Anda di halaman 1dari 12

IDENTIFIKASI, MORFOLOGI DAN KUNCI DETERMINASI KELAS AVES Devi, Dwi, Cinthya, Shinta, Tri zulistiana ABSTRAK Pratikum

yang berjudul identifikasi, morfologi dan kunci determinasi kelas aves dilaksanakan pada pada hari Senin, 1 dan 8 April 2013, di Laboratorium Taksonomi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi, identifikasi dan kunci determinasi hewan dari kelas aves. Columba livia betina berukuran lebih besar dari yang jantan, memiliki warna leher hitam kebiruan, Columba livia jantan berukuran lebih kecil dari yang betina, memiliki warna leher hitam kehijauan, Stretopelia chinensis memiliki tipe ekor segi empat dan tidak memiliki serra pada pangkal paruhnya, Melopsittacus undulatus betina berukuran lebih besar dari yang jantan dan memiliki corak warna yang lebih sederhana dari yang jantan, Melopsittacus undulatusjantan berukuran lebih kecil dari yang betina dan corak warnanya lebih bervariasi dari yang betina, Lonchura maja berukuran kecil dan warna kakinya keunguan, Burung yang memliki mahkota adalah Niltava grandis, Pycnonotus goiavier, Psilopogon pyrolophus, Lanius tiginus. Key word : identifikasi, morfologi, kunci determinasi, aves. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Menurut Iskandar (1989) jenis-jenis aves di Indonesia ini terdapat 1531 jenis aves, 381 jenis diantaranya adalah endemik. Indonesia merupakan urutan ke empat di dunia dalam keanekaragamn aves setelah Colombia, Peru dimana Sumatra merupakan salah satu pulau yang sangat kaya dengan jenis aves setelah Irian Jaya. Di Sumatra terdapat 464 jenis aves, 138 jenis diantaranya juga dijumpai di kawasan Sunda, 16 jenis burung hanya ditenui di Pulau Jawa dan Sumatra, dan 11 jenis di Kalimantan dan Sumatra. Marleec dan Voos (1988), mengelompokkan burung di sumatera ke dalam dua kelompok besar yaitu Non Passeriformes. Non Passeriformes terdiri dari 210 spesies dengan 29 jenis family, sedangkan Passeriformes terdiri dari 228 spesies dengan 46 famili. Keberagaman jenis aves disebabkan oleh posisi geografis Indonesia yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia merupakan salah satu sebab beragamnya jenis ini . Indonesia yang terletak disekitar garis khatulistiwa khatulistiwa mempunyai iklim tropis. Daerah ini selalu mendapatkan cahaya matahari secara terus menerus sepanjang tahun, baik dimusim kemarau (panas) maupun musim hujan (dingin). Hujan cukup banyak dan hampir merata di seluruh wilayah. Semua ini mengakibatkan adanya alam tumbuhan atau flora dengan rimba rayanya yang selalu menghijau (Redaksi Ensiklopedi Indonesia, 1992). Penyebaran itu didukung oleh kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap berbagai faktor-faktor lingkungan dimana mereka dapat hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang mereka tempati (Bufalloe, 1969). Jasin (1992) menyatakan Kelas Aves menunjukkan kemajuan bila dibandingkan dengan kelas-kelas lain yang mendahuluinya dalam hal tubuh memiliki penutup bersifat isolasi, daerah vena dan arteri terpisah secara sempurna dalam sirkulasi pada jantung, pengaturan suhu tubuh, rata-rata metabolismenya tinggi,

memiliki kemampuan untuk terbang, suaranya berkembang dengan baik dan menjaga anaknya secara khusus. Iskandar (1989) mendefinisikan aves adalah hewan yang memiliki bulu yang indah, suaranya yang merdu, dan tingkah lakunya yang menarik. Hal tersebut membuat adanya minat masyarakat pada burung tinggi, dan sering menjadikannya sebagai binatang peliharaan. Akan tetapi tidak sedikit pula dari beberapa jenis burung yang di percayai sebagai pertanda buruk dan pertanda baik. Bahka dibeberapa daerah aves menjadi sebuah lambang suatu wilayah atau kekuasaan. Aves memiliki kemampuan mobilitas yang tinggi sehingga penyebarannya sangat luas. Aves memiliki kepentingan ekonomi, sebagian dari mereka dapat dijadikan sebagai hewan peliharaan dan hewan ternak yang mana dapat diperdagangkan. Aves juga dapat dijadikan sumber bahan makanan karena mengandung protein yang tinggi. Selain bernilai ekonomi aves juga bernilai ilmiah seperti dijadikan sebagai indikator lingkungan, dan bahan penelitian ilmiah (Jasin, 1992) Aves ini memiliki manfaat yang sangat besar dalam kehidupan kita, sehingga kita diharuskan mengetahui sedikit banyaknya tentang aves. Manfaat aves di antaranya adalah sebagai indikator lingkungan, merupakan sumber protein, sebagai bahan penelitian, sebagai rekreasi, dan banyak lagi. Untuk itu dilakukan praktikum ini agar mahasiswa mengetahui dengan baik tentang burung. 1.2 Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui karakter morfologi, identifikasi dan kunci determinasi hewan dari kelas aves. BAHAN DAN METODE 1. Waktu dan Tempat Praktikum tentang morfologi, identifikasi dan kunci determinasi hewan kelas Aves

