Anda di halaman 1dari 19

TAHAP I KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA Nama Kepala Keluarga : Tn.

MK Alamat lengkap Bentuk Keluarga : Bangun Rejo : Nuclear Family

Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal dalam Satu Rumah No. Nama 1. Tn. MK 2. 3. 4. Ny. M An. P An. A Status KK Istri Anak Anak L/P Umur L 35 th P 30 th P 10 th L 5 th Pendidikan Terakhir STM SMP SD TK Pekerjaan Tukang Pijat Ibu rumah tangga Pelajar Pelajar

Sumber : Data Primer, April 2013 Kesimpulan : Tn. Mk, dalam nuclear family yang terdiri atas 4 orang, dengan masalah kesehatan yaitu diabetes melitus tipe II denganpenurunan penglihatan suspect retinopati diabetikum.

TAHAP II STATUS PENDERITA A. Identitas Penderita Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Alamat Suku Tanggal periksa B. Anamnesis 1. Keluhan Utama 2. Riwayat Penyakit Sekarang : Penglihatan kabur : : Tn. MK : 35 tahun : Laki-laki : Tukang Pijat : STM : Islam : Bnagun Rejo Yogyakarta : Jawa : 20 April 2012

Status Perkawinan : Kawin

Os datang dengan keluhan penglihatan kabur sejak 1 minggu yang lalu. Os mengatakan keluhan datang tiba-tiba. Pandangan dobel (-), silau saat terkena cahaya (-), mata sakit (-),mata merah (-), pusing (-). Jika pasien membaca dan buku dujauhkan, penglihatan tetap tidak menjadi jelas. Os mengatakan karena keluhan penglihatan nya yang kabur belum sampai menggangu pekerjaan nya, namun saat membaca sulit karena terlihat kabur, terutama saat memimpin membaca Yasin. Os mengatakan sering buang air kecil terutama terbangun pada malam hari 4-5 kali 1 malam, sering haus, sering lapar, dengan penurunan berat badan kira-kira 5 kg. Os mengatakan jika 1 bulan yang lalu setelah pergi berobat ke puskesmas jetis dan di periksa gula darah nya yaitu 436 mg/dl , kemudian saat 1 minggu kemudian pasien kontrol di puskesmas jetis gula darah puasanya 302 mg/dl, dan saat periksa ke puskesmas Tegal Rejo gula darah

sewaktunya 137,5 mg/dl. Os kemudian dirujuk ke RS Jogja dan menurut dokter spesialis mata keluhan pada penglihatan matanya dikarenakan karena efek penyakit gua yang diderita. Os saat ini mengkonsumsi obat yang diberikan dari dokter di puskesmas jetis yaitu metformin 2 x 500 mg dan glimepirid 1mg pada pagi hari. Dan juga mengkonsumsi obat harbel yakni teh dain insulin setiap pagi. 3. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat sakit gula riwayat tensi tinggi Riwayat asma Riwayat mondok 4. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat penyakit keluarga tidak ada yang menderita penyakit gula, tekanan darah tinggi, atau penyakit yang lain. 5. Riwayat psikososial
Os megatakan saat ini tidak terganggu dengan penyakitnya dikarenakan belum mengganggu pada pekerjaannya. Os juga mengatakan bahwa banyak orang yang mendukungnya saat tahu os menderita penyakit gula, terutama istri, keluarga dan temantemnanya. Sehingga merasa dapat melalui dengan baik. Hubungan os dengan keluarga nya baik-baik saja, juga dengan tetangga di lingkungan sekitarnya. 6. Riwayat pekerjaan Os mengatakan saat ini bekerja sebagai tukang pijat dan pekerjaan sapingan lain, seperti menerima undangan rukiyah atau memimpin membaca Yasinan. Os mengatakan penghasilannya sekitar Rp.100.000, dan merasa telah cukup untuk kebutuhan keluarganya. Os tidak merasa kekurangan dengan keadaan perekonomiannya saat ini. 7. Riwayat perkawinan Os saat ini sudah menikah dan memiliki 2 oarang anak. Os merasa hubungannya dengan istrinya baik-baik saja dan bahagia. 8. Riwayat gaya hidup Os mengatakan bahwa os berolahraga sehari-hari karena os jika pergi kemana-mana dia pergi dengan bersepeda. Namun untuk hal makanan os memang sulit untuk mengontrol makanan nya, karena ketika os diundang untuk memimpin membaca Yasinan os tidak dapat menontrol makan nya.

