Anda di halaman 1dari 11

FENOMENA PENGGUNAAN HAND PHONE (HP) DI ERA INFORMASI BAGI KEBERADAAN MANUSIA: SUATU REFLEKSI FILOSOFIS BERDASARKAN PEMIKIRAN

HEIDEGGER TENTANG BEING AND TIME


Fadhilah Abstrak Tulisan yang berjudul Fenomena Penggunaan Hand Phone Di Era Informasi Bagi Keberadaan Manusia adalah sebuah refleksi filosofis tentang hakekat dan makna teknologi (dalam hal ini teknologi komunikasi) berdasarkan pemikiran Heidegger tentang Being and Time. Latar belakang dari penulisan topik ini adalah selain sebagai analisa kritis yang bersifat teoritis, juga sebagai respon penulis terhadap perkembangan teknologi di bidang telekomunikasi yang dalam 10 tahun terakhir telah banyak membawa dampak positif, maupun negatif bagi keberadaan manusia. Manusia sebagai subyek teknologi dalam fenomena penggunaan HP akhir-akhir ini telah berubah menjadi obyek eksploitasi dalam pemasaran produk HP. HP sebagai produk teknologi yang semula berfungsi sebagai media komunikasi, sekarang telah bertambah dan beralih fungsi, dari fungsi utama sebagai manivestasi pandangan hidup manusia (way of life) menjadi cermin gaya hidup masyarakat (life style). Dalam hal ini hakekat dan makna HP telah berubah, tergantung dari manusia sebagai subyek teknologi dan terhadap benda-benda yang ada di sekitarnya. Kesadaran akan posisi manusia sebagai subyek teknologi, adalah penting dalam kaitannya dengan struktur ilmu pengetahuan dan teknologi yang menempatkan manusia sebagai subyek dan obyek sekaligus. Ketika manusia sebagai subyek teknologi, maka manusialah yang seharusnya mampu mengontrol gerak dan arah perkembangan teknologi agar tidak menimbulkan dampak yang bersifat destruktif. Begitu juga ketika manusia sebagai obyek teknologi, maka manusia harus mampu membentengi diri agar tidak menjadi obyek bagi eksploitasi dan pemasaran produk teknologi. Kata Kunci: Teknologi Komunikasi, Pemikiran Filosofis, Eksistensi Manusia
Jurnal Madani Edisi I/Mei 2008 40

Pendahuluan Di era informasi, dimana perkembangan telekomunikasi semakin pesat, hampir semua orang mengenal sebuah benda yang diciptakan sebagi media komunikasi cepat, mudah dan praktis. Semula benda tersebut merupakan barang mewah. Namun, kini benda tersebut tidak lagi harus menjadi barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh golongan masyarakat menengah ke atas, karena beberapa tahun terakhir telah diproduksi dalam berbagai jenis dan model dengan kualitas dan harga yang sangat variatif, mulai dari harga di bawah Rp 200.000,- hingga di atas Rp 5.000.000,-. Begitu juga dalam sistem pemasarannya telah memungkinkan siapapun yang membutuhkan benda tersebut dapat memilikinya. Dengan sistem penjualan cash maupun kredit, atau dengan penawaran terhadap barang second, kini benda yang dimaksud adalah HP (hand phone/ ponsel), baik