dilaksanakan pada hari Senin, 1 dan 8 April 2013, di Laboratorium Taksonomi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang. 2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktikum adalah vernier kaliper, penggaris, dan alatalat tulis. Bahan yang digunakan adalah hewan-hewan kelompok aves seperti : Melopsittacus undulatus, Columba livia, Strepthopelia chinensis, Lonchura maja beserta specimen burung awetan. 3. Cara Kerja Objek diletakkan dibak bedah, diarahkan kepalanya kesebelah kiri, kemudian difoto. Setelah itu dilakukan pengukuran serta perhitungan terhadap karakteristik topografinya seperti : panjang sayap (PS), panjang tarsus (PTA), panjang paruh(PP), panjang ekor (PE), panjang total (PT), lebar paruh (LP), lebar kepala( LK), panjang sayap lengkung(PSL), diameter tarsus (DT), panjang kepala (PK), warna bulu, tipe paruh, warna paruh, tipe kaki, warna kaki, tipe ekor dan diamati juga ada tidaknya serra pada paruh, mahkota pada kepala, bulu sungut dan ciri khas lainnya. Kemudian buat klasifikasi lengkap dan kunci determinasi objek tersebut berdasarkan parameter yang telah diamati dan diukur. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil dan Pembahasan Adapun hasil yang didapatkan pada praktikum yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut: 4.1.1 Columba livia Gmelin 1789 (IUCN, 2013) Columba livia betina memiliki PS 190 mm sedangkan jantannya 250 mm. Pada betina PTA 70 mm dan pada jantannya 24 mm. PP pada betina 20 mm dan pada jantannya 15 mm. PE pada betina 95 mm dan pada jantan 50 mm. PT 270 mm dan pada jantan 200 mm. LP pada betina 5 mm dan pada

jantan 10 mm. LK pada betina 25 mm dan pada jantan 20 mm. PSL pada betina 205 mm, pada jantan 130 mm DT pada betina 8 mm pada jantan 5,8 mm. PK pada betina 60 mm dan pada jantan 60. Warna kepala pada betina hitam keabu-abuan dan pada jantan leher hitam kehijauan. Bulu leher pada betina hitam kebiruan pada jantan hitam kehijauan, warna punggung pada betina dan jantan hitam keabu-abuan, tipe paruh pada seed cracking, warna paruh pada betina dan jantan abu-abu kehitaman, tipe kaki wading, warna kaki merah marun pada betina dan jantannya. Tipe ekornya berbentuk baji. Terdapat serra berwarna putih pada pangkal paruh. Merpati dan dara adalah burung berbadan gempal dengan leher pendek dan paruh ramping pendek dengan cera berair. Spesies yang umumnya dikenal sebagai "merpati" umum digunakan di banyak kota. Dara dan merpati membangun sangkarnya dari ranting dan sisa-sisa lainnya, yang ditempatkan di pepohonan, birai, atau tanah, tergantung spesiesnya. Mereka mengerami satu atau dua telur, dan kedua induknya sangat memedulikan anaknya, yang akan meninggalkan sangkarnya setelah 7 hingga 28 hari. Dara makan biji, buah dan tanaman. Tidak seperti kebanyakan burung lainnya (namun lihat juga flamingo), dara dan merpati menghasilkan "susu tembolok." Kedua jenis kelamin menghasilkan zat bernutrisi tinggi ini untuk memberi makan anaknya. Burung merpati mempunyai Cera yaitu lapisan lemak yang terdapat pada bagian paruhnya yang berfungsi untuk menyaring air ketika terbang dan mempunyai Pigeon Milk yang akan diberikan kepada anaknya (Crome,1991). Columba livia memiliki penyebaran yang sangat terbatas, terutama terbatas pada pulau-pulau Sumatera, Indonesia (seperti Simeulue, Mentawi Kepulauan, Riau dan kepulauan Lingga), dan lepas pantai barat Sarawak, Malaysia dan

