Anda di halaman 1dari 3

JogLO | Desain Rumahku

http://samilaw.wordpress.com/topic-of-the-weeks/joglo/

i Rate This Joglo merupakan kerangka bangunan utama dari rumah adat Jawa Tengah terdiri dari Soko Guru berupa empat tiang utama dengan pengeret tumpang songo (tumpang sembilan) atau tumpang telu (tumpang tiga) diatasnya. Struktur joglo yang seperti itu, selain sebagai penopang struktur utama rumah, juga sebagai tumpuan atap rumah dan agar atap rumah bisa berbentuk Pencu. Adapun untuk pemanfaatannya pada saat ini, joglo bisa dipakai untuk : enghias halaman rumah enyangga rumah agar bisa berbentuk muncu/pencu atau kerucut tempatkan dipinggir kolam renang sebagai tempat santai itempatkan di halaman/taman rumah itempatkan dibelakang rumah atau teras belakang pakai sebagai garasi atau tempat pelindung mobil igunakan sebagai soko guru/penopang untuk pendopo Rumah Tua (Joglo) banyak ditemukan dalam kondisi kurang terawat, mungkin puluhan tahun sudah tak tersentuh pemeliharaan. Meskipun, beberapa masih dipakai sebagai tempat tinggal, namun sebagian lagi bertahuntahun berupa rumah kosong. Hanya sedikit dari joglojoglo ini dalam kondisi terawat. Sebagian besar joglo dalam situs ini diperoleh dari daerah pesisir pantai Utara Jawa sekitar Demak Kudus. Secara umum, ada perbedaan fungsi Joglo di Utara dan Selatan Jawa. Di Utara umumnya Joglo sebagai rumah tinggal dan bangunan tertutup/berdinding. Sedangkan di Selatan Jawa, umumnya digunakan sebagai Pendopo, ruang terbuka ( tanpa dinding) digunakan sebagai ruang menerima tamu dan pertemuan yang sifatnya publik. Sedangkan rumah tinggal (dalem) umumnya menggunakan bentuk bangunan Limasan. JAKARTA Tak hanya megah, indah, sarat makna dan nilainilai sosiokultural, arsitektur bangunan joglo juga dapat meredam gempa. Bagaimana desainnya? Sebuah bangunan joglo yang menimbulkan interpretasi arsitektur Jawa mencerminkan ketenangan, hadir di antara bangunan bangunan yang beraneka ragam. Interpretasi ini memiliki ciri pemakaian konstruksi atap yang kokoh dan bentuk lengkunglengkungan di ruang per ruang. Rumah adat joglo yang merupakan rumah peninggalan adat kuno dengan karya seninya yang bermutu memiliki nilai arsitektur tinggi sebagai wujud dan kebudayaan daerah yang sekaligus merupakan salah satu wujud seni bangunan atau gaya seni bangunan tradisional. Joglo merupakan kerangka bangunan utama dari rumah adat Kudus terdiri atas soko guru berupa empat tiang utama dengan pengeret tumpang songo (tumpang sembilan) atau tumpang telu (tumpang tiga) di atasnya. Struktur joglo yang seperti itu, selain sebagai penopang struktur utama rumah, juga sebagai tumpuan atap rumah agar atap rumah bisa berbentuk pencu. (http://atgaba.files.wordpress.com/2008/04/rangkajoglo1.jpg) Pada arsitektur bangunan rumah joglo, seni arsitektur bukan sekadar pemahaman seni konstruksi rumah, juga merupakan refleksi nilai dan norma masyarakat pendukungnya. Kecintaan manusia pada cita rasa keindahan, bahkan sikap religiusitasnya terefleksikan dalam arsitektur rumah dengan gaya ini. Pada bagian pintu masuk memiliki tiga buah pintu, yakni pintu utama di tengah dan pintu kedua yang berada di samping kiri dan kanan pintu utama. Ketiga bagian pintu tersebut memiliki makna simbolis bahwa kupu tarung yang berada di tengah untuk keluarga besar, sementara dua pintu di samping kanan dan kiri untuk besan. Pada ruang bagian dalam yang disebut gedongan dijadikan sebagai mihrab, tempat Imam memimpin salat yang dikaitkan dengan makna simbolis sebagai tempat yang disucikan, sakral, dan dikeramatkan. Gedongan juga merangkap sebagai tempat tidur utama yang dihormati dan pada waktuwaktu tertentu dijadikan sebagai ruang tidur pengantin bagi anakanaknya.
1 of 2 27/10/2013 14:29

