Anda di halaman 1dari 10

KEARIFAN LOKAL DALAM ARSITEKTUR

Hamka, ST. Program Pasca Sarjana Arsitektur Lingkungan Binaan-Universitas Brawijaya, Malang E-mail: hamkahamzah_07@yahoo.co.id

ABSTRAK
Perkembangan arsitektur telah berkembang pesat mengikuti perkembangan modernitas zaman. Efeknya terhadap kearifan budaya dalam arsitektur lokal berada dipersimpangan, ada yang masih bertahan, ada juga yang mulai meninggalkan. Indonesia memiliki begitu banyak budaya arsitektur lokal yang berasal dari masyarakatnya yang beragam. Masing-masing memiliki konsep budaya yang berbeda untuk menunjukkan nilai kearifan lokalitas mereka dalam kehidupan bermasyarakat secara turun-temurun. Nilai kearifan lokal tersebut terlahir dari berbagai macam aspek yang berpengaruh dan dianut oleh masyarakat setempat, aspek berpengaruh tersebut yang kemudian membentuk wujud fisik lingkungan sosial dan arsitekturalnya. Kearifan lokal berasal dari daerah atau wilayah setempat dan dimaknai sebagai pola berfikir, gagasan, ide yang dinilai baik oleh masyarakat setempat tersebut. Tantangannya adalah pada penerapan kearifan lokal tersebut, apakah dapat diterapkan oleh masyarakat diluar daerah setempat dan juga sejauh mana nilai kearifan lokal tersebut dapat diterapkan di era modern, khususnya di Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya dan lokalitas arsitektur yang beragam. Budaya dalam arsitektur melalui nilai kearifan lokal dapat dijadikan salah satu bentuk solusi terhadap suatu masalah manusia, lingkungan, dan arsitektur, agar kearifan lokal tersebut tidak menghilang di era modernitas ini. Kata kunci: kearifan lokal, nilai kearifan, lokalitas arsitektur

1. PENDAHULUAN 1.1 Menggali Makna Kearifan Lokal


Kearifan lokal (Local Wisdom) sudah lama didengungkan keberadaannya, tidak sedikit dari kalangan akademisi maupun praktisi terus menggali makna dari nilai kearifan lokal untuk dihadirkan kembali diera modernisasi ini. Berbagai macam metode yang digunakan untuk melestarikan kearifan lokal tersebut, diantaranya melalui pengkajian ilmu pengetahuan melalui penelitian mengenai kearifan lokal oleh para akademisi dan juga melalui proses desain arsitektur yang dilakukan oleh para praktisi dengan menggunakan pemahaman nilai kearifan lokal tersebut. Kearifan lokal dianggap oleh masyarakat setempat sebagai pemikiran arif bijaksana yang sifatnya setempat pula, tapi diharapkan mempunyai pengaruh positif ke daerah lainnya sebagai salah-satu bentuk solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang timbul akibat pengaruh dari pemikiran global (Pawitro, 2011). Begitu banyak pengaruh global yang mempengaruhi pemikiran masyarakat Indonesia dibidang sosial-budaya maupun dibidang arsitektural dan lingkungannya, yang justru tidak sesuai dengan budaya dan kondisi lingkungan masyarakat yang ada. Dengan munculnya permasalahan sosial-budaya, lingkungan, dan arsitektural, maka nilai kearifan lokal dapat dijadikan salah-satu solusi terhadap permasalahan tersebut. Pemahaman terhadap makna kearifan lokal dari berbagai kalangan memiliki pemikiran yang berbeda-beda tetapi pada dasarnya memiliki maksud dan tujuan yang sama. Dari segi pemahaman antropologi misalkan, lebih dikenal dengan istilah local genius. Local genius dipahami sebagai cultural identity, identitas budaya suatu bangsa yang 1 Kearifan Budaya Lokal, 2013

menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986:18-19). Sementara Moendardjito (dalam Ayatrohaedi, 1986:40-41) berpendapat bahwa local genius didapatkan dari unsur budaya daerah potensial yang telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Kearifan lokal didefinisikan sebagai kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah (Gobyah, 2003). Kearifan lokal secara substansial merupakan norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertindak dan berperilaku sehari-hari (Ernawi, 2010). Dari berbagai macam pemahaman yang muncul, secara garis besar memahami bahwa lokal wisdom berasal dari nilai budaya (tradisi, adat istiadat, sistem kemasyarakatan) yang diciptakan oleh individu maupun kelompok berdasarkan pertimbangan lingkungan dan kepercayaan masyarakat itu sendiri. Pada akhirnya menghasilkan sebuah nilai kearifan lokal yang berwujud nyata (tangible) dan yang tak berwujud (intangible). Nilai-nilai arif itulah yang kemudian secara terus-menerus dijalankan dan mampu bertahan hingga sekarang, dilingkungan masyarakat setempat tersebut.

1.2 Arsitektur di Indonesia


Arsitektur dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu yang sangat kompleks, karena didalamnya terdapat begitu banyak jenis disiplin ilmu yang digunakan dan saling mendukung, mulai dari pengaruh sosial budaya, hukum, lingkungan, seni, psikologi, keagamaan, dan juga ilmu keteknikan. Begitu juga dengan ragam jenis arsitektur sangat kompleks, khususnya di Indonesia memiliki keragaman arsitektur yang sangat banyak dan beragam. Berdasarkan periode waktu, banyak jenis-jenis arsitektur yang tercipta, mulai dari arsitektur lokal yang diwakili oleh arsitektur tradisional maupun vernakuler, arsitektur kolonial, modern, postmodern, hingga kontemporer. Dari berbagai macam jenis arsitektur yang ada di Indonesia tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Arsitektur tradisional yang berangkat dari tradisi lokal yang terus dilakukan secara turun-temurun, pembentukannya dipengaruhi oleh unsur kosmos dan mitos yang kemudian dinilai sebagai arsitektur yang memiliki nilai kearifan lokal. Arsitektur yang dibuat dengan cara memperhatikan kondisi ekologis setempat oleh masyarakat setempat, sesuai dengan kondisi yang ada dilingkungan tersebut. Maka menciptakan arsitektur adalah memanfaatkan dan mengangkat martabat alam sesuai kebutuhan dan kondisi (Mangunwijaya, 1988:331). Arsitektur tradisional merupakan akar atau cikal bakal dari arsitektur yang ada di Indonesia, meskipun berasal dari berbagai macam lokalitas maupun etnik yang ada di Indonesia, tapi mampu memunculkan karakter arsitektur asli Indonesia. Arsitektur diluar tradisional merupakan arsitektur yang hadir akibat pengaruh global yang dibawah dari barat, yang kemudian melakukan penyesuaian dengan kondisi lokal hingga terjadinya proses alkulturasi. Penyesuaian arsitektur luar ini tidak semuanya berjalan dengan lancar akibat dari tidak menyesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Dari kesemua arsitektur dari luar ini, tidak semuanya menerima dan begitupun sebaliknya. Meskipun demikian, setidaknya arsitektur yang berasal dari luar telah sukses menjadi warna bagi keragaman arsitektur yang ada di Indonesia.

2. PEMBAHASAN 2.1 Kearifan Lokal dalam Arsitektur


Kearifan lokal dapat diinterpretasikan dan dihubungkan dalam berbagai bidang, salah satunya dalam bidang arsitektur, yang proses pembentukannya dipengaruhi oleh berbagai faktor tergantung dari ruang, waktu, dan tempat berkembangnya arsitektur itu. 2 Kearifan Budaya Lokal, 2013

