Anda di halaman 1dari 8

1

ANALISIS VEGETASI TUMBUHAN PENUTUP TANAH DI PERKEBUNAN TEH HALIMUN, JAWA BARAT Nessa Nurhayati, Rani Dwi Destiyani, Dian Violeta Ikhsana, Mawaddah Warohmah, Siti Hadianti1
1

Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16-17 Oktober 2009 di perkebunan teh Nirmala, Citalahab, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Jawa Barat. Pengambilan data dilakukan pada tiga lokasi perkebunan teh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan penutup tanah serta untuk mengetahui asosiasi yang terjadi antara tumbuhan tersebut dengan tanaman teh. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik pengambilan data belt transect, membuat plot berukuran 1x1 meter, pada tiga lokasi yang masing-masing dibuat 2 transect dengan jarak antar transect 5 meter. Tumbuhan penutup tanah di perkebunan teh yang ditemukan antara lain dari suku Rubiaceae, Melastomataceae, Poaceae dan Asteraceae. Tumbuhan yang berasosiasi positif dengan tanaman teh adalah Borreria laevis dimana spesies ini memiliki INP (Indeks Nilai Penting) tertinggi, yaitu 52.82 % dan Koefisien Asosiasi Interspesifik (C) tertinggi, yaitu 0.15. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat asosiasi yang kuat antara Borreria laevis dengan tanaman teh. Kata kunci: tumbuhan penutup tanah, TNGHS, asosiasi interspesifik

ABSTRACT This research executed on 16th October 2009 at Nirmala tea plantation, Citalahab, National Park of Mount Halimun-Salak, West Java. Data intake at three tea plantation location. This research aimed to know the type of cover crops and also to know the association that happened between the cover crops and the tea. This research using descriptive method with belt transect data intake technique, making plot 1x1 metre, at three location that each of it made the 2 transect with the distance between transect was 5 metre. The cover crops at tea plantation that found were from the family of Rubiaceae, Melastomataceae, Poaceae, Asteraceae, etc. The plant which have the positive association with tea was Borreria sp. where this species has the highest INP (Important Value Index), that is 52.82 % and the highest Association Interspesifik Coefficient (C), that is 0.15. It showed that there was strong association between Borreria leavis and tea. Key words : cover crops, TNGHS, interspecific association

PENDAHULUAN Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) merupakan taman nasional yang terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Bogor di bagian utara dan Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa Barat) di bagian selatan (Rinaldi, 2008). Perkebunan teh merupakan salah satu daya tarik yang dimiliki TNGHS. Di TNGHS terdapat beberapa perkebunan teh, salah satu diantaranya adalah perkebunan teh Nirmala. Perkebunan teh ini telah ada sebelum TNGHS ditetapkan menjadi kawasan taman nasional. Penanaman teh di perkebunan menyisakan lahan kosong di antara tanaman teh tersebut, sehingga lahan tersebut akan ditutupi berbagai macam herba. Herba tersebut biasa disebut tumbuhan penutup tanah. Tanaman penutup tanah adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi dan / atau untuk memperbaiki sifat kimia dan sifat fisik tanah. Tumbuhan atau tanaman yang sesuai untuk digunakan sebagai penutup tanah dan digunakan dalam sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat-syarat (Osche et al, 1961 dalam Sintala, 2006): (a) mudah diperbanyak, sebaiknya dengan biji, (b) mempunyai sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok, tetapi mempunyai sifat pengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, (c) tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun, (d) toleransi terhadap pemangkasan, (e) resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, (f) mampu menekan pertumbuhan gulma, (g) mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya, (h) sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah, dan (i) tidak mempunyai sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti duri dan sulur-sulur yang membelit. Tumbuhan penutup tanah memberikan beberapa keuntungan antara lain yaitu meningkatkan kesuburan tanah, melindungi permukaan tanah dari bahaya erosi, memperbaiki sifat-sifat tanah akibat pembakaran, menekan serangan penyakit jamur akar, dan menekan biaya pengendalian gulma (Junaidi, 2010). Tumbuhan yang tumbuh sebagai tumbuhan utamanya, yaitu teh, akan memperkuat struktur tanah tersebut serta berperan dalam peresapan dan membantu menahan jatuhnya air hujan secara langsung serta mengurangi kecepatan aliran permukaan. Selain itu, mendorong perkembangan biota tanah yang dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah serta berperan dalam menambah bahan organik tanah sehingga menyebabkan resistensi tanah terhadap erosi meningkat. Berbagai macam tumbuhan penutup tanah memperlihatkan variasi bentuk serta warna dengan tanaman utamanya, yaitu teh. Bentuk serta warna yang cukup beragam dari tumbuhan penutup tanah ini mampu membuat keanekaragaman di sekitar perkebunan teh. Tumbuhan penutup tanah ini juga mampu berfotosintesis sehingga tidak mengganggu ataupun merugikan tanaman utamanya. Dengan demikian, jenis-jenis dari tumbuhan penutup tanah yang ada di sekitar perkebunan teh Nirmala tidak asing lagi untuk ditemukan. Keberadaan tanaman penutup tanah berpotensi meningkatkan persaingan dalam berbagai macam bentuk dengan tanaman utama (Baon, 2006). Persaingan tersebut di mungkinkan karena tumbuhan penutup tanah di perkebunan teh Nirmala bukan merupakan tumbuhan penutup tanah yang sengaja di tanam, oleh karena itu penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui keanekaragaman jenis tumbuhan penutup dan mengetahui asosiasi tumbuhan penutup tanah dengan

