Anda di halaman 1dari 35

MEMBANGUN DENGAN G E M B I R A

GERAKAN MEMBANGUN BERBASIS INISIATIF RAKYAT

POKOK-POKOK PIKIRAN PROGRAM PEMBANGUNAN KABUPATEN SIKKA LIMA TAHUNAN 2003 2008

O L E H 1. DRS. ALEXANDER LONGGINUS 2. DRS. YOS ANSAR RERA

SEBUAH ACUAN RENCANA STRATEGI KABUPATEN SIKKA 2003 - 2008

BAB I
1

P EN D A H U L U A N

A.

POKOK PIKIRAN DAN ARGUMENTASI: erakan reformasi dan demokratisasi di Indonesia yang telah bergulir dan dilaksnakan saat ini adalah reaksi dan perlawanan terhadap sistim politik dan kebijakan

pembangunan Orde Baru yang sentralistik, represif dan cenderung korup. Setelah pemerintahan Orde Lama yang lebih berorientasi kepada pembangunan politik dengan slogan politik adalah panglima, telah membawa dampak kehidupan pemerintahan dan demokrasi yang sangat labil, terbukti dari kejatuhan Kabinet yang tak terkendali. Sementara itu penanganan ekonomi tidak menjadi perhatian serius, sehingga berkembang seadanya saja. Pemerintahan Orde Baru justru membalikannya. Pembangunan ekonomi adalah yang utama, sedangkan politik cukup dijalankan oleh segelintir politisi dan elit penguasa, atau dengan slogan Politick No, ekonomi Yes. Hasilnya, justru terjadi ketimpangan social ekonomi yang maha luas, antara segelintir orang yang kaya raya dengan sebagaian masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) membelenggu dan merusak mental birokrasi pemerintahan. Kebebasan masyarakat dirampas oleh Negara. HAM diinjakinjak atas nama stabilitas Negara. Demokrasi dilumpuhkan karena masyarakat dianggap tidak mampu melaksanakannya. Penguasa Orde Baru mengadopsi ideologi pembangunan sentralistik (developmentalism), dan melaksanakan dengan ketat. Proses pembangunan masyarakat dari Sabang sampai Merauke, dinilai dengan indikator-indikator makro ekonomi yang ditetapkan secara sentralistik pula dan diberlakukan secara pukul rata ke seluruh Indonesia. Kebijakan ini mendorong pemerintah daerah bersama-sama dengan birokrasinya berusaha sedapat mungkin memenuhi tuntutan pusat, karena dengan demikian dianggap sukses tetapi ketergantungan menjadi lebih tinggi. Bersamaan dengan itu, masyarakat daerah makin terasing dari pembangunan dan justru makin terpinggirkan karena pembangunan itu sendiri. Tetapi, itu bukan masalah karena bukan masyarakat di daerah yang menentukan pemerintahan daerahnya sukses atau tidak. Model pembangunan ekonomi Orde Baru berdasarkan pemikiran teori ekonomi klasik mensyaratkan sentralisme dalam perencanaan, pelaksanaan dan kontrol. Selain itu, negara hanya menyokong sekelompok kecil orang sebagai pemegang kendali pembangunan ekonomi, yaitu dengan memberikan fasilitas bahkan tanpa kontrol, sehingga sekelompok orang tersebut menjadi raksasa ekonomi. Harapan awal kebijakan ini adalah bahwa sekelompok kecil orang tersebut dapat menciptakan multiplier effect bagi masyarakat luas sebagai dampak dari pendekatan kebijakan yang disebut trickle down effect (efek penetesan ke bawah, Supriatna 2000).
2

Hasilnya justru terbalik dari yang dicita-citakan. Segelintir orang memang menjadi kaya raya karena disokong oleh Negara. Mereka mengeruk sebagian besar uang rakyat untuk menumpuk kekeyayaan, dan masyarakat makin miskin dan tak berdaya. Sementara itu sebagian pejabat pemerintah yang bertugas mensejahterakan masyarakat justru terlibat-KKN, termasuk dengan segelintir orang kaya yang tadinya diberi fasilitas yang dibiayai dengan uang rakyat. Gerakan reformasi berusaha mengoreksi semua penyelewengan dan penyalagunaan wewenang serta pengelolaan kekayaan Negara dan uang rakyat selama pemerintahan Orde Baru berkuasa. Reformasi menuntut agar penyelenggaraan Negara dikembalikan kepada citacita sesuai aturan dan kebijakan yang sudah ditetapkan terutama sebagai Negara demokrasi. Sejalan dengan itu masyarakat diberi hak dan kebebasan untuk ikut serta didalam proses pengambilan kebijakan, menjalankan dan ikut serta pula dalam kebijakan pemanfaatannya. Selanjutan, didaerah-daerah pemerintah dan masyarakat diberi kebebasan dan wewenang mengurus rumah tangga daerahnya sendiri, sehingga mereka bertanggung jawab dan merasa memiliki. Sudah tidak relefan lagi masyarakat di daerah dianggap tidak sanggup mengurus dirinya sendiri. Reformasi juga menuntut pemberantasan KKN, Penghormatan terhadap HAM dan demokrasi, tidak mengkontradiksikan politik dan ekonomi sehingga memaksa kita memilih salah satu di antaranya. Reformasi hanya mendorong terwujudnya otonomi masyarakat, kebebasan berekspresi dan berkreatifitas, dan terwujudnya Pemerintahan yang bersih dan accountable, dengan mengembalikan sistem Demokrasi atau mengembalikan kedaulatan di tangan rakyat dalam proses pembangunan. Salah satu perwujudan reformasi di bidang Pemerintahan adalah kebijakan otonomi daerah, yang dimaksudkan adalah pemerintah dan masyarakat di daerah secara bersama menentukan sendiri kebijakan dan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sesuai kebutuhan dan kondisi mereka. Kebijakan otonomi daerah juga berarti pengakuan terhadap prinsip kedaulatan berada di tangan rakyat, kata lain dari demokrasi. Inilah capaian penting dari reformasi di Indonesia, yang kemudian dikuatkan dengan lahirnya UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan UU NO. 25 mengenai perimbangan keuangan pusat dan daerah yang sejak 1 Januari 2001 sudah mulai diimplementasikan. Permasalahannya adalah bagaimana kita mengejawantakan prinsip dan tujuan dari kebijakan otonomi daerah itu dalam konteks local masyarakat Sikka dan menjadikannya sebagai prinsipprinsip dasar penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Menurut kami, prinsip pokok pertama adalah meningkatkan partisipasi masyarakat. Untuk maksud tersebut, pemerintah sebagai penyelenggara yang bertanggung jawab, terlebih dahulu harus membenah diri, membenah perangkat dan mekanisme sistemnya agar proses penyelengaraan pembangunan dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Sementara itu posisi
3

masyarakat dalam tatanan kehidupan demokrasi, boleh dikatakan

dinamikanya semakin

meningkatdan cukup potensial untuk berkembang baik secara kuantitas maupun kualitas. Semua ini adalah hasil dan dampak positif dari reformasi. Kita patut bersyukur karena masyarakat Sikka dapat merespon dan memberi isi terhadap reformasi. Persoalan sekarang adalah bagaimana pemerintah daerah dan DPRD merumuskan sistim dan pola kebijakan yang tepat agar dinamika aspirasi masyarakat ini bermanfaat bagi pembangunan masyarakat itu sendiri. Ada beberapa hal yang menurut hemat kami perlu dikembangkan agar dinamika partisipasi ini bermanfaat untuk pengembangan demokrasi dan pembangunan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Pertama, aspirasi masyarakat setidaknya harus dijadikan sebagai acuan perumusan kebijakan politik dan pembangunan serta dijadikan sebagai salah satu pola baku kontrol pelaksanaan kebijakan atau program tersebut. Ini berarti, perlu komitmen dan kemauan yang ikhlas untuk menata ulang pola perencanaan pembangunan yang benar-benar sinkron antara kebutuhan prioritas masyarakat serta missi tugas dan fungsi pelayanan dari Unit Dinas/ Satuan kerja pemerintah daerah. Sementara itu pengawasan teknis oleh Unit kerja pemerintah serta masyarakat harus proporsional dan maksimal, sehingga kualitas dan out put yang dicapai memadai. Pengalaman saat ini menunjukan bahwa koordinasi dan sinkronisasi perencanaan dan pelaksanaan berbagai program pembangunan melalui mekanisme yang ada ternyata masih benrjalan sendiri-sendiri bahkan kebutuhan prioritas masyarakat sering tidak tertampung dalam berbagai program yang dilaksanakan pemerintah. Masyarakat sering mempersoalkan program pembangunan yang dilaksanakan di wilayahnya ternyata diluar dari yang prioritaskan dan diluar perencanaannya. Sehingga sering kali mereka hanya menjadfi penonton dan pada giliranya mereka tidak merasa memiliki. Kedua, pemerintah menfasilitasi dan mendorong berbagai bentuk asosiasi gerakan masyarakat (Civil Society), seperti koperasi, LSM, perkumpulan, dll melalui kerja sama atau bantuan teknis lainnya untuk mengembangkan partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan, seperti pendidikan, ekonomi skala kecil, dan berbagai bentuk pengembangan otonomi masyarakat lainnya. Masih berkaitan dengan partisipasi masyarakat adalah bagaimana menjadikan masyarakat sebagai subyek yang mandiri/otonom. Menjadikan masyarakat subyek yang otonom berarti, pertama-tama merubah cara pandang kita sendiri sebagai penyelenggara pemerintahan. Pemerintah semestinya tidak lagi melihat masyarakat hanya sebagai obyek pembangunan fisik yang dianggap miskin, bodoh atau pun tidak mau maju dan berkembang. Bahwa masyarakat itu tidak memiliki potensi sumberdaya yang memadai dan peluang mengelolanya pun terbatas, termasuk skill untuk mencapai kemajuan dalam berbagai bidang. Tidak berarti kesempatan dan peluang mengelolanya pun menjadi terbatas. Persoalannya,
4