GSM, maupun CDMA dengan mudah dapat dimiliki hampir semua golongan masyarakat dan telah menjadi salah satu kebutuhan hidup masyarakat modern dalam berkomunikasi. Kemudahan untuk memiliki HP yang semula termasuk barang mewah dan tidak semua orang bisa memiliki, sekarang telah merubah/ menambah fungsi HP dengan berbagai macam makna. Bagi masyarakat modern, sekarang penggunaan HP tidak lagi hanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk sosial yang perlu berkomunikasi dengan orang lain. Sebagai media komunikasi dalam berbagai bidang kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, pendidikan, keamanan, dan lain-lain, maka fungsi HP di era informasi dapat dikatakan sebagai fungsi utama HP. Namun dalam perkembangan beberapa tahun terakhir, fungsi HP telah berubah menjadi bagian dari gaya hidup (life styile) masyarakat yang memiliki berbagai dimensi, antara lain dimensi budaya, etis, estetis, bahkan sebagai media hiburan anak-anak, maupun orang dewasa. Dengan demikian esensi HP sebagai produk teknologi di bidang telekomunikasi telah banyak membawa dampak, baik positif, maupun negatif bagi kehidupan masyarakat modern di era informasi. Permasalahan yang muncul dari fenomena penggunaan HP dalam hal ini adalah bagaimana antisipasi yang dapat dilakukan terhadap dampak negatif dari penggunaan HP selain dari fungsi utama HP sebagai media komunikasi yang efektif. Hal tersebut menjadi latar belakang pembahasan topik/ judul tulisan ini. Tujuan dari pembahasan topik ini ada dua, yaitu secara teoritis/filosofis dan secara praktis. Tujuan secara teoritis/filosofis adalah sebagai refleksi filosofis penulis terhadap fenomena penggunaan HP (hand phone/ponsel) dalam perspektif filsafat teknologi Martin Heidegger (1889-1967), khususnya dalam pemikirannya tentang Being and Time. Tujuan praktis adalah sebagai respon langsung dalam sikap dan tindakan diri sendiri dan himbauan kepada masyarakat pengguna HP untuk lebih bersikap kritis, selektif dan preventif dalam menghadapi dampak negatif dari penggunaan HP. Dalam hal ini sikap kritis terhadap dampak
Jurnal Madani Edisi I/Mei 2008 41

positif maupun negatif dari ilmu pengetahuan dan teknologi adalah penting dalam rangka mengembalikan posisi manusia sebagai subyek teknologi, meskipun dalam struktur ilmu pengetahuan, kedudukan manusia dapat sebagai subyek dan obyek ilmu sekaligus. (Van Melsen, 1992) Latar Belakang Pemikiran Heidegger (1889-1967) Tentang Teknologi Sebagai Dasar Pertimbangan Penilaian Terhadap Perkembangan Teknologi Modern Pemikiran Heidegger antara lain dipengaruhi oleh S. Kiekegaard (1813-1855) sebagai sumber utama pemikiran eksistesialismenya, dan Edmund Husserl (1859-1938), filsuf fenomenologi, serta metafisika modern Henry Bergson. Pemikiran eksistensialisme bermacam-macam, namun memiliki beberapa ciri persamaan. Pengertian eksistensi dalam filsafat eksistensialisme memiliki makna khusus, bukan sekedar berada dalam ruang dan waktu sebagaimana pengertian eksistensi dalam kehidupan seharihari. Eksistensi adalah cara manusia berada dalam dunia yang berbeda dengan beradanya benda-benda. Beradanya benda-benda menjadi bermakna karena manusia. Eksistensi berasal dari kata: eks (keluar) dan sistensi, yang diturunkan dari kata kerja sisto (berdiri, menempatkan). Oleh karena itu kata eksistensi diartikan: manusia berdiri sebagai diri sendiri keluar dari dirinya. Manusia sadar bahwa dirinya ada. Dirinya disebut aku. Segala sesuatu dihubungkan dengan dirinya. Mejaku, kursiku, temanku, HP- ku dll. Manusia menyibukkan dirinya dengan apa yang di luar dirinya dan menggunakan benda-benda yang ada di sekitarnya. Dalam konteks ini, kesibukan manusia dengan dunia sekitarnya menggunakan alat komunikasi, seperti HP untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedikitnya terdapat 4 pemikiran yang jelas dapat disebut eksistensialisme, yaitu pemikiran Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Karl Jaspers dan Gabriel Marcel. Beberapa ciri persamaan filsafat eksistensialisme antara lain sebagai berikut: 1. Motif pokok adalah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara manusia berada. Hanya manusia yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara khas manusia berada. Pusat perhatian ini ada pada manusia. Oleh karena itu bersifat

