dengan rekomendasi teknologi spesik lokasi. Pemberian bantuan berupa bansos yang dilakukan melalui transfer barang yang proses pengadaannya oleh satuan kerja pusat. 5. Perluasan di Lahan Perhutani Perluasan areal pengembangan kedelai di lahan Perhutani direncanakan seluas 10.000 Ha di 3 Unit Perum Perhutani.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

21

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Dalam pelaksanaannya diharapkan ada kerjasama dengan BUMN khususnya Perhutani dalam penyediaan lahan dan bantuan saprodi dengan sistem korporasi. 6. Kegiatan Pendukung Lainnya Kegiatan pendukung lainnya meliputi pendampingan, pengamanan produksi dari gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), pengurangan kehilangan hasil melalui pengelolaan pascapanen, perbenihan dan kegiatan lainnya seperti pembinaan, supervisi, monitoring, evaluasi dan pelaporan. Kegiatan pendukung tersebut agar dapat dilakukan secara terencana dan terkoordinasi, sehingga dapat dihasilkan output yang optimal dan dapat menjamin keberhasilan pencapaian sasaran.

C.

Anggaran
1. Anggaran Berdasarkan Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi kedelai Tahun Anggaran 2013 bersumber dari APBN sebesar Rp. 838,632 Milyar dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu Tingkat Pusat, Tingkat Provinsi (Dekonsentrasi) dan Tingkat Kabupaten (Tugas Pembantuan) : a. Anggaran Kegiatan di Tingkat Pusat Pada Tahun Anggaran 2013 untuk kegiatan di tingkat pusat dialokasikan sebesar Rp. 297,48 milyar untuk kegiatan bantuan sosial PATB, pembinaan, sosialisasi, koordinasi, monitoring, evaluasi dan pembelian peralatan kantor dalam menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan.

22

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

b.

Anggaran Kegiatan di Tingkat Provinsi (Dekonsentrasi) Pembiayaan melalui anggaran dekonsentrasi untuk pembinaan sebesar Rp. 11,41 milyar digunakan untuk memfasilitasi kegiatan kedelai yang bersifat non sik dan dilaksanakan oleh Dinas Tanaman Pangan Provinsi. Fokus kegiatan adalah pembinaan di areal tanam aneka kacang dan umbi dan pembinaan di areal SL-PTT Kedelai dan Pengembangan Model PTT Kedelai dan kegiatan teknis lainnya. Selain untuk pembinaan, monitoring dan evaluasi dana dekonsentrasi juga dialokasikan untuk kegiatan koordinasi kemitraan antara petani dengan stake holder.

c.

Anggaran Kegiatan di Tingkat Kabupaten (Tugas Pembantuan) Pembiayaan melalui anggaran tugas pembantuan sebesar Rp 529,74 milyar digunakan untuk memfasilitasi kegiatan SL-PTT kedelai, Pengembangan Model PTT Kedelai yang dilaksanakan oleh Dinas Tanaman Pangan Tingkat Kabupaten. Fokus kegiatan adalah identikasi calon lokasi (CL) sampai tingkat Desa, pembinaan, monitoring dan evaluasi diareal SL-PTT Kedelai, Pengembangan Model PTT Kedelai, dan untuk pengadaan saprodi untuk areal LL SL-PTT kedelai, Pengembangan Model PTT Kedelai, dan Ubinan SLPTT kedelai. Mengingat bantuan Pemerintah Pusat untuk bantuan

saprodi sangat terbatas hanya untuk pelaksanaan SL-PTT, pengembangan model dan perluasan areal tanam baru kedelai, maka penyediaan saprodi lainnya agar ditanggung secara

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

23

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

swadana oleh anggota kelompok atau berasal dari sumber lainnya. Dana APBN (dekonsentrasi dan tugas pembantuan) hanya sebagai pemicu/stimulan sehingga diharapkan ada sharing dari pemerintah daerah melalui dana APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota, swasta/stakeholders lainnya, serta dana dari masyarakat dalam bentuk tenaga dan sarana lainnya. Petani/kelompok tani diarahkan pula memanfaatkan fasilitas pembiayaan pemerintah untuk mendapatkan kredit usaha antara lain melalui : KKP-E, SP-3, BLM-KIP, KUR dan lain sebagainya. 2. Anggaran Berdasarkan Kegiatan a. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Kedelai Sumber pembiayaan pelaksanaan SL-PTT kedelai dapat berasal dari APBN dan APBD maupun dana dari pihak swasta/stakeholders. Anggaran dari APBN disediakan untuk membiayai kegiatan sebagai berikut : Bantuan sosial (Bansos) melalui Tugas Pembantuan Kabupaten Tahun 2013 dalam bentuk bantuan dana pembelian pupuk urea, NPK dan pupuk organik serta dolomit/kapur pertanian (bila diperlukan) sesuai rekomendasi teknologi spesik lokasi, biaya pertemuan SL-PTT. Bantuan pendampingan SL-PTT sebagai pemandu lapangan oleh PPL, POPT, PBT dan TNI. Bantuan pembinaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan SL-PTT melalui Tugas Dekonsentrasi di Dinas Pertanian

24

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Provinsi serta melalui Tugas Pembantuan di Dinas Kabupaten/Kota. Paket bantuan SL-PTT dibedakan berdasarkan tipe kawasan dan lokasi (pulau Jawa dan diluar pulau Jawa). Rincian unit cost SL-PTT per hektar dapat dilihat pada lampiran 5. b. Pengembangan Model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Kedelai Sumber pembiayaan pelaksanaan pengembangan model pengelolaan tanaman terpadu (PTT) kedelai dapat berasal dari APBN, APBD maupun dana dari pihak swasta/stakeholders. Anggaran dari APBN disediakan dalam bentuk bantuan sosial (bansos) melalui Tugas Pembantuan (TP) Kabupaten/Kota Tahun 2013. Bantuan sosial dikelompoktani untuk pembelian sarana produksi dengan pola penyaluran berupa Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang ditransfer langsung kepada kelompoktani. Rincian paket bantuan seperti pada lampiran 7. c. Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai Sumber pembiayaan pelaksanaan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai berasal dari APBN melalui bansos transfer barang yang anggarannya dialokasikan di Pusat. Jenis bantuan berupa bantuan paket lengkap teknologi budidaya sesuai dengan rekomendasi teknologi spesik lokasi, meliputi benih, pupuk, rhizobium, pestisida organik, pembenah tanah dan kapur pertanian. Paket teknologi budidaya dibagi 3 (tiga) jenis yaitu paket bantuan teknologi budidaya untuk lahan sawah/ kering di Pulau Jawa, paket bantuan teknologi budidaya untuk lahan sawah/kering di Luar Pulau Jawa dan paket bantuan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

25

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

teknologi budidaya untuk lahan pasang surut di Luar Pulau Jawa. Perkiraan alokasi anggaran per paket dan unit cost bantuan per hektar akan disusun sesuai dengan hasil survei harga.

D.

Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dan keluaran (output) yang harus dicapai sebagaimana telah ditetapkan dalam kegiatan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel4. Indikator Kinerja dan Keluaran (Output) Kegiatan Peningkatan Produksi dan Produktivitas Kedelai Tahun 2013
Indikator Kinerja Keluaran (Output)

1. Perencanaan pelaksanaan program pengembangan kedelai 2. Pelaksanaan SL-PTT kedelai 3. Pelaksanaan Pengembangan Model PTT Kedelai 4. Pelaksanaan Perluasan Areal Tanam Baru 5. Jumlah dokumen perencanaan program (pedoman pelaksanaan dan pedoman teknis) 6. Jumlah dokumen perencanaan anggaran

1. Rancangan pengembangan kedelai 2. Laporan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan SL-PTT Kedelai seluas 455.000 ha 3. Laporan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan Pengembangan Model PTT Kedelai seluas 110.000 ha 4. Laporan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan Perluasan Areal Tanam Baru Kedelai seluas 118.250 ha 5. Pedoman Teknis Pengelolaan Produksi Kedelai 6. Petunjuk Teknis Perluasan Areal Tanam Baru Kedelai 7. Laporan Pelaksanaan Pengembangan Kedelai

26

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

IV. PENGORGANISASIAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN


A. Pengorganisasian
1. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Kedelai a. Penentuan Calon Lokasi 1) Lokasi SL-PTT diusahakan berada pada satu kawasan dalam satu Kabupaten minimal 500 ha 2) Diusahakan lokasi pada satu hamparan dalam 1 Kecamatan, namun jika dalam 1 Kecamatan areal tanam tidak terpenuhi maka dapat ditempatkan pada Kecamatan yang berdekatan/ berbatasan namun masih dalam 1 Kabupaten yang sama sampai terpenuhi luasan 500 Ha 3) Lokasi pelaksanaan SL-PTT kedelai, diprioritaskan pada areal dengan luasan memenuhi syarat, tipe, kriteria dan mempunyai potensi untuk dapat ditingkatkan produktivitasnya serta petaninya responsif terhadap teknologi 4) Lokasi dapat berupa lahan sawah irigasi, sawah tadah hujan, lahan kering dan sawah pasang surut 5) Diprioritaskan bukan daerah endemis hama dan penyakit, bebas dari bencana kekeringan, kebanjiran dan sengketa 6) Luasan LL minimal 1 ha, ditempatkan pada lokasi yang sering dilewati petani sehingga mudah dijangkau dan dilihat petani sekitarnya

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

27

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

b. Penentuan Calon Petani/Kelompoktani 1) Petani yang dipilih adalah petani yang aktif yang mempunyai lahan ataupun penggarap/penyewa dan mau menerima teknologi baru 2) Bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan SL-PTT 3) Wajib lokasi 4) Kelompoktani masih aktif dan mempunyai kepengurusan yang lengkap yaitu Ketua, Sekretaris dan Bendahara, diusahakan lahan usaha taninya berada dalam satu hamparan 5) Kelompoktani SL-PTT ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan / yang membidangi tanaman pangan Kabupaten / Kota, sebagaimana contoh pada lampiran 6) Kelompoktani peserta SL-PTT diutamakan yang belum pernah menerima bantuan SL-PTT tahun anggaran 2012 atau bantuan dari BLBU tahun 2012, jika tidak memungkinkan sehubungan dengan kawasan maka kelompoktani tersebut diperbolehkan menjadi peserta SLPTT 2013 7) Kelompoktani yang sudah mendapat bantuan untuk pengembangan komoditi lain pada tahun yang sama, diperkenankan untuk melaksanakan kegiatan SL-PTT kedelai 8) Satu kelompoktani dapat melaksanakan SL-PTT lebih dari 1 (satu) unit selama arealnya terpenuhi 9) Memiliki rekening yang masih berlaku/masih aktif di Bank mengikuti setiap tahap pertanaman dan mengaplikasikan kombinasi komponen teknologi spesik

28

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Pemerintah (BUMN atau BUMD/ Bank Daerah) yang terdekat dan bagi kelompok tani yang belum memiliki, harus membuka rekening di bank 10) Rekening bank dapat berupa rekening kelompoktani ataupun rekening gabungan kelompoktani (gapoktan). Jika menggunakan rekening gapoktan mekanisme pengaturan antar kelompoktani diatur lebih lanjut oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang bersangkutan 11) Membuat surat pernyataan bersedia dan sanggup menggunakan dana bantuan SL-PTT sesuai peruntukannya 12) Bersedia menambah biaya pembelian benih unggul bersertikat bilamana bantuan benih yang tersedia tidak mencukupi c. Paket Bantuan 1) Paket bantuan yang diberikan dialokasikan untuk LL dan SL 2) Disamping paket saprodi diberikan subsidi benih 3) Benih diberikan kepada pelaksana SL-PTT termasuk areal LL 1 Ha sebesar 40 kg/ha. 4) Subsidi benih diberikan Pemerintah kepada petani pelaksana SL-PTT tahun 2013. Dari sasaran 455.000 ha yang dapat diberikan subsidi benih seluas 375.000 ha sedangkan untuk pemenuhan kekurangan seluas 80.000 ha dapat dipenuhi dari benih swadaya petani, dengan syarat benih yang akan digunakan adalah benih varietas unggul bermutu berproduktivitas tinggi 5) Pengadaan dan penyaluran benih bersubsidi mengacu kepada Pedoman Subsidi Benih Tahun 2013 dari Direktorat

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

29

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Perbenihan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 6) Jenis paket yang diberikan disesuaikan berdasarkan kriteria kawasan (pertumbuhan, pengembangan dan pemantapan) Jawa dan di luar Jawa. Dapat dilihat pada lampiran 5 7) Dosis pemupukan disesuaikan dengan rekomendasi setempat dan dana yang tersedia d. Teknis Pelaksanaan 1) Agar kegiatan SL-PTT berkontribusi nyata pada produksi tahun 2013, maka pertanaman diupayakan dapat dilaksanakan pada bulan Januari s/d September (MH II, MK I, MK II), kecuali secara teknis tidak memungkinkan dilakukan maka dapat dilakukan pertanaman Oktober Desember 2) Luas satu unit SL-PTT Kedelai adalah 10 ha yang didalamnya terdapat satu unit LL seluas minimal 1 ha 3) Luas satu unit SL-PTT diatas (point 1) dapat disesuaikan dengan kondisi luasan setempat, dengan ketentuan : Luasan setiap unit SL-PTT bisa bervariasi disesuaikan dengan kondisi setempat namun total luasan dan unit SL-PTT tidak boleh kurang dari yang dibiayai Total luasan dan unit SL-PTT bisa lebih dari yang dibiayai, kelebihan luasan ataupun unit SL-PTT ditanggung anggaran lain ataupun swadana petani Luas areal LL bisa lebih dari 1 ha apabila dananya masih memungkinkan tetapi tidak boleh kurang dari 1 ha 4) Peserta tiap unit SL-PTT idealnya terdiri dari 15 25 petani yang berasal dari 1 kelompoktani yang sama, namun

30

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

jumlah peserta disesuaikan dengan luas pemilikan lahan serta situasi dan kondisi setempat 5) Sebelum pelaksanaan SL-PTT dilakukan pertemuan persiapan dengan tokoh formal dan informal serta petani calon peserta untuk menetapkan langkahlangkah yang menyangkut tujuan, rencana kerja, permasalahan dan hasil yang diharapkan serta metode pembelajaran SL-PTT yang dilakukan bersama sebagai suatu kesepakatan 6) Pertemuan kelompoktani untuk kegiatan SL-PTT sebanyak 6 kali pertemuan dan dipandu oleh pemandu lapang 7) Dengan alasan keterbatasan petugas pemandu lapangan (PPL) maka pertemuan kelompok dapat dilakukan dengan menggabungkan minimal 5 unit SL-PTT (50 ha) atau kelipatannya. Selain dipandu oleh pemandu lapang pelaksanaan SL-PTT dikawal/didampingi oleh TNI 8) Menentukan 1 (satu) hari sebagai hari lapang petani untuk memasyarakatkan dan mendeseminasikan penerapan teknologi budidaya melalui SL-PTT kepada kelompoktani dan petani sekitarnya 9) Mewajibkan semua peserta SL-PTT untuk mengadakan pengamatan bersamasama dan membahas temuan Lapangan. 10) Pendampingan SL-PTT oleh penyuluh agar dilakukan secara berkala/intensif e. Pencairan dana dan pengadaan 1) Pencairan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) SLPTT, dilakukan sesuai dengan peraturan perundangan undangan yang berlaku antara lain Peraturan Kementerian

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

31

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Keuangan

atau

Peraturan

Direktorat

Jenderal

Perbendaharaan Kementerian Keuangan, tentang tata cara Pencairan Belanja Bantuan Sosial dan peraturan lainnya 2) Mekanisme Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) SL-PTT, dengan sumber dana APBN melalui Pos Belanja Bantuan Sosial, adalah sebagai berikut : Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota yang membidangi Tanaman Pangan, menerbitkan Surat Keputusan tentang penetapan Kelompok tani yang akan menerima dana bantuan kegiatan SL-PTT, termasuk di dalamnya dilengkapi data-data nama kelompok, jumlah anggota, nama ketua kelompok, luas lahan, alamat kelompok, nomor rekening dan nama bank atas nama kelompok tani sasaran, jumlah bantuan yang akan diberikan serta data lainnya yang diperlukan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satuan Kerja setempat, mengajukan usulan pencairan dana atas dasar Surat Keputusan Kepala Dinas tentang penetapan kelompok tani penerima dana SL-PTT, melalui penerbitan Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS) kepada Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (SPM) dengan dilampiri dokumen-dokumen sebagai berikut : Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota yang membidangi Tanaman Pangan tentang penetapan Kelompoktani penerima bantuan Rencana Usaha Kelompok (RUK)

