Anda di halaman 1dari 38

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Budaya pop saat ini tidak hanya menjadi dominasi budaya Barat, tetapi Asia juga mulai menunjukkan taringnya dengan menjadi pengekspor budaya pop. Selain Jepang, Korea pun mulai menunjukkan tajinya sebagai negara pengekspor budaya pop melalui tayangan hiburannya dan menjadi saingan berat bagi Amerika dan negara-negara Eropa. Hal ini sejalan dengan kemajuan industri hiburan Korea dan kestabilan ekonomi mereka. Selama sepuluh tahun terakhir ini, demam budaya pop Korea melanda Indonesia. Fenomena ini dilatarbelakangi Piala Dunia Korea-Jepang 2002 yang berakhir dengan masuknya Korea sebagai kekuatan empat besar dunia dalam hal persepakbolaan. Kesuksesan Korea di Piala Dunia 2002 semakin mempersohor nama Korea di mata dunia. Beberapa waktu menjelang, selama dan setelah hiruk-pikuk Piala Dunia, beberapa stasiun televisi swasta di tanah air gencar bersaing menayangkan musik, film-film maupun sinetron-sinetron Korea. Berbeda dengan budaya pop Jepang yang penikmatnya didominasi anak-anak dan remaja, budaya pop Korea ternyata mampu menjangkau segala usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa sekalipun menjadi penikmat budaya pop Korea. Menurut Kim Song Hwan, seorang pengelola sindikat siaran televisi Korea Selatan, produk budaya Korea berhasil menjerat hati penggemar di semua kalangan terutama di Asia disebabkan teknik pemasaran Asian Values-Hollywood Style. Artinya, mereka mengemas nilai-nilai Asia yang dipasarkan dengan gaya modern. Istilah ini mengacu pada cerita-cerita yang dikemas bernuansakan kehidupan Asia, namun pemasarannya memakai cara internasional dengan mengedepankan penjualan nama seorang bintang atau menjual style. Globalisasi budaya pop Korea atau yang lebih dikenal dengan Korean Wave (Hallyu) ini berhasil mempengaruhi kehidupan masyarakat dunia. Hasil

diskusi dalam rangka memperingati hari jadi Jurusan Korea di Universitas Gadjah mada menyatakan bahwa Korea pada abad 21 dapat dikatakan berhasil menyaingi Hollywood dan Bollywood dalam melebarkan sayap budayanya ke dunia internasional. Berbagai produk budaya Korea mulai dari drama, film, lagu, fashion, hingga produk-produk industri menghiasi ranah kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia. Bukan hanya di kawasan Asia tetapi sudah merambah ke Amerika dan Eropa. Beberapa film Korea diadopsi Hollywood dan di re-make seperti IlMare, My Wife is a Gangster, My Sassy Girl, Hi dan Dharma. Saat ini artis Korea pun sudah masuk jajaran artis Hollywood. Sebut saja Rain yang sukses dengan film Ninja Assasin dan meraih penghargaan Biggest Badast mengalahkan Angelina Jolie. Selain itu, produk-produk elektronik yang sering digunakan dalam tayangan Korea tak kalah tenarnya. Kita bisa berkaca dengan kesuksesan Samsung dan LG, dua merek elektronik internasional milik Korea. Kedua merek ini tentunya tidak asing lagi digunakan baik dalam sinetron maupun film Korea. Bahkan, Menurut beberapa situs forum Korea Lovers, penggemar Korea mengutarakan salah satu alasan mereka menggunakan dua produk ini karena selain memberikan kenyamanan dan kemudahan dalam penggunaan, juga karena produk ini digunakan oleh ikon pop Korea. Tidak bisa dipungkiri, saat ini tengah berlangsung Korean Wave. Hal ini mengacu pada popularitas tayangan hiburan Korea Selatan yang meningkat secara signifikan di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Meluasnya Korean Wave ini tidak bisa dilepaskan dari peran media massa yang secara sadar maupun tidak telah membantu terjadinya aliran budaya ini. Bisa dikatakan bahwa karena media massa-lah Korean Wave dapat memasuki semua sudut negara-negara Asia tak terkecuali Amerika dan Eropa. Mengacu pada banyaknya jumlah penggemar Korea saat ini, maka terbentuklah basis penggemar Korea yang dikenal dengan sebutan Korea Lovers. Mereka secara rutin saling bertemu dan berkomunikasi, saling tukar menukar informasi. Bahkan mengganti nama-nama panggilan mereka dengan nama-nama Korea. Cara bicara mereka juga unik, yaitu dengan menyelipkan

istilah-istilah dalam bahasa Korea. Tidak sampai disitu saja, mereka juga terobsesi untuk mempelajari bahasa Korea. Efeknya, saat ini tempat kursus bahasa Korea semakin menjamur. Tak ketinggalan pula, segala atribut yang berlabel Korea menarik minat mereka, mulai dari produk-produk elektronik, alat make-up, fashion, restoran makanan khas Korea, festival budaya Korea menjadi incaran fandom. Mereka berusaha untuk menunjukkan identitas keKorea-an mereka lewat produk-produk yang mereka gunakan. Korean Wave mampu mempengaruhi pola hidup dan cara berpikir masyarakat yang dipengaruhi. Hal ini lah yang disadari pemerintah Korea, bahwa dengan merebaknya Korean Wave, akan membuka jalan bagi kemajuan ekonomi Korea. Pemerintah Korea menyadari betul potensi Korean Wave sehingga rela mengucurkan dana untuk membiayai produksi hiburan mulai dari film, sinetron hingga musik. Biaya besar yang dikucurkan pemerintah Korea memang tidak sia-sia. Terbukti, setelah merebaknya Korean Wave, pendapatan negara meningkat dari sektor pariwisata. Menurut situs www.kbs.co.kr , sekitar 8,5 juta wisatawan asing berkunjung ke Korea di akhir tahun 2010. Jumlah ini sangat jauh berbeda dibandingkan tahun 2000 saat Korean Wave belum setenar sekarang, yaitu sekitar 1,5 juta wisatawan asing saja. Belum lagi dari sektor industri. Peningkatan penjualan juga terjadi pada produk-produk Korea yang sering digunakan para artis Korea. Selain itu, secara tidak langsung hal ini tentunya dapat meningkatkan citra nasional Korea. Penyebaran pengaruh Korean Wave bukan hanya meningkatkan peluang untuk melaksanakan pertukaran budaya,

meningkatkan interaksi budaya tetapi juga menjadi sarana untuk melegalkan ideologi Korea agar mudah diterima dunia Internasional. Ideologi merupakan sekumpulan ide-ide yang menyusun sebuah kelompok nyata, sebuah representasi dari sistem atau sebuah makna dari kode yang memerintah bagaimana individu dan kelompok melihat dunia. Berbicara tentang dominasi ideologi berarti juga terkait dengan hegemoni. Hegemoni adalah proses dominasi, dimana sebuah ide

menumbangkan atau membawahi ide lainnya. Hegemoni tercipta karena

kemajuan media serta pengalaman populer kita terkait dengan konsumsi. Media menciptakan populer dengan mengonsumsi barang-barang komoditi. Ini merupakan bagian dari kapitalisme konsumsi. Terjadi penyeragaman rasa, baik dalam konsumsi barang-barang fisikal sampai dengan ilmu. Penyamaan rasa ini bisa menjadi salah satu landasan penting dalam kohesi sosial. Contoh nyata hegemoni budaya pop Korea adalah bergesernya penilaian selera mengenai pria idaman. Sebelum masuknya budaya pop Korea di Indonesia, masyarakat kita mengacu pada aktor Hollywood yang macho. Namun, setelah masyarakat mulai menggandrungi tayangan Korea baik itu film, sinetron, maupun musik, mereka cenderung beralih menyukai pria dengan gaya cute, imut, putih dan tinggi ala aktor Korea. Belum lagi pakaian ataupun produk produk yang digunakan artis Korea. Para artis Korea kini menjadi ikon dan seolah semua yang digunakan ataupun dilakukan mereka ditiru oleh penggemar budaya pop Korea. Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia pun tidak luput dari pengaruh Korean Wave. Kegilaan fandom di kota Lunpia ini boleh dikatakan tidak jauh berbeda dibandingkan kota besar lainnya di Indonesia. Di sepanjang jalan dan pusat perbelanjaan dapat dengan mudah kita temui pengaruh Korean Wave. Remaja di Semarang banyak yang telah mengadopsi fashion Korea untuk kesehariannya. Bukan hanya dari segi fashion, alat make-up, alat elektronik dan gadget buatan Korea pun menjadi incaran. Tempat penyewaan dan penjualan VCD dan DVD Korea pun semakin laris. Belum lagi tempat-tempat kursus bahasa Korea yang semakin menjamur seiring dengan meningkatnya minat untuk belajar bahasa Korea. Tidak ketinggalan pula Korea Lovers yang menganggap dirinya memiliki identitas ke-Korea-an yang tinggi menghimpun teman-temannya membentuk fandom artis Korea atau dikenal sebagai Korea Lovers. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengangkat judul BUDAYA POP DAN GAYA HIDUP (STUDI KASUS KOREA LOVERS DI SEMARANG)

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka disusun rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh mengonsumsi tayangan hiburan Korea terhadap gaya hidup Korea Lovers di Semarang? 2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan tingkat pengaruh media terhadap individu Korea Lovers?

