Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belalang Porifera berasal dari kata porous yang berarti pori-pori yang ferre yang berarti membawa. Ia merupakan hewan bersel banyak yang paling primitif, tidak memiliki jaringan atau organ yang sejati namun masing-masing sel memperlihatkan kebebasannya sampai batas-batas tertentu. Umumnya hewan porifera dujumpai hidup dilaut, melekat pada substrat dan hanya bergerak sedikit sekali. Umumnya hewan-hewan anggota filum porifera hidup dilaut, dan hanya beberapa yang hidup di air tawar. Hewan-hewan ini tidak aktif, tidak bertangkai (tumbuh pada pangkalnya). Sel-sel yang melapisi tubuh dua sebelah luar ialah sel epitel yang berbentuk pipih sehingga disebut juga sebagai sel epitel dermal. Sel-sel yang melapisi rongga paragaster disebut sel-sel leher atau choanocyt. Selain ini pada ujungnya mempunyai flagelium ini disekeliling oleh suatu bangunan seperti leher baju yang disebut collare. Didalam sitoplasma dari sel-sel chonosit tersebut terdapat vakuola. Sel-sel tersebut disebut porosity, satu porosity dikelilingi oleh beberapa miosit. Diantara epithelium dermal dan lapisan choanosit-choanosit terdapat selapis benda gelatin atau terdapat amubosit dan skleroblas. Pada umumnya porifera dianggap sebagai tumbuhan. Baru pada tahun 1765 dinyatakan sebagai hewan setelah ditemukan adanya aliran air yang terjadi di dalam tubuh porifera. Dari 10.000 spesies porifera yang sudah teridentifikasi,sebagian besar hidup di laut dan hanya 159 spesies hidup di air tawar, semuanya termasuk family spongilidae. Umumnya terdapat di perairan jernih, dangkal, dan menempel di substrat. Porifera atau biasa disebut sebagai hewan berpori berasal dari kata pori yang berarti lubang kecil dan fero yang berarti membawa atau mengandung. Contoh dari porifera adalah sponsa. Sponsa merupakan hawan yang hidup menempel pada

suatu substrat di laut. Telah diketahui kira-kira 2500 spesies, ada beberapa yang hidup di air tawar, tetapi sebagian besar hidup di laut. Nama filum ini dari kenyataan bahwa tubuh porifera mempunyai pori-pori. Air beserta makanan masuk melalui pori kedalam rongga di dalam tubuh dari hewan akhirnya keluar melalui oskulum. Air yang telah disaring ini akan dibuang melalui oskulum. Tubuh sponsa terdiri dari dua lapisan sel, diantara kedua lapisan tersebut terdapat bagian yang tersusun dari bahan yang lunak disebut mesoglea. Sel-sel yang membentuk lapisan dalam mempunyai flagea, yang mengatur aliran sel-sel ini dapat menangkap partikel makanan. Bentuk sponsa ditentukan oleh kerangka tubuh. Kerangka tersusun dari spikula. Spikula tersebut dari sel-sel yang terdapat dalam mesoglea. Spikula tersusun dari silika atau kapur (kalsium karbonat). Beberapa sponsa tidak memiliki serabut-serabut yang lentur dari zat yang disebut spongin. Sponsa terdapat di perairan yang dangkal di daerah tropis. Bila sponsa diolah dapat digunakan untuk bahan atau alat pembersih. Seperti yang kita ketahui suatu organisme yang melekat pada suatu subsurat, harus mempunyai cara untuk menyebar keturunannya ke tempat lain. Untuk tujuan itu sponsa menghasilkan larva kecil yang dapat berenang dengan bebas. Larva tersebut memisahkan diri dari induknya dan setelah menemukan tempat hidup yang sesuai larva akan melekat disitu dan berkembang menjadi hewan dewasa. Berdasar fosil porifera yang ditemukan menunjukkan bahwa sponsa adalah salah satu hewan yang pertama kali muncul di bumi. Tetapi tidak ada bukti bahwa ada hewan yang berkembang dari sponsa. Sponsa seakan-akan menempati suatu tempat yang agak unik dalam dunia hewan, oleh karena itu oleh bebrapa ahli taksonomi, porifera dimasukkan dalam suatu kelompok yang disebut protozoa

