Anda di halaman 1dari 8

UKD 1 Polimer Anorganik Rizqy Fadhila ( M0310044) Soal : 1. 2.

Tidak seperti grafit, mengapa Boron nitrida merupakan insulator listrik yang baik? Tunjukan perbedaan antara grafit dan diamond, dilihat dari : a. Struktur b. Metode sintesis c. Sifat listrik d. Transparansi dan tekstur e. Massa jenis f. Kelarutan dan pelarut g. Titik leleh 3. 4. 5. Bagaimana perbedaan sifat-sifat dari boron nitrida dengan grafit? Bandingkan struktur elektronik dari boron nitrida dengan grafit! Bagaimana sintesis material grafit, diamond, dan fullerene? Mengapa dari unsur yang sama menghasilkan struktur yang berbeda? a. Proses b. Termal 6. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan suatu unsur dapat membentuk polimer atau tidak dapat membentuk polimer? a. Kekuatan ikatan kovalen b. Elektronegativitas c. Sifat logam / bukan logam d. Ukuran Jawaban: 1. Boron nitrida merupaka insulator listrik walupun dapat menghantar panas seperti logam. Boron nitrida adalah suatu polimer anorganik yang memiliki struktur melalui reaksi suhu tinggi (>1500C) dari filamen-filamen borik oksida dengan urea atau amonia atau melalui pirolisis oligomer boron nitrida. Sebaliknya serat-serat boron nitrida telah direaksikan dengan cara yang serupa dengan halida-halida logam untuk membentuk polimer-polimer nitrida seperti NbN dan TiN. Boron nitrida merupakan insulator listrik, Ini disebabkan

karena beberapa dari muatan elektron pada boron berpindah ke nitrogen sehingga ikatan yang terbentuk tidak benar-benar kovalen, tetapi memiliki sifat ionik. Perpindahan muatan memberikan peningkatan celah pada pita konduksi dan pita valensi, dengan demikian BN mempunyai sifat seperti semikonduktor yang memiliki celah pita yang luas dan menyebabkan Boron Nitrit Nanotube (BNNT) mempunyai sifat isolator. Nanda Mahmudi, K.d. 2013. PENGARUH ENKAPSULASI SILIKON ATAU GERMANIUM PADA BNNT TERHADAP PARAMETER NMR DENGAN DFT. Indonesian Journal of Chemical Science. 2(1).

2.

Perbedaan antara grafit dan diamond: GRAFIT: a. Struktur Struktur grafit pada setiap atom karbon membentuk ikatan kovalen dengan tiga atom karbon lainnya membentuk susunan heksagonal dengan struktur berlapis seperti tumpukan kartu. Karena atom karbon memiliki 4 elektron valensi maka pada setiap atom karbon masih terdapat satu elektron yang belum berikatan (elektron bebas). b. Metode sintesis Proses grafitisasi terjadi dalam tiga tahapan, yaitu: 1) tahapan karbonasi atau kalsinasi yang terjadi pada temperature 10000C; 2) tahapan perubahan dari struktur turbostratik menjadi struktur grafit yang terjadi pada temperature 1800
0

C; 3)tahapan peningkatan kekuatan grafit yang terjadi dari temperature 22000C

hingga temperature lebih besar dari 25000C. c. Sifat Listrik Grafit merupakan alotrop karbon yang dapat menghantarkan arus listrik dan panas dengan baik. Karena sifat inilah grafit biasanya digunakan sebagai elektroda pada sel elektrolisis. Sifat daya hantar listrik yang dimiliki oleh grafit dipengaruhi oleh elektronelektron yang tidak digunakan untuk membentuk ikatan kovalen. Elektron-elektron ini tersebar merata pada setiap atom C karena terjadi tumpang tindih orbital seperti pada ikatan logam yang membentuk awan atau lautan elektron. Oleh sebab itu ketika diberi beda potensial, elektron-elektron yang terdelokaslisasi sebagian besar akan mengalir menuju anoda (kutub positif), aliran elektron inilah yang menyebabkan