32

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Surat Pernyataan Kelompoktani tentang kesediaan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan SL-PTT

3) Pejabat Penanda Tangan SPM melakukan pengujian SPPLS meliputi pemeriksaan rinci dokumen pendukung SPP sesuai peraturan perundang-undangan; ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran; memeriksa hak tagih yang terkait meliputi pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran bantuan (nama penerima bantuan SL-PTT, alamat, nomor rekening dan nama bank) dan nilai bantuan yang harus dibayar 4) Berdasarkan hasil pengujian SPP, Pejabat Penanda Tangan SPM menerbitkan SPM-LS secara penuh/tanpa pemotongan pajak 5) Pejabat Penanda Tangan SPM mengajukan SPM-LS kepada KPPN setempat dengan melampirkan : Surat Pertanggung Jawaban Belanja (SPTB); Surat Pernyataan Kuasa Pengguna Anggaran bahwa semua dokumen pendukung sebagaimana dipersyaratkan dalam pedoman pelaksanaan bantuan dana SL-PTT telah diteliti kebenarannya dan berada pada Kuasa Pengguna Anggaran 6) KPPN setempat melakukan pengujian atas SPM-LS dan menerbitkan SP2D serta mentransfer dana ke rekening kelompok tani sasaran pada bank yang ditunjuk 7) Untuk kelompok tani yang mendapatkan bantuan subsidi benih, pengajuan bantuan benih bersubsidi di atur dalam Pedoman Teknis Subsidi Benih 2013

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

33

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

8) Bagi kelompok tani yang tidak mendapatkan benih subsidi, dapat membeli benih secara swadaya 9) Dana yang telah di terima kelompoktani, dibelanjakan langsung oleh kelompoktani untuk pengadaan paket sarana produksi yang telah ditetapkan dalam pedoman teknis dan disesuaikan dengan kebutuhan kelompok tani yang tertuang dalam RUK 10) Proses pengadaan saprodi oleh kelompoktani dilakukan sesuai peraturan yang berlaku. Apabila ada kelebihan dana dari dana yang disediakan akibat dari penghematan, maka sisa dana tersebut dipergunakan untuk membeli keperluan saprodi lain yang mendukung peningkatan produktivitas atau perluasan LL 11) Dalam rangka pengawasan pelaksanaan bantuan SLPTT, kelompoktani penerima bantuan agar melakukan pengadministrasian peraturan yang berlaku 12) Saprodi yang belum digunakan agar disimpan dengan baik untuk menjaga mutu 13) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bertanggung jawab penuh terhadap penyaluran dan penggunaan BLM SL-PTT oleh petani. f. Mekanisme Pemberian Bantuan Benih Subsidi 1) Kelompoktani membuat RUK dan RDKK 2) Mengajukan pembelian benih bersudsidi kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota 3) Kepala Dinas Kabupaten/Kota mengajukan permintaan penyaluran benih subsidi kepada BUMN pelaksana penggunaan anggaran sesuai

34

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

4) BUMN pelaksana menjual/menyalurkan benih subsidi kepada kelompoktani sesuai dengan permintaan dari Kepala Dinas Kabupaten/Kota 5) Untuk lebih jelasnya mengacu pada Pedoman Teknis Subsidi Benih Tahun 2013 2. Pengembangan Model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Kedelai Pengembangan model PTT kedelai dari sasaran 110.000 ha, diupayakan sebagian pertanaman untuk penyediaan benih. a. Penentuan Calon Lokasi 1) Lokasi untuk pengembangan model PTT kedelai adalah lahan yang sesuai untuk pengembangan kedelai dengan kriteria : Lahan baru yang belum pernah ditanami kedelai atau lahan yang sudah lama tidak ditanami kedelai serta dilahan yang dapat ditingkatkan indeks pertanamannya (IP). Lahan tersebut bisa merupakan lahan sawah/ tadah hujan/lahan kering/ pasang surut/ lebak/ lahan perhutani dll. Diprioritaskan bukan daerah endemis hama dan penyakit, bebas dari bencana kekeringan, kebanjiran dan sengketa. 2) Lokasi pengembangan model PTT kedelai diusahakan berada pada satu kawasan dalam satu kabupaten minimal 5.000 ha yang berlokasi dalam satu kecamatan, namun apabila tidak memungkinkan dapat menambah pada wilayah kecamatan yang berdampingan sehingga mencapai

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

35

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

luasan yang ditentukan, mempunyai potensi untuk pengembangan kedelai dan anggota kelompoktaninya responsif terhadap penerapan teknologi. b. Penetapan Calon Petani/Kelompoktani 1) Kelompoktani yang sudah terbentuk, masih aktif, mempunyai kepengurusan yang lengkap yaitu ketua, sekretaris dan bendahara; 2) Petani/kelompoktani yang responsif terhadap teknologi dan bersedia berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan model PTT kedelai; 3) Wajib mengikuti setiap tahap pertanaman dan mengaplikasikan teknologi budidaya spesik lokasi; 4) Kelompoktani peserta pengembangan model PTT kedelai diutamakan yang belum pernah menerima bantuan. 5) Memiliki rekening yang masih berlaku / masih aktif di Bank Pemerintah (BUMN atau BUMD/ Bank Daerah) yang terdekat dan bagi kelompok tani yang belum memiliki, harus membuka rekening di bank. 6) Rekening bank dapat berupa rekening kelompoktani ataupun rekening gabungan kelompoktani (gapoktan). Jika menggunakan rekening gapoktan mekanisme pengaturan antar kelompoktani diatur lebih lanjut oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang bersangkutan. 7) Kelompoktani pengembangan model PTT kedelai ditetapkan dengan surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan/yang membidangi tanaman pangan Kabupaten/Kota

36

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

8) Membuat surat pernyataan bersedia dan sanggup menggunakan dana bantuan Pengembangan Model PTT Kedelai sesuai peruntukannya. 9) Bersedia menyelesaikan administrasi yang terkait dengan bantuan benih, pupuk NPK, Organik, pupuk hayati, dan pestisida 10) Peserta tiap unit Pengembangan Model PTT Kedelai idealnya terdiri dari 15-25 petani yang berasal dari kelompoktani yang sama, namun jumlah peserta dapat disesuaikan dengan luas pemilikan lahan serta situasi dan kondisi setempat c. Paket bantuan Paket yang diberikan berupa benih kedelai, pupuk NPK, Kapur Pertanian, Pupuk hayati, pupuk organik dan pestisida per ha yang dibedakan berdasarkan lokasi (pulau Jawa dan luar pulau Jawa) sebagai berikut : a) Pengembangan model PTT kedelai di Pulau Jawa Bantuan benih kedelai sebesar 40 kg/ha, Bantuan pupuk NPK 150 kg/ha, pupuk hayati 1 paket, pupuk organik 500 kg, dan pestisida 2 liter Bantuan transport untuk pendampingan petugas dan aparat b) Pengembangan model PTT kedelai di luar pulau Jawa Bantuan benih kedelai sebesar 40 kg/ha, Bantuan pupuk NPK 150 kg/ha, pupuk hayati 1 paket, pupuk organik 500 kg, kapur pertanian 500 kg dan pestisida 2 liter

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

37

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Bantuan transport untuk pendamping petugas dan aparat

Paket bantuan dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesik lokasi (apabila salah satu komponen di atas berlebih dapat digunakan untuk komponen yang lain yang lebih dibutuhkan). Dan apabila dana saprodi tidak tercukupi dapat dipenuhi melalui APBD atau sumber-sumber lainnya. d. Teknis pelaksanaan 1) Pelaksanaan pertanaman pengembangan model PTT kedelai, diarahkan sebagian untuk pengembangan produksi benih dalam rangka memenuhi kebutuhan benih areal tanam lainnya, dan sebagian lagi diarahkan untuk penyediaan konsumsi. 2) Dalam pengembangan model untuk produksi benih agar dilaksanakan sesuai prosedur produksi benih dan berkoordinasi dengan BPSBTPH di masing-masing lokasi. 3) Pengembangan model PTT kedelai untuk penyediaan benih diharapkan dapat dilaksanakan pada bulan Januari s.d. Maret 2013, agar benih yang dihasilkan dapat digunakan untuk pertanaman selanjutnya. 4) Pengembangan model untuk konsumsi diupayakan harus sudah dilaksanakan pada Januari September untuk kontribusi produksi 2013 5) Pendampingan kegiatan pengembangan budidaya kedelai oleh petugas (PP,POPT dan PBT) dan aparat 6) Pengorganisasian dan operasional agar dibentuk tim pembina tingkat Pusat, tim pembina dan tim teknis tingkat Provinsi, tim pelaksana dan tim teknis tingkat Kabupaten/Kota.

38

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

7) Tim tersebut ditetapkan dengan surat keputusan/surat penugasan. e. Pencairan dana dan pengadaan 1) Pencairan dana bantuan langsung masyarakat (BLM) pengembangan model PTT kedelai dilakukan sesuai dengan peraturan perundanganundangan yang berlaku antara lain Peraturan Menteri Keuangan atau Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, tentang tata cara Pencairan Belanja Bantuan Sosial dan peraturan lainnya. 2) Mekanisme bantuan langsung masyarakat (BLM) Pengembangan model PTT kedelai, dengan sumber dana APBN melalui pos belanja bantuan sosial, adalah sebagai berikut : Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota yang membidangi tanaman pangan, menerbitkan Surat Keputusan tentang penetapan kelompok tani yang akan menerima dana bantuan kegiatan pengembangan model PTT kedelai, dengan dilengkapi data-data nama kelompok, jumlah anggota, nama ketua kelompok, luas lahan, alamat kelompok, nomor rekening dan nama Bank atas nama kelompok tani, sasaran, jumlah bantuan yang akan diberikan, serta data lainnya yang diperlukan. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) satuan kerja setempat, mengajukan usulan pencairan dana atas dasar Surat Keputusan Kepala Dinas tentang penetapan kelompok tani penerima dana pengembangan model

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

39

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

PTT kedelai, melalui penerbitan Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS) kepada Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (SPM) dengan dilampiri dokumen-dokumen sebagai berikut : Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota yang membidangi tanaman pangan tentang penetapan kelompoktani penerima bantuan Rencana Usaha Kelompok (RUK) Surat pernyataan kelompoktani tentang kesediaan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pengembangan model PTT kedelai 3) Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (SPM) melakukan pengujian SPP-LS meliputi pemeriksaan rinci dokumen pendukung SPP sesuai peraturan perundangundangan; ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran; memeriksa hak tagih yang terkait meliputi pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran bantuan (nama penerima bantuan pengembangan model PTT kedelai, alamat, nomor rekening dan nama bank) dan nilai bantuan yang harus dibayar. 4) Berdasarkan hasil pengujian SPP, Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (SPM) menerbitkan SPM-LS secara penuh/tanpa pemotongan pajak. 5) Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (SPM) mengajukan SPM-LS kepada KPPN setempat dengan melampirkan : Surat Pertanggung Jawaban Belanja (SPTB); Surat Pernyataan Kuasa Pengguna Anggaran

40

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

bahwa semua dokumen pendukung sebagaimana dipersyaratkan dalam Petunjuk Pelaksanaan Bantuan dana Pengembangan Model PTT Kedelai telah diteliti kebenarannya dan berada pada Kuasa Pengguna Anggaran. 6) KPPN setempat melakukan pengujian atas SPM-LS dan menerbitkan SP2D serta menstransfer dana ke rekening kelompok tani sasaran pada bank yang ditunjuk. 7) Dana yang telah diterima kelompoktani, dibelanjakan langsung oleh kelompoktani untuk pengadaan paket sarana produksi yang telah ditetapkan dalam pedoman teknis dan disesuaikan dengan kebutuhan kelompoktani yang tertuang dalam RUK 8) Proses pengadaan saprodi oleh kelompoktani dilakukan sesuai peraturan yang berlaku. Apabila ada kelebihan dana dari dana yang disediakan akibat dari penghematan, maka sisa dana tersebut dipergunakan untuk membeli keperluan saprodi lain yang mendukung peningkatan produktivitas 9) Dalam rangka pengawasan model PTT pelaksanaan kedelai, bantuan pengembangan Kelompoktani

penerima bantuan agar melakukan pengadministrasian dokumen pengadaan dan daftar barang yang dibeli dan digunakan. 10) Saprodi yang belum digunakan agar disimpan dengan baik untuk menjaga mutu. 11) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bertanggung jawab penuh terhadap penyaluran dan penggunaan BLM pengembangan budidaya kedelai oleh petani.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

41

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

3.

Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai a. Penentuan Calon Lokasi 1) Kriteria lokasi untuk perluasan areal tanam baru kedelai sebagai berikut: Lahan baru yang belum pernah ditanami kedelai atau lahan yang sudah lama tidak ditanami kedelai serta dilahan yang dapat ditingkatkan indeks pertanamannya (IP). Lahan tersebut bisa merupakan lahan sawah/ tadah hujan/ lahan kering/ pasang surut/ lebak/ lahan perhutani dll. Diprioritaskan bukan daerah endemis hama dan penyakit, bebas dari bencana kekeringan, kebanjiran dan sengketa. 2) Lokasi perluasan areal tanam baru kedelai diusahakan berada pada satu kawasan dalam satu kabupaten minimal 250 ha yang berlokasi dalam satu kecamatan, namun apabila tidak memungkinkan dapat menambah pada wilayah kecamatan yang berdampingan sehingga mencapai luasan yang ditentukan, mempunyai potensi untuk pengembangan kedelai dan anggota kelompoktaninya responsif terhadap penerapan teknologi. b. Ketentuan Calon Petani/Kelompoktani 1) Kelompoktani, masih aktif dan mempunyai kepengurusan yang lengkap yaitu ketua, sekretaris dan bendahara dan bersedia berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan perluasan areal tanam baru kedelai

42

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

2) Petani yang mau menerapkan teknologi budidaya kedelai secara optimal dengan memanfaatkan bantuan sarana produksi atau petani yang adoptif melakukan penanaman kedelai 3) Kelompoktani penerima bantuan perluasan areal tanam baru kedelai ditetapkan dengan surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota yang membidangi tanaman pangan 4) Bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan 5) Bersedia melakukan budidaya kedelai secara optimal dengan memanfaatkan bantuan benih, pembenah tanah organik, pupuk NPK, Rhizobium, dan pestisida organik/ nabati yang diberikan 6) Bersedia menyelesaikan administrasi yang terkait dengan bantuan bantuan benih, pembenah tanah organik, pupuk NPK, Rhizobium, dan pestisida organik/nabati yang diberikan c. Paket bantuan 1) Kelompoktani yang telah ditetapkan diberikan bantuan teknologi budidaya berupa paket lengkap saprodi 2) Komponen bantuan paket teknologi dibedakan berdasarkan lokasi pulau Jawa, lahan pasang surut luar Jawa dan lahan non pasang surut luar Jawa 3) Penyediaan bantuan paket teknologi budidaya, disediakan dari Satker Pusat melalui transfer barang

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

43

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

d.

Pengadaan dan Pendistribusian Bantuan Paket Teknologi 1) Kepala Dinas Kabupaten/Kota menetapkan CPCL penerima bantuan paket disampaikan ke Dinas Provinsi. Dinas Provinsi memverikasi CPCL dan selanjutnya disampaikan ke Pusat 2) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan cq Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, melaksanakan proses pengadaan dan kontrak kerja bantuan paket teknologi budidaya dengan penyedia barang pemenang lelang 3) Penyedia barang bantuan paket teknologi budidaya mendistribusikan bantuan sesuai lokasi atau CPCL yang sudah ditetapkan. 4) Sebelum barang didistribusikan ke kelompoktani dilakukan pemeriksaan oleh Tim Pemeriksa Pusat maupun Pemeriksa Barang di Kabupaten/Kota dan di buat Berita Acara Pemeriksaan Barang (BAPB). Contoh BAPB terlampir. 5) Kelompoktani penerima bantuan menandatangani Berita Acara Serah Terima Barang (BASTB), sesuai barang yang diterima dan ditanda tangani oleh ketua/ sekretaris/ bendahara kelompoktani dan penyedia barang serta diketahui oleh petugas lapangan. Contoh BASTB terlampir. 6) Berita Acara Pemeriksaan Barang (BAPB) dan Berita Acara Serah Terima Barang (BASTB), diserahkan ke Pejabat Pembuat Komitmen Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, Ditjen Tanaman Pangan melalui penyedia barang.

