Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

PEMERIKSAAN KADAR GLUKOSA


Tanggal praktikum: 25 September 2013

DISUSUN OLEH Kelompok 5/E 10060310112 10060310113 10060310114 10060310115 10060309020 Nur Amanah Bentar Ali B Dadi Setiawan Dewi Sulastri Hendi Ari Perdian

Asisten: Latifah hafif, S.Farm

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT A PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2013

I.

Tujuan Percobaan Memahami cara menguji aktivitas antibiotik terhadap satu mikroba secara in vitro. Menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) suatu antibiotik terhadap mikroba tertentu. Membandingkan 2 metode dalam penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

II.

Pendahuluan

III.

Alat dan Bahan Alat 1. Mikro pipet 10L, 1000 L 2. Tabung reaksi 3. Spektrofotometer dengan gelombang 492nm-546nm Bahan 1. Darah NaF atau serum 2. Enzim GOD 3. Pelarut (aquadest) 4. Larutan Standar

IV.

Prosedur Percobaan 1. Disiapkan alat dan bahan yang sudah dibersihkan terlebih dahulu dan dikeringkan 2. Ke dalam masing-masing tabung dimasukkan: Uji Serum Standar Aquadest Pereaksi 1000 L 1000 L 10 L 10 L 10 L 1000 L Standar Blanko

3. Pengujian dilakukan secara triplo 4. Dikocok hingga homogen dan dibiarkan dalm suhu ruang selama 10 menit 5. Diabsorbansi menggunakan spektrofotometri dari tiap sampel uji dan standar terhadap blanko pada panjang gelombang 505 nm. 6. Nilai hasil absorbnasi di catat.

V.

Data Pengamatan dan Perhitungan A. Data Pengamatan Nilai Absorbansi dari tiap sampel Sampel Uji Uji Uji Blanko Standar B. Perhitungan Perhitungan kadar glukosa darah dalam sample uji berdasarkan nilai absorbansi. Glukosa darah = Kadar standarnya adalah 100 mg/dL Rata-rata absorbansi standar adalah (0,364 + 0,424 + 0,436)/3 = 0,408 ABS 0,346 ABS Glukosa darah = 0,366 ABS Glukosa darah = 0,657 ABS Glukosa darah = Rata-rata kadar glukosa darah = = 161 mg/dL = 111,83 mg/dL = 89,7 mg/dL = 84,8 mg/dL ABS 0,346 0,366 0,657 0,000 0,364

0,000 0,424

0,000 0,436

Perhitungan nilai standar deviasi terhadap sampel nilai uji Kadar uji (xi) 84,8 89,7 161 -27,03 -22,13 49,17 730,62 489,74 2417,68
2

Sd = = = = 42,64 Maka, SBR = =

x 100%

= 38,129 %

VI.

Pembahasan Pemeriksaan kadar glukosa bertujuan untuk mengetahui banyaknya kandungan glukosa dalam darah dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang didapat. Kadar glukosa dalam darah ini biasanya digunakan sebagai salah satu parameter untuk melihat apakah seseorang mengidap penyakit diabetes atau tidak. Jika terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah melebihi dari batas normal, maka seseorang tersebut bisa dikatakan mengidap penyakit diabetes militus. Selain itu, didalam dunia medis pemeriksaan kadar glukosa darah tersebut tidak hanya berguna untuk diagnosis penyakit tetapi juga merupakan bagian penting dalam pemeriksaan kesehatan rutin dan program skrining kesehatan. Pada percobaan kali ini, pemeriksaan kadar glukosa dilakukan dengan menggunakan metode enzimatis. Pada metode ini glukosa diukur kadarnya setelah dioksidasi secara enzimatis mengguunakan enzim GOD atau glukosa oksidase. Penambahan enzim tersebut dilakukan dengan tujuan agar mendapatkan senyawa yang dapat bereaksi membentuk warna tertentu sehingga dapat diukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometri. Umumnya pada pemeriksaan kimia darah khususnya glukosa biasanya digunakan serum sebagai spesimen. Serum merupakan hasil pemisahan antara

