Anda di halaman 1dari 29

PRESENTASI KASUS BRONKITIS KRONIS Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu

Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Diajukan Kepada : dr. Warih Tjahjono, Sp.PD Disusun oleh : Fathimatuzzahro, S.Ked 20080310097

SMF ILMU PENYAKIT DALAM RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2013

HALAMAN PENGESAHAN PRESENTASI KASUS BRONKITIS KRONIS

Disusun oleh: Fathimatuzzahro, S.Ked 20080310097 Telah dipresentasikan pada:

April 2013

Bantul, April 2013 Menyetujui dan mengesahkan, Dokter Pembimbing dan Penguji Klinik

dr. Warih Tjahjono, Sp.PD

BAB I PRESENTASI KASUS I. ANAMNESIS Identitas Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Pekerjaan : Tn. S : Laki laki : 62 tahun : Salam Temuwuh Dlingo Bantul : Buruh

Tanggal Masuk IGD: 2 Maret 2013 Ruang Perawatan Nomor CM Keluhan Utama Batuk berdahak sejak 4 bulan yang lalu kemudian sejak tujuh hari yang lalu disertai sesak napas dan semakin memberat bila melakukan aktivitas fisik berat Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke RS dengan keluhan batuk berdahak berwarna putih bening sejak 4 bulan yang lalu yang lalu. Kemudian sejak seminggu yang lalu disertai sesak napas yang kumat-kumatan dan semakin lama memberat jika beraktivitas fisik berat, sesak berkurang dengan posisi duduk. Selain itu, pasien juga sering mengeluhkan nyeri epigastrik (+), mual (+), muntah (-), dan nafsu makan berkurang, BAK (+) N, BAB (+)N, riwayat merokok (+). Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat diabetes mellitus, hipertensi, dan alergi disangkal oleh pasien. Riwayat Penyakit Keluarga Pada anggota keluarga tidak didapati keluhan yang sama seperti pasien. Sepengetahuan pasien, di keluarganya tidak ada riwayat asma, diabetes mellitus, hipertensi, ataupun alergi. II. PEMERIKSAAN FISIK Pasien pertama masuk RSUD Panembahan Senopati Keadaan Umum Kesadaran Status Gizi Vital Sign - Tekanan darah - Nadi - Pernafasan - Suhu Status Interna Kepala Normosefali, tidak ada tanda trauma atau benjolan. Rambut hitam, tidak mudah dicabut. : 140/90 mmHg : 87x/menit, teratur : 30 x/menit : 37.9 C : Tampak sesak napas : Composmentis : Cukup : Bangsal Flamboyan : 263686

Mata

Konjungtiva kanan dan kiri tidak anemis, tidak ada sklera ikterik pada kedua mata, refleks cahaya +/+, diameter pupil 3 mm/ 3 mm, strabismus -/-. Bentuk normal, tidak ada sekret, cairan, luka maupun perdarahan. Fungsi pendengaran masih baik. Bentuk aurikula normal, septum nasi di tengah, tidak ada deviasi, mukosa tidak hiperemis, tidak ada edema konka. Tidak terdapat sekret pada kedua lubang hidung, epistaksis (-). Hiperemis (-), T2/T2, trakea di tengah. Bibir tampak normal, tidak ada sianosis dan tidak ada deviasi. Lidah kotor (-). Gigi geligi normal dan tidak ada karies. Tidak tampak adanya luka maupun benjolan. Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar getah bening. Inspeksi: Pada keadaan statis dada terlihat simetris kanan dan kiri, pada pergerakan/dinamis dinding dada terlihat simetris kanan dan kiri, tidak ada yang tertinggal, tidak terdapat retraksi atau penggunaan otot pernapasan tambahan. Pulsasi ichtus kordis tidak terlihat. Palpasi: Fremitus raba sama kuat kanan dan kiri. Ichtus kordis tidak teraba. Perkusi: Pada lapangan paru didapatkan bunyi sonor. Batas paru hati didapatkan pada ICS 7 sebelah kanan. Batas Jantung: Batas atas Batas kanan Batas kiri : Incisura costalis space 2 parasternal kiri : ICS 6 linea parasternal kanan : ICS 6 linea midclavikula kiri Batas bawah : Incisura costalis space 6

Telinga Hidung

Tenggorok Gigi dan Mulut Leher Thorak

Auskultasi: Bunyi paru vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/-. Abdomen Bunyi jantung S1, S2 murni. Murmur (-). Gallop (-). Inspeksi : Supel, turgor baik, dinding abdomen simetris, tidak terlihat penonjolan massa ataupun adanya luka. Palpasi : Tidak teraba pembesaran hepar. Lien tidak teraba. Terdapat nyeri tekan di epigastrium dan hipokondrium kanan dan kiri. Nyeri perut menjalar ke punggung (-), distensi abdomen (-), defense muscular (-), Nyeri tekan mac burney (-) Perkusi : asites (-)

Punggung Ekstremitas dan bawah

Auskultasi : Bising Usus 3x/menit () Tampak normal. Tidak terlihat kelainan bentuk tulang belakang. atas Akral hangat, tidak ada edema pada semua ekstremitas.

