Anda di halaman 1dari 290

Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id


1



ISSN: 2086 - 0773
PROSI DI NG
Seminar Fisika dan Apl ikasinya 2013
Surabaya, 18 J uni 2013
Sumber Energi Baru dan Terbarukan
Untuk Kemandirian Bangsa
J urusan Fi si ka FMI PA
I nsti tut Teknol ogi Sepul uh Nopember (I TS)
Surabaya
Seminar Fisika dan Aplikasinya
Z
,






Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id i
ISSN: 2086-0773



Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

18 Juni 2013


Sumber Energi Baru dan Terbarukan
untuk Kemandirian Bangsa

Prosiding



Dewan Editor:
Endarko
Gatut Yudoyono
Lila Yuwana


J urusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengerahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
S U R A B A Y A



Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id ii

Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id iii
PENGANTAR REDAKSI

Kebutuhan energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM) merupakan
isu strategis baik tingat nasional maupun internasional. Energi alternatif baru dan
terbarukan sangatlah mendesak diperlukan untuk pemenuhan energi nasional yang semakin
hari dirasakan semakin mengalami penurunan karena minimnya ketersedian BBM sebagai
energi utama. Fisika merupakan ujung tombak (the frontier) ilmu pengetahuan dan
teknologi. Memasuki globalisasi yang semakin kompetitif, pengembangan dan penerapan
sains fundamental khususnya Fisika merupakan keniscayaan bagi setiap bangsa terlebih
Indonesia yang sangat luas secara geografis dan mempunyai potensi alam luar biasa. Tidak
salah ungkapan tanpa Fisika tidak ada sains dan tanpa sains tidak ada masa depan.
Seminar Fisika dan Aplikasinya merupakan kegiatan rutin tingkat nasional yang
diselenggarakan Jurusan Fisika, FMIPA-ITS dalam rangka berperan aktif menjawab
tantangan besar tersebut.
Kurangnya penelitian yang dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi untuk menjawab
kebutuhan masyarakat dan industri mengakibatkan belum banyaknya industri yang bersedia
membiayai penelitian di perguruan tinggi. Selain itu, belum adanya sinergi antar perguruan
tinggi, industri dan instansi-instasi terkait menyebabkan belum selarasnya mata kuliah yang
ditawarkan serta topik-topik penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi. Hal ini
mengakibatkan adanya kesan tidak adanya nilai tambah penelitian terhadap persoalan-
persoalan di lapangan dan peningkatan kualitas pendidikan. Melalui pengembangan
penelitian yang berkelanjutan diharapkan keterkaitan antara peneliti, pendidikan dan
penerapan IPTEK, serta manajemen dapat ditingkatkan.
Peserta berasal dari perguruan tinggi dan instansi di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi
Kalimantan, dan Merauke. Abstrak yang masuk ke panitia berjumlah 65, yang tidak
terseleksi atau mengundurkan diri sejumlah 15 abstrak. Makalah yang dipresentasikan dan
dumuat dalam prosiding ini ada sebanyak 37 judul makalah. Selain menyediakan sarana
komunikasi ilmiah bagi dosen,mahasiswa, maupun instansi di Indonesia, seminar ini juga
bertujuan secara khusus untuk memfasilitas para peneliti, mahasiswa dan instansi untuk
melakukan tukar pikiran dan pengalaman dalam menyusun perencanaan dan penerapan
penelitian inovatif yang berkualitas dan berkelanjutan dan tepat sasaran. Dalam jangka
panjang diharapkan penelitian-penelitian yang dihasilkan dapat memberikan kontribusi
lebih terhadap pembangunan nasional dan kemandirian indonesia.

Surabaya, 10 Juli 2013
Redaksi,

ttd

Endarko, Ph.D.

Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 iv

Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id v
KATA SAMBUTAN

Assalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kepada Allah Tuhan seluruh sekalian alam.
Atas petunjuk dan nikmatNya kegiatan Seminar Fisika dan Aplikasinya tahun 2013 dengan
tema Sumber Energi baru dan terbarukan untuk Kemandirian Bangsa dapat terlaksana
setelah sekali tertunda karena beberapa kendala. Seminar Fisika dan Aplikasinya ini sebagai
bagian program pengembangan jurusan Fisika FMIPA yang terintegrasi dengan program
kerja jurusan Fisika lainnya seperti penelitian mahasiswa, staf pengajar, seminar rutin
(mingguan) jurusan, serta kegiatan akademik lainnya.

Seminar ini meliputi berbagai bidang kajian Fisika, seperti Fisika Material, Fisika Bumi,
Optoelektronika, Fisika Komputasi dan Instrumentasi, dan Fisika Teori, sebagai sarana
komunikasi di antara para peneliti terkait dengan program penelitian yang telah, sedang dan
akan dilakukan. Selain daripada itu, kegiatan ini merupakan satu dari sekian banyak forum
forum ilmiah, seperti: pertemuan tahunan Fisika, simposium Fisika Nasional, pertemuan
regional Himpunan Fisika Indonesia dan lain lain yang terkait dengan riset dasar dan terapan
bidang Fisika. Kegiatan seminar ini direncanakan akan diadakan secara periodik tiap 2 tahun
sekali.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkaan terima kasih kepada para pembicara tamu di
Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013 yang telah berkenan hadir:
1) Prof. Dr.rer.nat. Agus Rubiyanto, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI Berlin
Jerman
2) Dr. Prabowo, Kepala Pusat Studi Energi, LPPM ITS Surabaya
3) Peserta seminar yang telah mengirimkan makalah atau karya ilmiah lainnya,
sehingga seminar ini bisa dilaksanakan.
4) Panitia seminar yang telah bekerja keras, sungguh sungguh dan penuh dedikasi
dalam mengorganisasi kegiatan ini.
5) Pihak pihak yang secara langsung atau tidak telah ikut andil dalam
penyelenggaraan seminar ini.

Semoga apa yang telah dilakukan membawa kemanfaatan dan keberkahan untuk kita
semua.

Wassalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ketua Jurusan Fisika
FMIPA ITS

ttd

Dr. Yono Hadi Pramono, M.Eng.

Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 vi
SUSUNAN PANI TI A


Penanggung Jawab:
1. Prof. Dr. R. Y. Perry Burhan, M. Sc. (Dekan FMIPA ITS)
2. Dr. Yono Hadi Pramono, M.Eng. (Ketua Jurusan Fisika FMIPA ITS)
3. Dr. Melania Suweni M., MT (Sekretaris Jurusan Fisika FMIPA ITS)

Penitia Pelaksana:
1. Ketua : Endarko, M.Si, Ph.D.
2. Wakil Ketua : Gatut Yudoyono, MT.
3. Sekretaris : Lila Yuwana, M.Si.
4. Bendahara : Yudi Astanto

Kesekretariatan:
1. Isminarti, S.Kom.
2. Devy Fitri Astatik, A.Md.
3. Feriana Zairini, S. Ak.

Redaksi Prosiding:
1. Endarko, M.Si, Ph.D.
2. Gatut Yudoyono., MT.
3. Lila Yuwana, M.Si.

Acara:
1. Drs. Ec. Suparno
2. Lila Yuwana, M.Si.

Konsumsi:
Sri Suyanti, A.Md.

Perlengkapan dan dokumentasi:
Suko Widyatmoko

Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id vii
DAFTAR ISI


Pengantar Redaksi

iii
Kata Sambutan v
Susunan Panitia
vi
Daftar Isi
vii
Pembicara Tamu
Prabowo, Andre GT,
Ekadewi
Delphi Programming for Performance Analysis of Organics
Rankine Cycle in Different Refrigerants for Low Tmperature
Geothermal

1-8
Agus Rubiyanto, Makky S.
Jaya
Pembentukan Pusat Keunggulan Energi Geothermal
Indonesia-Jerman
9-18


Aplikasi Fisika

Nanang Sudrajat dan
Tony Kristiantoro
Fabrikasi Magnet Permanen Menuju Industri Rumahan 19-24
Sri Suryani Penggunaan Konsep Fisika Dalam Pertimbangan Untuk
Mementukan Posisi Persalinan
25-30
Totok Mulyono, Erma
Suryani, Rully Agus
Hendrawan
Integrasi Model Sistem Dinamik dan Sistem Informasi
Geografis Dalam Mendukung Distribusi dan Produksi Beras
Untuk Mengatur Keseimbangan Antara Kebutuhan dan
Pasokan Pangan (Studi Kasus : Propinsi Jawa Timur,
Indonesia)

31-39
Yayat Iman Supriyatna dan
Suharto
Kajian Awal Pembuatan Kapur Tohor Memanfaatkan Tungku
Blast Furnace UPT BPML - LIPI
41-50



Fisika Teori

M. Arief Bustomi, Agustina
Tri Wahyudi, Endah
Purwanti
Pengaruh Jumlah Titik Data Syarat Batas Pada Pendekatan
Kartesian Untuk Sistem Potensial Listrik Geometri Polar
51-57
Nofa Ria Sagita dan Agus
Purwanto
Karakteristik Grup Permutasi Genap A4 59-70
Yohanes Dwi Saputra dan
Agus Purwanto

Algoritma Deutsch - Jozsa Untuk Sistem Kuantum Dua dan
Tiga Qubit
71-78

Fisika Material

A. Indra Wulan Sari R,
Abdul Haris, dan Subaer
Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
Terhadap Homogenitas
Matriks Geopolimer
79-86
Armayani. M, Abdul Haris,
dan Subaer
Pengaruh Agregat Serat Baja - Karbon Terhadap Morfologi
dan Sifat Mekanik Komposit Geopolimer Berbasis Abu
Terbang (Fly Ash)
87-94
Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 viii
Harmadi, Neneng Fitrya,
dan Sandra
Pendeteksian Formalin Pada Buah Tomat (Lycopersicum
Esculentum Mill) Berbasis Speckle Imaging
95-102
F.U. Ermawati, S. Pratapa,
S. Suasmoro
A Dissolving Route in Synthesis of High Purity Mg
0.5
Zn
0.5
TiO
3

Nanocrystals
103-106
Fitriani Tresnaputri dan
Abu Khalid Rivai
Sintesis dan Karakterisasi Serbuk Baja Feritik ODS (Oxide
Dispersion Strengthened) MA957 Dengan Variasi Waktu
Milling
107-114
Muhammad Amin
,
Suharto,
Yayat Imam
,
M. Yunus,
Agus Junaedi

Benefisiasi Bijih Besi Dengan Cara Fisik Menggunakan Metode
Magnetic Separator
115-120
Nurul Fitria Apriliani ,
Qudsiyyatul Lailiyah,
Darminto
Sintesis Kalsium Karbonat Presipitat dari Material alam
(Dolomit dan Batu Kapur yang Didoping Dengan Mg) Dengan
Metode Karbonasi
121-126
Qudsiyyatul Lailiyah, Nurul
Fitria A, Darminto
Fabrikasi Kalsium Karbonat Presipitat (CaCO
3
) Fase Vaterit
Dengan Metode Pencampuran Larutan
127-132
Rifan Satiadi, Erlyta Septa
Rosa, dan Shobih
Studi Karakteristik Listrik Sel Surya Polimer Hibrid Berbasis
MDMO-PPV:ZnO Substrat Fleksibel
133-140
Tony Kristiantoro dan
Nanang Sudrajat
Sifat Magnetik Ba
1-x
Gd
x
Fe
12
O
19
(x=0,10; 0,15; 0,20) Disintesis
dengan Proses Autocombustion Sol-gel
141-144
Vicran Zharvan, Muris,
Subaer
Studi Struktur Mikro dan Kuat Lentur Komposit Geopolimer
Serat Bambu Dengan Suhu Curing Berbeda
145-152
Linda Silvia, Kurniawati
Choirur Rosyidah, M.
Zainuri
Pengaruh Ion Doping Zn Terhadap Sifat Kemagnetan barium
M-Heksaferit BaFe
12-x
Zn
x
O
19
Berbasis Pasir Besi Tulungagung
153-158
Bambang Prihandoko Singkong sebagai Bahan Baku Carbon Black pada Aplikasi
Batere Lithium
159-164

Optoelektronika

Yono Hadi Pramono,
Sefi Novendra,
Wahyu Hendra
Antena Mikrostrip Loop Simetris Terpisah Oleh GAP Dengan
Feed Line CPW Untuk Frekuensi 2,4 GHz

165-170
Yono Hadi Pramono,
Wina Indra Lavina,
Yasin Agung Sahodo
Optical Waveguide berstruktur gabungan antara Loop dan
Directional berbasis Mach Zehnder Interferometer

171- 176
Anwaril M., Lucky Putri R,
Retno FM., G. Yudoyono
Aplikasi Directional Double Coupler Sebagai Sensor
Pergeseran Mikro
177-180
Lucky Putri R, Retno FM.,
Anwaril M., G. Yudoyono
Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Single Coupler dan
Directional Double Coupler Serat Optik Multimode

181-188
Ice Trianiza, G. Yudoyono Fabrication DSSC (Dye Sensitized Solar Cell) With Conductive
Glass and Variation Dye Extract Red Ginger (Zingiber officinale
Linn Var. Rubrum) With Spin Coating Method

189-196
Nurrisma Puspitasari, Nurul
Amalia Silvi, dan Endarko
Fabrikasi dan Karakterisasi Sel Tunggal Dye Sensitized Solar
Cell (DSSC) Berbasis TiO
2
Menggunakan Ekstraksi Buah
Manggis, Kunyit dan Klorofil dengan Variasi Dye dan Elektrolit

197-202

Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id ix
Nurul Amalia Silvi, Nurrisma
Puspitasari, dan Endarko
Analisis Perbandingan Nilai Efisiensi Pada Pembuatan Protype
Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) Berbasis TiO2 Single Layer
dan Double Layer
203-208
Yasin Agung S., Wina I.N.,
Yuni N.H.,Mefina Y.,
Banatul M., Yono HP.,
G. Yudoyono
Karakterisasi Divais Multimode Interference Imaging (MMI)
Untuk Power Spliter 1 X 3 Berbahan Polimer
209-214
Yono Hadi P., Ayu
Kusumawardhani,
Vira Rahayu
Disain dan Fabrikasi Antena Mikrostrip Dipole Bersudut Untuk
Frekuensi WI-FI 2,4 GHz
215-220
Yuni NH, Yasin AS., Wina IN,
Mefina Y., Banatul M.,
G. Yudoyono, A.Y. Rohedi
Studi Awal Pengaruh Temperatur Pada Pandu Gelombang
Planar Asimetri Berbahan Methyl Methacrylate (MMA)
dengan Metode Spin Coating
221-226

Komputasi dan Instrumentasi
Pratondo Busono A Comparative Study of Various Methods of Respiratory
Frequency Estimation From Electro Cardiogram
227-234
Pratondo Busono Development of A Three-Lead Electro Cardiograph With
Embedded Digital Filter On FPGA For Noise Removal
235-242
Hadziqul Abror dan
Melania Suweni M
Fabrikasi Sensor Pergeseran Berbasis Macrobending Serat
Optik
243-248
Indah Ayu dan Melania
Suweni M
Analisis Pengaruh Jari - jari dan Jumlah Lilitan Terhadap
Power Loss pada Serat Optik Menggunakan Optical Spectrum
Analyzer

249-254
Triswantoro Putro dan
Endarko
Pengaruh Variasi Penempatan Kutub Medan Magnet
Terhadap Pengukuran Kadar CaCO
3
Dalam Air
255-260
Suyatno, Harijono A.
Tjokronegoro,
IGN. Merthayasa,
R. Supanggah
Karakteristik Akustik Gamelan Jawa Studi Kasus Gamelan
Milik PSTK ITB
261-268
Bachtera Indarto,
Melania S M ,
Darminto
Pembuatan Magnetometer untuk Menentukan Karakteristik
Bahan Superkonduktor
269-278












Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 x








Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 1
DELPHI PROGRAMMING FOR PERFORMANCE ANALYSIS OF
ORGANIC RANKINE CYCLE IN DIFFERENT REFRIGERANTS
FOR LOW TEMPERATURE GEOTHERMAL
Pr abowo, Andr e GT, Ekadewi

Dept. of Mechanical Engineering, ITS Surabaya
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
prabowo@me.its.ac.id
Abstr act

A software has been developed in a Windows-based Delphi programming for analyzing
the influence of the transport and thermodynamic properties of the refrigerants on the
performance of the Organic Rankine Cycle (ORC). Its user-friendly drag and drop icon
format and excellent color graphics make it an interactive tool for the preliminary design
of the ORC system. The research was carried out by analyzing the performance of the
system components and the overall ORC based on the ideal cycle of the various working
fluids within R22, R123, R134a and RC318. The pressure of evaporator was changed in
three steps 7, 10 and 12 bar, while the condenser was kept constant pressure at 1 bar.
The turbine inlet temperature was moved in the range 100
0
C to 140
0
C. Contribution of
the transport and thermodynamic properties of the working fluids towards the
performance of the components and the system were then comparatively. R22 has a high
turbine work output and also high cycle efficiency than R123, R134a and RC318 by
increasing turbine inlet temperature. RC318 will give good efficiency if it is operated at
saturated vapor condition. RC318 has low latent heat of vaporization thus vaporizes under
relatively very low evaporator heat supply.
Keywords : Organic Rankine Cycle, Delphi programme, Performance analysis



1. INTRODUCTION
Geothermal heat sources vary in temperature from 50 to 300
0
C, and can either be superheated, mainly
saturated steam, a mixture of steam and water or just liquid water. Generally, the high temperature (>170
0
C)
and pressure (> 6 bar) are suitable for commercial production of electricity. In such condition, however, only
very small probability during exploration geothermal well can produce steam in high temperature. In Mataloko-
NTT east part of Indonesia, almost 50% exploration geothermal wells were producing steam in low temperature
(< 150
0
C) and became un-useful. Organic Rankine Cycle (ORC) with refrigerant as working fluid are the most
technology for utilizing such low temperature resources for electricity generation [1-3]. Like the Rankine
Cycle, the main components of this system consist of the evaporator, condenser, pump and turbine. This system
requires only low temperature and pressure heat sources to produce vapor that turns the turbine to generate
electricity and this system also does not require a furnace as the heating component which has pollution effects
to the environment.
A regenerative cycle improves the efficiency of an ORC and reduces irreversibility when he use various
classes of organic working fluid [4]. The cycle power will increase by increasing the mass flow rate of
geothermal steam entering the evaporator by mixing the steam from the source with a portion of recirculated
steam from the evaporator exit [5]. Experimental study was also proposed to improve the thermal efficiency by
using solar energy, a displacement-type scroll expander and compound parabolic concentrator solar collector are
used [6]
The research on the Organic Rankine Cycle that has emphasized on the overall performance of the system
in producing power; including the efficiency, power produced and performance of the various components with
change in enthalpy, but there hasnt yet been an adequate explanation behind the increase in power or efficiency
in connection with the thermodynamic and transport properties of the refrigerants. As such this research seeks to
carry out an analysis into the influence of these properties to the individual components and the overall
performance of the system.
Prabowo, Andre GT, Ekadewi / Delphi Programming for Performance Analysis ... SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 2
2. Methodology
2.1 Analysis of an ORC System
The schematic of the ORC system is shown in Figure 1. Low temperature heat sources (low grade
geothermal energy) is passed through the evaporator heating the working fluid and is converted from liquid to a
high pressure vapor. The vapor is used to drive a turbine and is changed into a low pressure vapor. At the same
time, the thermal energy of the vapor is converted to mechanical energy and will be producing electricity if
generator is connected to turbine shaft. The vapor leaving the turbine is then condensed at the condenser and
pumped back to the evaporator. The working fluid then passes through a series of devices in a closed cycle.
By modeling each device, a complete cycle simulation is achieved. The simulation requires such condition
as the turbine inlet pressure P
1
is changed in three steps 7, 10 and 12 bars, besides that the turbine outlet
pressure P
2
was kept at constant 1 bar. The turbine inlet temperature is set between 100 to 140
0
C to be a
superheated phase. The working fluid passing through the condenser is assumed to be a saturated liquid. In this
simulation, each stage of the working fluid is expressed by the equation (1) to (5) [8]. The equations are used to
determine the cycle efficiencies for basic ORC configurations are presented in this section. The thermodynamic
model presented in this chapter assumes the following: 1) steady state conditions, 2) no pressure drop in the
evaporator, condenser, and pipes, and 3) isentropic process for the turbine and pump.

Process 1-2 (Turbine):
The superheated vapor of the working fluid passes through the turbine to generate mechanical power. The
vapor expands in the casing and it will be depressurized by the turbine blades. The vapor comes out of the
turbine at lower pressure P
2
. The turbine power is given by:

s
T
h h
m
W
2 1

&
(1)

Where m&is the working fluid mass flow rate, and h
1
and h
2s
are the enthalpies of the working fluid at the
inlet and outlet of the turbine for isentropic process.



















Figure 1. Schematic of the ORC system

Process 2-3 (Condenser):
The vapor of the working fluid goes through a constant pressure phase change process in the condenser into
a state of saturated liquid. The condenser heat rejection rate is expressed as,

3 2
h h
m
Q
s
condenser

&
(2)
Prabowo, Andre GT, Ekadewi / Delphi Programming for Performance Analysis ... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 3
Process 3-4 (Pump):
The working fluid (saturated liquid) leaving the condenser at low pressure P
3
regains high pressure here to
P
4
. The working fluid is pumped back into the evaporator. The pump power can be expressed as,
) (
3 4 3 4
P P v h h
m
W
f s
p

&
(3)
where h
3
and h
4s
are the enthalpies of the working fluid at the inlet and outlet of the pump for the ideal case.

Process 4-1 (Evaporator):
In the evaporator, the low temperature geothermal heats the working fluid from the pump outlet to the
turbine inlet condition. Taking a control volume enclosing the evaporator, the heat transfer rate from the
energy source into the working fluid is given by,

s
evaporator
h h
m
Q
4 1

&
(4)

Cycle efficiency:
The thermal efficiency is defined as the ratio between the net power of the cycle to the evaporator heat rate.
It gives a measure about how much of the waste heat input to the working fluid passing through the
evaporator is converted to the net work output and can be expressed as,
100
/
/ /

m Q
m W m W
evaporator
p T
&
& &
(5)
2.2 Description of Software
A window-based Delphi programming have been created to determine the influences of the transport and
thermodynamics properties including density, viscosity, thermal conductivity, latent heat and enthalpy for
different refrigerant in performance trend of ORC. Thermodynamics properties of common refrigerant where
have been taken from NIST [7] are included in the software. These kind of properties are automatically
calculated based on input fluid temperatures and pressure in every stage. The existing database of refrigerant
properties cater for R22, R123, R134a and RC318. In simulation process, the software will display each
components of the ORC system (Turbine, Reheat Turbine, Condenser, Pump and Evaporator) as shown in Fig. 2
for the beginning form.














Figure 2. The beginning form Figure 3. Design ORC system with drag and drop

Then, the user can drag the select components/icons and drop to the empty form. Connecting these components
to make organic Rankine cycle system as shown in Fig. 3. This simulator is user friendly with attractive icon
and easy to operate.




Prabowo, Andre GT, Ekadewi / Delphi Programming for Performance Analysis ... SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 4
3. Results and Analysis
3.1. Numer ical Simulation Results













Figure 4. Input data and calculation results Figure 5. T-s diagram and model process


After finishing the design of ORC system, pressure and temperature will be inputted for each component like
evaporator, turbine, condenser and pump. The user also can choose the kind of working fluid will be used. The
software will automatically calculate turbine and pump work, heat rejection condenser, cycle efficiency,
properties in each stage of the process, etc, based on data inputted by the user. The output from this process was
shown in Fig. 4. Besides that, the simulator will displayed T-s diagram and state of condition for working fluid
in each stage as shown in Fig. 5.
Figure 6 (a) and (b) show the dependence of the turbine work (KJ/kg) on the different turbine inlet
temperature under superheated vapor condition for pressure 7 bar and 12 bar respectively, with constant
pressure 1 bar at condenser. In the case of R22 and R134a at pressure 7 bar, the work turbine significantly
increases with increase in the turbine inlet temperature. The work turbine is calculated by Eq. (1).

















(a) P
evaporator
=7 bar (b) P
evaporator
=12 bar

Figure 6. Effects of the turbine inlet temperature on turbine work for P=7 bar and P=12bar

As this equation, increasing the value of enthalpy inlet turbine will formulate the turbine work output become
enlarge. For R123 and RC318, it only slightly increases and also the value of the turbine work output is small.
Accordingly the relationship the work turbine and the temperature inlet turbine is expressed as a straight line.
Prabowo, Andre GT, Ekadewi / Delphi Programming for Performance Analysis ... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 5
For the evaporator pressure 12 bar, the turbine work has same tendency with Fig. 6 (a) only the value relatively
higher than pressure 7 bar.

Figure 7 (a) and (b) present the effect of the turbine inlet temperature on the cycle efficiency under
superheated vapor condition for pressure 7 bar and 12 bar respectively, with constant pressure 1 bar at
condenser. From the point view of the ideal system, these values of the cycle efficiencies are very strict.


















(a) P
evaporator
=7 bar (b) P
evaporator
=12 bar

Figure 7. Effects of the turbine inlet temperature on cycle efficiency for P=7 bar and P=12 bar

R22 has highest cycle efficiency and increases trend with enhancing in the turbine inlet temperature. Therefore
raising the temperature inlet turbine and pressure, give us much higher system performance. Inline with R22,
R123 and R134a have also increase trend. Conversely, RC318 has lowest the cycle efficiency and decreases
tendency for increasing turbine inlet temperature. Thus RC318 will give the best efficiency if it is operated at
saturated vapor condition. For the pressure 12 bar, the cycle efficiency has same gradient with Fig. 7 (a) only the
value slightly higher than pressure 7 bar. These results, however, tell us the characteristics of each working
fluid and the effect of the temperature inlet turbine.

3.2. Component Tr anspor t Pr oper ties Analysis

Tabel 1. Thermal properties of working fluids

Wor king
Fluid
Molecular
Weight
(gr /mol)
Cr itical
Pr essur e
(KPa)
Cr itical
Temp.
(C)
R22 86.48 4977.4 96
R123 152.93 3668 183.68
R134a 102.03 4067 101.1
RC318 200.04 2781 115.3

There are several criteria that the working fluid should ideally satisfy. Stability, non fouling, non
corrosiveness, non toxicity, and non flammability are few preferable physical and chemical characteristics. Also,
the working fluid should have relatively low boiling point to be used in a organic Rankine cycle, since we deal
with low temperature geothermal. However, in a cycle design, not all the desired general requirements can be
Prabowo, Andre GT, Ekadewi / Delphi Programming for Performance Analysis ... SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 6
satisfied. Table 1 lists the thermal properties of these working fluids. R22 has the smallest molecular weight,
this mean R22 has the density smaller than the others. Contrary, RC318 has the biggest molecular weight, this
mean using the same pump capacity, RC318 has the highest mass flow rate.

Figure 8 (a) and (b) present T-s diagram for R22 and RC318, respectively. The different of entropy
between saturated gas and saturated liquid (s
fg
) represents big or small latent heat. In addition, a highest latent
heat means the largest portion of the energy supplied is taken up during phase change at constant temperature
and pressure. The working fluid, R22, has wider T-s than the other organic fluids, this is taking up more heat
during evaporation. Contrary, RC318 has narrower T-s diagram, thus less heat during evaporation. The state
condition of RC318 has always superheated steam out from turbine even inlet turbine in saturated vapor
condition.

Figure 9 (a) and (b) show the effect of the turbine inlet temperature on specific volume of the working
fluid for P=7 bar and 12 bar respectively. In the case of each working fluid, the specific volume increases
proportionally with increase in the turbine inlet temperature. The working fluid, RC318, has the lowest specific
volume and the value will enlarge in higher pressure P=25 bar. Additionally, the work pump was calculated by
Eq. (3). This equation reveals that an increase in specific volume is also associated with increase the pump
work.













(a) R22 (b) RC318

Figure 8. T-s Diagram for working fluid considered


















(a) P
evaporator
=7 bar (b) P
evaporator
=12 bar

Figure 9. The effects of the turbine inlet temperature on specific volume of the working fluid for
Prabowo, Andre GT, Ekadewi / Delphi Programming for Performance Analysis ... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 7
0
50
100
150
200
250
0 5 10 15
R134a R22 RC318 R123
h
f
g

(
K
j
/
k
g
)
Pressure (bar)
hfg Vs Evaporator Pressure
P=7 bar and P=12 bar

















Figure 10. The impact of the evaporator pressure on enthalpy of vaporization


Figure 10 shows the impact of evaporator pressure on the enthalpy of vaporization (h
fg
). Almost all
working fluids have same trend with decreasing latent heat of vaporization as the evaporator pressure increase.
RC318 has the lowest enthalpy of vaporization thus vaporizes under relatively very low evaporator heat supply.

4. Conclusion
The simulation and analysis have been done on the effect of thermodynamic and transport properties of R22
(Chlorodifluoromethane), R123 (Dichlorotrifluoroethane), R134a (Tetrafluoro-ethane), and RC318
(Octafluorocyclobutane) on the ideal Organic Rankine cycle, it has been found :
1. With the same rate of flow working fluid, R22 has a high turbine work output and also high cycle efficiency
than R123, R134a and RC318, thus more suitable for use as the ORC working.
2. RC318 has lowest the cycle efficiency and decreases tendency in enlarge the turbine inlet temperature.
RC318 will give good efficiency if it is operated at saturated vapor condition
3. R22 has a high enthalpy of vaporization, since in the evaporator much heat is absorbed during the phase
change at constant temperature and pressure; it thus takes up more heat from the source resulting to high
efficiency.
4. Low specific volume as in RC318 is favorable as it increases cycle efficiency by reducing the pumping
energy.
5. RC318 has low latent heat of vaporization than R123, R134a and R22, thus vaporizes under relatively very
low heat supply. Despite being superheated, the refrigerants has lower cycle efficiencies than R22.
Refer ences
[1] Yamamoto T, Furuhata T, Arai N, Mori K, "Design And Testing Of The Organic Rankine Cycle", Energy
Journal, vol.26, pp 239-251, 2001
[2] Madhawa HD, Mihajlo G, William MW, Ikegami Y, "Optimum Design Criteria For An Organic Rankine
Cycle Using Low-Temperature Geothermal Heat Sources", Energy Journal, vol.32, pp 1698-1706, 2007
[3] Donghong W, Xuesheng L, Zhen L, Jianming G, "Performance Analysis And Optimization Of Organic
Rankine Cycle (ORC) For Waste Heat Recovery", Energy Conversion and Management Journal, vol.48, pp
1113-1119, 2007
[4] Pedro JM, Louay MC, Kalyan S, Chandramohan S, "An Examination of Regenerative Organic Rankine
Cycle Using Dry Fluid", Applied Thermal Engineering Journal, vol.28, pp 998-1007, 2008
[5] Aleksandra BG, Wladyslaw N, "Maximising The Working Fluid Flow As A Way Of Increasing Power
Output Of Geothermal Power Plant", Applied Thermal Engineering Journal, vol.27, pp 2074-2078, 2007
[6] Saitoh T, Yamada N, Wakashima S, "Solar Rankine Cycle System Using Scroll Expander", Journal of
Enviroment and Engineering, vol.2, no.4, pp 708-719, 2007
Prabowo, Andre GT, Ekadewi / Delphi Programming for Performance Analysis ... SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 8
[7] National Institute of Standards and Technology, Standard Reference Database 23, Reference Fluid
Thermodynamic and Transport Properties-Refprop 7.0, US, 2002.
[8] Andrian B. Advanced Engineering Thermodynamics, New York; Wiley, 1997.


Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 9
PEMBENTUKAN PUSAT KEUNGGULAN ENERGI GEOTHERMAL
INDONESIA-JERMAN

Agus Rubiyanto
1
, Makky S. Jaya
2

1
Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia, Berlin,
Jerman, Jurusan Fisika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya,
Indonesia

2
International Center for Geothermal Research, German Research Center for
Geosciences (GFZ), Helmholtz Center Potsdam, Germany


Abstrak:

Saat ini hubungan bilateral Negara Indonesia dan Jerman telah memasuki kerjasama lebih dari
60 tahun. Indonesia secara alami dianugerahi kandungan sumber daya geothermal dengan
kapasitas pembangkit listrik sampai dengan 29000 MW yang terbesar di dunia. Sampai dengan
tahun 2015 diharapkan Indonesia akan membangun sebesar 3967 MW dari tenaga geothermal
ini, sedangkan tahun 2025 menjadi 9500 MW. Sebaliknya Jerman merupakan salah satu negara
maju yang memiliki kapasitas untuk pengembangan teknologi dan investasi pembangkit listrik.
Jerman berencana akan menggantikan pembangkit listrik dari tenaga nuklir dengan energi
terbarukansampai dengan tahun 2022, termasuk diantaranya dari tenaga geothermal. Melihat
kesamaan target antara pemerintah Indonesia pada tahun 2025 dan Jerman pada tahun 2022,
perlu kiranya ditingkatkankerjasama ke uda Negara untukpengembangan energi geothermal.
Pada kurun waktu 2010-2012 telah terbentuk jaringan kompetensi Indonesia-Jerman di bidang
energi geothermal. Jaringan kompetensi ini merupakan muara dari aktifitas kerjasama penelitian
dan pengembangan kedua negara yang dilakukan oleh peneliti dan profesional dari lembaga
pemerintah, universitas dan industri di bidang energi geothermal melalui aktifitas kerjasama
penelitian. Dalam upaya untuk mencapai target pemenuhan kapasitas terpasang sebesar 9500
MW pada tahun 2025, program intensifikasi kerjasama Indonesia-Jerman untuk pengembangan
energi geothermal diusulkan suatu mengimplentasikan langkah strategis membuat platform pusat
keunggulan Indonesia-Jerman di Bidang Energi Geothermal. Pusat keunggulan tersebut
merupakan titik temu yang sangat strategis dan sinergis antara Indonesia dan Jerman yang secara
operasional merupakan pusat bagi kedua negara dalam bidang peningkatan kapasitas,
pengembangan teknologi, pusat informasi dan pusat kerjasama industri geothermal.Kerjasama
ini meliputi meliputi tiga (3) aspek yaitu : peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui
kerjasama penelitian dan pendidikan; penguasaan teknologi melalui penelitian bersama yang
berorientasi pada penyelesaian masalah dilapangan (field-based operational research); dan
membuka kesempatan bagi perusahaan dan pengembang Jerman untuk berinvestasi dan
berpartisipasi dalam pengembangan energi geothermal di Indonesia dengan terlibat dalam
pekerjaan-pekerjaan penelitian dan pengembangan.

Kata kunci: energi geothermal, kerjasama Indonesia-Jerman, investasi, teknologi
Agus Rubiyanto, Makky S. Jaya/ Pembentukan Pusat Keunggulan Energi... SFA 2013

10 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
1. PENDAHULUAN
Hubungan bilateral Indonesia dan Jerman pada tahun 2012 ini memasuki babak baru yang secara resmi
telah terjalin selama 60 tahun. Era baru ini ditandai oleh peningkatan hubungan dengan terjalinnya sebuah
Kemitraan Strategis (Strategic Partnership) antara kedua negara. Kedatangan Kanselir Jerman Dr. Angela
Merkel ke Indonesia pada 10-11 Juli 2012 semakin memperkokoh hubungan kedua negara. Selama ini
hubungan bilateral Indonesia-Jerman sejak dibukanya hubungan diplomatik kedua negara tahun 1952 telah
berlangsung dengan baik.
Langkah menuju Kemitraan Strategis ini sebagai respons terhadap peningkatan hubungan antara
Indonesia-Jerman di berbagai bidang terkini, sebagaimana telah dirintis dalam kunjungan Presiden Jerman saat
itu, Christian Wulff, pada akhir tahun 2011. Peluncuran Jakarta Declaration: Indonesian-German Joint
Declaration for a Comprehensive Partnership Shaping Globalisation and Sharing Responsibility, menandai
kunjungan Kanselir Merkel ke Indonesia. Deklarasi ini mencerminkan keinginan kuat dari kedua negara untuk
terus meningkatkan hubungan yang telah terjalin dengan baik sejak lama.
Lima bidang kerja sama yang telah disepakati pada saat kunjungan Presiden Christian Wulff, yaitu
bidang perdagangan dan investasi, riset dan teknologi, kedokteran, pendidikan dan pertahanan akan diperkuat
dengan tiga bidang tambahan yaitu ketahanan pangan, energi terbarukan, dan transportasi.
Berbagai kerjasama yang telah disepakati di atas bisa terwujud karena Pemerintah Jerman memandang
Indonesia sebagai negara yang memiliki peran penting di kawasan serta salah satu negara tujuan utama investasi
di kawasan Asia Tenggara. Jerman juga sangat memuji kemajuan demokrasi di Indonesia. Hal ini tercermin dari
kunjungan Angela Merkel ke Mahkamah Konstitusi (MK) RI. Angela Merkel menilai sejak adanya Mahkamah
Konstitusi, penegakan hak azasi manusia (HAM) di Indonesia mengalami peningkatan yang bagus. Kanselir
Merkel juga memandang penting peran Mahkamah Konstitusi sebagai salah satu upaya pengembangan
demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia.
Sebaliknya, Indonesia juga memandang Jerman sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Uni
Eropa. Jerman juga tercatat salah satu investor terbesar di Indonesia dan salah satu negara donor terbesar di
bidang kerjasama pembangunan dengan Indonesia. Terlebih lagi, Jerman dikenal memiliki sistem pendidikan
dan universitas berkualitas baik, teknologi tinggi dalam produksi alat kesehatan dan obat-obatan, kemampuan
riset dan teknologi yang maju serta teknologi industri pertahanan strategis.
Dalam bidang-bidang lain, hubungan Indonesia-Jerman juga menunjukkan peningkatan. Kedua negara
secara rutin menyelenggarakan dialog antar-agama dan antar budaya, forum konsultasi reguler dan pemberian
beasiswa baik bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar di Jerman, maupun sebaliknya. Dalam kerangka dialog
antar-agama dan antar-budaya, Indonesia akan memberikan 10 beasiswa bagi mahasiswa Jerman untuk belajar
kajian Islam di Indonesia, sebaliknya pihak Jerman menawarkan pelatihan kejuruan bagi santri madrasah di
Indonesia. Di bidang pendidikan, saat ini telah diluncurkan program debt-swap yang dialokasikan untuk
membiayai pendidikan program doktor bagi dosen-dosen Indonesia guna melanjutkan pendidikan tingkat S-3 ke
Jerman. Di sisi lain, Jerman tetap merupakan salah satu tujuan utama mahasiswa Indonesia untuk menimba ilmu,
khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dan terdapat peningkatan mahasiswa Indonesia yang
belajar di Jerman.

2. Tantangan Pengembangan Energi Geother mal di Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat istimewa dicirikan dengan keberadaan berbagai
macam fenomena geologis, vulkanik dan tektonik yang mengelilingi wilayahnya dari timur ke barat dan dari
selatan ke utara. Paparan daratan yang membentuk kepulauan di Indonesia adalah merupakan pertemuan dari
berbagai lempeng tektonik berasal dari berbagai macam usia geologi. Karena pertemuan (tumbukan) dari
berbagai macam lempeng tektonik tersebut kepulauan di Indonesia terbentuk deretan gunung-gunung berapi
yang membentang mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Flores sampai dengan Sulawesi Utara. Gambar 1a
adalah peta kompilasi GIS yang menunjukkan fenomena geologis, vulkanis dan tektonik dari negara Indonesia
[1].
Agus Rubiyanto, Makky S. Jaya/ Pembentukan Pusat Keunggulan Energi... SFA 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 11
Deretan gunung api yang membentang sepanjang kurang lebih 5000 km tersebut sering dinamakan para
ahli sebagai Pacific Ring of Fires. Keberadaan dari deretan gunung api ditambah dengan lokasi palung akibat
adanya pertemuan dua lempeng tektonik membuat Indonesia rentan dengan fenomena bencana alam geologis
berupa gempa bumi (baik tektonis dan vulkanis), semburan lava dan lahar dari gunung api, longsor dan banjir
akibat tatanan geomorfologi pegunungan api.
Meskipun rentan dengan fenomena bencana alam geologis, keberadaan dari deretan gunung api dan tata
letak geomorfologis memberikan anugrah bagi Indonesia sebagai negara dengan potensi energi panas bumi
(geothermal energy) yang sangat besar. Hasil penyelidikan dari Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi
Indonesia di Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), ditemukan 276 lokasi sumber daya panas
bumi yang tersebar sebagian besar didekat deretan gunung api. Gambar 1b menunjukkan peta lokasi sumber
daya panas bumi (kotak berwarna biru).Dihitung dalam potensi energi listrik yang bisa dihasilkan dari
geothermal, potensi sumber daya geothermal total diperkirakan mencapai 29000 MW (mega watt). Sampai
dengan bulan April 2012, dari 276 lokasi sumber daya geothermal, sebanyak 1226 MW telah dihasilkan dari
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB), yang berarti baru sekitar 4% kapasitas potensial total. Selain
itu dari gambar tersebut bisa dilihat bahwa kebanyakan PLTPB yang sudah berproduksi berada di pulau Jawa,
khususnya di propinsi Jawa Barat.


a) b)

Gambar 1.a) Wilayah Indonesia dikelilingi oleh fenomena tektonik dan vulkanik. Segitiga merah menunjukkan
gunung api aktif besar (tidak semua gunung api di Indonesia ditampilkan). Lingkaran hijau adalah lokasi gempa
besar dari tahun 1992-2012.Batas-batas tumbukan lempeng tektonik ditunjukkan oleh garis warna hitam, biru
(putus-putus) dan jingga (putus-putus).Tanda panah dan angka pada gambar tersebut menunjukkan arah dan besar
dari gerakan lempeng dalam centimeter per tahun.b) . Lokasi potensi sumber daya panas bumi (kotak berwarna
biru), dipadukan dengan lokasi gunung api aktif (segitiga berwarna merah). Grafik balok berwarna hijau
menunjukkan sumber daya panas bumi yang sudah dimanfaatkan dalam bentuk energi listrik.Gambar adalah
kompilasi Geographical Information System (GIS) dengan menggunakan ArcMAP oleh Jaya et al. (2012) [1].

Menurut Peraturan Menteri ESDM No 15 tahun 2010 sampai dengan tahun 2015 pemerintah akan
membangun 43 PLTPB baru dengan kapasitas sampai dengan 3967 MW dari lokasi sumber daya geothermal
yang ada mulai dari propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sampai dengan Maluku Utara. Dengan
demikian diharapkan sampai dengan 2015 kurang lebih 5000 MW listrik dihasilkan dari energi geothermal yang
merupakan angka kontribusi ideal untuk mencapai 9500 MW energi listrik dari panas bumi pada tahun
2025.Target capaian 5000 MW sampai dengan 2015 atau 9500 MW pada tahun 2025, ditinjau dari berbagai
macam aspek adalah merupakan target yang penuh tantangan dan jika tidak diperhatikan akan menjadi target
yang ambisius.
Secara umum tahapan pengembangan energi geothermal mulai dari menemukan lokasi sumber daya
geothermal sampai dengan produksi listrik digambarkan dalam diagram yang ditunjukkan pada Gambar 2.
Tergantung dari paparan geologis masing-masing wilayah secara umum waktu pengembangan mulai dari
Agus Rubiyanto, Makky S. Jaya/ Pembentukan Pusat Keunggulan Energi... SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 12
tindakan explorasi sampai dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi akan memakan waktu
dari 7-10 tahun.
Keberhasilan pengembangan pembangkit listrik dari panas bumi sangat ditentukan oleh keberhasilan
memahami proses keseluruhan secara integral dan inter-disipliner. Hal ini berarti sintesa tentang hubungan
antara singkapan atau manifestasi geothermal di permukaan dengan system geothermal di bawah permukaan
bumi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan pengembangan energi geothermal. Tujuannya
untuk mengidentifikasi sumber daya geothermal secara lebih pasti dan dengan demikian mengurangi resiko dan
biaya pengembangan secara keseluruhan [2,3].
Dalam setiap tahapan investasi biaya dan resiko yang terkandung tidak kecil. Oleh karena itu
pengembangan energi geothermal, sebagaimana pengembangan sumber daya alam lain, selain berdampak pada
biaya tinggi, juga memerlukan teknologi tinggi dan sekaligus beresiko tinggi. Hal ini sesuai dengan revenue
yang nantinya akan dihasilkan dari pengembangan energi tersebut.


Gambar 2. Konsep pengembangan energi geothermal mulai dari explorasi sumber daya geothermal sampai
dengan produksi energi listrik [4].

Secara keseluruhan tantangan dalam pengembangan energi geothermal disajikan dalam bentuk diagram
seperti dalam Gambar 3. Proses pengembangan energi geothermal mensyaratkan investasi awal yang tinggi,
terutama dikaitkan dengan pengeboran explorasi (exploratory drilling) dalam rangka mengkonfirmasi
ketersediaan kapasitas yang akan dipasang. Kemudian untuk melakukan pengembangan energi geothermal
secara teknis, diperlukan perangkat dan peralatan yang berteknologi tinggi, mulai dari peralatan explorasi,
pengeboran, pengkajian reservoir, instalasi peralatan di permukaan (pipa, penukar panas, dlsb.) sampai dengan
pembangkit listrik. Pada akhirnya, perangkat dan peralatan berteknologi tinggi menuntut kecakapan dan
kehandalan dari sumber daya manusia (SDM) yang akan menjalankannya. Pemenuhan SDM yang mempunyai
kualifikasi merupakan masalah kunci yang dihadapi oleh semua institusi dalam mengembangan energi
geothermal dalam kurun waktu sebagaimana yang diharapkan.
Kurangnya ahli dalam bidang explorasi atau pengeboran, bisa diatasi dengan memanggil ahli asing yang
selalu berkorelasi dengan biaya personal yang tinggi, dampaknya adalah biaya investasi yang tinggi. Demikian
pula dengan peralatan berteknologi tinggi. Oleh karena itu, tiga permasalahan pokok dalam mengembangan
energi geothermal yang dipaparkan dalam diagram pada Gambar 3 tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Ketiganya saling berhubungan satu sama lain yang membuat pengembangan energi geothermal merupakan
tantangan baik dalam hal penguasaan teknologi dan peningkatan kualitas SDM, serta kemauan dan keberanian
untuk berinvestasi.
Geo-
physical
exploration
Geology
Drilling-
and reservoir-
engineering
Doublet-
conception,
technology
thermal-
waterloop
Technology
of the plant
system-
quali-
fying
Geothermics-research fields, depending on site
subsurface
1.well,
logging, testing,
stimulation
detailled
feasibility-study
Basic-
exploration,
geological
model,
rock
properties,
temperature,
stress-field
deepened
prospection
e.g. geophys.
fieldwork,
preliminary
reservoir-
model
Site
development
doublette,
Performance
test
surface
Geothermal plant
(power or heat)
engineering,
construction,
operation
System-
perfor-
mance
Target,
licences
1.Fea-
sibility
estimation
Utilisation-
concept
2.Fea-
sibility
estimation
Agus Rubiyanto, Makky S. Jaya/ Pembentukan Pusat Keunggulan Energi... SFA 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 13

Gambar 3.Diagram faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pengembangan energi geothermal.
3. Kerjasama Indonesia-Jer man Dalam Pengembangan Energi Geother mal
Negera Republik Federal Jerman merupakan salah satu negara maju yang sudah dikenal dalam penemuan dan
inovasi teknologi.Penemuan dan inovasi teknologi berkorelasi sangat erat dengan pengembangan ilmu
pengetahuan dan peningkatan kapasitas pendidikan dan penelitian.Porsi penelitian dan pengembangan pada
gross domestic product (GDP) dengan rata-rata sebesar 2,7% GDP (rata-rata sekitar 65 milyar EURO atau 700
trilyun RUPIAH per tahun) dari tahun 2005-2010 menunjukkan bahwa Jerman menjadikan ilmu pengetahuan
dan teknologi menjadi basis bagi keberlangsungan daya saing produksi negara mereka.

Pada tanggal 6 Juni 2011, parlemen Jerman (Bundestag) setelah melalui debat yang panjang telah memutuskan
untuk tidak bergantung pada energi nuklir pada tahun 2022. Saat ini, 23% dari bauran energi di Jerman berasal
dari energi nuklir. Sedangkan dari energi terbarukan berjumlah 16%. Sampai dengan tahun 2022, porsi dari
energi terbarukan (renewable energy) ditingkatkan menjadi 40% (dimana 2% diantaranya berasal dari energi
geothermal atau kira-kira sebesar 7500 MW kapasitas thermal dan listrik terpasang) disertai dengan efisiensi
energi untuk menggantikan porsi energi nuklir dalam bauran energi nasional.

Jika dikaitkan dengan target pemerintah Indonesia dalam memenuhi 15% porsi energi tarbarukan, dimana 5%-
nya (sebesar 9500 MW) diharapkan berasal dari sektor energi geothermal pada tahun 2025, ditemukan suatu
korelasi yang sangat menarik dengan target pemerintah Jerman dalam pemanfaatan energi terbarukan
(khususnya geothermal) dalam konsep bauran energi di tahun 2022. Beda utamanya adalah, negara Jerman tidak
memiliki sumber daya geothermal sebagaimana di Indonesia yang didominasi oleh kekayaan gunung api yang
membuat Indonesia mengandung 40% dari cadangan geothermal dunia.

Selain pengembangan energi geothermal di dalam negeri, pemerintah Jerman juga sangat aktif dalam
berpartisipasi untuk mengembangan energi geothermal, khususnya di Indonesia. Peran aktif pemerintah Jerman
dalam pengembangan energi geothermal di Indonesia dapat dilihat dari ditanda tanganinya Joint Declaration
antara Kementrian Negara Riset dan Teknologi Indonesia (KMNRT) dengan Kementrian Riset dan Pendidikan
Jerman (BMBF) pada tanggal 27 April 2010 di Bali, Indonesia.Melalui kerjasama penelitian dan pengembangan
dalam bidang energy geothermal ini, periset dari Indonesia dan Jerman melakukan penelitian dan
pengembangan dalam aspek antara lain: teknologi explorasi, pengkajian reservoir dan teknologi pembangkit
listrik yang didalamnya memasukkan aspek pengembangan kapasitas (capacity development) institusi dan
sumber daya manusia. Dalam kerjasama ini BMBF telah mengalokasikan biaya sebesar 10 juta EURO untuk
proyek penelitian dan pengembangan kapasitas. Selaini itu Kementerian Kerjasama Ekonomi (BMZ)
berinvestasi sebesar 300 juta EURO untuk proyek pembangunan PLTPB di Seulawah Agam di Propinsi Aceh
dan Kotamobagu di Propinsi Sulawesi Utara.
Agus Rubiyanto, Makky S. Jaya/ Pembentukan Pusat Keunggulan Energi... SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 14

Melihat target pemerintah Indonesia pada tahun 2025 dan target pemerintah Jerman pada tahun 2022, intensitas
kerjasama Indonesia dan Jerman dalam pengembangan energi geothermal masih perlu ditingkatkan.
Peningkatan intensitas kerjasama antara Indonesia dan Jerman dalam bidang ini secara khusus bagi Indonesia
akan memberikan kontribusi pada tiga (3) aspek:Peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui kerjasama
penelitian dan pendidikan;Penguasaan teknologi melalui penelitian bersama yang berorientasi pada penyelesaian
masalah dilapangan (field-based operational research); dan Membuka kesempatan bagi perusahaan dan
pengembang Jerman untuk berinvestasi dan berpartisipasi dalam pengembangan energi geothermal di Indonesia
dengan terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan penelitian.

4. Jaringan Kompetensi Indonesia-Jerman Dalam Pengembangan Energi Geothermal
Dalam kurun waktu 2010-2012, peneliti Indonesia dan Jerman bekerja di empat (4) wilayah di Indonesia dalam
rangka program kerjasama penelitian dibidang pengembangan energi geothermal. Ke-empat wilayah tersebut
adalah: 1) Sipaholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara; 2) Wayang Windu, Kabupaten
Bandung, Propinsi Jawa Barat; 3) Tiris, Kabupaten Probolinggo, Propinsi Jawa Timur; dan 4) Lahendong,
Kabupaten Tomohon, Propinsi Sulawesi Utara. Fokus penelitian dan institusi kerjasama dimasing-masing
wilayah berbeda-beda mulai dari Explorasi, Kajian Reservoar dan Pembangkit Listrik Geothermal.


Gambar 4. Lokasi kerjasama dan fokus kerjasama penelitian Indonesia Jerman 2010-2012.

Dalam fase kerjasama tersebut, beberapa lembaga pemerintah dan universitas Indonesia dan Jerman serta
industri geothermal di Indonesia telah terbentuk dalam suatu jaringan kerjasama penelitian antara Indonesia dan
Jerman (Gambar 6). Lembaga yang terlibat baik lembaga pemerintah, universitas maupun industri memiliki
kompetensi yang unik untuk masing-masing fokus penelitian. Sebagai contoh, untuk kerjasama di bidang
Explorasi, divisi explorasi dari German Research Center for Geosciences (GFZ) sebagai lembaga Jerman yang
memiliki keahlian di bidang kebumian bersama-sama dengan Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi (GA)
dan perusahaan pengembang energy geothermal (Star Energy/SE). Dibidang pembangkit listrik, divisi
Pembangkit Listrik GFZ bersama dengan Lembaga Jerman dibidang Ilmu Bahan (BAM) bekerjasama dengan
BPPT dan Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Agus Rubiyanto, Makky S. Jaya/ Pembentukan Pusat Keunggulan Energi... SFA 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 15

Gambar 5. Jaringan lembaga pemerintah, universitas dan industri dalam kerjasama Indonesia-Jerman dibidang
Pengembangan Energi Geothermal.

Pada fase kerjasama 2010-2012 dari jaringan kerjasama terbentuk suatu jaringan kompetensi Indonesia-Jerman
dibidang energi geothermal.Jaringan kompetensi Indonesia-Jerman (Indonesian-German Competence Network)
merupakan basis dalam membentuk jaringan keunggulan Indonesia-Jerman yang akan menjadi faktor pemicu
meningkatnya intensitas kerjasama Indonesia dan Jerman dalam pengembangan energi geothermal.

5. Pusat Keunggulan Indonesia-Jer man di Bidang Energi Geother mal
Langkah awal yang telah dicapai dalam kurun waktu kerjasama sebelumnya berupa terbentuknya Jaringan
Kompetensi Indonesia-Jerman di Bidang Geothermal harus dilanjutkan untuk menjawab tantangan
pengembangan energi geothermal baik di Indonesia maupun di Jerman.Hal ini didasarkan kepada beberapa
fenomena perkembangan di masing-masing negara yang bisa menjadi motivasi intensifikasi kerjasama
Indonesia-Jerman di bidang energi geothermal.Sampai dengan tahun 2015 pemerintah Indonesia akan
membangun PLTPB sampai 3967 MW. PLTPB ini kebanyakan adalah modul pembangkit listrik berkapasitas 55
MW. Artinya, lebih kurang sebanyak 600 modul dalam waktu 3 tahun akan dibangun, atau kurang lebih 200
modul setiap tahun. Ini merupakan peluang investasi pembangkit listrik bagi negara Jerman yang sangat terkenal
dengan teknologi pembangkit listrik.
Langkah strategis dalam melakukan intensifikasi kerjasama Indonesia-Jerman dalam pengembangan energi
geothermal adalah dengan merealisasikan Pusat Keunggulan Indonesia-Jerman di Bidang Energi Geothermal
(Indonesian-German Excellence Center on Geothermal Energy).Pusat keunggulan (excellence center) ini
merupakan muara dari jaringan keunggulan (excellence network) sebagai langkah konkrit dan logis lebih lanjut
dari jaringan kompetensi yang sudah terbentuk dalam kurun waktu kerjasama sebelumnya. Pusat Keunggulan
Energi Geothermal memiliki tujuan sebagai berikut:

1) Memperkuat dan memperluas skala, ruang lingkup dan pengaruh dari kerjasama Indonesia-Jerman
dalam pengembangan energi geothermal melalui
a. Aktifitas kerjasama penelitian dan pengembangan teknologi pemanfaatan sumber daya
geothermal dan PLTPB;
b. Promosi jaringan dan sinergi antara lembaga pemerintah, penelitian, pendidikan dan industri
dalam program pengembangan dan aplikasi teknologi mutakhir.

2) Peningkatan fokus pada pengembangan kapasitas (capacity development) baik dari sisi institusi
maupun pengetahuan dan teknologi yang berorientasi pada tantangan di lapangan.

3) Titik temu dan sinergis (focal and synergy point) dari semua pemangku kepentingan (stakeholder)
dalam pengembangan energy geothermal.
Agus Rubiyanto, Makky S. Jaya/ Pembentukan Pusat Keunggulan Energi... SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 16
Untuk merealisasikan langkah strategis tersebutdibutuhkan langkah operasional dalam mewujudkan Pusat
Keunggulan Energi Geothermal yaitu dengan melakukan beberapa aktifitas sebagai berikut (Gambar 6):

1) Pusat Pengembangan Kapasitas. Sebagai pusat pengembangan kapasitas (capacity development),
pusat keunggulan ini memfasilitasi, mengkoordinasi dan menginisiasi forum-forum pelatihan dan
pendidikan, baik yang bersifat peningkatan kapasitas individual (ilmu pengetahuan dan teknologi)
maupun kapasitas institusional.

2) Pusat Pengembangan Teknologi. Pusat keunggulan adalah platform kerjasama dalam penelitian dan
pengembangan teknologi pemanfaatan sumber daya geothermal, mulai dari hulu (explorasi, kajian dan
pemanfaatan reservoar) sampai ke hilir (instalasi fasilitas di permukaan, pembangkit tenaga listrik dan
jaringan listrik). Sebagai negara dengan potensi energi geothermal terbesar di dunia, Indonesia sudah
sewajarnya harus bisa menjadi rujukan dari negara lain dalam pengembangan dan pemanfaatan sumber
daya geothermal.

3) Pusat Informasi. Tahapan pengembangan energi geothermal tidak melibatkan hanyak aspek teknologi,
namun juga aspek sosial. Pada aspek sosial teruatma adalah melibatkan unsur memberikan informasi
yang akurat dan bisa diterima oleh publik dalam proses pengembangan energi geothermal yang
biasanya ditemukan di daerah-daerah terpencil. Informasi dalam hal ini sangat penting untuk
menghindari terjadinya kesalah-pahaman dan mis-persepsi dari tentang pengembangan energi
geothermal, misalnya dalam hal manfaatnya dan dampaknya.

4) Pusat Kerjasama Industri. Pemanfaatan sumber daya geothermal secara optimal akan terjadi jika
industri pengembang energi geothermal terlibat secara langsung dalam proses pengembangan dari
awal. Pada fase awal pengembangan biasanya industri geothermal memerlukan kepastian bahwa
investasi yang akan dilakukan nantinya akan berdampak positif secara ekonomis bagi perusahaannya.
Oleh karena itu, pusat keunggulan bisa menjadi platform kerjasama industri tidak hanya dalam hal
kerjasama ekonomi namun dalam hal tantangan pengembangannya dari sisi ilmu pengetahuan dan
teknologi. Aktifitas penelitian dan pengembangan yang dilakukan di pusat pengembangan teknologi
bisa disinergikan dengan program perancanaan pengembangan dari industri geothermal sehingga
terjadi sinergi kepentingan dan akselerasi tercapainya tujuan pengembangan energi geothermal
tersebut.


Gambar 6.Diagram langkah operasional dari Pusat Keunggulan Indonesia-Jerman di Bidang Energi Geothermal.

Pusat
Keunggulan
Pusat
Pengembangan
Kapasitas
Pusat
Informasi
Pusat
Pengembangan
Teknologi
Pusat
Kerjasama
Industri
Agus Rubiyanto, Makky S. Jaya/ Pembentukan Pusat Keunggulan Energi... SFA 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 17
PLTPB Biner di Lahendong: Proyek Percontohan Pusat Unggulan Indonesia-Jerman
Bidang Energi Geother mal
Sebagai contoh proyek percontohan untuk Pusat Unggulan Indonesia-Jerman di Bidang Energi Geothermal
adalah penelitian yang saat ini dikerjakan di Lahendong, Kabupaten Tomohon, Propinsi Sulawesi
Utara.Kerjasama ini merupakan prototip Pusat Unggulan di Bidang Energi Geothermal yang melibatkan
lembaga penelitian (BPPT dari Indonesia, GFZ dan BAM dari Jerman), universitas (ITB dan ITS dari
Indonesia, KIT dari Jerman) dan industry (PGE dari Indonesia, CYPLAN dari Jerman). Proyek percontohan
ini bertujuan untuk membuat PLTPB biner ber-skala kecil dengan memanfaatkan air panas (brine) yang
tidak dipakai dari hasil produksi PLTPB besar milik PGE.
Skema operasional proyek percontohan dipaparkan dalam diagram pada Gambar 7. Pola kerjasama seperti
ini menjadikan aktifitas penelitian dan pengembangan sebagai titik temu dan titik sinergi dari pemangku
kepentingan dari sektor penelitian, pendidikan dan industri.Dalam proyek percontohan ini baik pihak
Indonesia maupun pihak Jerman berpartisipasi dari sisi finansial, personal dan infrastruktur.Dampak
multiplikatif dari proyek percontohan seperti ini adalah, pihak industri dari Jerman tidak enggan untuk
masuk dan berinvestasi karena mempunyai ruang untuk melakukan aktifitas kerjasama dalam kerangka
kerjasama yang jelas dan menguntungkan.Bagi pihak Indonesia, investasi dari Jerman berupa pembangunan
PLTPB biner selain bermanfaat untuk industri yang terkait (PGE), juga bermanfaat bagi lembaga penelitian
dan pendidikan sebagai sarana pendidikan dan latihan.

Gambar 7.Skema kerjasama pengembangan PLTPB Biner di Lahendong kerjasama Indonesia dan
Jerman sebagai prototip Pusat Unggulan Indonesia-Jerman di Bidang Energi Geothermal.

Pusat Unggulan Indonesia-Jerman di Bidang Energi Geothermal bisa menjadi platform untuk mengkontruksi
pola kerjasama yang serupa di daerah lain.

6. Kesimpulan
Negara Indonesia dan Jerman telah menjalin kerjasama lebih dari 60 tahun. Indonesia adalah negara yang
diberikan anugerah kandungan sumber daya geothermal terbesar di dunia, dengan kapasitas pembangkit listrik
tenaga geothermal sampai dengan 29000 MW.Sedangkan Jerman adalah salah satu negara maju yang memiliki
kapasitas dalam pengembangan teknologi dan kapasitas investasi pengembangan pembangkit listrik. Dalam
kurun waktu 2007-2012 telah terbentuk jaringan kompetensi (competence network) Indonesia-Jerman di bidang
energi geothermal. Jaringan kompetensi ini merupakan muara dari aktifitas kerjasama penelitian dan
Agus Rubiyanto, Makky S. Jaya/ Pembentukan Pusat Keunggulan Energi... SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 18
pengembangan kedua negara yang dilakukan oleh peneliti dan profesional dari lembaga pemerintah, universitas
dan industri di bidang energi geothermal melalui aktifitas kerjasama dari 2010-2012. Dalam upaya untuk
mencapai target pemenuhan kapasitas terpasang sebesar 9500 MW pada tahun 2025, program intensifikasi
kerjasama Indonesia-Jerman di bidang pengembangan energi geothermal diusulkan dengan mengimplentasikan
langkah strategis dengan membentuk Pusat Keunggulan Indonesia-Jerman di Bidang Energi Geothermal. Pusat
keunggulan tersebut merupakan titik temu dan titik sinergis antara Indonesia dan Jerman yang secara
operasional merupakan pusat bagi kedua negara dalam hal sebagai pusat peningkatan kapasitas, pusat
pengembangan teknologi, pusat informasi dan pusat kerjasama industri.


7. Daftar pustaka

[1] Jaya, M. S., Erbas, E., Huenges, E. (2012): berblick ber die Geothermie-Vorkommen im Niedrig-,
Mittel- und Hochtemperaturbereich in Indonesien, Informationsveranstaltung Geothermie in
Indonesien Exportinitiative Erneuerbare Energien, Bundesministerium fr Wirtschaft und
Technologie, Berlin.
[2] Jaya, M. S., S. A. Shapiro, D. Bruhn, H. Milsch, and E. Huenges, 2008, Temperature-dependent liquid
substitution analysis of geothermal rocks at in-situ reservoir conditions: Society of Exploration
Geophysics Publication, Vol. 27, 17741778, (doi:10.1190/1.3059249).
[3] Jaya, M. S., S. A. Shapiro, L. H. Kristinsdttir, D. Bruhn, H. Milsch, and E. Spangenberg, 2010,
Temperature depenn dence of seismic properties in geothermal rocks at reservoir conditions:
Geothermics, 39, 115123.
[4] Huenges, E. (Ed.) (2010): Geothermal Energy Systems : Exploration, Development and Utilization,
Wiley-VCH, 463 p.
[5] Kedutaan Besar Republik Indonesia Berlin (2012): 60
th
Indonesia Jerman from friends to partner



Prof. Dr.-rer.nat. Agus Rubiyato
Menyelesaikan S1 di bidang Fisika dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya, kemudian melanjutkan pendidikan S2 di bidang Optoelektronika dan Aplikasi
Laser, Universitas Indonesia dan S3 di bidang Optoelektronika di Universitas
Paderborn, Jerman. Lebih dari 20 tahun aktif didunia penelitian Optoelektronika dan
energi terbarukan.Menulis lebih dari 20 publikasi pada peer-reviewed jurnal dan
konferensi internasional.Sejak 2012 bekerja sebagai Atase Pendidikan dan
Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Republik Federasi Jerman.
Selain meneliti, penulis juga bekerja sebagai professor dan supervisi mahasiswa S3 di
Jurusan Fisika ITS, Surabaya dan Universitas Airlangga, Indonesia.



Dr.-rer.nat. Makky Sandra Jaya
Menyelesaikan S1 di bidang Fisika dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya, kemudian melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di bidang Geofisika Explorasi di
Universitas Karlsruhe. Lebih dari 15 tahun aktif didunia penelitian kebumian, dengan fokus
pada explorasi sumber daya migas dan geothermal. Menulis lebih dari 20 publikasi pada
peer-reviewed jurnal dan konferensi internasional. Tahun 2001-2003 penerima riset grant
dari Deutsche Forschungsgemeinschaft (DFG, German Research Association) untuk
ilmuwan muda dan tahun 2004-2005 dari Indonesia Toray Science Foundation
(ITSF).Sejak 2007 bekerja sebagai peneliti senior di International Center for Geothermal
Research di Helmholtz Center Potsdam, German Research Center for Geosciences.Selain
meneliti, penulis juga bekerja sebagai asisten professor untuk supervisi mahasiswa S3 di
FU Berlin dan Universitas Potsdam, Jerman.
Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 19

FABRIKASI MAGNET PERMANEN MENUJU
INDUSTRI RUMAHAN

Nanang Sudr ajat dan Tony Kr istiantor o


Pusat Penelitian Elektronika & Telekomunikasi (PPET) - LIPI
Jl. Sangkuriang Komp.LIPI Gd.20 Bandung
Tlp. (022) 2502660, Fax. (022) 2504659

email : nanang@ppet.lip.go.id

ABSTRAK
Fabrikasi magnet permanen sudah dapat dilakukan menjadi industri rumahan dengan
proses dan peralatan yang sederhana, tidak memerlukan investasi yang sangat besar.
Magnet permanen yang dapat dibuat dengan skala industri rumahan adalah magnet
permanen bonded. Dalam kegiatan ini diujicobakan fabrikasi magnet permanen bonded
dengan mencampurkan bahan serbuk magnet Neodymium Iron Boron (NdFeB) komersil
type MQP 16-7 dengan bahan polimer serbuk phenol formaldehyde (bakelite) dan serbuk
resin pvc. Proses pembentukan sampel dikompaksi dengan sistem hot press dan
dimagnetisasi oleh sebuah solenoida. Kekuatan medan magnet permanen hasil
magnetisasi dapat diukur dengan alat gauss meter. Proses sederhana ini dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat umum untuk pemenuhan kebutuhan magnet permanen
sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

Kata Kunci : Industri rumahan magnet permanen, magnet bonded, neodymium iron boron


1. PENDAHULUAN
Magnet permanen mempunyai fungsi yang berbeda dalam berbagai aplikasinya sebagai komponen
elektronik, seperti dalam mesin-mesin listrik, magnet berfungsi sebagai konverter mekanik ke listrik atau
sebaliknya, dalam alat-alat ukur listrik dan bearing magnetik [1], magnet berfungsi sebagai kopling magnetik,
dan banyak aplikasi yang lainnya.
Pada saat ini, magnet permanen yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi adalah magnet dari
golongan rare earth khususnya neodymium dengan senyawa NdFeB (Neodymium Iron Boron) karena nilai
magnet remanen dan energinya yang tinggi, walaupun tidak sedikit juga yang masih menggunakan magnet
permanen hexaferit dengan senyawa BaFe
12
O
19
karena keunggulan tahan korosif dan temperatur curie yang
tinggi.
Data dan estimasi penjualan material rare earth sebagai bahan baku material magnet selalu mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun seperti terlihat dalam gambar 1 di bawah.














Gambar 1. grafik data dan estimasi penjualan material rare earth [2]
Nanang Sudrajat, dkk. / Fabrikasi Magnet Permanen Menuju Industri Rumahan SFA
2013

20 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Peningkatan penjualan bahan baku magnet tidak terlepas dari permintaan pasar akan produk magnet
permanen dan banyaknya kebutuhan untuk berbagai aplikasi mulai dari kebutuhan perusahaan-perusahaan
besar, perusahaan kecil, penelitian, dunia pendidikan sampai perorangan kalangan masyarakat umum untuk
sebuah hobi berinovasi ataupun kebutuhan lainnya. Magnet permanen sebagai sebuah komponen yang sudah
teraplikasikan didapat melalui dua tahapan, pertama adalah pembuatan raw material magnet dan yang kedua
fabrikasi magnet permanen sesuai design bentuk yang diperlukan.

Raw material magnet dibuat dalam skala besar, begitu juga fabrikasi magnet permanen dilakukan oleh
pabrikan dengan bentuk dan ukuran yang umum. Perusahaan kecil, para peneliti, akademisi dan masyarakat
umum yang mempunyai hobi khususnya dalam aplikasi magnet akan terhambat untuk mencari bentuk dan
ukuran yang sesuai dengan kebutuhan.

Pembuatan magnet permanen bonded merupakan solusi untuk pemecahan masalah di atas dan dapat
dilakukan dengan peralatan sederhana sehingga biaya produksi menjadi rendah, dapat dilakukan dalam volume
produksi kecil maupun besar dan presisi dalam ukuran dan bentuk yang rumit sekalipun [3].

Pada eksperimen ini akan dilakukan fabrikasi magnet permanen bonded dengan menggunakan material
komersil NdFeB MQP-16-7 yang dilindungi karbon produk Magnequench dicampur dengan polimer bakelit
atau pvc resin powder. Karakteristik bahan NdFeB MQP 16-7 mempunyai nilai Br = 9,85 kG, Hci = 7,0 kOe,
Bhmax = 17,1 MGOe, Densitas 7,62 gr/cm
2
. Pabrikan raw material Magnequench telah mengujicobakan
NdFeB bonded pada motor-motor listrik kendaraan menggantikan magnet hexa ferit[4]. Pada eksperimen ini
akan lebih fokus pada variasi arus DC pada proses magnetisasi secara manual dengan sebuah solenoida.


2. METOGOLOGI PENELITIAN
Fabrikasi magnet permanen bonded dilakukan dengan tahapan pertama mencampurkan bahan raw
material magnet NdFeB dengan binder bakelit atau serbuk pvc resin. Pencampuran dapat dilakukan dengan cara
diaduk langsung atau dengan mesin milling seperti yang terlihat pada gambar 2. Apabila pencampuran
dilakukan dengan mesin milling, tidak diperbolehkan menggunakan bola-bola milling yang besar karena akan
memecahkan karbon yang melindungi serbuk NdFeB dari korosi. Pada Eksperimen ini hanya akan dilakukan
pencampuran antara NdFeB 90% berat dengan binder bakelit 10% berat, karena dianggap mempunyai
karakteristik yang baik dan mempunyai fisik yang tidak rapuh. Semakin sedikit binder pengikat, karakteristik
magnet semakin baik tetapi bentuk fisik rapuh karena kurangnya pengikat [5].











(a) pengadukan manual (b) pengadukan dengan mesin milling

Gambar 2. Proses pencampuran serbuk NdFeB dengan binder bakelit atau serbuk pvc resin

Tahap selanjutnya adalah proses kompaksi atau pembentukan sesuai dengan bentuk yang diinginkan,
tetapi terlebih dahulu harus dipersiapkan dies atau cetakannya. Proses kompaksi dapat dilakukan dengan cara
berbeda untuk masing-masing binder.

Nanang Sudrajat, dkk. / Fabrikasi Magnet Permanen Menuju Industri Rumahan SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 21
Untuk binder bakelit, kompaksi dilakukan pada tekanan 200 kg/cm
2
sambil dipanaskan pada temperatur
200
0
C karena binder bakelit akan meleleh dan kembali mengeras ketika dipanaskan sambil ditekan. Alat
kompaksi dirancang secara sederhana menggunakan sebuah dongkrak kendaraan yang dikopelkan dengan alat
ukur tekanan analog. Elemen pemanas disisipkan pada alas mesin pres dan dipasangkan sensor panas untuk
memantau panas yang diinginkan.

Sedangkan untuk binder powder pvc resin, kompaksi dilakukan dengan proses dingin kemudian dipanaskan
pada temperatur 2500C selama 1 jam. Alat pemanas dapat menggunanakan oven yang biasa digunakan di rumah
tangga. Proses kompaksi dan pemanasan menggunakan peralatan berkelas industri kecil atau industri rumahan
dapat dilihat pada gambar 3.

Proses kompaksi dan pemanasan pada temperatur rendah ini menjadi pembeda dengan pembuatan magnet
permanen dengan sistem sinter yang memerlukan proses pemanasan atau sintering dengan temperatur tinggi
sekitar 1250
0
C yang hanya dapat dilakukan perusahaan besar atau industri.



(a) kompaksi
dengan
hotpress

(b) kompaksi
pres dingin
dan
pemanasan


Gambar 3. Peralatan proses kompaksi dan pemanasan

Agar bentuk fisik sampel magnet bonded tidak mudah rapuh, maka dilakukan proses pelapisan nikel
terhadap sampel magnet dengan proses elektroplating. Proses elektropalting dilakukan selama 15 menit dengan
tegangan yang diberikan 2 Volt DC dengan arus 0,3 ampere. Peralatan dan proses elektroplating diperlihatkan
pada gambar 4.








Gambar 4 Proses elektroplating

Setelah proses kompaksi, pemanasan dan pelapisan, maka didapat sampel magnet yang siap untuk
dimagnetisasi. Proses magnetisasi dilakukan dengan alat maggnetisasi berupa sebuah solenoida yang diberi arus
listrik DC bervariasi mulai dari 1 sampai dengan 10 amper. Solenoida dibuat dengan ukuran diameter dalam =
118 mm, diameter luar = 315 mm, tinggi = 210mm, kawat email yang digunakan berdiameter 2mm, untuk
menghasilkan medan elektromagnetik sebesar 0,5 Tesla ketika dialirkan arus dc maksimum 10 A [6].

Sampel magnet diletakkan di tengah solenoida dan dijepit oleh metal yang dapat menyalurkan medan
magnet ke sampel, pada penelitian ini metal yang digunakan terbuat dari besi berbentuk tabung padat. Alat dan
proses magnetisasi diperlihatkan pada gambar 5 di bawah.

Nanang Sudrajat, dkk. / Fabrikasi Magnet Permanen Menuju Industri Rumahan SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 22










Gambar 5 proses magnetisasi dalam solenoida

3. HASIL DAN DISKUSI
Dari hasil percobaan, didapat sampel magnet permanen yang difabrikasi secara sederhana sesuai dengan
bentuk yang diinginkan seperti terlihat pada gambar 6 dan gambar grafik karakterisasi dapat dilihat pada gambar
7.












Gambar 6 Sampel magnet bonded hasil fabrikasi





















Gambar 7. Grafik karakterisasi permagraph


Dari grafik karakterisasi diperoleh nilai Br = 5,18 kG, HcJ = 5,737, BHmax = 4,40 MGOe, Densitas =
4,95 gram/cm
2
. Apabila dibandingkan dengan datasheet dari pabrikan Magnequench maka nilai karakteristik
Sampel
Magnet
Nanang Sudrajat, dkk. / Fabrikasi Magnet Permanen Menuju Industri Rumahan SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 23
yang didapat berkisar antara 50% sampai dengan 67%, kecuali nilai BHmax hanya didapat 40%, hal ini
disebabkan karena binder polimer bakelit yang mempunyai unsur mayoritas karbon mempunyai sifat
diamagnetik tetapi mempunyai sifat mudah dibentuk pada temperatur rendah. Juga kurang maksimalnya tekanan
kompaksi dapat menurunkan sifat magnetik terutama nilai energi produk (BHmak), magnet bonded yang
dikompaksi dengan injection molding pada tekanan 5 ton/m
2
mempunyai sifat magnetik 65% sampai dengan
70% dan nilai BHmax 82,3% [7].

Nilai magnet remanen (Br) diukur dengan alat Gauss Meter setelah proses magnetisasi dengan variasi
arus DC 1 sampai dengan 10 amper diperoleh seperti pada tabel 1. Nilai Br sangat tergantung pada proses
material dan besarnya arus yang dialirkan pada solenoida saat proses magnetisasi.


Tabel 1. Nilai magnet remanen hasil magnetisasi
Ar us DC (amper )
Magnet Remanen Br
(Gauss)
1 86
2 169
3 249
4 340
5 417
6 499
7 573
8 645
9 743
10 997


Nilai magnet remanen Br berbanding lurus dengan arus magnetisasi Br = .N.i.l Tesla, semakin besar
arus yang dialirkan pada solenoida semakin besar pula kemungkinan nilai Br meningkat. Alat magnetiser
produsen magnet skala besar menggunakan sistem charge-recharge capasitor dengan besarnya arus 30.000
amper dalam satu detik.


4. SIMPULAN
Fabrikasi magnet permanen sudah dapat dilakukan dengan peralatan sederhana skala industri rumahan
(home industri) dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang terbatas dengan bentuk dan dimensi
yang khusus meskipun kuat medan magnet permanen hanya 997 Gauss belum setinggi klasifikasi produk
pabrikan industri besar. Proses dan peralatan magnetisasi perlu ditingkatkan agar lebih optimal.


5. UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini didanai melalui kegiatan Tematik LIPI tahun anggaran 2013. Pada kesempatan ini penulis
mengucapkan banyak terima kasih kepada Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (PPET) - LIPI,
yang telah memberi kesempatan untuk melakukan penelitian ini.

6. DAFTAR ACUAN
[1] Andrew J. Provenza, (July 28 August 2, 2002 ), An Integrated Magnetic Circuit Mode and Finite
Element Model Approach to Magnetic Bearing Design, 37th Intersociety Energy Conversion
Engineering Conference sponsored by the Institute of Electrical and Electronics Engineers, Electron
Devices Society Washington, DC,.
[2] Steve Constantinide (December 6, 2010), Rareearth and Critical Materials, The Magnetics Material
Challenge, ARPA-E Workshop, Arlington, VA..
Nanang Sudrajat, dkk. / Fabrikasi Magnet Permanen Menuju Industri Rumahan SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 24
[3] Zhang Xiao-lei, ZOO Ming-yuan, LI Ying, YANG Qiu-ping, JIN Hong-ruing, JIANG Juan, TIAN
Ye, LUO Yang (2008), Study on Fabrication Process of Anisotropic Injection Bonded Nd-Fe-B
Magnets, Proceedings of 19th International Workshop on Rare Earth Permanent Magnets & Their
Applications, pp. 286-288.
[4] J. Herchenroeder, D. Miller, N. K. Sheth, M. C. Foo, and K. Nagarathnam(2011), High performance
bonded neo magnets using high density compaction, JOURNAL OF APPLIED PHYSICS 109, pp 109-
111.
[5] Tony K. dan Nanang S. (12-13 Juli 2011), Pembuatan dan Karakterisasi Magnet Bonded NdFeB,
Seminar Nasional Fisika Pusat Penelitian Fisika LIPI, hal. 366-371.
[6] N. Sudrajat, Novrita I, Tony K., Kompaksi Bahan Magnet Barium Ferit Anisotrop Nanopartikel dalam
Solenoida 0,5 T, September 2009, Jurnal Elektronika dan Telekomunikasi, Vol.9 No.2.
[7] A.Z. Liu, I.Z. Rahman, M.A. Rahman, and E.R. Petty, 1996, Fabrication and Measurments on Polimer
Bonded NdFeB Magnets, Journals of Materials Processing Technology, pp.571-580.


Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 25
PENGGUNAAN KONSEP FISIKA DALAM PERTIMBANGAN UNTUK
MENENTUKAN POSISI PERSALINAN

SRI SURYANI

JURUSAN FISIKA FMIPA UNIVERSITAS HASANUDDIN
Kampus UNHAS - Jln. Perintis Kemerdekaan, Tamalanrea, Makassar 90245
e-mail : sri_sumah@yahoo.com


ABSTRAK
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi setelah 40 minggu. Proses kehamilan dan
persalinan adalah proses alamiah yang telah berlangsung sejak manusia ada di bumi ini. Oleh sebab
itu proses persalinan sebaiknya mengikuti kaidah ilmu alam. Salah satu bagian dalam ilmu alam
adalah ilmu Fisika. Hukum Newton yang membahas tentang gaya grafitasi merupakan bagian konsep
Fisika yang dapat digunakan dalam mempertimbangkan posisi seorang ibu hamil untuk bersalin.
Berdasarkan hal tersebut di atas, di dalam makalah ini akan dibahas tentang bentuk tubuh janin, posisi
janin di dalam rahim, proses persalinan, dan posisi persalinan dipandang dari sisi ilmu Fisika. Hasil
pembahasan ini dapat dimanfaatkan untuk pertimbangan dalam menolong seorang ibu hamil untuk
bersalin, agar proses persalinan tersebut tidak meninggalkan trauma baik pada ibu maupun pada bayi
yang dilahirkan.
Kata kunci : Hukum Newton, Grafitasi bumi, posisi persalinan.


1. PENDAHULUAN.
Proses persalinan atau dikenal juga sebagai proses melahirkan adalah suatu proses pengeluaran hasil
konsepsi setelah 40 minggu. Konsepsi atau pembuahan dikatakan juga sebagai pertemuan antara sel telur dan
sperma. Sel telur yang telah dibuahi akan membelah dan berkembang menjadi embrio dan selanjutnya setelah
usia kehamilan 12 minggu, disebut sebagai janin. Proses kehamilan normal umumnya berlangsung selama lebih
kurang 40 minggu, dan setelah itu janin akan siap untuk keluar dari rahim, karena setelah 40 minggu, kualitas
air ketuban menurun yang dapat meracuni janin, dan ukuran rahim sudah terlalu kecil untuk janin.

Seperti telah diketahui bahwa proses kehamilan dan persalinan adalah proses alamiah yang telah
berlangsung sejak adanya manusia di bumi ini. Oleh sebab itu perkembangan janin dalam rahim akan mengikuti
proses alamiah. Janin akan tumbuh dalam rahim dan menempati posisi yang sedemikian rupa, dengan tujuan
untuk memudahkan proses persalinan. Ilmu Fisika yang merupakan bagian dari ilmu alam, dapat digunakan
untuk menjelaskan proses perkembangan janin ini dalam ketuban, sehingga ilmu Fisika khususnya dalam bidang
mekanika dapat dimanfaatkan untuk mempertimbangkan posisi persalinan.

2. TINJAUAN TEORI.
Proses perkembangan janin di dalam rahim diawali dengan proses konsepsi atau pembuahan atau
bertemunya sel telur dan sperma. Minggu pertama hingga mencapai hari ke 50, pertumbuhan embrio belum
nampak jelas berwujud manusia, karena pada saat ini sedang dibentuk organ luar, seperti tangan, kaki, telinga,
wajah, dan jantung. Setelah 50 hari sejak terjadi konsepsi, embrio mulai terlihat seperti manusia, dan organ
dalam mulai terbentuk, demikian pula jantung sudah mengambil alih peredaran darah, yang sebelumnya
dilakukan oleh tali pusat. Selama perkembangan ini, posisi janin adalah duduk dengan kepala di sebelah atas,
dan agak menunduk (gambar 1).
Ukuran janin pada usia 8 minggu sekitar 40 mm, sedangkan pada saat lahir mencapai 50 cm. Oleh karena
proses pertumbuhan tubuh berlangsung sangat cepat, maka pada minggu ke 28, janin mulai berputar, dan
mempunyai posisi kepala di bawah dan bokong di atas. Posisi ini menetap hingga usia kehamilan 40 minggu,
saat janin siap untuk lahir (gambar 1).

SRI SURYANI/ Penggunaan Konsep Fisika dalam SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 26

a. b.
Gambar 1 : a) Janin usia 9 minggu, dan (b) Janin usia 40 minggu [1]
Proses persalinan adalah proses pengeluaran janin dari rahim. Berbeda dengan perkiraan masyarakat
awam yang menganggap bahwa proses ini sangat mudah, maka pada kenyataannya, pada saat proses persalinan,
janin akan melakukan tiga gerakan utama, yaitu memutar kepala dengan sudut 90 sambil menunduk agar dapat
memasuki rongga panggul yang berbentuk oval. Setelah berada di rongga panggul dengan posisi belakang
kepala di depan, maka janin siap meluncur keluar. Dalam istilah kebidanan, saat seperti ini disebut sebagai kala
satu, yang ditandai dengan pembukaan serviks hingga 10 cm. Kala dua adalah kala pengeluaran, yaitu proses
janin ke luar yang ditandai dengan adanya kontraksi otot atau his, dan dorongan ibu untuk mengeran. Dan
setelah kepala keluar, janin akan melakukan perputaran kembali dengan sudut 90, untuk mengeluarkan bahu
dan badan. Selanjutnya kala tiga adalah saat uri plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan. Yang
terakhir adalah kala empat yaitu lahirnya plasenta [2].

Proses persalinan adalah suatu proses yang dapat mengakibatkan traumatik baik pada ibu maupun pada
janin. Rasa sakit yang berkepanjangan yang diakibatkan oleh proses persalinan yang lama dapat meninggalkan
perasaan trauma pada ibu, bahkan pada bayi hingga di masa anak-anak dapat timbul halusinasi, seperti yang
ditemukan oleh ahli psikoanalisis dr. Elizabeth Fehr [3]. Oleh sebab itu pertimbangan dalam memilih posisi
persalinan menjadi sangat penting. Akibatnya dalam memilih posisi persalinan, maka ibu hamil berhak
memutuskan sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Doris Haire (1974) tentang hak pasien untuk berpartisipasi
dalam pengambilan keputusan yang melibatkan kesejahteraan dirinya dan anak yang akan dilahirkan, kecuali
ada kedaruratan medis, dalam buku The Pregnant Patients Bill of Rights, yang diedarkan oleh Committee on
Patients Rights In New York [4].

3. DISKUSI DAN PEMBAHASAN.

Pada awal kehamilan, janin mempunyai posisi duduk. Posisi ini baik untuk mengatur peredaran darah
tubuh, karena pada saat ini terjadi pembentukan organ, seperti jantung, paru-paru, ginjal, dan lain sebagainya.
Pada trimester kedua atau usia kehamilan sekitar 20 minggu, seluruh organ sudah terbentuk walaupun belum
mencapai ukuran yang seharusnya. Mulai saat ini janin akan tumbuh dengan cepat hingga mencapai ukuran 50
cm.

