Anda di halaman 1dari 45

Bab PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Bangunan gedung adalah suatu wadah tempat manusia melakukan aktivitasnya, baik aktivitas sosial dan budaya maupun aktivitas ekonomi. Wadah ini pula merupakan salah satu kebutuhan dasar (basic need) dari makhluk manusia, dimana manusia semakin bertambah banyak dan kebutuhan dasar ini semakin saja diperlukan. Dengan bertambah banyaknya manusia dan kebutuhan dasar yang semakin meningkat,sangat dibutuhkan suatu program pembangunan yang berkelanjutan dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam mewujudkan pembangunan wilayahnya, Kabupaten Karimun memiliki kerangka pembangunan berupa visi pembangunan yaitu mewujudkan Kabupaten Karimun menjadi Kabupaten yang maju, mandiri, dan berbudaya yang dilandasi Iman dan taqwa tahun 2015. Dengan misi pokok pembangunan Kabupaten Karimun yaitu mengembangkan sektor industri, mengembangkan sektor pertanian dalam arti luas. Untuk menjamin dan mendukung kelancaran visi dan misi tersebut berbagai strategi yang akan dilakukan dalam hal ini adalah mencerdaskan kehidupan masyarakat serta menyediakan fasilitas untuk menunjang hal tersebut, salah satunya menata dan menyiapkan infrastruktur pembangunan dan sarana/prasarana pendukungnya di Kabupaten Karimun. Dalam rangka menyiapkan infrastruktur pembangunan sebagai wujud nyata perhatian dimaksud maka pemerintah Karimun akan membangun Perpusatakaan Daerah beserta fasilitas penunjangnya. Gedung atau ruangan perpustakaan adalah bangunan yang sepenuhnya diperuntukkan bagi seluruh aktivitas sebuah perpustakaan. Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan permanent, terpisah dari gedung lain sedangkan apabila hanya menempati sebagian dari sebuah gedung atau hanya sebuah bangunan (penggunan ruang kelas), relatif kecil disebut ruangan perpustakaan. 1.2 Maksud, Tujuan, dan Sasaran Maksud dari pekerjaan ini adalah penyusunan perencanaan teknis DED Perpustakaan Kabupaten Karimun. Tujuan penyusunan DED Perpustakaan Kabupaten adalah penyusunan dokumen perencanaan baik gambar, perhitungan biaya, penyusunan rencana kerja dan syarat untuk pekerjaan fisik yang akan dilaksanakan. Sasaran kegiatan yaitu terwujudnya fasilitas berupa gedung perpustakaan beserta fasilitas penunjangnya untuk dapat meningkatkan ilmu pengetahuan, tersimpannya arsip-arsip dengan benar dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan rekreasi yang sehat 1.3 Lingkup Kegiatan Pekerjaan Penyusunan DED Perpustakaan Kabupaten Karimun memiliki lingkup kegiatan secara umum, sebagai berikut : 1. Pekerjaan Pondasi / Basement / Pekerjaan Struktur Bawah, meliputi : Pekerjaan galian, Pekerjaan Pilecap, Tiebeam & Kolom. Pekerjaan Tiang pancang. 2. Pekerjaan Struktur Atas Pekerjaan kendali ketinggian (level) bangunan dan letak as bangunan/

Pekerjaan galian/urugan pada bagian-bagian tertentu yang ditentukan sesuai dengan gambar; Pekerjaan struktur atas. 3. Pekerjaan Arsitek Penzoningan Bangunan Utilitas 4. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal 5. Pekerjaan Lansekap / Taman / Halaman 1.4 Keluaran (Output) Keluaran yang harus dikeluarkan oleh konsultan berisi panduan perencanaan teknis/DED perpustakaan Kabupaten Karimun, meliputi: A. Gambar Kerja, harus jelas dan harus sesuai bentuk, serta ukuran dengan kondisi dilapangan, minimal mencakup : 1. Gambar makro kawasan 2. Gambar Lay Out 3. Gambar Aristektur Bangunan dan Lingkungan/Lansekap 4. Gambar Struktur 5. Gambar Elektrikal 6. Gambar Utilitas B. Estimate Engineer, berisi item-item pekerjaan yang harus dikerjakan dilapangan oleh kontraktor dan akan berbentuk Rencana Anggaran Biaya, minimal meliputi : 1. Standar Harga Satuan Kabupaten Karimun 2. Analisa biaya 3. Rencana Anggaran Biaya C. Rencana Kerja dan Syarat (RKS), sebagai pedoman kontraktor dalam pelaksanaan pembangunan fisik, khususnya masalah mutu bangunan, minimal mencakup : 1. Dokumen lelang 2. Spesifikasi teknis 3. Peraturan-peraturan terkait bangunan gedung dan utilitasnya 1.5 Sistematika Pekerjaan Sistematika penyajian laporan Antara penyusunan DED Perpustakaan Kabupaten Karimun ini, terdiri dari 6 (enam) bab yang dipaparkan sebagai berikut: BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini berisi latar belakang, tujuan, fungsi dan sasaran, lingkup kegiatan, output (keluaran) dan sistematika penyajian pada penyusunan laporan pendahuluan pekerjaan DED Gedung DPRD Kabupaten Karimun. BAB 2 GAMBARAN UMUM LOKASI PEKERJAAN Bab ini berisi gambaran umum Kabupaten Karimun dan kondisi eksisiting lokasi pekerjaan DED Gedung Perpustakaan Kabupaten Karimun. BAB 3 PENDEKATAN PEKERJAAN DAN METODOLOGI Bab ini memaparkan metode pendekatan pekerjaan dan Metodologi atau teknis yang dilakukan

dalam penyusunan DED Perpustakaan Kabupaten Karimun yang disesuaikan setelah dilaksanakan survey lokasi pekerjaan. BAB 4 KAJIAN KONDISI EKSISTING LOKASI DAN ANALISA RUANG Bab ini berisi uraian mengenai kajian kondisi eksting berupa analisa tata guna lahan sekitar lokasi, analisa aksesibilitas, analisa fisik dasar serta analisa kebutuhan ruang gedung perpustakaan Kabupaten Karimun. BAB 5 KONSEP PENATAAN LINGKUNGAN DAN RANCANG GEDUNG Bab ini memaparkan konsep yang akan direncanakan pada lokasi perencanaan berupa konsep penataan lingkungan, dalam hal ini ruang luar bangunan gedung dan konsep rancang gedung yaitu ruang dalam bangunan gedung. BAB 6 RENCANA GEDUNG DAN RUANG TERBUKA PERPUSTAKAAN Bab ini berisi rencana gedung dan ruang terbuka berupa ukuran, ruang, kapasitas ruang, fungsi ruang dan penzoningan ruang. Bab Pada Bab 2 ini akan diuraikan mengenai gambaran umum Kabupaten Karimun dan Kondisi Eksisting Lokasi Perencanaan Gedung Perpustakaan Kabupaten Karimun. 2.1 Gambaran Umum Kabupaten Karimun 2.1.1 Kondisi Fisik Secara umum Kabupaten Karimun mempunyai daratan yang datar dan landai dengan ketinggian antara 2 sampai 500 meter dari permukaan laut. Namun ada juga bagian yang berbukit bukit dengan kemiringan sampai 40%. Perubahan angin mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap iklim di Kabupaten Karimun. Musim kemarau terjad pada bulan Februari dan Juni, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan lainnya. Secara rata-rata suhu udara di Karimun atau tepatnya di Tanjung Balai Karimun sebesar 27,6o Celcius dengan kelembaban udara sebesar 83%. Curah hujan rata-rata pertahun mencapai 193,4 milimeter. Curah hujan tertinggi terjadi bulan agustus sebesar 375,1 milimeter dan terendah terjadi pada bulan Februari sebesar 33,5 milimeter. 2.1.2 Letak Geografis dan Administrasi Kabupaten Karimun dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999. Pada awal terbentuknya wilayah Kabupaten Karimun terdiri dari 3 (tiga) kecamatan yakni Kecamatan Karimun, Kecamatan Moro dan Kecamatan Kundur. Selanjutnya berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Karimun nomor 16 tahun 2001, maka wilayah Kabupaten Karimun dimekarkan menjadi 8 (delapan) kecamatan, dan akhirnya berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Karimun nomor 10 tahun 2004 dimekarkan lagi menjadi 9 (sembilan) kecamatan dan jumlah kelurahan sebanyak 22 kelurahan dan 22 desa, 327 RW (Rukun Warga) dan 945 RT (Rukun Tetangga). Tahun 2006 jumlah desa menjadi 52 desa. Berdasarkan luas wilayahnya, Kabupaten Karimun merupakan Daerah kepulauan yang mempunyai luas 7.984 kilometer persegi yang terdiri dari wilayah daratan seluas 1.524 kilometer persegi dan wilayah perairan seluas 6.460 kilometer persegi (Tabel 3.1). Secara astronomis terletak antara 00 24 36 LU 01 13 12 LU dan 103 13 12 BT 104 00 36 BT . Kabupaten ini berbatasan langsung dengan:

Utara : Philip Channel (Singapore Strait), Semenanjung Malaysia dan Selat Malaka. Barat : Kecamatan Rangsang dan Kecamatan Tebing Tinggi (Kabupaten Bengkalis), Kecamatan Kuala Kampar (Kabupaten Pelalawan) Timur : Pulau Batam Selatan : Kecamatan Kateman (Kabupaten Indragiri Hilir) Tabel 2.1 Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan Kabupaten Karimun No. Kecamatan Ibukota Kecamatan Kelurahan Desa Pulau 1 Moro Moro 1 6 87 2 Durai Durai 0 4 44 3 Kundur Tanjung Batu 3 5 26 4 Karimun Tanjung Balai 4 2 24 5 Kundur Utara Tanjung Berlian 1 7 23 6 Kundur Barat Sawang 1 4 12 7 Buru Buru 2 2 6 8 Meral Meral 4 1 23 9 Tebing Meral 6 1 6 Jumlah 22 32 251 Sumber : RTRW Kabupaten Karimun 2008 -2027 2.1.3 Jumlah Penduduk Jumlah penduduk Kabupaten Karimun setiap tahun mengalami pola pertumbuhan yang tidak stabil atau cenderung naik turun. Dari tahun 2002 sebelum adanya pemekaran sebesar 190.499 jiwa, pada tahun 2003 turun sebesar 3.024 jiwa (1,6%). Setelah pemekaran tahun 2005 meningkat menjadi sebesar 200.704 jiwa (6,6%), sedangkan tahun 2006 meningkat menjadi 209.875 jiwa (4,4%). Kecamatan yang mengalami peningkatan jumlah penduduk dari tahun 2002 sampai 2006 adalah Kecamatan Tebing. Rata-rata peningkatan yang terjadi di Kecamatan Tebing sebesar 3,4%. Jumlah penduduk tertinggi tahun 2006 ditempati oleh Kecamatan Meral sebesar 41.334 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terendah adalah Kecamatan Durai sebesar 6.504 jiwa. Kecamatan Durai ini merupakan hasil dari pemekaran Kecamatan Moro pada tahun 2004. Pada tahun 2003 Kabupaten Karimun mengalami penurunan jumlah penduduk sebesar 3.042 jiwa (1,62%). Adapun kecamatan yang mengalami penurunan adalah Kecamatan Karimun sebesar 3.844 jiwa (11,2%), Kecamatan Kundur Utara sebesar 2.602 jiwa (15,4%), Kecamatan Buru sebesar 426 jiwa (4.6%), dan Kecamatan Meral sebesar 2.204 jiwa (6%). Sedangkan Kecamatan Moro, Kecamatan Kundur, Kecamatan Kundur Barat, dan Kecamatan Tebing mengalami peningkatan jumlah penduduk. Rata-rata pertumbuhan penduduk di Kabupaten Karimun dari tahun ke tahun adalah sebesar 3,2%. Adapun pertambahan penduduk paling tinggi pada tahun 2006 sebesar 20.421 jiwa (9,7%) di Kecamatan Karimun. Namun pertumbuhan penduduk di Kecamatan Kundur Barat mengalami penurunan sebesar 20.269 jiwa (9,65%). Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Kabupaten Karimun Tahun 2002 2006

No. Kecamatan Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 1 Moro 22,443 22,712 23,663 18,097 18,924 2 Durai 0 0 0 6,220 6,504 3 Kundur 28,008 31,749 19,732 33,993 35,546 4 Karimun 38,205 34,361 30,411 18,049 38,470 5 Kundur Utara 19,460 16,858 13,685 15,798 18,874 6 Kundur Barat 13,424 14,755 38,663 36,789 16,520 7 Buru 9,629 9,203 9,778 9,853 10,304 8 Meral 39,123 36,919 39,777 39,528 41,334 9 Tebing 20,207 20,900 21,913 22,377 23,399 Jumlah 190,499 187,457 197,622 200,704 209,875 Sumber : RTRW Kabupaten Karimun 2008 -2027 2.1.4 Jumlah Murid Pada tahun 2003, jumlah murid SD negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Kundur sebesar 3.808 siswa (18%), sedangkan jumlah murid SD negeri terendah terdapat di Kecamatan Buru sebesar 1.336 siswa (6,3%). Jumlah murid SD swasta terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 2.084 siswa (46%), sedangkan jumlah murid SD swasta terendah terdapat di Kecamatan Moro sebesar 197 siswa (4,4%). Jumlah murid SMP negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 1.392 siswa (20%), sedangkan jumlah murid SMP negeri terendah terdapat di Kecamatan Buru sebesar 408 siswa (6%). Jumlah murid SMP swasta terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 754 siswa (66%), sedangkan jumlah murid SMP swasta terendah terdapat di Kecamatan Kundur Barat sebesar 23 siswa (2%). Jumlah murid SMU negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Kundur sebesar 900 siswa (27%), sedangkan jumlah murid SMU negeri terendah terdapat di Kecamatan Kundur Barat sebesar 81 siswa (2%). Jumlah murid SMU swasta hanya terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 238 siswa. Jumlah murid SMK negeri hanya terdapat di Kecamatan Tebing sebesar 514 siswa. Sedangkan jumlah murid SMK swasta terbanyak di Kecamatan Karimun sebesar 698 siswa (64%) dan jumlah terendah terdapat di Kecamatan Kundur sebesar 390 siswa (36%). Tabel. 2.3 Jumlah Murid dan Status Sekolah di Kabupaten Karimun Tahun 2003 No. Kecamatan 2003 SD MI SMP MTs SMU MA SMK NSNSNSNSNSNSNS 1 Moro 3,132 197 0 0 612 0 0 59 207 0 0 0 0 0 2 Durai 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Kundur 3,808 0 125 392 1,200 0 366 171 900 0 0 82 0 390 4 Karimun 2,845 2,084 0 591 1,392 754 0 225 734 281 0 120 0 698 5 Kundur Utara 2,179 0 0 70 893 0 0 0 327 0 0 0 0 0 6 Kundur Barat 2,434 0 0 0 485 23 0 0 81 0 0 0 0 0 7 Buru 1,336 0 0 0 408 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Meral 2,941 1,983 0 202 1,200 286 0 265 224 0 0 53 0 0 9 Tebing 2,480 262 0 0 736 86 0 103 888 0 0 0 514 0