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG IV. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Darah (2 maret 2013) Pemeriksaan Hb AL AE AT Hematokrit Eosinofil Basofil Batang Segmen Lymphosit Monosit Ureum Kreatin SGOT SGPT Asam urat Cholesterol Trigliserid HDL Cholesterol LDL Cholesterol CKMB Natrium Kalium Clorida Nilai 16,0 14,5 5,02 484 46,4 0 0 1 83 12 4 28 0,65 77 207 5,31 280 89 68 194 21 137,2 3,38 110,1 Satuan Gram % Ribu/ul Juta/ul Ribu/ul % % % % % % % mg/dL mg/dL U/I U/I mg/dL mg/dL mg/dL mg/dL mg/dL u/L Mmol/l Mmol/l Mmol/l Range Normal 12-16 4-10 4,5-5,5 150-450 36-46 2-4 0-1 2-5 31-67 20-35 4-8 17-43 0,9-1,3 <37 <41 L:3,6-8,2 P:2,3-6,1 <220 <200 >39 <115 7-25 135-148 3,5-5,3 98-107

Pemeriksaan Darah (4 maret 2013) Pemeriksaan Hb AL AE AT Nilai 15,3 8,9 4,59 378 Satuan Gram % Ribu/ul Juta/ul Ribu/ul Range Normal 12-16 4-10 4,5-5,5 150-450

Hematokrit Eosinofil Basofil Batang Segmen Lymphosit Monosit

45,4 2 1 2 50 38 7

% % % % % % %

36-46 2-4 0-1 2-5 31-67 20-35 4-8

Tanggal 5 maret 2013 SGOT SGPT HBsAg Anti HAV Total Anti HCV 144 221 Negative +3600 Non reaktif U/I U/I <37 <41

Pemeriksaan Widal (4 maret 2013) Typhus-O Typhus-H P. Thypus-A P. Thypus-O +1/160 Negatif +1/320 Negatif (Negatif) (Negatif) (Negatif) (Negatif)

Pemeriksaan Darah (6 maret 2013) Pemeriksaan Hb AL AE AT Hematokrit Eosinofil Basofil Batang Segmen Lymphosit Monosit Nilai 15,3 6,7 4,84 379 43,9 0 0 0 52 36 8 Satuan Gram % Ribu/ul Juta/ul Ribu/ul % % % % % % % Range Normal 12-16 4-10 4,5-5,5 150-450 36-46 2-4 0-1 2-5 31-67 20-35 4-8

Pemeriksaan Rontgen Thorax: edema pulmo dan besar Cor normal EKG: Sinus rhytme normal

V. DIAGNOSIS

Bronkhitis kronis Hepatitis akut Dyspepsia Follow up 2 Maret 2013 A: bronchitis kronis S: Pasien datang ke RS dengan keluhan batuk Hepatitis akut berdahak berwarna putih bening sejak 4 bulan dyspepsia yang lalu yang lalu. Kemudian sejak seminggu yang lalu disertai sesak napas yang kumatkumatan dan semakin lama memberat jika beraktivitas fisik berat, sesak dengan posisi duduk. Selain itu, pasien juga sering mengeluhkan nyeri epigastrik (+), mual BAK (+) N, BAB (+)N, riwayat merokok (+). O: KU :Sedang, Compas Mentis VS : TD: 140/90 mmHg N: 87 kali/menit RR: 30 kali/menit S : 37,90C Kepala: CA-/-, SI -/Mulut: Bibir tampak normal, tidak ada sianosis dan tidak ada deviasi. Lidah kotor (-) Thorax: p/ simetris, sonor +/+, vesikuler +/ +, ketinggalan gerak (-) c/ S1, S2 reguler murni Abdomen: supel, tympani(+), peristaltic (+). NT(+)nyeri tekan di epigastrium dan hipokondrium kanan dan kiri Nebu ventolin/8jam (k/P) HP Pro 3x1 Sistenol 3x1 (k/p) Aminofilin tab 3x1/2 Lansoprazole 1x1 P: Inf NaCl 10 tpm

berkurang Inj ceftriaxone 1gr/12jam Inj ciprofloxacin 200 mg/12jam

(+), muntah (-), dan nafsu makan berkurang, Inj ranitidine 1amp/12jam Inj metoclopramide 1amp/8jam

Ektremitas: tidak ada edem pada kedua kaki, akral hangat. 3 Maret 2013 sesak napas (+) berkurang, juga A: bronchitis kronis sering Dyspepsia