Arsitektur merupakan bidang ilmu yang selain kompleks juga dinamis. Hal ini dikarenakan arsitektur dapat dihubungkan dengan masa lalu, kemudian membentuk masa sekarang, dan berpengaruh pada masa depan. Sehingga, arsitektur yang belajar dari masa lalu, dapat membentuk arsitektur pada masa sekarang dan dampaknya dapat dirasakan dimasa depan. Salah satu nilai yang dapat dipelajari dari masa lalu, sebagai salah-satu bentuk alternatif solusi, yang dapat membentuk arsitektur masa sekarang dan berpengaruh pada masa depan adalah nilai kearifan lokal. Kekuatan dari kearifan lokal berupa nilai masa lalu atau saat ini maupun perpaduan dari keduanya yang memiliki signifikasi dan keunikan (Antariksa, 2009). Kearifan lokal dalam arsitektur dapat diihat dari waktu dan tempat, bahwa kearifan lokal dari segi arsitektur berasal dari masa lalu dilingkungan masyarakat setempat yang melaksanakan nilai kearifan lokal tersebut secara terus-menerus dan bertahan hingga sekarang. Karena konteks kearifan lokal itu berlaku pada lingkungan setempat, berdasarkan pemikiran masyrakat setempat dan yang mempengaruhinya, sehingga antara kearifan lokal yang satu dengan yang lainnya akan berbeda serta sifatnya lokal. Sehingga perlu sebuah kajian terhadap kearifan lokalitas arsitektur tersebut mengenai nilai-nilai kearifan yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dimasa sekarang. Maka dengan demikian peradaban arsitektur tidak terjebak dalam masa lalu, karena ilmu dan arsitektur terus berkembang, secara otomatis akan terjadi perubahan mengikuti perkembangan tersebut. Arsitektur dimasa lalu hanya diambil nilai kearifannya untuk diterapkan pada arsitektur masa kini sesuai dengan kondisi sekarang. Bentuk penghargaan terhadap lokalitas arsitektur yang berasal dari masa lalu tetap dipertahankan sebagai wujud pelestarian. Dengan menerapkan nilai kearifan lokal pada arsitektur masa kini, sesuai dengan kondisi sekarang, maka akan terjadi sebuah proses alkulturasi dalam arsitektur yang berujung pada terciptanya sebuah nilai kearifan yang baru. Hal terpenting dari kearifan lokal adalah proses sebelum implementasi tradisi pada wujud fisik, yaitu nilai-nilai dari alam untuk mengajak dan mengajarkan tentang bagaimana membaca potensi alam dan menuliskannya kembali sebagai tradisi yang diterima secara universal oleh masyarakat (Pangarsa, 2008 : 84). Nilai tradisi ini berasal dari alam yang bermaksud untuk menyeselaraskan kehidupan manusia dengan cara menghargai, memelihara dan melestarikan alam lingkungan. Peran manusia sangat penting untuk menjaga lingkungan alam dan menghasilkan wujud fisik arsitektur yang memiliki nilai kearifan serta selaras dengan alam. Maka perlu adanya harmonisasi hubungan timbal balik diantara ketiganya, yakni antara manusia, alam, dan arsitektur.
Lingkungan Iklim Nilai Kearifan Lokal

Alam

Manusia

Arsitektur

Sosial Budaya

Sebagai hasil karya manusia (artefak fisik) yang mempertimbangkan sosial budayanya, selaras dengan lingkungan alam dan iklimnya, serta memiliki nilai kearifan lokalyang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi waktu dan tempatnya.

DiagramDiagram 1. Skema Hubungan Manusia, Alam, dan Arsitektur

3 Kearifan Budaya Lokal, 2013

Bahwa keberadaan manusia dialam membutuhkan tempat atau wadah untuk beraktifitas dan bernaung yang diimplimentasikan dalam wujud arsitektural. Sama halnya dengan manusia, wujud arsitektur keberadaanya dibangun diatas alam oleh manusia, sesuai dengan kebutuhan manusia dan kondisi lingkungannya. Alam menyediakan segala sumbernya untuk dimanfaatkan dengan baik, maka dalam menciptakan arsitektur harus memperhatikan kondisi alam, agar keseimbangan lingkungan alam tetap terjaga. Atas pertimbangan manusia melalui sosial budaya dan alam dengan iklim dan kondisi lingkungan yang melatar belakangi terciptanya nilai kearifan lokal yang salah satu hasilnya dalam bentuk wujud nyata (tangible) yaitu arsitektur.Nilai kearifan lokal kekuatannya lebih banyak berasal dari masa lalu, tetapi kearifan lokal tidak hanya ada dimasa lalu, juga ada dimasa sekarang, hingga masa depan sekalipun, selama kearifan lokal itu masih dapat bertahan dan terus dilaksanakan, hingga terciptanya suatu kearifan lokal yang baru.