humanitis. 2. Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara aktif, bereksistensi berarti berarti berbuat, menjadi, merencanakan. Setiap saat manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaannya. 3. Di dalam filsafat eksistensialisme manusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk. Pada hakikatnya manusia terikat kepada dunia sekitarnya, terlebih-lebih kepada sesama manusia. 4. Filsafat eksistensialisme memberi tekanan kepada pengalaman yang konkrit, pengalaman yang eksistensial. Hanya arti pengalaman ini berbeda-beda. Heidegger memJurnal
Madani Edisi I/Mei 2008 42

beri tekanan kepada kematian, yang menyuramkan segala sesuatu, Marcel kepada pengalaman keagamaan dan Jaspers kepada pengalaman hidup yang bermacam-macam seperti kematian, penderitaan, perjuangan dan kesalahan. (Harun Hadiwijono, 1995) Menurut motif utama eksistensialisme Heidegger, eksistensi manusia berbeda dengan dunia itu sendiri. Eksistensi manusia mendahului esensinya. Dengan kata lain, hakekat dan makna kehidupan manusia dapat ditangkap melalui bagaimana cara manusia berada dalam dunia, yaitu bagaimana manusia berinteraksi dengan orang lain dan dengan dunia sekitarnya. Pemikiran eksistensialisme tersebut menjadi latar belakang pandangan Heidegger tentang teknologi untuk menilai perkembangan teknologi modern berdasarkan eksistensi dan hakekat manusia sebagai makhluk sosial. Eksistensi manusia sebagai makhluk sosial adalah bagaimana cara manusia berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Di era informasi, maka adanya HP adalah sebagai cara manusia berada, yaitu untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik komunikasi dalam hubungan keluarga, hubungan antar teman, maupun komunikasi dalam berbagai bidang kehidupan yang lain, seperti komunikasi bisnis, politik, pendidikan, keamanan dan lain-lain. Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara aktif, bereksistensi berarti berarti berbuat,

menjadi, dan merencanakan. Berkaitan dengan fungsi HP sebagai cara manusia berada, maka dalam perkembangan teknologi HP juga telah menunjukkan sifat dinamis tersebut. Dalam kesibukannya, manusia menjadikan HP sebagai media komunikasi yang efektif untuk membantu kelancaran aktivitasnya sehari-hari yang berhubungan dengan orang lain. Informasi penting dan mendadak akan lebih mudah disampaikan dan diterima melalui HP, baik berbicara langsung atau melalui SMS. Begitupun dengan rencanarencana atau agenda kerja yang akan dilaksanakan dapat disampaikan melalui HP kepada team kerja, klien dan pihak lain yang berkepentingan selain melalui surat menyurat sebagai informasi resmi. Dalam kehidupan keluarga, komunikasi melalui HP menjadi salah satu kebutuhan pokok untuk membina hubungan dekat antara anggota keluarga, baik yang tinggal serumah, maupun yang tidak serumah, kapan saja dan dimanapun dibutuhkan, sejauh signal HP dapat ditangkap. Bagi orang tua yang sibuk di luar rumah, maka HP akan menjadi sangat penting fungsinya sebagai media komunikasi yang efektif bagi anggota keluarga. Berdasarkan eksistensialisme Heidegger yang memandang manusia sebagai realitas yang belum selesai dan menekankan pada pengalaman konkrit, maka di era informasi, HP menjadi wujud nyata eksistensi manusia dalam berbagai dimensi, baik dimensi budaya, etis, estetis, agama dan lain-lain. Pembahasan tentang hal ini akan lebih jelas dalam persepsi Heidegger tentang teknologi dalam karya monumentalnya yang berjudul Being and Time.
Jurnal Madani Edisi I/Mei 2008 43