C. Tujuan Penulisan Makalah 1. Untuk mengetahui pengaruh mengonsumsi tayangan hiburan Korea terhadap gaya hidup Korea Lovers di Semarang 2. Untuk mengetahui faktor faktor yang menyebabkan perbedaan tingkat pengaruh media terhadap individu Korea Lovers

D. Metode Penelitian 1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlangsung di Semarang. Waktu penelitian adalah Minggu, 17 juni 2012. 2. Tipe Penelitian Tipe penelitian ini bersifat kualitatif. Fokus penelitian ingin melihat bagaimana pengaruh budaya pop Korea yang saat ini tengah mewabah di tengah masyarakat diadopsi sedemikian rupa sehingga mempengaruhi gaya hidup mereka, baik itu dari segi fashion, selera mereka dalam memilih produk serta hubungan mereka dengan lingkungan sekitar.

3. Subjek Penelitian Subjek penelitian dalam studi kasus ini terdiri atas 2 orang yang merupakan Korea Lovers di Semarang. Data informan yang menjadi sampel dalam studi kasus Korea Lovers adalah sebagai berikut: a. Subjek 1 (Mila): Perempuan, usia 19 tahun, Islam, belum menikah, pelajar, mengenal Korea sejak 2009. penggemar k-pop sebagai prioritas utama, juga menyenangi drama, film dan variety show Korea. b. Subjek 2 (Sarah): Perempuan, usia 19 tahun, Islam, belum menikah, mahasiswi, mengenal Korea sejak 2009, penggemar film Korea sebagai prioritas utama, juga menyukai drama, k-pop dan variety show

BAB II PEMBAHASAN A. Dunia Hiburan, Peretas Jalan Budaya Pop Korea Sejak akhir 1990-an, peningkatan jumlah konten kebudayaan populer korea termasuk drama televisi, film, lagu-lagu pop dan sejumlah artis yang terkait telah memperoleh popularitas besar di negara-negara Timur dan Asia Tenggara. Media massa dan majalah bisnis telah mengakui munculnya budaya populer Korea di Asia dengan menyebut itu sebagai kepopuleran budaya korea (Hallyu dalam bahasa Korea). Menurut Segers yang pernah meneliti booming budaya pop Korea, The Associated Press melaporkan di bulan Maret 2002: Sebut saja kim chic . Semua hal yang berbau Korea dari makanan dan musik sampai bentuk alis dan gaya sepatu menjadi tren di Asia, di mana budaya pop telah lama didominasi oleh Tokyo dan Hollywood. Menurut Hollywood Reporter, Korea telah berubah dari sebuah sinema lokal menuju pasar film terpopuler di Asia . Sekitar satu dekade yang lalu, budaya populer Korea tidak memiliki kapasitas ekspor, dan bahkan tidak diakui oleh para peneliti. Sebagai contoh, edisi 1996 The Oxford History of World Cinema tidak membuat referensi bioskop Korea, meskipun mereka memberikan perhatian kepada kepada Taiwan, Hong Kong, Cina dan film Jepang. Musik Korea juga diabaikan oleh para peneliti, seperti yang dapat dilihat dalam komentar berikut di World Music: The Rough Guide yang diterbitkan pada tahun 1994: Negara ini telah mengembangkan ekonomi dengan kecepatan yang mengejutkan, namun dalam hal musik tidak sebanding dengan perkembangan luar biasa pada suara kontemporer Indonesia, Okinawa, atau Jepang

Oleh karena itu, Orang Korea awalnya tidak percaya pada berita kepopuleran tayangan Korea yang kini banyak memikat orang orang luar negeri. Korea telah lama melakukan perjuangan untuk kelestarian budaya yang dihadapkan dengan serangkaian ancaman dominasi budaya asing.

Karena mendalamnya kesadaran underdog kesadaran dalam hal pertukaran budaya, sehingga tidak mudah bagi mereka untuk percaya berita tentang fenomena kepopuleran kebudayaan korea. Film dan lagu dari Korea juga disertai dengan popularitas drama televisi Korea di Asia. Sebagai contoh, boy band H.O.T. menempatkan dirinya berada di urutan atas tangga lagu pop di Cina dan Taiwan pada tahun 1998, band ini sangat populer sehingga penjualan album terus berlanjut selama beberapa waktu bahkan setelah band mereka bubar pada pertengahan 2001. Pada tahun 2002, sensasi debut album remaja pop Korea BoA, mencapai urutan teratas di Oricon Weekly Chart, urutan tangga lagu Jepang yang setara dengan American Billboard Charts. Lagu-lagu dan gerakan tari dari band-band Korea seperti Wonder Girls, Super Junior dan Girls Generation begitu populer di Kamboja dan Thailand saat ini, sehingga banyak fans dan penyanyi lokal juga meniru gerakan mereka. Sejak akhir 1990-an, film-film Korea juga telah menerima pujian penting dan menarik penonton yang besar di seluruh Asia. Hal ini tentunya akan menambah pemasukan Korea Selatan. Dengan latar belakang ini, bintang Korea telah membuat dampak besar pada budaya konsumsi, termasuk makanan, fashion, trend make-up, dan bahkan operasi plastik. Tidak sulit untuk menemukan remaja Asia yang menghias ransel mereka, notebook, dan kamar dengan foto-foto bintang Korea. Melihat obsesi mereka dengan budaya Korea, para fans dari luar negeri ingin belajar bahasa Korea dan pergi ke Korea. Sebagai contoh, jumlah peserta uji kelancaran dalam berbahasa Korea (Test of Proficiency in Korean: TOPIK) di seluruh dunia telah meningkat menjadi 189.320 pada tahun 2009 dari 2.692 pada tahun 1997, sebagian besar disebabkan oleh drama televisi Korea. Biro pariwisata di Asia Tenggara menjual wisata kelompok bertema drama televisi Korea. Berkat Kepopuleran kebudayaan korea, Korea National Tourism Organization (KNTO) mengembangkan program perjalanan untuk mendapatkan lebih banyak wisatawan luar negeri. Program perjalanan ini berupa wisata ke tempat-tempat syuting film Korea. Hasilnya di luar

ekspektasi, bahkan sangat luar biasa. Peningkatan jumlah wisatawan luar negeri meningkat pesat dari 1,5 juta di tahun 2000 menjadi 8,5 juta di akhir tahun 2010..

B. Demam K-Pop Melanda Dunia K-pop, kepanjangannya Korean Pop ("Musik Pop Korea"), adalah jenis musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Kegandrungan akan musik K-Pop merupakan bagian yang tak terpisahkan daripada Demam Korea (Korean Wave) di berbagai negara. Musik pop Korea pra-moderen pertama kali muncul pada tahun 1930an akibat masuknya musik pop Jepang yang juga turut memengaruhi unsurunsur awal musik pop di Korea. Penjajahan Jepang atas Korea juga membuat genre musik Korea tidak bisa berkembang dan hanya mengikuti perkembangan budaya pop Jepang pada saat itu. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pengaruh musik pop barat mulai masuk dengan banyaknya pertunjukkan musik yang diadakan oleh pangkalan militer Amerika Serikat di Korea Selatan. Musik Pop Korea awalnya terbagi menjadi genre yang berbeda-beda, pertama adalah genre "oldies" yang dipengaruhi musik barat dan populer di era 1960-an. Pada tahun 1970-an, Genre lain yang cukup digemari adalah musik Trot yang dipengaruhi gaya musik enka dari Jepang. Selanjutnya musik rock diperkenalkan dengan pionirnya adalah Cho Yong-pil. Kemudian setelah era Cho Yong-Pil, kelompok musik Seo Taiji and Boys menandakan awal kemunculan era musik pop modern di korea pada tahun 1992 memberi sentuhan berbeda yang menggabungkan musik rap, techno dan rock Amerika yang kemudian menjadi K-pop saat ini. Kesuksesan kelompok musik Seo Taiji and Boys juga menginspirasi grup musik seperti Panic dan Deux yang pada akhirnya juga mendulang kesuksesan dengan musik K-pop. Pada tahun 90 an musik pop yang berkembang cenderung terpengaruh oleh musik dance dan hip hop. Sasaran utama musik pop pada era itu adalah anak muda, sehingga jangan heran dekade ini banyak grup teen idol yang

bermunculan dan paling digandrungi seperti H.O.T, CLON, S.E.S, Sechs Kies, g,o.d. Namun sayang banyak dari grup musik ini pada akhirnya bubar dan personilnya pun bersolo karir untuk mencari kesuksesan masing-masing Di tahun 2000-an pendatang-pendatang baru berbakat mulai bermunculan. Aliran musik R&B serta Hip-Hop yang berkiblat ke Amerika mencetak artis-artis semacam MC Mong, 1TYM, Rain, Big Bang yang cukup sukses di Korea dan luar negeri. Beberapa artis underground seperti Drunken Tiger, Tasha (Yoon Mi-rae) juga memopulerkan warna musik kulit hitam tersebut. Musik rock masih tetap digemari di Korea ditambah dengan kembalinya Seo Taiji yang bersolo karier menjadi musisi rock serta Yoon Do Hyun Band yang sering menyanyikan lagu-lagu tentang nasionalisme dan kecintaan terhadap negara. Musik techno memberi nuansa moderen yang tidak hanya disukai di Korea saja, penyanyi Lee Jung-hyun dan Kim Hyunjung bahkan mendapat pengakuan di Cina dan Jepang. Musik balada masih tetap memiliki pendengar yang paling banyak di Korea. Musik balada Korea umumnya dikenal dengan lirik sedih tentang percintaan, seperti yang dibawakan oleh Baek Ji Young, KCM, SG Wannabe, dan sebagainya. Musik balada umumnya digemari karena sering dijadikan soundtrack drama-drama televisi terkenal seperti Winter Sonata, Sorry I Love You, Stairway to Heaven dan sebagainya.. Tak ketinggalan pula, banyak peggemar musik k-pop dari berbagai belahan dunia seperti Amerika, Eropa, bahkan di negara Arab sekali pun membuat video amatir dengan melakukan lipsing lagu-lagu k-pop dan mengunduhnya di Youtube. K-pop di masa sekarang, lebih banyak didominasi boy-band dan girl band. Sebut saja Super Junior dan Wonder Girls yang menjadi icon dan paling banyak diminati di dalam maupun di luar Korea. Ciri khas boy band dan girl band K-pop adalah memadukan unsur menyanyi dengan dance. Hal inilah yang membuat banyak remaja tergila-gila. Tarian dance ala Korea pun banyak ditiru oleh para penggemarnya. Selain perpaduan musik, tari dan suara yang keren, wajah tampan dan cantik ikut menunjang kepopuleran boy band dan girl band Korea.