Kalimantan, Indonesia (misalnya Karimata dan Kepulauan Natuna, termasuk Burong) (Mackinnon,1991 ). 4.1.2 Streptopelia chinensis Scopoli, 1786 (IUCN, 2013) Streptopelia chinensis memiliki PS 210 mm, PTA 50 mm, PP 10 mm, PE 120 mm, PT 300 mm, LP 4,5 mm, LK 13,2 mm, PSL 105 mm, DT 5,8 mm, PK 50 mm. Warna kepala coklat susu, bulu lehercoklat susu bercorak hitam, warna punggung hitamcoklat susu, tipe paruh seed cracking, warna hitam, tipe kaki perching, warna kaki pink tua, tipe ekornya segi empat dan tidak terdapat serra pada pangkal paruh. Menurut Mackinnon (2000) Streptopelia chinensis berukuran sedang yaitu 30 cm, memiliki warna coklat kemerahjambuan, ekor tampak panjang, bulu ekor terluar memiliki tepian putih tebal. Bulu sayap lebih gelap daripada bulu tubuh, terdapat garis-garis hitam khas pada sisi leher, berbintik-bintik putih halus, iris berwarna jingga, paruh berwarna hitam dan kaki berwarna merah. Streptopelia chinensis yang biasa disebut burung balam atau tekukur merupakan hewan yang dapat dijadikan peliharaan manusia. Burung ini tersebar di seluruh Asia seperti Indonesia (Sumatra, Jawa, dan Bali) dan Australia. Memiliki habitat yang tak jauh dari lingkungan manusia, pedesaan atau perkotaan, burung ini biasa mencari makan di daerah terbuka, sawah, atau ladang. Makanan burung ini yaitu biji tanaman terutama biji beras (MacKinnon, 1991). 4.1.3 Melopsittacus undulatus Shaw, 1805 (IUCN, 2013) Melopsittacus undulatus betina memiliki PSL 80 mm sedangkan jantannya 96 mm. Pada betina PTA 17 mm dan pada jantannya 19,5 mm. PP pada betina 15 mm dan pada jantannya 10 mm. PE pada betina 77 mm dan pada jantan 95 mm. PT pada betina 165 mm dan pada jantan 170 mm. LP pada betina 7,43 mm dan pada

jantan 8,5 mm. LK pada betina 14,74 mm dan pada jantan 28 mm. PS pada betina 60 mm, pada jantan 95 mm DT pada betina 2,7 mm pada jantan 7 mm. PK pada betina 35 mm dan pada jantan 28 mm. Warna kepala pada betina kuning hijau dan pada janta biru muda. Bulu leher pada betina hijau corak hitam pada jantan biru muda bercorak hitam. Warna punggung pada betina hijau dan jantan biru muda. Tipe paruh seed cracking, warna paruh pada jantan dan betina kuning kebu-abuan, tipe kaki perching. Warna kaki pada betina pink keabu-abuan dan pada jantan pink, tipe ekornya berbentuk pointed. Terdapat serra pada pangkal paruh. Melopsittacus undulatus yang biasa disebut dengan burung parkit merupakan burung yang dapat dijadikan hewan peliharaan. Burung ini memiliki warna yang sangat menarik dan bervariasi. Ukuran burung ini rata-rata mencapai 18 cm dengan berat 30-40 gram. Burung ini mempunyai gaya hidup nomaden. Dapat di temukan di daerah yang terbuka, semak belukar, padang rumput atau hutan yang terbuka, burung ini dapat berpindah kemana saja tergantung pada ketersediaan makanan dan air. Makanan burung ini berupa buah-buahan, biji-bijian, sayuran, bahkan gabah beras atau kecambah Leguminosa (Dorst, 1972). Melopsittacus undulatus ini merupakan hewan seksual dimorfisme yang dapat dibedakan antara jantna dan betinanya sehingga daa yang didapatkan juga berebda antara jantan dan betinanya. Sering disebut budgie atau parkit yang berciri-ciri burung dominan hijau dan kuning kecil ekor panjang dengan tanda bergerigi hitam pada sayap dan bahu. Mereka merupakan spesies dominan pemakan biji-bijian. Parkit dapat ditemukan diseluruh bagian-bagian kering di Australia. Rata-rat burung iniberukuran 18 cm, berat 30,40 gram, dahi dan wajah berwarna kuning pada burung dewasa.