B. Tujuan 1. Mengetahui klasifikasi dari porifera dan protozoa 2. Mengetahui ciri-ciri morfologi dari porifera dan protozoa 3. Mengetahui manfaat hewan-hewan laut dari porifera dan protozoa dalam bidang farmasi

C. Rumusan Masalah : 1. Apa klasifikasi dari porifera dan protozoa? 2. Apa ciri-ciri morfologi dari porifera dan protozoa? 3. Apa manfaat hewan-hewan laut dari porifera dan protozoa dalam bidang farmasi?

BAB II ISI A. PROTOZOA Protozoa artinya hewan pertama (protos = pertama; zoon = hewan), digambarkan sebagai organisme mirip hewan karena dapat bergerak dan mengambil makanan dari organisme lain. Pengklasifikasian Protozoa berdasarkan alat geraknya.

1. Ciri -ciri Protozoa : a. Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof) b. Protozoa memiliki alat gerak yaitu ada yang berupa kaki semu, bulu getar (cillia) atau bulu cambuk (flagel). c. Hidup bebas, saprofit atau parasit d. Organisme bersel tunggal e. Eukariotik atau memiliki membran nukleus/ berinti sejati

f. Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok) g. Dapat membentuk sista untuk bertahan hidup. sista, merupakan bentuk sel protozoa yang terdehidrasi dan berdinding tebal mirip dengan endospora yang terjadi pada bakteri h. Protozoa mampu bertahan hidup dalam lingkungan kering maupun basah. i. j. Protozoa tidak mempunyai dinding sel Protozoa merupakan organisme mikroskopis yang prokariot

2. Peranan Protozoa Peran menguntungkan : a. Mengendalikan populasi Bakteri, sebagian Protozoa memangsa Bakteri sebagai makanannya, sehingga dapat mengontrol jumlah populasi Bakteri di alam. b. Sumber makanan ikan, Di perairan sebagian Protozoa berperan sebagai plankton (zooplankton) dan benthos yang menjadi makanan hewan air, terutama udang, kepiting, ikan, dll. c. Indikator minyak bumi, Fosil Foraminifera menjadi petunjuk sumber minyak, gas, dan mineral. d. Bahan penggosok, Endapan Radiolaria di dasar laut yang membentuk tanah radiolaria, dapat dijadikan sebagai bahan penggosok.

Peran Merugikan : Protozoa menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan ternak.

Penyakit-penyakit yang disebabkan Protozoa antara lain : Jenis penyakit Disentri Diare (Balantidiosis) Penyakit tidur (Afrika) Toksoplasmosis (kematian janin) Malaria tertiana Malaria quartana Malaria tropika Kalaazar Surra (hewan ternak) Protozoa Entamoeba histolytica Balantidium coli Trypanosoma gambiense Toxoplasma gondii Plasmodium vivax Plasmodium malariae Plasmodium falciparum Leishmania donovani Trypanosoma evansi

3. Habitat Protozoa hidup di air atau setidaknya di tempat yang basah. Mereka umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar, atau daratan. Beberapa spesies bersifat parasitik, hidup pada organisme inang. Inang protozoa yang bersifat parasit dapat berupa organisme sederhana seperti algae, sampai vertebrata yang kompleks, termasuk manusia. Beberapa spesies dapat tumbuh di dalam tanah atau pada permukaan tumbuh-tumbuhan. Semua protozoa memerlukan kelembaban yang tinggi pada habitat apapun. Beberapa jenis protozoa laut merupakan bagian dari zooplankton. Protozoa laut yang lain hidup di dasar laut. Spesies yang hidup di air tawar dapat berada di danau, sungai, kolam, atau genangan air. Ada pula protozoa yang tidak bersifat parasit yang hidup di dalam usus termit atau di dalam rumen hewan ruminansia. Beberapa protozoa berbahaya bagi manusia karena mereka dapat menyebabkan penyakit serius. Protozoa yang lain membantu karena mereka memakan bakteri berbahaya dan menjadi makanan untuk ikan dan hewan lainnya. Protozoa hidup secara soliter atau bentuk koloni.

