Anda di halaman 1dari 28

SISTEM DISPERSI

ERNI RUSTIANI

Sistem dispersi adalah : sistem dimana zat (fasa terdispersi) terdispersi dalam bentuk partikel dalam keseluruhan sistem yang merupakan medium dispersi (fasa kontinu) dari sistem secara keseluruhan. Ada 3 bentuk fisik zat yaitu : padat, cair dan gas, sehingga ada 9 kemungkinan bentuk sistem dispersi berdasarkan sifat fisik dari zat tersebut.

SUSPENSI

Suspensi dalam bidang Farmasi adalah : sistem heterogen yang terdiri dari 2 fasa yaitu fasa kontinu / fasa luar biasanya berbentuk cair sedangkan fasa terdispersi atau fasa dalam terdiri dari partikel yang tidak larut terdispersi di seluruh fasa kontinu. Partikel partikel tersebut kebanyakan mempunyai diameter lebih besar dari 0,1 mikrometer dan menunjukkan adanya gerak Brown.

Sifat fisik suspensi yang baik antara lain : 1. Suspensi harus tetap homogen pada suatu periode, paling tidak pada periode antara pengocokan dan penuangan sesuai dosis yang dikehendaki. 2. Pengendapan yang terjadi pada saat penyimpanan harus mudah didispersikan kembali pada pengocokan.

3. Suspensi harus kental untuk mengurangi kecepatan pengendapan partikel yang terdispersi. Viskositas tidak boleh terlalu kental sehingga tidak menyulitkan pada saat penuangan dari wadah. 4. Partikel suspensi harus kecil dan seragam sehingga memberikan penampilan hasil jadi yang baik dan tidak kasar.

Penggunaan Suspensi dalam bidang Farmasi : Kesulitan menelan terutama pada anak-anak perlu bentuk sediaan cair. Bila zat aktif tidak larut dalam air maka dibuat bentuk suspensi. Mengurangi proses penguraian zat aktif dalam air. Contoh : untuk menstabilkan Oxytetrasiklin HCl di dalam sediaan cair dipakai garam Ca. Jadi zat aktif yang mudah terurai dalam air dibuat bentuk yang tidak larut.

Mempersingkat kontak zat padat dengan medium dispersi. Contoh : Ampisilin yang dikemas dalam bentuk granul, ketika akan digunakan disuspensikan dahulu dalam media pendispersi. Stabilitasnya lebih kurang 7 hari. Bila zat aktif sangat tidak stabil dalam air digunakan media non air sebagai medium pendispersi. Contoh : Injeksi Penicillin dalam minyak.

Sediaan suspensi yang terdiri dari partikel halus yang terdispersi dapat menaikkan luas permukaan di dalam saluran cerna sehingga dapat mengabsorpsi toksin atau menetralkan asam lambung. Contoh : Kaolin, Mg Carbonat. Menutup rasa zat aktif yang tidak enak atau pahit, lebih baik dibandingkan larutan. Contoh : suspensi Kloramfenikol digunakan Kloramfenikol Palmitat yang rasanya tidak pahit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan suspensi


A. Ukuran Partikel Jumlah, ukuran dan bentuk partikel dapat mempengaruhi sifat fisika dan kimia suspensi. Berdasarkan hukum stokes : V = 2 r 2 (1 - 2) g 9 V = kecepatan sedimentasi r = jari-jari partikel g = kecepatan gravitasi = berat jenis = viskositas Bahwa besarnya partikel dapat mempercepat kecepatan sedimentasi partikel di dalam larutan.

Sifat partikel yang harus diperhatikan adalah : 1.Morfologi partikel Partikel mempunyai bermacam-macam permukaan. Bentuk yang umum adalah sferis (bulat), silinder, batang, jarum (acicular), kristal.

2. Analisis ukuran partikel Rentang ukuran partikel tertentu dapat mengontrol kecepatan pelepasan obat dan bioavailabilitas obat (ketersediaan hayati). Adanya ketidakseragaman ukuran partikel dapat menyebabkan pertumbuhan kristal. Suspensi yang baik apabila rentang ukuran partikel sempit. Bila rentang ukuran partikel besar maka partikel yang halus < 1um akan menghambat kelarutan partikel yang berukuran besar, sehingga partikel halus akan makin halus sedangkan partikel berukuran besar akan makin besar.

3. Sifat antar muka dari partikel tersuspensi Zat padat yang larut umumnya mempunyai sifat mudah dibasahi (hidrofil) yang dengan mudah dapat terdispersi dengan sedikit pengocokan. Tetapi ada juga zat padat yang sukar dibasahi (hidrofob).

Beberapa sifat zat padat yang harus diperhatikan :


Pembasahan (wetting)

Proses pembasahan suspensi : partikel serbuk sebagai partikel yang terbagi halus yang terdispersi dalam medium, partikel dibasahi oleh medium pendispersi. Kecenderungan mudah tidaknya zat padat terbasahi tergantung pada interaksi yang terjadi antara zat padat dengan medium. Hidrofilik : mudah dibasahi oleh air Hidrofob : mudah dibasahi oleh pelarut organik atau non polar Bila zat bersifat hidrofob untuk memperbaiki sifat pembasahan digunakan SURFAKTAN.

