Anda di halaman 1dari 3

Marina Chimica Acta, April 2002, hal 1-2 Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Hasanuddin

Vol. 3 No.1 ISSN 1411-2132

APLIKASI ALGINAT DALAM PENGEMBANGAN SUTERA ALAM DI SULAWESI SELATAN Muliati Itung Balai Industri Makassar, PO. Box 1148, Makassar 90231

ABSTRACT An investigation on the possibility of using alginate in natural silk development in South Sulawesi was carried out. As glue material, alginate is capable of substituting PVA with a better quality. Its outstanding properties in friction and attraction tests as well as color consistency has made alginate a better choice in natural silk technology. Extraction techniques and synergic action between natural marine resources and forest product which both are important commodities in the province of South Sulawesi is required to develop so that added values can be provided to stakeholders such as farmers and fishers. Keywords : Alginate, silk, marine PENDAHULUAN Alginat dalam bentuk garam natrium dapat diperoleh melalui ekstraksi alga laut coklat yang selama ini menjadi komoditas ekspor dalam bentuk yang belum diolah secara intensif. Seperti diketahui, alginat banyak digunakan sebagai bahan baku industri kosmetika, farmasi, makanan dan kertas. Di sisi lain, sutera alam yang juga adalah komoditi unggulan Sulawesi selatan, dalam proses pembuatannya membutuhkan perekat yang diduga dapat disubstitusi oleh alginat. Selama ini perekat yang digunakan adalah perekat sintetis PVA (Poly Vinyl Alcohol). Substitusi ini penting karena beberapa alasan. Pertama karena sutera alam adalah produk prioritas yang sejauh mungkin menggunakan bahan domestik disekitarnya, termasuk bahan baku perekat. Kedua, adalah hasil proses pertambahan nilai produk rumput laut yang banyak terdapat di Sulsel. Jadi terdapat sinergi antara sutera alam dan rumput laut. Yang ketiga, dan terpenting, adalah ikut mengembangkan kimia hijau (green chemistry) yang menghindari bahan sintetis yang sukar terdegradasi dan dapat berdampak negatif terhadap lingkungan hidup. Dalam makalah ini dilaporkan upaya menggantikan PVA dengan alginat diikuti uji mutu sesuai standar dan ketentuan yang berlaku. METODE Secara garis besar penelitian didasarkan pada lima tahap penting yaitu 1) pembuatan natrium alginat, 2) pembuatan larutan PVA, 3) perlakuan benang sutera sebelum perekatan, 4) perekatan benang sutera, dan 5) proses pencelupan. Benang sutera hasil proses diatas diuji sifat fisinya yang meliputi gesekan, daya tarik dan daya mulurnya. Setelah itu pengujian kain sutera juga dilakukan yang meliputi daya tarik, daya mulur dan ketahanan luntur. Pembuatan natrium alginat dilakukan berdasarkan prosedur yang telah ada (Afrianto dkk 1989), demikian pula dengan pembuatan larutan PVA (Arena 1986). Rasyid dkk (1973) telah membuat prosedur pengelantangan , pencelupan dan pencapan sutera yang diadopsi dalam percobaan ini. Penyempurnaannya dilakukan berdasarkan Rukaesi dkk (1990) dalam pemasakan (degumming) dan pencelupan sutera.

