Anda di halaman 1dari 28

GAMBARAN RADIOLOGIS PADA ABSES PARU

GAMBARAN RADIOLOGIS PADA ABSES PARU HENNY MAISARA SIPAHUTAR NIP.19810522 200812 2 002 DEPARTEMEN RADIOLOGI FK.USU /

HENNY MAISARA SIPAHUTAR NIP.19810522 200812 2 002

DEPARTEMEN RADIOLOGI

FK.USU / RSUP H. ADAM MALIK M E D A N

2011

Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN

Abses paru adalah lesi paru berupa supurasi dan nekrosis jaringan. (1) Pada

daerah abses, terdapat suatu daerah lokal nekrosis supurativa di dalam parenkim paru, yang menyebabkan terbentuknya satu atau lebih kavitas yang besar. Kemajuan ilmu kedokteran saat ini menyebabkan kejadian abses paru menurun karena adanya perbaikan risiko terjadinya abses paru seperti teknik operasi dan anastesi yang lebih baik dan penggunaan antibiotik lebih dini, kecuali pada kondisi-kondisi yang memudahkan untuk terjadinya aspirasi dan pada populasi

dengan daya tahan tubuh yang menurun (immunocompromised). Ada beberapa kondisi yang menyebabkan atau mendorong terjadinya abses paru. Beberapa penelitian menyimpulkan beberapa faktor terkait pendorong

terjadinya abses paru, diantaranya para pecandu alkohol, penderita karies gigi,

aspirasi saluran pernafasan sampai kelainan saluran pernafasan.

atau bakteri penyebab terjadinya abses paru bervariasi. 46% abses paru disebabkan hanya oleh bakteri anaerob, sedangkan 43% campuran bakteri anaerob

dan aerob. (2) Kemudian pada anak-anak ditemukan faktor predisposisi dari abses

paru dapat disebabkan oleh infeksi berat hingga imunodefisiensi. Untuk melihat lokasi dan bentuk lesi maka dilakukan pemeriksaan radiologik sebagai pemeriksaan penunjang abses paru. Pemeriksaan radiologik yang akan digunakan antara lain Foto polos, Tomografi Komputer (TK), Ultrasonografi (USG) dan Magnetik Resonance Imaging (MRI). (3) Pada pemeriksaan foto polos sangat membantu untuk melihat lokasi lesi dan bentuk abses paru. (11) Sedangkan pada TK dapat menunjukkan lesi yang tidak terlihat pada pemeriksaan foto polos dan dapat membantu menentukan lokasi dinding

dalam dan luar kavitas abses. (12) Pemeriksaan radiologik lain seperti ultrasonografi

juga dapat menentukan

(USG) (13) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) (14)

Kuman

(2)

(2),(4),(5)

(5)

diagnosis meskipun jarang digunakan. Abses paru merupakan kasus jarang dan beberapa dokter meningkatkan pengetahuannya dalam penatalaksanaannya. (16) Antibiotik tunggal tidak

Universitas Sumatera Utara

menghasilkan hasil yang memuaskan kecuali pus bisa di drainase dari kavitas

abses. Pada kebanyakan pasien, drainase spontan terjadi melalui cabang bronkus, dengan produksi sputum purulen. Hal ini mungkin terbantu melalui drainase

postural. Abses paru masih merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Angka kematian abses paru berkisar antara 15-20% merupakan

penurunan bila dibandingkan dengan era pre antibiotika yang berkisar antara 30-

40%.

(17)

(20)

Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Definisi Abses paru adalah infeksi dekstruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru pada satu lobus atau lebih. (2) Kavitas ini berisi material purulen sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan necrotizing pneumonia. (3)

II.2.

Epidemiologi

1. Faktor Predisposisi Ada beberapa kondisi yang menyebabkan atau mendorong terjadinya abses paru. Beberapa penelitian menyimpulkan beberapa faktor terkait, diantaranya :

Tabel 2.1. Faktor Predisposisi Abses Paru

(4)

No

Faktor Predisposisi

1

Alkoholik (50%)

2

Ca Bronkogenik (25%)

3

Karies gigi (20%)

4

Miscellaneous (tidak teridentifikasi) 23,3%

5

Penyalahgunaan obat (cth : steroid) 3,3%

6

Epilepsi (6,6%)

Penelitian terdahulu menemukan adanya infeksi pada pasien abses paru. Dari hasil kultur sputum didapatkan adanya infeksi staphylococcus (46,%), klebsiella

(26,6%), D. pneumonia (16,6%) dan E.coli (10%).

(4)

Penelitian lain melaporkan beberapa faktor predisposisi abses paru yang

terjadi pada anak-anak, diantaranya

(5) :

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2. Faktor Predisposisi Abses Paru pada Anak-Anak.