tanaman teh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan penutup tanah di perkebunan teh Nirmala, dan mengetahui asosiasi interspesifik antara tumbuhan penutup tersebut dengan tumbuhan teh sehingga dapat diketahui tumbuhan penutup tersebut berpotensi merugikan atau menguntungkan untuk tanaman teh. Pengambilan data dilakukan di kawasan perkebunan teh Nirmala, Citalahab, TNGHS. TUJUAN Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai jenisjenis tumbuhan penutup tanah di perkebunan teh Nirmala, Citalahab, TNGHS dan mengetahui asosiasi interspesifik dari tumbuhan penutup tersebut dengan tanaman teh. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam meningkatkan pengelolaan perkebunan teh Nirmala, Citalahab, TNGHS. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada 16-17 Oktober 2009 di daerah perkebunan teh Nirmala, Citalahab, TNGHS. Secara umum kawasan ini terdiri atas lereng dengan sedikit daerah yang landai. Alat Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah tali 1x1m, meteran jahit, koran, trash bag, kalkulator, kamera spectra vertex tipe 515, alat tulis, dan buku identifikasi tumbuhan penutup tanah. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik pengambilan data belt transect, membuat beberapa plot berukuran 1x1 meter pada 3 lokasi yang masing-masing lokasi dibuat 2 transect dengan jarak antar transect 5 meter. Cara Kerja 1. Menentukan 3 lokasi pengambilan data 2. Menentukan titik awal plot 3. Mengambil data dengan teknik belt transect yaitu dengan membuat plot-plot dengan ukuran 1x1 meter yang mempunyai jarak antar transect 5 meter 4. Melakukan pengambilan data fisik berupa kemiringan lahan dan persentase penetrasi cahaya 5. Menghitung luas tutupan tumbuhan penutup tanah di setiap plot 6. Mengidentifikasi tumbuhan yang ada dalam plot 7. Pembuatan herbarium untuk vegetasi tumbuhan penutup tanah 8. Pembuatan fotografi spesimen dengan menggunakan kamera Spectra vertex tipe 515 dan 538 dengan resolusi 5.0 Mega pixel

9. Mengidentifikasi spesimen dengan menggunakan buku berjudul A Practical field Guide to Weeds Of Rice in Asia yang dikarang oleh B. P Caton, M. Mortimer dan J. E Hill yang diterbitkan pada tahun 2004 oleh IRRI (International Rice Research Institute). 5. Hipotesis Penelitian H0= Tidak terdapat asosiasi antara Spesies i dengan tanaman teh. H1= Terdapat asosiasi antara Spesies i dengan tanaman teh. Analisis Data a. Analisis vegetasi Pohon dan semak menggunakan rumus Kelimpahan Jenis dan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (J. E. Brower, 1990) b. Sedangkan asosiasi tanaman teh dengan tumbuhan jenis a dihitung dengan menggunakan nilai koefisien dari asosiasi (C), yang nilainya bervariasi dari +1, untuk hubungan yang menunjukkan adanya asosiasi yang kuat sampai dengan -1, untuk menunjukkan tidak adanya asosiasi yang terjadi. Nyata tidaknya (signifikansi) dari nilai khi kuadrat (X2-hitung) ditentukan dengan membandingkan nilai khi kuadrat tabel. Nilai X2-tabel yang digunakan adalah pada 5% dan dengan derajat kebebasan 3, jadi nilai X2-tabel adalah 3,84 (George W. Cox, 1974). Adapun untuk memperoleh nilai kerapatan, dominansi, dan frekuensi tumbuhan penutup tanah di Perkebunan Teh Halimun, digunakan rumus: a. Kerapatan b. Kerapatan relatif c. Dominansi d. Dominansi relatif = = = = Jumlah individu Luas plot transek kerapatan suatu spesies X 100% Jumlah kerapatan seluruh spesies Luas tutupan spesies Luas plot transek dominansi spesies X 100% Jumlah seluruh dominansi spesies Jumlah plot yang terdapat spesies Jumlah plot Frekuensi spesies X 100% Jumlah frekuensi seluruh spesies