Jumlah 21,155 4,526 125 1,255 6,926 1,149 366 823 3,361 281 0 255 514 1,088 Sumber : RTRW Kabupaten Karimun 2008 -2027 Pada tahun 2004, jumlah murid SD negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Kundur sebesar 3.878 siswa (18,2%), sedangkan jumlah murid SD negeri terendah terdapat di Kecamatan Buru sebesar 1.354 siswa (6,3%). Jumlah murid SD swasta terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 2.116 siswa (47%), sedangkan jumlah murid SD swasta terendah terdapat di Kecamatan Moro sebesar 197 siswa (4%). Jumlah murid SMP negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 1.333 siswa (22%), sedangkan jumlah murid SMP negeri terendah terdapat di Kecamatan Buru sebesar 402 siswa (7%). Jumlah murid SMP swasta terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 757 siswa (66%), sedangkan jumlah murid SMP swasta terendah terdapat di Kecamatan Kundur Barat sebesar 24 siswa (2%). Jumlah murid SMU negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Tebing sebesar 906 siswa (24%), sedangkan jumlah murid SMU negeri terendah terdapat di Kecamatan Buru sebesar 89 siswa (2%). Jumlah murid SMU swasta hanya terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 330 siswa. Jumlah murid SMK negeri hanya terdapat di Kecamatan Tebing sebesar 513 siswa. Sedangkan jumlah murid SMK swasta terbanyak di Kecamatan Karimun sebesar 698 siswa (64%) dan jumlah terendah terdapat di Kecamatan Kundur sebesar 386 siswa (36%). Tabel. 2.4 Jumlah Murid dan Status Sekolah di Kabupaten Karimun Tahun 2004 No. Kecamatan 2004 SD MI SMP MTs SMU MA SMK NSNSNSNSNSNSNS 1 Moro 3,140 197 0 54 645 0 0 59 257 0 0 0 0 0 2 Durai 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Kundur 3,878 0 77 406 1,210 0 367 159 900 0 0 84 0 386 4 Karimun 2,765 2,116 0 572 1,333 757 0 143 788 330 0 119 0 698 5 Kundur Utara 2,310 0 0 0 70 827 0 0 0 333 0 0 0 0 6 Kundur Barat 2,450 0 0 0 517 24 0 0 204 0 0 0 0 0 7 Buru 1,354 0 0 0 402 0 0 0 89 0 0 0 0 0 8 Meral 2,930 1,928 0 198 405 286 0 269 284 0 0 53 0 0 9 Tebing 2,508 258 0 0 730 85 0 132 906 0 0 0 513 0 Jumlah 21,335 4,499 77 1,230 5,312 1,979 367 762 3,428 663 0 256 513 1,084 Sumber : RTRW Kabupaten Karimun 2008 -2027 Pada tahun 2005, jumlah murid SD negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Kundur sebesar 4.299 siswa (19%), sedangkan jumlah murid SD negeri terendah terdapat di Kecamatan Durai sebesar 875 siswa (4%). Jumlah murid SD swasta terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 2.279 siswa (51,1%), sedangkan jumlah murid SD swasta terendah terdapat di Kecamatan Tebing sebesar 218 siswa (5%). Jumlah murid SMP negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 1.458 siswa (20%), sedangkan jumlah murid SMP Negeri terendah terdapat di Kecamatan Durai sebesar 234 siswa (3,2%). Jumlah murid SMP swasta terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 944 siswa (67,8%), sedangkan jumlah murid SMP swasta terendah terdapat di Kecamatan Tebing sebesar 67 siswa (4,8%). Jumlah murid SMU

negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Tebing sebesar 995 siswa (24,4%), sedangkan jumlah murid SMU negeri terendah terdapat di Kecamatan Buru sebesar 90 siswa (2,2%). Jumlah murid SMU swasta hanya terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 364 siswa (91%) dan Kecamatan Kundur Barat sebesar 34 siswa (9%). Jumlah murid SMK negeri hanya terdapat di Kecamatan Tebing sebesar 577 siswa (94%) dan Kecamatan Moro 39 siswa (6%). Jumlah murid SMK swasta hanya terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 555 siswa (57%) dan Kecamatan Kundur 421 siswa (43%). Tabel. 2.5 Jumlah Murid dan Status Sekolah di Kabupaten Karimun Tahun 2005 No. Kecamatan 2005 SD MI SMP MTs SMU MA SMK NSNSNSNSNSNSNS 1 Moro 2,426 0 0 60 677 0 0 95 299 0 0 0 39 0 2 Durai 875 0 0 0 234 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Kundur 4,299 0 115 447 1,118 0 372 221 857 0 0 60 0 421 4 Karimun 2,984 2,279 0 722 1,458 944 0 311 810 364 0 327 0 555 5 Kundur Utara 2,336 0 0 81 805 0 28 0 316 0 0 0 0 0 6 Kundur Barat 2,626 0 0 0 581 145 0 0 347 34 0 0 0 0 7 Buru 1,358 0 0 0 508 0 0 0 90 0 0 0 0 0 8 Meral 3,226 1,967 0 188 954 237 0 247 360 0 0 43 0 0 9 Tebing 2,623 218 0 0 1,017 67 0 86 995 0 0 0 577 0 Jumlah 22,753 4,464 115 1,498 7,352 1,393 400 960 4,074 398 0 430 616 976 Sumber : RTRW Kabupaten Karimun 2008 -2027 Pada tahun 2006, jumlah murid SD negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Kundur sebesar 4.006 siswa (18,6%), sedangkan jumlah murid SD negeri terendah terdapat di Kecamatan Durai sebesar 749 siswa (3,5%). Jumlah murid SD swasta terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 2.196 siswa (49,1%), sedangkan jumlah murid SD swasta terendah terdapat di Kecamatan Moro sebesar 157 siswa (3,5%). Jumlah murid SMP negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 1.451 siswa (20%), sedangkan jumlah murid SMP negeri terendah terdapat di Kecamatan Moro sebesar 157 siswa (3%). Jumlah murid SMP swasta terbanyak terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 937 siswa (68%), sedangkan jumlah murid SMP swasta terendah terdapat di Kecamatan Tebing sebesar 67 siswa (5%). Jumlah murid SMU negeri terbanyak terdapat di Kecamatan Kundur sebesar 927 siswa (23%), sedangkan jumlah murid SMU negeri terendah terdapat di Kecamatan Durai sebesar 141 siswa (3%). Jumlah murid SMU swasta hanya terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 393 siswa (90%) dan Kecamatan Kundur Barat sebesar 34 siswa (10%). Jumlah murid SMK negeri hanya terdapat di Kecamatan Tebing sebesar 579 siswa (90%) dan Kecamatan Moro 42 siswa (10%). Jumlah murid SMK swasta hanya terdapat di Kecamatan Karimun sebesar 671 siswa (82%) dan Kecamatan Kundur 145 siswa (18%). Tabel. 2.6 Jumlah Murid dan Status Sekolah di Kabupaten Karimun Tahun 2006

No. Kecamatan 2006 SD MI SMP MTs SMU MA SMK NSNSNSNSNSNSNS 1 Moro 2,191 157 0 54 767 0 0 114 337 0 0 0 42 0 2 Durai 749 0 0 0 249 0 0 0 141 0 0 0 0 0 3 Kundur 4,006 0 89 576 1,111 0 379 224 927 0 0 67 0 145 4 Karimun 2,854 2,196 0 698 1,451 937 0 312 794 493 0 167 0 671 5 Kundur Utara 2,248 0 0 71 787 0 0 27 312 0 0 0 0 0 6 Kundur Barat 2,448 0 0 94 580 145 0 0 407 34 0 0 0 0 7 Buru 1,273 0 0 0 499 0 0 0 268 0 0 0 0 0 8 Meral 3,151 1,902 0 188 941 231 0 257 370 0 0 66 0 0 9 Tebing 2,595 215 0 0 1,011 67 0 85 507 0 0 0 579 0 Jumlah 21,515 4,470 89 1,681 7,396 1,380 379 1,019 4,063 527 0 300 621 816 Sumber : RTRW Kabupaten Karimun 2008 -2027 2.1.5 Transportasi 2.1.5.1 Sistem Transportasi Darat Pembangunan sektor perhubungan mempunyai fungsi yang sangat penting untuk memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen, serta mobilitas manusia di seluruh daerah terutama pada daerah pusat-pusat pengembangan dan produksi, wilayah pedesaan dan daerah terpencil. Adanya fasilitas perhubungan yang memadai memberikan daya tarik yang sangat diperhitungkan bagi investor untuk menanamkan modalnya, karena kegiatan ekonomi pada dasarnya juga tergantung pada ketersediaan prasarana dan sarana perhubungan yang memadai. A. Jaringan Jalan Jaringan jalan merupakan serangkaian simpul atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu kesatuan system jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan. Pola jaringan jalan utama di Pulau Karimun Besar pada dasarnya adalah berbentuk koridor linier yang menghubungkan kawasan Utara dan Selatan (Pasir Panjang-Tanjung Balai Karimun). Namun saat ini telah terjadi cenderung pergeseran pola jalan dari arah yang linier, menjadi berpola konsentris seiring dengan meningkatnya perkembangan pembangunan di kawasan pesisir bagian Barat-Timur Pulau Karimun Besar. Berdasarkan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.375 tahun 2004 secara umum ruas jaringan jalan di Kabupaten Karimun dibedakan menjadi 2 jenis yaitu : 1. Jalan Kolektor Kelas 2 yang menghubungkan Pasir Panjang dengan Ibu kota Kabupaten yaitu ruas jalan Tanjung Balai Karimun Pasir Panjang (26 kilometer). 2. Jalan Kolektor Kelas 3 yang menghubungkan kolektor primer dengan Ibu kota Kabupaten yang melayani pergerakkan di dalam kota. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang No.38 tahun 2004 tentang Jalan, menurut fungsinya jalan dikelompokkan ke dalam empat macam yaitu jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lingkungan. 1. Jalan arteri merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.

2. Jalan kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi. 3. Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi. 4. Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah. Pada saat ini sedang dikembangkan jalan pesisir dari Tanjung Rambut Tanjung Sebatak sejauh 9,8 kilometer dan tahap selanjutnya dari Tanjung Sebatak Malarko sebagai prasarana pendukung industri pengolahan hasil pertanian, perkebunan dan perikanan di Pulau Kundur. Persebaran jaringan jalan secara umum di Kabupaten Karimun, mempunyai karakteristik yaitu merupakan akses permukiman permukiman menuju pelabuhan atau dermaga, sehubungan dengan jalur distribusi barang dan perpindahan moda transportasi darat ke laut. Pada saat ini panjang jalan di Kabupaten Karimun dilihat dari fungsi jalannya adalah sepanjang 809,04 kilometer yang terdiri dari jalan arteri, jalan kolektor dan jalan lokal. Pembangunan jalan arteri saat ini hanya terdapat di Pulau Karimun (Kecamatan Meral dan Tebing) atau 4% dari seluruh panjang jalan yang ada. Jalan arteri ini merupakan akses dari pusat kota menuju Pelabuhan Tanjung Balai Karimun. Sedangkan untuk jalan arteri di Pulau Kundur merupakan jalur linier yang menghubungkan Pelabuhan Berlian dan Pelabuhan Tanjung Batu. Pada Kecamatan Moro, Durai dan Buru hanya terdapat jalan lokal yang menghubungkan permukiman-permukiman penduduk daerah pesisir. B. Prasarana Transportasi Darat Kelancaran, kenyamanan serta keamanan dalam pelaksanaan angkutan umum sangat tergantung beberapa prasarana transportasi yang menunjang prasarana yaitu terminal. Prasarana transportasi perhubungan darat di Kabupaten Karimun sangat minim karena hanya ada satu terminal yaitu terminal angkutan umum berupa bus dan oplet di Kecamatan Meral, dengan rute melalui Kecamatan Karimun,Kecamatan Meral, dan Kecamatan Tebing. Tabel 2.7 Banyaknya Angkutan Umum Menurut Trayek Trayek Oplet Bus Balai Meral PP 135 19 Balai Tebing PP 54 33 Meral Pasir Panjang PP 9 3 Meral Pangke PP 26 Balai Batu Lipai Via Kapling PP 30 Meral Teluk Paku PP 2 Balai Pongkar PP 2 Tebing Pongkar PP 1 Sumber : Dinas Perhubungan Kabupaten Karimun 2007 Pada umumnya sebaran angkutan umum adalah oplet, taksi, bus, pick-up dan truk hanya beroperasi dalam Pulau Karimun Besar, untuk akses menuju ke Pulau lain dalam wilayah kabupaten Karimun hanya dapat ditempuh dengan menggunakan sarana transportasi laut.

2.1.5.2 Sistem Transportasi Laut Aksesibilitas Kabupaten Karimun baik lingkup internalmaupun eksternal, untuk saat ini hanya dimungkinkan melalui sistem transportasi laut dengan prasarana trasportasi laut berupa pelabuhan dan dermaga. Pelabuhan yang dapat berhubungan langsung dengan negara lain adalah: Pelabuhan Tanjung Balai Karimun (Pulau Karimun Besar) dan Pelabuhan Tanjung Batu (Kundur), sedangkan pelabuhan lain merupakan pelabuhan pengumpan. A. Pelabuhan Menurut Keputusan Menteri Perhubungan No.53 tahun 2002 tentang Tatanan Kepelabuhan Nasional, definisi pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. Dalam perkembangannya Pelabuhan Tanjung Balai Karimun dan Tanjung Batu (Kundur), yang selain berfungsi sebagai pelayanan jalur transportasi regional, juga memiliki peranan cukup penting dalam jalur pelayaran internasional. Hal ini menjadikan Pelabuhan Tanjung Balai Karimun sebagai tumpuan jalur transportasi dengan dukungan pelabuhan lain sebagai pelabuhan pengumpan. Pelabuhan Tanjung Balai Karimun (Pulau Karimun Besar) dan dengan meningkatnya kegiatan Bongkat Muat barang di Pelabuhan Tanjung Balai Karimun, saat ini sedang dibangun pelabuhan barang dan pelabuhan Roro untuk penumpang di Desa Parit Rampak Tanjung Balai Karimun. Tabel 2.8 Simpul Kegiatan Transportasi Laut Regional Nama Pelabuhan Jenjang Fungsi Angkutan /Jenis Pelabuhan Pelayanan Tanjung Balai Karimun PUT Penumpang/Konvesional Domestik Internasional Tanjung Batu PPR Penumpang dan Barang/Konvesional Domestik Internasional Parit Rampak PUT Penumpang dan Barang/Konvesional Domestik Moro PPR Penumpang dan Barang/Konvesional Domestik Internasional Tanjung Berlian PPR Penumpang dan Barang Domestik Keterangan: PUT : Pelabuhan Utama Tersier PPR : Pelabuhan Pengumpan Regional Sumber : PT. Pelabuhan Indonesia I Cabang Tanjung Balai Karimun Pada tahun 2001-2002 arus penumpang mengalami peningkatan yaitu sebesar 0,28 %. Pada tahun 2002-2003 arus penumpang mengalami penurunan yaitu sebesar 0,32%. Pada tahun 20032004 arus penumpang mengalami peningkatan yaitu sebesar 0,66%. Pada tahun 2004 2005 arus penumpang mengalami penurunan yaitu sebesar 1,11%. B. Ship to Ship Transfer Area (SST) Saat ini alur pelayaran yang terdapat di Selat Malaka merupakan aktivitas pelayaran yang paling sibuk di dunia. Pada kawasan ini terdapat berbagai aktivitas pelayaran yang menangani kegiatan perdagangan yaitu ekspor dan impor, dan juga sistem perangkutan transportasi bagi penumpang.