selama ini kita terjebak dalam ambisi membangun yang fisik untuk kebutuhan praktis pragmatis, lalu kita tinggalkan yang strategis sprituil untuk kemanusiaan manusia. Pendekatannya bersifat top down, dimana keterlibatan masyarakat menjadi sangat terbatas termasuk proses pengambilan keputusan dan perencanaannya sendiri masyatrakat tidak tahu. Lalu masyarakat menjadi penonton, tetpai proyeknya gagal dan mubasir maka masyarakatlah yang dipersalahkan. Menurut hemat kami masyarakat Sikka memiliki sumber daya yang cukup potensial termasuk ketrampilan dan kreatifitas yang cukup survive di tengah tantangan hidup yang mungkin paling keras di seluruh Indonesia. Masyarakat Sikka juga memiliki daya kreatif yang tinggi sebagaimana terwujud dalam bentuk kreasi seni dan budaya. Masalahnya bagaimana cara pandang pemerintah untuk mengembangkan potensi ini menjadi peluang dan harapan. Untuk memacu pembangunan lima tahun ke depan Kabupaten Sikka dalam kerangka otonomi daerah, kami tawarkan suatu pola pendekatan yang menjadi sebuah gerakan yang dinamakan GEMBIRA. Kata ini merupakan akronim bebas: Gerakan Membangun Berbasis Inisiatif Rakyat. Visi GEMBIRA ini menempatkan rakyat sebagai subyek yang dari padanya kita menemukan kekuatan dan sumber inspirasi pembangunan. Mengapa inisiatif rakyat menjadi basis? Pertama, kita percaya bahwa masyarakat Sikka memiliki pengalaman dan kemampuan untuk membangun diri mereka sendiri. Ini adalah bentuk apresisiasi bukan hanya terhadap kapasitas masyarakat tetapi juga terhadap apa yang secara timbal balik saling mendukung, yaitu demokrasi dan pengembangan civil society. Kedua, berdasarkan kebijakan otonomi daerah maka prinsip pembangunan bersifat top-down pada masa Orde Baru harus kita ganti dengan model bottom up. Selanjutnya di mana dan bagaimana posisi pemerintah daerah? Sejalan dengan prinsipprinsip di atas maka pemerintah daerah adalah fasilitator bagi pengembangan potensi masyarakat. Dengan demikian pemerintah bukan lagi sumber dan asal mula proyek pembangunan, melainkan rakyat. Di sini berlaku semacam prinsip subsidiaritas, yakni apa yang dimiliki dan dapat dikembangkan sendiri oleh masyarakat tidak perlu campur tangan pemerintah. Pemerintah hanya mengambil bagian dalam upaya membantu apa yang tidak dapat dikerjakan sendiri oleh masyarakat, misalnya dengan memberi insentif pajak dan fasilitas pinjaman kepada usaha-usaha kreatif masyarakat dan menyiapkan infrastruktur yang memudahkan mereka untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar dan kemajuan yang sustainable.

B.

PROFIL KABUPATEN SIKKA: 1. KONDISI UMUM


5

Secara geografis, luas wilayah Kabupaten Sikka 7.436,10 Km 2 terdiri dari luas daratan (Pulau Flores) 1.614,80 Km2 dan pulau-pulau (17 buah) 117,11 Km2 dan luas lautan 5.821,33 Km2 . Luas daratan Kabupaten Sikka dibandingkan dengan luas wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur maka hanya sebesar 3,66% dari luas wilayah NTT sebesar 47.349,91 Km2. Keadaan topografi sebagian besar berbukit dan bergunung dengan lerenglereng yang curam diselang-selingi lembah. Untuk topografi datar pada umumnya terletak di daerah pantai. Kabupaten Sikka beriklim tropis seperti pada daerah-daerah lain di Indonesia pada umumnya. Suhu berkisar antara 270C - 290C, pada musim panas maksimum 29,70C dan pada musim hujan minimum 23,80C atau rata-rata 27,20C. Kelembaban udara rata-rata 85,5 % per tahun, kelembaban nisbih 74 % - 86 % Kecepatan angin rata-rata 12 - 20 knots. Musim panas 7 - 8 bulan (April / Mei - Oktober / Nopember) dan musim hujan kurang lebih 4 bulan (Nopember - Desember - Maret - April) Curah hujan per tahun berkisar antara 1.000 mm -1.500 mm, dengan jumlah hari hujan sebesar 60-120 hari per tahun. Penggunaan tanah di Kabupaten Sikka di dominasi lahan pertanian yaitu seluas 90.138 ha (52,05%), sedangkan penggunaan tanah lainnya yaitu kawasan hutan seluas 3 8.442,43 ha (22,20%), semak belukar seluas 23.745 ha (13,71%) dan lain-lain seluas 20.865,57 ha (12,05%). Secara administratif Pemerintahan Knbupaten Sikka terdiri dari 12 (data tahun 2006) kecamatan membawahi 160 desa / kelurahan (147 desa dan 13 kelurahan). Kemajemukan suku dan adat istiadat penduduk Kabupaten Sikka merupakan potensi besar yang patut dikelola secara baik untuk menunjang pembangunan daerah termasuk di dalamnya semangat gotong royong yang masih tampak terutama di pedesaan. Secara umum terdapat 5 kategori adat budaya masyarakat Kabupaten Sikka, yaitu: adat budaya Lio, Sikka Krowe, Muhang/Tana Ai, Bajo/Bugis dan adat budaya Palue. Rata-rata pendapatan per kapita penduduk Kabupaten Sikka masih berada di bawah rata-rata NTT. Sampai tahun 2002 (berdasarkan harga berlaku) rata-rata pendapatan per kapita penduduk Kabupaten Sikka sebesar Rp. 1.951.328 sedangkan NTT sebesar Rp. 2.060.000. PDRB tahun 2000 berdasarkan harga konstan tahun 1993 sebesar Rp. 219.875.435,- meningkat sebesar 5,69 % dan tahun 2001 sebesar Rp. 208.029.969, Rata-rata pertumbuhan ekonomi pada tahun 2002 sebesar 5,69%. Sampai tahun 2002 Struktur Perekonomian Kabupnten Sikka masih didominasi oleh sektor Pertanian sebesar 43,30%, sektor jasa sebesar 19,01%, sektor perdagangan, restoran dan hotel sebesar 15,60%. Sedangkan sektor lainnya memberikan sumbangan yaitu di bawah 2%.
6

2. POTENSI WILAYAH a. Sumberdaya Manusia Jumlah penduduk pada tahun 2003 adalah 276.507 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,53%. Jumlah kepala keluarga sebanyak 56.217 KK dengan rata -rata 5 jiwa per KK. Sedangkan rata-rata kepadatan penduduk 154 jiwa per Km2 (data BPS tahun 2003). Jumlah KK Miskin sebanyak 38.299 KK. Tingkat pendidikan pada tahun 2003 didominasi oleh belum tamat SD sebesar 45,36%, tamat SD sebesar 29%, tidak sekolah / belum sekolah sebesar 9,35%, tamat SLTP sebesar 7,56%, tamat SLTA sebesar 6,75% dan tamat akademi / perguruan tinggi sebesar 1,94%. Jumlah sarana pendidikan tahun 2005 TK sebanyak 62 unit, SD sebanyak 295 unit, SLTP sebanyak 49 unit, SMU sebanyak 20 unit, SMK sebanyak 8 unit dan Perguruan tinggi sebanyak 3 unit. 62 unit Puskesmas Pembantu, 6 unit Balai Pengobatan, 4 bunh apotik, 101 unit Polindes, 490 unit Posyandu, 7 unit Puskesmas Keliling Roda Empat, 3 unit Puskesmas Keliling Laut dan 3 unit Laboratorium Angkatan kerja penduduk Kabupaten Sikka tahun 2003 sebanyak 138.012 jiwa. Penduduk yang bekerja sebanyak 136.116 jiwa sedangkan penduduk yang sedang mencari kerja sebanyak 1.896 jiwa. a. Sumberdaya Alam Pertanian Pada sub sektor pertanian tanaman pangan, Kabupaten Sikka memiliki lahan kering potensial yang luas tetapi letaknya tersebar (tidak pada satu hamparan tertentu), sehingga sebagian besar lahan tersebut masih berupa lahan tidur. Lahan basah yang potensial seluas 3.593 Ha, lahan fungsional seluas 2.032 Ha, sedangkan lahan basah yang belum diolah seluas 1.561 Ha. Untuk lahan kering yang potensial seluas 86.545 Ha, lahan fungsional seluas 29.870 Ha daan lahan kering yang belum diolah seluas 57.135 Ha. Untuk sub sektor perkebunan, areal perkebunan pada tahun 2003 seluas 6.717.325 ha. Untuk komoditi Kelapa luas areal 22.752,85 ha dengan produksi 4.379,276 ton, Kakao luas areal 20.421,87 ha dengan produksi 7.886,43 ton, Jambu Mete luas areal 20.144,59 ha dengan produksi 2.096,25 ton, Kopi (uas areal 1.636,53 ha dengan produksi 158,033 ton, Cengkeh luas areal 1.497,58 ha dengan produksi 220.220 ton, Kepok luas areal 175,93 ha dengan produksi 20.008 ton, Jarak luas areal 501,86 ha dengan produksi 49.321 ton, Tembakau luas areal 464,35 ha dengan produksi 73.719 ton, Vanili luas areal 360,50 ha dengan produksi 49.685 ton, Lada luas areal 263,05 ha dengan produksi 94.304 ton clan Pala luas areal 427,14 ha dengan produksi 31.083 ton.
7

Sub sektor peternakan, jumlah populasi ternak pada tahun 2003 di Kabupaten Sikka antara lain kuda sebanyak 16.509 ekor, sapi sebanyak 8.640 ekor, kerbau sebanyak 565 ekor, kambing sebanyak 75.952 ekor, babi sebanyak 224.821 ekor, ayam sebanyak 536.734 ekor dan itik sebanyak 45.234 ekor. Kehutanan Jumlah pohon dan produksi tanaman kehutanan tahun 2003 yaitu Kemiri sebanyak 110.286 pohon dengan produksi 1.671,58 ton, dan asam sebanyak 26.170 pohon dengan produksi 1.297,43 ton. Perikanan Luas perairan Laut Kabupaten Sikka (Laut Flores dan Laut Sawu) sebesar 5.821,33 Km2 atau sebesar 77,07 % dari luas wilayah Kabupaten Sikka. Panjang garis pantai 379,30 Km2 dan potensi lestari perairan sebesar 21.175 ton per tahun. Standing stock jenis pelagis 22.940 ton dan jenis demersal 12.352 ton. Potensi penangkapan lestari untuk jenis pelagis 13.764 ton per tahun dan jenis demersal 7.411 ton per tahun (jumlah = 21.175 ton/tahun) atau 60 % dari standing stock. Produksi perikanan tahun 1998 sampai dengan tahun 2003 secara berturutturut sebagai berikut: 6.784,2 ton; 7.322,6 ton; 7.927,9 ton; 8.230,2 ton; 8.475,2 ton. Sementara tingkat pemanfaatan sampai dengan tahun 2003 sebesar 34,58 berupa: a. Pelagis besar seperti ikan tuna cakalang, tongkol, cucut / hiu, tenggiri, terbang. b. Pelagis kecil seperti ikan kembung, lemuru, teri, layang, selar, baronang. c. Demersal/ikan - ikan dasar seperti kerapu, kakap, bawal, lencam, ekor kuning. d. Non finfish: Lobster, cumi-cumi, teripang, pelagis. Nener: potensi lestari 65 juta ekor/tahun. Produksi tahun 2003: 1.510.000 ekor / tahun (2,32 %). Dengan garis pantai 379,30 Km maka peluang pengembangan usaha budidaya terutama komoditi mutiara, rumput laut, teripang, baronang, bandeng dan udang. Sampai dengan tahun 2003 yang sudah diusahakan adalah rumput laut dan mutiara. Perkembangan Perdagangan antar pulau komoditi perikanan tahun 2003 yaitu: 1. Tuna /Cakang Baku 2. Ikan segar (tenggiri) 3. Kerapu segar 4. Kerapu hidup 5. Ikan teri kering 6. Ikan.Kayu 7. Ikan Napoleon :1.492.000 Kg ke Jakarta dan Banyuwangi :1.581 kg ke Denpasar :3.500 kg ke Denpasar :425 kg ke Denpasar :15.000 kg ke Kupang : 80.000 kg ke Makasar : 873 kg ke Denpasar
8