Garis Besar Pandangan Heidegger Tentang Teknologi Dalam Being and Time dan Relevansinya dengan Fenomena Penggunaan Hand Phone Di Era Informasi Bagi Keberadaan Manusia. Meskipun Heidegger tidak pernah menulis satu buku khusus tentang filsafat teknologi, tetapi dalam karya monumentalnya Being and Time (Sein und Zeit) dan juga ceramahnya pada tahun 1954 The Question Concerning Technology termuat pemikiran-pemikirannya tentang esensi teknologi. Dalam pokokpokok pemikiran tentang esensi teknologi tersebut dapat dijadikan

sebagai refleksi terhadap fenomena penggunaan HP di era informasi bagi keberadaan manusia. Dalam memahami filsafat teknologi Heidegger tidak dapat dipisahkan dengan pemahamannya tentang puisi (poetry), seni (art), karena baginya kata techne berhubungan dengan hal tersebut. Techne is the name not only for activities and skill of the craftsman, but also for the arts of the mind and the fine arts. Techne belongs to bringing forth, to poetise, it is something poetic. (Heidegger,1954) Bagi Heidegger, semua hal memiliki esensi, tetapi esensi itu tertutup bagi manusia. Tugas manusia adalah membuka apa yang tertutup itu agar dapat mengetahui esensi. Hanya melalui penciptaan apa yang tertutup bisa terbuka. Karena itu techne dan art merupakan hal yang sama karena ia menciptakan sesuatu, seperti seorang seniman yang menciptakan patung, lukisan dan sejenisnya, atau juga seorang pengrajin yang menciptakan alat-alat. Kaitannya dengan HP, maka HP dilihat bukan hanya dari wujud/ bendanya, tetapi dilihat dari berbagai segi dari apa yang ada di balik wujud HP itu, sehingga dapat ditangkap hakikat dan maknanya. Dalam hal ini, manusialah yang memberikan makna terhadap HP. Di era informasi ini, fenomena penggunaan HP berdasarkan esensinya ternyata telah mencerminkan berbagai makna bagi keberadaan manusia. HP sebagai produk teknologi juga mencerminkan nilai seni yang dapat dimanfaatkan bagi pemakainya. Berbagai model/ desain HP dari awal munculnya hingga perkembangan terakhir telah dirancang untuk memenuhi selera dan kebutuhan manusia terhadap nilai seni. Oleh karena itu, akhir-akhir ini HP juga telah berubah/bertambah fungsi, bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi menjadi bagian dari fashion bagi pengguna/ pemakainya. Dengan tersedianya bermacam-macam casing HP, maka pengguna HP dapat menggantinya kapan saja sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Casing HP ibarat baju HP, ketika tidak layak pakai, maka bisa diganti dengan yang baru dan dengan warna yang lebih menarik, bahkan dapat disesuaikan dengan warna baju pemakai HP bagi yang menganggap penting penampilan, mulai dari baju, celana, tas, sepatu dan asesoris lain. Selain dari segi casing, bentuk/model HP juga dibuat dengan berbagai macam tipe

yang mempunyai spesifikasi yang berbeda antara tipe HP yang satu dengan tipe HP yang lain. Apalagi setiap perusahaan HP menawarkan berbagai macam tipe dan model HP, sehingga para pengguna HP dapat
Jurnal Madani Edisi I/Mei 2008 44