: (+) diketahui sejak 1 bulan yang lalu : (-) : (-) : (-)

Riwayat alergi obat/makanan : (-)

C. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum Kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), status gizi kesan baik 2. BB TB BMI Nadi RR Tanda Vital : 70 kg : 1680 cm : BB/TB2 = 70/(1,68)2 = 24,80 normoweight : 80 x/menit, reguler, simetris : 18 x/menit

Tensi : 120/80 mmHg

Suhu : 36,5 oC 1. Pemeriksaan Neurologis Fungsi Kesadaran Fungsi Luhur Fungsi Vegetatif Fungsi Sensorik + + K 5 5 + + : T N N RF 2/2 2/2 N N 2/2 2/2 RP 5 5 : GCS E4V5M6 : dalam batas normal : dalam batas normal :

Fungsi Motorik

D. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu : 23 April 2013 : 137, 5 mg dl, cholesterol 160, mg/dl, Trigliserida 149 mg/dl, asam urat 5,9 mg/dl.

E. Diagnosis Kerja Diabetes melitus tipe II normoweight gula darah terkontrol buruk dengan Suspect Retinopati diabetikum

F. Penatalaksanaan 1. Non medikamentosa Membatasi konsumsi gula dan makanan berlemak Olahraga ringan 3 kali seminggu selama 30 menit Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya Selalu menggunakan alas kaki untuk menghindari komplikasi DM yang lain, misalnya ulkus Meningkatkan aktivitas fisik sehari-hari Makan dengan porsi kecil namun sering (4-5x sehari) Edukasi terhadap pasien dan keluarga mengenai: a. Pemahaman tentang penyakit Diabetes Mellitus tipe II serta komplikasinya. b. Pentingnya perubahan gaya hidup (life style modification) meliputi pengaturan diet, olahraga dan meningkatkan aktivitas fisik. c. Edukasi untuk pemeriksaan rutin kadar gula darah dan pemeriksaan anggota gerak, serta rutin meminum obat. d. Memberikan motivasi kepada penderita dan keluarga untuk dapat melaksanakan saran terapi untuk drujuk ke pusat kesehatan yang lebih tinggi, misalnya RSUD Sragen untuk dilakukan funduskopi dan pemeriksaan lebih lanjut. e. Memberdayakan peran serta masyarakat sekitar untuk hidup sehat dan bersih sebagai upaya promotif kesehatan masyarakat, misalnya pentingnya jamban dan sarana MCK di tiap rumah sebagai langkah pertama pencegahan penyakit menular di masyarakat. 2. Medikamentosa Glibenclamid 3x5 mg Vitamin B Complex 3x1 G. Follow up

Tanggal 6 Juli 2012 S : pandangan kabur O : KU baik, compos mentis, gizi kesan baik. Tanda vital Status Lokalis Ocular Dextra Look : oedem (-), hiperemi sekitar mata (-), luka (-), massa dan katarak di sekitar pupil (-), refleks cahaya (+), pupil 3mm, visus 1/300 (pasien hanya dapat membedakan lambaian tangan tanpa dapat melihat objek dengan jelas), jaringan sekitar mata dalam batas normal. Feel : nyeri (-), tekanan bola mata dalam batas normal Ocular Sinistra Look : oedem (-), hiperemi sekitar mata (-), luka (-), massa dan katarak di sekitar pupil (-), refleks cahaya (+), pupil 3mm, visus 1/300 (pasien hanya dapat membedakan lambaian tangan tanpa dapat melihat objek dengan jelas)oedem (+), jaringan sekitar mata dalam batas normal. Feel : nyeri (-), tekanan bola mata dalam batas normal : T : 120/70 mmHg N : 86 x/menit RR : 18 x/menit S : 36,4 C