8. 8. Lobster hidup 9. Nener

: 3.619 kg ke Denpasar : 1.510.000 kg ke Makasar

10. Anakan kerang Mutiara :1.510.000 kg ke Mataram Perkembangan export komoditi perikanan tahun 2003 adalah Kerapu hidup sebanyak 3.800 Kg ke Hong Kong. Pertambangan dan Energi Potensi bahan galian/tambang/mineral dan energi sebagai berikut: Mineral industri: Gips Desa Dobo Kec. Mego (belum di survey) Kaolin Desa Bhera Kec. Mego (belum di survey) Porselin/ batu tokesi Desa Paga Kec. Paga (belum di survey) Pasir besi : Desn Lela Kecamatan Lela dan Desa Bola Kecamatan Bola; Clay: di Hikong, Kringa, Ojang, Wailamun, Nebe dan Talibura Kecamatan Talibura; (belum di survey) Phosphate: Pemana Kecamatan Maumere; (belum di survey) Belerang: di Desa Egon Kecamatan Waigete 2000 Ha pernah disurvey oleh PT. Andalan Alam; Mineral vital: aurum (Au) dan emas di Desa Tanarawa Kecamatan Talibura tahun 1987 diadakan pemboran oleh PT. Nusa Lontar Mining. Potensi sumber energi yang telah dimanfaatkan adalah energi tenaga surya. Tahun 1999 Kecamatan Palue mulai digerakkan energi surya untuk penerangan / listrik bagi 100 rumah tangga, sampai dengan tahun 2003 sudah mencapai 1.543 KK Pariwisata Potensi obyek wisata Kabupaten Sikka keberadaannya ada yang sudah maupun belum dikelola dan dikategorikan menjadi 5 yaitu: 1. Potensi wisata pantai/bahari Obyek wisata yang sudah dikelola yaitu pantai Waiara, pantai Patiahu, Wairterang dan Pantai Wodong. Sedangkan obyek wisata yang belum dikelola antara lain Pantai Doreng, Pantai Koka, Pantai Waturia dan Pantai Sikka, 2. Potensi wisata alam/panornma alam Obyek wisata yang sudah dikelola Taman laut Teluk Maumere. Sedangkan Potensi wisata yang belum dikelola antara lain Gua alam Keytimu dan Wairbao di Bola, Air Panas di Palue, Gunung Egon di Waigete, Batu Meteor di Desa Kloangpopot, pemandangan alam puncak Bliran Sina Watublapi dan Taman Satwa di Pulau Dambila. 3. Potensi wisata rohani
9

Salah satu pusat agama Katholik, Kabupaten Sikka memiliki beberapa obyek wisata rohani yaitu Gereja Tua Sikka, Patung Santa Maria (Mageria, Wisung Fatima Lela, Watusoking /Watubala dan Hokor dan Patung Kristus Raja di Kota Uneng. 4. Potensi wisata budaya Kabupaten Sikka dengan beragam suku memiliki kekayaan budaya yang beragam. Potensi wisata yang sudah dikelola antara lain: Museum Blikon Blewut (Ledalero), Perahu Tembaga / Jong Dobo (Desa Iantena) Kecamatan Kewapante, Kampung Tradisional (Nuabari, Hewokloang, Wuring / Bugis) dan Sanggar Budaya: (Gait Gu di Tebuk, Cogo, Canda di Nangahale, Tarian Bobu di Sikka, Bliran Sina di Watublapi, Wuat Puan di Watublapi, Puger Mudeng di Ohe, Pesalintunn Penin di Dokar, Tarian Bebing di Hokor) Sedangkan potensi yang belum dikelola yaitu Kuburan Batu / Kampung Tua Desa Lenan Darate Kec. Paga, Ritual Watu Mahe, Gading Gajah Purba (Watublapi). 5. Potensi wisata minat khusus Obyek wisata minat khusus antar lain Taman berburu di Pulau Besar, Pusat Kerajinan Rumah Tangga dan pasar tradisional dan keanekaragaman budaya suku Palue di Kecamatan Palue. 3. SARANA DAN PRASARANA a. Perumahan Kebutuhan akan rumah yang layak huni semakin meningkat dari tahun ke tahun baik milik Pemerintah maupun perorangan. Jumlah bangunan rumah penduduk tahun 2003 sebanyak 55.200 buah, terdiri dari 9.519 buah Rumah permanen, 5.538 buah Rumah semi permanen dan 40.143 buah Rumah tidak permanen b. Prasarana Jalan Total panjang jalan di Kabupaten Sikka pada tahun 2003 adalah 980,32 km dengan perincian jalan negara sepanjang 121,68 km, Jalan Propinsi sepanjang 109,9 km, dan Jalan Kabupaten sepan jang 748,74 c. Pelabuhan: Jaringan transportasi laut yang dilayani Pelabuhan Sadang Bui (jenis pelabuhan Nusantara) memiliki 3 (tiga) buah dermaga berkonstruksi beton berkapasitas sandar kapal berukuran 10.000 GT. Jaringan transportasi udara dilayani oleh Bandar Udara Waioti dengan kapasitas landasan yang dapat didarati oleh Foker 28. Frekuensi penerbangan pada tahun 2002 sebanyak 398 kali PP dengan membawa 7.262 penumpang tujuan ke Maumere dan memberangkatkan 9.129 penumpang keluar. Perusahaan Penerbangan yang secara reguler melayani rute penerbangan dari dan keluar Maumere adalah Merpati Nusantara Airlines dan Pelita Air dengan jadwal setiap
10

hari penerbangan Maumere, Kupang, Waingapu, Denpasar, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta dan Bandung. d. Telekomunikasi Fasilitas telekomunikasi yang terdapat di Kabupaten Sikka yaitu 1 Kantor Pos Pusat dan 5 kantor pos pembantu, 1 Kantor Telkom dengan 4725 SST, 11 buah wartel, stasiun relay TVRI, Stasiun Microwave, 2 Stasiun radio, 19 SSB don 3 Tower pemancar Telepon 65M e. Listrik Kapasitas tenaga listrik yang terdapat di Kabupaten 5ikka sebesar 4.876 KW dengan jumlah KWH jual sebesar 1.609,382 KW. Panjang jaringan listrik tegangan menengah (JTM) sebesar 301,042 KMS, sedangkan jaringan tegangan rendah (JTR) sebesar 337,11 KMS. Jumlah pelanggan saat ini adalah 16.560 RT dengan jumlah gardu sebanyak 150 buah dan Va terpasang 13.797 f. Lembaga Keuangan Lembaga keuangan yang terdapat di Kabupaten Sikka yaitu Bank sebanyak 8 unit, Pegadaian sebanyak 2 unit, Asuransi sebanyak 3 unit dan Koperasi sebanyak 99 unit. g. Sarana Perdagangan Sarana Perdagangan di Kabupaten Sikka yaitu Pusat Pertokoan sebanyak 4 buah, Perdagangan sebanyak 20 buah dan Pasar sebanyak 15 buah yang merupakan pasar tradisional. h. Jasa Akomodasi Jasa akomodasi di Kabupaten Sikka yaitu hotel dan restoran. Untuk Klasifikasi hotel Bintang II sebanyak 2 buah, Melati I sebanyak 13 buah, Melati II sebanyak 3 buah dan Melati III sebanyak 5 buah. Untuk restouran / rumah makan sebanyak 25 buah. Untuk jasa lainnya antar lain biro perjalanan sebanyak 4 buah, cabang biro per jalanan sebanyak 3 buah, agen perjalanan sebanyak 4 buah, Toko/koperasi cinderamata sebanyak 3 buah, tempat billiard sebanyak 10 buah, taman rekreasi sebanyak 1 buah dan Pub/Karaoke sebanyak 7 buah.

C.

KENDALA UMUM PENGEMBANGAN KUALITAS PEMBANGUNAN; endala yang senantiasa dihadapi dalam pengembangan kwalitas pembangunan masyarakat sesuai paradigma otonomi dengan konsep pemberdayaan dan penguatan

masyarakat yakni:
11

Pertama, Kendala Historis; Feodalisme dan kolonialisme yang pernah dipraktekan, secara efektif di Indonesia selama 3,5 abad, telah melumpuhkan kepercayaan diri dan harkat manusia yang merdeka. Bahkan proses ini menciptakan mentalitas masyarakat yang pasif dan selalu bergantung pada pihak lain sangat kuat. Kedua, Pendekatan pembangunan yang top down; implikasi pendekatan tersebut, yakni semangat mengatur kehidupan masyarakat oleh birokrasi pemerintah sangat dominan, sehingga prakarsa dan inisiatip serta partispasi masyarakat menjadi terbatas. Ketiga, Kendala yang bersifat kelembagaan ; 1. Kelembagaan yang ada di masyarakat; seperti, LMD,LKMD, PKK, POSYANDU, KUD, KARANG TARUNA, dll, selalu berorientasi keatas dan lebih banyak mewakili kepentingan pembangunan yang di rancang dari atas. Disamping itu para pimpinan dan anggotanya yang terlibat, karena mobilisasi, tanpa proses rekruitmen dan kaderisasi yang terstruktur sehingga komitmen, kreatifitas dan inisiatip kerja sangat lemah, untuk mengartikulasikan/ menerjemakan kebutuhan dan kepentingan masyarakat. 2. Kelembagaan pemerintah, seperti Dinas Instansi serta Unit satuan kerja yang mengemban tugas sebagai pelayan public mempunyai dua kendala structural yakni: Pendekatannya masih berorientasi sektoral, koordinasi dan keterpaduan program serta implementasinya masih belum berjalan baik. Sementara itu pengalaman untuk memfasiliatasi program secara partisipatif dengan orienatsi untuk proses belajar dan pemberdayaan masyarakat, masih belum menjadi komitmen bersama dan andala keberhasilan program. Keempat, Masih belum ada persepsi untuk memberikan kepercayaan sepenuhnya terhadap kapasitas dan kemampuan masyarakat pedesaan. Pandangan tersebut memberi label bahwa masyarakat adalah komunitas yang tidak mandiri, tidak mampu, kurang kerja keras, masih tergolong miskin, tidak mau maju dan tidak kreatif, sehingga menimbulkan distorsi di dalam proses pengambilan keputusan kebijakan pembangunan dan implementasinya. Masyarakat dilihat sebagai obyek pembangunan semata dan beban yang harus ditangani. Kelima, Pendekatan pembanungunan lebih mencirikan karitatif, dimana kebutuhankebutuhan praktis/sesaat yang menjadi porsi perhatian, lalu menempatkan masyarakat menjadi obyek kebaikan hati dan belas kasihan. Keenam, Partisipasi masyarakat masih diukur dalam wujutnya yakni memberikan tenaga atau bahan local dan swadaya uang, bukan lebih pada perhatian dan partisipasinya dalam setiap langkah proses yakni mulai dari pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemanfaatan dan evaluasinya.