2.2 Kearifan Lokal Arsitektur Tradisional Indonesia


Arsitektur tradisional merupakan salah satu hasil dari kearifan lokal yang berwujud nyata (tangible). Khususnya di Indonesia memiliki begitu banyak arsitektur tradisional yang tersebar diwilayah nusantara. Arsitektur yang lahir dari masyarakat di kepulauan nusantara, memiliki kekayaan keragaman kehidupan pada kondisi iklim tropis. Rumah-rumah tradisional merupakan salah satu keunikan, keragaman, mengandung nilai alam dan budaya, muncul dengan ciri khas yang berbeda pada rumah tradisional Aceh, Batak, Nias, Riau, Minang, Jawa, Sunda, Madura, Bali, Banjar, Bugis, Toraja, Maluku hingga ke Papua. Beberapa nilai kearifan lokal yang ada dalam arsitektur tradisional diantaranya nilai pemahaman terhadap alam, pola permukiman, sistem struktur, hingga unsur-unsur simbolik yang terkandung didalamnya. Arsitektur tradisional merupakan arsitektur yang sangat memperhatikan kondisi lingkungan, sehingga terdapat beberapa pesan yang digunakan sebagai pedoman untuk menjaga kondisi lingkungan seperti yang dicontohkan oleh (Faizal dalam Sartini, 2004) bahwa: Di Papua terdapat kepercayaan te aro neweak lako (alam adalah aku), di Serawai, Bengkulu, terdapat keyakinan celako kumali. berupa tata nilai tabu dalam berladang dan tradisi tanam tanjak, di Dayak Kenyah, Kalimantan Timur, terdapat tradisi tana ulen. Bahwa pengelolaan tanah diatur dan dilindungi oleh aturan adat. Sedangkan di suku Bugis Kajang salah satu pesan berbunyi: Anjo boronga anre nakkulle nipanraki. Punna nipanraki boronga, nupanraki kalennu artinya (Hutan tidak boleh dirusak. Jika engkau merusaknya, maka sama halnya engkau merusak dirimu sendiri) (arsitekturkajang.blogspot.com). Kondisi lingkungan alam seperti iklim dan topografi juga menjadi perhatian arsitektur tradisional yang kemudian mempengaruhi bentukan arsitekturalnya.

Gambar 1. Kampung Naga di Tasikmalaya Sumber: en.wikipedia.org

Gambar 2. Permukiman Toraja Sumber: torajacybernews.blogspot.com

4 Kearifan Budaya Lokal, 2013

Pada gambar 1 dan 2 pola permukiman keduanya terbentuk menyesuaikan dengan kondisi topografi lingkungan, rumah-rumah tradisional tersebut di bangun tanpa merubah kondisi lingkungan yang sudah ada. Diluar unsur kepercayaan atap dari kedua rumah tradisional ini bidangnya dibuat miring untuk mengalirkan air hujan dengan cepat pada saat musim hujan. Dalam hubungan arsitektur dan budaya, rumah tradisional di Indonesia dipandang sebagai bentuk strategi adaptasi terhadap alam seperti gempa melalui rekayasa struktur konstruksi (sistem sambungan dan tumpuan) dengan eksplorasi material lokal (batu, kayu dan bambu), (Rapoport, 1969). Sebagian besar rumah tradisional di Indonesia menggunakan sistem struktur knockdown sehingga dapat dibongkar pasang dan dapat dipindah tempat. Sistem struktur knockdown dengan menggunakan sistem konstruksi pen dari balok kayu yang dimasukkan didalam lubang pada kolom . Sistem struktur membentuk hubungan struktur pola ruang vertikal dan horizontal pada rumah tradisional ini. Selain itu rumah tradisional kebanyakan dalam bentuk rumah panggung, sebagai bentuk perlindungan dari binatang buas maupun sebagai bentuk kepekaan terhadap iklim dengan memanfaatkan aliran udara melalui kolong rumah.