Di dalam ekosistem air protozoa merupakan zooplankton. Permukan tubuh Protozoadibayangi oleh membransel yang tipis, elastis, permeable, yang tersusun dari bahan lipoprotein, sehingga bentuknya mudah berubah-ubah. Beberapa jenis protozoa memiliki rangka luar (cangkok) dari zat kersik dan kapur. Apabila kondisi lingkungan tempat tinggal tiba-tiba menjadi jelek, Protozoa membentuk kista. Dan menjadi aktif lagi. Organel yang terdapat di dalam sel antara lain nucleus, badan golgi, mikrokondria, plastida, dan vakluola. Nutrisi protozoa bermacam-macam. Ada yang holozoik (heterotrof), yaitu makanannya berupa organisme lainnya. Ada pula yang holofilik (autotrof), yaitu dapat mensintesis makanannya sendiri dari zat organic dengan bantuan klorofit dan cahaya. Selain itu ada yang bersifat saprofitik, yaitu menggunakan sisa bahan organic dari organisme yang telah mati adapula yang bersifat parasitik. Apabila protozoa dibandingkan dengan tumbuhan unisel, terdapat banyak perbedaan tetapi ada persamaannya. Hal ini mungkin protozoa meriupakan bentuk peralihan dari bentuk sel tumbuhan ke bentuk sel hewan dalam perjalanan evolusinya.

4. KLASIFIKASI (PROTOZOA) Pengklasifikasian Protozoa berdasarkan alat geraknya. Berdasarkan alat geraknya, protozoa dikelompokkan menjadi empat filum yaitu sebagai berikut: a. Filum Rhizopoda (Sarcodina) Ciri-ciri Rhizopoda sebagai berikut:
1) 2)

Tidak memiliki bentuk yang tetap. Bergerak dan menangkap makanannya dengan kaki semu (pseudopodia) yang merupakan penjuluran sitoplasma tubuhnya. Rhizopoda bergerak dengan menjulurkan kaki semunya untuk berpindah tempat.

3) 4)

Ada yang hidup bebas di alam dan ada yang parasit. Makanannya berupa bakteri atau bahan organik lain.

5)

Berkembang biak dengan membelah diri. Contoh anggota Rhizopoda adalah Amoeba sp., Foraminifera yang digunakan

sebagai petunjuk dalam penyelidikan tanah yang mengandung minyak bumi, dan Radiolaria yang membentuk tanah radiolaria yang bermanfaat sebagai alat penggosok.

Radiolaria

Cangkang Foraminifera

Amoeba sp.

b. Filum Fagellata (Mastigophora) Filum Flagellata memiliki ciri khas yaitu memiliki alat gerak berupa bulu cambuk (flagela) yang berstruktur mirip cambuk yang panjang. Bulu cambuk ini digunakan dengan mencambukkan bulu cambuk ke arah yang diinginkan dan menggunakannya untuk memindahkan dirinya sendiri. Contoh Flagellata adalah Trypanosoma sp. yang hidup secara parasit dalam darah manusia dan vertebrata lainnya, berkembang biak dengan membelah diri, dan menyebabkan penyakit tidur pada manusia. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan lalat tse-tse.

Trypanosoma Brucei

10

c. Filum Ciliata (Cilliophora) Ciliata bergerak dengan bulu getar (silia) yang selalu bergetar untuk mendorong tubuhnya ke arah yang diinginkan seperti gerakan mendayung perahu. Selain itu, silia bisa digunakan untuk mengambil makanan.Ciliata berkembang biak secara vegetatif (aseksual) dengan membelah diri dan secara generatif (seksual) dengan cara konjugasi. Contoh Ciliata adalah Paramaecium sp. Paramaecium disebut juga hewan sandal, karena bentuknya menyerupai telapak sandal.terdapat mulut sel pada permukaan membrane sel yang melekuk. Air dan makanan masuk ke mulut sel dengan getaran silia. Makanan yang masuk ke mulut sel lalu masuk ke kerongkongan sel, lalu ke vakuola makanan. Vakuola makanan beredar dalam sel sambil mencerna makanan. Sisa makanan berbentuk cair dikeluarkan melalui vakuola

berdenyut/vakuola kontraktil, sementara sisa makanan berbentuk padat dikeluarkan melalui vakuola makanan yang pecah saat menepi ke membran sel.