S: os masih mengeluh batuk(+) berkurang, Hepatitis akut mengeluhkan nyeri epigastrik (+), mual (+), muntah (-), pusing cekot-cekot (+) dan nafsu makan berkurang, BAK (+) N, BAB (+)N, riwayat merokok (+). O: KU :Sedang, Compas Mentis VS : TD: 130/90 mmHg N: 84 kali/menit R: 26 kali/menit S : 37,9 C Kepala: CA-/-, SI -/Mulut: Bibir tampak normal, tidak ada sianosis dan tidak ada deviasi. Lidah kotor (-) Thorax: p/ simetris, sonor +/+, vesikuler +/ +, ketinggalan gerak (-) c/ S1, S2 reguler murni Abdomen: supel, tympani(+), peristaltic (+). NT(+)nyeri tekan di epigastrium dan hipokondrium kanan dan kiri Ektremitas: tidak ada edem pada kedua kaki, akral hangat. 4 Maret 2013 sesak napas (+) berkurang, juga A: bronchitis kronis sering Dyspepsia Nebu ventolin/8jam (k/P) HP Pro 3x1 Sistenol 3x1 (k/p)
0

P: Inf NaCl 10 tpm Inj ceftriaxone 1gr/12jam Inj ciprofloxacin 200 mg/12jam Inj ranitidine 1amp/12jam Inj metoclopramide 1amp/8jam Aminofilin tab 3x1/2 Lansoprazole 1x1

S: os masih mengeluh batuk(+) berkurang, Hepatitis akut mengeluhkan nyeri epigastrik (+), mual (+), muntah (-), pusing cekot-cekot (+) dan nafsu makan berkurang, BAK (+) N, BAB (+)N, riwayat merokok (+). P: Inf NaCl 10 tpm

O: KU :Sedang, Compas Mentis VS : TD: 130/90 mmHg N: 82 kali/menit R: 26 kali/menit S : 37,50C Kepala: CA-/-, SI -/Mulut: Bibir tampak normal, tidak ada sianosis dan tidak ada deviasi. Lidah kotor (-) Thorax: p/ simetris, sonor +/+, vesikuler +/+, ketinggalan gerak (-) c/ S1, S2 reguler murni Abdomen: supel, tympani(+), peristaltic (+). NT(+)nyeri tekan di epigastrium dan hipokondrium kanan dan kiri Ektremitas: tidak ada edem pada kedua kaki, akral hangat.

Inj ceftriaxone 1gr/12jam Inj ciprofloxacin 200 mg/12jam Inj ranitidine 1amp/12jam Inj metoclopramide 1amp/8jam Aminofilin tab 3x1/2 Lansoprazole 1x1 HP Pro 3x1 Sistenol 3x1 (k/p) Nebu ventolin/8jam (k/P)

+ Asam mefenamat 3x500mg + versilon 3x1 + alprazolam 0,5 mg 0-0-1 + MP 4 mg 2x1 + ergotamine 2x1

PL: Widal, DR ulang, SGOT, SGPT 5 Maret 2013 A: bronchitis kronis

S: os masih mengeluh batuk(+) berkurang, Hepatitis akut sesak napas (-), nyeri epigastrik (-), mual (-), Dyspepsia muntah (-), pusing cekot-cekot (-) dan nafsu makan mulai membaik, BAK (+) N, BAB (+)N, riwayat merokok (+). O: KU :Sedang, Compas Mentis VS : TD: 130/90 mmHg P: Inf NaCl 10 tpm Inj ceftriaxone 1gr/12jam Inj ciprofloxacin 200 mg/12jam

N: 84 kali/menit R: 24 kali/menit S : 36,40C Kepala: CA-/-, SI -/Mulut: Bibir tampak normal, tidak ada sianosis dan tidak ada deviasi. Lidah kotor (-) Thorax: p/ simetris, sonor +/+, vesikuler +/+, ketinggalan gerak (-) c/ S1, S2 reguler murni Abdomen: supel, tympani(+), peristaltic (+). NT(-) Ektremitas: tidak ada edem pada kedua kaki, akral hangat.

Inj ranitidine 1amp/12jam Inj metoclopramide 1amp/8jam Aminofilin tab 3x1/2 (STOP) Lansoprazole 1x1 HP Pro 3x1 Sistenol 3x1 (k/p) Nebu ventolin/8jam (k/P) Asam mefenamat 3x500mg versilon 3x1 alprazolam 0,5 mg 0-0-1 MP 4 mg 2x1 ergotamine 2x1

PL: HBsAg, HCV, HAV Total 6 Maret 2013 A: bronchitis kronis

S: os masih mengeluh batuk(+) berkurang, Hepatitis akut sesak napas (-), nyeri epigastrik (-), mual (-), Dyspepsia muntah (-), pusing cekot-cekot (-) dan nafsu makan mulai membaik, BAK (+) N, BAB (+)N, riwayat merokok (+). O: KU :Sedang, Compas Mentis VS : TD: 130/90 mmHg N: 84 kali/menit R: 24 kali/menit S : 36,40C P: - Inf NaCl 10 tpm - Inj ceftriaxone 1gr/12jam (STOP) - Inj ciprofloxacin 200 mg/12jam Ciprofloxacin tab 2x500mg - Inj ranitidine 1amp/12jam (STOP) - Inj metoclopramide 1amp/8jam Metoclopramide tab 3x1

