Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM SENSOR DAN TRANSDUSER

KARAKTERISTIK STATIK (Pembagi Tegangan dan Jembatan Wheatstone)

Oleh: Januar Widakdo 11306141022

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2013

I.

Tujuan 1. Mengetahui pembagian tegangan pada rangkaian seri dengan nilai hambatan yang berbeda. 2. Mengetahui pembagian tegangan pada rangkaian wheatstone.

II.

Dasar Teori KARAKTERISTIK SENSOR/TRANSDUSER Secara umum, karakteristik sensor atau transduser dibagi menjadi dua yaitu: 1. Karakteristik Statis (Static Charasteristics) Karakteristik statis sebuah sensor/transduser sangat banyak yaitu: a. Akurasi (Accuracy) Sejauh mana sensor dapat menunjukkan hasil yang mendekati nilai sesungguhnya. b. Presisi (Precision) Presisi dapat diartikan dengan ketepatan dan sangat erat hubungannya dengan akurasi. Contoh pada saat kita mengukur panjang sebuah balok menggunakan mistar. Akurasi berkaitan dengan kesesuaian mistar menunjukkan ukuran sesuai dengan panjang sesungguhnya, sedangkan presisi menjamin ketelitian dalam membaca angka ukuran pada mistar tersebut. c. Resolusi (Resolution) Resolusi dapat diartikan dengan ketelitian, yaitu skala terkecil yang digunakan dalam pengukuran. d. Sensitifitas (Sensitivity) Sensitifitas dapat diartikan sebagai kepekaan, yaitu perbandingan kenaikan keluaran terhadap kenaikan masukan. e. Selektifitas/Spesifisitas (Selectivity/Specificity) Kemampuan sensor dalam memilih variabel yang akan ditampilkan nilaiarkan hasil pengukurannya. f. Sinyal minimum yang terdeteksi (Minimum Detectable signal/MDS)

Jika input transduser tidak tercampur dengan noise, kemampuan transduser menampilkan nilai terkecil yang reliabel tanpa tambahan noise darinya dinamakan sinyal minimum yang dapat dideteksi dari sebuah transduser. Selain beberapa karakteristik statis di atas, ada beberapa karekteristik statis yang lain di antaranya :Threshold, Non linieritas (Nonlinearity), Distorsi (Distortion), Comformance(Conformity), Histerisis (Hysteresis), Repeatability, Span, Noise, Output Impedance, Grounding, Isolation, Instability and Drift, Overall Performance. 2. Karakteristik Dinamis (Dynamic Characteristics) Karakteristik dinamis sebuah sensor/transduser antara lain : a. Fungsi transfer b. Tanggapan frekuensi c. d. 3. Impulse Response Step respon

Pembagi tegangan Rangkaian pembagi tegangan biasanya digunakan untuk membuat suatu tegangan

referensi dari sumber tegangan yang lebih besar, titik tegangan referensi pada sensor, untuk memberikan bias pada rangkaian penguat atau untuk memberi bias pada komponen aktif. Rangkaian pembagi tegangan pada dasarnya dapat dibuat dengan 2 buah resistor, contoh rangkaian dasar pembagi tegangan dengan output VO dari tegangan sumber VI menggunakan resistor pembagi tegangan R1 dan R2 seperti pada gambar berikut. Rangkaian Dasar Pembagi Tegangan

Dari rangkaian pembagi tegangan diatas dapat dirumuskan tegangan output VO. Arus (I) mengalir pada R1 dan R2 sehingga nilai tegangan sumber VI adalah penjumlahan VS dan VO sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:

4.

Jembatan wheatstone Jembatan Wheatstone adalah alat ukur yang ditemukan oleh Samuel Hunter Christie pada 1833 dan meningkat dan dipopulerkan oleh Sir Charles Wheatstone pada tahun 1843. Ini digunakan untuk mengukur suatu yang tidak diketahui hambatan listrik dengan menyeimbangkan dua kaki dari rangkaian jembatan, satu kaki yang mencakup komponen diketahui. kerjanya mirip dengan aslinya potensiometer .