Bulu ekor luar berwarna kuning cerah. sayap mereka memiliki bulu berwarna kehijauan-hitam dan bulu hitam dengan pinggiran kuning (Dorst, 1972). 4.1.4 Lonchura maja Linnaeus, 1776 (IUCN, 2013) Lonchura maja memiliki PSL 56 mm, PTA 13,5 mm, PP 13 mm, PE 45 mm, PT 95,5 mm, LP 10 mm, LK 19,7 mm, PS 68 mm, DT 3,5 mm, PK 31 mm. Warna kepala kuning kehijauan, bulu leherhijau bercorak hitam, warna punggung hitam, tipe paruh seed cracking, warna paruh kuning keabuabuan, tipe kaki perching, warna kaki pink keabu-abuan, tipe ekornya pointed dan terdapat serra pada pangkal paruh. Mackinnon (2000), berpendapat bahwa Lonchura maja merupakan burung berukuran kecil yaitu sekitar 11 cm, warna tubuh coklat dan kepala berwarna keputihan, seluruh tenggorokan dan kepalanya berwarna keputihan, iris berwarna coklat, paruh abu-abu dan kaki berwarna biru pucat. 4.1.5 Padda oryzivora Linnaeus, 1758 (www.iucn.org) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 32 mm, LK 38 mm, PP 19 mm, LP 13,6 mm, PS 68 mm, PSL 69 mm, Panjang Tarsus (PT) 15 mm, DT 0,51 mm, PE 38 mm, Tipe Paruh hawfinch, Tipe Ekor rounded, Tipe Cakar petengger, Warna Bulu coklat tua, Warna Paruh Cokelat tua, Warna Kaki cokelat kehitaman. Menurut Kaler (2000) Padda oryzivora atau yang biasa dikenal sebagai burung gelatik identik dengan ciri-ciri bertubuh kecil hingga sedang, memiliki bulu yang berwarna-warni, dan bentuk paruh yang disesuaikan dengan bentuk makanannya yaitu biji-bijian. Senantiasa bertengger di ranting-ranting pepohonan yang tidak begitu tinggi. Burung ini aktif dipadi hari. Biasanya pada pagi hari burung ini sering berkeliaran disekitar lading persawahan disekitar habitatnya.

Padda oryzivora merupakan endemik asli dari pulau Jawa, Bali, dan Madura. Di Indonesia, pesebaran hewan ini sudah meluas. Akan tetapi pada saat ini pesebaran hewan ini justru sulit ditemukan terutama di Pulau Jawa. Kelompok hewan ini sering membuat sarangnya di bawah atap rumah, di lubang-lubang pohon, dan di dalam gua (Brickle, 2012).. 4.1.6 Famili Columbidae Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 20 mm, LK 15 mm, PP 15 mm, LP 10 mm, PS 140 mm, panjang PSL 60 mm, PTA 50 mm, DT 13 mm, panjang ekor PE 80 mm, tipe paruh snipe, tipe ekor squre, tipe cakar petengger, warna bulu hitam dengan corak kuning kehijauan, warna paruh kuning, warna kaki coklat. 4.1.7 Megalaima oorti Muller, 1835 (IUCN, 2013) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 43 mm, LK 19,6 mm, PP 25 mm, LP 5,4 mm, PS 90 mm, PSL 20 mm, PTA 50 mm, DT 3,5 mm, PE 20 mm, tipe paruh golden prover, tipe cakar segenal parot, warna bulu hitam. Hewan ini berukuran kecil sampai sedang, yaitu sekitar 21 cm. Tubuhnya berwarna berwarna hijau dengan kepala berhiaskan warna biru, merah, kuning, dan hitam. Perbedaanya dengan Takur gedang, Megalaima oorti ukuran lebih kecil, alis hitam, pipi biru, tenggorokan kuning, dan bintik merah di atas bahu. Pada individu mudanya berwarna lebih suram. Iris coklat, paruh hitam, kaki berwarna abu-abu kehijauan (Kutilang Indonesia, 2013). Burung ini lebih dikenal masyarakat sebagai takur bukit. Dimana burung ini adalah termasuk tipeburung yang suka berkicau. Habitat burung ini yaitu di tajuk atas dan tengah. Di Sumatera, umum terdapat di hutan pegunungan dan sub-pegunungan di Pegunungan Bukit

Barisan, antara ketinggian 1000-2000 m (Kutilang Indonesia, 2013). 4.1.8 Lanius tiginus Drapiez, 1828 (IUCN, 2013) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK) 42 mm, LK 19 mm, PP 22 mm, LP 13 mm, PS 180 mm, PSL 46 mm, Panjang Tarsus (PT) 145 mm, DT 2,3 mm, PE 70 mm, Tipe Cakar petengger, Warna Kaki abu-abu keunguan. Lanius tiginus atau biasa lebih dikenal oleh masyarakat sebagai bentet loreng ini mempunyai ukuran yang kecil hingga sedang. Ukurannya hanya kira-kira mampu mencapai 19 cm. Mempunyai punggung berwarna merah bata. Mirip Bentet coklat, bedanya paruh nampak lebih tebal, ekor lebih pendek, dan mata lebih besar. Mempunyai mahkota dan tengkuk berwarnaabu-abu. Serta punggung, sayap, dan ekor berwarna coklat, yang disertai dengan garis hitam halus. Mempunyai setrip mata hitam lebar dan tubuh bagian bawah putih, bergaris coklat samar pada sisi tubuh (Kutilang Indonesia, 2013). Pada usia muda, burung ini berwarna coklat-buram. Disertai dengan setrip mata bergaris-garis hitam samar, dan garis alis putih. Bagian tubuh bagian bawah berwarna kuning tua dengan perut dan sisi tubuh bergaris lebih jelas dibandingkan dengan Bentet coklat muda. Mempunyai iris berwarna coklat, dan paruh berwarna biru berujung hitam serta kaki berwarna abu-abu. Pada umumnya burung ini mendatangi pinggiran hutan dan lebih banyak tinggal di dalam hutan pada dataran rendah sampai ketinggian 900 mdpl. Khas jenis-jenis burung Bentet; memburu serangga dari tempat bertengger (Kutilang Indonesia, 2013). 4.1.9 Ducula badia Raffles 1822 (IUCN, 2013) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 40 mm, LK 20 mm, PT