Kondisi

Contoh

Infeksi berat

Bronkopneumonia Meningitis Osteomyelitis Septicemia Abses dinding perut Abses peritonsilar Endocarditis

Gangguan sistem imun

Measles Burns Prematur Leukimia Hepatitis Disgammaglobulinemia Sindroma nefrotik Penyakit granulomatosa kronik Terapi steroid Malnutrisi

Aspirasi berulang

Defisiensi mental Perubahan kesadaran Disfagia Penyakit dental

Yang lain {miscellaneous jarang)

Fibrosis kistik Misplaced central nervouse catheter Defisiensi alpha-antitrypsin Benda asing pada saluran pernafasan Benda asing yang bersifat erosi di esofagus

Aspirasi pada daerah orofaring merupakan penyebab utama terjadinya

abses. Faktor predisposisi yang menyebabkan aspirasi orofaring seperti tabel 2.3,

kadang-kadang satu orang lebih dari satu faktor.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.3. Predisposisi Aspirasi Orofaring (2),(5)

 

Predisposisi Aspirasi Orofaring

Ganguan kesadaran

- Alkoholisme

- penyalahgunaan obat intravena

- epilepsi

- anastesi umum

- gangguan serebrovaskular

- trauma

ganguan inervasi otot

- faring

- laring

- esofagus

Infeksi nasal

- penyakit sinus

Infeksi oral

- caries gigi

- penyakit gingival

Infeksi farigeal

- pouch

Infeksi

- striktur

trakeoesofageal

- fistula trakeoesofageal

II.3. Etiologi

Kuman atau bakteri penyebab terjadinya abses paru bervariasi. 46% abses

paru disebabkan hanya oleh bakteri anaerob, sedangkan 43% campuran bakteri

anaerob dan aerob. Disebut abses primer apabila infeksi diakibatkan aspirasi atau

pneumonia yang terjadi pada orang normal, sedangkan abses sekunder apabila

infeksi terjadi pada orang yang sebelumnya sudah mempunyai kondisi seperti

obstruksi, bronkektasis dan gangguan imunitas. (2)

Tabel 2.4. Spektrum Organisme Penyebab Abses Paru

(5)

Type of Abscess

Organisms

Primary

Staphylococcus aureus Haemophilus influenzae types B, C, F, and nontypable Streptococcus viridans, pneumoniae Alpha-hemolytic streptococci Neisseria sp. Mycoplasma pneumoniae

Secondary

Aerobes All those listed for primary abscess Haemophilus aphropilus, parainfluenzae Streptococcus group B, intermedius

Universitas Sumatera Utara

Klebsiella penumoniae Escherichia coli, freundii Pseudomonas pyocyanea, aeruginosa, denitrificsns Aerobacter aeruginosa

Klebsiella penumoniae Escherichia coli, freundii Pseudomonas pyocyanea, aeruginosa, denitrificsns Aerobacter aeruginosa Candida Rhizopus sp. Aspergillus fumigatus Nocardia sp Eikenella corrodens Serratia marcescens Anaerobes Peptostreptococcus constellatus, intermedius, saccharolyticus Veillonella sp., alkalenscenens Bacteroides melaninogenicus, oralis, fragilis, corrodens, distasonis, vulgatus, ruminicola, asaccharolyticus Fusobacterium necrophorum, nucleatum Bifidobacterium sp.

Terjadinya abses paru biasanya melalui dua cara, yaitu aspirasi dan

hematogen. (2) Yang paling sering ditemukan adalah abses paru bronkogenik akibat

aspirasi. Hal ini dapat disebabkan oleh kelainan anatomis, sumbatan bronkus

maupun tumor. Sedangkan abses paru melalui hematogen biasanya berhubungan

dengan infeksi.

Tabel 2.5.Organisme dan Kondisi yang Berhubungan dengan Abses Paru

6

Infectious

Noninfectious and Predisposing Conditions

Bacteria Anaerobes; Staphylococcus aureus, Enterbacteriaceae, Pseudomanas aeruginosa, streptocicci, Legonella spp, Nocardia asteroides, Burkholdaria pseudomallei

Mycobacteria (often multifocal) M. tuberculosis, M. avium complex, M. kansasii, other mycobacteria

Anatomis Fluid-filled cysts, bland infraction

Bronchiectasis

Obstruction (neoplasm, foreign body)

Pulmonary sequestration

Fungi Aspergillus spp, Mucoraceae,

Pulmonary contusion

Universitas Sumatera Utara

Histoplasma capsulatum, Pneumocystis carinii, Coccidioides immitis, Blastocystis hominis

Carcinoma

Parasites Entamoeba histolytical, Paragonimus westermani, Stronglyoides stercoralis (post-obstructive)

Empyema (with air-fluid level)

Septic embolism (endocarditis)

II.4.

Patogenesis

1.

Patologi

Abses paru timbul bila parenkim paru terjadi obstruksi, infeksi kemudian

menimbulkan proses supurasi dan nekrosis. Perubahan reaksi radang

pertama dimulai dari supurasi dan trombosis pembuluh darah lokal, yang

menimbulkan nekrosis dan likuifikasi. Pembentukan jaringan granulasi

terjadi mengelilingi abses, melokalisir proses abses dengan jaringan

fibrotik. (1),(7),(8)

Seiring dengan membesarnya fokus supurasi, abses akhirnya akan pecah ke

saluran nafas. Oleh karena itu, eksudat yang terkandung di dalamnya

mungkin keluar sebagian, menghasilkan batas udara-air (air-fluid level) pada

pemeriksaan radiografik Abses yang pecah akan keluar bersama batuk

sehingga terjadi aspirasi pada bagian lain dan akhirnya membentuk abses

paru yang baru

Kadang-kadang abses pecah ke dalam rongga pleura dan

menghasilkan fistula bronkopleura, yang menyebabkan pneumotoraks atau

empiema. (9)

2.

