Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM MEMBUAT MEDIA ISOLASI INOKULASI MIKROBA KULIAH MIKROBIOLOGI LAPORAN PRAKTIKUM MEMBUAT MEDIA ISOLASI INOKULASI

MIKROBA KULIAH MIKROBIOLOGILAPORAN PRAKTIKUM MEMBUAT MEDIA ISOLASI INOKULASI MIKROBA KULIAH MIKROBIOLOGILAPORAN PRAKTIKUM MEMBUAT MEDIA ISOLASI INOKULASI MIKROBA KULIAH MIKROBIOLOGILAPORAN PRAKTIKUM MEMBUAT MEDIA ISOLASI INOKULASI MIKROBA KULIAH MIKROBIOLOGILAPORAN PRAKTIKUM MEMBUAT MEDIA ISOLASI INOKULASI MIKROBA KULIAH MIKROBIOLOGILAPORAN PRAKTIKUM MEMBUAT MEDIA ISOLASI INOKULASI MIKROBA KULIAH MIKROBIOLOGI

1.PENDAHULUAN Media adalah suatu substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh yang disesuaikan dengan lingkungan hidupnya. Media kultur berasarkan konsistensinya dibedakan atas tiga macam, yaitu media cair, media semi padat, dan media padat. Total Plate Count (TPC) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam bahan pangan. Metode hitungan cawan (TPC) merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam analisa, karena koloni dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. Untuk menghitung total bakteri dengan metode cawan digunakan Nutrient Agar (NA). Tahap tahap utama dalam analisa TPC meliputi pembuatan media, pengenceran dan penanaman bakteri. Dalam pembuatan media ini, media biakan diperlukan untuk tumbuhnya bakteri yang ditanam. Sehingga media biakan yang baik harus dapat menyediakan nutrisi, tempat inkubasi, dan terpenuhinya kebutuhan oksigen yang diperlukan oleh mikroba. Pengenceran biasanya menggunakan larutan berupa larutan fosfat buffer, larutan garam fisiologis 0,9 % atau larutan ringer. Dengan pengenceran dapat mengurangi kepadatan bakteri yang ditanam. Secara umum, metode penanaman dapat dibedakan atas dua macam yaitu metode tuang (pour plate) dan metode sebar (spread plate). Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum ini adalah agar praktikan Mikrobiologi Dasar dapat mengetahui dan memahami cara pembuatan media, pengenceran, dan penanaman bakteri. Tujuan dari praktikum ini adalah agar praktikan terampil dalam melakukan

pembuatan media, pengenceran dan penanaman bakteri. 2. METODOLOGI 2.1 Alat Adapun alat alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : Kompor : Sumber panas autoklaf. Panci : Merebus media dan alat yang digunakan. Timbangan : Menimbang media.. Tabung reaksi : Pengenceran bertingkat. Autoklaf : Sterilisasi basah. Cawan petri : Tempat atau media penanaman. Erlenmeyer : Tempat larutan sementara saat sterilisasi. Rak tabung reaksi: Tempat tabung reaksi. Bunsen : Pengkondisian aseptis. Gelas ukur : Menakar larutan sejumlah 50, 100, 250 ml. Pipet volume : Mengambul larutan (1 10 ml). Pipet serologis: Mengambil larutan dengan skala 0,1 -1 ml. Incase : Inkubasi suhu kamar (240C 270C). Timbangan Digital : Meninmbang media dengan ketelitian 10-2. 2.2 Bahan Adapun bahan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : Daging 0,5 kg : Sebagai bahan media kaldu. Air destilata 1000 ml : Merendam daging 0,5 kg. Kain saring : Untuk menyaring media kaldu. Pepton 5 gr : Sebagai bahan media. Agar 5 gr : Sebagai bahan media. PDA : Sebagai bahan media PDA. NA : Sebagai bahan media NA. Aquades : Sebagai pelarut dalam pembuatan media. Sampel : Sebagai sumber yang diamati. 2.3 Cara Kerja Pembuatan media kaldu Daging 0,5 kg Dicuci Dibuang lemak Dipotong kecil kecil

Diberi aquades 1000 ml Disimpan semalam dalam kulkas Disaring Ditambah aquades sampai 1000 ml Ditambah pepton 5 gram Ditambah agar 7,5 gram Direbus dalam panci 20 menit Disterilisasi Didinginkan Diamati Hasil

Pembuatan media PDA PDA Ditimbang sebanyak 0,78 gram Dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml Ditambah aquades 20 ml Dihomogenkan Ditutup kapas Dibungkus koran Diikat dengan tali Direbus dalam panci Disterilisasi dalam autoklaf PDA steril Hasil Perhitungan PDA PDA = 39 X ml cawan yang yang dipakai 1000

= 39 X 20 ml = 0,78 gram PDA 1000

Pembuatan media NA NA Ditimbang sebanyak 3,36 gram Dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml Ditambah aquades 120 ml Dihomogenkan Ditutup kapas Dibungkus koran Diikat dengan tali Direbus dalam panci Disterilisasi dalam autoklaf NA steril Hasil Perhitungan NA NA = 28 X ml cawan yang yang dipakai X cawan yang dipakai 1000 = 28 X 20 X 6 = 3,36 gram NA 1000

Pembuatan NaFis 0,9 %

NaCl Ditimbang NaCl sebanyak 0,9 gram Diukur aquades sebanyak 100 ml Dihomogenkan Diambil dan dimasukkan ke dalam 10 tabung reaksi (@ 9 ml) Ditutup tabung reaksi dengan kapas Dibungkus koran Diikat dengan tali Disterilisasi Hasil Perhitungan NaFis 0,9 % Gram NaCl = 0,9 X ml yang yang dipakai X tabung reaksi 100 = 0,9 X 10 X 10 = 0,9 gram NaCl 100

Pengenceran Sampel Diambil tanah Dihaluskan Ditimbang sebanyak 1 gram Diambil dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi Dicatat sebagai 10-1 Dihomogenkan Tabung Reaksi I Diambil sebanyak 1 ml Dimasukkan ke dalam tabung reaksi II Dihomogenkan Dicatat sebagai 10-2 Tabung Reaksi II Diambil sebanyak 1 ml

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi III Dihomogenkan Dicatat sebagai 10-3 dan seterusnya sampai tabung reaksi V Tabung Reaksi III, IV, V Diambil sebanyak 1 ml dari masing masing tabung reaksi Dimasukkan ke dalam cawan petri Dilakukan secara duplo Didekatkan bunsen Hasil 3. TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Pengertian dan Fungsi Media Dasar makanan yang paling baik bagi pemiaraan baakteri ialah medium yang mengandung zat zat organik seperti rebusan daging, sayur sayuran, sisa sisa makanan atau ramuan ramuan yang dibuat oleh manusia. Medium yang banyak digunakan dalam pekerjaan rutin di laboratorium ialah kaldu cair dan kaldu agar. Medium ini tersusun daripada : kaldu bubuk 3 gram, pepton 5 gram, air suling 1000 gram (Dwidjoseputro, 2005). Media adalah suatu substrat untuk menumbuhkan bakteri yang menjadi padat dan tetap tembus pandang pada suhu inkubasi (Pelczar et al, 1986). Medium adalah suatu bahan nutrisi tempat menubuhkan bakteri di laboratorium (Tortora, 2007). 3.2 Jelaskan Macam Macam Media Menurut Dwidjoseputro (1964), media dibedakan menjadi : Media cair misalnya kaldu. Media kental (padat) menggunakan kentang yang dipotong. Media yang diperkaya. Media yang sintetik berupa ramu ramuan zat anorganik. Media kering berupa serbuk kering yang dilarutkan dalam air. Menurut Pelczar et al (1986), media dibedakan menjadi: Media yang diperkaya komponennya yaitu lumpur, ekstra serum dari tanaman atau hewan. Media selektif yaitu bagian kimiawi secara spesifik untuk NA agar dapat tumbuh bakteri tanpa adanya halangan dari apapun. Media yang berbeda yaitu menyatukan reagen atau zat kimia di media untuk menghasilkan pertumbuhan yang baik setelah diinkubasi dan diinokulasi dengan mengizinkan 2 pertumbuhan bakteri yang berbeda. Menurut Hadioetomo (2010), media dibedakan menjadi 2 menurut komposisi kimiawinya yaitu mediu sintetik dan medium nonsintetik atau kompleks. Medium