10

Perjuangan mereka patut dicermati. Sukses dari program magang yang diadakan agensi musik di Korea seperti SM Entertainment dan DSP Entertainment selama beberapa tahun sebelum akhirnya mereka dapat mengeluarkan album sendiri. Menjadi seorang artis di korea tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus mereka korbankan. Motto mereka penggemar adalah segalanya. Jadi, mereka berusaha menampilkan yang terbaik dan bahkan rela mematuhi kontrak untuk tidak pacaran atau bahkan menikah selama masih terikat kontrak demi menjaga perasaan para fans-nya. Artis Korea dituntut tidak hanya memiliki satu skill. Mereka juga dilatih untuk memiliki kemampuan akting plus nyanyi agar bisa bersaing di pasaran. Selain itu, dari segi skill saja tidak cukup, mereka juga wajib memiliki nilai raport di atas rata-rata bagi yang masih menempuh pendidikan dan menjaga agar nilai mereka tidak anjlok selama menjadi artis. Saat nilai sekolah anjlok, maka mereka harus bersiap-siap untuk dikeluarkan dari manajemen artis yang menaunginya. Tak pelak, kisah mereka juga menarik CNN World yang menurunkan fenomena Korean Wave dalam segment Talk Asia. Ternyata, Korean wave menyebar ke negara di luar Korea berkat teknologi canggih macam social networking yang sedang berkembang (Facebook, Twitter, Youtube). Hal ini membuat para idola semakin dekat dengan penggemar mereka yang berada di luar Korea. Agensi musik mereka pun juga membenarkan dengan adanya Youtube sangat membantu menyebarkan kiprah sang idola ke berbagai negara. Kepopuleran Youtube di dunia dapat menyebarkan videoklip musik terbaru dari idola mereka dengan cukup mengetikkan judul lagunya saja. Youtube membantu pasar agensi musik yang ada di luar Korea tanpa harus membuka cabang di negara tersebut. Dengan adanya Youtube, idola K-Pop banyak yang memiliki penggemar dari seluruh dunia.

C. Korean Wave di Indonesia Korea Selatan adalah salah satu pemain baru yang sukses memasok produk-produk budayanya di pasar global. Gelombang kebudayaan modern

11

Korea atau yang sering disebut Korean Wave/Hallyu sejak tahun 1990-an telah menyapu banyak negara di Asia dan kawasan lainnya. Di Indonesia sendiri, gelombang Hallyu mulai dirasakan sejak tahun 2000-an ketika filmfilm Korea banyak diputar di televisi nasional dan mendapat sambutan hangat dari para pemirsa. Sebelum diterjang oleh gelombang Korea, Indonesia juga sudah diterjang lebih dahulu oleh gelombang India, Jepang, Eropa, Latin, dan tentu saja Amerika. Masyarakat Indonesia pun menerima hal tersebut dengan tangan terbuka, bukan hanya dramanya saja yang dikenal di Indonesia, melainkan juga bahasa, produk, bahkan perusahaan-perusahaan Korea menjamur di Indonesia. Maka berbagai respon pun bermunculan menanggapi terjangan budaya asing di negeri kita. Merebaknya Hallyu di negara-negara Asia Timur dan beberapa negara Asia Tenggara termasuk Indonesia telah menunjukkan adanya aliran budaya dari Korea ke negara-negara tetangganya. Terlepas dari dampak panjang yang akan terus berlanjut, Hallyu memang suatu fenomena tersendiri dalam dunia industri hiburan modern Korea. Dalam situasi dunia di mana pertukaran informasi terjadi hampir tanpa halangan apa pun, Korea telah menjejakkan pengaruhnya di kawasan Asia. Melihat meluasnya Hallyu ini, sekali lagi tidak bisa dilepaskan dari peran media massa yang baik secara sadar maupun tidak telah membantu terjadinya aliran budaya ini. Bahkan bisa dikatakan bahwa dengan media massa-lah Hallyu memasuki semua sudut negara-negara Asia termasuk Indonesia. Perubahan yang dialami oleh industri budaya pop Korea, baik produk budaya televisi, film, maupun industri rekaman merupakan suatu fenomena yang menarik untuk dikaji. Sebagai sebuah negara yang banyak diperhitungkan kiprahnya di kawasan Asia, Korea tidak bisa begitu saja dilihat sebelah mata. Banyak hal yang bisa dipelajari dari fenomena itu, terutama bagaimana semua pihak di dalam negeri bersatu padu membuat fenomena tiba-tiba itu menjadi suatu komoditas yang berharga bagi bangsa.

12

Sinetron dan film Korea yang ditayangkan televisi Indonesia mulai dapat dilihat perkembangannya sejak berlangsungnya Piala Dunia pada Juli 2002 yang lalu. Dengan adanya momentum tersebut beberapa stasiun televisi Indonesia mulai memperkenalkan sinetron dan film dari negara Korea. Setelah sukses dengan film seri drama Mandarin, Meteor Garden, stasiun televisi Indosiar menayangkan drama produksi Korea yaitu Endless Love (2002). Sinetron produksi stasitun televisi KBS (Korean Broadcasting Station atau televisi pemerintah Korea) yang di negara asalnya meraih sukses yang besar telah dibeli hak siarnya untuk diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia saat itu. Dimulai dengan sinetron inilah ternyata sinetron Endless Love berhasil merebut hati masyarakat Indonesia. Bila Meteor Garden awalnya ditujukan bagi pemirsa dewasa namun ternyata disukai para remaja juga, Endless Love sebaliknya. Sinetron yang diputar tahun 2002 yang lalu itu tidak hanya digemari remaja, tetapi juga ibu-ibu. Berdasarkan survei AC Nielsen Indonesia, Endless Love rating-nya mencapai 10 (ditonton sekitar 2,8 juta pemirsa di lima kota besar), mendekati Meteor Garden dengan rating 11 (sekitar 3,08 juta pemirsa) (Kompas, 14 Juli 2003). Endless Love terbukti saat itu menjadi pilihan lain bagi penggemar sinetron Asia di tanah air. Sinetron dengan 18 episode ini telah menjadi semacam batu loncatan sinetron-sinetron Korea lainnya untuk bisa diterima di masyarakat Indonesia. Hal ini mengingatkan bagaimana pada tahun era 90-an akhir, televisi Indonesia dipenuhi dengan melambungnya pamor sinetron Jepang. Dengan sedikit perbedaan, hadirnya sinetron Korea di Indonesia merupakan sesuatu yang baru bagi masyarakat Indonesia, baik dari segi cerita maupun wajah-wajah para pemainnya yang tidak begitu Mandarin dan tidak begitu Jepang. Didukung oleh merebaknya teknologi dubbing dan bilingual programming, sinetron Korea yang ditayangkan dapat diterima oleh pemirsa televisi. Bahkan stasiun televisi lain pun juga mulai menayangkan sinetron Korea. Trans TV pada tahun 2002 yang lalu menayangkan sinetron Glass Shoes dan Lover. TV7 pada tahun 2003 menayangkan Beautiful Days. Walaupun rating ketiga sinetron tersebut tidak sehebat sinetron Korea