komponen cair dan seluler dari darah (whole blood). Dari hasil pemisahan tersebut, didapat serum yang tidak mengandung sel-sel darah. Oleh karena itu, pada pemeriksaan kadar glukosa ini digunakan serum sebagai spesimen dengan tujuan untuk mencegah terjadinya proses metabolisme sel hidup (selsel darah) yang dapat mengakibatkan penurunan kadar glukosa darah sehingga akan mempengaruhi akurasi dan presisi pada hasil pemeriksaan. Sebelum melakukan percobaan pemeriksaan kadar glukosa darah hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan spesimen uji (serum), larutan blangko dan membuat larutan standar. Penyiapan spesimen uji dilakukan dengan mengambil darah salah satu peserta praktikum yang kemudian darah tersebut disentrifuga untuk dipisahkan dari sel-sel darah. Cairan bening dari hasil sentrifuga tersebut (serum) digunakan sebagai spesimen uji. Untuk pembuatan larutan standar dilakukan dengan cara melarutkan glukosa di dalam aquadest dengan konsentrasi 100 mg/dL. Sedangkan larutan blangko adalah campuran aquadest dengan enzim GOD yang akan digunakan pada pemeriksaan kadar glukosa. Tujuan dari pembuatan larutan blangko tersebut adalah untuk membuktikan bahwa pelarut yang digunakan tidak memiliki daya absorbansi (sama dengan nol) sehingga ketika kita mengukur sampel menggunakan spektrofotometri, hanya kadar yang ingin kita ukur (kadar glukosa) saja yang terbaca. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan larutan standar dengan mencampurkan larutan standar dan enzim GOD masing-masing sebanyak 10 l dan 1000 l ke dalam tabung reaksi. Larutan standar ini digunakan sebagai pembanding spesimen uji. Kemudian untuk menyiapkan spesimen uji (serum) juga sama seperti halnya pada penyiapan larutan standar, dimana serum yang didapat diambil sebanyak 10 L dan ditambahkan enzim GOD sebanyak 1000 L. Setelah larutan standar dan spesimen uji (serum) tersebut ditambahkan enzim GOD, keduanya mendapatkan perlakuan yang sama. Kemudian kedua larutan tersebut direplikasi sebanyak 3 (triplo) dengan tujuan untuk mendapatkan konsentrasi yang tepat pada saat pengukuran absorbansi sehingga datayang diperoleh lebih valid.

Selanjutnya, dilakukan pengocokan pada kedua larutan tersebut dengan tujuan agar larutan yang akan diukur absorbansinya tercampur homogen. Kemudian kedua larutan tersebut didiamkan selama 10 menit pada suhu kamar. Hal ini dimaksudkan agar enzim tersebut dapat berikatan dengan substrat sehingga dapat bereaksi secara optimal dan didapat hasil yang optimal. Jika kurang dari 10 menit dikhawatirkan reaksi enzimatis yang terjadi belum sempurna sehingga akan mempengaruhi hasil yang diperoleh. Enzim dapat bekerja pada suhu tubuh. Suhu pada tubuh manusia hampir mirip dengan suhu ruangan. Jika kedua larutan tersebut disimpan di dalam suhu yang lebih rendah, kemungkinan enzim tersebut akan menjadi inaktif. Sedangkan jika disimpan dalam suhu yang lebih tinggi maka akan terjadi kerusakan pada enzim tersebut. Oleh karena itu, kedua larutan tersebut disimpan dalam suhu ruang, agar enzim tersebut dapat melakukan kerjanya secara optimal. Setelah didiamkan selama sepuluh menit, terjadi perubahan pada kedua larutan tersebut akibat reaksi dari enzim tersebut dimana kedua larutan yang tadinya bening berubah menjadi larutan berwarna. Perubahan warna tersebut terjadi akibat dari reaksi enzimatis yang menimbulkan reaksi oksidasi glukosa menjadi asam glukanoat dan hidrogen peroksida. Dengan bantuan enzim hidrogen peroksida tersebut kemudian akan membentuk senyawa quinoneimina. Quinoneimina merupakan senyawa berwarna yang memiliki ikatan terkonjugasi sehingga memenuhi persyaratan sampel pada pengukuran kadar menggunakan spektrofotometri. Intensitas warna yang terbentuk dari senyawa tersebut sebanding dengan kadar glukosa dalam darah. Semakin pekat warna larutan yang dihasilkan, maka semakin banyak kadar senyawa yang di analisis.