Gambar 3. Cross Ventilation pada rumah panggung Sumber: Herniwati, 2008

Gambar 4. Rumah Tradisional Bugis Sumber: sosbud.kompasiana.com

Sirkulasi angin dimana angin masuk melalui celah-celah pada selubung bangunan dan kolong yang dapat menurunkan hawa panas yang ada di dalam bangunan dan menyejukkan manusia yang berada di dalam bangunan tersebut (Herniwati, 2008). Pemanfaatkan udara secara alami merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang menunjukkan arsitektur yang hemat energi dengan cara memanfaatkan kondisi iklim tropis yang ada di Indonesia. Selain itu, arsitektur tradisionla juga memanfaatkan pencahayaan secara alami disiang hari. (Gambar 4) merupakan rumah tradisional bugis berupa rumah panggung dengan sistem struktur knockdown yang dapat dibongkar pasang dan juga memiliki tradisi angkat rumah untuk memindahkan dari suatu tempat ke tempat yang lainnya yang dilakukan secara gotong-royong oleh masyarakat setempat. Pemahaman masyarakat tradisional juga terdapat pada penggunaan pondasi umpak secara sadar memisahkan struktur bangunan rumah dengan pondasi sehingga getaran yang terjadi pada pondasi akibat tanah yang bergoyang hanya menimbulkan efek yang tidak terlalu besar pada struktur bangunan rumah. Denah rumah tradisional yang cenderung sederhana dan simetris di daerah rawan bencana gempa menunjukkan bahwa mereka memahami jika bangunan memerlukan kelenturan yang dapat mengurangi pengaruh kerusakan akibat getaran karena gempa. Bangunan yang relatif simetris dan ringan serta dengan teknik jepit dan tumpu, sangat adaptif menerima gaya tekan dan tarik di daerah rawan gempa bumi (Siswanto, 2009).

5 Kearifan Budaya Lokal, 2013

Gambar 5. Pondasi Umpak pada Joglo Sumber: kampungjoglo.wordpress.com

Gambar 6. Pondasi Umpak pada Rumah Bugis, Sumber: mukhlis-mukhtar.blogspot.com

Gambar 7. Pondasi Umpak pada Rumah Sunda Sumber: www.flickr.com

Gambar 8. Pondasi Umpak pada Rumah Aceh Sumber: www.bubblews.com

Nilai kearifan lokal pada arsitektur tradisonal tentunya tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam saja, tetapi juga dipengaruhi sosial budaya setempat yang meliputi perilaku, tradisi, adat, dan kepercayaan setempat, yang pada penerapannya juga hanya dapat dilakukan oleh masyarakat setempat. Terhadap nilai-nilai tersebut perlu sebuah pengkajian secara mendalam untuk penerapan nilai tersebut dalam kondisi global diluar dari masyarakat setempat tersebut.

2.3 Nilai Kearifan Lokal dalam Global Arsitektur Non-Tradisional


Melalui sudut pandang yang sedikit berbeda ketika pengaruh global masuk di Indonesia, yang ditandai dengan munculnya bangunan kolonial yang dibawah oleh resim Belanda. Awalnya bangunan kolonial ini dinilai tidak sejalan dengan kondisi alam dan budaya masyarakat. Diterapkannya langgam Indische Empire Stijl pada (gambar 9) yang kurang menghargai alam, ditunjukkan dengan adanya luas lahan yang diperlukan untuk membuat sebuah rumah, tanpa teritisan, penggunaan kolom yang besar (doric, ionic, dan corintian), lantai satu yang masuk ke dalam tanah menyebabkan kelembaban tinggi. (Handinoto, 2006).

