Anda di halaman 1dari 68

6.

Rancangan Peledakan Bawah Tanah

Pendahuluan
Peledakan bawah tanah vs. peledakan jenjang: Satu bidang bebas konsumsi BP yang lebih besar dibandingkan dengan peledakan permukaan Faktor lingkungan gas beracun Kecilnya burden pada bagian CUT sympathetic detonation BP dengan VOD tinggi, untuk menghindari channel effects ketika diameter BP lebih kecil dari lubang tembak Bahan peledak pada bagian LIFTER harus tahan air CONTOUR perlu smooth blasting

Pendahuluan (cont.)

Peledakan permukaan

Pendahuluan (cont.)
Peledakan bawah tanah mempunyai beberapa tujuan yaitu: 1. Meledakkan batuan dengan tujuan menghasilkan ruangan (development), untuk : gudang, jalan, saluran, terowongan pipa, dan lubang bukaan. 2. Meledakkan batuan dengan tujuan mengambil material (production): operasi penambangan.

Pendahuluan (cont.)

Pendahuluan (cont.)
Fragment Blast damage Stand up time lubang development lebih lama dibandingkan dengan lubang produksi Fragmentation Ukuran fragmen optimum yang berhubungan dengan nilai ekonomi keseluruhan tambang Blast damage

Pembagian Area

Look Out

B = 10 cm + 3 cm/m X Kedalaman lubang

CUT
Jenis-jenis cut (Langefors & Kihlstrm, 1978) Fan cut V-cut Instantaneous cuts Parallel hole cuts Pemilihan memperhatikan: Lebar terowongan Pemboran menyudut (angled)

Fan Cut

V-Cut

Instantaneous cuts

Parallel hole cuts

Faktor Batuan, c
Co = 0.3 C = 1.2Co = 0.36

Misal, 4 m terlempar ulangi dengan mereduksi muatan ==


20% kelebiihan muatan

Faktor Batuan, c
C = 0.2 C = 0.4 C=1

UCS? UTS? Impedance?

Gypsum

Soft limestone

Soft sandstone Hard limestone

Soft Granite Quartz

Granite

Persson, Holmberg, Lee

Perhitungan (cuts)
Tentukan diameter lubang kosong
A2 B2

Buat 1st cut


Buat 2nd cut dan dst

A1
B1

Perhitungan (1st Cut)


1. 2. 3. Tentukan kemajuan, I Tentukan kedalaman pemboran (95%), H Tentukan diameter lubang kosong H = 0.15 + 34.1 39.42 Bila tidak tersedia lubang tembak besar, dapat digantikan beberapa (n) lubang diameter kecil d = /n0.5 Tentukan konsentrasi muatan BP, l l ANFO? Tentukan burden pertama, B1 l = 55d [(B1/)1.5 (B1-/2)(c/0.4)]/WSRANFO

4. 5.

Perhitungan (1st Cut)


6. 7. Tentukan bagian tidak diisi BP, hs hs = 10 d End

Perhitungan (2nd Cut dst)


1. 2. Tentukan lebar bukaan pertama, A1 A1 = 20.5 B1 Tentukan burden kedua, B2 B2 = 8.8 x 10-2 [(A1 l WSRANFO)0.5]/ d c

3. Tentukan bagian tidak diisi BP, hs hs = 10 d 4. Sub End 5. Ulangi butir 1 sd. 3 untuk menghitung 3rd Cut dan seterusnya sampai lebar bukaan cut tidak melebihi akar kemajuan (=I0.5) 6. End

Perhitungan (Lifters)
1. Tentukan faktor batuan terkoreksi, c c = c + 0.05 B>1.4 c = c + 0.07/B B<1.4 Tentukan burden, B B = 0.9 (l WSRANFO/1.45 c)0.5 Tentukan spasi, S S=B Tentukan bagian tidak diisi BP, hs hs = 10 d Tentukan jumlah lubang tembak, n GAMBAR End

2. 3. 3. 4. 5.