A : Diabetes melitus tipe II normoweight gula darah terkontrol buruk dengan suspect komplikasi retinopati diabetikum P : Terapi medikamentosa dilanjutkan dan diberikan edukasi tentang menjaga pola makan dan aktivitas fisik serta edukasi tentang kesehatan promotif Tanggal 10 Juli 2012 S : pandangan kabur O : KU baik, compos mentis, gizi kesan baik. Tanda vital Status Lokalis : T : 120/70 mmHg N : 82 x/menit RR : 18 x/menit S : 36 C

Ocular Dextra Look : oedem (-), hiperemi sekitar mata (-), luka (-), massa dan katarak di sekitar pupil (-), refleks cahaya (+), pupil 3mm, visus 1/300 (pasien hanya dapat membedakan lambaian tangan tanpa dapat melihat objek dengan jelas), jaringan sekitar mata dalam batas normal. Feel : nyeri (-), tekanan bola mata dalam batas normal Ocular Sinistra Look : oedem (-), hiperemi sekitar mata (-), luka (-), massa dan katarak di sekitar pupil (-), refleks cahaya (+), pupil 3mm, visus 1/300 (pasien hanya dapat membedakan lambaian tangan tanpa dapat melihat objek dengan jelas)oedem (+), jaringan sekitar mata dalam batas normal. Feel : nyeri (-), tekanan bola mata dalam batas normal A : Diabetes melitus tipe II normoweight gula darah terkontrol buruk dengan suspect komplikasi retinopati diabetikum P : Terapi medikamentosa dilanjutkan dan diberikan edukasi tentang menjaga pola makan dan aktivitas fisik serta edukasi tentang kesehatan promotif

H. Flowsheet Nama : Ny. T suspect retinopati diabetikum Diagnosis : Diabetes melitus tipe II gula darah terkontrol buruk dengan

Tabel 2. Flow Sheet Ny.T


No

Tgl 3/7/ 2012 6/7/ 2012 10/0 7/12

TD 130 / 80 120 / 70 120 /70

Nadi 80 86 82

RR 18 16 18

Terapi

Target Mengontrol kadar gula darah diabetikum. Mencegah terjadinya komplikasi yang lain dari DM Pemahaman mengenai penyakit penderita dan kesehatan secara umum

Planning Mengontrol konsumsi gula dan makanan berlemak Olah raga rutin setiap hari seperti jalan kaki pagi Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya Pemberdayaan masyarakat dalam upaya kesehatan promotif di masyarakat.

1 2 3

36,5 - Glibenclamid 36,4 36 - Vit B plex

TAHAP III IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA

A. 1. Fungsi Biologis

Fungsi Holistik Keluarga ini terdiri atas Tn. Y (55 tahun) sebagai kepala keluarga dan istrinya yaitu Ny. T (50 tahun) yang menderita penyakit Diabetes Mellitus tipe II, dan Ny. S yaitu ibu dari Tn.Y. Dalam satu rumah terdiri dari 3 orang anggota keluarga. 2. Fungsi Psikologis Hubungan antaranggota keluarga tampak baik dan harmonis. Hal ini ditunjukkan dengan sikap saling mendukung satu sama lain. Permasalahan yang ada dapat diatasi dengan baik dalam keluarga ini. Tn. Y selalu mengantarkan Ny. T ke sarana kesehatan untuk mendapat perawatan atas penyakitnya. Sebaliknya, Ny. T juga ikut mendukung pekerjaan Tn.Y dalam bentuk dukungan moril. Ny. S yang merupakan ibu dari Tn. Y pun turut membantu pekerjaan rumah tangga, terlebih sejak menantunya penglihatannya mulai kabur sehingga membatasi aktivitas sehari-harinya. 3. Fungsi Sosio-Ekonomis Hubungan penderita dan suaminya terhadap masyarakat sekitar cukup baik. Penderita adalah seorang ibu rumah tangga berusia 50 tahun yang tinggal bersama suaminya yang bekerja sebagai seorang petani dengan penghasilan rata-rata Rp 2.000.000,- per bulan. Pasien dan suaminya memiliki keturunan 2 orang anak laki-laki yang telah berkeluarga dan tinggal terpisah di kota lain. Tn Y dan Ny. T tinggal satu rumah dengan ibu dari Tn. Y. Hubungan penderita dan suaminya terhadap masyarakat sekitar cukup baik. Lingkungan rumah dan sekitarnya tidak terjaga kebersihannya dan tidak tertata dengan baik karena di dalam rumah