JogLO | Desain Rumahku

http://samilaw.wordpress.com/topic-of-the-weeks/joglo/

Ruang depan yang disebut jaga satru disediakan untuk umat dan terbagi menjadi dua bagian, sebelah kiri untuk jamaah wanita dan sebelah kanan untuk jamaah pria. Masih pada ruang jaga satru di depan pintu masuk terdapat satu tiang di tengah ruang yang disebut tiang keseimbangan atau soko geder, selain sebagai simbol kepemilikan rumah, tiang tersebut juga berfungsi sebagai pertanda atau tonggak untuk mengingatkan pada penghuni tentang keesaan Tuhan. Begitu juga di ruang dalam terdapat empat tiang utama yang disebut soko guru melambangkan empat hakikat kesempurnaan hidup dan juga ditafsirkan sebagi hakikat dari sifat manusia. Untuk membedakan status sosial pemilik rumah, kehadiran bentangan dan tiang penyangga dengan atap bersusun yang biasanya dibiarkan

2 of 2

27/10/2013 14:29

JogLO | Desain Rumahku

http://samilaw.wordpress.com/topic-of-the-weeks/joglo/

menyerupai warna aslinya menjadi ciri khas dari kehadiran sebuah pendopo dalam rumah dengan gaya ini, tutur Zulfikar Latief, pemilik galeri Rumah Jawa, yang menyediakan rumah adat joglo dan furnitur etniknya. Kesan yang akan timbul dari arsitektur bangunan tradisional joglo sering kali terasa antik dan kuno, hal ini timbul melalui kehadiran perabot hingga pernakpernik pendukung bernuansa lawas yang dibiarkan apa adanya. Namun, dalam penataan hunian bergaya ini tidak ada salahnya bila dikombinasikan dengan gaya modern maupun minimalis. (http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Denah_Rumah_Joglo_Gudang.JPG) (http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Denah_Rumah_Joglo_Gudang.JPG) Rumah Joglo kota Gede Yogyakarta terancam punah, Yogyakarta: Bangunan rumah joglo kuno di kawasan Kotagede Yogyakarta terancam punah karena dijual pemiliknya. Dalam tiga tahun terakhir, ratarata 10 rumah joglo buatan tahun 1800an milik warga berpindah tangan ke pemilik baru di luar Kotagede dan bahkan sampai ke luar negeri. Kalau penjualan rumah joglo ini tidak bisa dibendung, dalam beberapa tahun ke depan Kotagede sebagai kawasan budaya hanya akan tinggal kenangan, tegas Mohammad Natsier, aktivis Lembaga Pengembangan Seni Budaya dan Pariwasata Kotagede, saat menyaksikan pembongkaran rumah joglo kuno milik Raden Mandoyo, Senin (8/6). Dalam catatan Natsier, antara tahun 1985 hingga 2005 ratarata hanya satu rumah joglo kuno di Kotagede yang hilang. Penyebabnya adalah kerusakan akibat tidak dirawat karena ditinggal oleh pemiliknya. Karena tak terawat, bangunan itu kemudian ambruk, jelasnya. Namun, laju pengurangan rumah joglo melonjak drastis setelah bencana gempa bumi tahun 2006. Dari tahun 2006 hingga saat ini, tercatat 31 rumah joglo telah dibongkar dan berpindah dari Kotagede. Itu artinya ratarata 10 rumah joglo setiap tahunnya, katanya. Menurut Natsier, penjualan rumah joglo tak mungkin bisa ditahan tanpa campur tangan pemerintah. Artinya, pemerintah harus mendaftar rumah joglo dan ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Tanpa langkah tersebut, kata Natsier, warga tetap bebas menjual rumahnya, meski yang dijual itu bangunan kuno buatan tahun 1800an. Yang bisa kami lakukan sampai saat ini paling mengajak warga untuk menyadari pentingnya rumah joglo kuno tetap berada di Kotagede. Kalau Kotagede hilang joglonya, Kotagede sebagai kawasan budaya tidak ada artinya lagi, katanya. Menurut Natsier, saat ini masih tersisa sekitar 150 rumah joglo kuno buatan tahun 1800an yang masih berada di Kotagede. Tidak mustahil jumlahnya akan terus menyusut karena faktor ekonomi dan waris. Calo barang antik begitu kuat dan solid, dan bahkan melibatkan orang asing, ujarnya. Lembaga Pengembangan Seni Budaya dan Pariwasata Kotagede saat ini sedang berupaya mendata keberadaan rumah joglo asal Kotagede. Kalau tidak bisa menahan laju penjualan rumah, paling tidak kami tahu kemana perginya. Dengan demikian, minimal kami punya data dimana saja rumah joglo dari Kotagede itu sekarang berada, termasuk yang dibawa ke luar negeri, ujarnya.

Blog at WordPress.com. The Digg 3 Column Theme. Follow

Powered by WordPress.com

3 of 2

27/10/2013 14:29