Perhitungan (Stoping)
1. Tentukan faktor batuan terkoreksi, c c = c + 0.05 B>1.4 c = c + 0.07/B B<1.4 2. Tentukan burden, B B = 0.9 (l WSRANFO/1.45 c)0.5 Upward B = 0.9 (l WSRANFO/1.20 c)0.5 Horiz, Downward 3. Tentukan spasi, S S = 1.25 B 3. Tentukan bagian tidak diisi BP, hs hs = 10 d 4. Tentukan jumlah lubang tembak, n GAMBAR 5. End

Perhitungan (Contours)
Bila normal, aturan sama dengan stoping down Bila smooth blasting, maka aturannya sbb: 1. Tentukan spasi, S S = (15-16) d 2. Tentukan burden, B B = S/0.8 3. Tentukan konsentrasi muatan, l l = 90 d2 4. 5. Lubang tembak diisi bahan peledak (seluruhnya) End

Jenis lubang Jumlah Muatan Total lubang per lubang muatan


1st cut 2nd cut 3rd-4th cut Lifters Roof Wall Stoping 4 4 8 5 8 6 5 1.59 2.62 3.76 3.20 1.77 3.20 3.20 6.37 10.48 29.36 16.00 14.16 19.20 16.00 111.6 kg 19.5 m2 3.0 m 1.9 kg/m3 40 3.2 m 2.2 m/m3

Total muatan Luas bukaan Kemajuan Specific charge Jumlah lubang Kedalaman lubang Specific drilling

Stig O. Olofsson
Swedish Technique

Faktor Perencanaan Cut


diameter lubang besar (kosong) burden charge concentration ketepatan pemboran, terutama untuk lubanglubang ledak paling dekat dengan lubang besar/kosong

DIAMETER LUBANG KOSONG


Bila menggunakan beberapa lubang kosong, hitung dahulu diameter lubang samaran (fictious diameter )

D = dn
D = diameter lubang samaran d = diameter lubang kosong n = jumlah lubang

Perhitungan
Agar peledakan berhasil dengan baik (cleaned blast), jarak antara lubang ledak dengan lubang kosong, tidak boleh lebih besar daripada 1,5 lubang kosong. Apabila jaraknya lebih besar hanya akan menimbulkan kerusakan (breakage) dan jika jaraknya terlalu dekat ada kemungkinan lubang ledak bertemu dengan lubang besar kosong

Kemajuan Per Round

Jarak lubang tembak ke lubang kosong


a = 1,5 a = jarak antara titik pusat lingkaran lubang besar dengan lubang tembak b = diameter lubang besar Jika gunakan beberapa lubang kosong, a = 1,5 D D = diameter samaran

Waktu tunda: Hole depth 4 m Clean Blast 60 100 ms Stoping 100 500 ms Antar cut utk V > 50 ms

a < 1,5 lubang kosong cleaned blast a > 1,5 - kerusakan breakage a << 1,5 - lubang ledak bertemu lubang kosong

Pemuatan Lubang Tembak Dalam Bujursangkar Pertama


Muatan BP (charge concentration) sedikit batuan tidak akan terbongkar. Muatan BP banyak tidak akan terjadi blow out melalui lubang kosong sehingga terjadi pemadatan kembali batuan yang telah terpecahkan dan efisiensi kemajuan rendah. Kebutuhan muatan BP untuk berbagai jarak C-C (pusat ke pusat) antara lubang kosong dan lubang tembak terdekat dapat dihitung menggunakan grafik berikut

Muatan BP Fungsi Jarak Pusat Pusat Lubang Untuk Berbagai Diameter Lubang

Perhitungan u/ bujursangkar selanjutnya


Perhitungan bujursangkar dalam cut yang tersisa sama dengan bujursangkar pertama. Peledakan pada bujursangkar sisa mengarah ke bukaan segiempat bukan bukaan sirkular. Sudut ledakan (angle of break) jangan terlalu kecil. Dalam perhitungan burden (B) sama dengan lebar (W) dari bukaan: B=W Dengan grafik perkirakan muatan bahan peledak minimum dan burden maksimum untuk bermacam-macam lebar bukaan. Muatan bahan peledak ini adalah muatan untuk semua kolom lubang tembak. Apabila diperlukan peledakan pada bagian dasar yang susah diledakkan (constricted bottom) harus digunakan muatan dasar yang besarnya dua kali charge concentration (lc) dan tingginya 1,5 B.