Paramaecium Contoh Ciliata yang lain adalah Vorticella dan Stentor.

10

11

Vorticella

Stentor

d. Filum Sporozoa Filum ini berbeda dengan filum sebelumnya anggota filum ini tidak mempunyai alat gerak. Disebut Sporozoa karena dalam tahap tertentu dalam hidupnya, dapat membentuk sejenis spora. Biasanya hidup sebagai parasit pada tubuh hewan maupun manusia. Contoh anggota Sporozoa adalah Plasmodium sp., penyebab penyakit malaria. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles sp.

11

12

Plasmodium sp.

5. MORFOLOGI (PROTOZOA) Semua protozoa mempunyai vakuola kontraktil. Vakuola dapat berperan sebagai pompa untuk mengeluarkan kelebihan air dari sel, atau untuk mengatur tekanan osmosis. Jumlah dan letak vakuola kontraktil berbeda pada setiap spesies. Protozoa dapat berada dalam bentuk vegetatif (trophozoite), atau bentuk istirahat yang disebut kista. Protozoa pada keadaan yang tidak menguntungkan dapat membentuk kista untuk mempertahankan hidupnya. Saat kista berada pada keadaan yang menguntungkan, maka akan berkecambah menjadi sel vegetatifnya. Protozoa tidak mempunyai dinding sel, dan tidak mengandung selulosa atau khitin seperti pada jamur dan algae. Kebanyakan protozoa mempunyai bentuk spesifik, yang ditandai dengan fleksibilitas ektoplasma yang ada dalam membran sel. Beberapa jenis protozoa seperti Foraminifera mempunyai kerangka luar sangat keras yang tersusun dari Si dan Ca. Beberapa protozoa seperti Difflugia, dapat mengikat partikel mineral untuk membentuk kerangka luar yang keras.

12

13

Radiolarian dan Heliozoan dapat menghasilkan skeleton. Kerangka luar yang keras ini sering ditemukan dalam bentuk fosil. Kerangka luar Foraminifera tersusun dari CaO2 sehingga koloninya dalam waktu jutaan tahun dapat membentuk batuan kapur. Protozoa merupakan sel tunggal, yang dapat bergerak secara khas menggunakan pseudopodia (kaki palsu), flagela atau silia, namun ada yang tidak dapat bergerak aktif. Berdasarkan alat gerak yang dipunyai dan mekanisme gerakan inilah protozoa dikelompokkan ke dalam 4 kelas. Protozoa yang bergerak secara amoeboid dikelompokkan ke dalam Sarcodina, yang bergerak dengan flagela dimasukkan ke dalam Mastigophora, yang bergerak dengan silia dikelompokkan ke dalam Ciliophora, dan yang tidak dapat bergerak serat merupakan parasit hewan maupun manusia dikelompokkan ke dalam Sporozoa. Mulai tahun 1980, oleh Commitee on Systematics and Evolution of the Society of Protozoologist, mengklasifikasikan protozoa menjadi 7 kelas baru, yaitu Sarcomastigophora, Ciliophora, Acetospora, Apicomplexa, Microspora, Myxospora, dan Labyrinthomorpha. Pada klasifikasi yang baru ini, Sarcodina dan Mastigophora digabung menjadi satu kelompok Sarcomastigophora, dan Sporozoa karena anggotanya sangat beragam, maka dipecah menjadi lima kelas. Contoh protozoa yang termasuk Sarcomastigophora adalah genera Monosiga, Bodo, Leishmania, Trypanosoma, Giardia, Opalina, Amoeba, Entamoeba, dan Difflugia. Anggota kelompok Ciliophora antara lain genera Didinium, Tetrahymena, Paramaecium, dan Stentor. Contoh protozoa kelompok Acetospora adalah genera Paramyxa. Apicomplexa beranggotakan genera Eimeria, Toxoplasma, Babesia, Theileria. Genera Metchnikovella termasuk kelompok Microspora. Genera Myxidium dan Kudoa adalah contoh anggota kelompok Myxospora.

