Anda di halaman 1dari 5

PEMBAHASAN

A. Wawancara Dengan Buk Sum Pagi kemarin saya sarapan disebuah warung kecil dekat SD saya, SDN Dermo 1 Bangil Pasuruan, sebuah sekolah kecil dimana saya menghabiskan waktu-waktu saya selama 6 tahun dengan lebih banyak membuat nangis anak orang daripada belajar, Sekarang SD saya banyak berubah, guru saya yang dulu masih mampu mengayunkan pengaris dengan kencang ke kaki murid nya yang bengal atau tak hafal surat-surat pendek, sekarang hanya duduk manis dibalik sebuah meja bertuliskan kepala sekolah. Kantin satu-satu nya tempat saya dan teman-teman membeli es kiko sekarang telah punya buya banyak saingan, SD saya berubah menjadi lebih baik, sekarang sudah ada perpustakaan dan juga aula, silaturahim saya ke SD berakhir di sebuah warung kecil, Warung Bu Sumiati, buk Sum biasa beliau dipanggil oleh mereka anak-anak SD.. Buk sum, nasi pecel nya satu saya memesan, tak lama, seporsi nasi pecel beliau sajikan diatas piring beling transparan dengan sendok bengkok diatasnya, ini mas, minumnya apa? dengan senyum ramah beliau melayani pembeli, teh manis aja bu Saya nikmati sarapan pagi itu, nasi pecel Bu Sumiati. Setelah perut terasa penuh, saya berniat untuk balik ke rumah saya yang tak jauh dari SD, Berapa bu?, Tanya saya ke buk Sum sama minumnya 3.500 mas, Saya kembali duduk dan meyakinkan bu sum saya nasi pecel satu, teh manis satu, berapa buk? Iya mas, 3.500, Saya diam, bingung,, sebagai anak fakultas ekonomi saya bingung strategi bisnis seperti apa yang dipakai buk sum untuk dagangannya ibuk nggak rugi jual nasi sama minumnya 3.500? Tanya saya penasaran yah,, dibilang rugi ya enggak nak, ibuk ngga cari untung banyak, Rezeki Allah yang ngatur, ibuk cuma pengen anak-anak yang sekolah bisa sarapan, biar mereka bisa fokus sama pelajaran yang diberikan gurunya, ngga keganggu sama urusan perut, dulu ibuk waktu masih sekolah di Sekolah Rakyat pengen bisa sarapan setiap pagi sebelum sekolah, ibuk nggak pengen anak-anak sekarang merasakan apa yang ibuk rasakan dulu

Speechless, kata yang tepat untuk menggambarkan yang bisa saya lakukan saat itu, luar biasa mulia sekali hati ibu ini, saya menunda niat saya untuk segera balik ke rumah saat itu, saya bengong untuk waktu yang lumayan lama, hingga dating seorang anak seusia saya ke warung itu.. *cium tangan* buk, niki es batu kale sayur ee, (trans: bu, ini es batu dan sayur nya) ini anak ibuk nak, dia sekarang kuliah di UM, jurusan Matematika, Alhamdulillah dapat beasiswa dari permerintah buk Sum mengenalkan anaknya ke Saya Wah,, Alhamdulillah ya buk, anak ibu ada berapa? Tanya saya Ibu dititipin 3 anak mas sama Allah, Alhamdulillah jadi orang semua sekarang, yang pertama udah kerja di pabrik, yang perempuan udah nikah, sekarang ikut suami nya di daerah Solo, dan yang terakhir ini masih kuliah.. Alhamdulillah, meskipun suami ibuk sekarang udah dipanggil duluan, tapi ibuk bersyukur bisa anter anak ibuk sampai bisa punya hidup lebih baik dari ibuk Ibu rumahnya dimana? Tanya saya, daerah Gempeng nak, syukur nak, ibu dapat biaya dari pemerintah juga untuk bisa bangun rumah ibu, Saat itu saya hanya tersenyum, dan sadar bahwa ada banyak tangan-tangan tak terlihat dalam hidup ini yang mempersiapkan kehidupan yang lebih baik, mungkin bukan buat kita tapi untuk anak keturunan kita, atau orang-orang disekitar kita yang kita sayang, asalkan kita mau berbuat baik karena kebaikan adalah mata uang uang universal yang bisa diterima dimanapun dan kapanpun, seratus ribu rupiah akan tetap menjadi seratus ribu rupiah dimanapun tempatnya, ibu sumiati juga mengajarkan bahwa kita harus ikhlas jalani hidup ini apapun yang terjadi dan sabar menghadapi apapun yang kita anggap tidak enak, God never Sleep and He Always love Us with his own way,,

B. Analisis Permasalahan Berdasar pengamatan penulis terhadap usaha kuliner yang dilakukan buk sum, penulis menganalisis jawaban dari rumusan-rumusan masalah berikut : 1. Bagaimana usaha bisnis itu menciptakan ide bisnis, merencanakan dan mengembangkan bisnis tersebut? 2. Bagaimana usaha bisnis itu menjalankan etika bisnis dan bertanggung jawab social?