terdapat ruangan yang berisi kandang ayam, pasien sudah sulit melalukan aktivitas sehari-hari sehubungan dengan menata dan membersihkan rumah dikarenakan keluhan pada matanya yang penglihatannya kabur. Pencahayaan dan ventilasi di dalam rumah pun dinilai kurang memadai untuk rumah yang sehat Sarana kebersihan lainnya seperti MCK, keluarga ini telah memilikinya yang letaknya terpisah dari rumah induk yaitu di bagian belakang, sumber air yang dipakai berasal dari sumur. Cara mengelola sampah rumah tangga sehari-hari dengan cara dibakar. B. Fungsi Fisiologis Tabel 3. APGAR Tn. D dan Ny. L terhadap Keluarga
Sering /Selalu A.P.G.A.R. Ny. S terhadap keluarga
Tn.Y Ny.T

Ny. S 2 2

A P G

Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Total Scoring APGAR

2 2

2 2

2 2 10

2 2 10

2 2 10

Rekomendasi nilai APGAR Tn. Y, Ny.T dan Ny.S = 10, fungsi keluarga dalam keadaan baik

10

C. Tabel 5. SCREEM SUMBER Cultural Religius Ekonomi Edukasi Medical

Fungsi Patologis Untuk menilai fungsi patologis digunakan SCREEM, antara lain : PATOLOGI
Hubungan keluarga dengan masyarakat sekitar cukup baik, pasien dan keluarga sering menghadiri acara serta hajatan di lingkungannya Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya cukup baik. Menerapkan adat,budaya jawa dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman agama cukup baik, sering solat berjamaah di mushola dekat rumah bersama tetangga. Ekonomi keluarga ini terbilang cukup untuk biaya kebutuhan seharihari Tingkat pendidikan penderita dan istrinya tergolong rendah. Namun, semua anaknya tuntas sekolah hingga SMK. Bila mengalami masalah kesehatan, keluarga tanpa ragu mendatangi sarana kesehatan, baik itu bidan , PKD ataupun puskesmas.

KET _ _

Kesimpulan : D. Alamat lengkap Bentuk Keluarga Tidak terdapat fungsi patologis dalam keluarga Ny. T Genogram : Karang Malang RT 13 RW 14 Masaran Sragen : Extended Family

Diagram 1. Genogram Keluarga


Ny. S, 75 th

Tn. Y, 55 th
Tn.JS Tn.BS

Ny. T, 50 th

Sumber : Data Primer, Juli 2012 Keterangan :

11

Kesimpulan : Penyakit yang diderita pasien tidak diderita oleh anggota keluarga lainnya. Tidak didapatkan hubungan familial (menurun) dari penyakit penderita, orangtua penderita tidak menderita DM. Suami dan kedua orang tuanya tidak menderita DM. Penyakit tersebut juga belum diketahui menurun terhadap anak penderita. E E Pola Interaksi Keluarga Tn. Y 55 th Ny. T 50 th

Keterangan : : Hubungan kurang baik : Hubungan baik

Ny. S 75 th Diagram 2 . Pola interaksi keluarga Tn. Y : Kepala keluarga Ny. T : Istri/penderita Ny. S : Ibu Tn. Y Kesimpulan : Dari diagram di atas pola interaksi 2 arah antar anggota keluarga berjalan baik dan harmonis yaitu antara penderita dengan suaminya serta ibu mertuanya. Tidak sampai terjadi konflik atau hubungan buruk antar anggota keluarga.

EE

Faktor Perilaku dan Non-Perilaku

12

Faktor perilaku PENGETAHUAN Pengetahuan dan kesadaran penderita mengenai penyakitnya cukup baik.