Pada saat persalinan nanti, janin harus membuka jalan lahir. Untuk memudahkan pembukaan jalan
diperlukan sesuatu yang berwujud bulat, dan pada tubuh manusia benda yang mempunyai wujud bulat adalah
kepala bagian belakang dan juga bokong. Oleh sebab itu kepala bagian belakang atau bokong harus berada pada
posisi di bawah pada saat janin siap lahir. Untuk mendapatkan posisi tersebut, maka gaya grafitasi bumi yang
akan membantu memutarnya. Telah diketahui bahwa gaya grafitasi akan mudah menarik benda yang massanya
besar. Dengan tujuan agar gaya grafitasi dapat mudah memutar kepala janin ke bawah, maka kepala janin
mempunyai massa yang lebih besar dari badannya, atau sering dikatakan bahwa perkembangan kepala janin
lebih cepat dari badan. Hal itulah yang menjadikan alasan agar ibu hamil mulai awal trimester ke dua dianjurkan
banyak berjalan agar posisi janin baik. Ibu hamil yang tidak banyak bergerak mempunyai resiko mendapatkan
janin pada posisi sungsang, karena tidak dapat berputar, dan persalinan hanya dapat dilakukan melalui
pembedahan.

SRI SURYANI/ Penggunaan Konsep Fisika dalam SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 27


Gambar 2: Posisi janin normal dan sungsang (breech) [5]

Janin mempunyai posisi yang umum atau normal adalah kepala berada di bawah dengan bokong di
bagian atas, dan posisi janin menyamping ibu. Bila janin sudah cukup umur yaitu setelah 40 minggu kehamilan,
maka saatnya janin keluar, dan selanjutnya berkembang menjadi seorang manusia. Pada proses persalinan,
umumnya dibantu oleh bidan ataupun dokter. Oleh sebab itu, posisi persalinan lebih sering ditentukan
berdasarkan kenyamanan bidan atau dokter dalam bekerja. Posisi persalinan yang umum digunakan hingga abad
ke 18 adalah tegak (berdiri atau duduk), dan saat ini posisi yang sering digunakan adalah berbaring dengan
punggung (dorsal recumbent), litotomi, berbaring dengan samping kiri, dan duduk setengah tegak (semi fowler)
[6] (gambar 3).
a. b. c.
Gambar 3 : Beberapa posisi persalinan: (a) dorsal recumbent, (b) litotomi, dan (c) berbaring ke samping kiri. [7]

Posisi berbaring digunakan agar dokter mudah bekerja, tetapi pada posisi ini, proses persalinan menjadi
lebih lama karena kontraksi otot rahim harus lebih kuat, bahkan leher rahim terlipat. Sebaliknya pada posisi
tegak, posisi dokter sangat sulit atau tidak nyaman, tetapi untuk janin tidak ada hambatan untuk mendorong
serviks, sehingga akan mendorong ibu untuk mengeran, dan akibatnya persalinan akan lebih cepat. Di lain
pihak, hukum Newton yang membahas tentang kesetimbangan statis (Hukum pertama) dan juga kesetimbangan
dinamis (Hukum kedua) dapat digunakan untuk mengkaji gaya-gaya yang bekerja pada proses persalinan,
sehingga akan diperoleh posisi yang tepat, dan akan menghasilkan suatu proses persalinan yang cepat dan aman.
Pada makalah ini, hanya akan dibahas tentang proses persalinan normal, karena untuk posisi tidak normal,
persalinan hanya dapat dilakukan melalui pembedahan.

Menentukan posisi persalinan dapat dilakukan dari pandangan ilmu Fisika, khususnya mekanika. Di
dalam mekanika, dikenal besaran yang disebut gaya atau force (F). Gaya ini merupakan besaran vektor, dan
mempunyai beberapa jenis seperti gaya grafitasi atau berat / weight, gaya gesek, gaya pegas, dan lain-lain. Oleh
karena gaya merupakan besaran vektor, maka operasi gaya harus menggunakan vektor analisis. Dalam
membahas tentang gaya, maka hukum yang menyertainya adalah hukum Newton, yang terdiri dari 3 hukum :[8]

1. Hukum I Newton adalah hukum kesetimbangan translasi atau F = 0
2. Hukum II Newton adalah hukum dinamika atau F = ( m) a
dengan m adalah massa benda, dan a adalah percepatan benda.
3. Hukum III Newton adalah hukum aksi reaksi.
Posisi melintang
SRI SURYANI/ Penggunaan Konsep Fisika dalam SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 28
Proses persalinan normal kenyataanya adalah proses keluarnya janin, yang dalam hal ini dapat diartikan
sebagai gerakan suatu benda dengan massa m. Akibatnya dengan mengetahui jenis gaya yang bekerja, serta
memanfaatkan hukum Newton dengan operasi penjumlahan vektor, maka dapat dijelaskan kelebihan dan
keuntungan berbagai posisi persalinan normal.

Pada saat proses persalinan, penentuan posisi untuk persalinan memerlukan beberapa pertimbangan,
diantaranya adalah kenyamanan ibu dan juga janin. Ibu hamil dan juga janin seharusnya tidak perlu merasakan
sakit yang berkepanjangan, karena proses persalinan dapat berjalan dengan cepat. Dengan mempertimbangkan
gaya yang bekerja pada proses persalinan, yaitu gaya kontraksi otot rahim, gaya grafitasi bumi, dan gaya dorong
(gaya eran), maka dengan menggunakan mekanika yaitu hukum Newton, dapat disarankan beberapa posisi
persalinan, sebagai berikut :

1. Posisi tegak (ber dir i, duduk, dan jongkok).

F
k
W F
d

Arah keluarnya janin
F
k W
F
d


m
a
Arah keluarnya janin



2. Posisi ber baring (ber bar ing samping ke kir i, dorsal recumbent, dan litotomi)
atau
Gunakan diagram vektor gaya :
F
k
m

W
Dari diagram dapat terlihat bahwa W pada posisi berbaring sama dengan nol atau tidak ada
bantuan gaya tarik grafitasi bumi, sehingga kecepatan keluarnya janin hanya ditentukan oleh gaya
kontraksi otot rahim dan gaya eran ibu, atau dalam bentuk matematika m a = F
k
+ F
d
. Dengan kata
lain, kecepatan proses persalinan sangat ditentukan oleh kekuatan ibu mengeran. Dengan kata lain, ibu
harus mendorong dengan kuat.
Dalam ilmu kebidanan, posisi berbaring ke kiri atau ke kanan bergantung pada posisi punggung
janin, sambil merangkul satu kaki yang ada di atas, dan posisi dapat dilakukan untuk mengeran.
Bila ditinjau dari vektor gaya, maka semua gaya yang bekerja pada janin
mempunyai arah yang sama, sehingga kecepatan keluarnya janin sangat
ditentukan oleh gaya dorong /eran ibu, karena diasumsikan gaya kontraksi
otot dan grafitasi adalah konstan atau tidak berubah. Bila F = m a , maka
F
k
+ W + F
d
= m a atau F
d
= m a - (F
k
+ W ). Selain itu dengan bantuan
gaya grafitasi, maka kekuatan ibu untuk mengeran atau mendorong tidak
perlu besar.
F
k
adalah gaya kontraksi otot rahim
W adalah gaya tarik grafitasi bumi yang setara dengan massa bayi
F
d
adalah gaya eran atau gaya dorong yang dilakukan oleh ibu.
Untuk gaya gesek tidak ada, karena adanya air ketuban yang pecah sesaat
sebelum proses persalinan berlangsung, sehingga jalan lahir menjadi licin.
F
a atau arah keluar janin

SRI SURYANI/ Penggunaan Konsep Fisika dalam SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 29
3. Posisi setengah duduk dan tegak atau semi fowler.
Posisi semi fowler adalah posisi setengah duduk, dengan besar sudut yang dibentuk antara kaki dan
badan adalah antara 35 - 45.

Diagram vektor gaya dapat diasumsikan sebagai sebuah benda yang berada di bidang miring.

F
d
F
k
Sudut besarnya 35 - 45
W cos

arah keluar janin.
W
Dengan menggunakan hukum II Newton yaitu F = m a , maka F
k
+ W cos + F
d
= m a atau F
d
= m
a - (F
k
+ W cos ). Hal ini dapat diartikan bahwa pada posisi semi fowler gaya grafitasi bumi masih
memberi pengaruh, walaupun tidak besar, yaitu 82 % untuk sudut sama dengan 35, dan 71% untuk
sudut sama dengan 45 dari berat janin (W). Akibatnya ibu hamil tidak harus mendorong atau
mengeran dengan kuat, karena masih ada bantuan dari gaya tarik grafitasi bumi, dan proses persalinan
dapat lebih cepat.
Posisi semi fowler ini dapat dilakukan dengan cara merangkul ke dua paha sampai batas siku, dan
kepala sedikit diangkat, sehingga dagu mendekati dada, dan ibu dapat melihat perutnya. Keadaan ini
dilakukan bila tempat tidur yang dapat diatur ketinggiannya, tidak tersedia.

Dari pembahasan di atas, yang meliputi tiga posisi utama, yaitu berdiri, berbaring, dan setengah duduk,
dapat terlihat beberapa kelebihan dan kekurangan baik bagi ibu hamil sendiri ataupun bagi dokter. Oleh sebab
itu, saat ini seorang bidan wajib memberi informasi tentang kelebihan dan kekurangan posisi persalinan yang
akan dipilih oleh seorang ibu hamil, sehingga ibu hamil dapat memutuskan posisi yang nyaman bagi dirinya dan
tidak terlalu menyulitkan dokter atau bidan.


4. KESIMPULAN
Proses persalinan adalah proses alami, demikian pula hukum Newton yang membahas tentang alam.
Bentuk tubuh janin dan posisi janin di dalam rahim diciptakan agar persalinan dapat berlangsung dengan cepat
dan mengurangi trauma persalinan pada ibu. Dengan menggunakan hukum Newton, hal tersebut di atas dapat
dipahami, sehingga dalam menentukan posisi bersalin dapat menggunakan vektor gaya dan hukum
kesetimbangan Newton sebagai salah satu pertimbangan.


5. DAFTAR PUSTAKA.
[1] Wikipedia, Fetus, [Internet] available from : http://en.wikipedia.org/wiki/File:40_weeks_pregnant.jpg,
dan diakses tanggal 10 Mei 2011.
[2] Hanifa Wiknyosastro, Ilmu Kebidanan, edisi 3, editor : Abdul Bari Saifuddin dkk., Penerbit Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2007.
[3] Diagram group, Womans Body, terjemahan oleh Penerbit Gunung Jati, Penerbit Gunung Jati, Jakarta,
1998.
SRI SURYANI/ Penggunaan Konsep Fisika dalam SFA 2013

http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773 30
[4] Varney H, Jan M Kriebs, Carolyn Gegor, Varneys Midwifery, 4-th ed, 2004, terjemahan oleh Ana
Lusiyana dkk, Penerbit EGC, Jakarta, 2006
[5] Fisher R, Breech Presentation, emedicinehealth, Editor : David Chelmow, MD, up-date tanggal 14
April 2011, [Internet] available from : http://www.emedicinehealth.com/script/main/ art.asp?articlekey
=136587&ref=128675, dan diakses tanggal 10 Mei 2011.
[6] Tuty Oktaviany, Posisi Melahirkan Tren 2010, Okezone.com : Lifestyle, 25 Januari 2010.
[7] Scribd.com, Dorsal Recumbent, [internet] available from :
http://www.scribd.com/doc/42938773/Posisi-Dorsal-Recumbent, dan diakses tanggal 10 Mei 2011
[8] Halliday, D, dan Robert Resnick, Physics Parts I and II, John Wiley & Sons, Inc., New York, 1980.
[9] Cameron J.R., James G. Skofronick, Medical Physics, A Wiley-Interscience Publication, John Wiley &
Sons, Canada, 1978.


















Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 31
INTEGRASI MODEL SISTEM DINAMIK DAN SISTEM INFORMASI
GEOGRAFIS DALAM MENDUKUNG DISTRIBUSI DAN PRODUKSI
BERAS UNTUK MENGATUR KESEIMBANGAN ANTARA
KEBUTUHAN DAN PASOKAN PANGAN
(STUDI KASUS: PROPINSI JAWA TIMUR, INDONESIA)

Totok Mulyono
1*)
, Er ma Sur yani
2)
, Rully Agus Hendr awan
3)

1) Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Sistem Informasi, Jurusan Teknik Informatika,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, 60111, Indonesia
e-mail:totok11@mhs.if.its.ac.id
2) Dosen Program Studi Sistem Informasi, Jurusan Teknik Informatika, Institut Teknologi
Sepuluh Nopember, Surabaya, 60111, Indonesia
e-mail: er ma@is.its.ac.id
2
, er aha_id@yahoo.com
3



Abstrak

Propinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk mencapai 37 juta jiwa, sebagian besar
mengkonsurnsi beras sebagai makanan pokok. Data SUSENAS tahun 2010 menunjukkan
bahwa konsurnsi beras masyarakat Jatim tercatat sebesar 125 kg/kapita/tahun. Dengan
laju pertumbuhan penduduk sebesar 76 % per tahun maka penduduk Jawa Timur bertambah
sebanyak 3.659 jiwa setiap tahun. Penambahan jumlah penduduk ini membawa
konsekuensi pada membengkaknya tambahan kebutuhan beras sebanyak 457.409
ton/tahun. Dengan asurnsi produktivitas rata-rata 5,9 ton beras per hektar, maka tambahan
kebutuhan beras tersebut setara 4.743 ha/tahun lahan padi.. Dengan integrasi kemajuan
teknologi dan pangan, memungkinkan adanya inovasi baru. Sistem Informasi Geografis (SIG)
dapat digunakan untuk menyusun dan menganalisis informasi kondisi geografis suatu daerah
sebagai bahan masukan pemerintah dalam mengambil keputusan strategik jangka panjang di
bidang pangan. Teknik pemodelan menggunakan SIG telah banyak dikembangkan, namun
pemodelan sering tidak dapat menangani integrasi menyeluruh antara proses spasial dan
dinamika sistem yang kompleks. Pendekatan model System Dynamics (SD) dikembangkan
sebagai framework atau kerangka kerja distribusi beras nasional khususnya di Jawa Timur
dengan mengintegrasikan output geografis yang diperoleh melalui SIG untuk menggambarkan
perilaku sistem ketahanan pangan berdasarkan kondisi saat ini. Pemilihan sistem dinamik
didasarkan pada pertimbangan bahwa sistem dinamik menawarkan kemampuan dalam
menggabungkan pengetahuan, data, informasi yang dikembangkan menjadi sebuah model
yang dapat merepresentasikan perilaku non-linear. Hasil penelitian tercipta suatu model SSD
yang diperoleh dari integrasi antara Sistem Informasi geografis (SIG) dan Sistem Dinamik
(SD) sehingga dapat menunjang pengambilan keputusan strategis Pemerintah melalui beberapa
skenario penunjang keputusan pembangunan, penunjang keputusan pasokan beras dan
penunjang keputusan pembatasan ekspor beras guna mendukung pasokan dan kebutuhan beras
nasional khususnya di Jawa Timur.


Kata kunci: Sistem Informasi Geografis, Spasial Sistem Dinamik, Pemodelan, Kebutuhan
Pangan


Totok Mulyono, dkk. / Integrasi Model Sistem Dinamik . SFA 2013

32 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
1. PENDAHULUAN
Beras sampai saat ini masih tetap menjadi konsumsi makanan pokok masyarakat Indonesia dan
Jawa Timur, khususnya. Mudah dimasak, harga yang terjangkau dan tersedia di hampir pelosok negeri,
menjadikan masyarakat sulit untuk memilih bahan makanan pokok lain yang sebanding dengan beras.
Apalagi kandungan gizi beras relatif lebih baik, bila dibandingkan dengan bahan pokok lain, seperti :
ketela pohon, jagung serta umbi-umbian. Sehingga wajar bila pemerintah menempatkan komoditas ini
sebagai komoditas pangan strategis, dan bahkan politis.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian RI merilis provinsi Jawa Timur masih
merupakan andalan utama produksi beras di Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan potensi sumber daya lahan
seluas 1,147 hektar. Kementerian Pertanian juga melansir data BPS 2011 yang menunjukkan bahwa kontribusi
padi di Jawa Timur untuk kebutuhan pangan nasional mencapai 16,08 persen, jagung 30,85 persen dan kedelai
43,11 persen. Memasuki tahun 2012, provinsi Jawa Timur telah menargetkan produksi padi sebesar 12,31 juta
ton atau meningkat sebesar 1,777 juta ton dari tahun lalu yang mencapai 10,533 juta ton. Produksi padi ini
dihasilkan oleh areal tanaman seluas 2,142 juta ha, dengan luas panen sekitar 2,057 juta ha. Mengutip
keterangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Departemen Pertanian RI, Jumat (20/7) menyebutkan
berdasarkan data dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Timur, hingga posisi Mei 2012, realisasi fisik
implementasi Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) cukup menggembirakan. Peningkatan
produktivitas dilakukan melalui penggunaan benih varietas unggul bermutu termasuk benih padi hibrida,
pemupukan berimbang dan pemakaian pupuk organik serta pupuk biohayati, pengelolaan pengairan dan
perbaikan budidaya disertai pengawalan, pemantauan, dan pendampingan yang intensif. [1]
Oleh karena itu dalam penelitian ini diusulkan kerangka kerja dalam mengembangkan dinamika sistem
distribusi beras di Jawa Timur dengan mengintegrasikan output geografis (pemetaan lokasi, pasokan dan
kebutuhan daerah, perubahan, dan kuantitas pasokan / permintaan) yang di capture oleh GIS untuk
menggambarkan perilaku pasokan dan kebutuhan dan menghasilkan skenario kebijakan di masa depan untuk
meningkatkan pasokan dan kebutuhan beras. Pendekatan dinamika sistem didasarkan pada pertimbangan bahwa
metode SD menawarkan kemampuan untuk menggabungkan pengetahuan ahli dalam kemampuan memodelkan
perilaku non-linear. Gambaran integrasi antara Sistem Dinamik dan Sistem Informasi Geografis dikenal sebagai
Spatial System Dynamics (SSD) dapat digambarkan pada Gambar 1.1.


Gambar 1.1 Diagram alur SSD [2]

Totok Mulyono, dkk. / Integrasi Model Sistem Dinamik . SFA 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 33
Pada gambar 1.1 pendekatan System Spatial Dynamics (SSD) dijalankan secara terpisah, kedua program
mengintegrasikan dua arah data dinamis dan pertukaran informasi antara System Dynamics (SD) dan Sistem
Informasi Geografis (SIG), yang memberikan umpan balik dalam ruang dan waktu. GIS menyediakan informasi
spasial dengan model SD. Model SD, melalui pemodelan dinamis, mengidentifikasi perubahan dalam fitur
spasial dengan waktu dan berkomunikasi kembali ke GIS. Perubahan-perubahan dalam ruang adalah dampak
pergantian keputusan / kebijakan dalam waktu. Dengan demikian, proses dapat dimodelkan dalam ruang dan
waktu secara terpadu saat menangkap umpan balik [2].
Penelitian ini mengusulkan pendekatan model System Dynamics (SD) dan pemodelan spasial dari
pasokan dan kebutuhan beras. Tujuan dari model adalah untuk mengidentifikasi perilaku pasokan dan
kebutuhan beras dengan menangkap beberapa output geografis (pemetaan lokasi, daerah pasokan dan
kebutuhan, perubahan, dan kuantitas pasokan / permintaan) untuk meningkatkan pasokan dan kebutuhan beras
di masa depan.


2. DASAR TEORI
Beras merupakan makanan pokok utama masyarakat Indonesia. Beras menyediakan lebih dari 50 persen
kalori dan hampir 50 persen dari asupan protein. Beras juga unik dan penting dalam perekonomian Indonesia,
dengan nilai pasar tahunan hampir Rp. 2.000 miliar, atau 3,2 miliar dolar AS. Permintaan beras meningkat
karena peningkatan populasi yang tajam dan konsumsi yang tinggi per kapita beras dan harga relatif lebih murah
dibandingkan makanan karbohidrat lainnya. Konsekwensinya adalah bahwa pasokan beras harus ditambah
dengan impor yang besar. Impor besar membutuhkan devisa yang signifikan. Fungsi pasokan beras dinyatakan
sebagai fungsi 'rata-rata harga produsen padi untuk tahun berjalan, perbedaan harga rata-rata produsen padi,
rata-rata harga jagung, rata-rata harga singkong, dan tren waktu. Elastisitas pasokan beras sehubungan dengan
perbedaan rata-rata harga gabah adalah 0.58 [3].

Konseptualisasi yang paling berguna menggambarkan sistem pangan sebagai rangkaian kegiatan dari
produksi ('lapangan) untuk konsumsi (' tabel '), dengan penekanan khusus pada pengolahan dan pemasaran dan
transformasi beberapa makanan yang diperlukan. Kecenderungan global umum dalam sistem makanan modern
didokumentasikan dengan baik dan dirangkum dalam Tabel 2.1. Ini menggambarkan aktor yang terlibat dalam
sistem pangan, susunan yang luas dari interaksi lingkungan dan sosial yang mencakup dalam sistem pangan, dan
kebijakan beberapa tantangan yang ditimbulkan.

Tabel 2.1 Perbandingan beberapa fitur sistem pangan tradisional dan modern
Fitur sistem pangan sistem pangan
tradisional
sistem pangan modern
Pokok pekerjaan di sektor
pangan
Produksi pangan Pengolahan pangan, kemasan dan ritel
Supply chain Lokal, pendek panjang dengan banyak makanan bermil dan
simpul
Sistem produksi pangan Beragam variasi produktivitas Sedikit hasil panen dominan, secara intensif,
input tinggi
Tipikal pertanian Berbasis keluarga, kecil sampai
menengah
Industri besar
Tipikal pangan yang dikonsumsi Bahan pokok dasar Olahan makanan dengan nama merek, produk
hewani
Pembelian pangan dari toko lokal atau pasar kecil Rantai supermarket besar
Perhatian nutrisi Kurang gizi Kronis penyakit pada pola makan
Sumber utama gejolak pangan
nasional
Curah hujan buruk; gejolak
produksi
Harga internasional dan masalah perdagangan
Sumber utama gejolak pangan
rumah tangga
Curah hujan buruk; gejolak
produksi
Gejolak pendapatan menyebabkan kemiskinan
pangan
Masalah utama lingkungan Degradasi tanah, pembukaan
lahan
Gizi loading, limpasan kimia, kebutuhan air,
emisi gas rumah kaca
Skala pengaruh Lokal ke nasional Nasional ke global
Sumber : diadaptasi dari Maxwell dan Slater 2003.

Totok Mulyono, dkk. / Integrasi Model Sistem Dinamik . SFA 2013

34 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Peraturan Menteri Pertanian No. 65/Permentan/OT.140/12/2010 tanggal 22 desember 2010 tentang
Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota lampiran
1. Standar Pelayanan Minimal (SPM) ketersediaan pangan dapat dipenuhi dari tiga sumber yaitu:
1. Bidang ketersediaan dan cadangan pangan;
2. Bidang distribusi dan berupa ketersediaan pangan yang mencukupi kebutuhan masyarakat Jawa Timur.
3. Bidang penganekaragaman dan keamanan pangan;
4. Bidang penanganan pasokan dan kebutuhan.

Tabel 2.2 SPM bidang ketahanan pangan tingkat propinsi dan Kabupaten/Kota
Standar Pelayanan Minimal Indikator
Ketersediaan dan cadangan pangan Ketersediaan Energi Dan Protein Per Kapita
Penguatan Cadangan Pangan
Distribusi dan akses pangan Ketersediaan informasi pasokan harga
Stabilisasi harga dan pasokan pangan
Penanganan pasokan dan kebutuhan Rawan Pangan Kronis
Rawan Pangan Transien
Sumber : diadaptasi dari Lampiran 1 Peraturan Menteri Pertanian (Suswono,2010)


Menurut kajian ekonomi Bank Indonesia (2012) p,25 [4], penguatan pasokan dan kebutuhan beras di
tingkat nasional hingga daerah merupakan isu yang krusial bagi Indonesia. Beras merupakan komoditas
strategis karena sekitar 25,4 juta penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani dengan padi sebagai tanaman
utama. Selain itu, beras merupakan kebutuhan pangan pokok bagi hampir seluruh penduduk Indonesia.
Guncangan pada sisi penawaran dan harga beras tidak hanya akan mempengaruhi perekonomian nasional
saja karena masalah tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut pandang baik dari aspek sosial, politik,
maupun budaya. Ketahanan pangan beras terutama dilihat dari aspek ketersediaan (produksi, konsumsi,
maupun distribusi) dan stabilitas harga.

Distribusi pangan merupakan salah satu subsistem ketahanan pangan yang peranannya sangat strategis,
apabila tidak dapat terselenggara secara baik dan lancar, bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat tidak akan
terpenuhi. Ketahanan pangan beras terutama dilihat dapat ditinjau dari aspek ketersediaan yang meliputi
produksi, konsumsi, distribusi dan stabilitas harga [4]. Distribusi pangan ini diharapkan dapat terlaksana secara
efektif, efisien dan merata di setiap lokasi berlangsungnya transaksi bahan pangan kebutuhan masyarakat.
Gangguan distribusi pangan ini berdampak terhadap kelangkaan bahan pangan dan kenaikan harga pangan serta
berpengaruh terhadap rendahnya akses pangan masyarakat karena daya beli bahan pangan menjadi menurun [5].

Salah satu perangkat SIG yang berhubungan dan berkonsentrasi di lautan adalah Google Ocean yang
dirilis pada bulan Februari 2009 [8]. Sebuah add-on gratis untuk Google Earth dan sangat populer, Google
Ocean memungkinkan pengguna melakukan perjalanan kedalam laut untuk melihat gunung api bawah laut,
mengikuti margasatwa laut atau menyelidiki bagaimana lautan berubah dengan fitur sejarah. Google Earth
dibuat sebagai tanggapan pada tanggal 24 Maret 2006 sebuah artikel di Science, bahwa ada kenaikan permukaan
laut berpotensi akibat pencairan gletser atau es mencair.
Menurut Sterman [6], terdapat lima tahapan dalam mengembangkan model sistem dinamik seperti terlihat
dalam yaitu:

Step 1: Problem articulation:
Pada tahap ini, kita perlu menemukan masalah yang sebenarnya, mengidentifikasi variabel kunci dan
konsep, menentukan horison waktu dan mencirikan masalah secara dinamis untuk memahami dan
merancang kebijakan menyelesaikannya.

Step 2: Dynamic hypothesis:
Pembuat model harus mengembangkan sebuah teori tentang bagaimana masalah tersebut muncul. Dalam
step ini, perlu dikembangkan diagram causal loop yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel dan
Totok Mulyono, dkk. / Integrasi Model Sistem Dinamik . SFA 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 35
mengkonversi diagram causal loop ke dalam diagram flow, yang terdiri dari tiga variabel seperti yang
digambarkan pada Tabel 2.3.

Step 3: Formulation:
Untuk menentukan model sistem dinamik, setelah mengubah diagram causal loop ke dalam diagram flow,
selanjutnya harus menerjemahkan deskripsi sistem menjadi level, rates dan membuat persamaan / auxiliary
equations. Untuk mengestimasi sejumlah parameter, hubungan perilaku, dan kondisi awal. Pembuatan
equations akan mengungkapkan kesenjangan dan inkonsistensi yang harus diperbaiki dalam deskripsi
sebelumnya.

Step 4: Testing:
Tujuan pengujian adalah untuk membandingkan perilaku simulasi model terhadap perilaku aktual dari
sistem.

Step 5: Policy Formulation and evaluation:
Sejak pembuat model mengembangkan keyakinan dalam struktur dan perilaku model, pemodel dapat
memanfaatkan model yang valid untuk merancang dan mengevaluasi kebijakan bagi perbaikan. Interaksi
kebijakan yang berbeda juga harus diperhatikan, karena sistem nyata sangat nonlinear dan dampak
kombinasi kebijakan biasanya tidak berupa dampaknya saja.


3. METODOLOGI PENELITIAN
Dalam rangka membangun komponen penelitian, ketersediaan data yang dibutuhkan harus dikumpulkan
dan diperiksa. Sumber daya prinsip untuk semua data berasal dari, Dinas Pertanian, BULOG JATIM , Dinas
Ketahanan Pangan JATIM dan Statistik BPS. Data geospasial dari basis data Badan Ketahanan Pangan JATIM.
Spasial Sistem Dynamic mengintegrasikan Sistem Informasi Geografis dan Sistem Dinamik sebagai
bagian dari Spasial System Dynamics. Pemodelan pertanian padi dan hasil panen akan dibantu oleh SIG, tidak
hanya memetakan seperti pada dunia nyata, tetapi juga menganalisis dan membuat beberapa skenario untuk
memudahkan seluruh stakeholder dalam membuat beberapa keputusan yang terkait dengan keamanan pangan
terutama keamanan padi.


Gambar 3.1 Flow Model Spatial system dynamics


Setelah itu hasil simulasi akan divalidasi untuk memastikan bahwa model yang dibuat benar-benar dapat
merepresentasikan kondisi riil sistem. Validasi model dilakukan dengan dua cara pengujian, yaitu validasi
model denganstatistik uji perbandingan rata-rata (mean comparison) dan validasi model dengan uji
perbandingan variasi amplitudo ( % error variance) [7].
Totok Mulyono, dkk. / Integrasi Model Sistem Dinamik . SFA 2013

36 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
a. Statistik Uji perbandingan rata-rata (Mean Comparison)





Dimana model dianggap valid bila E1 5 %

b. Statistik Uji perbandingan variasi amplitudo ( % error variance)



Ss = standard deviasi mode
Sa = standard deviasi data
Dimana model dianggap valid bila E2 30%

Dalam penentuan suatu wilayah termasuk kategori ketahanan pangan yang mana, maka setelah
didapatkan indeks komposit semua aspek dapat dilihat range indeksnya yaitu (FIA.2010):
Tabel 3.1 Kategori ketahanan pangan
>0,8 sangat rawan pangan
0,64 - <0,8 rawan pangan
0,48 - <0,64 agak rawan pangan
0,32 - <0,48 cukup tahan pangan
0,16 - <0,32 tahan pangan
<0,16 sangat tahan pangan

4. HASIL DAN DISKUSI
Distribusi perdagangan beras dimulai dari petani kepada pengepul. Pengepul sebagian besar berada di
kabupaten/kota yang sama dengan petani yang kemudian melakukan penjualan lintas daerah. Dari pedagang
pengepul, beras mayoritas dijual ke pedagang besar kemudian ke pedagang pengecer dan konsumen. Produksi
yang terus meningkat merupakan sebuah prestasi yang luar biasa bagi propinsi Jawa Timur. Akan tetapi di sisi
lain, meningkatnya produksi dalam negeri akan menjadi sebuah masalah sendiri bagi harga di tingkat produsen.
Jika hal ini tidak ditangani dengan baik maka stabilitas produksi gabah/beras dalam negeri di masa selanjutnya
akan terganggu. Berikut blok diagram distribusi dan produksi beras untuk ketahanan pangan propinsi jawa timur
seperti gambar 4.1.

Hubungan sebab akibat distribusi dan produksi beras dalam mendukung ketahanan pangan di Jawa Timur
pada Gambar 4.2 dapat dijelaskan bahwa jumlah produksi padi dapat dipenuhi dengan cara meningkatkan
produktifitas lahan/ha dengan menerapkan revitalisasi lahan menggunakan pupuk dan insektisida. Teknologi
pengolahan pangan untuk meningkatkan jumlah produksi padi dengan pengolahan tanah sawah secara bertahap
yaitu perbaikan saluran dan galengan agar tidak kehilangan air pengairan dan mengurangi rumput gulma masuk
kedalam petakan-petakan sawah. Proses lain dalam pengelolaan pangan yaitu pembajakan lahan, menyediakan
bibit berkualitas, persemian padi, pengaturan irigasi, pengendalian hama serta penanganan panen dan pasca
panen yang tepat. Teknologi pengolahan pangan untuk mendukung kesuburan tanah dipengaruhi oleh kondisi
tata udara tanah dan tata air tanah yang optimal serta pemberian bahan organik atau kompos. Jumlah produksi
padi juga dipengaruhi oleh luas lahan tanam padi dan luas panen padi dapat ditingkatkan dengan cara
pembukaan lahan baru ataupun alih fungsi lahan.
[ ]
A
A S
E

1
data rata rata nilai A
simulasi hasil rata rata nilai S
_ _
_ _ _


Sa
Sa Ss
E

2
Totok Mulyono, dkk. / Integrasi Model Sistem Dinamik . SFA 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 37
Masyarakat
BULOG
RTSRaskin
Ketahanan Pangan Sistem
distribusi & Produksi padi
Petani
Distribusi padi
Produksi Padi
Petani
Luas lahan
tanam padi
Teknologi
pengolahan
Bibit
berkualitas
Revitalisasi
lahan
Penanganan
panen
Produksi padi
Intensifikasi lahan
Ekstensifikasi
lahan
Impor
Luas panen padi
Produktifitas lahan
Rasio pemenuhan
Kebutuhan pangan
Penggilingan
Padi
Pedagang
Pengecer
Penggilingan
padi
Pedagang
besar
(grosir)
Pedagang
Pengumpul
Penggilingan
padi
Pedagang
Pengecer
Pedagang
Pengumpul
Penggilingan
padi
Pedagang
besar (grosir)

Gambar 4.1 Diagram distribusi dan produksi beras Jawa Timur



Gambar 4.2 Diagram kausatik distribusi dan produksi beras Propinsi Jawa Timur

Berdasarkan karakteristik biofisik wilayah yang meliputi kondisi iklim, fisiografi dan sumberdaya lahan,
dibedakan menjadi 5 zona agroekologi, sedangkan zona agroekologi sesuai dengan pengembangan komoditas
pertanian di Jawa Timur terbagi 4 zona, yaitu:

Tabel 4.1 karakteristik lahan komoditas padi
Zona Kelerengan Ketinggian tempat Pemanfaatan Lahan
1. 40% > 300 m Buah-buahan
2. 15 - 40% 50 300 m Tanaman tahunan buah-buahan
3. +8 15 % +10 - 50 m Kacang-kacangan & sayuran
4. 0 8% < 10 m Padi, Kacang-kacangan & sayuran

Totok Mulyono, dkk. / Integrasi Model Sistem Dinamik . SFA 2013

38 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Secara geografis tanaman padi dapat tumbuh dengan baik di daerah antara 35
0
Lintang Selatan sampai
50
0
lintang Utara dan tersebar didaerah rendah hingga ketinggian 2.000 meter diatas permukaan laut.

Dalam penentuan suatu wilayah termasuk kategori ketahanan pangan yang mana, maka setelah
didapatkan indeks komposit semua aspek dapat dilihat range indeksnya yaitu :

Hasil Analisis Aspek Ketersediaan Pangan Tingkat Kabupaten Propinsi Jawa Timur

Tabel 4.2 Tingkat ketersediaan pangan di Kabupaten/Kota Propinsi Jawa Timur
Kabupaten
Indeks
ketersediaan
Kategori
Pacitan 0.00 ST
Ponorogo 0.03 ST
Trenggalek 0.05 ST
Tulungagung 0.18 ST
Blitar 0.16 ST
Kediri 0.14 ST
Malang 0.19 ST
Lumajang 0.10 ST
Jember 0.15 ST
Banyuwangi 0.13 ST
Bondowoso 0.04 ST
Situbondo 0.11 ST
Probolinggo 0.11 ST
Pasuruan 0.12 ST
Sidoarjo 1.00 AG
Mojokerlo 0.20 ST
Jombang 0.18 ST
Nganjuk 0.11 ST
Madiun 0.10 ST
Magetan 0.14 ST
Ngawi 0.05 ST
Bojonegoro 0.11 ST
Tuban 0.07 ST
Lamongan 0.07 ST
Gresik 0.19 ST
Bangkalan 0.13 ST
Sampang 0.06 ST
Pamekasan 0.23 ST
Sumenep 0.10 ST
Ket: AG = Agak Rawan, ST = Sangat Tahan




Gambar 4.3 Spasial Ketersediaan Pangan Tingkat Kabupaten Propinsi Jawa Timur


Totok Mulyono, dkk. / Integrasi Model Sistem Dinamik . SFA 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 39
5. SIMPULAN
Dari hasil analisis dalam penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa langkah-langkah Strategis dalam
pemetaan rawan pangan dengan cara:

1. Pembuatan Peta rawan pangan sampai level kecamatan dan desa
2. Pemantapan ketersediaan pangan yang disertai dengan peningkatan nilai tambah melalui penanganan pasca
panen.
3. Pengentasan kemiskinan melalui : Percepatan pembangunan infrastruktur publik bersifat padat tenaga kerja
, Percepatan industrialisasi pedesaan dengan skala kecil dan rumah tangga, peningkatan layanan lembaga
keuangan untuk pembiayaan usaha mikro, subsidi untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat miskin :
pangan, kesehatan , pendidikan.
4. Pengembangan prasarana dan sarana penting pedesaan (jalan, irigasi, listrik air minum.
5. Peningkatan layanan kesehatan di pedesaan
6. Revitalisasi kelembagaan pangan ,gizi dan kesehatan di pedesaan
7. Pengelolaan sumberdaya alam
8. Percepatan pembangunan daerah rawan pangan melalui program desa mandiri pangan


6. DAFTAR ACUAN
[1] http://erabaru.net/nasional/60-lingkungan/31094--jawa-timur-andalan-utama-produksi-beras.
[2] S., Ahmad, dan S. P. Simonovic. Spatial System Dynamics: New Approach for Simulation of Water
Resources Systems. J. Comp. in Civ. Engrg., 2004: 18: 331
[3] Gordon, E, Won, W.K dan Maman H.K. Analysis Of Demand And Supply Of Rice In Indonesia.
Department of Agricultural Economics. North Dakota Agricultural Experiment Station North
Dakota State University Fargo, North Dakota ,1985
[4] Bank Indonesia. Pengembangan Pilot Project Program Ketahanan Pangan Beras di Kabupaten Soppeng,
Sulawesi Selatan. Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan. Jakarta: Bank Indonesia, 2012. 25.
[5] http://bkpp.jogjaprov.go.id/content/page /244/Bidang -Distribusi-Pangan)
[6] Sterman, Jhon D. Business Dynamics: Systems Thinking and Modeling for a Complex World. Boston:
McGraw-Hill; 2000
[7] Barlas, Yaman. Multiple tests for validation of system dynamics type of simulation models. European
Journal of Operational Research, 1989: 42:59-87.
[8] Hartt, dan Maxwell D. Geographic Information Systems and System Dynamics - Modelling the Impacts of
Storm Damage on Coastal Communities. Canada: University of Ottawa, 2011










Totok Mulyono, dkk. / Integrasi Model Sistem Dinamik . SFA 2013

40 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773




Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 41
KAJIAN AWAL PEMBUATAN KAPUR TOHOR MEMANFAATKAN
TUNGKU BLAST FURNACE UPT. BPML LIPI

Yayat Iman Supr iyatna, Suhar to

UPT.Balai Pengolahan Mineral Lampung LIPI
JL.Ir.Sutami KM.15 Tanjung Bintang Lampung Selatan
Telp.(0721) 350054 Fax.(0721) 35005
yayat_iman@yahoo.com


Abstrak

Batu kapur (CaCO
3
) merupakan salah satu mineral industri yang banyak dibutuhkan dan
digunakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Penggunaan secara langsung
batu kapur yaitu pada industri semen dan gula, keramik, bahan imbuh pada proses
smelter dan bahan bangunan. Namun selama untuk mencukupi kebutuhan tersebut masih
impor dari Malaysia. Kebutuhan akan kapur yang sangat besar dan perbedaan harga
antara kapur mentah dan kapur bakar merupakan peluang investasi yang akan signifikan
terhadap kegiatan perekonomian adalah berdirinya pabrik pengolahan batu gamping,
yang mengolah bahan tambang berupa batu kapur ini. Oleh karena itu, sebagai Unit
Pelaksana Teknis Balai Pengolahan Mineral Lampung (UPT.BPML) LIPI yang
bergerak dalam mineral logam dan non-logam sudah selayaknya menguasai teknologi
pembuatan kapur dengan mempertimbangkan aspek sosial dan ekonominya Berdasarkan
studi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dari aspek pemasaran peluang
produk powder kapur dan kapur tohor masih sangat terbuka. Bahan baku cukup tersedia
di daerah Lampung dan sekitarnya minimal untuk jangka waktu 10 tahun, teknologi
pengolahan cukup sederhana dan dapat dikuasai oleh LIPI. Sebagian besar prasarana
seperti tanah, gedung juga peralatan telah tersedia. Dari aspek keuangan untuk
merenovasi tungku Blast Furnace menjadi pabrik pengolahan kapur dengan kapasitas 30
ton/hari diperlukan modal investai sebesar 640.000.000 rupiah, modal kerja sebesar
567.500.000 rupiah.

Kata kunci: batu kapur, blast furnace, kapur tohor, pembakaran


1. PENDAHULUAN

Batu kapur (CaCO
3
) merupakan salah satu mineral industri yang banyak dibutuhkan dan digunakan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Penggunaan secara langsung batu kapur yaitu pada industri semen dan
gula, keramik, bahan imbuh pada proses smelter dan bahan bangunan. Sedangkan penggunaan secara tidak
langsung masih perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu yang dapat berupa light calcium carbonat ataupun
kapur tohor/bakar (CaO). Light calcium carbonat dan kapur tohor/bakar sama banyaknya dibutuhkan untuk
kebutuhan industri cat, pasta gigi, pemutih kertas, kosmetika, netralisasi tanah, bahan bangunan dan lain-lain
[1].

Mineral karbonat yang umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur adalah aragonit (CaCO
3
), yang
merupakan mineral metastable karena pada kurun waktu tertentu dapat berubah menjadi kalsit (CaCO
3
). Mineral
lainnya yang umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur atau dolomit, tetapi dalam jumlah kecil adalah
Siderit (FeCO
3
), ankarerit (Ca
2
MgFe(CO
3
)
4
), dan (MgCO
3
)/magnesit [2].
Yayat IS dan Suharto / Kajian awal Pembuatan Kapur Tohor ....... SFA 2013

42 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773


Gambar 1. Potensi batu kapur di Indonesia [3]


Potensi batu kapur di Indonesia sangat besar dan tersebar hampir merata di seluruh kepulauan Indonesia.
Sebagian besar cadangan batu kapur Indonesia terdapat di Sumatera salah satunya Lampung. Sumber daya
kapur diantaranya ada di Desa Timbul Rejo, Kec. Bangun Rejo dan Desa Gunung Kapur Kec. Selagai Lingga
dengan cadangan kurang lebih 164.960.000 ton, selain itu ada di Desa Sindang Sari kec Tanjung Bintang
dengan cadangan berkisar 1.003.000 ton [4]. Daerah lampung lainnya yang memiiki seumber daya batu kapur
yaitu way kanan, pringsewu, lampung barat.

Batu kapur mempunyai sifat yang istimewa, bila dipanasi akan berubah menjadi kapur tohor/bakar atau
quick lime yaitu kalsium oksida (CaO) melalui proses dekarbonasi (pengusiran CO
2
) yang dapat dihidrasi secara
mudah menjadi kapur hydrant atau kalsium hidroksida (Ca(OH)
2
). Pada proses ini air secara kimiawi bereaksi
dan diikat oleh CaO menjadi Ca(OH)
2
dengan perbandingan jumlah molekul sama.

Kapur tohor/bakar (CaO) adalah hasil dari pemanasan batuan kapur, yang dalam perdagangan dapat
dijumpai bermacam-macam hasil pembakaran kapur ini, antara lain [5]:
Kapur tohor / quick lime : yaitu hasil langsung dari pembakaran batuan kapur yang berbentukoksida-
oksida dari kalsium atau magnesium.
Kapur padam/ hydrated lime : adalah bentuk hidroksida dari kalsium atau magnesium yang dibuat dari
kapur keras yang diberi air sehingga bereaksi dan mengeluarkan panas. Digunakan terutama untuk
bahan pengikat dalam adukan bangunan.
Kapur hydraulik : disini CaO dan MgO tergabung secara kimia dengan pengotor-pengotor. Oksida
kapur ini terhidrasi secara mudah dengan menambahkan air ataupun membiarkannya di udara terbuka,
pada reaski ini timbul panas.

Reaksi dalam pembuatan kapur [6]:
CaCO
3
+ panas ] CaO + CO
2

CaCO
3
.MgCO
3
+ panas ] CaO.MgO + 2CO
2

CaO + H
2
O ] Ca(OH)
2
+ panas
CaO.MgO + H
2
O ] Ca(OH)
2
.MgO + panas
CaO.MgO + H
2
O ] Ca(OH)
2
.Mg(OH)
2
+ panas

Pada industri peleburan baja dibutuhkan kapur sebagai fluks. Salah satu industri peleburan yang
membutuhkan kapur adalah PT. Krakatau Steel Cilegon dengan kebutuhan sebesar 150 ton per hari. Selama ini
Yayat IS dan Suharto / Kajian awal Pembuatan Kapur Tohor ....... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 43
kebutuhan kapur tersebut di suplai oleh anak perusahaan dari Krakatau Steel Cilegon, dengan harga Rp.800,-
per kg dan itupun masih belum mencukupi. Berdasarkan data pemasaran Krakatau Steel disebutkan bahwa harga
kapur mentah (CaCO
3
) yang sudah di packing sekitar Rp.300 per kg dan harga kapur tohor/bakar (CaO) sebesar
Rp.800 Rp.900 tiap kg-nya. Industri lain yang membutuhkan kapur cukup besar adalah pabrik gula, sebagai
contoh Gunung Madu Plantation (GMP) membutuhkan sekitar 70 ribu ton/tahun kapur mentah dalam bentuk
bongkahan atau powder dengan ukuran mesh tertentu. Selama ini untuk mencukupi kebutuhan tersebut masih
impor dari Malaysia. Dari sini terlihat bahwa sangat besar kebutuhan akan kapur dan sangat signifikan
perbedaan harga antara kapur mentah dan kapur bakar. Peluang investasi yang akan signifikan terhadap kegiatan
perekonomian adalah berdirinya pabrik pengolahan batu gamping, yang mengolah bahan tambang berupa batu
kapur ini.

Oleh karena itu, sebagai Unit Pelaksana Teknis Balai Pengolahan Mineral Lampung (UPT.BPML) LIPI
yang bergerak dalam mineral logam dan non-logam sudah selayaknya menguasai teknologi pembuatan kapur
dengan mempertimbangkan aspek sosial dan ekonominya.


2. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah sebagai kajian awal untuk mengetahui potensi pengolahan batu kapur
menjadi kapur tohor memanfaatkan tungku blast furnace UPT. BPML LIPI dari segi teknis dan ekonomis.


3. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan data penunjang adalah data dan informasi kuantitatif dan
kualitatif dari instansi pemerintah terkait, dan survey langsung ke lapangan. Kemudian informasi tersebut
digunakan dalam menganalisa dan mengolah data terkait dengan potensi batu kapur sebagai sebagai bahan
bakupembuatan kapur tohor.

Pemanfaatan batu kapur menjadi kapur tohor perlu dikaji kelayakan ekonomi, dampak lingkungan, serta
dampak sosial bagi masyarakat di sekitarnya. Untuk keperluan tersebut perlu diketahui konfigurasi yang efisien
untuk penggunaan blast furnace.

4. HASIL DAN DISKUSI
TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI TUNGKU

Gambar 2. Tungku pendam pembakaran batu kapur [7]


Yayat IS dan Suharto / Kajian awal Pembuatan Kapur Tohor ....... SFA 2013

44 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Selama ini tungku yang digunakan untuk memproses batu kapur menjadi kapur tohor berupa tungku
pendam sistem berkala berbentuk silinder yang terpendam dalam tanah dengan sedikit bagian terbuka untuk
pelaksanaan proses pembakaran berkapasitas 60 ton batu kapur [7].

Dinding tungku pendam dibuat dari susunan batu kuarsa (batu gongsol) atau jenis batu kali tertentu,
dapat juga dibuat dari batu bata biasa. Batu bata tidak tahan terhadap api reduksi sehingga dinding dari batu bata
mudah rusak sehingga mengharuskan dilakukan perbaikan secara berkala. Pemasukan bahan bakar dilakukan
dari bukaan pada dinding yang berhubungan dengan bukaan tempat juru bakar melakukan tugasnya
memasukkan bahan bakar. Bahan bakar masuk ke dalam rongga di dalam tungku yang dibuat dari susunan batu
kapur yang akan dibakar [7].

Sedangkan tungku yang akan digunakan oleh UPT.BPML adalah tungku bekas peleburan bijih besi yang
berdimensi lebar diameter dalam heart 3 m, diameter dalam bagian top tungku 2,5 m, tinggi kurang lebih 20 m.
Diperkirakan dapat memuat sekitar 100-150 ton batu kapur untuk sekali produksi dengan proses batch.
Sedangkan bagian dalam dari tungku yang sudah ada tersusun dari bata tahan api dan bagian luar dari tungku
terbuat dari plat besi setebal 10 mm sehingga kondisi tungku sangat bagus untuk menjaga kehilangan
panas,mencegah kebocoran dan ketahanan terhadap api reduksi yang mengakibatkan dinding bagian dalam tidak
mudah rusak.

PENYUSUNAN BATU KAPUR
Penyusunan batu kapur di dalam tungku pendam merupakan langkah penting untuk terlaksananya proses
pembakaran yang efisien dan merata ke seluruh umpan batu kapur yang akan dibakar sehingga seluruhnya
terkalsinasi dengan baik menjadi kapur tohor/bakar

[7].

Di bagian dasar disusun batu kapur berukuran besar 20 - 30 cm x 30 - 40 cm. Susunan ini berfungsi
sebagai fondasi untuk menopang susunan batu kapur selanjutnya sampai ke bagian atas tungku. Fondasi ini
harus cukup kuat dan stabil pada temperatur tinggi (1000-1200C) sampai proses pembakaran selesai yaitu
sekitar 3-10 hari masing-masing untuk kapasitas 20 dan 100 ton batu kapur. Untuk ini sifat fisik batu kapur yang
digunakan pada suhu tinggi harus sudah diketahui [7].

Semakin ke atas, batu kapur yang disusun semakin kecil ukurannya dan susunan dibuat semakin ke
tengah dan akhirnya bertemu pada ketinggian 1/3 tinggi umpan dari dasar tungku atau 1-2 m. Terbentuklah
sebuah rongga berbentuk setengah bola. Lubang pengapian dari luar tungku tembus ke dalam rongga ini. Karena
bentuk yang demikian mengakibatkan terciptanya turbulensi yang tinggi dalam rongga pembakaran ini, setelah
suhu meningkat. Kondisi ini cukup ideal untuk proses pembakaran batubara halus [7].

Kemudian di permukaan tumpukan batu kapur tersebut ditutup dengan batu kapur kecil-kecil berukuran
2-3 cm setebal 5 cm guna menahan laju panas yang keluar. Selanjutnya proses pembakaran dapat dimulai [7].


Gambar 3. Susunan Batu Kapur di dalam Tungku (dilihat dari atas) [7]
Yayat IS dan Suharto / Kajian awal Pembuatan Kapur Tohor ....... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 45
TEKNIK PEMBAKARAN
Pembakaran dimulai dengan api kecil menggunakan kayu bakar untuk mengeringkan batu kapur. Api
dapat dibesarkan setelah batu kapur hampir kering sehingga uap air tidak terlalu banyak. Banyaknya uap air
akan mengganggu draft (tarikan) sehingga pembakaran kurang lancar, banyak menghasilkan jelaga yang
mengganggu proses pembakaran selanjutnya [7].

Jika unggun batu kapur sudah hampir kering, draft sudah cukup kuat, api dapat semakin dibesarkan.
Setelah api besar dan stabil, batubara halus dapat dimasukkan. Ukuran butir batubara halus adalah 30 mesh dan
cara pemasukannya adalah dengan mengalirkannya ke dalam pipa yang ditiup blower. Untuk tungku pendam
berkapasitas 40 ton batu kapur, dapat digunakan blower 3 inci 440 watt dan pipa untuk peniupan 4 - 5 inci [7].
Batubara halus atau biomassa masuk ke pipa peniupan dari pipa pengumpan. Pemasukan batubara
halus/biomassa ke pipa pengumpan untuk kemudian ditiupkan ke dalam ruang bakar dilakukan dengan sistem
pengumpan. Sistem pengumpan dapat berupa pengumpan ulir (screw feeder) dengan kecepatan yang dapat
diatur atau dapat juga secara manual [7].

Cara manual dapat dilakukan dengan menyediakan meja dengan lubang di salah satu sudutnya untuk
menyalurkan batubara/biomassa di atas meja dengan mendorong batubara ke dalam pipa pengumpan dengan
tangan melalui lubang tersebut [7].

Pipa peniup batubara/biomassa dipasang sedemikian rupa sehingga batubara halus menyebar secara
merata di dalam rongga pembakaran yang berisi kayu bakar yang sedang terbakar dengan posisi malang
melintang. Pemerataan ini dibantu dengan adanya turbulensi yang tinggi dalam rongga pembakaran. Turbulensi
tercipta karena draft yang kuat dari unggun kapur dan udara luar masuk ke dalam rongga melalui lubang
pengapian yang sempit. Kondisi ini sangat membantu proses pembakaran batubara sehingga batubara dengan
cepat terbakar dan kayu terbakar lebih lambat [7].








Gambar 4. Sketsa susunan pengumpan batubara halus [7]

Gambar 5. Tungku pembakaran batu kapur [8]

Yayat IS dan Suharto / Kajian awal Pembuatan Kapur Tohor ....... SFA 2013

46 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Gambar 6. Penggunaan pengumpan batubara halus untuk pembakar kapur [7]


Karena pemasukan batubara/biomassa secara terus menerus tanpa henti maka peningkatan suhu juga
terus menerus sehingga waktu pembakaran dengan kombinasi batubara/biomassa - kayu ini lebih singkat
dibanding pembakaran dengan kayu yaitu sekitar 2/3-nya. Untuk perbandingan, dibawah ini adalah hasil
pembakaran 36 ton batu kapur [7].

Pembakaran dihentikan setelah seluruh muatan batu kapur telah terkalsinasi.Hal ini dapat diketahui
dengan mengukur suhu sekitar 5 cm di bawah permukaan batu kapur.Setelah temperatur bertahan 2-3 jam pada
900C atau lebih maka batu kapur telah terkalsinasi [7].

Dapat juga dilihat dari penurunan permukaan batu kapur di dalam tungku. Setelah terkalsinasi volume
produk CaO menyusut sehingga permukaan batu kapur menurun 40 - 80 cm, tergantung kapasitas tungku dan
sifat batu kapur yang dibakar. Perjalanan suhu pembakaran kapur dengan kombinasi batubara-kayu terlihat
dalam gambar 7 [7].

Batubara muda berkalori rendah, kurang dari 5500 kkal/kg, kurang efektif untuk digunakan membakar
kapur dengan teknik ini. Batubara ini baik untuk membakar kapur tanpa campuran kayu dalam tungku pendam
yang dimodifikasi atau tungku tegak dengan pembakar siklon [7].

Batubara peringkat lebih tinggi yang bernilai kalor lebih dari 6000 kkal/kg kurang baik untuk membakar
kapur dengan teknik batubara halus tanpa campuran kayu dalam tungku tersebut di atas sebab api
pembakarannya dapat mencapai lebih dari 1200
0
C. Panas yang terlalu tinggi mengakibatkan terjadinya sintering
di permukaan kapur tohor (berwarna kehitaman) sehingga sukar diseduh menjadi Ca(OH)
2
[7].


Gambar 7. Api di bagian atas tungku pada temper atur 900
0
C [7]

Yayat IS dan Suharto / Kajian awal Pembuatan Kapur Tohor ....... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 47

(a) (b) (c)
Gambar 8. Keadaan t anur blast fur nace saat ini yang akan digunakan sebagai tungku kalsinasi,
(a) t ungku tampak luar , (b) t ungku tampak dalam,(c) kondisi bata api tungku


Industri pembakaran kapur termasuk industri yang padat energi karena 50-60% biaya produksinya
merupakan biaya energi. Untuk tungku berisi 100 ton batu kapur memerlukan 50 ton kayu pinus yang baik (10
truk) untuk pembakaran selama 9-10 hari. Untuk mengurangi konsumsi kayu dapat digunakan batubara halus
tanpa melakukan modifikasi tungku. Untuk itu hanya diperlukan peralatan tambahan yaitu blower dan meja
pengumpan batubara.

Namun dengan penggunaan batubara ini masih cukup mahal biaya energinya karena masih 60% terhadap
harga jual. Sedangkan dengan penggunaan biomassa hanya 22% dari harga jual biaya energinya.

Setiap pemasukan satu ton batubara/biomassa dapat mengurangi penggunaan kayu bakar sebanyak 8 - 9
ton. Kecepatan pemasukan batubara antara 40 - 60 kg/jam. Kayu bakar juga terus ditambahkan sehingga api dari
kayu dan batubara/biomassa berimbang dan dicapai efisiensi pembakaran yang maksimum.

SKALA PRODUKSI
Berdasarkan data kebutuhan akan kapur tohor yang tinggi yaitu sebagai contoh kebutuhan pabrik gula
mencapai 9.900 ton/tahun dan kapasitas alat yang ada maka perencanaan produksi kapur tohor adalah sebesar 30
ton/batch. Dengan perencanaan produksi sebesar 30 ton/batch maka diperlukan pengembangan alat yang ada
dan renovasi untuk menyesuaikan tungku yang tadinya digunakan sebagai tungku peleburan bijih besi menjadi
tungku kalsinasi kapur.

LOKASI PROYEK
UPT. Balai Pengolahan Mineral Lampung (BPML) LIPI berlokasi di Jalan Ir. Sutami Km.15 Kecamatan
Tanjung Bintang, berbatasan dengan Kota Madya Bandar Lampung. Lokasi tersebut berada di Kawasab Indusrti
Lampung dengan sarana listrik dan telepon yang memadai. Akses jalan raya kelas I yang terpelihara baik
memudahkan transport ke pelabuhan Bakauheni, stasiun Kereta Api Panjang dan Pelabuhan Internasional
Panjang.

Lokasi UPT. BPML sangat strategis, salah satu kekurangan adalah belum adanya pemasukan air PDAM.
Relatif jauh dari sungai sumber air permukaan, sehingga pasokan air diambil dari sumur bor.

PERALATAN YANG DIGUNAKAN DALAM PRODUKSI

Peralatan yang diperlukan dalam pengolahan kapur tohor antara lain:
Tungku kalsinasi/dekarbonisasi
Tungku ini digunakan untuk proses kalsinasi/dekarbonisasi batu kapur menjadi kapur tohor/bakar. Tungku
yang digunakan merupakan tungku bekas peleburan bijih besi milik UPT.BPML.Namun tungku ini perlu
beberapa perbaikan dan penyesuaian agar sesuai dengan kebutuhan sebagai tungku kalsinasi kapur.
Yayat IS dan Suharto / Kajian awal Pembuatan Kapur Tohor ....... SFA 2013

48 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Ball mill/hammer roller mill
Ball mill digunaan untuk membuat produk kapur baik kapur pertanian atau kapaur tohor/bakar dengan
ukuran mesh 100-300 sesuai permintaan dari industri yang akan menggunakannya. Dimana penggunaan
saat ini yang dibutuhkan industri dengan ukuran sekitar 150-300 mesh.

PENYEDIAAN BAHAN BAKU DAN PENGGUNAANNYA

Rendemen untuk menghasilkan kapur tohor dari kapur tohor sekitar 50% sehingga dengan kapasitas 60
ton bahan baku maka dihasilkan 30 ton kapur tohor/batch. Dimana per batch proses membutuhkan waktu 4-10
hari. Pasokan batu kapur dapat diperoleh dari daerah Tegineneng, Negeri Katon dan Padang Cermin dengan
kadar CaCO3 95%, daerah tambang Baturaja yang mencapai 76,5 juta ton dan baru dieksploitasi 22,8 juta ton
sehinga ketersediaan dapat terpenuhi [9].

Sedang untuk kebutuhan batubara, kayu, biomassa tersedia melimpah di Lampung. Khususnya untuk
biomassa seperti sekam padi dan bongkol jagung yang merupakan buangan dari hasil pertanian yang belum
banyak digunakan. Untuk penggunaan kayu sangat terpenuhi karena terdapat perkebunan karet yang
luas,tersebar luas dan pada periode tertentu ditebang dan dijual.

PELUANG PASAR

Adanya pabrik semen, gula dan industri lain merupakan pasar untuk produk kapur yang keberadaanya dapat
terjamin. Sebagai contoh untuk pabrik gula dalam proses produksinya kapur sudah lama digunakan sebagai
bahan pembantu pemurnian nira tebu. Di Indonesia sekitar 60 pabrik gula sebagian besar (lebih dari 90%) kapur
semakin banyak digunakan dalam pemurnian nirasehubungan dengan kualitas bahan baku tebu yang terus
menurun. Penurunan kualitas tebu sebesar 14,16% menyebabkan kenaikan pemakaian kapur 8,4%. Pada
dasawarsa yang lalu pemakaian kapur hanya 141,5 kg per 100 ton tebu sedang dasawarsa terakhir mencapai
153,3 kg per 100 ton tebu [10]. Kebutuhan kapur ini juga dapat berupa kapur pertanian yang jumlahnya cukup
signifikan juga karena digunakan sebagai pengatur pH tanah oleh pabrik kapur sebelum dilakukan proses
penanaman tebu.

ANALISA EKONOMI

Dalam mengevaluasi kelayakan usaha dibutuhkan evaluasi keuangan. Untuk evaluasi keuangan kegiatan ini
dapat dilihat pada uraian di bawah ini [11].

jenis investasi nilai
a. bahan baku Rp 540.000.000
b. bahan pembantu air Rp 5.000.000
c. listrik Rp 5.000.000
d. pemeriksaan mutu Rp 2.000.000
d. pengepakan & transportasi Rp 10.000.000
e. tak terduga Rp 12.800.000
f. promosi Rp 72.000.000
TOTAl Rp 646.800.000

BIAYA PRODUKSI PER BULAN Rp 1.233.175.000



Yayat IS dan Suharto / Kajian awal Pembuatan Kapur Tohor ....... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 49
Pr oduk Hari Jumlah produk (kg) Harga/kg Total penjualan
CaO 30 15.000 Rp 950 Rp 405.000.000
powder kapur 30 15.000 Rp 2.300 Rp 1.035.000.000
Jumlah Penjualan Rp 1.440.000.000


Hasil penjualan
jenis nilai
a. kapur bongkahan Rp 405.000.000
b. kapur powder Rp 1.035.000.000
TOTAL PENJUALAN (G) Rp 1.440.000.000

Per hitungan Keuntungan
jenis nilai
a. hasil penjualan Rp 1.440.000.000
b. biaya produksi Rp 1.233.175.000
c. keuntugan kotor Rp 206.825.000
d. pajak perusahaan Rp 41.365.000
e. keuntungan bersih per bulan Rp 165.460.000

% 100
7 . 0
3 . 0

Ra Va Sa
Ra Fa
BEP (Aries, 1955)
% 100
1 . 0

+

FCI keuntungan
FCI
POT (Stewart, 1955)

Berdasarkan analisa keungan tersebut diatas dengan kondisi:
- Produk kapur tohor = 15 ton/hari
- Produk powder kapur = 15 ton/hari
- Harga kapur tohor = 950/kg
- Harga powder kapur = 2300/kg
- Tingkat bunga pinjaman = 16% per tahun
- Diperroleh POT = 7 bulan,
- BEP = 74%

DAMPAK SOSIAL EKONOMI KEEGIATAN
Dengan adanya kegiatan ini diharapkan akan berdampak sosial dan ekonomi serta bermanfaat bagi
masyarakat, dan mitra usaha kecil dan menengah, antara lain :
Terbentuknya lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.
Ketergantungan akan bahan kapur baik kapur tohor atupun kapur pertanian impor mulai dapat
dikurangi.
Kepercayaan diri akan kemampuan teknologi anak bangsa akan semakin meningkat.
Kontribusi untuk pendapatan asli daerah melalui sektor pajak dan retribusi.
LIPI sebagai lembaga litbang dapat menjadi motor penggerak dalam memperkenalkan teknologi
tepat guna sebagai jawaban atau solusi dalam memanfaatkan sumber daya alam.
Terjalinnya hubungan kerjasama / kemitraan antara LIPI dengan sektor industri di tanah air.


Yayat IS dan Suharto / Kajian awal Pembuatan Kapur Tohor ....... SFA 2013

50 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
5. SIMPULAN
Berdasarkan study yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
a. Dari aspek pemasaran peluang produk powder kapur dan kapur tohor masih sangat terbuka
b. Bahan baku cukup tersedia di daerah Lampung dan sekitarnya minimal untuk jangka waktu 10 tahun
c. Teknologi pengolahan cukup sederhana dan dapat dikuasai oleh LIPI
d. Sebagian besar prasarana seperti tanah, gedung juga perralatan telah tersedia
e. Dari aspek keuangan untuk merenovasi tungku Blast Furnace menjadi pabrik pengolahan kapur dengan
kapasitas 30 ton/hari diperlukan modal investai sebesar 640.000.000 rupiah, modal kerja sebesar
567.500.000 rupiah

6. DAFTAR ACUAN

[1] Herianto, E., (2003), Pengembangan Industri Kapur di kalimantan Timur, Semiloka Nasional
Metalurgi 2003. Hal 110-118.
[2] Kelompok Program Teknologi Informasi Pertambangan, (2005), Batu Kapur/Batu Gamping;
[http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Batukapur/Ulasan], (diakses tanggal 20 April 2013).
[3] Indonesian Investment Coordinating Board, (2012), Potensi batu Gamping di Lampung;
[http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/id/commodityarea.php?ia=18&ic=618], (diakses
tanggal 1 Mei 2013).
[4] Indonesian Investment Coordinating Board, (2012), Invest in Remarkable Indonesia;
[http://regionalinvestment.bkpm.go.id], (diakses tanggal 3 Mei 2013).
[5] Alim, A., (2012), Industri Kapur; [http://kuliah.wikidot.com/kapur], diakses tanggal 10 Januari
2013.
[6] Sido, CV., (2009), Garis Besar Kegiatan Operasional Perusahaan; [http://cvsidourip.blogspot.
com/], (diakses tanggal 3 Januari 2013).
[7] Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara, (2010), Pembakaran Kapur Dalam Tungku Sistem
Berkala Dengan Kombinasi Bahan Bakar Batubara-Kayu; [http://www.tekmira.esdm.go.id/kp/
Batubara/ PembakaranKapur], (diakses tanggal 4 januari 2013).
[8] Sulaiman, Slamet, (2012) Bahan Bakar Sekam padi/Tongkol Jagung Pada Terapan Teknologi
Gasifikasi; [http://www.tender-indonesia.com], (diakses tanggal 1 Maret 2013).
[9] Tender Indonesia Commercial, PT., (2012), Profil Sebelas Smelter yang siap di bangun,
[http://www.tender-indonesia.com], (diakses tanggal 13 Februari 2013).
[10] Sunantyo dan theresia Harisutji W., 2005, Pemakaian Batuan Kapur dan Belerang sebagai bahan
Pembantu Proses Pemurnian Nira untuk Meningkatkan Kualitas Gula Produk, Pusat Penelitian
Perkebunan Gula Indonesia. Hal. 1- 7.
[11] Wicky Moffat and M. R. W. Walmsley, (2006), Understanding Lime Calcination Kinetics for
Energy Cost Reduction, Auckland, New Zealand.
[12] Aries & Newton, (1955), Chemical Engineering Cost Estimation, Mc. Graw Hill Book Co, New
York.
[13] Stewart, R.D., Wyskida, R.M., Johannes, J.D. (1995), Cost estimatorrs Reference Manual, John
Wlley & Sons, Inc.Singapore.


Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 51
PENGARUH J UMLAH TITIK DATA SYARAT BATAS PADA
PENDEKATAN KARTESIAN UNTUK SISTEM POTENSIAL LISTRIK
GEOMETRI POLAR


M. Arief Bustomi
1)
, Agustina Tr i Wahyudi
2)
, Endah Pur wanti
3)

1)
Jurusan Fisika-FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya-61111
Email: a_bustomi@physics.its.ac.id

2)
Jurusan Fisika-FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya-61111

3)
Dept. Fisika, Fak. Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
Kampus C UNAIR, Surabaya
Email : end4hp@gmail.com


Abstrak

Sistem potensial listrik dalam koordinat polar dapat dianalisa dengan menggunakan
pendekatan kartesian. Dalam penelitian ini hanya dibatasi pada pengaruh jumlah
sampling titik data syarat batas pada pendekatan kartesian. Ada beberapa tahap yang
harus dilakukan, yaitu: melakukan perhitungan analitik dalam koordinat polar,
menentukan syarat batas untuk pendekatan kartesian, menghitung potensial listrik dengan
pendekatan kartesian untuk masing-masing jumlah sampling titik data syarat batas dan
membandingkannya dengan hasil perhitungan menggunakan koordinat polar. Dalam
penelitian ini, jumlah sampling titik data syarat batas yang digunakan adalah 16, 32, 64,
128, 256, dan 512. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa semakin banyak jumlah
sampling titik data syarat batas yang digunakan dalam pendekatan kartesian akan
memberikan hasil yang semakin mendekati perhitungn langsung dalam koordinat polar.

Kata kunci : potensial listrik, pendekatan kartesian, jumlah sampling titik data syarat
batas, sistem geometri polar



1. PENDAHULUAN

Sebagian besar persoalan fisika adalah persoalan penyelesaian persamaan differensial yang merupakan
representasi matematis dari hukum fisika untuk suatu persoalan tertentu. Penyelesaian persamaan differensial
untuk sistem fisis harus memperhatikan kondisi syarat batas dari bagian-bagian batas (ujung) dari sistem. Untuk
menggambarkan kondisi dari sistem digunakan 3 sistem koordinat, yaitu kartesian, silinder dan bola dimana
penggunaan masing-masing koordinat disesuaikan dengan bentuk geometri sistemnya [1]. Artinya, sistem
geometri kartesian dianalisa dengan koordinat kartesian, sistem geometri silinder dianalisa dengan koordinat
silinder, dan sistem geometri bola dianalisa dengan koordinat bola. Tapi pada kenyataannya tidak semua sistem
dapat dinyatakan dengan bentuk geometri kartesian, silinder, atau bola. Sebagai contoh, untuk sistem geometri
yang campuran seperti kartesian silinder, kartesian bola, atau silinder bola. Padahal dalam analisanya tetap
harus dipakai salah satu sistem koordinat. Permasalahan sistem dengan bentuk geometri campuran merupakan
topik yang perlu untuk diteliti [2]. Sebagai langkah awal pengembangan metode analisa untuk sistem dengan
bentuk geometri campuran adalah mencoba mengembangkan suatu metode analisa untuk suatu sistem dengan
M. Arief Bustomi, dkk./ Pengaruh Jumlah Titik Data . SFA 2013
52 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
bentuk geometri tertentu menggunakan sistem koordinat yang tidak sesuai dengan bentuk geometrinya. Dalam
penelitian sebelumnya telah dicoba menggunakan pendekatan polar untuk sistem geometri kartesian dengan
hasil yang cukup baik [2]. Dalam penelitian yang akan disajikan dalam makalah ini, dilakukan hal sebaliknya
yaitu pendekatan kartesian untuk sistem geometri polar. Adapun variabel yang diteliti adalah pengaruh dari
pemilihan jumlah titik sampling data dalam melakukan pendekatan polar untuk suatu sistem gemetri polar.

2. DASAR TEORI

Metode Separ asi Var iabel Koor dinat Kar tesian

Metode Pemisahan Variabel dilakukan dengan memisalkan fungsi potensial listrik V(x,y) = X(x)Y(y).
Substitusi ke persamaan Laplace 0
2
, kemudian dibagi dengan V(x,y) akan menghasilkan [3]:
0
) (
1
) (
1
2
2
2
2
+
dy
Y d
y Y dx
X d
x X
(1)
Karena persamaan ini harus sama dengan nol untuk semua nilai x dan y maka kedua sukunya bisa
disamakan dengan konstanta, misalnya:

2
2
2
) (
1
k
dx
X d
x X


2
2
2
) (
1
k
dy
Y d
y Y
(2)

dimana k adalah konstanta separasi variabel. Masing-masing persamaan di atas merupakan persamaan
differensial biasa yang memiliki penyelesaian analitis :

X(x)=C
s
sin (kx) + C
c
cos (kx)
Y(y)=C
s
sinh (ky) + C
c


cosh (ky) (3)

dimana C dan C adalah konstanta yang bisa dicari apabila syarat batas diberikan. Misalkan syarat batasnya
adalah :

V(x,y=0) = V(x=0,y) = V(x=L
x
,y)
= 0 ,
V(x,y=L
y
)=V
o
(4)

y


V(x,L
y
)=V
o


V(0,y)=0 V(L
x
,y)=0


V(x,0)=0 x

Gambar 1. Syarat batas koordinat kartesian


M. Arief Bustomi, dkk./ Pengaruh Jumlah Titik Data . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 53
Maka syarat ini hanya dipenuhi apabila C
c
= 0 dan C
c
= 0. Kemudian pada x = L
x
akan terpenuhi apabila k =
n. / L
x
. Oleh sebab itu, penyelesaian persamaan Laplace adalah superposisi:
(5)
Koefisien C
n
dapat diperoleh dengan memasukkan nilai syarat batas pada y = L
y
, yaitu V
o
sehingga penyelesaian
akhirnya adalah:
( ) ( )
x
x
x n
n o
L
y n
L y n
L
x n
n
h
C V y x V

sinh / / sinh sin ,


,... 5 , 3 , 1

(6)
Metode Separ asi Var iabel Koor dinat Silinder

Persamaan Laplace dalam koordinat silinder yang hanya merupakan fungsi dari dua variable dalam
koordinat silinder, yaitu dan adalah [4]:
0
1 1
2
2
2

,
_


(7)
Metode separasi variabel digunakan untuk menyelesaikan potensial dalam koordinat silinder, yaitu
merupakan hasil kali dari dua fungsi ) ( ) ( Y R . Substitusi ke persamaan (7) akan menghasilkan :

2
2
1

d
Y d
Y d
dR
d
d R

,
_

(8)
Kedua ruas dari persaman (8) akan disamakan dengan K
2
, dimana K merupakan konstanta separasi variabel.
0
2
2
2
+ Y K
d
Y d

(9)
Persamaan (9) Mempunyai solusi cos(K ) dan sin(K ). Besaran dari K harus dibatasi dalam orde tertentu
untuk membuat solusi ini mempunyai nilai fungsi tunggal dari . Atau dengan kata lain, solusi untuk membuat
pengertian fisikanya seharusnya sama setelah diputar 2 , yaitu :

cos K( + 2 ) = cos (K )
sin K( + 2 ) = sin (K ) (10)

dimana menghendaki bahwa K = n, dan n adalah nol atau suatu bilangan positif. Suatu sifat penting dari solusi
ini adalah kenyataan bahwa sin dan cos orthogonal:
( ) ( ) ( ) ( )
mn
d n m d n m



sin sin cos cos
2
0
2
0
( ) ( )

d n m cos cos
2
0

=0 (11)
dimana
mn
adalah delta kronecker. Kebergantungan radial dari potensial dapat diperoleh dengan pengaturan
sisi sebelah kiri persamaan (8) dan dengan menyamakan K
2
= n
2
didapatkan :
0
2

,
_

R n
d
dR
d
d
(12)
Untuk n = 0, potensial memenuhi persamaan dimana potensial listriknya tidak mempunyai kebergantungan
anguler, yaitu:
0

,
_

d
dR
d
d
(13)
dengan solusi R() = konstan dan R() = ln . Untuk n 0 persamaan memiliki dua solusi
n
dan
n
. Oleh
karena itu, solusi yang paling umum adalah
( )
x x i n
n
L
x n
L
x n
C y x V

sinh sin ,

M. Arief Bustomi, dkk./ Pengaruh Jumlah Titik Data . SFA 2013


54 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
( ) ( ) ( ) [ ]


+ + +
1
0
sin cos ln ,
n
n n
n
n n
n
n B n A A

( ) [ ]
n
n
n n
n B n A p A A

+ + +
1
0 0
sin cos ln ' ,

[ ]
n
n
n n
n B n A

+ +
1
sin ' cos ' (14)
dimana ' , , ' ,
n n n n
B B A A untuk n0, adalah konstanta untuk nilai dari syarat batas. Penghitungan koefisien-
koefisien
n
A dan
n
B adalah sebagai berikut [5] :

2
0
1
n
2
0
1
n
sin ) (
2
B
cos ) (
2
A
d n V
d n V
n
n
(15)


3. METODOLOGI PENELITIAN

Urut-urutan langkah dalam penelitian ini dapat dituliskan sebagai berikut :
1. Menetapkan terlebih dahulu sistem geometri polar akan diteliti beserta kondisi syarat batas potensial
listriknya.
2. Melakukan perhitungan analitik secara langsung menggunakan koordinat polar.
3. Menentukan syarat batas untuk pendekatan koordinat kartesian.
4. Melakukan variasi jumlah titik sampling data syarat batas yang digunakan dalam pendekatan kartesian
untuk sistem geometri polar tersebut.
5. Membandingkan hasil perhitungan langsung menggunakan koordinat polar dan hasil perhitungan
menggunakan pendekatan kartesian untuk masing-masing jumlah sampling titik data.
6. Melakukan analisa seberapa baik pendekatan kartesian dapat dilakukan terhadap sistem geometri polar.

Dalam penelitian ini, sistem geometri polar yang diteliti beserta kondisi syarat batas potensial listriknya
diperlihatkan pada Gambar 2 :









Gambar 2. Potensial listrik dalam koordinat polar

dengan syarat batas potensial listriknya untuk r = 0,5 m adalah sebagai berikut :
V() = sin untuk 0< <
V() = 0 untuk < < 2 (16)

Perhitungan secara langsung dalam koordinat polar menggunakan Pers. (14) dengan konstanta-konstantanya
diperoleh menggunakan Pers. (15) dan (16). Perhitungan menggunakan pendekatan kartesian dilakukan dengan
M. Arief Bustomi, dkk./ Pengaruh Jumlah Titik Data . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 55
terlebih dulu memilih posisi untuk potensial syarat batas kartesian yang akan digunakan. Gambar 3 berikut
memperlihatkan posisi untuk potensial syarat batas yang digunakan dalam penelitian ini.










Gambar 3. Pemilihan potensial syarat batas untuk pendekatan kartesian

Dalam penelitian ini dilakukan variasi jumlah sampling titik data sebanyak 6 macam pada potensial batas
untuk perhitungan pendekatan kartesian, yaitu 16 titik ( 4 titik pada masing-masing sisi persegi syarat batas
potensial), 32 titik (8 titik pada masing-masing sisi persegi syarat batas potensial ), 64 titik, 128 titik, 256 titik,
dan 512 titik. Untuk masing-masing jumlah sampling titik data dapat ditentukan fungsi potensial listrik untuk
pendekatan kartesiannya menggunakan Pers. (5) dengan konstanta-kontantanya ditentukan menggunakan sifat
ortogonalitas fungsi sinus dan cosinus dan nilai potensial listrik sepanjang sisi-sisi pada persegi syarat batas
tersebut. Hasil perhitungan untuk masing-masing variasi jumlah sampling titik data ini akan dibandingkan
dengan hasil perhitungan langsung dalam koordinat polar. Selanjutnya akan dilihat bagaimana pengaruh variasi
jumlah sampling titik data pada pendekatan kartesian terhadap perhitungan langsungnya dalam koordinat polar.


4. HASIL DAN DISKUSI
Dalam penelitian ini telah dipilih 40 buah titik yang berada dalam persegi syarat batas. Titik-titik
sebanyak 40 titik tersebut tersebar secara merata dalam persegi syarat batas tersebut. Pada masing-masing dari
40 titik tersebut dihitung selisih antara pendekatan kartesian dan perhitungan langsung polarnya. Selanjutnya
dari nilai selisih potensial listrik dari ke 40 titik tersebut dapat dihitung nilai rata-ratanya untuk
merepresentasikan seberapa baik pendekatan polar untuk masing-masing fungsi potensial listrik dari jumlah
sampling titik data. Adapun hasilnya diperlihatkan pada Tabel 1 berikut :
Tabel 1
Rata-rata selisih untuk masing-masing fungsi potensial listrik

Jumlah sampling titik data Rata-rata selisih terhadap polar
16 titik 0,06104250
32 titik 0,01543250
64 titik 0,01166375
128 titik 0,01072500
256 titik 0,01051125
512 titik 0,01046500

Dari Tabel 1 terlihat bahwa semakin banyak jumlah titik data yang digunakan maka nilai potensial listrik
pendekatan kartesian akan semakin mendekati nilai potensial listrik perhitungan langsung dalam polar. Artinya
selisih antara potensial listrik dalam perhitungan polar dengan potensial listrik pendekatan kartesian semakin
kecil. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa semakin banyak jumlah titik data yang digunakan maka hasilnya
semakin mendekati nilai yang sebenarnya.


M. Arief Bustomi, dkk./ Pengaruh Jumlah Titik Data . SFA 2013
56 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Setelah dilakukan analisa perbandingan hasil perhitungan koordinat polar dan pendekatan kartesian
sehingga diperoleh data selisih untuk masing-masing jumlah suku yang digunakan, selanjutnya dapat dibuat
grafik dengan maksud untuk mengetahui pengaruh penambahan jumlah sampling titik data terhadap
konvergenitas nilai potensial listrik di suatu titik posisi tertentu. Untuk keperluan tersebut dipilihlah empat buah
titik posisi, yaitu titik-titik dengan koordinat (0,25 ; 0), (0,25 ; 0,5), (0,5 ; 0,25) dan (0 ; 0,25). Tabel 2
memperlihatkan bagaimana pengaruh variasi jumlah sampling titik data pada nilai selisih perhitungan potensial
listrik antara polar dan pendekatan kartesian untuk masing-masing keempat titik tersebut.

Tabel 2
Pengaruh variasi jumlah sampling titik data pada nilai selisih perhitungan potensial

Jumlah sampling
titik data
Titik A
(0,25 ; 0)
Titik B
(0,25 ; 0,5)
Titik C
(0,5 ; 0,25)
Titik D
(0 ; 0,25)
16 titik 0,0574 0,052 0,0462 -0,0144
32 titik -0,0197 0,021 0,0039 -0,0190
64 titik -0,0211 -0,015 0,0004 -0,0204
128 titik -0,0214 -0,024 -0,0004 -0,0208
256 titik -0,0215 -0,026 -0,0006 -0,0208
512 titik -0,0216 -0,027 -0,0007 -0,0209

Dari data padaTabel 2 dapat dibuat grafik pengaruh variasi jumlah sampling titik data pada nilai selisih
perhitungan potensial listrik antara polar dan pendekatan kartesian untuk masing-masing keempat titik data A,
B, C dan D sebagai berikut :



(a) titik A (b) titik B


(c) titik C (d) titik D
Gambar 4 . Grafik selisih potensial listrik terhadap jumlah sampling titik data

Dari Gambar 4 terlihat bahwa untuk keempat titik posisi tersebut, selisih potensial listrik antara perhitungan
polar dan pendekatan kartesian mulai konvergen pada jumlah sampling titik data sebanyak 64.





-0.05
0
0.05
0.1
16 32 64 128 256 512
-0.02
0
0.02
0.04
0.06
16 32 64 128 256 512
-0.02
0
0.02
0.04
0.06
16 32 64 128 256 512
-0.03
-0.02
-0.01
0
16 32 64 128256512
M. Arief Bustomi, dkk./ Pengaruh Jumlah Titik Data . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 57
5. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :
1. Variasi jumlah titik sampling data syarat batas berpengaruh pada hasil analisa menggunakan pendekatan
kartesian.
2. Dari pemilihan 6 variasi pengambilan sampling titik data yaitu 16, 32, 64, 128, 256, dan 512 titik data,
ternyata diperoleh grafik selisih potensial listrik polar dan pendekatan kartesian terhadap jumlah sampling
titik data yang mulai konvergen pada jumlah sampling titik data sebanyak 64.
3. Transformasi syarat batas dari polar ke kartesian untuk sistem geometri polar akan menghasilkan solusi
dalam koordinat kartesian yang nilainya mendekati solusi dalam koordinat polar

6. DAFTAR ACUAN
[1] Andrews, M. , (2006), Alternative Separation of Laplaces Equation in Toroidal Coordinates and its
Application to Electrostatics , Journal of Electrostatics, Vol. 64, pp. 664-672.
[2] Bustomi, M.A. & Kushidayati, I.A., (2010), Pendekatan Polar untuk Potensial Listrik Sistem
Geometri Kartesian, Simposium Fisika nasional ke 23, di ITS Surabaya.
[3] Nayfeh, M.H. & Brussel, M.K., (1985), Electricity and Magnetism, 2nd e., Willey, New York.
[4] Vanderlinde, J., (2004), Classical Electr omagnetic Theor y, 2nd ed., Wiley, New York.
[5] Al-Khaled, K., (2005), Numerical Solutions of The Laplaces Equation, Applied Mathematics and
Computation, Vol. 170, pp. 1271-1283.
[6] Bottner, C.U. & Sommerfeld, M., (2002), Numerical Calculation of Electrostatic Powder Painting
using The Euler/Lagrange Approach, Powder Technology, Vol. 125, pp. 206-216.
[7] Lavery, J. E., (2002), Shape-Preserving, Multiscale Interpolation by Univariate Curvature-based
Cubic L1 Splines in Cartesian and Polar Coordinates, Computer Aided Geometric Design, Vol. 19,
pp. 257-273.





















M. Arief Bustomi, dkk./ Pengaruh Jumlah Titik Data . SFA 2013
58 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773



Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 59
KARAKTERISTIK GRUP PERMUTASI GENAP A
4


Nofa Ria Sagita dan Agus Pur wanto

Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA)
Jurusan Fisika, FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya, 60111
e-mail: nofa@physics.its.ac.id, purwanto@physics.its.ac.id



Abstr ak


Perkembangan terakhir kajian matriks bauran neutrino menuju pada bentuk matriks
bauran tri-bimaksimal. Bentuk empiris matriks bauran ini menuntun pada simetri dasar
yang mendasari teori bauran neutrino. Simetri alternatif yang diduga mendasari adalah
simetri famili permutasi genap A4. Di dalam penelitian ini akan dikaji semua sifat,
perkalian, representasi, dan karakter grup simetri A4.

Kata kunci: bauran neutrino, simetri, permutasi, tribimaksimal, grup A4



1. PENDAHULUAN
Neutrino merupakan salah satu partikel elementer yang membangun jagad raya. Berdasarkan asumsi
ketiadaan medan neutrino kiralitas kanan pada model standar, neutrino dikatakan tidak bermassa. Namun
demikian pada tahun 1998, kolaborasi Super-Kamiokande memberikan bukti kuat mengenai kehadiran
fenomena osilasi neutrino di alam dari data eksperimen neutrino atmosferik [1]. Osilasi neutrino mensyaratkan
massa taknol dan nondegenerasi massa. Penemuan massa dan sudut baur neutrino telah menjadi tonggak penting
dalam sejarah fisika partikel. Untuk menjelaskan massa neutrino yang tidak nol, model standar diperluas dengan
menghadirkan medan neutrino kiralitas kanan.

