Anda di halaman 1dari 2

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Epilepsi adalah suatu gangguan serebral kronik dengan berbagai macam etiologi yang dicirikan oleh timbulnya serangan paroksismal secara berkala, terjadi satu atau lebih bangkitan kejang tanpa provokasi dengan interval waktu lebih dari 24 jam akibat lepasnya muatan listrik neuron-neuron serebral secara berlebihan. (Harsono, 2009) Epilepsi merupakan keadaan dimana seseorang mengalami kejang berulang karena suatu proses penyakit kronis yang mendasarinya. Epilepsi lebih merujuk pada fenomena klinis daripada diagnosis tunggal suatu penyakit. Penelitian-penelitian mengenai berbagai aspek epilepsi termasuk dasar

neurokimia dan neurofisiologi serangan epilepsi, gambaran klinis, diagnosis, terapi, aspek psikososial dan sebagainya telah banyak memberi sumbangan dalam meningkatkan pengertian tentang epilepsi dan penanggulangannya.Harsono, 2009; Sidharta, 1999) Epilepsi terdapat pada semua bangsa, segala usia dimana laki-laki sedikit lebih banyak dari wanita. Insiden tertinggi terdapat pada golongan usia dini yang akan menurun pada gabungan usia dewasa muda sampai setengah tua, kemudian meningkat lagi pada usia lanjut. Prevalensi epilepsi di Indonesia berkisar antara 0,5%-2% dari jumlah penduduk. Penelitian epidemiologik tentang epilepsi belum pernah dilakukan, namun bila dipakai angka prevalensi yang dikemukakan seperti dalam rujukan, maka dapat diperkirakan bahwa bila penduduk Indonesia saat ini

sekitar 220 juta akan ditemukan antara 1,1 sampai 4,4 juta penderita penyandang epilepsi. (Tjahjadi, 2005) Sebagian besar kasus epilepsi dimulai pada masa anak-anak. Pada tahun 2000, diperkirakan penyandang epilepsi di seluruh dunia berjumlah 50 juta orang, 37 juta orang di antaranya adalah epilepsi primer, dan 80% tinggal di negara berkembang. Laporan WHO (2001) memperkirakan bahwa rata-rata terdapat 8,2 orang penyandang epilepsi aktif di antara 1000 orang penduduk, dengan angka insidensi 50 per 100.000 penduduk. Angka prevalensi dan insidensi diperkirakan lebih tinggi di negara-negara berkembang. (WHO, 2001)