Patofisiologi

Proses terjadinya abses paru dapat diuraikan sebagai berikut (10) :

a. Merupakan proses lanjut pneumonia inhalasi bakteria pada penderita

dengan faktor predisposisi. Bakteri mengadakan multiplikasi dan

merusak parenkim paru dengan proses nekrosis. Bila berhubungan

Universitas Sumatera Utara

dengan bronkus, maka terbentuklah air-fluid level bakteria masuk kedalam parenkim paru selain inhalasi bisa juga dengan penyebaran hematogen (septik emboli) atau dengan perluasan langsung dari proses abses ditempat lain (nesisitatum) misalnya abses hepar.

b. Kavitas yang mengalami infeksi. Pada beberapa penderita tuberkulosis dengan kavitas, akibat inhalasi bakteri mengalami proses keradangan supurasi. Pada penderita empisema paru atau polikistik paru yang mengalami infeksi sekunder.

c. Obstruksi bronkus dapat menyebabkan pneumonia berlanjut sampai proses abses paru. Hal ini sering terjadi pada obstruksi karena kanker bronkogenik. Gejala yang sama juga terlihat pada aspirasi benda asing yang belum keluar. Kadang-kadang dijumpai juga pada obstruksi karena pembesaran kelenjar limfe peribronkial.

d. Pembentukan kavitas pada kanker paru. Pertumbuhan massa kanker bronkogenik yang cepat tidak diimbangi peningkatan suplai pembuluh darah, sehingga terjadi likuifikasi nekrosis sentral. Bila terjadi infeksi dapat terbentuk abses.

Universitas Sumatera Utara

Proses patogenesis abses paru secara ringkas digambarkan dalam bagan berikut (1) :

Aspirasi berulang, M.O Terjebak di sal nafas bawah, proses lanjut pneumonia inhalasi bakteria

Faktor

Predisposisi

Bakteri mengadakan multiplikasi dan merusak parenkim paru

Dilepasnya zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang

zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang Panas Gangguan Rasa Nyaman: Hiperthermi Proses Peradangan

Panas

zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang Panas Gangguan Rasa Nyaman: Hiperthermi Proses Peradangan Ujung

Gangguan Rasa Nyaman:

Hiperthermi

Proses Peradangan Ujung saraf paru tertekan Dikelilingi jar. Granulasi Gangguan rasa nyaman: Nyeri Proses nekrosis
Proses Peradangan
Ujung saraf
paru tertekan
Dikelilingi jar. Granulasi
Gangguan rasa
nyaman: Nyeri
Proses nekrosis
Difusi-
Produksi Sputum berlebih
Kurang

Kelemahan

Fisik

Difusi- Produksi Sputum berlebih Kurang Kelemahan Fisik Ventilasi terganggu Kadar O 2 Turun Intoleransi

Ventilasi

terganggu

Sputum berlebih Kurang Kelemahan Fisik Ventilasi terganggu Kadar O 2 Turun Intoleransi Gangguan Aktifitas

Kadar O 2 Turun

Intoleransi Gangguan Aktifitas Pertukaran Gas
Intoleransi Gangguan Aktifitas Pertukaran Gas

Intoleransi

Gangguan

Aktifitas

Pertukaran Gas

Reflek batuk

Bersihan Jalan

Nafas

Informasi Kurang Pengetahuan
Informasi
Kurang
Pengetahuan

II.5.

Manifestasi / Gambaran klinis

1. Gejala klinis 1,6,7,9,10 Gejala penyakit timbul satu sampai tiga hari setelah aspirasi. Gejalanya menyerupai pneumonia pada umumnya, diantaranya :

Universitas Sumatera Utara

a. Panas badan Dijumpai berkisar 70% - 80% penderita abses paru. Kadang dijumpai dengan temperatur > 40 0 C disertai menggigil, bahkan “rigor”.

b. Batuk, pada stadium awal non produktif. Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe (40-75%).

c. Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai berkisar 40 – 75% penderita abses paru.

d. Nyeri dada (± 50% kasus)

e. Batuk darah (± 25% kasus)

f. Gejala tambahan lain seperti lelah, penurunan nafsu makan dan berat badan.Jari tabuh dapat timbul dalam beberapa minggu terutama bila drainase tidak baik.

II.6. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai kelainan seperti nyeri tekan lokal, tanda-tanda konsolidasi seperti redup pada perkusi, suara bronchial dengan ronki basah atau krepitasi di tempat abses, mungkin ditambah dengan tanda-tanda efusi pleura. (1) Apabila abses luas dan letaknya dekat dengan dinding dadakadang-kadang terdengar suara amforik, usara nafas bronchial atau amforik terjadi bila kavitasnya besar dank arena bronkus masih tetap dalam keadaan terbuka disertai oleh adanya konsolidasi sekitar abses dan drainase abses yang baik. Apabila abses paru letaknya dekat pleura dan pecah akan terjadi piotoraks (empiema toraks) sehingga pada pemeriksaan fisik ditemukan pergerakan dinding dada tertinggal di tempat lesi, fremitus vocal menghilang, perkusi redup/pekak, bunyi nafas menghilang, dan terdapat tanda-tanda pendorongan mediastinum terutama pendorongan jantung kearah kontralateral tempat lesi. (2)

Universitas Sumatera Utara

II.7.