memilih sesuai dengan kebutuhan dan selera masing-masing. Berdasarkan model dan tipe HP yang diciptakan manusia untuk memenuhi selera dan kebutuhan akan nilai seni, maka fungsi HP tidak hanya sebagai media komunikasi semata, melainkan telah bertambah fungsi sebagai fashion. Berbicara tentang fashion, maka hal tersebut tidak dapat dipisahkan dengan kepribadian pengguna/pemakai HP. Bagi mereka yang memegang prinsip ekonomi, maka penampilan HP tidak terlalu penting, sepanjang masih layak digunakan. Tetapi bagi yang mereka yang selalu mengikuti mode, maka munculnya berbagai macam tipe dan model HP tentu akan menjadi perhatian dan pertimbangan untuk tidak ingin dikatakan sebagai orang yang ketinggalan jaman. Dalam hal ini HP telah menjadi bagian dari gaya hidup manusia (life style). Ketika HP telah menjadi cermin gaya hidup seseorang, maka makna dan fungsi HP juga akan berubah sesuai dengan kepribadian dan gaya hidup pengguna/ pemakainya. Fashion dalam dimensi budaya menjadi komoditas yang bernilai tinggi dari segi estetis, maupun ekonomis/bisnis. Begitu juga dengan berbagai desain HP yang dirancang untuk memenuhi selera pengguna HP. Dari segi warna, asesoris, tipe HP dan berbagai fasilitas/spesifikasi yang dimiliki, semuanya merupakan bagian dari unsur budaya yang tecermin dalam wujud HP sebagai produk teknologi canggih. Kecanggihan teknologi HP berarti menunjukkan nilai budaya manusia yang makin tinggi. Selain sebagai bagian dari fashion dan gaya hidup, fenomena penggunaan HP akhir-akhir ini bagi sebagian masyarakat di era informasi telah memanfaatkannya secara eksploitatif. Hal ini dapat disoroti dari perspektif Heidegger, bahwa esensi teknologi bukan sekedar instrumen dan aktifitas manusia, tetapi juga sebagai ge-stell (enframing/set) yang membingkai dan memaksa manusia untuk mengungkap dan melihat dunia sebagai bestand (standing reserve), sebagai sumber cadangan, atau sebagai stok yang bersifat standby,

maka teknologi menunggu untuk dieksploitasi. Eksploitasi terhadap HP dapat dilihat dari berbagai fasilitas yang terdapat pada tipe tertentu HP. Berbagai macam tipe HP dapat berfungsi sebagai kamera, video, musik, game, kalkulator, bahkan sebagai media internet. Maka benar apa yang dikatakan oleh Heidegger bahwa: The essence of modern technology shows itself in what we call enflaming. It is the way in which the real reveals itself as standing reserve. Dalam Being and Time, Heidegger juga menerangkan dua jalan manusia berhubungan dengan dunia, yaitu presence at hand dan ready to hand. Presence at hand melihat dunia sebagai yang sudah begitu adanya. Dunia merupakan suatu entitas dengan segala atribut dan predikat yang dimilikinya. Dunia adalah theoretically determined, suatu entitas teoritis. Pada kelanjutannya, presence at hand menghadirkan pengetahuan teoritis tentang dunia. Ready to hand lebih bersifat praksis, yang melihat dunia dari kegunaan produktif. Dengan ready to hand, dunia seolah-olah menunggu manusia untuk memanfaatkannya.
Jurnal Madani Edisi I/Mei 2008 45

Relevansi pandangan Heidegger tersebut dengan fenomena penggunaan HP, maka nampak jelas bahwa teknologi telah mengeksploitasi HP menjadi benda yang memiliki kegunaan produktif. Makna produktif dari HP bagi manusia sangat tergantung, bagaimana manusia (dalam hal ini pengguna HP) memanfaatkannya. HP dapat memiliki kegunaan produktif, antara lain jika digunakan sebagai komunikasi bisnis, atau sebagai asset dan modal usaha bagi pedagang HP. Fenomena ini dapat dilihat di hampir sepanjang jalan yang menjadi sumber keramaian kota-kota terdapat banyak stand dan counter HP, bukan hanya di dalam mall, tetapi di level pedagang kaki lima, HP dan asesorisnya telah menjadi komoditi yang cukup laris. Heidegger juga menjelaskan bahwa tidak ada entitas (tool/ equipment) yang muncul tanpa ada yang melatarbelakanginya. Entitas muncul dalam konteks yang terkandung di dalam dirinya. Pensil adalah untuk menulis, menggambar, ia berhubungan dengan meja atau kertas. Semua entitas memiliki struktur in order to, yaitu bahwa segala hal adalah dalam rangka untuk. Dalam konteks ini, munculnya