13

lainnya, hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2002-2003 mulai marak penayangan sinetron Korea. Selain Indosiar, Trans TV, dan TV7, SCTV pun selama kurun waktu 2002 -2003 juga menayangkan beberapa sinetron Korea berjudul Invitation, Pop Corn, Four Sisters, Successful Bride Girl, Sunlight Upon Me dan Winter Sonata. Namun, di antara sinetron-sinetron tersebut, yang paling popular dan mendapatkan hati di masyarakat Indonesia adalah sinetron Winter Sonata. Khusus sinetron yang disebut terakhir ini, SCTV telah menayangkannya pada tahun 2002 setiap Senin pukul 19.00. Sedangkan, sejak September 2004 ini, Indosiar juga menayangkan ulang sinetron ini setiap Senin Kamis sore pukul 15.30. Melihat fenomena seperti ini, satu hal yang bisa dilihat adalah besarnya keinginan sebagian masyarakat Indonesia untuk menonton sinetron ini walaupun telah ditayangkan sebelumnya. Melihat kesuksesan dari Sinetron Endless Love dan Winter Sonata di Indonesia dengan rating yang tinggi dalam perolehan jumlah penonton selama penayangannya, kedua sinetron ini juga telah memberikan warna baru dalam sinetron Asia yang marak ditayangkan di televisi-televisi tanah air. Selain drama, film Korea pun juga tidak luput dari incaran para stasiun televisi tanah air pada tahun 2002 yang lalu. Trans TV mulai pada tahun 2002 menayangkan film-film Asia terutama Korea pada Selasa malam. Beberapa contoh film produksi Korea yang telah tayang di Trans TV adalah Libera Me, Sorum, dan Joint Security Area. Yang patut diketahui adalah bahwa ketiga film tersebut bukan sekedar film biasa namun merupakan filmfilm box office di negerinya sendiri. Hal yang menarik dari film-film tersebut adalah bahwa mereka diproduksi oleh perusahaan film kelas menengah dalam arti perusahaan film Korea tidaklah sebesar Sony (Jepang) atau Warner Bros (Hollywood) yang memang memiliki distribusi internasional yang luas. Namun demikian, terlepas dari kenyataan tersebut, mereka berhasil menjual produksi mereka ke pasaran negara lain, khususnya Asia termasuk Indonesia melalui jalur video dan VCD.

14

Tidak bisa dipungkiri, budaya pop Korea memiliki efek domino bagi penikmatnya.Misalnya saja, saat menyaksikan sebuah drama korea, kita akan diseret tanpa sadar untuk menikmati film serta musiknya. Korean Wave memiliki kekuatan yang membuai kita untuk menikmati tidak hanya satu jenis hiburan saja. Berikut ini beberapa dampak Korean Wave bagi penikmatnya: 1. Mulai dikenalnya produk sinetron Korea di Indonesia 2. Mulai dikenalnya wajah-wajah baru pemain sinetron Korea 3. Munculnya klub-klub penggemar pemain sinetron Korea (Fans Club) 4. Munculnya forum tukar informasi seputar sinetron, film, berikut aktor dan aktris Korea di dunia maya (internet) 5. Munculnya situs-situs internet di Indonesia yang berhubungan dengan sinetron/drama Korea dan film Korea 6. Munculnya VCD, DVD film Korea, kaset, dan CD lagu-lagu sinetron Korea di pasaran Indonesia 7. Munculnya ringtone lagu-lagu sinetron Korea Para penggemar atau yang biasa disebut fandom Korea merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kesuksesan Korean Wave. Fandom mendukung tetap hidup dan berkembangnya Korean Wave di berbagai negara termasuk di Indonesia. Dengan memelihara basis penggemarnya, Korean Wave mampu bertahan hingga sekarang. Fandom Korea ada dimana-mana. Terbukti banyaknya situs dari berbagai bahasa yang membahas tentang Korea. Selain itu, menjamurnya video di Youtube dari berbagai negara yang meniru aksi idola k-pop mereka.

15

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Hasil Penelitian Data hasil penelitian diperoleh dari teknik wawancara dan observasi langsung ke lokasi yang menjadi tempat penelitian. Wawancara dilakukan terhadap 2 orang responden yang dianggap representatif terhadap objek masalah dalam penelitian. Budaya pop Korea yang ada sangat bervariasi dan luas, namun berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti terhadap fandom Korea di Semarang, konsumsi budaya pop Korea yang dominan dapat

dikategorisasikan menjadi tiga, yaitu: 1. 2. 3. Penggemar yang menyukai film Korea Penggemar yang menyukai k-drama Penggemar yang menyukai k-pop Peneliti melakukan kategorisasi terhadap tiga jenis budaya pop Korea tersebut karena dianggap paling banyak peminatnya dan mendominasi dibandingkan budaya pop Korea lainnya seperti kartun, atau komik dan bukubuku terjemahan Korea. Selain itu, sebagai penikmat budaya pop Korea, para responden ternyata menyukai ketiga jenis budaya pop ini. Mereka tidak hanya menikmati satu jenis budaya pop Korea, sehingga peneliti tidak akan melakukan kategorisasi terhadap mereka yang menggemari musik, film atau drama mengingat budaya pop Korea memiliki efek domino. Penelitian ini bertujuan untuk mencari data pada level individu , yaitu para penggemar budaya pop Korea. 1. Pengaruh Tayangan Korea Terhadap Gaya Hidup Dalam penelitian ini terdapat dua orang responden dengan karakteristik sebagai berikut:

16

a. Subjek 1 (Mila): Perempuan, usia 19 tahun, Islam, belum menikah, pelajar, mengenal Korea sejak 2009. penggemar k-pop sebagai prioritas utama, juga menyenangi drama, film dan variety show Korea.

Mila mengenal Korea sejak tahun 2009 melalui drama yang disiarkan televisi swasta saat itu. Sejak saat itu, Mila menjadi penonton setia drama Korea. Awalnya ia hanya mengonsumsi drama Korea melalui stasiun nasional, tetapi tanpa sengaja Mila menemukan channel KBS dan Arirang yang menayangkan Korea. Mulai dari situ Mila mengonsumsi tayangan Korea dari stasiun tersebut. Selain menonton drama Korea, Mila juga akhirnya sering membeli DVD film Korea. Karena seringnya menonton sproduk hiburan Korea, Mila jadi sering searching di internet dan membaca berbagai literature tentang tayangan hiburan Korea serta mendownload variety show Korea. Waktu sudah mulai akrab dengan Korea, saya rajin searching di internet karena penasaran. Kemudian, saya menemukan banyak artikel tentang Korea. Tidak menyangka saja bahwa Korea sepopuler itu (17/06/2012)

Dari kegemarannya internetan, ia akhirnya masuk berbagai forum penggemar Korea di beberapa website. Melalui forum inilah Mila memiliki banyak teman sesama pecinta Korea. Mereka saling tukar menukar informasi seputar Korea. Mila merasa artis k-pop ini sangat energetic dan keren. Saat itu, sedang booming-booming nya boy band Super Junior. Mulai dari situ, Mila memantapkan diri menjadi penggemar boy band ini. Mila aktif mengikuti perkembangan Super Junior. Kefanatikannya terhadap Korea sebenarnya kurang mendapat dukungan dari orang tuanya. Setelah sibuk dengan fandomnya, Mila jarang di rumah. Lagipula, statusnya yang sudah berkeluarga menjadi hambatan baginya untuk memiliki waktu yang leluasa. Ditambah lagi, lingkungan sekitar yang kurang mendukung berhubung Mila tinggal di

17

daerah pesantren yang notabene warga di sana lebih aktif di organisasi keagamaan kompleksnya.

b. Subjek 2 (Sarah): Perempuan, usia 19 tahun, Islam, belum menikah, mahasiswi, mengenal Korea sejak 2009, penggemar film Korea sebagai prioritas utama, juga menyukai drama, k-pop dan variety show Korea.

Sarah mulai tergila-gila dengan budaya pop Korea sejak tiga tahun lalu saat dia masih duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMA), tahun 2009. Saat itu, drama Boys Before Flower sedang boomingboomingnya. Para pemainnya yang memiliki wajah tampan membuat serial Korea ini dinanti para penggemarnya, tak terkecuali Sarah. Seiring banyaknya peminat serial Korea, menjamurlah serial-serial dari negeri ginseng tersebut di berbagai stasiun televisi. Sarah yang saat itu memang sudah mulai menyukai serial korea, akhirnya menjadi penonton setia. Mulai dari situ, ia terus mengikuti perkembangan film Korea yang diputar di stasiun televisi nasional. Namun tidak hanya sampai disitu, ia juga mulai melirik film-film besutan sutradara Korea yang banyak dijual di mall-mall atau di toko kaset. Semakin banyak referensi film yang ia dapatkan membuatnya makin ketagihan menyaksikan film maupun drama Korea. Ia bahkan kini tidak lagi mesti menunggu jadwal penayangan film maupun drama Korea di televisi maupun di bioskop karena membeli DVD dianggapnya alternatif yang lebih bagus daripada harus mengikuti jadwal penayangan di stasiun televisi. Hal ini juga didukung dengan menjamurnya penjualan DVD Korea. Menurut saya, agak membosankan menunggu jadwal tayang serial drama Korea setiap hari. Jadi, saya mencari DVD nya supaya bisa menonton sepuas hati. Mulai dari situ saya melihat ternyata DVD yang dijual tidak hanya drama Korea tapi juga film. Dari situ, saya mencoba untuk menonton filmnya. Ternyata film-film Korea punya cerita yang seru dan beragam. Sejak saat itu saya terus membeli DVD

18

film dan drama Korea. Bahkan sekarang saya punya penjual langganan di mall yang selalu memberikan info jika ada DVD Korea terbaru (17/06/2012) Setelah mengoleksi berbagai kaset film, dan drama sekaligus, perhatiannya juga mulai terbagi pada boy band dan girl band Korea yang ikut menangguk kesuksesan dengan terkenalnya Korea di berbagai belahan dunia sebagai eksportir film dan drama. Selain mengkonsumsi drama dan film saya juga suka k-pop. Terutama Super Junior, SS501 dan Wonder Girls. Artis k-pop punya ciri khas tersendiri. Mereka memadukan musik dan dance yang keren (17/06/2012)