Kepala: CA-/-, SI -/Mulut: Bibir tampak normal, tidak ada sianosis dan tidak ada deviasi. Lidah kotor (-) Thorax: p/ simetris, sonor +/+, vesikuler +/+, ketinggalan gerak (-) c/ S1, S2 reguler murni Abdomen: supel, tympani(+), peristaltic (+). NT(-) Ektremitas: tidak ada edem pada kedua kaki, akral hangat.

- Aminofilin tab 3x1/2 (STOP) - Lansoprazole 1x1 2x1 - HP Pro 3x1 (STOP) - Sistenol 3x1 (k/p) (STOP) - Nebu ventolin/8jam (k/P) (STOP) - Asam mefenamat 3x500mg (STOP) - versilon 3x1 - alprazolam 0,5 mg 0-0-1 - MP 4 mg 2x1(STOP) - ergotamine 2x1 BLPL

BAB II PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Paru-paru merupakan alat tubuh yang sebagian besar dari terdiri dari gelembunggelembung. Di sinilah tempat terjadinya pertukaran gas, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Bronkus merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra thorakalis IV dan V. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus kanan lebih besar dan lebih pendek daripada bronkus kiri, terdiri dari 6 8 cincin dan mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri terdiri dari 9 12 cincin dan mempunyai 2 cabang. Cabang bronkus yang lebih kecil dinamakan bronkiolus, disini terdapat cincin dan terdapat gelembung paru yang disebut alveolli. Bronkhitis adalah penyakit yang ditandai dengan peradangan akut pada saluran

napas di dalam paru-paru. Saluran napas yang terkena adalah trakhea dan bronkhus. Peradangan yang timbul dapat disebabkan oleh infeksi atau sebab lain. The American Academy of Family Physicians menyebutkan bahwa bronkitis akut biasanya disebabkan oleh bakteri atau virus, dan sering kali pula sulit disembuhkan. Mereka merekomendasikan untuk lebih banyak istirahat, minum banyak air putih dan tidak mengkonsumsi minuman berkafein, jaga lingkungan di dalam ruangan dan sabarlah untuk beberapa hari atau minggu hingga penyakit ini akan hilang dengan sendirinya. Batuk merupakan gejala utama bronkhitis. Batuk dapat berupa batuk kering atau batuk berdahak. Batuk dengan dahak yang banyak menandakan telah terjadi infeksi pada saluran napas bawa dan paru-paru, dan mungkin penyakit yang timbul adalah pneumonia .Batuk biasanya berhenti setelah lebih dari dua minggu. Batuk yang berkepanjangan dapat menyebabkan nyeri dan bengkak pada otot-otot dada dan perut. Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru-paru serta saluran pernapasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari sinusitis kronis, bronkiektasis, alergi, dan pembesaran amandel pada anak-anak.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi

Secara harfiah bronkitis adalah suatu penyakit yang ditanda oleh inflamasi bronkus. Secara klinis pada ahli mengartikan bronkitis sebagai suatu penyakit atau gangguan respiratorik dengan batuk merupakan gejala yang utama dan dominan. Ini berarti bahwa bronkitis bukan penyakit yang berdiri sendiri melainkan bagian dari penyakit lain tetapi bronkitis ikut memegang peran.( Ngastiyah, 1997 ) Bronkitis berarti infeksi bronkus. Bronkitis dapat dikatakan penyakit tersendiri, tetapi biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran peranpasan atas atau bersamaan dengan penyakit saluran pernapasan atas lain seperti Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis, Bronkitis pada asma dan sebagainya (Gunadi Santoso, 1994)

Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi (ektasis) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size), sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Hal ini dapat memblok aliran udara ke paru-paru dan dapat merusaknya. Bronkitis akut Adalah batuk yang tiba-tiba terjadi karena infeksi virus yang melibatkan jalan nafas yang besar. Bronkitis akut pada umumnya ringan. Berlangsung singkat (beberapa hari hingga beberapa minggu), rata-rata 10-14 hari. Meski ringan, namun adakalanya sangat mengganggu, terutama jika disertai sesak, dada terasa berat, dan batuk berkepanjangan. Bronkitis kronis Didefinisikan sebagai adanya batuk produktif yang berlangsung 3 bulan dalam 1 tahun selama 2 tahun berturut turut. Diagnosa kronik bronkitis biasanya dibuat berdasar adanya batuk menetap yang biasanya terkait dengan penyalahgunaan tobacco.