Pemeriksaan laboratorium

a. Pada pemeriksaan darah rutin. Ditentukan leukositosis, meningkat lebih dari 12.000/mm 3 (90% kasus) bahkan pernah dilaporkan peningkatan sampai dengan 32.700/mm 3 . Laju endap darah ditemukan meningkat > 58 mm / 1 jam. Pada hitung jenis sel darah putih didapatkan pergeseran shit to the left. (1)

b. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan gram tahan asam dan KOH merupakan pemeriksaan awal untuk menentukan pemilihan antibiotik secara tepat. (1)

c. Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan antibiotikan merupakan cara terbaik dalam menegakkan diagnosa klinis dan etiologis. (2)

II.8.

Pemeriksaan Radiologik

II.8.1. Foto polos Foto dada PA dan lateral sangat membantu untuk melihat lokasi lesi dan bentuk abses paru. Pada hari-hari pertama penyakit, foto dada hanya menggambarkan gambaran opak dari satu ataupun lebih segmen paru, atau hanya berupa gambaran densitas homogen yang berbentuk bulat. Kemudian akan ditemukan gambaran radiolusen dalam bayangan infiltrat yang padat. (10) Selanjutnya bila abses tersebut mengalami ruptur sehingga terjadi drainase abses yang tidak sempurna ke dalam bronkus, maka akan tampak kavitas irregular dengan batas cairan dan permukaan udara (air-fluid level) di dalamnya.

Kavitas ini berukuran φ 2 – 20 cm. (11) Gambaran spesifik ini tampak dengan mudah bila kita melakukan foto dada PA dengan posisi berdiri. Khas pada paru anaerobik kavitasnya singel (soliter) yang biasanya ditemukan pada infeksi paru primer, sedangkan abses paru sekunder (aerobik, nosokomial atau hematogen) lesinya bisa multipel. (2)

Universitas Sumatera Utara

Posisi Posterior-Anterior (PA) : Terdapat area berbatas tegas transparan di lobus kiri atas (panah putih).

Posisi Posterior-Anterior (PA) :

Terdapat area berbatas tegas transparan di lobus kiri atas (panah putih). Kavitas diisi oleh cairan dan udara (air-fluid level) (panah hitam).

oleh cairan dan udara (air-fluid level) (panah hitam). Posisi Lateral : Kavitas terlihat di lobus kiri

Posisi Lateral : Kavitas terlihat di lobus kiri atas dengan udara dan cairan didalamnya (panah putih).

Kasus pada abses paru (13)

didalamnya (panah putih). Kasus pada abses paru ( 1 3 ) Seorang pasien 54 tahun dengan

Seorang pasien 54 tahun dengan batuk berdahak yang berbau busuk. Tampak abses paru pada lobus kiri bawah di segmen superior.

Universitas Sumatera Utara

Seorang pria, 42 tahun dengan demam dan batuk berdahak yang berbau busuk. Os memiliki riwayat

Seorang pria, 42 tahun dengan demam dan batuk berdahak yang berbau busuk. Os memiliki riwayat penggunaan alcohol berat, infeksi gigi didapati pada pemeriksaan fisik. Foto toraks menunjukkan adanya abses paru di segmen posterior obus kanan atas.

adanya abses paru di segmen posterior obus kanan atas. Gambaran radiografi dari seorang pasien dengan batuk

Gambaran radiografi dari seorang pasien dengan batuk berdahak yang berbau busuk. Tampak gambaran diagnosis abses paru yang anaerobic.

II.8.2. Tomografi Komputer (TK)

TK merupakan scan evaluasi dengan kontras menjadi pilihan untuk tujuan

skreening dan sebagai alat bantu untuk prosedur aspirasi perkutan dan drainase

(percutaneous catheter drainage). TK dapat menunjukkan lesi yang tidak terlihat

pada pemeriksaan foto polos dan dapat membantu menentukan lokasi dinding

dalam dan luar kavitas abses. (11)

Pemeriksaan ini membantu membedakan abses paru dengan diagnosis

banding lainnya. Pada gambaran TK, kavitas terlihat bulat dengan dinding tebal,

Universitas Sumatera Utara

tidak teratur dengan air-fluid level dan terletak di daerah jaringan paru yang rusak.

Tampak bronkus dan pembuluh darah paru berakhir secara mendadak pada

dinding abses, tidak tertekan atau berpindah letak. Abses paru juga dapat

membentuk sudut lancip dengan dinding dada. 12

juga dapat membentuk sudut lancip dengan dinding dada. 1 2 Gambaran CT scan contrast-enhanced axial menunjukkan

Gambaran CT scan contrast-enhanced axial menunjukkan lesi kavitas yang besar di lobus bawah kiri dengan dinding yang relatif tebal (black arrow). Kavitas memiliki batas dalam yang halus dan air-fluid level (white arrow). Terdapat reaksi inflamasi pada sekitar paru-paru (yellow arrow). Terlihat adanya sudut lancip dengan dinding posterior dada.

II.8.3. Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan USG jarang dianjurkan pada pasien dengan abses paru.