sintetik dibuat dari bahan kimia yang kemurnian tinggi dan ditentukan dengan tepat, sedangkan medium non-sintetik tidak diketahui dengan pasti. 3.3 Jelaskan NA, PDA beserta komposisinya Menurut Pelczar et al (1986), NA (Nutrient Agar) adalah padatan yang bermaksud membuat media menjadi padat. Komposisi NA : Ekstra Daging Sapi 3 gram. Pepton 5 gram Agar 15 gram Air 1000 ml. Menurut Fathir (2009), Komposisi PDA 20% Extra daging sapi 2% Glukosa NA (Nutrient Agar) digunakan untuk budidaya bakteri dan untuk pencegahan organisme dalam air, limbah, kotoran, dan lainnya. Komposisi : Beef extract, peptone, agar dan aquadest (Ruly, 2009). 3.4 Pengertian dan Tujuan Pengenceran Pengenceran adalah melarutkan atau melepasan mikroba dari substratnya ke dalam air sehingga lebih mudah penanganannya. Tujuan pengenceran yaitu untuk mengurangi kepadatan kepadatan bakteri yang ditanam (Fais, 2009). Pengeenceran merupakan proses yang dilakukan untuk menurunkan atau memperkecil konsentrasi larutan dengan menambah zat pelarut ke dalam larutan sehingga volume larutan menjadi berubah (Nurohaianah et al, 2007). 3.5 Macam Metode Penanaman beserta Kelebihan dan Kekurangannya Menurut Fais (2009), metode penanaman ada dua yaitu : Dari deskripsi yang singkat ini mengenai ciri ciri nutrisi bakteri haruslah dikenal dua langkah penting bagi intensitasnya. Di laboratorium (1) inokulasi penanaman penting bagi suatu medium dengan kandungan nutrisi yang sesuai (2) inkubasi medium yang sudah diinokulasi pada keadaan fisik (Waluyo, 2005).

4. PEMBAHASAN 4.1 Analisa Prosedur 4.1.1 Rumus Serta Perhitungan NA,PDA dan NaFis Adapun rumus serta perhitungan NA adalah dimana angka 28 merupakan komposisi NA, jumlah cawan yang digunakan adalah 6 cawan, 20 ml adalah banyaknya aquades yang ditambahkan dan 1000 adalah koefisien yang menyatakan volume 1 liter aquades, jadi perhitungannya adalah . Jadi, banyak NA yang digunakan sebanyak 3,36 gram. Kemudian rumus perhitungan PDA adalah . Angka 39 merupakan komposisi PDA, angka 1000 adalah koefisien yang menyatakan volume 1 liter aquades. Jumlah cawan yang dipakai hanya 1 cawan, 20 ml adalah banyaknya aquades yang ditambahkan. Perhitungannya adalah sebagai berikut gram. Maka banyak PDA yang dibutuhkan adalah 0,78 gram. Rumus perhitungan NaFis adalah gram . Angka 0,9 adalah konsentrasi yang dibutuhkan yaitu 0,9 . Jumlah tabung reaksi yang digunakan adalah 10 tabung reaksi, 10 ml adalah banyak aquadest yang ditambahkan, jadi perhitungannya adalah Gram . Maka NaCl yang dibutuhkan adalah 0,9 gram. 4.1.2 Prosedur Pembuatan Media dan NaFis Prosedur pembuatan media kaldu, Media NA, media PDA dan pembuatan NaFis diawali dengan disiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan antara lain kompor sebagai sumber panas, panic untuk merebus Erlenmeyer, timbangan, tabung reaksi, autoklaf, cawan petri, Erlenmeyer, rak tabung reaksi, Bunsen, gelas ukur, pipet volum, pipet serologis, dan incase. Bahan bahan yang digunakan antara lain media kaldu dari daging 0,5 kg, air destilata 1000 ml, kain saring. Pepton 5 gram, agar 5 gram, PDA, NA, aquades, sampel tali, kapas, Koran. Pada pembuatan media NA, bahan yang digunakan adalah 3,36 gram NA yang ditimbang dengan timbangan digital ketelitian , perhitungan 3,36 didapat dari rumus . NA dimasukkan dalam Erlenmeyer 250 ml dan ditambah aquadest sebesar 20 ml yang telah diukur dengan gelas ukur. NA dan aquadest dihomogenkan dengan cara digoyang, kemudian mulut Erlenmeyer ditutup bungkus korang agar Koran menyerap uap air, kemudian Koran diikat dengan tali agar rapat, lalu Erlenmeyer direbus 15 20 menit di dalam panci agar homogen setelah itu dimasukkan ke dalam autoklaf untuk sterilisasi basah. NA yang sudah steril disimpan dalam waterbath sampai digunakan kembali. Pada pembuatan media PDA, bahan yang digunakan adalah 0,78 gram PDA yang ditimbang dengan timbangan digital ketelitian , perhitungan 0,78 didapat dari rumus . NA dimasukkan dalam Erlenmeyer 250 ml dan ditambah aquadest sebesar

20 ml yang telah diukur dengan gelas ukur. PDA dan aquadest dihomogenkan dengan cara digoyang, kemudian mulut Erlenmeyer ditutup bungkus korang agar Koran menyerap uap air, kemudian Koran diikat dengan tali agar rapat, lalu Erlenmeyer direbus 15 20 menit di dalam panci agar homogen setelah itu dimasukkan ke dalam autoklaf untuk sterilisasi basah. PDA yang sudah steril disimpan dalam waterbath sampai digunakan kembali. Pada pembuatan media NaFis, bahan yang digunakan adalah 0,9 gram NaCl yang ditimbang dengan timbangan digital ketelitian , perhitungan 3,36 didapat dari rumus . NaCl dimasukkan dalam Erlenmeyer 250 ml dan ditambah aquadest sebesar 20 ml yang telah diukur dengan gelas ukur. NaCl dan aquadest dihomogenkan dengan cara digoyang, kemudian mulut Erlenmeyer ditutup bungkus korang agar Koran menyerap uap air, kemudian Koran diikat dengan tali agar rapat, lalu Erlenmeyer direbus 15 20 menit di dalam panci agar homogen setelah itu dimasukkan ke dalam autoklaf untuk sterilisasi basah. NaFis yang sudah steril disimpan dalam waterbath sampai digunakan kembali. Pada pembuatan media kaldu, disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Bahan yang digunakan berupa daging sebanyak 0,5 kg yang ditimbang dengan timbangan. Daging dicuci bersih dan dibuang lemaknya kemudian dipotong kecilkecil menggunakan pisau. Aquadest diukur sebanyak 1000 ml dengan gelas ukur lalu dimasukkan ke dalam beaker glass dan dimasukkan pula potongan daging. Mulut beaker ditutup plastic kemudian diikat agar tidak terkontaminasi. Daging disimpan dalam kulkas selama semalam kemudian dikeluarkan dari kulkas dan disaring menggunakan kertas saring, diambil airnya. Air saringan ditambah aquadest hingga 1000 ml. Kemudian mulut Erlenmeyer ditutup bungkus korang agar Koran menyerap uap air, kemudian Koran diikat dengan tali agar rapat, lalu Erlenmeyer direbus 15 20 menit di dalam panci agar homogen setelah itu dimasukkan ke dalam autoklaf untuk sterilisasi basah. Didapan hasil media kaldu steril. Pembuatan sampel digunakan bahan yaitu tanah tanah yang lokasinya sudah ditentukan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Tanah dihaluskan dengan mortar dan alu. Ditimbang 1 gram menggunakan timbangan digital ketelitian , kemudian dimasukkan dalam tabung reaksi, dicatat sebagai dengan kertas label. Sampel dihomogenkan dengan aquadest menggunakan spatula. Pada pengenceran, tanah yang menjadi sampel pada tabung diambil 1 ml dengan menggunakan pipet serologis dimasukkan pada tabung reaksi 2 dan dicatat sebagai menggunakan kertas label. Dari tabung reaksi 2 diambil 1 ml dan dimasukkan dalam tabung reaksi 3 dan dicatat sebagai . Dari tabung 3 diambil 1 ml dan dimsukkan lagi ke tabung reaksi 4 dicatat sebagai . Dari tabung 4 diambil 1 ml dimsukkan pada tabung ke 5. Kelima tabung secara berurutan diletakkan pada rak tabung reaksi, tujuannya yaitu mengurani tingkat kekeruhan sampel dan