12

D. FILOSOFI PENDEKATAN GEMBIRA

elajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu dan mencermati realitas kehidupan masyarakat kabupaten Sikka dalam melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan,

maka kita akan menemukan budaya kerja dengan pola gotong royong yang telah mengakar pada masyarakat Sikka yang sarat dengan nilai kebersamaan dan kekeuargaan.Realitas mana menunjukan bahwa masyarakat Sikka dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, mereka selalu mengerjakannya secara bersama-sama dalam suasana gembira dan suka cita tanpa merasakan sebagai beban, penuh kekeluargaan. Misalnya kegiatan Sako Seng yakni gotong royong mencangkul mengolah lahan untuk bertani, yang dilakukannya secara bergilir setiap hari untuk setiap orang atau berdasarkan kesepakatan besama, dimana sambil bekerja, selalu ada nyanyian atau pantun berbalas pantun tradisional yang mengiringi kerja mereka sehingga menambahkan semangat dan gairah kerja tersebut. Suasana tersebut menjadikan mereka tidak memperdulikan panas terik matahari maupun hujan yang menguyur badan, sehingga tetap gembira dan enjoi. Malah Sako Seng juga menjadi ajang arena bagi muda mudi tempoe doeloe untuk memadu cinta, yang berakir pada pelaminan dan banyak sukses bagi pasangan yang akirnya menikah. Dengan demikian kata gembira adalah suasana dimana orang tidak memiliki beban apapun teristimewa batinnya yang membuat seseorang senang, bahagia, sukacita, riang dan rileks. Selanjutnya dalam konteks paradigma baru sistem pemerintahan di Indonesia yakni dengan adanya UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur tantang Otonomi Daerah, maka paradigma pembangunan pun bergeser dari pola Top down menjadi Buttom Up, dimana masyarakat hanya menjadi obyek dari program dan proyek yang direncanakan dan dilaksanakan oleh orang lain teristimewa pemerintah sebagai penyelenggara Negara, sehingga masyarakat hanya menjadi penonton. Sedangkan penyelenggaraan otonomi menempatkan masyarakat sebagai subyek yang bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan hidupnya, sehingga pihak luar menjadi mitra yang mendorong terwujudnya kesejahteraannya. Atas dasar kerangka argumentasi ini, maka untuk melaksanakan pembangunan dalam kurun kepeimimpinan kami lima tahun kedepan, kami menawarkan pola pendekatan pembangunan menjadi sebuah gerakan sehingga proyek bukan demi proyek, melainkan proyek dan kegiatan harus menjadi sarana belajar dari sebuah proses demokrasi dimana masyarakat merasa memiliki karena keputusannya sendiri. Atas argument dan pemahaman tentang otonomi daerah dengan paradigma pembangunan buttom up tersebut maka untuk mendukung dan memperkuat komitmen pembangunan yang berwawasan kerakyatan lima tahun kedepan, kami lebih memilih filosofi pembangunan yang kami namakan GEMBIRA. Kata ini mempunyai makna sebagaimana telah kami paparkan diatas. Selanjutnya sebagai sebuah filosofi pendekatan pembangunan maka kata GEMBIRA
13

merupakan akronim bebas sebagai Gerakan Membangun Berbasis Inisiatif Rakyat. Pendekatan GEMBIRA ini jelas menempatkan rakyat sebagai subyek/aktor yang dari padanya kita menemukan kekuatan dan sumber inspirasi pembangunan. Melalui filosofi ini kita ingin memberikan pengakuan, penghargaan dan kepercayaan atas kapasitas dan kemapuan masyarakat untuk melaksanakan dan mencapai kesejahteraan hidupnya. Sedangkan pihak lain harus menjadi mitra fasilitator yang mendukung dan mendorong terwujudnya citacita mereka. Terdapat dua kata Kunci yang sarat makna dari filosofi ini yakni kata-kata gerakan dan inisiatif. Gerakan bermakna bahwa setiap program dan kegiatan yang dilaksanakan untuk masyarakat entah dari lembaga atau pihak manapun harus menjadi media belajar bagi masyarakat sebagai proses demokrasi dimana setiap tahapan kegiatan proyek melibatakan masyarakat dan masyarakat merasa memilikinya . Disamping itu hasil dari sesuatu proyek atau kegiatan tidak menjadi satu-satunya tujuan akir, melainkan kehadirannya harus mendorong dan menggerakan masyarakat untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan lainya untuk mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Selanjutnya, mengapa inisiatif rakyat kita jadikan sebagai basis argumentasi atau kata kunci dari filosofi ini? Pertama, karena kita percaya masyarakat Sikka memiliki pengalaaman dan kemampuan untuk membangun diri mereka sendiri. Ini adalah bentuk apresisiasi bukan hanya terhadap kapasitas masyarakat tetapi juga terhadap apa yang secara timbal balik saling mendukung, yaitu demokrasi dan pengembangan civil society . Kedua, berdasarkan kebijakan otonomi daerah maka prinsip pembangunan bersifat topdown pada masa Orde Baru harus ditinggalkan dan diganti dengan model bottom up. Di mana dan bagaimana posisi pemerintah daerah? Sejalan dengan prinsip-prinsip di atas maka pemerintah daerah adalah fasilitator bagi pengembangan potensi masyarakat. Dengan demikian pemerintah bukan lagi sumber inisiatif dan pemrakarsa proyek pembangunan, melainkan rakyat. Di sini berlaku semacam prinsip subsidiaritas, yakni apa yang dimiliki dan dapat dikembangkan sendiri oleh masyarakat perlu dihargai dan dikembangkan pemerintah. Pemerintah dapat mengambil bagian dalam upaya membantu apa yang tidak dapat dikerjakan sendiri oleh masyarakat, misalnya dengan memberi insentif pajak dan fasilitas pinjaman kepada usaha-usaha kreatif masyarakat dan menyiapkan infrastruktur yang memudahkan bagi mereka untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar dan kemajuan yang sustainable. Memang membangun dengan model pendekatan ini menjadi tidak mudah dan kompleks, namun kita harus mulai dengan proses yang demokratis dan partisipatif. Karena itu, perlu waktu dan kesabaran dan komitmen kuat semua pihak.

14

BAB II MELETAKKAN DASAR DAN ARAH PANDANG DARI PEMBANGUNAN BERORIENTASI PERTUMBUHAN KE PEMBANGUNAN BERBASIS RAKYAT A. PERTUMBUHAN Para ahli ekonomi pembangunan ortodoks biasanya mendefinisikan pembangunan sebagai pencapaian pertumbuhan ekonomi yang akan meningkatkan standar hidup. Peningkatan ini akan dicapai melalui penggunaan sumber daya manusia, sumber daya alam dan kelembagaan. Gross National Product / GNP merupakan ukuran kemajuan yang paling nyata menurut definisi ini. Namun sesungguhnya definisi ini jika diperhadapkan dengan berbagai kenyataan pengalaman dari banyak Negara maka pembangunan yang berorientasi pertumbuhan tidak memberi arti yang signifikan kepada orang miskin. Pengalaman bangsa Indonesia dari beberapa dekade lalu hingga saat ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dengan sendirinya meningkatkan taraf hidup mayoritas orang yang nota bene adalah kaum miskin-kecil-tertindas. Pertumbuhan ekonomi disatu pihak sementara dipihak yang lain tidak memperhatikan Peningkatan kwalitas sumber daya manusia maka roda pembangunan secara umum dapat dilakukan dengan tidak mempedulikan hak asasi manusia. Sumber daya alam dihambur-hamburkan hanya untuk mengejar keuntungan jangka pendek environmental borrowing (pinjaman lingkungan). Peningkatan efektifitas kelembagaan dicapai dengan memotong beberapa layanan yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh penduduk local dan kaum marginal. Setelah melewati kurun waktu kurang lebih 3 dekade pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia, kita harus jujur mengatakan bahwa cukup banyak kemajuan yang dicapai, tetapi sayangnya adalah bahwa masalah-masalah mendasar masih tetap sulit tertangani dengan baik teristimewa masalah-masalah Pendidikan dan kesehatan. Tingkat kematian ibu dan anak ,misalnya, semakin tinggi yang tidak sebanding dengan pencapaian kemajuan sarana dan prasarana fisik, sehingga belum membawa perbaikan berarti dalam hal layanan sosial kepada masyarakat. Adanya perubahan perubahan yang terjadi, membuat masyarakat hanya dapat bertahan hidup dalam kemiskinan mereka, namun sama sekali tidak membebaskan mereka dari kemiskinan itu. Kita menyaksikan bahwa dana triliunan rupiah dipergunakan untuk membangun infrastruktur berupa jalan raya bahkan jalan-jalan tol dibeberapa kota besar di pulau Jawa, pelabuhan udara, dan listrik menjadi lebih memadai, namun biasanya perbaikan sarana seperti itu terjadi bukan di daerah di mana penduduk miskin sedang sekarat
15