Gambar 9. Indische Empire Stijl Sumber: rizaljuntak.blogspot.com

Gambar 10. Indo-Europeeschen Stijl Sumber: winnerfirmansyah.wordpress.com

6 Kearifan Budaya Lokal, 2013

Namun, seiring berjalannya waktu terjadi proses alkulturasi budaya seperti yang terlihat pada (gambar 10), sesuai dengan kondisi iklim yang ada. Kegagalan penerapan secara utuh menciptakan ide baru untuk menghargai alam yang berasal dari nilai kearifan lokal yang ada pada saat itu, hingga diterapkan pada rumah rakyat yang bergaya kolonial, maupun mengadopsi unsur kolonial, hingga perubahannya pada bentuk arsitektur jengki. Setelah masa arsitektur kolonial, langgam arsitektur yang lainnya bermunculan diawali dengan arsitektur modern yang berorientasi pada fungsi ruang (form follow function) dengan bentuk-bentuk yang sederhana mengikuti fungsi ruang. Nilai yang dapat diambil dari arsitektur ini adalah nilai efektif dan efisien sesuai dengan fungsi, tetapi dari bentuk langgam ini dibuat tidak sesuai dengan kondisi alam dan budaya yang ada di Indonesia sehingga memantik munculnya arsitektur postmodern. Arsitektur postmodern tidak lagi mengacu pada form follow function, langgam ini sifatnya lebih dinamis, memiliki banyak subtema. Kebanyakan konsepnya merujuk pada kebudayaan dan masa lalu untuk diterapkan dimasa sekarang. Jadi, nilai-nilai kearifan lokal diterapkan pada kondisi sekarang, pengaruh-pengaruh global dikombinasikan dengan pemikiran-pemikiran lokal. Dengan alkulturasi tersebut, menciptakan suatu nilai kearifan lokal yang baru. Wujud kreatifitasnya lebih beragam, tidak terikat dan monoton. Sebagai interpretasi dari identitas dan karakter, seperti masyarakat akan memilih arsitektur untuk menunjukkan power identitasnya, misalkan masyarakat memilih arsitektur gotick untuk menunjukkan kekuasaan, kewibawaan, keagungan, kemegahan. Tapi arsitektur dari luar ini hanya sekedar citra kalau diterapkan secara utuh di Indonesia karena berbeda kondisi lingkungan. Arsitektur dari luar ini tidak lahir dari alam iklim tropis yang berlimpah mataharinya, yang seimbang antara darat dan lautnya. Maka dari segi kearifan lokal, arsitektur ini tentunya memiliki nilai kearifan lokal, tetapi nilai kearifan lokal tersebut berlaku ditempat asalnya, karena masing-masing tempat memiliki kondisi alam dan budaya masyarakat yang berbeda. Nilai-nilai kearifan lokal dari luar ini dapat diterapkan di Indonesia jika melalui proses alkulturasi alam dan budaya yang ada ditiap daerah di Indonesia.

2.4 Kearifan Lokal dalam Modernitas


Kearifan lokal merupakan bentuk sikap, pandangan dan kemampuan masyarakat di dalam mengelola lingkungan rohani dan jasmaninya terhadap situasi geografis-politis, historis, dan situasional yang bersifat lokal. (Kartawinata, 2011). Konsepsi makna kearifan lokal tersebut merupakan kondisi ideal untuk menatap kondisi kehidupan yang lebih baik diera modern ini. Namun dalam kehidupan saat ini, manusia telah merasa bahwa dirinya modern sehingga menganggap tradisi adalah primitif dan tidak perlu dipakai. Akibatnya terdapat mata rantai yang terputus antara hubungan manusia (sosial budaya), alam (lingkungan/iklim), arsitektur (artefak fisik), sehingga kearifan lokal mengalami perubahan makna. Pemikiran praktis seperti itu yang mengakibatkan hilangnya nilai kearifan terhadap suatu budaya. Dalam kasus di Indonesia dampak modernitas sangat terasa dilingkungan perkotaan. Hal-hal yang berbau tradisi sudah jarang ditemukan. Diperparah dengan menjamurnya perumahan-perumahan yang menghadirkan konsep desain minimalis dengan estetika bentuk dan warna yang justru keliatan sangat maksimalis karena tidak sesuai dengan fungsi bahkan tidak memiliki fungsi sama sekali. Pengaruh modernitas juga sudah sampai ke wilayah-wilayah pedesaan. Beberapa mengganti dengan konsep modern tetapi tetap pada tatanan nilai tradisi, dan ada juga yang mengganti secara utuh dan tidak lagi mengandung nilai tradisi. Semua akibat dari faktor ekonomi yang terus meningkat sehingga memperlihatkan status sosialnya 7 Kearifan Budaya Lokal, 2013