Sudut kontak
Sudut yang dibentuk oleh permukaan zat padat dengan cairan disebut : sudut kontak . Sudut terbentuk dari permukaan zat padat dengan tetesan air / cairan. Sudut kontak < 90 (gbr 2) terjadi pembasahan serbuk, = 0 serbuk zat terbasahi sempurna. Sudut kontak < 180 (gbr 1) tidak terjadi interaksi dari cairan dengan permukaan padat dan merupakan zat yang sukar dibasahi.

Tegangan permukaan
Untuk memperbaiki sifat pembasahan dari serbuk digunakan SURFAKTAN yang berfungsi sebagai zat yang dapat mengurangi tegangan antar permukaan zat padat cair. Mekanisme karja surfaktan : adanya sifat hidrofob dan hidrofil di dalam struktur molekul surfaktan, maka aktivitasnya karena adsorpsi rantai hidrokarbon non polar oleh permukaan serbuk obat yang bersifat hidrofob.

Fenomena Ketidakstabilan Suspensi


SUSPENSI DEFLOKULASI Kecepatan sedimentasi tergantung dari ukuran partikel. Gaya tolak menolak antara 2 partikel menyebabkan masing-masing partikel menyelip diantara sesamanya pada waktu mengendap. Kecepatan sedimentasi yang rendah dapat mencegah penjeratan larutan dengan akibat endapan yang terbentuk akan kompak dan sangat sukar diredispersi. Keadaan ini disebut caking / claying.

Supernatan sistem deflokulasi keruh dan setelah pengocokan kecepatan sedimentasi partikel yang halus sangat lambat. Sistem deflokulasi akan memberikan dosis yang relatif homogen pada waktu yang lama karena kecepatan sedimantasinya lambat.

Keburukannya bila sudah terbentuk endapan maka sukar sekali diredispersi karena terbentuk massa yang kompak. Bila viskositasnya tinggi maka sedimentasi dapat dicegah.

SUSPENSI FLOKULASI
Partikel pada sistem flokulasi berbentuk agregat yang dapat mempercepat terjadinya sedimentasi. Kecepatan sedimentasi tergantung dari porositas agregat. Bila porous maka medium pendispersi akan masuk melalui sela-sela agregat atau flokul yang membentuk endapan. Sifat endapan sistem flokulasi tergantung struktur agregat yang longgar, penjeratan medium cair cukup banyak. Pembentukan agregat pada gaya tarik menarik minimum membentuk flokul yang kompak, pada gaya tolak menolak maksimu flokul akan terlepas dengan porositas tinggi. Volume sediaan pada tahap akhir / penyimpanan akan tetap besar dan mudah diredispersi.

Cairan supernatan cepat sekali bening karena flokul yang terbentuk cepat sekali mengendap dengan ukuran bermacam-macam. Kecepatan sedimentasi yang tinggi menyebabkan dosis tidak akurat. Gbr. keadaan flokulasi sediaan baru dibuat sediaan setelah 1 jam sediaan setelah penyimpanan

Sifat aliran suspensi


Sifat aliran suspensi umumnya adalah Non Newtonian, kecuali suspensi yang encer menunjukkan aliran Newton. Untuk suspensi dengan sistem dispersi, viskositas larutan akan berubah dengan adanya kecepatan kocok (rate of shear).

Suspensi Farmasi yang ideal ialah : bila memperlihatkan viskositas yang tinggi pada keadaan istirahat dan dengan pengocokan minimum akan berubah menjadi encer, jika didiamkan proses sedimentasi berlangsung lambat. Dengan pengocokan yang lebih kuat suspensi dengan mudah dapat dikeluarkan dari botol.

TUGAS PERORANGAN
NPM GANJIL :
BENTUK SEDIAAN FARMASI : LARUTAN DAN EMULSI TULIS NAMA OBAT KOMPOSISI, INDIKASI, KONTRA INDIKASI, EFEK SAMPING, DOSIS, INTERAKSI OBAT. SERTAKAN JUGA GAMBAR KEMASANNYA. (DIPRINT / DITEMPEL)

NPM GENAP:

BENTUK SEDIAAN FARMASI : ELIKSIR DAN SUSPENSI TULIS NAMA OBAT KOMPOSISI, INDIKASI, KONTRA INDIKASI, EFEK SAMPING, DOSIS, INTERAKSI OBAT. SERTAKAN JUGA GAMBAR KEMASANNYA. (DIPRINT / DITEMPEL)

BUAT DI KERTAS A4 FONT 12, ARIAL. TIDAK PERLU DIJILID. POIN PENILAIAN AKAN LEBIH TINGGI BILA TUGAS TIDAK SAMA ANTARA SATU DENGAN YANG LAIN. BISA BROWSING MELALUI INTERNET. DIKUMPULKAN HARI .............. POIN DIKURANGI BILA LEWAT TGL TSB.