Anda di halaman 1dari 5

Penggunaan

Kortikosteroid

Mengurangi

Infeksi

Yang

Berhubungan

Dengan

Kekambuhan Sindroma Nefrotik - Randomized Controlled Trial

Ringkasan Latar belakang dan tujuan kekambuhan penyakit sindrom nefrotik sering di sertai infeksi minor, terutama infeksi saluran pernafasan atas. Pengunaan prednisolone setiap hari sebagai maintenenace atau rumatan ketika terjadinya infeksi diteliti untuk menentukan apakah terapi ini dapat menurunkan angka kekambuhan penyakit sindrom nefrotik pada pasien anak yang sering kambuh. Rancangan Penelitian, Populasi, Pengukuran. Desain. Dalam uji coba terkontrol secara acak (nonblind, kelompok paralel, perawatan rumah sakit tersier), 100 pasien yang idiopatik, sering kambuh dari sindrom nefrotik memenuhi syarat untuk terapi lama dengan dosis rendah, alternative prednisolon dengan atau tanpa levamisol secara acak menerima dosis prednisolon sehari selama 7 hari selama infeksi berlangsung atau melanjutkan alternatif prednisolone sehari (kontrol). Hasil utama dinilai dengan membandingkan tingkat infeksi terkait kambuh padafollow up selama 12 bulan. Hasil sekunder adalah frekuensi infeksi dan jumlah kumulatif prednisolon yang diterima pada kedua kelompok. Hasil. Pasien dalam kelompok intervensi menunjukkan perbedaan tingkat signifikan terkait infeksi ( 0,7 episode / pasien per tahun, 95% interval kepercayaan [CI] 0.3, 1.1) dan total tingkat kambuh yang lebih rendah (0,9 episode /pasien per tahun, 95% CI 0.4, 1.4) tanpa peningkatan toksisitas steroid. Regresi Poisson, disesuaikan selama infeksi, menunjukkan bahwa pemberian harian prednisolon selama infeksi mengakibatkan pengurangan 59% pada frekuensi kekambuhan (tingkat rasio, 0,41, 95% CI 0.3, 0.6). untuk setiap enam pasien yang menerima intervensi ini, salah satu menunjukkan penurunan frekuensi kambuh kurang dari tiga per tahun. Kesimpulan. administrasi harian dosis pemeliharaan prednisolon, selama infeksi , secara signifikan mengurangi tingkat kekambuhan dan proporsi anak-anak dengan kekambuhan sindroma nefrotik.

Pendahuluan Meskipun sebagian besar anak-anak dengan idiopatik sindroma nefrotik

merespon pengobatan dengan kortikosteroid, 40 sampai 50% menunjukkan kekambuhan dan penyakit yang berkepanjangan dengan risiko infeksi yang mengancam jiwa, komplikasi tromboemboli, dan efek samping dari terapi (1,2). Sedangkan ketersediaan obat baru telah menghasilkan peningkatan manajemen dengan kekambuhan sindroma nefrotik, ada kekhawatiran tentang efek samping dari terapi ini (3-5). Oleh karena itu perlu untuk memeriksa pengobatan yang aman dan efektif rejimen untuk pasien dengan sering kambuh dari sindrom nefrotik. Kekambuhan sindrom nefrotik sering diikuti infeksi pada saluran pernapasan atas atau traktusgastrointestinal (6,7). Diperkirakan bahwa 50 sampai 70% dari kekambuhan sindrom nefrotik pada anak-anak di negara-negara berkembang setelah infeksi terutama dari saluran pernapasan atas (7). Meskipun mekanisme infeksi tidak jelas, terapi dengan agen imunosupresif diyakini dapat meregulation sel T (8 -10) dan mengurangi risiko infeksi terkait kekambuhan. Atas dasar pendapat ini, dua penelitian terbaru telah meneliti peran jangka pendek dalam penggunaan kortikosteroid untuk mengurangi infeksi terkait kekambuhan pada pasien sindrom nefrotik (11,12). Meskipun kedua studi menemukan efek dari intervensi, pertama dilakukan pada sejumlah kecil pasien (11), dan yang kedua tidak meneliti manfaat jangka panjang (12). Oleh karena itu kami mengusulkan untuk memeriksa, prospective, adequately powered, randomized controlled Trial apakah strategi pemberian jangka pendek dosis kecil prednisolon selama infeksi adalah efektif dalam mengurangi tingkat kekambuhan pada pasien sindroma nefrotik.

Subjek dan Metode Randomized controlled trial, dilakukan dari September 2006 October 2009 (18 bulan) pada Pasien berumur 1-16 tahun yang didiagnosa frequently relapsing nephrotic syndrome (Minimal 2 kali relapse dalam 6 bulan atau lebih dari 3 kali relapse dalam 12 bulan) dengan terapi Prednisolone yang diberi secara long-term, alternate day dengan atau tidak dengan levamisole. Sampel yang tidak dimasukan (eksklusi) (1)Kerusakan fungsi ginjal (serum creatinin >1.2mg/dl selamalebih dari 2 minggu) (2)Pengambilan obat immunosupressive selain dari prednisolone oral selama 6 bulan (3) ambang batas steroid melebihi 1 mg / kg pada rumatan untuk mempertahankan remisi dan toksisitas steroid (indeks massa tubuh > 95 persen untuk usia [13], katarak, atau hipertensi tingkat 2 [14]). Studi ini disetujui oleh Institutional Dewan Etik, dan persetujuan tertulis informed diambil dari orang tua sebelum inklusi.