Muatan Fungsi Burden Maksimum Untuk Berbagai Lebar Bukaan

Stemming Cut

Panjang kolom lubang bor yang tidak diisi bahan peledak. ho = 0,5 B

Perhitungan berikut utk lubang tembak 38 mm

Merencanakan Cut
Bujursangkar I a = 1,5 W1 = a 2
mm 76 89 102 127 159

a mm
W1 mm

110
150

130
180

150
210

190
270

230
320

Bujursangkar II B1 = W1 C C = 1,5 W1 W2 = 1,5 W1 2

mm W1 mm

76 150

89 180

102 210

127 270

159 320

C-C mm
W2 mm

225
320

270
380

310
440

400
560

480
670

Merencanakan Cut
Bujursangkar III B2 = W2 C C = 1,5 W2 W3 = 1,5 W2 2
mm 76 89 102 127 159

W2 mm
CC W3 mm

320
480 670

380
570 800

440
660 930

560
840 1.180

670
1.000 1.400

Bujursangkar IV B3 = W 3 C C = 1,5 W3 W4 = 1,5 W3 2

mm W3 mm

76 320

89 380

102 440

127 560

159 670

CC
W4 mm

480
670

570
800

660
930

840
1.180

1.000
1.400

Geometri Bujursangkar

Round Stoping

Lubang lantai (floor holes) Lubang dinding (wall holes) Lubang atap (roof holes) Lubang stoping arah pemecahan ke atas dan horisontal Lubang stoping arah pemecahan ke bawah Untuk menghitung burden (B) dan muatan untuk bermacam-macam bagian dari round dapat dipakai grafik berikut

Burden Fungsi Muatan BP Pada Berbagai f Lubang Tembak & Jenis BP

Geometri Pemboran & Peledakan Round - Normal Profile Blasting


Charge concentration

Part of time round


Floor Wall Roof Stoping : Upwards

Burden (m)
1xB 0.9 x B 0.9 x B

Spacing (m)
1.1 x B 1.1 x B 1.1 x B

Height bottom charge (m)


1/3 x H 1/6 x H 1/6 x H

Bottom (kg/m) lb lb lb

(Column) (kg/m) 1.0 x lb 0.4 x lb 0.3 x lb

Stemming (m)
0.2 x B 0.5 x B 0.5 x B

1xB

1.1 x B

1/3 x H

lb

0.5 x lb

0.5 x B

Horisontal
Downwards

1xB
1xB

1.1 x B
1.2 x B

1/3 x H
1/3 x H

lb
lb

0.5 x lb
0.5 x lb

0.5 x B
0.5 x B

Kontur Terowongan
Lubang lantai Lubang dinding Lubang atap B & S lubang lantai = B & S lubang stoping lb Lubang lantai > lb lubang stoping untuk mengimbangi gaya gravitasi & massa batuan yg terisi dari round Cara peledakan lubang dinding & lubang atap: normal profile blasting & smooth blasting

Jumlah Lubang

Check Recheck!

Sumber: USACE, 1997

Specific Charge

Check Recheck!

Sumber: USACE, 1997

Pola Penyalaan
Di dalam daerah cut waktu tunda antara lubang-lubang harus cukup panjang, sehingga memberi waktu untuk memecah dan melemparkan batuan melalui lubang kosong yang sempit. Batuan bergerak dengan kecepatan antara 40 - 60 meter per detik. Suatu cut yang dibor dengan kedalaman 4 meter akan membutuhkan waktu tunda 60 - 100 mili detik agar terjadi peledakan yang baik (cleaned blast). Waktu tunda yang biasa dipakai adalah 75 - 100 mili detik.