Perairan Karimun berperan penting sebagai area labuh kapal, selain itu juga berperan sebagai asset ruang kelautan untuk kepentingan alih muatan dari kapal ke kapal (Ship to Ship Transfer). Kawasan ini difungsikan sebagai kawasan tempat kapal-kapal dengan kapasitas besar yang tidak dapat bersandar tetap dapat melakukan bongkar muat barang di sisi perairan sehingga mengurangi kepadatan di sekitar kawasan pelabuhan. Kawasan STS diarahkan pada bagian Timur Pulau Karimun Besar. Selain kawasan Ship to Ship kawasan pelabuhan di perairan Pulau Karimun juga terdapat kawasan khusus kapal rusak atau mati yang dilengkapi docking kapal. Kawasan kapal rusak atau mati di Kabupaten Karimun terletak di bagian Selatan dan Barat Pulau Karimun. Kawasan tersebut berada pada kawasan perairan yang dalam sehingga tidak mengganggu alur serta rute pelayaran yang ada. 2.1.5.3 Sistem Transportasi Udara Aksesibilitas eksternal antar kota atau kabupaten di Propinsi Kepulauan Riau selain menggunakan moda transportasi laut juga menggunakan moda transportasi udara yang berupa pesawat terbang. Dalam sistem transportasi udara pesawat terbang memerlukan bandar udara untuk mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat kargo atau pos, serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi. Sarana transportasi udara yang ada di Kabupaten Karimun pada saat ini adalah Bandar Udara Domestik Sei Bati yang terletak di Kecamatan Tebing (Pulau Karimun Besar) yang berjarak 11,9 kilometer dari Pelabuhan Tanjung Balai Karimun (melalui jalur pesisir timur daerah Tebing) dan 10,5 kilometer dari Terminal Meral. Bandara Udara Sei Bati melayani rute penerbangan ke Batam dan Tanjung Pinang. Bandar Udara Sei Bati saat ini memiliki landasan pacu 30 x 1.400 meter (42.000 m2) yang merupakan Bandar Udara Tipe Domestik IV. 2.1.6 Kondisi Sosial Budaya Percampuran suku bangsa dan golongan etnik yang membentuk masyarakat di kawasan perencanaan seperti golongan asli setempat Melayu, Bugis, Makasar, Jawa, Nusa Tenggara dan Cina dapat hidup berdampingan saling membantu dan saling mempengaruhi sehingga membentuk suatu kesatuan baik secara sosial maupun budaya. Setiap kelompok etnis cenderung menempati tempat-tempat tertentu yang tergantung pada budaya dan tradisinya : - Suku Melayu cenderung hidup berkelompok di sepanjang pinggir pantai dan sungai, dimana tradisi mereka adalah berdagang dan nelayan. - Suku Jawa bertempat tinggal jauh dari pantai, dimana usaha mereka di sektor pertanian dan perkebunan (petani pemilik dan petani penggarap). - Cina cenderung tingal di pusat kota atau di sepanjang sungai, dimana tradisi mereka berdagang. Namun ada juga usaha mereka di sektor pertanian (petani pemilik dan petani penggarap). - Suku Bugis, mereka terampil dalam bertani (kelapa) dan bertambak ikan. 2.1.7 Potensi Kabupaten Karimun Sebagai daerah kabupaten yang baru, Kabupaten Karimun sangat potensial untuk berkembang setara dengan kabupaten atau daerah-daerah lainnya, hal ini didukung oleh beberapa hal seperti adanya kesepakan segitiga pertumbuhan asean seperti : SIJORI (Singapura, Johor, Riau), Indonesia Malaysia Thailand dan adanya Kerjasama Pengembangan Energi Asean (Pipa

Minyak dan Gas), dimana Karimun tumbuh dan berkembang ditengah-tengah segitiga pertumbuhan tersebut. Adanya kemungkinan relokasi industri, sarana perdagangan dan pariwisata dari Singapura ke kabupaten Karimun. Beberapa potensi daerah dan peluang investasi pengembangan daerah yang ditawarkan adalah: 1. Pariwisata Karimun pada saat ini merupakan daerah tujuan wisata dari negara negara lain khususnya agi masyarakat singapura dan Malaysia. Jumlah turis yang cukup besar ini memberikan peluang untuk dikembangkannya objek-objek wisata serta fasilitas wisata lainnya. Sebagai daerah sebagai daerah tujuan wisata maka pariwisata merupakan peluang bisnis / usaha yang sangat baik untuk dikembangkan. Pemda Karimun akan menata sarana kepariwisataan yang dialokasikan diwilayah pantai sehingga menjadi zona pariwisata laut beserta sarana penunjang lainnya. Obyek pariwisata yang potensial untuk dikembangkan adalah: Pantai Pongkar Pantai Pelawan Air terjun Sumber air panas Pantai Lubuk Air Terjun Pongkar Patai Pongkar 2. Industri Untuk menopang relokasi industri menengah besar dari Singapura, kabupaten Karimun telah mengembangkan kawasan industri galangan kapal, industri pengalengan minuman, air mineral, industri pembuatan tepung ikan dan lain sebagainya. Kabupaten Karimun terdiri dari beberapa pulau yang diantaranya pulau kundur. Pulau ini memiliki lahan yang subur sehinga potensi untuk dikembangkan sebagai daerah perkebunan, pertanian dan perikanan maupun peternakan atau agrobisnis. Wilayah Kabupaten karimun sebagai daerah perlintasan angkutan BBM global, angkutan Crude Oil dan Pipa Gas Maka Sangat Memungkinkan Pengembangan di Sektor Industri seperti Industri Petro Kimia, dan industri penopang lainnya seperti bunker penampung gas alam cair, dermaga, galangan kapal, garmen dan tekstil, furniture, elektronik serta industri lainnya. Industri yang potensial untuk dikembangkan adalah: Industri perkapalan Industri manufaktur Industri konveksi Home industri Agro industry 3. Pertanian Disamping memiliki lahan yang subur, 87% atau seluas 5.469 km2 wilayah Kabupaten Karimun dikelilingi oleh laut, sehingga sangat potensial untuk pengembangan industri yang berbasis perikanan. Sebagian hasil laut yang dihasilkan sangat mendukung untuk pengembangan peternakan guna kelangsungan pakan ternak itik di Kabupaten Karimun. Kabupaten Karimun terdiri dari beberapa pulau yang diantaranya pulau Kundur. Pulau ini memiliki lahan yang subur sehingga potensi untuk dikembangkan sebagai daerah perkebunan dan pertanian seperti: Holtikultura dan palawija

Berbagai jenis peternakan Budaya perikanan dan rumput laut Holtikultura dan Palawija Peternakan Sapi Budaya Ikan dan Rumput Laut 4. Perdagangan Besarnya jumlah penduduk Karimun dan tingginya kedatangan turis memberikan peluang dalam transaksi perdagangan. Hal ini juga memberikan peluang untuk dikembangkan pusat pusat perbelanjaan dan perdagangan lainnya. Sebagai daerah yang berada pada jalur internasional, maka pembangunan pusat-pusat belanja perkotaan central bussines district, real estate, perkantoran, pasar modern, pusat perbelanjaan merupakan peluang bisnis dimasa depan. Sektor perdagangan dan perekonomian yang potensial untuk dikembangkan adalah: Business Centre Dermaga peti kemas Oiling 5. Pertambangan Potensi pertambangan yang ada di wilayah kabupaten Karimun adalah bahan galian yang meliputi : granit, pasir, batu pasir weeke, pasir kuarsa, ocker, kaolin, kuarsit dan timah. Grafik Produksi Timah (ton) per Bulan Grafik Produksi Granit (m3) per Bulan di Kabupaten Karimun di Kabupaten Karimun Tambang Granit Sumber : RTRW Kabupaten Karimun 2008 -2027 6. Prasarana Dasar Pengembangan wilayah Karimun yang paling penting adalah optimalisasi penyediaan prasarana dasar lainnya seperti : pelabuhan, telekomunikasi, tenaga listrik, dan transportasi udara akan mendukung pengembangan diberbagai sektor usaha seperti manufaktur, pergudangan, perdagangan, jasa, pariwisata dan kelengkapan fasilitas umum, fasilitas sosial serta perumahan. Oleh karena itu sektor infrastruktur merupakan sektor yang potensial dikembangkan pada masa kini dan yang akan datang. 2.2 Kondisi Eksisting Lokasi Perencanaan 2.3.1 Letak dan Luas Wilayah Berdasarkan RTRW Kabupaten Karimun Tahun 2001 (RTRW yang telah direvisi Tahun 2007 belum di Perdakan dan dipublikasikan karena masih dalam proses revisi) bahwa lokasi perencanaan berada pada Wilayah Pengembangan (WP) I Pulau Karimun. Disamping itu, Sesuai arahan RDTR Pulau Karimun, lokasi perencanaan berada pada Sub Kawasan Perencanaan (SKP) I Kota Lama. Berikut disajikan dalam bentuk gambar mengenai letak lokasi perencanaan. Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan dan didukung data luas lahan dari Kantor BPN Kabupaten Karimun diperoleh luas lahan adalah 3054.54 m2. Berikut disajikan dalam Gambar 2.2, Hasil pengukuran luas lahan perencanaan :

2.3.2 Kondisi Fisik Dasar Lokasi perencanaan secara administrasi berada di Kecamatan Karimun, maka kondisi iklim sama. Kondisi iklim di Kecamatan Karimun bercorak kepulauan beriklim basah dengan curah hujan pertahun rata-rata 2.214 milimeter dengan hari hujan sebanyak 110 hari. Curah hujan berkisar antara 1.500 mm sampai 3.000 mm setiap tahunnya dengan jumlah hari hujan kurang lebih 110 hari. Suhu rata-rata terendah 30 C dengan suhu tertinggi 32C dengan kelembaban udara rata-rata 85%. Sedangkan kondisi topografi pada lokasi perencanaan adalah datar, dimana Berdasarkan Peta topografi yang dikeluarkan oleh Bako Surtanal, keadaan topografi Kecamatan Karimun bervariasi dari 0 meter sampai 478 meter diatas permukaan air laut rata-rata (MSL). Keadaan topografi pada umumnya rendah dan tidak memiliki gunung saja yang tidak begitu tinggi, sehingga dapat dimafaatkan menjadi lahan terbangun. Arah aliran air menuju daerah yang permukaannya lebih rendah yaitu kearah laut, dimana pada lokasi perencanaan terdapat saluran primer. Sedangkan berdasarkan batuannya, kawasan perencanaan merupakan bahagian dari Paparan Sunda (Sundaland). Batuan di kawasan perencanaan berdasarkan proses pembentukannya terbagi menjadi tiga bahagian yaitu batuan endapan permukaan sedimen/metasedimen, batuan malihan dan batuan terobosan. Sesuai arahan dalam KAK dan mempertimbangkan standard perencanaan bangunan, maka telah dilakukan survey terhadap kondisi tanah dan kemampuan tanah dengan 2 cara yaitu soil investigasi dan teknik sondir. Karakteristik tanah di lokasi pekerjaan DED Perpustakaan Kabupaten Karimun berdasarkan survey yang dilakukan melalui soil investigasi sebagai berikut: 1. Dari muka tanah setempat sampai kedalaman -1,95 m adalah tanah lanau, pasir, humus, abuabu, coklat, konsistensi lunak dengan nilai SPT/N = 6 2. Dari elevasi 1,95 s/d -3,45 meter terdiri dari lanau, pasir lempungan, abu-abu konsistensi lunak dengan nilai SPT/N = 20 3. Dari elevasi -3,45 s/d -4,95 meter terdiri dari lanau, pasir lempungan, abu-abu konsistensi medium dengan nilai STP/N = 29 4. Dari elevasi -4,95 s/d -6,45 meter terdiri dari lanau, pasir lempungan, abu-abu konsistensi lunak dengan nilai SPT/N = 12 5. Dari elevasi -7,95 s/d -9,45 meter terdiri dari lanau, pasir lempungan, abu-abu konsistensi padat dengan nilai SPT/N = 60. 6. Dari elevasi -9.45 s/d -10.75 terdiri dari lanau, pasir lempungan, abu-abu konsistensi padat dengan nilai SPT/N > 60. 7. Dari elevasi -10.75 s/d -12.40 meter terdiri dari lanau, pasir lempungan, abu-abu konsistensi padat dengan nilai SPT/N > 60. Kemudian, karakteristik tanah di lokasi pekerjaan DED Perpustakaan Kabupaten Karimun ini dalam mendukung perhitungan atau rencana bangunan yang akan dibebankan pada tanah di lokasi pekerjaan dilakukan survey lapangan berupa penyondiran dengan data sebagai berikut: 1. Titik pengamatan 1 diperoleh besarnya PK (perlawanan konus) yaitu 175 kg/cm2 dan JHL (Jumlah Hambatan Lekat) 1.005,10 kg/cm2 . 2. Titik pengamatan 2 diperoleh besarnya PK (perlawanan konus) yaitu 175 kg/cm2 dan JHL (Jumlah Hambatan Lekat) 778,92 kg/cm2 . 3. Titik pengamatan 1 diperoleh besarnya PK (perlawanan konus) yaitu 200 kg/cm2 dan JHL (Jumlah Hambatan Lekat) 564,78 kg/cm2 .

4. Titik pengamatan 1 diperoleh besarnya PK (perlawanan konus) yaitu 200 kg/cm2 dan JHL (Jumlah Hambatan Lekat) 821,74 kg/cm2 . 2.3.3 Kondisi Tata Bangunan dan Lingkungan Lokasi perencanaan pada kawasan kota lama dengan ciri kawasan antara lain : intensitas bangunan tinggi atau kepadatan relative tinggi, fungsi bangunan heterogen (dominan perdagangan, permukiman, fasilitas umum), kondisi bangunan relative bangunan tua dengan kondisi bangunan yang sudah rapuh dan tidak terawat dan merupakan bangunan bersejarah, intensitas kegiatan masyarakat tinggi dan beragam. Kondisi lingkungan sekitar bangunan masih terdapat ruang terbuka yang saat ini dijadikan sebagai lapangan olah raga. Vegetasi yang ada seperti tanaman pelindung, tanaman hias dan tanaman belukar lainnya Sehubungan dengan lokasi yang berada di Kawasan Kota Lama, maka perlu menyesuaikan dengan master plan kota lama karimun. Sebagai contoh, adalah rencana Koefisien Lantai Bangunan (KLB), Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Garis Sempadan Bangunan (GSB), Garis Muka Bangunan (GMB), Ragam serta Langgam Bangunan, dan lain-lain. 2.3.4 Kondisi Sirkulasi Sekitar Lokasi Lokasi perencanaan memiliki aksesbilitas yang tinggi baik dalam pulau Karimun maupun dengan kawasan diluar pulau karimun. Hal ini ditunjang karena lokasi berdekatan dengan pelabuhan (laut) penumpang yang menghubungkan kota tanjungbalai karimun dengan pulau pulau sebagai daerah hinterlandnya. Disamping itu, lokasi berada pada jalur transportasi utama kota tanjung balai karimun. Yang menghubungkan kota lama dengan kota baru maupun dengan kawasan lainnya di Pulau Karimun. Lokasi perencanaan berada pada pertemuan 3 jalur jalan, sehingga akses ke lokasi perencanaan dapat melalui 3 pintu masuk/keluar. 2.3 Gambaran Umum Aktifitas Perpustakaan Kabupaten Karimun Saat ini 2.3.1 Jumlah Pengunjung dan Anggota Perpustakaan Pengujung perpustakaan Kabupaten Karimun ini, dimaksudkan sebagai bahan masukan dalam menentukan kebutuhan ruang akan ruang baca yang dibutuhkan dalam membangun gedung perpustakaan Kabupaten Karimun. Penurunan pengunjung perpustakaan di Karimun dari tahun 2003 2007 cukup signifikan, hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2.12 Jumlah Pengunjung Perpustakaan Kabupaten Karimun Tahun 2003 2007 No. Jenis Koleksi/Klas Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 1 Anak-anak 35 53 65 79 20 2 Pelajar 2,135 400 399 303 459 3 Mahasiswa 30 61 69 26 36

4 Guru 45 27 79 72 7 5 Pegawai 120 65 81 69 45 6 Swasta/umum 515 268 398 334 66 Jumlah 2,880 874 1,091 883 633 Sumber : Perpustakaan Kabupaten Karimun dan Kearsipan, 2008 Anggota perpustakaan Kabupaten Karimun dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 terjadi kenaikan secara jumlah dan menurun pada tahun 2007. Secara persentase terjadi penurunan untuk rata-rata pertahunnya, persentase terbesar untuk jangka waktu antara tahun 2003 2004 sebesar 19,13% dan persentase terkecil pada tahun 2006 2007 sebesar 0,05%. Untuk lebih jelas mengenadi anggota perpustakaan Kabupaten Karimun dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 2.13 Jumlah Anggota Perpustakaan Kabupaten Kariumn Tahun 2003 2007 No. Jenis Koleksi/Klas Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 1 Anak-anak 55 95 211 430 2 Pelajar 469 1,502 1,720 1,733 1,836 3 Mahasiswa 28 61 76 86 100 4 Guru 65 125 159 160 184 5 Pegawai 80 350 384 398 447 6 Swasta/umum 267 675 752 764 814 Jumlah 964 2,808 3,302 3,571 3,381 Sumber : Perpustakaan Kabupaten Karimun dan Kearsipan, 2008 2.3.2. Jumlah Koleksi dan Penambahan Koleksi Buku Perpustakaan Penambahan koleksi buku perpustakaan Kabupaten Karimun Dari data tahun 2003 2007 ratarata kenaikan buku di perpustakaan Kabupaten Karimun sebesar 18,41% dari total jumlah yang ada dengan penambahan kenaikan tertinggi antara tahun 2006 2007 (dapat dilihat pada tabel berikut). Tabel 2.14 Jumlah Koleksi Buku Perpustakaan Kabupaten Karimun Tahun 2003 2007 No. Jenis Koleksi/Klas Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 1 Karya Umum 141 141 141 153 304 2 Ilmu Filsafat 220 220 220 268 463 3 Agama 948 960 963 1,161 1,804 4 Ilmu Sosial 1,746 1,746 1,746 2,007 2,600 5 Bahasa 157 157 157 189 290 6 Ilmu Murni 308 308 316 348 626