Namun, USG juga dapat mendeteksi abses paru. tampak lesi hipoechic bulat

dengan batas luar. Apabila terdapat kavitas, didapati adanya tambahan tanda

hiperechoic yang dihasilkan oleh gas-tissue interface. 2

Universitas Sumatera Utara

Terletak dekat dengan dinding thoraks, proses di dalam paru kira-kira sebesar 2,5x2x2 cm (pointed angle

Terletak dekat dengan dinding thoraks, proses di dalam paru kira-kira sebesar 2,5x2x2 cm (pointed angle between pleura and process) dengan dinding membran. Setelah pengobatan, hanya terdapat sisa gambaran hipoechoic di tempat abses sebelumnya (setelah beberapa minggu)

II.8.4. Magnetik Resonance Imaging (MRI)

MRI berhasil mengidentifikasi penyakit paru secara akurat untuk

menentukan lokalisasi penyakit pada lapangan paru. Pada pasien dengan

pneumonia dan abses paru, peradangan akut berhubungan dengan peningkatan

Pasien

intensitas sinyal pada T2 bila dibandingkan dengan T1 weighted image

dengan inflamasi pseudotumor menunjukkan peningkatan yang lebih kecil dalam

intensitas sinyal pada T2 weuighted image daripada yang terlihat di pneumonia

akut. Kavitas abses adalah rongga yang diidentifikasi sepanjang dinding yang

menebal. Pada pasien dengan penyakit paru difus (diffuse histoplasmosis, TBC

milier, penyakit Letterer-Siwe, dan alveolitis alergi), masing-masing penyakit

Studi-studi terdahulu menunjukkan

muncul dengan gambaran MRI yang berbeda

bahwa Magnetic Resonance Imaging efektif untuk mengidentifikasi penyakit paru

pada anak-anak dan dapat meningkatkan kemampuan ahli radiologi untuk

membedakan gangguan paru. (14)

Universitas Sumatera Utara

Setelah pengobatan: perubahan sudut menunjukkan peningkatan sinyal pada daerah pleura kanan.ini merupakan sisa abses

Setelah pengobatan: perubahan sudut menunjukkan peningkatan sinyal pada daerah pleura kanan.ini merupakan sisa abses membran

II.9.

Diagnosa Banding

1. Karsimoma bronkogenik yang mengalami kavitasi. (1),(11)

Pada penyakit ini biasanya dinding kavitas tebal dan tidak rata. Diagnosis

pasti dengan pemeriksaan sitologi/patologi.

rata. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan sitologi/patologi. 2. Tuberkulosis paru atau infeksi jamur. ( 1 ) ,
rata. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan sitologi/patologi. 2. Tuberkulosis paru atau infeksi jamur. ( 1 ) ,

2. Tuberkulosis paru atau infeksi jamur. (1),(11)

Gejala klinisnya hampir sama atau lebih menahun daripada abses paru.

Pada tuberculosis didapatkan BTA dan pada infeksi jamur ditemukan

jamur. Pada penyakit aktif, dapat dijumpai gambaran bercak-bercak

berawan dan kavitas, sedangkan pada keadaan tidak aktif dapat dijumpai

kalsifikasi yang berbentuk garis.

Universitas Sumatera Utara

Terjadi pada segmen apical atau posterior pada lobus atas atau segmen superior dari lobus bawah,

Terjadi pada segmen apical atau posterior pada lobus atas atau segmen superior dari lobus bawah, biasanya pada lobus atas bilateral. Kavitas berdinding tipis, halus pada batas dalam tanpa air-fluid level

3.

Empiema

Pada gambaran TK empiema tampak pemisahan pleura parietal dan

visceral (pleura split) dan kompresi paru. (15)

dan visceral (pleura split) dan kompresi paru. ( 1 5 ) Potongan coronal dada pada gambar
dan visceral (pleura split) dan kompresi paru. ( 1 5 ) Potongan coronal dada pada gambar

Potongan coronal dada pada gambar CT menunjukkan adanya lesi pada lobus atas kanan dengan internal air-filled cavity, dinding tebal tidak beraturan (panah warna hijau) dan lesi lain di sebelah bawah paru kiri dengan internal fluid, dinding tipis (panah warna kuning) kompresi pada

Universitas Sumatera Utara

lapangan paru (panah kuning dan kotak). Lesi pada bagian atas paru kanan adalah abses paru dan pada bagian bawah paru kiri adalah empiema.

4. Hematom paru. Ada riwayat trauma. Batuk hanya sedikit.

4. Hematom paru. Ada riwayat trauma. Batuk hanya sedikit. Hemothoraks pada lapangan kiri paru 5. Pneumokoniosis

Hemothoraks pada lapangan kiri paru

5. Pneumokoniosis yang mengalami kavitasi. Pekerjaan penderita jelas di

daerah berdebu dan didapatkan simple pneumokoniosis pada penderita.

berdebu dan didapatkan simple pneumokoniosis pada penderita. Pneumokoniosis, terdapat fibrosis di lapangan atas paru 6.

Pneumokoniosis, terdapat fibrosis di lapangan atas paru

6. Hiatus hernia. Tidak ada gejala paru. Nyeri restrosternal dan heart burn

bertambah berat pada waktu membungkuk. Diagnosis pasti dengan

pemeriksaan barium foto.

Universitas Sumatera Utara

Pemeriksaan barium menunjukkan sliding hiatal hernia. Lambung berlipat dan terlihat meluas di atas diafragma II.10.