Quinoneimina

Selanjutnya dilakukan pengukuran aktivitas serum dan larutan standar dengan alat spektrofotometri pada panjang gelombang 505 nm. Pada panjang gelombang inilah diharapkan, dihasilkan daya absorbansi yang optimal untuk senyawa yang akan di analisis. Setelah dilakukan pengukuran menggunakan spektrofotometri didapat nilai absorbansi dari campuran 10 L standard dan 1000 L enzim GOD sebesar 0,364; 0,424; dan 0,436 dengan rata-rata absorbansi standar sebesar 0,408 ABS. Sedangkan untuk nilai absorbansi dari campuran 10 L serum dan 1000 L adalah sebesar 0,346; 0,366; dan 0,657. Dari hasil data yang diperoleh, dapat dihitung kadar glukosa dengan menggunakan rumus:

dengan C standar (tertera pada kemasan standar) adalah 100 mg/dL. Absorbansi sampel dan standar masing-masing diukur triplo. Berdasarkan perhitungan dari rumus tersebut didapatkan rata-rata kadar glukosa darah sebesar 111,83 mg/dL. Menurut literatur, nilai pengukuran kadar glukosa sewaktu dikatakan normal jika nilanya kurang dari 180 mg/dL, sedangkan glukosa puasa dikatakan normal jika kadar glukosa darahnya antara 70 110 mg/dL dan untuk glukosa 2 jam PP dikatan normal jika kadar glukosa darahnya sebesar 40 mg/dL. Dari hasil ini dapat disimpulakan bahwa kadar glukosa pada sample tidak temasuk hiperglikemi (diabetes militus) karena tidak melebihi nilai batasan glukosa darah sewaktu.

VII.

Kesimpulan Pada metode cakram kertas KHM Ampisilin Na terhadap Staphylococcus aureus adalah 0,01 g/cakram kertas dan harga KHM Ampisilin Na terhadap Escherichia coli adalah 0,1 g/cakram kertas. Sedangkan pada metode pengenceran agar harga KHM Ampisilin Na terhadap

Staphylococcus aureus adalah 1 g/mL dan harga KHM Ampisilin Na terhadap Escherichia coli adalah 1000 g/mL

Pada metode cakram kertas Harga KHM Tetrasiklin HCl terhadap Staphylococcus aureus adalah 0,25 g/cakram kertas dan harga KHM Ampisilin Na terhadap Escherichia coli adalah 0,01 g/cakram kertas. Sedangkan pada metode pengenceran agar harga KHM Tetrasiklin HCl terhadap Staphylococcus aureus adalah 1 g/mL dan harga KHM Tetrasiklin HCl terhadap Escherichia coli adalah 1 g/mL

Pada metode cakram kertas harga KHM Kloramfenikol terhadap Staphylococcus aureus adalah 0,01 g/cakram kertas dan harga KHM Kloramfenikol terhadap Escherichia coli adalah 5 g/cakram kertas. Sedangkan pada metode pengenceran agar Harga KHM Kloramfenikol terhadap Staphylococcus aureus adalah 1000 g/mL dan harga KHM Kloramfenikol terhadap Escherichia coli tidak ada.

VIII.

Daftar Pustaka Anonim. 2012. Jenis-jenis Antibiotika. Di akses dari http://ml.scribd.com/doc/176546/ pada 11 Mei 2013. Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia Ed. III. Jakarta : Depkes RI Jawetz et. Al. 1996. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 20. EGC:Jakarta Wattimena, R. Joko dkk. 1991. Farmakodinami dan Terapi Antibiotik. Yogyakarta: UGM-Press

Harmita dan Maksum.2008.Buku Ajar Analisis Hayati Edisi 3.Jakarta : Kedokteran EGC Kawuri, R., Y. Ramona dan I. B. G. Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Farmasi. Jurusan Biologi F. MIPA UNUD : Bukit Jimbaran