200 mm PP 15 mm, LP 6 mm, Panjang Sayap (PS) 30 mm, PSL) 50 mm, PTA 20 mm, DT 4,5 mm, PE 90 mm, Tipe Paruh crosbill, Tipe Ekor rounded, Tipe Cakar petengger, Warna Bulu coklat kemerahan, Warna Paruh putih gading, Warna Kaki coklat muda. Ducula badia merupakan salah satu golongan burung yang berpostur tubuh sedang sampai besar yaitu kira-kira sekitar 45 cm. Warna kepala, leher, dada, dan perut berwarna abu-abu keunguan dengan dagu dan kerongkongan berwarna putih. Mempunyai mantel dan penutup sayap berwarna merah tua dengan punggung dan pinggul coklat tua keabu-abuan. Ekornya berwarna hitam kecoklatan dengan garis abu-abu lebar pada ujungnya dan penutup bagian bawah kuning tua (Kutilang Indonesia, 2013)/ Menurut Kutilang Indonesia (2013) burung yang dikenal dengan sebutan Pergam gunung biasanya menghuni hutan pegunungan pada rentang ketinggian antara 400-2200 mdpl. Burung ini sering berjelajah ke dataran rendah hingga ke hutan Mangrove hanya untuk mencari makan. Burung ini juga sering dijumpai di daerah pantai, bahkan di kawasan hutan mangrove sedang bermain atau mandi. 4.1.10 Anthracoceros albirostris (McKinnon, 1992) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 190 mm, LK 50 mm, PP 120 mm, LP 25 mm, Tipe Paruh hawfinch. 4.1.11 Pycnonotus nieuwenhuisi Finsch, 1901 (www.avibase.org) Dari praktikum yang telah dilakukan, diketahui nieuwenhuisi memiliki PK 25 mm, LK 25 mm, PP 20 mm, LP 10 mm, PS 90 mm, PSL 80 mm, PTA 20 mm, DT 2 mm, PE 80 mm, PT 150 mm, tipe paruh seed cracking, tipe ekor meruncing, tipe cakar petengger, warna bulu hitam pada bagian dorsal dan kuning terang pada bagian kloaka (batas antara abdomen dan

ekor), warna paruh coklat keabuan, warna kaki coklat, dan warna tarsus coklat terang. Menurut Kutilang Indonesia (2013) hewan kelompok ini biasanya berukuran kecil sampai sedang sekitar berukuran 18 cm. Tubuhnya berwarna hijau zaitun dengan kepala kehitaman. Mempunyai jambul yang pendek, serta kelopak mata berwarna biru yang lunak jika dipegang. Serta ujung ekor yang berwarna putih. Mempunyai iris berwarna coklat, paruh berwarna hitam dan kaki yang berwarna abu-abu. Tipe jarinya pettengger. Hewan kelompok ini juga lebih dikenal sebagai burung yang suka bernanyi. Di Indonesia sendiri lebih dikenal sebagai kelompok burung KutilangPycnonotidae (kutilang) terdiri dari sekitar 140 spesies dan 355 taksa, luas di Asia Selatan, Afrika, Madagaskar dan pulau-pulau di Samudera Hindia barat (Fishfool & Tobias, 2005). Reproduksi hewan kelompok ini sering kali di dataran rendah. Hal tersebut telah dikaji Oleh Liversidge (1970) di Asia dan Afrika. 4.1.12 Ceyx erithacus Linnaeus, 1758 (www.iucn.org) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 25 mm, LK 14 mm, PT 118 mm, PP 33 mm, LP 7 mm, PS 57 mm, PSL 51 mm, PTA 7 mm, DT 1,5 mm, PE 22 mm, Tipe Paruh bitten, Tipe Ekor meruncing, Tipe Cakar petengger, Warna Bulu biru, coklat, kuning, putih, Warna Paruh kuning gading, Warna Kaki kuning dan 4.1.13 Psilopogon pyrolophus Mller, 1835 (www.iucn.org) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 58,5 mm, LK 28 mm, PP 37 mm, LP 23 mm, PS 120 mm, PSL 30 mm, PTA 25 mm, DT 2,7 mm, PE 110 mm, Tipe Paruh howfinch, Tipe Ekor pointed, Warna Bulu hijau kehitaman. Menurut Kutilang Indonesia (2013) kelompok burung ini berukuran sedang