arus listrik dapat mengalir. Sedangkan ketika salah satu ujung dipanaskan maka elektron-elektron ini akan segera berpindah menuju bagian yang memiliki suhu lebih rendah. Akibatnya panas tersebut akan menyebar ke bagian grafit yang memiliki suhu lebih rendah. d. Transparansi dan Tekstur Grafit merupakan zat hitam yang benar-benar terasa berminyak sebagai bubuk kering yang digunakan sebagai pelumas. e. Massa Jenis Dibandingkan dengan intan, grafit memiliki massa jenis yang lebih kecil, karena pada strukturnya terdapat ruang-ruang kosong antarlipatannya. f. Kelarutan dalam Pelarut Tidak larut dalam air dan pelarut organik, karena tidak mampu mensolvasi molekul grafit yang sangat besar. g. Titik Leleh Memiliki titik leleh yang tinggi seperti intan. Hal ini disebabkan ikatan kovalen yang terbentuk sangat kuat sehingga diperlukan energi yang tinggi untuk memutuskannya. Grafit memiliki sifat lunak, terasa licin, dan digunakan pada pensil setelah dicampur tanah liat. DIAMOND: a. Struktur Struktur intan setiap atom karbon berikatan secara kovalen dengan atom 4 karbon lain dalam bentuk tetrahedral dan panjang setiap ikatan karbon-karbon adalah 0,154 nm. Intan atau berlian atau diamond merupakan alotrop karbon yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan hingga saat ini intan dikenal sebagai mineral alami yang paling keras dimana belum ada mineral lain yang berhasil menggores atau memotong intan. b. Metode Sintesis Intan kini dapat produksi secara komersial dalam skala laboratorium maupun skala industri. Bahan dasar pembuatan intan yaitu grafit dengan katalis logam. Proses pembuatan intan dari grafit dilakukan pada suhu tinggi yakni sekitar 3500 C bahkan dapat lebih tinggi dan tekanan tinggi pula yakni sekitar 140.000 atm atau

lebih. Selain menggunakan cara tersebut, intan dapat dihasilkan dengan pirolisis hidrokarbon pada suhu relatif rendah ( 900 C) dan tekanan realtif lebih rendah pula yakni sekitar 102 Pa. c. Sifat Listrik Berupa isolator namun dapat menyerap panas dengan sangat baik. Daya hantar listrik intan berkaitan dengan elektron yang digunakan untuk membentuk ikatan, dimana pada intan elektron-elektron berikatan sangat kuat sehingga tidak ada elektron yang bebas bergerak ketika diberi beda potensial. Sifat penyerap panas yang baik dari intan diaplikasikan pada peralatan elektonik untuk menyerap panas yang dihasilkan ketika peralatan elektronik digunakan. Dengan melapisi intan pada konduktor dalam peralatan elektronik maka suhu peralatan tersebut dapat dijaga relatif konstan sehingga peralatan tersebut dapat berfungsi secara normal. d. Transparansi dan Tekstur Intan merupakan zat padat tidak berwarna yang bisa diasah menjadi kristal-kristal gemerlapan dan merupakan mineral yang paling keras dan paling baik untuk menggosok yang dikenal orang atau merupakan molekul besar yang melebar dalam tiga dimensi (ruang) sehingga atom-atom nya terikat sangat kuat satu sama lain. Hal ini mengakibatkan intan menjadi sangat keras. e. Massa Jenis Intan meiliki massa jenis yang lebih besar bila dibandingkan dengan grafit. f. Kelarutan dalam Pelarut Tidak larut dalam air dan pelarut organik. Dalam hal ini tidak memungkinkan terjadinya daya tarik-menarik antara molekul pelarut dan atom karbon yang dapat membongkar daya tarik antara atom-atom karbon yang berikatan secara kovalen. Akibat pelarut tidak mampu mensolvasi molekul intan. g. Titik Leleh Intan merupakan mineral alami yang paling keras, sehingga banyak digunakan sebagai alat untuk memotong, mengasah dan sebagai mata bor. Intan memiliki titik leleh yang sangat tinggi, yakni 4827oC. Hal ini disebabkan karena ikatan kovalen karbon-karbon yang terbentuk pada struktur intan sangat kuat bahkan lebih kuat dari ikatan ionik. http://wanibesak.wordpress.com/2011/02/28/alotrop-karbon-intan-grafit-danfullerene/ http://www.scribd.com/doc/78028666/kimia-karbon

3.

Perbedaan sifat boron nitrida dan grafit: a. Grafit adalah penghantar listrik dan panas yang cukup baik tetapi bersifat rapuh sedangkan boron nitrida sebagai insulator listrik walau dapat menghantar panas seperti logam. b. Boron nitrida memiliki sifat-sifat yang cemerlang karena ia sekeras berlian dengan kristal yang berbentuk padatan, sedangkan grafit tidak cukup padat sehingga harus dibuat secara sintetik. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/utilitaspabrik/bahan-non-metal-grafit/ http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/boron/

4.