Faktor non perilaku LINGKUNGAN Rumah belum memenuhi syarat kesehatan (kebersihan, ventilasi, dan cahaya kurang memadai)

SIKAP Kontrol gula dan asupan makanan buruk Kurang melakukan aktivitas fisik

Keluarga Ny. T

KETURUNAN Tidak memiliki riwayat penyakit DM tipe II di keluarganya/keturunannya. PELAYANAN KESEHATAN Rutin kontrol ke puskesmas, PKD, bidan untuk kontrol dan berobat.

TINDAKAN Suami penderita selalu mengantarkan penderita berobat dan kontrol ke bidan, PKD, Puskesmas

Kesimpulan : Faktor perilaku dan non-perilaku keluarga berpengaruh terhadap kesehatan Ny. T E E Identifikasi Lingkungan Rumah Lingkungan indoor: 1. 2. 3. 4. tamu. 5. 6. luar. 7. langit-langit. 8. Ventilasi kurang, pencahayaan kurang Berlantai ubin dengan atap genteng tanpa Memiliki dapur. Berdinding tembok pada bagian dalam dan Luas rumah: 10 x 5 m2 Memiliki 2 kamar tidur pribadi Memiliki kamar mandi, jamban dan sumur Memiliki 1 ruang keluarga sekaligus ruang

13

WC

Sumur

Kamar tidur

Kamar tidur

Kandang Ayam Ruang Tamu Dapur

: pintu

Gambar. 2. Denah Indoor Rumah Keluarga Ny.T Lingkungan outdoor: 1. 2. 3. 4. Teras dan halaman rumah tidak begitu luas, terdapat pada bagian depan dan belakang rumah Jarak rumah dengan jalan sekitar 4 m. Jarak rumah dengan tetangga 2 m Eliminasi sampah dengan cara dibakar

14

7. 8. 1. Holistik

TAHAP IV

DIAGNOSIS HOLISTIK

Ny. T, 50 tahun dalam extended family, menderita Diabetes Melitus tipe II dengan retinopati diabetikum, hidup dalam keluarga yang harmonis dan hubungan sosial yang baik dengan masyarakat sekitar. 2. Biologi Diabetes melitus tipe II normoweight gula darah terkontrol buruk dengan suspect retinopati diabetikum. 3. 4. Psikologis Hubungan antaranggota keluarga terjalin baik dan saling mendukung. Sosial dan ekonomi Interaksi keluarga penderita dengan lingkungan sekitarnya berlangsung baik. Kondisi ekonomi keluarga termasuk cukup mampu untuk membiayai kontrol kesehatan, pengobatan dan kehidupan sehari-hari.

15

TAHAP V PEMBAHASAN DAN SARAN KOMPREHENSIF A. Pembahasan Diabetes Mellitus tipe II (DM tipe II) adalah suatu kelompok kelainan metabolisme yang ditandai oleh hiperglikemia kronis sebagai akibat adanya defek sekresi insulin, kinerja insulin, atau kombinasi keduanya. Hiperglikemia kronis pada DM tipe II dihubungkan dengan terjadinya kerusakan jangka panjang, disfungsi, kegagalan berbagai organ tubuh, terutama pada syaraf, ginjal, jantung, dan pembuluh darah. Penyakit DM tipe II ini dalam perjalanannya merupakan penyakit degeneratif menahun yang progresif, merupakan penyakit yang hanya dapat dikontrol, tetapi belum bisa sembuh secara total. Sehingga, apabila kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik, dapat terjadi berbagai komplikasi lainnya, baik dalam jangka waktu pendek (akut) ataupun panjang (kronis). Salah satu diantaranya adalah adanya komplikasi yang melibatkan selsel syaraf, yaitu retinopati diabetik yang merupakan komplikasi diabetes pada retina. Penderita akan mengalami penurunan penglihatan yang progresif. Hal ini sering terjadi pada penderia DM dengan gula darah tak terkontrol atau terkontrol buruk dan mengakibatkan penderita terganggu aktivitas sehariharinya karena pandangan semakin kabur. Hal ini juga yang kemungkinan terjadi pada penderita Ny. T. Ada beberapa point yang berpengaruh terhadap masalah kesehatan penderita, antara lain pengetahuan penderita dan keluarganya tentang penyakit DM yang kurang memadai, gaya hidup penderita yang kurang aktif serta kondisi tempat tinggal dan lingkungan penderita yang kurang mendukung bagi kesehatan penderita.