sampai besar, yaitu sekitar 26 cm. Burung yang lebih dikenal sebagai takur apai, mampu mengeluarkan suara yang sangat keras pada saat ingin mendarat. Hewan ini mempunyai cirri tubuh berwarna hijau. Paruh nya yang berwarna krem, serta terdapat pita kuning pada dada yang dibatasi oleh garis hitam dibawahnya. Terdapat seikat rambut jingga terang di atas paruh. Kepala berhiaskan warna hitam, hijau, abu-abu, dan ungu muda. Pada masa remaja nya, burung ini berwarna lebih buram dengan mahkota berwarna hijau zaitun. Iris berwarna coklat, paruh hijaukrem dengan garis tengah hitam, kaki berwarna hijau kekuningan. Kelompok burung ini merupakan penghuni hutan yang pada umumnya berada di ketinggian antara 500-1500 m. Burung ini mencari makan diantara tajuk pohon, dan lebih menyukai hutan yang berpohon tinggi. Hewan ini sering ditemukan sedang bergelantungan pada batang pohon vertikal untuk memetik buah, biji dan bunga untuk dimakan. Duduk diam untuk waktu yang lama di puncak pohon sambil mengeluarkan suara monoton yang keras dan berulang. Warna tubuh yang hijau menyebabkan burung ini tersamar dengan baik ketika berada di tajuk pohon (kutilang Indonesia, 2013). 4.1.14 Pycnonotus eutilosus Jardine dan Selby, 1836 (www.iucn.org) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 60 mm, LK 29,5 mm, PP 35 mm, LP 11 mm, PS 125 mm, PT 135 mm, PSL 125 mm, PTA 34 mm, DT 0,5 mm, PE 168 mm, Tipe Paruh alpinswift, Tipe Ekor pointed, Tipe Cakar petengger, Warna Bulu coklat, Warna Paruh oren, Warna Kaki krem. 4,1.15 Pycnonotus goiavier Scopoli, 1786 (www.avibase.org) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 20 mm, LK 17,5 mm, PP 15 mm, LP 6,1

mm, PS 90 mm, PSL 50 mm, PTA 18 mm, PT 150 mm, DT 2 mm, PE 70 mm, Tipe Paruh seed cracking, Tipe Ekor rounded, Tipe Cakar petengger, Warna Bulu hijau tua, Warna Paruh coklat kehitaman, Warna Kaki coklat kehitaman. Menurut kutilang Indonesia (2013), Pycnonotus goiavier atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sumatera sebagai empuru lelang, mempunyai ukuran kecil sampai sedang sekitar 20 cm. Tubuhnya berwarna coklat dan putih dengan tunggir kuning yang khas. Mempunyai mahkota berwarna coklat gelap, alis putih, kekang hitam. Tubuh bagian atas nya berwarna coklat. Tenggorokan, dada dan perut putih dengan coretan coklat pucat pada sisi lambung. Iris coklat, paruh hitam, kaki abu-abu merah jambu. Hewan ini sering membentuk kelompok. Sering berbaur dengan burung kelompok Pycnonotus lainnya. Berkumpul dan bertengger bersama-sama disuatu tempat. Kelompok hewan ini menyukai habitat terbuka, tumbuhan sekunder, tepi jalan dan kebun sampai ketinggian 1500 mdpl. Serta sering menghabiskan waktu lebih lama untuk makan di atas tanah (Kutilang Indonesia, 2013). 4.1.16 Niltava grandis Blyth, 1842 (www.avibase.org) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 32 mm, LK 18 mm, PP 13 mm, LP 7 mm, PS 100 mm, PSL 40 mm, DT 3 mm, PE 88 mm, Tipe Paruh alpineswift, Tipe Ekor baji, Tipe Cakar petengger, Warna Bulu hitam coklat biru, Warna Paruh coklat silver, Warna Kaki coklat silver. Burung berukuran kecil-sedang dengan ukuran rata-rata berkisar 22 cm, ini mempunyai cirri khas dari luar yaitu berprawakan gelap. Dengan tubuh bagian atas dan mahkota burung jantan berwarna biru, serta dengan setrip pada sisi-leher, bercak pada bahu, dan tunggir berwarna biru-mengilap/metalik. Sedangkan tubuh