13

14

6. MANFAAT DALAM DUNIA FARMASI Protozoa yang hidup di air tawar dan air laut merupakan zoo plankton yang menjadi salah satu sumber makanan bagi hewan air termasuk udang, ikan, kepiting yang secara ekonomis bermanfaat bagi manusia. Peran protozoa lainnya adalah dalam mengontrol jumlah bakteri di alam karena protozoa merupakan pemangsa bakteri. Salah satunya : Entamoeba coli sebagai pembantu pembusukan makanan dan membentuk vit K. Tapi kadang akan menyebabkan diare saat kondisi tubuh lemah. Esterichia coli (e-coli) dari bakteri dapat menghasilkan vit B12, vit K, dan pembusukan makanan. Protozoa digunakan sebagai indikator kualitas air, materi limbah mentah dapat dikatagorikan kedalam tiga golongan. 1. Kotoran cara domestik 2. Limbah industri senyawa pengdegradasi senyawa kimia anorganik. 3. Stromwater yang mengandung polutan (air mengalir yang membawa kotoran permukaan)

B. PORIFERA Porifera (Latin: porus = pori,fer = membawa) atau spons atau hewan berpori adalah sebuah filum untuk hewan multiseluler yang paling sederhana. Porifera hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton. Makanan yang masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga porifera disebut juga sebagai pemakan cairan. Habitat porifera umumnya di laut.

14

15

Porifera memiliki tiga lapisan : 1. Epidermis (lapisan terluar) Lapisan terluar dari porifera dan tersusun oleh sel sel epitelium pipih yang disebut Pinakosit 2. Mesoglea Lapisan pembatas antara epidermis dan endodermis. Mesoglea pada Porifera mengandung dua macam sel yaitu: a) Sel Ameboid Sel ameboid berfungsi untuk mengangkut zat makanan dan zat-zat sisa metablisme dari sel satu ke sel lain b) Sel Sklerobas c) Sel Sklerobas berfungsi sebagai pembentuk spikula 3. Endodermis (lapisan dalam) Endodermis adalah lapisan dalam yang terdiri dari sel-sel leher atau koanosit yang memiliki flagel dan berfungsi sebagai pencerna makanan

1. KLASIFIKASI PORIPERA Klasifikasi Porifera berdasarkan bentuk dan kandungan spikula dibedakan menjadi tiga kelas berikut : a. Kelas Calcarea Rangka tubuh Calcarea bersifat kalkareus. Hal ini karena spikulanya mengandung kalsium karbonat (kapur). Sebagian spikulanya berbentuk monaxon dan triaxon sehingga tampak seperti duri-duri kecil. Anggota kelas ini banyak tersebar di laut dangkal di seluruh dunia. Contoh Scypha sp., Cerantia sp., Sycon sp., Leucon sp., dan Clathrina sp.

15

16

Gambar: spesies Clathrina sp. Ciri-cirinya :


1. 2. 3.

Spikula terbentuk dari zat kapur. Hidup di laut. Contoh spesies: Sycon, Schyra dan Grantia.

b. Kelas Hexactinellida Spikula pada kelas ini mengandung banyak benang silikat atau kersik (SiO 2). Sementara itu, spikulanya berbentuk triaxon dengan enam cabang. Bentuk hewanhewan pada kelas ini menyerupai gelas, silinder, atau corong. Contoh Euplectella aspergilium, Pheronema, dan Hyalonema sp.

Gambar: Euplectella aspergilium Ciri-cirinya : 1. Spikula terbentuk dari zat kapur. 2. Hidup di laut.

16

17

3. Contoh spesies: Sycon, Schyra dan Grantia.

c. Kelas Demospongia Hewan anggota kelas ini bertulang lunak karena tidak mempunyai rangka. Apabila ada yang memiliki rangka, rangkanya tersusun dari serabut-serabut spongin dengan spikula dari zat silikat. Bentuk spikulanya ada yang monaxon atau tetraxon. Contoh Euspongia sp., Callyspongia sp., Clionia sp., Phyllospongia sp., dan Spongia sp.