44

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

7)

Dinas Pertanian Kabupaten/Kota membuat rekapitulasi penyaluran dan penerimaan paket bantuan dan disampaikan kepada Kepala Dinas Provinsi dan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi sebagai bahan monitoring dan pelaporan.

8)

Dinas

Pertanian

Kabupaten/Kota,

agar

melakukan

verikasi dan menyimpan arsip Berita Acara Pemeriksaan Barang (BAPB) dan Berita Acara Serah Terima Barang (BASTB) sebelum disampaikan ke Pusat melalui penyedia barang. 9) Satker Pusat Ditjen Tanaman Pangan cq Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, melakukan verikasi atas dokumen Berita Acara Pemeriksaan Barang (BAPB) dan Berita Acara Serah Terima Barang (BASTB) oleh Tim Pemeriksa Dokumen Pengadaan sebagai bahan pembayaran. 10) Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota, melakukan pengawalan dan pengawasan atas penyaluran bantuan paket teknologi budidaya oleh penyedia barang dan pelaksanaan kegiatan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai. 11) Dinas Pertanian Kabupaten/Kota membuat laporan pelaksanaan kegiatan perluasan areal tanam baru (PATB), disampaikan ke Dinas Provinsi dan Pusat cq Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi dengan alamat Jl. Raya Ragunan No. 15 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520, email kedelai.akabi@gmail.com , Faximile (021) 7805179.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

45

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

e.

Teknis pelaksanaan 1) Menyiapkan CPCL, RDKK dan RUK ke Provinsi dan ke Pusat. 2) Pertanaman diupayakan harus sudah dilaksanakan pada bulan Januari - September untuk kontribusi produksi 2013 3) Melakukan sosialisasi pelaksanaan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai 4) Peserta tiap unit perluasan areal tanam baru kedelai idealnya terdiri dari 15-25 petani yang berasal dari kelompoktani yang sama, namun jumlah peserta dapat disesuaikan dengan luas pemilikan lahan serta situasi dan kondisi setempat 5) Kelompok tani wajib mengikuti setiap tahap pertanaman dan mengaplikasikan kombinasi komponen teknologi yang sesuai spesik lokasi mulai dari pengolahan tanah, budidaya, penanganan panen dan pasca panen. 6) Rincian langkah-langkah pelaksanaan kegiatan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai dan kegiatan pendukung kegiatan perluasan areal tanam baru (PATB) lainnya yang dalam proses revisi akan dijabarkan dalam buku petunjuk teknis 7) Pendampingan kegiatan perluasan areal tanam baru kedelai oleh petugas lapang (PP, POPT dan PBT). 8) Monev pelaksanaan kegiatan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai oleh petugas lapangan 9) Membuat laporan hasil kegiatan selama pelaksanaan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai. yang ditetapkan melalui Surat Kepala Dinas Kabupaten/Kota disampaikan

46

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

B.

Tata Hubungan Kerja Operasional


1. Dibentuk tim pembina tingkat Pusat, tim pembina dan tim teknis tingkat Provinsi, tim pelaksana dan tim teknis tingkat Kabupaten/ Kota, agar pelaksanaan SL-PTT, pengembangan model PTT kedelai dan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai terkoordinasi dan terpadu mulai dari kelompoktani, Kabupaten, Provinsi sampai ke tingkat pusat. 2. Tim pembina tingkat Pusat, ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Tanaman Pangan. Tim pembina tingkat Provinsi dan tim teknis tingkat Provinsi ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur/Kepala Dinas Pertanian Provinsi yang bersangkutan. Sedangkan tim pelaksana tingkat Kabupaten/Kota dan tim teknis tingkat kabupaten/kota ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati/ Walikota/ Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. 3. Tim pembina dan tim teknis tingkat Provinsi serta tim pelaksana dan tim teknis tingkat Kabupaten/Kota melaksanakan kegiatan koordinasi pelaksanaan SL-PTT, pengembangan model PTT kedelai dan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai di Pos Simpul Koordinasi (POSKO) mulai dari tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota sampai tingkat Provinsi. 4. Bimbingan, pembinaan dan pendampingan yang dilaksanakan meliputi: a) Pelaksanaan bimbingan, pembinaan dan pendampingan dilakukan secara periodik mulai dari persiapan sampai dengan panen dan berjenjang mulai dari Pusat, Provinsi, Kabupaten/ Kota dan Kecamatan serta Desa. b) Pusat melakukan koordinasi, supervisi dan pembinaan pelaksanaan SL-PTT kedelai, pengembangan model PTT kedelai dan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai di Provinsi dan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

47

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Kabupaten sebanyak dua kali dalam setahun atau disesuaikan dengan ketersediaan dana yang ada. c) Provinsi melakukan koordinasi, supervisi, pembinaan dan pengawalan pelaksanaan SL-PTT kedelai, pengembangan model PTT kedelai dan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai di Kabupaten/Kota per dua bulan atau disesuaikan dengan ketersediaan dana yang ada. d) Sedangkan Kabupaten/Kota melakukan koordinasi dan pembinaan pelaksanaan SL-PTT kedelai, pengembangan model PTT kedelai dan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai di tingkat lapangan/kelompoktani pelaksana SL-PTT kedelai, pengembangan model PTT kedelai dan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai setiap bulan atau disesuaikan dengan ketersediaan dana yang ada. e) Melakukan pendampingan kelompoktani pelaksana SL-PTT kedelai, pengembangan model PTT kedelai dan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai dalam menerapkan paket teknologi spesik lokasi dan membantu kelancaran distribusi bantuan SLPTT kedelai, pengembangan model PTT kedelai dan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai dll f) Pengawalan dan pendampingan oleh peneliti Puslitbangtan, BB Padi, Balitsereal, Balitkabi, dan Lolit Tungro bersama peneliti BPTP. Pengawalan dan pendampingan dilakukan di 60 % lokasi SL-PTT kedelai, pengembangan model PTT kedelai dan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai tahun 2013 di wilayah yang sudah ditetapkan untuk peneliti lingkup Puslitbangtan di setiap Provinsi dan peneliti BPTP di setiap Kabupaten/Kota

48

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

g) Tugas pengawalan / pendampingan SL-PTT, pengembangan model PTT kedelai dan perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai oleh peneliti Puslitbangtan adalah a) menyediakan benih kedelai untuk uji adaptasi dan demplot PTT di laboratorium lapang, b) melakukan supervisi penerapan teknologi melalui saran kunjungan lapang 3 kali/tahun, c) memberikan pemecahan masalah pengamanan

produksi dan d) menyampaikan laporan hasil pengawalan dan pendampingan kepada Puslitbangtan h) Sedangkan tugas pengawalan SL-PTT, Pengembangan Model PTT Kedelai dan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) kedelai oleh peneliti BPTP adalah a) melaksanakan demoplot PTT dan superimpose uji adaptasi kedelai, b) memonitor perkembangan OPT bersama dengan instansi terkait daerah, c) melakukan supervisi penerapan teknologi, d) memberikan saran pemecahan masalah pengamanan produksi, e) menyampaikan laporan hasil pengawalan dan pendampingan kepada Kepala BBP2TP i) Bentuk pengawalan dan pendampingan yang dilakukan oleh jajaran peneliti adalah a) Dem farm 3 5 Ha (di luar lokasi SL-PTT), b) Introduksi/Uji Adaptasi VUB, c) Temu lapang, d) Materi teknologi (cetak dan elektronik) dan e) Pelatihan

C.

Jadwal dan Mekanisme Pengadaan Barang Jasa


1. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan a. SL-PTT Kedelai Pelaksanaan SL-PTT kedelai mulai dari penyusunan Pedoman Teknis sampai dengan laporan akhir pelaksanaan kegiatan, pemantauan dan pengendalian yang dilaksanakan sejak bulan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

49

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Oktober 2012 sampai dengan Desember 2013 dapat dilihat pada tabel 5 dibawah ini. Tabel 5. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan SL-PTT Kedelai Tahun 2013
2012
No

2013 Jan Feb Mart Aprl Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nop Des

Uraian

OktDes

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Pedoman Teknis SL-PTT Penetapan CPCL Penyusunan RUK Melakukan sosialisasi dan koordinasi Menyusun Juklak dan Juknis Transfer dana ke kelompok Melakukan pengawasan pengadaan Pelaksanaan pertanaman Pembinaan/bimbingan kpd Kelompoktani Pertemuan Kelompoktani (6 kali) Monitoring dan evaluasi Menyusun laporan pelaksanaan, pemantauan dan pengendalian

12

b. Pengembangan Model PTT Kedelai Pelaksanaan pengembangan model PTT kedelai mulai dari penyusunan pedoman teknis sampai dengan laporan akhir pelaksanaan kegiatan, pemantauan dan pengendalian yang dilaksanakan sejak bulan Oktober 2012 sampai dengan Desember 2013 dapat dilihat pada tabel 6 dibawah ini.

50

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Tabel 6. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Model PTT Kedelai Tahun 2013
2012
No

2013 Jan Feb Mart Aprl Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nop Des

Uraian

OktDes

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Pedoman Teknis Pengembangan Model PTT Kedelai Penetapan CPCL Penyusunan RUK Melakukan sosialisasi dan koordinasi Menyusun Juklak dan Juknis Transfer dana ke kelompoktani Melakukan pengawasan pengadaan Pelaksanaan pertanaman Pembinaan/bimbingan kpd kelompoktani Monitoring dan evaluasi Menyusun laporan pelaksanaan, pemantauan dan pengendalian

11

c. Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai Pelaksanaan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) kedelai mulai dari penyusunan RKAKL sampai dengan laporan akhir pelaksanaan kegiatan, yang dilaksanakan sejak bulan Desember 2012 sampai dengan Desember 2013 dapat dilihat pada tabel 7 dibawah ini.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

51

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Tabel 7. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai Tahun 2013
No 1 2 3 4 Kegiatan RKAKL Pedum dan Juknis, DIPA Penyusunan KAK/TOR Adminitrasi Pengadaan Proses Pengadaan Bantuan Penyaluran Bantuan Pelaksanaan pertanaman Pendampingan Monev Pelaporan Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des

6 7 8 9 10

2.

Mekanisme Pengadaan Barang a. SL-PTT Kedelai 1) Bantuan paket SL-PTT berupa BLM di transfer ke kelompoktani 2) Kelompoktani melakukan pengadaan barang sesuai paket yang disediakan 3) Selain bantuan paket, disediakan subsidi benih untuk pelaksanaan SL-PTT

52

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

4) Mekanisme pengadaan sebagai berikut :

b. Pengembangan Model PTT Kedelai 1) Bantuan paket pengembangan model PTT kedelai berupa BLM di transfer ke kelompoktani 2) Kelompoktani melakukan pengadaan barang sesuai paket yang disediakan 3) Mekanisme pengadaan sebagai berikut :

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

53

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

c. Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai 1) Bantuan paket teknologi budidaya kedelai berupa sarana produksi lengkap 2) Proses pengadaan dilakukan oleh Satker Pusat cq Pejabat Pembuat Komitmen Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi 3) Mekanisme pengadaan sebagai berikut :

Dinas Provinsi

54

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

V. PENGENDALIAN, EVALUASI DAN PELAPORAN


A. Pengendalian
1. Pengendalian dilaksanakan secara berjenjang oleh Pusat, Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bersama pihak ketiga pengadaan dan penyaluran saprodi (benih, pupuk dll) 2. 3. Dilaksanakan secara periodik mulai dari persiapan sampai dengan panen Pengendalian meliputi perkembangan pelaksanaan program dan kegiatan pencapaian produksi kedelai tahun 2013

B.

Evaluasi
1. Evaluasi dilaksanakan secara berjenjang oleh Pusat, Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bersama pihak ketiga pengadaan dan penyaluran saprodi (benih, pupuk dll). 2. 3. Dilaksanakan secara periodik mulai dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan Evaluasi meliputi a) komponen kegiatan dalam mendukung pencapaian produksi kedelai tahun 2013, b) tingkat pencapaian sasaran areal dan produksi, c) kenaikan tingkat produktivitas dan produksi, d) permasalahan yang ada di tingkat lapang, e) kegiatan pendukung lainnya.

C.

Pelaporan
Kegiatan pelaporan dilaksanakan oleh petugas Provinsi, Kabupaten/ Kota, dan Kecamatan secara periodik setiap bulan. Pelaporan meliputi laporan pelaksanaan program, pelaksanaan kegiatan, penyampaian

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

55

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

data dan informasi. Pelaporan dilakukan secara berjenjang yaitu dari pemandu lapangan ke Kabupaten/Kota dan Provinsi ke pusat.

D.

Pelaksanaan Program
1. Sasaran tanam, panen, produktivitas dan produksi bulanan a. Pusat, Provinsi dan Kab/Kota merencanakan dan membuat laporan blanko sasaran tanam, panen, produktivitas dan produksi kedelai tahun 2013 b. c. Laporan sasaran tanam, panen, produktivitas dan produksi kedelai tahun 2013 Kab/Kota di laporkan ke Provinsi Provinsi mengirim laporan sasaran tanam, panen, produktivitas dan produksi kedelai tahun 2013 ke Pusat 2. Realisasi sasaran tanam, panen, produktivitas dan produksi bulanan a. Kabupaten/Kota mengirimkan laporan blanko realisasi tanam, panen, produktivitas dan produksi kedelai bulanan tahun 2013 ke Provinsi b. Provinsi mengirimkan laporan blanko realisasi tanam, panen, produktivitas dan produksi kedelai bulanan tahun 2013 ke Pusat c. Penyampaian laporan realisasi tanam, panen, produktivitas dan produksi kedelai tahun 2013 Kab/Kota di laporkan ke Provinsi dan Pusat setiap bulan sampai akhir tahun 3. Kendala dan permasalahan yang dihadapi ditingkat lapangan a. Dinas Kab/Kota memberikan laporan kendala dan permasalahan kegiatan pengelolaan produksi kedelai di lapangan antara lain meliputi bagaimana ketersediaan benih, tanaman yang terkena OPT, banjir maupun kekeringan

56

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

b. c. d. e.

Dari laporan Kab/Kota yang disampaikan ke dinas Provinsi dan akan di laporkan ke Pusat Laporan kendala dan permasalahan di tingkat lapangan disampaikan ke Pusat setiap bulan Perkembangan serangan OPT dilakukan bulanan, triwulan dan tahunan Dari hasil laporan perkembangan tersebut akan dievaluasi oleh Pusat dan Daerah

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

57

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

VI. PENUTUP
Pedoman teknis pengelolaan produksi tanaman kedelai tahun 2013 ini merupakan acuan bagi Dinas Provinsi, Dinas Kabupaten/Kota, pihak ke tiga pengadaan dan penyaluran benih serta pemangku kepentingan lainnya dalam pelaksanaan SL-PTT, Pengembangan Model PTT Kedelai, Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai dan kegiatan pendukung lainnya tahun anggaran 2013 di lapangan. Dengan demikian maka diharapkan tujuan dan sasaran peningkatan produksi kedelai dapat dicapai secara optimal. Pedoman teknis pengelolaan produksi tanaman kedelai ini, hendaknya dapat ditindaklanjuti menjadi Petunjuk Teknis oleh Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. Apabila terdapat kekeliruan atau perubahan kebijakan dalam peraturan yang lebih tinggi, pedoman teknis ini akan disesuaikan.

58

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI


A. Kesesuaian Agroklimat
Di Indonesia kedelai ditanam pada lahan sawah (setelah panen padi) dan pada lahan kering (terutama pada lahan kering yang tidak masam). Di Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera ada juga kedelai ditanam pada lahan pasang surut/lebak yaitu pada musim kemarau. Sampai saat ini penyebaran kedelai di Indonesia masih terluas di pulau Jawa. Di Jawa kedelai ditanam sebagian besar dilahan sawah. Lahan yang sesuai untuk tanaman kedelai adalah tidak lahan masam/ pH diatas 5,0/, tekstur lempung dan kandungan bahan organik tinggi sampai sedang. Kandungan hara tanah (N, P2O5, K2O, Ca, Mg) yang cocok atau sesuai adalah tinggi sampai sedang. Curah hujan 1.000 2.500 mm/tahun dan temperatur 20 35 C untuk lebih jelasnya adapun kriteria kesesuaian lahan agroklimat untuk tanaman kedelai seperti pada tabel 8 berikut.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

59

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Tabel 8. Kriteria kesesuaian Agroklimat untuk Tanaman Kedelai


No.