KILAS BALIK VISI PEMBANGUNAN BERORIENTASI

membutuhkan perhatian akan pemenuhan kebutuhan pokok akan makan minum dan kebutuhan lainnya. Kondisi ini sesungguhnya sama dengan orientasi pembangunan gaya ortodoks yang lebih mementingkan perbaikan teknis dari suatu masalah teknis dan bukan atas dasar kebijakan strategis. Kemajuan teknologi pertanian, perangkat dan pelatihan hanya ditujukan untuk mengatasi masalah pangan. Imunisasi dan pelayanan kesehatan dimaksudkan untuk memerangai penyakit. Tidak satupun alasan dari pendekatan berbasis pertumbuhan yang dimaksudkan untuk mencari sebab mengapa masyarakat kelaparan, mengapa masyarakat miskin bertambah banyak, sehingga akar masalahnya dapat ditemukan dan kita harus membangun dengan menangani akar masalahnya. Model pembangunan tersebut, melaksanakan kebijakan yang hanya melayani kebutuhan kaum elite dengan melimpahkan beban pada yang miskin, mengabaikan mereka yang secara praktis tertindas, atau mereka yang hidup di daerah terpencil yang hanya mencerminkan pengharapan jangka pendek ketimbang kelangsungan hidup jangka panjang. Ditengah tengah terpaan krisis multidimensi yang dialami bangsa Indonesia, dengan seolah olah menutup mata terhadap kenyataan ini, masih ada juga pelaksana pembangunan dari berbagai komponen masarakat kita yang puas dengan hasil kerja yang selama ini. Namun tidak kita sadari bahwa jumlah orang miskin terus bertambah banyak, pendidikan dasar belum dikelola dan tidak terurus dengan baik, pertumbuhan penduduk terus melonjak dan sebagainya. Semua komponen masyarakat yang bergerak dalam berbagai aktifitas pembangunan masih lebih tertarik dengan masalah masalah kekinian, dengan popularitas saat ini, dan dengan para pemikir sekarang, sehingga kurang ada kemauan bercermin pada pengalaman-pengalaman masa lalu yang sesungguhnya bermanfaat bagi perkembangan pilihan-pilihan model pembangunan masa depan. Pelajaran pelajaran yang kita petik selama masih menggunkan paradigma dan visi pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan, menyatakan bahwa pranata - pranata dalam masyarakat kita disiapkan untuk menghasilkan pertumbuhan demi sejumlah kecil orang tanpa memperhatikan akibat akibat sosial dan lingkungan hidupnya. Inilah inti kegagalan pranata pranata ini dalam menjamin keadilan, keberlanjutan, dan ketercakupan. Fokus yang terus menerus ditujukan kepada pertumbuhan untuk menyelesaikan krisis lantaran tidak adanya tranformasi dalam visi dan pranata, kita hanya akan memperdalam krisis kemiskinan, kegagalan lingkungan hidup dan disiintegrasi sosial. Pertumbuhan memang penting, tetapi harus diberi muatan baru yang sesuai untuk kondisi masyarakat kecil kebanyakan terutama kebijakan pengembangan dan distribusi terhadap sarana dan prasarana sosial dasar, yang memungkinkan masyarakat kecil kebanyakan dapat mengembangan diri secara adil dan berkreatifitas secara meluas, yang mencakup semua segi kehidupan.
16

Pembanguan yang sudah dan sedang dilaksanakan ternyata membawa kita kedalam kondisi krisis yang beragam corak dan berkepanjangan hampir tak berujung, dan tuntutan terhadap pendekatan baru terus bermunculan. Maka perlu sebuah pendekatan baru yang didasarkan pada definisi pembangunan yang lebih luas. Pembangunan bukan sekedar komoditi untuk ditimbang / diukur dengan angka statistik GNP. Dewasa ini ada semacam pengakuan universal bahwa pengentasan kemiskinan, pembangunan masyarakat bawah, proteksi lingkungan merupakan prioritas. Pembangunan berpusat pertumbuhan menempatkan pertumbuhan ekonomi diatas manusia dan ekologi yang menjadi tumpuan kesejahteraan manusia. Karena itu, kita memerlukan visi dan paradigma yang berorientasi mendahulukan kepentingan kesejahteraan manusia dan masyarakat serta sistem dan tata kehidupan yang seimbang dan selaras di planet yang menjadi kediamannya. Visi ini harus menjadi arah penuntun dan pembimbing kita dalam memberi prioritas pembangunan yang berorientasi pada tranformasi nilai nilai dan institusi. B. MENUJU VISI PEMBANGUNAN BERBASIS RAKYAT Dalam konteks pemahaman yang paling luas, pembangunan berarti membuat masyarakat mampu meraih aspirasi mereka, cita-cita dan kebutuhan mereka untuk kehidupan yang baik dan layak. Ini mengandung 3 kebenaran. Pertama, menunjukan kebutuhan dasar untuk menciptakan model pembangunan apapun asal berdasarkan proses yang demokratis. Kedua, mengemukakan kebutuhan untuk membuat pilihan politik. Ketiga, model ini harus mengungkapkan pemberdayaan daripada pemberian yang cuma-cuma, sehingga terwujudlah pandangan bahwa pembangunan yang benar adalah seluruh proses social dan kegiatan fisiknya dikerjakan oleh rakyat bukan dikerjakan untuk rakyat, ( pembangunan bisa dikoordinir dan difasilitasi oleh pemerintah dan agen agen pembangunan lainnya dengan segala kelengkapan mereka seperti kelembagaan, infrastruktur, pelayanan dan dukungan ), namun pembangunan itu harus dicapai sendiri oleh rakyat. Oleh karenanya sangatlah tepat dalam konteks ini, visi pembangunan berpusat pada rakyat menjadi pemandu utama dalam mewujudkan hakekat pembangunan. Dalam visi berpusat rakyat, pembangunan adalah suatu proses perubahan yang menjadikan masyarakat turut bertanggungjawab atas nasib mereka sendiri dengan meningkatkan kapasitas perorangan dan institusional mereka guna memobilisasi dan mengelola sumber daya untuk menghasilkan perbaikan perbaikan yang berkelanjutan dan merata dalam kualitas hidup sesuai dengan aspirasi mereka. Definisi tersebut menekankan proses pembangunan dan fokusnya yang hakiki pada kapasitas perorangan dan institusional. Pengertian ini mencakup asas keadilan, keberlanjutan, ketercakupan, dan mengakui bahwa rakyat sendiri bisa menentukan apa sebenarnya yang
17

mereka perlukan sebagai perbaikan dalam kualitas hidup mereka, sedangkan pihak lain termasuk pemerintah berperan memfasilitasi agar tujuan masyarakat tercapai. Visi pembangunan berorientasi rakyat berakar pada pandangan yang berfokus pada kualitas hidup masyarakat yang seimbang dan selaras dari kwalitas sumber daya manusia, sumber daya alam dan pemanfaatan teknologi yang seimbang pula yang memberikan kotribusi yang maksimal terhadap kesejahteraan rakyat. Jadi kualitas penduduknya tergantung pada cara bagaimana mempertahankan keseimbangan yang layak antara sistem sistem regeneratifnya yang diperlukan dengan energi alam semesta, cadangan sebagian dayanya, dan tuntutan penghuninya kepada sistem dan sumber daya ini. Dengan demikian sangat jelas bahwa, asumsi dan orientasi nilai dan visi pembangunan berpusat rakyat sangat berbeda dengan visi pembangunan berorientasi pertumbuhan. Karena itu visi dan orientasi nilai pembangunan tersebut sangat relefan dengan M o t t o Kalau anda datang untuk

membantu kami, sebaiknya anda pulang. Tetapi, apa bila perjuangan kami juga merupakan perjuangan hidup anda, selamat datang, berjuanglah bersama kami Motto ini mengandung
makna; pengakuan dan penghargaan terhadap kemampuan/ kapasitas, potensi dan keahlian serta pengalaman dan ketrampilan yang dimiliki oleh masyarakat. Sehingga mereka tidak diremekan atau diabaikan, sebagai masyarakat yang tidak mampu, tidak mau berubah, tidak mau bekerja keras dan sebagainya, karenanya, proyek gagal, maka mereka disalahkan. Ini tidak boleh terjadi lagi. Sebab itu, masyarakat menjadi sentral, subyek pembangunan, sehingga seluruh proses pelaksanaan pembangunan harus bermula/ berawal dari mereka, orang luar termasuk pemerintah harus menjadi teman, fasilitator dalam pelaksanaan pembangunan bersama masyarakat. B. 1. ASUMSI ASUMSI FAKTUAL Visi pembangunan berbasis rakyat mewujudkan sejumlah asumsi yang bisa diverifikasi secara empiris mengenai realitas fisik, politik, dan ekonomi kita, dimana kondisi tersebut akan sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang telah direncanakan.Asumsi-asumsi tersebut yakni : air bisa Sumber daya fisik bumi bisa habis. Hutan dan kayu, bahan tambang, mata kering, jika tidak dimanfaatkan secara baik disertai tanggung jawab Kapasitas produksi dan daur ulang sistem ekologi bisa ditingkatkan melalui intervensi manusia. melakukan konservasi.

18

Pemerintah menurut kecenderungannya memberikan prioritas kepada kepentingan orang orang yang memegang kekuasaan / kaum elite. Kekuasaan politik dan ekonomi sangat erat terkait sehingga yang memiliki salah satu kekuasaan yang lebih besar, mampu memakai kekuasaan yang lain. ( Adi Sasono menyebutnya sebagai Pemerintahan Emas : Yang punya emas, yang memerintah ). Dibawah pemerintah otoriter berlaku yang sebaliknya : hati. Yang memerintah mendapat emas . Sungguh, persamaan yang sama - sama menyakitkan Pasar merupakan mekanisme alokasi yang penting, tetapi selama pasar tidak sempurna dan sesuai kekalutannya akan memberikan prioritas kepada keinginan golongan kaya, bukan kepada kebutuhan golongan miskin kecil tertindas. Masyarakat yang adil, berkelanjutan dan mencakup semua pihak merupakan landasan yang penting bagi sebuah sistem yang adil, berkelanjutan dan inklusif. Ekonomi lokal yang didiversifikasi dan yang dalam lokasi sumber daya memprioritaskan pemenuhan kebutuhan anggota masyarakat, akan meningkatkan ketahanan dan stabilitas ekonomi yang lebih besar. Apabila rakyat menguasai sumber daya sumber daya lingkungan hidup lokal tempat mereka menggantungkan hidup mereka dan anak cucu, mereka akan menjalankan tugas pengawasan dan lebih bertanggungjawab kepada para pemilik yang tidak menetap disitu.