e. Frekuensi

f. Frekuensi relatif

g. Indeks nilai penting = kerapatan relatif + dominansi relatif + frekuensi relatif (Cox, 1974)

HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah melakukan pengawetan spesies, didapatkan hasil bahwa ditemukan sebanyak 32 spesies di ketiga lokasi dengan data perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) dan Koefisien Asosiasi Interspesifik (C) pada setiap spesies yang ditemukan didapatkan hasil berikut : Tabel 1. Tabel perhitungan INP dan Koefisien Asosiasi Interspesifik
N o. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Spesies Drymaria villosa Poaceae 1 Clidemia hirta Borreria laevis Poaceae 2 Poaceae 3 Oxalis corymbosa Emilia soncifolia Ageratum conyzoides Echinochloa colona Wedelia Montana Polygonum barbatum Impatiens platypetala Spesies 14 Asteraceae Crassocephalum crepidioides Pteridium aquilinum Biden pilosa Crassocephalum sp.1 Mitracarpus sp. Spesies 22 Spesies 23 Mikania micranta Goniophlebium Poaceae 4 Crassocephalum sp.2 Kerapatan 0.1 0.17 0.583 3.35 0.7 0.07 0.083 0.45 0.883 0.517 0.033 0.05 1.033 0.017 0.067 0.1 1.13 0.017 0.017 0.3 0.017 0.567 0.033 0.017 0.067 0.2 0.017 Kerapatan relatif (%) 0.90 1.53 5.26 30.21 6.31 0.63 0.75 4.06 7.96 4.66 0.30 0.45 9.32 0.15 0.60 0.90 10.19 0.15 0.15 2.71 0.15 5.11 0.30 0.15 0.60 1.80 0.15 Dominansi 0.0019 0.00397 0.0019 0.0046 0.01299375 0.0033 0.00456 0.015 0.0072518 0.04736066 7 0.000355 0.001783 0.0038 0.0000525 0.000905 0.00099208 3 0.0099 0.00007 0.00385 0.0023 0.0000217 0.00184 0.0000546 0.000015 0.03625 0.0003533 0.0000375 Dominansi relatif (%) 1.14 2.38 1.14 2.76 7.78 1.98 2.73 8.99 4.34 28.37 0.21 1.07 2.28 0.03 0.54 0.59 5.93 0.42 2.31 1.38 0.01 1.10 0.03 0.01 21.72 0.21 0.02 Frekuensi 0.067 0.13 0.32 0.88 0.33 0.067 0.083 0.15 0.23 0.2 0.03 0.03 0.6 0.017 0.067 0.017 0.4 0.017 0.017 0.083 0.017 0.22 0.03 0.017 0.067 0.1 0.017 Frekuensi relatif (%) 1.51 2.93 7.22 19.85 7.44 1.51 1.87 3.38 5.19 4.51 0.68 0.68 13.53 0.38 1.51 0.38 9.02 0.38 0.38 1.87 0.38 4.51 0.68 0.38 1.51 2.26 0.38 INP (%) 3.55 6.84 13.62 52.82 21.53 4.12 5.35 16.43 17.49 37.54 1.19 2.20 25.13 0.56 2.65 1.87 25.14 0.95 2.84 5.96 0.54 10.72 1.01 0.54 23.83 4.27 0.55 C -0.18 -0.077 0.045 0.15 0.042 0.0065 0.0083 -0.53 -0.004 0.0625 0.0031 -0.45 0.026 0.0015 -0.45 0.0015 0.065 0.0015 -0.017 0.0065 0.0015 0.025 0.0031 0.0015 0.0031 0.01 0.0015