Faktor Agroklimat Suhu rata-rata (C) Curah hujan (mm/h) Curah hujan selama musim tanam kedelai (mm/3bulan) Ketersediaan irigasi pada musim kemarau Tekstur tanah

Sangat sesuai 25-28 1.500-2.500 300-400 5-6 x pengairan - Lempung - Lempung berliat - Lempung berdebu - Lempung liat berdebu Baik, sedang

Sesuai 29-35 20-25 1.000-1.500 250-300 4 x pengairan - Lempung berpasir - Liat berpasir

Agak sesuai 36-38 18-19 2.500-3.500 700-1.000 200-250 2-3 x pengairan - Pasir berlempung - Liat berdebu

Kurang sesuai >38 <18 >3.500 <200 1 x pengairan - Pasir - Kerikil - Liat padat

1 2 3

Drainase tanah

Agak lambat

- Lambat - Sangat cepat 15-25 Agak rendah 4,5-5,0 Agak rendah Agak rendah Agak rendah Agak rendah 15-20 16-50% 16-30% 1.000-1.200

- Sangat cepat - Sangat lambat <15 Rendah <4,5 >7,0 Rendah Rendah Rendah Rendah >20 >50% >30% >1.200

6 7 8 9

Kedalaman lapisan olah (cm) Bahan organik tanah Kemasaman tanah (pH) N tanah P2O5 tersedia K2O tersedia Ca, Mg Kejenuhan AI (%)

>50 Tinggi-sedang 5,8-6,9 Tinggi-sedang Tinggi Tinggi Tinggi <10 Datar Tanpa 100-800

30-45 sedang 5,0-5,8 Sedang Sedang Sedang Sedang 10-15 <15% <15% 1-100 800-1.000

10 11 12

Topogra Naungan Evelasi (m,dpl)

Sumber: Badan Litbang Kementan RI

B.

Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai


1. Iklim Tanaman kedelai merupakan tanaman daerah subtropis yang dapat beradaptasi baik didaerah tropis. Dapat tumbuh baik, antara garis lintang 0-52, dengan curah hujan diatas 500 mm/tahun. Suhu optimal 25-30C dengan penyinaran penuh minimal 10 jam

60

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

perhari,kelembaban rata-rata 65%. Penanaman pada ketinggian lebih dari 750m dpl, pertumbuhan mulai terhambat dan umur tambah panjang namun masih berproduksi baik pada ketinggian 110 mdpl. Untuk memperoleh pertumbuhan yang optimal, sebaiknya kedelai ditanam pada bulan-bulan yang agak kering, tetapi air tanah masih cukup tersedia. Air diperlukan sejak pertumbuhan awal sampai pada periode pengisian polong. Pada tanah yang terlalu becek, apalagi sering tergenang air tidak baik untuk pertumbuhan kedelai. Terlalu banyak hujan pada saat menjelang panen pun kurang menguntungkan, karena akan mengakibatkan turunnya kwalitas hasil. Waktu tanam yang tepat sangat berbeda untuk satu daerah dengan daerah lainnya. Tetapi pada umumnya pada tanah tegalan yang drainasenya baik, musim tanam yang sesuai adalah awal musim penghujan. Dianjurkan menanam secara serempak untuk daerah-daerah yang berdekatan, dengan maksud untuk membatasi penyebaran hama. Pada penanaman yang tidak serempak tanaman yang lebih dahulu dipanen akan merupakan sumber penularan hama. Agar tidak terjadi akumulasi hama disuatu daerah, sebaiknya penanaman kedelai dirotasikan dengan tanaman lain. 2. Tanah Kedelai dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah, asalkan drainase dan aerasi tanah cukup baik. Kecuali untuk tanah PMK (podzolik merah kuning) dan tanah-tanah yang banyak mengandung pasir

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

61

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

kwarsa pertumbuhannya kurang baik, kecuali bila diberikan pupuk organik, dan kapur pertanian untuk tanah PMK dalam jumlah cukup, pH tanah yang cocok untuk kedelai adalah sekitar 5,8-7,0 tetapi pada pH 4,5 pun kedelai masih dapat menghasilkan. Pemberian kapur 1-2,5 ton/ha pada tanah dengan pH dibawah 5,5 pada umumnya dapat menaikkan hasil. Untuk memperbesar peluang keberhasilan, di daerah-daerah yang belum pernah ditanam kedelai perlu diinokulasi dengan bakteri Rhizobium. Sekarang ini telah direkomendasikan Badan Litbang Deptan adalah inokulasi Rhizoplus. Dan telah ada pula produk-produk hayati baru yaitu: Bio P 2000 Z yang berdasarkan hasil-hasil demonstrasi di beberapa lokasi dapat meningkatkan produksi secara nyata. Pada lahan sawah, kedelai ditanam setelah panen padi (pola tanam padi-padi-kedelai atau padi-kedelai-palawija lain/sayuran). Pada lahan kering ditanam setelah panen padi gogo atau jagung atau tanaman lainnya (pola tanam: padi/jagung-kedelai-palawija lain/sayuran/berra atau padi-palawija lain-kedelai dan sebagainya). Budidaya kedelai meliputi penggunaan benih bermutu tinggi, pengolahan/penyiapan lahan, bertanam, pemupukan dasar (saat tanam, dan pemupukan susulan menjelang berbunga), penyiangan dua kali (sesuai keperluan), pembumbunan (saat penyiangan pertama), penyemprotan pestisida (sesuai keperluan), panen, penjemuran dan perontokan. 3. Teknologi Pra dan Pasca Panen Teknologi pra dan pasca panen telah tersedia baik di wilayah sentra produksi maupun di wilayah pengembangan produksi kedelai. Hal ini karena teknik penanganan pra dan pasca panen kedelai telah disebarkan ke seluruh pelosok Indonesia melalui Instansi/Lembaga

62

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Pertanian dan pada tingkat lapang oleh Penyuluh Pertanian. Adapun teknologi pra dan pasca panen sebagai berikut: a. Benih Varietas yang ditanam dapat dipilih varietas yang unggul di lokasi tersebut. Kebutuhan benih sekitar 40 - 50 kg/ha biji kecil ( 600.000 butir) dan 80 kg/ha untuk biji besar ( 600.000 butir). Varietas berumur genjah (70-80 hari) sangat cocok untuk meningkatkan indeks pertanaman menjadi IP-300. Varietas sedang (81-90 hari) dan varietas (di atas 90 hari). Sistem pengadaan benih dapat pula dengan pola JABALSIM (jalinan benih antara lapang dan antar musim). b. Penyiapan Lahan Penyiapan lahan sawah tanah tidak perlu diolah, cukup dibersihkan dan dibuat saluran drainase atau selokan dengan jarak 3 meter khususnya untuk menghindari genangan air. Pada lahan tegal tanah diolah hingga gembur (olah tanah sempurna), dibuat bedengan 2-3 meter atau teras dengan batas pematang. c. Tanam Pada lahan sawah, penanaman optimal 7 hari setelah panen padi sawah. Perlakuan benih dengan seed treatment antara lain dengan 10 gram Marshal/kg benih, untuk mencegah hama lalat kacang, benih ditugal, jarak tanam 40x10 cm atau 20x20 cm, jumlah benih 2-3 biji/lubang. Jumlah lubang 250.000/ha, populasi optimal 450.000 tanaman/ha. Inokulasi dengan PMMG Rhizoplus dosis 150 gr/ha atau dengan Bio P 2000 Z. Penutupan mulsa jerami 5 ton/ha untuk mencegah lalat bibit dan sebagai pupuk.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

63

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

d. Pemupukan Tanah sawah yang subur cukup diberikan 50 kg urea/ha saat tanam sebagai pemicu awal pertumbuhan. Tanah grumosol perlu dipupuk 50 kg urea + 75 kg TSP + 75 kg KCL/ha. Tanah hidromorf seperti pantai utara Jawa Barat perlu dipupuk 100 kg urea + 75-100 kg TSP + 100 kg KCL/ha. Akan tetapi dengan adanya teknologi hemat biaya PMMG (pupuk mikroba multiguna) Rhizoplus hasil penelitian Tim Penelitian Balitbio, maka pemberian PMMG Rhizoplus dengan dosis 150 gr/ha dapat menghemat penggunaan pupuk N maupun fosfat yaitu: tanpa pemupukan N dan penghematan 50% pupuk fosfat, sedangkan KCL diberikan sesuai anjuran daerah setempat. Untuk lahan kering perlu diberi pupuk kandang 3-5 ton/ha dan pada lahan kering bereaksi masam perlu diberi kapur pertanian 0,5-2,5 ton/ha agar memperoleh hasil maksimal. Saat ini sudah berkembang penggunaan pupuk hayati/ Rhizobium (dosis 200 gr/ha) dengan menggunakan bermacammacam merk dagang dari produsen BUMN/ swasta. e. Anjuran pupuk lainnya Pupuk fused Magnesium Phosfat (FMP) untuk kedelai dianjurkan dosis 100 kg/ha, waktu aplikasi adalah pada saat pemupukan dasar. Pupuk phosfat alam dianjurkan di lahan sawah bukaan baru dengan dosis anjuran 500 kg/ha, diberikan dengan cara larikan pada saat pemupukan dasar. f. Penyiangan Penyiangan harus dilakukan seawal mungkin, agar gulma tidak menyaingi pertumbuhan kedelai. Pertama 3 minggu setelah tanam, dan kedua 6 minggu setelah tanam, pada daerah yang

64

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

sukar tenaga kerja dapat digunakan herbisida pra tumbuh. g. Pengairan Perlu diusahakan kelembaban tanah setara dengan kapasitas lapang, terutama pada awal pertumbuhan vegetatif, saat pertumbuhan polong dan saat pengisian biji. Kekeringan pada saat-saat tersebut dapat mengakibatkan merosotnya produksi. Tanaman perlu diairi (di leb) 1 kali dalam 2 minggu mulai saat pertumbuhan hingga pembungaan dan pembentukan polong. Jika tidak dapat dengan cara leb maka dilahan kering dilakukan penyiraman jika diperlukan. h. Pengendalian hama dan penyakit Aplikasi insektisida yang efektif disesuaikan dengan keperluan, yaitu menurut intensitas serangan atau populasi hama berdasarkan hasil pengamatan atau apabila telah mencapai ambang ekonomi, baru dilakukan penyemprotan dengan insektisida. Nilai ambang ekonomi beberapa hama adalah, lalat kacang: 2% serangan atau terdapat 1 lalat dewasa per 5 meter baris tanaman, perusak daun: 12,5% kerusakan oleh berbagai ulat atau ditemukan 2-5 ekor ulat muda per tanaman, khususnya pada periode menjelang berbunga sampai pengisian polong, perusak polong: 2% serangan, dengan cara mengamati kerusakan polong tanaman (10-20 rumpun). Apabila tenaga pengamat hama belum memadai, pengamatan hama dapat dilakukan pada periode kritis (7, 20, 45 dan 60 hari). Pengendalian penyakit dilakukan bila tanaman pada umur sekitar 30 hari terdapat gejala karat daun dan perlu disemprotkan dengan fungisida. Penyakit karat yang mulai menyerang pada umur 70

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

65

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

hari atau lebih tidak perlu dikendalikan, karena tidak berpengaruh pada hasil. i. Penggunaan Alsintan Penggunaan alsintan akan mempercepat pekerjaan pra dan pasca panen. Traktor digunakan untuk mempercepat pengolahan tanah. Pompa air aksial dan centrifugal akan membantu pengairan tanaman 1 kali dalam 2 minggu. Dryer dan Tresher untuk membantu kegiatan pengeringan dan perontokan kedelai. j. Teknologi pasca panen Umur kedelai berkisar antara 72-90 hari tergantung varietasnya. Secara visual saat panen ditandai dengan daun berwarna kuning coklat kehitaman dan rontok, batang telah kering serta polong berwarna coklat dan pecah, pada kondisi normal kadar air berkisar 20-24%. Cara panen adalah memotong batang menggunakan sabit bergerigi. Tanaman diupayakan tidak tercabut agar bintil akar Rhizobium tetap dalam tanah sebagai pupuk. Hasil pemotongan dikumpulkan secara teratur dan dipisahkan bila tingkat kematangannya berbeda. Pengumpulan dilakukan dengan baik sehingga tidak ada yang tercecer. Pengeringan brangkasan untuk memudahkan perontokan/ pembijian dilakukan dengan sinar matahari atau pengeringan buatan jika musim hujan. Pengeringan dilakukan sampai kadar air 17%. Setelah pembijian dilakukan lagi pengeringan sampai kadar air 14%. Pada musim hujan pengeringan harus dibantu dengan peralatan dryer. Jika belum dijual/digunakan, maka dilakukan penyimpanan dengan kedap udara. Biji kedelai yang telah kering

66

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

(kadar air 9-14%) disimpan dalam kaleng yang dilapisi dengan bahan-bahan yang dapat menyerap air/kelembaban (antara lain bubuk arang). 4. Varietas Kedelai Sampai dengan tahun 2009 telah dilepas sebanyak 80 varietas kedelai. Berdasarkan umurnya varietas kedelai dibagi ke dalam 3 jenis yaitu varietas berumur genjah (<80 hari), umur sedang (80-89 hari) dan umur dalam (>90 hari), sedangkan berdasarkan warna bijinya kedelai dibagi menjadi biji kuning dan biji hitam. Pemilihan varietas kedelai disesuaikan dengan lokasi (spesik lokasi). Untuk mendapatkan hasil yang tinggi, disarankan agar menggunakan varietas unggul yang bermutu. a. Varietas Kedelai yang Telah Direalease Varietas kedelai yang telah di realease oleh Pemerintah sebanyak 80, untuk mendukung produksi kedelai. Daftar nama nama varietas kedelai yang sudah dirilis sampai dengan tahun 2009 disajikan pada tabel 9 berikut.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

67

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Tabel 9 . Daftar Nama Varietas Kedelai Berdasarkan Umur dan Warna Biji
Varietas
1. KEDELAI KUNING A. Umur Genjah ( 80 hari) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Taichung Shakti Sumbing Lokon Guntur Tidar Muria Petek Lumajang Bewok Dieng Tengger Malabar Lawu Sindoro Kawi Leuser Meratus Baluran Gepak Kuning Gepak Ijo Tk 5 Ringgit Merapi Davros Orba Galunggung Wilis Kerinci Raung Rinjani Tambora Jayawijaya Lampobatang Krakatau Tampomas Singgalang Kipas Putih Pangrango Argomulyo Bromo Manglayang Burangrang Slamet Sinabung Kaba Anjasmoro Mahameru Tanggamus Sibayak Menyapa Lawit Malabar Meratus Baluran Grobogan Ijen Panderman 1935 1938 1965 1974 1981 1983 1985 1986 1989 1989 1989 1989 1992 1992 1992 1992 1995 1998 1998 1999 1999 1995 2001 2001 2001 2001 2001 2001 2001 2001 1992 1998 2002 2008 2003 2003 1982 1982 1987 1987 1989 1989 1991 1991 1992 1991 1995 1998 1998 1998 2002 2008 2008 1,3-1,5 1,0-1,5 1,0-1,5 1,1-2,0 1,1-2,0 1,4-2,0 1.8 1,0-1,5 1,2-2,0 1,2-2,0 1,2-2,0 1,3-2,0 1,2-2,0 2.03 2.04 1.87 1.4 2,5-3,0 2.2 2.2 1,0-1,5 1,0-1,5 1 1,0-1,5 1.5 1.5 1,5-2,5 1,5-2,5 1,5-2,5 1,5-2,5 1,5-2,0 1,5-2,5 1,2-2,0 1,6-2,7 1,5-2,5 1,5-2,0 1.7 1,7-2,2 1,5-2,0 1,5-2,5 1,02-2,45 1,5-2,5 2,0-2,5 2.16 2.13 2,25-2,03 2,16-2,04 1.22 1.41 1,9-2 1,9-2 1.3 1.4 2.5 2.8 2.5 2.4 21 12.5 10.68 10.37 14,8-15,3 16,5-17,0 11 12.5 9.1 10.5 12 10 16 18 11.2 18-19 10.5 12-16 g 8 10.8 10.6 7 12.5 8 9.6 11 7.5 12 11 12 10.5 10.6 9-10 g 15-17 8.3 6.8 17.8 8 8 12 12-14 g 12.5 10 9 13 10 14 9 10 8 11 10 12 10 20 16 75-80 60-85 75-80 76 78 75 83 80 80 74 78 70 79 86 88 78-80 73-77 80 73 76 80-85 >85 85 80-85 85-90 80-90 88 87 85 88 85 87 86 85 84 85 85-90 88 82 85 92 81 87 88 85 85 86 85 87 85 84 70 75 79 75 83 85 34.73 39 41 37.13 38.5 44.4 37 42 39 37 39 39 38 36 34 34 35 39 39.4 Na 35.32 39 34 46 44 41,78-42,05 42,87-44,25 44.5 44.6 34.27 41.6 38.8 37 31.3 37 35-36 38.78 34.54 37 38.52 37 31.4 33 38.5 37 39.5 38-40