7 Ilmu Terapan 1,675 1,679 1,679 1,814 3,200 8 Seni olahraga 120 120 120 150 489 9 Kesusasteraan 825 825 825 875 1,482 10 Geografi 229 233 270 318 527 11 Fiksi 1,092 1,092 1,092 1,796 2,029 Jumlah 7,461 7,481 7,529 9,079 13,814 Sumber : Perpustakaan Kabupaten Karimun dan Kearsipan, 2008 Bab 3.1 Metode Pendekatan 3.1.1 Aspek Legalitas Aspek Legalitas pada Penyusunan DED Perpustakaan Kabupaten Karimun berdasarkan Undangundang No. 28 tahun 2002, meliputi: 1. Fungsi bangunan gedung harus sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota. 2. Fungsi bangunan gedung ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan dicantumkan dalam izin mendirikan bangunan. 3. Perubahan fungsi bangunan gedung yang telah ditetapkan harus mendapatkan persetujuan dan penetapan kembali oleh Pemerintah Daerah. 4. Ketentuan mengenai tata cara penetapan dan perubahan fungsi bangunan gedung diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3.1.2 Aspek Teknis Persyaratan keandalan bangunan gedung meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan, dimana persyaratan keandalan bangunan gedung ini ditetapkan berdasarkan fungsi bangunan gedung. A. Persyaratan Keselamatan 1. Persyaratan Kemampuan Struktur Bangunan - Persyaratan kemampuan struktur bangunan gedung yang stabil dan kukuh dalam mendukung beban muatan merupakan kemampuan struktur bangunan gedung yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi pembebanan maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta - Untuk daerah/zona tertentu kemampuan untuk mendukung beban muatan yang timbul akibat perilaku alam. - Besarnya beban muatan dihitung berdasarkan fungsi bangunan gedung pada kondisi pembebanan maksimum dan variasi pembebanan agar bila terjadi keruntuhan pengguna bangunan gedung masih dapat menyelamatkan diri. - Ketentuan mengenai pembebanan, ketahanan terhadap gempa bumi dan/atau angin diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran - Pengamanan terhadap bahaya kebakaran dilakukan dengan sistem proteksi pasif meliputi kemampuan stabilitas struktur dan elemennya, konstruksi tahan api, kompartemenisasi dan pemisahan, serta proteksi pada bukaan yang ada untuk menahan dan membatasi kecepatan menjalarnya api dan asap kebakaran.

- Pengamanan terhadap bahaya kebakaran dilakukan dengan system proteksi aktif meliputi kemampuan peralatan dalam mendeteksi dan memadamkan kebakaran, pengendalian asap, dan sarana penyelamatan kebakaran. - Bangunan gedung, selain rumah tinggal, harus dilengkapi dengan sistem proteksi pasif dan aktif. 3. Pengamanan Terhadap Bahaya Petir - Pengamanan terhadap bahaya petir melalui sistem penangkal petir merupakan kemampuan bangunan gedung untuk melindungi semua bagian bangunan gedung, termasuk manusia di dalamnya terhadap bahaya sambaran petir. - Sistem penangkal petir merupakan instalasi penangkal petir yang harus dipasang pada setiap bangunan gedung yang karena letak, sifat geografis, bentuk, dan penggunaannya mempunyai risiko terkena sambaran petir. B. Persyaratan Kesehatan 1. Sistem Penghawaan - Sistem penghawaan merupakan kebutuhan sirkulasi dan pertukaran udara yang harus disediakan pada bangunan gedung melalui bukaan dan/atau ventilasi alami dan/atau ventilasi buatan. - Bangunan gedung tempat tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan bangunan pelayanan umum lainnya harus mempunyai bukaan untuk ventilasi alami. 2. Sistem Pencahayaan - Sistem pencahayaan merupakan kebutuhan pencahayaan yang harus disediakan pada bangunan gedung melalui pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat. - Bangunan gedung tempat tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan bangunan pelayanan umum lainnya harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami. 3. Sistem Sanitasi - Sistem sanitasi merupakan kebutuhan sanitasi yang harus disediakan di dalam dan di luar bangunan gedung untuk memenuhi kebutuhan air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan sampah, serta penyaluran air hujan. - Sistem sanitasi pada bangunan gedung dan lingkungannya harus dipasang sehingga mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaannya, tidak membahayakan serta tidak mengganggu lingkungan. 4. Penggunaan Bahan Bangunan - Penggunaan bahan bangunan gedung harus aman bagi kesehatan pengguna bangunan gedung dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. - Ketentuan mengenai penggunaan bahan bangunan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. C. Persyaratan Kenyamanan Persyaratan kenyamanan bangunan gedung meliputi kenyamanan ruang gerak dan hubungan antar ruang, kondisi udara dalam ruang, pandangan, serta tingkat getaran dan tingkat kebisingan, yaitu: 1. Kenyamanan ruang gerak merupakan tingkat kenyamanan yang diperoleh dari dimensi ruang dan tata letak ruang yang memberikan kenyamanan bergerak dalam ruangan.

2. Kenyamanan hubungan antar ruang merupakan tingkat kenyamanan yang diperoleh dari tata letak ruang dan sirkulasi antarruang dalam bangunan gedung untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung. 3. Kenyamanan kondisi udara dalam ruang merupakan tingkat kenyamanan yang diperoleh dari temperature dan kelembaban di dalam ruang untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung. 4. Kenyamanan pandangan merupakan kondisi dimana hak pribadi orang dalam melaksanakankegiatan di dalam bangunan gedungnya tidak terganggu dari bangunan gedung lain di sekitarnya. 5. Kenyamanan tingkat getaran dan kebisingan merupakan tingkat kenyamanan yang ditentukan oleh suatu keadaan yang tidak mengakibatkan pengguna dan fungsi bangunan gedung terganggu oleh getaran dan/atau kebisingan yang timbul baik dari dalam bangunan gedung maupun lingkungannya. 6. Ketentuan mengenai kenyamanan ruang gerak, tata hubungan antarruang, tingkat kondisi udara dalam ruangan, pandangan, serta tingkat getaran dan kebisingan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. D. Persyaratan Kemudahan Persyaratan Kemudahan pada Penyusunan DED Perpustakaan Kabupaten Karimun, meliputi: - Persyaratan kemudahan meliputi kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung, serta kelengkapan prasarana dan sarana dalam pemanfaatan bangunan gedung. - Kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat dan lanjut usia. - Kelengkapan prasarana dan sarana pada bangunan gedung untuk kepentingan umum meliputi penyediaan fasilitas yang cukup untuk ruang ibadah, ruang ganti, ruangan bayi, toilet, tempat parkir, tempat sampah, serta fasilitas komunikasi dan informasi. - Ketentuan mengenai kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung, serta kelengkapan prasarana dan sarana diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Berikut uraian persyaratan kemudahan sebagai landasan dalam penyusunan DED perpustakaan Kabupaten Karimun : 1. Kemudahan Hubungan Horizontal Antarruang - Kemudahan hubungan horizontal antarruang dalam bangunan gedung merupakan keharusan bangunan gedung untuk menyediakan pintu dan/atau koridor antar ruang. - Penyediaan mengenai jumlah, ukuran dan konstruksi teknis pintu dan koridor disesuaikan dengan fungsi ruang bangunan gedung. - Ketentuan mengenai kemudahan hubungan horizontal antarruang dalam bangunan gedung diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Kemudahan Hubungan Vertikal Dalam Bangunan Gedung - Kemudahan hubungan vertikal dalam bangunan gedung, termasuk sarana transportasi vertikal berupa penyediaan tangga, ram, dan sejenisnya serta lift dan/atau tangga berjalan dalam bangunan gedung. - Bangunan gedung yang bertingkat harus menyediakan tangga yang menghubungkan lantai yang satu dengan yang lainnya dengan mempertimbangkan kemudahan, keamanan, keselamatan, dan kesehatan pengguna. - Bangunan gedung untuk parkir harus menyediakan ram dengan kemiringan tertentu dan/atau

sarana akses vertikal lainnya dengan mempertimbangkan kemudahan dan keamanan pengguna sesuai standar teknis yang berlaku. - Bangunan gedung dengan jumlah lantai lebih dari 5 (lima) harus dilengkapi dengan sarana transportasi vertikal (lift) yang dipasang sesuai dengan kebutuhan dan fungsi bangunan gedung. - Ketentuan mengenai kemudahan hubungan vertikal dalam bangunan gedung diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. Akses Evakuasi Dalam Keadaan Darurat - Akses evakuasi dalam keadaan darurat harus disediakan di dalam bangunan gedung meliputi sistem peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi apabila terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya, kecuali rumah tinggal. - Penyediaan akses evakuasi harus dapat dicapai dengan mudah dan dilengkapi dengan penunjuk arah yang jelas. - Ketentuan mengenai penyediaan akses evakuasi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 4. Penyediaan Aksesibilitas dan Aksesibilitas Bagi Penyandang Cacat - Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas bagi penyandang cacat dan lanjut usia merupakan keharusan bagi semua bangunan gedung, kecuali rumah tinggal. - Fasilitas bagi penyandang cacat dan lanjut usia termasuk penyediaan fasilitas aksesibilitas dan fasilitas lainnya dalam bangunan gedung dan lingkungannya. - Ketentuan mengenai penyediaan aksesibilitas bagi penyandang cacat dan lanjut usia diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3.1.3 Aspek Administrasi Persyaratan Administratif Bangunan Gedung, meliputi: 1. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif yang meliputi: - status hak atas tanah, dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah, - status kepemilikan bangunan gedung, dan - izin mendirikan bangunan gedung, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Setiap orang atau badan hukum dapat memiliki bangunan gedung atau bagian bangunan gedung. 3. Pemerintah Daerah wajib mendata bangunan gedung untuk keperluan tertib pembangunan dan pemanfaatan. 4. Ketentuan mengenai izin mendirikan bangunan gedung, kepemilikan, dan pendataan bangunan gedung diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3.1.4 Persyaratan Tata Bangunan A. Persyaratan Peruntukan dan Intensitas Bangunan Gedung 1. Persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung meliputi persyaratan peruntukan lokasi, kepadatan, ketinggian, dan jarak bebas bangunan gedung yang ditetapkan untuk lokasi yang bersangkutan. 2. Pemerintah Daerah wajib menyediakan dan memberikan informasi secara terbuka tentang persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung bagi masyarakat yang memerlukannya. 3. Persyaratan peruntukan lokasi dilaksanakan berdasarkan ketentuan tentang tata ruang.

4. Bangunan gedung yang dibangun di atas, dan/atau di bawah tanah, air, dan/atau prasarana dan sarana umum tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan, fungsi lindung kawasan, dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. B. Persyaratan Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 1. Persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan meliputi koefisien dasar bangunan, koefisien lantai bangunan, dan ketinggian bangunan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan untuk lokasi yang bersangkutan. 2. Persyaratan jumlah lantai maksimum bangunan gedung atau bagian bangunan gedung yang dibangun di bawah permukaan tanah harus mempertimbangkan keamanan, kesehatan, dan daya dukung lingkungan yang dipersyaratkan. 3. Bangunan gedung tidak boleh melebihi ketentuan maksimum kepadatan dan ketinggian yang ditetapkan pada lokasi yang bersangkutan. C. Persyaratan Jarak Bebas Bangunan Gedung 1. Persyaratan jarak bebas bangunan gedung meliputi: - garis sempadan bangunan gedung dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau jaringan tegangan tinggi; - jarak antara bangunan gedung dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang diizinkan pada lokasi yang bersangkutan. 2. Persyaratan jarak bebas bangunan gedung atau bagian bangunan gedung yang dibangun di bawah permukaan tanah harus mempertimbangkan batas-batas lokasi, keamanan, dan tidak mengganggu fungsi utilitas kota, serta pelaksanaan pembangunannya. D. Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung 1. Persyaratan arsitektur bangunan gedung meliputi persyaratan penampilan bangunan gedung, tataruang dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya, serta pertimbangan adanya keseimbangan antara nilai-nilai sosial budaya setempat terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa. 2. Persyaratan penampilan bangunan gedung harus memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur dan lingkungan yang ada di sekitarnya. 3. Persyaratan tata ruang dalam bangunan harus memperhatikan fungsi ruang, arsitektur bangunan gedung, dan keandalan bangunan gedung. 4. Persyaratan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya harus mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan gedung, ruang terbuka hijau yang seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya. 5. Ketentuan mengenai penampilan bangunan gedung, tata ruang dalam, keseimbangan, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Persyaratan Pengendalian Dampak Lingkungan - Penerapan persyaratan pengendalian dampak lingkungan hanya berlaku bagi bangunan gedung yang dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. - Persyaratan pengendalian dampak lingkungan pada bangunan gedung sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3.2 Metodologi 3.2.1 Metode Penilaian Terhadap Makro Kawasan 3.2.1.1 Analisa Kebijakan Makro Untuk menganalisis kebijaksanaan dan pengembangan wilayah, ada beberapa model analisis yang digunakan, dimana nantinya akan diambil keputusan yang terbaik (win-win solution). Secara umum analisis SWOT digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan rencana pembangunan. Analisis ini melihat potensi dan kendala sebagai sesuatu yang datang dari dalam (internal) sedangkan peluang dan ancaman sesuatu yang datang dari luar (eksternal). Potensi dan peluang merupakan sesuatu hal yang (+) positif, sedangkan kendala dan ancaman dipandang sebagai sesuatu yang (-) negatif. SWOT ini jika digambarkan ke dalam matrik kriteria akan menghasilkan suatu pola sebagai berikut. Matrik Kriteria Analisis SWOT SWOT Internal Potensi (+) Kendala (-) Eksternal Peluang (+) (+) (+) (-) (+) Ancaman (-) (+) (-) (-) (-) Analisis SWOT 1. Maxi-maxi yaitu posisi simpangan eksternal dan internal tinggi. 2. Maxi-mini yaitu posisi simpangan eksternal tinggi dan internal rendah. 3. Mini-maxi yaitu posisi simpangan internal tinggi dan eksternal rendah. 4. Mini-mini yaitu posisi simpangan eksternal dan internal rendah. Identifikasi potensi dan kendala dalam analisis kebijakan pengembangan dalam penyusunan DED Perpustakaan Kabupaten Karimun ini, untuk: 1. Menentukan perencanaan tapak sesuai dengan kegunaan yang digunakan. 2. Penentuan lokasi terbaik untuk lokasi bangunan karena kondisi fisik kawasan (daerah yang harus dihindari daerah yang memiliki masalah erosi karena pola drainase atau daerah yang harus dilestarikan sesuai dengan kondisi alamiah dengan penggunaan vegetasi yang sesuai). 3.2.1.2 Analisis Tautan Tata Guna Lahan Sekitar Tapak Berisi analisis tautan peruntukan lahan tapak eksisting kawasan dengan analisis kemungkinan pengaruh dari kecenderungan perubahan fungsi lahan makro. Menggambarkan tata guna lahan sekitar tapak yang langsung berbatasan yang mungkin sebanyak tiga atau empat blok di luar perbatasan tapak atau dapat diperluas lebih jauh sampai meliputi satu tata guna lahan kota. Peta dapat memperlihatkan tata guna lahan yang ada dan yang diproyeksikan, bangunan-bangunan, tata wilayah dan kondisi-kondisi lain yang mungkin menimbulkan suatu dampak bagi perubahan kegiatan dan fungsional tapak. Gambar 3.1 Tautan Tata Guna Lahan Sekitar Tapak