16 Spesies 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

28 Poaceae 5 Commelina 29 diffusa 30 Spesies 30 31 Spesies 31 32 Leptochloa sp. TOTAL

0.417 0.033 0.017 0.017 0.017 11.089

3.76 0.30 0.15 0.15 0.15 99.97

0.001153 0.0000433 0.00000486 0.0002917 0.000025 0.166934

0.69 0.03 0.00 0.17 0.01 100

0.15 0.03 0.017 0.017 0.017 4.434

3.38 0.68 0.38 0.38 0.38 99.52%

7.83 1.01 0.53 0.70 0.54 299.85

0.016 0.0031 0.0031 0.0008 9 0.0015 1.3433 1

Dari hasil inventarisasi diketahui terdapat 32 spesies yang ditemukan. Spesies-spesies tumbuhan tersebut diantaranya berasal dari suku Rubiaceae, Melastomataceae, Poaceae dan Asteraceae. Setelah melakukan identifikasi spesies didapatkan hasil bahwa sebanyak 15 spesies dapat diidentifikasi hingga tingkat species, 5 spesies hingga tingkat marga, 6 spesies hingga tingkat suku, dan sisanya yaitu sebanyak 6 spesies tidak diketahui sama sekali. Spesies yang termasuk ke dalam suku Rubiaceae diantaranya adalah Borreria laevis; suku Melastomataceae diantaranya adalah Clidemia hirta; suku Poaceae diantaranya adalah Echinochloa colona; suku Asteraceae diantaranya adalah Crassocephalum crepidioides dan Ageratum conyzoides; suku Oxalidaceae diantaranya adalah Oxalis corymbosa; dan suku Caryophyllaceae diantaranya adalah Drymaria villosa; sisanya tidak diketahui. Ada 6 spesies yang tidak diketahui jenisnya sama sekali. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab, diantaranya adalah herbarium yang rusak dan tidak utuh, dimana tidak terdapat bagian-bagian penting pada tumbuhan seperti bunga. Hal ini menyebabkan spesies sulit diidentifikasi. Penyebaran spesies merupakan hasil atau akibat dari berbagai sebab, yaitu akibat dari pengumpulan individu-individu dalam suatu tempat yang dapat meningkatkan persaingan diantara individu yang ada untuk mendapatkan nutrisi dan ruang, akibat dari reaksi individu dalam menanggapi perubahan cuaca harian dan musiman, dan akibat dari menanggapi perbedaan habitat setempat (Odum, 1998 dalam Maisyaroh 2010). Pengelompokkan yang terjadi pada suatu komunitas dapat diakibatkan karena ketahanan hidup kelompok terhadap berbagai kondisi (Ewuise, 1990 dalam Maisyaroh 2010). Setelah dilakukan perhitungan didapatkan hasil Indeks Nilai Penting (INP) keseluruhan, yaitu 299.49 % dan Koefisien Asosiasi Interspesifik (C) tertinggi atau yang paling positif adalah Borreria laevis, yaitu 0.15 dengan INP tertinggi, yaitu 52.82 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa spesies tumbuhan penutup tanah (cover crops) yang paling penting adalah Borreria laevis dan bahwa ada hubungan asosiasi yang kuat antara Borreria laevis dengan tanaman teh dimana Borreria laevis merupakan tumbuhan penutup tanah dengan INP tertinggi dan koefisien asosiasi interspesifik paling positif. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan uji statistik Chi Square didapatkan hasil bahwa sebanyak 28 spesies tidak memiliki hasil yang sesuai antara perhitungan chi square dengan koefisien asosiasi interspesifik, sedangkan hasil yang sesuai hanya dimiliki oleh 4 spesies. Kejadian tersebut mengindikasikan bahwa antara perhitungan Chi Square dengan Koefisien Asosiasi