B. 2. ORIENTASI NILAI Visi pembangunan berbasis rakyat bertumpu pada beberapa nilai eksplisit : keluarganya. Tiap individu berhak menjadi anggota yang produktif dan berguna bagi keluarga, kelompok, dan masyarakatnya. Penguasaan atas aset aset produktif seharusnya didistribusikan secara luas dalam masyarakat. Perekonomian lokal harus didiversifikasikan dan bersifat swasembada dalam memenuhi kebutuhan pokok. Kedaulatan ada ditangan rakyat. Sumber daya bumi adalah memberikan kesempatan kepada semua orang untuk mendapatkan mata pencaharian pokok untuk mereka sendiri dan

19

Rakyat mempunyai hak suara dan mengambil keputusan yang akan mempengaruhi hidup mereka dan pengambilan keputusan harus dilakukan sedekat mungkin dengan tingkat individu, kekuasaan dan masyarakat. Generasi sekarang tidak berhak mengkonsumsi hal hal yang tidak perlu dalam tingkat apapun, yang bisa membuat generasi mendatang tidak mungkin mempertahankan standar hidup manusia yang layak, narkoba dan obat-obat terlarang lainnya, judi dalam bentuk apa pun termasuk judi kupon putih, prostitusi dsb. Keputusan keputusan lokal harus mencerminkan suatu perspektif global. Apa yang diputuskan untuk dan atau oleh masyarakat Kabupaten Sikka harus mempertimbangkan kepentingan dan dampak baik secara regional, nasional maupun masyarakat international.

B.3. PREFERENSI PREFERENSI KEBIJAKAN Asumsi faktual maupun orientasi nilai dari visi pembangunan berbasis rakyat memegang peranan penting dalam menentukan preferensi kebijakan. Preferensi ini umumnya berbeda jelas dari preferensi pembangunan berpusat pertumbuhan. Memberikan prioritas tinggi pada investasi dalam bidang pendidikan yang akan membangun kemampuan rakyat untuk mengatur hidup mereka sendiri, masyarakat dan sumber daya sumber daya dan untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. alam. Mengusahakan intervensi pembangunan dan diversifikasi ekonomi pada semua tingkat ekonomi, dimulai dari rumah tangga dipedesaan, untuk mengurangi ketergantungan dan kerawanan terhadap goncangan pasar sebagai akibat spesialisasi yang berlebihan. Alokasikan sumber daya lokal untuk memberikan prioritas produksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan penduduk lokal. Tujuannya adalah untuk membentuk konomi kawasan yang terdiri dari unit unit ekonomi lokal yang swasembada dan saling terkait. Mendukung pengembangan organisasi rakyat yang beragam, mandiri, sadar politik dan sukarela yang akan memperkuat partisipasi penduduk secara langsung dalam proses pengambilan keputusan lokal. Mendorong rasa ikut bertanggungjawab semua pihak terhadap kesejahteraan semua anggota masyarakat dan menghormati keterkaitan manusia dan

20

Membangun good governance pemerintahan daerah yang otonom, yang bertanggungjawab dan dibiayai oleh masyarakat lokal serta dipilih secara demokratis dan berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Menetapkan keterbukaan dalam pengambilan keputusan / kebijakan publik dan memperkuat hubungan komunikasi antara rakyat / penduduk dan pemerintah. Memilih investasi industri yang : o o lokal. o Melayani dan meningkatkan efisiensi unuk bersaing dalam pasaran domestik. o Menguntungkan pertanian kecil intensif yang didasarkan atas penggunaan teknologi bio-intensif dengan produktifitas yang teruji. o Memberikan prioritas kepada mobilisasi sumber daya lokal, tabungan dan energi modal sosial. Memperkuat produksi skala menengah dan kecil yang berdiversifikasi Memakai teknologi yang sehat, melestarikan sumber daya, dan produk

C. KONSEP KONSEP PEMBANGUNAN YANG TEPAT Berlandaskan pada berbagai konsep pemikiran yang merupakan komitmen kepemimpinan kami lima tahun kedepan bahkan seharusnya menjadi komitmen pembangunan berbasis masyarakat sebagaimana cita-cita dan harapan masyarakat pada umumnya, maka Pembangunan yang tepat adalah pembangunan ; Memerangi jaringan kekuatan yang menyebabkan kemiskinan. Menuntut persamaan, demokrasi, dan keadilan sosial menjadi puncak tujuan, berdampingan dengan kebutuhan akan pertumbuhan ekonomi. Harus mampu menjadikan anggota masyarakat yang lebih lemah dapat memperbaiki situasi mereka dengan memberi pelayanan sosial yang mereka perlukan. Meningkatkan produktifitas aset. Memerangi kerentaan dan keterasingan. Harus menjamin keseimbangan penggunaan SDA. Menentang eksploitasi dan penindasan terhadap kaum perempuan.

Unsur unsur dari pembangunan yang tepat diatas, dapat diringkaskan menjadi : Pengentasan kemiskinan ( Poverty alleviation ) Pembangunan infrastruktur ( Infrastructure Development )
21

Demokrasi ( Democracy ) Keadilan Sosial ( Social Justice ) Persamaan ( Equality ) Pertumbuhan ekonomi ( Economic Growth )

22

BAB III MASALAH DAN KENDALA 1. Bidang Pendidikan Masalah utama di bidang pendidikan tercermin dari fakta bahwa : a. Baru 28,87 % anak usia pra sekolah menikmati pendidikan TK dan sebagian besar terkonsentrasi di daerah perkotaan. b. Masih rendahnya angka partisipasi murni SLTP yaitu sebesar 29,19 %. Ini mengandung arti bahwa 70,81 % atau 14.236 penduduk usia 13-15 tahun tidak menikmati bangku SLTP, sehingga belum tuntasnya program wajib belajar pendidikan dasar di Kabupaten Sikka. c. Secara keseluruhan dari tingkat SD hingga SLTA, mutu pendidikan masih jauh dari harapan, karena masih rendahnya mutu proses pembelajaran, kodisi sarana dan prasarana, kurangnya tenaga pendidik dan masih rendahnya kompetensi guru serta kurikulum muatan lokal yang belum mampu menjawab tantangan pembangunan. d. Pendekatan pendidikan yang digunakan mengarah pada Human Capital namun cendrung menggunakan bentuk pendidikan formal ketimbang pendidikan non folmal dan luar sekolah yang dalam jangka pendek dapat meningkatkan cara kerja, lapangan kerja, sikap, nilai dan partisipasi sosial masyarakat. Kendala yang dihadapi dalam bidang pendidikan antara lain : a. Rendahnya pendapatan keluarga sehingga tidak mampu membiayai anak sekolahnya. b. Sebagian besar pada masyarakat petani dan nelayan, anak usia sekolah dijadikan aset produksi. Hal ini dapat dibuktikan dengan rendahnya angka partisipasi murni untuk SLTP. c. Terbatasnya Political Will dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka dalam pembangunan pendidikan sebagai sector yang sangat strategis, terutama melalui pendidikan-pendidikan alternatif.

2. Bidang Kesehatan Permasalahan kesehatan di Kabupaten Sikka tercermin dalam fakta sebagai berikut : a. 60 % ibu hamil menderita anemia dan 16 % bayi lahir dengan berat badan kurang dari normal (2,5 Kg), dan kematian ibu mencapai 421/100.000 kelahiran; b. Angka kematian bayi mencapai 46/1000 kelahiran, baik yang disebabkan oleh pneumonia, diare dan gangguan gizi dan 40 % balita kekurangan gizi.
23

c. Penyakit infeksi seperti ispa dan diare serta malaria mengganggu pertumbuhan balita. Ini sangat berpengaruh terhadap IQ, karena gangguan giszi pada usia dini adalah suatu kerugian yang tak dapat diperbaiki lagi; d. Belum melembaganya perilaku hidup sehat di tengah-tengah masyarakat, sehingga berbagai jenis penyakit infeksi menjadi subur. Sebetulnya, penyakit seperti ini jauh lebih mudah diatasi melalui upaya preventif dibandingkan dengan pengobatan. Kendala yang dihadapi dalam upaya bidang kesehatan antara lain : a. Masih rendahnya derajat kesehatan masyarakat pada umumnya, sehingga jumlah sasaran program menjadi sangat besar. b. Munculnya kembali berbagai jenis penyakit infeksi dan status gizi masyarakat yang masih rendah. c. Krisis ekonomi yang menyebabkan meningkatnya biaya pengobatan yang harus ditanggung masyarakat. 3. Bidang Ekonomi Masalah pokok dalam bidang ekonomi di Kabupaten Sikka secara empiris antara lain : a. Rendahnya kualitas tenaga kerja, terbatasnya kemampuan dan ketrampilan sumber daya manusia, mobilisasi wawasan, teknologi dan modal. b. Menurunnya peranserta sektor pertanian akibat terbatasnya sumber daya alam dan kepemilikan lahan (diperkirakan hanya 0,22 Ha/KK) c. Kurangnya keserasian dan pemerataan kesempatan bagi pengusaha kecil dan menengah. d. Terbatasnya lapangan kerja yang disebabkan oleh rendahnya daya cipta masyarakat serta fungsi fasilitasi Pemerintah Kabupaten Sikka dalam menciptakan lapangan kerja. e. Kurangnya penanganan pengelolaan tata ruang secara terpadu. Kendala yang dihadapi dalam pembangunan ekonomi di Kabupaten Sikka antara lain : a. Masih tingginya angka kemiskinan ( 70 % KK miskin) serta rendahnya tingkat kemiskinan . b. Kurangnya kesadaran dan tanggungjawab dalam penyelamatan sumber daya alam dan lingkungan hidup. 4. Bidang Good Governance Permasalahan yang muncul dalam bidang Good Governance :

24

a. Big Government but Small Welfare, membengkaknya format dan struktur organisasi pemerintah daerah yang terungkap dari banyaknya jumlah unit kerja dan dinas teknis yang diciptakan, sehingga menimbulkan beban biaya rutin yang sangat besar. b. Overlaping program dan terjadi benturan kewenangan sebagai akibat dari duplikasi kewenangan antara satu unit kerja dengan unit kerja lainnya. c. Belum melembaganya tradisi analisis rugi-laba dalam kebijakan penyusunan program, sehingga melahirkan in-efisien dan pemborosan biaya. Kendala yang dihadapi dalam upaya pembangunan bidang good governance adalah merupakan pendekatan baru yang dikembangkan oleh UNDP (1997) sehingga membutuhkan waktu dalam proses adopsi, adaptasi dan transformasi konsep from government to governance.