3.2.1.3 Analisis Sirkulasi Menggambarkan seluruh pola-pola pergerakan kendaraan dan pejalan kaki di atas dan disekitar tapak. Data meliputi lamanya dan beban-beban puncak bagi lalu-lintas kendaraan lingkungan dan pergerakan pejalan kaki, perhentian bis, tepi-tepi pencapaian tapak, pembangkit-pembangkit lalu lintas, pencapaian truk servis, dan lalu lintas yang terjadi sewaktu-waktu (parade, jalur truk kebakaran, penyelenggaraan konser pada auditorium yang berdekatan). Analisis lalu-lintas harus meliputi proyeksi masa depan sejauh yang dapat dibuat. Gambar 3.2 Sistem Sirkulasi 3.2.1.4 Analisis Aksesibilitas Metode analisis ini digunakan untuk pengukuran tingkat kemudahan pencapaian. Selain itu untuk mengetahui beberapa mudahnya suatu tempat (lokasi) dapat dicapai dari lokasi lainnya. Metode yang digunakan antara lain : - Aksesibilitas dimana : A = Nilai aksesibiltas F = Fungsi jalan (Arteri, Kolektor, Lokal) K = Konstruksi jalan (aspal, perkerasan tanah) T = Kondisi jalan (baik, sedang, buruk) d = Jarak nilainilai F, K dan T diberi bobot Indeks aksesibiltas EJ = ukuran aktivitas (antara lain jumlah penduduk usia kerja, pedagang dan sebagainya) dij =Jarak tempuh (waktu atau jarak) b =parameter Perhitungan parameter b dengan menggunakan grafik regresi linier yang diperoleh berdasarkan perhitungan : Dimana : T = Nilai individu trip P = Jumlah penduduk seluruh daerah Tij = Total trip hipotesa Pij = Jumlah penduduk di seluruh daerah 3.2.2 Metode Penilaian Pada Lokasi Pekerjaan 3.2.2.1 Analisis Tapak terhadap Cahaya Matahari Lokasi tapak terhadap orientasi dari arah perputaran matahari menentukan arah bangunan dan ventilasi udara serta letak ruang terbuka hijau. Arah tapak yang fleksibel menyebabkan pengaruh arah perputaran matahari yang menghadap Barat atau Timur tidak terlalu berdampak ketidak nyamanan bagi pengguna bangunan. Hal ini karena bentuk bangunan merupakan sebuah bangunan tertutup terdapat atap. Kegiatan yang ada di lokasi perencanaan tidak tergantung dengan arah perputaran matahari, tetapi lebih berpengaruh pada teknik yang akan digunakan

dalam membangun dan penggunaan bahan material yang digunakan agar tidak cepat rusak dimana kenyamanan pengguna bangunan lebih terjamin. 3.2.2.2 Analisis Kemampuan Tanah Pada kegiatan survey dilakukan metode geoteknik yang meliputi sondir dan uji boring dengan tujuan antara lain : 1. Untuk mengetahui besar tekanan beban sesuai dengan kedalaman tanah yang akan diuji, 2. Untuk mengetahui penurunan yang akan terjadi akibat pembebanan, maka diperlukan data ketebalan lapisan tanah. 3. Untuk mengetahui elevasi tanah keras (kedap), yang diperlukan untuk menentukan jenis konstruksi. Dalam kegiatan sondir dilakukan minimal 6 titik di lokasi yang direncanakan. Pemahaman terhadap pembentukan tanah, yang tergantung pada (1) bahan induk, (2) topografi, (3) iklim, (4) gaya biotik, dan (5) waktu, akan memberi gambaran terhadap berbagai fenomena yang berkaitan dengan sumberdaya alam. Pemahaman terhadap tanah sangat penting tidak hanya dari segi kemempuan rekayasa saja tetapi juga dalam kaitannya dengan sistem sumberdaya alam yang lain. Pemahaman yang ekstensif terhadap kondisi tanah pada sebuah tapak akan membantu untuk menentukan kesesuaian tapak dalam menunjang bangunan gedung dan jalan. Tabel 3.1 Kriteria Tingkat Kesesuaian Lahan Perkotaan Menurut Jenis dan Sifat Tanah Jenis Tanah Sifat Tingkat Kesesuaian Alluvial Geysol, Planosol, Hidromorf Kelabu, Laterik air tanah Tidak peka Sangat baik Latosol Agak peka Baik Brown Forests Oil, Non Calcic Brown,Mediteran Kurang Peka Kurang baik Andosol, Laterite, Grumusol, Spodosol, Podsolic Peka Tidak baik Regosol, Litosol, Organosol, Renzina Sangat Peka Sangat Tidak baik Sumber : Pedoman RTBL 3.2.2.3 Analisis Kondisi Vegetasi Jenis dan pola vegetasi merupakan sumber daya rekreasi, visual dan ekologi yang penting. Jenis vegetasi setempat berkaitan erat dengan tanah, demikian pula terhadap mikro iklim, hidrologi, dan topografi, komponen ini berpengaruh terhadap penentuan lokasi dari sebagian besar fungsi yang bersifat alami. 3.2.2.4 Analisis Kondisi Topografi Bentuk dasar permukaan tanah atau struktur topografi suatu tapak merupakan sumber daya visual

dan estetika yang sangat mempengaruhi lokasi dari berbagai tataguna tanah serta fungsi rekreasi, interpretatif dan sebagainya. Pemahaman lengkap terhadap struktur topografi tidak hanya memberi petunjuk terhadap pemilihan untuk jalan dan rute lintasan alam misalnya, tetapi juga menyatakan susunan keruangan dari tapak. Hal ini sangat penting apabila segi visual dari tapak akan dipertimbangkan. Tabel 3.2 Kriteria Tingkat Kesesuian Lahan Perkotaan Menurut Klasifikasi Kemiringan Lahan Kemiringan Lahan Klasifikasi Tingkat Kesesuaian Pengembangan Lahan Perkotaan 0 8% Datar Sangat baik 9 15% Landai Baik 15 25% Agak curam Terbatas 26 40% Curam Sangat terbatas > 40% Sangat curam Mutlak konservasi Sumber : Pedoman RTBL 3.2.2.5 Analisis Kondisi Estetika Sumber daya estetika sangat berperan dalam penentuan tapak untuk rekreasi. Sumberdaya ini ditentukan oleh keragaman bentuk permukaan tanah, pola vegetasi dan air permukaan. Demikian pula definisi keruangan, vista pemandangan maupun citra yang timbul dari ciri tersebut. 3.2.2.6 Analisis Ciri Historis Suatu daerah tertentu sedikit banyaknya memiliki ciri sejarah berupa benda acuan (landmark). Pengetahuan terhadap letak dan kegunaan benda acuan ini sangat berharga untuk suatu penafsiran terhadap daerah yang akan dikelola secara menyeluruh, juga dalam hal meletakan tampilan khusus dan menjadikannya sebagai pusat perhatian. 3.2.2.7 Analisis Kondisi Tata Guna Lahan dan Bangunan Pengetahuan yang mendalam terhadap keadaan tataguna tanah pada tapak atau daerah sekitar yang berdekatan akan memberikan gambaran yang terkendala dan bahkan keuntungan yang dapat diraih seorang perencana. Tataguna tanah sering kali menuntut pembiayaan yang cukup tinggi dan harus dipertimbangkan dengan cermat. Suatu hal yang penting juga adalah untuk mencatat fungsi-fungsi yang tidak digolongkan sebagai tataguna tanah, tetapi diasosiasikan dengan tataguna tanah tertentu seperti jalan, pagar dan utilitas. 3.2.2.8 Analisis Kondisi Rintangan Fisiografik Rintangan fisiografik adalah unsur-unsur alamiah yang merintangi atau membahayakan berbagai jenis pembangunan. Unsur-unsur rintangan ini berkaitan dengan fungsi yang akan direncanakan. Kondisi seperti sesar, gempa, dan daerah banjir adalah merupakan rintangan fisiografik yang sama sekali tidak memungkinkan bagi suatu kegiatan umum yang memerlukan bangunan pada lokasi tersebut. Rintangan lainnya lebih dapat diterima. Daerah genangan banjir yang dipandang sebagai perintang untuk pembangunan fasilitas secara intensif, masih dapat digunakan sebagai tempat piknik, lintas alam atau fungsi lainnya yang tidak akan merusak atau dirusak oleh gejala fisiografik tersebut.

Gambar 3.3 Super Impose Aspek Fisik Alamiah 3.2.2.9 Analisis Ruang (Analisis Kebutuhan Ruang, Analisis Hubungan Ruang, Analisis Penzoningan Ruang, Analisis Ruang Terbuka /Tata Penghijauan) Setelah mendapatkan komponen-komponen tapak di lokasi perencanaan pembangunan gedung perpustakaan Kabupaten Karimun maka tapak tersebut perlu dianalisis perletakannya berdasarkan jenis, fungsi dan kriteria-kriteria lain. Terbentuklah organisasi ruang sebagai dasar perumusan program bangunan dan rencana tata letak. Analisis Ruang Terbuka (Tata Penghijauan), yaitu analisis mengenai kebutuhan akan salah sarana untuk meningkatkan kualitas kehidupan kota dengan menyediakan lingkungan yang aman dan bsehat dan menarik serta berwawasan ekologis. Selain itu adanya Ruang terbuka hijau dapat menambah citra suatu kawasan. Penataan ruang terbuka hijau dan tata hijau pada lokasi Perencanaan ini diperuntukkan sebagai suatu sarana interaksi publik yang nyaman sehingga dalam penyusunan konsepnya harus mempertimbangkan adanya keterpaduan fungsi sosial ekonomi dan iklim serta mempertimbangkan keterkaitan antara ruang terbuka umum dan tidak umum. Penataan ruang terbuka hijau ini perlu juga didukung oleh pengembangan jalur pedestrian untuk mendukung hubungan ruang serta pergerakan antar ruang terbuka hijau dan fungsi lain yang mengutamakan pergerakan dan kenyamanan bagi pejalan kaki. Ruang terbuka inipun dapat dijadikan sebagai sarana rekreasi. 3.2.2.10 Analisis Sirkulasi Internal Lingkungan (Jaringan Jalan, Pejalan Kaki /pedestrian, Sistem Parkir) Analisis yang dilakukan adalah analisis linkage yang berisi analisis kaitan-kaitan/besaranbesaran linkage struktural antara lain : jalan, parkir, pedestrian, intermoda, jembatan penyeberangan, terminal, tempat bongkar muat barang, dan sirkulasi kendaraan (keluar masuk) kendaraan. Jaringan Jalan Jaringan jalan merupakan komponen yang penting dalam interaksi (sistem hubungan) antar kawasan. Komponen jalan berpengaruh besar terhadap aktifitas di lokasi-lokasi yang dihubungkan. Analisis jaringan jalan ini berpengaruhi pula terhadap skala pelayanan publik. Dalam analisis ini akan dilakukan : - peninjauan kondisi eksisiting yang menyangkut besaran dan kualitas serta permasalahan yang ada. - perhitungan kebutuhan akan jaringan prasarana, yang akan didasarkan pada proyeksi penduduk, standar-standar perencanaan jaringan prasarana perkotaan yang dikeluarkan oleh instansi terkait. - perancangan jaringan yang disesuaikan dengan keadaan fisik dasar. Pejalan Kaki (pedestrian) Pedestrian merupakan komponen yang penting pada kawasan, sehingga jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan, aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. Jalur pedestrian ini terdiri atas jalur pedestrian di dalam suatu kawasan dan jalur pedestrian di pinggir jalan. Sistem Parkir Parkir memiliki dua pengaruh langsung terhadap kualitas lingkungan yaitu berpengaruh terhadap

kelangsungan aktifitas kota, dimana masalah parkir merupakan hal yang amat penting dalam kaitannya dengan kegiatan komersil, serta dapat menimbulkan dampak visual yang berpengaruh terhadap bentuk dan fisik kota ataupun kawasan. Sistem parkir dikawasan dapat dibedakan atas dua jenis : o On Street parkir (parkir dipinggir jalan) sebaiknya diletakkan di jalan-jalan hirarki dua dan sedapatnya sangat dihindarkan untuk terjadi di jalan utama. o Off Street Parkir (parkir disuatu lapangan parkir yang telah disiapkan) diberlakukan terutama pada kawasan komersial. Gambar 3.4 Beberapa besaran sudut dalam perparkiran Selain hal tersebut di atas analisis ini meliputi linkage visual yang dibentuk oleh konfigurasi ruang dan masa bangunan. Melihat dengan baik pengaruh pola jalan terhadap konfigurasi masa bangunan sekitarnya. Namun, dalam penyusunan DED Perpustakaan ini, diarahkan pada parker basement sesuai acuan yang tertuang dalam KAK Penyusunan DED Pepustakaan Kabupaten Karimun. 3.2.2.11 Analisis Utilitas (Air Bersih, Listrik, Persampahan, Air Limbah, Drainase) Analisa utilitas dihitung berdasarkan perkiraan jumlah penduduk pendukung kegiatan (penduduk yang akan dilayani) dan tingkat pelayanannya berdasarkan standard teknis yang berlaku. 3.2.3 Analisis Bangunan A. Analisis struktur bangunan (struktur bawah, struktur atas serta tiang pancang & jacking) Persyaratan kemampuan struktur bangunan gedung yang stabil dan kukuh dalam mendukung beban muatan merupakan kemampuan struktur bangunan gedung yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi pembebanan maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta untuk daerah/zona tertentu kemampuan untuk mendukung beban muatan yang timbul akibat perilaku alam. Besarnya beban muatan dihitung berdasarkan fungsi bangunan gedung pada kondisi pembebanan maksimum dan variasi pembebanan agar bila terjadi keruntuhan pengguna bangunan gedung masih dapat menyelamatkan diri. Ketentuan mengenai pembebanan, ketahanan terhadap gempa bumi dan/atau angin diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. B. Analisis arsitektur bangunan Arsitektur bangunan gedung meliputi penampilan bangunan gedung, tataruang dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya, serta pertimbangan adanya keseimbangan antara nilai-nilai sosial budaya setempat terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa. C. Analisis Utilitas Bangunan / Mekanikal Elektrikal Sistem utilitas merupakan kebutuhan utilitas yang harus disediakan di dalam dan di luar bangunan gedung untuk memenuhi kebutuhan listrik, air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan sampah, serta penyaluran air hujan. Sistem utilitas pada bangunan

gedung dan lingkungannya harus dipasang sehingga mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaannya, tidak membahayakan serta tidak mengganggu lingkungan. 3.2.4 Analisis Pembiayaan Analisa biaya pembangunan gedung perpustakaan Kabupaten Karimun. Pada analisa menggunakan harga satuan setempat dan volume pekerjaan. Bab 4.1 Penilaian Terhadap Lokasi Perencanaan dan Sekitarnya 4.1.1. Analisa Tautan Tata Guna Lahan Sekitar Tapak Lokasi perencanaan berada pada Kawasan Kota Lama Karimun yang secara administrasi termasuk dalam wilayah Kelurahan Tanjung Balai Karimun. Kegiatan utama pada kawasan kota lama adalah jasa dan perdagangan skala kabupaten yaitu jasa perhotelan, rumah makan, perbankan, pertokoan, swalayan, pasar tradisional, ruko, dan kegiatan perdagangan lainnya. Disamping itu terdapat kegiatan sosial dan pelayanan publik seperti sarana ibadah, pelayanan kesehatan, pelabuhan penumpang, kantor polisi, kantor pegadaian, permukiman dan lain-lain. Dengan demikian, penggunaan lahan pada kawasan kota lama adalah penggunaan lahan campuran dengan intensitas bangunan tinggi. Disamping memiliki kegiatan utama jasa dan perdagangan, kawasan kota lama saat ini merupakan pintu gerbang Kabupaten Karimun, hal ini didukung dengan adanya pelabuhan penumpang baik internasional maupun domestik serta antar pulau dalam kabupaten karimun (pelabuhan bom panjang). Dengan demikian, kawasan kota lama menjadi salah satu tujuan pergerakan orang baik dalam kabupaten Karimun maupun dari luar Kabupaten Karimun. Hal ini sejalan dengan rencana jalur wisata pulau karimun yaitu : Pelabuhan (internasional & domestik) pusat budaya melayu karimun (kawasan RMB) kota lama (perpustakaan, pasar malam) jalan pesisir (wisata pantai) kota lama (hotel/penginapan, pusat makanan melayu) pelabuhan (internasional & domestik). Lokasi perencanaan selain memiliki keterkaitan ruang dengan lokasi sekitarnya juga memiliki keterkaitan fungsi. Bila ditinjau dari fungsi lahan pada kawasan kota lama dan kawasan lainnya di Pulau Karimun, maka lokasi perencanaan selain memiliki fungsi edukatif juga mendukung fungsi kawasan kota lama sebagai pusat jasa dan perdagangan. Untuk lebih jelas mengenai tautan tapak lokasi perencanaan Gedung perpustakaan Kabupaten Karimun terhadap tata guna lahan sekitarnya dapat dilihat pada gambar 4.1. 4.1.3 Analisa Sirkulasi Pada bagian ini akan dilakukan kajian dan analisa terhadap pola sirkulasi luar bangunan yang akan direncanakan. Lokasi perencanaan berbatasan dengan 3 ruas jalan, salah satunya adalah Jalan Teuku Umar yang merupakan jalan utama di Pulau Karimun, menghubungkan kota lama dengan kota baru. Jalan Teuku Umar melayani pergerakan kendaraan dari arah Jalan A. Yani menuju kawasan kota lama (pasar, pelabuhan, kawasan perdagangan lainnya, perbankan) dan ke arah Jalan Teluk Air (permukiman). Jaringan jalan lainnya adalah Jalan Trikora dan Jalan Simpang SMA (menghubungkan Jalan Trikora dan Jalan Teuku Umar). Jalan Trikora melayani pergerakan dari Jalan Nusantara (lokasi pelabuhan antar pulau-bom panjang) dan Jalan Yos Sudarso (lokasi pelabuhan penumpang internasional dan domestik). Pada saat ini, arah pergerakan kendaraan

