Anda di halaman 1dari 4

Pemikiran Politik tahun pasca kemerdekaan (1945-1965)

Pada periode terakhir pemerintahan Belanda di Indonesia telah tumbuh kesadaran dari bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Hal ini merupakan dampak dari perubahan sosial ekonomi, dan pendidikan yang diperoleh dari barat, serta ide-ide Islam reformis. Sementara banyak ide-ide baru diperkenalkan dan diadopsi, banyak konsepsi tradisional yang sampai sekarang masih dianut sebagian besar masyarakat dengan cara baru. Media massa juga memegang peranan besar pada masa-masa itu. Media massa mampu menjadi alternatif baru untuk menyebarkan semangat kemerdekaan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak pemikir politik menjadi sadar karena pengaruh media massa ini. Di saat itu mulai lahir organisasi-organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Partai Komunis Indonesia, dan lain-lain. Selain itu muncul juga para pemikir seperti Tjipto Mangunkusumo, Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, Soekarno, Hatta, Natsir, Sjahrir, dan Alijahbana. Konsekuensi dari perkembangan media, organisasi, dan pemikir-pemikir ini adalah untuk mengkristalisasi perbedaan laten dalam pandangan politik dan filosofis, dan untuk memulai periode perdebatan ideologi dan konflik. Seperti pada tahun 20-an perdebatan antara komunisme dan Islam. Dan pada tahun 30-an antara nasionalisme sekular dan Islam. Perdebatan ini dibumbui oleh pihak yang tertarik pada dinamisme budaya barat dan mereka yang ingin menghidupkan dan mengembangkan kembali tradisi politik dan filosofis yang bertentangan dengan barat. Pemikiran politik di Indonesia setelah dua puluh tahun kemerdekaan dibukukan oleh Herbert Feith dan Lance Castles yang judulnya Indonesia Berpikir Politik : 1945-1965. Mereka membagi periode politik di Indonesia menjadi tiga. Yang pertama adalah periode revolusi bersenjata (1945-1949). Pada periode ini pemikiran politik dikuasai oeh sekelompok kecil orang berpendidikan, yaitu mereka yang berperan dalam pergerakan nasional seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Natsir dan Tan Malaka. Akibatnya kesenjangan antara dunia pemikiran politik dan dunia kekuasaan politik cukup sempit. Tema pemikiran politik pada masa ini adalah pencarian dasardasar umum yang tepat bagi bangsa Indonesia, salah satu contoh produknya adalah Pancasila. Baru pada periode kedua atau liberal (1950-1959) pemikiran politik mulai meluas, tidak hanya para pimpinan negara namun juga para penulis, wartawan, dan mahasiswa. Pada masa ini ditandai dengan konflik antar partai dan pertentangan

ideologi ekstrim. Lalu periode ketiga adalah periode demokrasi terpimpin (19591965), ditandai dengan penerimaan wajib pada ide-ide politik Soekarno seperti sosialisme ala Indonesia dan Nasakom. Karena himbauan yang berulang-ulang dari Soekarno mengakibatkan ide-ide ini mendominasi, dan hampir memonopoli diskusi publik, tidak hanya itu, pemikir yang tidak sepaham dengan ide-ide itu dibungkam untuk melancarkan ide-ide politik Soekarno. Lima aliran pemikiran politik yang ada pada tahun 1945-1965 yang Feith identifikasi adalah: tradisi Jawa, Islam, nasionalisme radikal, komunisme dan sosialisme demokratis. Meskipun tradisi Jawa tidak pernah telah memberikan dasar ideologis partai politik atau pengelompokan, itu jelas telah mempengaruhi sejumlah pihak yang penting. Sebagian besar masyarakat akan setuju apabila berbagai aliran politik dipengaruhi oleh penduduk asli (khususnya Hindu-Jawa), Islam, dan tradisi barat. Namun apabila disuguhi lima aliran pemikiran yang telah dikembangkan selama periode 1959-1965 ini dalam pemilu 1955, direfleksikan melalui partai-partai peserta pemilu. Tradisi Jawa, walaupun tidak memberikan dasar ideologis namun telah memberikan pengaruh pada sejumlah partai penting seperti PNI dan NU. Begitu pula dengan Islam yang telah memberi pengaruh pada NU dan Masyumi. Di Masyumi juga terlihat pemikiran sosialis demokratis, serta nasionalisme radikal yang nampak pada PNI. Lalu ada juga manifestasi paling jelas dari aliran sosialis demokratis yang nampak pada Partai Sosialis Indonesia (PSI). Adanya lima pandangan politik mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan politik, di mana masing-masing partai mengunggulkan ideologinya, sebagai contoh, perbedaan pandangan antara PNI yang beraliran nasionalisme radikal dan Masyumi yang beraliran Islam. Kedua partai ini memiliki pandangan yang berbeda tentang dasar tujuan negara dan bangsa. Masyumi menginginkan negara berdasarkan Islam, sedangkan menurut PNI dasar keagamaan itu sebaiknya yang telah ada dalam Pancasila yang hanya menyatakan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pemimpin Masyumi menyangkal tuduhan negara berdasarkan Islam bertentangan dengan Pancasila. Dilain pihak, PNI juga sama kerasnya menuduh Masyumi menentang simbol-simbol nasionalis. Kampanye ideologis dari partai-partai mengarah dan mempertajam polarisasi dalam masyarakat yang menimbulkan perpecahan. Partai-partai saling bersaing dalam menarik anggota dengan cara, memberi gambaran yang masuk akal tentang keadaan politik, serta merumuskan kembali nilai-nilai yang patut