Tahun Dilepas

Hasil (ton/Ha)

Bobot 100 biji (g)

Umur Panen (hari)

Nilai Protein (%)

B. Umur Sedang (81-89 hari)

68

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjuatan Tabel 9
Tahun Dilepas Hasil (ton/Ha) Bobot 100 biji (g) Umur Panen (hari) Nilai Protein (%)

Varietas
1. KEDELAI KUNING B. Umur Sedang (81-89 hari) 38 39 40 41 42 43 44 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 Gumitir Agopuro Seulawah Ratai Rajabasa Kipas Merah Bireuen Mitani Otau No. 27 No. 29 Dempo Merabu Kipas Putih Nanti Merubetiri Arjasari Cikuray Mallika Detam-1 Detam-2

2005 2005 2004 2004 2004 2008 2008 1918 1919 1924 1984 1986 1992 2001 2002 2005 1992 2007 2008 2008

2.1 2.3 1.6 1.6 2.1 3.5 3.2 1,0-1,2 1,0-1,2 1,0-1,5 1,5-2,5 1,5-2,5 1,7-2,1 1.24 2,5-3,0 1-4,6 1,4-2,2 2.9 2.5 2.5

15.8 17.8 9.5 10.5 15 12 12.8 7-8 g 7-8 g 7 13 10 12 11.5 13-14 19.2 12 9-10 g 14.8 13.5

81 84 93 90 85 85-90 82-90 90-100 90-110 90-110 90 90 90 90 95 98-100 85 85-90 84 82 35 36.7 40 43 41 45 35 42.8 38-40

C. Umur Dalam (90 hari)

2. KEDELAI HITAM

Ket: Biji besar (berat 100 biji15 g); biji sedang (berat 100 biji 10-15 g); biji kecil (berat 100 biji <10 g)

b. Penyebaran Varietas Kedelai Varietas benih tanaman pangan termasuk kedelai dibagi menjadi 3 kategori yaitu : 1) Varietas Produksi Tinggi (VPT) dengan produktivitas per hektar diatas 2 ton (20 ku/ha) 2) Varietas Produksi Sedang (VPS) dengan produktivitas per hektar 1-2 ton (10-20 ku/ha) 3) Varietas Produksi Rendah (VPR) dengan produktivitas dibawah 1 ton per hektar (10 ku/ha) Berdasarkan data penyebaran varietas dari Direktorat Perbenihan, Ditjen Tanaman Pangan bahwa secara nasional penggunaan Varietas Produksi

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

69

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Tinggi (VPT) kedelai sudah mencapai 84,77%, Varietas Produksi Sedang (PVS) mencapai 4,77% dan Varietas Produksi Rendah (VPR) mencapai 10,47%. Varietas kedelai yang banyak digunakan petani antara lain : varietas Dieng (31,71%), Anjasmoro (15%), Baluran (7,61%), TK 5 (5,47%), Wilis (5,27%), Grobogan (3,67%) dan varietas lokal (4,69%). Daftar penyebaran varietas kedelai per provinsi seluruh Indonesia tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 10 berikut :

70

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Tabel 10. Penyebaran Varietas Kedelai Tahun 2010

No.

VARIETAS

NAD Sumut Sumbar

Riau

Jambi Sumsel Bengkulu

Lampung Banten Jawa Jateng DI. Barat Yogya

Jawa Timur

Kalbar Kalsel Kaltim

Bali

NTB

NTT

Sulut

Sulteng

Sulsel Sultera Maluku Papua Gorontalo

Jumlah

I. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 II. 1 2 3 4 5 6 III. 1 2 3 4

VPT Anjasmoro Bungrangrang Bromo Baluran Davros Dieng Galunggung Guntur Ijen Kipas Putih Kipas Ungu Lokon Lompo Mas Lumajang Bewok Muria Mahameru Malabar Nanti Orba Rinjani Ringgit Sumbing Semeru Sinambung Tampomas Tidar Tk. 5 Wilis VPS Argomulyo Kerinci Kaba Meratus Tanggamus Grobogan VPR Paris Slamet Lain-lain Varietas lokal JUMLAH

7,056 2,917 6,564 2,183 105 387 195 7 102 14 416 21 21 -

106 2,578 3,526 4,097 38 2,237 3,236 35 33 254 254 21 74 246 45 45 94 104 11 9 867 1,119 294 376 8 -

127 60 9 22 36 44 12 32

2,000 805 23 14 222 184 115 637 158 158 -

54 13,075 13,149 24,409 237,741 51 729 1,054 5,693 7 290 23 182 3 11,253 19,408 -

71 30 41 25 25

26 23 3 -

173 1,926 7 1,422 10 4 152 1 1 31 31 -

48,995 32,345 -

15 3,640 1 14 92 50 42 314 459 1,180 858 828 762 349 413 54 54 4,455 746

376 22,057 173 155

827 29 8 7 500 174 109 180 180

154 70 1 83 1 1 11 11

199 78 7 85 29 62 62 261 352

218 389,511 84.77 68,903 6,556 4,474 34,958 243 15.0 1.43 0.97 7.61 0.05

- 6,452 -

- 4,184 -

- 14,071 -

- 1,209 54 -

- 145,699 222 574 314 12 3,709 1,018 3,297 8,446 4,107 14,447 25,140 891 2,920 919 2,001 9,853 5,406 4,447

- 145,699 31.71 4 131 83 134 40 95 1,381 1,215 7,237 347 4,003 3,920 300 292 459 15,350 7 62 13,081 1,018 110 3,297 8,446 4,122 206 14,447 25,140 24,237 21,911 2,173 407 677 413 1,394 16,848 0.30 0.26 1.57 0.08 0.87 0.85 0.07 0.06 0.10 3.34 0.00 0.01 2.85 0.22 0.02 0.72 1.84 0.90 0.04 3.14 5.47 5.27 4.77 0.47 0.09 0.15 0.09 0.30 3.67

- 1,215 - 6,250 137 108 40 -

- 2,759 300 62 110 -

- 1,596 -

33 11,988 75 846 206 -

3 10,621 -

72 1,433 152 152 142 142 1,144 31 1,113

938 4,155 1,090 205 8,522 8,173 93 1,054 76 3 -

504 10,870 529 57 10 241 221

41 1,201 59 49 10 311 311 135 135 935 935

- 1,215

36 6,250 8,173 300 5,698 300 600

9,607 1,052 7,191 2,416 323 729

623 1,786 -

347 6,827 2,478 -

5 2,755 -

217 3,352 -

48,089 10.47 300 12 26,241 21,536 0.07 0.00 5.71 4.69

623 1,043 743

263 2,063 2,478 84 4,764 2,505 -

- 2,717 5 38 2,781 205

76 3,337 141 15

- 5,098

16,663 3,990 360

3,246 5,464 5,383 171

6,881 15,758 21,971

38,280 250,514 101

2,143 52,875 107

23,127 1,007 165

459,510 100.00

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

71

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 1 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Kedelai Tahun 2013 per Provinsi
2013 NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ACEH SUMUT SUMBAR RIAU KEPRI JAMBI SUMSEL BABEL BENGKULU LAMPUNG DKI JAKARTA JABAR BANTEN JATENG DI YOGYA JATIM BALI NTB NTT KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT GORONTALO SULTENG SULSEL SULAWESI BARAT SULTRA MALUKU MALUKU UTARA PAPUA PAPUA BARAT INDONESIA PROVINSI Luas Tanam (Ha) 65,835 16,508 2,625 6,472 10,000 19,500 6,405 13,600 123,313 20,818 69,500 33,035 384,966 7,035 98,615 6,719 3,500 2,297 5,250 3,190 15,322 3,255 8,135 46,473 9,975 19,950 3,250 3,637 8,231 1,088 1,018,500 Luas Panen (Ha) 62,700 15,822 2,500 6,164 7,257 12,410 6,000 12,952 115,346 19,350 66,285 31,462 378,000 6,700 94,967 6,399 2,872 2,188 5,000 3,038 14,592 3,100 7,748 43,308 9,500 19,000 3,000 3,464 7,839 1,036 970,000 Produktivitas (Ku/Ha) 15.15 12.28 15.00 11.20 13.42 15.95 13.42 11.71 16.23 16.40 16.48 12.26 16.10 13.80 14.43 13.39 13.75 11.73 13.50 12.98 14.94 13.86 15.35 16.04 16.40 13.40 13.60 14.29 12.60 16.90 15.46 Produksi (ton) 95,000 23,397 3,750 6,904 12,739 19,794 8,186 15,173 88,204 31,736 185,100 38,580 632,700 9,246 137,000 4,740 3,948 2,566 5,000 3,943 21,800 5,600 11,891 69,448 14,094 25,460 6,800 4,950 10,500 1,751 1,500,000

72

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 2 Rincian Kegiatan Pengembangan Kedelai Tahun 2013 yang Dibiayai APBN per Provinsi
SLPTT NO. PROVINSI PERTUMBUHAN SLPTT PENINGKATAN IP LL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 ACEH SUMUT SUMABR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA BANTEN GORONTALO PAPUA BARAT SULBAR TOTAL 50 100 150 100 300 50 100 50 400 1.300 SL 450 900 1.350 900 2.700 450 900 450 3.600 11.700 JUMLAH 500 1.000 1.500 1.000 3.000 500 1.000 500 4.000 13.000 PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH SLPTT 29.00 8.000 1.500 4.000 7.000 7.000 5.000 4.000 26.000 58.500 28.000 144.500 3.500 2.000 1.500 1.000 3.000 3.000 26.000 2.500 4.000 60.500 4.000 1.500 2.000 5.000 2.500 1.000 9.500 455.000 PENGEMB. KEDELAI MODEL PERLUASAN AREAL TANAM BARU*) 21.000 1.000 TOTAL

SLPTT PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LL 2.850 800 150 400 700 700 500 400 2.200 4.050 2.700 12.450 300 200 150 100 300 300 1.400 250 400 6.000 400 150 200 500 250 100 550 39.050 SL 25.650 7.200 1.350 3.600 6.300 6.300 4.500 3.600 19.800 36.450 24.300 112.050 2.700 1.800 1.350 900 2.700 2.700 12.600 2.250 3.600 54.000 3.600 1.350 1.800 4.500 2.250 900 4.950 355.050 JUMLAH 28.500 8000 1.500 4.000 7.000 7.000 5.000 4.000 22.000 40.500 27.000 124.500 3.300 2.000 1.500 1.000 3.000 3.000 14.000 2.500 4.000 60.000 4.000 1.500 2.000 5.000 2.500 1.000 5.500 394.500 LL 3.000 16.500 17.000 11.000 47.500

15.000 15.000 10.000 5.000 25.000 15.000 15.000 10.000 110.000

65.000 9.000 1.500

1.250 3.000 12.500

5.250 10.000 19.500 5.000

2.000 500 66.750

6.000 41.500 135.250 33.000 169.500

6250

9.750 2.000

1.000

2.500 1.000 3.000 3.000

1.000

42.000 2.500 4.000 75.500 4.000

2.000

3.500 2.000 15.000 2.500 1.000 9.500

118.250

683.250

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

73

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 3 Rincian SL-PTT Kedelai Tahun 2013 Per Kabupaten


KAWASAN PERTUMBUHAN NO. PROV/KAB SL Hektar 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 3 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 ACEH Kab. Aceh Besar Kab. Aceh Timur Kab. Aceh Utara Kab. Bireuen Kab. Aceh Pidie Kab. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Jaya Kab. Aceh Tamiang Kab. Bener Meriah Kab. Pidie Jaya SUMUT Kab. Asahan Kab. Deli Serdang Kab. Labuhan Batu Kab. Langkat Kab. Mandailing Natal Kab. Simalungun Kab. Tapanuli Selatan Kab. Serdang Bedagai Kab. Padang lawas Kota Binjai Kab. Nias Selatan Kab Padang Lawas Utara Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Batu Bara SUMBAR Kab. Pasaman Kab. Pesisir Selatan Kab. Pasaman Barat RIAU Kab. Indragiri Hilir Kab. Kampar Kab. Rokan Hilir Kab. Rokan Hulu JAMBI Kab. Batanghari Kab. Bungo Kab. Kerinci Kab. Merangin Kab. Muaro Jambi Kab. Sarolangun Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Tj. Jabung Timur Kab. Tebo 500 500 SL Hektar 28,500 500 2,500 1,500 11,000 2,500 500 500 2,000 1,500 6,000 8,000 500 500 500 500 500 500 500 500 500 500 1,500 500 500 500 1,500 500 500 500 4,000 500 500 2,000 1,000 7,000 500 500 500 1,000 500 500 1,000 1,500 1,000 SL Hektar 29,000 500 2,500 1,500 11,000 3,000 500 500 2,000 1,500 6,000 8,000 500 500 500 500 500 500 500 500 500 500 1,500 500 500 500 1,500 500 500 500 4,000 500 500 2,000 1,000 7,000 500 500 500 1,000 500 500 1,000 1,500 1,000 PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH

74

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
KAWASAN PERTUMBUHAN NO. PROV/KAB SL Hektar 6 1 2 3 4 5 6 7 7 1 2 3 4 5 6 8 1 2 3 4 5 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 SUMSEL Kab. Lahat Kab. Musi Banyuasin Kab. Musi Rawas Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ilir Kab. OKU Timur Kab. OKU Selatan BENGKULU Kab. Rejang Lebong Kab. Kaur Kab. Seluma Kab. Muko-muko Kab. Kepahiang Kab Bengkulu Tengah LAMPUNG Kab. Lampung Tengah Kab. Lampung Timur Kab. Tanggamus Kab. Way Kanan Kab. Mesuji JABAR Kab. Ciamis Kab. Cianjur Kab. Garut Kab. Indramayu Kab. Karawang Kab. Kuningan Kab. Majalengka Kab. Subang Kab. Sukabumi Kab. Sumedang Kab. Tasikmalaya Kota Banjar Kab. Bandung Barat 500 500 1,000 SL Hektar 7,000 3,000 1,000 500 500 500 1,000 500 5,000 1,500 500 500 1,000 500 1,000 4,000 1,000 1,000 1,000 500 500 22,000 3,500 6,500 2,000 500 500 1,500 500 2,000 2,000 2,000 500 500 3,000 3,000 SL Hektar 7,000 3,000 1,000 500 500 500 1,000 500 5,000 1,500 500 500 1,000 500 1,000 4,000 1,000 1,000 1,000 500 500 26,000 3,000 4,000 7,000 2,000 500 500 1,500 500 2,000 2,000 2,000 500 500 PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

75

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
KAWASAN PERTUMBUHAN NO. PROV/KAB SL Hektar 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 11 1 2 3 4 JATENG Kab. Banjarnegara Kab. Banyumas Kab. Blora Kab. Boyolali Kab. Brebes Kab. Cilacap Kab. Demak Kab. Grobogan Kab. Kebumen Kab. Kendal Kab. Klaten Kab. Pati Kab. Purworejo Kab. Rembang Kab. Semarang Kab. Sragen Kab. Sukoharjo Kab. Tegal Kab. Wonogiri DI YOGYAKARTA Kab. Bantul Kab. Gunung Kidul Kab. Kulon Progo Kab. Sleman 1,000 1,000 500 500 500 1,500 SL Hektar 40,500 500 2,000 5,000 2,000 4,500 6,500 1,000 2,000 2,000 4,000 4,000 500 500 6,000 27,000 2,500 22,000 2,000 500 SL Hektar 16,500 500 3,000 10,000 2,000 1,000 58,500 500 2,000 5,000 2,000 500 5,000 3,000 10,000 7,000 1,000 2,000 2,000 4,500 4,000 500 2,000 1,000 500 6,000 28,000 2,500 23,000 2,000 500 PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH

76

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
KAWASAN PERTUMBUHAN NO. PROV/KAB SL Hektar 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 13 1 2 14 1 2 3 4 15 1 2 3 JATIM Kab. Bangkalan Kab. Banyuwangi Kab. Blitar Kab. Bojonegoro Kab. Gresik Kab. Jember Kab. Jombang Kab. Lamongan Kab. Lumajang Kab. Madiun Kab. Magetan Kab. Mojokerto Kab. Nganjuk Kab. Ngawi Kab. Pacitan Kab. Pasuruan Kab. Ponorogo Kab. Sampang Kab. Sidoarjo Kab. Sumenep Kab. Trenggalek Kab. Tuban Kab. Tulungagung KALBAR Kab. Sambas Kab. Kayong Utara KALTENG Kab. Barito Utara Kab. Kapuas Kab. Lamandau Kab. Pulang Pisau KALSEL Kab. Kota Baru Kab. Tabalong Kab. Tanah Laut 500 500 500 500 500 500 500 500 3,000 SL Hektar 124,500 4,000 15,000 6,500 11,000 500 10,500 4,500 3,000 5,500 1,000 1,500 8,000 10,500 2,500 11,500 3,000 14,500 500 5,000 4,000 2,000 3,000 2,500 500 2,000 500 500 500 500 1,500 500 500 500 SL Hektar 17,000 10,000 7,000 144,500 4,000 15,000 7,000 11,000 500 10,500 4,500 10,000 3,000 6,000 1,000 1,500 8,500 11,000 2,500 11,500 3,000 15,000 500 5,500 4,000 2,000 7,000 3,500 3,000 500 2,000 500 500 500 500 1,500 500 500 500 PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

77

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
KAWASAN PERTUMBUHAN NO. PROV/KAB SL Hektar 16 1 2 17 1 2 3 4 5 18 1 2 3 4 19 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 20 1 2 3 4 5 KALTIM Kab. Berau Kab. Kutai Barat SULUT Kab. Bolaang Mangondow Kab. Minahasa Kab. Kep. Talaud Kab. Minahasa Utara Kab. Bolmang Timur SULTENG Kab. Banggai Kab. Morowali Kab. Parigi Moutong Kab. Tojo Una-Una SULSEL Kab. Bone Kab. Enrekang Kab. Gowa Kab. Jeneponto Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Kab. Maros Kab. Pangkep Kab. Pinrang Kab. Sidenreng Rappang Kab. Soppeng Kab. Takalar Kab. Tana Toraja Kab. Wajo Kab. Luwu Timur SULTRA Kab. Buton Kab. Konawe Kab. Kolaka Kab. Konawe Selatan Kab. Buton Utara 500 500 1,000 SL Hektar 1,000 500 500 3,000 1,000 500 500 500 500 3,000 1,000 500 1,000 500 14,000 500 1,000 3,000 500 500 4,000 500 1,500 500 1,000 500 500 2,500 500 500 500 500 500 11,000 7,000 2,000 2,000 SL Hektar 1,000 500 500 3,000 1,000 500 500 500 500 3,000 1,000 500 1,000 500 26,000 7,000 500 1,000 3,500 500 500 4,500 500 1,500 500 2,000 1,000 500 2,000 500 2,500 500 500 500 500 500 PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH

78

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
KAWASAN PERTUMBUHAN NO. PROV/KAB SL Hektar 21 1 2 3 4 22 1 2 3 4 5 6 7 8 9 23 1 2 3 4 5 6 7 24 1 2 3 25 1 2 3 4 26 1 2 3 BALI Kab. Badung Kab. Jembrana Kab. Klungkung Kab. Tabanan NTB Kab. Bima Kab. Dompu Kab. Lombok Barat Kab. Lombok Tengah Kab. Lombok Timur Kab. Sumbawa Kota Bima Kab. Sumbawa Barat Kota Mataram * NTT Kab. Kupang Kab. Manggarai Kab. Ngada Kab. Sumba Barat Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Rote-Ndao Kab. Manggarai Barat MALUKU Kab. MTB Kab. Maluku Tengah Kab. Pulau Buru PAPUA Kab. Jayapura Kab. Merauke Kab. Nabire Kab. Keerom BANTEN Kab. Lebak Kab. Pandeglang Kab. Serang 500 500 SL Hektar 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 60,000 14,000 12,000 1,500 23,000 500 6,500 500 500 1,500 4,000 500 1,000 500 500 500 500 500 1,500 500 500 500 2,000 500 500 500 500 5,000 2,000 2,500 500 SL Hektar 4,000 1,000 1,000 1,000 1,000 60,500 14,000 12,000 1,500 23,000 500 7,000 500 500 1,500 4,000 500 1,000 500 500 500 500 500 1,500 500 500 500 2,000 500 500 500 500 5,000 2,000 2,500 500 PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

79

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
KAWASAN PERTUMBUHAN NO. PROV/KAB SL Hektar 27 1 2 28 1 2 29 1 2 3 4 TOTAL GORONTALO Kab. Gorontalo Kab. Pohuwato PAPUA BARAT Kab. Manokwari Kab. Teluk Bintuni SULBAR Kab. Mamuju Kab. Mamasa Kab. Mamuju Utara Kab. Polewali Mandar 1,000 1,000 13,000 4,000 2,000 SL Hektar 2,500 500 2,000 1,000 500 500 5,500 2,000 1,000 1,500 1,000 394,500 47,500 SL Hektar 2,500 500 2,000 1,000 500 500 9,500 4,000 1,000 2,500 2,000 455,000 PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH

80

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 4 Pembagian Lokasi SL-PTT Berdasarkan Bantuan Benih Subsidi


SLPTT RENCANA LOKASI YANG MENGGUNAKAN BENIH SWADAYA PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH 5.000 5.000 5.000 -

NO

PROVINSI

RENCANA LOKASI YANG MENDAPAT SUBSIDI BENIH PERTUMBUHAN PENGEMBANGAN JUMLAH

JUMLAH SLPTT 29.000 500 2.500 1.500 11.000 3.000 500 500 2.000 1.500 6.000 8.000 500 500 500 500 500 500 500 500 500 500 1.500 500 500 500 1.500 500 500 500

1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 3

ACEH Kab. Aceh Besar Kab. Aceh Timur Kab. Aceh Utara Kab. Bireuen Kab. Aceh Pidie Kab. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Jaya Kab. Aceh Tamiang Kab. Bener Meriah Kab. Pidie Jaya SUMUT Kab. Asahan Kab. Deli Serdang Kab. Labuhan Batu Kab. Langkat Kab. Mandailing Natal Kab. Simalungun Kab. Tapanuli Selatan Kab. Serdang Bedagai Kab. Padang lawas Kota Binjai Kab. Nias Selatan Kab Padang Lawas Utara Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Batu Bara

500

500

23.500 500 2.500 1.500 6.000 2.500 500 500 2.000 1.500 6.000 8.000 500 500 500 500 500 500 500 500 500 500 1.500 500 500 500 1.500 500 500 500

24.000 500 2.500 1.500 6.000 3.000 500 500 2.000 1.500 6.000 8.000 500 500 500 500 500 500 500 500 500 500 1.500 500 500 500 1.500 500 500 500

5.000

SUMBAR 25 Kab. Pasaman 26 Kab. Pesisir Selatan 27 Kab. Pasaman Barat

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

81

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
SLPTT RENCANA LOKASI YANG MENGGUNAKAN BENIH SWADAYA PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH -

NO

PROVINSI

RENCANA LOKASI YANG MENDAPAT SUBSIDI BENIH PERTUMBUHAN PENGEMBANGAN JUMLAH

JUMLAH SLPTT 4.000 500 500 2.000 1.000 7.000 500 500 500 1.000 500 500 1.000 1.500 1.000 7.000 3.000 1.000 500 500 500 1.000 500 5.500 1.500 500 500 1.000 500 1.000 500 4.000 1.000 1.000 1.000 500 500

4 28 29 30 31 5 32 33 34 35 36 37 38 39 40 6 41 42 43 44 45 46 47 7 48 49 50 51 52 53 54 8 55 56 57 58 59

RIAU Kab. Indragiri Hilir Kab. Kampar Kab. Rokan Hilir Kab. Rokan Hulu JAMBI Kab. Batanghari Kab. Bungo Kab. Kerinci Kab. Merangin Kab. Muaro Jambi Kab. Sarolangun Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Tj. Jabung Timur Kab. Tebo SUMSEL Kab. Lahat Kab. Musi Banyuasin Kab. Musi Rawas Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ilir Kab. OKU Timur Kab. OKU Selatan BENGKULU Kab. Rejang Lebong Kab. Kaur Kab. Seluma Kab. Muko-muko Kab. Kepahiang Kab Bengkulu Tengah Kab. Bengkulu Selatan LAMPUNG Kab. Lampung Tengah Kab. Lampung Timur Kab. Tanggamus Kab. Way Kanan Kab. Mesuji

4.000 500 500 2.000 1.000 7.000 500 500 500 1.000 500 500 1.000 1.500 1.000 7.000 3.000 1.000 500 500 500 1.000 500 5.000 1.500 500 500 1.000 500 1.000

4.000 500 500 2.000 1.000 7.000 500 500 500 1.000 500 500 1.000 1.500 1.000 7.000 3.000 1.000 500 500 500 1.000 500 5.500 1.500 500 500 1.000 500 1.000 500 4.000 1.000 1.000 1.000 500 500

500

500 4.000 1.000 1.000 1.000 500 500

82

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
SLPTT RENCANA LOKASI YANG MENGGUNAKAN BENIH SWADAYA PENGEMBANGAN PEMANTAPAN 7.500 500 5.000 1.000 3.000 3.000 JUMLAH 10.500 3.000 500 5.000 1.000 1.000 21.500 500 3.000 10.000 2.000 1.000 5.000 -

NO

PROVINSI

RENCANA LOKASI YANG MENDAPAT SUBSIDI BENIH PERTUMBUHAN PENGEMBANGAN JUMLAH

JUMLAH SLPTT 26.000 3.000 4.000 7.000 2.000 500 500 1.500 500 2.000 2.000 2.000 500 500 58.500 500 2.000 5.000 2.000 500 5.000 3.000 10.000 7.000 1.000 2.000 2.000 4.500 4.000 500 2.000 1.000 500 6.000 27.000 2.500 22.000 2.000 500

9 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 10 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 11 92 93 94 95

JABAR Kab. Ciamis Kab. Cianjur Kab. Garut Kab. Indramayu Kab. Karawang Kab. Kuningan Kab. Majalengka Kab. Subang Kab. Sukabumi Kab. Sumedang Kab. Tasikmalaya Kota Banjar Kab. Bandung Barat JATENG Kab. Banjarnegara Kab. Banyumas Kab. Blora Kab. Boyolali Kab. Brebes Kab. Cilacap Kab. Demak Kab. Grobogan Kab. Kebumen Kab. Kendal Kab. Klaten Kab. Pati Kab. Purworejo Kab. Rembang Kab. Semarang Kab. Sragen Kab. Sukoharjo Kab. Tegal Kab. Wonogiri DI YOGYAKARTA Kab. Bantul Kab. Gunung Kidul Kab. Kulon Progo Kab. Sleman

1.000 500 500

14.500 3.000 1.500 1.000 500 500 1.500 500 1.000 2.000 2.000 500 500 35.500 500 2.000 5.000 2.000 4.500 6.500 1.000 2.000 2.000 4.000 4.000 500 500 1.000 27.000 2.500 22.000 2.000 500

15.500 3.500 2.000 1.000 500 500 1.500 500 1.000 2.000 2.000 500 500 37.000 500 2.000 5.000 2.000 5.000 7.000 1.000 2.000 2.000 4.500 4.000 500 500 1.000 27.000 2.500 22.000 2.000 500

1.000

1.500

5.000

500

500

500

5.000 -

16.500 500 3.000 10.000 2.000 1.000 -

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

83

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
SLPTT RENCANA LOKASI YANG MENGGUNAKAN BENIH SWADAYA PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH 10.000 5.000 17.000 10.000 7.000 27.000 5.000 5.000 10.000 7.000 -

NO

PROVINSI

RENCANA LOKASI YANG MENDAPAT SUBSIDI BENIH PERTUMBUHAN PENGEMBANGAN JUMLAH

JUMLAH SLPTT 144.500 4.000 15.000 7.000 11.000 500 10.500 4.500 10.000 3.000 6.000 1.000 1.500 8.500 11.000 2.500 11.500 3.000 15.000 500 5.500 4.000 2.000 7.000 3.500 3.000 500 2.000 500 500 500 500

12 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 13

JATIM Kab. Bangkalan Kab. Banyuwangi Kab. Blitar Kab. Bojonegoro Kab. Gresik Kab. Jember Kab. Jombang Kab. Lamongan Kab. Lumajang Kab. Madiun Kab. Magetan Kab. Mojokerto Kab. Nganjuk Kab. Ngawi Kab. Pacitan Kab. Pasuruan Kab. Ponorogo Kab. Sampang Kab. Sidoarjo Kab. Sumenep Kab. Trenggalek Kab. Tuban Kab. Tulungagung

3.000

500

500

500 500

500 500

114.500 4.000 10.000 6.500 11.000 500 5.500 4.500 3.000 5.500 1.000 1.500 8.000 10.500 2.500 11.500 3.000 14.500 500 5.000 4.000 2.000 3.000 2.500 500 2.000 500 500 500 500

117.500 4.000 10.000 7.000 11.000 500 5.500 4.500 3.000 6.000 1.000 1.500 8.500 11.000 2.500 11.500 3.000 15.000 500 5.500 4.000 2.000 3.500 3.000 500 2.000 500 500 500 500

5.000

KALBAR 119 Kab. Sambas 120 Kab. Kayong Utara KALTENG Kab. Barito Utara Kab. Kapuas Kab. Lamandau Kab. Pulang Pisau

500 500

14 121 122 123 124

84

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
RENCANA LOKASI YANG MENDAPAT SUBSIDI BENIH PERTUMBUHAN PENGEMBANGAN JUMLAH 15 KALSEL 125 Kab. Kota Baru 126 Kab. Tabalong 127 Kab. Tanah Laut KALTIM 128 Kab. Berau 129 Kab. Kutai Barat SULUT Kab. Bolaang Mangondow Kab. Minahasa Kab. Kep. Talaud Kab. Minahasa Utara Kab. Bolmang Timur SULTENG Kab. Banggai Kab. Morowali Kab. Parigi Moutong Kab. Tojo Una-Una SULSEL Kab. Bone Kab. Enrekang Kab. Gowa Kab. Jeneponto Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Kab. Maros Kab. Pangkep Kab. Pinrang Kab. Sidenreng Rappang Kab. Soppeng Kab. Takalar Kab. Tana Toraja Kab. Wajo Kab. Luwu Timur SULTRA Kab. Buton Kab. Konawe Kab. Kolaka Kab. Konawe Selatan Kab. Buton Utara 1.000 1.500 500 500 500 1.000 500 500 3.000 1.000 500 500 500 500 3.000 1.000 500 1.000 500 14.000 500 1.000 3.000 500 500 4.000 500 1.500 500 1.000 500 500 2.500 500 500 500 500 500 1.500 500 500 500 1.000 500 500 3.000 1.000 500 500 500 500 3.000 1.000 500 1.000 500 15.000 500 1.000 3.500 500 500 4.500 500 1.500 500 1.000 500 500 2.500 500 500 500 500 500 SLPTT RENCANA LOKASI YANG MENGGUNAKAN BENIH SWADAYA PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH -

NO

PROVINSI

JUMLAH SLPTT 1.500 500 500 500 1.000 500 500 3.000 1.000 500 500 500 500 3.000 1.000 500 1.000 500 26.000 7.000 500 1.000 3.500 500 500 4.500 500 1.500 500 2.000 1.000 500 2.000 500 2.500 500 500 500 500 500

16

17 130 131 132 133 134 18 135 136 137 138 19 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 20 154 155 156 157 158

500

500

11.000 7.000 2.000 2.000 -

11.000 7.000 2.000 2.000 -

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

85

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
RENCANA LOKASI YANG MENDAPAT SUBSIDI BENIH PERTUMBUHAN PENGEMBANGAN JUMLAH 21 159 160 161 162 22 163 164 165 166 167 168 169 170 171 23 172 173 174 175 176 177 178 24 BALI Kab. Badung Kab. Jembrana Kab. Klungkung Kab. Tabanan NTB Kab. Bima Kab. Dompu Kab. Lombok Barat Kab. Lombok Tengah Kab. Lombok Timur Kab. Sumbawa Kota Bima Kab. Sumbawa Barat Kota Mataram * NTT Kab. Kupang Kab. Manggarai Kab. Ngada Kab. Sumba Barat Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Rote-Ndao Kab. Manggarai Barat 500 4.000 1.000 1.000 1.000 1.000 55.000 14.000 12.000 1.500 18.000 500 6.500 500 500 1.500 4.000 500 1.000 500 500 500 500 500 1.500 500 500 500 2.000 500 500 500 500 5.000 2.000 2.500 500 2.500 500 2.000 1.000 500 500 4.000 1.000 1.000 1.000 1.000 55.500 14.000 12.000 1.500 18.000 500 7.000 500 500 1.500 4.000 500 1.000 500 500 500 500 500 1.500 500 500 500 2.000 500 500 500 500 5.000 2.000 2.500 500 2.500 500 2.000 1.500 500 500 500 9.500 4.000 1.000 2.500 2.000 SLPTT RENCANA LOKASI YANG MENGGUNAKAN BENIH SWADAYA PENGEMBANGAN PEMANTAPAN JUMLAH -