Pemeriksaan barium menunjukkan sliding hiatal hernia. Lambung berlipat dan terlihat meluas di atas diafragma

II.10. Penatalaksanaan

II.10.1.Terapi Medis

Abses paru merupakan kasus jarang dan beberapa dokter meningkatkan

pengetahuannya dalam penatalaksanaannya. Antibiotik tunggal tidak adakan

menghasilkan keluaran yang memuaskan kecuali pus bisa didrainase dari kavitas

abses. Pada kebanyakan pasien, drainase spontan terjadi melalui cabang bronkus,

dengan produksi sputum purulen. Hal ini mungkin terbantu melalui drainase

postural. (16)

Antibiotik

Pilihan awal biasanya dibuat jika tidak ada bakteriologi definitif, tetapi

perkiraan yang beralasan bisa dibuat berdasarkan gambaran klinis yang

mendasarinya dan pada aroma pus dan gambarannya pada pewarnaan gram. Pada

kebanyakan abses paru mengandung streptokokus kelompok milleri dan anaerob,

antubiotik atau kombinasinya yang melawan organisme ini harus dipilih. Terdapat

banyak regimen awal yang mungkin diberikan. Penisilin termasuk sefalosporin,

makrolide, kloramfenikol dan klindamisin semuanya telah digunakan.

Penggunaan ampisilin atau amoksisilin tunggal harus dihindari karena beberapa

Universitas Sumatera Utara

anaerob resisten terhadapnya. Kombinasi amoksisilin dan metronidazol merupakan pilihan baik dengan efek samping yang kecil dibandingkan beberapa obat lainnya. Dapat diberikan secara oral, kecuali pasien sangat sakit atau sulit menelan, sementara menunggu hasil kultur definitifnya. Makrolide seperti eritromisin, klaritromisin atau azitromisin harus disubstitusi untuk amoksisilin pada pasien dengan riwayat hipersensitivitas ampisilin. (2) Keputusan penggantian antibiotik awal dapat diterapkan ketika hasil kultur telah diperoleh. Walaupun abses paru sering diobati dengan antibiotik selama 6 minggu, tidak terdapat percobaan klinis yang membuktikan hal itu. Periode pengobatan yang lebih singkat mungkin cukup pada pasien dimana pus telah kering melalui cabang bronkus, dengan berhentikan produksi sputum dan hilangnya gambaran air-fluid level pada radiologi toraks. Antibiotik tidak perlu dilanjutkan hingga gambaran radiologis menjelaskan bayangan parenkim. Hal ini mungkin terjadi dalam beberapa minggu.

Drainase Pemeriksaan tambahan harus dilakukan pada pasien yang tidak respon terhadap antibiotik dan fisioterapi. Waktu intervensi tersebut bergantung pada pasien. Pada pasien dengan kondisi kritis dimana tidak terdapat drainase spontan melalui cabang bronkus, perlu dilakukan drainase. Pada sebagian pasien, demam berlanjut lebih dari 2 minggu walaupun pemberian antibiotik sudah sesuai dan fisioterapi menunjukkan bahwa drainase tidak adekuat sehingga perlu dipertimbangkan peningkatan intensitas pengobatan. Drainase pada pasien abses paru mungkin bisa dilakukan pendekatan melalui cabang bronkus atau secara perkutaneus. Dalam teknik sebelumnya, akvitas abses paru dimasukkan langsung dengan fibreoptic bronchoschopy atau melalui kateter yang melewatinya. (17) Pendekatan perkutaneus mungkin lebih baik. Kecuali abses paru berhubungan dengan keganasan ketika terdapat peningkatan resiko fistula permanen. Pada beberapa kasus drainase endobronkial harus dipertimbangkan. Drainase perkutaneus biasanya tidak membantu pada abses kecil multipel dan

Universitas Sumatera Utara

pada mereka yang mempunyai komplikasi yang tinggi seperti pneumotoraks dan fistula bronkopleura. Pada masa lalu, skrening fluoroskopi merupakan teknik konvensional untuk penempatan kateter tetapi USG mengizinkan lebih banyak lokalisasi spasial. CT scan telah digunakan secara luas dan memiliki keuntungan visualisasi yang lebih baik dalam melihat struktur intratorakal lainnya, dan banyak operator yang mengembangkan kemampuannya dalam bidang ini, yang mungkin bermanfaat ketika abses paru ditemukan.

Reseksi pembedahan Dengan membandingkan dengan era sebelum antibiotik, era pembedahan abses paru jarang diperlukan, tetapi masih dilakukan jika terdapat hemoptisis berat atau abses paru berhubungan dengan keganasan. Pada kasus belakangan, reseksi hanya dicoba jika tumor operable melalui kriteria yang biasa, dengan tanpa bukti adanya metastasis, keterlibatan mediastinum, fungsi pare yang tidak adekuat atau keadaan serius kesehatan yang menyertainya. Untuk dua indikasi utama ini mungkin perlu ditambahkan abses kronik dengan gejala menetap, khususnya ketika mencoba untuk mendrain gagal dilakukan. Kronisitas mungkin bersifat sementara atau patologis, abses kronik berhubungan dengan granulasi jaringan dan diikuti dengan jaringan ikat. Definisi sementara adalah bahan perdebatan, tetapi abses yang masih menghasilkan gejala sistemik (selain produksi sputum) 6 minggu setelah munculnya gejala walaupun percobaan endobronkial atau percutaneus drainage, harus dipertimbangkan untuk reseksi pembedahan. (18)

