Anda di halaman 1dari 3

Metode Penelitian Sosial Kualitatif Tugas Pengganti UTS Nezar Ibrahim | 170210110099 (A)

FILSAFAT EPISTIMOLOGI Epistimologi merupakan suatu kerangka berpikir, yaitu ilmu yang menyelidiki pengertian beserta seluk-beluk keilmuan ilmu itu sendiri. Merupakan sebuah teori pengetahuan, yaitu bagaimana untuk memperoleh pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. Sebagai teori pengetahuan ilmiah, epistimologi berfungsi dan bertugas secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan dalam membentuk dirinya. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani dimana "episteme" berarti pengertian (pengetahuan) dan "logos" berarti ilmu, apabila disatukan berarti suatu ilmu yang menyelidiki pengertian beserta seluk-beluknya. Epistimologi pada saat ini merupakan suatu wilayah kajian dimana penyelidikan filsafat yang masih paling baru, juga paling seru diperdebatkan, dan yang paling belum tuntas dan belum memuaskan. Descartes merupakan salah satu ahli matematika yang sekaligus menjadi salah satu bapak filsafat modern. Ia memiliki ilmu epistimologi yang rendah namun selalu menerapkan metodologi matematikanya dalam segala bidang ilmu psikologimya yang kacau memerosotkan epistimologinya karena penuh dengan asumsi-asumsi yang membuatnya berfikir mengenai ilmu yang ia pelajari. Selama 50 tahun terakhir, buku-buku mengenai epistimologi saling menyalahkan satu sama lain, menawarkan metode penyelesaian masalah yang berbeda-beda, bahkan hingga tidak dapat menyepakati masalah dasanya. Ketidakberhasilan mereka dalam menyepakati masalah dasar mereka adalah untuk memerangi subyektivitisme dan skeptisme. Sikap defensif dan negativism (saling menyangkal) menjadi ciri pengembangan epistimologi dalam tradisi skolastik. Meskiipun demikian, tujuan dari epistimologi adalah bukan untuk menyelidiki negatifitas, melainkan postitifitas suatu pengertian (pengetahuan). Epistimologi seharusnya memandang dari koderat serta peran rasio dalam kehidupan manusia dalam menyelesaikan misinya menyelidiki dan mencari pengertian. Thomas Aquinas dan Aristoteles mengkritik pengertian yang terselip dalam karya-karya filsafat mereka, membutuhkan upaya khuss untuk menemukan dan memunculkan pandangan epistimologis mereka.

Metode Penelitian Sosial Kualitatif Tugas Pengganti UTS Nezar Ibrahim | 170210110099 (A)

Thomas Aquinas menunjukkan bahwa dalamm penyelidikan ilmiah, kita harus menanyakan empat hal: 1. 2. 3. 4. Apakah benda ini sungguh ada? Benda ini sebenarnya apa? Unsur-unsrnya apa? Mengapa unsurnya begitu? Metode dasar dapat juga diterapkan pada epistimologi: 1. 2. 3. 4. Apa pengertian dari pengetahuan sungguh ada? Apa definisi pengertian? Apa isi dari kegiatan "mengerti"? Mengapa isi dari kegiatan "mengerti" semacam itu? Mengapa apabila pengertian yang begitu jika bukan "benar" maka "bohong"? Dengan kata lain, apa yang membuat suatu pengertian pasti benar? Adakah syarat-syarat yang akan menjadikannya pasti "benar"? Dengana adanya hanya dua opsi tersebut, memaksa kita menyelami aslinya kebenaran itu sebenarnya bagaimana? Manusia apabila memang manusia, harus memiliki alat untuk mengerti. Alat untuk mengerti, kemampuan untuk mengerti, dan obyek yang harus dimengerti sangatlah penting apabila ingin menyelidiki kebenaran-kebenaran selanjutnya. Thomas Aquinas sangat yakin terhadap prinsip awal. Menurut asal-usulnya; obyek yang ada merupakan stimulus pertama, yang diikuti dengan respons. Epistimologi selalu menjadi bahan yang sangat menarik untuk dikaji karena di sinilah dasar-dasar pengetahuan maupun teori pengetahuan yang diperoleh manusia menjadi bahan pijakan. Konsep-konsep ilmu pengetahuan yang berkembang pesat pada masa-masa ini beserta aspek-aspek praktis yang ditimbulkannya dapat dilacak akarnya pada struktur pengetahuan yang membentuknya. Dari epistimologi, juga filsafat modern, terpecah menjadi berbagai aliran yang cukup banyak; rasionalisme, pragmatisme, positivisme, dan juga eksistensialisme.

Metode Penelitian Sosial Kualitatif Tugas Pengganti UTS Nezar Ibrahim | 170210110099 (A)

Epistimologi disamakan dengan salah satu disiplin yang disebut critica, yaitu pengetahuan sistematik mengenai kriteria dan patokan untuk menentukan pengetahuna yang benar dan tidak benar. Critica berasal dari kata Yunani yang berarti mengadili, memutuskna, dan menetapkan. Mengadili pengetahuan yang benar dan yang tidak benar memang sedikit dekat dengan epitisme dimana sebagai suatu tindakan kognitif intelektual untuk mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Epistimologi adalah dimana seseorang sedang menekankan bahasan mengenai upaya, cara, ataupun langkah-langkah untuk memperoleh pengetahuan. Epistimologi yang kita kenal adalah suatu cabang dari filsafat ilmu yang menalaah sumber dan piranti pengetahuan yang dianggap benar. Piranti pengetahuan yang dianggap benar itu setidaknya dlakukan oleh dua mazhab besar; yaitu rasioanlisme dan empirisme. Paham epistimologi rasionalisme meyakini bahwa sumber dan piranti perolehan pengetahuan yang benar adalah nalar (reason) karena memiliki koherensi dan melintas batas ruang dan waktu. Sebaliknya, paham epistimologi empirisme meyakini bahwa sumber dan piranti dari pemerolehan pengetahuan yang benar adalah indra (sense) karena berkorespondensi dengan kenyataan dan dapat dibuktikan dalam dunia nyaa melalui pengalaman.