B. Epidemiologi

Di Amerika Serikat, menurut National Center for Health Statistics, kira-kira ada 14 juta orang menderita bronkitis. Lebih dari 12 juta orang menderita bronkitis akut pada tahun 1994, sama dengan 5% populasi Amerika Serikat. Di dunia bronkitis merupakan masalah dunia. Frekuensi bronkitis lebih banyak pada populasi dengan status ekonomi rendah dan pada kawasan industri. Bronkitis lebih banyak terdapat pada laki-laki dibanding wanita. Data epidemiologis di Indonesia sangat minim (Samer Qarah, 2007) Dinegara barat, kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1,3% diantara populasi. Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidakmampuan pasien untuk bekerja. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik.
-

Bronkitis Kronik : Bronchitis kronis ditemukan dalam angka-angka yang lebih tinggi daripada normal diantara pekerja-pekerja tambang, pedagang-pedagang biji padi-padian, pembuat-pembuat cetakan metal, dan orang-orang lain yang terus menerus terpapar pada debu. Namun penyebab utama adalah merokok sigaret yang berat dan berjangka panjang, yang mengiritasi tabung-tabung bronchial dan menyebabkan mereka menghasilkan lendir yang berlebihan

Bronkitis Akut : Resiko terkena bronkitis akut meningkat seiring dengan :


o o o o

Merokok Dingin, musim dingin Area yang banyak polusi COPD

Umur tertentu: bronkitis akut lebih sering terjadi pada anak umur 0-4 tahun dan orang tua lebih dari 65 tahun. Mekanisme klirens saluran napas. Pertama, mukus didorong ke proksimal saluran napas oleh gerakan silia,yang akan membersihkan partikel-partikel inhalasi, patogen dan menghilangkan bahan-bahan kimia yang mungkin dapat merusak paru. Musin polimerik secara terus-menerus disintesis dan disekresikan untuk melapisi lapisan mukosa.Kecepatan normal silia 12 sampai 15x/detik, menghasilkan kecepatan 1mm/menit untuk membersihkan lapisan mukosa. Kecepatan

mucociliary clearance meningkat dalam keadaan hidrasi tinggi. Dan kecepatan gerakan silia meningkat oleh aktivitas purinergik, adrenergik, kolinergik dan reseptor agonis adenosin,serta bahan iritan kimia. Mekanisme kedua, adalah dengan mengeluarkan mukus dengan refleks batuk. Ini mungkin dapat membantu menjelaskan mengapa penyakit paru yang disebabkan oleh kerusakan fungsi silia tidak terlalu berat dibandingkan dengan yang disebabkan dehidrasi, yang menghalangi kedua mekanisme klirens saluran napas. Meskipun batuk berkontribusi dalam membersikan mukus pada penyakit dengan peningkatan produksi mukus atau gangguan fungsi silia, ini dapat menyulitkan gejala.

Gambar. Mukus klirens pada napas normal3


C. Etiologi

saluran yang

Penyebab utama penyakit Bronkitis Akut adalah adalah virus. Sebagai contoh Rhinovirus Sincytial Virus (RSV), Infulenza Virus, Para-influenza Virus, Adenovirus dan Coxsakie Virus. Bronkitis Akut selalu terjadi pada anak yang menderita Morbilli, Pertusis dan infeksi Mycoplasma Pneumonia. Belum ada bukti yang meyakinkan bahwa bakteri lain merupakan penyebab primer Bronkitis Akut pada anak. Di lingkungan sosio-ekonomi yang baik jarang terdapat infeksi sekunder oleh bakteri. Alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran napas atas dapat memudahkan terjadinya bronkitis akut. Sedangkan pada Bronkitis Kronik dan Batuk Berulang adalah sebagai berikut : a. Spesifik

1) Asma 2) Infeksi kronik saluran napas bagian atas (misalnya sinobronkitis). 3) Infeksi, misalnya bertambahnya kontak dengan virus, infeksi mycoplasma, hlamydia, pertusis, tuberkulosis, fungi/jamur. 4) Penyakit paru yang telah ada misalnya bronkietaksis. 5) Sindrom aspirasi. 6) Penekanan pada saluran napas 7) Benda asing 8) Kelainan jantung bawaan 9) Kelainan sillia primer 10) Defisiensi imunologis 11) Kekurangan anfa-1-antitripsin 12) Fibrosis kistik 13) Psikis b. Non-spesifik 1. Asap rokok 2. Polusi udara

D. Patologi, Patogenesis, dan Patofisiologi 1. Patologi

Kelainan utama bronkitis adalah dan kelenjar bronkus, pada kronik hipertrofi hiperplasia mukus dimana pada

dapat menyebabkan penyempitan saluran bronkus,

sehingga diameter bronkus ini menebal lebih dari 30-40% dari normal. Terdapat juga peradangan difus, penambahan sel mononuklear di submukosa trakeo bronkial, metaplasia epitel bronkus dan silia berkurang. Yang penting juga adalah perubahan pada saluran napas kecil yaitu sekresi sel goblet, bukan saja bertambah dalam jumlahnya akan tetapi juga lebih kental sehingga menghasilkan substansi yang mukopurulen, sel radang di mukosa dan submukosa, edema, fibrosis peribronkial, penyumbatan mukus intraluminal dan penambahan otot polos.