mengurangi jumlah organisme yang akan diamati. Pada penanaman, diambil 1ml dari masing masing sampel dan dituang pada cawan petri . Perlakuan duplo bertujuan sebagai pembanding. Pada masing masing cawan petri ditambah media NA hingga sampel tertutup media. Cawan petri digoyang membentuk angka 8 agar homogen. Ke enam cawan ditunggu hingga beku dekat Bunsen untuk pengondisian aseptis. Setelah membeku, cawan dibalik agar tidak ada uap air yang jatuh saat sterilisasi. Cawan petri dibungkus Koran untuk menyerap air. Kemudian diikat dengan tali agar rapat setelah itu di inkubasi selama semalam di dalam incase. 4.2 Analisa Hasil Komposisi NA () : - Lab lemco powder 1,0 - Yeast extract 2,0 - Pepton 5,0 - Sodium chloride 5,0 - Agar 15,0 Komposisi PDA : - Potato extract 4,0 gr - Glucose 20,0 gr - Agar 15,0 gr Komposisi media kaldu : - Daging 0,5 kg - Aquadest 1000 ml - Pepton 5 gr - Agar 7,5 gr Literatur : Komposisi NA : - Ekstra beef 10 gr - Pepton 10 gr - NaCl 5 gr - Air destilat 1000 ml - Agar 15 (Fathir, 2009) Komposisi PDA : - 20 ekstra kentang - 2 glukosa (Fathir, 2009) Komposisi media kaldu : - Daging lembu 0,5 kg - Air 1 liter - Bacto pepton 5 gram - Agar powder 15 gram (Fathir, 2009)

Hasil Visualisasi NA, PDA dan media kaldu : NA dan PDA awalnya berupa serbuk, kaldu awalnya daging yang dipotong kecil kecil. Setelah dihomogenkan media NA membentuk larutan dan bewarna orange, sedangkan media PDA membentuk larutan dan bewarna bening. Pada daging, daging bewarna agak pucat setelah disimpan selama 24 jam di dalam lemari es. Selanjutnya saat proses sterilisasi, media NA berbentuk cairan bewarna orange agak bening. Media PDA berbentuk cairan bening. Jika didiamkan, media PDA mengental dan membeku. Daging setelah direbus dan disterilisasi, daging semakin bewarna pucat, terdapat endapan pada permukaan media kaldu. Tingkat kekeruhan tiap sampel : Pada tabung dengan sampel berupa 1 gram tanah, tingkat kekeruhannya paling keruh dibandingkan tabung lainnya. Pada , tingkat kekeruhan juga masih tinggi walaupun tidak sekeruh tabung . Kemudian pada tabung , dengan tingkat kekeruhan sedang, larutannya bewarna coklat namun agak bening. Pada tabung , tingkat kekeruhannya sedikit, larutan bewarna bening. Kemudian pada tabung , kekeruhannya paling rendah disbanding tabung tabung lainnya.

5. KESIMPULAN Media adalah suatu substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh yang disesuaikan dengan lingkungan hidupnya. Pengenceran biasanya menggunakan larutan fosfat buffer, larutan garam 0,9 atau larutan ringer. Secara umum, metode penanaman dapat dibedakan atas dua macam yaitu metode tuang dan metode sebar. Alat alat yang digunakan antara lain kompor, panci, timbangan, tabung reaksi, autoklaf, cawan petri, Erlenmeyer, rak tabung reaksi, Bunsen, gelas ukur, pipet volume, pipet serologis, incase, timbangan digital. Sedangkan bahan bahannya

adalah daging 0,5 gram, air destilata 1000 ml, kain saring, prpton 5 gr, agar 5 gr, PDA, NA, aquades, sampel, tali, kapas, Koran. Komposisi NA = lab lemco powder, yeast extract, pepton, sodium chloride, agar. Komposisi PDA = potato extract, glucose, agar. Komposisi media kaldu = daging, aquadest, pepton, agar. Hasil visualisasi pada NA dan PDA setelah sterilisasi menjadi lebih bening. NA berwarna orange bening dan PDA menjadi larutan yang bening. Media kaldu setelah sterilisasi berwarna lebih pucat dan terdapat endapan pada permukaan media. Pada pengamatan terhadap tingkat kekeruhan tiap sampel, semakin sedikit konsentrasi sampel pada tiap tabung, semakin muda warnanya dan ssemakin banyak kandungan at pelarutnya dibanding sampel.

DAFTAR PUSTAKA Dwidjoseputro. 1964. Dasar dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan Fais,2009. Metode penanaman. http://faizcute.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 22 November 2010, pukul 14.00 WIB Fathir, Fuad.2009. Media pertumbuhan mikroba. http://fuadfathir.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 22 November 2010, pukul 10.00 WIB Hadieoetomo, 2010. Media. http://belajarmikro.co.cc/ Diakses pada tanggal 22 November 2010, pukul 14.00 WIB Nurohaianah et al, 2007. Media . Jakarta : UI Press. Pelczar et al,1986. Dasar dasar Mikrobiologi . Jakarta : UI Press. Ratna,2010. Membuat media pertumbuhan mikroba. http://mikrobiologiku.co.cc/ Diakses pada tanggal 22 November 2010, pukul 10.00 WIB. Rully, 2009. http://media-na.com.html/ Diakses pada tanggal 22 November 2010, pukul 14.00 WIB Tortora, 2010. Semua tentang Mikrobiologi. http://tortora.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 22 November 2010 pukul 10.00 WIB Waluyo,2005. http://waluyoimut.co.cc/ Diakses pada tanggal 22 November 2010, pukul 14.00 WIB Mikroorganisme indikator adalah sekelompok mikroorganisme yang digunakan sebagai petunjuk kualitas air. [1]Mikroorganisme indikator telah digunakan untuk mendeteksi dan menghitung kontaminasi tinja di air, makanan, dan sampel lainnya. [1]

Daftar isi [sembunyikan]


1 Syarat 2 Jenis o 2.1 Indikator Bakteri 2.1.1 Koliform 2.1.2 Koliform tinja 2.1.3 Streptococcus Tinja - Enterococcus 2.1.4 Clostridium 2.1.5 Pseudomonas 2.1.6 Bacteroides spp. dan Bifidobacteria spp. o 2.2 Indikator Virus o 2.3 Indikator Protozoa 3 Kelemahan 4 Indikator Makanan 5 Referensi [sunting]Syarat Untuk digunakan sebagai mikroorganisme indikator, terdapat persyaratan yang harus dipenuhi oleh mikroorganisme tersebut, kendati demikian, persyaratan ini tidak mutlak untuk dipenuhi seluruhnya, tergantung kondisi yang ada. Syaratnya antara lain[1]:

Dapat digunakan untuk berbagai jenis air Mikroorganisme harus muncul bila patogen enterik dan sumber polusi muncul Tidak ada di air yang terpolusi Mudah diisolasi, murah, mudah diidentifikasi, dan mudah dihitung Lebih banyak jumlahnya dan lebih tahan dibanding patogen Bukan merupakan patogen Tidak berkembang biak di air Merespon perlakuan dan kondisi lingkungan Kepadatan indikator harus berkaitan langsung dengan derajat polusi Menjadi bagian dari mikroflora dalam saluran pencernaan hewan berdarah panas