HASIL DAN PEMBAHASAN Seperti diketahui dalam proses penenunan menggunakan mesin tenun bukan mesin (ATBM), penganjian benang lungsin adalah bagian yang paling penting karena hasilnya sangat mempengaruhi efisiensi dan mutu hasil tenunan. ATBM adalah alat pembuat kain sutera mayoritas di Sulsel. Sifat tenunan, penampakan dan kehalusan perabaan adalah unsur-unsur yang ditentukan oleh perekatan. Dengan kekentalan alginat antara 1,17 dan 1,47, yang dibandingkan dengan PVA 1,87, maka tabel-1 dibawah ini memperlihatkan hasil uji perekatan benang sutera pada berbagai kondisi. Dari hasil uji diatas kekentalan alginat yang dianggap mendekat sifat PVA adalah 1,17 Cp. Selanjutnya pembandingan untuk penganjian benang selanjutnya hanya antara alginat dengan kekentalan 1,17 Cp dan PVA. Selanjutnya benang hasil uji diatas diteruskan dengan proses berupa penenunan dan pembuatan kain sutera yang selanjutnya diuji kembali seperti terlihat dalam tabel-2. Ada beberapa parameter yang memperlihatkan keunggulan pemakaian alginat dibanding PVA, seperti kekuatan tarik benang hasil kanji alginat lebih tinggi (34,7) dibanding PVA (30,7). Kekurangannya adalah warna alginat yang masih kecoklatan sehingga sulit diaplikasikan kepada kain sutera yang berwarna polos. Untuk itu penelitian mendatang harus mencari cara untuk mempercepat proses pemutihan sebelum penganjian benang sutera.

Muliati Itung

Mar. Chim. Acta

Tabel 1. Hasil Uji Benang Sutera (Balai Besar Tekstil Bandung) Tanpa Perekat Hasil Uji Contoh (* : Kekentalan dalam unit centipoise) Dengan Alginat Alginat Alginat Alginat PVA 1,47* 1,43* 1,41* 1,17* 1,87 1700 1330 850 400 1700 1750 226,2 211,8 208,8 193,5 201,2 212,2 13,5 15,2 16,5 14,8 18,6 17,1

No. 1 2 3

Jenis Uji Jumlah gesekan Daya Tarik per helai, g Mulur (%)

Tabel 2. Hasil Uji Kain Sutera (Balai Besar Tekstil Bandung) No. 1 2 3 Jenis Uji Daya Tarik Kain per 2,5 cm - Arah Lusi, N (kv) - Arah Pakan, N (kv) Mulur (%) - Arah Lusi - Arah Pakan Ketahanan luntur zat warna terhadap : a. Pencucian 400C - Perubahan warna - Penodaan pada sutera - Penodaan pada kapas b. Gosokan - Kering - Basah Alginat 13,4 34,7 16,3 21,9 3-4 2-3 2-3 4-5 4 Hasil Uji PVA 13,7 30,7 16,3 23,5 3-4 3 3 4-5 4

Kelebihan lain penggunaan alginat dalam proses perekatan adalah : 1. Cepat kering 2. Tidak mengalami pengentalan sporadis 3. Benang tidak saling merekat 4. Tidak mempengaruhi warna kain. Dengan demikian pemakaian alginat sebagai penganji dalam pembuatan kain sutera berbasis ATBM sangat propektif untuk dikembangkan lebih lanjut dimasa datang. Masih banyak topik penelitian yang berkaitan dengan pemanfaatan hasil pengolahan sumberdaya alam laut yang dapat bersinergi dengan jenis agroindustri lainnya yang dapat dilakukan dimasa dekat ini. Kerjasama dengan universitas seperti UNHAS akan sangat membantu lembaga-lembaga penelitian departemental seperti Balai

Industri Makassar untuk dapat mentransformasikan hasil penelitian sederhana menjadi suatu awal usaha berbasis industri bagi pengusaha kecil dan menengah.

KESIMPULAN DAN SARAN Alginat sebagai hasil ekstraksi alga laut coklat dapat bermanfaat dalam penganjian benang sutera alam dan ternyata dibandingkan dengan hasil penganjian memakai bahan kimia sintetis dan konvensional, aplikasi alginat menunjukkan hasil kinerja yang lebih memuaskan. Disarankan untuk mengembangkan topik penelitian relevan dan scaling up agar alginat dapat digunakan secara luas.

DAFTAR PUSTAKA Afrianto, Eddy & Evi Liviawati 1989. Budidaya rumput laut dan cara pengolahannya, Bharata, Jakarta Arena Tekstil 1986. Menganji lusi dengan Elvanol T-25 dan T-66, Balai Besar Tekstil Bandung, No. 3, hal. 12-19 Rasyid Djufri 1973. Teknologi Pengelantangan, Pencelupan dan Pencapan , Institut Teknologi Tekstil, Bandung 19