25

BAB IV VISI, MISI DAN STRATEGI

VISI MISI

Visi : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Sikka Moret Epang( moret epang dalam bahasa Sikka berarti hidup baik/ layak atau hidup sejahtera seabagaimana yang menjadi cita-cita pembangunan nasional kita) Visi tersebut akan dapat terwujut dalam seluruh proses pembangunan jika mekanisme yang dibangun, berpegang pada Prinsip Dasarnya yakni: Masyarakat Kabupaten Sikka harus menjadi pelaksana/aktor/subyek pembangunan dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemanusiaannya. Menguatkan kebersatuan sosial, ekonomi, politik dan budaya dikalangan masyarakat untuk memperjuangkan kesejahteraan dan kemanusiaannya. Inisiatip, kretifitas dan kebebasan masyarakat untuk mengembangkan prakarsa dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemanusiaannya. Prinsip ini harus menjadi komitmen bersama masyarakat dan seluruh komponen lainnya dalam setiap langkah pembangunan tanpa rekayasa dan intervensi sepihak yang justeru mematikan prakarsa dan inisiatip masyarakat itu sendiri. Misi : Meningkatkan Taraf Hidup Dan Kesejahteraan Masyarakat dengan: publik Meningkatkan kualitas hidup masyarakat Mengembangkan organisasi rakyat Meningkatkan situasi kondusif dan rasa aman Meningkatkan kehidupan masyarakat yang demokratis Menerapkan prinsip prinsip good governance dalam pelayanan

STRATEGI DASAR PEMBANGUNAN KABUPATEN SIKKA 1. Membangun mulai dari desa. Prinsipnya, desa kuat- Negara sehat, desa makmurNegara sejahtera artinya keseimbangan pembangunan antara desa dan kota harus menjadi perhatian dan komitmen bersama. Sebab kenyataan selama ini dimana-mana terjadi dominasi kota, menjadikan kesenjangan yang tak dapat dihindari, didesa hanya menerima tetesan-tetesan alokasi sumber daya pembangunan yang terbatas, sehingga desa-desa tidak berdaya dalam segala hal.
26

2. Efisiensi dan profesionalisasi birokrasi pelayanan publik. Aparat birokrat dan sistem penanganan berbagai kebijakan harus benar-benar mencerminkan eksistensinya sebagai publick servicedimana pelayanan harus dilakukan secara sungguh-sungguh, berkwalitas dan bermanfaat maksimal untuk kepentingan masyarakat. 3. Gerakan rakyat. Setiap kebijakan pelaksanaan kegiatan program harus berimplikasi menjadi gerakan masyarakat. Cakupannya tidak boleh dibatasi oleh ruang, waktu dan dana yang dialokasikan untuk itu melainkan, kegiatannya harus menjadi sarana belajar dan motivasi untuk melibatkan sumber daya disekitarnya. 4. Pendidikan untuk semua. Kesempatan belajar bagi masyarakat berlangsung secara adil, tanpa diskriminasi dengan alas an apa pun. Semua warga masyarakat harus mempunyai akses/ kesempatan dan peluang yang sama dalam setiap kebijakan dan program pendidikan dan pemberdayaannya. TIGA PROGRAM POKOK PEMBANGUNAN LIMA TAHUN; Sebagai apresiasi atas paradigma pembangunan melalui pemberian otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab maka pembangunan Kabupaten Sikka ke depan bertumpu pada 3 (tiga) program pokok Pembangunan yaitu : 1. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Program ini bertumpu pada bidang Pendidikan dan Kesehatan, serta Lingkungan Hidup yang berkualitas. Kualitas Sumber Daya Manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan, derajat kesehatan dan kualitas Lingkungan Hidup harus dimulai dengan membangun kesadaran dan komitmen yang berawal dari keluarga-keluarga dalam masyarakat akan pentingnya pendidikan, kesehatan dan keseimbangan kesehatan lingkungan hidup. Karenanya, berbicara tentang Sumber Daya Manusia, maka kita harus berbicara tentang Keluarga. Keputusan penting masa depan yang cerah ceria ataupun bisa suram muram, ada pada keluarga. Keluarga adalah inti keberhasilan sedangkan pemerintah termasuk fasilitas swasta adalah pendukung. 2. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Hal terpenting dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat, adalah pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat melalui aktivitas ekonomi masyarakat sendiri. Oleh karenanya, harus diarahkan pada bidang garapan yang pemberdayaan ekonomi masyarakat

dipunyai / dimiliki petani, nelayan, buruh dan sebagainya. Mencermati

80 %

masyarakat Kabupaten Sikka adalah petani / nelayan maka haruslah secara konsisten
27

dikembangkan konsep pertanian yang berwawasan lingkungan dengan menggunakan sistim atau pendekatan konservasi air, tanah dan hutan, disamping terus dikembangkan pola bercocok tanam yang selaras alam. Demikian pula halnya dalam pengelolaan sumber daya kelautan haruslah memperhatikan konservasi terumbu karang, ekosistem laut dan pesisir. 3. Pengembangan Hubungan Kerjasama dan Kemitraan yang Efektif Di era globalisasi ini kesadaran akan satu dunia bersama terus tumbuh dan berkembang. Kesadaran ini menuntut keterbukaan dan saling kerja sama antar berbagai pihak, antar kota, antar daerah, antar negara, antar lembaga dalam Negara dan lintas Negara yang berbasis luas dan saling menguntungkan. Dalam konteks dunia tanpa batas think globally, act locally potensi / keunggulan masing-masing pihak dijadikan peluang untuk melakukan negosiasi yang akan membawa manfaat bagi masyarakat banyak. Pelaksanaan 3 (tiga) program pokok tersebut diatas dilandasi oleh filosofi, pendekatan GEMBIRA, Gerakan Membangun Berbasis Inisiatif Rakyat. Maknanya pertama, sebagai suatu ajakan untuk selalu gembira / antusias didalam bekerja. Dengan gembira orang dapat melalukan pekerjaan yang sulit sekalipun. Kedua adalah sebuah apresiasi terhadap kapasitas masyarakat, esensi dari demokrasi dan masyarakat madani. Dengan demikian Kata Kunci filosofi gembira adalah Gerakan dan Inisiatif Rakyat. Rakyat adalah aktor utama yang menggerakkan roda pembangunan sedangkan pemerintah adalah fasilitator. Untuk dapat melaksanakan program-program pokok dengan filosofi pendekatan gembira tersebut, faktor kepemimpinan handal yakni menjadi sangat penting sehingga menjadi prasarat bagi pemimpin Orde Reformasi / Otonomi Daerah harus memiliki Integritas Kepribadian yang Kualitas Intelektual yang mumpuni, Moralitas dan spiritualitas yang teruji, Kematangan Emosional dan Komunikatif, Energik dan Sehat jasmani serta dekat dihati rakyat untuk mencintai dan melayani.

28

BAB V KERANGKA STRATEGIS TAHAPAN TAHAPAN PEMBANGUNAN KABUPATEN SIKKA

Tiap upaya untuk memperhalus kerangka kerja yang disajikan harus mengakui bahwa logika yang essensial bagi suatu strategi pembangunan yang berkelanjutan terletak dalam penentuan prioritas untuk urutan intervensi intervensi pembangunan. Khususnya yang paling jelas membedakan dari visi pembangunan berbasisa rakyat dari strategi dan model pembangunan konvensional adalah tekanan yang diberikan kepada transformasi institusional sebagai titik tolak. Meskipun realitas tidak pernah mengikuti konseptualisasi yang begitu rapi, karakterisasi tahapan berikut ini dimaksudkan untuk membantu menjelaskan masalah masalah dan prioritas yang berkaitan dengan pentahapan dan pengurutan tindakan kebijakan. TAHAP I : PERSIAPAN UNTUK PERUBAHAN

Harus dibuat komitmen yang substansial terhadap pendidikan dasar dalam upaya untuk mencapai tingkat melek huruf dan melek angka yang mendekati sasaran nasional. Pendidikan ini harus memberikan ketrampilan yang bisa menghidupi dan mengembangkan kesadaran sebagai warga negara yang aktif.

Mendorong pengembangan organisasi rakyat yang kuat dan beragam pada tingkat masyarakat desa. Terutama mengurangi pembatasan terhadap pembentukan dan pembiayaan LSM / Voluntary sector.

Tingkatkan efisiensi dan profesionalisme birokrasi pemerintah, rasionalisasi, dan tingkatkan disiplin dan komitmennya terhadap pemberdayaan masyarakat sipil. Mendorong munculnya kekuatan ekonomi, politik, dan sosial kaum perempuan. Tingkatkan fungsi pemerintah lokal dan tanggungjawabnya terhadap rakyat (akuntabilitas publik). Kampanye publik ( public awareness raising ) untuk gerakan masyarakat, dengan demikian semua unsur dalam masyarakat mengetahui mengapa strategi ini perlu untuk kelangsungan hidup jangka panjang dan bagaimana strategi ini bisa membuka kesempatan kesempatan baru bagi mereka sendiri.

Perkokoh program program untuk mengurangi pertambahan penduduk dan untuk memperluas pelayanan kesehatan.
29

Tugas penting Tahap I adalah menciptakan konteks politik dan istitusional yang akan memungkinkan keberhasilan penerapan langkah selanjutnya. TAHAP II : PERBAIKAN ASET DAN INFRASTRUKTUR PEDESAAN Menata kepemilikan terhadap aset aset produksi, terutama tanah dengan memanfaatkan pemerintah lokal, organisasi rakyat, dan LSM untuk memegang peranan memimpin dalam pelaksanaannya. Promosikan Koperasi Rakyat / petani. Mengadakan investasi dalam infrastruktur dasar untuk membuka daerah pedesaan yang terpencil. Memperkuat sistem jaringan informasi dan komunikasi pedesaan. Menetapkan atau memperluas sistem peradilan. TAHAP III : INTENSIFIKASI DAN DIVERSIFIKASI PERTANIAN Meningkatkan nilai tambah unit pertanian kecil melalui intensifikasi dan diversifikasi, menambah tanaman yang menghasilkan panenan yang bernilai tinggi untuk pemasukan uang tunai, disamping tanaman untuk konsumsi keluarga. Menekankan teknologi non polusif yang regeneratif. Memperluas pelayanan kredit bermutu untuk para petani kecil dan usaha kecil. Memperbaiki fasilitas pemrosesan pemasaran dan produk pertanian lokal, dengan mengutamakan koperasi yang mandiri dan dikuasai oleh para petani sendiri. Pada tahap ini perhatian utama adalah untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan daerah pedesaan, dengan demikian memperkuat pasar lokal untuk produk pokok yang bisa dihasilkan oleh industri / usaha kecil pedesaan. TAHAP IV : INDUSTRIALISASI PEDESAAN Menyediakan insetif dan bantuan untuk mendirikan industri pedesaan skala kecil dan menengah untuk melayani kebutuhan penduduk desa dibidang jasa, barang barang modal, hasil pertanian dan pemrosesan. Mendorong dan menerapkan kebijakan untuk masuknya perusahaan perusahan kecil dan menengah. mekanisme perantara lokal untuk mempermudah

penyelesaian konflik individual dan kelompok secara damai dan mengurangi beban pada

