Anda di halaman 1dari 2

Pemanis buatan Beberapa jenis pemanis buatan baru-baru ini juga ditemukan dalam permen karet, minuman ringan,

camilan dan bahkan makanan sehat seperti yoghurt sekalipun. Tubuh tidak dapat mengenali zat yang terkandung dalam pemanis buatan, sehingga ketika proses metabolisme tubuh mengolah zat asing tersebut akan mengakibatkan berbagai masalah kesehatan. Efek berbahaya dari pemanis buatan termasuk sakit kepala, pusing, kejang, gangguan penglihatan, dan stroke. Hal ini tentu saja dapat membahayakan kondisi seseorang yang sedang hamil. Indikator umum bahwa produk makanan tertentu mengandung pemanis buatan adalah dengan memberikan label 'tanpa gula' atau 'diet'. Meskipun terlalu banyak gula buruk bagi kesehatan, tetapi gula jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pemanis buatan. Aspartam. Dikenal dengan sebutan gula jagung. Aspartam adalah gula diet yang penggunaannya disetujui oleh badan pengawasan obat dan makanan Amerika atau FDA (Food and Drugs Administration) dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Indonesia (BPOM). Pemanis buatan ini merupakan senyawa metil ester dipeptida yaitu L

fenilalanin metil ester dengan tingkat kemanisan kira-kira 160-200 kali kemanisan
gula sukrosa. Diantara semua pemanis yang tidak berkalori hanya aspartam yang mengalami metabolisme. Proses pencernaannya mirip proses pencernaan protein lain, yaitu dipecah menjadi komponen dasar dan dibuang sehingga tidak terakumulasi dalam tubuh. Tips: Pemanis buatan seharusnya hanya digunakan untuk penderita diabetes melitus atau penderita yang memerlukan diet rendah kalori. Jadi bukan untuk semua orang. Jika Anda memang harus menggunakan pemanis buatan, maka penggunaannya sebaiknya untuk 2 kali minum teh atau kopi saja karena batas dosis anjuran penggunaan yang disarankan hanya 40 mg per kg berat badan. Sukralosa. Sukralosa merupakan derivate dari sukrosa, mempunyai tingkat kemanisan kurang lebih 600 kali sukrosa. Sejauh ini sukralosa masih dinyatakan aman, dengan nilai maksimal 10 mg per kg berat badan, meskipun pada kenyataannya sukralosa

dalam metabolismenya menghasilkan senyawa yang tidak lagi aman bagi manusia. Pemanis ini tidak diserap secara baik oleh tubuh dan akan dikeluarkan melalui urin hampir tanpa perubahan. Salah satu keunggulan sukralosa adalah tahan panas sehingga tingkat kemanisan yang diperoleh tidak menurun. Karena tingkat kemanisannya yang tinggi, jumlah sukralosa yang diperlukan untuk mencapai tingkat kemanisan yang diinginkan juga sangat sedikit.