Interspesifik tidak selalu berbanding lurus, bisa terjadi nilai suatu tanaman besar tetapi ketika dibuktikan secara statistik nilainya kecil atau sebaliknya. Odum (1993, dalam Maisyaroh, 2010) juga menyatakan bahwa keanekaragaman jenis penyusun komunitas tumbuhan pada suatu tempat merupakan hasil interaksi beberapa faktor. Faktor pertama adalah waktu, keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas tumbuhan merupakan hasil dari evolusi. Oleh karena itu, keanekaragaman jenis tergantung pada panjang waktu. Keanekaragaman jenis ini tidak hanya merupakan fungsi dari penambahan jenis tetapi juga merupakan pengurangan jenis. Keanekaragaman jenis pada daerah tropika lebih cepat terbentuk jika dibandingkan dengan daerah iklim dan kutub. Faktor kedua adalah adanya heterogenitas ruang, komunitas tumbuhan yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang ada. Semakin heterogen dan kompleks suatu lingkungan maka keanekaragaman jenis penyusun komunitas semakin meningkat. Faktor yang ketiga adalah adanya persaingan diantara individu dalam suatu komunitas yang merupakan salah satu bagian dari seleksi alam, dengan demikian jenis penyusun yang ada pada suatu waktu merupakan jenis yang mampu bersaing. Faktor yang keempat adalah predasi, adanya jenis tertentu dimakan oleh herbivora berarti mengurangi persaingan. Pemangsaan dan parasitisme dalam lingkungan cenderung untuk membatasi kelimpahan spesies tertentu dan dengan demikian akan mempersulit spesies untuk menambah kerapatan populasinya. Faktor kelima adalah stabilitas lingkungan, pada lingkungan yang stabil akan menghasilkan jenis yang lebih banyak, oleh karena itu pada daerah tropis yang mempunyai iklim yang lebih stabil mempunyai keanekaragaman jenis yang lebih tinggi daripada daerah yang beriklim sedang dan kutub. Faktor yang terakhir adalah produktivitas, faktor ini berhubungan dengan stabilitas iklim. Pada daerah beriklim stabil mempunyai produktivitas yang tinggi dengan keanekaragaman yang tinggi pula. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, spesies tumbuhan penutup tanah ( cover crops) di perkebunan teh didominasi oleh spesies-spesies yang berasal dari suku Rubiaceae, Melastomataceae, Poaceae dan Asteraceae. Dari ke-32 spesies yang ditemukan, spesies yang memiliki Indeks Nilai Penting (INP) dan Koefisien Asosiasi Interspesifik (C) tertinggi dan berarti paling positif adalah Borreria laevis. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat asosiasi yang kuat antara Borreria laevis dengan tanaman teh. Ucapan Terima Kasih Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Taman Nasional Gunung Halimun-Salak yang telah memberikan ijin pengambilan data di lapangan. DAFTAR PUSTAKA Arini, Diah Irawati dkk, 2007. Above Ground Carbon Estimation Of Gunung Halimun Salak National Park: Potential Economic Value for Carbon Trading under Avoiding Deforestation Scheme. Departemen Kehutanan

Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak: Sukabumi. Baon, John Bako dan Yunita Anugrina. 2006. Kajian Sifat Kompetisi Tanaman Penutup Tanah Arachis pintoi Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kakao. Pelita Perkebunan. Brower, J.E., et al. 1990. Fields And Laboratory Methods For General Ecology Third Edition. Wm.C.Brown Publishers : United States of America. Cox, George.W. 1974. Laboratory Manual of General Ecology Second Edition. Wm. C. Brown Company Publishers: Dubuque, Lowa. Irwanto, 2007. Analisis Vegetasi Untuk Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung Pulau Margesu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku . Universitas Gadjah Mada Junaidi. 2010. Jenis-jenis Tanaman Penutup Tanah (LCC) di Perkebunan . Diunduh dari http://www.yousaytoo.com/jenis-jenis-tanaman-penutuptanah-lcc-di-perkebunan/279028 Kartika, Tatik dan Samsul Arifin. 2008. Analisis Meluasnya Banjir Bandang Melalui Perubahan Penutup Lahan di DAS Sampeyan Jawa Timur. Peneliti Pada Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Inderaja LAPAN. Kent, Martin dan Paddy Coker. 1992. Vegetation Description and Analysis: A Practical Approach. Belhaven Press: London. Latifah, Siti.2005. Analisis Vegetasi Hutan. Universitas Sumatra Utara. Maisyaroh, Wiwin. 2010. Struktur Komunitas Tumbuhan Penutup Tanah di Taman Hutan Raya R. Soerjo Cangar Malang. Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember. Rinaldi, Dones .dkk. 2008. Ekologi Koridor Halimun-Salak Taman Nasional Gunung Halimun Salak. JICA : Bogor Sitanala Arsyad. 2006. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.