Pengobatan standar dan Pengacakan Pasien yang telah didiagnosis memiliki kekambuhan sindrom nefrotik dimasukkan selama steroid-induced remisi. Mereka menerima alternateday prednisolon, dengan dosis 1,5 mg / kg selama 4 minggu, dengan tappering 0.25mg/kg setiap 2 minggu sehingga dosis mencapai 0.5 0.75/kg. Pasien yang membutuhkan prednisolon pada dosis> 1 mg / kg pada alternateday untuk mempertahankan remisi tetapi tanpa toksisitas steroid diobati dengan kombinasi levamisol (2 mg / kg pada alternateday) dan alternateday prednisolon seperti di atas. Dosis bedasarkan berat badan. Pengobatan dengan jangka panjang, alternate-day prednisolone dengan atau tidak dengan levamisole diberi selama setahun. Pasien yang memenuhi syarat secara acak oleh stratified randomization atas dasar terapi dengan atau tanpa levamisol dalam kelompok intervensi dan kontrol. Alokasi disembunyikan dalam amplop tertutup yang dibuka pada inklusi.

Intervensi Dan Follow Up Klasifikasi infeksi yang digunakan (1) demam >38oC pada dua pengukuran di axilla minimal 1 jam (2) rhinitis atau batuk lebih dari 1 hari (3) diare ( BAB tiga kali atau lebih selama dua hari). Selama infeksi, pasien dalam kelompok intervensi diperintahkan untuk meningkatkan frekuensi prednisolon dari alternate-day menjadi setiap hari selama 7 hari, tanpa mengubah dosis prednisolon. Pasien dalam kelompok kontrol terus melanjutkan pengobatan dengan alternate-day

prednisolon. frekuensi pemberian prednisolon tidak meningkat selama alergi, gigitan serangga, luka, imunisasi, dan setiap penyakit menular. Semua pasien menerima suplemen kalsium karbonat (250 mg / hari untuk pasien berusia < 6 tahun; 500 mg / hari untuk pasien berusia > 6 tahun). Orang tua pada kedua kelompok diperintahkan untuk memeriksa specimen urin hari pertama dengan dipstick dan mencatat. Infeksi dan pengobatanjuga dicatat. Instruksi tertulis pada Terapi yang diberikan, termasuk nasihat lewat telepon diikuti dengan kunjungan rumah sakit dalam waktu 1 minggu.

Pasien yang menunjukkan proteinuria selama infeksi diberikan terapi suportif. kekambuhan didefinisikan sebagai adanya proteinuria +3 sampai +4 selama 3 hari berturut-turut setelah 7 hari dari timbulnya infeksi. Ini diobati dengan prednisolon, pada dosis 2 mg / kg per sampai remisi ( proteinuria negatif selama 3 hari berturut-turut), diikuti oleh 1,5 mg / kg pada hari alternatif selama 4 minggu, dan kemudian tapering off. Kunjungan follow-up dijadwalkan setiap 2 bulan untuk 1 tahun, pada setiap kunjungan catatan orang tua ditinjau, dan saran yang diberikan. Blood levels kreatinin, albumin, dan kolesterol yang diukur saat pendaftaran, 6 bulan, dan 12 bulan. Manajemen Infeksi Serius Pasien dengan infeksi serius (infeksi saluran pernapasan bawah, peritonitis, dan selulitis) dirawat di rumah sakit. Pasien dalam kedua kelompok menerima prednisolon (0,5 mg / kg per oral) atau dosis setara IV hidrokortison selama terapi infeksi ini.

Hasil studi Hasil primer dinilai dengan membandingkan tingkat infeksi terkait kekambuhan (relaps terjadi pada minggu pertama setelah intervensi 7 hari) dan dinyatakan sebagai episode / pasien per tahun. Hasil sekunder termasuk frekuensi dan jenis infeksi dan jumlah kumulatif prednisolon diterima pada kedua kelompok. Terjadinya dua atau lebih kekambuhan dalam periode 6 bulan adalah dianggap gagal pengobatan. Pasien-pasien idari ni keluar studi dan dirawat dengan menggunakan obat alternatif.

Ukuran sampel dan analisis statistik Atas dasar tingkat kekambuhan sebesar 4,6 1,4 / tahun pada pasien dengan sering kambuh ( 7 ) , 70 % dari yang diduga mengalami infeksi , 50 pasien yang diperlukan dalam setiap kelompok menunjukkan pengurangan 50 % frekuensi infeksi terkait kekambuhan pada kekuatan 80 % , alpha error 5 % , dan dropout 10 % . Data dianalisis menggunakan Stata , versi 9.1 . Data kontinyu dinyatakan sebagai rata-rata SD dan perbedaan dengan kepercayaan 95 % interval ( CI ) ; P < 0,05 dianggap signifikan. Regresi Poisson digunakan untuk membandingkan tingkat kekambuhan pada kelompok setelah disesuaikan untuk jumlah infeksi. One - way ANOVA digunakan untuk menilai hubungan antara jumlah kambuh dan infeksi. Atas dasar rasio, kita menghitung jumlah yang diperlukan untuk diperlakukan untuk mengurangi frekuensi kambuh menjadi kurang dari tiga per tahun ( 15 ) .