HP merupakan kehadiran suatu obyek/benda yang mempunyai latar belakang. Latar belakang utama kehadiran HP adalah sebagai media komunikasi untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Dalam perkembangan terakhir kehadiran HP dengan berbagai macam tipe dan model mempunyai latar belakang lain, selain sebagai media komunikasi. Latar belakang tersebut menunjukkan bahwa manusia dalam eksistensinya sekaligus membawa nilai-nilai kepribadian yang tecermin dalam selera dan kebutuhan akan nilai seni dan nilai-nilai praktis lain dari HP. Fungsi HP sebagai fungsi sekunder dapat sekaligus sebagai kalkulator, kamera, media hiburan (musik dan game), bahkan sebagai media internet. Fenomena penggunaan HP, baik dari segi fungsi utamanya sebagai media komunikasi, maupun fungsi sekundernya, menunjukkan bahwa hakikat teknologi HP merupakan hubungan ready to hand yang melihat dunia sebagai in order to. Melalui ready to hand, lingkungan tampak sebagai dunia, karena pengalaman praksis menjelajahi dunia melalui ready to hand. Heidegger berargumen bahwa model hubungan teoritis, presence at hand, tidak dapat menjelajahi dunia. Seseorang tidak dapat membuat hubungan praksis hanya dengan memberi predikat atau sifat kepada sebuah obyek. Entitas bukanlah merupakan suatu hal yang hanya untuk diberi nilai-nilai, baik nilai-nilai kegunaan atau kemanfaatan melalui konsep kognitif, melainkan untuk dimanfaatkan secara praksis. Dengan menyatakan ini, Heidegger tidaklah menganggap bahwa hubungan presence at hand tidak ada, namun hubungan ini sangat tergantung pada ready to hand. Dari berbagai fenomena penggunaan HP di era informasi sebagaimana diuraikan di atas, maka ada yang perlu menjadi perhatian bagi penulis, yaitu suatu hal yang membahayakan dari dampak negatif penggunaan HP. Oleh karena eksistensi manusia sebagai bagian dari dunia, dalam sudut pandang teknologi, manusia juga merupakan
Jurnal Madani Edisi I/Mei 2008 46

stok yang selalu stand by in order to. Hal ini yang dikhawatirkan oleh Heidegger terhadap dampak teknologi modern. Manusia bukan lagi sebagai subyek yang berada, tetapi juga sekaligus menjadi bagian dari