pada ruas Jalan Teuku Umar dan Jalan Trikora adalah sistem satu arah, sedangkan pada ruas Jalan Simpang SMA menggunakan sistem dua arah. Secara umum saat ini intensitas kendaraan sangat tinggi terutama pada ruas Jalan Teuku Umar, dan diperkirakan akan terus mengalami peningkatan pergerakan sejalan dengan perkembangan mobilitas penduduk. Dengan demikian, untuk mengantisipasi peningkatan pergerakan pada lokasi perencanaan maka disarankan untuk semua ruas jalan (Jalan Teuku Umar, Jalan Trikora dan Jalan Simpang SMA) menggunakan sistem sirkulasi satu arah. 4.1.3 Analisa Aksesibilitas Aksesibilitas atau kemudahan pencapaian suatu lokasi dipengaruhi oleh jarak dan waktu pencapaian. Lokasi Perencanaan berada di pusat kota dan dilalui jaringan jalan utama yaitu jalan negara (Jalan Teuku Umar) dan Jalan Kabupaten (Jalan Trikora dan Jalan Simpang SMA). Kondisi perkerasan jalan yaitu aspal dan dalam kondisi baik. Pada saat ini, kedua ruas jalan tersebut memiliki intensitas pergerakan tinggi dan dilayani oleh sarana angkutan umum meliputi angkutan kota, ojeg motor, dan becak. Khusus angkutan kota dan ojeg motor, pada saat ini telah melayani pergerakan dari Kecamatan Meral, Kecamatan Tebing dan Kecamatan Tanjungbalai Karimun (Pulau Karimun). Keterkaitan antar moda di lokasi perencanaan cukup tinggi, hal ini didukung dengan letaknya yang berdekatan dengan pelabuhan penumpang baik internasional, domestik maupun antar pulau. Terdapat sarana angkutan laut berupa kapal cepat yang melayani pergerakan antar pulau dalam Kabupaten Karimun dan Kapal Ferry yang melayani pergerakan antar kabupaten, antar provinsi maupun antar negara, Kemudian, didukung dengan tersedianya sarana angkutan intermoda seperti angkutan kota, ojeg motor, dan becak. Hal ini memberikan kemudahan pencapaian orang maupun barang dari luar pulau karimun. Dengan demikian, tingkat kemudahan pencapaian (aksesbilitas) ke lokasi perencanaan sangat tinggi. Namun, perlu antisipasi terjadinya kemacetan lalu lintas dengan menerapkan Urban Traffic Management. 4.2 Penilaian Terhadap Faktor Fisik 4.2.1 Analisa Tapak Terhadap Perputaran Matahari Lokasi tapak terhadap orientasi dari arah perputaran matahari menentukan arah bangunan dan ventilasi udara serta letak ruang terbuka hijau. Arah tapak yang fleksibel menyebabkan pengaruh arah perputaran matahari yang menghadap Barat atau Timur tidak terlalu berdampak ketidak nyamanan bagi pengguna bangunan. Hal ini karena bentuk bangunan merupakan sebuah bangunan tertutup terdapat atap. Kegiatan yang ada di lokasi perencanaan tidak tergantung dengan arah perputaran matahari, tetapi lebih berpengaruh pada teknik yang akan digunakan dalam membangun dan penggunaan bahan material yang digunakan agar tidak cepat rusak dimana kenyamanan pengguna bangunan lebih terjamin. 4.2.2 Analisa Kondisi Vegetasi Kondisi vegetasi di lokasi perencanaan, pada umumnya merupakan semak dan rumput. Di lokasi ini, tidak terdapat tumbuhan yang dilindungi, sehingga pada pengembangannya sebagai lahan yang dimanfaatkan untuk bangunan gedung yang besar dapat dikembangkan di lokasi ini. Kegiatan proyek pada tahap konstruksi dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan biotik yaitu pada saat kelangsungan kegiatan perbaikan tanah dan pembabatan vegetasi. Dampaknya terkait dengan diversitas tanaman. Pengaruh tersebut dapat terlihat dari perubahan indeks

diversitas dan % cover. Komunitas yang sangat berpengaruh oleh kegiatan proyek adalah komunitas rumput dan semak belukar. Secara umum dampak tahap konstruksi (perbaikan tanah dan pembabatan vegetasi) adalah negatif dan besar terhadap sub komponen biotis rumput dan semak belukar. 4.2.3 Analisa Kondisi Topografi Kondisi Topografi di lokasi perencanaan yaitu datar dan bergelombang. Sehingga, pada tahap pematangan lahan tidak perlu dilakukan cut and fill. Namun, karena rencana bangunan memerlukan basement, maka harus dilakukan kegiatan penggalian dan pemancangan tiang. Pada kegiatan ini, perlu mempertimbangkan kondisi bangunan sekitar lokasi, mengingat kegiatan ini menggunakan alat berat. 4.2.4 Analisa Kondisi Estetika Bila kita tinjau kondisi bangunan dan lingkungan yang ada di kawasan kota lama, terutama yang berdekatan dengan lokasi perencanaan yaitu sebagain besar merupakan bangunan lama, kondisi kurang terawat, ruang luar bangunan hampir tidak ada, sempadan bangunan menyatu dengan jalan, bentuk bangunan berupa bangunan ruko dan terkesan monoton. Dengan melihat kondisi tersebut, maka rencana bangunan pada lokasi ini diharapkan dapat mengurangi kesan monoton dan memberi ruang gerak yang lebih luas bagi pengunjung maupun pengguna jalan ketika memasuki atau melewati lokasi perencanaan ini. Hal ini didukung dengan arsitektur bangunan yang memberi kesan unik atau mencolok disbanding bangunan sekitarnya dan tetap berfungsinya ruang terbuka yang sudah ada yaitu lapangan basket. 4.2.5 Analisa Ciri Historis Secara historis, lokasi perencanaan dan kawasan sekitarnya mempunyai nilai sejarah terutama bagi masyarakat sekitar. Salah satu ciri historis yang ada dilokasi perencanaan dan masih digunakan sebagai sarana olah raga adalah Lapangan Basket. Sehingga, dalam perencanaan gedung perpusatakaan ini, keberadaan lapangan basket tetap dipertahankan bahkan ditingkatkan dengan menambah sarana pendukung lainnya. Ciri historis lainnya adalah fungsi bangunan lama yang merupakan bangunan sekolah yang memiliki nilai sejarah bagi pendidikan masyarakat karimun. Dengan adanya rencana pembangunan gedung perpustakaan maka fungsi bangunan tetap sebagai sarana pendidikan. Disamping ciri historis diatas, ciri lainnya adalah keistimewaan peninggalan arsitektur bangunan di lokasi perencanaan. Dalam hal ini, diupayakan dalam perencanaan bangunan gedung perpustakaan ini menggunakan ornamen yang ada pada bangunan lama. 4.2.6 Analisa Kondisi Tata Guna Lahan dan Bangunan Tata bangunan di Kota Lama Tanjung Balai Karimun lebih banyak di dominasi oleh karakteristik perletakan bangunan yang tidak secara aksial dikendalikan oleh kaidah garis sempadan bangunan, ketinggian bangunan, BCR, jarak bebas, kaidah pengaturan keaneka ragaman bentukan fisik ; pola, gaya dan irama keharmonisan antar bangunan. Karakteristik tata bangunan di pusat Kota Lama lebih dimobilisasi oleh kekuatan fisik bangunan lama dengan tetap mencerminkan karakteristik kehidupan sosial-ekonomi perdagangan yang tumbuh di tepi laut dengan struktur permukiman kampung-kota.

Karakteristik morfologi pusat Kota Lama juga diekspresikan dalam konfigurasi masa bangunan yang secara arsitektural menggunakan bangunan sebagai vocal point atau Point of interest kemonotonan jajaran bangunan. Dalam UU RI No. 28 Tahun 2002 Pasal 14 (4) bahwa yang dimaksud dengan keseimbangan, keserasian dan keselarasan Bangunan Gedung dengan Lingkungannya adalah harus mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan gedung, ruang terbuka hijau yang seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya. Ruang luar bangunan gedung diwujudkan untuk sekaligus mendukung pemenuhan persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan bangunan gedung, disamping untuk mewadahi kegiatan pendukung fungsi bangunan gedung dengan daerah hijau sekitar bangunan. Ruang luar terutama ruang terbuka hijau (RTH) sangat penting diwujudkan pada pembangunan bangunan gedung ini, karena RTH ini sangat berguna menjaga terjadinya siklus alami di bumi ini. Siklus air dapat berlangsung dengan baik, dimana air hujan dapat meresap baik ke dalam tanah dan dapat tersimpan menjadi cadangan air tanah dan kembali dapat terserap oleh pohonpohon dan pohon-pohon dapat menguapkan kembali menjadi oksigen dan uap air dan kembali lagi masuk ke dalam tanah. Dengan demikian, dalam perencanaan gedung perpustakaan Kabupaten Karimun diupayakan keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara bangunan gedung dan ruang terbuka sekitar bangunan. Gambar 4.6. Siklus air dan Oksigen yang terjaga apabila rruang terbuka hijau ada Gambar 4.7 Salah satu bentuk ruang luar, tempat terjadinya sosialisasi antar masyarakat 4.2.7 Analisa Kondisi Rintangan Fisiografik Dalam pematangan lahan di lokasi perencanaan Gedung Perpustakaan Kabupaten Karimun dimana rintangan fisiografik berupa lahan yang bergelombang, yaitu dataran yang permukaan tanahnya memerlukan pematangan lahan sebelum dipergunakan sebagai lahan untuk dibangun sebuah bangunan besar. Rintangan fisiografik ini tidak terlalu menghambat, tetapi penting sebagai pertimbangan dalam merencanakan anggaran biaya dalam pembangunan gedung Perpustakaan Kabupaten Karimun, khususnya pada saat pemugaran bangunan lama di lokasi perencanaan. 4.3 Analisa Ruang Perencanaan Gedung Perpustakaan Kabupaten Karimun pada prinsipnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bangunan publik yang berfungsi sebagai gedung perpustakaan dan arsip daerah Kabupaten Karimun. Namun, pada perkembangannya bangunan ini juga memiliki fungsi pendukung yaitu berfungsi sebagai sarana olah raga (lapangan olah raga & tribun), rekreasi (tempat bermain anak & teater mini), dan perdagangan (restoran dan sarana belanja). Bangunan yang direncanakan ini memiliki multifungsi, sehingga perlu pengaturan ruang seoptimal mungkin. 4.3.1 Analisa Kebutuhan Ruang Bangunan gedung yang akan direncanakan ini diperkirakan dapat melayani kegiatan untuk 25 tahun mendatang. Bangunan gedung ini memiliki fungsi utama sebagai gedung perpustakaan dan arsip skala pelayanan kabupaten. Sedangkan fungsi lainnya seperti sarana olah raga, rekreasi dan sarana komersial adalah fungsi pendukung bangunan. Dengan demikian, kebutuhan ruang direncanakan berdasarkan daya tampung/kapasitas bangunan sesuai fungsinya.

Berikut kriteria kebutuhan ruang perpustakaan dengan sistem terbuka : a) Areal koleksi dan pengguna 70 % Yang termasuk dalam areal koleksi adalah ; areal buku rujukan areal majalah, surat kabar/ kliping areal koleksi non buku b) Areal untuk staf 20 % Yang termasuk areal staf adalah ; areal peminjaman areal baca yang bercampur dengan koleksi areal katalog perpustakaan areal fotocopy areal baca perorangan / studi carel areal pameran c) Areal untuk keperluan lain 10 % Yang termasuk areal untuk keperluan lain : areal pengadaan, pengolahan areal kerja pimpinan areal komputer pengolahan areal tata usaha/administrasi areal makan gudang buku dan perlengkapan Mengingat fungsi utama bangunan sebagai gedung perpustakaan dan arsip maka kebutuhan ruang minimal sesuai dengan kriteria diatas. Sedangkan kebutuhan ruang untuk fungsi pendukung dan penunjang disesuaikan dengan fungsi masing masing ruang. Berikut analisa kebutuhan ruang gedung perpustakaan dan arsip Kabupaten karimun : a. Kegiatan Perpustakaan, meliputi : 1. Ruang koleksi perpustakaan 2. Ruang Baca 3. Ruang jaga perpustakaan 4. Ruang pengolahan data perpustakaan 5. Gudang perpustakaan 6. Ruang kepala perpustakaan 7. Ruang Staf perpustakaan b. Kegiatan Arsip, meliputi : 1. Ruang koleksi arsip 2. Ruang jaga arisp 3. Ruang pengolahan data arsip 4. Gudang Arsip 5. Ruang kepala arsip 6. Ruang staf arsip c. Kegiatan Pendukung, meliputi : 1. Teater mini 2. Lapangan olah raga dan tribun 3. Ruang bermain anak

4. Ruang komersial / belanja 5. Restoran 6. Gudang d. Kegiatan Penunjang, merupakan kegiatan yang menunjang kegiatan perpustakaan, arsip dan kegiatan pendukung (poin c). Keberadaan kegiatan penunjang sangat diperlukan untuk kelangsungan kegiatan utama (poin a dan b) dan kegiatan pendukung (poin c). Kegiatan penunjang pada bangunan ini meliputi : 1. Ruang parkir 2. Ruang Sirkulasi (dalam bangunan dan luar bangunan) 3. Ruang Kontrol 4. Ruang Security 5. Gudang 6. Ruang panel 7. Toilet 8. Ruang informasi 9. Lobby 10. Ruang tunggu 11. Taman 4.3.2 Analisa Hubungan Ruang Analisa hubungan ruang berkaitan erat dengan pembagian ruang / penzoningan ruang pada rencana bangunan gedung perpustakaan dan arsip daerah Kabupaten Karimun. Rencana pembagian ruang meliputi : Ruang publik, Ruang semi publik dan Ruang privat. Berikut pembagian ruang pada rencana bangunan gedung perpustakaan dan arsip Kabupaten Karimun : 1. Ruang publik, meliputi : Ruang bermain anak Ruang komersial / sarana belanja Restoran Ruang tunggu Toilet 2. Ruang semi publik, meliputi : Ruang perpustakaan Ruang koleksi Ruang baca Teater mini Ruang Arsip 3. Ruang privat, meliputi : Ruang kantor Gudang Ruang pengolahan data perpustakaan Ruang pengolahan data arsip