2. Patogenesis

Dua faktor utama yang menyebabkan bronkitis yaitu adanya zat-zat asing yang ada di dalam saluran napas dan infeksi mikrobiologi. Bronkitis kronik ditandai dengan hipersekresi mukus pada saluran napas besar, hipertropi kelenjar submukosa pada trakea dan bronki. Ditandai juga dengan peningkatan sekresi sel goblet di saluran napas kecil, bronki dan bronkiole, menyebabkan produksi mukus berlebihan, sehingga akan memproduksi sputum yang berlebihan.

3. Patofisiologi

Pada bronkitis terjadi penyempitan saluran pernapasan. Penyempitan ini dapat menyebabkan obstruksi jalan napas dan menimbulkan sesak. Pada bronkitis kronik, disebabkan karena perubahan pada saluran pernapasan kecil, yang diameternya kurang dari 2 mm, menjadi lebih sempit, berkelok-kelok dan kadang-kadang terjadi obliterasi. Penyempitan lumen terjadi juga oleh metaplasia sel goblet. Saluran pernapasan besar juga menyempit karena hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus. Pada penderita bronkitis saat terjadi ekspirasi maksimal, saluran pernapasan bagian bawah paru akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. Hal ini akan mengakibatkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang, sehingga penyebaran udara

pernapasan maupun aliran darah ke alveoli tidak merata. Timbul hipoksia dan sesak napas. Lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah paru dan polisitemia. Terjadi hipertensi pulmonal yang dalam jangka lama dapat menimbulkan kor pulmonal.

Virus dan bakteri biasa masuk melalui port dentre mulut dan hidung dropplet infection yang selanjutnya akan menimbulkan viremia/bakterimia dan gejala atau reaksi tubuh untuk melakukan perlawanan. Alergen Invasi kuman ke jalan nafas Aktivasi IG.E Fenomena infeksi Peningkatan pelepasan histamin Iritasi Mukosa Bronkus Edema mukosa sel goblet memproduksi mukus Penyebaran bakteri/virus ke seluruh tubuh. Bakterimia/viremia

Bersihan jalan nafas tdk efektif Peningkatan akumulasi sekret Peningkatan laju metabolisme tubuh umum. Hipertemi Demam Malaise Batuk produktif Penyempitan jalan nafas Gangg.keseimbangan cairan Intoleran aktivitas Shortness of breath nyeri Gang. Rasa nyaman : nyeri Penggunaan otot nafas tambahan Tidak nafsu makan Nyeri pada retrosternal Gang. Kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan Gang.pola nafas

Patofisiologi bronkitis (Mutaqin, 2008)


E. Manifestasi Klinis

Gejala utama bronkitis adalah timbulnya batuk produktif (berdahak) yang mengeluarkan dahak berwarna putih kekuningan atau hijau. Dalam keadaan normal saluran pernapasan kita memproduksi mukus kira-kira beberapa sendok teh setiap harinya. Apabila saluran pernapasan utama paru (bronkus) meradang, bronkus akan

menghasilkan mukus dalam jumlah yang banyak yang akan memicu timbulnya batuk. Selain itu karena terjadi penyempitan jalan nafas dapat menimbulkan shortness of breath. Menurut Gunadi Santoso dan Makmuri (1994), tanda dan gejala yang ada yaitu :
-

Biasanya tidak demam, walaupun ada tetapi rendah Keadaan umum baik, tidak tampak sakit, tidak sesak Mungkin disertai nasofaringitis atau konjungtivitis Pada paru didapatkan suara napas yang kasar

Menurut Ngastiyah (1997), yang perlu diperhatikan adalah akibat batuk yang lama, yaitu :
-

Batuk siang dan malam terutama pada dini hari yang menyebabkan anak kurang istirahat.

Daya tahan tubuh anak yang menurun. Anoreksia sehingga berat badan anak sukar naik. Kesenangan anak untuk bermain terganggu. Konsentrasi belajar anak menurun. 1. Batuk berdahak. Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya pasien mengalami batuk produktif di pagi hari dan tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau mukoid, jika ada infeksi menjadi purulen atau mukopurulen. 2. Sesak nafas Bila timbul infeksi, sesak napas semakin lama semakin hebat. Terutama pada musim dimana udara dingin dan berkabut. 3. Sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu). 4. Wheezing (mengi).