Awalnya, Sarah mengaku tidak menyukai boy band dan girl band tersebut karena dianggap lebay dan sekumpulan orang yang hanya bisa menyanyi rombongan dengan mengandalkan penampilan fisik semata. Bahkan ia menganggap boy band Korea sebagai sekumpulan banci. Namun, pandangan negatifnya terhadap artis k-pop tersebut berubah setelah menyaksikan sebuah reality show di Youtube yang membahas tentang kehidupan para artisnya. Jujur, saat teman memperlihatkan video klip sebuah boy band Korea, saya ilfeel. Menurut saya aneh saja ada sekumpulan cowok menyanyi rombongan dengan menggunakan bedak dan lipgloss; seperti banci. Tapi pikiran saya berubah total saat menyaksikan sebuah reality show yang di download teman saya lewat Youtube. Reality show itu menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari para artis k-pop. Ternyata mereka tidak seperti yang saya bayangkan. Mereka cukup macho dalam kesehariannya saat mereka tidak manggung. Berdandan saat di panggung ternyata memang sebuah tuntutan profesi dan mereka melakukan hal itu karena tuntutan profesi. (17/06/2012)

19

Saat ada orang-orang di sekitarnya yang mulai mencemooh boy band dan girl band Korea seperti yang dilakukannya dulu, ia merasa gusar. Saya gampang kesal saat bertemu dengan orang yang menjelek jelekkan artis k-pop, walaupun awalnya saya juga dulu seperti itu. tapi hal ini memberikan saya sebuah pelajaran untuk tidak men-judge sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik. Saya harap orang lain juga berpikiran sama. Kita tidak berhak men-judge artis k-pop karena dandanannya. Mungkin itu sudah menjadi sebuah culture bagi para artis di sana untuk ber-make up, tidak peduli cowok maupun cewek (17/06/2012)

Budaya pop Korea bisa dibilang sudah menjadi bagian dari siklus hidupnya. Setiap hari, rata-rata Sarah mengonsumsi tayangan Korea kurang lebih enam jam. Ia mengaku hampir setiap hari setelah pulang kuliah, Sarah langsung menonton film dan drama Korea dalam bentuk DVD atau menonton video klip dari Youtube.

2. Efek Terbatas Media Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap subjek, dapat dilihat bagaimana mereka mengenal budaya pop Korea. Kedua subjek mulai mengonsumsi budaya pop Korea melalui media massa. Tak bisa ditampik bahwa arus globalisasi menyebabkan pemanfaatan teknologi dan komunikasi melalui media massa merupakan hal yang lumrah dan paling banyak digunakan masyarakat dewasa ini. Penyebaran budaya pop melalui media adalah solusi paling ampuh untuk menjalankan ekspansi budaya. Sebagaimana yang diungkapkan Sarah bahwa ia mulai mengenal Korea melalui tayangan drama televisi. Korea sebagai salah satu Negara yang berhasil melakukan ekspansi budaya melalui tayangan hiburan tahu betul bagaimana memosisikan media sebagai alat untuk menyebarkan ideologinya yang dikemas dalam bentuk hiburan baik melalui drama, film dan k-pop.

20

Bukan hanya Sarah yang mengenal Korea pertama kali lewat media massa. Mila pun seperti itu. Media massa sepertinya memang sangat jitu dalam penyebaran budaya pop. Ideologi yang disebarkan Korea melalui tayangan hiburan merupakan suatu strategi jitu. Ideologi di sini dipahami bukan untuk mendominasi pemikiran dan pandangan melainkan untuk menanamkan secara tidak sadar image positif dari Negara Korea. Hal ini bertujuan agar dan berbagai produk ekonominya dapat diterima dengan mudah di dunia Internasional. Hal ini diutarakan oleh kedua informan: Subjek 01: Saya pikir, dengan semakin mendunianya nama Korea lewat tayangan hiburan, akan berdampak pula pada ekonominya. Misalnya saja produk-produk Korea yang dulunya tidak menjadi pilihan utama konsumen karena mereka lebih menyukai produk Jepang, kini mulai melirik produk Korea di pasaran. Saya juga begitu, saat menyaksikan artis idola saya menggunakan suatu produk tertentu, biasanya saya juga memiliki keinginan memilikinya. Saya jadi punya kepercayaan terhadap kualitas produk Korea karena merasa sudah tidak asing lagi, soalnya sering lihat di televisi Subjek 02: Dulunya, saya tidak begitu mengenal Korea. Tetapi

semenjak merebaknya Korean Wave di Indonesia, banyak orang penasaran dengan Negara yang satu ini, termasuk saya sendiri. Negara yang semula sangat asing bagi saya kini menjadi akrab di telinga seiring makin banyaknya produk hiburan Korea. Hal ini tentu saja berefek terhadap penilaian saya mengenai Korea. Saya jadi memiliki kepercayaan terhadap berbagai produk Korea yang ada di pasaran.

21

Bisa dibilang, posisi Korea ini mencuat sebagai Negara maju yang menguasai pasar dunia. Negara dunia ketiga pada umumnya adalah sasaran yang empuk untuk memasarkan produk Korea. Pada level konsumen, selain melalui produk hiburan, Korea juga mulai menjamah ruang pribadi individu dengan menyediakan berbagai macam produk kebutuhan seharihari di pasaran. Sebut saja Samsung yang merupakan merek gadget asal Korea yang menuai sukses di pasaran. Menurut situs www.kbs.co.kr, salah satu penyebab ketenaran Samsung saat ini adalah pengaruh drama dan film Korea dimana Samsung menjadi sponsor utama yang menyediakan ponsel buat para pemerannya. Seperti yang dituturkan Mila: Saya dulunya bukan seorang pengguna Samsung. Apalagi mereka dulu, merek Samsung di Indonesia belum begitu popular jadi saya tidak pernah punya pikiran untuk membelinya karena khawatir kualitasnya kurang bagus. Tapi sejak melihat artis-artis Korea menggunakan ponsel Samsung saya jadi tertarik dan merasa ingin mengunakan ponsel itu juga. Mulai dari situ saya mencari tahu tentang ponsel Samsung. Ternyata, modelnya lucu-lucu dan kualitasnya oke, jadi saya memutuskan untuk membelinya

Pengaruh produk budaya pada kehidupan sehari-hari baik produk hiburan maupun keperluan sehari-hari sebagaimana kita lihat, tidak bisa netral secara budaya. Produk apapun, sadar atau tidak, memiliki budaya yang menempel dari Negara yang memproduksinya. Namun, kebanyakan konsumen saat mengonsumsinya tidak terlalu memerhatikan Negara penghasil produk tersebut. Mereka menggunakannya sehari-hari dan menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupannya. Ketika akhirnya konsumen menyadarinya, mereka telah terperangkap dalam kebiasaan mengonsumsi media tersebut dengan segala aspek budayanya. Korea bisa dibilang dengan cerdiknya mampu memanfaatkan media massa untuk menyebarkan budaya pop Korea ke dunia Internasional. Dengan semakin maraknya tayangan Korea, jelas berimplikasi pada pemasukan Negara tersebut. Bukan hanya bagi para produsen yang

22

berkecimpung di dunia hiburan tetapi di segala aspek kehidupan. Orangorang mulai yakin untuk menggunakan berbagai produk Korea di pasaran karena sudah merasa tidak asing lagi. Keuntungan akan merebaknya Korean Wave bukan hanya milik pengusaha Korea semata. Dampak Korean Wave ternyata juga dapat meningkatkan jumlah wisatawan Korea. Hal ini menggerakkan

Departemen Pariwisata Korea untuk membuat paket liburan murah ke korea untuk mengunjungi tempat-tempat shooting drama dan film korea. Tak disangka peminatnya sangat banyak. Bukan hanya dari Asia tetapi banyak juga wisatawan yang berasal dari Eropa. Media massa memiliki peranan yang sangat penting dalam menyosialisasikan budaya pop Korea. Media memiliki kemampuan dalam mengundang perhatian khalayak untuk menyimak berbagai hal yang ditampilkan media. Dengan kemampuan media yang begitu besar, popularitas budaya pop Korea pun semakin menanjak. Hal ini menyebabkan munculnya basis penggemar Korea. Basis penggemar terdiri dari orang-orang yang telah menerima efek tayangan hiburan Korea melalui media massa dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dianggap sebagai kumpulan orang-orang yang menciptakan suatu kreatifitas simbolik dari apa yang telah mereka konsumsi dari media. Kreatifitas simbolik di sini merupakan cara mereka menggunakan, memanusiakan, menghiasi, menobatkan makna-makna dalam ruang-ruang kehidupan dan praktek-praktek sosial yang umum. Mereka menciptakan pilihan-pilihan pakaian, penggunaan musik, TV, majalah yang selektif dan aktif, penciptaan gaya-gaya subkultur seperti gaya bicara dan senda gurau serta penciptaan musik dan tarian. Kelompok/fandom penggemar budaya pop Korea merupakan elemen penting yang sanngat dibutuhkan kehadirannya demi bertahannya eksistensi budaya pop Korea. Tanpa adanya fandom, mustahil budaya pop Korea masih bertahan hingga sekarang. Anggota fandom biasanya adalah orang-orang yang telah diterpa budaya pop secara berulang-ulang dan terus-menerus melalui media massa. Hal ini dimaksudkan untuk