Berikut disajikan dalam bentuk diagram hubungan ruang pada rencana bangunan gedung perpustakaan dan arsip daerah Kabupaten Karimun. 4.3.3 Analisa Sirkulasi Dalam perencanaan bangunan gedung harus memenuhi persyaratan kenyamanan bangunan, persyaratan kemudahan bangunan serta kelengkapan sarana prasarana dalam pemanfaatan bangunan gedung. Persyaratan kenyaman bangunan meliputi kenyamanan ruang gerak dan hubungan antar ruang, kondisi ruang dalam ruang, pandangan, serta tingkat getaran dan tingkat kebisingan. Kenyamanan yang dimaksud adalah kenyamanan yang diperoleh dari dimensi ruang dan tata letak ruang yang memberikan kenyamanan bergerak dalam ruangan. Kemudian, Persyaratan kemudahan bangunan meliputi kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung, serta kelengkapan prasarana dan sarana dalam pemanfaatan bangunan gedung. Kemudahan ke, dari dan di dalam bagunan gedung meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat dan lanjut usia. Untuk kemudahan hubungan horisontal antar ruang dalam bangunan gedung diperlukan pintu dan/atau koridor (selasar) antar ruang dan tentunya harus disesuaikan dengan bentuk bangunan gedung serta fungsi bangunan tersebut. Dengan adanya koridor penghubung ruang dalam bangunan gedung, akan mempermudah pencapaian antar ruang. Dalam perencanaan bangunan gedung perpustakaan dan arsip daerah Kabupaten Karimun juga diharapkan dapat memenuhi persyaratan kenyamanan dan kemudahanan bangunan. Oleh karena itu, dalam perencanaannya diarahkan memiliki ruang sirkulasi yaitu minimal 15% dari total luas lantai bangunan dan ruang sirkulasi untuk kendaraan adalah minimal 50% dari luas ruang parkir. Ruang sirkulasi terbagi menjadi sirkulasi kendaraan, sirkulasi pengunjung / orang, dan sirkulasi pengelola. Ruang sirkulasi luar bangunan juga perlu diperhatikan, hal ini mengingat kondisi eksisting sekitar lokasi yang kurang nyaman bagi pejalan kaki. Jalur pedestrian yang ada sekarang tidak hanya digunakan untuk pejalan kaki tapi juga berfungsi sebagai tempat jualan atau kegiatan lainnya. 4.3.4 Analisa Prasarana dan Sarana Bangunan gedung Kelengkapan prasarana dan sarana yang dimaksud pada bangunan gedung meliputi penyediaan fasilitas yang cukup untuk ruang ibadah, ruang ganti, ruangan bayi, toilet, tempat parkir, tempat sampah serta fasilitas komunikasi dan informasi. Ini merupakan kebutuhan manusiawi yang harus dipenuhi dalam bangunan gedung, sehingga bangunan ini dibuat untuk kenyamanan semua orang (seluruh strata ekonomi), tidak hanya untuk kenyamanan masyarakat ekonomi tertentu saja. Sistem sanitasi harus disediakan baik di dalam dan di luar bangunan gedung untuk memenuhi kebutuhan air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan sampah, serta penyaluran air hujan. Sistem sanitasi ini harus berfungsi baik, karena sistem inilah yang melindungi lingkungan sekitar bangunan gedung. Dengan demikian kualitas lingkungan akan terjaga dengan baik. Rencana bangunan gedung perpustakaan dan arsip daerah Kabupaten Karimun tidak terlepas dari persyaratan kelengkapan prasarana dan sarana bangunan gedung. Berikut prasarana dan sarana bangunan gedung yang direncanakan : 1. Parkir 2. Toilet

3. Ruang panel 4. Ruang informasi 5. Main entrance dan Entrance 6. Tangga dan Ram 7. Ruang terbuka dan taman Sistem sanitasi meliputi sanitasi dalam bangunan gedung dan sanitasi luar bangunan gedung, dimana sistem pembuangan air limbah dapat memanfaatkan saluran primer yang sudah ada pada lokasi perencanaan. Saluran ini mengalirkan air limbah menuju pembuangan akhir / laut. 4.3.3 Analisa Kapasitas Ruang Berdasarkan analisa kebutuhan ruang, maka rencana bangunan gedung perpustakaan dan arsip daerah Kabupaten karimun secara umum meliputi ruang untuk fungsi utama (perpustakaan dan arsip), fungsi pendukung (lapangan olah raga, teater mini, ruang bermain anak, perdagangan dan restoran) dan fungsi penunjang (parkir, ruang informasi, loby, toilet, dan lain-lain). Dasar perhitungan kapasitas ruang mengacu pada jumlah pengunjung, terutama pada kegiatan utama yaitu perpustakaan dan arsip. Sedangkan standar luas lantai per orang yaitu untuk ruang baca adalah 1,0 m2 , ruang staf adalah 1,2 m2. Sedangkan ruang sirkulasi adalah 15% dari luas total lantai bangunan. Kapasitas ruang adalah : Luas lantai ruang Ruang sirkulasi Standar luas lantai Berdasarkan data dari Kantor BPN Kabupaten Karimun, luas lahan pada lokasi perencanaan adalah 3.054,54 m2 . Dengan berdasar pada analisa kebutuhan ruang maka bangunan diarahkan tiga lantai dan terdapat basement yang berfungsi sebagai tempat parkir. Kemudian, untuk mengetahui kapasitas ruang, maka perlu diprediksi jumlah pengunjung dan anggota perpustakaan serta penambahan koleksi buku. Bangunan ini direncanakan dapat melayani kegiatan sampai dengan 25 tahun mendatang. a. Perkiraan Pengunjung dan Anggota Perpustakaan Analisis perkiraan pengunjung perpustakaan Kabupaten Karimun ini, dimaksudkan sebagai bahan masukan dalam menentukan kebutuhan ruang akan ruang baca yang dibutuhkan dan daya tampung dari ruang yang dibutuhkan dalam membangun gedung perpustakaan Kabupaten Karimun. Penurunan pengunjung perpustakaan di Karimun dari tahun 2003 2007 cukup signifikan, hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 4.1 Jumlah Pengunjung Perpustakaan Kabupaten Karimun Tahun 2003 2007 No. Jenis Koleksi/Klas Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 1 Anak-anak 35 53 65 79 20 2 Pelajar 2,135 400 399 303 459 3 Mahasiswa 30 61 69 26 36 4 Guru 45 27 79 72 7 5 Pegawai 120 65 81 69 45

6 Swasta/umum 515 268 398 334 66 Jumlah 2,880 874 1,091 883 633 Sumber : Perpustakaan Kabupaten Karimun dan Kearsipan, 2008 Tabel 4.2 Jumlah Anggota Perpustakaan Kabupaten Kariumn Tahun 2003 2007 No. Jenis Koleksi/Klas Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 1 Anak-anak 55 95 211 430 2 Pelajar 469 1,502 1,720 1,733 1,836 3 Mahasiswa 28 61 76 86 100 4 Guru 65 125 159 160 184 5 Pegawai 80 350 384 398 447 6 Swasta/umum 267 675 752 764 814 Jumlah 964 2,808 3,302 3,571 3,381 Sumber : Perpustakaan Kabupaten Karimun dan Kearsipan, 2008 Perpustakaan Daerah Kabupaten Karimun, kenaikkan rata-rata pengunjung dan anggota tahun 2003 2007 = 5,29 % per tahun. Proyeksi jumlah pengunjung tahun 2012 = 4.375 orang per tahun = 14 orang per hari, dengan asumsi 1 tahun = 313 hari kerja Proyeksi jumlah pengunjung tahun 2017 = 5.661 orang per tahun = 18 orang per hari, dengan asumsi 1 tahun = 313 hari kerja Proyeksi jumlah pengunjung tahun 2022 = 7.326 orang per tahun = 23 orang per hari, dengan asumsi 1 tahun = 313 hari kerja Proyeksi jumlah pengunjung tahun 2027 = 9.480 orang per tahun = 30 orang per hari, dengan asumsi 1 tahun = 313 hari kerja Proyeksi jumlah pengunjung tahun 2032 = 12.267 orang per tahun = 39 orang per hari, dengan asumsi 1 tahun = 313 hari kerja b. Perkiraan Penambahan Koleksi Buku Perpustakaan Perkiraan penambahan koloeksi buku perpustakaan Kabupaten Karimun dianalisis sebagai yang akan disediakan dan luasan ruang penyimpanan (gudang) yang dibutuhkan. Perkiraan penambahan koleksi buku perpustakaan ini memperhitungan kapasitas ruang yang dapat menampung jumlah buku sampai dengan 25 tahun mendatang, termasuk ruangan bagian kearsipan. Dari data tahun 2003 2007 rata-rata kenaikan buku di perpustakaan Kabupaten Karimun sebesar 18,41% dari total jumlah yang ada dengan penambahan kenaikan tertinggi antara tahun 2006 2007. Dengan kurun waktu antara 2003 2007 tersebut di atas, maka penambahan koleksi buku berdasarkan perhitungan kenaikan 18,41% pertahun maka untuk keperluan gudang

Analisa jumlah koleksi : Perpustakaan Daerah Kabupaten Karimun data dari tabel 4.3, perpustakaan Kabupaten Karimun dan Kearsipan, kenaikkan rata-rata jumlah koleksi Kabupaten Karimun tahun 2003 2007 = 18,41 % per tahun. Proyeksi jumlah koleksi tahun 2012 = 21.755 judul buku. Proyeksi jumlah koleksi tahun 2017 = 29.697 judul buku. Proyeksi jumlah koleksi tahun 2022 = 37.638 judul buku. Proyeksi jumlah koleksi tahun 2027 = 45.579 judul buku. Proyeksi jumlah koleksi tahun 2032 = 53.520 judul buku. Tabel 4.3 Jumlah Koleksi Buku Perpustakaan Kabupaten Karimun Tahun 2003 2007 No. Jenis Koleksi/Klas Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 1 Karya Umum 141 141 141 153 304 2 Ilmu Filsafat 220 220 220 268 463 3 Agama 948 960 963 1,161 1,804 4 Ilmu Sosial 1,746 1,746 1,746 2,007 2,600 5 Bahasa 157 157 157 189 290 6 Ilmu Murni 308 308 316 348 626 7 Ilmu Terapan 1,675 1,679 1,679 1,814 3,200 8 Seni olahraga 120 120 120 150 489 9 Kesusasteraan 825 825 825 875 1,482 10 Geografi 229 233 270 318 527 11 Fiksi 1,092 1,092 1,092 1,796 2,029 Jumlah 7,461 7,481 7,529 9,079 13,814 Sumber : Perpustakaan Kabupaten Karimun dan Kearsipan, 2008 4.3.4 Analisa Perparkiran Analisis perparkiran pada rencana bangunan gedung perpustakaan dan arsip daerah Kabupaten Karimun meliputi parkir kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua. Berikut analisa kebutuhan tempat parkir : Prediksi jumlah mobil = 40 unit, asumsi pengunjung untuk tahun 2032 sebanyak 39 orang Kebutuhan luas ruang parkir untuk 1 mobil = 2 m x 3,5 m = 7 m2 Luas ruang parkir untuk 40 unit mobil = 280 m2

Prediksi jumlah sepeda motor : 30% dari jumlah mobil = 30 % x 40 = 12 = 12 motor Kebutuhan luas ruang parkir untuk 1 Motor = 1 m x 2 m = 2 m2 Luas ruang parkir untuk 12 unit motor = 25.2 m2 Arahan tempat parkir adalah basement dan ruang luar bangunan ( depan jalan simpang SMA) dan samping lapangan basket. Berdasarkan perhitungan di atas, kebutuhan luas parkir dapat memanfaakan ruang basement sebagai tempat parkir dan ruang luar bangunan. Bab Sasaran yang ingin dicapai dalam penyusunan DED gedung perpustakaan Kabupaten Karimun adalah terwujudnya fasilitas berupa gedung perpustakaan beserta fasilitas penunjangnya untuk dapat meningkatkan ilmu pengetahuan, tersimpannya arsip arsip dengan benar, dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan rekreasi yang sehat. Dengan demikian, perlu suatu konsep rancangan bangunan dan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan fasilitas publik berupa perpustakaan dan arsip daerah, sarana olah raga, serta sarana rekreasi yang terjangkau. Mengacu hal tersebut diatas, maka perumusan konsep rancangan bangunan gedung dan lingkungan perpustakaan Kabupaten Karimun berdasarkan tiga pendekatan, yaitu: 1) Pendekatan ekologis (ecological approach); 2) Pendekatan ekonomi dan fungsional (functional/economical approach); 3) Pendekatan sosial-politik (socio-political approach). Ketiga pendekatan ini harus dilakukan bersama-sama dalam rangka mewujudkan bentuk rancangan di atas permukaan suatu lahan (tanah), di mana akan membentuk suatu ruang yang memungkinkan terjadinya interaksi manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitarnya secara seimbang, selaras dan berkelanjutan. Dengan mempertimbangkan fungsi lokasi sebagai gedung perpustakaan dan arsip daerah, ditambah dengan fungsi pendukung sebagai tempat olah raga, rekreasi, sarana bermain dan terdapat fasilitas perdagangan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan tersebut selain memerlukan bangunan gedung juga memanfaatkan ruang terbuka yang ada. Dengan demikian, perumusan konsep meliputi konsep penataan lingkungan dan konsep rancangan bangunan gedung. 5.1. Konsep Penataan Lingkungan Salah satu potensi lokasi yang dapat dimanfaatkan adalah keberadaan lapangan basket dan tanaman pelindung. Melalui pendekatan ekologis potensi tersebut dapat direncanakan menjadi ruang terbuka, sedangkan secara ekonomi dan fungsional maupun secara sosial politik, fungsi lapangan basket dapat ditingkatkan menjadi lapangan olah raga yang dirancang untuk beberapa cabang olah raga seperti badminton, bola volly, takraow, dan cabang olah raga lainnya yang disesuaikan dengan luas lahan yang tersedia yaitu 420 m2. Kemudian, untuk memberi kenyamanan bagi pengunjung/penonton dirancang bangunan tribun dan fasilitas penunjang lainnya seperti toilet, ruang ganti dan tempat parkir. Dalam upaya mencapai keseimbangan, keserasian dan keselarasan antar bangunan gedung dan ruang luar bangunan maka selain konsep penataan ruang terbuka diatas, perlu penataan ruang sirkulasi luar bangunan seperti penataan pedestrian, sempadan bangunan, dan ruang ruang sirkulasi luar bangunan lainnya. Disamping itu, penataan ruang sirkulasi luar bangunan juga memberikan kemudahan, kenyamanan dan keamanan bagi pengujung maupun pengguna jalan.

Hal ini juga mempertimbangkan luas lahan yang relatif kecil dibanding dengan kebutuhan ruang yang direncanakan. Oleh karena itu, ruang luar bangunan tidak diberi pagar pembatas. Kemudian, ruang sempadan bangunan dimanfaatkan sebagai taman dan ruang sirkulasi, pedestrian, dan tempat parkir roda dua. A = Sempadan bangunan menghadap Jalan Teungku Umar, diarahkan untuk taman dan pintu masuk untuk sirkulasi kendaraan angkutan barang menuju gudang / basement B = Sempadan bangunan menghadap Jalan Simpang SMA, diarahkan untuk parkir roda dua, pedestrian, ruang iklan dan ruang sirkulasi kendaraan (tidak parkir) serta pintu masuk untuk sirkulasi orang dan kendaraan pengunjung menuju main entrance dan basement (parkir roda dua dan roda empat). C = Sempadan bangunan menghadap Jalan Trikora, diarahkan untuk pedestrian, taman, ruang sirkulasi orang, serta pintu keluar orang (dari entrance arsip) dan kendaraan dari basement. 5.2. Konsep Rancang Bangun Gedung Pada sub bab ini akan disajikan konsep pezoningan ruang, konsep tata ruang gedung dan konsep sirkulasi dalam gedung. Seperti yang diuraikan pada bab analisa bahwa kebutuhan ruang pada bangunan gedung disesuaikan dengan fungsi bangunan gedung yang akan direncanakan, dimana luas lahan yang dapat dimanfaatkan untuk bangunan gedung adalah 1978,5 m2 dari luas total lahan 3054,54m2 atau sebesar 65% dari total luas lahan. Sedangkan kapasitas ruang yang diharapkan adalah dapat menampung dan melayani kegiatan utama dan kegiatan pendukung sampai dengan 25 tahun mendatang. Dengan demikian, bangunan yang direncanakan adalah bangunan 3 (tiga) lantai dan terdapat basement. 5.2.1. Konsep Penzoningan Ruang Konsep penzoningan ruang terbagi menjadi 3 bagian yaitu ruang publik, ruang semi publik dan ruang privat. Konsep ini didasarkan pada fungsi ruang dan pengguna / pemanfaat ruang. Seperti yang diuraikan sebelumnya bahwa, fungsi ruang meliputi fungsi utama (perpustakaan dan arsip), fungsi pendukung (teater mini, lapangan olah raga, restoran, area bermain anak, dan komersial area) dan fungsi penunjang (parkir, lobby, ruang informasi, security, tolilet, ruang kontrol, dll). Sedangkan berdasarkan pengguna ruang meliputi pengelola dan pengunjung. Ruang privat adalah ruang yang digunakan oleh pengelola dan tidak dapat digunakan oleh pengunjung. Ruang semi publik adalah ruang yang digunakan oleh pengelola dan pengunjung, dimana penggunaan ruang sesuai dengan fungsi ruang dan dalam pengawasan pengelola. Sedangkan ruang publik adalah ruang yang dapat digunakan oleh pengelola dan pengunjung baik secara bersama-sama atau masing- masing. 5.2.2. Konsep Tata Ruang Gedung Gedung perpustakaan Kabupaten Karimun secara umum terdiri dari ruang perpustakaan & arsip dan ruang komersial. Penataan ruang gedung, pada prinsipnya adalah memberikan rasa kemudahan, keamanan dan kenyamanan bagi penggunan gedung. Disamping itu, pengguna gedung dapat merasakan manfaat gedung sesuai dengan fungsi gedung. Dalam hal ini, fungsi utama gedung adalah perpustakaan dan arsip. Oleh karena itu, dalam perumusan konsep tata ruang gedung lebih difokuskan pada tata ruang perpustakaan dan arsip.