Hukum dasar rangkaian listrik yang berhubungan dengan jembatan wheatstone : 1. Hukum Ohm Hukum Ohm menyatakan Jika suatu arus listrik melalui suatu penghantar, maka kekuatan arus tersebut adalah sebanding-larus dengan tegangan listrik yang terdapat diantara kedua ujung penghantar tadi. Hukum ini dicetuskan oleh Georg Simon Ohm, seorang fisikawan dari Jerman pada tahun 1825 dan dipublikasikan pada sebuah paper yang berjudul The Galvanic Circuit Investigated Mathematically pada tahun 1827.Rumus Hukum Ohm Secara matematis, hukum Ohm ini dituliskan V = I.R Atau I=V/R dimana,

arus

listrik

yang

mengalir

pada

suatu

penghantar

(Ampere)

V = tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar (Volt) R = hambatan listrik yang terdapat pada suatu penghantar (Ohm)

2. Hukum Kirchoff Dipertengahan abad 19, Gustav Robert Kichoff (1824-1887) menemukan cara untuk menentukan arus listrik pada rangkaian bercabang yang kemudian dikenal dengan hukum Kirchoff. Hukum Kirchoff berbunyi Jumlah kuat arus yang masuk dalam titik percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik percabangan. Jumlah I masuk = I keluar

3. Hukum Kirchoff II Hukum Kirchoff II berbunyi, Dalam rangkaian tertutup, jumlah aljabar GGL (E) dan jumlah penurunan potensial sama dengan nol. Maksud dari jumlah penurunan potensial sama dengan nol adalah tidak adanya energi listrik yang hilang dalam rangkaian tersebut atau dalam arti semua energi bisa digunakan atau diserap.

III.

Prosedur percobaan 1. Praktikum pertama Merangkai rangkaian seperti dibawah ini:

Mengganti R1 dan R2 dengan hambatan yang lainnya berbeda. Mengukur tegangan pada R1 dan R2, mengukur V0 serta mengukur Vtotal pada R1 dan R2. Mengganti R1 dan R2 dengan nilai hambatan yang berbeda.

2. Praktikum kedua

Merangkai rangkaian seperti gambar diatas. Mengganti hambatan R3 dengan potensio untuk meng-nol-kan Vrangkaian. Mengukur Vg ketika R3 diganti dengan potensio. Mengganti R3 dengan hambatan yang nilainya berbeda-beda. Mengukur Vg tiap hambatan pada R3 diganti. Mengganti Rx dengan hambatan yang nilainya berbeda-beda. Mengukur Vg tiap hambatan yang telah diganti. Mencatat data pada hasil pengamatan.

IV.

Alat dan bahan Beberapa resistor Potensiometer Kabel penghubung Power supply Multimeter

V.

Hasil percobaan 1. Praktikum pertama (pembagi tegangan) Vinput = 2 volt

Data Naik R1 R2 1k5 3k3 2k 3k3 3k3 3k3 Data Turun R1 R2 1K5 1K5 1K5 2K2 1K5 3K3

V1 0,6 0,8 1 V1 1 0,8 0,6

V2 1,4 1,2 1 V2 1 1,2 1,4

2. Praktikum kedua (jembatan wheatstone) Vinput = 2 volt

Variasi R3 R1 1500 1500 1500 1500 R2 1500 1500 1500 1500 R3 2000 2200 3300 3900 Rx 1500 1500 1500 1500 V pengukuran 0,10 0,15 0,35 0,45

Variasi Rx R1 1500 1500 1500 1500 R2 1500 1500 1500 1500 R3 1500 1500 1500 1500 Rx 2000 2200 3300 3900 V pengukuran 0,10 0,15 0,35 0,45

VI.