[sunting]Jenis Mikroorganisme indikator dapat dibedakan menjadi indikator bakteri, indikator virus, dan indikator protozoa[1]. [sunting]Indikator Bakteri Terdapat lima bakteri yang umum digunakan sebagai indikator[1]: [sunting]Koliform Koliform tidak termasuk dalam taksonomi bakteri namun hanya istilah untuk menyebutkan kelompok mikroorganisme yang berada di air. Ciri-ciri bakteri koliform adalah gram negatif, berbentuk batang, merupakan anaerob fakultatif yang dapat memfermentasikan laktosa dengan pembentukkan asam dan gas pada suhu 35 C selama 24-48 jam. Memiliki enzim tambahan yaitu sitokrom oksidase danbeta-galaktosidase. Koliform dapat ditemukan di saluran pencemaran hewan, tanah, atau secara alami pada sampel lingkungan. Pada keadaan normal, koliform terdapat di air dalam jumlah standar dan dapat diukur, namun bila terjadi pencemaran air, jumlah koliform akan menjadi banyak dan dapat melebihi jumlah bakteri patogen lain.[2] Oleh karena itu, koliform dapat digunakan sebagai indikator pencemaran air.[2]. Jika terdapat bakteri koliform dalam air, belum tentu bakteri patogen juga ada di air tersebut, namun jikabakteri koliform terdapat dalam jumlah besar maka perlu diperiksa kembali keberadaan bakteri patogen lain.[2] [sunting]Koliform tinja Digunakan untuk mendeteksi pencemaran tinja. Merupakan bakteri termotoleran yang dapat beradaptasi dengan cara stabilisasi protein pada suhu di saluran pencernaan. Koliform tinja dapat melakukan fermentasi dengan menghasilkan asam dan gas pada suhu 44.5 C. Koliform tinja memiliki korelasi yang kuat dengan pencemaran tinja hewan berdarah panas. Untuk mendeteksi E.colipada koliform tinja secara lebih spesifik dapat digunakan enzim MUG yang aka[n berpendar dengan sinar UV[1]. [sunting]Streptococcus Tinja - Enterococcus Merupakan mikrobiota pada manusia dan hewan. Contoh Streptococcus pada manusia adalah S. faecalis dan S. faecium [sunting]Clostridium Merupakan mikrobiota pada hewan berdarah panas dan limbah. Sifatnya lebih stabil dibanding patogen dan memiliki spora sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi polusi yang terjadi di waktu lampau[1].

[sunting]Pseudomonas Digunakan sebagai indikator kolam renang selain Staphylococcus aureus. Memiliki sifat tahan terhadap desinfeksi kimiawi. Berpigmen pyocyanin dan dapat berpendar[1]. [sunting]Bacteroides spp. dan Bifidobacteria spp. Banyak ditemukan di feses 100 kali dibanding yang lain. Kedua bakteri ini sulit dideteksi karena bersifat sangat anaerob dan dapat musnah bila terkena oksigen, sehingga untuk mendeteksi perlu kondisi yang sangat anaerob pula. Beberapa jenis Bacteroides spesifik pada manusia[1]. [sunting]Indikator Virus Terdapat empat kandidat mikroorganisme yang digunakan sebagai indikator virus[1]. Kolifage, yaitu baktriofage yang menginfeksi E.coli dan bakteri koliform lainnya. Bakteri yang diinfeksi tidak memiliki fili sehingga virus menempel langsung pada dinding selnya. Sifatnya tidak spesifik pada feses dan deteksi bergantung pada inangnya. Contohnya adalah myoviridae, podoviridae, dan siphoviridae. Kolifage jantan, yaitu colifage yang menginfeksi E.coli jantan (yang memilliki strain F+) sehingga dapat menghasilkan fili dan penempelan terjadi melalui reseptor fili. Bersifat spesifik pada feses. Contohnya adalah leviviridae Fage Bacteroides fragilis, bersifat spesifik feses manusia. Namun konsentrasinya sangat rendah sehingga belum dapat ditunjukkan spesifitasnya Fage Salmonella, terdapat pada feses manusia dan hewan. Digunakan untuk mengindikasi banyaknya bakteri Salmonella, namun konsentrasinya juga terlalu rendah[1]. [sunting]Indikator Protozoa Sesungguhnya tidak ada indikator yang berlaku secara universal bagi parasit protozoa[1]. Indikator bergantung pada sumber air yang dugunakan pada suatu daerah tertentu. Contoh yang telah diidentifikasi adalah indikasi menggunakan spora Clostridium dan bakteri aerob termostabil[1].

[sunting]Kelemahan Tidak ada indikator yang ideal untuk semua lingkungan dan memenuhi semua persyaratan[1]. tidak ada suatu indikator yang dapat mencangkup semua jenis indikator[1]. Hal ini disebabkan karena tidak semua bakteri dapat dijadikan indikator bagi patogen. Virus dan protozoa memiliki perbedaan ukuran, respon terhadapat tekanan lingkungan, dan perlakuan[1]. Media dan kondisi yang berbeda-

beda juga membuat tidak ada indikator yang benar-benar cocok untuk kundisi tertentu[1]. Karena itu dibuat suatu kriteria untuk mentoleransi ketidaksempurnaan tersebut. Setiap negara, setiap daerah memiliki kriteria yang berbedabeda[1].Contohnya di Indonesia dilakukan pengelolaa kualitas air dan pengendalian pencemaran air. Air digolongkan berdasarkan kriteria mutu mejadi kelas I, kelas II, kelas III, dan kelas IV. Untuk air minum kadar koliform tinja maksimal 2000 dan kadar total koliform maksimal 10000[1]. [sunting]Indikator Makanan Mikroorganisme yang menjadi indikator makanan merupakan kelompok bakteri yang keberadaannya di makanan di atas batasan jumlah tertentu, yang dapat menjadi indikator suatu kondisi yang terekspos yang dapat mengintroduksi organisme berbahaya dan menyebabkan proliferasi spesies patogen ataupun toksigen. Misalnya E. coli tipe I, koliform dan fekal streptococci digunakan sebagai indikator penanganan pangan secara tidak higienis, termasuk keberadaan patogen tertentu. Mikroorganisme indikator ini sering digunakan sebagai indaktor kualitas mikrobiologi pada pangan dan air. [sunting]Referensi 1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s (Inggris) Madigan et.al. 2009. Brock Biology of Microorganism 12th ed. San Francisco: Pearson Education.Inc.Page. 10251033. 2. ^ a b c (Inggris)Johnson BT. 1997. Microorganisms, Bacteria and Viruses.Diakses pada 13 Mei 2010 .

IDENTIFIKASI BAKTERI RESISTEN MERKURI PADA FESES ANAK DI DESA TALAWAAN KECAMATAN TALAWAAN KABUPATEN MINAHASA UTARA PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH SARJANA OLEH KRISTONI JENSEN MALA 060112048 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SAM RATULANGI 2010

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ekonomi di Indonesia menitik beratkan pada pembangunan sektor industri. Di satu sisi, pembangunan akan meningkatkan kualitas hidup manusia dengan meningkatnya pendapatan masyarakat. Di sisi lain, pembangunan juga bisa menurunkan kesehatan masyarakat dikarenakan pencemaran yang berasal dari limbah industri dan rumah tangga. (Widokawati,dkk. 2008) Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan bahan tambang emas yang banyak terdapat pada batuan di gunung ataupun pasir di sungai. Kegiatan eksplorasi penambangan emas semakin banyak dilakukan baik secara perorangan maupun berkelompok. Keberadaan bijih emas tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya sebagai sumber penghasilan sehingga berkembanglah kegiatan pertambangan emas rakyat yang dikenal dengan istilah Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dan paling banyak PETI ini mengunakan merkuri (Hg) sebagai media pengikat emas. (KLH, 2008) Pencemaran logam berat merkuri (Hg) pada tanah dan air sangat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Senyawa merkuri dalam bentuk Hg(II) dapat terikat pada residu sistein protein/enzim manusia/binatang sehingga protein/enzim kehilangan aktivitasnya. Selain Hg(II), senyawa merkuri paling berbahaya bagi kesehatan manusia adalah senyawa organomerkuri, khususnya metilmerkuri dan fenilmerkuri. Senyawa ini bersifat sangat reaktif dan mempunyai mobilitas tinggi dibanding dengan Hg(O) atau Hg(II). Hal ini disebabkan gastrointestine manusia dapat menyerap sekitar 95% senyawa metilmerkuri, dan senyawa ini juga dapat menyerang syaraf manusia melalui peredaran darah. (Rugh et al, 2000 Dikutip Nofiani dan Guzrisal, 2004) Merkuri dapat diekskresikan dari tubuh melalui usus, ginjal, kelenjar mamae, kelenjar saliva. Sebagian besar diekskresikan melalui feses dan urin. Ekskresi merkuri organik sebagian besar terjadi dengan ekskresi feses daripada ekskresi urin. (Widokawati,dkk. 2008), Desa Talawaan merupakan desa yang berbatasan langsung dengan aktifitas pertambangan emas Desa Tatelu yang dalam proses pengolahannya, para penambang menggunakan merkuri sebagai bahan pengikat emas (amalgam), dan proses pertambangan telah berlangsung sejak 1996. Pada penelitian oleh Alenaung