NO

PROVINSI

JUMLAH SLPTT 4.000 1.000 1.000 1.000 1.000 60.500 14.000 12.000 1.500 23.000 500 7.000 500 500 1.500 4.000 500 1.000 500 500 500 500 500 1.500 500 500 500 2.000 500 500 500 500 5.000 2.000 2.500 500 2.500 500 2.000 1.500 500 500 500 9.500 4.000 1.000 2.500 2.000 455.000

5.000

5.000

500

5.000 5.000 -

MALUKU 179 Kab. MTB 180 Kab. Maluku Tengah 181 Kab. Pulau Buru PAPUA Kab. Jayapura Kab. Merauke Kab. Nabire Kab. Keerom

25 182 183 184 185 26

BANTEN 186 Kab. Lebak 187 Kab. Pandeglang 188 Kab. Serang GORONTALO 189 Kab. Gorontalo 190 Kab. Pohuwato PAPUA BARAT 191 Kab. Manokwari 192 Kab. Teluk Bintuni 193 Kab. Fak-fak SULBAR Kab. Mamuju Kab. Mamasa Kab. Mamuju Utara Kab. Polewali Mandar

27

500 500 4.000 2.000 1.000 1.000

28

29 194 195 196 197

5.500 2.000 1.000 1.500 1.000

29 Prov, 197 Kab.

13.000

362.000

375.000

32.500

47.500

80.000

86

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 5 Rincian Biaya (Unit Cost) SL-PTT Kedelai Tahun 2013 1. Kawasan Pertumbuhan

FASILITAS (LL) KAWASAN PERTUMBUHAN KEDELAI DI PULAU JAWA


Uraian Pupuk NPK Pupuk Organik Pupuk Hayati Bantuan Sosial Pestisida TOTAL SAPRODI Pertemuan kelompok TOTAL BANSOS Papan Nama Belanja Barang Non Operaional Lainnya Pendampingan Petugas Pendampingan Aparat 1 Paket 3 Kali 1 Kali Per Kawasan 50 Ha Per Kawasan 100 Ha Per Kawasan 100 Ha 6 Paket 3000 /Ha Volume 150 Kg 1000 Kg 1 Paket 2 Liter Harga (Rp/Satuan) 2,300 /Kg 500 /Kg 250,000 /Paket 125,000 /Ltr Jumlah (Rp. 000) 345 500 250 250 1,345 18 1,363 50 330 110

FASILITAS (SL) KAWASAN PERTUMBUHAN KEDELAI DI PULAU JAWA


Uraian Pupuk NPK Pestisida Bantuan Sosial TOTAL SAPRODI Pertemuan kelompok TOTAL BANSOS Papan Nama Belanja Barang Non Operaional Lainnya Pendampingan Petugas Pendampingan Aparat 1 Paket 3 Kali 1 Kali Per Kawasan 50 Ha Per Kawasan 100 Ha Per Kawasan 100 Ha 6 Paket 3000 /Ha Volume 150 Kg 2 Liter Harga (Rp/Satuan) 2,300 /Kg 125,000 /Ltr Jumlah (Rp. 000) 345 250 595 18 613 50 330 110

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

87

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan Lampiran 5
FASILITAS (LL) KAWASAN PERTUMBUHAN KEDELAI DI LUAR PULAU JAWA
Uraian Pupuk NPK Pupuk Hayati (Rhizobium) Pupuk Organik Kapur Pertanian Bantuan Sosial Pestisida TOTAL SAPRODI Pertemuan kelompok TOTAL BANSOS Papan Nama Belanja Barang Non Operaional Lainnya Pendampingan Petugas Pendampingan Aparat 1 Paket 3 Kali 1 Kali Per Kawasan 50 Ha Per Kawasan 100 Ha Per Kawasan 100 Ha 6 Paket 3000 /Ha 2 Ltr 125,000 /Ltr 250 1,845 18 1,863 50 330 110 Volume 150 Kg 1 Paket 1,000 Kg 500 Kg Harga (Rp/Satuan) 2,300 /Kg 250,000 /Paket 500 /Kg 1,000 /Kg Jumlah (Rp. 000) 345 250 500 500

FASILITAS (SL) KAWASAN PERTUMBUHAN KEDELAI DI LUAR PULAU JAWA


Uraian Pupuk NPK Pupuk Organik Pestisida Bantuan Sosial TOTAL SAPRODI Pertemuan kelompok TOTAL BANSOS Papan Nama Belanja Barang Non Operaional Lainnya Pendampingan Petugas Pendampingan Aparat 1 Paket 3 Kali 1 Kali Per Kawasan 50 Ha Per Kawasan 100 Ha Per Kawasan 100 Ha 6 Paket 3000 /Ha 1,095 18 1,113 50 330 110 Volume 150 Kg 1,000 Kg 2 Ltr Harga (Rp/Satuan) 2,300 /Kg 500 /Kg 125,000 /Ltr Jumlah (Rp. 000) 345 500 250

88

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan Lampiran 5
FASILITAS (LL) KAWASAN PENGEMBANGAN KEDELAI DI LUAR PULAU JAWA
Uraian Pupuk NPK Pupuk Hayati Pestisida Bantuan Sosial Kapur Pertanian TOTAL SAPRODI Pertemuan kelompok TOTAL BANSOS Papan Nama Belanja Barang Non Operaional Lainnya Pendampingan Petugas Pendampingan Aparat 1 Paket 3 Kali 1 Kali Per Kawasan 50 Ha Per Kawasan 100 Ha Per Kawasan 100 Ha 6 Paket 3000 /Ha Volume 125 Kg 1 Paket 2 Liter 500 Kg Harga (Rp/Satuan) 2,300 /Kg 250,000 /Paket 125,000 /Ltr 1,000 /Kg Jumlah (Rp. 000) 288 250 250 500 1,288 18 1,306 50 330 110

FASILITAS (SL) KAWASAN PENGEMBANGAN KEDELAI DI LUAR PULAU JAWA


Uraian Pupuk NPK Pestisida Pupuk Organik Bantuan Sosial TOTAL SAPRODI Pertemuan kelompok TOTAL BANSOS Papan Nama Belanja Barang Non Operaional Lainnya Pendampingan Petugas Pendampingan Aparat 1 Paket 3 Kali 1 Kali Per Kawasan 50 Ha Per Kawasan 100 Ha Per Kawasan 100 Ha 6 Paket 3000 /Ha 855 18 873 50 330 110 Volume 100 Kg 1 Ltr 1,000 Kg Harga (Rp/Satuan) 2,300 /Kg 125,000 /Ltr 500 /Kg Jumlah (Rp. 000) 230 125 500

90

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan Lampiran 5 3. Kawasan Pemantapan


Uraian Pestisida TOTAL SAPRODI Bantuan Sosial Pertemuan kelompok TOTAL BANSOS Papan Nama Belanja Barang Non Operaional Lainnya Pendampingan Petugas Pendampingan Aparat 1 Paket 3 Kali 1 Kali Per Kawasan 50 Ha Per Kawasan 100 Ha Per Kawasan 100 Ha 6 Paket 3000 /Ha 18 393 50 330 110 Volume 3 Ltr Harga (Rp/Satuan) 125,000 /Ltr Jumlah (Rp. 000) 375 375

Keterangan : Pupuk hayati (Rhizobium) dan pembenah tanah (Ca+) dari subsidi yang dibeli petani

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

91

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 6 Rincian Pengembangan Kedelai Model Tahun 2013 per Kabupaten


PENGEMBANGAN KEDELAI MODEL NO. 1 1 2 3 2 1 2 3 3 1 2 4 1 5 1 2 3 4 5 6 1 2 3 7 1 2 3 8 1 2 ACEH Kab. Aceh Timur Kab. Bireuen Kab. Aceh Pidie JABAR Kab. Ciamis Kab. Indramayu Kab. Sukabumi JATENG Kab. Grobogan Kab. Wonogiri DI YOGYAKARTA Kab. Gunung Kidul JATIM Kab. Banyuwangi Kab. Bojonegoro Kab. Jember Kab. Lamongan Kab. Pasuruan SULSEL Kab. Bone Kab. Soppeng Kab. Wajo NTB Kab. Bima Kab. Dompu Kab. Lombok Tengah BANTEN Kab. Lebak Kab. Pandeglang 8 Prov, 22 Kab PROPINSI Hektar 15,000 5,000 5,000 5,000 15,000 5,000 5,000 5,000 10,000 5,000 5,000 5,000 5,000 25,000 5,000 5,000 5,000 5,000 5,000 15,000 5,000 5,000 5,000 15,000 5,000 5,000 5,000 10,000 5,000 5,000 110,000

92

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 7 Rincian Biaya (Unit Cost) Pengembangan Model PTT Kedelai


No. 1 Benih Pupuk NPK Pupuk Organik Pupuk Hayati Pestisida TOTAL 2 Luar Pulau Jawa Benih Pupuk NPK Pupuk Hayati (Rhizobium) Pupuk Organik Kapur Pertanian Pestisida TOTAL Papan Nama Pendampingan Petugas Pendampingan Aparat 1 Paket 3 Kali 1 Kali Per Kawasan 50 Ha Per Kawasan 100 Ha Per Kawasan 100 Ha 40 Kg 150 Kg 1 Paket 500 Kg 500 Kg 2 Ltr 13,500 /Kg 2,300 /Kg 250,000 /Paket 500 /Ltr 1,000 /Paket 125,000 /Ltr 540 345 250 250 500 250 2,135 50 330 110 Uraian Pulau Jawa 40 Kg 150 Kg 500 Kg 1 Paket 2 Liter 13,500 /Kg 2,300 /Kg 500 /Kg 250,000 /Paket 125,000 /Ltr 540 345 250 250 250 1,635 Volume Harga (Rp/Satuan) Jumlah (Rp. 000)

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

93

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 8 Rincian Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai Tahun 2013 per Kabupaten
NO 1 PROVINSI/KAB Aceh 1. Kab. Aceh Timur 2. Kab. Pidie Sumatera Utara 1. Kab.Padang Lawas 2. Kab.Padang Lawas Utara Jambi 1. Kab. Tanjab Timur 2. Kab. Kerinci 3. Kab.Merangin 4. Kab.Sarolangun 5. Kab.Muaro Jambi 6. Kab. Tanjab Barat Sumsel 1. Kab. OKU Timur 2. Kab. Banyuasin 3. Kab. Muba 4. Kab. OKI 5. Kab. Ogan Ilir 6. Kab.Lahat Lampung 1. Kab. Mesuji 2. Kab. Lamp.Teng Riau 1. Kab.Rokan Hulu Jawa Barat 1. Kab.Garut 2. Kab. Cianjur 3. Kab. Ciamis 4. Kab.Sukabumi 5. Kab. Tasikmalaya 6. Kab.Karawang 7. Kab. Bandung 8. Kab. Kuningan 9. Kab. Cirebon 10. Kab. Majalengka 11. Kab. Sumedang 12. Kab. Indramayu 13. Kab. Subang 14. Kab. Bandung Barat 15. Kota Banjar LUAS (HA) 21,000 18,000 3,000 1,000 500 500 3,000 250 1,000 500 500 500 250 12,500 1,500 4,500 3,000 2,500 500 500 2,000 1,000 1,000 1,250 1,250 66,750 4,000 12,000 10,000 12,000 2,000 8,000 500 1,500 500 4,000 1,000 4,750 4,000 2,000 500

6 7

94

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lanjutan ...
8 Jawa Timur 1. Kab.Sampang 2. Kab. Jember 3. Kab.Bojonegoro 4. Kab. Bangkalan Banten 1. Kab. Pandeglang NTB 1. Kab. Bima 2. Kab.Lomteng Kalsel 1. Kab. Banjar 2. Kab.HST Sulawesi Selatan 1. Kab. Soppeng 2. Kab. Maros 3. Kab. Sinjai 4. Kab. Bulukumba 12 Prov, 47 Kab 6,250 2,500 1,000 1,000 1,750 500 500 1,000 500 500 1,000 500 500 2,000 500 500 500 500 118,250

9 10

11

12

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

95

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 9 DAFTAR CALON PETANI DAN CALON LOKASI PENERIMA BANTUAN BENIH BERSUBSIDI SL-PTT DAN BANSOS SL-PTT TAHUN 2013 Nama Poktan / Gapoktan Jumlah Anggota Kelompok Desa Kecamatan Kabupaten Komoditi
NO. 1 2 3 4 5 dst JUMLAH Nama Petani

: :

: : : :
Luas Areal (Ha) Kebutuhan Benih (Kg) Varietas Jadwal Tanam

Mengetahui KCD/Penyuluh Nama ........................

Kelompok Tani

Nama ......................

96

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

h o t n o C
SURAT KEPUTUSAN NOMOR : .............................................2013 TENTANG

Lampiran 10

KEPALA DINAS PERTANIAN KABUPATEN/KOTA

PENETAPAN KELOMPOKTANI PENERIMA DANA BANTUAN SOSIAL (BANSOS) DAN BANTUAN BENIH BERSUBSIDI SL-PTT KEDELAI/ PENGEMBANGAN MODEL PTT/PERLUASAN AREAL TANAM BARU *) TAHUN ANGGARAN 2013 KEPALA DINAS PERTANIAN KABUPATEN/KOTA Menimbang : a. Bahwa ketahanan pangan nasional perlu terus diupayakan melalui peningkatan produksi untuk menjamin penduduk. b. Bahwa Peningkatan produksi kedelai tahun 2013 difokuskan pada peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi dalam SL-PTT/Pengembangan Model PTT/Perluasan areal tanam baru (PATB) Kedelai*). c. Bahwa pelaksanaan SL-PTT/ pengembangan model PTT/ perluasan areal tanam baru (PATB) kedelai*) untuk peningkatan produksi, produktivitas dan pendapatan petani perlu ditetapkan kelompoktani penerima Bansos. d. Bahwa sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b dan c perlu ditetapkan Kelompoktani Penerima Bantuan kecukupan pangan yang semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

97

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

SL-PTT/Pengembangan Model PTT/Perluasan areal tanam baru (PATB) Kedelai*) Tahun Anggaran 2013. Mengingat : 1. Undang Undang Nomor .............. Tahun ............. tentang ................; 2. Surat Keputusan .......... Nomor .............. Tahun ............. tentang ................; 3. Peraturan Daerah Kabupaten / Kota Nomor .............. Tahun ............. tentang ................; 4. dst Memperhatikan : 1. DIPA Dinas Pertanian Kabupaten / Kota Nomor .............. Tanggal ............. Bulan ................ Tahun ............ 2. Pedoman Teknis Pengelolaan Produksi Kedelai Tahun 2013. MEMUTUSKAN Menetapkan PERTAMA : : Penetapan Kelompoktani penerima bantuan SLPTT/ pengembangan model PTT/ perluasan areal tanam baru(PATB) kedelai*) tahun anggaran 2013 sebagaimana tercantum dalam lampiran Keputusan ini. KEDUA : Kelompoktani sebagaimana dimaksud pada Diktum PERTAMA berhak menerima dana bantuan benih bersubsidi SL-PTT .....................................................**) yang dibiayai dari dana APBN Kementerian Pertanian melalui anggaran tugas pembantuan pada DIPA***) Dinas pertanian Kabupaten / Kota Nomor ..................... Tanggal.................. bulan .............. tahun..............

98

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

KETIGA

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini maka akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di :............................... Pada Tanggal : ................................ Kepala Dinas Pertanian Kabupaten / Kota .......................................... NIP. .....................................