dipertahankan. Konflik yang terjadi antara partai politik lebih di dorong oleh konflik golongan yang berhaluan kiri dan golongan yang berhaluan kanan. Presiden Soekarno mengambil langkah untuk mengatasi hal tersebut dengan mengganti sistem politik yang ada dengan sistem baru yang dikatakan ideal dengan kepribadian Indonesia. Sistem ini disebut sistem demokrasi musyawarah-mufakat atau Demokrasi Terpimpin dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pengaruh Soekarno masa Demokrasi Terpimpin semakin besar dalam politik Indonesia. Hal ini disebabkan ketidakmampuan partai politik membendung percekcokan antar sesama partai yang akhirnya menimbulkan ketidakstabilan politik. Penyebab lainnya adalah keinginan Soekarno untuk memainkan peranan yang paling besar dan berarti dalam politik, bukan sekedar lambang seperti dikehendaki UUDS 1950. Selain itu, karena keinginan tokoh militer untuk berperan di dalam politik yang disebabkan oleh semakin menurunnya kepercayaan militer terhadap partai politik atau politisi sipil dalam menjalankan roda pemerintahan. Sejak tahun 1957, peranan partai di dalam kehidupan politik Indonesia mulai menurun. Fungsi partai mulai dibatasi menjadi hanya sebagai penyalur formal suara masyarakat. Peranan partai di dalam mengambil keputusan mulai diambil alih, dan mengarah ke arah orang-orang di sekeliling Soekarno, supaya partai lebih menjadi penyokong daripada penentang, maka restu presiden mulai mempunyai peranan di dalam penyusunan Dewan Pimpinan Partai (DPP). Di dalam situasi Demokrasi Terpimpin, partai-partai politik diharuskan tunduk pada manifesto politik yang bertujuan mencapai cita-cita nasional yang satu yaitu terwujudnya rencana masyarakat sosialis Indonesia yang bersumber pada norma politik yaitu Presiden Soekarno. Soekarno masa Demokrasi Terpimpin mempunyai kekuatan besar, di samping militer dan PKI. Soekarno bermain seimbang dalam dua kekuatan antara militer dan PKI, karena kekuatan tersebut saling bermusuhan dalam mempengaruhi pemikiran Soekarno. Dibubarkannya PKI pada tahun 1965 dan antek-anteknya merupakan akhir dari tumbangnya kekuasaan Orde Lama.

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa Herbert Feith menyatakan bahwa berawal dua sumber utama pemikiran politik di Indonesia kemudian menghasilkan lima aliran politik pada masa Demokrasi Terpimipin. Kelima aliran politik itu antara lain: 1. Komunisme yang mengambil konsep-konsep langsung maupun tidak langsung dari Barat, walaupun mereka seringkali menggunakan ideom politik dan mendapat dukungan kuat dari kalangan abangan tradisional. Komunisme mengambil bentuk utama sebagai kekuatan politik dalm Partai Komunis Indonesia. 2. Sosialisme Demokrat yang juga mengambil inspirasi dari pemikiran barat. Aliran ini muncul dalam Partai Sosialis Indonesia. 3. Islam, yang terbagi menjadi dua varian: kelompok Islam Reformis (dalam bahasa Feith) atau Modernis dalam istilah yang digunakan secara umum yang berpusat pada Partai Masjumi, serta kelompok Islam konservatif atau sering disebut tradisionalis yang berpusat pada Nadhatul Ulama. 4. Nasionalisme Radikal, aliran yang muncul sebagai respon terhadap kolonialisme dan berpusat pada Partai nasionalis Indonesia (PNI). 5. Tradisionalisme Jawa, penganut tradisi-tradisi Jawa. Pemunculan aliran ini agak kontroversial karena aliran ini tidak muncul sebagai kekuatan politik formal yang kongkret, melainkan sangat mempengaruhi cara pandang aktor-aktor politik dalam Partai Indonesia Raya (PIR), kelompok-kelompok Teosufis (kebatinan) dan sangat berpengaruh dalam birokrasi pemerintahan (pamong Praja). Daftar Pustaka Alfian. 1971. Indonesian Political Thinking: a Review (ebook), Vol. 11, pp. 193200 dalam http://cip.cornell.edu/DPubS? service=UI&version=1.0&verb=Display&handle=seap.indo%2F1107124120 (diakses 15 Oktober 2013) Putra, Arif Permana. Penyederhaan Partai Politik di Indonesia Tahun 1960 (ebook), dalam http://eprints.uns.ac.id/5221/1/130990508201005251.pdf (diakses 16 Oktober 2013)