bagian bawahnya berwarna hitam. Pada burung betinanya berwarna coklat zaitun dengan corak merah karat, serta dengan mahkota berwarna abu-abu kebiruan, bercak-leher biru muda, dan tenggorokan keputih-putihan (Kutilang Indonesia, 2013). Pada usia muda, burung ini berwarna coklat dengan bintik-bintik putih pada kepala dan bintik-bintik merah karat pada punggung, sedangkan tubuh bagian bawahnya bersisik hitam. Iris berwarna coklat-tua, paruh berwarna hitam, dan kaki berwarna abu-abu. Hewan ini hidup sendirian, menghuni tumbuhan bawah yang rimbun di hutan perbukitan dan pegunungan atau sekitar aliran sungai pada rentang ketinggian antara 900 1500 m.me Meskipun kadang dapat dijumpai sampai ketinggian 2500 m. Makanannya antara lain serangga dan buah-buahan kecil. Sarang berbentuk mangkuk kecil berbahan lumut dan diletakkan diantara bebatuan, pada percabangan pohon atau di cerungk dangkal pada pohon yang mati (Kutilang Indonesia, 2013). 4.1.17 Pycnonotus bimaculatus Muller, 1836 (www.iucn.org) Pycnonotus bimaculatus merupakan burung yang lebih dikenal dengan sebutan daerah sebagai cucak gunung. Burung dengan ukuran sedang sekitar 20 cm, memiliki ciri tubuh berwarna coklat dan putih pada bulunya. Tungging berwarna kuning, kekang dan bintik jingga yang khas di atas mata. Tubuh bagian atas coklat zaitun, tenggorokan dan dada atas coklat kehitaman. Dada bawah berbintik coklat dan putih, Perut putih atau suram. Iris coklat, paruh, dan kaki hitam (Kutilang Indonesia, 2013) Menurut Kutilang (2013) Cucak gunung ini pada umumnya sering dijumpai di gunung-gunung sampai pada ketinggian 800-3000 m. Burung ini menyukai pinggiran hutan dan ruang terbuka di tengah hutan di pegunungan sampai zona

Vaccinium di puncak tertinggi. Burung yang aktif bersuara ini lebih sering sendirian, tidak secara berkelompok. 4.1.18 Macronous ptilosus Jardine & Selby, 1835 (www.avibase.org) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 30 mm, LK 20 mm, PP 35 mm, LP 5 mm, PS 60 mm, PSL 25 mm, PTA 20 mm, DT 10 mm, PE 50 mm, Tipe Paruh golden plover, Tipe Ekor rounded, Tipe Cakar petengger, Warna Paruh coklat kuning, Warna Kaki coklat kuning. 4.1.19 Acrocephalus stentoreus Hemprich dan Ehrnbrg, 1833 (Sibley, 1990) Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapatkan data sebagai berikut: PK 15 mm, LK 11 mm, PP 12 mm, LP 5 mm, PS 61 mm, PSL 56 mm, PT 22 mm, DT 2 mm, PE 58 mm, Tipe Paruh golden plover, Tipe Ekor rounded, Tipe Cakar petengger, Warna Bulu putih coklat. Menurut Kutilang Indonesia (2013) burung yang termasuk kedalam golongan burung pengicau ini berukuran kecil sampai sedang, sekitar 18 cm. Mempunyai warna tubuh berwarna coklat dengan ekor memanjang, dan alis mata keputih-putihan. Tubuh bagian atas berwarna coklat zaitun seragam. Sedangkan tubuh bagian bawahnya berwarna keputih-putihan dengan sisi tubuh dan ekor penutup bawah berwarna kuning tua. Irisnya berwarna coklat, dengan paruh dan kaki berwarna coklat keabu-abuan. Burung ini biasanya tinggal sendirian atau berpasangan pada buluhbuluh atau vegetasi lain yang dekat tanah. Menghuni badan rawa, di daerah perairan payau berbuluh, sawah dekat rawa alang, dan hutan mangrove. Burung ini bergantung pada batang buluh ketika bertengger. Burung ini mampu menggembungkan bulu di tenggorkan sewaktu bernyanyi. Umumnya burung ini sering bersuara di malam hari (Kutilang Indonesia, 2013).

Tabel 1. Klasifikasi hewan dari kelas aves


KINGDO M Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a Animali a FILUM Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta Chorda ta KEL AS Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves Aves ORDO FAMILY GENUS Columba Streptopeli a Melopsittac us Lonchura Padda SPESIES

Columbriformes Columbidae Columbriformes Columbidae Psittaciformes Passeriformes Passeriformes Columbiformes Perciformes Passeriformes
Columbriform es

Psittacidae Estrildidae Estrildidae Columbidae

Columba livia Streptopelia chinensis Melopsittacus undulatus Lonchura maja Padda oryzivora Megalaima oorti Lanius tiginus Ducula badia Anthracocero s albirostris Pycnonotus nieuwenhuisi Ceyx erithacus Psilopogon pyrolophus Pycnonotus eutilosus Pycnonotus goiavier Niltava grandis Pycnonotus bimaculatus Macronous ptilosus Acrocephalus stentoreus