Gambar: Callyspongia sp. Ciri-cirinya : 1. Spikula hanya berupa serabut-serabut spongin. Karena itu,

Demospongiae sering dimanfaatkan sebagai spons. 2. Hidup di air tawar. 3. Merupakan kelas terbesar Porifera (90%) 4. Contoh spesies: Cliona, Hippospongia dan Halicondria.

17

18

2. MORFOLOGI PORIFERA Struktur Tubuh

Keterangan. Oskulum Mesoglea porosity : tempat keluarnya air yang berasal dari spongosol : lapisan pembatas antara lapisan dalam dan lapisan luar : saluran penghubung antara pori-pori dan spongosol. tempat masuknya air. spongosol ameboid epidermis spikula flagel koanosit : rongga di bagian dalam tubuh porifera : sel yang berfungsi mengedarkan makanan. : lapisan terluar : pembentuk/penyusun tubuh : alat gerak koanosit : sel pelapis spongosol seta berfungsi sebagai pencerna makanan. di bagian ujungnya terdapat flagel dan di pangkalnya terdapat vakuola.
18

19

Ciri-ciri morfologi poripera : a. Hewan Porifera yang telah dewasa tidak dapat berpindah tempat (sesil), hidupnya menempel pada batu atau benda lainya di dasar laut.Karena porifera yang bercirikan tidak dapat berpindah tempat, kadang porifera dianggap sebagai tumbuhan. b. mempunyai sel porosit yang berbentuk kubus c. tubuh terdiri dari 2 lapisan (diploblastik) , yaitu epidermis dan endodermis d. endodermis terdiri dari sel-sel leher (choanosit) untuk pencernaan yang dilengkapi dua flagel e. spongocoel (rongga tubuh) dikelilingi oleh dinding tubuh yang terdapat choanosit , epidermis, dan mesenkim (lapisan gelatin) f. Di antara lapisan ektoderm dan endoderm terdapat rongga yang disebut mesenkim atau mesoglea tempat dari sel amoeboid dan skleroblast yang merupakan penyusun rangka atau spikula berada DI mesoglea juga terdapat sel archeosit g. Porifera tidak mempunyai sel saraf. h. Sel-sel pada Porifera sensitif terhadap rangsang antara lain choanocyt dan myocyt, karena itu gerakan dari flagellum pada choanocyt tergantung pada keadaan lingkungan. i. Kemampuan myocyt terhadap stimulus adalah gerakan mengkerut/

mengendurnya sel tubuh sehingga porocyt ataupun osculum bisa menutup dan membuka j. Lapisan ektoderm yang terdiri atas selapis sel yang pipih dan tebal yang berfungsi sebagai kulit yang disebut pinakosit.sel pinakosit berfungsi sebagai pelindung

19

20

k. oksigen selalin digunakan oleh koanosit, sebagian juga ditransfer secara difusi ke sel-sel yang selalu bergerak seperti amoeba, yaitu amoebosit (sel amoeboid) l. mempunyai sel porosit yang berbentuk kubus m. Sel amubosit atau amuboid yang berfungsi untuk mengambil makanan yang telah dicerna di dalam koanosit. n. Sel skleroblas berfungsi membentuk duri (spikula) sebagai kerangka o. Spikula terbuat dari kalsium karbonat ,silikat atau sponging p. Sedangkan spongin tersusun dari serabut-serabut spongin yang lunak, berongga seperti spon. lihat pada demospongia q. Sedangkan sel arkheosit berfungsi sebagai sel reproduktif, misalnya pembentuk tunas, pembentukan gamet, pembentukan bagian-bagian yang rusak dan regenerasi. r. Reproduksi Porifera bisa secara aseksual maupun seksual.Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule.Gemmule disebut juga tunas internal.Gemmule dihasilkan hanya menjelang musim dingin di dalam tubuh porifera yang hidup di air tawar.Porifera dapat membentuk individu baru dengan regenerasi.Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan gamet (antara sperma dan ovum).Ovum dan sperma dihasilkan oleh koanosit.Sebagian besar Porifera menghasilkan ovum dan juga sperma pada individu yang sama sehingga porifera bersifat Hemafrodit. s. Jadi Perkembangbiakan Porifera dapat dilakukan secara vegetatif dan generatif. Perkembangbiakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : 1) Pembentukan tunas. Tunas yang terbentuk memisahkan diri dari induknya kemudian terbentuk individu baru.