kemasyarakat melalui artefak fisik. Padahal untuk memperlihatkan status sosial bukan berarti dengan menghilangkan tradisi berupa artefak fisik, tetapi dapat dengan mentransformasikan tradisi itu ke masa sekarang sesuai dengan kebutuhan masa sekarang. Salah satu hal yang dilakukan oleh seorang arsitek dalam upaya memaknai kembali kearifan lokal dengan menerapkan pada kehidupan modern. Dalam proses perancangan tidak harus mengambil tipologi bentukan lama (tradisional), tetapi mengambil esensi ruang atau detail tradisi yang lain, seperti kebiasaan tertentu. Misalkan rumah jawa, yang pada bagian depan mewadahi fungsi sosial, pada bagian belakangnya lebih privat dan seterusnya. Tampilan boleh modern sesuai dengan selera tetapi tidak menghilangkan identitasnya yaitu masih menerapkan material lokal dan menghargai alam. Namun kayu yang sekarang sudah semakin terbatas jumlahnya dapat diganti dengan bambu yang mudah dicari dan mudah tumbuhnya selain itu juga dapat menggunakan material yang lebih modern.

Gambar 11. Tongkonan Toraja Sumber: indexwisatatours.com

Gambar 12. Bandar Udara International Hasanuddin-Makassar Sumber: skyscrapercity.com

Gambar 13. Rumah Joglo Sumber: architecturelinked.com

Gambar 14. Bandar Udara Internasional Juanda-Surabaya Sumber: wisatanews.com

Daerah-daerah dikawasan Indonesia masing-masing menunjukkan identitas kelokalannya melalui desain arsitektur, hal tersebut ditampilkan pada desain bandar udara ditiap-tiap daerah yang memiliki infrastruktur tersebut, apalagi diperkuat dengan status bandar udara internasional. Rata-rata menampilkan image arsitektur tradisional.

2.5 Pelestarian Kearifan Lokal


Kearifan lokal dalam arsitektur perlu dilestarikan agar nilai-nilai tersebut tidak menghilang. Banyak cara ataupun metode yang dapat dilakukan dalam rangka pelestarian diantaranya dengan tetap mempertahankan bangunan-bangunan yang dianggap memiliki nilai-nilai kearifan, melakukan pengkajian dan membukukan nilai kearifan lokal tersebut, membangun kembali sesuai tradisi dan juga dengan menciptakan nilai kearifan yang baru melalui metode tranformasi kearifan lokal dimasa lalu untuk diterapkan dimasa sekarang.

8 Kearifan Budaya Lokal, 2013

Banyak cara dalam menghadirkan masa lalu ke masa sekarang dengan tujuan untuk mempertahankan budaya. Salah satunya dilakukan oleh William Lim dan Tan Hock Beng, 1998. Strategi tersebut menghasilkan 4 konsep arsitektur kotemporer vernacular, yakni: 1. Reinvigorating tradition evoking the vernacular by way of a genuine reinvigoration of traditional craft wisdom 2. Reinventing tradition the search for new paradigms 3. Extending tradition using the vernacular in a modified manner 4. Reinterpreting tradition the use of contemporary idioms to transform traditional formal devices in refreshing ways Dengan melakukan upaya-upaya pelestarian melalui berbagai macam cara yang ada maka nilai-nilai kearifan tersebut dapat diselamatkan keberadaannya dan tidak menghilang begitu saja. Bentuk pelestarian kearifan lokal tersebut, diantaranya terwujud dalam bentuk penggunaan bahan/material, sistem struktur dan konstruksi, teknologi yang digunakan, iklim dan lingkungan setempat, kondisi lahan, bahkan hingga ke sosial budaya yang memperngaruhi wujud dari artefak fisik tersebut. Kondisi modernitas saat ini, sangat berpengaruh terhadap eksistensi dari sebuah kearifan lokal, untuk menyikapi itu kearifan lokal harus sejalan dengan modernitas salah satunya dengan menghadirkan kembali tradisi masa lalu untuk menciptakan suatu Interpretasi terhadap suatu nilai tradisi lokal dengan proses perubahan-perubahan (transform) yang disesuaikan dengan perspektif ,teknologi dan kebutuhan masa kini, meskipun wujudnya berbeda dengan bentuk aslinya, dengan demikian tradisi itu akan terus berlanjut.