Perbandingan struktur elektronik antara boron nitrida dengan grafit Grafit adalah penghantar listrik dan panas yang cukup baik tetapi bersifat rapuh. Pada temperatur yang lebih tinggi, grafit teroksidasi oleh asam nitrat berasap, kalor atau oksigen. Grafit hanya dapat dilarutkan dalam besi leleh. Ditinjau dari segi ketahanan terhadap korosi, grafit merupakan bahan yang bidang penggunaannya sangat luas. Bahan tersebut tahan terhadap semua asam dan sebagian besar basa hingga di atas 100C. Ketika boron dipanaskan dengan unsur nitrogen, hasilnya adalah senyawa putih padatan dengan bentuk empiris BN yang disebut dengan nama boron nitrida. Boron nitrida memiliki sifat-sifat yang cemerlang karena ia sekeras berlian, dapat digunakan sebagai insulator listrik walau dapat menghantar panas seperti logam. Senyawa ini juga memiliki sifat lubrikasi seperti grafit. Beberapa alasan yang menarik tentang boron nitrida adalah kemiripan strukturnya dengan grafit. Pada tekanan tinggi, boron nitride berubah menjadi lebih padat, lebih keras ( kekerasannya mendekati intan). Nitrida juga berperan sebagai penghambat elektrik tetapi mengalirkan haba (kalor) seperti logam. http://desiper07.blogspot.com/2012/11/kimia-anorganik-boron.html http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/utilitaspabrik/bahan-non-metal-grafit/

5.

Sintesis material grafit : Proses grafitisasi terjadi dalam tiga tahapan, yaitu: 1) tahapan karbonasi atau kalsinasi yang terjadi pada temperature 10000C. 2) tahapan perubahan dari struktur turbostratik menjadi struktur grafit yang terjadi pada temperature 1800 temperature lebih besar dari 25000C.
0

C.

3) tahapan peningkatan kekuatan grafit yang terjadi dari temperature 22000C hingga

Sintesis material diamond atau intan : dapat produksi secara komersial dalam skala laboratorium maupun skala industri. Bahan dasar pembuatan intan yaitu grafit dengan katalis logam. Proses pembuatan intan dari grafit dilakukan pada suhu tinggi yakni sekitar 3500 C bahkan dapat lebih tinggi dan tekanan tinggi pula yakni sekitar 140.000 atm atau lebih. Selain menggunakan cara tersebut, intan dapat dihasilkan dengan pirolisis hidrokarbon pada suhu relatif rendah ( 900 C) dan tekanan realtif lebih rendah pula yakni sekitar 102 Pa. Sintesis material fullerene : Untuk mensintesis fullerene diperlukan bahan baku berupa jelaga grafit murni. Dimana jelaga grafit tersebut dievaporasikan dengan elektroda grafit pada 100 tor helium dan kondisi suhu yang tinggi. Pada hasilnya, jelaga hitam akan terkikis dari permukaan evaporation chamber dan terdispersi pada

benzena. Cairan tersebut kemudiandipisahkan dari jelaga dan dikeringkan dengan panas, meninggalkan residu materialkristal berwarna coklat kehitaman hingga hitam. Kristal yang didapatkan kemudiandinalisis dengan spektroskopi massa, ditemukan spectra massanya dengan puncak kuat pada 720 amu. Selain itu diidentifikasi struktur kristalnya menggunakan XRD (Oliveras, 2010). http://wanibesak.wordpress.com/2011/02/28/alotrop-karbon-intan-grafit-danfullerene/ Oliveras, S.O., 2010, Theoritical Studies of The Exohedral Reactivity of Fullerene Compound, Tesis, Dalam unsur yang sama menghasilkan struktur yang berbeda karena dilihat dari proses dan suhu masing-masing unsur. Karena dalam masing-masing unsur mempunyai metode sintesis dan kisaran suhu yang dapat di capai dalam prosesnya. 6. Faktor-faktor unsur dapat membentuk polimer atau tidak adalah: Kekuatan ikatan kovalen dalam suatu unsur tersebut harus kuat antar unsur atau monomernya. Ikatan primer kovalen termasuk ikatan antar atom yang sangat kuat, jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan ikatan-ikatan sekunder, 10 hingga 100 kalinya. Umumnya polimer dikenal sebagai materi yang bersifat non konduktif. Penelitian polimer telah menemukan berbagai polimer yang bersifat konduktif maupun semi-konduktif. Polimer konduktif adalah polimer yang dapat menghantarkan arus listrik. Hantaran listrik terjadi karena ada elektron ikatan terdelokalisasi,

