Anda di halaman 1dari 2

Review Kelompok 5

Terdapat indikasi dimana Janda dan anak perempuan batak mulai melakukan gugatan dengan berbagai alasan. Para janda yang mengalami kekerasan memutuskan untuk mengajukan gugatan ke pengadilan dan meminta putusan cerai, cara ini dianggap sebagai usaha terakhir bagi mereka. Tidak mengherankan apabila data di pengadilan yang terkumpul tidak menyebutkan adanya masalah waris atau kasus kekerasan domestik karena hal tersebut disembunyikan dari kasus perceraian sipil. Sementara itu, para wanita dengan status anak dapat mengajukan gugatan waris dengan lebih leluasa dibanding wanita dengan status janda. Dalam banyak kasus, kasus kewarisan dalam perceraian lebih banyak diselasaikan melalui forum adat daripada diajukan ke pengadilan terlebih dahulu. Keputusan-keputusan inilah yang dapat merefleksikan bagaimana kedudukan wanita (kapasitas jender, peran, dan nilai) sebagai janda dan anak perempuan diproyeksikan dalam produk hukum. Sayangnya, para fungsionaris adat maupun aparat penegak hukum tidak dapat memberikan jaminan terhadap hak seorang wanita batak dalam mewaris, hal ini jelas merefleksikan sebuah realitas dimana wanita memang tidak memiliki kedudukan seimbang dalam hal waris. Hal ini dapat dimaklumi jika kita memandang putusan para fungsionaris adat dalam kaca mata hukum adat Batak yang menganut sistem kekeluargaan patrilineal, dimana wanita (sebagai janda maupun anak) tidak memiliki hak waris atas harta bawaan. Tetepai dalam perkembangannya kita tidak dapat mengkotak-kotakkan hak manusia berdasar jender lagi, oleh karena itu muncullah pergerakan perempuan yang menyuarakan isu kesetaraan gender. Sehingga wanita dalam semua posisinya dalam keluarga dan masyarakat dapat dianggap setara dengan pria. Keberadaan woment movement atau pergerakan wanita yang menyuarakan hak-hak para wanita dalam berbagai aspek kehidupan ternyata membawa kesadaran bagi para aparat hukum, perlahan tapi pasti gaung suara pergerakan wanita yang membawa isu kesetaraan jender mulai diserap lokal konteks hal ini menunjukkan bahwa adanya borderless flow of legal idea. Dalam prespektif pluralisme hukum, akan muncul konflik saat pengadilan tidak menghiraukan keputusan dari forum adat. Dalam hal waris, reformasi hukum muncul saat suatu keputusan pengadilan yang bersifat progresif diikuti oleh keputusan pengadilan dalam tingkat lanjut. Hal ini menjadi kondisi yang sangat krusial bagi perkembangan hukum waris untuk generasi selanjuntnya. Sebenarnya hal ini adalah sutau dilema sosial dimana adat adalah suatu sistem sosio-legal yang harus dilestarikan kondisinya sedangkan pada sisi yang lain kita tidak bisa menutup mata dalam perkembangan prespektif dunia yang sudah menyetarakan posisi wanita dan pria. Dalam kondisi yang seperti ini, hakim sebagai ujung tombak keadilan harus dapat

menempatkan dua sisi tersebut secara seimbang untuk menghormati semua pihak tanpa merugikan salah satu pihak. Pada kesimpulannya, hukum waris adat mulai mengalami berbagai reformasi bentuk yang merupakan dampak dari suatu sitem peradilan negara saat ini. Walapun hingga saat ini Indonesia belum memiliki hukum waris nasional, kita masih memiliki banyak yurisprudensi yang bisa dijadikan sumber hukum. Tetapi dengan keluarnya Tap MPRS No II Tahun 1960 dan putusan Mahkamah Agung No 119 K/SIP/ 1961 adalah merupakan tonggak sejarah atas perubahan dan perkembangan terhadap kedudukan anak perempuan dan janda sebagai ahli waris orang tuanya dan suaminya bersama dengan anak laki-laki, secara prinsip sistem kekeluargaan patrilineal tetap dipertahankan dan yang berubah dan berkembang adalah akibat dari sistem itu terhadap kedudukan anak perempuan di dalam hal warisan. Dengan keluarnya Putusan Mahkamah Agung Nomor 1769K/Sip/1961 sudah menuju kearah sistem Parental yang memberi kesederajatan, kemanusiaan, keadilan dan persamaan hak antara anak laki-laki dan anak perempuan didalam mewaris harta orang tuanya. Bertolak pada tulisan Prof. Sulistyowati kami mengambil kesimpulan bahwa memang sudah terjadi reformasi hukum dalam bidang waris pada khususnya dalam adat batak. Dimana pada awalnya, wanita dalam kapasitasnya sebagai janda dan anak perempuan tidak memiliki hak mewaris secara adat dalam masyarakat Batak tetapi dengan berkembangnya masyarakat dunia yang sudah menghargai adanya kesetaraan gender terjadi perubahan progresif pada berbagai putusan hukum di pengadilan yang mulai memberikan hak waris pada janda dan anak perempuan. Ini adalah suatu perubahan hukum yang baik, tanpa mengesampingkan hukum adat yang telah ada sebelumnya. Kita tidak pernah bisa memungkiri adanya pluralisme hukum terutama dalam bidang waris di Indonesia karena sebenarnya pluralisme hukum yang terjadi adalah suatu corak khas negara kita yang harus dijaga keharmonisannya. Tetapai kebutuhan akan unifikasi hukum waris tidak dapat dpungkiri untuk masa-masa mendatang demi menjamin kepastian hukum setiap warga negara Indonesia.