II.11 Komplikasi Keberhasilan pengobatan abses paru diindikasikan pertama melalui resolusi demam, kedua melalui penutupan kavitas dan terakhir melalui bersihnya gambaran radiologis infiltrat parenkim paru. Demam biasanya hilang dalam beberapa hari, menetap dalam 2 minggu jarang terjadi dan membuktikan tidak adekuatnya drainase. Sekitar 50% kavitas akan menutup dalam sebulan dan meninggalkan gejala selama 4 – 8 minggu.

Universitas Sumatera Utara

Turunnya nilai PCR, dan pasien yang merasa lebih baik dan berat badan yang bertambah merupakan tanda pembaikan semua stage penanganan abses paru. Infiltrasi radiologis mungkin menetap selama 3 bulan atau lebih dan tidak memberikan peningkatan untuk memperhatian perkembangan pasien. Komplikasi dan sequelae jangka panjang kini tampak kurang sering terjadi dibandingkan era sebelum antibiotik tetapi abses paru masih berhubungan dengan angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah empiema. (9) Pasien mungkin tidak akan datang pada dokter hingga hal ini terjadi. Seiring membesarnya abses, ia mungkin akan merapuhkan pembuluh darah dan memunculkan hemoptisis. (19) Jarangnya, tetapi khusus pada pasien dengan penurunan daya tahan tubuh, nekrosis mungkin menyebar sangat cepat melalui paru. Abses yang telah didrainase dan disterilisasi dengan menggunakan antibiotik mungkin membentuk kavitas yang persisten. Lini awal melalui granulasi jaringan, hal ini digantikan oleh jaringan fibrosa dan diikuti epitel skuamos atau siliata. Beberapa kavitas bisa direinfeksi kembali atau dikolonisasi ketika abses asli yang dibentuk berhubungan dengan bronkus, lebih sering daripada saluran napas kecil, destruksi dinding bronkus diikuti epitelialisasi memunculkan bronkiektasis sakuler lokal. Penyebaran infeksi ke dalam vena paru bisa menyebabkan abses serembral emboli, tetapi komplikasi ini sangat jarang terjadi.

II.12. Prognosis Abses paru masih merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Angka kematian Abses paru berkisar antara 15-20% merupakan penurunan bila dibandingkan dengan era pre antibiotika yang berkisar antara 30-

40%.

Pada penderita dengan beberapa faktor predisposisi mempunyai prognosa yang lebih jelek dibandingkan dengan penderita dengan satu faktor predisposisi. Sekitar 80-90% penderita sembuh dengan pengobatan anti biotik. (20) Beberapa faktor yang memperbesar angka mortalitas pada Abses paru sebagai berikut (21) :

Universitas Sumatera Utara

a. Anemia dan Hipo Albuminemia

b. Abses yang besar (φ > 5-6 cm) (hisberg juga)

c. Lesi obstruksi

d. Bakteri aerob, seperti : S.aureus, K.Pneumoniae and P.aeruginosa. (21)

e. Immune Compromised

f. Usia tua

g. Gangguan intelegensia

h. Perawatan yang terlambat

Universitas Sumatera Utara

BAB III KESIMPULAN Abses paru adalah infeksi dekstruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru pada satu lobus atau lebih. Kuman atau bakteri penyebab terjadinya abses paru bervariasi. 46% abses paru disebabkan hanya oleh bakteri anaerob, sedangkan 43% campuran bakteri anaerob dan aerob. (2) Untuk memastikan diagnosa dari abses paru maka dilakukan serangkaian pemeriksaan dari anamnesa, pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan antara lain Foto Polos, Tomografi Komputer, Ultrasonografi (USG) dan Magnetik Resonance Imaging (MRI). (3) Dari pemeriksaan Foto dada PA dan lateral pada pasien akan dijumpai kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya, lebih sering dijumpai pada paru kanan dibandingkan paru kiri. Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka didalam kavitas terdapat Air Fluid Level. 11 Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda konsolidasi (opasitas). Pada pemeriksaan Tomografi Komputer akan dijumpai kavitas terlihat bulat dengan dinding tebal, tidak teratur dengan air-fluid level dan terletak di daerah jaringan paru yang rusak. Tampak bronkus dan pembuluh darah paru berakhir secara mendadak pada dinding abses, tidak tertekan atau berpindah letak. Abses paru juga dapat membentuk sudut lancip dengan dinding dada. (11),(12) Pemeriksaan USG jarang dianjurkan pada pasien dengan abses paru. Namun, USG juga dapat mendeteksi abses paru. tampak lesi hipoechic bulat dengan batas luar. Apabila terdapat kavitas, didapati adanya tambahan tanda hiperechoic yang dihasilkan oleh gas-tissue interface. (13) Sedangkan pemeriksaan MRI ternyata akurat untuk mendiagnosa dan menentukan lokasi penyakit paru. Pada pasien dengan pneumonia dan abses paru, peradangan akut berhubungan dengan peningkatan intensitas sinyal pada T2 bila dibandingkan dengan T1 weighted image. (14)

Universitas Sumatera Utara

Pasien dengan beberapa faktor predisposisi abses paru memiliki prognosis yang jelek dibandingkan yang memiliki satu faktor predisposisi. Sedangkan pasien yang mendapatkan pengobatan antibiotik secara adekuat memilik prognosis yang lebih baik. (20)

Universitas Sumatera Utara

Daftar Pustaka:

1. Alsagaff,H., dkk. 2006. Abses Paru dalam Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru: Airlangga University Press, Surabaya. Halaman 136-140.