Kehadiran dua sudut besar dan satu sudut kecil pada sudut bauran di sektor lepton [2-3] menunjukkan
bahwa matriks bauran neutrino adalah sangat kompatibel dengan bentuk yang disebut Tri-Bimaksimal (TB) [4].
Bentuk TB diperkenalkan oleh Harrison, Perkins, dan Scott. Bauran TB ini berdasar pada ide bahwa terdapat
baik bauran bimaksimal juga bauran tri-maksimal pada sektor lepton [5]. Bentuk sederhana dari matriks bauran
TB menyiratkan suatu simetri famili (family simmetry) yang mendasari teori bauran neutrino. Simetri alternatif
yang diduga mendasari pola bauran untuk neutrio tiga generasi adalah simetri famili permutasi genap A
4
. Grup
A
4
memiliki tiga representasi tak tereduksi satu dimensi dan satu representasi tiga dimensi : 1,1',1'' dan 3. Di
dalam penelitian ini akan dikaji semua sifat, perkalian, representasi, dan karakter grup simetri A4.


2. TEORI GRUP
Grup adalah sekumpulan elemen { }
1 2 3
, , ,... G g g g dan operasi perkalian { } o yang memenuhi sifat-sifat :
1) tertutup (closure), bila
1 2
, g g G maka
1 2
g g G o
2) asosiatif, bila
1 2 3
, , g g g G maka ( ) ( )
1 2 3 1 2 3
g g g g g g o o o o
3) Elemen satuan
0
g sehingga
0 0 i i i
g g g g g o o untuk semua
i
g G
4) Elemen invers
1
i
g

sehingga
1 1
0 i i i i
g g g g g

o o untuk semua
i
g G


Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013

60 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
A. Elemen Sekawan dan Kelas
Dua elemen
i
g dan
j
g dari grup G dikatakan sekawan satu dengan yang lain jika ada elemen
k
g G
sehingga
1
k i k j
k i j k
g g g g
g g g g

(1)
himpunan elemen grup yang sekawan diantara elemen tersebut dikatakan membentuk kelas sekawan dari
grup.

B. Repr esentasi Gr up
Representasi grup adalah realisasi spesifik dari perkalian elemen grup oleh matrik. Representasi merupakan
pemetaan dari grup abstrak { } G g pada sekumpulan matrik
( ) { } T g
( )
T
g g (2)
yang memenuhi kaidah perkalian yang sama dengan grup { } G g misalnya
( ) ( ) ( )
1 2 3 1 2 3
g g g g g g (3)
Representasi ( ) g berdimensi m n + dikatakan sebagai representasi tereduksi jika dapat dibentuk
menjadi
( )
( ) ( )
( )
1
2
0
g g
g
g
_


,
(4)
dengan dimensi ( )
1
g m m , ( )
2
g n n , ( ) g m n . Perkalian 2 representasi tersebut diperoleh
( ) ( )
( ) ( )
( )
( ) ( )
( )
( )
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( )
1 1
2 2
1 1 1 2
2 2
1
2
0 0
0
0
g g g g
g g
g g
g g g g g g
gg
g g
gg C gg
gg


_ _



, ,
_ +




,
_




,
(5)
maka
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
1 1 1
2 2 2
g g gg
g g gg


(6)
Diperoleh bahwa ( )
1
g dan ( )
2
g adalah representasi dari grup G dengan dimensi [ ] m dan [ ] n .
Jika terdapat suatu matriks similaritas M sehingga matriks ( ) g dapat dibentuk menjadi matriks
diagonal

( )
( )
( )
( ) ( )
1
2
1 2
0
0
g
g
g
g g
_


,

(7)
maka dikatakan representasi tereduksi penuh.

Selanjutnya jika tidak ada matriks similaritas M yang dapat mendiagonalisasi matriks ( ) g secara
serempak untuk seluruh g G , maka representasi tersebut dikatakan sebagai representasi tak tereduksi.
Jumlah representasi tak tereduksi pada grup berhingga sama dengan jumlah kelas pada grup tersebut [6].
Setiap representasi ( ) { } T g dari grup berhingga { } G g adalah ekuivalen terhadap representasi
matriks uniter, sehingga dipenuhi ( ) ( )

g g I . Untuk itu didefinisikan matriks hermitian


( ) ( )

g
i i
i
H T g T g

(8)

Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 61
Selanjutnya setiap matriks hermitian dapat didiagonalisasi menggunakan matriks uniter
1
d
U HU H

(9)
dengan
d
H adalah matriks diagonal dengan elemen nilai eigen riel dari H . Menggunakan persamaan (8)
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
1
1 1

g
d i i
i
g
i i
i
g
i i
i
H U T g T g U
U T g UU T g U
T g T g

(10)
untuk elemen ke-k,
( ) ( ) ( )
( ) ( )
( )

2
g n
d kj i jk i
kk
i j
g n
kj i jk i
i j
g n
kj i
i j
H T g T g
T g T g
T g

(11)
diperoleh 0
k
d > . Untuk 0
k
d hanya diberikan jika determinan semua representasi matrik nol dan
keadaan ini kita tolak. Berlaku pula
( )
( )
( )
p p
d k
kk
H d (12)
untuk sembarang p baik positif maupun negatif.
Selanjutnya diambil matriks

1 2
d
V UH (13)
untuk transformasi similaritas
( ) ( )
( )
( )
1
1 2 1 1 2
1 2 1 2
i i
d i d
d i d
T g V T g V
UH U T g UH
H T g H


(14)
Maka diperoleh

( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
1 2 1 2 1 2 1 2
1 2 1 2
1 2 1 2
1 2 1 2
1 2 1 2
1 2 1 2
i i d i d d i d
d i d i d
g
d i j j i d
j
g
d i j i j d
j
g
d l l d
l
d d
T g T g H T g H H T g H
H T g H T g H
H T g T g T g T g H
H T g g T g g H
H T g T g H
H HH
I








_


,

(15)

Representasi yang lain adalah representasi reguler. Representasi reguler dari grup berhingga dapat
disusun dengan elemen representasi dari grup { }
1 2 3
, , ,...
N
G g g g g dipenuhi :
( )
1, untuk
0, untuk
s l k reg
s
kl
s l k
g g g
g
g g g


'

(16)
dengan ( )
reg
s
g berdimensi N N dimana setiap baris pada matriks memiliki satu elemen yang tidak nol
yaitu bernilai 1.
Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013

62 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
C. Kar akter Gr up

Karakter dari elemen g dengan representasi ( ) g didefinisikan sebagai penjumlahan elemen diagonal
dari representasi
( ) ( ) ( )
kk
g Tr g g

(17)
dari definisi tersebut jelas bahwa untuk dua elemen sekawan , g g

1
i i
g g gg

(18)
dipenuhi
( ) ( ) ( ) ( )
1
i i
g g g g

(19)
maka
( ) ( )
( ) ( ) ( )
{ }
( ) ( ) ( )
{ }
( )
( )
1
1
i i
i i
g Tr g
Tr g g g
Tr g g g
Tr g
g

(20)
dari sifat ini terlihat bahwa dua elemen sekawan/elemen dalam satu kelas memiliki karakter yang sama.
Karena karakter adalah penjumlahan elemen diagonal dari matriks representasi, maka karakter dari elemen
identitas grup adalah dimensi dari representasi itu sendiri.
( ) e n

(21)
dengan n

adalah dimensi dari representasi. Untuk elemen invers dari


i
g yaitu
1
i
g

memenuhi
( ) ( ) ( )
( ) ( )
1
1
1 1
gg e
g g e
g g



(22)
maka karakter dari elemen invers

( ) ( )
( )
( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( )
1 1
1

T
g Tr g
Tr g
Tr g
Tr g
Tr g
Tr g
g

(23)
Selain memenuhi sifat-sifat di atas, karakter juga harus memenuhi teorema ortogonalitas karakter sebagai
berikut [6]
( ) ( )
i
C i i
i
N C C N

1
]

(24)

( ) ( )
i
i j
C
N
C C
N



1

]

(25)
dengan
i
C kelas ke-i,
j
C kelas ke-j,
i
C
N jumlah elemen kelas ke-i, dan N jumlah elemen grup.
Representasi reguler dari grup berhingga ditunjukkan oleh persamaan (16), sehingga karakter dari
representasi reguler dapat dituliskan
( )
0, untuk
, untuk
reg
g e
g
N g e

'

(26)
Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 63
Selanjutnya representasi reguler dapat dinyatakan dalam representasi tak tereduksi dan karakter untuk
masing-masing kelas ke-i adalah
( ) ( )
reg
i i
C a C

(27)
dengan koefisien a

akan dihitung kemudian. Dalam hal khusus kelas


1
C adalah elemen identitas sehingga

( ) ( )
( ) ( )
1
1
reg reg
C e N
C e n





(28)
dengan demikian persamaan (27) menjadi
N a n

(29)
Dengan menggunakan hubungan ortogonalitas (24) maka persamaan (27) dapat dievaluasi menjadi
( ) ( )
( ) ( )
ortogonalitas
i
i
i
i
reg
C i i
C
C i i
C
v
N C C
a N C C
a N
a N

1
]
1
]

1 4 4 4 42 4 4 4 43
(30)
Diperoleh
( ) ( )
1
i
i
reg
C i i
C
a N C C
N



1
]


(31)
dengan menggunakan persamaan (16) maka hanya 1 i yang eksis
( ) ( )
( ) ( ) ( )
( )
1
1 1
1
1
1
1
1
reg
C
a N C C
N
N C
N
C
n

1
]
1
]


(32)
dengan demikian persamaan (29) menjadi
2
N n

(33)
persamaan di atas menunjukkan hubungan antara jumlah elemen grup dengan dimensi dari representasi.


3. GRUP PERMUTASI GENAP A
4


Sebelum menjelaskan tentang Grup Permutasi Genap
4
A , akan dijelaskan terlebih dahulu tentang grup
permutasi dari 4 obyek secara keseluruhan. Grup permutasi dari 4 obyek dapat digambarkan sebagai 4 objek
, , dan yang dapat menempati posisi 1, 2, 3 dan 4 , dan dapat dituliskan
( ) ( ) ( ) ( ) 1 2 3 4 (34)
yang berarti bahwa obyek menempati posisi 1, obyek menempati posisi 2, obyek menempati posisi 3,
dan obyek menempati posisi 4. Keempat obyek tersebut dapat memiliki sejumlah 24 kemungkinan
posisi/keadaan, berikut diberikan contoh 3 keadaan tersebut yaitu:

Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013

64 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
( ) ( ) ( ) ( )
2
1 3 4 2
( ) ( ) ( ) ( )
8
2 1 4 3
( ) ( ) ( ) ( )
12
3 1 2 4

Keempat obyek tersebut juga dapat dipindah-pindah dengan 24 kemungkinan pemindahan (permutasi),
yaitu 12 kemungkinan pemindahan genap atau disebut permutasi genap dan 12 kemungkinan pemindahan ganjil
atau disebut permutasi ganjil. Berikut diberikan 3 contoh pemindahan tersebut yaitu
2
1 2 3 4
1 3 4 2
A
_


,

8
1 2 3 4
2 3 1 4
A
_


,

16
1 2 3 4
3 4 1 2
A
_


,


Empat bilangan berurutan pertama ( ) 1 2 3 4 pada baris pertama menunjukkan posisi mula-mula
keempat obyek. Sedangkan empat bilangan dibawahnya ( ) 2 3 1 4 menyatakan posisi baru atau posisi
pertukaran obyek dari posisi sebelumnya yakni angka diatasnya pada kolom yang sama, sehingga

8
1 2 3 4
2 3 1 4
A
_




,
(35)

menyatakan bahwa obyek pada posisi pertama dipindah ke posisi kedua, obyek pada posisi kedua dipindah ke
posisi ketiga, obyek pada posisi ketiga dipindah ke posisi pertama, sedangkan obyek pada posisi keempat tetap.
Sehingga jika permutasi
8
A dioperasikan terhadap keadaan
2
diperoleh

( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
8 2
8
1 2 3 4
1 3 4 2
2 3 1 4
2 1 4 3
A

(36)
Untuk dua permutasi berurutan yang dioperasikan pada satu keadaan diperoleh

( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
2 8 2
12
1 2 3 4
2 1 4 3
1 3 4 2
3 1 2 4
A A

(37)
Di sisi lain dapat dihitung
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
16 2
12
1 2 3 4
1 3 4 2
3 4 1 2
3 1 2 4
A

(38)
dengan demikian diperoleh

2 8 2 16 2
A A A (39)
atau

2 8 16
A A A (40)

Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 65
dan dapat diperlihatkan dengan mudah untuk dua operasi permutasi berurutan

2 8
16
1 2 3 4 1 2 3 4
1 3 4 2 2 3 1 4
1 2 3 4
3 4 1 2
A A
A
_ _


, ,
_

(41)

sesuai dengan persamaan (40). Harus diperhatikan bahwa operasi permutasi selalu dimulai dari kanan, sehingga
operasi di atas menyatakan bahwa obyek pada posisi 1 dipindah ke posisi 2, dilanjutkan posisi 2 dipindah ke
posisi 3; posisi 2 dipindah ke posisi 3, dilanjutkan posisi 3 dipindah ke posisi 4; posisi 3 dipindah ke posisi 1,
dilanjutkan posisi 1 tetap; dan terakhir posisi 4 dipindah ke posisi 4, dilanjutkan posisi 4 dipindah ke posisi 2.
Dengan demikian dari posisi mula-mula ( ) 1 2 3 4 menjadi posisi akhir ( ) 3 4 1 2 seperti terlihat pada
persamaan (41).

A. Elemen dan Per kalian Elemen Gr up A
4


Grup
4
A merupakan grup permutasi dari 4 obyek dengan sejumlah genap pemindahan (permutasi
genap). Elemen dari grup
4
A adalah sebagai berikut

0 8 16
2 10 18
4 12 20
6 14 22
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 2 3 4 2 3 1 4 3 4 1 2
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 3 4 2 2 4 3 1 4 1 3 2
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 4 2 3 3 1 2 4 4 2 1 3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
2 1 4 3 3 2 4 1
A A A
A A A
A A A
A A A
_ _ _


, , ,
_ _ _


, , ,
_ _ _


, , ,
_ _


, ,
4
4 3 2 1
_

,


Dengan melakukan perhitungan seperti pada persamaan (41), dapat disusun tabel perkalian dari seluruh
elemen grup
4
A sebagaimana Tabel .


Tabel 1
Perkalian elemen grup
4
A

Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013

66 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
B. Elemen Kelas Gr up A
4

Selanjutnya dengan menggunakan persamaan (1) dan memanfaatkan tabel I dapat dengan mudah
dibuktikan bahwa grup
4
A memiliki empat kelas dengan elemen masing-masing kelas sebagai berikut
1 0
2 2 10 12 20
3 4 8 14 18
4 6 16 22
, , ,
, , ,
, ,
C A
C A A A A
C A A A A
C A A A

(42)

C. Repr esentasi dan Tabel Kar akter Gr up A
4


Grup merupakan grup berhingga, karena grup memiliki 4 kelas maka grup memiliki 4 representasi tak
tereduksi. Sesuai dengan persamaan (33), dimensi dari representasi memenuhi
2
12 n N

(43)
dipenuhi oleh
1 2 3
1 n n n dan
4
3 n . Dengan demikian grup
4
A memiliki tiga representasi satu
dimensi 1, 1', dan 1'', serta satu representasi tiga dimensi. Bentuk ini yang menjadi alasan mengapa grup
4
A
diharapkan cocok untuk mereproduksi pola bauran tri-bimaksimal untuk neutrino tiga generasi.


Untuk menyusun tabel karakter bagi grup dapat dilakukan langkah-langkah berikut ini :

1) Pada grup berhingga, jumlah representasi tak tereduksi sama dengan jumlah kelas grup
4
ir r
N (44)

2) Telah dibuktikan di persamaan (43), dimensi dari representasi adalah 1,1',1'', dan 3.
3) Karakter dari elemen identitas sama dengan dimensi dari representasi
( )
0
A n

(45)
maka
( ) ( )
( ) ( )
1 1
0 0
1 3
0 0
1 1
1 3
A A
A A



(46)

(a) Karakter elemen sekawan/elemen satu kelas adalah sama
( ) ( ) g g dengan
1
i i
g g gg

(47)
(b) Karakter elemen invers
( ) ( )
1
g g

(48)
Kelas
4
C memiliki elemen beserta inversnya, karena karakter dalam satu kelas harus sama maka :
( ) ( ) ( )
1
4 4 4
riel C C C

(49)
dapat disimbolkan
( ) ( )
( ) ( )
1 1
4 4
1 3
4 4
C p C r
C g C s



(50)

4) Elemen kelas
3
C merupakan invers dari elemen kelas
2
C , maka :
( ) ( ) ( )
1
3 3 2
C C C

(51)
dapat disimbolkan
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
1 1
2 3
1 1
2 3
1 1
2 3
3 3
2 3
C C
C C
C C
C C







(52)
Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 67
Dari keempat langkah di atas dapat dibentuk tabel karakter sebagaimana tabel 2.


Selanjutnya dengan menerapkan syarat ortogonalitas (25) dan (26)
( ) ( )
( ) ( )
i
i
C i i
i
i j ij
C
N C C N
N
C C
N

1
]
1

]

(53)
Untuk grup
4
A ,
1 2 3 4
, , ,
i
C C C C C dan
1 1 1 3
, , ,



.
Baris pertama merupakan representasi [1] dan dapat ditentukan terlebih dahulu nilai ,

dan p yang
memenuhi syarat ortogonalitas yaitu 1 p

, sehingga dapat dibuktikan untuk 1 :


( )
2
1
12
i
C i
i
N C

(54)
Sesuai dengan syarat ortogonalitas pertama.
Untuk seluruh representasi [ ] 1 , karakter harus tetap memenuhi kaidah perkalian seperti pada grup. Dari
tabel perkalian grup
4
A diperoleh bahwa
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
2 4 2 2 4 2
3 4 3 3 4 3
C C C C C C
q
r
C C C C C C
q
r








(55)
Maka diperoleh 1 q r .

Selanjutnya menerapkan syarat ortogonalitas untuk 1 i dan 4 j :
( ) ( )
1
1 4 14
1
C
N
C C
N
s

1
]

(56)
Untuk 3
( )
2
3
2
8 0
0
i
C i
i
N C N

(57)
Untuk 1 dan 1
( ) ( )
1 1
11
1
i
C i i
i
N C C N

1
]
+

(58)



Tabel 2
Karakter grup
4
A

Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013

68 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
dimisalkan a ib + , maka
( - ) ( ) -1
1
-
2
a ib a ib
a
+ +

(59)
sehingga
1 1
2 2
ib ib

+ (60)

Untuk 1
( )
2
1
2
1
1 1
1
2 2
1
3
2
i
C i
i
N C N
ib ib
b

_ _
+

, ,
t

(61)
sehingga
1 1
3
2 2
1 1
3
2 2
i
i

t
m
(62)
Untuk 1 dan 1
( ) ( )
1 1
11
1
i
C i i
i
N C C N

1
]
+

(63)

dimisalkan
c id + (64)
maka
( ) 1
1
2
c id
c


(65)
sehingga
1
2
1
2
id
id

+

(66)
Untuk 1 dan 1
( ) ( )
1 1
1 1
1
i
C i i
i
N C C N




1
]
+

(67)
Dengan memilih
1 1
3
2 2
1 1
3
2 2
i
i

+

(68)
substitusi persamaan (68) ke persamaan (67) diperoleh
1
3
2
d (69)
Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 69

sehingga
1 1
3
2 2
1 1
3
2 2
i
i


+
(70)

Bentuk dan dapat dinyatakan dalam eksponensial menjadi
2
3
4
2
3
1 1
3
2 2
1 1
3
2 2
i e
i e

+

(71)
dengan
( )
2

. Sehingga diperoleh tabel karakter untuk grup permutasi genap


4
A sebagaimana tabel 3.



4. SIMPULAN

Grup
4
A merupakan grup permutasi dari 4 obyek dengan sejumlah genap pemindahan (permutasi
genap). Grup
4
A memiliki 12 elemen yang terbagi dalam 4 kelas konjugasi. Dengan demikian grup
4
A
memiliki tiga representasi satu dimensi 1,1', dan 1'', serta satu representasi tiga dimensi. Bentuk ini yang
menjadi alasan mengapa grup
4
A diharapkan kompatibel untuk mereproduksi pola bauran tri-bimaksimal untuk
neutrino tiga generasi. Karakteristik grup
4
A secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 3.


5. DAFTAR ACUAN

[1] Y. Fukuda dkk., Phys.Rev.Lett. 81, 1158(1998); M.H. Ahn dkk.,Phys.Rev.Lett. 90, 041801(2003);
Q.R. Ahmad dkk., Phys.Rev.Lett. 89, 011301; 011302(2002); K.Eguchi dkk., Phys.Rev.Lett. 90,
021802(2003).
[2] T. Schwetz, M. Tortola and J. W. F. Valle, arXiv:1103.0734 [hep-ph]; T. Schwetz, M. A. Tortola and
J. W. F. Valle, New J. Phys. 10, 113011 (2008) [arXiv:0808.2016 [hep-ph]]; M. Maltoni and T.
Schwetz, arXiv:0812.3161 [hep-ph].
[3] G. L. Fogli, E. Lisi, A. Marrone, A. Palazzo and A. M. Rotunno, Phys. Rev. Lett. 101 (2008) 141801
[arXiv:0806.2649 [hep-ph]]; G. L. Fogli, E. Lisi, A. Marrone, A. Palazzo and A. M. Rotunno,
arXiv:0809.2936 [hep-ph].
[4] G. Altarelli and F. Feruglio, New J. Phys. 6 (2004) 106 [arXiv:hep-ph/0405048].
[5] P. F Harrison, D. H. Perkins and W. G. Scott, Phys. Lett. B 530 (2002) 167 [arXiv:hep-ph/0202074];
P. F. Harrison and W. G. Scott, Phys. Lett. B 535 (2002) 163 [arXiv:hep-ph/0203209.
[6] Stancu, Fl. (1996), Gr oup Theor y in Subnuclear Physics, Clarendon Press, Oxford.
Tabel 3
Karakter Grup
4
A

Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013

70 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
[7] Balachandran A. P and Trahern C. G.( 1986), Lectur es on Gr oup Theor y For Physicist, Bill
Academic Publishing.
[8] Purwanto. (2004), Teor i Gr up dalam Fisika, Laoratorium Fisika dan Filsafat Alam Jurusan Fisika
FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
















Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 71
ALGORITMA DEUTSCH-JOZSA
UNTUK SISTEM KUANTUM DUA DAN TIGA QUBIT

Yohanes Dwi Saputr a
1
) dan Agus Pur wanto
2
)

Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA)
Jurusan Fisika FMIPA-ITS, Kampus ITS Keputih-Sukolilo, Surabaya 60111
e-mail: yohanes11@mhs.physics.its.ac.id
1)
, purwanto@physics.its.ac.id
2)


Abstr ak
Komputer kuantum menjanjikan penyelesaian banyak persoalan dengan lebih efisien
daripada komputer klasik. Beberapa algoritma kuantum yang beroperasi pada sistem
kuantum dua keadaan telah diciptakan untuk memenuhinya. Salah satu satu algoritma
yang telah dibuat adalah algoritma Deutsch-Jozsa. Algoritma Deutsch-Jozsa
diformulasikan untuk menentukan suatu fungsi tertentu sebagai fungsi konstan atau
fungsi seimbang (fungsi yang outputnya bernilai 0 untuk setengah jumlah input dan
bernilai 1 untuk setengah jumlah input sisanya). Algoritma Deutsch-Jozsa dapat
menentukan jenis fungsi tersebut dengan lebih efisien daripada menentukannya secara
klasik. Pada penelitian ini akan dikaji algoritma Deutsch-Jozsa untuk sistem dua dan tiga
qubit.
Kata kunci: algor itma Deutsch-Jozsa, komputer kuantum, qubit

1. PENDAHULUAN
Ada persoalan-persoalan yang belum bisa diselesaikan secara efisien oleh komputer klasik (Neilsen dkk,
2000). Pada tahun 1985, Deutsch merancang algoritma kuantum pertama yaitu algoritma Deutsch pada sistem
dua qubit untuk menentukan suatu fungsi tertentu sebagai fungsi konstan atau fungsi seimbang (Deutsch dkk,
85). Algoritma ini dapat digeneralisasi pada sistem yang terdiri dari lebih dari dua qubit menjadi algoritma
Deutsch-Jozsa untuk menentukan sebuah fungsi termasuk tetap (constant) atau seimbang (balanced) (Deutsch
dkk, 85). Pada penelitian ini akan dikaji lebih mendalam tentang aspek-aspek algoritma Deutsch-Jozsa untuk 2
dan 3 qubit.

2. QUBIT
Pada komputer klasik yang menerapkan qubit klasik, dikenal dua keadaan yaitu 0 atau 1. Pada komputer
kuantum terdapat qubit (quantum bit) yang memiliki keadaan
1
0
0
_


,
(1)
atau
0
1
1
_


,
(2)

atau superposisi (kombinasi linier) dari keduanya
0 1 . +
(3)

Koefisien dan merupakan bilangan kompleks yang memenuhi ortonormalitas
2 2
1 +
(4)

sedangkan |0> dan |1> disebut vektor basis ortonormal (basis komputasional) dari vektor keadaan |> (Neilsen
dkk, 2000).




Yohanes Dwi Saputra, dkk. / Algoritma Deutsch-Jozsa untuk Sistem Kuantum . SFA 2013

72 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
3. ALGORITMA DEUTSCH
Diberikan sebuah fungsi kotak hitam yang memetakan qubit tunggal ke qubit tunggal f: {0,1}{0,1}.
Permasalahan yang muncul adalah fungsi tersebut termasuk fungsi konstan (f(0) = f(1)) atau fungsi
seimbang/balance (f(0) f(1)). Penyelesaian secara klasik memerlukan dua langkah:

langkah ke-1: x = 0 f(0)
langkah ke-1: x = 1 f(1)

dan selanjutnya diamati untuk f(0) dan f(1). Penyelesaian secara kuantum hanya memerlukan satu langkah
dengan menggunakan algoritma Deutsch dengan rangkaian sesuai Gambar 1. Qubit |x> = |0> sedangkan |1>
dinamakan qubit tambahan. Pada qubit tunggal ada empat jenis fungsi kotak hitam U
f-c-N
sesuai Pers. (5) dan
diperinci pada Tabel 1. Setiap operator dari fungsi ini merupakan operator satuan I atau
z
sesuai Pers. (5).




Gambar 1. Skema algoritma Deutsch.
0
1
1
0
1
1
0
1
ko
k f c N
k
k f c N
so
s f c N z
s
s f c N z
f U I
f U I
f x U
f x U









(5)


Tabel 1.
Jenis fungsi yang mungkin pada algoritma Deutsch qubit tunggal
x
Konstan Seimbang
f
k0
= 0 f
k0
= 1
0 s
f x
1 s
f x
0 0 1 0 1
1 0 1 1 0


Vektor keadaan akhir |
3
> diperoleh dengan perhitungan seperti berikut ini.
0
0 1 01 (6)
( )
( )
1 0
1
00 01 10 11
2
H H
+
(7)
( )
( )
( )
( )
( )
2 1
0 1 1
1 0 1 1 0 1
2
f n N
f f
U

1
+
]
(8)
Yohanes Dwi Saputra, dkk. / Algoritma Deutsch-Jozsa untuk Sistem Kuantum . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 73
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
3 2
0 1
0 1
1 1
0 1
0
2 2
1 1
0 1
1
2 2
f f
f f
H I
1
+

]

]
+
(9)

Dengan meninjau setiap fungsi dari Tabel 1 maka dihasilkan

3
0 1
fungsi konstan
2
0 1
fungsi seimbang.
2
0
1

'

(10)
Jadi pengamatan qubit masukan akan menghasilkan |0> untuk fungsi konstan dan |1> untuk fungsi seimbang.

4. ALGORITMA DEUTSCH-JOZSA 2 QUBIT
Algoritma Deutsch dapat diperluas untuk menyelesaikan permasalahan jenis fungsi kotam hitam U
f-c-N

yang memetakan n qubit ke qubit tunggal f: S
n
{0,1}
n
{0,1} dengan syarat bahwa fungsi tersebut termasuk
fungsi konstan atau fungsi seimbang sesuai diagram pada Gambar 2. Penentuan jenis fungsi secara klasik
membutuhkan 2
n-1
+1 langkah sementara penyelesaian dengan algoritma Deutsch-Jozsa hanya membutuhkan
satu langkah. Pada n qubit, jumlah fungsi konstan ada dua jenis sedangkan jumlah fungsi seimbang ada
1
2 2
n n
C


jenis.

Gambar 2. Syarat fungsi konstan dan fungsi seimbang.

Ditinjau sebuah fungsi kotak hitam yang memetakan 2 qubit ke qubit tunggal f: S
n
{00,01,10,11}{0,1}
dengan syarat bahwa fungsi ini termasuk fungsi konstan atau fungsi seimbang. Secara klasik, misalkan telah
didapatkan f(00) = f(01) = 0 maka masih diperlukan f(10) atau f(11) untuk memastikan bahwa fungsi ini konstan
atau seimbang. Jadi diperlukan tiga langkah untuk menentukan jenis fungsinya.
Secara kuantum, jenis fungsi dapat ditentukan dengan satu langkah lewat algoritma Deutsch-Jozsa 2
qubit sesuai Gambar 3. Qubit |x
1
x
0
> = |00> merupakan qubit masukan sedangkan |1> sebagai qubit tambahan.
Pada algoritma 2 qubit ini terdapat delapan jenis fungsi kotak hitam U
f-c-N
sesuai Pers. (11) dan diperinci pada
Tabel 2. Dapat diamati bahwa operator U
f-c-N
untuk kedelapan fungsi dapat dinyatakan sebagai perkalian
langsung (direct product) operator satuan I dan
z
yang berarti belum ada keadaan terbelit (entanglement).
0
1
1
0 1
1
1 0
2
2 1 0
3
3 1
4
4 0
_________
5
5 1 0
0
1
ko
k f c N
k
k f c N
so
s f c N z
s
s f c N z
s
s f c N z z
s
s f c N z
s
s f c N z
s
s f c N z z
f U I I
f U I I
f x U I
f x U I
f x x U
f x U I
f x U I
f x x U


















(11)


Yohanes Dwi Saputra, dkk. / Algoritma Deutsch-Jozsa untuk Sistem Kuantum . SFA 2013

74 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Tabel 2. Jenis fungsi yang mungkin pada algoritma Deutsch-Jozsa 2 qubit
x x
1
x
0

Konstan Seimbang
f
k0
f
k1
f
s0
f
s1
f
s2
f
s3
f
s4
f
s05

0 00 0 1 0 0 0 1 1 1
1 01 0 1 0 1 1 1 0 0
2 10 0 1 1 0 1 0 1 0
3 11 0 1 1 1 0 0 0 1




Gambar 3. Skema algoritma Deutsch-Jozsa 2 qubit.


Dari Gambar 3 diperoleh perhitungan sebagai berikut.

0
001 (12)
( )
( )
1 0
0 1 1
00 01 10 11
2 2
H H H

+ + +
(13)


( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
2 1
00 01 10 11
0 1
1
1 00 1 01 1 10 1 11
2 2
f n N
f f f f
U

1
+ + +
]
(14)

( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
3 2
00 01 10 11
00 01 10 11
00 01 10 11
00 01 10 11
1 1 1 1
0 1
00
4 2
1 1 1 1
0 1
01
4 2
1 1 1 1
0 1
10
4 2
1 1 1 1
0 1
11
4 2
f f f f
f f f f
f f f f
f f f f
H I
1
+ + +

1
+

]
+
1
+

]
+
1
+

]
+
(15)






Yohanes Dwi Saputra, dkk. / Algoritma Deutsch-Jozsa untuk Sistem Kuantum . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 75
Vektor keadaan yang terukur dari setiap fungsi yaitu



k0
k1
s0
s1
3
2
s3
s4
s5
0 1
untuk f
2
0 1
untuk f
2
0 1
untuk f
2
0 1
untuk f
2
(16)
0 1
untuk f
2
0 1
untuk f
2
0 1
untuk f
2
0 1
un
00
00
10
01
11
10
01
t
2
11 uk f
s

'



Jadi hasil pengukuran qubit masukan menunjukkan |00> untuk fungsi seimbang dan hasil selain |00>
menunjukkan fungsi seimbang.


5. ALGORITMA DEUTSCH-JOZSA 3 QUBIT

Diketahui sebuah fungsi kotak hitam yang memetakan 3 qubit ke qubit tunggal f:
S
n
{000,001,010,011,100,101,110,111} {0,1} dengan syarat bahwa fungsi ini termasuk fungsi konstan atau
fungsi seimbang. Secara klasik diperlukan lima langkah untuk menentukan jenis fungsinya.

Jenis fungsi dapat ditentukan hanya dengan satu langkah menggunakan algoritma Deutsch-Jozsa 3 qubit
sesuai Gambar 4. Qubit |x
2
x
1
x
0
> = |000> merupakan qubit masukan sedangkan |1> adalah qubit tambahan.
Terdapat 70 jenis fungsi pada algoritma 3 qubit ini yang tertera pada Pers. (17) dan diperinci pada Tabel 3. Pers.
(17) menunjukkan bahwa operator
4 9
sampai
s s
f c N f c N
U U

tidak bisa dinyatakan sebagai perkalian langsung
dari operator satuan I dan
z

(terjadi keadaan terbelit yang hanya muncul pada sistem kuantum).
Yohanes Dwi Saputra, dkk. / Algoritma Deutsch-Jozsa untuk Sistem Kuantum . SFA 2013

76 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

0
0
k
f
ko
f c N
U I I I


0 2 s
f x
so
f c N z
U I I


1 2 1 s
f x x
1 s
f c N z z
U I


2 2 1 0 s
f x x x
2 s
f c N z z z
U


3 2 1 0 s
f x x x

( )
3 s
f c N z z
U I


4 2 1 2 0 s
f x x x x

( )
4 s
f c N z z
U I

1
]

5 2 1 2 1 0 s
f x x x x x

( )
5 s
f c N z z
U I

1
]

6 2 1 1 0 2 s
f x x x x x

( )
6 s
f c N z z
U I I


7 2 1 1 0 2 1 s
f x x x x x x

( ) ( ) ( )
7 s
f c N z z
U I I


8 2 1 1 0 0 2 s
f x x x x x x

( )
8 s
f c N z z
U I I


9 2 1 1 0 0 2 2 1 s
f x x x x x x x x

( ) ( ) ( )
9 s
f c N z z
U I I


(17)

Tabel 3. Jenis fungsi yang mungkin pada algoritma Deutsch-Jozsa 3 qubit
x x
2
x
1
x
0

Konstan Seimbang
f
k0
f
k1
f
s0
f
s1
f
s2
f
s3
f
s4
f
s5
f
s6
f
s7
f
s8
f
s9

0 000 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
1 001 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0
2 010 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1
3 011 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 1 0
4 100 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1
5 101 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0
6 110 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1
7 111 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1
Banyak Fungsi 1 1 6 6 2 6 12 6 12 12 2 6



Yohanes Dwi Saputra, dkk. / Algoritma Deutsch-Jozsa untuk Sistem Kuantum . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 77

Gambar 4. Skema algoritma Deutsch-Jozsa 3 qubit.


Dari Gambar 4 diperoleh perhitungan seperti berikut ini.

0
0001 (18)
( )
( )
1 0
3/ 2
0 1 1
000 001 010 011 100 101 110 111
2 2
H H H

+ + + + + + +
(19)
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
2 1
000 001
3/ 2
010 011
3/ 2
100 101
3/ 2
110 111
3/ 2
0 1 1
1 000 1 001
2 2
0 1 1
1 010 1 011
2 2
0 1 1
1 100 1 101
2 2
0 1 1
1 110 1 111
2 2
f n N
f f
f f
f f
f f
U

1
+
]

1
+ +
]

1
+ +
]

1
+ +
]
(20)


Vektor keadaan yang terukur dari setiap fungsi yaitu

k0
3
k1 k2 k9
0 1
untuk f
2
(21)
0 1
selain untuk f , f , , f
2
000
000

'

L


Dapat diamati bahwa hasil pengukuran qubit masukan menunjukkan |000> untuk fungsi seimbang dan hasil
selain |000> menunjukkan fungsi seimbang.


6. SIMPULAN
Kesimpulan yang didapat adalah pengukuran qubit masukan pada algoritma Deutsch-Jozsa yang
menunjukkan |00...0> maka fungsinya adalah konstan sedangkan pengukuran selain hasil ini menunjukkan
bahwa fungsinya seimbang. Pada kasus qubit tunggal dan 2 qubit belum terlihat adanya keadaan terbelit
sedangkan pada 3 qubit sudah muncul.




Nofa RS, dkk./Karakteristik Grup Permutasi . SFA 2013
78 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
7. DAFTAR ACUAN
[1] M.A.Neilsen and I.L.Chuang. (2000), Quantum Computation and Quantum Infor mation,
Cambridge University Press.
[2] D. Deutsch. (Jan 1985). Quantum theory, the Church-Turing principle and the universal quantum
computer. Proceedings of the Royal Society of London Series A, 400:97117.
[3] D. Deutsch and R. Jozsa. (Jan 1992). Rapid solution of problems by quantum computation.
Proceedings of the Royal Society of London Series A, 439:553558.

Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 79
PENGARUH PENAMBAHAN -Al
2
O
3
TERHADAP
HOMOGENITAS MATRIKS GEOPOLIMER

A. Indr a Wulan Sar i R, Abdul Har is, dan Subaer

Pusat Penelitian Geopolimer Lab. Fisika Material
Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Makassar
Jalan Daeng Tata Raya, Makassar, 90224
e-mail: jzubayir@yahoo.com


Abstr ak

Telah dilakukan penelitian tentang struktur mikro geopolimer dengan bahan adisi -
Al
2
O
3
. Bahan dasar yang digunakan adalah metakaolin yang diperoleh dari dehidroksilasi
mineral kaolin pada suhu 750
o
C selama 6 jam. Mineral -Al
2
O
3
yang digunakan sebagai
bahan adisi diperoleh dari mineral kaolin melalui prosedur ekstraksi yang dikembangkan
dalam penelitian ini. Studi ini bertujuan untuk mempelajari morfologi dan homogenitas
matriks permukaan geopolimer dengan atau tanpa bahan adisi -Al
2
O
3
. Sintesis komposit
geopolimer dilakukan melalui metode aktivasi larutan alkali mineral metakaolin. Mineral
-Al
2
O
3
ditambahkan ke dalam campuran pasta geopolimer, diaduk perlahan hingga
campuran bersifat homogen lalu dimasukkan ke dalam cetakan plastik polycarbonate,
diikuti dengan curing pada suhu 60
o
C selama 1 jam. Karakterisasi dengan X-Ray
diffraction (XRD) Rigaku MiniFlexII dilakukan dengan mempelajari fase bahan dasar
kaolin dan metakaolin, mineral -Al
2
O
3
yang diperoleh dari hasil ekstraksi, serta produk
geopolimer. Hasil karakterisasi dengan XRD memperlihatkan bahwa prosedur ekstraksi
mineral kaolin berhasil menghasilkan -Al
2
O
3
dengan persentase antara 7 12wt%.
Sampel geopolimer yang diproduksi dan berusia 28 hari selanjutnya dikarakterisasi
dengan menggunakan SEM-EDS. Hasil karakterisasi SEM menunjukkan bahwa sampel
geopolimer dengan bahan adisi -Al
2
O
3
memiliki struktur mikro permukaan (matriks)
yang lebih homogen dibandingkan geopolimer tanpa adisi -Al
2
O
3
. Hasil ini diharapkan
berkorelasi positif dengan sifat fisis dan mekanik geopolimer.

Kata kunci: Ekstraksi -Al
2
O
3
, Komposit Geopolimer, Mikrostruktur


1. PENDAHULUAN
Material geopolimer menjadi salah satu topik penelitian yang semakin intensif dikembangkan sebagai
material rekayasa untuk berbagai aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan geopolimer
memiliki potensi aplikasi yang sangat luas, baik dalam bentuk murni maupun dengan tambahan penguat
(reinforced). Salah satu material rekayasa yang dikembangkan dengan memanfaatkan geopolimer sebagai
prekursor adalah komposit geopolimer. Komposit sendiri merupakan material rekayasa yang banyak
dikembangkan karena mampu menggabungkan beberapa sifat material yang sangat berbeda karakteristiknya
menjadi sifat yang baru dan sesuai dengan yang dikehendaki. Namun demikian, sebagai material dasar
komposit, geopolimer juga ditemukan mudah pecah dan memiliki kekuatan tarik yang rendah [1]. Salah satu
upaya yang banyak diteliti untuk memperbaiki sifat mekanik komposit geopolimer adalah penambahan serat
pendek seperti polyvinyl alcohol (PVA), polypropylene (PP), serat basalt serta serat karbon. Kehadiran serat
sebagai agregat matriks komposit geopolimer berperan untuk mencegah keretakan serta menambah kekuatan
tarik matriks geopolimer [2]. Dias and Thaumaturgo (2005) melaporkan peningkatan kekuatan tarik beton
geopolimer yang diperkuat dengan serat basalt. Zhao, et. al. juga menemukan bahwa penambahan 10 vol% serat
pendek Nextel 610 mampu meningkatkan kuat tarik dan kekerasan matriks geopolimer [1]. Hasil yang sama
dilaporkan secara terpisah oleh Lin (2009) tetapi dengan menggunakan serat karbon dan jaring stainless steel
sebagai agregat. Hasil-hasil penelitian ini menunjukkan bahwa optimalisasi matriks akan meningkatkan sifat
mekanik komposit geopolimer. Penelitian ini memanfaatkan material -Al
2
O
3
sebagai adisi matriks geopolimer.
Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

80 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Hosseini, et. al. menunjukkan bahwa mineral -Alumina (-Al
2
O
3
)

dapat
disintesis dari mineral kaolin (Al
2
Si
2
O
5
(OH)
4
). -Alumina

diperoleh dengan mengekstraksi alumina dari
metakaolin menggunakan H
2
SO
4
serta ethanol sebagai agen aluminium sulfat [3]. Merujuk hasil penelitian di
atas, penelitian ini diarahkan untuk melihat pengaruh penambahan -Al
2
O
3
terhadap homogenitas matriks
geopolimer.

2. DASAR TEORI
a. Geopolimer
Geopolimer pertama kali diperkenalkan oleh Davidovits, J., diawal tahun 1980-an [4]. Geopolimer
termasuk Inorganic polymer yang didefinisikan sebagai polimer yang atom-atom utamanya tidak tersusun atas
rantai karbon dan terhubung antara yang satu dengan yang lainnya melalui ikatan kovalen. Geopolimerisasi
melibatkan reaksi kimia berbagai oksida aluminasilikat (Al
3+
dalam koordinasi IV) dengan larutan silikat pada
kondisi alkali tinggi, dan menghasilkan material polimerik dengan ikatan Si-O-Al-Si [4, 5]. Material yang
dihasilkan memiliki struktur amorf dengan jaringan polimer tiga-dimensi. Material baru ini digolongkan sebagai
keluarga poly(sialate)(PS) yang terdiri atas jaringan tetrahedral SiO
4
dan AlO
4
dengan membagi rata semua
atom oksigen serta berasosiasi dengan ion Na
+
atau K
+
. Model polimerik geopolimer serupa dengan formasi
pembentukan zeolite. Rumus empiris dari poly(sialate) dinyatakan sebagai berikut [4].

M
n
[(-SiO
2
)
z
-AlO
2
]
n
. wH
2
O (1)

M
n
adalah kation (elemen alkali), n derajat polikondensasi, w 3, dan z = 1, 2 atau 3.

Menurut Davidovits, J., (1991) [4] geopolimer terdiri atas poly(sialate) dasar dengan struktur jaringan
seperti ditunjukkan pada gambar 1 berikut. Kristalin poly(sialate) dapat diperoleh secara hidrothermal,
sedangkan pengerasan (setting) pada temperatur tinggi akan menghasilkan sistem amorf atau gelas yang derajat
ketidakteraturan atom-atom penyusunnya dapat dipelajari dengan X-ray diffraction (XRD)
Struktur kaolin dibentuk oleh lapisan-lapisan berulang dan diikat oleh gaya elektrostatik dan membentuk
struktur tiga dimensi (3D). Lembaran tetrahedral dibentuk oleh ion Si
4+
yang berkoordinasi dengan anion O
2-

dan lembaran oktahedral dibentuk oleh kation Al
3+
yang berkoordinasi dengan anion OH
-.
Kedua lembaran
dihubungkan oleh oksigen yang berasal dari lembaran tetrahedral. Metakaolin merupakan produk dehidroksilasi
dari kaolin. Proses dehidroksilasi kebanyakan kaolin berlangsung pada temperatur 500

C dan diikuti oleh


kehilangan berat sekitar 14%. Reaksi eksotermal dehidroksilasi kaolin dinyatakan menurut persamaan,

Al
2
Si
2
O
5
(OH)
4
Al
2
Si
2
O
5
(OH)
x
O
2-x
+ (2-x/2) H
2
O (2)

Dengan nilai x sekitar 10% dari residu grup hidroksil di dalam metakaolin. Reaktivitas metakaolin sangat
bergantung pada parameter kalsinasi seperti temperatur, waktu, dan jenis klin yang digunakan. Temperatur
kalsinasi yang ideal terletak antara 700

C and 800

C dengan waktu kalsinasi sekitar 6 jam. Kalsinasi kaolin di


bawah 700

C serta proses kalsinasi yang cepat dengan rotary kiln akan menghasilkan metakaolin yang
kekurangan Al koordinasi IV-V dan sulit bereaksi dengan sodium atau potasium silikat [6].

b. Alumina
Alumina (Al
2
O
3
) merupakan salah satu mineral utama dunia industri dan teknologi, khususnya yang
berkaitan dengan sintesis keramik dan komposit. Terdapat dua modifikasi fase kristalin Al
2
O
3
yakni -Al
2
O
3

dan -Al
2
O
3
. Fase -Al
2
O
3
memiliki tingkat kristalin yang tinggi dan merupakan fase alumina paling stabil
secara termodinamika. Tingkat kekristalan fase -Al
2
O
3
lebih rendah dan mudah larut dalam larutan alkali.
Alumina adalah material keramik dengan sifat isolator thermal dan listrik yang menunjukkan chemical
inertness yang sangat baik dan transparansi optik yang tinggi. Alumina terdiri dari beberapa fase metastabil (,
, , , , ) dan fase yang paling stabil secara termodinamika yaitu fase dengan titik leleh tinggi (2047
o
C) dan
memiliki kekerasan relatif tinggi. Jumlah fase metastabil terjadi dengan meningkatnya temperatur annealing
Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 81
sampai pada pembentukan fase Al
2
O
3
stabil dan rentang suhu keberadaannya bergantung pada kedua
komposisi dan struktur awal bahan (diaspore, gibbsite, tohdit, boehmite, bayerite) [7].
Sumber utama oksida alumina adalah mineral bauxites yang diekstrak melalui proses Bayer. Sintesis
alumina dari mineral non-bauxites seperti alunite, sillimanite, andalusite, kyanite, kaolin, mica, dan fly ash
banyak mendapat perhatian akhir-akhir ini dengan menggunakan sulfates, nitrates, dan chlorides sebagai
precursor alumina. Alumina yang dihasilkan memiliki tingkat kemurnian yang tinggi [1]. Hal ini sangat
menguntungkan karena selain jumlah mineral non-bauxite berlimpah, proses sintesis tidak memerlukan energi
tinggi. -Al
2
O
3
merupakan sumber produksi material berukuran nano, digunakan sebagai katalis dan substrat
katalis pada industri otomotif dan petrolium, komposit struktural untuk pesawat terbang, pelapis (coating)
abrasif dan thermal wear. Fase tunggal serbuk -Al
2
O
3
dapat menurunkan temperatur densifikasi dibandingkan
dengan fase -Al
2
O
3
. Pada umumnya, mineral kaolin mengandung sekitar 20 26 wt% alumina. Produksi -
Al
2
O
3
dari mineral kaolin akan dilakukan menurut prosedur yang dikembangkan oleh Hosseini, et al., (2011)
[3]. Tingkat kekristalan dan kemurnian -Al
2
O
3
yang diproduksi diukur dengan menggunakan XRD dan XRF
sedangkan morfologi struktur mikronya diukur dengan menggunakan SEM. Gambar 6a dan 6b masing-masing
memperlihatkan difraktogram dan morfologi -Al
2
O
3
yang diproduksi dari kaolin [3]. Kinerja oksida logam,
secara umum, sebagai katalis dan substrat katalis sangat tergantung dari struktur kristal dan sifat teksturnya.

















Prosedur ekstraksi -Al
2
O
3
dari mineral kaolin lainnya dikembangkan oleh Yang, et.al., (2009) [8] .
Prosedur sintesis nano -Al
2
O
3
berasal dari kaolin yang telah dikalsinasi dengan bantuan zat asam. Aluminium
hidroksida dipresipitasi dengan amonia dari proses pelepasan polyethylene glycol. Serbuk putih dari partikel
nano -Al
2
O
3
diamati setelah dikalsinasi, adapun karakterisasi yang dilakukan menggunakan XRD, DSCTG,
TEM, FTIR dan MAS NMR. . -Al
2
O
3
yang dihasilkan menunjukkan morfologi seperti batang dengan lebar 7
nm dan panjang sekitar 20 nm. Kaolin tersebut lalu dikalsinasi menjadi metakaolin dengan menggunakan
furnace dengan laju pemanasan 10
o
C / menit dan suhu tersebut bertahan selama 3 jam. Metakaolin lalu
diaktivasi dengan HCl 6M pada suhu 90
o
C dan distirrer selama 2,5 jam, larutan tersebut lalu difilter dan hasil
filtrasi yang terkumpul menghasilkan aluminium hidroksida. Setelah penambahan polyethylene glycol (PEG,
massa molar 6000), amonia 2,6 M kemudian ditambahkan. Hasil presipitasi dicuci dengan menggunakan
aquades dan dikeringkan, selanjutnya dikalsinasi hingga menghasilkan partikel nano -Al
2
O
3
. Berikut ini adalah
hasil karakterisasi dari partikel nano -Al
2
O
3
yang dihasilkan menurut prosedur yang dikembangkan oleh Yang
et,al., (2009) [8].
Gambar 2 menunjukkan mekanisme sintesis -Al
2
O
3
, mulai dari dehidroksilasi kaolin hingga menjadi
metakaolin. Pada proses dehidroksilasi ini, kaolin terjadi perubahan fasa dari kristal menjadi amorf. Selain itu,
pada saat dehidroksilasi gugus hidroksil dari kaolin dilepaskan hingga menjadi metakaolin. Mekanisme
selanjutnya adalah proses filtrasi dengan menggunakan asam kuat yang bertujuan untuk memisahkan antara
kandungan silika dan alumina yang terdapat pada metakaolin. Setelah itu dilanjutkan dengan proses presipitasi
a b
Gambar 1 (a) Difraktogram -Al
2
O
3
, (b) Morfologi mikro -Al
2
O
3

yang diproduksi dari kaolin [4].

Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

82 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
aluminium sulfat dengan menggunakan alkohol dan dicuci dengan aquades. Setelah proses presipitasi
dilanjutkan dengan proses kalsinasi.

















Gambar 3 a memperlihatkan difraktogram sinar-x yang menunjukkan fasa -Al
2
O
3
yang terletak antara
sudut 20
o
70
o
2. Pada gambar 3b tampak morfologi -Al
2
O
3
yang berbentuk batang yang diambil dengan
TEM. Difraksi Elektron (gambar 3c) memperlihatkan bahwa -Al
2
O
3
bersifat amorf.



























3. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini diarahkan untuk mensintesis komposit geopolimer dengan agregat Alumina (Al
2
O
3
).
Alumina diperoleh dengan mengekstraksi kaolin dengan menggunakan dua prosedur yaitu prosedur yang
dikembangkan oleh Hosseini et. al (2011) [3] dan prosedur yang dikembangkan oleh Yang, et. al (2009) [8].
Hasil sintesis komposit geopolimer kemudian dikarakterisasi dengan menggunakan SEM-EDS (Tescan
Vega3SB) untuk mengetahui struktur mikro dan morfologi komposit serta komposisis elementalnya. Serta
dilakukan karakterisasi XRD (Rigaku MiniFlexII) untuk memperoleh informasi kulaitatif dan kuantitatif fase
Gambar 2. Skema mekanisme sintesis -Al
2
O
3

a
b c
Gambar 3 (a)Difraktogram Al(hydr)oxide dan setelah dikalsinasi pada
temperatur yang berbeda. (b) Gambar TEM dari -Al
2
O
3
(c) pola SAED
Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 83
yang terbentuk dari proses ekstraksi alumina. Difraksi sinar x dilakukan pada sudut 2 antara 5
o
80
o
dengan
scan speed 2
o
/s dan step 0,02
o
. Sintesis komposit geopolimer dilakukan melalui metode aktivasi larutan alkali
mineral metakaolin. Mineral -Al
2
O
3
ditambahkan ke dalam campuran pasta geopolimer, diaduk perlahan
hingga campuran bersifat homogen lalu dimasukkan ke dalam cetakan plastik polycarbonate, diikuti dengan
curing pada suhu 60
o
C selama 1 jam. Selama proses curing berlangsung air reaksi dipertahankan dengan
menutup cetakan rapat rapat. Karakterisasi dengan X-Ray diffraction (XRD) Rigaku MiniFlexII dilakukan
dengan mempelajari fase bahan dasar kaolin dan metakaolin, mineral -Al
2
O
3
yang diperoleh dari hasil
ekstraksi, serta produk geopolimer.

4. HASIL DAN DISKUSI
Penelitian ini menggunakan dua prosedur ekstraksi Alumina, yaitu prosedur ekstraksi 1 (eks 1)
yang dikembangkan oleh Hosseini et. al (2011) [3] dan prosedur ekstraksi 2 (Eks 2) yang dikembangkan oleh
Yang et.al (2009) [8]. Berikut ini adalah difraktogram hasil ekstraksi 1:



















Gambar 4 menunjukkan bahwa setelah dilakukan autosearch dengan PDXL 2 tampak bahwa fasa
dominan hasil ekstraksi 1 adalah Pyrophylite 1A dehydroxilated (Al
2
(Si
4
O
10
)O). Hal ini menunjukkan bahwa
hasil ekstraksi dengan prosedur Eks 1 belum menunjukkan terbentuknya fase -Al
2
O
3
. Fasa Pyrophyllite yang
terbentuk masih memiliki gugus hidroksil walaupun menggunakan precursor yang disintering hingga suhu
800
o
C dan 850
o
C, namun sifat kristal dari kaolin justru kembali muncul di atas suhu 750
o
C. Hal ini juga
menunjukkan bahwa larutan asam sulfat 2M yang digunakan tidak mampu memisahkan antara kandungan
alumina dan silika dari precursor dengan baik. Selain itu juga terlihat fasa Quartz syn (SiO
2
) pada sudut 2
sebesar 26,709
o
dengan intensitas sebesar 13649 counts. Fasa ini merupakan pengotor yang berasal dari kaolin
yang digunakan.










20 40 60 80
0.0e+000
5.0e+003
1.0e+004
1.5e+004
2.0e+004
(
1

0
0
)
(
1
0
1
)
(
0
1
1
)
(
0
0
1
)
(
1
-
1
0
)
(
1
1
-
1
)
(
1
-
1
-
1
)
(
0

2
-
1
)
(
0

0
3
)

0
50
100
(
1

0
0
)
(
1

0
1
)Quartz, syn, Si O2
20 40 60 80
0
50
100
(
0
0
1
)
(
1

-
1
0
)
(
1
1
-
1
)
(
1

-
1
-
1
)
(
0
2
-
1
)
(
0

0
3
)
Pyrophyllite-1A, dehydroxylated, Al2 ( Si 4 O10 ) O
2-theta (deg)
I
n
t
e
n
s
i
t
y

(
c
p
s
)
b
a
Gambar 4. Difraktogram hasil ekstraksi -Al
2
O
3
(Eks -1). (a) Hasil pengukuran (b) Analisis dengan
search and match

Gambar 5. Foto SEM hasil ekstraksi -Al
2
O
3
(Eks -1).
Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

84 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Gambar 5 menunjukkan bahwa butir yang terlihat dari hasil ekstraksi tidak homogen. Adapun bar chart
dengan menggunakan EDS menunjukkan bahwa elemen dengan komposisi terbanyak adalah oksigen.
Aluminium dalam bentuk unsur ditemukan sebesar 4,7%wt, Silikon 30,4%wt, Natrium 2,0%wt dan Fluor
2,0%wt.













Berikut ini adalah difraktogram hasil ekstraksi -Al
2
O
3
dengan menggunakan prosedur ekstraksi 2 (Eks
2) yang merunut pada prosedur ekstraksi yang dikembangkan oleh Yang et.al (2009) [8]. Hasil search and
match dengan PDXL 2 menunjukkan bahwa hasil ekstraksi -Al
2
O
3
dengan kode prosedur Eks2, fasa yang
terbentuk berupa -Al
2
O
3
yang berada pada rentang 2 35 70
o
.

















Fasa lain yang muncul adalah fasa Quartz syn (SiO
2
) yang sebenarnya merupakan pengotor yang berasal
dari kaolin yang digunakan (kaolin yang disuplai dari Intraco, Makassar) yang akan tetap ada pada hasil
ekstraksi. Gambar 8a merupakan difraktogram geopolimer tanpa agregat -Al
2
O
3
. Dari gambar tersebut tampak
bahwa geopolimer tanpa agregat ini bersifat amorf. Fasa yang terbentuk didominasi oleh fasa Silicon dioxide
yang berasal dari kaolin yang digunakan. Sedangkan gambar 8b gambar difraktogram komposit geopolimer
dengan agregat -Al
2
O
3
. Selain itu, juga tampak bahwa hump (gundukan) difraksi berbeda dengan hump pada
gambar 8a. Hal ini dikarenakan kehadiran -Al
2
O
3
merubah jaringan matriks geopolimer.

Gambar 9b merupakan foto SEM sampel komposit geopolimer dengan agregat -Al
2
O
3
(KG2D).
Berdasarkan gambar tampak bahwa agregat belum menyatu dengan matriks melainkan hanya melekat pada
matriks geopolimernya. Jika dibandingkan dengan Gambar 9a terlihat bahwa kondisi permukaan matriks
geopolimer menjadi lebih baik dengan keberadaan agregat -Al
2
O
3 .
Spektrum EDS menunjukkan bahwa
komposit geopolimer dengan agregat Al
2
O
3
(KG2D) secara elemental komposisinya terdiri dari atom Silikon
sebesar 3,37 %wt, Aluminium 2,89 %wt, dan sodium sebesar 3,00 %wt.
a b
Gambar 6. (a) Bar chart komposisi elemental (b) Spektrum EDS hasil ekstraksi -Al
2
O
3
(Eks -1)

20 40 60 80
0.0e+000
1.0e+003
2.0e+003
3.0e+003
4.0e+003
5.0e+003
6.0e+003
(1

0
0
)
(
1

0

1
)
(
0

1

1
)
(1

1
0
)
(
2

0

0
)
(
1

1
1
)
(
2

2

0
)
(
3

1

1
)
(
2

2

2
)
(4

0
0
)
(
5

1

1
)(
3
3

3
)
(4

4
0
)

0
50
100
(
1

0

0
)
(
1

0
1
)
Quartz, syn, Si O2

0
50
100
(
1

1

0
)
(2

0
0
)
Sodium Sulfate, Na2 S2 O3
20 40 60 80
0
50
100
(
1

1

1
)
(
2

2

0
)(
3

1

1
)
(
2

2

2
)
(
4

0
0
)
(5

1
1
)(4

4
0
)
gamma-Al2 O3, Al2 O3
2-theta (deg)
I
n
t
e
n
s
it
y

(
c
p
s
)
a b
Gambar 7. Difraktogram Hasil Ekstraksi -Al
2
O
3
(Eks 2) (a) sebelum Search and Match (b)
Setelah Search and Match
Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 85





























Pada sampel KG2D, kehadiran agregat berpengaruh terhadap perbaikan struktur mikro permukaan
matriks, namun agregat -Al
2
O
3
yang ditambahkan hanya melekat di permukaan matriks. Adapun sampel KG4D
yang ditunjukkan pada Gambar 10 menunjukkan bahwa struktur mikro permukaan sampel jauh lebih homogen
dibandingkan dengan KG2D. Morfologi ini menyerupai morfologi gelas yang dibuat dari bahan Na
2
O
3
[9].
















Gambar 10. (a) Spektrum EDS Komposit Geopolimer dengan agregat (KG2D).
(b) Komposit Geopolimer dengan agregat (KG4D)


Gambar 8. Difraktogram Hasil Ekstraksi -Al
2
O
3
(Eks 2) (a) tanpa agregat -Al
2
O
3
(b) dengan
agregat -Al
2
O
3

a b
Gambar 9. (a)Foto SEM Sampel Geopolimer tanpa agregat (KG2T). (b) Foto SEM Sampel
Komposit Geopolimer dengan Agregat -Al
2
O
3
(KG2D)
a
b
Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

86 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
5. SIMPULAN
Telah disintesis mineral Al
2
O
3
dari bahan dasar mineral kaolin serta komposit geopolimer dengan
bahan dasar metakaolin dengan adisi agregat Al
2
O
3
.

Penambahan agregat Al
2
O
3
pada komposit geopolimer
mampu memperbaiki struktur permukaan matriks geopolimer ditandai dengan berkurangnya pori dan tidak
ditemukannya kristal sodium carbonate yang tumbuh di permukaan matriks.


6. DAFTAR ACUAN
[1] Zhao Q, B. Nair, T. Rahimian, P. Balaguru, (2007), J. Mater. Sci. Vol. 42 pp. 31313137.
[2] Zhang, Y., Sun, W., Li, Z., Zhou, X., Eddie, C. Chau, Construct. (2008), Build. Mater. Vol. 22 pp.
370383.
[3] Hosseini, Sayyed Ali., Aligholi Niaei, Dariush Salari. 2011. Production of -Al
2
O
3
from Kaolin.Open
Journal of Physical Chemistry 2011 Vol.1, 23-27.
[4] Davidovits, J. (1991). Inorganic polymeric new materials. Jurnal journal of thermal analysis. Vol. 37.
Pp. 1633-1656.
[5] Subaer & Arie van Riessen. 2006. Thermo-Mechanical and Mocrostructural Characterization of
Sodium-Poly(Sialate-Siloxo) (Na-PSS) Geopolymers. Journal of Materials Science, Vol. 42, p. 3117
3123
[6] Kamisawati. 2010. Sintesis dan Karakterisasi Keramik Geopolimer Berbahan Dasar Kaolin dan
Pasir Kuarsa dengan Difraksi Sinar-X. Skripsi : Universitas Negeri Makassar
[7] Musil,J., J. Blazek., P. Zeman , S. Proksov. , M. Sasek., R. Cerstvy., 2010. Thermal stability of
alumina thin lms containing Al
2
O
3
phase prepared by reactive magnetron sputtering. Applied
Surface Science. [sciencedirect]
[8] Yang, Huaming., Mingzhu Liu., Jing Ouyang. 2009. Novel synthesis and characterization of
nanosized -Al
2
O
3
from kaolin. Applied Clay Science. [sciene direct]
[9] Subaer. 2007. Pengantar Fisika Geopolimer. DP2M Dikti Jakarta.




Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 87
PENGARUH AGREGAT SERAT BAJA-KARBON TERHADAP
MORFOLOGI DAN SIFAT MEKANIK KOMPOSIT GEOPOLIMER
BERBASIS ABU TERBANG (FLY ASH)


Ar mayani. M, Abdul Har is, dan Subaer
*)

Pusat Penelitian Geopolimer - Lab. Fisika Material
Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Makassar
Jalan Daeng Tata Raya, Makassar, 90224
*)
Hp : 081342211874, e-mail : jzubayir@yahoo.com


Abstrak

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh agregat serat baja-karbon terhadap morfologi
dan sifat mekanik komposit geopolimer berbasis abu terbang (Fly Ash). Abu terbang yang
digunakan diperoleh dari PLTU Asam-Asam Kalimantan Timur. Material geopolimer
diproduksi dengan metode aktivasi larutan alkali Na
2
O.3SiO
2
danNaOH. Serat baja-karbon
disusun berbanjar di dalam pasta geopolimer searah dengan panjang sampel dengan massa
serat yang bervariasi yaitu 0,50 g, 1,00 g dan 2,00 g. Sampel kemudian dicuring pada suhu
60-70
0
C selama 30 menit, selanjutnya disimpan selama 28 hari sebelum berbagai pengukuran
dilakukan. Struktur mikro bahan dasar dan produk komposit geopolimer diteliti dengan
menggunakan scanning electron microscopy (SEM) Tescan3 Vega yang dilengkapi dengan
electron dispersive spectroscopy (EDS). Struktur kekristalan bahan dasar dan sampel
komposit geopolimer dikarakterisasi dengan x-ray diffraction (XRD) Rigaku MiniFlexII pada
rentang sudut 2 5
o
90
o
. Hasil pengujian XRD menunjukkan abu terbang yang digunakan
merupakan abu terbang tipe F dengan konsentrasi kimia paling besar berupa oksida MgO dan
Fe
2
O
3
. Selain itu, geopolimer yang diproduksi terdiri atas fase amorf dan kristal. Pengukuran
dilakukan dengan menggunakan tiga sampel untuk setiap komposisi. Hasil karakterisasi
dengan SEM memperlihatkan morfologi butiran abu terbang yang digunakan di dalam
penelitian ini umumnya berbentuk bola dengan ukuran butir yang berkisar antara 0,125 m
6,875 m. Morfologi permukaan komposit geopolimer memperlihatkan matriks yang terdiri
atas fase pasta geopolimer yang disertai butiran abu terbang yang tidak bereaksi secara
sempurnadengan aktivator larutan alkali. Ikatan antara matriks geopolimer dengan agregat
baja-karbon tampak cukup baik dan tidak ditemukan adanya zona antar muka (interfacial
transision zone ITZ). Kuat lentur sampel komposit geopolimer diukur dengan teknik three
bending points flexural strength.Nilai rata-rata kuat lentur (flexural strength) komposit
geopolimer untuk tiga komposisi sampel masing-masing sebesar 3,66 MPa, 4,12 MPa dan
3,80 MPa. Hasil ini menunjukkan adanya pengaruh massa serat baja-karbon terhadap kuat
lentur komposit geopolimer. Selain itu, nilai kuat lentur sampel yang diproduksi memiliki
potensi yang cukup baik untuk digunakan sebagai bahan struktur seperti beton.

Keywords: Komposit, Geopolimer, dan Kuat Lentur (flexural strength).


1. PENDAHULUAN
Komposit geopolimer mulai banyak dikembangkan untuk industri konstruksi teknologi bahan bangunan
(beton) yang memiliki sifat mekanik-dinamik tinggi atau tahan terhadap guncangan berat. Penggunaan material
komposit yang ramah lingkungan dan bisa didaur ulang, merupakan tuntutan teknologi saat ini.
Salah satu upaya yang banyak diteliti saat ini yaitu untuk memperbaiki sifat mekanik komposit
geopolimer adalah penambahan serat pendek seperti serat karbon. Kehadiran serat sebagai agregat matriks
komposit geopolimer berperan untuk mencegah keretakan serta menambah kekuatan tarik matriks geopolimer
[1]. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa optimalisasi matriks akan meningkatkan sifat mekanik komposit
geopolimer [2].
Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

88 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Geopolimer dapat disintesa dari material dasar seperti tanah lempung, kaolin, abu terbang (fly ash), abu
sekam padi (rice husk ash), geopolimer ciri umum adalah keras, berpori, mudah dipoles dan mampu bertahan
pada suhu yang tinggi [3].

2. DASAR TEORI
a. Abu Terbang (Fly Ash)
Abu terbang atau fly ash adalah hasil limbah padat yang utama dari pembakaran batu bara untuk
menghasilkan listrik pada pusat pembangkit listrik tenaga uap PLTU. Abu terbang yang dihasilkan dari
proses ini sangat banyak jumlahnya dan selalu meningkat setiap tahun [4]. Abu terbang sendiri tidak
memiliki kemampuan mengikat seperti halnya semen. Tetapi dengan kehadiran air dan ukuran
partikelnya yang halus, oksida silika yang dikandung oleh abu terbang akan bereaksi secara kimia dengan
kalsium hidroksida yang terbentuk dari proses hidrasi semen dan menghasilkan zat yang memiliki
kemampuan mengikat. Abu terbang (fly ash) memiliki butir halus (0,31-300,74 nm), dengan distribusi
80% berukuran 0,31-40,99 nm, bentuk butiran membulat dan tidak berikatan satu sama lain (terlepas),
komposisi mineralnya adalah kuarsa (SiO
2
) dan sedikit mulite (M). Komposisi kimia SiO
2
= 72,9%,
Al
2
O
3
= 11,4% dengan kadar pengotor cukup tinggi seperti Besi (6%), Titan (0,8%), Oksida natrium
(1,5%) serta Kapur(3,2%) [5].

b. Ser at Baja-Kar bon
Baja karbon atau carbon steel adalah paduan antara besi (Fe) dan karbon (C) dimana unsur karbon
sangat menentukan sifat -sifatnya. Sedang unsur-unsur paduan lainnya yang biasa terkandung di
dalamnya terjadi karena proses pembuatannya. Serat baja dapat berupa potongan-potongan kawat atau
dibuat khusus dengan permukaan halus/rata atau deform, lurus atau bengkok untuk memperbesar
lekatan dengan betonnya [6].

c. Geopolimer
Geopolimer adalah material yang disintesis dari bahan alumina silikat dan diaktivasi dengan
menggunakan larutan alkali yang terdiri Na
2
OH, H
2
O, dan NaO
2
.3SiO
2
. Geopolimerisasi dilakukan
melalui proses polikondensasi dengan suhu curing 60-70
0
C selama 30 menit.

d. Komposit
Material komposit dibangun dari dua atau lebih jenis bahan. Contoh komposit yang terkenal adalah
serat gelas (glass fiber) yang dibungkus dengan bahan polimer dan digunakan sebagai kabel
komunikasi. Serat berfungsi memperkuat matriks karena umumnya, serat jauh lebih kuat dari matriks.
Matrik berfungsi melindungi serat dari efek lingkungan dan kerusakan akibat benturan. Serat dapat
terbuat dari karbon, aramid, boron, silicon carbide, alumina atau material lain. Matriks terbuat dari
polimer seperti epoksin, keramik dan logam.. Komposit didesain untuk mengkombinasikan
karakteristik yang terbaik dari komponen-komponen penyusunnya. Fiber gelas misalnya memiliki sifat
keras dan polimer bersifat fleksibel.

3. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini diarahkan pada pengembangan komposit-geopolimer berbahan dasar abu terbang (Fly
Ash) dengan menggunakan serat baja-karbon. Abu terbang (Fly Ash) diperoleh dari PLTU Asam-asam
Kalimantan Selatan.
Komposit geopolimer serat baja karbon, diaktivasi dengan larutan alkali. Bahan dasar, dicampur sedikit
demi sedikit diaduk secara kontinu hingga diperoleh gel dengan workability yang cukup tinggi. Campuran
tersebut lalu dituangkan ke dalam cetakan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 11.0 cm, lebar 3.5 cm, dan
tinggi 1.0 cm. Selanjutnya serat baja-karbon di tata berbanjar, separuh campuran sisanya dituangkan kemudian
diratakan. Geopolimerisasi dilakukan melalui proses polikondensasi dengan suhu curing 60-70
0
C selama 30
menit dan dibiarkan selama 28 hari. Sampel yang dihasilkan sebanyak 11 buah dengan komposisi serat yang
berbeda (Tabel 1).

Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 89








4. HASIL DAN DISKUSI
4.1 Bahan Dasar
4.1.1 SEM-EDS (Scanning Electron Microscopy) Abu Ter bang (Fly Ash)

Morfologi permukaan abu terbang (fly ash) di uji
dengan Scanning Electron Microscopy (SEM) di
perlihatkan pada gambar 1 berupa butiran dengan ukuran
yang bervariasi. Ukuran butir abu terbang (Fly Ash) dari
yang paling kecil hingga yang paling besar berkisar antara
0,125 m hingga 6,875 m.
Analisis EDS (Energy Dispersive
Spectorscopy) memberikan informasi mengenai
komposisi kimia abu terbang (Fly Ash)
diperlihatkan pada grafik 1 dan tabel 2. Fly Ash
yang digunakan mengandung FeO sebesar 70,54
wt%, CaO sebesar 13,49 wt%, SiO
2
sebesar 12,81
wt%, Al
2
O
3
sebesar 2,96 wt% dan K
2
O sebesar
0,20 wt%. Komposisi oksida ini menunjukkan
abu terbang tersebut merupakan tipe F.

Gambar 1. Bahan dasar abu terbang (Fly Ash)
hasil karakterisasi SEM



Grafik 1. Spektrum hasil uji EDS abu terbang (Fly Ash)





2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
keV
0
20
40
60
80
100
120
140
160
x 0.001 cps/eV
Fe
Fe
O
Ca
Ca
K
K
Al
Si

Tabel 1
Komposisi komposit geopolimer serat baja-karbon
Komposisi
Massa Bahan
Abu
Ter bang (Fly
Ash)
(gr am)
Ser at Baj a-
Kar bon
(gr am)
Lar ut an
alkali
(gr am)
KF I 90 0.5 27
KF II 90 1.0 27
KF III 90 2.0 27
Geo 90 0 27



Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

90 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

4.1.2 X-Ray Diffr action (XRD) Abu Ter bang (Fly Ash)

Analisis XRD yang diperoleh dari
bahan dasar abu terbang (fly ash) diperlihatkan
pada gambar 2.

Karakterisasi XRD terlihat puncak yang
paling dominan yaitu pada bidang hkl d
(011)

pada sudut 2 sebesar 26,75
o
berupa mineral
silika (SiO
2
) dengan nilai FWHM sebesar
0,194. Dan pada bidang hkl d
(011)
pada sudut 2
sebesar 35,70 untuk fase Magnetite (Fe
3
O
4
).


Gambar 2. Hasil karakterisasi dengan analisis bahan dasar abu
terbang (Fly Ash) dengan menggunakan XRD.



4.1.3 SEM-EDS (Scanning Electron Microscopy)
Ser at Baja-Kar bon
Mikrograf serat baja-karbon yang digunakan
dalam penelitian ini diameter rata-rata serat karbon 50
m diperlihatkan pada gambar 3.

Gambar 3. Serat baja-karbon hasil karakterisasi SEM


Grafik 2. Spektrum hasil uji EDS serat baja-karbon

Spektrum hasil uji EDS pada grafik 2 dan tabel 3 menunjukkan komposisi serat baja-karbon. Tampak bahwa
unsur Iron sebesar 71,43 wt%, Silicon sebesar 19,31 wt%, Aluminium 5,73 wt%, Sodium sebesar 1,84 wt%, dan
Magnesium sebesar 1,70 wt%.


20 40 60 80
0.0e+000
2.0e+003
4.0e+003
6.0e+003
(
1
0

1
)
(
0
1

1
)
(
1

0

1
)
(
0

1
1
)
(
0
1

2
)
(
1

0

4
)
(
1

1

3
)
(
1

1

6
)
(
3

1

1
)
(
2

0
0
)
(
2

0

0
)
(
2

2

0
)

0
100
(
0

1

1
)
quartz low HP, syn, Si O2

0
100
(
0

1
1
)
Quartz low, Si O2

0
100 (
0
1

2
)
(
1

0
4
)
(
1

1

3
)
(
1

1
6
)
Al uminum Oxi de, Al2 O3

0
100
(
3
1

1
)
Magnetite, Fe3 O4

0
100
(
2

0

0
)
Magnesium Peroxide, Mg O2
20 40 60 80
0
100
(
2

0

0
)
(
2

2
0
)
Li me, syn, Ca O
2-theta (deg)
I
n
t
e
n
s
i
t
y

(
c
p
s
)
1 2 3 4 5 6 7
keV
0
1
2
3
4
5
cps/eV
O Si Al Na Fe
Fe Mg
C

Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 91
Gambar 4. Bentuk ukuran komposit geopolimer

Grafik 3. Hasil pengukuran kuat lentur (flexural strength)
komposit geopolimer fly ash dengan komposisi serat
baja-karbon yang berbeda-beda

4.2 Kekuatan Lentur (Flexural Strength)
Komposit geopolimer yang dihasilkan berbentuk persegi panjang dengan dimensi panjang 11.0 cm, lebar
3.5 cm, dan tinggi 1.0 cm. Pengujian dilaksanakan setelah sampel berumur 28 hari.

Dari grafik 3. Terlihat bahwa produk komposit geopolimer dengan serat baja-karbon 1.0 gram memiliki
kelenturan lebih tinggi dibandingkan dengan produk komposit geopolimer dengan serat baja-karbon 0.5 gram.
Hal ini menunjukkan bahwai serat berperan sebagai agregat yang memperkuat matriks. Pada penambahan serat
baja-karbon 2.0 gram terjadi penurunan kuat lentur karena pasta geopolimer tidak cukup banyak untuk mengikat
agregat tersebut.

Gambar 5 memperlihatkan morfologi
geopolimer. Tampak butiran partikel fly ash yang
tidak bereaksi serta retakan sekunder yang terjadi
ketika sampel dipotong. Pori dipermukaan sampel
terbentuk pada proses polikondensasi saat curing
berlangsung.

Gambar 5. Produk geopolimer berbahan dasar abu terbang
(Fly Ash) hasil karakterisasi SEM



Analisis EDS (Energy Dispersive Spectorscopy) memberikan informasi mengenai komposisi kimia
geopolimer tersebut sebagaimana diperlihatkan pada tabel 4. Dari hasi pengukuran diketahui bahwa komposisi
geopolimer terdiri atas SiO
2
sebesar 45.32 wt% dengan Al
2
O
3
sebesar 15.79 wt%.

Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

92 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Grafik 4. Spektrum hasil uji EDS geopolimer bahan dasar abu
terbang (Fly Ash)




Grafik 5 memperlihatkan struk-
tur kristal geopolimer dibandingkan
dengan struktur kristal abu terbang
hasil karakterisasi XRD.

Grafik 5. Hasil karakterisasi bahan dasar abu terbang (Fly Ash) dan
geopolimer abu terbang (Fly Ash) dengan X-Ray Diffraction (XRD).


Gambar 6 memperlihatkan permukaan komposit
geopolimer dengan agregat serat baja-karbon. Terlihat
retakan antara serat dan geopolimer yang terjadi akibat
tekanan mekanik saat pengujiaan kuat lentur.


Gambar 6. Komposit geopolimer serat baja-karbon hasil
karakterisasi SEM



2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
keV
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
cps/eV
Fe Fe
O
Al
Si
Na
Ca
Ca K
K
Mn
Mn
Mg
Ti
Ti

Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 93
5. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Struktur mikro komposit geopolimer menunjukkan bahwa ikatan antar muka ITZ (Interfacial transition
Zone) serat baja dan geopolimer belum begitu baik sehingga kuat lentur komposit geopolimer yang
dihasilkan masih rendah. Retakan antara serat dan geopolimer menunjukkan bahwa serat dapat menahan
beban yang diberikan pada sampel.
2) Pengujian kuat lentur (Flexural Strength) menunjukkan massa serat berpengaruh terhadap kuat lentur
(Flexural Strength) komposit geopolimer.

6. DAFTAR ACUAN
[1] Zhang, Y., Sun, W., (2006), J. Master. Sci. Vol. 41 pp. 2787 2794.
[2] Lin, T.,. Jia, D., M. Wang, P. He, Liang, D., (2009), Bull. Mater. Sci. Vol. 32 pp. 77 81.
[3] Davidovits, J. (1999). Chemistry of geopolymeric system, terminology. Geopolymere '99,Saint-Quentine,
France, 9-39.
[4] Panias, D., Giannopolou, I. P., dan Perraki, T., (2007), Effect of Synthesis Parameters on Mechanical
Properties of Fly Ash-Based Geopolymers. Colloids and Surfaces A: Physiochem. Eng. Aspect Vol.
301. Hal 246-254.
[5] Samsiah. 2008. Sintesis dan Karakterisasi Geopolimer Berbahan Dasar Abu Terbang (Fly Ash) Batu
Bara PLTU Asam-Asam. Skripsi: Universitas Negeri Makassar.
[6] Ariatama, Ananta. 2007. Pengaruh Pemakaian Serat Kawat Berkaitan Pada Kekuatan Beton Mutu
Tinggi Berdasarkan Optimasi Diameter Serat. Tesis : Universitas Diponegoro Semarang.
[7] Lin, T., Jia, D., P. He, M. Wang, Liang, D., (2008), Master. Sci. Eng. A 497, p 181 185.
















Indra Wulan Sari, dkk./ Pengaruh Penambahan -Al
2
O
3
terhadap . SFA 2013

94 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773






















Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 95
Pendeteksian For malin Pada Buah Tomat
(Lycopersicum Esculentum Mill) Ber basis Speckle Imaging

Har madi
1
, Neneng Fitrya
1
, dan Sandr a
2

1
Departemen Fisika FMIPA Universitas Andalas, Padang 25163
2
Departemen Teknik Pertanian FATETA Universitas Andalas, Padang 25163
harmadi@fmipa.unand.ac.id



Abstrak


Pendeteksian formalin pada sampel buah tomat secara non-invasive dan non-destructive
telah dilakukan dengan menggunakan metode speckle imaging (pencitraan spekel).
Modulasi cahaya dalam bentuk spekel diperoleh dengan meluruskan atau melewatkan
berkas laser mengenai sampel sehingga terjadi back-scattering dan dideteksi dengan
menggunakan detektor CCD camera. Hasil yang diperoleh detektor direkam pada
personal computer (PC) dalam bentuk citra 640 x 480 piksel, dan ditampilkan dalam
bentuk pola spekel. Pola spekel dianalisa dengan menggunakan software imageJ akan
diperoleh karakteristik histogram distribusi intensitas gray level, dan didapatkan
perubahan nilai kontras spekel. Pendeteksian dilakukan terhadap sampel buah tomat
sebelum dan sesudah direndam larutan formalin. Perlakuan sampel buah tomat dilakukan
dengan variasi konsentrasi formalin dan variasi waktu perendaman. Diperoleh hasil
korelasi nilai kontras spekel dengan sampel yaitu semakin tinggi konsentrasi formalin dan
waktu perendaman maka nilai kontras spekel semakin kecil.

Kata kunci: for malin, tomat, speckle


1. PENDAHULUAN

Sejalan dengan perkembangan biofotonik, berbagai teknik imaging (pencitraan) non-invasive (tidak
menyentuh) dan non-destructive (tidak merusak) yang digunakan pada sistem biologi telah berkembang dalam
beberapa tahun terakhir. Di antaranya yang paling baru adalah penggunaan metode speckle imaging (pencitraan
spekel) untuk mendeteksi sinyal optik yang dihasilkan oleh sistem biologi [1-3].

Penelitian yang telah dikembangkan dengan menggunakan suatu sistem pencitraan spekel terhadap media
atau jaringan biologi yang merupakan kontras citra optis dari jaringan, ternyata pola radiasi yang teramati adalah
dalam bentuk speckle pattern (pola spekel) dari hamburan (scattering) berkas laser yang secara
serempak/bersama melewati medium sampel jaringan [1]. Sistem pencitraan spekel laser mendeteksi perubahan
intensitas spekel laser yang didifraksikan pada sampel dengan analisis kontras spekel [4-6]. Image (citra)
terbentuk sebagai kumpulan modulasi spekel yang ditangkap oleh CCD dengan pengaturan perekaman yang
sesuai (Li Nan, 2005). Di dalam beberapa penelitian, analisis kontras yang digunakan adalah analisis intensitas
gray level (tingkat keabu-abuan) dari hasil citra suatu sistem pencitraan spekel dengan menggunakan histogram
yang digunakan untuk klasifikasi dan pencocokan pola [7].

Media massa banyak memberitakan buah berformalin beredar luas di tengah masyarakat. Buah-buahan
yang mengandung formalin banyak ditemukan di pasaran dengan alasan agar kelihatan lebih segar dan dapat
bertahan lama. Penggunaan formalin untuk mempertahankan kesegaran produk tidak hanya dilakukan pada
Harmadi, dkk./ Pendeteksian Formalin Pada Buah Tomat . SFA 2013

96 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
produk olahan bahan pangan, tetapi juga digunakan pada produk pangan segar seperti daging ayam, daging sapi,
ikan segar, dan buah-buahan segar [8]. Penggunaan bahan berbahaya seperti formalin sebagai pengawet dipicu
karena harga yang lebih murah, sehingga mendatangkan untung yang besar dalam penjualan. Pendeteksian zat
formalin pada buah cukup sulit dilakukan jika hanya dilihat dari segi fisiknya, sehingga diperlukan pengujian
lebih lanjut dengan menggunakan teknik imaging non-invasive dan non-destructive yang digunakan untuk
sistem biologi. Salah satu teknik imaging non-destructive yang digunakan adalah metode pencitraan spekel
untuk mendeteksi sinyal optik dari jaringan biologi [3].

Permasalahan utama pada buah tomat setelah dipanen adalah sifatnya yang mudah rusak oleh pengaruh
mekanis serta kandungan air yang tinggi, sehingga memungkinkan adanya aktivitas enzim dan mikroorganisme
pembusuk. Kulit tomat sangat mudah mengalami kerusakan karena goresan atau gesekan sehingga diperlukan
penanganan pasca panen yang benar [9], agar sesampainya di tangan konsumen tomat tetap dalam keadaan
segar dengan warna yang menarik. Beberapa pihak melakukan penanganan pasca panen yang tidak wajar
dengan melakukan pengawetan menggunakan bahan berbahaya seperti formalin. Formalin sangat berbahaya
bagi tubuh. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi
alergi dan bahaya kanker pada manusia.

Pengembangan metode pencitraan spekel dapat diaplikasikan pada buah tomat untuk melihat apakah
buah tomat tersebut berformalin atau tidak dengan prinsip hamburan cahaya laser yang ditembakkan pada buah
tomat sehingga didapatkan pola spekel dari buah tersebut. Analisis terhadap perubahan pola spekel diperoleh
nilai kontras yang dapat digunakan untuk membedakan buah tomat berformalin dengan tidak berformalin.


2. DASAR TEORI

Pola spekel merupakan pola distribusi intensitas dengan variasi acak dalam indeks bias yang teramati
ketika berkas laser melalui obyek medium atau permukaan medium bahan, yang digunakan untuk mendapatkan
informasi fisis tentang suatu bahan atau permukaan suatu bahan [3]. Medan cahaya pada suatu titik P di dalam
ruang (x,y,z) suatu pola spekel harus merupakan penjumlahan dari sejumlah besar N komponen, yang
merupakan kontribusi dari semua titik pada permukaan hamburan [3]. Pada pencahayaan dengan menggunakan
cahaya monokromatik dan cahaya terpolarisasi sepenuhnya, kontribusi untuk medan pada titik P yang
dihasilkan oleh berbagai elemen permukaan j, diberikan oleh :

j j
ikr
j
i
j j
e u e u P u

) ( (1)

r
j
adalah jarak (variasi acak) dari elemen hamburan permukaan ke j pada titik P. Amplitudo kompleks dari
medan hamburan pada titik P dapat ditulis sebagai

j j
ikr
N
j
j
N
j
i
j
N
j
j
e u
N
e u
N
P u
N
P U



1 1 1
1 1
) (
1
) (

(2)

Penjumlahan dalam (Persamaan 2) dapat dianggap sebagai cara acak dalam bidang kompleks, dengan fase acak
j j
kr .