(2006) mendapatkan bahwa konsentrasi Hg pada 16 sumur gali sebagai sumber air minum masyarakat Desa Talawaan 13 diantaranya berada di atas Nilai Ambang Batas (NAB). (Alenaung, 2006) Dengan demikian, asumsi kami yaitu jika masyarakat tersebut mengkonsumsi air minum yang mengandung merkuri di atas NAB selama bertahun tahun, namun beberapa mikroorganisme di dalam usus juga secara perlahan akan beradaptasi untuk bertahan hidup pada lingkungan yang mengandung merkuri pada usus manusia. Hal ini diperkuat lagi dengan hasil penelitian oleh Liebert,dkk (1997) bahwa terdapat gen resisten merkuri pada bakteri feses manusia dan primata lainnya. Untuk itu kami tertarik untuk meneliti bakteri resisten merkuri pada feses anak anak di Desa Talawaan Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian yaitu sebagai berikut : 1. Apakah terdapat bakteri resisten merkuri pada feses anak anak di Desa Talawaan. 2. Bagaimana keragaman populasi bakteri resisten Hg pada feses anak anak di Desa Talawaan ? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui adanya bakteri yang dapat hidup pada kondisi lingkungan yang telah tercemar merkuri pada feses anak anak di Desa Talawaan 2. Untuk mengidentifikasi adanya bakteri resisten merkuri di feses anak anak di Desa Talawaan 1.4 Manfaat Penelitian 1. Dapat diketahui komunitas bakteri resisten merkuri pada feses 2. Bakteri yang telah teridentifikasi, nantinya dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk detoksifikasi merkuri sehingga nantinya dapat mengurangi efek berbahaya pada penggunaan merkuri dalam pertambangan. 3. Hasil penelitian ini dapat menambah bahan pustka dan sebagai masukan bagi peneliti selanjutnya. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Logam Berat Merkuri 2.1.1 Pengertian dan Toksisitas Merkuri

Merkuri (Hg) adalah logam berat berbentuk cair, berwarna putih perak, serta mudah menguap pada suhu ruangan. Hg akan memadat pada tekanan 7.640 Atm. Merkuri (Hg) dapat larut dalam asam sulfat atau asam nitrit, tetapi tahan terhadap basa. Hg memiliki nomor atom 80, berat atom 200,59 g/mol, titik lebur -38,90 C. dan titik didih 356,60 C. Hg mudah membentuk alloy amalgama dengan logam lainnya, seperti emas (Au), perak (Ag), platinum (Pt), dan tin (Sn). (Widowati, 2008) Palar (1994), menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya racun dari merkuri yang terlarut dalam badan perairan. 1. Bentuk merkuri dalam perairan, apakah merkuri tersebut dalam bentuk organik/anorganik. Senyawa organik yang dapat larut dalam badan perairan akan dapat mudah diserap oleh biota perairan. 1. Keberadaan logam-logam lain, adanya logam-logam lain dalam badan perairan dapat menyebabkan merkuri menjadi sinergis atau sebaliknya menjadi antagonis bila telah membentuk suatu ikatan. 2. Fisiologis dari biota (organisme), proses fisiologis yang terjadi pada setiap biota mempengaruhi tingkat merkuri yang menumpuk (akumulasi) dalam tubuh biota perairan. Besar kecilnya merkuri yang terkandung dalam tubuh akan mempengaruhi daya racun yang ditimbulkan oleh logam berat. Pada biota tertentu mempunyai kemampuan untuk menetralisasi (mentoleransi) merkuri tertentu sampai pada konsentrasi tertentu pula. 2.1.2 Sifat dan Bentuk Bentuk Merkuri Toksisitas merkuri berbeda sesuai bentuk kimianya, misalnya merkuri inorganik bersifat toksik pada ginjal, sedangkan merkuri organik seperti metil merkuri bersifat toksis pada sistim syaraf pusat. Dikenal 3 bentuk merkuri (Palar,1994) yaitu: 1. Merkuri elemental (Hg): terdapat dalam gelas termometer, tensimeter air raksa, amalgam gigi, alat elektrik, batu batere dan cat. Juga digunakan sebagai katalisator dalam produksi soda kaustik dan desinfektan serta untuk produksi klorin dari sodium klorida. 2. Merkuri inorganik: dalam bentuk Hg++ (Mercuric) dan Hg+ (Mercurous) Misalnya:

Merkuri klorida (HgCl2) termasuk bentuk Hg inorganik yang sangat toksik, kaustik dan digunakan sebagai desinfektan Mercurous chloride (HgCl) yang digunakan untuk teething powder dan laksansia (calomel) Mercurous fulminate yang bersifat mudah terbakar.

1. Merkuri organik: terdapat dalam beberapa bentuk : Metil merkuri dan etil merkuri yang keduanya termasuk bentuk alkil rantai pendek dijumpai sebagai kontaminan logam di lingkungan. Misalnya memakan ikan yang tercemar zat tsb. dapat menyebabkan gangguan neurologis dan kongenital. Merkuri dalam bentuk alkil dan aryl rantai panjang dijumpai sebagai antiseptik dan fungisida. Merkuri biasanya terdapat dalam bentuk merkuri bebas (Hg+) dalam bentuk anorganik yang sering digunakan sebagai fungisida dan herbisida. Bentuk merkuri organik yaitu phenil merkuri, sementara methil merkuri dihasilkan oleh manusia dan dalam sedimen, HG diabsorbsi oleh mikroorganisme dan akhirnya pada ikan. merkuri dipindahkan oleh ekosistem air, melalui air yang mengalir pada permukaan tanah dan melalui atmosfer. Proses metilasi dari merkuri pada sedimen oleh mikroorganisme terjadi pada pH rendah dan tergantung dari potensial redoks, komposisi populasi mikroorganisme, adanya HG2+dan suhu. Vitamin B12 diduga sebagai agen metilasi merkuri. (Mukono,2005) 2.1.3 Konsentrasi Merkuri di Lingkungan Merkuri dan senyawa senyawanya, seperti halnya dengan logam logam yang lain, tersebar luas di alam. Mulai dari banruan, air, udara dan bahkan dalam tubuh organisme hidup. Penyebaran dari logam merkuri ini, turut dipengaruhi oleh faktor geologi, fisika, kimia dan biologi. Berdasarkan pada penelitian penelitian yang telah dilakukan oleh badan Survey Geologi di Amerika Serikat pada tahun 1974, dapat diketahui konsentrasi merkuri di lingkungan sebagai berikut :

Dalam batuan

pada struktur batuan di alam, logam merkuri ditemukan dalam kisaran 0,1 sampai 20 ppm. Pada penelitian tersebut ternyata 20% dari contoh mengandung lebih dari 1 ppm merkuri Dalam tanah

pada lapisan tanah melalui penelitian yang telah dilakukan secara acak pada tempat dan daerah serta wilayah yang berbeda, ditemukan bahwa logam merkuri terkonsentrasi 0,1 ppm. Jumlah tersebut bervariasi pada batasan yang lebih kecil. Dalam sungai

dari penelitian yang dilakukan terhadap perairan ditemukan konsentrasi logam merkuri dalam variasi yang sangat luas, yaitu : 65% contoh mengandung 15% contoh mengandung Dalam udara < 10-4 ppm < 10-3 ppm