Ramphastidae Megalaima Laniidae Columbidae Bucerotidae Pcynonotidae Alcedinidae


Lanius Ducula Anthracoce ros Pycnonotus Ceyx

Coraciiformes Passeriformes Coraciiformes Piciformes Passeriformes Passeriformes Passeriformes Passeriformes Passeriformes Cuculiformes

Ramphastidae Psilopogon Pcynonotidae Pcynonotidae Muscicapidae Pycnonotidae Timaliidae Cuculidae


Pycnonotus Pycnonotus Niltava Pycnonotu Macronou Acrocephal us

Gambar 1. Columba livia

Gambar 2. Streptopelia chinensis

Gambar 3. Melopsittacus Undulates

Gambar 4. Lonchura maja

Gambar 5. Padda oryzivora

Gambar 6. Famili Columbidae

Gambar 7. Megalaima oorti

Gambar 8. Lanius tiginus

Gambar 9. Ducula badia

Gambar 10. Anthracoceros Albirostris

Gambar 11. Pycnonotus nieuwenhuisi

Gambar 12. Ceyx erithacus

Gambar 13. Psilopogon pyrolophus

Gambar 14. Pycnonotus eutilosus

Gambar 15. Pycnonotus goiavier

Gambar 16. Niltava grandis

Gambar 17. Pycnonotus Bimaculatus

Gambar 18. Macronous ptilosus

Gambar 19. Acrocephalus stentoreus KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakdsanakan maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Columba livia betina berukuran lebih besar dari yang jantan, memiliki warna leher hitam kebiruan. 2. Columba livia jantan berukuran lebih kecil dari yang betina, memiliki warna leher hiatam kehijauan. 3. Stretopelia chinensis memiliki tipe ekor segi empat dan tidak memiliki serra pada pangkal paruhnya. 4. Melopsittacus undulatus betina berukuran lebih besar dari yang jantan dan memiliki corak warna yang lebih sederhana dari yang jantan 5. Melopsittacus undulates jantan berukuran lebih kecil dari yang betina dan corak warnanya lebih bervariasi dari yang betina. 6. Lonchura maja berukuran kecil dan warna kakinya keunguan. 7. Burung yang memliki mahkota adalah Niltava grandis, Pycnonotus goiavier, Psilopogon pyrolophus, Lanius tiginus. 2. Saran Dalam melaksanakan praktikum kali ini dilaksanakan kepada praktikan untuk lebih teliti dan cermat dalam pemilihan objek. Dalam melakukan pengukuran juga harus lebih teliti agar hasil yang didapatkan lebih akurat. DAFTAR PUSTAKA Buffalo, N.P.1968. Animal and Plant Diversity. Prentice-Hall. Eglewoo Cliffs: New Jersey

Crome,

Francis H.J. 1991. Forshaw, Joseph. ed. Encyclopaedia of Animals: Birds. London: Merehurst Press Djuhanda, T. 1983. Analisa Struktur Vertebrata Jilid I. Armico. Bandung. Dorst, J. 1972. The Life of Birds. Vol. II. Weidentifild and Nicolson : London Fishfool, L.D.C. & J.A. Tobias (2005). Family
Pycnonotidae (bulbuls), pp. 124253. In: del Hoyo, J., A. Eliott & D.A. Christie (eds.). Handbook of the Birds of the World. Vol. 10, Lynx Edicions, Barcelona, 896pp.

Bruce Campbell Luck. England. www.IUCN.org www.avibase.orgo www.kutilang.or.id

and

Elizabeth

Iskandar, J. 1989. Jenis Burung yang Umum di Indonesia. Djambatan : Jakarta Jarulis. 2001. Fauna Burung gi Taman Kota dan Jalur Hijau Kota Madya Padang. Unand : Padang Jasin, M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Sinar Wijaya : Suarabaya Liversidge, R. (1970). The Ecological Life
History of the Cape Bulbul. PhD Thesis. University of Cape Town, Cape Town, South Africa.

Mackinnon, J, K. Philiphs dan S.V. Balen. 2000. Burung-burung di Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. LIPI dan Bird Life IP : Bogor Mackinnon, Jhon.1991. Burung-burung di Jawa dan Bali. UGM Press : Yogyakarta Marleec, J. K dan K. H. Voous. 1988. The Birds of Sumatera Bov Check List no 10. Mukayat, D.B. 1990. Zoology Dasar. Erlangga. Jakarta Novarino, W, Jarulis. 2009. Penuntun Praktikum Taksonomi Hewan Vertebrata. Universitas Andalas : Padang Kaler, S.K., 2000. Filogeografi Intraspesies Gelatik (Padda oryzivora L) di Pulau Bali. Disertasi IPB : Bogor The British Ornithologist Union. 1985. A Dictionary of Birds. Edited by