Goodman telah menunjukkan bahwa bagian riel dan imajiner dari medan resultan adalah asimtotik
Gaussian [10,11]. Fungsi densitas probabilitas bersama diberikan oleh

Harmadi, dkk./ Pendeteksian Formalin Pada Buah Tomat . SFA 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 97
1
]
1

2
2 ) ( 2 ) (
2
) ( ) (
,
2
) ( ) (
exp
2
1
) , (

i r
i r
i r
U U
U U p (3)

Dikenal sebagai Circular Gaussian, dimana

N
j
j
N
u
1
2
2
2
lim (4)

Dari Persamaan 3, dan dengan mempertimbangkan bahwa intensitas I dan fase medan resultan terkait dengan
bagian riel dan imajiner dari medan sesuai dengan :



sin
cos
) (
) (
I U
I U
i
r
(5)

Mengikuti bahwa densitas probabilitas dari intensitas p(I) dan probabilitas dari fase p(), diberikan oleh :

I
I
e
I
I p

1
) ( untuk 0 I (6)
dan
2
1
) ( p untuk (7)

Secara berturut-turut di dalam Persamaan 6, I adalah nilai rata-rata intensitas pada diagram spekel. Menurut
dua persamaan terakhir tersebut, distribusi intensitas mengikuti hukum eksponensial negatif, sedangkan fase
terdistribusi secara seragam dalam interval ) , ( .

Distribusi intensitas beberapa saat didefinisikan sebagai :

( )
n n
n
I n n I ! 2 !
2
(8)

dan khusus pada saat orde kedua dinyatakan

2
2
2 I I dan
2 2
2 2
I I I
I
(9)

Persamaan ini menunjukkan bahwa standar deviasi dari pola spekel terpolarisasi sama dengan nilai rata-rata
intensitas. Ukuran umum dari tingkat modulasi pola spekel disebut dengan kontras, yang didefinisikan sebagai :

I
C
I

(10)

Dimana I adalah nilai rata-rata intensitas,
I
adalah standar deviasi dari intensitas, dan C adalah kontras
spekel, dan ketika rasio (perbandingan) adalah 1 maka pola disebut memiliki kontras maksimum [3].



Harmadi, dkk./ Pendeteksian Formalin Pada Buah Tomat . SFA 2013

98 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
3.METODOLOGI PENELITIAN

Pengujian pada sampel buah tomat menggunakan metode pencitraan spekel dengan prinsip hamburan
cahaya laser. Menurut Goodman (2007) [12] ketika berkas koheren yang berasal dari sinar laser dikenakan pada
permukaan bahan, maka terbentuklah pola interferensi yang khas dalam bentuk suatu granular (butiran)
bernama spekel.

Pencitraan spekel digunakan untuk mendeteksi formalin pada buah tomat, dengan menggunakan sumber
laser continous wave (CW) dari laser He-Ne. Sumber cahaya laser He-Ne yang diaplikasikan pada bahan
bersifat tidak merusak (nonperturbing) atau tidak memberikan efek nyata terhadap sampel. Susunan rancangan
peralatan yang digunakan untuk mengamati pola spekel dapat dilihat pada Gambar 1 .

Gambar 1. Susunan peralatan untuk pengamatan pola spekel pada buah tomat

Pola spekel didapat dengan menggunakan perangkat yang terdiri dari sumber laser He-Ne dengan =
632,8 nm berdaya keluaran 0,8 mW, sensor kamera CCD 30 fps seri A4tech model PK-836F dan PC (Personal
Computer) dengan software Ulead VideoStudio-7 sebagai komponen display visual untuk merekam dan
menampilkan pola spekel.

Perlakuan sampel buah tomat yang diamati pola spekelnya adalah sebelum dan sesudah perendaman
dengan larutan formalin. Perendaman dengan larutan formalin dilakukan dengan variasi konsentrasi 0,5%, 1%,
2%, 3%, selama 15 menit dan 30 menit. Pola spekel kemudian diolah dengan menggunakan software ImageJ,
sehingga dapat ditentukan nilai kontras spekel dari sampel buah tomat tersebut. Sebagai pembanding dilakukan
juga pengamatan dengan mikroskop optik stereo Carton SPZT50 untuk melihat struktur permukaan buah tomat
sebelum dan setelah direndam formalin. Pengamatan dilakukan dengan perbesaran 50 kali.

4. HASIL DAN DISKUSI

Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh bentuk pola spekel dari pencitraan spekel buah tomat
yang berformalin dengan yang tidak berformalin. Pola spekel yang dihasilkan berupa pola gelap dan terang
yang merupakan hamburan acak dari buah tomat yang disinari laser dan hamburan balik tersebut ditangkap
detektor. Berdasarkan hasil pengamatan pola spekel yang dipaparkan pada Gambar 2 (dalam skala keabu-
abuan), terlihat secara umum bintik gelap dan terang terjadi dengan frekuensi kemunculan berbeda, dimana
bintik gelap jauh lebih banyak daripada bintik terang.
Harmadi, dkk./ Pendeteksian Formalin Pada Buah Tomat . SFA 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 99

Gambar 2. Perbandingan pola spekel terhadap variasi konsentrasi dan waktu perendaman

Hasil pengamatan pola spekel citra sampel yang telah diperoleh, diproses menggunakan software ImageJ
untuk mendapatkan karakterisasi histogram distribusi intensitas tingkat keabu-abuan pada kondisi sebelum dan
setelah direndam formalin. Analisis secara statistik menggunakan karakteristik histogram menampilkan
distribusi intensitas tingkat keabu-abuan citra yang bervariasi di setiap titik dalam citra, sehingga dapat
ditentukan nilai rata-rata intensitas <I> dan simpangan baku intensitas
I
yang merupakan ukuran variasi
simpangan intensitas dari keseluruhan citra tersebut. Berdasarkan perolehan nilai rata-rata intensitas dan
simpangan baku intensitas keseluruhan citra, maka dapat ditentukan kuantitas citra dalam bentuk kontras spekel
C, yang merupakan rasio antara simpangan baku intensitas
I
dengan nilai rata-rata intensitas <I>. Secara
keseluruhan diperoleh perubahan nilai kuantitas citra pola spekel dalam bentuk kontras spekel sampel buah
tomat. Nilai kuantitas ini dilakukan pada kondisi sebelum dan setelah direndam formalin dengan konsentrasi
tertentu dan variasi waktu perendaman.
Harmadi, dkk./ Pendeteksian Formalin Pada Buah Tomat . SFA 2013

100 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Gambar 3. Nilai kontras spekel sampel buah tomat sebelum direndam dengan formalin

Niai kontras spekel buah tomat sebelum direndam formalin berkisar 0.382873 a.u, 0.384283a.u,
0.383769 a.u, 0.382369 a.u. Sedangkan setelah direndam formalin dengan variasi konsentrasi selama 15 menit
nilai kontras tomat berkisar 0.341931 a.u, 0.341383 a.u, 0.336946 a.u, 0.335523 a.u, ketika direndam selama 30
menit nilai kontras berkisar 0.330686 a.u, 0.328041 a.u, 0.315479 a.u, dan 0.310615 a.u.

Secara umum pada sampel buah tomat terjadi perubahan nilai kontras spekel sebelum dan setelah
direndam dengan formalin, dimana nilai kontras spekel setelah direndam formalin mengalami penurunan
dibandingkan dengan nilai kontras sebelum direndam formalin. Pada Gambar 4 diperlihatkan pengaruh
konsentrasi dan variasi waktu perendaman terhadap nilai kontras.


Gambar 4. Nilai kontras spekel sampel buah tomat setelah direndam formalin dengan variasi konsentrasi dan
waktu perendaman

Penurunan nilai kontras secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 5. Secara keseluruhan
menunjukkan perubahan nilai kontras spekel terhadap variasi konsentrasi dan waktu perendaman. Setiap
perubahan konsentrasi memperlihatkan perubahan nilai kontras spekel citra yang dihasilkan.
Harmadi, dkk./ Pendeteksian Formalin Pada Buah Tomat . SFA 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 101

Gambar 5. Perubahan nilai kontras terhadap variasi konsentrasi dan waktu perendaman

Pada konsentrasi kecil nilai kontras tidak terlalu berpengaruh tetapi semakin tinggi konsentrasi formalin
nilai kontras semakin turun, sedangkan dengan penambahan waktu perendaman nilai kontras cenderung semakin
turun untuk setiap variasi konsentrasi. Hal ini juga ditunjukkan dengan arah regresi yang semuanya negatif.
Nilai regresi mengindikasikan semakin lama perendaman, nilai kontras semakin turun.

Secara umum pengamatan kontras spekel jika dikaitkan dengan keberadaan formalin pada buah tomat,
menunjukkan bahwa formalin terdeteksi dengan perubahan kontras spekel pada tomat tersebut. Buah tomat
yang mengandung formalin memiliki nilai kontras yang kecil dibandingkan dengan buah tomat tanpa formalin,
karena adanya lapisan yang terbentuk setelah direndam formalin. Semakin tebal lapisan nilai kontras akan
semakin kecil.


Gambar 6. Pengamatan permukaan buah tomat dengan mikroskop optik

Lapisan pada permukaan yang terbentuk setelah direndam formalin diperlihatkan pada Gambar 6. Jika
penambahan konsentrasi dan lama perendaman dihubungkan dengan nilai kontras spekel maka dapat
disimpulkan bahwa dengan bertambahnya konsentrasi dan lama perendaman berbanding terbalik dengan nilai
kontras spekel yang dihasilkan.
Harmadi, dkk./ Pendeteksian Formalin Pada Buah Tomat . SFA 2013

102 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
5. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka diperoleh beberapa kesimpulan yaitu pola spekel sampel buah tomat
dapat dihasilkan dengan menggunakan metode pencitraan spekel. Nilai kontras spekel buah tomat dapat
digunakan untuk membedakan buah tomat tanpa formalin dengan buah tomat berformalin. Nilai kontras buah
tomat berformalin lebih kecil dibanding dengan nilai kontras tanpa formalin. Konsentrasi larutan formalin dan
lama perendaman berbanding terbalik dengan nilai kontras spekel yang dihasilkan, semakin tinggi konsentrasi
dan waktu perendaman, nilai kontras akan semakin kecil.

6. DAFTAR ACUAN
[1] Selb J., Leveque F.S., Lionel P., and Boccara A.C., (2001), 3D Acousto-Optic Modulated-Speckle
Imaging in Biological Tissues, Appl. Phys. Biophys. C. R. Acad. Sci. Paris, t.2, serie IV, p.1213-1225.
[2] Leveque F.S., Juliette S., Lionel P., and Albert C.B., (2001), In Situ local Tissue Characterization and
Imaging by Backscattering Acousto-optic Imaging', Elsevier Science, Opt. Comm., 196 : 127-131.
[3] Rabal H. J., and Braga R.A., (2009), Dynamic Laser Speckle and Applications, Optical science and
engineering : 139, Taylor & Francis Group, LLC.
[4] Tamaki, Araie, Kawamoto, Eguchi, and Fujii, (1994), Non-Contact, Two Dimensional Measurement of
Retinal Microsirculation Using Laser Speckle Pfenomenon, Invest. Opt. Mol. Vis. Sci. 35 ; pp 3825-34.
[5] Vo-Dinh T., (2003), Biomedical Photonics Handbook, CRC Press, New York.
[6] Li Nan, Tong S., Ye D., Shun, and Thakor, (2005), Cor tical Vascular Blood Flow Patter n by Laser
Speckle Imaging, Biomedical Engnineering Departement, Jhons Hopkins School of Medicine,
Baltimore.
[7] Harmadi, Yudoyono G., Rubiyanto A., Zainuddin M., dan Suhariningsih, (2012), Analisis Pola Spekel
Akusto-Optik untuk Pendeteksian Vibrasi Akustik Pada Dental Plaque Biofilm, J. Fis. dan Apl., Vol. 8,
No.1 : 1201021-1201026.
[8] Setyabudi A.D., Winarti C., Risfaheri., (2008), Perlunya Standar Mutu Buah Impor: Studi Kasus
Kontaminan Pada Buah-Buahan Impor, Prosiding Ppi Standardisasi, 25 Nov.
[9] Rahmawati IS., Hastuti ED., Darmanti S., (2011), Pengar uh Per lakuan Konsentr asi Kalsium Klor ida
(CaCl2) dan Lama Penyimpanan ter hadap Kadar Asam Askor bat Buah Tomat (Lycopersicum
esculentum Mill). Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA
UNDIP.
[10] Goodman J.W., (1976), Some Fundamental Properties of Speckle, J. Opt. Soc. Am., 66, 1145.
[11] Goodman J.W., (1984), Statistical Pr oper ties of Laser Speckle Patter ns, in Laser Speckle and
Related Phenomena, 2nd ed., Dainty, J.C., Ed., Springer Verlag, New York.
[12] Goodman J.W., (2007), Speckle Phenomena in Optic; Theor y and Application, Robert and Co.,
Englewood, Colorado.





Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 103
A DISSOLVING ROUTE IN SYNTHESIS OF HIGH PURITY
Mg
0.5
Zn
0.5
TiO
3
NANOCRYSTALS

F.U. Er mawati
1, 2
, S. Pr atapa
1
, S. Suasmor o
1

1
Physics Dept. Fac. of Mathematics and Natural Sciences,
Institute of Technology Sepuluh November (ITS) Surabaya 60111

2
Physics Dept. Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
State University of Surabaya (UNESA)
Email: frida.ermawati11@mhs.physics.its.ac.id

Abstr act
Effort to synthesize high purity Mg
0.5
Zn
0.5
TiO
3
(MZT5) nanocrystals from a dissolving route of
magnesium, titanium and zinc metal powders in hydrochloric acid is reported. Analyses due to
TGA/DTA was employed to study thermal events in the sample, XRD data and the Rietveld-
based Rietica were used to obtain information on the phase formation and its quantification
data. The role of stoichiometrically excessive Mg in the Mg:Ti molar ratio in the production of
high purity MZT5 powder was also discussed. A TEM image and particle size analyzer result
both justified nanoscale of grains size and homogeneous distribution of particle size. Findings
and evidence are presented and discussed clearly in this paper. (105 wor ds)

Keywor ds: liquid mixing method, magnesium titanate, Mg
0.5
Zn
0.5
TiO
3
, nanocrystals.

1. Introduction

Ilmenite MgTiO
3
has many interesting applications, in particular with regards to their dielectric
properties mainly due to high dielectric constant, low dielectric loss and near zero coefficient of resonance
frequency [1,2]. Those including as buffer layer materials in fabricating ferroelectric memory devices [3] and in
the production of multilayer ceramic capacitors [4]. The most important use of this material, however, is in
ceramics exposed to microwave frequencies [5]. Magnesium titanate is normally synthesized at relatively high
temperatures from a standard solid-state route. Such conditions generally lead to powders of relatively large and
varied grain sizes, varying impurity content and coexistence of intermediate magnesium titanate phases
MgTi
2
O
5
or Mg
2
TiO
4
[6]. Some efforts to gain phase purity have been reported [7, 8].
We reported our effort to synthesize high purity Mg
0.5
Zn
0.5
TiO
3
(abbreviated as MZT5) nanocrystals with
undetected intermediate phase, named a liquid mixing method. In this method, metal powders as starting
materials were independently and completely dissolved in a high concentrated hydrochloric acid before being
homogeneously mixed together to allow an intimate mixing. By the mixture, an easy reaction at lower
temperatures is possible and such condition leads to nanoscale of product and may cause the formation of pure
magnesium titanate with no intermediate phase.

2. Experiment

High purity (>95%) magnesium, titanium and zinc metal powder provided by Merck

were used as the


raw materials. Each powder of the recommended composition according to proper Mg:Ti molar ratio was
prepared and dissolved separately in hydrochloride acid (37%) using a stirring hotplate. To gain higher purity of
the product, stoichiometrically excessive Mg [8] with some various compositions of Mg:Ti was also examined.
Magnesium and zinc powders were stirred at room temperature (RT), each to obtain a light yellow solution and
a clear white solution. Titanium, however, was stirred at 60 C for a clear purple solution. All solutions were
then homogeneously mixed at RT and dried at 110 C. To ensure homogeneity, stirring was carried out during
drying. Agglomeration of the dried powder was removed by a manual grinding. After grinding, the product was
calcined at different temperatures. Thermal events were studied using TGA/DTA data recorded from a
TGA/DSC1 Star
e
System of Mettler Toledo from RT to 600 C with step of 10 C/min. Phase composition was
studied from CuK

X-ray diffraction data and the Rietveld-based Rietica software [9]. Nanocrystallinity of
crystallites was examined using a JEM-1400 TEM while homogeneity of particle sizes was studied by a Particle
Size Analyzer integrated with Zetasizer Nano Series Version 7.01.

F.U. Ermawati, at al./A Dissolving Route in ... SFA 2013

104 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
3. Results and Discussions

Ther mal events and phase identification
Figure 1 shows TGA/DTA curves of the dried powder of the mixture Mg-Zn-Ti solutions. Two main
mass losses were recorded in the range RT-200 C and 400-500 C, respectively. In between, however, the loss
is minor. The first main loss corresponds to emission of 4 mol H
2
O gas from MgCl
2
6H
2
O while the second suits
to release of 1 mol HCl gas presumably from Mg
0.5
Zn
0.5
(OH)Cl. Meanwhile, in between RT-200 C, the DTA
curve shows several minor thermodynamic events that unfortunately cannot be detected by XRD but clearly
suggests dynamic reactions exist in the sample; in between 400-500 C, however, the DTA records an important
endothermic peak that most probably matches to the formation of the desired Mg
0.5
Zn
0.5
TiO
3
phase initiated at
420 C. Above 500 C, the TGA curve horizontally flat meaning that no further mass loss takes place and hence
the formation of the Mg
0.5
Zn
0.5
TiO
3
is complete.



















The XRD patterns of the calcined MZT5 powders at 600 C for 2h with proper Mg:Ti molar ratio and
with stoichiometrically excessive Mg at different amount are given in Fig.2. It is clear that Mg
0.5
Zn
0.5
TiO
3

(PDF#6-494), rutile (12-1276) and periclase (45-0946) are the only phases present in all compositions and no
intermediate MgTi
2
O
5
or Mg
2
TiO
4
phase is detected. MZT5 is also the dominant phase in all samples. These
findings also suggest that the synthesis route employed in this work can potentially offer no intermediate and
disadvantageous magnesium titanate phases in the final product. The excessive Mg in the Mg:Ti molar ratio
seemingly plays an important role in the formation of high purity MZT5 sample.

The role of stoichiometrically excessive Mg and calcination temperatures
Some interesting remarks on the influence of excessive Mg can be drawn from Fig.2. First, without
excessive Mg, a relative weight fraction of periclase as small as 0.1% but visible is detected at 2=42.5 in the
spectrum labeled 1.00:1.00. The amount of wt% gradually vanished when an extra amount of Mg is added into
the system. Second, rutile of more than 30 wt% is also identified in the spectrum with no extra Mg. The
significant wt% amount is considerably reduced to 13.5% in the 1.21:1.00 spectrum, to 10.8% in the 1.23:1.00
and to 11.7% in the 1.25:1.00 (Fig.3). It is therefore advantageous to select the Mg:Ti molar ratio of 1.23:1.00
for the rest experiments.

Further investigation on the effect of excessive portion of Mg in Mg:Ti molar ratio was carried out by
varying calcination temperatures from 500-800 C for 2 h in the MZT5 powders (Fig.4). As shown, the desired
MZT5 phase was formed at the temperature as low as 500 C though a tiny amount but visible of a rutile peak at
2=27.5 accompanying it. Two MZT5 satellite peaks at 2=19.0 and 21.3 unfortunately were not formed yet
at that temperature. XRD patterns at higher temperatures of 550, 600, 700 and 800 C found that only the
spectrum with labeled 550 C exhibits all MZT5 peaks with only small fraction of a rutile peak at 2=27.5. The
Rietveld analysis using Rietica for the 550 C sample also gave relative weight fraction for MZT5 and rutile of
around 97.5 and 2.5%, respectively. In contrast, patterns at 600 C and higher show additional rutile peaks at
2=36.0, 41.2 and 54.3. A small but noticeable periclase peak at 2=42.5 in fact is also recorded at the pattern

Fig.1: TGA/DTA curves of the dried powder of a mixed
solution Mg-Zn-Ti dissolved in hydrochloric acid.
Fig.2: XRD patterns of MZT5 without and with different
stoichiometrically excessive Mg with respect to Ti and that was
calcined at 600 C for 2h. M=Mg0.5Zn0.5TiO3, R=TiO2 rutile and
P=MgO periclase.
F.U. Ermawati, at al./A Dissolving Route in ... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 105
at 800 C. These results obviously explain the role of excessive Mg and calcinations temperature on the
formation of high purity MZT5.




















Par ticle size distribution and nanosize of cr ystallites.
Broadened peaks of the spectra recorded at 500 and 550 C in Fig.4 suggest that the MZT5 phase is
indeed present in nanometric crystallite size. Fig. 5 shows a particle size distribution in MZT5 sample calcined
at 550 C for 2h. The size is distributed in a log-normal single-mode from 91 to 531 nm, the average size is 212
nm with deviation of around 9%. Based on the fact that the distribution curve is single mode and the deviation
of the average size is small, it can be concluded that particles in MZT5 are homogeneously distributed.

Fig. 6 depicts a bright field TEM image of crystallite sizes and morphology taken from the same sample.
Circle and tapering shape of crystallites are distributed with diameter ranging from 20 to 80 nm. Based on the
particle size distribution data above, we therefore concluded that the particles in MZT5 consist of 4-5
crystallites.





















4. Conclusion

Synthesis of high purity Mg
0.5
Zn
0.5
TiO
3
nanocrystals with no intermediate magnesium titanate phase are
successfully demonstrated via the liquid mixing method. Particles consist of 4-5 crystallites are distributed
homogeneously in the sample with the average size of 212 nm.



Fig.3: Relative weight fraction due to Rietveld-based Rietica
of Mg0.5Zn0.5TiO3, TiO2 rutile and MgO periclase phases
found in MZT5 powders calcined at 600 C for 2h as a
function of portion of Mg in Mg:Ti molar ratio.
Fig.4: XRD patterns of MZT5 powders synthesized from 1.23:1.00 molar
ratio of Mg:Ti and calcined at different temperatures for 2 h.
M=Mg0.5Zn0.5TiO3, R=TiO2 rutile and P=MgO periclase.
Fig.5: Distribution of particle sizes of MZT5 powder contains
1.23 portion of Mg in Mg:Ti molar ratio and calcined at 550 C
for 2h as a function of intensity.
Fig.6: A TEM image of MZT5 powder contains 1.23 portion of
Mg in Mg:Ti molar ratio and calcined at 550 C for 2h.

F.U. Ermawati, at al./A Dissolving Route in ... SFA 2013

106 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Refer ences

1. Ferreira, V. M. and J. L. Baptista (1994). "Preparation and microwave dielectric properties of pure and
doped magnesium titanate ceramics." Materials Research Bulletin 29(10): 1017-1023.
2. Pan, C.-L., C.-H. Shen, et al. (2010). "Characterization and dielectric behavior of a new dielectric
ceramics MgTiO
3
-Ca
0.8
Sr
0.2
TiO
3
at microwave frequencies." Journal of Alloys and Compounds 503(2):
365-369.
3. Ferreira, V., J. Baptista, et al. (1993). "Dielectric-spectroscopy or MgTiO
3
-based ceramics in the 10
9
-
10
14
Hz region " Journal of Materials Science 28(21): 5894 - 5900
4. Bernard, J., D. Houivet, et al. (2004). "MgTiO3 for Cu base metal multilayer ceramic capacitors."
Journal of the European Ceramic Society 24(6): 1877-1881.
5. Huang, C.-L. and K.-H. Chiang (2007). "Structures and dielectric properties of a new dielectric
material system xMgTiO
3
(1x)MgTa
2
O
6
at microwave frequency." Journal of Alloys and Compounds
431(12): 326-330.
6. Zhou, X., Y. Yuan, et al. (2007). "Synthesis of MgTiO
3
by solid state reaction and characteristics with
addition." Journal of Materials Science 42(16): 6628-6632.
7. Abothu, I. R., A. V. Prasada Rao, et al. (1999). "Nanocomposite and monophasic synthesis routes to
magnesium titanate." Materials Letters 38(3): 186-189.
8. Sreedhar, K. and N. R. Pavaskar (2002). "Synthesis of MgTiO
3
and Mg
4
Nb
2
O
9
using stoichiometrically
excess MgO." Materials Letters 53(6): 452-455.
9. Hunter, B. (1998). Rietica - A visual Rietveld program. Newsletter of International Union of
Crystallography. Commission on Powder Diffraction. 20.





Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 107
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SERBUK BAJA FERITIK ODS
(OXIDE DISPPERSION STRENGTHENED) MA957
DENGAN VARIASI WAKTU MILLING


Fitr iani Tr esnaputr i
1
dan Abu Khalid Rivai
2


1
Jurusan Teknik Material Dan Metalurgi ITS Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Sukolilo, Surabaya 60111
2
Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir BATAN Badan Tenaga Nuklir Nasional
Kawasan PUSPIPTEK Gedung 71 Tangerang Selatan Banten, Indonesia
Email: fitriani.tresnaputri@yahoo.com, rivai.abukhalid@batan.go.id


Abstrak

Baja Oxide Dispersion Strengthened (ODS) merupakan salah satu jenis baja maju yang
dikembangkan dengan teknik powder metallurgy dan mechanical alloying. Dengan teknik ini,
partikel oksida seperti Y
2
O
3
disebar secara merata di dalam matriks yang berfungsi sebagai
pusat penjepit (pinning center) untuk menahan gangguan sehingga meningkatkan properti
mekanik. Baja ODS dikembangkan untuk aplikasi pada sistem dengan temperatur tinggi seperti
untuk material reaktor nuklir fisi maju (Generation IV reactors) dan reaktor nuklir fusi. Pada
penelitian ini telah dilakukan sintesis dan karakterisasi serbuk baja feritik ODS. Sintesis
dilakukan dengan menggunakan serbuk Fe, Cr, Ti, Mo, dan Y
2
O
3
dengan komposisi persen
berat sama dengan baja ODS MA957 yaitu berturut turut 84,45:14:1:0,3:0,25. Serbuk
serbuk tersebut di-milling menggunakan HEM (High Energy Milling) selama 10, 40 dan 100
jam dengan perbandingan bola dan serbuk adalah 5:1. Pada tabung vial yang berisi bola baja
dan serbuk tersebut ditambahkan larutan toluena untuk menghindari oksidasi pada saat proses
milling. Hasil pemaduan mekanik ini kemudian dikarakterisasi menggunakan XRD (X-ray
Diffraction) spectroscope dan SEM-EDS (Scanning Electron Microscope Energy Dispersive
Spectroscope). Hasil karakterisasi SEM-EDS menunjukkan bahwa adanya kecenderungan
pengecilan ukuran serbuk dengan bertambahnya waktu milling. Fenomena ini diperkuat dengan
hasil analisis XRD yang menunjukkan bahwa semakin lama waktu milling terjadi penurunan
puncak dan pelebaran spektrum akibat pengecilan ukuran partikel dan kristal.

Kata kunci: Baja, ODS, powder metallurgy, mechanical alloying, High Energy Milling


1. PENDAHULUAN

Saat ini perkembangan sektor perekonomian dan perindustrian di Indonesia memiliki kecenderungan
yang positif. Hal ini tentunya berakibat pada peningkatan pada kebutuhan akan energi yang salah satu sumber
energi yang belum dimanfaatkan adalah energi nuklir. Selain itu, terkait dengan efisiensi proses industri maka
kebutuhan sistem operasi pada temperatur tinggi akan semakin meningkat. Terkait hal tersebut, maka kebutuhan
akan material untuk aplikasi pada temperatur tinggi akan meningkat di Indonesia seperti halnya kecenderungan
di dunia pada umumnya. Salah satu material temperatur tinggi yang dikembangkan di dunia adalah baja ODS
(oxide dispersion strengthened). Baja ODS merupakan salah satu jenis baja maju yang dikembangkan dengan
teknik powder metallurgy dan mechanical alloying. Baja ODS dikembangkan untuk aplikasi pada sistem dengan
temperatur tinggi seperti untuk material kelongsong bahan bakar dan struktur reaktor nuklir fisi maju
(Generator IV reactors) dan material struktur reaktor nuklir fusi [1]. Pada aplikasi lainnya baja ODS ini
dikembangkan untuk material interconnect SOFC (Solid Oxide Fuel Cell) [2], material struktur pembangkit
listrik tenaga fosil temperatur tinggi [3] serta instalasi kimia temperatur tinggi [4]. Karakteristik utama baja
Fitriani T / Sintesis dan Karakterisasi Serbuk Baja Feritik ODS SFA 2013

108 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
ODS adalah adanya sebaran partikel-partikel oksida berukuran nano-meter di dalam matriks melalui proses
mechanical alloying. Partikel-partikel oksida ini berfungsi sebagai pusat penjepit (pinning center) untuk
menahan gangguan seperti deformasi pada saat baja ODS digunakan pada temperatur tinggi. Baja ODS telah
dikembangkan skala industri di dunia baik jenis feritik maupun austenitik. Di antara baja ODS komersil yang
telah dikembangkan, baja ODS feritik MA957 memiliki properti mekanik yang baik bila dibandingkan dengan
baja ODS feritik lainnya yaitu MA956 dan PM2000 [5].

Dalam rangka mempersiapkan dan meningkatkan kemandirian bangsa maka perlu dilakukan penelitian
dan pengembangan material temperatur tinggi baja ODS. Sebagai bagian dari langkah penguasaan teknologi
pembuatan baja ODS, dalam penelitian ini dilakukan sintesis pembuatan baja ODS dengan komposisi persen
berat bahan penyusun sama dengan MA957. Sintesis dilakukan dengan menggunakan serbuk Fe, Cr, Ti, Mo,
dan Y
2
O
3
dengan komposisi persen berat adalah berturut-turut 84,45:14:1:0,3:0,25. Sintesis dilakukan dengan
menggunakan HEM (High Energy ball Milling) dengan variasi waktu milling. Tujuan penelitian ini adalah
untuk meneliti karakteristik serbuk baja ODS MA957 hasil mechanical alloying yang dilakukan dengan variasi
waktu 10, 40, dan 100 jam.


2. DASAR TEORI

Baja Oxide Dispersion Strengthened (ODS)
Baja ODS merupakan baja yang dikembangkan untuk penggunaan pada temperatur tinggi. Daya tahan baja
ODS terhadap temperatur tinggi diperoleh dengan partikel terdispersi. Ada pun metode yang digunakan
untuk mensintesis baja ODS yang sampai saat ini dikembangkan adalah menggunakan mechanical alloying
dan powder metallurgy. Terdapat beberapa jenis baja ODS yang dikembangkan yaitu ODS austenitik dan
ODS feritik. Baja ODS austenitik merupakan baja Fe-Cr yang dikembangkan dengan salah satu unsur
pemadu adalah logam nikel (Ni) sekitar 8% untuk membentuk fasa gamma ( ) sehingga memiliki struktur
kristal FCC (Face-Centered Cubic). Material ini digunakan diantaranya sebagai material mata pisau yang
digunakan pada turbin gas. Sedangkan baja ODS feritik merupakan baja Fe-Cr yang dikembangkan tanpa
unsur pemadu logam nikel sehingga memiliki fasa alpha ( ) dengan struktur kristal BCC (Body-Centered
Cubic). Baja ODS feritik ini dikembangkan untuk penggunaan ruang turbin, sensor dan pemanas dengan
temperatur tinggi, komponel mesin diesel, serta komponen sistem energi konversi lanjut [6]. Pada penelitian
ini yang dikembangkan adalah baja ODS ferritik.

Par tikel Oksida
Partikel oksida merupakan partikel keramik berukuran nano-meter yang didispersikan pada baja ODS.
Penggunaan partikel oksida ini didasari pada titik lelehnya yang tinggi yaitu di atas logam penyusun baja
sehingga terbentuk komposit pada baja ODS. Tujuan dari penambahan partikel ini adalah sebagai penahan
agar tidak terjadi deformasi ketika baja ODS diaplikasikan pada temperatur yang tinggi. Umumnya (Al
2
O
3
),
titania (TiO
2
), thoria (ThO
2
), yttria (Y
2
O
3
), lanthana (La
2
O
3
) dan beryllia (BeO) digunakan sebagai partikel
yang didispersikan [7]. Namun perkembangan saat ini untuk paduan Oxide Dispersion Strengthened (ODS)
partikel oksida Y
2
O
3
digunakan karena paling tahan terhadap temperatur tinggi [8].

Baja ODS MA957
MA 957 adalah baja feritik Oxide Dispersion Strengthened (ODS) komersil yang berbahan dasar besi (Fe).
MA 957 memiliki unsur paduan kromium, titanium, molibdenum, serta yttria sebagai stabilizer. Baja ODS
komersial MA 957 memiliki komposisi Fe-14Cr-1Ti-0.3Mo-0.25Y
2
0
3
.

MA957 memiliki mikrostruktur yang kompleks dengan butir yang sangat halus, densitas dislokasi yang
tinggi, sub-ukuran struktur sel, serta bermacam macam tipe presipitasi akibat penambahan partikel yttria
oksida [9].

Fitriani T / Sintesis dan Karakterisasi Serbuk Baja Feritik ODS SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 109
Mechanical Alloying
Mechanical alloying merupakan suatu proses yang melibatkan perulangan welding, fracturing, serta re-
welding dari partikel serbuk yang dilakukan di dalam suatu ball mill energi tinggi [1]. Terdapat beberapa
teknik sintesis baja ODS sebelumnya, yaitu, teknik pencampuran sederhana, teknik pengapian lapisan, teknik
oksidasi internal, serta proses reduksi selektif. Namun keempatnya dinilai belum mampu mensintesis baja
ODS [10]. Kemudian diperkenalkan metode mechanical alloying yang dinilai mampu untuk mensintesis
bermacam macam fasa baik fasa ekuilibrium maupun non-ekuilibrium dari unsur unsur yang dicampur
(prealloyed powders) [1]. Adapun cara kerja dari pemaduan mekanik ini adalah memecah, deformasi,
kemudian menumbuk partikel. Proses penumbukan partikel ini bertujuan untuk menghaluskan partikel
sebelum nantinya dipadatkan. Pada proses penghalusan (milling) nantinya akan terdapat empat tipe kejadian
yang terjadi, yaitu penumbukan (impact), atrisi (attrition), gesekan (shear), serta kompresi atau pemadatan.


3. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilakukan dengan menggunakan serbuk Fe, Cr, Ti, Mo, dan Y
2
O
3
dengan komposisi persen
berat sama dengan baja ODS MA 957 komersil yaitu 84,45:14:1:0,3:0,25 untuk komposisi berat Fe, Cr, Ti, Mo,
dan Y
2
O
3
berturut turut. Bola milling yang digunakan terbuat dari baja dengan ukuran diameter 8 mm.
Perbandingan bola dan serbuk yang digunakan adalah 5:1. Serbuk dimasukkan ke dalam vial stainless steel
bersamaan dengan bola milling, kemudian ditambahkan larutan toluena sebanyak 10 ml. Penambahan toluena
bertujuan sebagai PCA (process control agent) untuk menghindari terjadinya oksidasi pada saat proses
mechanical alloying berlangsung. Vial yang berisi serbuk dan bola di-milling menggunakan HEM 700i dengan
kecepatan 1000 rpm selama 10, 40, dan 100 jam. Ada pun proses mechanical alloying dilakukan menggunakan
HEM tanpa injeksi gas luar. Serbuk hasil mechanical alloying kemudian dikeringkan dan dikarakterisasi
menggunakan XRD Shimadzu serta SEM-EDS JEOL SM-6510LA. Proses sintesis dan karakterisasi dilakukan
di Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir BATAN Puspiptek Tangerang.

4. HASIL DAN DISKUSI

Karakterisasi XRD serbuk MA 957 hasil milling selama 10, 40 dan 100 jam ditunjukkan oleh Gambar 1.
Serbuk hasil mechanical alloying selama 10 jam menunjukkan puncak tunggal yang tajam. Puncak puncak
yang terdeteksi didominasi oleh unsur Fe dan Cr. Sedangkan pada serbuk MA 957 40 jam hanya mengalami
sedikit penurunan puncak. Namun terlihat adanya pelebaran spektrum. Hal ini disebabkan oleh mechanical
alloying berhasil mereduksi ukuran kristalin dan juga oleh penurunan ukuran partikel [11]. Secara umum fasa
yang terdeteksi pada serbuk 40 jam sama dengan serbuk MA 957 10 jam.
Serbuk MA 957 100 jam menunjukkan hasil yang menunjukkan kecenderungan ke arah amorf karena puncak
Fe serta Cr yang masih muncul pada 40 jam telah menurun drastis serta kemudian membentuk fasa FeC serta
FeMo. Amorfisasi pada mechanical alloying lazim terjadi bila waktu milling yang lama digunakan, seperti pada
serbuk MA 957 100 jam [1]. Terdeteksi juga terbentuknya fasa Cr
3
C
2
pada puncak yang lain. Semakin lama
waktu milling yang digunakan dapat merujuk terhadap pembentukan struktur yang amorf seperti yang
ditunjukkan pada serbuk hasi mechanical alloying selama 100 jam. Terbentuknya fasa lain seperti Cr
3
C
2

menunjukkan bahwa selama mechanical alloying telah terdapat kontaminasi yang juga mempengaruhi
terbentuknya karbida.

Fitriani T / Sintesis dan Karakterisasi Serbuk Baja Feritik ODS SFA 2013

110 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

(a)



(b)

Gambar 1. Grafik XRD serbuk hasil pemaduan mekanik selama 10, 40 dan 100 jam
(a) masing-masing spektrum (b) disatukan

Hasil karakterisasi SEM serbuk MA 957 menunjukkan bahwa pada serbuk MA 957 10 jam masih belum
dapat dikatakan homogen. Selain karena ukuran antarpartikel yang masih belum sama, penyebaran komposisi
serbuk awal pun masih belum merata. Dapat dilihat pada gambar 2a, partikel pada serbuk MA 957 10 jam
sebagian masih menunjukkan bentuk aslinya, namun terdapat pula partikel yang menempel satu sama lain.
Partikel ini bukanlah aglomerasi, karena masih terdapat pada proses awal mechanical alloying sehingga pada
tahap ini serbuk masih mengalami proses welding. Hal yang berbeda ditunjukkan pada serbuk MA 957 40 jam.
Dapat dilihat pada gambar bahwa ukuran antarpartikel membesar. Hal ini disebabkan oleh proses welding dan
re-welding yang terus menerus terjadi selama 40 jam seperti yang ditunjukkan pada gambar 2b. Pada serbuk MA
957 40 jam ini pun serbuk masih belum dapat dikatakan homogen karena penyebaran komposisi serbuk awal
pada tiap partikel masih belum merata. Serbuk yang homogen baru didapat setelah proses mechanical alloying
selama 100 jam. Ukuran serbuk yang dihasilkan lebih kecil dari serbuk MA 957 40 jam. Aglomerasi terjadi
karena selama rentang 100 jam serbuk mengalami proses welding serta refracturing sehingga dapat dilihat
bahwa terdapat serbuk yang ukurannya sudah halus, namun juga terdapat serbuk yang teraglomerasi, seperti
yang ditunjukkan pada gambar 2c. Lamanya waktu milling pada rentang waktu lebih dari 50 jam akan membuat
terjadinya partikel mengalami aglomerasi [12].


Fitriani T / Sintesis dan Karakterisasi Serbuk Baja Feritik ODS SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 111

Gambar 2. Morfologi serbuk MA 957 (a) 10 jam, (b) 40 jam, dan (c) 100 jam

Detektor EDS mendeteksi adanya unsur O serta C pada ketiga sampel serbuk MA 957. Hasil
karakterisasi serbuk MA 957 10 jam menunjukkan adanya kedua unsur tersebut seperti yang ditunjukkan pada
gambar 3. Namun, pada beberapa titik (point) yang diambil, tidak semuanya mengandung unsur O dan C. Lain
halnya dengan serbuk MA 957 40 dan 100 jam dimana pada setiap area maupun titik (point) terdeteksi unsur O
dan C, seperti yang ditunjukkan pada gambar 4 dan 5.


Gambar 3. Hasil karakterisasi SEM serbuk MA 957 10 jam


Fitriani T / Sintesis dan Karakterisasi Serbuk Baja Feritik ODS SFA 2013

112 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Gambar 4. Hasil karakterisasi SEM serbuk MA 957 40 jam


Gambar 5. Hasil karakterisasi SEM serbuk MA 957 100 jam

Seperti beberapa yang telah dilaporkan pada jurnal, mechanical alloying dapat menghasilkan serbuk
paduan homogen, namun proses ini juga menuntun kepada terdapatnya unsur O yang berlebih di dalam paduan,
serta terdapatnya karbida seperti pada fasa yang telah terdeteksi dari pengujian XRD [12]. Unsur O
menunjukkan bahwa pada selama proses mechanical alloying berlangsung telah terjadi oksidasi. Oksidasi ini
sebenarnya dapat dikurangi dengan penggunaan toluena sebagai PCA (Process Control Agent). Namun pada
komposisi MA 957 terdapat unsur O pada Y
2
O
3
serta unsur Ti yang reaktif sehingga oksidasi tetap tidak bisa
dihindari [1]. Penggunaan alat milling juga dapat berpengaruh terhadap terjadinya proses oksidasi, karena alat
HEM yang digunakan ber-atmosfer udara sehingga kurang dapat mencegah terjadinya oksidasi selama
mechanical alloying berlangsung. Unsur C bisa saja didapatkan dari preparasi sampel, namun carbon tape pada
preparasi sampel untuk karakterisasi menggunakan SEM juga diprediksi merupakan penyebab terdeteksinya
unsur ini pada saat sampel dikarakterisasi.

Serbuk yang di-milling selama 10, 40 dan 100 jam mengalami penurunan persen berat seperti yang
ditunjukkan pada gambar 6, yang menunjukkan bahwa selama proses mechanical alloying berlangsung serbuk
bereaksi membentuk fasa baru.

Fitriani T / Sintesis dan Karakterisasi Serbuk Baja Feritik ODS SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 113

Gambar 6. Persentase berat (%) serbuk MA 957 awal, 10, 40, dan 100 jam

Dapat dilihat dari gambar 6 bahwa terdapat perbedaan persentase berat serbuk awal, setelah milling 10
jam, 40 jam, serta 100 jam. Serbuk Fe yang pada awal terdapat sebanyak 84,5% setelah milling 10, 40, serta 100
jam persentasenya semakin menurun. Lain halnya dengan Cr, Ti, Mo, dan Y yang cenderung tetap. Adanya
unsur O yang bertambah menunjukkan bahwa selama milling berlangsung terdapat oksidasi, tidak hanya berasal
dari Y
2
O
3
. Dari data tersebut dapat diprediksi bahwa oksida yang terbentuk adalah besi oksida sehingga persen
berat besi semakin menurun dengan bertambahnya waktu milling.

5. SIMPULAN

Telah dilakukan sintesis serbuk baja ODS feritik dengan komposisi berat unsur penyusun sama dengan
baja ODS MA957 menggunakan metode mechanical alloying dengan variasi waktu milling 10, 40 dan 100 jam.
Dari analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dengan bertambahnya waktu milling maka ukuran
partikel serbuk baja ODS menjadi semakin kecil. Hasil karakterisasi SEM-EDS menunjukkan bahwa adanya
fenomena kecenderungan pengecilan ukuran serbuk tersebut. Fenomena ini diperkuat dengan hasil analisis XRD
yang menunjukkan penurunan puncak dan pelebaran spektrum akibat pengecilan ukuran partikel dan kristal
karena bertambahnya waktu milling. Selain itu, waktu milling yang terlalu lama telah membentuk aglomerasi
serta terbentuknya struktur yang amorf seperti pada hasil milling 100 jam. Lebih lanjut lagi, semakin lama
waktu milling pula akan membuat serbuk membentuk fasa fasa baru seperti FeMo dan FeC serta peningkatan
jumlah pembentukan oksida besi.

6. DAFTAR ACUAN

[1] Suryanarayana, C. (2001), `Mechanical Alloying and Milling`, Progress in Materials Science, Vol. 46,
pp: 1-184.
[2] Fergus, Jeffrey W. (2005), `Metallic interconnects for solid oxide fuel cells`, Materials Science and
Engineering A 397, Vol. 217, pp: 271283.
[3] US-DOE (2008), `United States-United Kingdom Collaboration on Fossil Energy Research and
Development, Advanced Materials-Oxide Dispersion-Strengthened Alloys` [http://us-uk.fossil.energy.
gov/Public/DECC%20task%2008.pdf] (tanggal akses 22 April 2013).
[4] US-DOE (2002), `High-Performance, Oxide-Dispersion-Strengthened Tubes For Production of
Ethylene and Other Iindustrial Chemicals, Project Fact Sheet`,
[https://www1.eere.energy.gov/manufacturing/ industries_technologies/imf/pdfs/mtu_tubes.pdf],
(tanggal akses 22 April 2013).
Fitriani T / Sintesis dan Karakterisasi Serbuk Baja Feritik ODS SFA 2013

114 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
[5] Klueh, R.L. dkk. (2005). `Oxide Dispersion-Strengthened Steels: A Comparison of Experimental and
Commercial Steels`, Journal of Nuclear Materials, Vol. 341, pp: 103 114.
[6] Dubiel, B. dkk. 1997. Mechanically Alloyed, Fer ritic Oxide Disper sion Str engthened Alloys:
Str uctur e and Pr oper ties. Faculty of Metallurgy and Materials Engineering, University of Mining and
Metallurgy: Krakow.
[7] Neikov, Oleg D. dkk. (2009), Handbook of Non-Fer r ous Metal Powder s: Technologies and
Applications. Elsevier.
[8] Swamy, V., N.A. Dubrovinskaya, dan L.S. Dubrovinsky. (1999), `High-Temperature Powder X-ray
Diffraction of Yttria to Melting Point`. Journal of Materials Research, Vol. 14, pp: 456459.
[9] Gan, Jian dan Bruce A. Hilton. 2007. TEM Examination of Advanced Alloys Ir r adiated in ATR.
Idaho National Laboratory Nuclear Fuels and Materials Division: Idaho.
[10] Soni, P.R. (2001), Fundamental and Application Mechanical Alloying. Cambridge International
Science Publishing: Inggris.
[11] Iwata, Noriyuki Y. dkk. (2007). `Effect of Milling on Morphological and Microstructural Properties of
Powder Particles for High-Cr Oxide Dispersion Strengthened Ferritic Steels`, Journal of Nuclear
Materials 367370, pp: 191195.
[12] Zinzuwadia, Mayur dkk. (2011), Char acter ization of Yitr ia Disper sed Mechanically Alloyed (ODS)
Fer ritic Stainless Steel Powder s. Department of Metallurgical and Materials Engineering, Indian
Institute of Technology Roorkee, Roorkee, India.
[13] De Castro, V, dkk. (2011), `Analytical Characterisastion of Oxide Dispersion Strengthed Steels for
Fusion Reactors`. Materials Science and Technology, Vol. 27 (4), pp: 719-723.
[14] Dai, Lei, Yongchang Liu dan Zhizhong Dong (2012), `Size and Structure Evolution of Yttria In ODS
Ferritic Alloy Powder during Mechanical Milling and Subsequent Annealing` Journal of Powder
Technology, pp: 281 287.


Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 115
BENEFESIASI BIJIH BESI DENGAN CARA FISIK
MENGGUNAKAN METODE MAGNETIC SEPARATOR

Muhammad Amin
,
Suhar to, Yayat Imam
,
M. Yunus, Agus J unaedi


UPT.Balai Pengolahan Mineral Lampung
Jl.Ir.Sutami.km.15 Tanjung Bintang Lampung Selatan
e-mail: muha047@lipi.go.id.

Abstrak
Dewasa ini kebutuhan baja dunia makin meningkat seiring meningkatnya industri secara
global, berdasarkan laporan dari Internasional Iron and Institute produksi baja dunia
meningkat dari 1.028,8 juta metrik ton pada tahun 2005 menjadi 1.120 jt ton pada tahun
2006. Untuk membuat baja bahan baku yang digunakan adalah pasir besi atau bijih besi, akan
tetapi pada pasir besi masih banyak mengandung pengotor atau berasosiasi dengan mineral
lainnya yaitu TiO2,SiO2,CaO dan lain-lain. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kadar Fe
(benefesiasi) pada pasir besi dengan cara fisik menggunakan metode magnet separator yang
berkekuatan atau medan magnet sebesar 20.000 gauss. Pada penelitian ini pasir besi
dimasukan kedalam bin sebanyak 20 kg, dicurah lalu dibawa dengan menggunakan ban
konveyer yang pada ujung konveyer tersebut telah terpasang magnet sehingga pada saat pasir
besi melalui ujung konveyer Fe yang ada pada pasir besi akan tertangkap (1x magnet) dan
diambil sample untuk dianalisa kandungan Fe sedangkan bagian pengotor dari pasir besi akan
lepas dan tertampung ditempat lain. Untuk selanjutnya pasir besi yang telah mengalami
benefesiasi 1 x tadi dimasukan kembali kedalam bin dan magnet lagi sehingga akan terpisah
lagi Fe dengan pengotor (2 x magnet) perlakuan yang sama dilakukan sebanyak 4 x magnet
pada bagian pasir besi yang sama sehingga akan terlihat nantinya kandungan Fe yang
tertinggi pada benefesiasi yang berapa kali sehingga memenuhi persyaratan untuk peleburan
besi dan baja. Setelah dilakukan 4 kali magnet pada magnetic separator maka dapat dilihat
bahwa pada benefesiasi pasir besi yang ke 4 x dengan speed/kecepatan 10 rpm didapat kadar
Fe = 59,03 % yang semula bahan baku kandungan Fe adalah 46,60 %. Dari hasil penelitian
ini dapat dikatakan bahwa benefesiasi dengan menggunakan magnetic separator cukup
efektif bila jumlah magnet ditambah dan hasil yang dicapai sangat baik dalam peningkatan
kadar Fe pada pasir besi.

Kata Kunci: Magnet separator, benefesiasipasir besi, kadar Fe, Pengotor.

1. PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah

Bijih besi/pasir besi merupakan bahan baku tambang yang sangat banyak jumlah cadangannya dan
tersebar di Indonesia Kalimantan, Sulawesi Selatan, Lampung, akan tetapi masing-masing daerah mempunyai
karakter bijih/pasir besi yang berbeda-beda sesuai dengan komposisi kimia yang terkandung di dalam bijih/pasir
besi tersebut. Pada karakter bijih/pasir besi unsur yang terpenting adalah % Fe semakin besar % Fe semakin
baik dan semakin kecil jumlah pengotor yang ada. Unsur Fe sangat penting karena semakin tinggi Fe yang ada
di pasir/bijih besi semakin mudah untuk melakukan proses peleburan nantinya dan pengotor yang dihasilkan
pun semakin sedikit. Karenanya untuk mengastasi karakter pasir/bijih besi yang berbeda tersebut harus
dilakukan benefesiasi terlebih dahulu guna menghilangkan pengotor dan meningkatkan kandungan Fe pada
pasir/bijih besi. Ada dua cara untuk melakukannya yaitu cara basah dan cara kering, cara basah yaitu dengan
jalan di plotasi dengan menggunakan alat plotaion yang menggunakan media air dan berdasarkan perbedaan
densitas maka antara pengotor dan Fe akan terpisah sedangkan cara kering yaitu dengan menggunakan alat
magnetic separator berdasarkan kekuatan medan magnet maka Fe yang terkandung pada pasir/bijih besi akan
tertangkap oleh magnet dan terpisah.





Muhammad Amin, dkk./ Benefesiai Bijih Besi dengan SFA 2013

116 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
2. DASAR TEORI
Pada bijih besi/pasir besiunsur utama pengotor yang tidak dikehendaki adalah silica dan lempung
sedangkan kapur dan magnesium dalam jumlah sedikit sehingga semua pengotor tersebut masuk dalam lumpur
dan harus dipisahkan dengan pencucian karena lumpur mudah larut dengan air dan berdasarkan perbedaan
kerapatan oksida besi dan lempung serta silica. Untuk mempermudah pencucian perlu dilakukan penggilingan
bijih besi, agar silica dapat terlepas dari struktur Kristal mineral utamanya [1].

Bijih besi laterit merupakan hasil pelapukan yang berlangsung cukup lama dari batuan ultra basa, salah
satu spesies laterit adalah bijih besi laterit yang mineral utamanya Goethite FeOOH atau Limonite Fe
2
O
3.3
H
2
O
yang mempunyai kandungan Fe = 40 58 % dan kandungan Fe ini relatif rendah belum dipakai sebagai bahan
baku pembuatan baja, untuk itu perlu dilakukan optimalisasi bijih laterit agar dapat digunakan sebagai bahan
baku besi baja dengan cara ditingkatkan kadar Fe
.
[2].

Dengan teknik magnetic separator, bijih besi/pasir besi yang kadar Fe dibawah 30 % bisa diolah secara
ekonomis menjadi 60 % [3]. Magnetic separator adalah alat yang digunakan untuk memisahkan material padat
berdasarkan sifat kemagnetan suatu bahan, alat ini terdiri dari pully yang dilapisi dengan magnet baik berupa
magnet alami atau magnet yang berada disekitar arus listrik, sehingga padatan logam akanmenempel (tertarik)
pada medan magnet oleh karena adanya garis-garis medan magnet. Medan magnet sendiri adalah ruangan
disekitar kutub magnet yang gaya tarik/tolaknya masih dirasakan magnet lain, kuat medan magnet adalah besar
gaya pada suatu satuan kuat kutub dititik itu dalam medan magnet, m adalah kuat kutub yang menimbulkan
medan magnet dalam amper meter.A.m, R adalah jarak kutub magnet sampai titik yang bersangkutan dalam
meter dan H adalah kuat medan titik itu dalam N/A.m [4].

Pengolahan bahan galian merupakan metode yang dilakukan untuk meningkatkan mutu kualitas bahan
galian terutama mineral dominannya, sedangkan yang dimaksud bahan galian adalah bijih (ore) mineral industri
atau bahan galian golongan c dan batubara. Bijih besi mineral utama adalah kandungan Fe yang dibutuhkan
dalam industry besi, akan tetapi seringkali berasosiasi dengan mineral logam lainnya sehingga perlu dilakukan
peningkatan kadar Fe dengan menggunakanalat magnetic separator. Magnetic separator adalah alat yang
digunakan untuk memisahkan material padat berdasar sifat kemagnetan suatu benda [5].

Bijih besi atau pasir besi mempunyai sifat kemagnetan yang tinggi bila dibandingkan dengan mineral
ganggu lainya, perbedaan sifat ini yang dimanfatkan untuk memisahkan kedua jenis mineral tersebut, karena
sifat magnet yang digunakan untuk memisahkan maka alat yang digunakan adalah magnetic separator
.
[6].



Gambar 1. Respon mineral dalam medan magnet

Mineral magnetite merupakan mineral yang mempunyai sifat kemagnetan yang tinggi. Magnetite akan
tertarik oleh medan magnet yang relative rendah sekalipun. Karena sifatnya ini maka mineral magnetite
dikelompokan dengan besi sebagai ferromagnetic. Pada Gambar 1 diatas dapat dilihat respon dari tiga mineral
yang memiliki susceptibility berbeda. Ketiga mineral berada dalam medan magnet dengan kuat medan dalam
satuan A/m. Mineral magnetite memberikan respon sangat kuat, intensitas magnetisasinya meningkat secara
Muhammad Amin, dkk./ Benefesiai Bijih Besi dengan SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 117
eksponesial hingga mencapai nilai saturasinya, setelah jenuh berapapun kuat medan yang diberikan tidak lagi
mempengaruhi perubahan intensitas kemagnetannya.

Gambar 2. Gaya-gaya yang bekerja pada partikel mineral
Pada gambar 2 menunjukan gaya-gaya pada partikel mineral yang berada dalam pengaruh medan magnet
dipermukaan drum yang berputar. Partikelmineral akan tertarik atau terlempar dari permukaan drum tergantung
pada nilai entrapment ratio-nya. Entrapmen ratio adalah rasio gaya magnet terhadap gaya sentrifugal, gaya
gravitasi dan gaya drag. Entrapment ratio dinyatakan dalam persamaan berikut ini:

ER = F
m
/ (F
c
+ F
g
+ F
d
)
Jika partikel mineral memeiliki nilai entrapment rasio lebih daripada satu, ER>1, maka partikel tersebut
akan tertarik dan tetap nempel dipermukaan drum separator. Pada kondisi ER>1, artinya medan magnet
memberikan pengaruhnya jauh lebih besar disbanding dengan total dari tiga gaya lainya [7].



Gambar 1. Proses magnet separaor bijih/pasir besi


Muhammad Amin, dkk./ Benefesiai Bijih Besi dengan SFA 2013

118 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
3. Metode Penelitian
Metode penelitian ini meliputi studi literatur yang berkaitan dengan penelitian dan dilanjutkan dengan
metode percobaan langsung dengan melakukan peningkatan kadar Fe pada pasir/bijih besi halus dengan metode
magnet separator. Untuk selengkapnya prosedur percobaan dapat dilihat pada diagram alir proses peningkatan
kadar Fe pada bijih besi dengan metode magnetic separator.



Bijih/Pasir Besi

Pengayakan
Lolos 5 mm

Magnet Separator (1x)
Kecepatan 10, 15,20 rpm


Tertangkap Magnet Non Magnet (buang)


Magnet Separator (2x) Analisis


Tertangkap Magnet Non Magnet (buang)


Magnet Separator (3x) Analisis


Tertangkap Magnet Non Magnet (buang)


Magnet Separator (4x) Analisis


Tertangkap Magnet Non Magnet (buang)



Gambar 2. Diagram Alir Proses Magnet Separator Bijih Besi Halus


4. HASIL DAN DISKUSI
Data dan Hasil Percobaan
Tabel 1. Spesifikasi Alat Magnetic Separator
No. Suku Cadang Spesifikasi Satuan
1. Kuat Medan 20 K.gauss
2. Kuat Arus 1 Amper
3. Tebal 500 Mm
4. Kumparan 476,19 Lilit
5. Jumlah Magnet 4 Unit
6. Panjang Kawat 671721,78 mm
7 Resistansi Total 95,12
8. Tegangan DC 95,12 Volt


Muhammad Amin, dkk./ Benefesiai Bijih Besi dengan SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 119
Tabel 2. Hasil Penimbanagan dan Waktu Pemagnetan
Speed Berat Sblm
Dimagnet (kg)
1 x Magnet 2 x Magnet 3 x Magnet
t M NM t M NM t M NM
Speed 10 20 10,0 14,3 5,5 7,51 12,7 1,5 6,36 11,2 1,4
Speed 15 20 4,11 11,8 8,1 3,11 9,5 2,3 1,54 7,55 1,8
Speed 20 20 4,11 11,3 8,5 2,31 8,7 2,6 1,43 6,70 1,9
4 x Magnet
t M NM t M NM t M NM
3,49 9,70 11,2 1,44 6,45 1 1,35 5,50 1,1
Keterangan: t = Waktu pemagnetan M = Berat Tertangkap Magnet NM=Berat Non Magnet


Tabel 3. Hasil Analisa Berat Jenis (BJ) dan % Fe Sebelum dan Sesudah Dimagnet
KODE BJ % Fe
Sebelum 3,39 46,60
KODE BJ % Fe KODE BJ % Fe KODE BJ % Fe
1/10 3,42 49,03 1/15 3,44 49,72 1/20 3,34 46,43
2/10 3,56 50,64 2/15 3,50 50,05 2/20 3,40 48,29
3/10 3,81 58,90 3/15 3,52 50,28 3/20 3,58 51,14
4/10 3,85 59,03 4/15 3,69 56,27 4/20 3,62 54,09

Diskusi
1. Kecepatan atau speed pada konveyer mempengaruhi pada waktu pemagnetan bijih/pasir besi kalau
speed 10 waktu pemagnetan cenderung lama dan hasil yang didapatpun pada bijih besi non dan magnet
(kg) cukup banyak akan tetapi pada speed 15 dan 20 waktu cenderung lebih cepat dan hasil yang
didapatpun lebih sedikit bila dibandingkan dengan speed 10 dan ini berlaku baik pada pemagnetan 1 x
sampai 4 x magnet
2. Berdasarkan data tabel 3 hasil analisa berat jenis yang didapat sebelum dimagnet dan setelah dimagnet
ada peningkatan yang tadinya sebelum dimagnet berat jenis = 3,39 kg/cm3 setelah dimagnet 1 x sampai
4 x cenderung naik terus menjadi 3,34 kg/cm3 pada 1 x magnet dan speed 20 yang terendah dan 3,85
kg/cm3 pada 4 x magnet dan speed 10 yang tertinggi.
3. Untuk kandungan % Fe pada pasir/bijih besi ada peningkatan juga dari sebelum dimagnet dan setelah
dimagnet, sebelum dimagnet % Fe = 46,60 menjadi 59,03 % Fe pada 4 x magnet dan speed 10.
Sehingga kandungan Fe yang tertinggi adalah kecepatan/speed 10 dengan 4 x magnet dan sudah
memenuhi syarat untuk peleburan.
4. Untuk spesifikasi alat magneict separator dengan medan magnet sebesar 20 k gauss dan jumlah
magnet sebanyak 4 buah masih dirasa kurang untuk menangkap bijih/pasir besi yang bersifat magnet
ini dapat dilihat dari efektivitas alat magnet saat menangkap bijih/pasir yang bersifat magnet dengan 1
x magnet masih sedikit jumlahnya (kg), sehingga untuk itu perlu ditambah jumlah magnet sehingga
akan dapat menangkap yang bersifat magnet lebih banyak dan tak perlu sampai 4 x magnet.


Muhammad Amin, dkk./ Benefesiai Bijih Besi dengan SFA 2013

120 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
5. SIMPULAN
Magnet separator dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kadar Fe pada bijih/pasir besi
(benefesiasi) sehingga kadar Fe yang sebelumnya rendah Fe = 46,60 % dapat ditingkatkan menjadi 59,03 %
dengan cara dilakukan pemagnetan yang berulang sampai 4 x dan kecepatan atau speed conveyer diatur 10 rpm
sehingga akan didapat hasil yang maksimum dan alat magneict separator ini perlu ditambah lagi jumlah magnet
agar efektifitas magnetic separator dapat meningkat.

6. DAFTAR ACUAN

[1] Adil.j, 2009, Peningkatan Kadar Bijih Besi Dengan Metode Pencucian, Proseding Seminar Material
Metalurgi, Puslit Metalurgi LIPI, Serpong,, 13-17
[2] Basso.D, dkk, 2009, Karakteristik Reduksi Bijih Besi Laterit, Proseding Seminar Material Metalurgi,
Puslit Metalurgi LIPI, Serpong, , 36-43
[3] Anonim, http: //www.scribd.com, dikases tgl 21 Mei 2012
[4] Anonim, http://opsokisakti.blogspot.com, diakses tgl 9 September 2010
[5] Anonim, Taman Geologi, blogspot.com, diakses tgl 14 Januari 2011
[6] Anonim, Potensi Pasir Besi di Banten, http://pertambangan.geologi.blogspot.com, diakses tgl 20 Mei
2012
[7] Hartikainen,JP dkk, 2005, Magnetic Separation Of Industrial Waste Waters Asan Environ Metal
Application Of Superconductivity, IEEE, Trans, Appl, Supercond.






Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 121
SINTESIS KALSIUM KARBONAT PRESIPITAT DARI MATERIAL ALAM
(DOLOMIT DAN BATU KAPUR YANG DIDOPING DENGAN Mg ) DENGAN
METODE KARBONASI


Nur ul Fitr ia Apr iliani , Qudsiyyatul Lailiyah, Dar minto

Jurusan Fisika ITS Surabaya
Kampus ITS Sukolilo Surabaya Jawa Timur, 60111
e-mail: nfitria.apriliani@gmail.com


Abstr ak

Kalsium karbonat presipitat telah disintesis dari material alam yaitu dolomit dan batu kapur .
Sintesis dilakukan dengan melakukan proses karbonasi pada larutan hasil pelarutan dari
batukapur yang didoping Mg dan dolomit dengan larutan asam (HCl) sampai pH netral
.Sintesis dilakukan dengan tiga variasi perlakuan, yaitu pada temperatur 30
o
C dengan laju
karbonasi 2 SCFH, temperatur 30
o
C dengan laju karbonasi 7 SCFH dan temperatur 80
o
C
dengan laju karbonasi 2 SCFH. Hasil sintesis berupa serbuk dikarakterisasi dengan pengujian
XRD ( X- Ray Diffraction). Analisis yang dilakukan diantaranya yaitu komposisi, fraksi berat,
dan ukuran kristal masing-masing fasa. Fasa kalsit dominan terbentuk pada sintesis dengan
temperatur 30
o
C dengan laju karbonasi 2 SCFH yaitu dengan fraksi berat 76,20 wt %, pada
sintesis dengan temperatur 30
o
C dengan laju karbonasi 7 SCFH dominan terbentuk fasa vaterit
dengan fraksi berat sebesar 60,19 wt%, sedangkan pada sintesis dengan temperatur 80
o
C
dengan laju karbonasi 2 SCFH fasa aragonit terbetuk dengan fraksi berat 72,33 wt%. Sintesis
kalsium karbonat presipitat dari dolomit menghasilkan fasa kalsit pada semua perlakuan
sintesis. Ukuran kristal yang lebih kecil dapat diperoleh dengan mendoping atom Mg ke dalam
sintesis kalsium karbonat dari batu kapur. Sedangkan sintesis kalsium karbonat.

Kata kunci: Batu kapur, Dolomit, Doping Mg, Kalsium karbonat presipitat, Karbonasi


1. PENDAHULUAN

Kalsium karbonat presipitat merupakan bahan baku utama dalam berbagai industri, seperti industri cat,
tinta, kertas, plastik, sampai kosmetik [1], suplemen nutrisi [2], pipa polimer [3] dan filler bahan komposit.
Dalam penelitian ini kalsium karbonat presipitat berhasil disintesis dari bahan alam yaitu dolomit dan batu kapur
yang didoping Mg. Penambahan Mg dilakukan dengan tujuan untuk memperkecil ukuran kristal. Tujuan dari
penelitian ini adalah mendapatkan kalsium karbonat presipitat yang mempunyai morfologi bervariasi dengan
menggunakan dolomit dan dopan Mg melalui metode karbonasi, mengetahui pengaruh dolomit dan dopan Mg
terhadap fasa dan ukuran kristal kalsium karbonat presipitat, dan mengetahui perbedaan kalsium karbonat
presipitat yang disintesis dari batu kapur yang mengandung dolomit dibandingkan dengan bila menggunakan
dopan Mg.

Kalsium karbonat presipitat yang digunakan dalam penelitian ini disintesis dari material alam batu kapur,
dimana batu kapur Indonesia mempunyai kandungan unsur kalsium (Ca) yang sangat tinggi yaitu mencapai
98% [4]. Dalam merekayasa ukuran partikel dan fasa yang terbentuk maka dalam penelitian ini digunakan
dolomit dan dopan Mg dalam sintesis kalsium karbonat yang dimaksudkan untuk mengecilkan ukuran partikel
sehingga kualitas produk yang dihasilkan lebih bagus.

Dolomit termasuk rumpun mineral karbonat yang mengandung unsur magnesium (Mg). Dolomit di alam
jarang yang murni, karena umumnya mineral ini selalu terdapat bersama-sama dengan batu gamping, kwarsa,
rijang, pirit dan lempung. Sedangkan atom Mg

merupakan ion yang paling dekat dengan Ca. Selain itu, ion Mg
2+

dikenal sebagai ion yang paling efektif dalam sintesis kalsium karbonat presipitat dengan struktur aragonit [5].
Apriliani [6], dalam penelitiannya juga menyebutkan bahwa pemberian Mg akan berpengaruh memperkecil
Nurul Fitria A., dkk. / Sintesis kalsium karbonat presipitat dari material . SFA 2013

122 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
ukuran partikel kalsium karbonat presipitat bila dibandingkan dengan tanpa penambahan Mg. oleh karena itu
dalam penelitian ini akan dilakukan sintesis kalsium karbonat presipitat dari batu kapur dengan doping Mg dan
morfologi yang lebih bervariasi. Metode yang dilakukan adalah metode karbonasi yaitu dengan mengalirkan gas
CO
2
, metode ini dipilih karena tergolong murah dan mudah dilakukan. Dalam penelitian ini akan diteliti
pengaruh penggunaan dolomit dan dopan Mg dalam sintesis kalsium karbonat presipitat dari batu kapur.
Pengaruh yang dimaksud dapat meliputi komposisi fasa yang terbentuk serta ukuran kristal kalsium karbonat
presipitat.


2.DASAR TEORI

Kalsium karbonat terdapat secara berlimpah di beberapa mineral alam. Kalsium karbonat dapat
mengkristal dengan berbagai macam morfologi sehingga dapat dimanfaatkan dalam banyak hal. Kalsium
karbonat presipitat adalah produk kalsium karbonat yang dikontrol melalui proses sintesis serta menghasilkan
sifat-sifat yang diinginkan seperti morfologi serta ukuran ukuran partikel. kalsium karbonat presipitat ketika
disintesis dengan media air akan membentuk tiga macam kristal, yaitu kalsit, vaterit, dan aragonit. Terbentuknya
macam-macam bentuk kristal ini dipengaruhi oleh temperatur, pH larutan, derajat saturasi, kecepatan aliran
CO
2
apabila menggunakan metode karbonasi, serta adanya bahan aditif.

Kalsit memiliki struktur kristal trigonal yang biasanya berbentuk rhombohedral dengan densitas teoretik
2,7 gr/cm
3
. Kalsit mempunyai grup ruang R-3c, dengan parameter kisi a= b= 4,990
0
A , c =17,061
0
A, = =
90

dan =120

. Kalsit merupakan fasa yang paling stabil pada variabel temperatur dan tekanan. Ditinjau dari
konstanta kelarutannya, fase kalsit memiliki sifat termodinamika yang paling stabil (log Ksp = -8,47). Kalsit
akan mengalami transformasi menjadi fasa lain dengan re-kristalisasi. Vaterit memiliki struktur hexagonal
dengan parameter kisi a = 4,130, b = 4,130 , c = 8,490 , = = 90
o
, = 120
o
yang biasanya berbentuk
spherulitic dan tidak berwarna. Vaterit merupakan fasa metastabil di dalam suhu kamar.Vaterit memiliki
kelarutan yang lebih tinggi dibandingkan dengan fasa kalsit dan aragonit. Oleh karena itu, bila vaterit terkena
air, maka pada suhu rendah, akan berubah ke fasa kalsit dan bila pada suhu tinggi sekitar 60
0
C akan berubah
menjadi aragonit. Vaterit jarang terjadi secara alami di alam. Vaterit terbentuk pada tingkat saturasi yang tinggi
[7]. Aragonit memiliki struktur orthorhombic dengan parameter kisi a = 5,379, b = 4,961, c = 7,97, = =
= 90
o
. Bentuknya biasanya disebut needle-like. Aragonit dapat terbentuk secara alami dari proses biologi dan
fisika. Aragonit adalah termodinamika tidak stabil pada suhu dan tekanan standar, dan cenderung berubah
menjadi kalsit.

Proses karbonasi merupakan proses membuat kalsium karbonat presipitat yang paling sering dilakukan
dibandingkan dengan proses yang lain karena proses ini tergolong murah. Pada proses ini kalsinasi dilakukan
pada suhu sekitar 1000
o
C dimana batu kapur mengalami dekomposisi menjadi kalsium oksida dan karbon
dioksida. Ukuran partikel, distribusi ukuran partikel, bentuk partikel,dan perubahan sifat permukaan pada
partikel kalsium karbonat dapat dikontrol dengan mengontrol temperatur, tekanan parsial karbon dioksida,
konsentrasi larutan dan kecepatan agitator. Pada awal proses, pH pada larutan berkisar 12 atau lebih, tetapi nilai
pH tersebut akan semakin menurun seiring dengan lama reaksi. Tekanan biasanya dilakukan pada range 1-10
bar, dimana direkomendasikan menggunakan tekanan sebesar 2-3 bar. Secara keseluruhan untuk produksi
kalsium karbonat presipitat secara komersial digunakan Ca(OH)
2
sebanyak 0,5-1,5 g/lmenit [8].

Magnesium mempunyai pengaruh yang signifikan pada presipitasi kalsium karbonat. Rasio Mg:Ca yang
rendah pada larutan dapat mengakibatkan tergabungnya ion Mg
2+
ke dalam kisi kalsit, sedangkan bila Mg
diberikan pada konsentrasi yang tinggi dalam larutan maka akan menginduksi presipitasi aragonit [9].

Penggunaan dopan Mg akan memberikan pengaruh terhadap fase dan ukuran kristal yang terbentuk.
Penambahan MgCl
2
dengan cara menambahkan massa Mg akan mengubah pola difraksi dibandingkan dengan
Nurul Fitria A., dkk. / Sintesis kalsium karbonat presipitat dari material . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 123
tanpa penambahan Mg. Muncul fasa baru yaitu kalsit magnesian [(Ca,Mg)CO
3
] dan magnesit (MgCO
3
). Kalsit
magnesian ditunjukkan dengan adanya pergeseran puncak dari kalsit akibat adanya ion Mg yang mensubstitusi
Ca. Penambahan massa Mg yang hanya 1 gram akan menggeser pola difraksi kalsit, tetapi hanya sedikit. Ketika
penambahan dilakukan pada 2 gram, fasa kalsit magnesian juga akan semakin bertambah. Fasa akan sepenuhnya
menjadi fasa kalsit magnesian ketika Mg yang ditambahkan adalah 3 gram. Hal ini memperlihatkan bahwa
semakin banyak massa Mg yang ditambahkan, semakin banyak ion Mg
2+
yang mensubstitusi ion Ca
2+.
[6].

Dolomit termasuk rumpun mineral karbonat, mineral dolomit murni secara teoritis mengandung 45,6%
MgCO
3
atau 21,9% MgO dan 54,3% CaCO
3
atau 30,4% CaO. Rumus kimia mineral dolomit dapat ditulis
meliputi CaCO
3
.MgCO
3
, CaMg(CO
3
)
2
atau Ca
x
Mg
1-x
CO
3
, dengan nilai x lebih kecil dari satu. Dolomit di alam
jarang yang murni, karena umumnya mineral ini selalu terdapat bersama-sama dengan batu gamping, kwarsa,
rijang, pirit dan lempung. Dalam mineral dolomit terdapat juga pengotor, terutama ion besi.

3.METODOLOGI PENELITIAN

CaO hasil kalsinasi batu kapur dilarutkan dengan HCl sehingga dihasilkan larutan CaCl
2
. Larutan MgCl
2

dibuat dengan melarutkan juga serbuk Mg ke dalam larutan HCl dengan perhitungan tertentu sehingga
didapatkan rasio mol Mg:Ca adalah 1:8. Kedua larutan dicampurkan kemudian dilakukan proses karbonasi
dengan metode bubbling menggunakan noozle. Selama proses karbonasi berlangsung larutan NH
4
OH diteteskan
sedikit demi sedikit. Sintesis dilakukan pada tiga variasi keadaan, yaitu pada temperatur 30
0
laju karbonasi 2
SCFH, temperatur 30
0
laju karbonasi 7 SCFH, temperatur 80
0
laju karbonasi 2 SCFH. Proses karbonasi
dihentikan ketika pH larutan netral. Hasil karbonasi disaring dengan kertas saring. Endapan yang dihasilkan
dikeringkan pada suhu 80
0
C selama 24 jam untuk menghilangkan kadar air. Serbuk akhir hasil presipitasi
dikarakterisasi dan dianalisis. Sedangkan untuk membuat kalsium karbonat presipitat dari dolomit dilakukan
dengan cara melarutkan dolomit ke HCl, proses karbonasi dan proses-proses selanjutnya sama dengan membuat
kalsium karbonat presipitat dari batu kapur.

Kalsinasi dilakukan menggunakan furnace (Nobertherm, laboratorium zat padat Fisika ITS).
Pencampuran dan pemanasan larutan menggunakan hot plate strirrer. Karakterisasi yang dilakukan adalah X-
ray Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Analisis komposisi fasa dilakukan dengan
proses refinement(penghalusan) pola difraksi dengan menggunakan perangkat lunak rietica sedangkan ukuran
kristal masing-masing fasa yang terbentuk dianalisis dengan Material Analysis Using Diffraction (MAUD).
SEM digunakan untuk melihat morfologi yang terbentuk dari kalsium karbonat presipitat.

4. HASIL DAN DISKUSI

4.1 Analisis fasa kalsium kar bonat pr esipitat dari batu kapur di doping Mg

Gambar 1 menampilkan pola difraksi yang terbentuk ketika sintesis kalsium karbonat presipitat dari batu
kapur.yang didoping Mg. Analisis kualitatif komposisi fasa terhadap pola difraksi yang terbentuk yang telah
dilakukan kemudian dilanjutkan dengan analisis kuantitatif fraksi berat dari masing-masing fasa. Dari
perhitungan dengan perangkat lunak Rietica didapatkan hasil yang ditampilkan dalam tabel 1.

Tabel 1. Fraksi berat fasa kalsium karbonat presipitat dari batu kapur
Kalsit Vaterit Aragonit
30
o
C, 2 SCFH 76,20 wt% 23,80 wt% -
30
o
C, 7 SCFH 39,81 wt% 60,19 wt% -
80
o
C, 2 SCFH 14,55 wt% 13,12 wt% 72,33 wt%
Nurul Fitria A., dkk. / Sintesis kalsium karbonat presipitat dari material . SFA 2013

124 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773











Gambar 1. Pola difraksi yang terbentuk pada sintesis kalsium karbonat dari batu kapur didoping Mg

Sintesis pada temperatur 30
o
C dan laju karbonasi 2 SCFH menghasilkan fasa kalsit sebagai fasa yang
dominan, fasa lain yang terbentuk yaitu fasa vaterit. Secara teoritis fasa kalsit memang terbentuk pada laju
karbonasi rendah dan sangat mudah terbentuk diberbagai perlakuan sintesis. Laju aliran yang rendah yaitu
sebesar 2 SCFH mengakibatkan jumlah ion CO
3
2-
yang terbentuk sedikit sehingga berakibat pula rasio [Ca
2+
] /
[CO
3
2-
] semakin besar. Dalam kondisi ini fasa kalsit cenderung terbentuk. Munculnya fasa vaterit merupakan
pengaruh dari kondisi temperatur sintesis. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Riyanto [10],
dan Ogino [11], bahwa pada temperatur di sekitar temperatur ruang maka fasa yang terbentuk adalah kalsit dan
vaterit.

Fasa vaterit akan dominan terbentuk pada sintesis dengan temperatur 30
o
C dan laju karbonasi 7 SCFH,
pada kondisi sintesis ini fasa kalsit juga terbentuk. Karbonasi yang diberikan dengan laju aliran yang besar
diharapkan agar terbentuk fasa vaterit yang lebih dominan. Besarnya laju aliran karbonasi mengakibatkan
bertambahnya jumlah ion-ion seperti CO
3
2-
yang

menambah supersaturasi larutan sehingga dalam proses
pengintian (nukleasi) akan menghambat bertransformasinya fasa vaterit ke kalsit. Seperti diketahui bahwa
kondisi supersaturasi tinggi merupakan syarat terbentuknya fasa vaterit. Terbentuknya fasa kalsit karena adanya
fasa-fasa vaterit yang sudah bertransformasi menjadi fasa yang lebih stabil yaitu kalsit.

Sintesis dengan temperatur 80
o
C dan laju karbonasi 2 SCFH menghasilkan ketiga polimorf kalsium
karbonat yaitu aragonit, vaterit, dan kalsit . Menurut Han [12], sintesis aragonit membutuhkan supersaturasi
rendah sehingga digunakan laju karbonasi yang rendah. Temperatur merupakan salah satu parameter yang
berpengaruh dalam pembentukan polimorf kalsium karbonat. Perubahan polimorf akibat perubahan temperatur
dianggap karena adanya vibrasi termal. Munculnya fasa kalsit dimungkinkan disebabkan karena perubahan fasa
aragonit ke fasa kalsit ketika temperatur lebih dari 80
o
C, hal ini dipengaruhi karena sulitnya menjaga
temperatur agar konstan sehingga pada saat karbonasi berlangsung dimungkinkan temperatur melebihi 80
o
C
walaupun pemanasan telah dihentikan. Seperti yang diketahui menurut [1] bahwa fraksi aragonit maksimum
akan terbentuk pada 80
o
C, jika melebihi temperatur tersebut maka fraksi aragonit akan semakin berkurang dan
bisa bertransformasi ke fasa kalsit yang lebih stabil.


4.2 Analisis fasa kalsium kar bonat pr esipitat dari dolomit
Pola difraksi kalsium karbonat presipitat dari bahan dasar dolomit ditampilkan dalam gambar 2. Dolomit
dari alam mempunyai fasa tunggal yaitu dolomit. Sedangkan puncak-puncak pola difraksi pada saat sintesis
dengan temperatur 30
o
laju karbonasi 2 SCFH , temperatur 30
o
laju karbonasi 7 SCFH , maupun temperatur 80
o

laju karbonasi 2 SCFH menunjukkan fasa kalsit.
Nurul Fitria A., dkk. / Sintesis kalsium karbonat presipitat dari material . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 125
Fraksi berat fasa yang terbentuk dari pengolahan data pola difraksi sinar-x ditampilkan pada tabel 2.
Tabel 2 menunjukkan bahwa pada semua perlakuan sintesis yaitu pada temperatur 30
o
C laju karbonasi 2 SCFH,
temperatur 30
o
C dan laju karbonasi 7 SCFH, serta temperatur 80
o
C dengan laju karbonasi 2 SCFH
menghasilkan fasa kalsit.




















Gambar 2. Pola difraksi yang terbentuk pada sintesis kalsium karbonat dari dolomit

Tabel 2. Fraksi berat fasa kalsium karbonat dari dolomit
Kalsit Vaterit Aragonit
30
o
C, 2 SCFH 100 wt% - -
30
o
C, 7 SCFH 100 wt% - -
80
o
C, 2 SCFH 100 wt% - -

4.3 Analisis ukur an kr istal pr oduk kalsium kar bonat pr esipitat

Ukuran kristal masing-masing fasa dihitung dari pengolahan data difraksi sehingga didapatkan keluaran
yang ditampilkan pada tabel 3.

Tabel 3. Ukuran kristal fasa kalsium karbonat presipitat dari batu kapur
Kalsit Vaterit Aragonit
30
o
C, 2 SCFH 627,91 1,42 nm 43,7035,80 nm -
30
o
C, 7 SCFH 394,13 5,39 nm 43,64 14,66 nm -
80
o
C, 2 SCFH 564,93 0,44 nm 220,52 0,08 nm 56,6436,47 nm

Tabel 4. Ukuran kristal fasa kalsium karbonat presipitat dari dolomit
Kalsit Vaterit Aragonit
30
o
C, 2 SCFH 674,34 0,28 nm - -
30
o
C, 7 SCFH 417,67 0,39 nm - -
80
o
C, 2 SCFH 782,84 0,60 nm - -

Tabel 3 dan 4 menampilkan ukuran kristal fasa kalsium karbonat presipitat dari batu kapur maupun
dolomit. Tabel tersebut menunjukkan bahwa penambahan Mg dalam sintesis kalsium karbonat dari batu kapur
menghasilkan kalsium karbonat presipitat dengan ukuran mencapai nanometer untuk fasa-fasa yang dominan
pada masing-masing keadaan sintesis. Hal ini diduga disebabkan karena kehadiran atom Mg dapat menganggu
pertumbuhan fasa kalsium karbonat yang terbentuk sehingga ukuran kristal yang dihasilkan akan menjadi lebih
kecil bila dibandingkan dengan yang disintesis tanpa penambahan Mg.
Nurul Fitria A., dkk. / Sintesis kalsium karbonat presipitat dari material . SFA 2013

126 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Dolomit yang digunakan dalam sintesis ini mempunyai kandungan Mg sebesar 6,5 % dan Ca sebesar 92,40
%. Kandungan Mg di dalam dolomit diharapkan dapat memperkecil ukuran kristal kalsium karbonat presipitat
yang disintesis dari dolomit sehingga dapat digunakan sebagai alternatif kalsium karbonat presipitat tanpa harus
mensintesis dari batu kapur yang didoping Mg. Tetapi dari hasil perhitungan tersebut ternyata kandungan Mg
yang cukup kecil dibandingkan dengan Ca hanya memberikan pengaruh sedikit dalam memperkecil ukuran
kristal.

5. SIMPULAN
Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa kalsium karbonat presipitat bisa disintesis dari material alam yaitu
batu kapur dan dolomit. Bila disintesis dari batu kapur, fasa kalsit dominan terbentuk pada sintesis dengan
temperatur 30
o
C dan laju karbonasi 2 SCFH, fasa vaterit dominan terbentuk pada sintesis dengan temperatur 30
o
C dan laju karbonasi 7 SCFH, sedangkan fasa aragonit terbentuk pada sintesis dengan temperatur 80
o
C dan
laju karbonasi 2 SCFH. Sintesis kalsium karbonat presipitat dari dolomit menghasilkan fasa kalsit pada semua
perlakuan sintesis. Untuk menghasilkan kalsium karbonat dengan kualitas yang lebih bagus maka salah satu
yang mempengaruhi adalah ukuran kristal. Ukuran kristal yang cukup kecil untuk morfologi tertentu dapat
diperoleh dengan mendoping atom Mg ke dalam sintesis kalsium karbonat dari batu kapur.

6. DAFTAR ACUAN
[1] Wang et al., (2010), Combination of adsorption by porous CaCO
3
microparticles, International
Journal of Pharmaceutics, Vol. 308, p. 160167.
[2] Ghamgui, et al., (2007), Immobilization studies and iochemical properties of free and immobilized
Rhizopus oryzae lipase onto CaCO
3
, Gargouri Biochemical Engineering Journal, Vol. 37, hal. 3441.
[3] Hu et al., (2009), Synthesis of needle like aragonite from limestone in the presence of magnesium
chloride, Journal of Materials processing technology,Vol.209. p.1607-1611.
[4] Apriliani, Nurul Fitria, dkk. (2011) ,Identifikasi dan karakterisasi batu kapur Tuban untuk
pengembangan produk CaCO3, laporan coop penelitian Jurusan Fisika, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya.
[5] Park et al., (2008), Effect of magnesium chloride and organic additives on the synthesis of Aragonite
Precipitated calcium carbonateJournal of Crystal growth,Vol.310, p.2593-2601.
[6] Apriliani, Nurul Fitria.,(2012), efek penambahan larutan MgCl
2
dalam sintesis kalsium karbonat
presipitat berbahan dasar batu kapur dengan metode karbonasi. Tugas akhir jurusan fisika Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
[7] Flaten et al., (2002), Polymorphism and morphology of calcium carbonate precipitated in mixed
solvents of ethylene glycol and water, Journal of Crystal Growth ,Vol.311, p.3533-3538
[8] Mathur K., (2001), High speed manufacturing process for precipitated calcium carbonate employing
sequential pressure carbonation. US Pat. 6,251,356
[9] Loste et al., (2003), The role of magnesium in stabilishing amorphous calcium carbonate and
controlling calcite morphologies, Journal of crystal growth, Vol.254. p. 206-218.
[10] Riyanto, Agus.2010. Sintesis CaCO
3
presipitat dengan morfologi bervariasi dari batu kapur.
Laporan Tesis Magister Fisika. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
[11] Ogino,T et al., (1987), The formation and transformation mechanism of calcium carbonate in water,
Geochimica at Cosmochimica Acta. Vol. 51, pp. 2757-2767.
[12] Han et al., (2008), Factors affecting the phase and morphology of CaCO
3
prepared by a bubbling
method, Journal of the European Ceramic Society, Vol. 26, hal. 843847.


Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 127
FABRIKASI KALSIUM KARBONAT PRESIPITAT (CaCO
3
) FASE
VATERIT DENGAN METODE PENCAMPURAN LARUTAN


Qudsiyyatul Lailiyah, Nur ul Fitr ia A, Dar minto

Jurusan Fisika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111
e-mail: qudsi.lily@gmail.com


Abstr ak

Kalsium karbonat presipitat (PCC) mendapat perhatian lebih karena aplikasinya di dunia
industri antara lain di bidang cat, kertas, farmasi, dan sebagainya. Salah satu faktor yang
mempengaruhi aplikasi PCC adalah fase yang terbentuk. PCC fase vaterit telah berhasil
disintesis denngan menggunakan metode pencampuran larutan. Penelitian sebelumnya dengan
menggunakan metode karbonasi menghasilkan fase vaterit dengan fraksi berat relatif yang
cukup kecil. Penelitian ini menggunakan bahan baku batu kapur alam yang diperoleh dari
daerah Tubah, Jawa Timur. Pada penelitian ini digunakan metode pencampuran larutan.
Larutan CaCl
2
dicampurkan dengan larutan Na
2
CO
3
untuk menghasilkan endapan CaCO
3

dengan fase vaterit. Dalam penelitian ini digunakan variasi konsentrasi larutan dan temperatur
sintesis dilakukan 50
o
C yang sebelumnya dilakukan variasi temperatur untuk mengetahui
temperatur terbentuknya fraksi berat relatif maksimum dari fase vaterit. Karakterisasi yang
dilakukan menggunakan X-Ray Diffaction (XRD) untuk mengetahui fase yang terbentuk.
Berdasarkan analisis data diperoleh hubungan bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan yang
digunakan maka fraksi berat relatif dari fase vaterit semakin kecil dan juga sebaliknya. Pada
penelitian ini didapatkan fraksi berat relatif maksimum dari fase vaterit sebesar 95,74 wt%.

Kata kunci: Kalsium kar bonat presipitat, vater it, X-Ray Difffraction


1. PENDAHULUAN

Kalsium karbonat (CaCO
3
) memiliki banyak aplikasi didunia industri diantaranya dalam industri kertas,
cat, plastik, lingkungan, makanan berkalsium, dan masih banyak lagi. Kalsium karbonat dengan fase vaterit
biasanya digunakan dalam sebagai katalis, filler, dan dalam dunia farmasi. Kalsium karbonate mempunyai tiga
bentuk kristal yaitu kalsit, aragonit, dan vaterit dengan struktur kristal berturut-turut rhombohedral,
orthorombic, dan hexagonal [1]. Kalsit merupakan fase yang paling stabil pada temperatur ruang, sedangkan
aragonit dan vaterit merupakan fase metastabil yang siap bertransformasi mejadi fase yang stabil [2].

Vaterit merupakan fase yang paling tidak stabil dan akan bertransform kebentuk stabil apabila berada
dalam air. Hal inilah yang membuat pembuatan fase vaterit cukup sulit karena memerlukan perlakuan khusus.
Meskipun begitu vaterit mempunyai aplikasi dalam berbagai bidang karena mempunyai sifat-sifat khusus seperti
kelarutan yang tinggi dan luas permukaan spesifik yang tinggi jika dibandingkan dengan kalsit dan aragonit [3].

Pada penelitian sebelumnya [4] menyebutkan bahwa dengan menggunakan metode karbonasi bubbling,
fase vaterit berhasil disintesis pada temperatur 30C dengan kecepatan laju aliran 7 SCFH. Namun dengan
menggunkan metode tersebut fraksi berat relatif fase vaterit yang diperoleh masih cukup kecil yaitu sekitar
32,26 wt%.
Qudsiyyatul Lailiyah / Fabrikasi Kalsium Karbonat Presipitat . SFA 2013

128 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Pada penelitian ini digunakan metode pencampuran larutan. Larutan CaCl
2
dicampurkan dengan larutan
Na
2
CO
3
untuk menghasilkan endapan CaCO
3
dengan fase vaterit. Dalam penelitian ini digunakan variasi
konsentrasi larutan dan temperatur sintesis dilakukan pada temperatur 35
o
C dan 50
o
C. Karakterisasi yang
dilakukan menggunakan X-Ray Diffaction (XRD) untuk mengetahui fase yang terbentuk.

2. DASAR TEORI

2.1 Batu Kapur Alam
Batu kapur didefinisikan sebagai batuan yang banyak mengandung kalsium karbonat, mempunyai
warna kuning, abu-abu kuning tua, abu-abu kebiruan, jingga dan hitam. Dalam keadaan murni mempunyai
bentuk kristal kalsit, yang terdiri dari CaCO
3
dan memiliki berat jenis 2,6 2,8 gr/cm
3
[5].
Batu kapur merupakan sumber utama kalsium karbonat karena memiliki kemurnian tinggi dan
ketersediaannya yang berlimpah di alam. Batu kapur dikatakan mempunyai kemurnian tinggi karena
berdasarkan penelitian sebelumnya batu kapur di daerah Rengel Kabupaten Tuban mempunyai fraksi
kalsium mencapai 98%. Kemurnian batu kapur bervariasi bergantung material tambahan yang terkandung di
dalamnya seperti besi, kalium, iodin, dan logam berat yang dapat mempengaruhi kualitas produk CaCO
3

yang dihasilkan [4].

2.2 Kalsium Kar bonat Pr esipitat
Kalsium kabonat presipitat sering disebut dengan PCC mempunyai tiga macam bentuk kristal yaitu
kalsit, aragonit, dan vaterit dengan struktur kristal berturut-turut rhombohedral, orthorombic, dan hexagonal.
Kalsit merupakan fase yang stabil pada temperatur ruang, sedangkan vaterit dan aragonit merupakan fase
metastabil yang dapat bertransformasi ke dalam fase stabil (kalsit) [2].

2.3 Metode Sintesis Kalsium Kar bonat Pr esipitat
Terdapat bermacam bahan baku dan metode untuk mensintesis PCC, baik skala industri maupun skala
laboratorium. Metode presipitasi yang biasa dilakukan pada sintesis kalsium karbonat adalah solution route
(pencampuran larutan) dan carbonation route (bubbling CO
2
)
Metode pertama merupakan sintesis CaCO
3
dengan mereaksikan larutan CaCl
2
dan larutan Na
2
CO
3
.
Metode ini umumnya digunakan pada sintesis CaCO
3
untuk aplikasi farmasi karena parameter raw-material
(seperti kemurnian) yang terukur. Konsentrasi dan perbandingan ionion reaktan pada metode ini mudah
dikontrol, sehingga hubungan produk akhir dan kondisi reaksi mudah dianalisis. Berdasarkan pertimbangan
ini, metode pencampuran lebih dipilih dalam studi transformasi maupun rekayasa morfologi CaCO
3.

Metode kedua yaitu metode karbonasi. Pada metode ini, CaCO
3
terbentuk dengan mengalirkan gas
CO
2
ke dalam larutan Ca(OH)
2
. Bahan baku yang lebih murah dan proses yang relatif lebih sederhana
menjadikan metode ini banyak diterapkan pada aplikasi industri, tentunya terbatas pada morfologi tertentu.

2.4 Aplikasi Kalsium Kar bonat Presipitat
Kalsit merupakan fase PCC yang paling stabil dan banyak digunakan dalam industri cat, kertas,
magnetic recording, industri tekstil, detergen, plastik, dan kosmetik. Berbeda dengan kalsit, aragonit
mempunyai aplikasi sebagai filler kertas yang menjadikan sifat-sifatnya lebih baik seperti high bulk,
kecerahan, tak tembus cahaya, dan kuat. Sebagai filler aragonit lebih baik dari pada kalsit dalam polivinil
alkohol atau polipropilen komposit [5]. Vaterit biasanya digunakan sebagai katalis, teknologi separasi, dan
agrochemical [1]. Partikel vaterit berongga merupakan partikel dari CaCO
3
yang digunakan dalam aplikasi
kelas tinggi yaitu sebagai filler, granula, dan aditif dalam makanan maupun industri farmasi [7].
Kalsium karbonat presipitat berpori banyak digunakan dalam dunia farmasi khususnya mengatur
durasi pemberian obat ke sel tertentu atau ke jaringan. PCC berpori merupakan salah satu material organik
yang mempunyai stabilitas biologi yang baik dan sifatnya mudah dikendalikan. PCC berpori yang
mempunyai luas pori berukuran nano memungkinkan obat masuk didalamnya [8].
2.5 Pengaruh Temperatur terhadap Pembentukan Fase dengan Menggunakan Metode Bubbling
Qudsiyyatul Lailiyah / Fabrikasi Kalsium Karbonat Presipitat . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 129
Pada penelitian sebelumnya tentang pengaruh temperatur dan laju aliran gas CO
2
telah menghasilkan
morfologi yang bervariasi dan fase yang berbeda. Penelitian tersebut menggunakan metode karbonasi
dimana gas CO
2
dialirkan kedalam larutan CaCl
2
dengan cara bubbling. Hasil yang diperoleh pada penelitian
ini menunjukkan bahwa pembentukan morfologi dan fase kalsium karbonat presipitat dipengaruhi oleh
temperatur reaksi dan laju aliran gas CO
2
. Kalsium karbonat presipitat memiliki tiga fase yang masing-
masing memiliki morfologi berbeda. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan diperoleh
bahwa vaterit terbentuk pada temperatur rendah dengan laju aliran gas CO
2
tinggi dengan fraksi berat relatif
maksimum 32,26% pada temperatur 30C dengan laju aliran 7 SCFH, aragonit terbentuk pada temperatur
tinggi dengan laju aliran gas CO
2
rendah dengan fraksi berat relatif maksimum 90,7% pada temperatur 70C
dengan laju aliran 2 SCFH, sedangkan kalsit tebentuk pada setiap variasi perlakuan yang dilakukan karena
kalsit merupakan fase yang paling stabil [4].




























3. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode pencampuran larutan CaCl
2
dan larutan Na
2
CO
3
. Larutan CaCl
2

disintesis dari batu kapur alam yang telah dikalsinasi menjadi CaO kemudian dilarutkan ke dalam HCl.
Sedangkan larutan Na
2
CO
3
diperoleh secara komersial.
Penelitian ini diawali dengan mencampurkan 50 mL larutan CaCL
2
0,25M dengan 50 mL larutan
Na
2
CO
3
0,25M dan diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 400 rpm selama 2 menit.
Temperatur yang digunakan adalah 35C dan dijaga konstan selama pencampuran larutan begitu juga dengan
kecepatan pengadukan yang digunakan. Setelah terjadi pencampuran kedua larutan, endapan disaring
menggunakan kertas saring kemudian dikeringkan di udara selama kurang lebih 24 jam. Serbuk CaCO
3
yang
dihasilkan kemudian dikarakterisasi menggunakan X-Ray Diffraction dengan range 2 dari 20C sampai 70C.
Langkah tersebut diulang untuk temperatur yang berbeda.
20 25 30 35 40 45 50 55 60
temperatur 30
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s
temperatur 50
temperatur 70
: Kalsit
: VAterit
: Aragonit
Gambar 1. Pola difraksi sinar-x pada temperatur bervariasi dengan
menggunakan metode karbonasi bubbling

Qudsiyyatul Lailiyah / Fabrikasi Kalsium Karbonat Presipitat . SFA 2013

130 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
4. HASIL DAN DISKUSI
Pada penelitian ini digunakan metode pencampuran larutan dengan mencampurkan larutan CaCl
2
dengan
larutan Na
2
CO
3
sehingga menghasilkan endapan CaCO
3
berdasarkan persamaan reaksi :

CaCl
2
+ Na
2
CO
3
CaCO
3
+ 2NaCl

4.1 Pengar uh Temperatur
Salah satu faktor penting dalam pembentukan fase kalsium karbonat presipitat adalah temperatur.
Perlakuan variasi temperature ini dilakukan untuk mengetahui temperatur pembentukan vaterit. Perlakuan ini
dilakukan dengan memvariasikan temperatur larutan pada 35C, 50C, 80C, dan 90C. Sintesis dilakukan
pada konsentrasi kedua larutan 0,25M dan dengan kecepatan pengadukan 400 rpm.













Berdasarkan Gambar.2 terlihat bahwa pada temperatur 35C - 80C terbentuk fase kalsit dan vaterit
dan pada temperatur 90C terlihat fase aragonit mulai terbentuk dan fase vaterit lenyap. Dari gambar.2 juga
terlihat bahwa fase kalsit selalu terbentuk pada setiap variasi temperatur, hal ini dikarenakan fase kalsit
merupakan fase yang paling stabil.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa vaterit terbentuk pada temperatur rendah dan pada temperatur tinggi
vaterit mulai hilang dan diikuti pembentukan fase aragonit. Hal ini menunjukkan bahwa temperatur
mempengaruhi pembentukan fase kalsium karbonat presipitat. Perubahan fase terhadap temperatur
disebabkan oleh vibrasi termal atom-atom di dalamnya. Atom atom akan memperoleh energi vibrasi yang
lebih ketika berada pada temperatur tinggi. Berdasarkan analisa lebih lanjut didapatkan fraksi berat relatif
maksimum fase vaterit sebesar 95,74 wt% (Tabel.1) terjadi pada temperatur 50C.

4.2 Variasi Konsentr asi Lar utan
Konsentrasi larutan divariasikan 0,25M; 0,5M; 0,75M; dan 1M dan disintesis pada temperatur 50C.
Setiap perlakuan kedua konsentrasi larutan dibuat sama. Hasil pola difraksi sinar-x dengan variasi
konsentrasi dapat dilihat pada Gambar.3.


Gambar 2. Pola difraksi sinar-x dengan temperatur bervariasi
Qudsiyyatul Lailiyah / Fabrikasi Kalsium Karbonat Presipitat . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 131
Dari Gambar.3 terlihat bahwa fase yang terbentuk untuk masing-masing variasi konsentrasi pada
temperature 50C adalah vaterit dan kalsit. Dapat dilihat pada Gambar 4.3 diatas bahwa puncak kalsit (104)
mengalami kenaikan yang cukup tinggi pada konsentrasi larutan 0,75M, kemudian menurun seiring
penurunan konsentrasi larutan. Namun pada konsentrasi 1M puncak kalsit mengalami kenaikan dan hal
sebaliknya terjadi pada puncak vaterit.



















Tabel.1 Hasil fraksi berat relatif fase, ukuran kristal, dan jumlah produk akhir yang dihasilkan
No
Konsentrasi
(M)
Temperatur
(C)
% wt ukuran (nm) Jumlah
produk
akhir (gr)
Vaterit Kalsit Vaterit Kalsit
1 0,25 50 95,74 6,26 4,26 0,79 77,6 51,1 233,2 1,821
2 0,5 50 94,13 6,53 5,87 0,92 86,3 67,4 236,4 2,9 2,983
3 0,75 50 67,67 2,64 32,33 1,35 67,2 30,2 581,13 1,5 3,931
4 1 50 91,21 6,56 8,79 1,09 63,1 30,5 329,6 16,5 4,992
5 0,25 35 89,71 4,15 10,29 1,36 73,9 56,1 298,7 1,5 1,839
6 0,25 80 94,72 4,8 5,28 0,76 126,1 67,8 213,2 0,9 1,795

Berdasarkan pola difraksi sinar-x pada Gambar.3 dan Tabel.1 dapat dikatakan bahwa variasi konsentrasi
larutan yang digunakan tidak berpengaruh pada jumlah fraksi berat relatif fase yang dihasilkan karena setiap
perlakuan sintesis digunakan perbandingan mol 1:1 antara kedua larutan. Variasi konsentrasi ini hanya
berpengaruh pada jumlah produk akhir (endapan CaCO
3
) yang dihasilkan dimana pada konsentrasi larutan tinggi
akan menghasilkan jumlah produk akhir yang lebih bnyak. Hal ini dikarenakan pada konsentrasi larutan tinggi
memiliki asupan ion Ca
2+
dan ion CO
3
2-
lebih banyak yang menyebabkan endapan yang dihasilkan pun semakin
bnyak.


Gambar.3 Pola difraksi sinar-x dengan variasi konsentrasi larutan pada
temperatur 50C



Qudsiyyatul Lailiyah / Fabrikasi Kalsium Karbonat Presipitat . SFA 2013

132 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
5. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fase vaterit kemurnian tinggi berhasil disintesis
dengan menggunakan metode pencampuran larutan. Larutan yang digunakan adalan larutan CaCl
2
dan Na
2
CO
3
.
Fraksi berat relatif maksimum dari fase vaterit yang dihasilkan sebesar 95,74 wt% terjadi pada temperatur 50C
dengan konsentrasi larutan 0,25M.

6. DAFTAR ACUAN
[1] Hadiko, G., Han, Y.S., Fuji, M., Takahashi, M. (2005), Synthesis of Hollow Calcium Carbonate
Particles by the Bubble Templating Method, Materials Letters., Vol. 59, pp. 2519 2522.
[2] Han, Y.S., Hadiko, G., Fuji, M., Takahashi, M. (2006), Factors Affecting the Phase and Morphology
of CaCO
3
Prepared by a Bubbling Method, Journal of the European Ceramic Society., Vol. 26, pp.
843-847.
[3] Chen, Yinxia., Xianbing Ji., Xiaobo Wang. (2010), Facile synthesis and characterization of
hydrophobic vaterite CaCO
3
with novel spike-like morphology via a solution route, Materials Letters.,
Vol. 64, pp. 21842187.
[4] Lailiyah, Q. (2012), Pengaruh Temperatur dan Laju Aliran Gas CO
2
Pada Sintesis Kalsium Kerbonat
Presipitat dengan Metode Bubbling, Tugas Akhir: Jurusan Fisika FMIPA ITS. Surabaya.
[5] Oates J.A.H. (1998), Lime and Limestone, Chemistry and Technology, Production and Uses, Wiley-
Vch.
[6] Hu, Z dkk. (2009), Synthesis of Needle-Like Aragonite from Limestone in The Presence of
Magnesium Chloride, Journal of Materials Processing Technology., Vol. 209, pp. 16071611.
[7] Wanatabe, Hideo., Mizuno, Y., Endo, T dkk. (2009), Effect of Initial pH on Formation of Hollow
Calcium Carbonate Particles by Continuous CO
2
Gas Bubbling into CaCl
2
Aqueous Solution,
Advanced Powder Technology., Vol. 20, pp. 89-93.
[8] Wang Chaoyang., He Chengyi., dkk. (2006), Combination of Adsorbtion by Porous CaCO
3

Microparticles and Encapsulation by Polyelectrolyte Multilayer Films for Sustained Drug Delivery,
International Journal of Pharmaceutics., Vol. 308, pp. 160-167.
Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 133
STUDI KARAKTERISTIK LISTRIK SEL SURYA POLIMER HIBRID
BERBASIS P3HT-ZNO DI ATAS SUBSTRAT FLEKSIBEL

Rifan Satiadi
1)
, Er lyta Septa Rosa
2)
, dan Shobih
2)

1) Program Studi Fisika, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr Setiabudi No. 229 Bandung
Telp./Fax : 022-2004548
2) Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi-Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (PPET-LIPI)
Kampus LIPI Jl. Sangkuriang Bandung 40135
Telp./Fax : 022-2504660/2504659
Email : rifansatiadi@gmail.com

Abstrak

Kebutuhan untuk memperoleh sumber energi yang bersih dan terbarukan telah mendorong para
peneliti untuk mengembangkan sel surya sebagai salah satu energi alternatif. Sel surya dengan
bahan organik telah dikembangkan karena mempunyai potensi untuk diproduksi dengan biaya
yang lebih murah, proses yang lebih mudah, dan dapat dikembangkan dengan substrat yang
fleksibel/plastik. Salah satu pengembangan sel surya organik adalah sel surya polimer berbahan
dasar polimer. Tulisan ini melaporkan hasil studi karakteristik listrik sel surya polimer hibrid
menggunakan lapisan aktif campuran polimer P3HT dan semikonduktor ZnO diatas substrat
fleksibel (PET). Sel surya polimer hibrid tersebut mempunyai struktur PET/ITO/PEDOT:
PSS/P3HT-ZnO/Al dengan luas daerah aktifnya sebesar 2,6 cm
2
. Karakterisasi sifat listrik
dilakukan dengan menyinari sel menggunakan sumber cahaya lampu xenon dengan intensitas
penyinaran cahaya 270 W/m
2
, 600 W/m
2
, dan 1000 W/m
2
. Karakteristik listrik pada intensitas
penyinaran 270 W/m
2
memiliki performansi yang paling baik dengan efisiensi konversi
0,024%, fill factor 0,63, tegangan open circuit sebesar 0,477 V, arus short circuit sebesar 5,6 x
10
-5
A, dan daya maksimum yang dihasilkan sebesar 1,68 x 10
-5
Watt.

Kata kunci: sel surya polimer hibrid, karakteristik listrik, P3HT:ZnO


1. PENDAHULUAN

Kebutuhan untuk memperoleh sumber energi yang bersih dan terbarukan telah mendorong para peneliti
untuk mengembangkan sel surya sebagai salah satu energi alternatif. Sampai saat ini sel surya yang ada di
pasaran industri menggunakan bahan semikonduktor anorganik sebagai material utamanya, yaitu silikon. Silikon
mendominasi bahan sel surya karena karena teknologi fabrikasinya memang sudah mapan. Di satu sisi tingkat
efisiensi sel surya anorganik mencapai angka yang tinggi, tetapi di sisi lain proses pembuatan divais tersebut
tidak sederhana, membutuhkan biaya pembuatan yang tinggi dan bentuknya cenderung kaku [1]. Disamping itu
dalam pembuatan divais fotovoltaik anorganik terdapat limbah yang dapat merusak lingkungan disekitarnya
seperti racun silikon dan polusi udara dari industri pembuatan divais tersebut [2]. Hal ini membuat para peneliti
berusaha mencari divais sejenis yang dapat dibuat dengan proses yang sederhana, ramah lingkungan serta
ongkos pembuatan yang murah. Salah satu bahan yang terus dikembangkan oleh para peneliti untuk mengatasi
masalah tersebut adalah bahan organik. Beberapa material yang dapat digunakan sebagai lapisan aktif dalam sel
surya organik antara lain adalah molekul kecil, polimer terkonjugasi, kombinasi dari molekul kecil dengan
polimer terkonjugasi, atau kombinasi material organik dan anorganik [3].

Sel surya dengan bahan polimer terkonjugasi telah dikembangkan karena mempunyai potensi untuk
diproduksi dengan biaya yang lebih murah, proses yang lebih mudah, dan dapat dikembangkan dengan substrat
yang fleksibel/plastik [4]. Meskipun demikian efisiensi yang dihasilkan masih lebih rendah dibandingkan
Rifan Satiadi, dkk. / Studi Karakteristik Listrik Sel Surya Polimer . SFA 2013

134 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
dengan sel surya silikon, sehingga masih banyak peluang yang dapat dilakukan untuk mengembangkan sel surya
berbasis polimer ini secara intensif.

Polimer terkonjugasi dapat juga dikombinasikan dengan semikonduktor anorganik tipe-n seperti ZnO dan
TiO
2
[5]. Pada sel surya hibrid polimer/semikonduktor anorganik, kelebihan dari kedua material ini
digabungkan. Material polimer terkonjugasi merupakan semikonduktor yang dapat dilarutkan dalam proses
fabrikasi sedangkan material semikonduktor anorganik memiliki mobilitas elektron yang tinggi [3].

Ji [6] melaporkan hasil penelitian sel surya hibrid campuran polimer P3HT poly(3-hexythiophene)
dengan nanopartikel ZnO (Zinc Oxide) dengan efisiensi 0,020%. Dalam tulisan Wang [7], arus mengalami
peningkatan dari 6,35 mA/cm
2
menjadi 9,55 mA/cm2 pada saat penambahan Perylene derivative (PDI) ke
campuran P3HT-ZnO. Li [8] melaporkan efisiensi sel surya polimer hibrid P3HT:DOPO-ZnO sebesar 0,077% .
Baik Ji [6] dan Li [8] penelitian sel surya polimer hibrid dibuat diatas substrat kaca.

Sekarang ini penggunaan substrat yang bersifat fleksibel sebagai pengganti kaca telah menjadi penelitian
yang sangat menarik karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan substrat kaca. Beberapa kelebihannya
adalah proses serta penanganan yang lebih mudah, aplikasi yang lebih luas, suhu proses fabrikasi rendah
(<150
o
C), serta mudah diproduksi secara massal atau dalam skala industri menggunakan sistem roll to roll [4].

Tulisan ini melaporkan hasil studi karakteristik listrik sel surya polimer hibrid menggunakan lapisan aktif
campuran polimer P3HT dan semikonduktor ZnO diatas substrat fleksibel (PET). Karakterisasi sifat listrik
dilakukan dengan menyinari sel menggunakan sumber cahaya lampu xenon dengan intensitas penyinaran
cahaya 270 W/m
2
, 6000 W/m
2
dan 1000 W/m
2
.

2. DASAR TEORI

2.1 Hybr id Bulk Heter ojunction

Bulk heterojunction (BHJ) merupakan konsep yang umum diterapkan pada pembuatan sel surya polimer.
Pengembangan dari konsep bulk heterojunction adalah hybrid bulk heterojunction, yaitu mencampurkan
material semikonduktor organik dan material semikonduktor anorganik sebagai lapisan aktif sel surya [3].

2.2 Pr insip Dasar Sel Sur ya Polimer Hibr id

Prinsip dasar dalam sel surya bahan polimer hibrid hampir sama dengan bahan sel surya polimer/fullerene.
Bagian teratas dari keadaan yang ditempati oleh elektron pada pita valensi disebut Highest Occupied Molecular
Orbital (HOMO), sedangkan bagian terbawah dari keadaan yang tidak ditempati elektron pada pita disebut
dengan Lowest Unoccupied Molecular Orbital (LUMO) [9].

Gambar. 1. Skema level energi sel surya polimer hibrid [11]
Rifan Satiadi, dkk. / Studi Karakteristik Listrik Sel Surya Polimer . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 135

Pada sel surya polimer hibrid ini yang berperan sebagai donor adalah polimer P3HT dan material
anorganik ZnO sebagai akseptor [5]. Level energi pada P3HT adalah HOMO 5.2 eV dan LUMO 3.53 eV [10],
sedangkan level energi pada ZnO adalah pita valensi 7.6 eV dan pita konduksi 4.4 eV relatif terhadap level
vakum [3]. Skema level energi dapat dilihat pada Gambar 1.

Menurut Saunders pembentukan arus penyinaran pada sel surya hibrid ini terdapat beberapa langkah yaitu [12]:
1. Penyerapan foton oleh material polimer yang terdapat pada lapisan aktif. Foton ini kemudian akan
membangkitkan eksiton (pasangan elektron-hole)
2. Difusi eksiton
3. Pemisahan eksiton menjadi muatan bebas terjadi pada interface donor-akseptor.
4. Transport muatan
5. Pengumpulan muatan terjadi pada masing-masing elektroda, pada anoda akan terkumpul hole (pembawa
muatan positif) dan pada katoda akan terkumpul elektron (pembawa muatan negatif).

2.3 Kar akter isasi

Salah satu dari pengukuran dasar untuk menentukan karakteristik sel surya baik anorganik atau organik
adalah pengukuran arus tegangan (I V). Pengukuran arus tegangan (I V) di lakukan dengan menyinari
divais sel surya dibawah penyinaran standar spektrum matahari AM1.5 (1000W/m
2
). Dari hasil pengukuran I-V
tersebut dapat diperoleh kurva I-V seperti yang ditampilkan pada Gambar 2.


Gambar 2. Kurva IV sel surya
Beberapa parameter yang penting yang digunakan untuk mengkarakterisasi sel surya dapat diperoleh dari
kurva I - V adalah arus short-circuit (I
sc
), tegangan open-circuit (V
oc
), daya maksimum (Pm), fill factor (FF),
dan efisiensi konversi daya ().

Efisiensi konversi didefinisikan sebagai perbandingan antara daya listrik maksimum dan daya matahari
yang datang pada sel surya:
=


100% (1)

Arus short circuit (I
sc
) didefinisikan arus ketika rangkaian terhubung pendek (V=0) merupakan parameter
fotovoltaik yang menggambarkan arus foto maksimum yang dapat dihasilkan oleh sel surya [13]. Tegangan
open-circuit (V
oc
) menggambarkan mekanisme tidak adanya arus yang mengalir di dalam sel (I=0). Pada
keadaan ini pita energi dari material berada dalam keadaan sejajar sehingga tidak ada medan listrik di dalam
material, akibatnya tidak ada muatan yang dapat di konversi menjadi arus [13]. Fill faktor sel surya merupakan
perbandingan antara daya keluaran maksimum terhadap daya teoritisnya atau dapat dinyatakan sebagai berikut:
Rifan Satiadi, dkk. / Studi Karakteristik Listrik Sel Surya Polimer . SFA 2013

136 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
=


(2)
Kualitas dari sel surya biasanya dinyatakan dengan nilai fill factor (FF) yang menunjukkan besarnya
kemampuan sel surya menyerap cahaya yang diterimanya. Dalam kaitan dengan kualitas dioda, batas nilai fill
factor adalah kurang dari nilai ideal yaitu 1. Karakteristik dioda akan menyimpang dari nilai ideal, terutama
diakibatkan oleh rekombinasi yang terjadi pada junction. Untuk sel surya organik dan sel surya hibrid junction
yang dimaksud adalah interface donor-akseptor, yang mana terdistribusi di seluruh lapisan aktif [13].


Gambar 3. Skema sel surya hybrid bulk heterojunction

3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Fabr ikasi

Struktur sel surya dibuat hybrid bulk heterojunction dengan konfigurasi pada Gambar 3. Substrat PET
yang telah dilapisi oleh ITO (Aldrich) dengan dimensi 1 cm x 7,5 cm ketebalan ITO 1000 dan resitansi
permukaan 60 /sq. ITO ditutupi oleh fotoresist, kemudian disinari dengan sinar UV selama 2 menit dengan
masker ITO (Gambar 4) diletakkan diatasnya. Kemudian ITO di etching dengan menggunakan HCl 50% selama
3 menit. Setelah etching, dilanjutkan proses stripping menggunakan aseton untuk menghilangkan fotoresist.
Substrat dicuci menggunakan DI water, sabun cair dan IPA (isopropyl alcohol) di dalam ultrasonic cleaner.


Gambar 4. Pola masker

Gambar 5. Sel surya polimer hibrid substrat fleksibel
Rifan Satiadi, dkk. / Studi Karakteristik Listrik Sel Surya Polimer . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 137
PEDOT:PSS (Agfa) dilapisi dengan teknik screen printing sesuai masker PEDOT:PSS (Gambar 4).
Drying suhu kamar 10 menit, lalu dipanaskan selama 60 menit pada suhu 100
o
C keadaan vakum. P3HT
(Aldrich) dilarutkan kedalam chlorobenzene dan ZnO (Aldrich) dilarutkan kedalam chlorobenzene ditambah
methanol (rasio massa P3HT-ZnO = 2,5 : 1). Setelah 24 jam campurkan kedua larutan dan kocok hingga
merata. Pelapisan polimer hibrid sesuai masker P3HT-ZnO (Gambar 4) dilakukan dengan teknik spin coating
1500 rpm selama 0,5 menit, drying suhu kamar 24 jam dalam keadaan vakum. Evaporasi aluminium dengan
masker aluminium (Gambar 4) pada tekanan 5 6 x 10
-5
mBar selama 5 menit dengan ketebalan 50 nm,
membentuk daerah aktif sebesar 2,6 cm
2
. PET ukuran 6,5 cm x 0,7 cm dibuat untuk menutupi bagian belakang
sel surya. Sealant (Dyesol) diletakkan antara sel surya dengan PET dan di oven pada temperatur 100
o
C selama
10 menit dalam keadaan vakum. Prototipe sel surya polimer hibrid substrat fleksibel dapat dilihat pada
Gambar 5.

Gambar 6. Kurva I-V sel surya polimer hibrid P3HT-ZnO pada berbagai intensitas cahaya penyinaran

1.2 Pengukur an ar us tegangan

Pengukuran arustegangan (IV) di lakukan dengan menyinari divais sel surya dibawah penyinaran
standar spektrum matahari AM1.5 (1000W/m
2
) menggunakan solar simulator dengan lampu xenon. Intensitas
penyinaran sebesar 270 W/m
2
, 600 W/m
2
, dan 1000 W/m
2
dengan temperatur 27
o
C. Alat pengukuran
menggunakan I-V Measurement dari National Instrument.

4. HASIL DAN DISKUSI

Gambar 6 menunjukan kurva I-V saat penyinaran dengan intensitas penyinaran 270 W/m
2
, 600 W/m
2
,
dan 1000 W/m
2
.

Karakteristik listrik sel surya polimer hibrid berbasis P3HT-ZnO ditunjukan dalam tabel 1.
Nilai V
oc
dan I
sc
mengalami peningkatan ketika intensitas penyinaran meningkat. Intensitas penyinaran
menyebabkan elektron-elektorn yang terlepas semakin banyak sehingga arus listrik meningkat. Nilai R series
mengalami penurunan ketika intensitas penyinaran meningkat, hal ini juga berpengaruh pada peningkatan Isc
ketika intensitas penyinaran meningkat. Hasil ini sebanding dengan hasil yang diperoleh oleh Beek yang
menggunakan polimer hibrid MDMO-PPV:ZnO [3], disebutkan bahwa nilai V
oc
dan I
sc
meningkat dengan
meningkatnya intensitas penyinaran.

Menurut Scharber dkk pada sel surya polimer/fullerene, nilai maksimum V
oc
adalah selisih dari level
HOMO pada material donor (polimer) dengan level LUMO material akseptor (fullerene) [14], memenuhi
persamaan :
0.00E+00
1.00E-05
2.00E-05
3.00E-05
4.00E-05
5.00E-05
6.00E-05
7.00E-05
0 0.2 0.4 0.6 0.8
A
r
u
s

(
A
)
Tegangan (V)
270 W/m2
600 W/m2
1000 W/m2
Rifan Satiadi, dkk. / Studi Karakteristik Listrik Sel Surya Polimer . SFA 2013

138 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

|

|

0,3 (3)
Pada sel surya polimer hibrid, semikonduktor anorganik berperan sebagai akseptor. Sehingga
persamaan (3) dapat digunakan untuk sel surya polimer hibrid, dengan perbedaan pada level energi konduksi
akseptor. Sehingga nilai maksimum V
oc
dari sel surya polimer hibrid P3HT:ZnO adalah sekitar 0,5 V. Pada
intensitas 1000 W/m
2
, V
oc
paling tinggi bernilai 0,652 V. Hasil ini masih tinggi dibandingkan dengan hasil yang
diperoleh Ji [6] sebesar 0,32 V dan Li [8] sebesar 0,341.











Akibat arus keluaran yang dihasilkan kecil sekitar 6,04 x 10
-5
A, maka daya maksimum juga kecil yaitu
dalam orde mikrowatt jika dibandingkan dengan sel surya ideal dengan orde miliwatt. Rapat arus yang
dihasilkan sebesar 0,023 mA/cm
2
. Hasil ini lebih rendah dari hasil yang dilaporkan oleh Ji [6] sebesar 0,16
mA/cm
2
dan Li [8] sebesar 1,05 mA/cm
2
. Pada substrat kaca umumnya arus yang dihasilkan akan lebih besar
dibaindingkan dengan substrat PET, karena sheet resistivity ITO pada substrat kaca lebih rendah (12 /)
dibandingkan dengan PET (60 /).

Pada intensitas penyinaran 270 W/m
2
ke 600 W/m
2
, daya maksimum mengalami penurunan. Namun
pada intensitas penyinaran 1000 W/m
2
, daya maksimum mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan Pm
merupakan perkalian antara Vm dan Im, dimana Vm mengalami penurunan pada intensitas 270 W/m
2
ke
600W/m
2
dan mengalami peningkatan pada intensitas penyinaran 1000 W/m
2
. Sedangkan Im mengalami
penurunan ketika intensitas penyinaran meningkat.

Pada intensitas penyinaran 1000 W/m
2
, nilai FF sel surya ini adalah 0,46. Nilai FF ini lebih tinggi
dibandingkan dengan hasil yang diperoleh peneliti lain yang menggunakan substrat kaca seperti Ji [6] sebesar
0,39 dan Li [8] sebesar 0,21. Untuk meningkatkan nilai FF salah satunya adalah dengan mengurangi nilai
resistansi sel surya. Efisiensi konversi sel surya pada intensitas penyinaran 1000 W/m
2
adalah sebesar 0,007%
masih rendah dibandingkan dengan hasil-hasil yang diperoleh peneliti dahulu yang menggunakan substrat kaca
seperti Ji [6] sebesar 0,020% dan Li [8] sebesar 0,077%. Rendahnya efisiensi konversi diakibatkan oleh
rendahnya arus yang dihasilkan akibat dari tingginya sheet resistivity kontak ITO yang ada pada substrat
fleksibel.

Berdasarkan kurva I-V pada Gambar 6, peningkatan intensitas penyinaran mengakibatkan semakin
rendahnya gradien pada kurva IV. Hal ini menggambarkan peningkatan intensitas penyinaran menyebabkan FF
mengalami penurunan. Hasil ini sebanding dengan hasil yang diperoleh oleh Beek [3] yang menggunakan
substrat kaca, dimana disebutkan bahwa FF mengalami penurunan terhadap peningkatan intensitas penyinaran.
Penurunan FF ini mengakibatkan nilai efisiensi konversi mengalami penurunan ketika intensitas penyinaran
meningkat. Meningkatnya intensitas penyinaran akan mengakibatkan terjadinya degradasi pada sel surya
polimer hibrid, sehingga FF dan efisiensi konversi mengalami penurunan.



Tabel 1.
Karakteristik Listrik Sel Surya Polimer Hibrid berbasis P3HT-ZnO

Karakteristik Listrik
Intensitas Penyinaran (W/m
2
)
270 600 1000
Tegangan Open circuit Voc (V) 0,477 0,538 0,652
Arus Short circuit Isc (A) 5,6 x 10
-5
5,83 x 10
-5
6,04 x 10
-5

Tegangan Maksimum Vm (V) 0,348 0,342 0,505
Arus Maksimum Im (A) 4,83 x 10
-5
4,34 x 10
-5
3,59 x 10
-5

Daya Maksimum Pm (Watt) 1,68 x 10
-5
1,49 x 10
-5
1,81 x 10
-5

Fill factor FF 0,63 0,47 0,46
R series (Ohm) 4204 1675 1223
Efisiensi koversi (%) 0,024 0,009 0,007
Rifan Satiadi, dkk. / Studi Karakteristik Listrik Sel Surya Polimer . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 139
5. SIMPULAN

Pada sel surya polimer hibrid berbasis P3HT-ZnO, semakin besar intensitas penyinaran cahaya, tegangan
open circuit dan arus short circuit semakin besar. Hambatan series dan arus maksimum mengalami penurunan
ketika intensitas penyinaran bertambah. Daya maksimum dan tegangan maksimum mengalami peningkatan
pada intensitas 270 W/m
2
ke 600 W/m
2
dan mengalami penurunan pada intensitas penyinaran 1000 W/m
2
.
Sedangkan efisiensi dan fill factor mengalami penurunan ketika intensitas penyinaran bertambah. Karakteristik
listrik pada intensitas penyinaran 270 W/m
2
memiliki performansi yang paling baik dengan efisiensi konversi
0,024%, fill factor 0,63, tegangan open circuit sebesar 0,477 V, arus short circuit sebesar 5,6 x 10
-5
A, dan daya
maksimum yang dihasilkan sebesar 1,68 x 10
-5
Watt.

6. UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini terlaksana atas pendanaan dari DIPA TEMATIK PPET-LIPI 2013.
7. DAFTAR ACUAN

1. Nielsen, Torben D., Cruickshank, Craig., Foged, Sren., Thorsen, Jesper. & Krebs, Frederik C. (2010),
Business, market and intellectual property analysis of polymer solar cells, Solar Energy Materials &
Solar Cells 94, 15531571.
2. Nath, Ishan. (2010), Cleaning up after clean energy: Hazardous waste in the solar industry, Stanford
Journal of International Relations Vol XI No 2, 6-16.
3. Beek, W J E., Wienk, M M. Kemerink, M. Yang, X N. & Janssen, R A J. (2005), Hybrid Zinc Oxide
conjugated polymer bulk heterojunction solar cells, Journal Phys. Chem B 109, 9505-9516.
4. Krebs, F. (2009), Polymer solar cell modules prepared using roll-to-roll methods: knife-over-edge
coating, slot-die coating and screen printing, Solar Energy Materials & Solar Cells 93, 465-475.
5. Chandrasekaran, J., Nithyaprakash, D., Ajjan, K.B., Maruthamuthu, S., Manoharan, D. & Kumar, S.
(2011), Hybrid solar cell based on blending of organic and inorganic materials- an overview,
Renewable and Sustaninable Energy Reviews 15, 1228-1238.
6. Ji, L W., Shih, W S., Fang, T H., Wu, C Z., Peng, S M., & Meen, T H. (2007), Preparation and
characteristics of hybrid ZnO-polymer solar cells, Jornal Material Sciences 45, 3266-3269.
7. Wang, M. & Wang, X. (2008), P3HT/ZnO bulk-heterojunction solar cell sensitized by a perylene
derivative, Solar Energy Materials & Solar Cells 92, 776-771.
8. Li, F., Du, Y., Chen, Y., Chen, Lie., Zhao, J. & Wang, P. (2010), Direct application of P3HT-
DOPO@ZnO nanocomposite in hybrid bulk heterojunction solar cells via grafting P3HT onto ZnO
nanoparticle, Solar Energy Materials & Solar Cells 97, 64-70.
9. Rockett, (2007), The materials science of semiconductors, Springer, University of Illinois.
10. Al-Ibrahim, M., Roth, H K., Schroedner, M., Konkin, A., Zhokhavets, U., Gobsch, G., Scharff, P. &
Sensfuss, S. The influence of optoelectronic properties of poly(3-alkylthiophenes) on the devices
parameters in flexible polymer solar cells. Organic Electronics 6, 65-77.
11. Spanggaard, H & Krebs, FC. (2004), A brief history of the development of organic and polymeric
photovoltaics, Solar Energy Materials & Solar Cells 83, 125146.
12. Saunders, Brian. (2012), Hybrid nanoparticle/polymer solar cell : preparation, principles, and
challanges, Journal of Colloid and Interface Science 369, 115.
13. Wright, Matthew., Uddin, Ashraf. (2012), Organic-inorganic hybrid solar cells: A comparative review,
Solar Energy Materials & Solar Cells 107, 87111.
14. Scharber, Markus., Mhlbacher, David., Koppe, Markus., Denk, Patrick., Waldauf, Christoph., Heeger,
Alan J. & Brabec, Christoph J. (2006), Design rules for donors in bulk-heterojunction solar cells
towards 10% energy-conversion efficiency, Journal Advanced Materials 18, 789794.


Rifan Satiadi, dkk. / Studi Karakteristik Listrik Sel Surya Polimer . SFA 2013

140 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773





















Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 141
Sifat Magnetik Ba
1-x
Gd
x
Fe
12
O
19
(x=0,10; 0,15; 0,20)
Disintesis dengan Pr oses Autocombustion Sol-gel

Tony Kr istiantor o dan Nanang Sudr ajat


Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI
Jl. Sangkuriang Gd. 20 Lt. 4 Bandung 40135
tony9910@gmail.com


Abstrak

Doping Gd pada barium ferite, Ba
1-x
Gd
x
Fe
12
O
19
(x=0,10; 0,15; 0,20) telah berhasil dilakukan
dengan metode sol-gel autocombustion. Sampel yang telah disintering dikarakterisasi dengan
XRD. Semua pola XRD menunjukkan fasa tunggal tanpa ada fasa yang lain. Sifat magnetik
dari sampel dianalisis dengan Permagraph Magnet Physik Germany. Saturasi magnetisasi dan
nilai koersivitas sampel mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan jumlah doping
yang diberikan.

Kata kunci : barium ferite, doping, rear earth



1. PENDAHULUAN

Barium heksaferit telah banyak digunakan sebagai magnet permanen karena beberapa kelebihan yang
dimilikinya, di antaranya adalah koersifitas dan magnetisasi yang tinggi serta stabilitas kimia yang baik [1,2].
Selain itu, material ini telah diaplikasikan secara luas sebagai media perekam data atau sebagai penyerap
gelombang elektromagnetik [3].

Sifat magnetik material heksagonal ferit ditentukan oleh sifat intrinsik magnet tersebut. Sifat intrinsik
magnet barium ferite menjadi lebih baik secara signifikan dengan doping pada sisi Ba atau Fe atau keduanya.
Perbaikan sifat intrinsik magnetik tersebut terkait dengan perbaikan koersivitasnya dan anisotropi kristal magnet
(magneto-crystalline anisotropy) [4].

Barium ferit yang didoping dengan unsur tanah jarang La dan La-Co menunjukkan adanya peningkatan
koersivitas tanpa disertai menurunnya remanen [5,6]. Doping dengan unsur tanah jarang menjadi menarik
karena ion tanah jarang memungkinkan berkontribusi terhadap perubahan interaksi magnetik sehingga dapat
memperbaiki sifat intrinsik magnet. Dengan metode sol-gel autocombustion, peningkatan magnetisasi saturasi
ditunjukkan pada doping Pr [7]. Selain itu, dengan metode yang sama, doping Nd pada sistem barium ferit
dapat meningkatkan koersivitas yang signifikan seiring dengan peningkatan konsentrasi unsur pengotor [8].
Peningkatan magnetisasi saturasi juga ditunjukkan pada doping Sm yang rendah dengan metode sol-gel
autocombustion tersebut [9].

Di sisi lain dengan metode mechanical milling, unsur tanah jarang Sm juga berhasil disubstitusikan pada
sistem barium ferit [10]. Upaya untuk melakukan doping Gd dan Gd-Co pada sistem barium ferit juga telah
dipublikasikan dengan metode mechanical milling, tetapi substitusi unsur pengotor tersebut tidak berhasil
dengan sempurna yang ditunjukkan dengan adanya fasa sekunder pada sistem barium ferit [5,6].
Oleh karena itu, pada makalah ini akan dilaporkan hasil penelitian doping Gd pada sistem barium ferit
dengan metode sol-gel autocombustion.


Rifan Satiadi, dkk. / Studi Karakteristik Listrik Sel Surya Polimer . SFA 2013

142 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
2. METODE PERCOBAAN

Barium ferit dengan doping Gd disintesis dengan metode sol-gel autocombustion. Bahan-bahan dasar
yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah Ba(NO
3
)
2
, Fe(NO
3
)
3
.9H
2
O, GdX, dan asam sitrat dilarutkan
dalam air de-ionazed. Bahan GdX ditambahkan secara bervariasi sehingga memenuhi formula GdX
ditambahkan secara bervariasi sehingga memenuhi formula Ba
1-x
Gd
x
Fe
12
O
19
(x=0,10; 0,15; 0,20). Rasio antara
logam kation dengan asam sitrat adalah 1:13. Tingkat keasaman larutan diatur dengan menambahkan amonia
sehingga pH larutan sama dengan 7. Larutan yang telah dihasilkan selanjutnya dipanaskan hingga terbentuk gel.
Gel yang telah terbentuk dipanaskan pada 100C selama 15 jam sehingga gel mengembang dan dikeringkan
kembali pada suhu 200C selama 3 jam. Serbuk yang dihasilkan dikalsinasi pada 1200C dan didapatkan serbuk
magnet barium ferit yang telah didoping Gd (barium-gadolinium ferit).

















Gambar 1. Alur Proses Pembuatan Barium Ferrite Doping Gd

Fasa serbuk barium-gadolinium ferit yang telah dihasilkan dianalisis dengan XRD. Sifat magnetik dari sampel
dianalisis dengan Permagraph Magnet Physik Germany.


3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pola XRD dari serbuk barium-gadolinium ferit terlihat pada Gambar 2.



Gambar 2. Pola XRD barium ferrite doping Gd

0
100
200
300
400
500
600
0 20 40 60 80
i
n
t
e
n
s
i
t
a
s

(
a
u
)
2
Ba
1-x
Gd
x
Fe
12
O
19
Gd 5
Gd 10
Gd 15
PENIMBANGAN
BAHAN
PEMBUATAN SOL GEL

DIPANASKAN 100
O
C
PENGERINGAN 200
O
C
SELAMA 3 JAM
KALSIN 1200
O
C
XRD KARAKTERISASI
INTRINSIK MAGNET
Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 143
Pola XRD untuk barium ferit tanpa doping menunjukkan bahwa pada proses ini telah terbentuk barium
ferit fasa tunggal. Selanjutnya pada semua pola XRD pada serbuk yang didoping dengan Gd menunjukkan
bahwa fasa yang terbentuk adalah fasa tunggal tanpa adanya fasa yang lain. Dengan demikian unsur Gd telah
berhasil disubstitusikan pada barium ferite. Selanjutnya untuk sifat magnetik intrinsiknya dapat dilihat pada
Tabel 1.

Tabel 1. Sifat intrinsik magnet permanen barium ferrite dari variasi doping Gd
Sifat Magnet BrFe
12
O
19
Gd 10 % Gd 15 % Gd 20 %
Br ( kG ) 1.60 1.15 1.41 1.84
HcJ ( kOe ) 3.383 0.979 3.398 2.061
BHmax ( MGOe ) 0.56 0.20 0.29 0.68
Gauss 720 470 680 980
Densitas (grcm-3) 3.2 4.57 3.36 4.37


Pada Tabel 1 terlihat bahwa sifat intrinsik magnet permanen barium ferrite mengalami kenaikan seiring
dengan peningkatan konsentrasi Gd yang ditambahkan. Pada penambahan Gd sebesar 10 % dan 15 % belum
terlihat solid, ini terlihat dari nilai- nilai intrinsik sifat magnet yang terukur, dimana besaran residu magnetik dan
koersifitasnya masih terlihat memiliki tren yang acak. Peningkatan sifat intrinsik secara signifikan terlihat pada
sifat koersifitas magnet permanen barium ferrite ketika dilakukan peningkatan konsentrasi Gd 20 % dimana
nilai koersifitas dari 3.383 kOe berubah naik menjadi 3.983 kOe pada penambahan Gd 10 % dan turun lagi
menjadi 2.061 kOe pada penambahan Gd 20 %, ini sesuai dengan sifat unsur rear earth yang rata- rata memiliki
angka koersifitas yang lebih kecil dibandingkan dengan barium ferrite.Nilai residu magnetik memiliki tren yang
meningkat dan memiliki nilai terbesar diperoleh pada peningkatan konsentrasi Gd 20 % yaitu sebesar 1.84 kG.
Pengaruh peningkatan konsentrasi Gd juga terlihat pada peningkatan kuat medan magnet ( Rapat fluks / flux
density), dimana rapat fluks tertinggi diperoleh sebesar 980 Gauss pada penambahan konsentrasi Gd 20 %.


4. KESIMPULAN

Dari penelitian yang telah dilakukan, penambahan konsentrasi Gd berpengaruh terhadap sifat intrinsik
magnet permanen barium ferrite, dimana sifat intrinsik memiliki tren yang seuai antara barium ferrite dan unsur
tanah jarang. Sifat intrinsik tertinggi magnet permanen barium ferrite diperoleh pada penambahan konsentrasi
Gd 20%, yaitu diperoleh nilai remanen, Br sebesar 1. 84 kG dan koersifitas, HcJ sebesar 2.061 kOe.

5. DAFTAR ACUAN

1. H. SZERI, Journal of Magnetism and Magnetic Materials 321 (2009) 2717-2722
2. J. LEE, M. FUGER, J. FIDLER, D. SUESS, T. SCHREFL, and O. SHIMIZU. Journal of Magnetism
and Magnetic Materials 322 (2010) 3869-3875
3. M. K. TEHRANI, A. GHASEMI, M. MORADI, and R. S. ALAM, Journal of Alloys and Compounds
509 (2011) 8398-8400
4. H. MOCUTA, L. LECHEVALLIER, J.M. LE BRETON, J.F. WANG, and I.R.HARRIS. Journal of
Alloys and Compounds 364 (2004) 48-52
5. G. LITSARDAKIS, I. MANOLAKIS, C. SERLETIS, and K.G. EFTHIMIADIS, Journal Magnetism
and Magnetic Materials 310 (2007) e884-e886
6. G. LITSARDAKIS, I. MANOLAKIS, and K.G. EFTHIMIADIS, Journal of Alloys and Compounds
427 (2007) 194-198
7. S. OUNNUNKAD, Solid State Communications 138 (2006) 472-475
8. R. QIAN G., HONG GUI L., PEIMEI S., YUN-JIAO L., ZHONG-WEI Z., and MAO-SHENG L.,
Journal of Central South University of Technology 8 (2001) 130-134
Rifan Satiadi, dkk. / Studi Karakteristik Listrik Sel Surya Polimer . SFA 2013

144 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
9. H. YANBING, SHA JIAN, SUN LINAB, TANG QUAN, LU QIN, JIN HONGXIAO, JIN
DINGFENG, BO HONG, GE HONGLIANG, and WANG XINQING, Journal of Alloys and
Compounds 486 (2009) 348-351
10. W. LIXI, H. QIANG, M. LEI, and Z. QITU, Journal of Rare Earths 25 (2007) 216-219






Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 145
STUDI STRUKTUR MIKRO DAN KUAT LENTUR KOMPOSIT
GEOPOLIMER SERAT BAMBU DENGAN SUHU CURING BERBEDA

Vicr an Zharvan, Mur is, Subaer
*)


Pusat Penelitian Geopolimer Lab. Fisika Material
Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Makassar
Jalan Daeng Tata Raya, Makassar 90223
*)
Hp: 081342211874, e-mail: jzubayir@yahoo.com

Abstr ak
Telah dilakukan studi struktur mikro dan kuat lentur komposit geopolimer berbahan dasar
metakaolin dan penguat (agregat) serat bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai
kuat lentur komposit geopolimer sebagai fungsi variasi massa serat bambu (0.4 g,0.6 g, dan 0.8
g) serta variasi temperatur curing (150
o
C, 450
o
C dan 750
o
C). Komposit geopolimer serat
bambu disentesis dari bahan dasar metakaolin dengan aktivator larutan alkali kemudian
didiamkan selama 28 hari. Metakaolin diperoleh melalui proses dehidroksilasi kaolin pada
suhu 750
o
C selama 6 jam. Serat bambu diproduksi secara mekanik dari batang bambu yang
berusia antara 1 2 tahun kemudian dipresipitasi dengan larutan NaOH selama 1 jam. Sampel
komposit geopolimer diproduksi dengan model sandwich berbentuk persegi panjang dengan
massa serat yang berbeda lalu di curing pada suhu 60
o
C selama 1 jam. Sampel yang telah siap
selanjutnya di recurring masing-masing pada suhu 150
o
C, 450
o
C dah 750
o
C, kemudian
didiamkan selama 7 hari dan siap untuk dilakukan pengujian. Karakterisasi morfologi bahan
dasar dan produk komposit geopolimer dilakukan dengan menggunakan scanning electron
microscopy (SEM) Tescan Vega3SB yang dilengkapi dengan electron dispersive spectroscopy
(EDS). Struktur kristal bahan dasar dan produk keramik geopolimer dikarakterisai dengan x-
ray diffraction (XRD) Rigaku MiniFlexII. Sifat termal serat bambu yang digunakan dalam
penelitian ini dianalisis dengan menggunakan differential scanning caloritmetry (DSC) 400
Perkin Elmer.Hasil karakterisasi SEM menunjukkan matriks geopolimer yang cukup homogen,
namun ikatan antara matriks dengan penguat serat bambu tampak belum sempurna akibat
kehadiran celah yang cukup besar.Hasil karakterisasi dengan XRD memperlihatkan bahwa
matriks komposit geopolimer yang dihasilkan bersifat amorf. Uji mekanik berupa three
bending points flexural strength dilakukan terhadap 3 sampel untuk setiap komposisi dan suhu
curing yang berbeda. Hasil pengukuran menunjukkan kuat lentur tertinggi diperoleh dengan
penambahan serat bambu sebesar 0.6 g (1.5% dari volume sampel) untuk setiap variasi
temperatur curing dengan nilai berturut-turut sebesar 665.9098.40 KPa, 947.29287.13 KPa
dan 1155.6298.30 KPa.

Keywor ds: komposit, geopolimer, kuat lentur, curing, SEM, dan XRD
Vicran Zharvan / Studi Struktur Mikro Dan Kuat Lentur Komposit .. SFA 2013

146 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
1. PENDAHULUAN

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) khususnya pada bidang material seperti
komposit berlangsung sangat cepat.Secara umum, komposit merupakan penggabungan dua buah material atau
lebih yang berbeda sifatnya menjadi sebuah material yang mempunyai sifat baru yang berbeda dari sifat material
induknya.

Dewasa ini, aplikasi material komposit khususnya polimer komposit sebagai material rekayasa
menempati posisi tertinggi. Untuk memperoleh komposit rekayasa yang bermutu tinggi, diperlukan desain baru
dengan cara memilih komposisi dan cara pengerjaan yang tepat. Terdapat banyak kemungkinan untuk membuat
komposit yang terdiri atas isian atau penguat yang berbeda.

Indonesia merupakan negara tropis yang tanahnya subur.Salah satu tumbuhan yang melimpah adalah
bambu dengan serat yang mengandung selulosa.Selulosa dalam bambu berfungsi menjaga struktur dan
kekakuan dari tanaman.Selain itu, serat selulosa merupakan serat yang paling banyak didapatkan pada kayu
ataupun rerumputan.Serat ini memberikan keuntungan yang menarik seperti kerapatan yang rendah, mudah
didaur ulang, dan ketersediannya melimpah.Keseluruhan sifat ini membuatnya menjadi material yang baik
untuk penguat matriks, seperti komposit polimer atau aplikasi semen-serat [1].

2. DASAR TEORI
Komposit merupakan gabungan dua bahan atau lebih yang berbeda sifatnya menjadi satu kesatuan yang
menghasilkan material baru yang memiliki sifat berbeda dari material dasarnya.Secara umum, komposit terdiri
atas matriks dan penguat.

Pada tingkat atom (struktur mikro), material seperti logam alloy dan polimer dapat disebut komposit
karena terdiri atas kelompok atom yang berbeda. Pada tingkat atau struktur mikro, plastik yang diperkuat
dengan serat-gelas (fiber-glass reinforced plastics) dapat disebut komposit (serat-gelas dapat dilihat jelas
dengan mata).Dalam dunia industri, material yang disebut komposit umumnya terdiri atas campuran materi
dengan ukuran rentang mikro hingga makro [2].

Matriks pada komposit merupakan material yang memiliki volume yang lebih banyak dibandingkan
penguatnya.Dalam studi ini, komposit direkayasa dengan menggunakan pasta geopolimer berbahan dasar
metakaolin sebagai matriks.

Metakaolin merupakan mineral hasil dehidroksilasi kaolin pada temperatur 750
o
C selama 6 jam. Proses
ini bertujuan untuk meruntuhkan gugus (OH)
-
mineral kaolin dan membuat metakaolin reaktif terhadap larutan
alkali. Selain itu, sifat kekristalan dari mineral kaolin juga menghilang dikarenakan lapisan struktur heksagonal
dari kaolin runtuh sebagian pada tempertur tersebut [3]. Reaksi eksotermal dari kaolin dapat dilihat pada
persamaan berikut:

2Al
2
Si
2
O
5
(OH)
4
2Al
2
Si
2
O
7
+ 4H
2
O (1)

Geopolimer dihasilkan melalui aktivasi alkali mineral.Rasio komposisi antara prekursor geopolimer dan
larutan alkali sangat berperangaruh pada sifat mekanik material yang dihasilkan.Metakaolin sebagai hasil
dehidroksilasi kaolin sangat reaktif terhadap larutan alkali.

Sebagai penguat untuk komposit, serat alam memiliki keunggulan antara lain sifatnya yang dapat
diperbarui, dapat didaur ulang serta dapat terdegradasi di lingkungan [4]. Serat alam juga memiliki keunggulan
pada sifat mekanik dan memiliki harga yang relatif murah dibandingkan serat sintetik.Namun, serat alam juga
Vicran Zharvan / Studi Struktur Mikro Dan Kuat Lentur Komposit .. SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 147
memiliki kelemahan terutamakemudahannya dalam menyerap air, kualitas yang tidak seragam, serta memiliki
kestabilan yang rendah terhadap panas [5].

Bambu betung (Dendrocalamus asper) adalah jenis bambu yang kuat, tingginya bias mencapai 20-30 m
dan diameter batang 8-20 cm. Bambu jenis ini banyak digunakan untuk bahanbangunan rumah
maupunjembatan. Komponen kimia yang terdapat pada bambu betung adalah holoselulosa 53%, pentosan 19%,
lignin 25%, abu 3% [6].

Komposit yang menggunakan serat harus memperhatikan beberapa faktor seperti faktor serat, panjang
serat, letak serat, bentuk serat, faktor matriks, faktor ikatan antara serat dan matriks, void. Secara umum penguat
yang berupa serat harus memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh matriks sehingga keberadaaan serat dalam
matriks mampu menransferkan beban yang diterima oleh matriks dan komposit dapat bertahan dari pengaruh
gaya dari luar.


3. METODOLOGI PENELITIAN

Studi ini diarahkan pada pengembangan komposit geopolimer berbahan dasar kaolin dan penguat serat
bambu. Mineral kaolin didehidroksilasi pada suhu 750
o
C selama 6 jam dan menghasilkan fase metakaolin yang
bersifat amorf.

Bambu yang digunakan merupakan jenis bambu betung yang berasal dari Kabupaten Bone. Untuk
mendapatkan serat bambu, bambu terlebih dahulu dibersihkan dari kulit luarnya kemudian dipotong-potong
sepanjang kira-kira 10cm. Bambu yang telah bersih tersebut selanjutnya dimasak selama 12 jam kemudian
dikeringkan. Bambu yang telah kering selanjutnya diserut menggunakan pisau cuttersehingga diperoleh serat
bambu. Hasil serutan selanjutnya direndam dengan lauran NaOH selama 1 jam. Setelah itu, serat bambu
kemudian dicuci dengan pH netral lalu didiamkan selama 24 jam.Serat bambu hasil rendaman selanjutnya
dibilas dengan pH netral hingga bersih.lalu dikeringkan dan siap untuk digunakan.

Dalam pembuatan komposit, metakaolin diaktivasi dengan larutan alkali pada komposisi yang tepat
sehingga diperoleh material gel yang homogen. Sebagiam material tersebut dituang ke dalam cetakan yang
berukuran 12,0x3,0x1,1cm lalu diisi dengan serat bambu yang berbentuk lempeng. Sisa material gel kembali
dituangkan di atas serat hingga isi cetakan penuh.

Sampel kemudian di-curing pada suhu 60
o
C selama 1 jam lalu didiamkan selama 28 hari.Setelah sampel
berumur 28 hari, sampel kemudian di-curing pada temperatur berbeda yakni 150
o
C, 450
o
C dan 750
o
C selama 17
jam.Sampel lalu kembali didiamkan selama 7 hari.Setelah berumur 7 hari, sampel siap untuk dilakukan uji
kelenturan dengan menggunakan metode three point bending test.

Sifat termal serat diukur dengan menggunakan DSC (Differential Scanning Calorimetry).Untuk
mengetahui morfologi permukaan sampel serta komposisi kimia (wt% oksida) digunakan Tescan Vega3SB
Analitical SEM-EDS (Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-ray Spectroscopy).Struktur
kekristalan serta fase yang dikandung sampel diuji dengan XRD (X-Ray Diffraction).


4. HASIL DAN DISKUSI

Kar akter isasi bahan dasar
Gambar 1 memperlihatkan morfologi kaolin yang digunakan.Ukuran dari partikel kaolin yang digunakan
berkisar 5m berbentuk lempeng dan pipih.
Vicran Zharvan / Studi Struktur Mikro Dan Kuat Lentur Komposit .. SFA 2013

148 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773













Gambar 1. Morfologi mineral kaolin yang digunakan dalam penelitian

Dari hasil pengukuran denganEDSdiperoleh komposisi utama penyusun kaolin seperti pada tabel 1.

Tabel 1. Hasil analisis EDS mineral kaolin pada Gambar 1

Komponen wt (%)
Al
2
O
3
49,68

SiO
2
49,47

K
2
O 0,85


Pada tabel 1 memperlihatkan perbandingan Al
2
O
3
dan SiO
2
mendekati 1.Hal ini berkesesuaian dengan
hasil yang diperoleh Zuhua [7] yang memperoleh nilai perbandingan ini sebesar 1.18 untuk kaolin yang
berasal dari Cina.

Setelah mineral kaolin didehidroksilasi menjadi metakaolin nilai komposisi SiO
2
meningkat
menjadi 65.54 wt% dan komposisi Al
2
O
3
menurun menjadi 34.46 wt% atau dua komposisi ini memiliki
perbandingan 2:1 (Tabel 2). Penurunan volume Al
2
O
3
disebabkan oleh penguapan alumunium pada saat
dehidroksilasi.


Tabel 2. Hasil analisis EDSmetakaolin yang digunakan dalam penelitian ini

Komponen wt (%)

Al
2
O
3
34,46

SiO
2
65,54



Gambar 2 memperlihatkanmorfologi permukaan serat bambu yang digunakan.Terlihat serat bambu
memiliki bentuk serabut. Dengan menggunakan fasilitas EDS pada SEM diperoleh komposisi penyusun
dari serat bambu adalah seperti yang tertera pada tabel 3.

Vicran Zharvan / Studi Struktur Mikro Dan Kuat Lentur Komposit .. SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 149

Gambar 2. Morfologi dari serat bambu


Tabel 3 memperlihatkan komposisi kimia serat bambu.Sebagai jenis rerumputan kandungan silika sangat
tinggi.Prosentase silika yang tinggi menunjukkan upaya tanaman tersebut melindungi dirinya dari
lingkungan [8].


Tabel 3. Hasil analisis EDSdari serat bambu

Komponen wt (%)

Al
2
O
3
22,66

SiO
2
51,11

Na
2
O 26,24



Selanjutnya, gambar 3 memperlihatkan hasil analisis difraksi sinar-x dari serat bambu yang
digunakan.Pada gambar tersebut terlihat bahwa penyusun dari serat bambu ini adalah SiO
2
pada bidang
(101) dan H
2
CO pada bidang (110).Hasil yang sama juga diperoleh oleh Sun [9].




Bidang (101) merupakan puncak difraksi zona amorf dan zonakristaldengan derajat kekristalan 46.27%.

Gambar 3. Hasil analisis XRD serat bambu
Vicran Zharvan / Studi Struktur Mikro Dan Kuat Lentur Komposit .. SFA 2013

150 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Uji lentur komposit geopolimer
Kuat lentur komposit geopolimer diukur dengan metode three point bending test. Tujuan dari pengujian
kuat lentur ini adalah untuk mengetahui pengaruh massa serat bambu relatif terhadap volume sampel (0.4,
0.6 dan 0.8 gram) serta temperatur curing (150
o
C, 450
o
C dan 750
o
C) terhadap kuat lentur sampel.

Hasil pengujian kuat lentur sebagai fungsi massa serat bambu untuk setiap temperatur dapat dilhat pada
gambar 4. Pada gambar 4 terlihat bahwa nilai kuat lentur tertinggi diperoleh pada massa serat bambu
sebesar 0.6 gram atau 1.5% dari volume sampel untuk setiap kenaikan temperatur curing. Nilai kuat lentur
sampel yang diuji berturut-turut sebesar 665.9098.40 KPa, 947.29287.13 KPa dan 1152.6298.30 KPa.



Gambar 4. Kuat lentur komposit geopolimer sebagai fungsi massa serat dan suhu curing

Hasil analisis termal dari serat bambu seperti yang terlihat pada gambar 5 berikut:


















Gambar5. Hasil analisis DSC serat bambu

Berdasarkan Gambar 5 tersebut dapat diperoleh data perubahan entalpi serat bambu sebesar 651.8790 J/g
dan bersifat endotermik.Selain itu, diperoleh juga informasi mengenai suhu kristalisasi serat bambu yakni
353.69
o
C.Hal ini menunjukkan bahwa pada temperatur tersebut serat bambu mulai mengeristal sehingga
kekuatan mekaniknya ikut meningkat.Hal inilah yang menyebakan nilai kuat lentur bertambah seiring
dengan bertambahnya temperatur curing yang diberikan.

Studi tentang kuat lentur juga telah dilakukan oleh Velosa [10]. Hasil penelitian yang diperoleh adalah
nilai kuat lentur MK3 memiliki kuat lentur sebesar 700 KPa dan mortar semen sebesar 900 KPa.Jika hasil
ini dibandingkan dengan nilai kuat lentur komposit geopolimer yang diperoleh memiliki nilai yang lebih
baik.Hal ini berarti penguat serat bambu bekerja dengan baik dalam meningkatkan kuat lentur dari sampel.
573.58
665.9
412.14
794.21
947.29
562.14
1017.75
1155.62
659.8
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
0.3 0.5 0.7 0.9
K
u
a
t

L
e
n
t
u
r

(
K
P
a
)
Massa ser at Bambu (g)
Nilai Kuat Lentur Komposit Geopolimer Sebagai Fungsi
Temper atur Curing
150oC
450oC
750oC
Vicran Zharvan / Studi Struktur Mikro Dan Kuat Lentur Komposit .. SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 151
Str uktur mikr o komposit geopolimer
Gambar 6 memperlihatkan morfologi komposit geopolimer berpenguat serat bambu.Tampak adanya
celah kosong (void) antara penguat dan matriks. Hal ini dapat berpengaruh terhadap nilai kuat lentur karena
menjadi penyebab munculnya retakan (cracks) sehingga komposit akan gagal diawal.
















Gambar 6.Morfologi dari komposit geopolimer dengan insert bagian yang diperbesar


Tabel 4. Hasil analisis EDS komposit geopolimer

Komponen wt (%)

Al
2
O
3
39,57

SiO
2
48,07

Na
2
O 11,91

CaO 0,46



Untuk analisis elemental yang berada pada komposit geopolimer berpenguat serat bambu digunakan
fasilitas EDS. Dan diperoleh Al
2
O
3
sebesar 39.57 wt%, SiO
2
sebesar 48.07 wt%, Na
2
O sebesar 11.91 wt%
dan CaO sebesar 0.46 wt% lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 4.


5. SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Penambahan serat bambu sebesar 1.5% volume sampel (0.6 gram) menghasilkan nilai kuat lentur paling
tinggi dari komposit geopolimer yang diproduksi.
2. Kuat lentur komposit geopolimer merupakan fungsi temperatur curing.
3. Hasil karakterisasi mikrostruktur memperlihatkan morfologi komposit geopolimer yang belum
sempurna.



Vicran Zharvan / Studi Struktur Mikro Dan Kuat Lentur Komposit .. SFA 2013

152 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
6. DAFTAR ACUAN
1. Tonoli dkk, (2009),Cellulose Modified Fibres in Cement Based Composites,Journal of Composites:
Part A, Vol. 40, pp. 2046-2053.
2. Subaer dan Abdul Haris.(2007), Fisika Mater ial I. Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar:
Makassar.
3. Kamaruddin dkk.(2011), Investigating The Possibility Of Utilization Of Kaolin And The Potential Of
Metakaolin To Produce Green Cement For Construction Purposes-A Review.Australian Journal of
Basic and Applied Sciences, vol 9, pp. 441-449.
4. Zimmermann dkk.(2004),Cellulose Fibrils for Polymer Reinforcement,Journal of Advanced
Engineering Science, Vol. 6(9), pp. 754-761.
5. Oksman dkk.(2003),Natural Fibers as Reinforcement in Polylactid Acid (PLA)
Composites.Composites Science Technology, Vol 63, pp. 1317-1324.
6. Dranzfield, E., Widjaja, E.A.(1995),Bamboo,Prosea Foundation, Bogor, Indonesia.
7. Zuhua Z, dkk.(2009),Role of Water in The Synthesis of Calcined Kaolin Based Geopolymer,Journal
of Applied Clay Science, Vol. 43, pp. 218-223.
8. Fatriasari, Widya.(2006), Analisis Morfologi Serat dan Sifat Fisis Kimia Beberapa Jenis Bambu
sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas.Laporan Teknik Akhir Tahun 2006 UPT BPP Biomaterial.LIPI.
9. Sun dkk.(2008),Structure of bamboo in formic acid,Bioresources.Vol 3. pp. 297-315.
10. Velosa dkk, (2009),Influence of chemical and mineralogical composition of metakaolin on mortar
characteristics,Journal of Acta Geodyn, Vol. 153, pp. 121-126.







Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 153
PENGARUH ION DOPING Zn TERHADAP
SIFAT KEMAGNETAN BARIUM M-HEKSAFERIT BaFe
12-x
Zn
x
O
19

BERBASIS PASIR BESI TULUNGAGUNG


Linda Silvia, Kur niawati Choir ur Rosyidah, M. Zainur i

Jurusan Fisika, FMIPA-Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arif Rahman Hakim Sukolilo Surabaya
e-mail: linda.silvia11@mhs.physics.its.ac.id


Abstr ak

Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh ion doping Zn terhadap sifat kemagnetan
Barium M-Heksaferit (BaFe
12-x
Zn
x
O
19
)

berbasis pasir besi Tulungagung. Sintesis serbuk
Barium M-Heksaferit (BaM) menggunakan metode kopresipitasi dengan bahan dasar pasir
besi dari daerah Tulungagung. Eksperimen dilakukan dengan mengontrol konsentrasi Zn
dengan variasi nilai x= 0 , 0.3, dan 0.7 dengan temperatur kalsinasi 1000 C. Karakterisasi
sampel dilakukan dengan Difraksi Sinar-X (XRD), VSM, dan SEM. Pembentukan fase BaM
dikonfirmasi melalui data XRD, dimana pembentukan fase BaM terbentuk pada temperatur
kalsinasi 1000 C, sedangkan untuk variasi doping didapatkan untuk BaM tanpa doping
medan koersivitasnya 0.09 T dan remanensi magnetiknya 7.72 emu/gr dan untuk konsentrasi
doping x= 0.3 medan koersivitas 0.04 T dan remanensi magnetiknya 11.81 emu/gr, dimana
nilai medan koersivitas dan magnetisasi remanensi pertikel BaM bervariasi bergantung pada
konsentrasi ion doping yang ditambahkan. Partikel BaM yang terbentuk berstruktur
heksagonal dengan ukuran partikel rata-rata 1m.

Kata kunci: kopresipitasi, koersivitas, magnetisasi remanensi, VSM


1. PENDAHULUAN

Seiring dengan perkembangan teknologi yang terus berkembang terutama kebutuhan untuk
mempermudah aktifitas kehidupan manusia, perkembangan teknologi merambah pula hingga di dunia
kemiliteran, yang lebih spesifik lagi dalam bidang pertahanan keamanan, salah satunya dalam perkembangan
material sebagai penyerap gelombang mikro. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka perlu dikembangkannya
teknologi berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan membuat material yang dapat berperan sebagai
material penyerap gelombang mikro dengan memanfaatkan bahan yang murah, mudah didapat, dan
kelimpahannya tinggi. Material tersebut dapat berupa pasir besi yang dapat dimanfaatkan dalam aplikasi
teknologi tinggi.

Salah satu material yang dapat dimanfaatkan sebagai material penyerap gelombang mikro adalah Barium
M-Heksaferit (BaM). BaM dengan struktur molekul heksagonal merupakan material menjanjikan untuk magnet
permanen, perekam data, dan penyerapan gelombang mikro karena magnetokristalin anisotropik yang tinggi,
magnetisasi relatif tinggi, stabilitas kimia yang baik, dan ketahanan korosi yang baik, dimana sifat magnet dan
listrik dapat diatur sesuai aplikasi yang dibutuhkan [1]. Penelitian telah dilakukan [2] mengenai sintesis dan
karakterisasi struktur Barium M-Heksaferit BaFe
12-x
Co
x
Zn
x
O
19
(0 x 1) dengan metode kopresipitasi
menggunakan bahan sintetis, sehingga dalam penelitian ini akan dibuat material penyerap gelombang mikro
Linda Silvia, dkk. / Pengaruh Ion Doping Zn terhadap Sifat Kemagnetan .... SFA 2013

154 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
berupa Barium M-Heksaferit (BaFe
12-x
Zn
x
O
19
) dengan memanfaatkan material alam berupa pasir besi dari
daerah Tulungagung, Jawa Timur.

Pada penelitian ini BaM disubstitusi dengan menggunakan ion Zn. Pengaruh ion Zn diharapkan dapat
merekayasa sifat kemagnetan dari BaM tanpa merubah struktur dari BaM itu sendiri, sehingga sifat magnetik
dari BaM ini menjadi suatu hal mendasar yang harus diteliti. Material BaM pada penelitian ini akan disintesis
dengan metode kopresipitasi, yang divariasikan dengan konsentrasi ion doping Zn pada temperatur kalsinasi
1000C sehingga terbentuk BaM sebagai material magnetik. Material magnetik yang diperoleh akan diselidiki
dengan X-Ray Diffractometer (XRD) untuk mengidentifikasi fasa, Vibrating Sample Magnetometer (VSM)
untuk mengetahui sifat kemagnetannya, dan Scanning Electron Microscope (SEM) untuk mengetahui struktur
mikro dari BaM.

2. DASAR TEORI

Barium M-Heksaferit (BaM) merupakan bahan oksida dengan struktur kristal heksagonal yang dicirikan
dengan dua parameter kisi yaitu lebar dari bidang heksagonal a = 0.588 nm, dan tinggi dari kristal, c = 2.32 nm
dengan space group P63/mmc serta memiliki temperatur melting yang sangat tinggi yaitu 1390 C [3]. Gambar
struktur kristal BaM (BaFe
12
O
19
) diperlihatkan pada Gambar 1.












(a) (b)
Gambar. 1. (a) Struktur kristal BaFe
12
O
19
dengan kode database 1008841CIF,
(b) Hasil SEM dan TEM BaFe
12
O
19
[4]

BaM termasuk Hexagonal ferrit memiliki resistifitas, anisotropik magnetokristalin, dan magnetisasi
saturasi yang tinggi, serta tegangan hilang dielektrik yang rendah pada stabilitas termal [5] . BaM memiliki
magnetisasi saturasi (M
s
) sebesar 72 emu/g, nilai medan koersivitas (H
c
) sebesar 6700 Oe dan temperatur Curie
sebesar 450
o
C [6]. Salah satu cara yang digunakan untuk merekayasa sifat kemagnetan BaM yaitu dengan
memberikan doping. Syarat material yang dapat digunakan sebagai doping yaitu memiliki jari-jari ionik yang
hampir sama, sebagai contohnya Zn yang dapat menggantikan Fe pada struktur BaM. Zn (Zinc) bersifat
diamagnetik dan secara umum memiliki keadaan oksidasi +2. Jari-jari ionik Zn
2+
adalah 0.074 nm, sedangkan
ion Fe
3+
dengan jari-jari ioniknya 0.065 nm, sehingga dimungkinkan kehadiran

ion Zn
2+
akan menggantikan
Fe
3+
. Hal ini dikarenakan kemiripan dimensi ionik antara ion Fe
3+
dengan Zn
2+
. Kehadiran ion Zn
2+
ini sebagai
pengganggu dalam kemagnetan Barium M-Heksaferit. Dalam struktur Barium M-Heksaferit, penyisipan ion
Zn
2+
pada struktur M-heksagonal menggantikan ion Fe
3+
tidak merubah stuktur kristal yang sudah ada.
Kehadiran Zn
2+
ini untuk menurunkan sifat kemagnetan Barium M-Heksaferit sehingga sifatnya menjadi lebih
lunak.




Linda Silvia, dkk. / Pengaruh Ion Doping Zn terhadap Sifat Kemagnetan .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 155
3. METODOLOGI PENELITIAN

Dalam penelitian ini serbuk Barium M-Heksaferit (BaM) disintesis dengan menggunakan metode
kopresipitasi. Bahan utama yang digunakan yaitu pasir besi dari daerah Tulungagung, Barium karbonat
(BaCO
3
), Zink (Zn), HCl 37%, NH
4
OH 98%, dan aquades. Serbuk pasir besi yang telah diekstrak dilarutkan
dalam HCl 12M dan diaduk menggunakan magnetic stirrer selama 2 jam pada temperatur ~70 C dan
disaring. Kemudian serbuk BaCO
3
dilarutkan dalam larutan HCl dan ditambahkan Zn dengan variasi x=0.0, 0.3,
dan 0.7 sampai terlarut sempurna. Kedua larutan tersebut diaduk dengan magnetic stirrer selama 15 menit.
kemudian ditambahkan larutan NH
4
OH secara perlahan untuk membentuk endapan sambil diaduk selama 15
menit dengan stirrer. Endapan yang terbentuk (berwarna kecoklatan) dicuci dengan aquades sampai pH 10 dan
disaring. Endapan yang telah disaring dikeringkan pada temperatur 80 C dan didapatkan serbuk prekursor
BaM. Prekursor BaM kemudian dikalsinasi pada temperatur 1000 C untuk mendapatkan kristalin BaM yang
kemudian dikarakterisasi dengan XRD, VSM, dan SEM.

4. HASIL DAN DISKUSI

Analisa struktur kristal Barium M-Heksaferit (BaM) dilakukan dengan menggunakan alat X-Ray
Diffractometer (XRD) pada jangkau sudut antara 15 - 65 yang bertujuan untuk mengidentifikasi fasa-fasa
yang terbentuk pada Barium M-Heksaferit (BaM). Gambar 2 menunjukkan pola XRD dari sampel BaM tanpa
pendopingan Zn dan dengan pendopingan Zn.











Gambar 2. Pola difraksi sinar-X BaM (BaFe
12-x
Zn
x
O
19
) dengan variasi konsentrasi doping Zn

Dari gambar terlihat bahwa adanya karakteristik puncak struktur BaM, dan ada satu fasa lain berupa
hematite (Fe
2
O
3
). Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, komposisi fasa relatif hasil penghalusan
(refinement) Rieveld dengan perangkat lunak Rietica untuk sampel serbuk Barium M-Heksaferit yang
dikalsinasi pada temperatur 1000 C teramati bahwa pada konsentrasi doping 0.3 menghasilkan nilai yang
optimum, dimana terlihat fasa dominan BaM [PDF 00-039-1433] dan fasa minor Hematite [PDF 00-033-0664],
seperti ditunjukkan pada Tabel 1.



Linda Silvia, dkk. / Pengaruh Ion Doping Zn terhadap Sifat Kemagnetan .... SFA 2013

156 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
-40
-30
-20
-10
0
10
20
30
40
-2.00 -1.00 0.00 1.00 2.00
M

(
e
m
u
/
g
r
)
H (T)
BaM 0.0
BaM 0.3
BaM 0.7
Tabel 1. Komposisi Fase Relatif Hasil Penghalusan (refinement) Rieveld dengan
perangkat lunak Rietica untuk sampel serbuk BaM dengan variasi konsentrasi doping Zn
Sample
BaM
Parameter Kecocokan
GoF
Komposisi Fase Relatif (%)
BaFe
12
O
19
Fe
2
O
3

x=0.0 1.9 43.45 56.55
x=0.3 1.7 62.52 37.48
x=0.7 2.7 58.76 41.24

Dari Tabel 1, menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian dari penghalusan Rietveld sampel serbuk BaM

dengan software Rietica diperoleh tingkat kesesuaian yang cukup baik karena diperoleh nilai GoF yang cukup
kecil dimana penghalusan Rietveld dapat diterima menurut kriteria yang disyaratkan oleh Kisi, yaitu GoF < 4%
dan R
wp
< 20% [7].

Sifat magnetik hasil pengukuran dengan VSM ditunjukkan pada Gambar 3. Dari gambar tersebut dapat
dilihat bahwa partikel BaM dengan konsentrasi doping 0.3 mempunyai nilai magnetisasi lebih besar yaitu 11.81
emu/gr dengan nilai medan koersivitas sebesar 0.04 T yang lebih tinggi dibandingkan dengan doping pada 0.7.
Sedangkan BaM tanpa pendopingan menunjukkan kurva histeresis yang melebar, dimana bersifat hard
magnetic. Nilai magnetisasi remanensi BaM tanpa pendopingan Zn sebesar 7.72 emu/gr lebih rendah
dibandingkan BaM dengan konsentrasi doping 0.3. Untuk lebih jelasnya nilai medan koersivitas dan magnetisasi
remanensi dari masing-masing sampel berdasarkan Gambar 3. dapat dilihat pada Tabel 2.











Gambar 3. Kurva histerisis BaM (BaFe
12-x
Zn
x
O
19
) dengan variasi konsentrasi doping Zn

Penambahan Zn
2+
yang bersifat diamagnetik sebagai pengganggu dalam kemagnetan ferit oksida, dimana
dengan momen magnet yang lebih rendah akan mereduksi sifat magnetik BaM. Dengan adanya penambahan
konsentrasi doping Zn telah mereduksi sifat hard magnetic dari BaM, sehingga diperoleh BaM yang bersifat soft
magnetic, seperti ditunjukkan pada Gambar 3. Penelitian lain juga telah dilakukan oleh Ramli [8] mengenai sifat
kemagnetan BaM tanpa doping menunjukkan kurva histeresis yang lebar dengan magnetisasi remanensi dan
medan koersivitas besar, tetapi ketika dilakukan pendopingan Zn mengalami kenaikan magnetisasi remanensi
dan menurunkan medan koersivitas yang menjadikannya soft magnetic, dimana ditandai dengan adanya kurva
histeresis yang mempunyai urut balik hampir simetris ketika dikenai medan magnet maupun ketika medan
magnet ditiadakan, dan dapat dilihat dari luasan kurva histeresis yang menyempit.



Linda Silvia, dkk. / Pengaruh Ion Doping Zn terhadap Sifat Kemagnetan .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 157

Tabel 2. Nilai medan koersivitas (Hc) dan Magnetisasi remanensi (Mr) BaM
dengan variasi konsentrasi doping Zn
Sampel BaM Hc (T) Mr (emu/gr)
x = 0.0 0.09 7.72
x = 0.3 0.04 11.81
x = 0.7 0.04 7.10


Nilai koersivitas dan magnetisasi remanensi dari partikel BaM tanpa pendopingan Zn berbeda jika
dibandingkan dengan pendopingan Zn yang menghasilkan kecenderungan yang berlawanan. Perbedaan ini
cukup menarik perhatian, sehingga memerlukan kajian yang lebih mendalam. Namun demikian, terlihat jelas
bahwa kekuatan magnetik partikel dipengaruhi oleh pendopingan Zn yang dilakukan.

Gambar 4 menunjukkan foto SEM dari sampel BaM (BaFe
12-x
Zn
x
O
19
) dengan doping 0.3. Dari gambar
tersebut dapat dilihat bahwa sampel tersebut memiliki morfologi yang hampir sama yaitu berbentuk heksagonal,
dimana struktur kristal heksagonal merupakan struktur kristal BaM sesuai dengan kode database 1008841
mengacu pada data crystallographic information file (CIF) BaFe
12
O
19
(http//www.crystallography. net) dan
sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pullar [3]. Pada foto SEM tersebut menunjukkan
bahwa BaM yang terbentuk dengan komposisi cukup banyak dengan rata-rata ukuran partikel yang terbentuk
1 m, sehingga ukuran partikel BaM tersebut dalam skala orde mikron.