3. KESIMPULAN
Kearifan lokal dalam pengertiannya mengalami perubahan dan penyempurnaan, karena bagian dari sebuah budaya yang bersifat dinamis, oleh karena itu setiap individu dapat memaknai kembali. Kearifan lokal merupakan sebuah proses menemu-kenali potensi dan sifat-sifat alam untuk keberlanjutan budaya manusia khususnya dalam berarsitektur. Dari konsepsi itu dapat diketahui adanya hubungan timbal balik antara manusia (sosial budaya),alam (lingkungan/iklim), yang menghasilkan arsitektur (artefak fisik). Dalam peranan kehidupan modern, tradisi dianggap primitif sehingga menyebabkan perubahan makna kearifan lokal. Maka dibutuhkan konsep yang mampu menyeimbangkan antara kebutuhan dan penghargaan terhadap alam, baik itu datangnya dari para praktisi maupun akademisi, agar nilai kearifan tersebut dapat terjaga dan lestari. Kekuatan kearifan lokal berasal dari pemikiran yang sudah ada sejak dulu dan bersifat lokal, tidak terbatas pada wilayah geografis, masing-masing memiliki nilai kearifan lokal sesuai dengan kondisi budaya dan alam setempat. Meskipun demikian, kearifan lokal tetap dapat ditemukan dan diciptakan dimasa sekarang. Karena dengan menghargai alam dan budaya suatu tempat merupakan wujud dari kearifan lokal.

9 Kearifan Budaya Lokal, 2013

4. REFERENSI
Pawitro, 2011. Prinsip-Prinsip Kearifan Lokal Dan Kemandirian Berhunipada Arsitektur Rumah Tinggal Suku Sasak Di Lombok Barat. Simposium Nasional RAPI X FT UMS 2011 Ayatrohaedi, 1986. Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya. Gobyah, I. Ketut, 2003. Berpijak Pada Kearifan lokal, www.balipos.co.id. Ernawi, 2010. Harmonisasi Kearifan Lokal Dalam Regulasi Penataan Ruang. Makalah pada Seminar Nasional Urban Culture, Urban Future : Harmonisasi Penataan Ruang dan Budaya Untuk Mengoptimalkan Potensi Kota. Mangunwijaya. Y.B, 1988. Wastu Citra. Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur Sendisendi Filsafatnya Beserta Contoh-contoh Praktis. Jakarta: PT Gramedia. Rapoport, Amos, 1969. House Form and Culture. Prentice Hall Inc, Engelwood Cliftts. New Jersey Antariksa, 2009. Architecture Articles : Kearifan Lokal dalam Arsitektur Perkotaan dan Lingkungan Binaan. http://antariksaarticle.blogspot.com. (Diakses 29 September 2013). Pangarsa, Galih Widjil, 2008. Arsitektur untuk Kemanusiaan. Surabaya : PT. Wastu Lanas Grafika. Sartini, 2004. Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37, Nomor 2 Kearifan lokal arsitektur rumah adat kajang http://arsitekturkajang.blogspot.com/2013/06/kearifan-lokal-arsitektur-rumah diakses pada tanggal 06 Oktober 2013. dalam adat.html

Siswanto, Ari, 2009, Kearifan Lokal Arsitektur Tradisional Sumatera Selatan Bagi Pembangunan Lingkungan Binaan (penelitian), Palembang Herniwati, 2008. Penghematan Energi Pada Arsitektur Tradisional Suku Kaili (Rumah Panggung Souraja). Jurnal SMARTek, Vol. 6, No. 1, Februari 2008: 63 70 Handinoto, 2006. Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia Belanda Abad 19. Jurnal Jurusan Arsitektur, Universitas Kristen Petra, Surabaya. Kartawinata, 2011. Pengantar Editor Merentas Kearifan Lokal Di Tengah Modernisasi Dan Tantangan Pelestarian dalam BUKU KEARIFAN LOKAL DI TENGAH MODERNISASI, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, April 2011:ix BENG, TAN HOCK & LIM, WILLAM. 1998. Contemporary Vernacular: Evoking Traditions in Asian Architecture. Singapore, Select Book.

10 Kearifan Budaya Lokal, 2013