Ternyata kondisi dari lokasi pengambilan sampel udara untuk pengujian kandungan merkuri ditemukan konsentrasi yang variatif. (Palar, 2008) 2.1.4 Nilai Ambang Batas Merkuri Karena sifatnya yang sangat beracun, maka U.S. Food and Administration (FDA) menentukan pembakuan atau Nilai Ambang Batas (NAB) kadar merkuri yang ada dalam jaringan tubuh badan air, yaitu sebesar 0,005 ppm di dalam. Nilai Ambang Batas yaitu suatu keadaan dimana suatu larutan kimia, dalam hal ini merkuri dianggap belum membahayakan bagi kesehatan manusia. Bila dalam air atau makanan, kadar merkuri sudah melampaui NAB, maka air maupun makanan yang diperoleh dari tempat tertentu harus dinyatakan berbahaya. Menyatakan NAB

air yang mengandung merkuri total 0,002 ppm baik digunakan untuk perikanan. ( Budiono, 2003) 2.1.5 Efek Merkuri Terhadap Manusia dan Lingkungan Sebagian besar merkuri yang terdapat di alam ini dihasilkan oleh sisa industri dalam jumlah 10.000 ton setiap tahunnya. Penggunaan merkuri sangat luas di mana 3.000 jenis kegunaan dalam industri pengolahan bahan-bahan kimia, proses pembuatan obat-obatan yang digunakan oleh manusia serta sebagai bahan dasar pembuatan insektisida untuk pertanian (Christian et al., 1970 Dikutip Zul Alfian, 2006 ). Semua komponen merkuri baik dalam bentuk metil dan bentuk alkil yang masuk ke dalam tubuh manusia secara terus menerus akan menyebabkan kerusakan permanen pada otak, hati, dan ginjal (Roger et al., 1984 Dikutip Zul Alfian, 2006). Efek toksisitas merkuri pada manusia bergantung pada bentuk komposisi merkuri, jalan masuknya ke dalam tubuh, dan lamanya berkembang. Contohnya adalah bentuk merkuri (HgCl2) lebih toksik daripada bentuk merkuro (HgCl). Hal ini disebabkan karena bentuk divalen lebih mudah larut daripada bentuk monovalen. Di samping itu, bentuk HgCl2 juga cepat dan mudah diabsorpsi sehingga daya toksisitasnya lebih tinggi (Zul Alfian, 2006). 2.1.6 Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Merkuri Untuk mengurangi pencemaran limbah Hg di daerah pertambangan emas, dilakukan berbagai cara sebagai berikut : 1. Memilih teknik penggalian yang ramah lingkungan, yaitu menerapkan sistem pertambangan tertutup sehingga memperkecil keluarnya Hg dari dalam tanah 2. Menggunakan teknologi pemrosesan batuan tambang yang tidak menggunakan hg, tetapi diganti dengan sianida atau bioteknologi, yaitu proses pencucuian oleh mikroba. Untuk meminimalisasi tingginya tingkat pencemaran Hg dalam usaha PETI dengan membuat bak pengendap yang mampu menampung materil yang tercecer pada saat dan sedang melakukan penggaran di dalam ruang tertutup atau kedap udara sehingga uap merkuri yang terbentuk bisa dialirkan masuk kedalam bak pengendap yang tertutup rapat. (Widokawati,dkk. 2008)

Jenis mikroorganisme sebagai bioremoval yang mampu mengabsorbsi polutan logam berat Hg adalah Pseudomonas syringae. Untuk mengatasi pencemaran Hg, bisa digunakan bakteri yang dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang mengandung Hg dalam jumlah tinggi, yaitu bakteri Pseudomonas, Fluorescens, Staphylococcus aereus dan Bacillus sp. (Markuling, 2007) 2.2 Bakteri 2.2.1 Pengertian Bakteri Bakteri merupakan mikroba uniseluler. Pada umumnnya bakteri tidak mempunyai khlorofil. Ada beberapa yang fotosintetik dan reproduksi aseksualnya secara pembelahan. Bakteri tersebar luas di alam, di dalam tanah, di atmosfir, di dalam endapan endapan lumpur, di dalam lumpur laut, dalam air, pada sumber air panas, di daerah antartika, dalam tubuh hewan, manusia, dan tanaman. Jumlah bakteri tergantung keadaan sekitar. Misalnya, jumlah bakteri di dalam tanah tergantung jenis dan tingkat kesuburan tanah. (Nurhidayat, dkk, 2006) 2.2.2 Karakterisitik bakteri Bakteri umumnya berukuran kecil dengan karakteristik dimensi sekitar 1m. Bentuknya dapat bulat atau cocci, batang atau bacilli. Sel dapat tunggal ataupun rantaian. Beberapa kelompok memiliki falgella dan dapat bergerak aktif. Bakteri memiliki berat jenis 1,05 1,1 g cm-3 dan berat sekitar 10-12 g sebagai partikel kering. Ukuran aktual tergantung dari laju pertumbuhan, media tumbuh dan sebagainya. Ada tiga bentuk dasar bakteri, yaitu bulat atau kokus, bentuk batang atau silindris, bentuk lengkung atau vibri. 1. Bentuk bulat Bentuk bulat atau kokus dapat dibedakan lagi menjadi : mikrokokus, bulat satu satu Diplokokus, bulat bergandengan dua dua Streptokokus, bulat bergandengan seperti rantai

Tetrakokus, bulat terdiri dari 4 sel yang tersusun dalam bentuk bujur sangkar sebagai hasil pembelahan sel ke dua arah Sarsina, bulat terdiri dari 8 sel yang tersusun dalam bentuk kubus sebagai hasil pembelahan sel ke tiga arah. Stafilokokus, bulat tersusun sebagai kelompok buah anggur sebagai hasil pembelahan sel ke segala arah 1. Bentuk batang Bakteri berbentuk batang dapat dibedakan lagi kedalam bentuk batang panjang dan batang pendek dengan ujung datar atau lengkung. Bentuk batang dapat dibedakan lagi atas bentuk batang yang mempunyai garis tengah sama dan tidak sama di seluruh bagian panjangnya. Bakteri bentuk batang dapat terdiri atas sel tunggal, bergandengan dua- dua (Diplobasilus), dan sebagai rantai (Streptobasilus) 1. Bentuk Lengkung Banteri bentuk lengkung pada pokoknya dapat dibagi menjadi bentuk koma (Vibrio), jika lengkungnya kurang dari setengah lingkaran. Jika spiralnya halus dan lentur disebut spirochaeta dan jika spiralnya teball dan kaku disebut spirillium. (Nurhidayat, dkk, 2006) 2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan dan Reproduksi Bakteri Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan dan reproduksi Bakteri yaitu ; 1. Suhu Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi menjadi 3 golongan: Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0 30C, dengan suhu optimum 15C. Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15 55C, dengan suhu optimum 25 40C.

Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40 75C, dengan suhu optimum 50 65C 1. Kelembapan Pada umumnya bakteri memerlukan kelembapan yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti, misalnya pada proses pembekuan dan pengeringan. 1. Cahaya Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel mikroorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian. Pengaruh cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan bahan makanan. (Nurhidayat, dkk, 2006) Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan atau zat-zat kimia tertentu, beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dariClostridium yang anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang disebut endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit sekali mengandung air. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Apabila keadaan lingkungan membaik kembali, endospora dapat tumbuh menjadi satu sel bakteri biasa. Letak endospora di tengahtengah sel bakteri atau pada salah satu ujungnya. (Nurhidayat, dkk, 2006) 2.2.4 Peranan Bakteri Bakteri Menguntungkan 1. Bakteri pengurai Bakteri saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati, serta sisa-sisa atau kotoran organisme. Bakteri tersebut menguraikan protein, karbohidrat dan senyawa organik lain menjadi CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Oleh karena itu keberadaan bakteri ini sangat berperan dalam mineralisasi di alam dan dengan cara ini bakteri membersihkan dunia dari sampahsampah organik. 1. Bakteri nitrifikasi Bakteri nitrifikasi adalah bakteri-bakteri tertentu yang mampu menyusun senyawa nitrat dari amoniak yang berlangsung secara aerob di dalam tanah. Nitrifikasi terdiri atas dua tahap yaitu:

Oksidasi amoniak menjadi nitrit oleh bakteri nitrit. Proses ini dinamakan nitritasi. Oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrat. Prosesnya dinamakan nitratasi. 1. Bakteri nitrogen Bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Karena kemampuannya mengikat nitrogen di udara, bakteri-bakteri tersebut berpengaruh terhadap nilai ekonomi tanah pertanian. Kelompok bakteri ini ada yang hidup bebas maupun simbiosis. Bakteri nitrogen yang hidup bebas yaitu Azotobacter chroococcum, Clostridium pasteurianum, dan Rhodospirillum rubrum. 1. Bakteri usus Bakteri Eschereria coli hidup di kolon (usus besar) manusia, berfungsi membantu membusukkan sisa pencernaan juga menghasilkan vitamin B12, dan vitamin K yang penting dalam proses pembekuan darah. Dalam organ pencernaan berbagai hewan ternak dan kuda, bakteri anaerobik membantu mencernakan selusosa rumput menjadi zat yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh dinding usus. (Wikipedia, 2010) Bakteri Penghasil Antibiotik Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya hambat terhadap kegiatan mikroorganisme lain. Beberapa bakteri yang menghasilkan antibiotik adalah:

Bacillus brevis, menghasilkan terotrisin Bacillus subtilis, menghasilkan basitrasin Bacillus polymyxa, menghasilkan polimixin

Bakteri Merugikan Bakteri Penyebab Penyakit pada manusia

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Nama bakteri Salmonella typhosa Shigella dysenteriae Vibrio comma Haemophilus influenza Diplococcus pneumoniae Mycobacterium tuberculosis Clostridium tetani Neiseria meningitis Neiseria gonorrhoeae Treponema pallidum Mycobacterium leprae Treponema pertenue

Penyakit yang ditimbulkan Demam Tifoid Disentri basiler Kolera Influensa Pneumonia (radang paru-paru) TBC paru-paru Tetanus Meningitis (radang selaput otak) Gonorrhaeae (kencing nanah) Sifilis atau Lues atau raja singa Lepra (kusta) Puru atau patek

sumber : (http://id.wikipedia.org/wiki/Bakteri) 2.3 Bakteri di Feses Diperkirakan ada 100 triliun sel-sel bakteri ditubuh dan jumlah ini lebih banyak 10 kali lipat dari jumlah sel-sel manusia. Bakteri beredar di seluruh tubuh mulai dari perut, alat kelamin, kulit dan telinga. Bakteri baik dapat meningkatkan kesehatan atau sebaliknya jika mendapat masalah dari luar tubuh justru bakteri baik akan hilang dan berubah menjadi sakit. (Alexa, 2010) Colibacteria mikroorganisme relatif tidak berbahaya, yang hadir dalam usus manusia dan hewan dalam jumlah besar. Mereka memainkan peran penting dalam pencernaan makanan. Feses colibacteria (Enterobacteriaceae) adalah subkelompok colibacteria. Escherichia coli (E. coli) adalah yang paling dikenal comminly spesies colibacterium feses.

Colibacteria feses yang berbeda dari spesies lain colibacteria, karena mereka tumbuh di bawah kondisi peningkatan suhu, dan karena mereka hanya hadir dalam kotoran manusia dan hewan. Ketika feses colibacteria hadir dalam lingkungan perairan, ini menunjukkan bahwa air yang tercemar oleh kotoran manusia atau hewan. Hal ini umumnya mengarah pada kesimpulan bahwa bakteri atau virus patogen yang hadir, yang berasal dari kotoran. Menentukan jumlah colibacteria dalam air dilakukan dengan filtrasi membran. Bakteri tidak dapat melewati membran penyaring, dan dapat dipisahkan dan dianalisis di laboratorium. Masingmasing mengembangkan sel terpisah untuk membentuk sebuah koloni unit (CFU). (Alexa, 2010) Seperti colibacteria, streptokokus hadir dalam usus manusia dan hewan, tetapi juga di perut banyak spesies strepotcoccus bersifat patogen Mereka menyebabkan penyakit seperti pneumonia bakteri, infeksi telinga dan bakteri meningitis. Feses strepotococci (enterococcus) adalah subkelompok dari genus streptokokus feses streptokokus dapat ditemukan di dalam perut dan usus manusia dan hewan, Seperti feses coliforms, feses streptokokus diterapkan sebagai indikator polusi air. (Nurhidayat. 2006) 2.4 Bakteri Resisten merkuri Salah satu usaha untuk detoksifikasi merkuri dapat dilakukan menggunakan mikroorgansime resisten merkuri, misalnya bakteri resisten merkuri. Detoksifikasi merkuri oleh bakteri resisten merkuri terjadi karena bakteri resisten merkuri memiliki gen resisten merkuri, mer operon. Struktur mer operon berbeda untuk tiap jenis bakteri. Umumnya struktur mer operon terdiri dari gen metaloregulator (merR), gen transpor merkuri (merT, merP, merC), gen merkuri reduktase (merA) dan organomerkuri liase (merB). Menurut Liebert et al, (1999), model mekanisme resisten merkuri bakteri gram negatip adalah sebagai berikut Hg(II) yang masuk periplasma terikat ke pasangan residu sistein MerP. Selanjutnya MerP mentransfer Hg(II) ke residu sistein MerT atau MerC. (Nofiani dan Guzrisal, 2004) Akhirnya ion Hg menyeberang membran sitoplasma melalui proses reaksi pertukaran ligan menuju sisi aktif flavin disulfida oksidoreduktase, merkuri reduktase (MerA). Merkuri reduktase mengkatalisis reduksi Hg(II) menjadi Hg(0) volatil dan sedikit reaktif. Akhirnya Hg(0) berdifusi dilingkungan sel untuk selanjutnya dikeluarkan dari sel. Bakteri yang hanya memiliki protein merkuri

reduktase (MerA) disebut dengan bakteri resisten merkuri spektrum sempit. Beberapa bakteri selain memiliki protein merkuri reduktase (MerA) juga memiliki protein organomerkuri liase (MerB). (Nofiani dan Guzrisal, 2004) MerB berfungsi dalam mengkatalisis pemutusan ikatan merkuri-karbon sehingga dihasilkan senyawa organik dan ion Hg yang berupa garam tiol. Bakteri yang memiliki kedua protein merkuri reduktase (MerA) dan organomerkuri liase (MerB) disebut dengan bakteri resisten merkuri spektrum luas. Mikroorganisme yang terdapat pada daerah tercemar merkuri berperan utama untuk detoksifikasi merkuri. Oleh karena itu, mikroorganisme yang terdapat pada daerah tercemar merkuri merupakan sumber untuk isolasi bakteri resisten merkuri. (Nofiani dan Guzrisal, 2004)

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dalam bentuk pemeriksaan laboratorium. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian Penelitian akan dilakukan pada masyarakat di desa talawaan Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara. Tempat analisa kadar Hg di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Pemberantasan Penyakit Menular (PPM) Manado. Tempat analisa/ identifikasi bakteri Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu bulan maret sampai bulan april 2010. 3.3 Populasi dan Sampel 3.1.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah bakteri yang ada dalam feces anak anak di Desa Talawaan Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara. 3.1.2 Sampel Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah feses anak anak di Desa Talawaan Kec. Talawaan Kab. Minahasa Utara. Dipilih secara purposif yakni 5 feses anak di Desa Talawaan Kec. Talawaan Kab. Minahasa Utara. 3.4 Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah konsentrasi merkuri, dan jenis jenis bakteri resisten merkuri dalam feses.

3.5 Definisi Operasional 1. Merkuri adalah unsur logam berat yang banyak di gunakan Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Tatelu dalam proses pengolahan emas. 2. Konsentrasi Merkuri adalah banyaknya kandungan merkuri yang berada pada sumber air minum di Desa Talawaan Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara. 3. Bakteri adalah mikroorganisme dari bentukan koloni yang tumbuh pada media kultur yang memiliki struktur morfologi khas. 4. Bakteri Resisten Merkuri adalah mikroorganisme dari bentukan koloni yang dapat hidup pada konsentrasi merkuri melebihi 0,01 ppm 5. Feses merupakan hasil akhir dari proses yang berlangsung dalam tubuh manusia yang menyebabkan pemisahan dan pembuangan zat zat yang tidak dibutuhkan tubuh. 3.6 Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : AAS (Atonmic Absorption Spectrophometry), yaitu suatu alat pendeteksi dan pengukur kadar digital logam berat (milik BTKL-PM Manado) Media dan reagen untuk pemeriksaan bakteri (milik Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado). 3.7 Prosedur Kerja 1. Pemeriksaan Kadar Merkuri 2. Identifikasi Jenis Bakteri Resisten Merkuri 3.8 Pengumpulan Data 1. Data Primer Data diperoleh dari penelitian langsung dengan cara mengidentifikasi bakteri dan bakteri resisten merkuri. Data ini merupakan data hasil pemeriksaan laboratorium. 2. Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari penelitian dan jurnal dari internet, wawancara dengan perangkat Desa Talawaan dan profil Desa Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara

Feses biasanya hanya dianggap sebagai sesuatu yang kotor dan harus segera dibuang. Tetapi, sisa dari isi perut ini (bowel movements) dapat memberikan informasi penting pada dokter mengenai apa yang terjadi ketika anak mengalami masalah di perut, usus, atau di bagian lain dari sistem pencernaan. Dokter mungkin akan meminta contoh feses untuk dites atas beberapa kemungkinan penyebab termasuk: Alergi atau peradangan di tubuh, untuk evaluasi terhadap alergi protein susu pada bayi. Infeksi, yang disebabkan oleh beberapa jenis bakteri, virus, atau parasit yang menyerang sistem pencernaan. Masalah pencernaan seperti malabsorpsi tertentu seperti gula, lemak, atau bahan gizi lainnya. Perdarahan di dalam saluran gastrointestinal. Alasan paling umum pengujian feses adalah untuk menentukan apakah ada satu jenis bakteri atau parasit yang menginfeksi usus. Banyak organisme sangat kecil yang hidup di dalam usus. Hal ini normal saja karena organisme ini memang diperlukan untuk pencernaan. Tetapi, kadang usus dapat terinfeksi oleh bakteri atau parasit jahat yang menjadi penyebab beberapa macam kondisi seperti diare berdarah. Jika begitu, mungkin akan diperlukan pemeriksaan terhadap feses di bawah mikroskop, membiakkannya (kultur), dan melakukan tes-tes lain untuk mencari penyebab dari masalah yang terjadi. Terkadang feses juga dianalisa untuk mengetahui zat-zat yang terkandung di dalamnya. Contoh dari analisa feses juga untuk memeriksa kandungan lemak dalam feses. Normalnya lemak akan habis diserap dari usus sehingga feses sama sekali tidak mengandung lemak. Namun di beberapa gangguan pencernaan, lemak tidak sepenuhnya diserap dan terbuang bersama feses. Mengambil sediaan feses Tidak seperti kebanyakan tes laboraturium lain, contoh feses harus diambil di rumah oleh pihak keluarga dari anak yang sedang sakit, bukan oleh petugas medis. Berikut adalah beberapa tips untuk mengambil contoh feses dari anak Anda: Mengambil feses dapat merepotkan, jadi gunakan sarung tangan latex dan cuci tangan Anda dan anak Anda setelahnya. Banyak anak kecil yang menderita diare tidak selalu dapat memberitahu orangtuanya ketika ia akan mengeluarkan tinjanya. Penutup plastik berbentuk topi dapat digunakan untuk mengambil sediaan feses. Alat pengumpul ini dapat dengan cepat diletakkan di atas toilet atau di dubur anak untuk mengambil feses. Menggunakan alat pengumpulseperti ini dapat mencegah feses terkontaminasi oleh air atau kotoran lain. Jika feses terkontaminasi dengan urin maka pengambilan contoh feses perlu diulang. Selain itu, jika Anda tidak dapat

mengambil feses anak Anda sebelum feses menyentuh bagian dalam toilet, maka pengambilan perlu diulang. Mengambil feses yang sudah masuk ke dalam toilet tidak memberikan sediaan tinja yang bersih untuk dianalisa. Cara lain mengambil sampel feses adalah dengan menempatkan pembungkus plastik di bawah penutup toilet. Kemudian pindahkan contoh feses ke tempat yang bersih dan tertutup untuk dibawa ke laboraturium. Plastik pembungkus juga dapat digunakan untuk melapisi popok bayi atau anak yang belum bisa menggunakan toilet. Feses yang telah diambil dibawa dalam tabung plastik berpenutup yang bersih dan kering. Anda bisa mendapatkannya dari dokter, apotik, atau laboraturium di rumah sakit. Namun, tempat plastik lain yang bersih dan tertutup juga dapat digunakan. Untuk hasil yang paling baik, feses harus dibawa secepatnya ke rumah sakit untuk diuji. Jika tidak mungkin pergi ke laboraturium dengan segera, contoh feses yang sudah diambil harus dimasukkan ke dalam lemari es. Kemudian bawalah tinja tersebut ke laboraturium untuk dibiakkan sesegera mungkin setelah diambil. Di laboratorium, contoh feses itu diperiksa, dibiakkan, atau ditempatkan dalam medium cairan khusus yang bertujuan memelihara bakteri atau parasit yang akan diperiksa. Dokter atau laboraturium rumah sakit biasanya akan memberikan instruksi tertulis tentang bagaimana mengambil contoh feses; jika instruksi tertulis tidak tersedia, catatlah bagaimana cara mengambil dan apa yang harus dilakukan ketika feses sudah diambil. Bertanyalah jika ada hal-hal yang kurang anda pahami. Dokter dan laboratorium juga akan memberitahu jika diperlukan contoh feses segar untuk tes tertentu atau jika contoh fesesnya perlu segera dibawa ke laboraturium. Umumnya, penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau parasit dapat diidentifikasi melalui pengujian terhadap satu contoh feses saja. Tetapi terkadang dibutuhkan hingga tiga contohfeses yang berbeda. Dokter akan memberitahu hal ini jika memang dibutuhkan. Menguji contoh feses Secara umum, hasil tes feses biasanya sudah selesai dalam 3 sampai 4 hari. Namun untuk pengujian parasit akan diperlukan waktu lebih lama. Memeriksa keberadaan darah dalam feses Dokter mungkin akan memeriksa ada tidaknya darah dalam feses anak. Darah dalam feses dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti diare akibat infeksi, perdarahan di saluran pencernaan, atau kondisi lain. Namun dalam banyak kasus, darah yang muncul dalam feses bayi disebabkan robekan kecil di dubur yang disebut fissure. Fisur disebabkan peregangan pada saat mengeluarkan feses dengan keras. Hal ini biasa terjadi pada bayi dan anak-anak dengan kesulitan BAB / konstipasi yang berlangsung terus menerus.

Pengujian keberadaan darah dalam feses dapat dilakukan dengan cepat di ruang praktik dokter. Hasilnya pun dapat segera diketahui. Pertama, feses diratakan pada kartu kemudian diteteskan cairan kimia. Perubahan warna yang terjadi akan menunjukkan ada tidaknya darah dalam feses. Kadang feses juga dapat dikirim ke laboraturium. Hasil tes akan dapat diketahui dalam beberapa jam. Mengembangbiakkan (kultur) feses Feses dikembangbiakkan untuk mengetahui apakah penyakit yang sedang diderita disebabkan oleh bakteri. Untuk mengembang biakkan, contoh feses ditempatkan dalam inkubator selama 48 hingga 72 jam dan penyakit akibat bakteri diidentifikasi dan diisolasi. Perlu diingat bahwa tidak semua bakteri dalam feses menyebabkan masalah; bahkan 80% dari kandungan feses sebenarnya adalah bakteri yang normal dan diperlukan untuk pencernaan. Pengembangbiakkan feses dilakukan untuk mencari bakteri yang menyebabkan penyakit. Untuk tes kultur, diperlukan sampel feses yang segar atau dingin. Sampel yang paling baik adalah feses yang lunak dan segar; pada feses yang kaku jarang ditemukan bakteri penyebab penyakit. Kadang dibutuhkan lebih dari satu contoh feses untuk tes kultur. Olesan dari dubur anak yang sakit juga dapat dites untuk melihat ada tidaknya virus. Walaupun sangat jarang dilakukan, prosedur ini dapat memberi petunjuk pada kasus penyakit tertentu, khususnya pada bayi baru lahir atau pada anak yang sangat sakit. Kultur viral dapat makan waktu hingga satu minggu atau lebih untuk berkembang, tergantung jenis virusnya. Pemeriksaan Ova dan Parasit dalam Feses Feses juga mungkin diuji untuk keberadaan parasit dan ova (telur cacing) jika anak menderita di diare yang berkepanjangan atau gejala intestinal lain. Dokter juga mungkin akan meminta dua atau lebih sampel feses untuk dapat mengidentifikasi parasit. Jika parasit atau telurnya terlihat ketika olesan feses diperiksa melalui mikroskop, anak akan ditatalaksana untuk infestasi parasit. Dokter anak anda mungkin akan memberikan tempat khusus untuk mengambil sampel feses yang mengandung pengawet kimia untuk parasit. (QQ)