Gambar 4. Hasil pengamatan morfologi BaM (BaFe
11.7
Zn
0.3
O
19
) dengan SEM


5. SIMPULAN
Pembuatan partikel BaM dengan metode kopresipitasi menghasilkan partikel dengan struktur heksagonal
dengan ukuran rata-rata partikel 1 m. Penambahan ion doping Zn berpengaruh terhadap sifat kemagnetan
BaM. Penambahan Zn menyebabkan BaM bersifat softmagnetik, dimana partikel BaM dengan konsentrasi
doping 0.3 mempunyai nilai magnetisasi lebih besar yaitu 11.81 emu/gr dengan nilai medan koersivitas
sebesar 0.04 T. Sifat kemagnetan BaM tanpa doping menunjukkan kurva histeresis yang lebar dengan
magnetisasi remanensi dan medan koersivitas besar, tetapi ketika dilakukan pendopingan Zn mengalami
kenaikan magnetisasi remanensi dan menurunkan medan koersivitas yang menjadikannya soft magnetic
dengan kecenderungan yang masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk dapat dimanfaatkan sebagai material
penyerap gelombang mikro.



Linda Silvia, dkk. / Pengaruh Ion Doping Zn terhadap Sifat Kemagnetan .... SFA 2013

158 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
6. DAFTAR ACUAN
1. Paul, K.B.M., (2007). Physica B, 388.
2. Pangga, D., (2011), Sintesis dan Karakterisasi Struktur Barium M-Hexaferrite BaFe
12-x
Co
x
Zn
x
O
19
(0 x
1), Tesis Magister, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
3. Pullar, R.C., (2012). Hexagonal ferrites: A review of the synthesis, properties and applications of
hexaferrite ceramics. Prog. Mater. Sci. 57, pp. 11911334.
4. Ting, T.-H., Wu, K.-H., (2010). Synthesis, characterization of polyaniline/BaFe
12
O
19
composites with
microwave-absorbing properties. J. Magn. Magn. Mater. 322, 21602166.
5. Hahn, D.W., Han, Y.H., (2006). C
02
Z Type Hexagonal Ferrites Prepared by Solgel Method. Materials
Chemistry and Physics 95, pp. 248251.
6. Zainuri, M., (2010). Laporan Akhir Studi Absorbsi Elektromagnetik pada M-Hexaferrites untuk Aplikasi
Anti Radar. ITS Surabaya.
7. Kisi,E.H., (1994), Rietveld Analysis of powder diffraction patterns. Materials Forum
8. Ramli, I., (2012). Sintesis dan Karakterisasi Struktur, Sifat Magnet, dan Listrik Barium M-
Heksaferrite/Polianilin Berstruktur Core Shell, Laporan Thesis Jurusan Fisika. Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya.
9. COD 1008841, Crystallography Open Database (online). http://www.crystallography.net/








Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 159
SINGKONG SEBAGAI BAHAN BAKU CARBON BLACK
PADA APLIKASI BATERE LITHIUM


Bambang Pr ihandoko

Pusat Penelitian Fisika LIPI
Komplek PUSPIPTEK, Serpong Tangsel, Banten
e-mail: prihandoko1@yahoo.com


Abstr ak

Tepung singkong mempunyai potensi sebagai sumber bahan baku energi alternatif baik biofuel
maupun bahan carbon. Penelitian ini melakukan pengembangan potensi sebagai bahan baku
carbon black. Tepung singkong mengandung ikatan carbon yang sangat tinggi, sehingga
tepung singkong ataupun tapioka dengan metoda pirolisa dapat dijadikan carbon black. Proses
pirolisa dilakukan dengan pemanasan 500
0
C dalam 2 jam, kemudian 900
0
C dalam 2 jam di
kondisi inert gas nitrogen. Kandungan fixed carbon setelah pembakaran 900
0
C menunjukkan
sekitar 95%. Carbon black mempunyai koduktifitas 0,198 S/cm. Bentuk carbon black dalam
foto SEM adalah amorf seperti kaca/gelas. Aplikasinya sebagai bahan aditif tidak memberikan
fungsi negatif dalam pembuatan komponen anoda.

Kata kunci: singkong, carbon black, aditif, bater e lithium, pir olisa.


1. PENDAHULUAN

Ketela pohon, ubi kayu, atau singkong (Manihot utilissima) adalah perdu tahunan tropika dan subtropika
dari suku Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya
sebagai sayuran. Singkong pada dasarnya adalah sumber karbohidrat. Komposisinya menunjukkan 60-65
persen kelembaban, 20-31 persen karbohidrat, protein kasar 1-2 persen dan kandungan relatif rendah vitamin
dan mineral. Namun, akar kaya kalsium dan vitamin C dan mengandung sejumlah nutrisi penting dari tiamin,
riboflavin dan asam nikotinat. Pati singkong mengandung 70 persen amilopektin dan 20 persen amilosa. Pati
singkong dimasak memiliki daya cerna lebih dari 75 persen [1].



Gambar 1. Singkong dan pohonnya serta tepung tapioca

Singkong, pohon merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber
protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionina [1]. Di
negara negara maju, singkong dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pembuatan alkohol. Tepung tapioka
juga digunakan dalam industri lem, kimia dan tekstil. Indonesia adalah penghasil singkong keempat di dunia.
Dari luas areal 1,24 juta hektar tahun 2005, produksi singkong Indonesia sebesar 19,5 juta ton.
Bambang Prihandoko /Singkong Sebagai Bahan Baku Carbon black .... SFA 2013
160 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Dalam pengembangan batere lithium, carbon black sangat dibutuhkan sebagai bahan aditif yang
dicampurkan di pembuatan lembaran elektroda. Singkong yang mempunyai kandungan karbohidrat dapat
menjadi bahan baku dalam pembuatan carbon black.


2. DASAR TEORI

Baterai ion litium (biasa disebut Baterai Li-ion atau LIB) adalah salah satu anggota keluarga baterai isi
ulang. Di dalam baterai ini, ion litium bergerak dari elektroda negatif ke elektroda positif saat dilepaskan, dan
kembali saat diisi ulang. Baterai Li-ion memakai senyawa litium interkalasi sebagai bahan elektrodanya,
berbeda dengan litium metalik yang dipakai di baterai litium non-isi ulang [1]. Bagian baterai lithium dapat
dilihat di Gambar 2.

Gambar 2. Skematik bagian dari batere lithium dari macroscopic sampai atomic.

Carbon black menjadi salah satu bagian dari campuran komponen katoda yang sebenarnya berlaku juga untuk
komponen anoda. Carbon black sudah menjadi satu bagian dari teknologi batere seperti di Tabel 1 [3].

Tabel 1.
Penggunaan carbon pada beberapa jenis batere



Carbon black digunakan sebagai jalur perantara dalam proses transportasi elektron. Pengukuran konduktifitas
dilakukan dengan Electrochemical Impedance Spectrometer (EIS). Profil EIS semicirlce yang dihasilkan adalah
mempunyai kemiripan dengan model yang telah digambarkan pada Gambar 3. Penulis mendapatkan beberapa
gambar yang merepresentasikan analisa R
gi
dan R
gb
dari bentuk setengah lingkaran.

macroscopic microscopic atomic
Yono HP, dkk. / Antena Mikrostrip Loop Simetri. SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 161

Gambar 3. Interpretasi bentuk semicirle dari grafik impedansi komplek [4].

Nilai R
g
dan R
gb
didapatkan dengan menentukan garis semicircle yang memotong sumbu-x. Selanjutnya nilai
konduktifitas dihitung berdasarkan persamaan


A
l
R
i i

(1)
dengan R = hambatan yang terukur [ ]
= resistivitiy [ .cm]
l = dimensi tebal sampel [cm]
A= luas penampang sampel [cm
2
]

Konduktifitas adalah

= 1/ = t / (R.A) (2)



3. METODOLOGI PENELITIAN

Tepung singkong yang digunakan adalah tepung tapioka ataupun tepung singkong. Tepung singkong
dibakar dengan metoda pirolisa dalam tungku yang dialiri gas nitrogen. Pembakaran dilakukan dua kali, yaitu
suhu 500
0
C selama 2 jam dan kemudian suhu 900
0
C selama 2 jam. Carbon black hasil pembakaran dilakukan
pengukuran kandungan fixed carbon, SEM dan konduktifitas. Dalam uji battery cycler, carbon black dicampur
dengan bahan aktif anoda Li
5
Ti
4
O
12
/C untuk membuat setengah sel.

4. HASIL DAN DISKUSI

Pembuatan bahan aditif carbon black dilakukan melalui dua tahap proses pirolisa untuk mendapat proses
yang efisien. Proses pirolisa bekerja dengan bagus dalam menghindarkan terjadinya abu. Hasil pembuatan
karbon black dari dua suhu berbeda dapat dilihat di Gambar 4. Pembakaran pada suhu 500
0
C merupakan proses
awal pirolisa. Carbon black yang didapat masih menggumpal dalam aglomerat yang cukup besar. Sehingga
penghalusan perlu dilakukan sebelum proses pembakaran kedua. Hasil dari pembakaran ini tentu mempunyai
kandungan fixed carbon yang rendah, yaitu 54,11%,. Pembakaran kedua pada suhu 900
0
C dilakukan untuk
menaikan fixed karbon sampai di sekitar 94,6%.
Bambang Prihandoko /Singkong Sebagai Bahan Baku Carbon black .... SFA 2013
162 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

a b
Gambar 4. Hasil pembakaran pirolisa tepung tapioca pada suhu 500
0
C (a) dan 900
0
C (b).

Bentuk carbon black dari hasil photo SEM terlihat transparan seperti kaca (lihat Gambar 5). Hal ini
menunjukan bahwa fase carbon black merupakan amorf.


Gambar 5. Hasil photo SEM carbon black dari tepung tapioka

Konduktifitas sampel dengan pembakaran 500
0
C hanya mencapai 10
-8
S/cm. Sesuai hasil uji fixed carbon
carbon black masih belum terbentuk dengan sempurna dan masih mengandung banyak bahan serat yang belum
terbakar sempurna. Konduktifitas sampel dengan pembakaran 900
0
C menunjukkan 0,198 S/cm. Besar
konduktifitas ini memberikan keterangan bahwa carbon black bisa digunakan sebagai bahan aditif batere
lithium.

Tabel 2. Konduktifitas dari pembakaran. 500
0
C dan 900
0
C
No Sampel
t
[cm]
A
[cm
2
]
R
[ohm]

[ohm.cm]

[S/cm]
1 ct500 0.92 9.6359 4.89E+07 5.12E+07 1.95E-08
2 ct900 1.05 9.6359 5.5 5.05E+00 1.98E-01


Gambar 7 merupakan grafik charge dan discharge dari pengujian setengah sel Li
4
Ti
5
O
12
/C dengan aditif
karbon black dari tepung singkong. Siklus charge dan discharge dapat berjalan denga baik, walaupun kapasitas
setengah sel masih.kecil. Grafik ini menunjukan bahwa karbon black dapat digunakan sebagai bahan aditif
batere lithium.

Yono HP, dkk. / Antena Mikrostrip Loop Simetri. SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 163

Gambar 7. Grafik charge dan discharge setengah sel Li
4
Ti
5
O
12
/C
dengan aditif carbon black dari tepung singkong

5. SIMPULAN

Carbon black dari tepung singkong melalui proses pirolisa 900
0
Cdapat digunakan sebagai bahan aditif
batere lithium dengan karakteristik fixed carbon 94,6%, konduktifitas 0,198 S/cm. Carbon black membentuk
fase amorf. Dalam proses charge discharge carbon black tidak menghalangi kinerja bahan aktif elektroda,
seperti anoda Li
4
Ti
5
O
12
/C.

6. DAFTAR ACUAN
1. Cassava, Available:[ https://en.wikipedia.org/wiki/Cassava] (tanggal akses : 14 Juni 2013)
2. Ketela pohon, Available : [http://id.wikipedia.org/wiki/Ketela_pohon] (tanggal akses : 14 Juni 2013).
3. Jean-Yves Huot. (2008) Carbon Materials for Lead Acid Batteries Presentation at the 11th
4. H.Y.P. Hong, (1976) Materials Result Bulletin, 11, hal. 173-178.
5. European Lead Battery Conference, September 23-26, 2008 Warsaw, Poland
.










Bambang Prihandoko /Singkong Sebagai Bahan Baku Carbon black .... SFA 2013
164 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773




Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 165
ANTENA MIKROSTRIP LOOP SIMETRIS TERPISAH OLEH GAP
DENGAN FEED LINE CPW UNTUK FREKUENSI 2,4GHz


Yono Hadi Pr amono, Sefi Novendr a, Wahyu Hendr a



Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
e-mail: kajur_fisika@its.ac.id


Abstrak

Antena mikrostrip loop simetris yang terpisah oleh gap dengan feed line CPW (Co-Planar
Waveguide) pada frekuensi kerja 2,4GHz telah didisain dan dikarakteristisasi dengan
menggunakan metode FDTD(Finite Different Time Domain). Dimensi antena ini 68x100mm
menggunakan substrat FR-4 dengan permitivitas relatif sebesar 4.3. Struktur loop antena
bentuknya menyerupai question tag karena adanya sisipan gap dan ekor pendek pada
ujungnya. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa pada panjang ekor 2 sampai 4 mm sangat
menentukan nilai optimal return loss yang bervariasi antara -26 dB hingga -32 dB dengan
Bandwidth 120MHz. Pola radiasi dari antena ini dalam dua arah dengan HPBW 80
o


Kata Kunci: antena mikrostrip, FDTD, FR-4, return loss, CPW, Pola radiasi, HPBW


1. PENDAHULUAN
Teknologi di bidang informasi dan komunikasi yang tengah populer saat ini adalah sistem komunikasi
nirkabel (wireless) dimana pengiriman informasi tidak lagi menggunakan media kabel sebagai perambatan
gelombangnya. Perangkat yang berperan penting dalam sistem komunikasi nirkabel adalah antena.
Antena harus memenuhi kebutuhan teknologi komunikasi baik dari segi kemampuan atau ukuran yang
fleksibel dan kompatibel. Salah satu jenis antena yang memenuhi kriteria tersebut adalah antena mikrostrip.
Pada dasarnya, proses pengiriman informasi dengan sistem komunikasi nirkabel adalah dengan prinsip
penjalaran gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik yang dikirimkan dari suatu pemancar yang
jauh akan mengakibatkan tejadinya pelemahan sinyal sehingga penerima akan menerima sinyal yang kurang.
Oleh sebab itu diperlukan penguatan dan efisiensi antena yang besar.


2. DASAR TEORI
Antena CPW
Antena merupakan perangkat yang biasanya terbuat dari material konduktor untuk memancarkan dan
menangkap gelombang radio. Antena juga dapat dikatakan sebagai suatu struktur transisi antara ruang hampa
(free-space) dengan pemandu gelombang [1]. Antena yang telah dibuat merupakan salah satu jenis antena CPW
(Coplanar Waveguide). CPW merupakan salah satu bentuk saluran transmisi yang dapat mentransmisikan sinyal
microwave. CPW dibentuk oleh lempengan konduktor tipis yang diletakkan diatas suatu bahan dielektrik, yang
disebut substrat, secara paralel [2]. Antena mikrostip ini memiliki ground plane berada pada sisi bawah
substrat. Jenis ini disebut dengan grounded coplanar waveguide (GCPW) dan dibentuk untuk mengatasi
desipasi daya dari CPW [3].







Yono HP, dkk. / Antena Mikrostrip Loop Simetri. SFA 2013
166 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773













Gambar 1. Geometri Coplanar Waveguide (CPW)

Par ameter Antena

Bandwidth dari antena didefinisikan sebagai kisaran frekuensi kerja antena dalam suatu karakteristik
yang sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Nilai bandwith dapat dihitung menggunakan persamaan [4]:


=

(1)


=

(2)
%

=

100% (3)
dimana f
H
: frekuensi tinggi yang diterima
f
L
: frekuensi rendah yang diterima
f
C
: frekuensi center.

Return Loss adalah perbandingan antara amplitudo dari gelombang yang direfleksikan terhadap
amplitudo gelombang yang dikirimkan. Return Loss digambarkan sebagai peningkatan amplitudo dari
gelombang yang direfleksikan (V
0
-
) dibanding dengan gelombang yang dikirim (V
0
+
).

Pola radiasi merupakan representasi matematika atau grafik dari radiasi medan jauh dari suatu properti
antena sebagai fungsi arah. Pola radiasi dapat terbentuk akibat pengaplikasian arus listrik pada antena yang
selalu dikelilingi medan magnet. Arus listrik AC membrikan perceptan pada muatan-muatan dalam antena
sehingga timbul medan elektomagnetik [5].

3. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode simulasi dan karakterisasi antena yang didesain. Material yang digunakan
sebagai substrat antena mikrostrip ini adalah material yang terbuat dari bahan dielektrik FR4 (Flame
Retardancies) dengan nilai permitivitas efektif 4,3 dan ketebalan 1,6 mm.


Gambar 2. Desain antena CPW dengan variasi L5 = 0 mm

r

w
w
s
h
x
y
z
Yono HP, dkk. / Antena Mikrostrip Loop Simetri. SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 167

Gambar 3. Desain antena CPW dengan variasi L5 = 15 mm



Gambar 4. Desain antena CPW dengan variasi L5 terhubung dengan feed line



Gambar 5. Desain antena CPW tampak samping



Gambar 6. Desain antena CPW tampak belakang


Nilai dimensi antena mikrostrip CPW yang diharapkan bekerja pada frekuensi 2,4 GHz ini ditentukan
sebesar

4 untuk tiap sisinya dimana nilai

adalah 125 mm. Sedangkan untuk nilai feed line ditentukan


sebesar nilai

2 dimana

antena memiliki nilai 70,2 mm.




Yono HP, dkk. / Antena Mikrostrip Loop Simetri. SFA 2013

168 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Tabel 1. Dimensi antena mikrostrip CPW yang telah di desain
No Dimensi Nilai (mm)
1 W 100
2 L 68
3 h 1,6
4 t 0,035
5 s 2
6 W
1
1,054
7 W
2
30
8 W
3
1
9 W
4
29,999
10 W
5
0,999
11 L
1
33,375
12 L
2
1
13 L
3
30
14 L
4
1,072
15 L
5
(divariasikan)
0
4
30
16 L
6
29,26

Setelah itu antena difabrikasi dengan menggunakan metode etching. Sebelum dilakukan etching, desain
antena tampak depan dan tampak belakang digambar dengan software Auto Cad atau CorelDraw, kemudian
gambar desain dicetak pada kertas scotlight dan dipotong sesuai dengan bentuk antenna. Kertas scotlight
ditempelkan pada kedua sisi permukaan PCB berbahan subtrat FR-4.

4. HASIL DAN DISKUSI
Geometri antena mikrostrip loop simetris CPW terpisah gap ini telah digambarkan pada gambar 2 6
dengan ukuran 100 x 68 mm
2
. Antena didesain diatas substrat FR-4 yang memiliki ketebalan 1,6 mm dan nilai
permitivitas 4,3. Struktur loop antena bentuknya menyerupai question tag karena adanya sisipan gap dan ekor
pendek pada ujungnya. Ekor pendek inilah yang divariasikan panjangnya untuk mengetahui pengaruhnya dalam
parameter antena. Variasi yang diberikan sebanyak 3 ukuran, yang pertama tanpa ekor, yang kedua dengan ekor
sepanjang 4 mm dan ketiga dengan ekor yang tersambung langsung dengan feed line CPW sehingga lebih
menyerupai huruf P yang simetris.

Simulasi karakterisasi antena mikrostrip loop simetris CPW terpisah gap ini dilakukan dengan metode
finite different time domain dan hasilnya tampak seperti pada gambar 7 (a) hingga 7 (c). Gambar tersebut adalah
grafik S11 yang menunjukkan frekuensi kerja antena dan nilai RL (return loss) antena.

Berdasarkan gambar 7, dapat diketahui bahwa ketiga variasi antena tepat bekerja pada frekuensi 2,4 GHz
dan bandwidth 120MHz dengan nilai RL yang bervariasi kurang dari -10 dB. Variasi panjang ekor antena
ternyata berpengaruh pada nilai RL antena, hanya saja nilai pertambahan ekor antena tidak berbanding terbalik
dengan nilai parameter RL. Untuk antena pertama dengan nilai L5 = 0 mm memiliki nilai RL sebesar -29,2 dB,
antena kedua dengan nilai L5 = 4 mm memiliki nilai RL sebesar -31,9 dB, sedangkan antena ketiga dengan nilai
L5 = 30 mm memiliki nilai RL sebesar -30,3 dB. Dari ketiga antena hasil simulasi, antena kedua merupakan
antena terbaik karena memiliki nilai RL paling kecil.

Yono HP, dkk. / Antena Mikrostrip Loop Simetri. SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 169

(a)


(b)


(c)
Gambar 7. Grafik nilai frekuensi dan return loss dari antena mikrostrip loop simetris CPW terpisah gap
untuk
(a) variasi L5 = 0 mm, (b) variasi L5 = 4 mm, dan (c) variasi L5 = 30 mm.

5. SIMPULAN

Berdasarkan desain dan karakterisasi yang telah dilakukan pada antena mikrostrip loop simetris CPW terpisah
gap dapat disimpulkan bahwa:
a. Desain antena dapat digunakan untuk komunikasi wireless yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dan
nilai return loss yang bervariasi antara -26 dB hingga -32 dB dengan Bandwidth 120MHz .
b. Antena mikrostrip CPW pertama dengan variasi L5 = 0 mm memiliki nilai RL sebesar -29,2 dB.
c. Antena mikrostrip CPW kedua dengan variasi L5 = 4 mm memiliki nilai RL sebesar -31,9 dB.
d. Antena mikrostrip CPW ketiga dengan variasi L5 = 30 mm memiliki nilai RL sebesar -30,3 dB.


Yono HP, dkk. / Antena Mikrostrip Loop Simetri. SFA 2013

170 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
6. DAFTAR ACUAN
1. Balanis, Constantine A. (1938), Antena Theor y: Analysis and Design 2nd Edition, John Wiley & Sons
Inc, Canada.
2. Putri, Geoidy A., (2012), Kar akter isasi dan Fabr ikasi Desain Antena Mikr ostrip Slot Ber str uktur F
Daya Feed Line CPW (Coplanar Waveguide), Program Sarjana Bidang Keahlian Optoelektronika
Jurussan Fisika FMIPA-ITS, Surabaya.
3. Huang, Yi dan Kevin B., (2008), Antennas fr om Theor y to Pr actice, Wiley & Sons, Ltd, United
Kingdom.
4. Rahayu, Vira, (2012), Fabrikasi dan Kar akter isasi Dessain Antena Mikr ostr ip Line Ber str uktur F
dengan Feed Stripline, Program Sarjana Bidang Keahlian Optoelektronika Jurussan Fisika FMIPA-ITS,
Surabaya.
5. Fadillah, U. (2004), Simulasi Pola Radiasi Antena Dipole Tunggal, Jurnal Teknik Elektro dan Komputer
Emitor. Vol.4, No. 2




Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 171
Optical Waveguide ber str uktur gabungan antar a Loop dan Directional
ber basis Mach Zehnder Interferometer


Yono Hadi Pr amono, Wina Indr a Lavina, Yasin Agung Sahodo


Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: kajur_fisika@its.ac.id



Abstrak

Optical Waveguide berstruktur gabungan antara Loop dan Directional berbasis Mach Zehnder
Interferometer (MZI) telah dianalisa dengan menggunakan metode beda hingga (Finite
Difference). Dimensi total dari divais ini adalah 30x3000 mikron dengan lebar masing-masing
waveguide sebesar 6 mikron terdiri dari 2 kanal input dan 2 kanal output. Dua kanal input
tersebut masing-masing terdiri dari input signal dan input kontrol yang terpisah sejauh
parameter gap sekitar 1-7 mikron. Hasil analisa propagasi gelombang LaserDiode (LD)
menunjukkan bahwa prinsip MZI dapat diterapkan dalam divais ini dengan sempurna, yaitu
propagasi signal LD dalam struktur salah satu tangkai loop dapat diganggu fase gelombangnya
oleh propagasi kontrol LD. Perbedaaan fase gelombang dalam struktur loop mengakibatkan
superposisi gelombang yang saling meniadakan dibagian kanal output. Sehingga divais ini
cocok untuk diaplikasikan sebagai gerbang logika NOR optik dalam sistem Opto-Electronic
Integrated Circuit (OEIC).

Kata kunci: MZI, OEIC, Optical Waveguide, Beda Hingga, signal, Laser Diode


1. PENDAHULUAN
Dalam sistem komunikasi dan pemrosesan data optik, devais switches dalam dasawarsa ini sangat
berkembang pesat, terbukti akhir akhir ini pandu gelombang optik tetap menjadi topik yang menarik bagi para
peneliti dalam perkembangan Opto-Electronic Integrated Circuit. Pandu gelombang terdiri dari bermacam
macam struktur antara lain: Y- branching, X-crossing,Microring dan Directional-Coupler yang berfungsi
sebagai pembagi daya atau power distributor [1,2]. Dalam perkembangannya gabungan fungsi pandu gelombang
telah digunakan dalam devais Switches yang memanfaatkan pergeseran fasa dari perubahan lebar gap akan
memberikan efek elektro-optik yang terintegrasi. Untuk memenuhi akan berbagai macam bentuk switching
optik maka dirancang kombinasi loop dari dari gabungan dua Y-branching dan directional dengan
menggunakan bahan linear berbasis Inferometer Mach Zehnder. Propagasi gelombang dalam struktur ini
dianalisa dengan metode simulasi beda hingga. Metode FDBPM (finite Difference Beam Propagation Method)
sangat akurat untuk menganalisa perambatan pandu gelombang meskipun dalam struktur yang sulit.


2. DASAR TEORI
Aplikasi dengan menggunakan pandu gelombang sesuai struktur mach zehnder inferometrik dibuat
dengan gabungan Y-branching bermode tunggal dengan panjang dan kemiringan yang identik sehingga menjadi
loop yang terkoneksi antara satu dengan yang lainnya pada input signal dan satu pandu gelombang larik
bermode tunggal pada input kontrol. Tangkai tangkai interferometer dibuat dengan substrat yang sama dan
bermode tunggal. Pada input signal berkas cahaya masuk pada pandu gelombang terbagi menjadi dua bagian,
masing masing menjalar pada pandu gelombang yang identik. Bila input kontrol belum diberikan pada salah
Yono HP / Optical Waveguide berstruktur gabungan antara Loop dan Directional .... SFA 2013
172 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
satu tangkai loop, maka cahaya yang terpandu melalui kedua tangkai interferometer mempunyai fasa sama dan
tidak berubah. Tetapi bila input kontrol dengan lebar gap tertentu telah diberikan sehingga terjadi pergeseran
fasa sebesar radian pada berkas cahaya yang melaluinya maka berkas cahaya menjalar pada kedua lengan
interferometer mengalami superposisi yang saling meniadakan atau disebut juga interferensi destruktif sehingga
tidak ada berkas yang diteruskan atau ditransmisikan melalui kanal input signal [3]. Karakter desain pandu
gelombang ini dapat diterapkan dalam Opto-Electronic Integrated Circuit (OEIC) yang berfungsi sebagai
gerbang logika. Analisa propagasi gelombang menggunakan metode perambatan berkas beda hingga, metode
FDBPM (Finite Different Beam Propagation) sangat akurat untuk menganalisa perambatan pandu gelombang
meskipun dalam sistem yang sulit [4].

Gelombang optik yang merambat pada pandu gelombang loop berbasis Mach Zehnder ini merambat pada
modus TE
0.
Dengan menggunakan persamaan (1) dapat disimulasikan pada FDBPM berupa medan dan daya
output optimal yang dapat digunakan sebagai gerbang logika dengan memvariasi lebar gap antara input signal
dan input kontrol. Distribusi medan dalam pandu gelombang bermode tunggal ini akan ditunjukkan dengan
superposisi moda yang mungkin, termasuk mixing ratio yang medan profil dari mode TE
0
awal yang mungkin
direplika sebisa mungkin. Didalam simulasi ini terdapat metode numerik Crank Nicholsan, Matrik Tridiagonal
dan syarat batas transparant [5].

3.METODOLOGI PENELITIAN

Penggabungan struktur loop dan directional ini berdasarkan modifikasi kombinasi dua pandu gelombang
Y-Branching dan pemberian input kontrol. Gelombang planar diasumsikan bahwa secara geometri pada arah
sumbu y adalah sama, oleh karena itu / =0dengan bahan linear adalah sebagai berikut:

( , )

=0 (1)

dengan

adalah bilangan gelombang dalam ruang hampa dan n (x,z) menyatakan indeks bias pada bahan
linear. Dalam melakukan karakterisasi ini diperlukan parameter parameter yang jelas dan panjang gelombang
yang sesuai. Parameter yang digunakan pada struktur pandu gelombang ini adalah w = 6,0 m, = 1,32 m, l1
= 300 m, l2 = 200 m, l3 = 600 m, l4 = 600 m, l5 = 600 m, l6 = 200 m, l7 = 600 m. Konstanta
propagasi /k
0
dari Moda TE
0
yaitu 1.4909940358344373 dimana k
0
merupakan bilangan gelombang dalam
ruang hampa ketika = 0.


Gambar 1. Struktur Pandu Gelombang gabungan loop dan directional


Yono HP / Optical Waveguide berstruktur gabungan antara Loop dan Directional .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 173
Metode yang digunakan dalam analisis pandu gelombang adalah metode beda hingga FDBPM (Finite
Different Beam Propagation) dengan daerah analisa terletak pada x <x
maks
dengan x
maks
=100 dan interval
x = 0.05 m pada arah transversal sedang pada arah longitudinal z=1 m [5,6]. Perhitungan dimulai dengan
menghitung titik titik tepi cladding, kemudian menghitung titik titik disebelahnya yang berjarak x dan
diteruskan ketitik titik yang berjarak z demikian seterusnya hingga titik sampel pada bagian keluaran. Harga
medan listrik hasil perhitungan dikuadratkan untuk mendapat nilai intensitasnya dan dijumlahkan secara integral
menggunakan persamaan (2) dan (3). Intensitas medan listrik pada titik titik sampel hasil perhitungan akan
ditampilkan melalui garis garis lengkungan dengan ketinggian sesuai harganya.Dalam mencari karakteristik
medan moda TE pada pandu gelombang gabungan loop dan directional ini diperlukan variasi lebar gap antara
pandu gelombang pada input signal dan input kontrol yang diperlukan dalam pengamatan propagasi medan TE
dan besar daya optik. Daya optik terdiri dari medan medan listrik yang dipandu dari hasil bagian keluaran dari
masing masing struktur pandu gelombang baik loop maupun directional. Untuk menghitung daya masukan dan
keluaran untuk tiap tiap kanal dapat dihitung dengan :

0

| ( )|
2


(2)

0

| ( )|
2

1
(3)


4. HASIL DAN DISKUSI
Karakteristik daya keluaran P
1out
(daya dari pandu gelombang MZI) dan P
2out
(daya dari pandu
gelombang lurus) sebagai fungsi gap ditunjukkan dalam gambar 2. Terlihat dalam gambar bahwa untuk gap
kurang dari 1,7 m P
2out
mendominasi keluaran dengan nilai optimal pada gap sekitar 0-0,1 m. Sedangkan
untuk gap lebih dari 1,7 m, P
1out
mendominasi keluaran dengan nilai optimal pada saat gap lebih dari 3 m.
Fenomena ini terjadi karena superposisi dua gelombang yang merambat dalam pandu dari salah satu lengan MZI
dengan pandu gelombang lurus sepanjang dl4. Pada saat gap antara keduanya sempit, maka hasil superposisi
mengakibatkan adanya perbedaan fase antara gelombang yang merambat di lain lengan dalam MZI, sehingga
keluaran MZI menjadi saling melemahkan. Pada saat gap diperlebar, maka superposisi kedua lengan menjadi
berkurang sehingga keluaran dari MZI (P
1out
) menjadi besar seiring perbedaan kedua fase gelombang dalam MZI
mendekati sama kembali.

Panjang kopling dl4 menjadi sangat
penting peranannya dalam perolehan jumlah
putaran optimal dan minimal antara kedua output.
Jika dl4 hanya satu panjang kopling maka
putaran optimal minimal hanya sekali terjadi.
Gambar 3 menunjukkan perambatan intensitas
gelombang cahaya laser pada saat gap 5,8 m.
Nampak dalam gambar 3. bahwa
superposisi gelombang dalam lengan MZI
sepanjang dl4 dengan pandu gelombang lurus
menghasilkan nilai daya keluaran kecil pada P
1out

dan besar pada P
2out
. Sedangkan gambar 4,
menunjukkan perambatan intensitas gelombang
cahaya laser pada saat gap 1,7 m yang
menghasilkan nilai kedua keluaran sama besar.

Gambar 3. Karakteristik daya keluaran sebagai fungsi gap

0
0.02
0.04
0.06
0.08
0.1
0.12
0 5 10 15
D
a
y
a

K
e
l
u
a
r
a
n

(
W
/
m
)

Gap (m)
P
1out
P
2out
Yono HP / Optical Waveguide berstruktur gabungan antara Loop dan Directional .... SFA 2013
174 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Gambar 3. Perambatan intensitas cahaya laser pada saat gap
5.8 m
Gambar 4. Propagasi cahaya MZI dengan Input Signal dan
Input Kontrol dengan Pin 1,43 W/m dengan gap 1,7 m


Dalam gambar 5. nampak bahwa pada jarak gap 10
m lebih tidak ada superposisi yang terjadi antara
pandu gelombang MZI dengan pandu gelombang
lurus. Dalam hal ini MZI tetap sefase karena tidak
tepengaruh oleh gelombang dari pandu gelombang
lurus, sehingga keluaran dari MZI tetap optimal. Nilai
daya keluaran keduanya berbeda karena pada MZI
sekitar 20% daya hilang selama perambatan dalam
loop MZI. Kehilangan daya ini dapat diperkecil
dengan merubah struktur geometri kemiringan lengan
loop MZI atau dengan struktur O yang memperhalus
belokan lengan pandu gelombang. Untuk mengurangi
siklus puncak gelombang dalam daerah kopling dl4
dapat dilakukan dengan cara memperpendek panjang
dl4.

Gambar 5. Propagasi cahaya MZI dengan Input Signal dan
Input Kontrol dengan Pin 1,43 W/m dengan gap 10 m
5. SIMPULAN
Hasil analisis struktur kombinasI loop dan directional berbasis interferometer mach zehnder dengan daya
masukan 1,5 W/m didapatkan daya keluaran yang kecil yaitu sebesar 0,208 W/m pada jarak gap 1 m
dengan
gap
= 0,2 m. Hal ini dapat diterapkan dalam rangkaian optoelektronik terpandu (computer optic).
Penelitian ini dalam simulasi program dan harapannya dapat ditindaklanjuti dalam penelitian eksperimen
dalan sebuah lapisan tipis.

6. DAFTAR ACUAN
1. Fifin, Pramono, Y.H(2005) Karakterisasi Beam Splitter Pandu Gelombang Tapered Directional
Coupler, ITS
2. Pratama, Pramono,Y.H,(2004). Analisis Pandu Gelombang Optic Array 1x5 dengan FDBPM, Seminar
Nasional dan Aplikasi
3. Mutmainnah, Pramono,Y.H(2006) Karakteristik Pandu Gelombang Optis Kombinasi Larik dan Y
branch Dengan Cladding Bahan Tak Linear Untuk Gerbang Logika X-OR, Jurnal Ilmu
Dasar.,vol.7,No13-18
4. Chung, Y., and Dagli .N(1990)An Assessment of Finite Different Beam Propagation Method IEEE
J.Quantum Elektron., volQE-26,.No8,pp1335-1339
5. Pramono,Y.H, Geishiro,M.,Sawa, S(1996) Analysis Of a Non Linear 2x3 Intersecting Waveguide By A
finite Difference Method, Proc Int Symp. Antennas and Prop., vol.3,pp 653-656.
Yono HP / Optical Waveguide berstruktur gabungan antara Loop dan Directional .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 175
6. Asnawi,Pramono,Y.H(2006)Analisis Pandu Gelombang Model Interferometer Machzehnder dengan
Sisipan Bahan Tak Linear Untuk Gerbang NOT, ITS
7. Nishihara, H.Mamamitsu Haruna Toshiaki Suhara, (1989) Optical Integrated Circuit, Ohmsha Ltd
8. Pramono,Y.H, Geishiro,M.,Kitimura,T S(1999) Selfswitching in crossing Waveguide with Three
Channel Consisting of Non Linear Material, IEICE Trans. Elektron.,vol E82-C,no.1,pp 111-118
9. Pramono,Y.H, Geishiro,M.,Kitimura,T S(2000) Optical Logic OR-AND-NOT and NOR Gates In
Waveguide Consisting Of Non Linear Material, IEICE Trans. Elektron.,vol E83-c,no.1,pp 1755-1762











































Yono HP / Optical Waveguide berstruktur gabungan antara Loop dan Directional .... SFA 2013
176 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 177
APLIKASI DIRECTIONAL DOUBLE COUPLER
SEBAGAI SENSOR PERGESERAN MIKRO


Anwar il Mubasir oh, Lucky Putr i R., Retno Fatma M., Gatut Yudoyono

Jurusan Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Jl. Arif Rahman Hakim, Keputih, Sukolilo, Surabaya 60111
e-mail: anwarilmubasiroh5@gmail.com


Abstrak

Eksperimen directional double coupler sebagai sensor pergeseran berdimensi mikro telah
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh daerah kerja yang terbaca oleh
detektor dan besar sensitivitasnya. Directional double coupler yang dipakai berasal dari serat
optik multimode yang telah dikarkterisasi. Eksperimen dilakukan menggunakan 2 buah BF5R-
D1-N, yang masing-masing bertindak sebagai sumber dan detektor. Pergeseran cermin
dilakukan dengan memutar mikrometer dengan resolusi setiap 20 m. Hasil eksperimen
memberikan hasil bahwa directional double coupler dapat dimanfaatkan sebagai sensor
pergeseran mikro dengan daerah kerja mencapai 1,9 mm dengan sensitivitas sebesar
0,0445Au/m.

Kata kunci: directional double coupler, sensor pergeseran mikro, serat optik multimode


1. PENDAHULUAN

Sejak tahun 1996 hingga sekarang sudah banyak pengembangan dalam hal aplikasi serat optik baik
dalam teknologi komunikasi maupun teknologi sebagai sensor [1]. Serat optik bekerja dengan prinsip
pemanduan dalam total dengan memanfaatkan hukum Snellius [2]. Serat optik banyak dimanfaatkan sebagai
sensor karena memiliki banyak keunggulan, yaitu tidak kontak langsung dengan obyek pengukuran, akurasi
pengukuran yang tinggi, relatif kebal terhadap induksi listrik dan magnet, dapat di monitor dari jarak jauh, dan
memiliki dimensi yang kecil [3].

Prinsip kerja directional coupler sebagai sensor dapat dilakukan dengan memanfaatkan losses pada
koplingnya. Kajian teoritis dan aplikasi dari directional coupler dari serat optik singlemode ataupun multimode
telah banyak dilakukan, salah satunya adalah pemanfaatan directional double coupler sebagai ring redonator
yang berasal dari serat optik singlemode [4]. Selain itu penelitian tentang sensor pergeseran dengan
memanfaatkan directional coupler 2 x 2 juga sudah dilakukan dengan menggunakan sumber laser He-Ne [3].
Sehingga pada eksperimen ini akan di coba menggunakan directional double coupler dengan memanfaatkan
losses pada dua coupling-nya dengan harapan untuk mendapatkan hasil pergeseran yang lebih baik. Esperimen
ini menggunakan digital indicating type fiber optic sensor (BF5R-D1-N) sebagai sumber dan detektornya.

2. DASAR TEORI

Directional Coupler merupakan divais optik yang tersusun atas dua pandu gelombang kanal sejajar yang
saling berdekatan dalam orde panjang gelombang optik yang di tanam pada suatu substrat [5]. Divais ini dapat
mendistribusikan daya optik ke dua port atau lebih, atau sebaliknya mengumpulkan daya optik ke satu port.
Secara sederhana directional coupler dapat di buat dari serat optik singlemode ataupun multimode dengan cara
menggabungkan dua buah serat optik dengan panjang interaksi tertentu menggunakan teknik FBT (Fused
Biconical Taperred) [3,6].
Anwaril M., dkk. /Aplikasi Directional Double Coupler .... SFA 2013

178 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Proses pemindahan daya optik di dalam directional coupler liner dapat dijelaskan dengan teori moda
terkopel dengan didasarkan pada interaksi medan-medan evanescent dari masing-masing pandu gelombang.
Sedangkan panjang koplingnya ditentukan dari kuat kopling, yaitu kuantitas saling tumpang tindih (overlapping)
antara medan di pandu gelombang satu dengan medan evanescent dari pandu gelombang kedua. Secara
kualitatif penjelasan teori moda terkopel ini telah sesuai dengan fakta ekperimen, namun secara kuantitatif,
untuk directional coupler yang lebar gapnya relative kecil, panjang kopling dan porsi daya yang dipindahkan
masih jauh dari akurat [8].

Adapun prinsip kerja directional double coupler sebagai sensor pergeseran berdimensi mikro dapat di
lihat seperti Gambar 1. Port B1 merupakan port input dimana sinar dari sumber dilewatkan pertama kali melalui
port ini. Port A1 bertidak sebagai port sensing, yaitu pengumpan dan penerima berkas cahaya yang berasal dari
pantulan cermin yang berada di depan port tersebut. Sedangkan pergeseran cermin akan mempengaruhi
besarnya daya optik yang di deteksi melalui port B2. Berkas keluaran dari directional double coupler ini
berbentuk seperti pola berkas Gaussian dengan persamaan umum sebagai berikut [7].

=

( )
(1)

3. METODOLOGI PENELITIAN

Susunan alat yang digunakan pada eksperimen diperlihatkan seperti Gambar 2 di bawah ini. Directional
double coupler yang digunakan merupakan hasil fabrikasi dari serat optik multimode yang telah di karakterisasi.
Sumber yang digunakan adalah digital indicating type fiber optic sensor (BF5R-D1-N) yang disambungkan
pada power supply. BF5R-D1-N merupakan sensor khusus untuk menganalisa daya keluaran yang di terima dari
fiber optik. Sensor ini memiliki lubang input berupa cahaya merah (660 nm) dan lubang output berupa
fotodetektor. Sehingga pada eksperimen ini digunakan dua buah BF5R-D1-N yang masing-masing berperan
sebagai input dan yang satu sebagai output. Sebagai fariasi pergeseran, digunakan mikrometer scrup dengan
ketelitian 0,01 mm yang telah di pasang cermin pada ujung poros putarnya.
Eksperimen dilakukan dengan menggeser cermin sejauh 20 m menjauhi port sensing dengan memutar
pemutar micrometer scrup berlawanan arah jarum jam. Pengambilan data dilakukan dari jarak z = 0 atau port
sensing menempel cermin hingga oergeseran cermin sudah tidak terdeteksi lagi oleh detektor. Data yang di
dapat merupakan daya keluaran dari port A1 (output) yang dideteksi oleh detektor, pembacaan nilai dilakukan
dengan membaca nilai daya pada display yang terdapat pada BF5R-D1-N yang berfungsi sebagai detektor.

4. HASIL DAN DISKUSI

Data hasil eksperimen directional double coupler sebagai sensor pergeseran berupa daya optik yang
keluar dari port deteksi. Daya optik yang berupa intensitas tersebut di deteksi dengan detektor, sehingga dapat
terbaca pada display. Pada saat z = 0 daya yang terbaca adalah 242,5 , besarnya daya optik tersebut akan terus
turun secaara paraksial seiring dengan bertambah besarnya pergeseran.




Gambar. 1. Prinsip kerja directional double coupler sebagai sensor pergeseran
Anwaril M., dkk. /Aplikasi Directional Double Coupler .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 179
Suatu sensor, hubungan antara variabel sensor berupa daya optik dan daerah pergeseran adalah linier.
Daerah linier pada grafik menunjukkan dari kerja dari directional double coupler terhadap pergeseran. Karena
bentuk berkas yang dipancarkan port sensing merupalan sinar paraxial, maka pada Gambar 3. tidak seluruhnya
slop membentuk garis linier. Untuk mengetahui daerah kerja pergeseran yang paling efektif dari directional
double coupler sebagai sensor pergeseran, perlu dilakukan pemilihan daerah linier dengan cara uji linieritas. Uji
linieritas dilakukan dengan memilih data-data dari daerah yang di asumsikan paling linier.


Gambar. 2. Set up alat sensor pergeseran mikro



Gambar. 3. Grafik hubungan daya optik terhadap pergeseran


Hasil uji linieritas pada Gambar 4. menghasilkan faktor linieritas sudah mendekati 1 yaitu sebesar
0,9951. Hal ini meunjukkan bahwa hubungan daya optik terhadap pergeseran yang di pilih sudah cukup linier.
Nilai sensitivitas sensor dapat di cari dari perbandingan perubahan daya optik terhadap pergeseran cermin.
Sehingga dari fungsi transfer dapat dilihat bahwa nilai sensitivitas sensor sebesar 0,0445 au/m. Tanda (-) pada
transfer daya menunjukkan bahwa grafik berupa back slope . Nilai parameter directional double coupler sebagai
sensor pergeseran dirangkum dalam Tabel 1.

0
50
100
150
200
250
300
-1000 1000 3000 5000 7000
P

(
A
u
)
z(m)
Anwaril M., dkk. /Aplikasi Directional Double Coupler .... SFA 2013

180 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Gambar. 4. Grafik linier daerah kerja directional double coupler


Secara teoritis, dapat dijelaskan bahwa dengan menggunakan detektor dari BF5R-D1-N dengan respon
time sebesar 500 s, directional double coupler sebagai sensor pergeseran dapat mendeteksi pergeseran cermin
dari jarak 0-1900 m dengan sensitivitas 0,0445 au/m. Rentang pergeseran
5. SIMPULAN

Berdasarkan eksperimen yang telah dilakukan, maka dapat disimpulakan bahwa directional double
coupler ini dapat dimanfaatkan sebagai sensor pergeseran berdimensi mikro dengan daerah kerja mencapai 1,9
mm dengan sensitivitas sebesar 0,0445 Au/m.

6. DAFTAR ACUAN
1. Hoss, R.J., Edward A, 1993. Fiber Optics, 2nd ed. Prentice-Hall, New Jersey.
2. Krohn, D.A., 2000. Fiber Optics Sensor: Fundamentals and Applications, 3rd ed. ISA, New York.
3. Samian, 2008. Directional Coupler sebagai Sensor Pergeseran Mikro, Thesis Magister, Fisika-FMIPA,
ITS.
4. Ja, Y.H., 1991. A double-coupler optical fibre ring-loop resonator with degenerate two wave mixing.
Optics Communications 81, 113122.
5. Rubiyanto, A., Waluto, A., Prajitno, G., Rohedi, A.Y., 2006. Analisa Directional Coupler sebagai
Pembagi Daya untuk Mode TE. JFA 2, 0601051 0601055.
6. Supadi, Pramono, Y.H., Yudoyono, G., 2006. Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Coupler sebagai
Devais Pembagi Daya. JFA 2, 0601061 0601066.
7. Saleh, B.E.A., Teich, M.C., 2007. Fundamentals of Photonics, 2nd ed. John Wiley & Sons, New York.
8. Samian, Pramono, Y.H., Rohedi, A.Y., 2008. Aplikasi Directional Coupler Serat Optik sebagai Sensor
Pergeseran. JFA 4, 0802041 0802043.
y =-0.0445x +238.58
R =0.9951
0
50
100
150
200
250
300
0 500 1000 1500 2000
P

(
A
u
)
z(m)
data experimen
Linear (data
experimen)
Tabel 1. Nilai parameter directional double coupler sebagai sensor pergeseran
Parameter Nilai
Pergeseran alat 20 m
Rentang/jangkauan 4700 m
Daerah kerja 0 1900 m
Sensitivitas 0,0445 au/m


Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 181
FABRIKASI DAN KARAKTERISASI
DIRECTIONAL DOUBLE COUPLER PADA BAHAN SERAT OPTIK
PLASTIC STEP INDEX MULTIMODE TIPE FD-620-10

Lucky Putr i Rahayu, Retno Fatma Megawati, Anwaril Mubasir oh

, Gatut Yudoyono



Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
e-mail: lucky.putri91@gmail.com

Abstrak

Telah dilakukan fabrikasi dan karakterisasi Directional double coupler pada bahan serat optik
plastic step index multimode tipe FD-620-10 dengan panjang kopling 28 mm dan 34 mm
sebagai pembagi daya (power diveder) dengan pendekatan metode Fused Biconical Tapered
(FBT). Hasil fabrikasi directional double coupler dengan variasi panjang kopling 28 mm dan
34 mm menghasilkan directional double coupler dengan hasil karakterisasi yang berbeda.
Hasil karakterisasi directional double coupler menggunakan web camera dan BF5R-D1-N
didapatkan bahwa nilai CR (Coupling Ratio), Le (Excess Loss) dan D (Directivity) sudah
memenuhi standar directional coupler pada kedua variasi panjang kopling dan nilai CR yang
mendekati 0,5 yaitu pada kopling 3,4 mm dengan input B2. Dengan menggunakan web camera
nilai CR=0,498; Le=0,109 dB; D=16,072 dB. Dan dengan menggunakan BF5R-D1-N
didapatkan nilai CR=0,492; Le=0,148 au; D=14,755 au.

Kata Kunci: directional double coupler, serat optik step index multimode, fabrikasi

1. PENDAHULUAN

Dalam perkembangannya, serat optik tidak hanya berfungsi mentransmisikan informasi, tapi berkembang
menjadi peranti optik dengan fungsi lebih luas. Peranti optik yang dikembangkan saat ini adalah directional
coupler yang berfungsi sebagai komponen optical switching, multiplexing, demultiplexing pada perangkat
WDM (Wavelength Division Multiplexing), pemecah berkas (splitter) dan pemecah daya atau power divider.
Kajian teoritis dan eksperimen tentang directional coupler sebagai peranti multiplexing sudah dilakukan oleh
peneliti-peneliti terdahulu diantaranya adalah pembuatan directional coupler menggunakan substrat LiNbO
3
,
gelas, dan semikonduktor yang berbentuk pandu gelombang slab.

Fabrikasi directional coupler singlemode maupun multimode berbentuk pandu gelombang slab masih sangat
sulit dilakukan dan membutuhkan peralatan dengan biaya yang mahal. Sementara itu directional coupler serat
optik yang dibutuhkan sebagai sensor dan perangkat interferometri serat optik sangat sulit diperoleh dipasaran.
Untuk mengatasi kendala tersebut telah dilakukan fabrikasi directional coupler dengan metode Fused Biconical
Tapered (FBT) pada bahan serat optik plastic step index multimode tipe FD-320-05 (diameter serat optik 0,5
mm) telah dilakukan dengan metode yang sederhana yang digunakan untuk pembagi daya (power divider).
Directional coupler yang dihasilkan memiliki coupling ratio 0,31 dengan daerah panjang interaksi kopling antar
serat optik 25 mm [1]. Selanjutnya digunakan directional coupler pada bahan serat optik plastic step index
multimode tipe FD-620-10 (serat optik diameter core yang cukup besar) yang mudah diperoleh di pasaran
dengan panjang kopling lebih besar dari 25 mm untuk memperoleh CR yang sesuai untuk divais pembagi daya
(power divider).

Dalam penelitian ini, directional double coupler menggunakan serat optik plastik mode jamak (multimode)
dari bahan serat optik plastic step index multimode tipe FD-620-10 dengan panjang kopling 2,8 mm dan 3,4 mm.

Lucky Putri Rahayu, dkk./ Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Double Coupler. SFA 2013

182 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
2. DASAR TEORI

Sistem Moda Ter kopel

Dalam mode terpandu, masing-masing mode normal saling ortogonal dan saling bebas tanpa kopling dan
mengangkut daya cahaya dengan tidak dipengaruhi oleh perambatan mode gelombang yang lain. Tetapi dalam
sistem pandu gelombang yang terkopel, mode-mode normal satu sama lain tidak lagi merambat saling bebas,
melainkan saling terkopel bersama [2].

Jika kedua pandu gelombang I dan II cukup jauh, masing-masing mode normal
a
dan
b
merambat saling
bebas di dalam masing-masing pandu gelombang dengan tetapan propagasi
a
dan
b
. Ketika jarak pisah antara
kedua pandu gelombang mengecil, maka kedua pandu gelombang terkopel bersama dan muncul normal baru
yaitu mode simetri dan mode asimetri
e
dan
o
yang masing-masing merambat dengan tetapan propagasi
e

dan
o
. Jika
e
dan
o
berbeda sedikit, maka kedua mode gelombang yang tereksitasi serentak menghasilkan
layangan (beat) [2].
Jika mode normal masing-masing pandu gelombang diekspresikan dalam bentuk [2]:

( , , , ) = ( )

( , )

(2.1)

( , , , ) = ( )

( , )

(2.2)

Dengan f
a
(x,y) dan f
b
(x,y) adalah fungsi-fungsi distribusi medan ternormalisasi manakala daya mengalir
melalui penampang transversal luasan setiap pandu gelombang. A(z) dan B(z) adalah amplitudo masing-masing
medan yang nilainya bervariasi di sepanjang arah rambatnya (sumbu z).
Kuantitas kopling tergantung seberapa besar overlaping secara spasial antara mode normal pada satu daerah
pandu gelombang. Jika cahaya dieksitasi melalui pandu gelombang I, maka daerah overlap dimaksud adalah
pandu II dengan koefisien kopling diberikan sebagai :

=

=

( , )

( , )

(2.3)

Dengan batas integrasi adalah luas penampang pandu gelombang II dan c adalah tetapan yang berkaitan
dengan normalisasi
a
dan
b.
Koefisien kopling K
ab
= K
ba
terjadi manakala pandu gelombang tidak memiliki
rugi-rugi, dan K = 0, terjadi saat pandu gelombang terpisah relatif jauh. Pada directional coupler, perpindahan
daya optic terjadi silih berganti dan berlangsung secara periodic dari pandu gelombang I dan II. Efek kopling
semakin kuat jika nilai
e
dan
o
mendekati sama.
Kondisi sinkron kedua fasa gelombang menghasilkan daya maksimum pada jarak yang disebut satu panjang
kopling [1]:

=


(2.4)
Dir ectional coupler

Salah satu peralatan yang merupakan sistem moda terkopel adalah Directional Coupler. Divais optik
tersebut tersusun atas dua pandu gelombang yang saling berdekatan dalam orde panjang gelombang optik.
Divais ini dapat mendistribusikan daya optic ke dua port atau lebih, atau sebaliknya menggumpulkan daya optik
ke port tunggal. Directional coupler dapat berifat aktif maupun pasif. Secara sederhana divais coupler dapat
buat dari serat optik multimode yaitu dengan cara memadukan atau menggabungkan dua buah serat optik
multimode dengan panjang interaksi tertentu dengan tekhnik FBT (Fused Biconical Taperred) [1].
Sebuah directional coupler 2 x 2 dapat dinyatakan sebagai matrik transfer yang mempunyai komponen-
komponen diagonal yang sama dan tidak nol (t
11
= t
22
dan t
12
= t
21
).


Lucky Putri Rahayu, dkk./ Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Double Coupler. SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 183

Gambar 1. Medan amplitudo sinyal optik input dan output dan matriks transfer [3]


Sesuai dengan Gambar 1, ketika tidak ada losses, matrik transfer adalah uniter dan dapat dinyatakan dalam
sebuah persamaan [3]:

=
cos sin
sin cos

(2.5)


Ketika parameter sebesar /4, daya optik dibagi sama besar ke port output , dan divais disebut 3 dB
coupler. Gambar 1 menunjukkan efek kopling yang tejadi ketika suatu berkas dipindahkan dari satu pandu
gelombang ke pandu gelombang yang lainnya pada pandu gelombang singlemode [3].


Parameter-parameter pokok dalam divais Directional coupler optik antara lain:

1. Splitting atau Coupling ratio (CR), proporsi perbandingan antara daya input terhadap masing-masing
daya output [4,5]

=


(



)
(2.6)

2. Insertion loss, (L
ins
), yaitu rugi yang terjadi akibat daya dari saluran masukan coupler serat optic
terdistribusi di antara saluran keluaran dngan port A2 dan port B2. Insertion loss diukur sebagai
perbandingan daya output tunggal terhadap daya inputnya [1,4]
3.


= 10log


(2.7)

4. Exceess loss (L
e
), adalah Rugi daya total yang dinyatakan dengan persamaan [1,4]:

= 10log

= 10log


(2.8)

5. Direktivitas (directivity) atau Crosstalk dari coupler optik diukur antar port-port masukan directional
coupler , yaitu [1,4]
=

= 10log


(2.9)

Standar parameter-parameter directional coupler secara internasional ditunjukkan pada Tabel 1. berikut
ini:




Lucky Putri Rahayu, dkk./ Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Double Coupler. SFA 2013

184 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Tabel 1. Karakteristik Coupler standar hasil fabrikasi industry untuk serat optik (Jones Jr dan William B.,
1988) (Supadi dkk, 2006).
Design
Class
Jumlah
Port
CR
(%)
Toleransi
CR
Le
(dB)
D(dB)

2 x 2
Single
Mode

2 0.5
2 - 15 %


0.07
- 1

40-55
2 0.25
2 0.1

2 x 2
Multi
Mode

2 0.5

5 10 %

< 1 35-40
2 0.25
1-2

2 0.1
2 0.0625


3. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu persiapan, fabrikasi dan karakterisasi directional double
coupler. serat optik plastik mode jamak (multimode) dari bahan serat optik plastic step index multimode tipe FD-
620-10 dengan panjang kopling 2,8 mm dan 3,4 mm. Skema penelitian diperlihatkan pada Gambar 2.
Pada tahap persiapan, pembuatan alat pengupas coating dan cladding dirancang untuk mengupas serat optik
dengan panjang kupasan 2,8 mm dan 3,4 mm. Pembuatan set up alat pada proses karakterisasi menggunakan
web camera dimaksudkan agar cahaya yang keluar dapat langsung ditangkap oleh web camera pada kedua port
keluarannya. Selain itu juga dimaksudkan agar dari sumber langsung dapat diterima oleh directional double
coupler pada port masukan sehingga cahaya tidak keluar. Desain alat pengupas coating dan cladding akan
diperlihatkan pada Gambar 3.












Gambar 2. Skema penelitian






Tahap Persiapan
1. Pembuatan Alat Pengupas Coating dan Cladding.
2. Pembuatan Set up alat pada proses karakterisasi
menggunakan web camera.
Tahap Fabrikasi Directional Double Coupler
1. Tahap Pengupasan Coating dan Cladding
2. Tahap Pemolesan
3. Tahap Penggandengan
Kar akter isasi Directional Double Coupler Hasil Fabr iksi
1. Menggunakan web camera.
2. Menggunakan BF5R-D1-N.
Lucky Putri Rahayu, dkk./ Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Double Coupler. SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 185









Gambar 3. Set up Alat pada karakterisasi menggunakan web camera

















Gambar 4. Set up Alat pada karakterisasi menggunakan BF5R-D1-N

Pada tahap fabrikasi terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap pengupasan coating dan cladding, pemolesan dan
penggandengan. Pada tahap pengupasan coating dan cladding, serat fiber optik yang akan dilukai dimasukkan
ke dalam alat pengupas coating dan cladding yang sudah dibuat sebelumnya dengan panjang kupasan 2,8 mm
dan 3,4 mm. Untuk pengupasan fiber optik pada coupler kedua berjarak 10 cm dari coupler pertama. Pada tahap
pemolesan, digunakan alkohol 70%. Serta pada tahap penggandeng digunakan benang jahit ini dimasudkan agar
proses penggandengan dapat maksimal, selanjutnya di beri lem epoxy untuk merekatkan.
Pada tahap karakteriasi directional double coupler terdiri dari dua tahapan yaitu menggunakan web camera
dengan sumber yaitu laser diode dan menggunakan BF5R-D1-N. Sebelum dikarakterisasi, hasil fabrikasi
directional double coupler yang telah dibuat, pada masing-masing portnya digosok dengan kertas gosok dan
diberi alkohol 70%. Pada tahap ini, web camera yang digunakan dua buah yang masing-masing berperan







Laser Dioda
Coupler 2 Coupler 1
B2
A1
B1
Web
Camera
Personal Computer (PC)
A2








Coupler 2 Coupler 1
Power
Supply
BF5R-D1-N

B1
Lucky Putri Rahayu, dkk./ Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Double Coupler. SFA 2013

186 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
sebagai perekam output pada kedua port keluaran dan yang satu sebagai output yang kembali. Sumber yang
digunakan adalah digital indicating type fiber optic sensor (BF5R-D1-N) yang disambungkan pada power
supply. BF5R-D1-N merupakan sensor khusus untuk menganalisa daya keluaran yang di terima dari fiber optik.
Sensor ini memiliki lubang input berupa cahaya merah (660 nm) dan lubang output berupa fotodetektor. Pada
penelitian ini digunakan dua buah BF5R-D1-N yang masing-masing berperan sebagai input dan yang satu
sebagai output. Set up alat pada proses karakterisasi ini akan disajikan pada Gambar 4.

4. HASIL DAN DISKUSI
Salah satu hasil fabrikasi directional double coupler diperlihatkan pada Gambar 5. Pada fabrikasi port-port
dinamakan a1, b1, a2 dan b2.pada proses karakterisasi menggunakan web camera, diperoleh image pada ketiga
port keluaran yang kemudian data diolah. Dan didapatkan grafik dan nilai puncak pada masing-masing grafik,
seperti diperlihatkan pada Gambar 6. Dari nilai puncak yang didapatkan pada proses karakterisasi menggunakan
web cameradan kemudian di kareteristik diperoleh data-data yang diperlihatkan pada Tabel 2-3.

Gambar 6. Grafik hubungan distance (pixels) dengan intensitas pada port masukkan a1 dan keluaran a2-
b2.

Tabel 2. Hasil karaterisasi directional double coupler pada panjang kopling 2,8 mm
dengan menggunakan web camera.
INPUT OUTPUT (dB) CR Le
(dB)
Lins
(dB)
D
(dB)
A1 A2 B1 B2
A1 11.494 0.321 12.462 0.52 0.058 3.247 18.789
A2 12.036 11.9 0.3708 0.497 0.072 3.072 17.855
B1 0.4146 8.2229 8.3875 0.495 0.107 3.075 16.135
B2 16.735 0.2979 18.08 0.481 0.037 2.882 20.714


Tabel 3. Hasil karaterisasi directional double coupler pada panjang kopling 3,4 mm
dengan menggunakan web camera.
INPUT OUTPUT (dB) CR Le
(dB)
Lins
(dB)
D dB)
A1 A2 B1 B2
A1 13.183 0.419 12.804 0.493 0.069 3.017 17.998
A2 18.356 18.13 0.2833 0.497 0.034 3.017 21.132
B1 0.5583 7.5479 7.6271 0.497 0.157 3.145 14.499
B2 5.1167 0.2604 5.162 0.498 0.109 3.1 16.072

Lucky Putri Rahayu, dkk./ Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Double Coupler. SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 187
Pada hasil karakterisasi yang telah didapatkan dibandingkan dengan karakterisasi coupler standar hasil
fabrikasi industri untuk serat optik yang diperlihatkan pada tabel 1., yaitu didapatkan bahwa nilai CR, Le dan D
sudah memenuhi standar directional coupler. Dari hasil karakterisasi menggunakan web camera ini dapat dilihat
bahwa nilai CR yang mendekati 0,5 yaitu pada panjang kopling 3,4 mm dengan input B2. Sehingga diharapkan
intensitas cahaya yang akan diteruskan ke port deteksi cukup besar untuk diukur perubahannya.

Tabel 4. Hasil karaterisasi directional double coupler pada panjang kopling 2,8 mm
dengan menggunakan BF5R-D1-N
INPUT OUTPUT (Au) CR Le
(Au)
Lins
(Au)
D
(Au)
A1 A2 B1 B2
A1 435 27 426 0.495 0.134 3.099 15.17
A2 439 422 24 0.49 0.119 3.045 15.667
B1 20 434 487 0.471 0.093 2.861 16.726
B2 433 28 469 0.48 0.133 2.973 15.213


Tabel 5. Hasil karaterisasi directional double coupler pada panjang kopling 3,4 mm
dengan menggunakan BF5R-D1-N
INPUT OUTPUT (Au) CR Le
(Au)
Lins
(Au)
D
(Au)
A1 A2 B1 B2
A1 397 22 358 0.474 0.125 2.916 15.48
A2 440 344 30 0.439 0.163 2.672 14.335
B1 21 411 462 0.471 0.103 2.867 16.291
B2 384 27 396 0.492 0.148 3.092 14.755

Serta pada hasil karaterisasi menggunakan BF5R-D1-N juga diperoleh nilai CR, Le dan D yang memenuhi
standar directional coupler. Dari hasil karakterisasi menggunakan BF5R-D1-N dapat dilihat bahwa nilai CR
yang mendekati 0,5 yaitu pada panjang kopling 3,4 mm dengan input B2. Sehingga dari dua metode
karakterisasi ini, didapatkan hasil yang tidak jauh berbeda. Maka dapat disimpulkan bahwa dari hasil
karakterisasi directional double coupler yang paling mendekati dengan karakteristik coupler standar hasil
fabrikasi industri serat optik yaitu pada panjang kopling 3,4 mm dengan input B2. Sehingga nantinya dari hasil
karakterisasi ini dapat dipergunakan sebagai devais pembagi daya dalam sensor pergeseran mikro untuk
penelitian selanjutnya.
5. SIMPULAN
Berdasarkan hasil fabrikasi dan karakterisasi directional double coupler yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa:
a. Hasil fabrikasi directional double coupler dari serat optik plastic step index multimode tipe FD-620-10
dengan pendekatan metode FBT (Fused Biconical Taperred) dengan variasi panjang kopling 28 mm dan
34 mm menghasilkan directional double coupler dengan hasil karakterisasi yang berbeda.
b. Hasil karakterisasi directional double coupler menggunakan web camera didapatkan bahwa nilai CR,Le
dan D sudah memenuhi standar directional coupler pada kedua variasi panjang kopling. Nilai CR yang
mendekati 0,5 yaitu pada panjang kopling 3,4 mm dengan input B2, dengan nilai CR=0,498 ; Le=0,109
dB ; D=16,072 dB.
c. Hasil karakterisasi directional double coupler menggunakan BF5R-D1-N didapatkan bahwa nilai CR,Le
dan D sudah memenuhi standar directional coupler pada kedua variasi panjang kopling. Nilai CR yang
mendekati 0,5 yaitu pada panjang kopling 3,4 mm dengan input B2, dengan nilai CR=0,492; Le=0,148
au; D=14,755 au.
Lucky Putri Rahayu, dkk./ Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Double Coupler. SFA 2013

188 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
6. DAFTAR ACUAN
1. Supadi, Pramono, Y. hadi, Yudhoyono, G. (2006), Fabr ikasi dan Kar akter isasi Dir ectional Coupler
sebagai Devais Pembagi Daya (Power Divider ), JFA, Vol.2, No.1, hal 06010610601066, Institut
Tekhnologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
2. Rubiyanto, A., Rohedi, A.Y. (2003), Optika Ter padu. Buku ajar Jurusan Fisika, Institut Tekhnologi
Sepuluh Nopember, Surabaya.
3. Iga, K., Kokubun, Y. (2006), Encyclopedic Handbook of Integr ated Optics, Taylor & Francis group,
LLC.
4. Crisp, J., Elliott, B. (2005), Intr oduction to Fiber Optics, Jordan Hill, Oxford.
5. Farrei. (2002), Optical Communication System Optical Fibr e Coupler s and Switch, Dublin Institute
of Technology.
6. Hariyanto, Edy, (2011), Aplikasi Directional Coupler Ser at Optik Mode Jamak Sebagai Sensor
Getar an Ber basis Modulasi Intensitas, Institut Tekhnologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
7. Jones Jr, William B. (1988), Intr oduction to optical fiber communication systems. Holt, Rinehart &
Winston, Universitas Michigan.



Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 189
FABRICATION DSSC (Dye Sensitized Solar Cell) WITH CONDUCTIVE
GLASS AND VARIATION DYE EXTRACT RED GINGER (Zingiber
officinale Linn Var. Rubrum) WITH SPIN COATING METHOD

Ice Tr ianiza, GatutYudoyono

Physics Department, Mathematics and Natural of Science
Sepuluh November Institute Of TechnologySurabaya
Jl. AriefRahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail:gyudoyono@physics.its.ac.id

Abstr act

Fabrication of DSSC has been done using conductive glass with variation dye extract of red
ginger using Spin Coating Method. Natural coloring substance used was isolated in the mixture
of TMAH and then the phytochemical screening was done. Characterization of red ginger
extract was determined using UV-Vis spectrometry. Variations of red ginger (fruit leather and
fruit flesh) using dye from fruit Leather (sample A) and fruit flesh (sample B). The solar cell
was constructed in sandwich system. DSSC performance efficiency was obtained from
measurement of resulted voltage and current at different conditions, which are under the
halogen light. The content of anthocyanin showed on the maximum wavelength as long as 601
nm. At the diffractogram of the thin layer of TiO
2
Nano-phase anatase shows the relatively
high intensity of diffraction pattern as the anatase polycrystal with the measurement of 14-
16nm. Based on test results using a halogen light source. acquired the characteristics of DSSC
is Voc 500 mV, Isc 0.05 mA, P max 15.87 mWatt, FF 0.64 for sample A. As for the B sample
obtained Voc 296 mV, Isc 0.02 mA, P max 1.7368 mWatt, FF 0.35. With the technique
variation sample A dye extract red ginger will produce value greater efficiency and
preparation time more efficient.

Keywor ds: DSSC, anatase TiO
2
, dye Red Ginger extract, Spin Coating


1. PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang
Kebutuhan energi terus meningkat, sehingga perlunya upaya untuk mengembangkan berbagai energi
alternatif yaitu energi terbarukan. Potensi energi terbarukan, seperti: biomassa, panas bumi, energi surya, energi
air, energi angin dan energi samudera, sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan, padahal potensi energi
terbarukan di Indonesia sangatlah besar. Energi surya merupakan salah satu energi yang sedang giat
dikembangkan saat ini. Energi matahari yang sampai ke bumi diabsorb oleh atmosfer direfleksikan kembali,
hanya sedikit digunakan membantu siklus air dan yang ditangkap untuk fotosintesis.

Sebagian besar energi matahari diradiasikan sebagai panas. Indonesia sebenarnya sangat berpotensi
untuk menjadikan sel surya sebagai salah satu sumber energi masa depan mengingat posisi Indonesia pada garis
khatulistiwa yang memungkinkan sinar matahari dapat optimal diterima di hampir seluruh Indonesia sepanjang
tahun. Masalah yang paling penting untuk merealisasikan sel surya sebagai sumber energi alternatif adalah
efisiensi piranti sel surya dan harga pembuatannya.

Sel surya atau sel fotovoltaik merupakan alat yang mampu merubah energi sinar matahari menjadi
energi listrik. Efek fotovoltaik merupakan dasar dari proses konversi sinar matahari (foton) menjadi listrik [1].
Perkembangan yang menarik dari teknologi sel surya saat ini salah satunya adalah sel surya yang
dikembangkan oleh Gratzel pada tahun 1991. Sel ini terdiri dari sebuah lapisan partikel nano (biasanya TiO
2
)
Ice Trianiza, d kk. / Fabrikasi DSSC dengan Teknik Pelapisan .... SFA 2013

190 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
yang direndam dalam sebuah fotosensitizer (pemeka cahaya) Yang disebut dengan Dye Sensitized Sollar Cell
(DSSC).

Keunggulan dari DSSC adalah selain teknik fabrikasinya relatif sederhana juga tidak memerlukan
teknologi yang rumit sehingga biaya produksinya relatif rendah. Berbeda dengan sel surya konvensional yang
semua proses melibatkan bahan silikon itu sendiri, pada DSSC absorpsi cahaya dan separasi muatan listrik
terjadi pada proses yang terpisah. Absorpsi cahaya dilakukan oleh molekul dye dan separasi muatan oleh
semikonduktor anorganik nanokristal yang memiliki celah pita lebar. Bahan semikonduktor yang sering
digunakan sebagai elektroda dalam DSSC adalah TiO
2
(Titanium Dioxide). Hal itu dikarenakan TiO
2
memiliki
fase kristal yang reaktif terhadap cahaya, eksitasi elektron ke pita konduksi dapat dengan mudah terjadi apabila
kristal ini dikenai cahaya dengan energi yang lebih besar daripada celah energinya. Selain itu TiO
2
relatif murah,
inert, banyak dijumpai dan tidak beracun. . Sehingga dalam penelitian ini akan dilakukan pembuatan sel surya
tersintesis dye (DSSC) menggunakan ekstraksi Jahe Merah (Zingiber officinale Var Rubrum.) yang diharapkan
dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif tenaga surya masa depan.

2. DASAR TEORI

2.2 DSSC (Dye Sensitized Sollar Cell)

Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) merupakan sel surya yang terbuat dari semikonduktror yang dilapisi
oleh zat warna untuk meningkatkan efisiensi konversi sinar matahari. DSSC tersusun atas elektroda kerja,
elektroda counter dan elektrolit. DSSC bekerja pada daerah sinar tampak hingga sedikit infra merah. Sinar
tampak merupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 390-770 nm.


Gambar 1 Struktur Dye Sensitized Sollar Cell [2]

Berdasarkan materi penyusunnya DSSC dapat dikategorikan sebagai sel surya hibrida organik-anorganik.
Hal ini di karenakan penyusun utama DSSC adalah semikonduktor (anorganik) yang disensitisasi oleh bahan
pewarna (organik). Selain itu, cara pengubahan energi cahaya (foton) menjadi energi listrik pada DSSC tidak
sama persis dengan pengubahan foton menjadi listrik pada sel surya anorganik. Pada DSSC, foton akan diserap
oleh lapisan pewarna dan membentuk eksiton yang dipisahkan pada antarmuka lapisan penerima elektron
(akseptor) berupa semikonduktor oksida logam sehingga pewarna menjadi elektron.


Gambar 2 Skema Prinsip Kerja DSSC [3]

Ice Trianiza, d kk. / Fabrikasi DSSC dengan Teknik Pelapisan .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 191
Prinsip kerja dari DSSC sendiri disajikan pada gambar 2.3, material semikonduktor ditempatkan pada
plat transparan berkonduktifitas membentuk lapisan tipis. Kemudian lapisan monolayer dye ditempatkan pada
permukaan lapisan nanokristalin semikonduktor. Fotoeksitasi yang dialami oleh dye menghasilkan elektron
tereksitasi dari pita valensi ke pita konduksi dye (1) yang kemudian masuk ke pita konduksi dari logam oksida
(2), injeksi elektron ini melalui hubungan antara titanium dengan gugus karboksil pada zat warna. Proses ini
menghasilkan dye yang bermuatan positif dan partikel TiO
2
yang bermuatan negatif. Elektron tersebut
selanjutnya keluar melalui sirkuit eksternal menuju caunter elektrode (3), aliran elektron ini dimanfaatkan
sebagai energi listrik. Kekosongan elektron pada pita valensi dye digantikan oleh elektron yang berasal dari
elektrolit, elektrolit yang digunakan pada DSSC biasanya adalah pelarut organik yang mengandung sistem
redoks, contohnya adalah pasangan iodida-triiodida. Regenerasi sensitiser oleh iodida terjadi dengan proses
pendonoran elektron pada pita valensi dari dye yang teroksidasi (5). Iodida diregenerasi kembali dengan reduksi
triiodida pada counter electroda, dengan memanfaatkan elektron yang berasal dari eksternal sirkuit (4), proses
ini berlangsung terus-menerus sebagai suatu siklus sehingga dihasilkan arus yang kontinyu.

2.3 Komponen-komponen DSSC
2.3.1 Substrat (Kaca FTO dan Kaca ITO)
Tempat melekatnya material-material DSSC disebut dengan substrat. Pada penelitian sebelumnya di
gunakan Kaca indium-doped tin oxide (ITO) yang merupakan salah satu dari jenis kaca yang digunakan untuk
melakukan pelapisan yang terdiri dari oksida konduktif transparan (transparent conducting oxide, TCO). Oksida
yang umumnya dipakai antara lain alumunium-doped zinc oxide (AZO), fluorine-doped tin oxide (FTO),
Indium-doped tin oxide (ITO), dan antimony-doped tin oxide (ATO).


Gambar 3 Kaca FTO (fluorine-doped tin oxide) [4]


Adapun dalam penelitian disini digunakan kaca FTO sebagai substrat yang mana kaca TCO memiliki
keunggulan konduktif secara elektrik dan dapat ditembus cahaya [5].

2.3.2. Dye (zat pewarna)
Zat pewarna alami yang digunakan pada penelitian ini menggunakan jahe merah yang berperan sebagai
lapisan penyerap elektron foton cahaya dan akan menjadi eksiton. Dalam proses penyinaran, pewarna akan
bertugas mengisi elektron ke pita konduksi dari semikonduktor. Ekstrak dye atau pigmen tumbuhan yang
digunakan sebagai fotosensitizer diantaranya ekstrak klorofil, karoten, dan antosianin. Jahe merah merupakan
tumbuhan berimpang yang memiliki batang berbentuk bulat kecil, berwarna hijau kemerahan, dan agak keras,
serta memiliki bulu-bulu lembut. Susunan daunnya berselang-selang dan teratur.

Ice Trianiza, d kk. / Fabrikasi DSSC dengan Teknik Pelapisan .... SFA 2013

192 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Gambar 4 Jahe merah (Zingiber officinale) [6]

Ditinjau dari karakteristiknya jahe memiliki kandungan antosianin yang mana memiliki pigmen larut air
secara alami yang terdapat pada berbagai jenis tumbuhan dan merupakan pewarna yag paling penting dan paling
tersebar luas dalam tumbuhan. Senyawa ini tergolong pigmen dan pebentuk warna pada tanaman yang
ditentukan oleh Ph dari lingkungannya. Dalam keadaan asam berwarna merah dan basa berwarna biru. Struktur
dasar antosianin ini terdiri atas 2-fenzil benzopirilium atau plavilium klorda dengan jumlah substitusi gugus
hidroksi dan metoksi. Sebagian besar antosianin memilik struktur 3,5,7-trihidroksiflavilium klorida dan bagian
gula biasanya terikat pada gugus hidroksil.

2.3.3 Semikonduktor DSSC
Semikonduktor yang digunakan pada DSSC memiliki celah pita yang lebih lebar daripada semikonduktor
yang dgunakan pada sel surya anorganik biasa. Untuk penggunaan DSSC, semikondukor yang paling banyak
digunakan adalah TiO
2
(titanium dioxide) terutama yang memiliki ukuran dalam skala nanometer. Titanium
dioksida adalah jenis logam oksida disebut juga sebagai titanium (IV) oksida atau titania. Material ini
merupakan material oksida alami dari titanium, dengan rumus kimia TiO
2
. Titania berbentuk serbuk dan
berwarna putih, selain itu juga memiliki tiga fasa yaitu anatase, rutile dan brookite. Titanium dioksida
merupakan salah satu semikonduktor oksida yang memiliki energi celah pita yang sangat lebar (3,2 eV 3,8
eV). Pada sel surya fotoelektrokimia, titania berperan sebagai lapisan aktif yang mengabsorbsi energi cahaya
matahari untuk dikonversi menjadi energi listrik. Titanium dioksida murni mempunyai efisiensi absorbsi sangat
kecil, yaitu hanya sebesar 5% [1].

Gambar 5 Titanium Dioksida [6]

Titania mempunyai banyak keunggulan, yaitu memiliki konstanta dielektrik tinggi, memiliki indeks bias
yang besar, dan memiliki transmitansi optik yang baik pada daerah cahaya tampak dan dekat infra merah. Titania
juga memiliki stabilitas kimia yang tinggi, tidak beracun, memiliki potensial tinggi sebagai foto-oksidasi, dan
harganya murah. Sehingga titania bisa digunakan dalam berbagai variasi bentuk, misalnya koloid, pasta, lapisan
tipis, maupun serbuk nano.Sifat fisis dan kimia dari TiO
2
nano bergantung pada ukuran, morfologi dan struktur
kristalnya. TiO
2
terdiri dari tiga bentuk kristal yaitu anatase, rutile, dan brookite. Kristal TiO
2
fase anatase
memiliki kemampuan yang lebih aktif daripada rutile. Rutile secara termodinamika lebih stabil daripada anatase
dan brookite. Anatase dianggap sebagai fase yang paling menguntungkan untuk fotokatalisis dan konversi solar
energi [7]. Dalam pembuatan material nano TiO2 dapat dilakukan dengan metode co-presipitasi kondisi
hidrotermal menggunakan bahan TiO
2
, TiCl
4
, atau TiOCl
2
dan bisa juga menggunakan metode sol gel
menggunakan titanium alkosida.
Ice Trianiza, d kk. / Fabrikasi DSSC dengan Teknik Pelapisan .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 193

2.3.4 Elektr olit
Elektrolit yang digunakan pada DSSC terdiri dari iodine (I
-
) dan triiodide (I
3-
) sebagai
pasangan redoks dalam pelarut. Karakteristik ideal dari pasangan redoks untuk elektrolit DSSC yaitu,
1. Potensial redoksnya secara termodinamika berlangsung sesuai dengan potensial redoks dari dye untuk
tegangan sel yang maksimal.
2. 2. Tingginya kelarutan terhadap pelarut untuk mendukung konsentrasi yang tinggi dari muatan pada
elektrolit.
3. Pelarut mempunyai koefisien difusi yang tinggi untuk transportasi massa yang efisien.
4. Tidak adanya karakteristik spektral pada daerah cahaya tampak untuk menghindari absorbsi cahaya datang
pada elektrolit.
5. Kestabilan yang tinggi baik dalam bentuk tereduksi maupun teroksidasi.
6. Mempunyai reversibilitas tinggi.
7. Inert terhadap komponen lain pada DSSC [2]

2.4 Metode Pelapisan Putar (Spin coating)
Salah satu cara pengolahan lapisan tipis adalah menggunakan metode spin coating. Adapun proses spin
coating adalah dengan meneteskan sedikit larutan film di atas substrat yang kemudian di putar dengan
kecepatan tertentu, yang berputar secara konstan agar diperole hendapan film di atas substrat dengan kerataan
baik. Prinsip pada metode spin coating adalah keseimbangan antaraviskositas larutan dengan gaya
sentrifugal yang dikontrol oleh kecepatan spin.



Gambar .6 Proses pelapisan metode Spin Coating [6]


3. HASIL DAN DISKUSI
3.1 Gr afik Hubungan Kemampuan Absor bansi Ekstr aksi Dye Kulit dan daging buah Jahe Mer ah
Ter hadap Panjang Gelombang


Grambar 7 Grafik kemampuan absorbansi dye ekstrak kulit dan daging buah jahe merah
diperoleh dari pengujian dengan menggunakan Spektrofotometer HR11000 UV-NIR

Ice Trianiza, d kk. / Fabrikasi DSSC dengan Teknik Pelapisan .... SFA 2013

194 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Dari hasil uji spektrofotometer uv-vis pada dye jahe merah menggunakan dua variabel yaitu, kulit buah
dan daging buah, dapat dilihat ada perbedaan absorbansi yang didapat, uji absorbansi pada kedua sampel ini
dilakukan menggunakan spektrofotometer HR11000 UV-NIR dengan pengambilan rentang 300-800nm, ukuran
ini ditentukan berdasarkan panjang gelombang cahaya untuk radiasi ultraviolet dengan rentang 300-800nm.
Untuk data absorbansi pada kulit jahe merah di dapatkan cahaya tampak dimulai dari panjang gelombang 335
nm 775 nm dengan rentang penyerapan 2 - 1,902. Adapun absorbansi paling tinggi terdapat pada panjang
gelombang 438nm dengan absorbansi 2,61 sedangkan pada pengukuran absorbansi daging buah jahe merah
dimulai dari panjang gelombang 383-647nm dengan penyerapan 2,797-2,209 dan didapatkan absorbansi paling
tinggi 2,797 pada panjang gelombang 383nm sehingga dapat dilihat dari dua grafik diatas bahwa absorbansi dari
kulit jahe merah lebih stabil dengan rentang yang lebih panjang dari daging buah jahe merah yang mana hasil
pengolahan dye dari dua variabel ini berpengaruh terhadap performa DSSC.Hal ini menunjukkan tingginya
ketebalan konsentrasi larutan dye dalam menyerap radiasi energi yang diberikan. Sehingga, semakin banyak
pula foton yang bisa dieksitasi untuk dikonversikan oleh sel surya menjadi energi listrik. Pada bagian panjang
gelombang kurang dari 700 nm juga terdapat beberapa puncak yang merupakan area radiasi ultraviolet dimana
hampir semua benda gelap dapr menyerap radiasi ini. Dengan memiliki kemampuan absorbansi pada rentang
panjang gelombang UV-Vis hingga NIR dapat dimungkinkan jahe merah ini mampu menyerap energi sinar
matahari untuk memaksimalkan kinerja dari DSSC [8]. Adapun ekstrak jahe merah mengandung senyawa
flovanoid yang mengandung gugus kromofor atau adanya ikatan rangkap yang terkonjungasi. Syarat pemilihan
dye dalam DSSC adalah adanya guugs karbonil dan gugus hidroksil yang bertindak sebagai ligan pada
permukaan TiO
2
[1].


4.2. Hasil Uji XRD pada Ser buk TiO
2
Sebagai Bahan Semikonduktor

Gambar 8 Grafik Uji XRD Pada serbuk TiO2

Semikonduktor yang digunakan pada DSSC ini mengunakan TiO
2
nanopartikel fase anatase murni
dengan pengadukan 25 jam Gambar 10 memperlihatkan pola difraksi sinar X dari bahan keramik titania,
Adapun Pengidentifikasian fasa selanjutnya dari data difraksi menggunakan software search match. Hasil search
match titania pada pengadukan 25 jam didapat Puncak difraksi dimulai dari 2 = 25
o
dan tidak ada puncak
difraksi pada 2 = 27
o
, sehingga sampel tersebut memiliki satu fasa, yaitu anatase.Adapun penggunaan TiO
2

nanopartikel dengan fase anatase disini sebagai semikonduktor dikarenakan dengan struktur partikel nano maka
permukaan dari TiO
2
yang akan dilapiskan menjadi lebih luas sehingga memperbanyak dye yang terserap dan
elektron yang akan tereksitasi mengakibatkan meningkatnya efisiensi. Pada DSSC absorpsi cahaya dan separasi
muatan listrik terjadi pada proses yang terpisah [9]. Absorpsi cahaya dilakukan oleh molekul dye dan separasi
muatan oleh semikonduktor anorganik nanokristal yang memiliki celah pita lebar, salah satunya yang sering
digunakan sebagai elektroda dalam DSSC adalah TiO
2
. Hal ini dikarenakan TiO
2
memiliki fase kristal yang
reaktif terhadap cahaya, eksitasi elektron ke pita konduksi dapat dengan mudah terjadi apabila kristal ini dikenai
cahaya dengan energi yang lebih besar daripada celah energinya. Selain itu TiO
2
realtif murah, inert, banyak
dijumpai, dan tidak beracun . Dari hasil diatas dapat diketahu bahwa fasa kristal anatase memilik kemampuan
fotoaktif yang tinggi. Selain itu derajat kristalinitas sampel cukup baik dilihat dari intensitas puncak difraksi
Ice Trianiza, d kk. / Fabrikasi DSSC dengan Teknik Pelapisan .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 195
yang tinggi dan tegas, dengan derajat kristalinitas yang baik maka proses difusi elektron pada di TiO
2
akan lebih
tinggi sehingga akan meningkatkan efisiensi sel surya.