yang mempunyai struktur pita seperti silikon. Polimer konduktif kebanyakan semikonduktor, karena struktur pita mirip silicon. Tapi ada beberapa polimer yang mempunyai gap pita kosong sehingga bersifat seperti logam. Salah satu faktor yang menentukan sifat/karakter polimer adalah ukuran partikel. Contohnya pada Polimer emulsi mengandung partikel dengan diameter berkisar antara 10 sampai dengan 1.500 nm. Pada umumnya ukuran partikel polimer emulsi berkisar antara 100 sampai dengan 250 nm. Ukuran partikel sangat menentukan sifat polimer emulsi seperti sifat aliran dan kestabilan polimer. Sebagai contoh suatu bahan pelapis dengan ukuran partikel yang kecil akan memberikan hasil coating yang halus, kekuatan adhesi yang baik, ketahanan terhadap air yang cukup baik serta kestabilan lateks yang cukup lama. Disamping itu ukuran diameter partikel polimer yang kecil dapat menyebabkan bahan pelapis akan lebih glossy atau transparan karena partikel-partikel polimer dari pelapis akan lebih rapat, jadi tidak ada ruang untuk ditempati partikel lain. Group 1: berikatan dengan ikatan logam lemah (ns1), bukan merupakan bahan polimer Group 2: Makin ke bawah karakter ioniknya semakin bertambah, Khusus untuk Be karena ukurannya yang relatif kecil karakter kovalennya tertinggi di dalam satu group, Be dapat membentuk polimer (heteropolimer dengan group 17. Karakter kovalennya yang relatif besar disebabkan oleh polarizability-nya (kemampuan mempolarisasi) yang tinggi. Dibandingkan dengan Li, karakter kovalen Be lebih besar. Contoh polimer Be: (BeCl2)x, (BeMe2)x MgX2 bukan polimer karena kemampuan mempolarisasi Mg tidak sebesar Be (ukuran Mg lebih besar, energi ionisasi lebih kecil, karakter ioniknya lebih besar). Group 13: B dapat membentuk makromolekul maupun polimer. Sedangkan Al, GA, In dan Tl semuanya metalik, tidak dapat membentuk homopolimer. Heteropolimer (BCl3)x tidak dapat terjadi karena B tidak mampu melibatkan orbilat p untuk berikatan secara ; dilihat dari faktor ukuran terdapat halangan sterik karena perbedaan ukuran yang terlampau besar. Polimerik boron hidrida diperoleh dari jembatan B-H-B yaitu B4Cl4 dan B3Cl8 Demikian pula (AlCl3)x tidak dapat membentuk polimer, karena AlCl3 dominan ionik.

Group 14: Katenasi bentuk homolog XnH2n+2 untuk C=1-100, Si= 1-10, Ge=1-9, Sn=1-2 Pb=1. Homolog polimer C dikenal CnH2n+2, CnH2n, CnH2n-2, tidak terdapat CnH4n. Sedangkan untuk Si dikenal monomer SiH4, Si2H6, SiCl4, SiCl6, SiCl5. Homopolier C dikenal Grafit dan Diamond. Si memiliki kemampuan untuk mengikat unsur dalam jumlah lebih besar daripada EV-nya karena ukuran atom Si yang relatif besar dibandingkan C dan kemampuan Si untuk dapat melibatkan orbital d.

Group 15: N tidak dapat membentuk homopolimer; dikenal N2 sebagai gas diatomik. Polimerisasi antar N2 tidak dapat terjadi karena tolakan pasangan elektron sangat tinggi; ikatan tidak dapat terbentuk secara efektif. P dan N dapat membentuk heteropolimer polipospazen (selengkapnya dibahas pada bab tersendiri). As dan Sb adalah unsur metalloid. Sedangkan Bi berikatan sesamanya dengan ikatan logam (metallic bonding).

Group 16: O seperti halnya N berbentuk diatomic. S dapat membentuk heteropolimer paling panjang (10.000 atom). Semakin ke bawah dalam satu group karakter metalik semakin besar, karakter ioniknya juga semakin besar.

Group 17: Semua group 17 adalah anionik. Cl dapat membentuk heteropolimer dengan Be, dan Si. Br dapat membentuk heteropolimer dengan Al. http://id.wikipedia.org/wiki/Polimer_konduktif Emil Budianto, N. T. 2008. PENGARUH TEKNIK POLIMERISASI EMULSI TERHADAP UKURAN PARTIKEL KOPOLI(STIRENA/BUTIL AKRILAT/METIL METAKRILAT). MAKARA, SAINS, VOLUME 12, NO. 1, APRIL 2008: 15-22