Tembusan : 1. Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian RI di Jakarta 2. Bupati / Walikota di .............. 3. Kepala Dinas Pertanian Provinsi di ................ 4. dst. *)Coret yang tidak perlu **) Bantuan benih subsidi untuk SL-PTT, untuk pengembangan model PTT dan perluasan areal tanam baru bantuan berupa saprodi ***) disesuaikan dengan sumber bantuan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

99

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 11 Lampiran Surat Keputusan Kepala Dinas Kabupaten/Kota Penetapan Kelompoktani Penerima Dana Bansos untuk LL dan Dana Pertemuan Kelompok SL-PTT/Pengembangan Model PTT/Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kedelai *) Tahun 2013

No. 1 2 3 4 5 dst

Nama Poktan/Gapoktan

Nama Ketua

Alamat Desa

Kec

Nomor Rekening

Jumlah (Rp)

Alamat Bank Cabang, Unit

Jumlah

Ditetapkan, ......Bln ............, 2013 Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota

Nama Nip.

Ket : *) Pilih salah satu

100

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 12 Lampiran Surat Keputusan Kepala Dinas Kabupaten/Kota Penetapan Kelompoktani Penerima Bantuan Benih Subsidi SL-PTT Tahun 2013 Kabupaten/Kota :
No. 1 2 3 4 5 dst Jumlah Nama Poktan/Gapoktan Nama Ketua Alamat Desa Bantuan Benih Jenis Jumlah

Ditetapkan, ......Bln ............, 2013 Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota

Nama Nip.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

101

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 13 Rencana Usaha Kelompok Pelaksanaan SL-PTT Tahun 2013 Nama Kelompoktani Alamat Kelompoktani Luas Lahan Jumlah Anggota Poktan Rincian Kebutuhan Kel. Komoditi Varietas
No 1 2 3 Dst Uraian Kebutuhan

: : : : : : :
Jenis Volume (Kg) Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp)

Mengetahui Penyuluh/Petugas Pertanian Bendahara Kelompok Ketua Kelompok

Nama

Nama

Nama

102

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 14 SURAT PERNYATAAN

Yang bertandatangan dibawah ini adalah nama : .. selaku Ketua Kelompoktani .......................... Desa . Kecamatan .. Kabupaten dengan ini menyatakan bahwa dana yang kami terima akan kami gunakan :

a. Untuk pembelian saprodi SL-PTT b. Bersedia dan sanggup untuk melaksanakan penanaman, pemeliharaan
sampai panen di areal SL-PTT dan sanggup mengembalikan dana apabila tidak sesuai peruntukannya. Demikian Surat Pernyataan ini kami buat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya . ............................... 2013 Mengetahui Petugas Lapangan Materai 6.000 Ketua Kelompoktani

(......................................)

(.....................................)

Ket : *) Coret yang tidak perlu

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

103

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 15 Berita Acara Pemeriksaan Barang Bantuan Paket Teknologi Budidaya Kedelai Kegiatan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) TA. 2013 Nomor : Pada hari ini . tanggal ... bulan . tahun . kami yang bertanda tangan di bawah ini :

1. Nama
Jabatan

: .. : ..

Nama Perusahaan : .. Selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA atau YANG MELAKSANAKAN PEKERJAAN/PENGADAAN

2. Nama
Jabatan Alamat PEKERJAAN

: .. : .. : ...

Selanjutnya disebut PIHAK KEDUA atau YANG MEMERIKSA BARANG/

PIHAK KEDUA telah melakukan pemeriksaan barang berupa sarana produksi lengkap dari bantuan paket teknologi budidaya kedelai kegiatan perluasan areal tanam baru (PATB) TA. 2013, seperti daftar terlampir, yang dilaksanakan oleh PIHAK PERTAMA, dengan ini menyatakan bahwa barang tersebut diatas telah sesuai dengan spesikasi yang diminta dalam Surat Perjanjian Nomor : . tanggal...... 2013.

104

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Demikian Berita Acara Pemeriksaan Barang dibuat dengan sebenarnya untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

PIHAK KEDUA Pemeriksa Barang

PIHAK KEDUA Pelaksana Kegiatan

(......................................)
Nip.

(.....................................)

Mengetahui dan Mengesahkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota

(.) Nip.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

105

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 16 Berita Acara Serah Terima Barang Bantuan Paket Teknologi Budidaya Kedelai Kegiatan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) TA. 2013 Nomor : Pada hari ini . tanggal ... di Desa . Kecamatan Kabupaten Provinsi .. kami yang bertanda tangan di bawah ini :

1. Nama
Jabatan Alamat

: .. : .. : ..

Yang selanjutnya disebut sebagai pihak PERTAMA

2.
Jabatan Kelompoktani Alamat

Nama : : : : ...

Yang selanjutnya disebut sebagai pihak KEDUA Sesuai dengan Perjanjian nomor . dan nomor . tanggal maka pihak PERTAMA menyerahkan kepada pihak KEDUA bantuan paket teknologi budidaya kedelai sebagai berikut : Jenis Barang Volume Keterangan

106

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Demikian Berita Acara Serah Terima Bantuan Paket Teknologi Budidaya Kedelai ini dibuat , kemudian agar dipergunakan sebagaimana mestinya.

Yang Menerima Pihak KEDUA/Ketua Kelompoktani

Yang Menyerahkan Pihak PERTAMA

(.....................................) (......................................) Nip. Mengetahui, Petugas Penyuluh Pertanian/KCD

(.) Nip.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

107

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 17 Rekapitulasi Berita Acara Serah Terima Barang Bantuan Paket Teknologi Budidaya Kedelai Kegiatan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) TA. 2013 Nomor : Pada hari ini . tanggal ... di . Kabupaten Provinsi .. kami yang bertanda tangan di bawah ini : 1. Nama Jabatan Alamat : .. : .. : ..

Yang selanjutnya disebut sebagai pihak PERTAMA 2. Nama Jabatan Alamat : : : ...

Yang selanjutnya disebut sebagai pihak KEDUA Sesuai dengan Perjanjian nomor . dan nomor . tanggal maka pihak PERTAMA menyerahkan Bantuan Paket Teknologi Budidaya Kedelai APBN TA. 2013 kepada kelompok tani di wilayah pihak KEDUA, sebagai berikut : Jenis Barang Kecamatan Jumlah Desa Jumlah kelompok tani Volume Ket.

108

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Demikian Berita Acara Serah Terima Bantuan Paket Teknologi Budidaya Kedelai APBN TA. 2013 ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

PIHAK KEDUA Kepala Dinas Pertanian Kab/ Kota

PIHAK PERTAMA Pelaksana Pengadaan dan Penyaluran Bantuan Paket Teknologi Budidaya Kedelai

(.....................................) (......................................)
Nip. Mengetahui dan Mengesahkan Kepala Dinas Pertanian Provinsi

(.) Nip.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

109

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 18 LAPORAN KELOMPOKTANI PELAKSANA SL-PTT/PENGEMBANGAN MODEL PTT/PERLUASAN AREAL TANAM BARU (PATB) KEDELAI*) I. LOKASI 1. Nama Kelompoktani 2. Jumlah Anggota 3. Luas Areal 4. Desa 5. Kecamatan 6. Kabupaten

: : : : : :

II.

TEKNOLOGI 1. Komoditi : 2. Varietas : 3. Komp. Teknologi PTT : 1). Benih Unggul Bermutu : 2). Perlakuan benih : 3). dst. HASIL
Lokasi SL-PTT/Model/PATB*) LL Sekitar SL-PTT/Model/PATB*) Sebelum SL-PTT/Model/PATB*)

.................. ..................

kg kg

III.
No. 1. 2. 3. 4.

Provitas (ku/ha)

Produksi (ton)

Pemandu Lapangan / Penyuluh / KCD

.............................................. Ket : *) Coret yang tidak perlu

110

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 19 MEKANISME PENCAIRAN DANA BANTUAN SL-PTT POLA BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT (BLM) TA. 2013

Pembentukan Tim Teknis Kab/Kota

Menyusun Juknis dan Kriteria Seleksi CP/CL KPA/PPK SPP-LS


Seleksi Tahap-I Administrasi

SPM-LS

KPPN

Seleksi Tahap-II Penilaian Proposal/Usulan Kelompoktani

Forum Musyawarah & Berita Acara CP/CL Penetapan Kelompoktani

Menyusun RUK didampingi PPL & diveriikasi Tim Teknis Kab/Kota

SP2D

Kelompok Sasaran

Bank Terdekat

Membuka Rekening di Bank Pencarian dana dari Rekining

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

111

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 20 BERITA ACARA PENERIMAAN DANA BANTUAN SL-PTT/Pengembangan Model PTT TAHUN 2013 Nama Kelompok Alamat Kecamatan Desa : : : :

Jumlah Dana No. 1 2 3 4 5 6 dst Nama Anggota Yang Diterima (Rp) Tanda Tangan

Mengetahui, PPL/KCD/Petugas Pertanian Kabupaten/Kota Nama Nip.

........................ 2013 Ketua Kelompoktani

Nama

112

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 21 BLANKO LAPORAN BULANAN KECAMATAN REALISASI SL-PTT/Pengembangan Model PTT/PATB KEDELAI*) TAHUN 2013 Kecamatan Bulan : :
Realisasi Tanam Unit (Ha) (%) Panen (Ha) Realisasi Provitas (ku/ha) Produksi (ton)

Jumlah No Desa 1 2 3 4 5 dst Poktan

Sasaran Unit (Ha)

Jumlah SL-PTT (Unit)

Dilaksanan MH 12/13 (Ha)

Ket.

Jumlah

.......................... 2013 Petugas Penyuluh Pertanian / Kepala Cabang Dinas Pertanian

Nama : .......................................... Nip : .........................................

*) Coret yang tidak perlu

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

113

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 22 BLANKO LAPORAN BULANAN KABUPATEN REALISASI SL-PTT/PENGEMBANGAN MODEL PTT KEDELAI*) TAHUN 2013 Kabupaten Bulan
Jumlah No Kecamatan Desa 1 2 3 4 5 Jumlah Poktan Unit (Ha)

: :
Luas Areal Pengajuan ke Bank Proses (Ha) Cair (Ha) Realisasi Tanam Unit (Ha) (%) Luas (Ha) Realisasi Panen Provitas (ku/ha) Produksi (ton)

SK Penetapan CPCL (Ha)

Dilaksanakan MH 12/13 (Ha)

Ket.

.......................... 2013 Tim Teknis Tingkat Kabupaten / Kota / Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kota

Nama : .......................................... Nip : .........................................

*) Coret yang tidak perlu

114

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 23 BLANKO LAPORAN BULANAN KABUPATEN REALISASI PERLUASAN AREAL TANAM BARU KEDELAI TAHUN 2013 Kabupaten Bulan
Jumlah No Kecamatan Desa 1 2 3 4 5 Jumlah Poktan

: :
Luas Areal (Ha) SK Penetapan CPCL (Ha) Realisasi Tanam Unit (Ha) (%) Panen (Ha) Realisasi Provitas (ku/ha) Produksi (ton) Dilaksanakan MH 12/13 (Ha)

Keterangan

.......................... 2013 Tim Teknis Tingkat Kabupaten/Kota/ Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota Nama ................................... Nip ............................................

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

115

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 24 BLANKO LAPORAN BULANAN PROVINSI REALISASI SL-PTT/PENGEMBANGAN MODEL PTT KEDELAI TAHUN 2013 Provinsi Bulan
Jumlah No Kabupaten Kec. 1 2 3 4 5 dst Jumlah Desa Poktan Unit Ha

: :
Luas Areal SK Penetapan CPCL (Ha) Pengajuan ke Proses (Ha) Cair (Ha) Realisasi Tanam Unit Ha % Panen (Ha) Realisasi Provitas (ku/ha) Produksi (ton) Dilaksanakan MH 12/13 Keterangan

.......................... 2013 Tim Teknis Tingkat Provinsi Kepala Dinas Pertanian Provinsi Nama ................................... Nip ............................................

*) Coret yang tidak perlu

116

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 25 BLANKO LAPORAN BULANAN PROVINSI REALISASI PERLUASAN AREAL TANAM BARU KEDELAI TAHUN 2013 Kabupaten Bulan
Jumlah No Kecamatan Desa 1 2 3 4 5 Jumlah Poktan

: :
Luas Areal (Ha) SK Penetapan CPCL (Ha) Realisasi Tanam Unit (Ha) (%) Panen (Ha) Realisasi Provitas (ku/ha) Produksi (ton) Dilaksanakan MH 12/13 (Ha)

Keterangan

.......................... 2013 Tim Teknis Tingkat Provinsi Kepala Dinas Pertanian Provinsi Nama ................................... Nip ............................................

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

117

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 26 BLANKO LAPORAN AKHIR PROVINSI REALISASI SL-PTT KEDELAI TAHUN 2013 Provinsi Bulan
Target No Kabupaten Unit 1 2 3 4 5 Jumlah Luas Area (Ha)

: :
SK Penetapan CPCL (Ha) Realisasi Tanam Unit (Ha) (%) Bulan Tanam Panen (Ha) Realisasi Panan Provitas (ku/ha) Produksi (ton) Provitas dalam LL (ku/Ha) Provitas Sebelum SL (ku/Ha) Provitas Non SL pada MT yang sama (ku/Ha) Tidak Dilaksanan (Ha)

Ket.

.......................... 2013 Tim Teknis Tingkat Provinsi Kepala Dinas Pertanian Provinsi Nama ................................... Nip ............................................

118

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 27 BLANKO LAPORAN AKHIR PROVINSI REALISASI PENGEMBANGAN MODEL PTT/PATB KEDELAI*) TAHUN 2013 Provinsi Bulan
Target No Kabupaten Unit 1 2 3 4 5 Jumlah Luas Area (Ha)

: :
SK Penetapan CPCL (Ha) Realisasi Tanam Unit (Ha) (%) Bulan Tanam Panen (Ha) Realisasi Panan Provitas (ku/ha) Produksi (ton) Tidak Dilaksanan (Ha)

Keterangan

.......................... 2013 Tim Teknis Tingkat Provinsi Kepala Dinas Pertanian Provinsi Nama ................................... Nip ............................................

*) Coret yang tidak perlu

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

119

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 28 LAPORAN AWAL PENGELOLAAN PRODUKSI TANAMAN KEDELAI TAHUN 2013 Provinsi :
Kegiatan No. Kabupaten / Kota Pengembangan Budidaya Kedelai Sasaran (Ha) Jadwal Tanam GP3K Sasaran (Ha) Jadwal Tanam Sasaran (Ha) IP Jadwal Tanam Lahan Perkebunan Sasaran (Ha) Jadwal Tanam Lahan Tidur/Rawa Sasaran (Ha) Jadwal Tanam Pengembangan Tumapangsari Sasaran (Ha) Jadwal Tanam Swadaya Jumlah Sasaran (Ha) Jadwal Tanam

.......................... 2013 Kepala Dinas Pertanian Provinsi

( ............................................... ) Nip

120

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 29 BULAN : ............. LAPORAN BULANAN PENGELOLAAN PRODUKSI TANAMAN KEDELAI TAHUN 2013 Provinsi :
Kegiatan Kabupaten / Kota Pengembangan Budidaya Kedelai Sasaran (Ha) Realisasi tanam (Ha) GP3K Sasaran (Ha) Realisasi tanam (Ha) Sasaran (Ha) IP Realisasi tanam (Ha) Lahan Perkebunan Sasaran (Ha) Realisasi tanam (Ha) Lahan Tidur/Rawa Sasaran (Ha) Realisasi tanam (Ha) Pengembangan Sasaran (Ha) Realisasi tanam (Ha) Swadaya Sasaran (Ha) Realisasi tanam (Ha) Jumlah

No.

.......................... 2013 Kepala Dinas Pertanian Provinsi

( ............................................... ) Nip

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

121

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN PRODUKSI KEDELAI 2013

Lampiran 30 LAPORAN AKHIR PENGELOLAAN PRODUKSI TANAMAN KEDELAI TAHUN 2013 Provinsi :
Kegiatan No. Kab/ Kota Pengembangan Budidaya Kedelai Tanam Panen (Ha) (Ha) Prov (Ku/ Ha) GP3K IP Lahan Perkebunan Lahan Tidur/Rawa Prov (Ku/ Ha) Pengembangan Tumpangsari Swadaya Jumlah Prov Prov Prod Tanam Panen Prov Prod Tanam Panen (Ku/ Prod Tanam Panen (Ku/ Prod Tanam Panen (Ton) (Ha) (Ha) Ha) (Ton) (Ha) (Ha) (Ton) (Ha) (Ha) (Ku/Ha) (Ton) (Ha) (Ha) Ha) Prov Prov Prod Tanam Panen (Ku/ Prod Tanam Panen (Ku/ Prod (Ton) (Ton) (Ha) (Ha) (Ton) (Ha) (Ha) Ha) Ha)

.......................... 2013 Kepala Dinas Pertanian Provinsi

( ............................................... ) Nip

122

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian 2013