Analisis hasil pengamatan 1. Praktikum pertama (pembagi tegangan)

Data Naik R1 1500 2000 3300 Data Turun R1 1500 1500 1500 R2 1500 2200 3300 V pengukuran V1 V2 1 1 0.8 1.2 0.6 1.4 V perhitungan V1 V2 0.000667 1 1 0.000541 0.810811 1.189189 0.000417 0.625 1.375 arus (I) R2 3300 3300 3300 V pengukuran V1 V2 0.6 1.4 0.8 1.2 1 1 V perhitungan V1 V2 0.000417 0.625 1.375 0.000377 0.754717 1.245283 0.000303 1 1 arus (I)

2. Praktikum kedua (jembatan wheatstone)

a. Variasi R3
R1 1500 1500 1500 1500 R2 1500 1500 1500 1500 R3 2000 2200 3300 3900 Rx 1500 1500 1500 1500 V output V pengukuran 0.1 0.15 0.35 0.45 V perhitungan 0.142857143 0.189189189 0.375 0.444444444 V input 2 2 2 2

b. Variasi Rx

R1 1500 1500 1500 1500

R2 1500 1500 1500 1500

R3 1500 1500 1500 1500

Rx 2000 2200 3300 3900

V output V pengukuran 0.1 0.15 0.35 0.45

V perhitungan 0.142857143 0.189189189 0.375 0.444444444

V input 2 2 2 2

VII.

Pembahasan Pada percobaan kali ini yang bertujuan untuk Mengetahui karakteristik statis pembagi tegangan dan jembatan wheatstone. Karakteristik statis dari sensor adalah hubungan antara sinyal input statis, output sensor dan input. praktikan dapat melihat karakteristik statis dari resistor, yang pertama praktikan dapat mengetahui histeresis dari potensio tersebut. Histerisis menunjuk kepada perbedaan antara dua harga keluaran pada masukan yang sama oleh karena perubahan ( naik atau turun ) nilai yang berturutan. Jadi histeresis merupakan sifat ketergantungan keluaran sensor atau tranduser berdasarkan sejarah perubahan yang mendahuluinya. Pada percobaan ini tidak terdapat histeresisnya karena ketika pengukuran naik sama dengan pengukuran turun. Kemudian pada praktikum pembagi tegangan dapat dilihat grafik hubungan antara hambatan dan tegangannya yakni : Pada data naik :

Grafik Hubungan V dan R


1.2 1 Beda Potensial 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 Hambatan

Pada data turun :

Grafik Hubungan V dan R


1.6 1.4 Beda Potensial 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 1500 2200 Hambatan 3300

Dari kedua grafik diatas dapat dilihat bahwa semakin besar nilai R yang divariasi maka nilai tegangan terukurnya semakin besar pula. pada percobaan kali ini tidak terdapat nilai histeresisnya.

Kemudian pada praktikum jembatan wheatstone dapat dilihat grafik hubungan antara hambatan dan tegangannya yakni : Pada variasi R3

Grafik Hubungan antara V dan R


0.5 0.45 0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 1000 2000 3000 4000 5000 Hambatan

Beda Potensial

Pada variasi Rx

Grafik Hubungan antara V dan R


0.45 0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 Hambatan

Beda Potensial

Dari kedua grafik diatas dapat diketahui bahwa pada percobaan kali ini tidak terdapat histeresis. Juga dapat dilihat bahwa semakin besar nilai R yang divariasi maka nilai tegangan terukurnya semakin besar pula. Kemudian dari analisis data diatas kita juga dapat membandingkan nilai tegangan output terukur dengan dengan nilai tegangan output secara perhitungan ternyata hasilnya tidak jauh berbeda, ini menandakan bahwa praktikum yang dilakukan sudah benar.

VIII.

Kesimpulan

Pada percobaan kali ini dapat disimpulkan bahwa pada percobaan baik pembagi tegangan maupun jembatan wheatstone menunjukan semakin besar nilai hambatannya maka voltasenya juga akan semakin besar, dan juga sebaliknya.

IX.

Daftar pustaka
Sumarna.2013.SENSOR DAN TRANDUSER.Jogjakarta:FMIPA UNY.