23

menanamkan ideologi untuk melanggengkan kapitalisme Korea dalam bentuk ideational system dimana sesuatu yang nampak sebagai hiburan (film, drama dan musik;misalnya) sebetulnya memiliki ideologi yang dominan untuk mempengaruhi khalayak lewat media massa. Budaya pop Korea yang marak di Indonesia saat ini memang ditujukan untuk melegalkan ideologi Korea agar mereka lebih mudah diterima dan manjadi pilihan utama di masyarakat. Meskipun tujuan penyebarluasan budaya pop Korea pada mulanya ditujukan untuk menyaingi impor budaya luar ke Negara Korea, namun karena pasar Asia dianggap potensial sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Negara-negara Asia, maka penyebaran budaya pop Korea ini dimanfaatkan untuk melanggengkan kapitalisme Korea. Anggota fandom Korea merupakan pihak yang sangat potensial untuk menyebarkan ideologi Korea melalui dunia hiburan. Mereka adalah pihak yang tersubordinasi oleh produsen industri budaya pop Korea. Melalui media, produsen indutri budaya pop Korea menciptakan suatu hegemoni yang membuat para penggemar tidak sadar bahwa mereka telah menjadi sasaran empuk kapitalisme. Tanpa sadar pula mereka menyerap ideologi yang dilancarkan pihak yang dominan ini dan merasakan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka bahkan menjadikan kebutuhan untuk menikmati produk Korea sebagai prioritas utama dalam hidup sehingga tidak jarang banyak yang menghabiskan 60% dari pendapatannya untuk menunjukkan eksistensinya akan kefanatikannya terhadap Korea. Kefanatikan akan Korea memang sangat luar biasa. Sebagai seorang anggota fandom mereka rela menghabiskan banyak dana demi pemenuhan kebutuhan akan kegemarannya tersebut. Bisa dibilang media massa menghasilkan dampak yang luar biasa dengan menjadi media penyebaran budaya pop Korea. Media massa memiliki kekuatan dan fungsi transmisi untuk menyebarkan nilai-nilai budaya yang termuat dalam tayangan hiburan Korea dan mempengaruhi seluk-beluk kehidupan anggota fandom.

24

Tak bisa ditampik, media massa memegang peranan penting dalam kesuksesan budaya pop Korea. Tapi sebenarnya, beberapa penelitian mengungkapkan, media massa memang memegang peranan penting dalam penyebaran budaya pop tapi hanya sebatas itu saja. Media massa bukanlah satu-satunya faktor penentu yang memengaruhi sikap khalayak, dalam hal ini Korea Lovers. Ada banyak faktor yang menyebabkan tingkat pengaruh media terbatas dan berbeda satu sama lain diantara individu. Walaupun tergabung dalam sebuah fandom yang di dalamnya terbentuk penyeragaman rasa dan interaksi yan intens diantara para anggotanya, tetap saja kita harus mengingat bahwa tiap individu dalam sebuah fandom memiliki kehidupan lain di luar sub kultur Korea Lovers. Mereka juga memiliki latar belakang sosial, gender, usia dan tingkat pendidikan berbeda yang menyebabkan perbedaan tingkat pengaruh media yang terjadi pada mereka. media. Dari kedua subjek, Mila, Sarah, tidak mengadopsi segala hal yang dikonsumsinya melalui tayangan Korea. Mereka memilih-milih mana yang pantas untuk mereka dan mana yang tidak. Kedua subjek ini mengaku kurang mendapatkan dukungan dari lingkungannya Mila: Jujur orang tua saya sebenarnya tidak suka saya seperti ini.. Jadi saya berusaha menjaga seminimal mungkin kefanatikan saya terhadap Korea. Saya hanya sekedar mengonsumsi tayangannya tapi untuk meniru segala halnya saya memilih-milih. Sarah : Saya addict dengan Korea dan mengoleksi atribut-atribut yang ada label Koreanya. Tapi kalau untuk masalah fashion kayaknya tidak berminat. Soalnya kita ini hidup dan besar di Semarang. Coba saja pakai busana ala Korea, pasti jadi pusat perhatian di mall-mall. Mungkin kalo untuk fashion Korea paling saya Cuma mengikuti gaya formalnya saja yang sering pake blazer atau cardigan. Selebihnya tidak. Inilah yang disebut dengan efek terbatas

25

Pada dasarnya media memang bukanlah penentu sumber utama dari perubahan sosial dan budaya. Media secara bersama dengan latar belakang sejarah seseorang sedikit banyak menjadi konsisten dan menjadi sumber kedua untuk pembentukan gagasan-gagasan tentang masyarakat dan lingkungan tempat ia tinggal. Hasil interaksi antara media dan perubahan social dan budaya sangat bervariasi, tak bisa diprediksi, dan sangat berbeda antara satu keadaan dengan keadaan lainnya. Hal ini menyebabkan efek media yang terjadi pada tiap individu berbeda satu sama lain.

B. Pembahasan Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap kedua subjek yang berasal dari anggota fandom Korea Lovers di Semarang, peneliti mencatat bahwa subjek pertama kali mengenal Korea melalui technology mediation yaitu dengan media massa dan social mediation dimana mereka diperkenalkan oleh orang-orang di sekitar mereka. Dari kedua subjek, Sarah dan Mila mengenal Korea melalui perantaraan temannya. Informasi mengenai Korea didapatkan dari temannya yang telah lebih dulu menyukai tayangan Korea kemudian berlanjut dengan mencari berbagai hal mengenai tayangan Korea. Kedua subjek ini mengaku setelah menyaksikan tayangan Korea untuk pertama kalinya, mereka langsung menyukainya. Menurut Kim Song Hwan, seorang pengelola sindikat siaran televisi Korea Selatan, produk budaya Korea berhasil menjerat hati penggemar di semua kalangan terutama di Asia disebabkan teknik pemasaran Asian Values-Hollywood Style. Artinya, mereka mengemas nilai-nilai Asia yang dipasarkan dengan gaya modern. Istilah ini mengacu pada cerita-cerita yang dikemas bernuansakan kehidupan Asia, namun pemasarannya memakai cara internasional dengan mengedepankan penjualan nama seorang bintang atau menjual style. Perkembangan teknologi komunikasi memegang peranan penting dan menyebabkan penyebaran budaya pop Jepang bisa demikian pesatnya

26

sehingga menjadi sebuah komoditas bagi perusahaan-perusahaan Korea. Campur tangan pemerintah Korea juga turut andil dalam mendongkrak popularitas budaya pop Korea. Tujuan utamanya adalah untuk

melancarkan derasnya arus komunikasi dari Korea ke Negara-negara di Asia. Korea memanfaatkan popularitas tayangannya selain untuk mendapatkan keuntungan juga sebagai media menyebarkan ideologi agar mereka lebih mudah diterima dunia Internasional. Inilah yang dinamakan taktik ideational system dimana penyebaran ideologi dilakukan dengan sangat halus dan tanpa disadari oleh objek yang akan terkena imbasnya. Hal ini dikarenakan ideational system mengemas dengan baik sesuatu yang nampak sebagai hiburan padahal sebetulnya memiliki ideologi yang dominan. Ideologi dominan ini berulang-ulang membawa misi untuk memengaruhi khalayak media massa. Secara sadar atau tidak, budaya pop Korea yang disebarkan melalui media memproduksi apa yang disebut sebagai kesadaran palsu sehingga para penggemar Korea tak sadar bahwa mereka telah terhegemoni. Mereka menganggap bahwa budaya pop Korea adalah sesuatu yang bernilai dan berguna sehingga kebutuhan akan pemenuhannya menjadi salah satu prioritas utama dalam hidup. Kedua subjek merupakan Korea Lovers yang mejadikan tayangan Korea sebagai pilihan utama. Mereka adalah orang-orang yang memiliki intensitas meonton rata-rata enam jam setiap hari. Mila bahkan menjadikan tayangan Korea sebagai pilihan satu-satunya. Dia mengaku tidak lagi mengonsumsi tayangan hiburan dari negara lain. Seperti yang dituturkan Mila: Tayangan Korea baik itu drama, film atau pun musik merupakan suguhan yang sudah sangat komplit dan yang selama ini saya cari. Kalau untuk mengonsumsi tayangan lain kayaknya tidak. Saya bosan dengan film Barat yang kebanyakan tidak ada sisi moralitasnya atau sinetron Indonesia yang berbelit-belit ditambah lagi filmnya yang sangat tidak masuk akal

27

Lain halnya dengan Sarah. Ia juga menjadikan tayangan Korea sebagai pilihan utamanya tetapi ketika dibandingkan dengan tayangan Barat, mereka sulit untuk memilih keduanya. Presentasi perbandingan kesukaan mereka terhadap Korea dan Barat tidak jauh berbeda. Saya suka tayangan Korea tapi juga suka film-film Barat. Kalau disuruh memilih sebenarnya susah, tapi bisalah dibandingkan 100% Korea, 99% Barat