Saluran napas menyempit dan selama bertahun-tahun terjadi sesak progresif lambat disertai mengi yang semakin hebat pada episode infeksi akut (McPhee, et al., 2003). 5. Pembengkakan pergelangan kaki dan tungkai kiri dan kanan. 6. Wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan. Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek, yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan. Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu (Anonim, 2004).
F. Diagnosis

1. Anamnesis : riwayat penyakit yang ditandai tiga gejala klinis utama (batuk, sputum, sesak) dan faktor-faktor penyebabnya. 2. Pemeriksaan fisik. a. Bila ada keluhan sesak, biasanya akan terdengar ronki pada waktu ekspirasi maupun inspirasi disertai bising mengi. b. Pasien biasanya tampak kurus dengan barrel-shape chest (diameter anteroposterior dada meningkat). c. Iga lebih horizontal dan sudut subkostal bertambah. d. Perkusi dada hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih rendah, pekak jantung berkurang. e. Pada pembesaran jantung kanan, akan terlihat pulsasi di dada kiri bawah di pinggir sternum. f. Pada kor pulmonal terdapat tanda-tanda payah jantung kanan dengan peninggian tekanan vena, hepatomegali, refluks hepato jugular dan edema kaki. 3. Pemeriksaan penunjang. a. Pemeriksaan radiologi.

Ada hal yang perlu diperhatikan yaitu adanya tubular shadow berupa bayangan garis-garis yang paralel keluar dari hilus menuju apeks paru dan corakan paru yang bertambah.

b. Pemeriksaan fungsi paru. Terdapat VEP1 dan KV yang menurun, VR yang bertambah dan KTP yang normal. Sedang KRF sedikit naik atau normal. Diagnosis ini dapat ditegakkan dengan spirometri, yang menunjukkan (VEP) volume ekspirasi paksa dalam 1 detik < 80% dari nilai yang diperkirakan, dan rasio VEP1 : KVP <70% (Rubenstein, et al., 2007). c. Pemeriksaan gas darah. Penderita bronkitis kronik tidak dapat mempertahankan ventilasi dengan baik sehingga PaCO2 naik dan PO2 turun, saturasi hemoglobin menurun dan timbul sianosis, terjadi juga vasokonstriksi pembuluh darah paru dan penambahan eritropoeisis. d. Pemeriksaan EKG. Pemeriksaan ini mencatat ada tidaknya serta perkembangan kor pulmonal (hipertrofi atrium dan ventrikel kanan) (Rubenstein, et al., 2007). e. Pemeriksaan laboratorium darah : hitung sel darah putih.

G. Diagnosis Banding Asma bronkiale Pneumonia TB paru Emfisema

Symptoms

Symptoms of acute bronchitis and pneumonia Acute bronchitis Pneumonia Dry cough at first (does not produce mucus) Cough often brings up mucus from the lungs. Mucus may be rusty or green or tinged with blood.

Cough

After a few days, cough may bring up mucus from the lungs. The mucus may be clear, yellow, or green, and may be tinged with blood. Fever is not present or is mild.

Fever

Fever is often higher than 101F (38.5C). Heart rate faster than 100 beats a minute

X-rays appear normal. Other Usually goes away in 2 to 3 weeks

Breathing faster than 24 breaths a minute Shaking, "teethchattering" chills X-rays do not appear normal. May last longer than 2 to 3 weeks

Sumber http://www.webmd.com/lung/differences-between-acute-bronchitis-and-pneumonia

H. Penatalaksanaan

1. Penyuluhan.

Harus dijelaskan tentang hal-hal mana saja yang dapat memperberat penyakit dan harus dihindari serta bagaimana cara pengobatan yang baik. 2. Pencegahan. Mencegah kebiasaan merokok (dihentikan), menghindari lingkungan polusi, dan dianjurkan vaksinasi untuk mencegah eksaserbasi. 3. Terapi eksaserbasi akut. a. Antibiotik, karena biasanya disertai infeksi. 1. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh H. influenzae dan S. pneumoniae, maka digunakan ampisilin 4 x 0,25-0,5 g/hari atau eritromisin 4 x 0,5 g/hari. 2. Agmentin (amoksisilin dan asam klavulanat) dapat diberikan jika kuman infeksinya adalah H. influenzae dan B. catarhalis yang memproduksi b-laktamase. Pemberian antibiotik seperti kortrimoksasol, amoksisilin, atau doksisiklin pada pasien yang mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat pertumbuhan dan membantu mempercepat kenaikan peak flow rate. Namun hanya dalam 7-10 hari selama periode eksaserbasi. Pemberian moxifloxacin 400 mg sekali sehari aman dan dapat ditoleransi dengan baik, sangat efektif untuk pengobatan enfeksi saluran napas oleh bakteri, terutama bronkitis, pneumonia komunitas dan sinusitis dengan perbaikan gejala yang cepat (Setiawati, et al., 2005). b. Terapi oksigen. Diberikan jika terjadi kegagalan jalan napas karena hiperkapnia dan berkurangnya sensitivitas terhadap CO2. Pemberian oksigen jangka panjang (> 15 jam/hari) meningkatkan angka bertahan hidup pada pasien dengan gagal napas kronis (Rubenstein, et al., 2007). c. Fisioterapi membantu pasien untuk mengeluarkan sputum. d. Bronkodilator.