4.3 PengujianKetahananDaya yang dihasilkanVar iasi DSSC PadaSubstr at ITO dan FTO 2x2 cm
Arus dan tegangan daya maksimum dapat diketahui pada karakterisasi kurva I-V seperti ditunjukkan
Gambar 9. Dari proses pengukuran didapatkan arus rangkaian pendek (Isc) yang paling tinggi pada kaca ITO
dengan menggunkan kulit jahe merah sebagai dye sebesar 0,167mA. sedangkan arus rangkaian pendek (Isc)
yang paling rendah didapatkan pada Kaca FTO dengan dye daging jahe merah yaitu sebesar 0,0204 mA.
Sedangkan tegangan rangkaian terbuka (Voc) tertinggi dari empat sampel diperoleh pada sampel kaca FTO
menggunakan kulit sebagai dye di hari ke-3 sebesar 0,713V dan tegangan rangkaian terbuka (Voc) terenah
didaptkan pada sampel kaca FTO dengan daging jahe merah sebebsar 0,0311V pada hari ketujuh yaitu sebesar,
pada Voc dan Isc tertinggi di dapatkan pada pengukuran di hari ketiga dan kedua hal ini disebabkan ketika
proses pengukuran dilakukan langsung dihari pertama sandwich DSSC yang dibentuk belum tercampur
maksimal sehingga timbul proses ketidakstabilan antar material dan komponen material yang dipergunakan,
proses kestabilan pengukuran didapatkan ketika di hari kedua dan ketiga dengan estimasi setiap kali pengukuran
selalu ditambahkan 1 tetes elektrolit cair. Dari Penelitian sebelumnya didapat nilai intensitas halogen sebesar
1.040 lux dengan Pin 2,08 [10].

Efisiensi sel surya merupakan daya yang dihasilkan sel (Pmax) dibagi daya cahaya yang diiluminasikan
pada area tertentu dari sel (Pcahaya). Efisiensi sel surya dipengaruhi kualitas iluminasi yang diterima sel surya.
Apabila iluminasi yang diterima oleh sel surya bagus maka arus dan tegangan yang dihasilkan oleh sel surya
tinggi. Apabila sel surya dapat menghasilkan arus dan tegangan yang tinggi maka daya yang dihasilkan akan
tinggi pula. Dari proses perhitungan didapat nilai efisiensi tertinggi pada kacaITO dengan kulit jahe merah yaitu
0,0223 pada hari ketiga dan efisiensi terendah pada kaca FTO di hari ketujuh yaitu 0,0009










Gambar 9 Karakteritik I-V



Ice Trianiza, d kk. / Fabrikasi DSSC dengan Teknik Pelapisan .... SFA 2013

196 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
5 SIMPULAN

Simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain absorbansi pada kulit jahe merah lebih bagus
dibandingkan dengan daging jahe merah dengan rentang 335 nm 775 nm. Dari proses perhitungan didapat
nilai efisiensi tertinggi pada kacaITO dengan kulit jahe merah yaitu 0,0223 pada hari ketiga dan efisiensi
terendah pada kaca FTO di hari ketujuh yaitu 0,0009.

6 DAFTAR ACUAN
1. Greg P. Smestad, 2002, Optoelectr onics of Solar Cells, SPIE PRESS.
2. R. Sastrawan, 2006, Photovoltaic modules of dye solar cells, Disertasi University of Freiburg.
3. Http://material-sciences.blogspot.com/2010/03/dye-sensitized-solar -cell-dssc.html/diakses 17 februari
2013
4. (www.kacaITO.blogspot.com)
5. Ricter, P., M.I. Toral, and C. Toledo, 2006. Subcr itical Water Extr action and Deter mination of
Nifedipine in Phar maceutical For mulation. Dr ugs, Cosmetics, For ensic Sciences. J. of AOAC
International. Vol. 89, No.2.
6. Http://www.chem-is-try.org/fotokatalis pada per mukaan tio2/diakses 12 Februari 2013.
7. Nasori, (2012), Pengembangan dan fabr ikasi Dye Sensitized Solar Cell ber basis jahe Mer ah
Dengan metode deposisi Spin Coating dan Docot Blade. Thesis, Jurusan Fisika Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, ITS Surabaya.
8. Ekasari.Vitriany, (2013), Studi Awal Pembuatan Pr ototype Dye Sensitizer Solar Cell (DSSC)
Menggunakan ekstr aksi Rosella (Hibiscus Sabdar iffa) Sebagai Dye Sensitizer Dengan var iabel
Luas per mukaan lapisan TiO
2
, Tugas Akhir, ITS Surabaya.
9. Oregan dan Gratzel, M.A low Cost, High Efficiency Solar Cell Based On Dye Sensitized
Colloidal TiO
2
Films. Nature Vol.353. Issue 6346, 737.1991
10. Hidayat, (2013), Pengar uh Pember ian Space (bantalan) untuk Mendapatkan Kestabilan Ar us
dan Tegangan Pr ototipe DSSC dengan Ekstr aksi Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L.)
Sebagai Dye Sensitizer, Tugas Akhir, ITS Surabaya.
11. Athanassios I. Kontos, 2008. Nanostr uctur ed TiO2 films for DSSCS pr epar ed by combining doctor -
blade and solgel techniques. Elsevier, hal 243-248.

Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 197
FABRIKASI DAN KARAKTERISASI SEL TUNGGAL DYE
SENSITIZED SOLAR CELL (DSSC) BERBASIS TiO
2
MENGGUNAKAN
EKSTRAKSI BUAH MANGGIS KUNYIT DAN KLOROFIL DENGAN
VARIASI DYE DAN ELEKTROLIT


Nur r isma Puspitasar i, Nur ul Amalia Silvi, dan Endar ko

Jurusan Fisika, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Kampus ITS Keputih Sukolilo Surabaya 60111
e-mail: nourish_ma@physics.its.ac.id


Abstrak

Sel tunggal Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) tersensitisasi dye dari buah manggis, kunyit dan
klorofil dibuat untuk mengetahui pengaruh variasi natural dye terhadap efisiesi DSSC dan
pengaruh elektrolit terhadap efisiensi DSSC pada dye klorofil telah dilakukan. DSSC dibentuk
dengan struktur sandwich dimana terdapat lima bagian antara lain: kaca ITO (Indium Tin
Oxide) sebagai substrat; TiO
2
sebagai bahan semikonduktor; dye buah manggis, kunyit dan
korofil sebagai donor elektron; elektrolit sebagai transfer elektron; dan karbon sebagai katalis.
Serbuk nano TiO
2
dibuat dengan metode kopresipitasi. Metode pelapisan TiO
2
dengan
menggunakan metode Doktor Blade dengan tebal lapisan 10 m. Perendaman lapisan TiO
2
pada dye dilakukan selama satu hari. Pembuatan elektrolit gel menggunakan KI, iodine,
aquades, acetonitrile dan PEG 1000. Hasil efisiensi masing masing DSSC yang diperoleh
untuk variasi natural dye adalah 0,006 % untuk dye buah manggis, 0,004 % untuk dye kunyit,
0,006 % untuk dye klorofil, dan 0,013 % untuk mixing dye. Dan hasil efisiensi untuk variasi
elektrolit adalah 0,012 % untuk DSSC dengan elektrolit gel jenis pertama dan 0,02 % untuk
DSSC dengan elektrolit gel jenis kedua.

Kata Kunci : Dye Sensitized Solar Cell, natural dye, elektrolit gel


1. PENDAHULUAN
Sumber energi cahaya matahari di Indonesia sangat melimpah dan merupakan salah satu sumber energi
alternatif yang aman dan nyaman bagi manusia maupun lingkungan. Dan cahaya matahari telah banyak
digunakan sebagai sumber energi pada sel surya. Sel surya merupakan suatu peralatan yang dapat mengubah
energi cahaya menjadi energi listrik. Efisiensi sel surya konvensional sampai saat ini mencapai 18% [1]. Akan
tetapi penggunaan sel surya sebagai sumber energi listrik masih terbatas karena kendala oleh mahalnya bahan
utama dari sel tersebut, yaitu silikon. Namun, setelah melewati perkembangan zaman, teknologi sel surya juga
ikut berkembang. Pengembangan tersebut telah sampai pada sel surya generasi ketiga yang dikembangkan oleh
Gratzel [2]. Sel ini sering juga disebut dengan sel Grtzel atau dye sensitized solar cells (DSSC) atau sel surya
berbasis pewarna tersensitisasi (SSPT). Dye Sensitized Solar Cell (DSSC), sejak pertama kali ditemukan oleh
Professor Michael Gratzel pada tahun 1991, telah menjadi salah satu topik penelitian yang dilakukan intensif
oleh peneliti di seluruh dunia [2]. Pada penelitian ini akan dianalisa nilai effiensi DSSC dengan bahan
semikonduktor TiO
2
dengan dye alam berupa buah manggis, kunyit dan klorofil serta juga akan dianalisa
perbandingan nilai efisiensi DSSC dengan variasi elektrolit untuk DSSC mixing dye.



Nurul ASS,dkk./ Analisa perbandingan effisiensi DSSC . SFA 2013

198 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
2. DASAR TEORI
Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) merupakan sel surya tersensitisasi zat pewarna dan terdiri dari 5
bagian yang tersusun secara sandwich . Bagian tersebut antara lain : Kaca Indium Tin Oxide (ITO) sebagai
substrat menempelnya bahan semikonduktor, nano TiO
2
sebagai bahan semikonduktor, zat pewarna (dye) donor
elektron, elektrolit sebagai transfer elektron, dan karbon sebagai katalis.



Gambar. 1. Strutur dan prinsip kerja Dye Sensitized Solar Cell saat penyinaran
oleh sumber cahaya [3].


Gambar 1 diatas menjelaskan prinsip kerja DSSC. Sama halnya dengan prinsip kerja sel surya
konvensional, pada sel surya ini terdapat pembawa muatan positif (hole) dan pembawa muatan negatif
(elektron). Saat cahaya yang dipancarkan mengenai sel, cahaya yang terdiri dari foton foton tersebut diserap
oleh zat pewarna yang tersentisisasi pada semikonduktor TiO
2
. Energi gap dari TiO
2
adalah 3,2 eV dan hanya
dapat menyerap cahaya dibawah 380 nm. Oleh karena itu, dibutuhkan energi tambahan berupa donor elektron
pembawa energi foton dari zat pewarna (dye). Dengan begitu elektron memiliki energi yang cukup untuk
terkesitasi dan diinjeksikan pada pita konduksi TiO
2
yang menyebabkan dye teroksidasi. Kemudian elektron
yang diinjeksikan tersebut terkumpul pada kaca konduktif (ITO) dan melintas keluar melalui rangkaian luar
menuju elektroda karbon. Elektron yang masuk dalam elektroda karbon mereduksi sebuah donor teroksidasi
pada elektrolit. Kemudian dye yang teroksidasi menerima sebuah elektron dari donor tereduksi dan tergenerasi
kembali menjadi molekul awal [4].


Pada Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) ini, efisiensi dipengaruhi oleh : dye misalnya lama perendaman,
jenis dye dan lain lain; elektrolit misalnya jenis elektrolit dan kandungannya; bahan semikonduktor misalnya
jenis semikonduktor, tebal lapisan semikonduktor dan luas permukaan semikonduktor. Selanjutnya akan diteliti
mengenai pengaruh jenis dye dan jenis elektrolit terhadap efisiensi DSSC.

3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Sintesis Semikonduktor Nano TiO
2

Sintesis TiO
2
dilakukan dengan metode kopresipitasi, Pertama dituangkan aquades sebanyak 50 ml ke
dalam gelas kimia yang kemudian ditambahkan asam pekat berupa HCl (Merck) 2M 37% sebanyak 20 ml dan
TiCl
3
(Merck) 20 ml. Kemudian di aduk selama 30 menit. Setelah tercampur, ditambahkan NH
4
OH (Merck)
25% sebanyak 50 ml. Kemudian diaduk kembali selama 60 menit dan di endapkan selama 1 hari, setelah itu
dilakukan penyaringan endapan dan kemudian endapan yang tersaring dikeringkan menggunakan furnice
dengan suhu 400
o
C selama 3 jam [5]. Sehingga menghasilkan TiO
2
nano berfase anatase dengan ukuran kristal
12 nano.


Nurul ASS,dkk./ Analisa perbandingan effisiensi DSSC . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 199
3.2 Ekstraksi Dye
Dye yang digunakan adalah dye dari ekstraksi buah manggis, ekstraksi kunyit, klorofil, dan mixing ketiga
dye. Digunakan mixing dye agar penyerapan foton lebih banyak ([6]. Dye klorofil didapat dari K-Link
sedangkan dye antosianin dan curcumin didapatkan dari ekstrak manggis dan kunyit (PT. Borobudur,
Indonesia). Ekstrak manggis dan kunyit dibuat dengan metode maserasi yaitu 10 gr ekstrak ditambahkan dalam
100 ml ethanol dan HCl 1%. Larutan yang terbentuk disaring untuk dipisahkan dari residu, sehingga di dapat
larutan dye. Kemudian untuk mixing dye, larutan dye klorofil, antosianin dan curcumin dicampur dengan
komposisi 1:1:1. Dilakukan proses perendaman pada masing masing dye selama 1 hari.

3.3 Pembuatan Elektrolit Gel
Elektrolit yang digunakan pada DSSC ini berupa elektrolit gel yang berbasis polimer PEG (polyethylene
glycol) dengan berat molekul (BM) 1000. Dibuat 2 jenis elektrolit gel yaitu elektrolit gel jenis pertama : 7 g
PEG (Merck) + 25 ml kloroform + elektrolit cair berupa (0,8 gram KI yang dilarutkan pada 10 ml aquades dan
5 tetes larutan iodine (Merck)). Campuran tersebut diaduk dengan pengaduk magnetik sambil dipanaskan pada
suhu 80C selama satu jam hingga homogen dan membentuk gel [7]. Untuk elektrolit gel jenis kedua : 7 g PEG
(Merck) + 25 ml kloroform + elektrolit cair (3 gram KI yang dilarutkan pada 10 ml acetonitrile (VWR) dan 3
ml larutan iodine).

3.4 Pembuatan Sandwich DSSC
Sebelum dilakukan pelapisan TiO
2
pada kaca konduktif, dilakukan pelarutan TiO
2
yaitu 1 gr TiO
2

dilarutkan pada 4 ml asam asetat dan 3 tetes Triton X-100 (Merck) kemudian diaduk selama 20 menit [2].
Pelapisan semikonduktor pada kaca konduktif dilakukan dengan metode Doktor Blade yang diatur ketebalannya
dengan menggunakan plastik wrap dengan tebal 10 mikro. Setelah itu dipanaskan pada suhu 450C selama 20
menit agar bahan yang digunakan sebagai larutan dapat menguap. Selanjutnya dibuatlah elektroda kerja yang
terdiri dari lapisan TiO
2
pada kaca konduktif yang tersenstisisasi dye dilapisi oleh elektrolit. Kemudian
elektroda karbon dibuat dengan mengarsir kaca konduktif dengan karbon dari pensil 8B yang kemudian dibakar
dengan api lili sampai terbentuk lapisan karbon yang rata. Setelah elektroda kerja dan elektroda karbon selesai
dibuat, elektroda kerja dan elektroda karbon disusun berhadapan secara flip over sehingga terbentuk susunan
sandwich DSSC seperti pada Gambar 2.


(a)


(b)

Gambar 2. (a) Hasil fabrikasi DSSC menggunakan dye manggis, kunyit, klorofil dan mixing dye,
(b) Hasil Fabrikasi DSSC menggunakan mixing dye untuk variasi elektrolit gel jenis pertama dan elektrolit gel jenis kedua


Nurul ASS,dkk./ Analisa perbandingan effisiensi DSSC . SFA 2013

200 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
4. HASIL DAN DISKUSI
4.1 Absor bansi Dye
Pengujian dye dilakukan dengan menggunakan Spektrometer UV-Vis (HR 4000, Ocean Optics) untuk
mengetahui hubungan absorbansi zat pewarna terhadap panjang gelombang tertentu seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 3.

Gambar 3. Grafik Absorbansi dye klorofil, manggis, kinyit dan mixing dye



Hasil pada Gambar 3 menunjukkan bahwa absorbansi DSSC untuk keempat dye terletak pada rentang
panjang gelombang cahaya UV, dan jangkauanya lebih lebar daripada rentang panjang gelombang cahaya
tampak. Sehingga DSSC akan memperoleh efisiensi maksimum jika menggunakan sumber cahaya yang
rentangnya sama dengan rentang panjang gelombang cahaya UV. Cahaya UV (Ultraviolet), yaitu panjang
gelombang yang dipancarkan oleh cahaya matahari pada pagi hari dan sore hari yang memiliki rentang panjang
gelombang 100 400 nm [8]. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan pengukuran dibawah cahaya
matahari.

4.2 Hasil Karakterisasi Arus Dan Tegangan Pada Variasi Natural Dye dan Elektrolit

Berdasarkan pada penilitian yang telah dilakukan, hasil tegangan dan arus pada variasi natural dye
menunjukkan hasil yang lebih bagus untuk DSSC menggunakan mixing dye seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 4.

Gambar 4. Grafik Arus dan Tegangan untuk DSSC dengan variasi natural dye
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
3
0
0
3
2
3
3
4
6
3
6
9
3
9
2
4
1
5
4
3
8
4
6
1
4
8
4
5
0
7
5
3
0
5
5
3
5
7
6
5
9
9
6
2
2
6
4
5
6
6
8
6
9
1
7
1
4
7
3
7
7
6
0
7
8
3
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

(
a
.
u
.
)

Klorofil-Kunyit-Manggis
klorofil
manggis
kunyit
0
10
20
30
40
50
60
70
0 100 200 300 400 500 600
A
r
u
s

(

A
)
Tegangan (mV)
Klorofil
Kunyit
Manggis
Klorofil-Manggis-Kunyit
Nurul ASS,dkk./ Analisa perbandingan effisiensi DSSC . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 201
Pada DSSC yang telah berhasil dibuat, sesuai dengan teknik Gratzel [9], tegangan timbul akibat adanya
perbedaan tingkat energi konduksi dari kerja semikonduktor TiO
2
dengan potensial dari elektrolit yang dipakai.
Arus yang timbul dipengaruhi oleh intensitas dari sumber cahaya yang akan menentukan jumlah foton yang
diserap oleh dye dalam proses konversinya. Pada kurva I-V (Gambar 4) diketahui hasil V
OC
dan Isc untuk
masing - masing DSSC, hasilnya terangkum pada Tabel 1.









Terlihat bahwa arus dan tegangan tertinggi didapatkan pada DSSC mixing dye. Sehingga efisiensi DSSC
pada mixing dye lebih tinggi daripada ketiga dye yang lain. Hal tersebut disebabkan karena pada DSSC ini, dye
berpengaruh dalam penyerapan energi foton yang dipancarkan cahaya matahari dan membantu TiO
2
yang hanya
bisa menyerap energi pada panjang gelombang cahaya ultraviolet yaitu dibawah 380 nm untuk menyerap foton
[4]. Pada mixing dye diharapkan lebih banyak foton yang diserap oleh dye karena rentang panjang gelombang
dye yang lebar. Sehingga jika banyak foton yang diserap, maka banyak pula elektron yang mengalir sehingga
arus yang dihasilkan semakin tinggi. Dan hasil tersebut sesuai dengan hasil yang diperoleh [10] bahwa arus dan
tegangan pada mixing dye menunjukkan hasil yang lebih bagus daripada single dye.
Untuk variasi elektrolit, digunakan DSSC pada mixing dye. Berdasarkan pada penilitian yang telah
dilakukan, hasil tegangan dan arus pada variasi elektrolit gel menunjukkan hasil yang lebih tinggi untuk DSSC
menggunakan elektrolit gel jenis kedua seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5 .



Gambar 5. Grafik Arus dan Tegangan untuk DSSC dengan variasi elektrolit


Pada kurva I-V (Gambar 5) diketahui hasil Voc dan Isc untuk masing - masing DSSC, hasilnya terangkum pada
Tabel 2.








Terlihat bahwa arus dan tegangan tertinggi didapatkan pada DSSC menggunakan elektrolit jenis kedua.
Hal tersebut terjadi karena pada elektrolit gel, konsentrasi KI dan iodine yang diberikan diperbesar. Sehingga
elektrolit lebih padat dan cadangan ion untuk transfer elektron pada dye yang teroksodasi lebih banyak.


0
10
20
30
40
50
60
0 100 200 300 400 500 600
A
r
u
s

(

A
)
Tegangan (mV)
TiO2 1
Gel 1
Tabel 1. Nilai Voc, Isc, Daya Maksimum dan Efisiensi Pada DSSC Natural Dye
Natural
Dye
Voc (mV) Isc(A) Pmax (nW) FF (%) Efisiensi (%)
Klorofil 376 53 2811,9 14,11 0,006
Kunyit 460 18,9 1780 20,47 0,004
Manggis 377 27,4 2881,9 27,89 0,006
Mixing Dye 504 62,2

5795,5 18,48

0,013



Tabel 2. Nilai Voc, Isc, Daya Maksimum dan Efisiensi Pada DSSC dengan Variasi Elektrolit
Elektrolit Voc (mV) Isc(A) Pmax (nW) FF (%) Efisiensi (%)
Jenis 1 493 21 5350,8 51,68 0,012
Jenis 2 554 56 8702,5 28,05 0,019


Nurul ASS,dkk./ Analisa perbandingan effisiensi DSSC . SFA 2013

202 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
5. SIMPULAN
Pada Karakterisasi Dye Sensitized Solar Cell berbasis TiO
2
ini, diperoleh hasil yang lebih tinggi untuk
DSSC mixing dye dibanding dengan DSSC pada single dye yaitu : 0,006 % untuk dye buah manggis, 0,004 %
untuk dye kunyit, 0,006 % untuk dye klorofil. Dan hasil efisiensi untuk elektrolit jenis kedua lebih tinggi
dibanding dengan jenis elektrolit pertama yaitu : 0,012 % untuk DSSC dengan elektrolit gel jenis pertama dan
0,02 % untuk DSSC dengan elektrolit gel jenis kedua.


6. DAFTAR ACUAN
1. Engelhart, P. (2011), R&D pilot line production of multi-crystalline Si solar cells
2. Oregan, Gratzel, M. (1991), A Low-Cost, High Efficiency Solar Cell Based On Dye-Sensitized
Colloidal Tio2 Films, Nature Vol. 353, Issue 6346, 737.
3. Puspitasari, Nurrisma. (2012), Studi Awal dilakukan pembuatan pr ototipe Dye Sensitized Solar
Cell (DSSC) menggunakan ekstr aksi r osela (Hibiscus Sabdar iffa) sebagai dye sensitizer dengan
var iasi luas per mukaan lapisan TiO2. ITS Surabaya
4. Byranvand, M. Malekshahi., Kharat, A. Nemati., Badiei,A.R. (2012), Electron Transfer in Dye-
Sensitized Nanocrystalline TiO2 Solar Cell, Journal of Nanostuctures JNS 2 19-26.
5. Nur Widaryanti, H., n.d. (2010), Pembentukan Nanopar tikel TiO2 Fasa Anatase dan Rutile dengan
Metode Ber var iasi, ITS Surabaya.
6. Bandara, J., Weerasinghe, H. (2006), Design of high-efficiency solid-state dye-sensitized solar cells
using coupled dye mixtures, Solar Energy Materials and Solar Cells 90, 864871.
7. Maddu, A., Zuhri, M., Irmansyah,. (2010), Penggunaan Ekstrak Antosianin Kol Merah Sebagai
Fotosintezer pada Sel Surya TiO2 Nanokristal Tersensitasi Dye, MST 11.
8. Giancoli, C.Douglas. (2001), Fisika Edisi Kelima, Jakarta, Erlangga.hal 227
9. Grtzel, M., (2004), Conversion of Sunlight to Electric Power by Nanocrystalline Dye Sensitized Solar
Cells, Journal of Photochemistry and Photobiology A, Chemistry 164, 314.
10. Abidin, A. Z. ,Noezar,I. (2012), Identification of Potential Dyes and Developing Methods to Improve
Dye-sensitized Solar Cell's Efficiency, Regional Symposium on Chemical Engineering.
11. exceeding cell efficiencies of 18 %, Energy Procedia 8 383-387.






Nurul ASS,dkk./ Analisa perbandingan effisiensi DSSC . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 203
ANALISA PERBANDINGAN EFFISIENSI DYE SENSITIZED SOLAR
CELL (DSSC) DENGAN BAHAN SEMIKONDUKTOR TiO
2
, ZnO dan
MgO SEBAGAI PHOTOELEKTRODA

Nur ul Amalia Silviyanti S, Nur r isma Puspitasar i, dan Endar ko.

Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan alam
Institut Teknologi sepuluh Nopember Surabaya
Kampus ITS Keputih Sukolilo Surabaya 60111
endarko@physics.its.ac.id


ABSTRAK

Telah berhasil dibuat Dye Senstized Solar Cell (DSSC) menggunakan bahan
semikonduktor TiO
2
, ZnO dan MgO serta dye alam yang berupa klorofil, curcumin dan
antosianin. Selain itu, digunakan karbon sebagai katalis, sedangkan untuk
meningkatkan lifetime digunakan elektrolit gel. Fabrikasi DSSC dilakukan dengan
menggunakan photoelektroda yang direndam pada dye dan ditetesi elektrolit gel,
kemudian ditutup menggunakan elektroda karbon. Setelah sel selesai difabrikasi, maka
sel siap diuji arus dan tegangan untuk melihat efisiensi yang dihasilkan. Dari fabrikasi
sel menggunakan semikonduktor TiO
2
, ZnO dan MgO menghasilkan efisiensi masing-
masing 0.012879%, 0.003633 % dan 0.002792%. Sel menggunakan semikonduktor
TiO
2
menghasilkan arus short circuit (Isc) paling baik yakni 62,2 A, sedangkan
tegangan open circuit (Voc) paling tinggi 607 mV dihasilkan dari sel menggunakan
semikonduktor MgO.

Kata kunci: semikonduktor, dye alam, elektrolit gel, DSSC


1. PENDAHULUAN
Salah satu tantangan terbesar manusia saat ini adalah mencari pengganti bahan bakar fosil dengan
sumber energi terbarukan yang murah dan ramah lingkungan. Matahari adalah sumber energi yang bersih dan
murah, selama ini alam telah menggunakannya untuk menunjang semua kebutuhan makhluk di bumi.
Bagaimanapun, menggunakan energi matahari dengan tekhnologi photovoltaic merupakan jawaban yang tepat
untuk menjawab krisis kebutuhan energi [1]. Salah satu penggunaan konversi energi matahari dengan teknik
photovoltaic, mayoritas menggunakan solar sel yang terbuat dari silikon. Tekhnologi ini telah mencapai efisiensi
15%, namun proses pembuatan cukup sulit dan harganya relatif mahal.
Pada tahun 1991 Dye Sensitized Solar Sels (DSSC) ditemukan oleh Professor Gratzel dkk disebut
sebagai generasi ketiga solar sel. DSSC sedikit berbeda dengan solar sel konvensional, dimana kita tidak
memerlukan silikon pada pembuatannya [2]. Sejak itu DSSC (dye sensitized solar cell) telah banyak menarik
perhatian banyak ilmuwan sebagai sumber energi alternatif terbarukan, ramah lingkungan dan murah [3]. Fokus
dari makalah penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan nilai effiensi DSSC yang terbuat dari variasi
3 bahan semikonduktor yaitu TiO
2
, ZnO dan MgO dengan bahan dye alam yang berupa klorofil, curcumin dan
antosianin. Selain itu juga diamati tentang tegangan open circuit (V
OC
) dan arus short circuit (I
SC
) pada setiap
bahan semikonduktor untuk prototype DSSC.

2. DASAR TEORI
DSSC tediri dari substrat transparan yang mempunyai sifat konduktif (fluorine tin oxide/FTOdan indium
tin oxide/ITO), semikonduktor berukuran nano (TiO
2
), dye sebagai pengumpul foton, elektrolit iodide sebagai
transfer elektron dan karbon sebagai katalis reaksi pada elektrolit [4].
Nurul ASS,dkk./ Analisa perbandingan effisiensi DSSC . SFA 2013

204 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Gambar 1. Skema DSSC [5].

Gambar 1 merupakan skema dari DSSC dimana prinsip kerja DSSC dimulai saat dye menyerap sebuah
foton mengakibatkan elektron tereksitasi pada molekul dye. Dye tereksitasi menginjeksi sebuah elektron ke
dalam pita konduksi semikonduktor. Elektron tersebut melintas melewati partikel-partikel semikonduktor
menuju kontak belakang berupa lapisan konduktif transparan ITO (indium tin oxide), selanjutnya ditransfer
melewati rangkaian luar menuju elektroda lawan. Elektron masuk kembali ke dalam sel dan mereduksi sebuah
donor teroksidasi (I
+
) yang ada di dalam elektrolit. Dye teroksidasi akhirnya menerima sebuah elektron dari
donor tereduksi (I
3-
) dan tergenerasi kembali menjadi molekul awal [6].
Pada DSSC semikonduktor yang digunakan haruslah tahan korosi karena adanya penggunaan elektrolit.
Selain itu semikonduktor yang digunakan berukuran nano agar luas permukaan lebih besar sehingga dye yang
terikat semakin banyak dan dapat menyerap foton lebih banyak [7]. Semikonduktor yang telah banyak
digunakan adalah TiO
2
dengan band gap 3,2 eV. Beberapa paper telah mencoba semikonduktor lain seperti
ZnO, Fe
2
O
3
dan Nb
2
O
5
[8-10]. Pada penelitian ini digunakan semikonduktor TiO
2
, ZnO dan MgO. Penggunaan
TiO
2
sebagai semikonduktor yang telah sering digunakan pada DSSC, dan ZnO sebagai altenatif kedua dengan
band gap 3,3 eV sedangkan MgO sebagai alternatif berikutnya dengan band gap 8,9 eV. Selanjutnya akan
dianalisa perbandingan ketiga semikonduktor diatas sebagai photoelectrode pada DSSC.


3. METODE PENELITIAN
3.1 Sintesis Semikonduktor
Sebelum sintesis, disiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan yaitu: TiCl
3,
HCl 37%, NH
4
OH 25%, dan Mg,
semua bahan di dapat dari Merck. Sintesis TiO
2
dilakukan dengan metode kopresipitasi, Pertama dituangkan
aquades sebanyak 50 ml ke dalam gelas kimia yang kemudian ditambahkan asam pekat berupa HCl 2M 37%
sebanyak 20 ml dan TiCl
3
20 ml. Kemudian di aduk selama 30 menit. Setelah tercampur, ditambahkan NH
4
OH
25% sebanyak 50 ml. Kemudian diaduk kembali selama 60 menit dan di endapkan selama 1 hari,setelah itu
dilakukan penyaringan endapan dan kemudian endapan yang tersaring dikeringkan menggunakan furnice
dengan suhu 400
o
C selama 3 jam [11]. Sintesis MgO juga menggunakan metode kopresipitasi. Serbuk Mg
sebanyak 2 gr dicampurkan dengan 18 ml HCl 37%, diaduk selama 20 menit. Ditambahkan NH
4
OH sebanyak
115 ml dan diaduk sampai larutan basa (pH 11). Cuci larutan sampai pH netral, kemudian saring. Keringkan
endapan yang didapatkan dibawah lampu 100 watt dalam ruang tertutup selama 4 jam, kemudian panaskan
serbuk yang di dapat pada suhu 500C selama 30 menit. Sedangkan serbuk ZnO nano didapat dari BRATACO.
Dari hasil sintesis didapatkan serbuk TiO
2
dengan ukuran partikel 12 nm dan serbuk MgO dengan ukuran
partikel 10 nm. Untuk serbuk ZnO dari BRATACO partikelnya berukuran 40 nm.


3.2 Ekstraksi Dye
Dye yang digunakan adalah campuran tiga dye klorofil, curcumin dan antosianin. Digunakan campuran 3
dye agar penyerapan foton lebih banyak [12]. Karena masing-masing dye alam seperti klorofil, curcumin dan
antosianin mempunyai serapan panjang gelombang yang berbeda sesuai pigmen warna yang dibawa. Dengan
mencampurkan ketiga dye tersebut diharapkan absorbansi cahaya lebih lebar dan foton yang terserap lebih
banyak. Gambar 2 menunjukkan struktur kimia dari dye klorofil, curcumin dan antosianin.

Nurul ASS,dkk./ Analisa perbandingan effisiensi DSSC . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 205

a. klorofil b. antosianin c. curcumin

Gambar 2. (a) struktur kimia klorofil (b) antosianin [18] dan (c) curcumin [14].

Dye klorofil didapat dari K-link sedangkan dye antosianin dan curcumin didapat dari ekstrak manggis
dan kunyit (PT. Borobudur, Indonesia). Ekstrak manggis dan kunyit diberi perlakuan yang sama untuk
mendapatkan larutan ekstrak. 10 gr ekstrak ditambahkan dalam 100 ml ethanol dan HCl 1%. Larutan yang
terbentuk disaring untuk dipisahkan dari residu, sehingga di dapat larutan dye. Kemudian larutan dye klorofil,
antosianin dan curcumin dicampur dengan komposisi 1:1:1. Dilakukan proses perendaman pada dyeklorofil,
antosianin dan curcumin, kaca ITO yang telah dilapisi semikonduktor direndam pada larutan dye selama 1 hari
(24 jam).

3.3 Elektrolit Gel
Elektrolit padat yang digunakan berbasis polimer PEG (polyethylene glycol) dengan berat molekul (BM)
1000. Sebanyak 7 g PEG dari Merck dilarutkan dengan 25 ml kloroform yang juga didapat dari Merck.
Campuran tersebut diaduk hingga membentuk gel, selanjutnya dimasukkan elektrolit cair yang mengandung 3
gram KI, 10 ml aquades dan 10 tetes larutan iodide. Kedua larutan yang telah dicampur diaduk dengan
pengaduk magnetik sambil dipanaskan pada suhu 80C selama satu jam hingga homogen dan membentuk gel
[13].

3.4 Pembuatan DSSC
Serbuk semikonduktor dilarutkan pada pelarutnya agar dapat dilapiskan pada kaca substrat. Karena
ketiga bahan semikonduktor berbeda, maka pelarut yang digunakan juga berbeda. Untuk TiO
2
, serbuk sebanyak
1 gr dilarutkan pada 4 ml asam asetat dan 3 tetes Triton X-100 kemudian diaduk selama 20 menit. Larutan
semikonduktor MgO dibuat dari serbuk MgO yang dilarutkan dalam HCl 0.1 M dengan perbandingan 1:5 atau 1
gr MgO dalam 5 ml HCl. Sedangkan untuk larutan semikonduktor ZnO dibuat dari serbuk ZnO dalam ethanol
70% dengan perbandingan 1:5 yakni 1 gr serbuk ZnO dilarutkan dalam 5 ml ethanol.
Setelah semikonduktor dalam bentuk larutan, dideposisikan pada subsrat ITO dengan ketebalan 13m
menggunakan metode Doctor blade. Kemudian dipanaskan pada suhu 450C selama 20 menit agar bahan yang
digunakan sebagai larutan menguap. Semikonduktor yang telah dilapiskan pada ITO di rendam dalam larutan 3
dye selama 1 hari/24 jam. Lapisan karbon dibuat dengan melapisi kaca ITO menggunakan karbon dari pensil 8B
yang diarsir secara merata pada permukaan konduktif kaca. Setelah dilapisi karbon dari pensil, kaca dibakar
diatas api lilin hingga hitam merata. Gambar 3 menunjukkan hasil fabrikasi dye sensitized solar cell
menggunakan semikonduktor TiO
2
, ZnO dan MgO. Photoelectrode yang telah direndam dye dibersihkan
kemudian ditetesi elektrolit gel dan di tutup menggunakan elektroda karbon. Sel yang telah difabrikasi dijepit
menggunakan klip kertas agar tidak mudah lepas.


Gambar 3. Sel DSSC dengan menggunakan (a) TiO2, (b) ZnO dan (c) MgO
a
b c
Nurul ASS,dkk./ Analisa perbandingan effisiensi DSSC . SFA 2013

206 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
4. HASIL DAN DISKUSI
4.1 Absorbansi dye
Pada penelitian ini digunakan 3 macam dye alam yakni klorofil, curcumin dan antosianin. Dimana
curcumin merupakan dye yang terbuat dari ekstrak kunyit dan antosianin dari ekstrak manggis. Ketiga dye ini
diuji menggunakan spektometer UV-Vis (HR-4000, Ocean Optics) untuk mengetahui nilai absorbansi panjang
gelombang dari masing-masing dye. Gambar 4 menampilkan grafik nilai absorbansi pada rentang panjang
gelombang 300-800 nm untuk dye klorofil, curcumin, antosianin dan larutan campuran dari 3 dye. Dye klorofil
mempunyai absorbansi panjang gelombang hingga 500 nm dengan puncak pada panjang gelombang 400 nm dan
nilai absorbansi 2,137 (a.u). Dye antosianin dari ekstrak manggis memiliki nilai absorbansi 3 (a.u) sampai
panjang gelombang 330 nm. Sedangkan dye curcumin dari ekstrak kunyit mempunyai serapan panjang
gelombang hingga 480 nm dan dengan nilai absorbansi tertinggi 1,5 (a.u). Campuran 3 dye mempunyai serapan
panjang gelombang hingga 500 nm dan nilai absorbansi tertinggi 3 (a.u).

Gambar 4. Grafik absorbansi dye klorofil, curcumin, antosianin dan campuran 3 dye.

Untuk mendapatkan kedua sifat unggul yang dimiliki dye ( serapan panjang gelombang lebar dan nilai
absobansi tinggi) tidak bisa menggunakan rasio 1:1 namun menggunakan rasio tertentu sesuai jenis dye [14].
Hal ini menjelaskan mengapa absorbansi dan serapan panjang gelombang pada campuran 3 dye tidak dapat
mengambil keunggulan dari masing-masing 3 dye. Namun absorbansi dan panjang gelombang dari campuran 3
dye dapat mewakili ketiga dye dimana nilai absorbansi tertinggi 3 (a.u) dan rentang panjang gelombang 500 nm.

4.2 Hasil pengukuran dan perbandingan semikonduktor
Penggunaan TiO
2
dan ZnO sebagai lapisan photoelectrode pada DSSC telah banyak dilaporkan pada
beberapa peneliti sebelumnya [5,8]. Namun penggunaan MgO pada DSSC tidak digunakan sebagai
photoelektode, melainkan sebagai campuran elektrolit [15]. Ketiga sel yang telah dibuat diuji tegangan dan arus
yang dihasilkan. Dari hasil pengujian kita akan melihat karakteristik sel menggunakan tiga semikonduktor yang
berbeda.


Gambar 5. Kurva I-V dengan 3 macam semikonduktor yang berbeda sebagai photoelektrode.
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
3
0
0
3
2
4
3
4
8
3
7
2
3
9
6
4
2
0
4
4
4
4
6
8
4
9
2
5
1
6
5
4
0
5
6
4
5
8
8
6
1
2
6
3
6
6
6
0
6
8
4
7
0
8
7
3
2
7
5
6
7
8
0
3 dye
klorofil
manggis
kunyit
Panjang gelombang (nm)
a
b
s
o
r
b
a
n
s
i

(
a
.
u
.
)
0
10
20
30
40
50
60
70
0 200 400 600 800
TiO2
ZnO
MgO
a
r
u
s

(

A
)
Tegangan (mV)
Nurul ASS,dkk./ Analisa perbandingan effisiensi DSSC . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 207

Perbandingan kinerja sel yang tebuat dari semikonduktor TiO
2
, ZnO dan MgO dapat dilihat pada Gambar
5 dan Tabel 1. Sel menggunakan semikonduktor TiO
2
memiliki nilai efisiensi paling baik0.012879%
dibandingkan sel menggunakan semikonduktor ZnO dengan efisiensi 0.003633 % dan MgO dengan 0.002792%.
TiO
2
cenderung menghasilkan arus lebih besar dibandingkan kedua semikonduktor yang lain dengan Isc 62,2
A. Sedangkan MgO cenderung menghasilkan tegangan paling tinggi (607mV) dibandingkan yang lain. Hal ini
sesuai dengan teori dari Gratzel [9] tegangan yang dihasilkan merupakan hasil dari perbedaan energi Fermi
pada semikonduktor dan energi gap pada elektrolit. Sedangkan arus yang dihasilkan merupakan indikasi dari
banyaknya foton yang terkonversi menjadi energi listrik. Mengingat bahwa energi gap yang dimiliki MgO 8,9
eV jauh lebih tinggi dibandingkan TiO
2
3,2 eV dan ZnO 3,3 eV maka tegangan yang dihasilkan oleh
semikonduktor MgO lebih besar dibandingkan kedua semikonduktor lain. Dari arus yang dihasilkan, terbukti
bahwa TiO
2
merupakan semikonduktor yang dapat mengikat lebih banyak dye dibandingkan semikonduktor lain
sehingga foton yang terkumpul lebih banyak dan efisiensi pada sel menggunakan TiO
2
lebih besar.

Tabel 1. Karakteristik Dye sensitized solar cells dengan 3 semikonduktor yang berbeda
Semikonduktor Voc (mV) Isc (A) Pmax (nW) FF % %
TiO2 single 504 62.2 5795.5 18.48715 0.012879
ZnO single 460 19 1635 18.70709 0.003633
MgO single 607 10.3 1256.5 20.09725 0.002792


Faktor yang sangat mempengaruhi efisiensi DSSC adalah dye. Selain betugas mengumpulkan foton
perbedaan energi level pada dye dengan semikonduktor dan elektrolit dapat mempengaruhi arus yang
dihasilkan. LUMO (lowest unoccupied molecular orbital) pada dye harus berada pada level energi yang lebih
tinggi dari semikonduktor sehingga dye dapat menginjeksi elektron pada pita konduksi semikonduktor.
Sedangkan HOMO (highest occupied molecular orbital ) pada dye harus lebih positif dari potensial redox
pasangan ion iodine. Jika perbedaan antara HOMO elektrolit terlalu kecil akan memperlambat difusi elektron
untuk mereduksi dye [16]. Hal ini menjelaskan bahwa dye dan elektrolit yang digunakan sesuai dengan struktur
partikel TiO
2
. Oleh karena itu dari hasil yang telah diperoleh kita tidak bisa semata-mata menyimpulkan bahwa
semikonduktor ZnO dan MgO tidak dapat digunakan pada DSSC. Beberapa penelitian lain menggunakan ZnO
[8, 10, 17] menghasilkan nilai efisiensi yang lebih baik dengan menggunakan dye dan elektrolit yang berbeda
dimana kedua bahan tersebut disesuaikan dengan struktur partikel pada ZnO agar dye yang terikat lebih banyak
dan elektrolit dapat bereaksi lebih cepat pada ZnO [19]. Artinya kita dapat menggunakan ZnO dan MgO sebagai
photoelektroda, namun perlakuannya tidaklah sama dengan penggunaan TiO
2
sehingga efisiensi yang dihasilkan
lebih maksimal.


5. SIMPULAN
Pembuatan DSSC menggunakan semikonduktor TiO
2
, ZnO dan MgO telah berhasil dilakukan.
Perbandingan kinerja ketiga sel menggunakan semikonduktor berbeda menunjukkan bahwa TiO
2
menghasilkan
sel dengan arus paling baik yakni 62,2 A. Sedangkan sel menggunakan semikonduktor MgO menghasilkan
tegangan paling besar 607 mV. Secara keseluruhan TiO
2
menghasilkan sel dengan efisiensi paling baik
0.012879%. Hal ini semakin mengukuhkan bahwa semikonduktor TiO
2
merupakan pilihan utama pada
pembuatan DSSC, namun tidak menutup kemungkinan semikonduktor ZnO dan MgO dapat dijadikan altenatif
lain sebagai photoelektrodapada DSSC.

6. DAFTAR ACUAN
1. Nazeeruddin, M. K., Baranoff, E., & Grtzel, M. (2011),' Dye Sensitized Solar Cells: A Brief Overview',
Solar Energy, 85(6), 11721178.
2. Jensen, K. F. (2008, August 29), Per for mance Compar ison of a Dye-Sensitized and a Silicon Solar
Cell under Idealized and Outdoor Conditions (thesis), Technical University of Denmark, Denmark.
3. Nithyanandam, K., & Pitchumani, R. (2012),' Analysis and Design of Dye Sensitized Solar Cells', Solar
Energy, 86(1), 351368.
4. Yeji, L., Jinho, C., & Misook, K. (2010), 'Comparison of the photovoltaic efciency on DSSC for
nanometer sized TiO2 using a conventional solgel and solvothermal methods', Journal of Industrial and
Engineering Chemistry. 16, 609614
Nurul ASS,dkk./ Analisa perbandingan effisiensi DSSC . SFA 2013

208 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
5. Chen, Y. S., Lee, J. N., Tsai, S. Y., & Ting, C. C. (2008),' Manufacture of Dye-Sensitized Nano Solar
Cells and their I-V Curve Measurements', Materials Science Forum, 594, 324330.
6. Calogero, G., & Marco, G. D. (2008), 'Red Sicilian Orange and Purple Eggplant Fruits as Natural
Sensitizers for Dye Sensitized Solar Cells', Solar Energy Materials and Solar Cells, 92(11), 13411346.
7. Handini, W. (2008), Per for ma Sel Sur ya (Thesis), Universitas Indonesia, Indonesia.
8. Chergui, Y., Nehaoua, N., & E., D. (2011),' Comparative Study of Dye-Sensitized Solar Cell Based on
ZnO and TiO
2
Nanostructures', In L. A. Kosyachenko (Ed.), Solar Cells - Dye-Sensitized Devices.
InTech. Retrieved from http://www.intechopen.com/books/solar-cells-dye-sensitized-
devices/comparative-study-of-dye-sensitized-solar-cell-based-on-zno-and-tio2-nanostructures
9. Grtzel, M. (2004),' Conversion of Sunlight to Electric Power by Nanocrystalline Dye Sensitized Solar
Cells', Journal of Photochemistry and Photobiology A: Chemistry, 164(13), 314.
10. Uthirakumar, A. P. (2011), 'Fabrication of ZnO Based Dye Sensitized Solar Cells. In L. A. Kosyachenko
(Ed.)', Solar Cells - Dye-Sensitized Devices. InTech. Retrieved from
http://www.intechopen.com/books/solar-cells-dye-sensitized-devices/fabrication-of-zno-based-dye-
sensitized-solar-cells
11. Nur Widaryanti, H. (n.d.). (2010), Pembentukan Nanopar tikel TiO2 Fasa Anatase dan Rutile dengan
Metode Ber var iasi, Jurusan Fisika MIPA ITS.
12. Bandara, J., & Weerasinghe, H. (2006), 'Design of high-efficiency solid-state dye-sensitized solar cells
using coupled dye mixtures', Solar Energy Materials and Solar Cells, 90(78), 864871.
13. Maddu, A., Zuhri, M., & Irmansyah. (2010),' Penggunaan Ekstrak Antosianin Kol Merah Sebagai
Fotosintezer pada Sel Surya TiO2 Nanokristal Tersensitasi Dye', MAKARA of Technology Series, 11(2).
14. Furukawa, S., Iino, H., Iwamoto, T., Kukita, K., & Yamauchi, S. (2009),' Characteristics of dye-
sensitized solar cells using natural dye', Thin Solid Films, 518(2), 526529.
15. Mohanty, S. P., & Bhargava, P. (2013), 'Magnesia Nanoparticles in Liquid Electrolyte for Dye Sensitized
Solar Cells: An Effective Recombination Suppressant', Electrochimica Acta, 90(0), 291294.
16. Calogero, G., Yum, J.-H., Sinopoli, A., Di Marco, G., Grtzel, M., & Nazeeruddin, M. K. (2012),
'Anthocyanins and betalains as light-harvesting pigments for dye-sensitized solar cells', Solar Energy,
86(5), 15631575.
17. Dunkel, C., Wark, M., Oekermann, T., Ostermann, R., & Smarsly, B. M. (2013),' Electrodeposition of
Zinc Oxide on Transparent Conducting Metal Oxide Nanofibers and its Performance in Dye Sensitized
Solar Cells', Electrochimica Acta, 90, 375381.
18. Hao, S., Wu, J., Huang, Y., & Lin, J. (2006), ' Natural dyes as photosensitizers for dye-sensitized solar
cell', Solar Energy, 80(2), 209214.
19. Masaki, M., Masaya, K., Yasuhiro, K., Kazumasa, F., Jiye, J., Tsukasa, Y., Shinji, H., et al. (2011), '
Comparison of performance between benzoindoline and indoline dyes in zinc oxide dye-sensitized solar
cell', Dyes and Pigment, 91, 145152.

Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 209
KARAKTERISASI DIVAIS MULTIMODE INTERFRENCE (MMI)
UNTUK POWER SPLITTER 1 X 3 BERBAHAN POLIMER

Yasin Agung S., Wina I.N., Yuni N.H.,Mefina Y., Banatul M.,
Yono Hadi P., Gatut Yudoyono

Jurusan Fisika, FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember,
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
yasin@physics.its.ac.id


Abstr ak

Pembuatan divais power splitter 1x3 telah difabrikasi menggunakan bahan polimer dan
dikarakterisasi dengan metode simulasi Finite Difference Beam Propagation Method (FD-
BPM). Simulasi dilakukan dengan menerapkan fenomena Multimode Inteference (MMI).
Pandu gelombang jenis kanal dengan bahan polimer difabrikasi dengan parameter substrat
dan kover akrilik berindeks bias 1,49 dan film Methyl Methacrylate (MMA) berindeks bias
1,4905. Nilai konstanta propagasi yang digunakan dalam simulasi yaitu 1.4903412 dengan
panjang gelombang 0.6328m. Lebar kanal pandu gelombang daerah film 50m dan
panjang kanal 5000m. Hasil simulasi menunjukkan perbandingan daya output terhadap
input pada masing-masing kanal output sebesar 11%, 37%, dan 11% secara berurutan,
sedangkan hasil fabrikasi sebesar 13 %, 16 %,dan 12 %. Dari kedua hasil simulasi dan
fabrikasi menunjukkan bahwa divais ini dapat diaplikasikan dalam komunikasi optik untuk
power splitter atau devider.

Kata Kunci : Power Splitter, FD-BPM, MMI, polimer MMA, Waveguide optik


1. PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi berbasis optik banyak di manfaatkan dalam bidang telekomunikasi, sensor,
sistem kontrol yang di fokuskan pada akurasi dan kecepatan respon. Pengaplikasian piranti optik diantaranya Y-
Juction, X-crossing, micro ring resonator, Directional Coupler dengan berbagai fungsi sesuai kebutuhan.
Piranti optik saat ini dibutuhkan untuk membentuk kinerja suatu teknologi mikro tetapi memiliki kemampuan
kerja yang sangat baik, sehingga dikembangkan piranti optika terpadu. Salah satu piranti optika terpadu
memanfaatkan fenomena MMI [1].

Fenomena MMI terjadi akibat pemantulan cahaya berulang dalam susunan core dan cladding pandu
gelombang. Pemantulan yang berulang dalam core menyebabkan inteferensi internal sehingga terjadi perubahan
pola cahaya yang keluar dari core secara periodik. MMI dapat terjadi akibat susunan indeks bias secara step
dalam pandu gelombang dengan dimensi core yang memungkinkan untuk dilewati oleh beberapa moda cahaya
[2,3].

Analisa divais MMI dapat menggunakan pendekatan analisa perambatan tiap-tiap moda yang telah
dilakukan oleh Soldano dkk. Metode lain yang dikembangkan untuk menganalisa MMI adalah pendekatan
simulasi menggunakan FD-BPM. FD-BPM adalah metode untuk menganalisa propagasi cahaya di dalam pandu
gelombang. FD-BPM banyak digunakan untuk menganalisa pandu gelombang dan menghasilkan analisa yang
cukup baik pada struktur material linear maupun non linear. FD-BPM menghasilkan nilai permodelan secara
numerik yang lebih efesien dan stabil dibandingkan dengan FFT-BPM dan perumusan yang lebih sederhana
dibandingkan analisis [4,5].

Power splitting berbasis MMI dapat difabrikasi secara sederhana dengan menggunakan pandu
gelombang jenis planar yang memiliki ketebalan core tertentu. Pandu gelombang planar dapat difabrikasi secara
sederhana menggunakan metode spin coating dengan cara melapisi film pada substrat. Lapisan tipis berbahan
MMA berada antara substrat berbahan akrilik yang berfungsi sebagai core. Pada penelitian ini dilakukan
fabrikasi dan karakterisasi divais MMI yang difungsikan sebagai pembagi daya.
Yasin Agung S, dkk./ Karakterisasi Divais Multimode Intefrence (MMI). SFA 2013

210 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
FINITE DIFFERENCE BEAM PROPAGATION METHOD UNTUK MODA TE

Persamaan gelombang mode TE untuk satu buah lapisan serat optik yaitu

=0 (1)

Medan gelombang elektromagnetik

yang merambat ke arah sumbu diasumsikan menggunakan pendekatan


yaitu

( , , ) = ( , , )
( )
(2)

dengan ( , , ) adalah fungsi gelombang dan
( )
adalah faktor fase. Substitusi persamaan 1 ke 2
menghasilkan

2

(3)

dengan mengabaikan

0 sehingga persamaan tersebut menjadi



2


=

(4)

yang merupakan persamaan FD-BPM dengan pendekatan sinar paraksial atau pendekatan Fresnel [6].
Penyelesaian persamaan 4 dilakukan secara numerik dengan proses mendiskritisasi persamaan diferensial untuk
koordinat arah perambatan ke sumbu dan ke sumbu dengan menggunakan parameter sebagai berikut

= (5a)
= (5b)

sehingga

dengan

(6)

( ) dengan

( ) =

( ) (7)

dan yang merupakan bilangan bulat (integer) untuk masing-masing langkah penyelesaian secara numerik.
Penyelesaian persamaan 4 secara numerik sebagai berikut



( )

(8)

( )

(9)

Substitusi persamaan 8 dan 9 ke 4

2



( )

( )

(10)

dengan menggunakan definisi sebagai berikut

=

( )

=

( )

, dan

=

( )

maka persamaan 10
menjadi


2


,

( )

(11)


Yasin Agung S, dkk./ Karakterisasi Divais Multimode Intefrence (MMI). SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 211
Persamaan 11 adalah solusi numerik untuk satu langkah iterasi, selanjutnya dengan menggunakan metode
central difference didapatkan solusi hingga iterasi ke N dengan

,

, dan
dengan memisahkan iterasi ke +1 dan ke maka penyusuanan ulang


+
4


( )


+


+


( )


(12)

Gambar 1. Analisa penyelesaian medan menggunakan FD-BPM,
daerah

dan

yang menjadi daerah batas analisa

PERHITUNGAN DAYA

Daya optik bergantung pada jumlah nilai medan listrik yang terpandu dalam struktur divais MMI [4].
Daya input dapat dievaluasi menggunakan persamaan integral

| ( )|


(13)

Daya masukkan dihitung untuk semua daerah lebar divais MMI , pada FD-BPM nilai lebar | | <

.
Daya output pada divais MMI dihitung seperti daya masukkan dengan persamaan

( )
=

| ( )|


, =1,2,3,.. (14)

2. METODOLOGI PENELITIAN

Material yang dugunakan dalam pembuatan divais MMI untuk bagian cladding adalah akrilik dan untuk
bagian core adalah MMA. Larutan MMA diteteskan sebanyak 0.050.06 pada akrilik kemudian dispin
hingga kecepatan 1000 selama 60 detik. Akrilik yang digunakan memiliki dimensi panjang 5000 .
Akrilik yang terlapisi di anilling pada suhu 70. Hasil anilling pada suhu tersebut membuat MMA memiliki
nilai indeks bias 1.4905 [7]. Pengamatan ketebalan hasil fabrikasi dan karakterisasi kinerja MMI untuk pembagi
daya sesuai Gambar 2. Perbesaran yang ditunjukkan mikroskop memiliki ketelitian hingga 1.67 / .


Gambar 2. Set Up Karakterisasi Divais MMI


3. HASIL DAN DISKUSI

Karakterisasi divais MMI sebagai pembagi daya dilakukan menggunakan sumber cahaya LASER He-Ne
dengan =0.6328 dan indeks bias akrilik 1.49[8]. Pada proses karakterisasi, LASER dihubungkan
dengan serat optik singlemode diameter core 9 . Hasil pemanduan oleh serat optic ditunjukkan oleh Gambar
3.
Yasin Agung S, dkk./ Karakterisasi Divais Multimode Intefrence (MMI). SFA 2013

212 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Gambar 3. Intensitas menggunakan nilai tingkat keabuan (grey value) 8 bit

Gambar 3 menunjukkan pola intensitas permukaan ujung serat optik sebagai sumber cahaya yang masuk
ke divais MMI. Divais MMI memiliki ketebalan film 50 yang di amati menggunakan mikroskop, bentuk
film ditunjukkan oleh Gambar 4.


Gambar 4. Hasil Fabrikasi divasi MMI

Pengukuran ketebalan film menggunakan kalibrasi manual, dengan cara menaruh objek di meja
mikroskop, kemudian meja mikroskop digeser sejauh 50 dan terjadi perbedaan perubahan letak film.
Perubahan letak objek akan memberikan perubahan koordinat pixel yang ditunjukkan oleh Gambar 4.
Selanjutnya didapatkan nilai kalibrasi ketebalan dengan persamaan .

=

( / ) (15)


Nilai ketebalan dapat di cari menggunakan persamaan

=

(16)

Persamaan 15 dan 16 dapat digunakan untuk menentukkan jarak terpandu dan daerah terpandu pada
divais MMI yang dikenai sumber LASER He Ne. Divais MMI yang di beri sumber LASER He Ne di tunjukkan
oleh Gambar 5.


(a)

(b)
Gambar 5. Pengolahan citra MMI (a) Respon MMI sebagai Power Spliiter (b) Hasil nilai intensitas dalam grey value 8 bit

Yasin Agung S, dkk./ Karakterisasi Divais Multimode Intefrence (MMI). SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 213
Gambar 5(a) menunjukkan hasil fabrikasi divais MMI dan terlihat cahaya yang keluar terbagi menjadi
tiga buah. Gambar 5(a) merupakan respon pemanduan divais MMI secara kualitatif yang difoto. Pengolahan
data dilakukan menggunakan pengolahan citra berbasis software Image J dan di ambil citra intensitas nilai
keabuan (gray value) seperti proses yang dilakukan pada Gambar 3 [9]. Hasil gray value ditunjukkan oleh
Gambar 5(b). Gambar 5(b) menunjukkan nilai titik-titik data sesuai jumlah pixel yang menunjukkan respon
kerja MMI dengan nilai gray value yang bervariatif. Gambar tersebut di fitting dan dihasilkan hubungan Grafik
yang kontinu dari hasil fitting yang ditunjukkan oleh Gambar 6. Hasil eksperimen disimulasi untuk menentukan
kevalidan data eksperimen dan simulasi FD-BPM. Hubungan simulasi FD-BPM dan eksperimen MMI di
tunjukkan oleh Gambar 6 dan selanjutnya dilakukan perhitungan nilai daya pada masing-masing keluran cahaya
yang terbagi oleh divais MMI.


Gambar 6. Perbandingan Intensitas Simulasi FD-BPM dan fabrikasi pada divais MMI


Perhitungan data berupa daya dilakukan secara simulasi FD-BPM dan eksperimen sesuai dengan persamaan
13 dan 14 . Hasil perhitungan daya ditunjukkan oleh Tabel 1.


Tabel 1. Hasil perhitungan daya divais MMI
Port
Output


( . )


( )
Efesiensi
(%)
Simulasi
FD-BPM
Port 1 0.108 -9.67 11
Port 2 0.367 -4.36 37
Port 3 0.108 -9.67 11
Hasil
Fabrikasi
Port 1 0.128 -8.91 13
Port 2 0.157 -8.05 16
Port 3 0.124 -9.05 12


Terlihat bahwa pada port 2 hasil simulasi menunjukkan nilai daya yang lebih besar dibandingkan dengan
hasil eksperimen. Pada port 1 dan port 2 nilai daya hasil eksperimen justru lebih besar dibandingkan dengan
hasil simulasi dengan perbedaan masing-masing 1 % dan 2 %. Nilai eksperimen menjadi lebih besar karena
perhitungan daya yang digunakan mengacu pada lebar pulsa eksperimen lebih besar dibandingkan dengan lebar
pulsa hasil simulasi.

Hasil eksperimen hanya dapat menunjukkan fenomena MMI pada bagian port output dan tidak dapat
menunjukkan fenomena MMI tebentuk sepanjang kanal berukuran 5000 . Fenomena pembentukan efek
MMI dapat dipelajari menggunakan simulasi FD-BPM [4]. Hasil pola medan ditunjukkan oleh Gambar 7. Hasil
Simulasi FD-BPM bermanfaat untuk menentukan dimensi lebar kanal dan panjang kanal dalam melakukan
perancangan piranti optika terpadu.

Yasin Agung S, dkk./ Karakterisasi Divais Multimode Intefrence (MMI). SFA 2013

214 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Gambar 7. Hasil Simulasi FD-BPM untuk divais MMI dengan core MMA ,
cladding akrilik, dan sumber cahaya LASER He-Ne


4. SIMPULAN

Hasil karakterisasi divais MMI dengan lebar core 50 menggunakan material core Methyl
Methacrylate dan cladding akrilik menghasilkan pembagi daya 1 x 3 dengan menggunakan sumber cahaya
LASER He-Ne. Hasil eksperimen menunjukkan nilai efisiensi pada masing-masing port 13 %, 16 %, dan 12 %
dan hasil simulasi 11 %, 37 %, dan 11 %. Perbedaan yang terjadi antara simulasi dan eksperimen dipengaruhi
oleh faktor lebar pulsa yang terbentuk. Pengamatan eksperimen perlu dilakukan menggunakan instrument yang
lebih akurat agar hasil yang diharapkan sesuai dengan eksperimen.


5. DAFTAR ACUAN
1. Soldano, L. B., & Pennings, E. C. M. (1995). Optical multi-mode interference devices based on self-
imaging: principles and applications. Lightwave Technology, Journal of, 13(4), 615-627. doi:
10.1109/50.372474
2. Rinawati. (2009). Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Coupler Struktur Slab Berbasis Polimer
Polystyrene Dan Polymethyl Methacrylate (PMMA). Magister, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya.
3. Sudarsono. (2009). Fabrikasi dan Karakterisasi Devais MMI Sebagai Pembagi Daya Modus TE dan
Modus TM. Magister, Jurusan Fisika FMIPA - ITS, Surabaya.
4. Pramono, Y. H. (2000). Studies on All-Optical Switching in Crossing Waveguide Consisting of
Nonlinear Material. Doctoral, Osaka Prefecture University, Osaka.
5. Rashed, A. M., & Selviah, D. R. (2004, 8-10 Dec. 2004). Modeling of a Polymer 1 x 3 MMI Power
Splitter for Optical Backplane. Paper presented at the Optoelectronic and Microelectronic Materials
and Devices, 2004 Conference on.
6. Kawano, K., & Kitoh, T . (2004). Introduction to Optical Waveguide Analysis: Solving Maxwell's
Equation and the Schrdinger Equation: Wiley.
7. Tanio, N., & Nakanishi, T. (2006). Physical Aging and Refractive Index of Poly(methyl methacrylate)
Glass. Polym. J, 38(8), 814-818.
8. Weber, M. J. (2010). Handbook of Optical Materials: Taylor & Francis.
9. Grove, C., & Jerram, D. A. (2011). jPOR: An ImageJ macro to quantify total optical porosity from
blue-stained thin sections. Computers & Geosciences, 37(11), 1850-1859. doi: http://dx.doi.org/
10.1016/j.cageo.2011.03.002
10. Obayya, S. (2011). Computational Photonics: Wiley.


Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 215

DESAIN DAN FABRIKASI ANTENA MIKROSTRIP DIPOLE
BERSUDUT UNTUK FREKUENSI WI-FI 2,4 GHz

Yono Hadi Pr amono, Ayu Kusumawar dhani, Vir a Rahayu

Jurusan Fisika Fakultas MIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Kampus ITS Keputih, Sukolilo, Surabaya 60111
kajur_fisika@its.ac.id


Abstr ak
Antena mikrostrip dipole bersudut telah didesain dengan menggunakan metode FDTD (Finite
Differences Time Domain). Dimensi total antena adalah 36x61 mm dengan panjang dipole
50mm untuk dapat bekerja pada sistem komnikasi wireless 2,4GHz. Fabrikasi antena
dilakukan dengan menggunakan Print Circuit Board (PCB) pada FR4 single side dengan
permitivitas relative substrat r=4,6 dan tebal 1,6mm. Panjang antena dipole menentukan
frekuensi kerja, sedangkan parameter sudut antar dipole akan memengaruhi nilai VSWR,
Return Loss dan pola radiasi. Return Loss yang diperoleh bergeser antara -10 hingga -15 dB.

Kata kunci: FDTD, Dipole Antenna, Mikr ostr ip, VSWR, Return Loss, FR4

1. PENDAHULUAN
Perkembangan IPTEK di bidang sistem komunikasi dan informasi telah berkembang semakin pesat
seiring dengan kemajuan jaman. Banyak aplikasi dari sistem komunikasi yang telah diterapkan oleh masyarakat.
Contohnya adalah wireless untuk mendukung sistem komunikasi tanpa kabel. Untuk mendukung cara keja dari
wireless ini, adalah dengan menggunakan antena [1]. Salah satu penerapan dari antena tersebut adalah aatena
dipole untuk komunikasi wi-fi pada frekuensi kerja 2,4 GHz yang telah difabrikasi dan diuji karakterisasinya
dengan alat RF Network Analyzer di LIPI-Bandung untuk mengetahui nilai dari Return Los (RL) dan Voltage
Standing Wave Ratio (VSWR) [2].

Melalui penelitian ini, sebuah antena mikrostrip dipole bersudut akan didesain dan dianalisa parameter-
parameter hasilnya. Antena ini memiliki feedline berupa coplanar stripline. Antena ini didesain untuk dapat
bekerja pada frekuensi 2,4GHz. Salah satu parameter yang akan dianalisa didalam pengamatan ini adalah Return
Loss (RL) dari antena tersebut karena RL berhubungan dengan impedansi input pada antena. Selain itu, juga
untuk mencapai matching impedance antara impedansi input antena mikrostrip dengan impedansi kabel
konektor yang umumnya bernilai 50 Ohm.

2. DASAR TEORI

Antena dipole merupakan sebuah antena yang terbuat dari kawat tembaga yang disesuaikan ukurannya
agar dapat bekerja pada frekuensi yang diinginkan. Agar dapat bekerja, maka panjang total dari sebuah antena
dipole sebaiknya adalah 1/2. Antena dipole memiliki nilai impedansi sebesar 50 Ohm sehingga dapat dipasang
feedline berupa kabel koaksial. Dan untuk arah pancaran antena dipole, antena ini memiliki arah pancaran tegak
lurus pada arah kawat antena dan sejajar dengan arah ground [3].

Sementara untuk antena dipole bersudut, antena ini tersusun dari strip tembaga yang sejajar dan masing-
masing dari kawat tersebut membentuk sudut sesuai yang diinginkan agar dapat bekerja pada frekuensi yang
tepat. Pada antena ini, terdapat logam strip yang sangat tipis (t<< ) yang ditempatkan di bagian kecil dari suatu
panjang gelombang (h<< ) diatas bidang. Diantara bagian strip dengan bagian bidang, dipisahkan oleh lapisan
dielektrik. [5]
Yono HP, dkk. / Desain dan Fabrikasi Antena Mikrostrip Dipole. SFA 2013

216 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Gambar 1 Antena dipole


Dimensi antena mikrostrip dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut: [5]
=

(1)
f adalah frekuensi antena, c adalah kecepatan gelombang elektromagnetik dan o adalah panjang gelombang
dalam ruang bebas. Sementara untuk mendapatkan dimensi panjang antena, digunakan persamaan berikut:
=

(2)
Kemudian untuk menentukan lebar (a) dari dimensi antena pada gambar diatas, digunakan persamaan:
=


(3)
Sedangkan untuk menentukan panjang (w), digunakan persamaan:
=


(4)
dengan nilai s=1,8mm. Sementara nilai k didapatkan dari persamaan impedansi awal pada antena mikrostrip
dipole, yaitu:

)
(5)
dengan,
(

)
=

[
( )

]
(6)
Setelah didapatkan semua ukuran dimensi untuk antena dipole bersudut ini, kemudian dilakukan analisa
pada parameter-parameter umum dari antena ini, seperti nilai Return Loss (RL), Voltage Standing Wave Ratio
(VSWR), Smith Chart, Pola Radiasi, Gain dan Half Power Beam Width (HPBW).


3. METODOLOGI PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode karakterisasi antena. Sementara substrat PCB
yang digunakan di dalam penelitian ini menggunakan bahan FR4 yang memiliki nilai permitivitas relatif sebesar
4,6. Selain itu, untuk bahan pada antena mikrostrip, digunakan cooper atau tembaga. Dan pada feedline, akan
disambungkan dengan konektor.
Sedangan dalam proses fabrikasi, dilakukan dengan menggunakan software komputer, yaitu
CorelDRAW. Gambar desain antena dicetak pada kertas scotlight yang dipotong sesuai dengan bentuk desain
antena dan kemudian kertas tersebut direkatkan pada PCB fiber double side. Langkah selanjutnya adalah tahap
pelarutan (etching method). Pelarutan dilakukan dengan cara PCB yang sudah ditempeli scotlight lalu
dimasukan pada larutan (

. Setelah logam konduktor yang tidak tertutup scotlight terlarut, PCB


diangkat dan dibersihkan dengan air.
Yuni Nur H, dkk./ Study Awal Pengaruh Temperatur . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 217
Langkah-langkah dibawah menunjukan diagram alur untuk mendesain, memfabrikasi dan menganalisa
antena mikrostrip dipole bersudut dengan feed coplanar stripline.


















Gambar 2 Diagram alur penelitian


Untuk ukuran pada setiap masing-masing dimensi antena yang dapat dilihat pada gambar 1, dapat dilihat
pada tabel berikut









Ukuran dari tiap masing-masing dimensi antena, dapat dilihat pada penjelasan di persamaan (1) hingga
pada persamaan (6).




Tabel 1.
Ukuran dimensi antena mikrostrip dipole bersudut dengan fcoplanar stripline
No Dimensi Nilai (mm)
1 a 36
2 b 61
3 w 8.6
4 x

3.298
5 p 50
6 q 11
7 s

1.8
8 h 1.6
9 t 0.035

tidak
mulai
karakterisasi dengan
VNA
merancang model
menentukan substrat studi literatur
fabrikasi
analisa data
selesai
cocok
simulasi
FDTD software
Yono HP, dkk. / Desain dan Fabrikasi Antena Mikrostrip Dipole. SFA 2013

218 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
4. HASIL DAN DISKUSI
Setelah dilakukan fabrikasi, antena tersebut kemudian diukur dengan menggunakan Network Analyzer
dan diperoleh data berupa VSWR, Return Loss, smith chart dan pola radiasi. Pada pengukuran antena ini,
dilakukan dua kali pengamatan yaitu pengamatan indoor dan pengamatan outdoor. Pada pengamatan indoor,
didapatkan hasil data berupa VSWR, Return Loss dan smith chart. Sedangkan pada pengamatan outdoor,
didapatkan hasil data berupa pola radiasi.
Berikut adalah data hasil untuk hubungan SWR terhadap frekuensi:



Gambar 3 Hubungan antara frekuensi dengan nilai VSWR
dengan rentang frekuensi 2.2-2.6 GHz


Sedangkan untuk plot data hubungan antara return loss terhadap frekuensi dapat dilihat pada gambar 4




Gambar 4. Hubungan antara frekuensi dengan nilai Return Loss pada frekuensi 2.4
GHz


Sementara untuk hasil pengukuran pada smith chart, dapat dilihat pada gambar 5 pada hasil ini, dapat diketahui
nilai impedansi dari antena, yaitu berkisar 47 Ohm.

Yuni Nur H, dkk./ Study Awal Pengaruh Temperatur . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 219

Gambar 5 Hubungan antara frekuensi dengan pola smith pada frekuensi 2.4
GHz

Kemudian, untuk hasil pengamatan outdoor yaitu pengamatan pada pola radiasi, didapatkan hasil data seperti
gambar 6.


Gambar 6 Hasil data pada pola radiasi antena

5. SIMPULAN
Pada penelitian ini, telah difabrikasi antena mikrostrip line dipole bersudut dengan feed coplanar
stripline dengan menggunakan PCB single side dengan substrat FR4 yang memiliki permitivitas 4,6. Dimensi
ukuran antena adalah 61mm x 36mm dan berikut adalah kesimpulan dari penelitian ini.
1. Hasil pengukuran dan fabrikasi desain antena mikrostrip line dipole bersudut dengan feed coplanar
stripline yang memiliki frekuensi kerja terbaik 2,4GHz dengan nilai VSWR yaitu 1,13
2. Return Loss dari antena ini adalah bergeser sekitar -12 dB hingga -27 dB
3. Hasil dari smith chart menunjukkan bahwa pada antena ini memiliki nilai impedansi sebesar 47 Ohm





-1.00E+08
-5.00E+07
0.00E+00
20
40
60
80
120
140
160
180
200 220
240
260
280
300
320
340
360
Pola Radiasi pada Frekuensi 2 ,4 GHz
Series2
Yono HP, dkk. / Desain dan Fabrikasi Antena Mikrostrip Dipole. SFA 2013

220 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
6. DAFTAR ACUAN
1. Khasanah, Uswatun, Pramono, Y.H. (2009), Fabrikasi dan Karakterisasi Dipole Biquad Antenna untuk
Komunikasi Wi-fi, Jurnal Fisika dan Aplikasinya., Vol. 5, no.2
2. Imam, S, Pramono, Y.H. (2013), Desain dan Fabr ikasi Antena Mikr ostr ip Ber stuktur 4 Lar ik
Double Biquad dengan Feedline 2 untuk Komunikasi Wi-Fi 2.4 GHz, ITS, Surabaya
3. Sabhani, N.H. dan Rao, B.V. (1983), 'Analysis of a Novel Offset Parallel Strip Transimition Line on a
Dielectric Substrate, Microwave Conference, 1983, 13th European 438-443
4. Balanis, C.A. (1997), Antenna Theor y and Design, 2nd ed., Wiley, Ney York
5. Abbosh, Amin,M. (2008), Design of CPW-Fed Band-Notched UWB Antennas Using a Feeder
Embedded Slotline Resonator, Internal journal antenna and propagation., Vol. 52, pp. 3335-3345
6. Colin, A., Febvre,P. (2009), Design of a Wideband Slot Bowtie Antenna Excited by a Microstrip to
CPW Transition for Aplications in the Milimeter Wave Band, dalam PIERS Proceedings, Moscow,
Rusia Vol. 20, Sydney, p. 1421-1425.




Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 221
STUDY AWAL PENGARUH TEMPERATUR PADA PANDU
GELOMBANG PLANAR ASIMETRI BERBAHAN METHYL
METHACRYLATE (MMA) DENGAN METODE SPIN COATING

Yuni N.H., Yasin Agung S., Wina I.N., Mefina Y., Banatul M.,
Gatut Yudoyono, A.Y. Rohedi


Jurusan Fisika, FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember,
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
yasin@physics.its.ac.id


Abstr ak

Pandu gelombang planar difabrikasi dengan bahan pelapisnya menggunakan Methyl
Methacrylate (MMA) yang mempunyai indeks bias sebesar 1,4908. Substrat dan cover
yang digunakan berupa akrilik dengan dimensi 12 x 9 mm
2
dan memiliki indeks bias 1,49.
Proses pembuatannya menggunakan metode Spin Coating dengan speed putaran 2000 rpm,
waktu putarannya 60 detik serta dipanaskan pada suhu 60 C selama 10 menit. Pengamatan
ketebalan pandu gelombang dilakukan dengan melewatkan sinar laser He-Ne pada lapisan
melalui serat optik single mode dan didapatkan tebal lapisannya sebesar 9 m dengan
ketelitian hingga 2.22 m/pixel. Selanjutnya dilakukan pengamatan pengaruh suhu
terhadap lapisan tipis pemandu gelombang yang dilakukan dengan cara meletakkan sebuah
elemen sebagai sumber panas di atas waveguide lapisan tipis MMA dan gambar hasil
pengamatan diambil tiap kenaikan suhu sebesar 0.5 C. Analisa dalam penelitian ini
dilakukan menggunakan program imageJ. Dari hasil analisa didapatkan sensitivitas
pengukuran suhu dari sensor pandu gelombang slab asimetri sebesar 2 / atau 0.5
C/pixel.

Kata Kunci : Methyl Methacrylate(MMA), Pandu Gelombang Planar, Spin Coating.


1. PENDAHULUAN
Pada awal abad ke-20 ketertarikan orang-orang pada bidang lapisan tipis sangat terbatas.Pada saat itu
penggunaan lapisan tipis hanya dibatasi untuk film refleksi pada interferometer. Seiring dengan perkembangan
teknologi yang sangat luar biasa, berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan piranti-piranti yang canggih dan
efisien [1]. Salah satunya adalah dengan cara melapisi piranti-piranti tersebut dengan lapisan tipis yang terbuat
dari bahan tertentu seperti polimer.

Lapisan tipis polimer merupakan bagian yang sangat penting dalam perkembangan teknologi fotonik
seperti untuk integrated optics, laser, LED, sel surya, lensa kaca mata, dan peralatan astronomi. Pandu
gelombang planar sangat cocok dikembangkan untuk integrated optics (IO) karena mudah difabrikasi dan dapat
diintegrasi dengan komponen optik yang lainnya. Pandu gelombang planar dapat dibuat dari lapisan tipis dengan
indeks bias yang sesuai. Lapisan tipis untuk pandu gelombang harus transparan, mempunyai indeks bias dan
ketebalan yang homogen, dan mempunyai permukaan yang halus [2].

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendapatkan lapisan tipis dengan kualitas yang baik. Sehingga
ditemukan beberapa metode yang bisa digunakan dalam pembuatan lapisan tipis, salah satunya adalah dengan
metode Spin Coating. Metode ini cukup sederhana dan mudah dilakukan serta mampu menghasilkan lapisan
tipis dengan kualitas optik yang baik [3]. Prinsip dari metode Spin Coating ini adalah dengan meneteskan suatu
lapisan tipis berindeks bias tinggi (dari bahan Methyl Methacrylate dengan indeks bias 1,4908) di atas substrat
yang berindeks bias lebih rendah (berupa akrilik dengan indeks bias 1,49). Proses ini akan menghasilkan lapisan
tipis pemandu gelombang diantara daerah berindeks bias rendah, yaitu substrat dan udara. Sebagai aplikasinya,
pandu gelombang planar ini dapat digunakan sebagai sensor suhu yang mana harus diketahui terlebih dahulu
pengaruh suhu dan sensitivitasnya terhadap pandu gelombang planar.

Yuni Nur H, dkk./ Study Awal Pengaruh Temperatur . SFA 2013
222 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
2. TEORI
Pandu gelombang planar terdiri dari film tipis (indeks bias n
f
) yang terletak diantara substrat (n
s
) dan
kover (n
c
) yang berupa udara [2]. Pemanduan cahaya pada pandu gelombang akan terjadi bila nf > ns > nc,
karena gelombang optik yang terpandu dalam lapisan film merupakan gelombang optik yang mengalami
pantulan internal total [4]. Menurut hukum Snellius, hubungan antara gelombang datang dan gelombang yang
diteruskan yaitu

sin

sin

(1)
untuk n
f
> n
k
maka pada

= / 2, tidak ada gelombang yang merambat pada daerah kover sehingga dapat
dikatakan gelombang mengalami pemantulan dalam total pada daerah film, sehingga untuk sudut kritis dapat
dituliskan

sin

=

(2)

Sehingga dapat pula dikatakan bahwa pemantulan dalam total dapat terjadi bila sudut masukannya lebih
besar daripada sudut kritis. Struktur bahan pandu gelombang mempunyai indeks bias substrat (n
s
) lebih besar
dari pada indeks bias kover (n
c
), sehingga
s
lebih besar dari
k
. Mengacu pada kriteria tersebut secara umum
moda gelombang optik akan terpandu, maka rentang sudut datang yang mungkin untuk perambatan sinar optik
tersebut ada tiga interval, yaitu
kritis-substrat
<
i
< 90 ,
kritis-kover
<
i
<
kritis-substrat
, dan
s
>
k
.

Ketika sudut datang sinar berada dalam rentang
kritis-substrat
<
i
< 90 , sinar yang terpantul sempurna saat
menumbuk bidang batas, terkurung dan menjalar di sepanjang film menurut lintasan zig-zag. Jika bahan
penyusun suatu pandu gelombang tidak terdapat rugi-rugi(losses), maka cahaya yang terpandu tidakalami
atenuasi [4].




Gambar 1. Lintasan gelombang yang terpandu dalam film


Proses pemanduan gelombang optik pada pandu gelombang planar hanya berlangsung sepanjang arah
sumbu x dan arah perambatannya sepanjang arah sumbu z. Menurut teori perambatan gelombang
elektromagnetik, medan listrik dan medan magnet tangensial untuk moda TE yang terpandu berturut-turut dalam
pandu gelombang planar adalah

(3)
dan


(4)
dengan =1


Hubungan kedua medan transversal tersebut dituliskan dalam bentuk

= ( )

. (5)

jika kedua ruas Pers.(2.5) dideferensialkan terhadap x maka didapatkan persamaan gelombang Helmholtz moda
TE

Yuni Nur H, dkk./ Study Awal Pengaruh Temperatur . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 223

=0. .(6)

dengan,
= tetapan propagasi gelombang optik sepanjang sumbu z di dalam bahan
=

adalah tetapan propagasi dalam ruang hampa

adalah indeks bias dalam film


adalah tetapan propagasi efektif dari setiap gelombang optik yang terpandu

Harga tetapan propagasi efektif ini tergantung pada nilai indeks bias efektif (N) dan tetapan propagasi dalam
ruang hampa (k
0
) dengan hubungan =

.Selanjutnya nilai indeks bias efektif (N) bergantung pada indeks


terpandu ternormalisasi (b) dengan hubungan =

( )


Pada proses pemanduan gelombang optik, nilai tetapan propagasi untuk masing-masing daerah dapat dinyatakan
sebagai [5]

(7)

. (8)

(9)
dengan,

adalah tetapan propagasi untuk daerah film

adalah tetapan propagasi untuk daerah substrat

adalah tetapan propagasi untuk daerah kover



3. METODOLOGI PENELITIAN

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah larutan Methyl Methacrylate (MMA) sebagai
lapisan tipis (film tipis), akrilik dengan ukuran 9 x 12 mm
2
sebagai substrat yang akan dilapisi film. Larutan
Methyl Methacrylate sebanyak 0,04-0,05 ml diteteskan di atas akrilik kemudian diputar pada kecepatan 1000
dan 2000 rpm selama 60 detik dengan menggunakan spin coater kemudian dipanaskan diatas hotplate pada suhu
60C selama 10 menit. Pada saat fabrikasi, akrilik dipastikan dalam keadaan yang benar-benar bersih agar
lapisan dapat merekat dengan sempurna pada substrat.
Pengamatan ketebalan dan karakterisasi pandu gelombang hasil fabrikasi dilakukan dengan
menggunakan mikroskop seperti pada gambar 2. Perbesaran yang ditunjukkan mikroskop memiliki ketelitian
hingga 2.22 / .

Gambar 2. Set Up Karakterisasi Pandu Gelombang

Untuk pengamatan pengaruh suhu pada lapisan tipis pemandu gelombang dilakukan dengan cara elemen
setrika diletakkan di atas waveguide lapisan tipis MMA dan perubahan gambar yang terjadi diambil/ difoto
setiap kenaikan suhu 0,5 C.Untuk menganalisa gambar hasil pengamatan digunakan program imageJsehingga
didapatkan grafik hubungan antara suhu dan pergeseran pixel.
Yuni Nur H, dkk./ Study Awal Pengaruh Temperatur . SFA 2013
224 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
4. HASIL DAN DISKUSI
Lapisan tipis yang telah difabrikasi ditunjukkan pada Gambar 3 yang menunjukkan lapisan pandu
gelombang asimetri dengan substrat akrilik, film MMA , dan over berupa udara. Lapisa tipis ini di analisa
menggunakan pendekatan pandu gelombang slab asimetri.


Gambar 3. Hasil Lapisan Tipis untuk pandu gelombang slab asimetri


Pengukuran ketebalan lapisan film MMA menggunakan perkalian antara range jumlah pixel pada MMA
dengan skala ketelitian mikroskop sebesar 2.22 / . Berdasarkan pengukuran di dapatkan nilai ketebalan
lapisan film 9 . Nilai ketebalan lapisan film sangat berpengaruh kepada jumlah moda-moda yang
terpandu.Hasil analisa pengaruh ketebalan terhadap jumlah moda yang terpandu di tunjukkan oleh Gambar
4.Gambar 4 menunjukkan jumlah moda yang terpandu dalam film MMA, agar dapat terpandu dengan baik maka
nilai konstanta propagasi harus sesuai dengan simulasi pada Gambar 4. Berdasarkan eksperimen nilai
berupa sudut masukan sumber cahaya ke dalam pandu gelombang slab, hasil terpandu dalam eksperimen
ditunjukkan oleh Gambar 5 dengan sumber cahaya LASER He-Ne 0,6328 . Pada Gambar 5 jumlah moda
terpandu terlihat hanya satu buah saja, yang ditunjukkan secara visual dari pengamatan mikroskop dan
berdasarkan hasil pengolahan gambar menggunakan ImageJ. Gambar 5(b) dilakukan regresi polynomial orde 6
dengan persamaan y = -0.0689x
6
+ 1.723x
5
- 15.329x
4
+ 57.019x
3
- 83.872x
2
+ 74.487x.




Gambar 4. Jumlah moda terpandu berdasarkan pengaruh ketebalan film MMA dengan sumber cahaya LASER He-Ne
0,6328 , indeks bias substrat akrilik 1.49, indeks bias film MMA 1.4908, dan indeks kover udara 1,0003.


Yuni Nur H, dkk./ Study Awal Pengaruh Temperatur . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 225

(a)

(b)
Gambar 5. Hasil terpandu dari lapisan tipis film MMA dengan ketebalan 9 (a) Hasil pengamatan mikroskop (b) Hasil
pengolahan gambar menggunakan Image J

Hasil lapisan tipis yang digunakan sebagai pandu gelombang slab asimetri diaplikasikan untuk sensor
pendeteksi perubahan suhu lingkugan sekitar.Gambar 6 menunjukkan perubahan posisi terpandu terhadap
perubahan suhu.



Gambar 6. Perubahan posisi terpandu (pixel) terhadap perubahan suhu

Keuntungan menggunakan sensor pandu gelombang slab asimetri adalah sesnsitivitas yang diperoleh
tinggi. Pemberian perubahan suhu dilakukan pada daerah kover pandu gelombang. Pemanasan udara di sekitar
lapisan kover akan mempertinggi suhu lingkungan tersebut dan mempengaruhi lapisan MMA sebagai film.
Lapisan MMA memiliki indeks bias yang sensitif terhadap perubahan suhu, perubahan indeks bias disebabkan
oleh ikatan-ikatan dalam lapisan MMA memiliki jari-jari antar ikatan yang berubah akibat pemanasan
lingkungan sekitar. Perubahan indeks bias menyebabkan nilai sudut masukan optimum berubah dari kondisi
sebelum diberi pengaruh suhu, sehingga posisi terpandu akan berubah yang ditunjukkan oleh Gambar 6.
Gambar 6 menunjukkan bahwa pergeseran posisi terpandu linear terhadap perubahan suhu dengan persamaan
=0.4939 +28.9516. sehingga didapatkan nilai sensitivitas pengukuran suhu dari sensor pandu gelombang
slab asimetri sebesar 2 / atau 0.5 C/pixel.