16

Pengetahuan penderita dan keluarganya tentang penyakit DM yang kurang memadai, termasuk tentang berbagai komplikasi yang dapat terjadi. Hal ini menyebabkan penderita kurang memperhatikan perawatan terhadap kebersihan diri dan lingkungannya. Selain itu pula ketidaktahuan penderita dan keluarga mengenai faktor keturunan DM dalam keluarga sehingga tidak dapat diketahui apakah faktor keturunan berperan dalam kasus ini. Gaya hidup penderita yang cenderung kurang aktif juga berpengaruh terhadap kesehatan penderita. Di samping diet makanan yang rendah gula dan lemak, serta diet tinggi serat dan peningkatan aktivitas fisik juga penting bagi para penderita DM. Penderita diketahui sangat jarang melakukan aktivitas fisik, bahkan untuk sekedar senam ringan dan jalan di pagi hari. Padahal, hal ini cukup penting untuk membantu regulasi metabolisme tubuh. Kondisi rumah dan lingkungan penderita yang kurang tertata dan terawat serta kebersihan yang kurang akan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang baru, misalnya risiko komplikasi ulkus DM bila pasien tersandung barang-barang yang tergeletak di lantai rumah dan risiko efek psikologis yang kurang baik karena dirasakan ruangan kurang nyaman. B. 1. Promotif a. Edukasi untuk keluarga yang bertujuan pada perubahan perilaku menuju pola hidup bersih, sehat dan teratur. Edukasi kepada pasien dan keluarganya untuk membersihkan dan menata rumah, terutama kamar penderita serta ruang keluarga/tamudan pemisahan area kandang ternak dan rumah. b. Perlu diberikan pengetahuan yang benar tentang penyakit DM terhadap penderita dan keluarganya, termasuk komplikasi dan pengobatannya c. Pemberdayaan masyarakat untuk ikut serta dalam upaya promotif kesehatan, misalnya dengan menjaga kebersihan diri dan Saran Komprehensif

17

lingkungannya sebagai langkah awal pencegahan penyakit menular di masyarakat 2. Preventif a. Batasi konsumsi gula, lemak dan kolesterol, tingkatkan makan makanan berserat misalnya sayur dan buah, serta rutin memeriksakan diri ke sarana kesehatan agar kadar glukosa darah terkontrol baik. b. Berolahraga ringan secara rutin 3 kali seminggu selama 30 menit seperti senam ringan, jalan santai, dll. c. Edukasi pada anggota keluarga (terutama anak penderita) untuk melakukan screening kadar gula darah dan profil lipid pada usia 30-40 tahun karena terdapat faktor risiko genetik pada penyakit diabetes melitus. 3. Kuratif a. Tujuan terapi pada penderita DM adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dan profil lipid dalam batas normal. Ini dicapai dengan kontrol rutin kadar gula darah dan profil lipid dan melanjutkan pengobatan yang telah dijalani oleh penderita. b. 4. Rehabilitatif a. Penderita dianjurkan untuk tetap aktif dalam kegiatan masyarakat (misalnya dalam kegiatan kerja bakti atau perkumpulan musyawarah di kampungnya) untuk mengurangi stres. b. Cukup tubuh dan meningkatkan daya tahan tubuh. berolahraga ringan secara teratur dan cukup beristirahat untuk mengembalikan kebugaran Keluarga harus berperan serta dalam pengobatan serta perawatan diri penderita.

18

DAFTAR PUSTAKA

Hermawan, Guntur. 2006. Bed Side Teaching Ilmu Penyakit Dalam. Editor Arifin, dkk. Sebelas Maret Univercity Press. Surakarta Ganiswarna, S. G. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi V. Jakarta: FKUI. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2006. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. PERKENI. Jakarta. Prasetyawati A.E. 2010. Kedokteran Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta.

19