Kecintaan akan budaya pop Korea yang ditunjukkan oleh kedua responden terutama didominasi oleh drama, k-pop dan film. Mereka mengonsumsinya melalui media massa. Tidak cukup hanya melalui tayangan televisi swasta, mereka adalah orang-orang yang tidak sabar mengikuti jadwal rutin penayangan televisi setiap harinya sehingga mengambil keputusan untuk mengonsumsi tayangan tersebut melalui DVD yang banyak beredar di pasaran dengan harga terjangkau. Kedua subjek ini memiliki koleksi DVD Korea di rumah. Selain melalui televisi dan DVD, mereka juga mencari tahu berbagai hal mengenai Korea lewat internet. Mereka kebanyakan mengunjungi situs Youtube untuk mendownload video-video Korea. Kedua subjek ini juga menjadi anggota dari berbagai situs yang menyediakan forum bagi penggemar Korea Lovers. Dari diskusi-diskusi melalui internet, mereka memiliki banyak teman baru di dunia maya yang sejalan dengan mereka. Selain konsumsi terhadap tayangan Korea yang kini begitu gampang diperoleh, akses individu terhadap pilihan produk Korea juga hadir sebagai implikasi merebaknya Korean Wave. Berbagai produk berlabel Korea baik dari alat elektronik hingga kebutuhan sehari-hari kini beredar luas dan menjadi pilihan bagi mereka yang sudah tidak asing lagi dengan Korea. Kedua subjek yang diteliti pun demikian Selain tayangan Korea, produk Korea di pasaran juga kini tidak asing lagi bagi kami. Bahkan saat melihat ada produk yang berlabel Korea saya tertarik untuk membelinya. Semacam ada rasa kepercayaan terhadap produk tersebut. Mungkin karena sudah tidak asing lagi

28

melihat barang-barang tersebut muncul di film-film Korea. Contohnya saja ponsel, saat mulai mengenal Korea saya jadi tertarik dengan merek ini dan menggunakannya. Padahal dulu saya tidak pernah menggunakan merek ini berhubung kurang terkenal dan kualitasnya kurang dipercaya. Korea yang kini menjadi Negara maju secara ekonomi mampu melakukan ekspansi lewat tayangan hiburannya. Dengan kekuatan ekonominya yang mengglobal, Korea memiliki kekuatan dan pengaruh yang cukup besar sebagai pemain dalam pasar budaya global. Sistem pasar bebas yang dianut secara global memosisikan Indonesia dan Korea menjalin kerja sama. Sistem ini memungkinkan transfer materi media termasuk budaya dan produk media alternatif dengan gampangnya masuk ke Indonesia sebagai pilihan alternatif baru. Sebagai seorang Korea Lovers, konsumsi tayangan hiburan Korea dengan intensitas yang cukup tinggi per harinya sedikit banyak akan memengaruhi gaya hidup mereka. Kedua subjek merasa perubahan yang paling signifikan setelah mengonsumsi tayangan Korea adalah gaya berbicara mereka. Karena keseringan menonton film Korea mereka kadang menyelipkan bahasa-bahasa Korea dalam pergaulannya. Mereka juga mengoleksi berbagai hal mengenai Korea. Selera musik mereka pun jadi berubah. Mereka kini lebih tertarik dengan gaya k-pop yang unik yang memadukan musik dengan dance. Selera mereka dalam hal pemilihan produk dan cara berpakaian juga cukup berpengaruh.. Namun, pada taraf adopsi fashion Korea, hanya Mila. Menurut Sarah: Saya suka segala hal tentang Korea, termasuk fashionnya. Tapi, kalau untuk bergaya ala Korea seperti di film-film kayaknya kurang cocok buat saya. Apalagi keluarga pastinya tidak suka berhubung rumah saya berada di kompleks pesantren. Bisa-bisa tetangga saya kaget melihat penampilan saya

Pada level kelompok, media budaya pop Korea juga dijadikan basis politik identitas. Aktivitas khalayak media dan penggemar adalah bagian

29

aktivitas sub kultur yang paling cepat pertumbuhannya. Yang menjadi perekat pada sub kultur penggemar budaya pop Korea ini adalah media dalam bentuk tayangan hiburan Korea. Para individu Korea Lovers secara aktif memilih mengedepankan dan mengkonstruksi identitas mereka dengan menempatkan diri dalam komunitas penggemar Korea. Di komunitas ini mereka memperoleh dukungan dan perlindungan terhadap identitas mereka. Menjadi penggemar Korea juga berarti memunculkan hubungan afektif dan aktif terhadap tayangan Korea: mereka mengoleksi, menginterpretasi, menyirkulasi dan menciptakan kemabali teks-teks yang dikonsumsinya. Lalu, dengan mengonsumsi tayangan Korea mereka juga mengonsumsi representasi budaya di dalamnya. Kemudian mereka merealisasikan nilai-nilai, praktik dan representasi budaya dari tayangan Korea ke dalam gaya hidupnya. Nilai-nilai dan praktik diinternalisasi dari konsumsi tayangan Korea yang digunakan bersama secara ekslusif dalam lingkungan komunitas penggemar. Penelitian ini menemukan bahwa tayangan Korea merupakan media yang dominan dalam kehidupan mereka. Mereka mengonsumsi musik, film dan drama Korea melalui media massa. Selain itu, mereka juga aktif mengikuti festival budaya Korea. Kedua subjek ini merupakan bagian dari fandom Korea Lovers di Semarang. Mereka adalah anggota aktif yang sering berinteraksi dengan sesama Korea Lovers lainnya. Semakin sering intensitas yang dilakukan dengan teman sesama fandom akan semakin memperkuat identitas keKorea-an mereka. Dalam fandom tersebut mereka menerapkan panggilan onnie,oppa,hyung dan noona sebagai adopsi dari apa yang dikonsumsinya melalui tayangan Korea.

1. Penyebaran Nilai Budaya Pop Korea Globalisasi merupakan wacana yang populer sejak abad ke-21. Komponen utama dari globalisasi adalah perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin pesat sehingga mampu menjangkau lebih banyak khalayak dengan waktu lebih singkat.

30

Perkembangan teknologi dan komunikasi menyebabkan penyebaran budaya pop korea bisa demikian pesatnya sehingga menjadi sebuah komoditas bagi perusahaan-perusahaan Korea. Campur tangan pemerintah Korea dalam mendongkrak ekspansi budaya melalui tayangan hiburan makin melancarkan derasnya arus komunikasi Korea ke Negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Komoditas budaya pop Korea yang disebarkan oleh media memproduksi apa yang disebut sebagai kesadaran palsu, sehingga para penggemar tak sadar bahwa mereka terhegemoni oleh budaya pop Korea. Para remaja penggemar budaya pop Korea menganggap bahwa budaya pop Korea yang mereka gemari ini sebagai sesuatu yang memang bernilai dan berguna. Bahkan, mereka memandang sebelah mata pada pada budaya pop Indonesia. Komodifikasi media yang dilakukan pemerintah Korea menjadikan penggemar budaya pop Korea juga menjadi komoditi bagi perusahaanperusahaan media yang ikut menyebarkan budaya pop Korea sehingga menjadi sebuah industri yang sangat potensial dan menjanjikan. Semakin banyak pihak yang menyebarkan budaya pop Korea, maka semakin banyak pula khalayak yang menjadi komoditi mereka, yang bisa dijual pada para pemasang iklan di medianya. Hasilnya, Korea saat ini masuk daftar sepuluh besar negara produsen film terbanyak. Korea dengan kerja sama pengusaha media dan pemerintah mampu memproduksi seratus lebih film per tahun. Tidak bisa disangkal bahwa perkembangan industri budaya pop Korea memang dipicu oleh industri media yang dengan gencarnya memberikan berbagai alternatif informasi dan aneka jenis budaya pop Korea, karena industri media menganggap khalayak penggemar budaya pop Korea sangat potensial bukan saja dari segi jumlah tetapi juga dari sisi fanatismenya terhadap budaya pop Korea. Akibatnya berbagai media berlomba untuk menyajikan berbagai jenis informasi dan pilihan akan budaya pop Korea dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan khalayak konsumen. Padahal khalayak ini adalah komoditas yang memang harus dipelihara dan jika

31

mungkin ditambah jumlahnya, demi keuntungan ekonomi dari pihak pemilik media. Serbuan budaya pop Korea dari berbagai media mengakibatkan para penggemarnya terhegemoni. Mereka merasa bahwa budaya pop Korea memang suatu hal yang mereka inginkan, sesuatu yang ideal, yang mereka butuhkan. Mereka tidak merasakan bahwa sebenarnya pihak kapitalis telah memanfaatkan mereka dengan menciptakan kesadaran-kesadaran palsu tersebut. Mereka merasa nyaman-nyaman saja mengonsumsi budaya pop Korea sehingga terbentuklah hubugan simbiosis mutualisme antara penikmat budaya pop Korea dengan pemilik media. Budaya pop Korea menerpa penggemarnya dengan segala nilai-nilai Korea yang menciptakan suatu gaya hidup yang mencerminkan identitas dari para penikmatnya, mulai dari gaya berbicara, cara memilih produk, dan fashion mereka. Hal ini disebabkan karena pemaknaan simbolik yang ditangkap melalui media. Akibatnya mereka menjadi suatu sub kultur penggemar budaya pop Korea dengan menciptakan identitas yang membedakannya dengan identitas remaja pada umumnya. Dalam kasus ini, konsumsi budaya pop Korea berefek domino dimana penggemar dituntun untuk menjadi penikmat berbagai produk berlisensi Korea. Penggemar tidak akan dibiarkan menikmati hanya satu macam produk budaya pop Korea. Seperti yang terjadi pada kedua subjek. Mereka menikmati berbagai macam tayangan hiburan seni Korea mulai dari film, drama hingga musik. Bukan hanya sampai disitu, dalam ranah teknologi, pemilihan terhadap produk juga berpengaruh terhadap subjek. Mereka menjadi lebih akrab dengan berbagai produk teknologi Korea seperti Samsung, LG atau Hyundai atau Yong-Ma yang saat ini pamornya di Indonesia sedang naik daun. Sebelum mengenal Korea melalui tayangan hiburan, mereka mengaku tidak terlalu memperdulikan produk-produk tersebut berasal dari Negara mana. Selain dalam bidang teknologi, produk makanan Korea juga menjadi incaran Korea Lovers. Apalagi, saat ini makanan Korea begitu mudahnya dijumpai di berbagai tempat perbelanjaan. Bahkan ada dua subjek yang