Untuk mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk di dalamnya adrenergik b dan antikoligernik, dan gejala agonis B, pasien dapat diberikan sulbutamol 5 mg dan atau ipratropium bromida 250 mikrogram diberikan tiap 6 jam dengan nebulizer atau aminofilin 0,25-0,5 g iv secara perlahan. 4. Terapi jangka panjang. a. Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang, ampisilin 4 x 0,25-0,5/hari dapat menurunkan eksaserbasi akut. b. Bronkodilator. Tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran napas tiap pasien, maka sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif dari fungsi faal paru. c. Fisioterapi. d. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik. e. Mukolitik dan ekspektoran. f. Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal napas tipe II dengan PaO2 < 7,3 kPa (55mmHg). g. Rehabilitasi.

Postural drainage, perkusi dan vibrasi dada digunakan untuk mengeluarkan mukus. Untuk memperbaiki efisiensi ventilasi, penderita dapat berlatih napas tipe abdominal dan purse lips. Untuk merehabilitasi fisiknya, kepercayaan terhadap dirinya dan meningkatkan toleransi latihan, dapat dilakukan latihan fisis yang teratur secara bertingkat dan dilatih untuk melakukan pekerjaan secara efisien dengan energi sedikit mungkin.

I.

Komplikasi
infeksi saluran napas berulang

cor pulmonal disebabkan peningkatan tekanan diastolic ventrikel kanan hipertensi pulmonary

Bronchitis akut:
pneumonia dengan factor risiko: orang tua, bayi, perokok, orang dengan gangguan

respirasi kronik atau penyakit jantung


emfisema gagal jantung kanan hipertensi pulmonary

Bronchitis kronik:
hipertensi pulmonary disebabkan oleh karena reflek penutupan arteriol pulmonan

pada daerah hipoventilasi dari paru


gagal jantung kanan (cor pulmonal) merupakan tahap akhir dari gagal jantung

kanan dan penyebab kematian I. Prognosis Penderita yang sebelumnya sehat mempunyai prognosis yang sangat baik, tetapi mereka yang sudah menderita bronchitis kronik sebelumnya, prognosis ditentukan oleh kondisi sebelum terkena infeksi akut ini. Makin jelek kondisi sebelumnya, makin mundurlah prognosisnya. Prognosis jangka pendek maupun jangka panjang bergantung pada umur dan gejala klinisnya. Pada eksaserbasi akut, prognosis baik dengan terapi. Pada pasien bronkitis kronik dan emfisema lanjut dan VEP1 < 1 liter survival rate selama 5-10 tahun mencapai 40%.

DAFTAR PUSTAKA 1. Anonim. 2004. Bronkitis. http://ww.medicastore.com/med. 2007

2. Anonim. 2004. Penyakit Paru Obstruktif Menahun. http://www.medicastore.com/med. 2007 3. Buku Ajar respirologi Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta . 2010.hal.330-332 4. Ed. Nelson, waldo E. dkk. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Vol.2 Ed 15. Jakarta: EGC. Hal. 1483 5. Fahy JV,Dickey BF. Review Artikel Airway Mucus Function andDysfunction. New England of Jurnal Medicine. Vol 363. No.23. Dec 2, 2010. 6. Gonzales R, Sande M. Uncomplicated acute bronchitis.Ann Intern Med 2008;133: 981 991 7. McPhee, S.J., et al. 2003. Pathophysiology of Disease: An Introduction to Clinical Medicine. 4th ed. United State of America : Lange Medical Book McGraw-Hill Companies. 8. Miravitlless, Marc. 2007. Determining Factors in the Prescription of Moxifloxacin in Exacerbations of Chronic Bronchitis in the Primary-Care Setting. http://web.ebscohost.com/ehost. 2007 9. Melbye H, Kongerud J, Vorland L. Reversible airflow limitation in adultswith respiratory infection. Eur Respir J 2009 7:12391245 10. Setiawati, A., Darmansjah, I., and Mangunnegoro, H. 2005. Safety and tolerability of moxifloxacin in the treatment of respiratory tract infections a post-marketing surveillance conducted in Indonesia. Medical Journal of Indonesia. vol.:14, no:1, hlm. 11-19. 11. 12. 13. 14. Qarah, Samer. 2007. Bronchitis. http://www.emedicine.com/med. 2007 Rubenstein, D., et al. 2007. Lecture Notes: Kedokteran Klinis, edisi keenam. Penerbit Sidney S. Braman. Chronic Cough Due to Acute Bronchitis :ACCP Evidence-Based www.webmd.com/lung/differences-between-acute-bronchitis-and-pneumonia

Erlangga. Jakarta Clinical Practice Guidelines. Chest Journal. 2006;129;95S

Anda mungkin juga menyukai