obyek teknologi. Hal ini tidak bisa dihindari, karena posisi manusia adalah sebagai subyek dan obyek bagi ilmu dan teknologi, sebagaimana pandangan Van Melsen dalam bukunya yang berjudul Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita. Dari sisi inilah teknologi HP dan fenomena penggunaannya dilihat dalam perspektif axiologis, dimana HP dalam perkembangan terakhir di era informasi telah membawa nilai-nilai, baik yang bersifat positif maupun negatif. Tugas dan tanggung jawab manusia, dalam hal ini khususnya masyarakat pengguna HP adalah harus lebih selektif dan kritis terhadap dampak negatif dari penggunaan HP. Kemudahan untuk memiliki HP akan sangat memungkinkan bagi masyarakat di era informasi terperangkap dalam budaya konsumtif. Dengan gaya hidup yang tidak ingin disebut sebagai manusia yang ketinggalan jaman, maka pengguna HP sering mengganti casing HP, tukar tambah HP lama dengan HP baru, meskipun HP lama masih berfungsi dengan baik atau membeli HP model baru untuk tujuan prestise/ gengsi dan lain-lain. Dampak yang lebih membahayakan lagi dari fenomena penggunaan HP di era informasi adalah sebagai media untuk mengakses situs-situs porno yang sering tidak terkontrol, baik oleh perusahaan jasa telekomunikasi maupun dari pihak pemerintah. Hal ini akan menjadi keprihatinan bagi orang tua atau masyarakat, ketika pengguna HP adalah anak-anak di bawah umur (belum dewasa) mendapatkan kiriman/download situs-situs porno dari internet lewat HP. Di kota-kota besar fenomena ini sangat meresahkan orang tua yang anakanaknya memiliki HP dengan fasilitas internet. Selain itu, bagi anak yang terlalu hoby dengan game yang ada dalam fasilitas HP cenderung tidak perduli dengan situasi dan kondisi yang sering berakibat berkurangnya waktu mereka untuk belajar, sehingga menurunkan prestasi belajar mereka. Kesimpulan. Manusia itu bereksistensi, ia ada dalam ruang dan waktu. Ada adalah sesuatu yang nampak. Makna eksistensi: berada dalam ruang dan waktu. Keberadaan teknologi sebagai wujud keberadaan manusia. Wujud teknologi adalah ciptaan manusia. Fenomena penggunaan HP di era informasi menunjukkan sesuatu yang ada di balik HP, yaitu komunitas masyarakat pengguna HP dalam berbagai

prinsip hidup dengan pola dan gaya hidup masing-masing. Esensi dan makna HP tergantung pribadi manusia/komunitas pengguna HP dalam memanfaatkan HP tersebut. Teknologi sebagai instrumen/ alat bagi manusia (enflaming). Esensi teknologi adalah aktivitas/produk manusia. Teknologi HP bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebuah jalan yang membuka sesuatu, dari yang semula tidak nampak menjadi nampak/pembuka pikiran/ kerangka pemikiran; memberi pemaknaan baru terhadap HP. Hakikat dan makna HP telah bertambah selain sebagai prinsip hidup/pandangan
Jurnal Madani Edisi I/Mei 2008 47

hidup (way of life) dan gaya hidup (life style). Sebagai prinsip hidup/ pandangan hidup, maka HP dilihat dari fungsinya sebagai komunikasi manusia karena kebutuhannya sebagai makhluk sosial yang harus berhubungan dengan orang lain. Sebagai gaya hidup (life style), maka HP dapat memenuhi kebutuhan manusia/pengguna HP akan nilai estetis/keindahan, seni, budaya, hiburan, permainan dll. Dengan HP, sekarang manusia dapat mengetahui posisinya ada dimana. HP dalam hal ini dapat menggantikan fungsi kompas sebagai penunjuk arah keberadaan manusia ada dimana, sehingga pikiran manusia menjadi terbuka dan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan. Dengan demikian, maka sekarang HP dipandang tidak hanya sebagai media komunikasi, tetapi berbagai makna dan fungsinya dapat diciptakan oleh manusia. Inovasi dan kreativitas manusia telah memberikan berbagai makna baru terhadap HP. Pemaknaan itulah sebagai salah satu fungsi teknologi dan merupakan cara beradanya manusia dalam pandangan Heidegger. Referensi Don Idhe, 1995, Filsafat Teknologi Suatu Pengantar, cetakan ke I, Penterjemah Yudian W. Asmin, Surabaya: Penerbit Al Ikhlas Gie, The Liang, 1996, Pengantar Filsafat Teknologi, Yogyakarta: Andi Press Harun Hadiwijono, 2005, Sari sejarah Filsafat Barat 2, cetakan ke 21, Yogyakarta: Kanisius Jacob, Teuku, 1996, Menuju Teknologi Berperikemanusiaan, Jakarta: Yayasan Obor Van Melsen, 1992, Ilmu Pengetahuan Dan Tanggung Jawab Kita, Jakarta: Gramedia