3. Identifikasikan kondisi lingkungan ekonomi dan lingkungan industri dari usaha bisniis tersebut? Setelah penulis melakukan analisis dengan berbagai pendekatan, maka diperoleh hasil analisis sebagai berikut : Permasalahan Pertama : - Bagaimana usaha bisnis itu menciptakan ide bisnis, merencanakan dan mengembangkan bisnis tersebut? Hasil Analisis : - Usaha buk Sum bukanlah usaha yang telah berkembang pesat, memiliki banyak cabang dimana-mana, atau usaha dengan omzet jutaan rupiah per hari, bukan. Dengan diawali rasa tidak ingin generasi penerus bangsa juga merasakan kesulitan yang beliau rasakan selama masa muda, beliau mengambil keputusan untuk membuka sebuah warung kecil disudut gang dekat sebuah Sekolah Dasar satu-satu nya di kampung itu. Kini usaha itu telah berdiri selama 4 tahun, 4 tahun juga niat baik buk Sum menghiasi dinding triplek dan perabotan-perabotan di warung nya. Dengan harga yang sangat murah, tentu saja warung buk sum tidak pernah sepi pembeli, dari anak sekolah, tukang becak hingga pegawai kantor telah menjadi pelanggan tetap warung buk sum, dibantu 2 saudara nya beliau melayani dengan sangat ramah setiap pembeli yang datang, tak hayal jika ketika penulis menanyakan apa ibuk nggak rugi jual seporsi nasi dan minum 3.500 rupiah? beliau menjawab tidak, karena memang hamper setiap hari dagangan buk sum habis terjual, mulai dari gorengan, nasi ataupun minuman. Permasalahan Kedua : - Bagaimana usaha bisnis itu menjalankan etika bisnis dan bertanggung jawab social? Hasil Analisis : - Buk sum memutuskan mendirikan usaha warung berawal dari rasa prihatin belau melihat anak-anak sekolah yang nantinya akan menjadi generasi-generasi penerus bangsa tidak sempat makan pagi sebelum pergi kesekolah untuk menuntut ilmu, sempat suatu hari beliau bertanya kepada beberapa anak alasan mengapa dia tidak makan pagi sebelum pergi kesekolah, mama tidak masak adalah jawaban yang beliau sering dengar, jawaban-jawaban tadi semakin menjadi pendorong buk sum untuk menjadi problem breaker yang terjadi selama ini, saat ini buk Sum telah memecahkan satu masalah dalam lingkungannya, dengan niat baiknya, kini

beliau telah berhasil menjadikan dirinya menjadi solusi bagi permasalahan di lingkungan social nya. Buk sum bisa saja menaikkan harga jual setiap barang yang dia jual untuk mendapat keuntungan yang lebih banyak, apalagi dewasa ini barang kebutuhan pokok semakin melambung, tapi buk sum tidak, niat baiknya lebih besar dari nafsu nya utuk memperoleh keuntungan yang lebih banyak, soal rejeki sudah ada yang ngatur mas itulah kata buk Sum yang penulis dengar. Dari uraian diatas jelas buk sum telah sangat baik menjalankan etika bisnis dan bertanggung jawab penuh dengan permasalahan-permasalahan yang ada di sekitarnya dengan menjadi bagian dari solusi permasalahn tersebut. Permasalahan Ketiga : Identifikasikan kondisi lingkungan ekonomi dan lingkungan industri dari usaha bisniis tersebut? Hasil Analisis : Lingkungan ekonomi disekitar usaha bisnis buk sum adalah lingkungan ekonomi yang Universal, maksudnya, di sekitar usaha tersebut berbagai kelas masyarakat ada, tanpa ada rasa merendahkan, dari buruh tani sampai anggota dewan ada disekitar lokasi bisnis, tak jarang mereka bersama kumpul di warung buk sum untuk menikmati secangkir kopi atau nasi pecel dengan obrolan-obrolan khas warung kopi, dari permasalahn politik, jual beli tanah hingga gossip kawin-cerai artis, Iya, Warung buk sum bak tempt dimana segala informasi ada, dan tempat dimana semua pakaian dunia tentang jabatan dilepas dan bersama-sama berbaur tanpa ada skat pembatas asal dan golongan.

Kesimpulan : - Jika orang bilang Matematika adalah Mother Of Science, maka Moral yang Baik adalah Mother of Everything, including business, Buk sum telah mengajarkan sebuah pelajaran yang tidak pernah ditemukan di buku manapun, pelajaran tentang Ikhlas dan Sabar untuk setia pada Niat yang baik - Sebuah solusi kadang muncul dari kegelisahan-kegelisahan kecil yang kita rasakan, rasa itu kemudian merangsang otak dan jiwa kita, sehingga muncul pertanyaan masa gini terus? saat itulah kita diberi kesempatan tuhan untuk bisa menjadi solusi dari permasalahan yang menjadi kegelisahan bukan hanya kita tapi orang lain. Saran : - Indonesia butuh lebih banyak orang-orang yang memiliki hati mulia seperti buk Sum, yang tidak hanya menjadi Followers dari banyak sebab kegelisahan yang terjadi, tapi berani menjadi problem breaker dari setiap permasalahan yang ada.