2. Rasyid, A., 2006. Abses Paru. Dalam : Sudoyo, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Pusat Penerbitan Departemen IPD FK-UI, Jakarta. Halaman 1052-1055.

3. Kamangar, dkk. 2009. Lung Abscess. Emedicine. Available from http://emedicine.medscape.com/article/299425-overview [Accessed on 19 Februari 2011]

4. Kharkar RA, Ayyar VB. 2011. Aetiological aspects of lung abscess. J

Postgrad Med [serial online] 1981 [cited 2011 Mar 6];27:163. Available from: http://www.jpgmonline.com/text.asp?1981/27/3/163/5637 cited on 6

from

March

2011

in

Journal

of

Postgraduated

Medicine.

Available

cited. {Accessed on 5 Maret 2011)

5. Asher, MI, 1990. Lung Abscess in Infections of Respicatory Tract; Canada. 429 – 434 dalam Asuhan Keperawatan Abses Paru. Available from http://wwwdagul88.blogspot.com/2011/02/askep-abses-paru.html [Accessed on 20 Februari 2011]

6. Finegold, S.M.,dkk. 1998. Empyema and Lung Abscess ; in Fishman’s pulmonary Diseases and disorders 3 rd ed ; Philadelphia. Halaman : 2021 – 2032 dalam Asuhan Keperawatan Abses Paru. Available from

[Accessed on 20 Februari 2011]

7. Barlett, J.G., 1992. Lung Abscess in : Cecil text book of Medicine 19 th ed ; Phildelphia. Halaman : 413 – 415 dalam Asuhan Keperawatan Abses Paru. Available from http://wwwdagul88.blogspot.com/2011/02/askep-abses- paru.html [Accessed on 20 Februari 2011]

8. Ricaurte, K.K., dkk. 1999. Allergic broucho pulumonary aspergillosis with multiple Streptococceus pneumonie. Lung Abscess : an unussual insitial case presentation. Journal of Allergy and Clinical Imonoligy 104. 238 –

240.

9. Maitra,A., Kumar, V., 2007. Abses Paru. Dalam : Robbins, Buku Ajar Patologi Edisi 7. EGC, Jakarta. Halaman 556.

10. Garry,dkk. 1993. Lung Abscess in a Lange Clinical Manual : Internal Medicina : Diagnosis and Therapy 3 rd ; Oklahoma. 119 – 120.

11. Juhl, John., dkk. Essentials of Radiologic Imaging. Mexico. Halaman 755-

757.

12. Rasad, S., 2005. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua: Fakultas Kedokteran

UI, Jakarta. Halaman 101-103.

13. Bouhemad B, Zhang M, Lu Q, Rouby JJ. 2007. Clinical review: Bedside lung ultrasound in critical care practice. Crit Care. 11(1). Halaman 205

Universitas Sumatera Utara

14. Cohen, M.D., Eigen, H., 2005. Magnetic resonance imaging of inflammatory lung disorders: preliminary studies in children. Pediatr

Pulmonol.Jul-Aug;2(4):211-7

15. Stark, D.D. Differentiating lung abscess and empyema: radiography and computed tomography. American Journal of Roentgenology, Vol 141, Issue 1. Halaman 163-167. Available from

[Accessed on 5 Maret

http://www.ajronline.org/cgi/reprint/141/1/163.pdf

2011]

16. Hammond JMJ et al ; The Ethiology and Anti Microbial Susceptibility Patterns of Microorganism in acute Commuity – Acquired Lung Abscess ; Chest ; 108 ; 4 ; 1995 ; 937 – 41.

17. Bartelett, 2011, Treatment of anaerobic pulmonary infections, Division of Infectious Disease. The Johns Hopkins Hospital, USA. Available from http://jac.oxfordjournals.org/content/24/6/836.full.pdf [accessed on 21 Februari 2011]

18. Haight,dkk. Surgical Treatmenr of Peripheral Lung Abscess. Yale Journal of Biology and Medicine. 235-240. Available from

0030.pdf [accessed on 21 Februari 2011]

19. Werber, Y.B., 2001. Massive hemoptysis from a lung abscess due to retained gallstones. Ann Thorac Surg 72. 278-279. Available from http://ats.ctsnetjournals.org/cgi/content/full/72/1/278 [accessed on 21 Februali 2011]

20. Wali, S.O., dkk. 2002. Percutaneous drainage of pyogenic lung abscess. Scand Jurnal Infection Disease 34 (9): 673-676. Available from :

21 Februari 2011]

21. Hishberg, B.,dkk 1999 Factors Predicting Mortality of Patients with Lung Abscess. Chest. Halaman 746-752. Available from

21 Februari 2011)

Universitas Sumatera Utara