20

21

2) Gemmulae (butir benih). Gemmulae adalah sejumlah sel mesenkim yang berkelompok dan berbentuk seperti bola yang dilapisi kitin serta diperkuat spikula. Gemmulae terbentuk jika keadaan lingkungan sedang tidak menguntungkan. Ketika keadaan lingkungan membaik, gemmulae akan terbentuk menjadi individu baru. Gemmulae hanya dimiliki oleh porifera air tawar. Proses pembentukan gemmulae adalah sebagai berikut : Pertama-tama arkeost mengumpulkan nutrient dengan memfagosit sel lain untuk dikumpulkan dalam rongga tubuh. Sel tertentu kemudian mengelilingi secret kumpulan tersebut dan membungkusnya. Terbentuklah kumpulan/cluster dan kapsul yang mengelilingi. Pada kondisi yang tepat gemmulae menetas dan sel-sel di dalamnya keluar dan berdiferensiasi membentuk spons baru. Sedangkan perkembangbiakan generatif berlangsung secara anisogami, yaitu dengan peleburan gamet jantan (mikrogamet) dengan gamet betina (makrogamet). Dari peleburan ini dihasilkan zigot yang kemudian berkembang menjadi larva bersilia.

3. Manfaat porifera dalam bidang farmasi Beberapa jenis Porifera bermanfaat bagi manusia. Sisa sponsnya dapat digunakan sebagai alat penggosok badan dan pembersih kaca, misal Spongiasp. Jenis lainnya berperan penting menyusun biodiversitas di dasar samudra. Selain itu, anggota Porifera juga mampu bersimbiosis dengan bakteri yang menghasilkan bioaktif. Bioaktif ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat. Secara tidak langsung, bisa dimanfaatkan untuk anti inflamasi, anti tumor, dan antibiotik. Bisa juga diolah sebagai bahan pangan.

21

22

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Dari makalah yang telah kami buat dapat disimpulkan bahwa animalia kelompok porifera mempunyai empat filum yaitu sebagai berikut yaitu Filum

Rhizopoda (Sarcodina), Filum Fagellata (Mastigophora), Filum Ciliata (Cilliophora), Filum Sporozoa. Sedangkan pada kelompok protozoa mempunyai 3 kelas yaitu Kelas Calcarea, Kelas Hexactinellida, Kelas Demospongia. Dalam bidang farmasi manfaat hewan protozoa Salah satunya : Entamoeba coli sebagai pembantu pembusukan makanan dan membentuk vitK. Tapi kadang akan menyebabkan diare saat kondisi tubuh lemah. Esterichia coli (e-coli) dari bakteri dapat menghasilkan vit B12, vit K, dan pembusukan makanan. Sedangkan untuk porifera bermanfaat untuk Beberapa jenis Porifera bermanfaat bagi manusia. Sisa sponsnya dapat digunakan sebagai alat penggosok badan dan pembersih kaca, misal Spongiasp. Jenis lainnya berperan penting menyusun biodiversitas di dasar samudra. Selain itu, anggota Porifera juga mampu bersimbiosis dengan bakteri yang menghasilkan bioaktif. Bioaktif ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat.

22

23

Daftar Pustaka

Priadi, Arif.2010. Biologi SMA Kelas X. Jakarta:Yudhistira. Priadi, Arif & Silawati, Tri.2006. Sains Biologi SMA Kelas X.Jakarta:Yudhistira. Kusumastuti, dewi.2006. Buku Ajar Biologi SMA/MA.surakarta:Eksis. Brotowidjoyo. 2004. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta Kimball, J.W. 2000. Biologi jilid empat edisi pertama.Erlangga Jakarta. Sugiarti, S. dkk. 2002. Avertebrata Air Jilid I. Depok : Penebar Swadaya.

23