30

Mendorong efisiensi yang produktif dengan menjamin bahwa pasar domestik tetap mempunyai daya saing, sambil melindungi produsen local kecil dan menengah dalam persaingan para pesaing besar yang lebih mapan. Dalam tahap ini ekonomi pedesaan bergerak dari yang terutama mengandalkan pertanian

menuju ekonomi pedesaan yang lebih matang dan terpadu yang mampu merangkap sebagian besar potensi nilai tambah produksi pertanian. TAHAP V : INDUSTRALISASI PERKOTAAN Secara bertahap menggeser prioritas untuk memperluas industri perkotaan yang mempunyai hubungan ke belakang dan ke depan dengan sector pertanian dan perindustrian pedesaan. TAHAP VI : PROMOSI EKSPOR Mendorong pengunaan kapasitas produksi tersisa untuk melayani pasar luar negeri dengan produk produk yang memiliki nilai tambah tinggi dibandingkan dengan kondisi sumber daya fisik dan lingkungan hidupnya. LANGKAH LANGKAH TEKNIS Untuk menuju kepada sasaran strategis dengan tahapan-tahapan perubahan

sebagaimana yang diharapkan diatas, maka langkah-langkah teknis yang harus dibangun menuju kepada pemahaman dan persepsi yang sama tentang pendekatan pembangunan partisipatif dimaksud, yakni; Melakukan sosialisasi secara meluas kesempatan seluruh kerangka program diatas melalui

rapat Koordinasi instansi perangkat daerah dan instansi vertical, juga

kepada para Kepala Desa, Lurah dan Anggota BPD, serta sosialisasi secara langsung kepada masyarakar sehinga mereka dapat berpartisipasi secara nyata dan bertanggung jawab. Membuat data base, dengan out putnya berupa prifil Kabupaten Sikka, termasuk profil kemiskinan dan profil masalahnya. Menetapkan Renstra Daerah dengan Filosofi Gembira dan Tiga Program Prioritasnya. Menetapkan Poldas Membuat Kalender Kegiatan secara berjenjangan pada tingkatan birokrasi pemerintahan Menjalankan Reformasi secara konsekuen dengan komitmen nurani untuk bekerja secara jujur dan iklas sebagai pelayan

31

MODEL PERENCANAAN PARTISIPATIF Selanjutnya, model pembangunan dengan pendekatan perncanaan Partisipatif, dalam rangka implementasi dendekatan Gembira dapat digambarkan sebagai berikut : Datanglah ketengah-tengah masyarakat; untuk merencanakan dan melaksanakan suatu kegiatan untuk mejawabi kebutuhan masyarakat, kita bisa hanya mendengar dari orang lain, membaca dan mengandalkan laporan atau membayangkan sesuatu kondisi atas kayalan kita; Tinggal bersama bersama mereka, sehingga mengetahui secara pasti kondisi masyarakat; Menyelami dibituhkan; Lakukan pertemuan dan diskusi formal, melibatkan semua komponen masyarakat termasuk aparat desa, lembaga adapt dan lembaga masyarakat lainnya, juga tokoh wanita dan pemuda. Identifikasi apa yang menjadi potensi dan apa yang menjadi masalah yang pada mereka; Iventarisasi apa yang menjadi masalah pokok/prioritas yakni; masalah yang berkaitan dengan kepentingan banyak orang, kalau tidak ditangani akan berakibat, meluas menyebabkan masalah baru, dan ada sumber daya untuk mengatasinya. Diskusikan untuk bisa menemukan akar masalahnya, yakni penyebab utamanya; Buat Rencana Tindak Lanjut bersama menyangkut: Apa Kegiatannya Tujuan yang hendak dicapai Out Put Indikator hasil Waktunya kapan mulai kegiatan dan selesainya Sasarannya kepada siapa dan dimana; Siapa penanggung jawabnya Berapa bsarnya dana dan dari mana sumbernya; Dan hal-halyang lain yang perlu disepakati dalam perencanan tersebut Kapan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala, baik awal kegiatan, pertengahan kegitan berjalan dan pada Keberhasilan dan kegagalan adalah tanggung jawab bersama.
32

dan mengetahui apa yang ada pada masyarakat dan apa yang paling

BAB VI PENUTUP

encermati kondisi existing mutu modal manusia Kabupaten

Sikka dan menyimak

masalah masalah serta kendala yang dihadapi, tuntutan terhadap visi pembangunan

berbasis rakyat sangatlah relevan dan menclesak. Dengan dipandu oleh visi pembangunan berbasis kerakyatan dan penerapan strategi pembangunan yang tepat, harapan kami cita-cita tentang MORET EPANG secara bertahap terwu jud. Selanjutnya, dalam kurun waktu lima tahun kepemimpinan kami, output yang akan dicapai adalah peletakan dasar tentang komitmen membangun dengan pola gerakan melalui prioritas partisipasi dan inisiatif rnkyat menjadi titik sentral perencancan dan pelaksanaannya. Dengan demikinn output dan hasil kerja kami lima tahun tersebut juga adalah perubahan pola pikir tentang paradigma pembangunan kerakyatan yang juga merupakan paradigma penyelenggaraan otonomi daerah. Kiranya Tuhan memberkati setiap niat baik, kejujuran dan keikhlasan masyarakat dan daerah ini untuk pembaruan dan perubahan hidup masyarakat Sikka ke depan. Epang Gawang!!

33

Drs. ALEXANDER LONGGINUS , lahir 25 Januari 1960 di Riit, memperoleh gelar Doktorandus spesialisasi Ilmu Pemasaran pada FIANiaga Universitas Nusa Cendana Kupang tahun 1988 dengan skripsi berjudul "Tinjauan Tataniaga Kemiri Desa Riit - Kecamatan Nita Kabupaten Sikka". Selain itu mengikuti berbagai pelatihan/seminar diantaranya mengikuti Pelatihan " Ketrampilan Kepemimpinan " termasuk kepemimpinan politik secara berjenjang (1983 -1986), "Pertanian Selaras Alam" (Permaculture) di Watulemang-Maumere (1991), Pelatihan Jurnalistik dan Metode Panelitian Hukum Kritis Rakyat di Larantuka ( 1995), Lokakarya Methode Pendekatan ZOPP ( Ziel Orientierte Project Planning ) untuk rnengembangkan Usaha Lahan Kering NTT di Maumere ( 1995 ), Pelatihan Pelatih ( TOT ) Methode Pendekatan "PRA" ( Participatory Rular Appraisal ) Perencanaan Desa secara partisipatip di Maumere ( 1996 ), Pelatihan Pemahaman Konsep dan Perjuangan "Gender" di Mataram - NTB ( 1997 ), Pelatihan Pelatih ( TOT ) Gender di Mataram ( 1997 ), seminar dan Lokakarya Arah Kebijakan Nasional mengenai Tanah dan Sumber daya alam lainnya di Bandung ( 2001 ), TOT Analisa Potensi Wilayah di Lingkungan DEPDAGRI dan Pemerintah Daerah di Jakarta ( 2001 ). Penulis menjadi pengajar pada SMEAK Yohanes XXIII ( 1987 -1989 ) dan pernah menjadi dosen tidak tetap ABA St. Maria Maumere, Manajer Hotel Permata Sari Maumere ( 1989 - 1990 ), Staf Lapangan Yayasan Kasimo Cabang Sikka (1990 - 1993), kemudian menjadi Direktur Eksekutif Yayasan Kasimo Cabang Sikka ( 1994 - 2001 ) dan pada tahun (2001 - 2003) menjadi Penasehat Program dan Pengembangan Yayasan Kasimo Cabang Sikka. Karier politik diawali dengan menjadi kader aktif PDI NTT di Kupang, dan menjadi anggota "Baja" (Banteng Remaja, 1982), Pengurus DPD PDI NTT sebagai Wakil Ketua ( 1986), Wakil Sekretaris DPC PDI Kabupaten Sikka (1988 - 1990) terpilih kembali menjadi Sekretaris DPC PDI Sikka ( 1994 ) - menjadi Sekretaris DPC PDI Sikka (1994 - 1999), kemudian menduduki jabatan Ketua DPC PDIP Kabupaten Sikka masa bhakti (2001 - 2006), pernah menjadi peserta aktif dalam "Kongres Luar Biasa" PDI di Surabaya ( 1993 ), utusan kongres ke 5 PDI di Bali sebagai awal diberikan nama "PDT Perjuangan" (1998 ), clan sebagai salah satu utusan peserta Kongres I PDI Perjuangan di Semarang-Jawa Tengah. Anggota DPRD Kabupaten Sikka Fraksi PDI ( 1992 - 1997 ), Anggota DPRD Kabupaten Sikka fraksi PDI Perjuangan ( 1999 - 2003 ) dan sekarang menjabat sebagai Bupati Sikka masa bhakti 2003 - 2008.

34

Drs. YOSEPH ANSA RERA , lahir 21 Maret 1955 di Sikka, memperoleh gelar Doktorandus spesialisasi Ilmu Pemerintahan pada Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta tahun 1988. Sebelumnya beliau menyelesaikan pendidikannya di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri pada tahun 1978 di Kupang. Selain itu, mengikuti berbagai Pendidikan Penjenjangan diantaranya mengikuti SEI'ADA di Kupang ( 1984 ), SEPALA di Kupang (1993), SPAMA di Kupang (1996), dan DIKLAT PIM II (SPAMEN ) di Jakarta ( 2002 ), juga berbagai Kursus, Pelatihan, Lokakarya dan Workshop di Bidang Pemerintahan dan Kemasyarakatan di Maumere, Kupang, Bandung, Jakarta dan Yogyakarta. Pengalaman berorganisasi yang pernah beliau ikuti diantaranya sebagai Ketua Pengurus Cabang Persatuan Lawan Tenis Indonesia ( PELTI ) Sikka ( 1998 - sekarang ), Ketua Pengurus Cabang Federasi Organisasi Karate Indonesia ( IFORKI ) Sikka ( 2000 - sekarang) dan ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI ) Sikka (2004 - sekarang ). Beliau juga mendapatkan Penghargaan sebagai KPPD oleh Gubernur NTT ( 1980 ) dan Setya Lencama Karya Setya 10 Tahun oleh Presiden RI ( 1999 ). Penulis menjadi Kader Pelopor Pembangunan Desa ( KI'PD ) di Desa Kotandora Kecamatan Borong di Manggarai (1979), ditempatkan pada Mawil Hansip Propinsi NTT di Kupang ( 1980 ), Kepala Sub Bidang Pendaftaran pada Mawil Hansip Propinsi NTT di Kupang (1982 -1985), Kepala Sub Bidang Penyaringan pada Mawil Hansip Propinsi NTT di Kupang ( 1988 - 1990 ), Camat Nita Kabupaten Sikka (1990 -1994), Kepala bagian Tata Pemerintahan pada Setwilda Tingkat II Sikka ( 1994 - 1998 ), Kepala Kantor Sosial Politik Kabupaten Sikka ( 1998 - 2001 ), Sekretaris DPRD Kabupaten Sikka (2001 - 2003) dan sekarang menjabat sebagai Wakil Bupati Sikka masa bakti 2003 - 2008.

35