Pola Penyalaan (cont.)


Dalam dua bujursangkar yang pertama hanya dipakai satu detonator untuk setiap waktu tunda. Dalam dua bujursangkar selanjutnya boleh dipakai dua detonator untuk setiap waktu tunda. Di daerah stoping waktu tunda harus cukup panjang untuk memberi waktu terhadap gerakan batuan. Waktu tunda yang umum dipakai adalah 100 - 500 mili detik. Untuk lubang kontur perbedaan waktu tunda di antara lubang-lubang harus sekecil mungkin supaya dapat dihasilkan efek peledakan yang rata.

Pola Penyalaan (cont.)

Exercise
Apa yang terjadi bila jumlah lubang/muatan terlalu banyak?

Blast Damage
Setelah pembongkaran, masa batuan (remaining rock mass) adalah struktur yang diharapkan stabil untuk jangka waktu lama Peledakan harus digunakan untuk meminimasi kerusakan masa batuan. Semakin lemah masa batuan, maka semakin hati-hati peledakan seharusnya dilaksanakan. Kerusakan masa batuan akan menyebabkan penurunan kekuatan massa batuan, mengurangi stand up time, bertambahnya aktivitas ground support, dll

Blast Damage (cont.)

Overbreak Extend

Excavation Damaged Zone


Penggalian terowongan menggunakan peledakan menghasilkan fragmen dalam volume tertentu yang tidak boleh melebihi batas rencana Deviasi perimeter ke bagian luar dan dalam batas penggalian : overbreak dan underbreak Faktor-faktor yang mempengarhui besarnya Excavation Damaged Zone (EDZ) sederhananya dikelompokan menjadi dua, yaitu karakteristik massa batuan (faktor geologi) dan bahan peledak (faktor peledakan)

EDZ (cont.)

Pengukuran EDZ
Tiga metode pengukuran excavation profiles

1.Manual surveying
2.Laser surveying 3.Photographic light sectioning method (LSM).

Prinsip pengukuran adalah memproyeksikan sinar ke perimeter bukaan terowongan, sehingga sinar memotong batas perimeter. Gambar perimeter disimpan dalam bentuk digital untuk dianalisis selanjutnya.

Pengukuran EDZ

O U

Pengukuran EDZ
PPF = (Pe.Ee)/Vrp Pe: Jumlah muatan bahan peledak pada bagian perimeter (kg). Ee: Unit explosive energy (kcal/kg)

Vrp: Volume batuan yang terbongkar (m3)


PPF digunakan (bukan powder faktor) karena EDZ lebih diakibatkan oleh bahan peledak berada dekat dengan perimeter dibandingkan dengan bagian tengah (Holmberg, 1979)

Pengukuran EDZ
EDZo = (-a + b.PPF c.log Q)/100
EDZu = (a b.PPF + c.log Q)/100

EDZo : Damage for Overbreak (index) EDZu : Damage for Underbreak (index)

a, b, c, a, b, c adalah koefisien yang nilainya diperoleh berdasarkan regresi hubungan antara karekteristik massa batuan (Q) dan PPF dengan overbreak dan underbreak yang terobservasi.

Rock Tunnelling Quality Index, Q

Bieniawski (1989)

Contoh 1

Contoh 2
During the site visit, it has been observed that CSD has modified the drilling pattern from 66 x 45 mm hole and 4 x 100 mm hole to 55 x 45 mm hole and 3 x 100 mm hole. However, it has been experienced during the site visit that the ground vibration felt at Petrosea Office was still somewhat high. This strong vibration could produce a degradation of rock mass strength and, it could be not possible, cracking of the shotcrete. In addition, a number of overbreaks were also encountered and much fine materials were also found in the blasted rock. It would be of worth for CSD to reduce the number of blastholes, for the shake of lower ground vibration, minimum deterioration of surrounding rock mass, and shorter drilling time.

Contoh 2 (cont.)
PF = e
0.04(Q-2)

Contoh 3

Terima Kasih