32

mengaku mengetahui cara membuat makanan khas Korea yaitu kimchi. Dari segi fashion juga tidak ketinggalan. Produk-produk impor dari Korea seperti pakaian , sepatu tas dan alat kosmetik asal Korea kini banyak diminati sehingga bisa dipastikan, Negara Korea banyak menangguk keuntungan dari penyebaran Korean Wave ini. Ini belum dihitung dari keuntungan pemerintahnya dalam program Tahun Wisata di Korea yang selalu dipadati turis asing. Industri pop Korea tak akan berkembang demikian pesatnya jika bukan karena basis penggemarnya yang sangat fanatik dan aktif dalam menyebarkan budaya pop Korea melalui internet dengan membuka situssitus atau portal web yang menjadi sarana penyebaran budaya pop Korea. Situs-situs ini biasanya berbasis komunitas dengan fasilitas chat room, forum atau mailinglist dan mempunyai ribuan penggemar budaya pop Korea yang bergabung di dalamnya.

33

Tabel 1 Kategori Adopsi Nilai-Nilai Budaya Korea Melalui Tayangan Korea


Gaya No Subjek Selera Musik Berpakaian Nilai-nilai Moral Representasi mengenai korea Bahasa

Mila

Mengonsumsi k-pop tetapi tidak mempraktekkan dance-nya

Hanya sekedar menyukai fashionnya tetapi tidak mengadopsinya

Mengambil hal positif tentang penghormatan kepada yang lebih tua dan menerapkannya

Melalui tayangan Korea, kita dapat melihat bagaimana sebenarnya Korea Otodidak melalui kamus dan film serta interaksi sesama anggota fandom

Sarah

Mengonsumsi k-pop dan mempraktekkan dance-nya

Menyukainya tetapi memilihmilih mana yang pantas dan mana yang tidak

Mengambil hal positif tentang penghormatan kepada yang lebih tua dan menerapkannya

Menjadi Korea Lovers membuat saya sadar bahwa Negara yang dulunya sangat miskin kini bangkit menjadi salah satu Negara yang diperhitungkan. Ini bisa menjadi acuan bagi kita orang Indonesia Otodidak melalui kamus dan film serta interaksi sesama anggota fandom

Dalam pembentukan identitas Ke-Korea-an para penggemarnya, memang tidak bisa lepas dari yang namanya pembacaan teks media. Pembacaan teks media yang berbeda akan menyebabkan efek yang berbeda pada tiap individu. Cara pembacaan teks yang berbeda biasanya terjadi akibat proses sosialisasi yang berbeda dari tiap-tiap individu. Latar belakang keluarga, pendidikan, agama, dan aspek sosial lainnya. Kedua subjek memiliki kriteria yang berbeda satu sama lainnya. Dari pernyataan kedua subjek, lingkungan dan keluarga merupakan faktor utama yang memengaruhi perbedaan pembacaan teks dari kedua subjek. Jadi, media bukanlah penentu utama dari pengambilan sikap khalayak terhadap budaya pop Korea yang dikonsumsinya. Media memiliki keterbatasan memberikan efek terhadap subjek karena sebagai

34

khalayak media, subjek bersifat aktif terhadap budaya pop Korea yang menerpa dirinya. Masing-masing khalayak sebelum mengenal budaya pop Korea telah ditanamkan sebuah identitas yang ada sejak kecil di lingkungannya dan identitas ini mengiringi pertumbuhannya. Jadi, saat budaya pop Korea dengan segala nilai-nilainya muai menggerus identitas yang ada sebelumnya, di sini budaya pop Korea tidak serta merta dengan gampangnya bisa menguasai secara utuh subjek. Ada banyak nilai-nilai yang sebelumnya telah ada diri tiap subjek. Adopsi nilai- nilai Korea di sini bisa masuk secara utuh tergantung seberapa kuat identitas yang ada sebelumnya dan bagaimana lingkungan di sekitarnya memakluminya.

35

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Pada kasus penyebaran budaya pop Korea di Semarang, terjadi hegemoni dalam hal selera dimana pemilihan tayangan hiburannya lebih dominan pada Korea, sehingga terjadi homogenisasi selera akan segala sesuatu yang bernuansa Korea. Hegemoni selera terhadap penggemar budaya pop Korea pada segala sesuatu yang bernuansa Korea ternyata juga mempunyai tingkatan pada tiap subjek. Interpretasi teks yang diperoleh melalui media tergantung dari latar belakang mereka sehingga bisa membedakan cara mereka memroses pesan yang diterimanya. Tiap subjek memiliki tingkatan yang berbeda dalam mengadopsi budaya pop Korea. Di sini terjadi pemilahan mana yang cocok dan mana yang tidak untuk diterapkan dalam kehidupan sehari- hari. Biasanya, dalam sebuah fandom penggemar Korea, hal yang paling menonjol dari mereka adalah terpengaruhnya gaya berbicara mereka karena keseringan menonton

tayangan Korea. Selain itu pemilihan produk juga mempengaruhi. Kedua subjek merasa, ia kini menjadikan produk Korea di pasaran sebagai barang incaran untuk mengikuti mode para artis Korea. Fashion Korea juga banyak berpengaruh terhadap selera para penggemar budaya pop Korea. Mereka memiliki keinginan untuk mengikuti gaya berbusana Korea yang mereka anggap keren dan unik. 2. Pengaruh sosialisasi keluarga dan lingkungan cukup kuat pada diri subjek, dengan aneka norma dan nilai budaya lokal yang melekat dalam praktek sosial sehari-hari, memengaruhi tingkat dominasi budaya pop korea terhadap diri subjek. Dalam pembentukan identitas, dominant reader adalah orang yang amat terobsesi pada Korea. Dalam kasus ini, ada dua subjek yang digolongkan sebagai dominant reader. Tingkat hegemoni media para subjek ini amat tinggi. Dalam pembentukan pribadinya, narasumber merasakan identitas Ke-Korea-an mereka sebagai sesuatu yang ekslusif, subjek melakukan avowal sebagai seseorang yang sangat

36

Korea dan tidak memperdulikan description orang lain terhadap dirinya. Mereka juga adalah tipe orang yang hanya nyaman bergaul dengan sesama penggemar Korea. Jadi, bila ia menemukan orang di sekitarnya yang tidak menyukai Korea, maka ia akan meninggalkannya. Sementara empat subjek lainnya masuk dalam klasifikasi negotiated reader. Mereka adalah orang-orang yang mengkondisikan penerimaan nilai-nilai budaya pop Korea dengan lingkungan sekitarnya. Jadi, mereka tidak serta merta menerima secara keseluruhna budaya pop Korea. Ini menunjukkan bahwa pengaruh budaya pop Korea yang disebarkan melalui media berbeda pada tiap individu. Jadi jelas bahwa media di sini bukan faktor penentu utama dalam menentukan sikap khalayak media yang aktif. Banyak

pertimbangan-pertimbangan yang menjadi hambatan bagi media untuk memengaruhi keinginan khalayak.

B. Saran 1. Sebagai khalayak media, kita sebaiknya harus melek media dan tidak serta merta menganggap segala yang ditawarkan media itu bersifat positif buat kita. Perlu adanya pertimbangan-pertimbangan terhadap setiap program yang kita saksikan melalui media massa untuk menghindarkan diri kita agar tidak terjebak dengan kebutuhan-kebutuhan palsu yang diciptakan kapitalis dan disebarkan melalui media massa 2. Perlu adanya suatu kebijakan dan upaya dari pemerintah untuk menambah anggaran di bidang pendidikan kebudayaan agar generasi-generasi bangsa menjadi bangga terhadap budayanya sendiri. Saat ini banyak anak muda di Indonesia yang tidak terlalu mengenal budayanya sendiri dikarenakan pemerintah kurang perhatian dalam mengembangkannya. Pendidikan kebudayaan hanya dijadikan ekstra kurikuler dan bukan merupakan suatu kewajiban. Hal ini menyebabkan banyak diantara kita yang tidak lagi memahami budaya lokal

37

DAFTAR PUSTAKA

Perwita Banyu Agung Anak dan Yanyan Mochamad Yani. 2006. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: PT Renmaja Rosdakarya. Steans, Jill dan Loyd Pettiford. 2009.Hubungan Internasional Perspektif dan Tema. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. S, Walter jones. 1992. Logika Hubungan Internasional: Persepsi Nasional. Jakarta: PT Gramedia pustaka Utama. www.kbs.co.kr. Diakses pada tanggal 20 Juni 2012.

38