Secara umum tata ruang gedung harus bisa memberikan rasa nyaman pada pengunjungnya. Baik itu nyaman secara fisik maupun secara psikis. Berikut beberapa konsep penataan ruang secara umum : Pengaturan sirkulasi orang, kendaraan dan barang pada tempatnya masing-masing sesuai kebutuhan dan standar sirkulasi dalam gedung serta diberi rambu/petunjuk untuk memudahkan pengunjung maupun pengelola dalam melaksanakan aktivitasnya masing-masing. Disamping itu, harus disediakan ruang sirkulasi bagi penyandang cacat dan usia manula. Pengaturan peletakan ruangan berdasarkan hubungan ruang dan fungsi masing-masing ruang sehingga memberikan kemudahan bagi pengunjung dan pengelola dalam beraktivitas. Pengaturan sirkulasi udara yang menjaga suhu udara ideal dan pengaturan cahaya yang baik. Untuk mendapatkan kedua hal ini bisa dibantu dengan kipas angin atau AC dan lampu penerang yang baik. Juga bisa diatur secara alami dengan mencari lokasi yang cocok. Kesejukan alami dan penerangan alami selain lebih terasa nyaman juga membantu menghemat energi. Menjaga kebersihan dan kerapihan ruangan, pengaturan tata letak furniture yang memudahkan aktivitas pengunjung juga bisa membantu menciptakan suasana nyaman bagi pengunjung. Secara psikis, rasa nyaman bisa diciptakan dengan menghadirkan pelayanan yang ramah, cepat tanggap, dan koorporatif. Berikut akan diuraikan konsep tata ruang perpustakaan dan arsip pada bangunan gedung perpustakaan Kabupaten Karimun : A. Tata Ruang Perpustakaan Ruang perpustakaan dan arsip harus bisa menjadi tempat penyimpanan yang baik bagi koleksi buku dan arsip yang ada, sehingga perlu diperhatikan hal hal sebagai berikut : Suhu dan kelembaban harus dijaga. Ruangan yang terlalu lembab bisa menyebabkan buku berjamur. Cahaya matahari yang langsung mengenai buku bisa mempercepat kerusakan kertas buku. Buku-buku harus selalu dibersihkan dari debu-debu. Gunakan kamper atau sejenisnya untuk menjaga buku dari serangan rayap dan kutu buku. Dengan menghadirkan suasana ruangan yang baik, akan membantu para pengunjung berkonsentrasi menyerap isi bacaan, menjadikan mereka lebih betah di perpustakaan yang akhirnya menimbulkan rasa senang untuk selalu datang ke perpustakaan. Perpustakaan pada umumnya minimal memiliki 4 (empat) macam ruangan diantaranya : - Ruang koleksi buku (rak-rak buku) 1 rak (1 sisi, 5 susun, lebar 100 cm) dapat memuat 115-165 buku eksemplar buku dan jarak antar rak 100-110 cm. Jadi dapat dihitung berapa kebutuhan luas ruang yang diperlukan untuk menempatan rak dan dapat disesuaikan dengan bahan pustaka yang dimiliki. Hal ini pun perlu dipertimbangkan untuk tahun-tahun yang akan datang. - Ruang baca Disesuaikan dengan ruang yang ada. Idealnya terpisah dari ruang koleksi dengan lulas yang mencukupi. - Ruang pengolahan bahan pustaka dan ruang Staf Untuk melakukan aktifitas pengadaan dan pengolahan buku luas ruangan tergantung berapa jumlah pengelola perpustakaan diperkirakan setiap petugas memerlukan 2,5 m2.

- Ruang sirkulasi Ruang ini dipergunakan untuk melayani peminjaman dan pengembalian buku, ruang yang diperlukan minimal cukup untuk meletakan meja sirkulasi dan perlengkapan lainnya. B. Pembagian Ruang Perpusatakaan Menurut Fungsi Menurut fungsinya pembagian persentase untuk masing-masing ruang dengan konsep perpustakaan dengan sistem terbuka sebagai berikut 1. areal koleksi dan pengguna 70 % 2. areal untuk staf 20 % 3. areal untuk keperluan lain 10 % Dalam merencanakan tata ruang harus didasari dengan hubungan antar ruang yang dipandang dari segi efisiensi, alur kerja, mutu layanan, keamanan dan pengawasan. Penempatan perabotan perpustakaan diletakkan sesuai dengan fungsi dan berdasarkan pembagian ruang diperpustakaan yaitu: A. Lobi Lemari penitipan barang, papan pengumuman dan pameran, kursi tamu, meja dan kursi petugas. B. Ruang peminjaman Meja dan kursi sirkulasi, kereta buku, lemari arsip, laci-laci kartu pengguna, jika sudah otomosi maka computer , bacode reader dan kursi petugas. C. Ruang koleksi buku Rak buku baik dari satu sisi atau dua sisi, kereta buku, tangga beroda. D. Ruang baca Meja kursi baca kelompok, perorangan ( studi karel) dan meja kamus. E. Ruang administrasi Meja kursi petugas, lemari arsip, mesin ketik, komputer, telpon, kereta buku, lemari buku dan sebagainya. C. Bentuk Ruang Perpustakaan Bentuk ruang yang paling efektif adalah bentuk bujur sangkar, karena paling mudah dan fleksibel dalam pengaturan perabot apalagi bila rak buku yang dimiliki banyak dan lalu lintas yang ramai. Bentuk ini juga paling baik dan mudah dalam pengaturan pencahayaan/ penerangan. D. Penerangan, Ventilasi dan Pengamanan Ruang Perpustakaan A. Penerangan Penerangan harus diatur sehingga tidak terjadi penurunan gairah membaca atau membuat silau. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menghindari sinar matahari langsungserta memilih jenis yang dapat memberikan sifat dan taraf penerangan yang tepat dengan kebutuhan, yaitu : 1. Lampu pijar : memberikan cahaya setempat 2. Lampu TL/PL/Fluorescent : memberikan cahaya yang merata 3. Lampu sorot ; memberi cahaya yang terfokus pada obyek tertentu B. Ventilasi Persyaratan kesehatan bangunan gedung meliputi persyaratan sistem penghawaan, pencahayaan,sanitasi dan penggunaan bahan bangunan gedung. Sistem penghawaan yang

dimaksud adalah sistem sirkulasi silang (cross ventilation) yang dibutuhkan dalam pergantian udara alami dalam gedung dimana sirkulasi ini membutuhkan bukaan-bukaan atau ventilasi alami atau ventilasi buatan . Diharapkan untuk memberikan ventilasi pada ruang-ruang dalam bangunan, sehingga penghuni merasa nyaman dan sehat. Memiliki bukaan bagi pencahayaan alami, agar bangunan gedung tersebut tidak harus menggunakan pencahayaan buatan, akibatnya tidak banyak menggunakan energi listrik. Total luas ventilasi yang dibutuhkan adalah 3% dari total luas ruang yang ada. Gambar 5.6. Sistem ventilasi silang (buatan) Ventilasi dalam perpustakaan harus diperhatikan selain untuk petugas juga diperlukan untuk bahan pustaka. Ada 2 macam sistem ventilasi : - Ventilasi pasif Ventilasi yang didapat dari alam caranya membuat lubang angina atau jendela pada sisi dinding yang berhadapan serta sejajar dengan arah angin lokal. Luas lubang angin atau jendela diusahakan sebanding persyaratan dan fasilitas ruang (10 % dari luas ruang yang bersangkutan). Bila menggunkan ventilasi pasif seperti ini sebaiknya rak tidak ditempatkan dekat jendela demi keamanan koleksi dan terhindar dari sinar matahari langsung. - Ventilasi aktif Ventilasi aktif adalah menggunakan sistem penghawaan buatan yaitu menggunakan AC. Karena temperatur dan kelembaban ruang perpustakaan yang kontans maka dapat menjaga keawetan koleksi dan peralatan tertentu seperti koleksi langka, pandang dengan dan computer. C. Pengamanan Untuk menjaga keamanan perpustakaan perlu antisipasi bila terjadi sesuatu seperti kebakaran, bencana alam, hama dll. - Kebakaran Penempatan jalam darurat kearah luar pada tempat-tempat strategis yang mudah dicapai Pemilihan bahan bangunan yang tidak mudah terbakar Penyediakan alat-alat pemadam kebakaran Alat pendeteksi kebakaran ( alarm sistem). - Gempa bumi, angin topan, air hujan, banjir dan petir Perencanaan ketinggian permukaan lantai dasar lebih tinggi daripada tanah disekitar bangunan Sistem drainasi pembuangan air hujan jangan menimbulkan genangan pada halaman perpustakaan Perencanaan bangunan tahan gempa Memasang system penangkal petir terutama pada bangunan bertingkat. - Hama Pemilihan bangunan yang tahan hama Mengurangi celah-celah kecil pada bangunan yang dapat dijadikan rumah tikus Memberikan suntikan anti rayap disekeliling bangunan. - Pencurian bahan pustaka Sistem perencanaan satu pintu keluar masuk Peletakan lubang/jendela untuk ventilasi dilakukan pada tempat yang sullit dijangkau. E. Penggunaan Rambu-rambu pada Ruang Perpustakaan Rambu-rambu dalam perpustakaan selain untuk memperindah ruangan juga membantu pengguna menemukan dan memanfaatkan koleksi dan fasilitas perpustakaan secara maksimal. Ramburambu dibuat dalam bentuk tulisan, simbol ataupun gambar. Contoh rambu di dalam

perpustakaan seperti simbol atau tulisan meja informasi, Penitipan Barang , Harap Tenang atau Dilarang merokok. Dalam mendesain rambu di perpustakaan perlu memperhatikan huruf, hendaknya huruf yang sederhana mudah dibaca dari jauh dengan ukuran yang proposional. Kata-kata yang digunakan juga harus yang singkat lugas, informasi secukupnya dan konsisten. Di dalam penempatan ramburambu perpustakaan biasanya menggunakan metode digantung diplafon diatara rak, ditempel didinding atau perabot, ditempatkan berdiri diatas lantai atau perabot perpustakaan. F. Peralatan dan Perlengkapan Perpustakaan Fungsi ruang yang dirancang harus sesuai dengan aktifitas dari penghuni bangunan tersebut. Dalam hal ini, fungsi utama bangunan gedung yang direncanakan adalah untuk kegiatan perpustakaan dan arsip daerah Kabupaten Karimun. Secara definisi, gedung perpustakaan adalah bangunan yang sepenuhnya diperuntukkan bagi seluruh aktivitas sebuah perpustakaan. Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan permanent, terpisah dari gedung lain sedangkan apabila hanya menempati sebagian dari sebuah gedung atau hanya sebuah bangunan (penggunaan ruang kelas), relatif kecil disebut ruangan perpustakaan. Perabot perpustakaan adalah sarana pendukung atau perlengkapan perpustakaan yang digunakan dalam proses pelayanan pemakai perpustakaan dan merupakan kelengkapan yang harus ada untuk terselenggaranya perpustakaan. Yang termasuk perabot / perlengkapan perpustakaan antara lain : a. Rak buku b. Rak majalah c. Rak surat kabar d. Rak atlas dan kamus e. Papan peraga/pameran f. Laci penitipan tas g. Lemari catalog h. Lemari multimedia i. Lemari Arsip j. Meja dan kursi sirkulasi k. Meja dan kursi baca l. Meja dan kursi pegawai m. Kereta buku, barang n. Tangga beroda Sedangkan Peralatan perpustakaan adalah barang-barang yang diperlukan secara langsung dalam mengerjakan tugas/kegiatan di perpustakaan. Yang termasuk dalam perlengkapan perpustakaan antara lain : a. buku pedoman perpustakaan b. Buku klasifikasi c. Kartu catalog d. Buku Induk e. Kantong buku f. Lembar tanggal kembali g. Label h. Cap inventaris

i. Cap perpustakaan j. Bak stempel k. Kartu pemesanan l. Mesin ketik/Komputer m. ATK n. Selotip o. Lem dll. 5.2.3. Konsep Sirkulasi Dalam Gedung Gedung yang akan direncanakan terdiri dari lantai dasar, lantai dua, lantai tiga dan basement. Sehingga ruang sirkulasi yang disediakan tidak hanya sirkulasi horizontal namun juga sirkulasi vertical. Sirkulasi horinzontal dapat berupa ruang yang tidak digunakan untuk aktifitas utama/pendukung/penunjang seperti ruang antar rak, ruang antar meja/kursi, selasar, koridor dalam bangunan, dan lain-lain. Sedangkan sirkulasi vertical dapat berupa tangga, ram, lift barang, dan lain-lain. Kemudian, sirkulasi dalam gedung meliputi sirkulasi orang, kendaraan (basement) dan sirkulasi barang. Sirkulasi orang dapat melalui tangga dan ram (bagi penyandang cacat). Sirkulasi orang dalam hal ini terbagi menjadi dua yaitu pengunjung dan pengelola, sehingga diarahkan terpisah agar memudahkan aktivitas masing masing. Sirkulasi pengunjung dapat melalui Main Entrance di lantai dasar (pintu masuk yang menghadap Jalan Simpang SMA) menuju loby dan ruang informasi. Dari ruang informasi, pengunjung dapat menentukan tujuan selanjutnya sesuai kebutuhan, antara lain : Tempat bermain anak dan tempat komersial (lantai dasar), Teater mini, ruang koleksi dan ruang baca perpustakaan, ruang koleksi dan ruang baca arsip (lantai dua), Restoran (lantai tiga). Sirkulasi pengelola dapat melalui Entrance di lantai dasar (pintu masuk yang menghadap Jalan Trikora) menuju ruang kantor perpustakaan dan arsip (lantai tiga), kemudian menuju ruang masing masing sesuai tugasnya. Sirkulasi barang berupa buku, arsip, dan barang lainnya (komersial dan area bermain anak). Khusus untuk buku dan arsip perlu konsep sirkulasi yang bersifat kontinyu dan terpadu baik buku baru dari gudang maupun buku yang dikembalikan dari ruang lobby. Sirkulasi buku dan arsip dapat melalui lift barang/ram, dari gudang (basement) gudang dan ruang pengolahan bahan (lantai dasar) gudang dan ruang pengolahan bahan (lantai dua) ruang koleksi (lantai dua). Sedangkan sirkulsi kendaraan dalam bangunan gedung adalah sirkulasi kendaraan yang parkir di basement, dengan sistem satu arah dan 2 pintu yaitu pintu masuk dan pintu keluar. Pintu masuk dari Jalan Simpang SMA dan pintu keluar ke Jalan Trikora. Posted in Uncategorized | | | 0 Comments

Leave a reply
Name (required)

Mail (will not be published) (required)

Website

Categories

Uncategorized (5)

Archives

May 2009 March 2009

Blogroll
o o o o o

Adenium, Arabicum, dan bunga lainnya Kabupaten Karimun , kepulauan riau kampus ugm my blog yahoo pptik ugm