Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Batubara sebagai bahan bakar yang kaya zat karbon merupakan komponen yang sangat penting didalam energy mix di banyak negara. Indonesia sendiri memiliki cadangan batubara cukup besar yaitu sekitar 104,94 miliar ton dengan cadangan yang telah terbukti sebanyak 21,13 miliar ton, dengan pemanfaatan paling besar untuk sektor keperluan pembangkit listrik (BPPT, 2011). Pada masa mendatang, produksi batubara Indonesia diperkirakan akan terus meningkat, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (domestik), tetapi juga untuk memenuhi permintaan luar negeri (ekspor). Hal ini mengingat sumber daya batubara Indonesia yang masih melimpah, di lain pihak harga BBM yang tetap tinggi, menuntut industri yang selama ini berbahan bakar minyak untuk beralih menggunakan batubara (tekMIRA, 2006). Selain pembangkit listrik dan kebutuhan industri batubara juga telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga dan industri kecil serta menengah dalam bentuk briket (BPPT, 2010). Briket batubara telah digunakan tetapi ada resiko yang terdapat dalam penggunaannya, yaitu merebaknya polusi udara akibat hasil pembakaran. Pada pembakaran batubara pasti akan menimbulkan emisi berupa gas seperti CO, CO2, NOx, SOx dan beberapa trace metal (Lind et al., 2007). Hal tersebut telah membahayakan kesehatan manusia, bahkan di Cina telah menelan banyak korban jiwa (Annonymous, 2005). Untuk mencegah masalah lebih lanjut yang terjadi akibat pembakaran briket batubara maka baik emisi berupa gas maupun partikel perlu dihilangkan sebelum flue gas hasil pembakaran dilepas ke lingkungan. Cara tersebut tentu akan mengurangi polutan besar / major pollutant seperti CO2, NOx, SOx, dan Volatile Organic Compounds (VOC) serta polutan kecil / minor pollutant berupa trace element seperti As, Cd, Co, Cr, Cu, Hg, Fe, Mn, Ni, Pb, Se, and Zn (Xu et al., 2003; Reddy et al., 2005) . Pada pengolahan flue gas hasil pembakaran briket batubara dihilangkan dengan bantuan alat kontrol polusi udara

seperti scrubber, presipitator elektrostatik, and filter baghouse. Dengan pengggunaan alat-alat tersebut polutan besar akan mudah dihilangkan tetapi polutan kecil berupa trace element sering lolos dari pengikatan (Yao and Naruse, 2005). Penelitian yang mempelajari sifat-sifat trace element (TE) dari pembakaran batubara dikarenakan oleh beberapa faktor, yang antara lain: (1) Batubara sebagai komponen energi penting dunia, yang akan seterusnya dan secara luas digunakan pada abad ini karena memiliki cadangan yang melimpah. (2) Beberapa emisi TE selama pembakaran batubara bersifat racun dan memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan. (3) Peraturan lingkungan saat ini tentang emisi dari Hazardous Waste Incineration (HWI) dan Municipal Waste Incineration (MWI) yang berkaitan dengan proses pembakaran, yang dalam hal ini pembakaran batubara, dengan keras dibatasi (Xu et al., 2003). Oleh karena hal tersebut maka proses penghilangan TE dari hasil pembakaran batubara harus dilakukan. Kadar TE di dalam batubara berbeda-beda tergantung pada kualitas batubara tersebut. Bagaimana pun kadar TE yang ada di dalam batubara harus sedemikian rupa dikurangi agar tidak mengganggu lingkungan maupun kesehatan. Penghilangan trace element pada dari hasil pembakaran briket batubara dapat dilakukan dengan menambahkan adsorben pada furnace (Yao and Naruse, 2005). Dengan menambahkan adsorben ke furnace maka kadar trace element di dalam flue gas hasil pembakaran akan berkurang karena terjerap oleh adsorben tersebut. Pada penelitian ini adsorben yang akan digunakan adalah bentonit. Kemampuan adsorpsi dari bentonit akan sangat dipengaruhi oleh kondisi operasi. Kondisi operasi dipengaruhi oleh beberapa variabel seperti jumlah adsorben, temperatur pembakaran, serta waktu pembakaran.

1.2 Perumusan Masalah Pembakaran briket batubara akan menghasilkan polutan besar dan kecil. Polutan besar seperti NOx, SOx, dan CO2 akan mudah dihilangkan dengan

menggunakan alat kontrol polusi, tetapi polutan kecil yang mengandung logam berat atau trace element akan sulit dihilangkan. Untuk itu salah satu solusi dari permasalah tersebut adalah penambahan adsorben dalam proses pembakaran. Seberapa banyak kadar trace element yang dapat terjerap dan pengaruh variabelvariabel berubah, yaitu temperatur pembakaran dan jumlah adsorben akan menjadi kajian mendalam dalam penelitian ini. Lebih lanjut, kondisi optimum dalam penjerapan trace element oleh adsorben dan efisiensi penjerapan akan didapat berdasarkan hasil analisis kadar trace element dari berbagai variabel.

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kemampuan adsorben bentonit dalam menyerap trace metal dari hasil pembakaran briket batubara. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengamati kondisi optimum dalam proses adsorpsi trace metal dari pembakaran briket batubara menurut variasi temperatur pembakaran dan jumlah adsorben. Selain itu akan dilihat juga pengaruh penambahan bentonit dalam pengurangan kadar SO2 pada flue gas dari hasil pembakaran briket batubara.

1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini memiliki manfaat untuk melihat kelayakan bentonit sebagai adsorben dalam proses adsopsi trace element pada pembakaran batubara. Pada penelitian ini akan dianalisis efisiensi penjerapan elemen Cd, Hg, dan Pb yang terdapat didalam fly ash hasil pembakaran briket batubara serta melihat seberapa besar kadar SO2 yang ada pada gas buang. Hasil analisis penjerapan akan menunjukkan sejauh mana kelayakan penggunaan bentonit sebagai adsorben untuk trace element. Selain itu ada juga manfaat lain pada penelitian ini yaitu untuk mendapatkan kondisi optimum yang dapat digunakan dalam penjerapan trace element oleh bentonit. Dengan didapatnya kondisi optimum adsorpsi trace element maka dapat dijadikan suatu referensi jika nantinya penggunaan bentonit layak untuk mengurangi minor pollutant berupa trace element yang dihasilkan pada pembakaran briket batubara.