5. KESIMPULAN
Lapisan tipis yang dimanfaatkan sebagai pandu gelombang slab asimetri dapat difabrikasi menggunakan
teknik spin coating dengan kecepatan putaran 2000 rpm diperoleh ketebalan lapisan sampai dengan 9 pada
larutan MMA. Berdasarkan analisa jumlah moda terpandu untuk MMA di dapatkan jumlah moda terpandu
adalah

yang selanjutnya diaplikasikan sebagai sensor pendeteksi perubahan suhu. Sensitivitas pengukuran
suhu dari sensor pandu gelombang slab asimetri adalah 2 / atau 0.5 C/pixel.





Yuni Nur H, dkk./ Study Awal Pengaruh Temperatur . SFA 2013
226 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
6. DAFTAR PUSTAKA
1. Muniroh, Kiswatul. (2008). Pengaruh Temperatur pada Ketebalan Lapisan Tipis Polymethyl
Methacrylate (PMMA) Hasil Fabrikasi dengan Spin Coating.Jurusan Fisika FMIPA Institut Teknologi
Sepuluh Nopember. Surabaya.
2. Bahtiar, Ayi. dkk. 2006. Fabrikasi dan Karakterisasi Pandu Gelombang Planar Polimer Terkonjugasi.
Jurusan Fisika FMIPA UNPAD. Bandung.
3. Hamidah, Nur. 2008. Analisis Pandu Gelombang Lapisan Tipis Struktur Tiga Lapis Bahan Polymethyl
Methacrylate (PMMA) dan Polystyrene Hasil Fabrikasi dengan Teknik Spin Coating. Tugas Akhir.
Jurusan Fisika FMIPA ITS. Surabaya.
4. Rubiyanto, Agus. dkk. 2003. Optika Terpadu. Buku Ajar Jurusan Fisika FMIPA.Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya.
5. Gontjang, P. 2003. Disain Piranti WDM (Wavelength Division Multiplexing) Berbasis Directional
Coupler. Tesis Magister. Jurusan Fisika FMIPA ITS. Surabaya.




Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 227
A COMPARATIVE STUDY OF VARIOUS METHODS OF
RESPIRATORY FREQUENCY ESTIMATION FROM
ELECTROCARDIOGRAM


Pratondo Busono


Division of Biomedical Engineering Technology
Center for the Pharmaceutical and Medical Technology, BPPT, Jakarta
e-mail:pratondo.busono@bppt.go.id


Abstrak

This paper presents a comparative study of the performance of the recent development
techniques for estimating the respiratory frequency proposed by researcher. The goal of this
study in general is to obtain the simple, fast and accurate technique which can be implemented
into the ECG machine. For each method, time and frequency correlation between the ECG
derived respiration and the real respiration were computed. In this evaluation, MATLAB
programs were developed for all the techniques. The performance of those techniques will be
investigated under various conditions: free breathing signals and noisy signals recorded with
motion of the patient.

Keywor ds: electr ocar diogr am, respiration measur ement, r espir ation rate.


1. INTRODUCTION

Respiration is one of the main body functions. Respiration monitors and measurements are importance
in providing timely information regarding pulmonary function in adults and the incidence of Sudden Infant
Death Syndrome (SIDS) in neonates. Several approaches have been designed to measure respiration and they
can be categorised into direct and indirect methods. In direct methods, a sensor is coupled to the airway and
measures the movement or other properties of air transported into and out of the mouth and nose. Respiration
can also be monitored indirectly by measuring changes in body volume; examples of such techniques are
transthoracic inductance and impedance plethysmographs, strain gauge measurement of thoracic circumferences
and whole body plethysmographs [1].

It is well recognised that there are breathing-related characteristics in the ECG. The effects on the ECG
of heart displacements produced by respiratory movements were frst systematically analysed by Einthoven et al.
(1913). Nowadays it is a well known fact that respiratory action produces a rotation of the cardiac vector as is
the effect of the Respiratory Sinus Arrhythmia on the ECG signal. Analysis of ECG with respect to respiration
can give important understanding about cardiac arrhytmias, apnea, heart failure and chronic lung disease.
Certain ardiac arrhythmias can be understood only with reference to respiration. Apnea or breathing disorder
may be associated with tachycardia, increased ventricular ectopy, or asystole. Stress, heart failure, and chronic
lung disease may result in both tachypnea and tachyarrhythmia. The main advantage of this technique is that
no additional hardware or sensors are required for implementing it.

Several techniques to estimate respiratory information from the ECG are available in literature. Some
techniques are based on respiration-induced variations in beat-to-beat morphology, while others attempt to
extract from heart rate variability. In this paper, a comparative study of the performance of the recent
development techniques for estimating the respiratory frequency proposed by researcher was conducted and the
goal of this study in general is to obtain the simple, fast and accurate technique which can be implemented into
the ECG machine. For each method, time and frequency correlation between the ECG derived respiration and
Pratondo Busono/ A Comparative Study of Various Method . SFA 2013

228 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
the real respiration were computed and compared. In this evaluation, MATLAB programs were developed for
all the techniques. The performance of those techniques will be investigated under various conditions: free
breathing signals and noisy signals recorded with motion of the patient.

2. METHOD
Data Acquisition
ECG signals were acquired simultaneously at 300 Hz using a 12-lead PC based ECG monitor (Nasiff,
USA) as shown in Fig. 1. The ECG-derived respiration signals were compared with simultaneously measured
belt respiration signal obtained using RSP100C (Biopac, USA).



Figure 1. 12-lead PC based ECG (Nasiff, USA) with PS410 ECG Simulator (Fluke)

Extr action algor ithms of ECG derived r espir ation
The algorithm for extraction of ECG derived respiration usually consists of pre-processing stage which
contains notch filter for removing power-line interference and banpass filter for baseline wandering and QRS-
wave detection. The following methods were selected to obtain the EDR signals:
Heart Rate Variability method uses the beat-to-beat intervals for the construction of the EDR signal [2]

Bandpass filter is used to extract the EDR signal arising from the ECG signal in the respiratory frequency
band. Bandpass filter with frequency range of 0.2-0.4 Hz provides accurate respiratory signals [3].

Amplitude method calculates the EDR from the change in the amplitude of each QRS complex.
The movement during respiration generates slow amplitude changes in the ECG. These changes are used to
extract a respiratory signal by interpolating between the amplitudes of successive QRS peaks with
respect to the baseline. Removal of the baseline wander is performed by the application of 2 bandpass
filters for removing the P waves and T wave [4].

Area method computes the area of the QRS complex against its baseline. The baseline is defined as the mean
value around each beat. The baseline is subtracted to the ECG and the area is calculated within a 100 ms
time window around the R peak [5].

Angle of Mean Electrical Axis (AMEA) method estimates the EDR as the variations of the heart axis. The
area of two ECG leads is calculated. The angle of the mean electrical axis is obtained as arctangent of the
ratio of these areas [6].
Pratondo Busono/ A Comparative Study of Various Method . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 229
Evaluation Par ameters
Three parameters were computed to evaluate the performance of the methods. First is the correlation
between the real respiration measurements and the EDR signals obtained using above mentioned algorithms.
Second is the correlation of the spectra of both the real respiration and EDR signals in the range of interest. The
third is the relative error in detecting the respiration rate between the EDR signals and the real respiration
measurements using thoraic belt.

4. RESULTS
The ECG data and respiration signals are acquired from 10 male and female patients with ages in
between 40-65 year old and weight in between 65-85 kg. Other 5 patients are male and female students with
ages below 25 years. Such biosignal data are taken for 15 minute duration. Among the patients, 2 patients are
indicated having cardiovascular diseases. The patients are in the free breathing condition. The placement of the
electrodes is shown in Figure 2. The data are acquired from right arm, chest and left arm.

Figure 2. Placement of ECG electrodes on the body

Figure 3. ECG signals between electrode at position RA and V6 position
Figure 3 shows the ECG waveforms with electrodes placed at the position of right arm and the V6
position. The ECG signals had been digitally filtered using LPF with cut off frequency of 0.05 Hz, high pass
filter with cut off frequency of 150 Hz and the notch filter.
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
0
0.5
1
1.5
Time [second]
V
o
l
t
a
g
e

[
V
o
l
t
s
]
Original ECG Signal
0 1 2 3 4 5 6
0
0.5
1
Time [second]
V
o
l
t
a
g
e

[
V
o
l
t
s
]
ECG Signal after LPF
RA
LA
Pratondo Busono/ A Comparative Study of Various Method . SFA 2013

230 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Figure 4 (top) shows the respiration signal obtained using thoraic belt sensor. Iregular pattern is
observed in the measured signals for patient with heart diseases. Figure 4 (bottom) shows the respiration signals
after passing the low pass filter.

Figure 4. Respiration signals : original signal (top) and after passing low pass filter (bottom)
Figure 5 shows the ECG derived respiration signal (EDR) extrated from the aboved ECG signals using
the band filter method. A bandpass filter with band frequency of 0.2 and 0.4 Hz is used.

Figure 5. The ECG derived respiration (EDR) with ECG electrodes
at the position right arm and V6 position (band pass filter method)

Figure 6 The ECG derived respiration (EDR) with ECG electrodes
at the position right arm and V6 position (AMEA method)

Figure 6 shows the EDR extracted from ECG signals using AMEA method. It is seen that EDR signals
have the similar pattern with the repiration signals. The validity for each algorithms was demonstrated by
0 5 10 15 20 25 30
-2
-1
0
1
2
Time [second]
R
e
s
p
i
r
a
t
i
o
n

[
V
o
l
t
s
]
Original Respiration Signal
0 5 10 15
-2
-1
0
1
2
Time [second]
R
e
s
p
i
r
a
t
i
o
n

[
V
o
l
t
s
]
Respiration Signal after LPF
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000
-1
-0.8
-0.6
-0.4
-0.2
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
Time(ms)
E
D
R
(V
o
lt
)
15 20 25 30
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
Time [second]
E
D
R

[
V
o
l
t
]
Pratondo Busono/ A Comparative Study of Various Method . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 231
comparing that the results between the ECG derived respiration signals obtained by the algorithms and the
respiration signal measured by the thoracic belt method.

Tabel 1. Correlation between the thoraic measurement and EDR
Lead
Correlation
Time Frequency
I 0.71 0.87
II 0.69 0.84
III 0.69 0.83
aVR 0.70 0.84
aVF 0.71 0.85
aVL 0.68 0.85
V1 0.65 0.86
V2 0.63 0.87
V3 0.59 0.87
V4 0.67 0.88
V5 0.69 0.88
V6 0.72 0.89

In this work, effect of the electrode placement on the body surface on respiration pattern was also
investigated. With this objective, different lead configuration were recorded. Tabel 1 shows the median values
of correlation between EDR and respiration signals in both time and frequency domains for various lead
position. It is seen that correlation between RA electrode and V6 elecetrode gives the highest value.
Tabel 2 shows the sensitivity and relative errors of beat detection between the EDR signals extracted for
various electrode positions from I(RA) to V6. The amplitude base algorithm is used to extract the EDR signals.
The error is measured between EDR signals and the thoracic belt respiration signals as real respiration (gold
standard). It shows that EDR signals from lead I to lead V6 reflect respiration well since the relative error is
less than 5%. The best performance was obtained with the electrode positions corresponding to position I (RA)
and V6 posisition with relative error of 1.72%.
Tabel 2. Sensitivity and Relative Error for Various Lead
Lead
Parameter
Sensitivity(%) Relative Error (%)
I 98.61 2.27
II 98.49 2.54
III 98.79 2.73
aVR 98.52 2.94
aVF 98.31 2.85
aVL 98.58 2.95
V1 97.45 2.86
V2 97.53 1.87
V3 98.39 1.87
V4 98.37 2.18
V5 98.69 2.08
V6 99.22 1.72
Pratondo Busono/ A Comparative Study of Various Method . SFA 2013

232 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
The best sensitivity value is also observed at such correspoding position with the value of 99.22%. It
means that most of the beat can be detected using the amplitude based algorithm. Tabel 3 shows the relative
error versus the method used to extract the EDR signals for free breathing condition. Amplitude method gives
the best performance among other method.
Tabel 3. Relative Error vs Method
Method Relative Error (%)
Bandpass filter
9.8
Amplitude
1.56
Area
2.07
HRV
12.45
AMEA
2.65
Table 4 shows respiration rates which were measured from thoracic belt signals, respiration rate
obtained various EDR algorithms. The respiration rate measured using thoraic belt is used as gold standard
(reference). In this measurements the objets are the male and female patients. The data tabeled are the mean
value of the respiration rates taken 1 hour. In most cases, it can be seen all EDR and real respiration signals
are almost identical in terms of respiration rate. As shown in Table 4, the difference of respiration rate was not
distinctive regardless of which one was used among the methods.
Tabel 4 Respiration rates calculated using Thoraic belt and EDR

Respiration Rate (bpm)
Object
Thoraic Belt
Measurement
EDR Signals
Filter Amplitude HRV AMEA
Area
1 22 21,3 21,2 21,4 22,1 22,1
2 20 20,2 20,2 21 19,5 20
3 18 18,1 18,2 18 18,3 18,2
4 19 19 19,1 20 20 20
5 16,7 17 17,3 17 17,1 17,2
6 18,2 18,4 18 18,7 19,1 19,1
7 21,1 21,2 21,1 21,3 21,8 21,3
8 20,2 20,1 20,3 21,6 21,8 21,6
9 16 16,2 16 16,1 16,5 16,4
10 17,2 17,3 17,1 17,4 17,5 17,4
11 12 12,3 12,1 12,2 12,2 12,2
12 16,1 16 16,1 16,3 16,2 16,1
13 17,7 17,6 17,6 17,8 18 18,1
14 18,2 18,3 18,2 18,6 18,6 18,5
15 23,1 23,4 23,1 23,4 23,7 22,8
Since there is no extra sensor and no hardware required for ECG-derived respiration extraction, it is a
useful method for long-term home monitoring of sleep, and further makes it possible to measure respiration
signals as well as ECG and heart rate variation. However, the EDR signals are thoroughly dependant on ECG,
so that specific ECG caused by a certain disease can disturb the precise ECG-derived respiration extraction.
Pratondo Busono/ A Comparative Study of Various Method . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 233
5. CONCLUSION
Evaluation of various methods for extraction of respiratory frequency from the ECG signal had been
conducted. A dataset of ECG and respiration signal taken from direct measurement was collected. When the
respiration rate was constant, all methods had high performance obtaining a good estimation of the respiration
signal.

6. REFERENCES
1. Moody GB, Mark RG, Bump MA, Weinstein JS (1986), Clinical validation of ECG-derived respiration
technique, Comput Cardiol, 13:507510.
2. Schafer A, Krakty K. (2008), Estimation of breathing rate form respiratory sinus arrhythmia:
comparison of various methods, Annals of Biomedical Engineering, pp. 476-485.
3. Boyle J., Bidargaddi N., Sarela A, and Karunanithi .( 2009), Automatic Detection of Respiration Rate
From Ambulatory Single-Lead ECG, IEEE Trans. On Inform. Tech. On Biomedicine. Vol. 13, No. 6.,
pp. 890-896.
4. OBrien C, Heneghan C (2007), A comparison of algorithms for estimation of a respiratory signal from
the surface electrocardiogram, Comput Biol Med, 37:305314.
5. Correa L, Laciar E, Torres A & Jane R. (2008), Performance evaluation of three methods for respiratory
signal estimation from the electrocardiogram in the 30th Annual International IEEE EMBS Conference
6. Moody GB, Mark RG, Zoccola A, Mantero S (1985), Derivation of respiration signals from multi-lead
ECGs, Comput Cardiol, 12:113116.
7. Zhao L, Reisman S, Findley T. (1994), Derivation of respiration from electrocardiogram during heart
rate variability studies, Computers in Cardiology, pp. 53-56.
8. Caggiano D, Reisman S. (1996), Respiration derived from the electrocardiogram: a quantitative
comparison of three different methods. in Bioengineering Conference, pp.103- 104.
9. Bianchi A, Pinna G, Croce M, Rovere M, Maestri R, Locati E. (2003), Cerutti S. Estimation of the
respiration activity from orthogonal ECG leads, Computers in Cardiology, pp.30:85-88.
10. Mazzanti B, Lamberti C, Bie J (2003) Valiation of an ECG-derived respiration monitoring method,
Comput Cardio, l 30:613616.
11. Mietus JE, Peng CK, Ch Ivanov P, Goldberger AL (2000), Detection of obstructive sleep apnea from
cardiac interbeat interval time series, . Comput Cardiol, 27:753756.
12. Boyle J, Bidargaddi N, Sarela A, Karunanithi M. (2009), Automatic detection of respiration rate from
ambulatory single lead ECG, IEEE Transactions on Information Technology in Biomedicine, 13(6):890
896.
13. Sobron A., Romero I, & Lopetegi T (2013), Evaluation of Methods for Estimation of Respiratory
Frequency from the ECG, Available : [http://cinc.mit.edu/current/preprints/117.pdf] (accessed date : 2
April 2013).
14. ECG Leads , Available : [http://lessons4medicos.blogspot.com/2008/06/ecg-leads.html] (accessed date: 2
April 2013).










Pratondo Busono/ A Comparative Study of Various Method . SFA 2013

234 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773





Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 235
DEVELOPMENT OF A THREE-LEAD ELECTROCARDIOGRAPH
WITH EMBEDDED DIGITAL FILTER ON FPGA
FOR NOISE REMOVAL

Pr atondo Busono
Division of Biomedical Engineering,
Center for Pharmaceutical and Medical Technology,BPPT, Jakarta
prabusono@yahoo.com

Abstrak

An ECG is a bioelectrical signal which has important correlation with electrical activity of the
heart. The ECG reflects important information regarding the performance of the heart. ECG
devices are currently made for different settings applications including patients home,
ambulance, general practioner offices, emergency wards or public health center. Most of the
commercial ECG machine available today is still expensive for public health service in the
rural area. Therefore, there is a need to develop a low and high performance of three-lead ECG
machine which can be used for the medical doctor or health practitioner in the rural area. In
general, the ECG machine consits of differential amplifier, filters, isolation amplifier,buffer,
analog to digital converter, microcontroller with digital signal processor and displaying unit.
However, the biggest problem in designing the ECG machine is on the problem with low
signal-to-noise ratio. Since, there are many sources of noise such power line interference, DC
drift, EMC contraction, electronic noise, and motion artifacts. The goal of the work is to
design and develop a low cost ECG machine with digital signal processor for noise removal.
For that purpose, a series of digital filters will be embedded in the Xillinx Spartan 6 FPGA as
part of digital signal processor. Results show that the prototype of ECG machine can be
successfully recording and displaying the ECG signals with the good performance.

Keywor ds: ECG, digital filter , FPGA, embedded system


1. INTRODUCTION

Based on the report released by WHO [1], the cardiovascular diseases are still the number one killer in
the world. Each year, there are an estimated seven million deaths around the world and more than 60,000 deaths
in Indonesia due to cardiac arrhythmias.

The electrocardiogram is a surface measurement of the electrical potential generated by electrical activity
in cardiac tissue. Current flow, in the form of ions, signals contraction of cardiac muscle fibers leading to the
hearts pumping action [2]. The study of this electrical signal can help in determining many abnormalities
related to the hearts function. It has a wide variety of applications throughout the medical field in determining
whether the heart is functioning properly or suffering from any abnormalities. It helps to screen and diagnosis
cardiovascular diseases.

Early diagnosis of heart diseases is typically by analysing the electrocardiogram of the ECG machine.
However, most of the commercial ECG machine operated in the hospital and public health center today is still
imported and is expensive for public health service in the rural area. Therefore, there is a need to develop a low
and high performance of three-lead ECG machine which can be used for the medical doctor or health
practitioner in the rural area. The goal of this work is to design and develope a three-lead ECG machine with
embedded digital filter algorithm. The digital filter for noise removal and electrical power interference is
embedded on the FPGA chip. A simple algorithm for detecting the heart beat was also implemented in the
device. The devices are currently made for public health center in the rural area. Results show that the prototype
of ECG machine can be successfully recording and displaying the ECG signals with the good performance.
Hadziqul Abror, dkk. / Fabrikasi Sensor Pergeseran Berbasis Rugi Daya.... SFA 2013

236 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
The prototipe had been calibrated with ECG simulator and the results shows the prototype had
demonstrated its ability for measuring and monitoring the electrical heart activity. The prototype had been
applied to the patients for measuring the heart rate. A comparison between commersial PC based ECG (Cardio
Card of Nasiff, USA) had been also conducted. It shows that a good agreement is observed between the results
measured by prototype and the commersial one.

2. HARDWARE DESIGN

The typical ECG signal obtained from the Ag-AgCl electrodes is 1 mV in amplitude and it is easily
corrupted by noise. The main sources of noise include respiration, motion artifacts, muscle contraction,
electrode contact noise, power line interference, and electromagnetic interference (EMI). Noise can completely
override the ECG waves and make the amplified signal useless. To remove unwanted noise and preserve the
useful components of ECG signals, the signal conditioning sequence are needed. A block diagram of PC based
ECG machine is shown in Figure 1. In general, this system is composed to two main part: analog front end,
digital back end.















Mi





Figure 1. Block diagram of 3-lead PC based ECG

Electr ode

Three disposable electrodes attached to the patient are connected to the analog front end section of the
ECG system. Two electrodes are used to record the ECG signals, while other is for noise reduction. To
minimize the drop in contact potential and the polarization effect, a gelly based Ag/AgCl electrode is used. This
type of electrode essentially acts as a transducer which converts the ionic current inside the body to an electronic
current in the outer circuit.


Differ ential Amplifier

The weak ECG signals acquired from electrodes is amplified using a differential amplifier with high
input resistance, typically more than a few Mega ohms. The analog front end section must be able to deal with
extremelly weak signals ranging from 0.5mV to 2.0mV, combined with a dc component of up to 300mV [3].
A Burr-Brown INA 118 instrumentation amplifier was used to amplify the potential difference between
the right arm and left arm electrodes. Its gain is determined by the gain resistor R
G.
If the desired gain is 20, the
gain resistor can be written following relation,

LCD
Electrodes
Keypad
Lead
Selector &
Differential
Amplifier
Filter: LPF,
HPF, Notch
Isolation
Amplifier,
Buffer

ADC


FPGA




Microcontroller
Unit PC
Analog Front End
Digital Back End
Pratondo Busono / Development of Three Lead Electrocardiograph . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 237

k
G
k
R
G
632 . 2
) 1 20 (
10 50
) 1 (
50
3
(1)
The electrical output of the differential amplifier is further fed to filter sections before passing to Analog
to Digital Converter.


Band Pass Filter
ECG signal has a frequency range approximately from 0.05 to 150 Hz. Low pass filter will be needed to
eliminate the high frequency noise above 150 Hz. The electrical output of the differential amplifier is further
fed to the filter section before passing to Analog to Digital Converter. The filter section consists of Low Pass
Filter, High Pass Filter and Twin-T Notch Filter. LPF and HPF forms a band pass filter with frequency range in
between 0.05 Hz and 150 Hz. The HPF will be a one stage passive one, the LPF will be built by two stages
active LPF as shown in figure 2.



Figure 2. Band Pass Filter Circuit [3]

The high and low pass filter cut-off frequency is 0.05 Hz and 150 Hz, respetively. The value of R
1
are 680 k
and C
2
is 4.7 nF.

Notch Filter
A notch filter is used to suppress the 50 Hz power line interference which is still left in the ECG signal
and needs to be rejected. This requires a small transition bandwidth or high Q factor to achieve the steeper deep
notch. An active Twin-T notch filter which consits of two T-shape RC filters combined with operational
amplifier is capable of providing an infinite deep notch at a particular frequency. The Q factor can be raised
from the usual 0.3 to 2.5. Further, the op-amp provides low output impedance and high input impedance,
making it possible to use large resistance values in the T so that only small capacitors are required, even at low
frequencies [4]. The cut off frequency of notch filter (f
c
) is to 50 Hz.

2. SOFTWARE DESIGN

The design of embedded digital filter on the FPGA involves the following steps: determining filter
specifications, calculating the filter coeficient, determining the transfer function, converting the transfer function
into a suitable filter structure, writing the VHDL code, implementing the code into the hardware, and testing its
functionality. Tabel 1 shows the filter specification used in this work. This filter specification includes
sampling frequency, word length of the input data, pass band frequency and stop band frequency. MATLAB
tools is used to generate the filter coeficients.




Hadziqul Abror, dkk. / Fabrikasi Sensor Pergeseran Berbasis Rugi Daya.... SFA 2013

238 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Tabel 1. Design specification of band pass filter











4. RESULT
Figure 3 shows the prototip of the ECG analog front end connected to the ECG wire. The enclosure had
been covered with conductive protection paint to minimize of the noise due to the electromagnetic radiation.
The output of the ECG analog front end is first digitized by ADC inside the Microcontroller before connected to
the FPGA development board. The output of the Spartan 6 FPGA board as shown in Figure 4 is connected to
computer via USB port.
The filter coefficients of the all filters (BPF and Notch ) were obtained with the filter builder function of
the MATLAB Filter Design Toolbox. Figure 5, 6 and 7 show the magnitude response of the edge of the lower
part pass band filter, closing edge of the upper part of the passband filter, and notch filter, respectively.
Specifications for notch filter are given as follows, Q factor of 10, pass band riple of 1 dB, center frequency of
50 Hz, corner frequencies of 47-53 Hz, stop band attenuation of 100 dB and maximum order of filter of 180.


Figure 3. Prototip 3-lead PC based ECG



Figure 4. Xillinx Spartan 6 FPGA Development Board
Parameters Unit Band Pass Filter
Sampling Frequency
Hz 300
Attenuation at the pass band
dB 1
Attenuation at the stop band
dB 60
Edge of the stop band frequency
Hz 0.04
Edge of the pass band frequency
Hz 0.06
Closing edge of the pass band frequency
Hz 145
Edge of the second stop band
Hz 154
Attenuation at the second stop band
dB 60
Ripple allowed in the pass band dB 1
Pratondo Busono / Development of Three Lead Electrocardiograph . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 239

Figure 5. Edge of the pass band filter (lower part)


Figure 6. Closing edge of the pass band filter (upper part)


Figure 7. Notch filter


Figure 8 shows the ECG simulator (PS410, Fluke Biomedical, USA). It provides the 3-lead ECG test
signals using for calibration purposes. The amplitude of the P wave, R wave and T wave as well as the distance
between the peak are set from the simulator. The simulator is used as gold standard for calibration.



Figure 8. ECG simulator


Figure 9 shows the graphical user interface (GUI) of three-lead ECG machine. The value of teh gain,
filter and QRS detection algorithm can be set externally.
0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 0.08 0.09 0.1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
Frequency ( Hz)
M
agnitude squared
Magnitude Response (squared)
20 40 60 80 100 120 140
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
Frequency (Hz)
M
agnitude squared
Magnitude Response(squared)
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9
-50
-45
-40
-35
-30
-25
-20
-15
-10
-5
0
Normalized Frequency ( rad/sample)
M
agnitude (dB)
Magnitude Response (dB)
Hadziqul Abror, dkk. / Fabrikasi Sensor Pergeseran Berbasis Rugi Daya.... SFA 2013

240 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Figure 9. Graphical User Interface for 3-lead ECG


Available QRS algorithms that can be selected at the user interface (GUI) are Wavelet Transform [5] and
Pan-Tomkins algorithm [6]. Heart rate was calculated by detecting the QRS pulse for certain duration of time
[6]. The value of heart rate was displayed on the top right of the GUI. Inside the GUI, there is an area for
displaying the ECG charts for either one lead, two lead or three leads, simultaneously.

Figure 10. ECG signals from lead I : original ECG signal (top), ECG signal after DC drift removal (midle)
and ECG signal after BPF (bottom).


Figure 10, 11 and 12 show the ECG signals from Lead-I, Lead-II and Lead-III. ECG signals are taken
from real patient, male with 41 year old and weight of 70 kg. The data are taken from the patient for 1 hour
duration. Top of figure 10, 11 and 12 represents the original signals generated from the lead (I,II, and III). The
signals are corrupted from electronic noise and DC drift. Signals from lead-I, II and III give the different shape
and features. Signals lead I gives the clear QRS peak and it is used for heart beat calculation. The midle of the
figures 10, 11 and 12 shows the ECG signals after DC drift removal. It is seen that the ECG signals are still
corrupted by noise. When these signals passing the band pass filter, all the noise are removed and smooth
signals appear as shown in Figure 10, 11, and 12 (bottom part).
0 1 2 3 4 5 6
-1
0
1
Time [second]
V
o
l
t
a
g
e

[
V
o
l
t
s
]
Original ECG Signal (LEAD I)
0 1 2 3 4 5 6
-1
0
1
Time [second]
V
o
l
t
a
g
e

[
V
o
l
t
s
]
ECG Signal after DC Drift Removal (LEAD I)
0 1 2 3 4 5 6
-1
0
1
Time [second]
V
o
l
t
a
g
e

[
V
o
l
t
s
]
ECG Signal after BPF (LEAD I)
Pratondo Busono / Development of Three Lead Electrocardiograph . SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 241

Figure 11. ECG signals from lead II : original ECG signal (top), ECG signal after DC drift removal (midle)
and ECG signal after BPF (bottom)

Figure 12. ECG signals from lead III: original ECG signal (top), ECG signal after DC drift removal (midle)
and ECG signal after BPF (bottom).

Tabel 2 shows the comparison between Fluke simulator reading and the ECG result. It can be seen that
ECG machine can display the simulated ECG wave and its features close to that of the simulator. After taking
20 measurements (1 hour duration) and compared to the simulator reading, the statistical error is leas than 0.5%.
It means that ECG machine has demonstrated its acceptable acuracy.
Tabel 2 . Comparison between ECG simulator and 3-lead ECG
Parameter ECG Simulator 3-lead ECG
Heat Beat Rate (mean)
80 79.97
ECG Amplitudes (mean)
2.5 mV 2.49 mV
Square wawe
2 Hz 2 Hz
Sine wave
5 Hz 5 Hz
Triangle wave
2 Hz 2 Hz

Tabel 3 shows the comparison between 3-lead ECG and 12-lead PC based ECG , Cardio Card Model
CUSB (Nasiff Associates, USA) for measuring heart beat of 5 patients. From Tabel 3, it shows that heart rate
measured usig prototip 3-lead ECG is similar with the measurement value conducted using commersial 12-lead
PC based ECG Cardio Card.


0 1 2 3 4 5 6
-1
0
1
Time [second]
V
o
l
t
a
g
e

[
V
o
l
t
s
]
Original ECG Signal (LEAD II)
0 1 2 3 4 5 6
-1
0
1
Time [second]
V
o
l
t
a
g
e

[
V
o
l
t
s
]
ECG Signal after DC Drift Removal (LEAD II)
0 1 2 3 4 5 6
-1
0
1
Time [second]
V
o
l
t
a
g
e

[
V
o
l
t
s
]
ECG Signal after BPF (LEAD II)
0 1 2 3 4 5 6
-1
0
1
Time [second]
V
o
l
t
a
g
e

[
V
o
l
t
s
]
Original ECG Signal (LEAD III)
0 1 2 3 4 5 6
-1
0
1
Time [second]
V
o
l
t
a
g
e

[
V
o
l
t
s
]
ECG Signal after DC Drift Removal (LEAD III)
0 1 2 3 4 5 6
-1
0
1
Time [second]
V
o
l
t
a
g
e

[
V
o
l
t
s
]
ECG Signal after BPF (LEAD III)
Hadziqul Abror, dkk. / Fabrikasi Sensor Pergeseran Berbasis Rugi Daya.... SFA 2013

242 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Tabel 3. Comparison of heart rate measured by prototype 3-lead ECG and
12-lead PC based ECG-Cardio Card Model CUSB (Nasiff, USA)
Object
Heart Beat rate (mean)
3-lead ECG Cardio Card (Nasiff)
1 64 2
65 2
2
64 2 63 2
3
73 2 72 2
4
78 2 77 2
5
72 2
73 2

5. CONCLUSION

The analog front end for signal conditioning of ECG signals acquired from three electrodes had been
developed and succesfully tested its functionality. The digital back end which consits of digital filter embeddeds
on Xillinx FPGA was also developed.

Prior to the hardware implementation, the filter specification and filter coeficients was generated using
MATLAB Filter Design Toolbox. The design specifications of the filter includes sampling frequency, pass
band cutoff frequency, stop band cutoff frequency, stop band deviation and pass band deviation.

The resulted three lead ECG hardware had been intergrated with the software and had been sucessfully
tested its functionality. The calibration had been conducted for the ECG machine.



6. REFERENCES

1. World Health Organization, 2013 http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs317/en/index.html,
Accessed date [Mei 2, 2013]
2. Webster, J. G. (1998), Medical Instr umentation: Application and Design. 3
rd
ed., W.B. Saunders
Company, Philadelphia.
3. Fountain, M. & Wenshuai L.(2007), ECG Monitoring Module, in Hardware Design Specification,
Analog Device, CAST, pp. 1-23.
4. Zumbahlen, H., Twin-T Notch Filter, Available at [http://www.analog.com], accessed date, [April 6,
2013]
5. Addison P., Watson J., Clegg G., Holzer M., Sterz F., & Robertson C. (2000), Evaluating arrhythmias in
ECG signals using wavelet transforms, IEEE Engineering in Medicine and Biology., pp. 104109.
6. Pan J. and Tompkins W.J. (1985), A Real-Time QRS Detection Algorithm, IEEE Transaction on
Biomedical Engineering, vol. BME-32, no. 3, pp. 230-236.
7. Joshi, S. & Ainapure, B. (2010), FPGA Based FIR filter, International Journal of Engineering Science
and Technology, vol. 2(12), pp. 7320-7323.


Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 243
FABRIKASI SENSOR PERGESERAN BERBASIS RUGI DAYA
AKIBAT MACROBENDING SERAT OPTIK


Hadziqul Abror , Melania Suweni Muntini

Jurusan Fisika, FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: melania.muntini@gmail.com


Abstrak

Telah dibuat sensor pergeseran berbasis macrobending serat optik. Prinsip dasar dari sensor ini
adalah adanya rugi daya akibat lekukan makro pada serat optik. Sumber cahaya yang dipakai
adalah LED inframerah serta receiver berupa fototransistor. Elemen sensor terdiri atas dua
lekukan serat optik. Ketika terjadi pergeseran, maka serat optik akan mengalami perubahan
sudut lekukan, sehingga terjadi perubahan intensitas yang diterima fototransistor. Intensitas
tersebut dikonversi menjadi resistansikemudian tegangan. Kalibrasi sensor dilakukan dengan
kalibrator penggaris. Kemudian dilakukan pengujian sensor pergeseran serat optik. Sensor
pergeseran yang dibuat memiliki jangkauan pengukuran sebesar sebesar 2.199 Volt dengan
jarak maksimal pergeseran 3.5 cm. Grafik pergeseran terhadap tegangan sensor mendekati
referensi persamaan polynomial orde-3. Nilai error relatif sebesar 1,03 %.

Kata kunci: Sensor, serat optik, rugi daya, macrobending


1. PENDAHULUAN
Serat optik (Optical fiber) banyak digunakan dalam sistem komunikasi karena memiliki kecepatan
transmisi tinggi serta paling efisien. Namun demikian, serat optik juga bisa digunakan sebagai sensor. Sensor-
sensor tersebut memanfaatkan adanya rugi daya yang terjadi padanya, baik rugi daya tersebut karena adanya
lengkungan, atenuasi jarak, perubahan nilai indeks bias dan sebagainya.
Telah dipelajari terkait karakterisasi rugi daya akibat kelengkungan fiber optik serta penggunaannya,
salah satunya adalah pemanfaatan rugi kelengkungan untuk sensor pergeseran tanah. Sensor ini menggunakan
detector berupa Optical Time Domain Reflectometer (OTDR) yang harganya sangat mahal serta membutuhkan
fiber optik lebih dari seratus meter agar memungkinkan pengukuran dengan OTDR. Sehingga dilakukan
perancangan sebuah sensor pergeseran berbasis serat optik dengan memanfaatkan prinsip dasar adanya rugi
daya akibat lekukan pada serat optik (macrobending) yang dapat mendeteksi pergeseran sehingga bisa
digunakan untuk sistem monitoring. Selain memodelkan sensor pergeseran juga akan dikarakterisasi sensor
yang telah dibuat menurut karakter-karakter statis sensor.

2. DASAR TEORI
2.1 Sensor
Sensor adalah alat yang dapat menerima rangsangan dan merespon dengan suatu sinyal
elektrik.Rangsangan adalah kuantitas, sifat, atau kondisi yang dirasakan dan dikonversi ke dalam sinya
elektrik.Tujuan dari suatu sensor adalah untuk merespon suatu masukan sifat fisis (rangsangan) dan
mengkonversikannya ke dalam suatu sinyal elektrik melalui kontak elektronik.Sensor dapat dikatakan sebagai
suatu translator dari nilai non elektrik menjadi nilai elektrik.Elektrik artinya sinyal yang dapat disalurkan,
dikuatkan dan dimodifikasi oleh alat elektronik.Sinyal keluaran sensor dapat berupa tegangan atau arus. Sinyal
keluaran juga dapat digambarkan sebagai masukan amplitude, frekuensi, face atau kode digital [1].
Hadziqul Abror, dkk. / Fabrikasi Sensor Pergeseran Berbasis Rugi Daya.... SFA 2013

244 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Karakterisasi sensor dilakukan untuk mengetahui kinerja sistem sensor yang telah dirancang, dalam
ditentukan oleh hubungan antara pergeseran dan tegangan. Karakteristik statik ditentukan oleh sifat sensor yang
perubahan responnya tidak berubah terhadap waktu, beberapa hal yang termasuk dalam karakteristik statik
sensor meliputi kalibrasi, linieritas, sensitivitas, jangkauan pengukuran, dan saturasi.

2.2 Serat Optik
Serat Optik merupakan pemandu gelombang dielektrik yang beroperasi pada frekuensi optik. Serat optic
membatasi energi elektromagnetik dalam bentuk cahaya didalam permukaannya dan memandu cahaya dalam
arah paralel terhadap aksisnya. Pada umumnya serat optik terdiri dari dua bahan dengan karakter optis yang
berbeda untuk cladding dan core. Komposisi core menduduki 85 % dari total fiber yang memandu cahaya, yang
tersusun dari bahan silikon oksida, dan dilapisi dengan serat kaca, dan pada umumnya core memiliki index bias
yang lebih tinggi daripada cladding [2].
Prinsip pemanduan cahaya dalam serat optik berdasarkan pemantulan dalam sempurna(total internal
reflection). Sudut yang menentukan terjadinya total internal reflection dinamakan sudut kritis. Gelombang-
gelombang dalam pandu gelombang tertahan karena pemantulan sempurna dari dinding gelombang, sehingga
propagasi dalam pandu gelombang kira-kira dapat digambarkan seperti zig-zag diantara dinding-dinding
pandu gelombang. Deskripsi ini tepat untuk gelombang elektromagnetik dalam tabung berongga yang berbentuk
persegi atau lingkaran [3].

2.3 Rugi Daya Akibat Kelengkungan
Kelengkungan serat optik yang menyebabkan sebagian sinar datang pada perbatasan core dan cladding
dengan sudut lebih kecil daripada sudut kritis menyebabkan sebagian sinar terbiaskan ke cladding. Untuk
mempertahankan bentuk muka gelombang, maka sinar yang merambat pada bagian dalam kelengkungan serat
optik harus memiliki kecepatan rambat lebih kecil daripada bagian luarnya. Ini berarti nilai indeks bias inti pada
bagian tersebut lebih kecil bila dibandingkan saat serat dalam keadaan lurus. Semakin kecil jari-jari
kelengkungan maka nilainya semakin mendekati indeks bias cladding sehingga makin banyak sinar yang
terbiaskan keluar dari inti serat [4]. Gambar 1 adalah profil indeks bias pada serat optic.

Gambar 1. (a). profil indeks bias efektif saat fiber optik lurus (b). profil indeks bias fiber optik saat ada lengkungan

Semakin kecil radius tikungan semakin besar akan menjadi fraksi bergerak cepat terpengaruh dan
karenanya lebih besar adalah persentase cahaya hilang di tikungan [3].

2.4 Fototr ansistor dan Mikr okontr oller
Fototransistor adalah semikonduktor photovoltage atau semikonduktor fotokonduktif yang dioperasikan
pada tegangan bias balik negatif. Detektor photovoltage adalah detektor aktif yang membangkitkan tegangan
diri pada saat tersinari. Piranti ini kemudian mengubah energi radiasi yang datang menjadi energi listrik.
Tegangan keluaran sensor kemudian deprogram dengan mikrokontroller. Sistem minimum mikrokotroler adalah
rangkaian elektronik minimum yang diperlukan untuk beroperasinya IC mikrokontroler.Kemudian system ini
dihubungkan dengan rangkaian lainnya untuk menjalankan fungsinya.Ada banyak seri pada mikrokontroler
tetapi yang sering digunakan yaitu seri 8535.
Ada beberapa komponen yang dibuat untuk merangkai system ATmega AVR 8535 diantaranya yaitu :
Hadziqul Abror, dkk. / Fabrikasi Sensor Pergeseran Berbasis Rugi Daya.... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 245
1. IC Mikrokontroler ATmega 8535
2. 1 XTAL 4 Mhz
3. Kapasitor
4. Resistor
5. Tombol reset pushbutton
6. Diperlukan power supply untuk memberikan tegangan 5V.

3. METODE PENELITIAN
Sistem instrumentasi sensor pergeseran menggunakan blok elemen sensor yang terdiri dari LED
Inframerah sebagai transmitter cahaya, fototransistor sebagai receiver, serat optik sebagai pemandu cahaya; catu
daya; minimum system ATMega 8535; serta LCD. Serat optik lekukan berbentuk z agar ketika ada pergeseran
pada bidang geser, terjadi perubahan intensitas cahaya yang diterima oleh basis fototransistor. Sinyal keluaran
dari elemen sensor ini kemudian dihubungkan dengan ADC pada mikrokontroller.



Gambar 2 Rangkaian elemen sensor Gambar 3. Tampilan sensor pergeseran yang dibuat


4. HASIL DAN DISKUSI
Prinsip dasar sensor ini adalah adanya cahaya (infra merah) yang dipandu oleh serat optik. Kemudian
diterima oleh fototransistor. Serat optik dibuat dengan variasi lekukan sehingga dengan adanya lekukan, maka
berbeda pula intensitas yang diterima oleh fototransistor. Hal ini terjadi karena adanya rugi daya akibat lekukan.
Intensitas tersebut kemudian dikonversi menjadi hambatan, semakin tinggi intensitas, maka hambatan semakin
kecil dan begitu pula sebaliknya. Proses konversi cahaya ke hambatan itu terjadi ketika cahaya mengenai
permukaan basis fototransistor, pembawa muatan akan mengalami transisi dari suatu pita energi ke pita energi
lainnya, hal ini menyebabkan meningkatnya konduktivitas semikonduktor akibat meningkatnya pembawa
muatan. Konduktivitas berbanding terbalik dengan hambatan. Karena ada hambatan inilah maka ada tegangan,
tegangan berbanding terbalik dengan intensitas. Tegangan ini kemudian disebut tegangan keluaran sensor.
Tegangan ini kemudian dimasukkan ke sistem komparator dengan pengondisi sinyal berupa penguat
differensial. Sehingga besar tegangan keluaran kemudian bisa atur. Tegangan yang dikondisikan ini berbentuk
analog dan kemudian dikonversi dengan ADC (analog digital converter) dengan mikrokontroler ATmega 8535
serta ditampilkan ke dalam LCD dalam bentuk tampilan tegangan dan jarak. Pergeseran ini dapat dibaca karena
dengan adanya pergeseran pada bidang uji, menyebabkan adanya perubahan pula pada sudut kelengkungan serat
optik. Dari sini maka dengan memasukkan persamaan yang diperoleh pada mikrokontroller, maka diperoleh
keluaran pada tampilan LCD berupa tegangan dan jarak.
Hadziqul Abror, dkk. / Fabrikasi Sensor Pergeseran Berbasis Rugi Daya.... SFA 2013

246 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Sebelum diimplementasikan, dilakukan kalibrasi pada sensor pergeseran yang dibuat. Kalibrasi
dilakukan dengan non zero calibration pada tegangan. Alat ukur panjang yang dipakai sebagai kalibrator adalah
penggaris. Kalibrasi sensor dilakukan dengan cara menggeser bidang geser dengan pergeseran setiap 0,5 cm dari
pergeseran 0 3,5 cm. Ketika bidang geser tidak ada pergeseran, yakni berimpit dengan bidang yang diam,
maka disebut titik nol dan pada saat ini besar tegangan keluaran sensor pada voltmeter dicatat. Kemudian bidang
geser digeser setiap kenaikan 0,5 cm. begitu pula untuk ketika bidang geser dilepas, yakni kembali ke titik nol.
Kemudian tegangan keluaran sensor pada voltmeter dicatat. Data tersebut direpresentasikan dalam grafik
dengan pergeseran sebagai sumbu x dan tegangan sebagai sumbu y. Karena output yang diinginkan pada LCD
adalah jarak pergeseran, maka dilakukan pengubahan variabel, yakni tegangan (V) sebagai sumbu x dan jarak
pergeseran (cm) sebagai sumbu y (Gambar 4.6). Data hasil kalibrasi tersebut apabila didekati dengan
polynomial orde 3 menghasilkan persamaan y = 1,9133x
3
-15,422x
2
+42,6x -40,239 dalam satuan cm; dengan
nilai R = 0,9936.
Pergeseran media uji diatur agar tepat sesuai penunjukkan pada kalibrator yang dipakai, misalnya saat
pergeseran 0,5 cm harus dipastikan bahwa itu benar sesuai penunjukkan skala pada kalibrator karena jika pada
saat proses kalibrasi ini kurang tepat akan mempengaruhi performa dari sensor yang telah dibuat.
Persamaan hasil kalibrasi yang didapatkan merupakan karakteristik sensor pergeseran yang
menghubungkan antara pergeseran dengan tegangan keluaran sensor. Persamaan yang dihasilkan kemudian
dimasukkan sebagai persamaan program pada mikrokontroller. Sehingga sensor pergeseran ini dapat mendeteksi
pergeseran yang terjadi. Berdasarkan gambar diketahui bahwa respon keluaran terhadap masukan (tegangan)
tidak linear karena perubahan indeks bias pada serat ptik juga tidak linear.
Secara keseluruhan sistem instrumentasi, blok-blok rangkaian elektronik yang terdiri dari blok elemen
sensor, catu daya, penguat differensial, mikrokontroler dan display telah menunjukkan performa yang baik.
Rangkaian catu daya didesain untuk menghasilkan tegangan +5V, +12 V, -12 V dan ground. Rangkaian
mikrokontroler yang mengaplikasikan ATMega8535 digunakan untuk mengubah tegangan analog ke digital dan
antarmuka pada LCD.


5. SIMPULAN
Telah dilakukan fabrikasi sensor pergeseran dengan memanfaatkan prinsip rugi daya akibat
macrobending serat optik. Serat optik dibuat berbentuk Z dengan sudut minimum 60
0
agar serat optik tidak
mengalami lekukan yang tajam. Receiver intensitas cahaya berupa fototransistor. Semakin banyak intensitas,
maka hambatan fototransistor semakin kecil. Dengan prinsip pembagi tegangan yang dibuat, serta tegangan
keuaran tersebut dikondisikan dengan penguat differensial dan di konversi oleh ADC mikrokontroller ATMega
8535. Fabrikasi sensor pergeseran yang dibuat memiliki jangkauan pengukuran sebesar 1,2 Volt dengan
jangkauan pergeseran 3,5 cm. Grafik pergeseran terhadap tegangan sensor mendekati referensi persamaan
polynomial orde-3. Nilai error relatif pergeseran sensor terhadap kalibrator sebesar 1,03%.

Gambar 4. Grafik kalibrasi sensor

y =1.9133x
3
- 15.422x
2
+42.6x - 40.239
R =0.9936
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
2.5 3 3.5 4
P
e
r
g
e
s
e
r
a
n

(
c
m
)
Tegangan (Volt)
Hadziqul Abror, dkk. / Fabrikasi Sensor Pergeseran Berbasis Rugi Daya.... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 247
6. DAFTAR ACUAN
1. Freden, Jacob.(2003), Handbook Of Moder n Sensor , Physics, Designs, and Application, Springer
San Diego, USA.
2. Schot, Shibata and S. Takashimashi. (1976), Effect Of Some Manufacturing
Condition On the Optical Loss Of Compound Glass Fibers, Ibaraki Electrical
Communication Laboratory, Nippon Telegraph and Telephone Public Corporation,
Tokai.
3. Keiser, Gerd. (1991), Optical Fiber Communication, McGraw-Hill Book, Singapure.
4. Dutton, harry J.R. (1998), Under standing Optical Communication,1st ed., IBM Corp. International
technical support organization
5. Martin, Andre et all.(2006), Modeling of Bend Losses in Single-Mode Optical Fibers, Santoago,
FCT through FEFOF (PTDC/EEA-TEL/72025) project.

















Hadziqul Abror, dkk. / Fabrikasi Sensor Pergeseran Berbasis Rugi Daya.... SFA 2013

248 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773


Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 249
ANALISIS PENGARUH JARI-JARI DAN JUMLAH LILITAN
TERHADAP RUGI DAYA PADA SERAT OPTIK MENGGUNAKAN
OPTICAL SPECTRUM ANALYZER


Indah Ayu P, Melania Suweni Muntini


Jurusan Fisika, Fakultas IPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
melania.muntini@gmail.com


Abstrak
Telah berhasil dilakukan percobaan analisis pengaruh jari-jari dan jumlah lilitan terhadap rugi
daya pada serat optik menggunakan Optical Spectrum Analyzer (OSA). Penelitian dilakukan
menggunakan prinsip hukum Snellius dan resonansi optik, sehingga sudut datang, lilitan dan
radius lilitan pada penelitian ini merupakan hal yang penting. Penelitian dilakukan dengan dua
variasi yaitu radius dan lilitan. Radius yang diambil pada penelitian ini sebesar 0,5cm hingga
4,5cm, untuk setiap radius dilakukan variasi lilitan sebanyak satu hingga lima lilitan. Hasil
yang diperoleh dari penelitian ini adalah semakin kecil radius maka semakin besar kerugian
yang terjadi dengan penurunan daya ( W) paling kecil sebesar 0,25W dan paling besar
sebesar 70,35W, begitu juga dengan lilitan semakin banyak lilitan yang diberikan semakin
besar rugi daya yg terjadi. Selain itu, semakin banyak lilitan maka semakin besar juga rugi
daya yang terjadi. Pada percobaan tracing grafik, didapatkan standar deviasi maksimum dari
data sebesar 0,271; 3,871; dan 4,921 berturut-turut untuk lilitan 1; lilitan 2; dan lilitan 3.
Kata kunci: rugi daya, hukum snellius, resonansi optik, OSA



1. PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi di bidang hardware, software, dan komunikasi dimasa ini berkembang semakin
pesat. Hal tersebut karena digunakannya piranti baru. Salah satu piranti tersebut adalah serat optik. Serat optik
pertama kali diteliti oleh Alexander Graham Bell (awal tahun 1970) dengan sistem yang sederhana mencapai
kapasitas transmisi 10 Gb.km/s. Pada tahun 1988, Linn F.Mollenauer mempelopori sistem komunikasi optik
soliton. Eksperimen tersebut menunjukkan bahwa kapasitas transmisi yang telah diuji mencapai 35.000 Gb.km/s
[1].
Seperti diketahui, serat optik merupakan piranti yang sangat sensitif terhadap gangguan luar, misal
sedikit getaran. Getaran tersebut dapat mempengaruhi daya pada serat optik yang menyebabkan terjadinya rugi
daya. Rugi daya bisa didapatkan dengan beberapa cara misal dengan perhitungan menggunakan rumus yang
sudah tersedia dan dengan pengukuran menggunakan alat. Alat yang biasa digunakan untuk mengukur daya
serat optik adalah Optical Time Domain Reflectometer (OTDR). OTDR merupakan alat yang dapat mengukur
daya dan mendeteksi kerusakan yang terjadi pada serat optik. Selain OTDR, terdapat alat yang juga dapat
digunakan untuk mengukur daya pada serat optik yaitu Optical Spectrum Analyzer (OSA). OSA dapat
digunakan untuk mengukur daya dengan melihat grafik spektrum daya pada serat optik tersebut.
Pada penelitian ini perlu diperhatikan sprektrum daya dari serat optik yang digunakan. Selain itu, grafik
yang terbentuk pada OSA dapat menunjukkan gejala apa saja yang terjai pada serat optik moda tunggal yang
digunakan. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan pengukuran rugi daya yang terjadi pada serat optik
menggunakan Optical Spectrum Analyzer (OSA) dan kemudian dianalisa gejala-gejala apa saja yang terjadi jika
terdapat suatu perbedaan antara hasil dari setiap variasi.
Indah Ayu P, dkk. / Analisis Pengaruh Jari-Jari dan Jumlah Lilitan .... SFA 2013

250 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
2. DASAR TEORI
Serat optik merupakan salah satu pandu gelombang yang terbuat dari bahan yang tembus cahaya seperti
kaca dan plastik, meskipun kabel serat optik mempunyai panjang yang besar, cahaya masih dapat dipancarkan
dari ujung ke ujung lainnya. Ukuran Serat optik relative kecil dengan diameter kurang lebih 120m.

2.1 Susunan Dasar Serat Optik
Serat optik terdiri dari 3 bagian, yaitu cladding, core, dan coat seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.
Cladding adalah selubung dari core (inti). Cladding mempunyai indek bias lebih rendah dari pada core, oleh
karena itu cladding akan memantulkan kembali cahaya yang mengarah keluar dari core kembali kedalam core
lagi. Selain itu, cladding berfungsi juga untuk memperkecil rugi-rugi daya pada permukaan core akibat adanya
cahaya yang terpantulkan tadi. Fungsi core (inti) adalah sebagai penyalur gelombang cahaya. Bagian coat
(jaket) berfungsi sebagai pelindung mekanis dan juga sebagai tempat kode warna serat optik [2].
Gelombang yang melewati suatu medium akan memiliki lintasan optik tersendiri, begitu pula dengan
gelombang yang merambat melalui serat optik. Jika terdapat gelombang yang merambat melalui serat optik,
gelombang tersebut tidak langsung dilewatkan begitu saja tanpa hambatan. Hal tersebut dikarenakan struktur
dari serat optik yang mengakibatkan gelombang-gelombang tersebut dipantulkan dan dibiaskan. Tetapi karena
pada serat optik nilai indeks bias dari cladding lebih rendah dibandingkan nilai indeks bias core, maka terjadi
pemantulan sempurna. Gelombang bias tersebut dipantulkan kembali ke dalam core dari serat optik. Sehingga
meminimalisir rugi daya akibat pembiasan.

2.2 Serat Optik Moda Tunggal
Serat optik moda tunggal memiliki banyak arti dalam teknologi serat optik. Dilihat dari faktor properti
sistem transmisinya, serat optik moda tunggal adalah sebuah sistem transmisi data berwujud cahaya yang
didalamnya hanya terdapat satu buah indeks sinar tanpa yang merambat sepanjang media tersebut dibentang.
Serat optik moda tunggal dilihat dari segi strukturalnya merupakan teknologi serat optik yang bekerja
menggunakan inti (core) serat fiber yang berukuran sangat kecil yang diameternya berkisar 8 sampai 10
mikrometer. Dengan ukuran inti serat yang sedemikian kecil, sinar yang mampu dilewatkannya hanyalah satu
moda sinar saja. Sinar yang dapat dilewatkan hanyalah sinar dengan panjang gelombang 1300 atau 1550
nanometer.
Serat optik moda tunggal dapat membawa data dengan bandwidth yang lebih besar dibandingkan dengan
serat optik moda jamak, tetapi teknologi ini membutuhkan sumber cahaya dengan lebar spektral yang sangat
kecil pula dan ini berarti sebuah sistem yang mahal. Serat optik moda tunggal dapat membawa data dengan
lebih cepat dan 50 kali lebih jauh dibandingkan dengan multi mode. Tetapi harga yang harus dikeluarkan untuk
penggunaannya juga lebih besar. Core yang digunakan lebih kecil dari multi mode dengan demikian gangguan-
gangguan di dalamnya akibat distorsi dan overlapping pulsa sinar menjadi berkurang. Inilah yang menyebabkan
serat optik moda tunggal menjadi lebih reliabel, stabil, cepat, dan jauh jangkauannya.

Gambar. 1. Susunan serat optik

Indah Ayu P, dkk. / Analisis Pengaruh Jari-Jari dan Jumlah Lilitan .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 251
2.3 . Bending / pembengkokan
Bending merupakan pelemahan yang terjadi akibat perubahan struktur serat optik karena dibengkokkan
sehingga terjadi perubahan indeks bias dan sudut sinar datang cahaya yang mengenai cladding. Bending terdiri
atas microbending dan macrobending. Macrobending terjadi ketika cahaya melalui serat optik yang
dilengkungkan dengan diameter lebih lebar dibandingkan dengan radius diameter serat optik sehingga
menyebabkan loss. Pelemahan microbending terjadi karena ketidakrataan pada permukaan batas antara core
dengan cladding. Struktur serat optik yang menyebabkan pelemahan ditunjukkan pada Gambar 2. Sedangkan
untuk perbedaan antara radius pembengkokan dan radius serat optik ditunjukkan pada gambar 3 [3].
.
Sudut sinar datang yang lebih kecil daripada sudut kritis menyebabkan cahaya tidak dipantulkan
sempurna dan sebgaian dibiaskan. Sehingga mengakibatkan perubahan daya yang terpandu oleh serat optik.
Pelemahan akibat bending memiliki faktor yaitu faktor berkaitan dengan nilai pelemahan A serat optik
dan panjang serat optik L . Pelemahan mempengaruhi daya yang ditransmisikan serat optik T. Secara umum
hubungan pelemahan, transmisi dan faktor dinyatakan dengan :[4]

=


/ (1)
dengan
= Redaman sinyal / pelemahan gelombang (atenuasi)
P
out
= Daya output optik
P
in
= Daya input optik
L = Panjang serat optic
A = Nilai pelemahan

Mikrobending dapat juga disebabkan oleh pembengkokan kecil pada serat optik akibat ketidakseragaman
pembentukan serat atau akibat tekanan yang tidak seragam saat fabrikasi. Salah satu cara untuk menguranginya
adalah dengan menggunakan jaket yang tahan terhadap tekanan [5]. Rugi daya pelengkungan terjadi saat sinar
melalui serat optik yang dilengkungkan, dimana sudut datang lebih kecil dari pada sudut kritis sehingga sinar
tidak dipantulkan sempurna tapi dibiaskan.





Gambar 2 Faktor Atenuasi serat optik (a) makrobending
(b) mikrobending


Gambar 3 Radius (a) pembengkokan (b) serat optik

Indah Ayu P, dkk. / Analisis Pengaruh Jari-Jari dan Jumlah Lilitan .... SFA 2013

252 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
Lengkungan yang tidak tepat ini dapat dikenali selama proses instalasi. Secara empiris, rugi daya makro
dapat diekspresikan sebagai berikut. [6]


=10

( )


.................................................. (2)

dengan, : beda indeks bias core dan cladding
R : radius kelengkungan
a : radius inti serat optik
: 2 (parabolic profile)

3. METODOLOGI PENELITIAN
Peralatan yang dipakai dalam eksperimen ini adalah perangakat Optical Spectrum Analyzer (OSA), dan
software Inkscape. OSA merupakan alat yang dapat mengukur dan menggambarkan grafik daya dari serat optik
moda tunggal dengan variasi perlakuan tertentu. Dalam penelitian ini serat optik tersebut dililit dengan variasi
radius dan jumlah lilitan yang telah ditentukan. Grafik daya dari serat optik itu sendiri direpresentasikan dalam
bentuk intensitas yang digambarkan dalam bentuk menyerupai grafik gaussian. Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah serat optik moda tunggal tipe smf28 corning dan sebuah disket 3,5 inchi.

4. HASIL DAN DISKUSI
Pada penelitian ini dilakukan percobaan dengan menggunakan Optical Spectrum Analizer (OSA). OSA
merupakan sebuah alat yang dapat menampilkan intensitas sumber cahaya yang dilewatkan pada serat optik
dalam bentuk grafik Gaussian. Sumber cahaya yang digunakan merupakan infra merah yang berasal dari OSA
tersebut dengan range panjang gelombang 1500nm-1550nm. Sumber yang digunakan berasal dari OSA karena
pada OSA tersebut masih belum dilengkapi oleh socket yang mendukung sumber dari luar. Penelitian ini
dilakukan dengan cara menggulung serat optik dengan radius jari-jari lilitan tertentu dan jumlah lilitan tertentu.
Pada penelitian ini dilakukan pada radius 0,5cm hingga 4,5cm dengan variasi jumlah lilitan 1 hingga 5 lilitan.

Variasi radius yang dilakukan hanya 0,5cm hingga 4,5cm karena jika dilakukan pada radius dibawah
0,5cm, serat akan sulit untuk digulung karena jari-jari telalu kecil. Pada radius diatas 4,5cm; tidak terjadi
perubahan yang signifikan terhadap intensitas cahaya yang lewat pada serat optik sehingga pengukuran hanya
dilakukan hingga radius 4,5cm. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 4.1 dan 4.2. Gambar 4.1 merupakan
grafik intensitas pada serat optik dengan radius lingkaran 75cm, serat optik tersebut dibuat lingkaran yang besar.
Cahaya yang lewat diminimalisir agar pantulan yang terjadi tidak terlalu banyak sehingga dapat diasumsikan
kondisi tersebut hampir sama saat serat lurus. Setelah dilakukan pecobaan, didapatkan nilai penurunan daya
pada serat optik sebagai berikut.



Gambar 4. Skema Percobaan

Indah Ayu P, dkk. / Analisis Pengaruh Jari-Jari dan Jumlah Lilitan .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 253

Dari data pada Tabel 1 terlihat bahwa terjadi penurunan daya pada setiap penurunan radius. Penurunan
daya paling kecil terjadi dengan nilai 0,25W saat radius 4,5cm dan 3cm dengan jumlah lilitan 4. Hal ini terjadi
karena radius lilitan yang diberikan pada serat masih besar, sehingga rugi daya pada serat optik yang digunakan
relatif kecil. Penurunan daya yang relatif besar terjadi pada radius 0,75cm dan 1cm dengan nilai 48,25W;
63,1W; 66,5W; 71,36W; dan 70,35W berturut-turut untuk serat optik dengan jumlah lilitan 1; jumlah
lilitan 2; jumlah lilitan 3; jumlah lilitan 4; dan jumlah lilitan 5. Hal ini terjadi karena radius lilitan yang
diberikan pada serat optik semakin kecil dibandingkan dengan radius yang diberikan sebelumnya. Tanda negatif
W bukan berarti daya yang ditimulkan nagatif tetapi hal tersebut menunjukkan bahwa daya pada radius 1cm
lebih besar dibandingkan dengan daya pada radius 3cm. Sehingga didapatkan nilai W negatif karena nilai
tersebut merupakan hasil selisih daya. Agar penurunan daya dapat dilihat dengan jelas, maka dibuat grafik
gabungan dari grafik-grafik hasil pengukuran pada OSA untuk setiap radius dengan jumlah lilitan tertentu
seperti pada gambar 5.

Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat bahwa distribusi daya pada radius 75cm dan 4,5cm tidak terlalu
berbeda jauh kemudian terus menurun seiring mengecilnya radius lilitan. Tetapi penurunan tersebut tidak terjadi
pada radius 3cm dengan jumlah lilitan 1 dan 3. Radius tersebut memiliki daya yang lebih besar dibandingkan
dengan daya pada radius sebelumnya yang lebih besar.




Tabel 1.Penurunan Daya
Penurunan Daya = W (uW)
Range Radius
lilitan
1
lilitan
2
lilitan
3
lilitan
4
lilitan
5
0,5cm-0,75cm 44,17 22,80 15,50 8,64 7,65
0,75cm-1cm 48,25 63,1 66,5 71,36 70,35
1cm-3cm -14,4 3,7 -1,4 15,75 12,7
3cm-4,5cm 16,4 5,3 15,4 0,25 4,3

Gambar 5 Grafik gabungan penurunan daya pada setiap radius
dengan jumlah lilitan 1

Indah Ayu P, dkk. / Analisis Pengaruh Jari-Jari dan Jumlah Lilitan .... SFA 2013

254 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
5. SIMPULAN
Berdasarkan analisis data grafik hasil pengukuran daya menggunakan Optical Spectrum Analizer dengan
variasi radius lilitan dan banyak lilitan, didapatkan bahwa semakin kecil radius lilitan maka semakin besar rugi
daya yang terjadi dengan penurunan daya ( W) paling kecil sebesar 0,25W dan paling besar sebesar 70,35W.
Rugi daya yang terjadi pada serat optik tidak hanya terjadi akibat radius lilitan tetapi juga akibat banyaknya
lilitan yang diberikan. Semakin banyak lilitan maka semakin besar juga rugi daya yang terjadi akibat faktor
penjalaran cahaya pada serat optik moda tunggal.
6. DAFTAR ACUAN
1. Shizuo, Y. & Francis, T. S. Y., 2002. Fiber Optic Sensor . New York: Marsel Dekker.INC.
2. Akhiruddin Maddu dkk (2006) Pengembangan Probe Sensor Kelembapan Serat Optik dengan
Cladding Gelatin Volume 10.
3. Nugraha, A. R., 2006. Serat Optik. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET.
4. Ray, T.,(2002) Optoelectronics and Fiber Optic Technology Amsterdam: Plant A Tree ISBN
0750653701.
5. Michael, B., Eric, W. & Van , S., 2002. Fiber Device and Systems for Optical COmmunication.
New York: Mc-GRAW-HILL.
6. Brown, T., 2000. Optical Fiber and Fiber Optic Communications. In: Handbook of Optics.
s.l.:McGraw-Hill, pp. 144-147.






Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 255
PENGARUH VARIASI PENEMPATAN KUTUB MEDAN MAGNET
TERHADAP PENGURANGAN KADAR CaCO
3
DALAM AIR


Tr iswantoro Putro dan Endar ko

Fisika FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
tris@physics.its.ac.id




ABSTRAK
Penelitian tentang pengurangan kadar CaCO
3
dalam air dengan menggunakan variasi kutub
medan magnet telah dilakukan. Medan magnet berpengaruh langsung terhadap proses
pengurangan kadar CaCO
3
dalam air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kutub
medan magnet yang di letakkan secara seri pada larutan sampel dengan konsetrasi CaCO
3

dalam air 1040 gr/L menghasilkan prosentase pengurangan maksimum sebesar 30,55 % selama
80 menit, sedangkan untuk penempatan kutub magnet paralel menghasilkan pengurangan
maksimum sebesar 57,69 % selama 120 menit. pH dan konduktivitas larutan air sampel juga di
ukur dan didapatkan bahwa terjadi penurunan pH dan konduktivitas setelah air sampel diolah
selama 120 menit adalah berturut-turut sebesar 23,43% dan 69,23%.
Kata Kunci : Air Kapur, medan magnet, pH, konduktivitas.



1. PENDAHULUAN

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi setiap hari, baik untuk minum, mandi
ataupun mencuci. Ketersediaan air bersih untuk minum semakin hari semakin sedikit karena ekploitasi sumber
air yang berlebihan. Selain itu, ada beberapa daerah memiliki sumber air yang mengandung kadar kapur
(kalsium karbonat) cukup tinggi. Sehingga air tersebut tidak layak minum karena tingginya kadar kapur dalam
air jika diminum bisa mengendap dalam tubuh dan akan mengganggu kesehatan. Ada beberapa metode untuk
mengendapkan kapur dalam air. Salah satu metode tersebut adalah dengan menggunakan medan magnetik [1].

Medan magnet dapat membantu proses pengendapan air berkapur tanpa harus menggunakan campuran
bahan kimia sehingga air hasil olahan tidak terkontaminasi dengan bahan-bahan lain. Penelitian sebelumnya
yang telah dilakukan oleh Alimi fathi dkk menunjukkan bahwa medan magnet berpengaruh pada proses
presipitasi CaCO
3
. Hasilnya menunjukkan terjadi pengendapan sebesar 7 22 % dengan aliran air sebesar 0.54
L/menit dibandingkan dengan tanpa perlakuan medan magnet. Fathi menggunakan pengontrol pH sebagai salah
satu variable. pH yang di gunakan adalah 6, 7 dan 7.5 [1]. Penelitian lain yang dilakukan oleh Banejad [2] pada
tahun 2009 juga meneliti tentang pengaruh medan magnet terhadap presipitasi CaCO
3
. Variable yang diubah
dalam penelitian tersebut adalah besarnya aliran air dan besarnya medan magnet yang digunakan. Tetapi dalam
paper yang ditulis tidak menunjukkan berapa prosentase penurunan kadar kapur dalam air hanya menunjukkan
bahwa terjadi perunan kadar kapur dalam air atau tidak.

Makalah penelitin ini adalah fokus terhadap pengaruh variasi penempatan kutub medan magnet terhadap
jumlah prosentase pengurangan kadar CaCO
3
dalam air. Selain itu, perubahan pH dan konduktivitas dalam air
juga dilihat untuk mengetahui kualitas air hasil olahan.

Triswantoro Putro dan Endarko/Pengaruh Variasi Penempatan Kutub.... SFA 2013

256 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
2. DASAR TEORI

Batu kapur atau kalsium karbonat (CaCO
3
) merupakan bagian dari batuan sedimen, non- klastik yang
tebentuk dari proses kimia atau proses biologi. Batuan ini banyak mengandung kalsium karbonat, mempunyai
warna kuning, abu-abu kuning tua, abu-abu kebiruan, jingga dan hitam disebut juga batu gamping atau
limestone. Kalsium karbonat akan membentuk tiga macam Kristal dalam media air, yaitu kalsit, vaterit dan
aragonite dengan struktur Kristal berturut-turut rhombohedral, orthorombic, dan hexagonal. Terbentuknya
macam-macam bentuk Kristal ini dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu temperatur, pH larutan[3], derajat
saturasi [4], kecepatan aliran CO
2
bila menggunakan metode karbonasi, serta adanya bahan aditif .

Air sadah merupakan air yang terkontaminasi ion Ca
2+
, Mg
2+
, CO
3
2-
. Ion ion tersebut dikelilingi oleh
molekul air atau yang disebut dengan hydration shell seperti terlihat pada Gambar 1. Hydration shell ini adalah
sebuah lapisan yang menahan ion ion tersebut untuk membentuk sebuah molekul seperti CaCO
3
. Ikatan antara
molekul air dengan ion relatif lebih kuat jika dibandingkan dengan ikatan hydrogen antar molekul air sehingga
ion Ca
2+
sukar melepaskan diri dari lapisan tersebut. Tetapi ikatan antara molekul air dengan ion bisa terlepas
jika diberikan beberapa perlakuan antara lain agitasi mekanik, suhu, medan magnet, dan lain-lain. Perlakuan
tersebut dapat mengganggu hidrat ion sehingga akan terjadi tumbukan antar ion Ca
2+
dan ion CO
3
2-
membentuk
CaCO
3
[5].


Gambar 1. Orientasi molekul air terhadap ion Ca
2+
dan CO
3
2-

Sumber : http://bioap.wikispaces.com

Adanya ikatan antara ion dalam larutan dengan molekul air sangat berpengaruh pada proses presipitasi
CaCO
3
. Semakin kuat ikatan tersebut maka semakin susah untuk terjadi presipitasi. Pemberian perlakuan medan
magnet pada air sampel akan mengganggu ikatan tersebut. Akan terjadi gaya Lorentz jika sebuah ion (Ca
2+
atau
CO
3
2-
) dialirkan melewati sebuah medan magnet dengan arah kaidah tangan kanan dengan besar = ( ).
Efek gaya Lorentz ini diteliti oleh Gabrielli pada tahun 2001 dengan melakukan percobaan magnetisasi larutan
CaCO
3
dengan aliran sirkulasi. Setelah diamati konsentrasi ion Ca
2+
sebelum dan sesudah magnetisasi. Hasilnya
menunjukkan bahwa terjadi pengurangan kadar ion Ca dalam larutan [6]. Efek dari gaya Lorentz berfungsi
untuk memecah ikatan antara molekul air dengan ion sehingga memudahkan ion-ion berikatan. Sebuah simulasi
dilakukan oleh Kozic tentang efek gaya Lorentz. Hasil simulasi menunjukkan terjadi persegesar ion sebesar 0,2
10 nm dan pergeseran partikel 0,2 nm 2 m [7]. Besarnya pergeseran tersebut yang bisa menyebabkan
terganggunya hydration shell sehingga ion Ca
2+
dan CO
3
2-
dapat bertumbukan dan berikatan membentuk
CaCO
3
.


3. EKSPERIMEN

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan magnet sebesar 0.1 T yang
dihasilkan dari solenoid yang dialiri arus. Besarnya medan magnet tersebut hasil pengukuran dengan alat
pengukur medan magnet tipe U11300 merk 3B Net log produksi Jerman. Banyaknya lilitan solenoid yang
Ca
2+
CO
3
2
-
Triswantoro Putro dan Endarko/Pengaruh Variasi Penempatan Kutub.... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 257
digunakan adalah 1000 dengan tegangan dan arus yang dikonsumsi sebesar 12 V dan 1.8 A. Gambar 2 adalah
skematik peralatan yang digunakan dalam pengujian air sampel.

Proses perlakuan dilakukan dengan memasukkan sampel larutan CaCO
3
(1040 gr/L) kedalam tangki
penampungan kemudian di pompa melewati medan magnet dengan kecepatan aliran 375 mL/menit. Sirkulasi air
sampel dilakukan selama 2 jam dan pada waktu 10, 20, 30, 45, 60, 80, 100 dan 120 menit dilakukan
pengambilan sampel untuk dilakukan pengujian kadar kapurnya. Suhu larutan dianggap sama antara 28 29 C.
Pengujian dilakukan dengan metode titrasi kompleksiometri EDTA untuk mengetahui banyaknya pengendapan
yang terjadi. Pengukuran pH dan konduktivitas larutan sampel juga dilakukan dengan menggunakan alat ukur
Benchtop pH/ORP/Conductivity/TDS/Salinity Meter 86505.


Gambar 2. Set-up experimen untuk pengujian air sampel.


Variasi kutub medan magnet yang mengenai larutan sampel dilakukan untuk mengetaui pengaruhnya,
seperti terlihat pada Gambar 3.


(a) (b)
Gambar 3. Variasi penempatan medan magnet
(a) kutub magnet seri (b) kutub magnet paralel


4. HASIL DAN DISKUSI

Penelitian pengaruh medan magnet terhadap presipitasi CaCO
3
telah dilakukan. Medan magnet dibuat
dengan memanfaatkan solenoid dengan jumlah lilitan sebanyak1000. Lilitan di beri arus listrik sebesar 1.8 A
dan tegangan 12 V. Besar medan magnet yang dihasilkan setelah diukur dengan alat pengukur medan magnet
U11300 adalah 0.1 Tesla.

Gambar 4 menunjukkan pengaruh variasi kutub medan magnet terhadap prosentase presipitasi CaCO
3
.
Maksimum presipitasi yang terjadi setelah perlakuan kutub magnet seri (Gambar 3.a) adalah sebesar 30,55 %
sedangkan untuk perlakuan kutub magnet paralel (Gambar 3.b) adalah sebesar 57,69 %. Besarnya presipitasi
CaCO
3
sangat di pengeruhi oleh ikatan ion dengan molekul air. Pemberian medan magnet pada air sampel akan
mengganggu ikatan tersebut. Jika sebuah ion (Ca
2+
atau CO
3
2-
) melewati sebuah medan magnet makan akan
terjadi gaya Lorentz dengan arah kaidah tangan kanan dengan besar = ( ). Efek dari gaya Lorentz
inilah yang akan memecah ikatan antara molekul air dengan ion sehingga memudahkan ion-ion berikatan. Kozic
Pipa
u u
s s s
u
Pipa
u s
s u s
u
Tangki
penampung
Pompa
Pipa
u u
s s s
u
Triswantoro Putro dan Endarko/Pengaruh Variasi Penempatan Kutub.... SFA 2013

258 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
pada tahun 2003 melakukan sebuah simulasi tentang efek gaya Lorentz. Hasil simulasi menunjukkan terjadi
persegesar ion sebesar 0,2 10 nm dan pergeseran partikel 0,2 nm 2 m [7]. Besarnya pergeseran tersebut
yang bias menyebabkan terganggunya hydration shell sehingga ion Ca
2+
dan CO
3
2-
dapat bertumbukan dan
berikatan membentuk CaCO
3
.

Penggunaan medan magnet yang disusun paralel dapat meningkatkan efisiensi medan magnet yang
digunakan. Penelitian tersebut menunjukkan terjadi pengurangan jumlah ion Ca
2+
dalam larutan 23% jika
dibandingkan dengan magnet yang disusun seri [6]. Perbedaan prosentase pengurangan ketika diberi perlakuan
medan magnet seri dan paralel adalah karena penempatan medan magnet tersebut berpengaruh pada orientasi
ion ion terhadap kutub magnet. Perubahan orientasi arah medan magnet menyebabkan pergerakan ion
berosilasi mengikuti kutub magnet yang di berikan sehingga akan memberikan pengaruh lebih besar untuk
memperlemah interaksi hidrat ion. Sehingga memudahkan ion ion keluar dari ikatan molekul air dan saling
bertumbukan antar ion dan dapat membentuk persipitasi CaCO
3
.



Gambar 4. Prosentase pengurangan kadar kapur dalam air dengan variasi penempatan kutub medan magnet


Gambar 5. pH air sampel setelah pengolahan

pH air sampel di ukur dengan menggunakan alat AZ 86505. Dari hasil pengukuran (Gambar 5)
didapatkan bahwa terjadi penurunan pH untuk sampel setelah di olah dengan medan magnet sebesar 23,43%
untuk waktu pengolahan 120 menit. Penurunan pH ini diakibatkan berkurang nya ion ion Ca
2+
dan CO
3
2-
dalam larutanyang membentuk presipitasi CaCO
3
.
-60
-50
-40
-30
-20
-10
0
0 20 40 60 80 100 120
P
r
o
s
e
n
t
a
s
e

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

(
%
)
Waktu (menit)
Pengolahan Paralel Pengolahan Seri tanpa pengolahan
7
7.5
8
8.5
9
9.5
10
10.5
11
11.5
12
0 20 40 60 80 100 120
p
H
Waktu (menit)
Triswantoro Putro dan Endarko/Pengaruh Variasi Penempatan Kutub.... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 259


Gambar 6. Konduktivitas air sampel setelah pengolahan

Selain pH, dilakukan juga pengukuran terhadap konduktivitas air sampel yang telah diolah. Hasil
pengukuran (Gambar 6) menunjukkan bahwa terjadi penurunan konduktivitas larutan setelah diolah selama 120
menit dengan medan magnet sebesar 69,23%. Menurut Holysz tahun 2007 menyakatan penurunan konduktivitas
larutan disebabkan adanya pelemahan interaksi hidrat ion. Jika interaksi hidrat ion melemah maka terjadinya
nukleasi CaCO
3
akan lebih mudah [8].

5. SIMPULAN

Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa penempatan kutub magnet pada proses pengolahan air
kapur berpengaruh terhadap terbentuknya presipitasi CaCO
3
dengan prosentase pengurangan maksimum sebesar
30,55 % untuk medan magnet disusun seri dengan waktu pengolahan 80 menit sedangkan untuk perlakuan
kutub magnet paralel menghasilkan pengendapan maksimum adalah sebesar 57,69 % dalam waktu 120 menit.
pH dan konduktivitas larutan juga mengalami penurunan sebesar 69,23% untuk konduktivitas dan 23,43% untuk
pH dengan waktu pengolahan 120 menit.


6. DAFTAR ACUAN
1. Fathi A, Mohamed T, Claude G, Maurin G, Mohamed BA (2006) Effect of a magnetic water treatment
on homogeneous and heterogeneous precipitation of calcium carbonate. Water Research 40(10):1941-
1950
2. Banejad H, Abdosalehi E (2009) THE EFFECT OF MAGNETIC FIELD ON WATER HARDNESS
REDUCING. Thirteenth International Water Technology Conference, IWTC 13 2009, Hurghada,
Egypt
3. Chen P-C, Tai CY, Lee KC (1997) Morphology and Growth Rate of Calcium Carbonate Crystals in a
Gas-Liquid-Solid Reactive Crystallizer. Chemical Engineering Science 2, No. 21-22:4171-4177
4. Fairchild GH, Thatcher RL (2000) Acicular Calcite and Aragonite Calcium Carbonate. US Patent 6,
022:517
5. Saksono N, Wijaya A, Budikania T (2010) Pengaruh Medan Elektromagnet Terhadap Presipitasi
CaCO3. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan G03-1 - G03-6
6. Gabrielli C, Jaouhari R, Maurin G, Keddam M (2001) Magnetic water treatment for scale prevention.
Water Research 35(13):3249-3259
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
0 20 40 60 80 100 120
C
o
n
d
u
c
t
i
v
i
t
y

(

s
)
Waktu (menit)
Triswantoro Putro dan Endarko/Pengaruh Variasi Penempatan Kutub.... SFA 2013

260 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
7. Kozic V, Lipus LC (2003) Magnetic Water Treatment for a Less Tenacious Scale. Journal of Chemical
Information and Computer Sciences 43(6):1815-1819 doi:10.1021/ci0102719
8. Holysz L, Szczes A, Chibowski E (2007) Effects of a static magnetic field on water and electrolyte
solutions. Journal of Colloid and Interface Science 316(2):996-1002 doi:http://dx.doi.org
/10.1016/j.jcis.2007 .08.026














Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 261
KARAKTERISTIK AKUSTIK GAMELAN JAWA
STUDI KASUS GAMELAN MILIK PSTK ITB

Suyatno
1,2
, Har ijono A. Tjokr onegoro
2
, IGN. Mer thayasa
2,
, R. Supanggah
3

1)
JurusanFisika FMIPA ITS
2)
DepartemenTeknik Fisika FTI ITB
3)
Jurusan Karawitan ISI Surakarta
Email: kangyatno@physics.its.ac.id

Abstrak

Dalam paper ini akan bahas tentang karakteristik akustik instrumenGamelan Jawa. Sebagai
sumber bunyi yang dimainkan dengan dipukul (perkusi), karakteristik kekerasan (level)
instrumenGamelan Jawa (mendekati respons impuls)akanberbeda sesuai dengan kekerasan
gaya yang digunakan untuk memukulnya.Melalui pengukuran responimpuls instrumen
Gamelan Jawa diperoleh karakteristik akustik yang objektif dan dapat di-kuantifikasi menjadi
komponen spectral, temporal dan spatial.Secara keseluruhan karakteristik Gamelan Jawa
adalah unik ditinjau dari frekuensi dasar (fundamental), timbre, level serta sound
envelope.Karakteristik yang dimiliki oleh Gamelan Jawa secara umum berbeda antara satu dan
yang lainnya. Untuk notasi dan jenis yang sama, Gamelan Jawa memiliki timbre yang berbeda.
Hal ini diakibatkan oleh kondisi fisik dan proses pembuatannya. Nilai kekerasan (level) bunyi
yang dihasilkan oleh Gamelan Jawa tergantung pada gayaserta garap pada permainan. Nilai
karakteristik level yang dihasilkan oleh instrumen Gamelan pada permainnan tertentu bisa
mencapai 105 dB.Karakteristik frekuensi Gamelan Jawa milik PSTK ITB,hasil pengukuran di
ruang secretariat PSTK ITB berada pada rentang 50 Hz sampai 2550 Hz dan cenderung
memiliki harmonisa frekuensi yang tidak tepat n kali frekuensi dasar atau fundamental (nxf
o
).
Sementara nilai sounds envelope dari Gamelan Jawa bervariasi dengan rentang antara 0,57 s
sampai 10,07 s tergantung pada jenis Gamelan dan kekerasan gaya pada saat memainkan.
Karakteristik akustik tersebut bisa berbeda untuk jenis ensembles Gamelan Jawa, namun secara
garis besar mendekati sama.

Kata kunci: Gamelan Jawa, respon impuls, karakteristik akustik, Level, frekuensi
fundamental, timbre, sounds envelope.


1. PENDAHULUAN

Karakteristik Gamelan Jawa yang unik dimulai dari proses pembuatan hingga sistem penalaan.
Akibatnya, setiap individu Gamelan (instrumen) mempunyai karakteristik akustik yang berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Bahkan Gamelan yang berasal dari pembuatan yang samapun dapat berbeda. Proses
penalaan yang dilakukan oleh ahli umumnya bersifat subjektif dan berdasarkan kondisi fisik dan psikologis
ahli (empu)-nya. Kondisi subjektif ini menyebabkan tidak semua orang bisa melakukannya sehingga regenerasi
terhadap ahli penalaan menjadi lambat. Proses penalaan yang baik akan membuat kualitas suara yang
dihasilkan menjadi baik meskipun tidak ada standar baku tentang sistem penalaan tersebut.

Belum adanya karakteristik akustik kuantitatif Gamelan Jawa yang diperoleh menggunakan alat ukur dan
berdasarkan kaidah pengukuran menyebabkan kualitas suara hanya ditentukan secara subjektif para pemain atau
penikmat Gamelan Jawaitu sendiri.

Dalam pengidentifikasian karakteristik tersebut, salah satu cara yang digunakan adalah menentukan
karakteristik spektral, spatial, dan temporal dari instrumen Gamelan Jawa. Karakteristik-karakteristik tersebut
ditentukan dengan cara mengetahui komponen frekuensi fundamental, timbre, arah suara, dan sound envelope
dari alat musik Gamelan Jawa.
Suyatno, dkk. / Karakteristik Akustik Gamelan Jawa .... SFA 2013

262 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
2. DASAR TEORI

Sebuah pagelaran Gamelan Jawa bukan saja untuk dapat dinikmati keindahannya tetapi juga agar dapat
menyampaikan pesan seni yang terkandung di dalam karya seni di balik pagelarannya. Untuk mendapatkan
kualitas sebuah pegelaran, terdapat sejumah parameter amat penting yang terbagi menjadi faktor objektif
(terukur) dan faktor subjektif (tak terukur).

a. Par ameter objektif

Untuk menilai sebuah pagelaran perlu kiranya dicari nilai-nilai yang terukur (kuantitatif). Faktor objektif
didasarkan pada nilai kuantitatif yang diberikan oleh suatu alat ukur mengikuti kaidah-kaidah pengukuran yang
ditentukan [1], seperti:
1. Tingkat Kekerasan bunyi (Listening Level, LL) dalam dBA
Yang dimaksud tingkat kekerasan bunyi dalam pagelaran Gamelan adalah kuat lemahnya bunyi yang
dihasilkan oleh instrumenGamelan baik secara tunggal maupun gabungan.
2. Waktu tunda pantulan awal (t
1
) dalam ms
Waktu tunda pantulan awal (t
1
) adalah waktu tunda yang terjadi antara suara langsung dan suara
pantulan. Dari nilai t
1
ini dapat diketahui keluasan medan bunyi dalam ruang (seberapa jauh jangkauan
bunyi atau coverage area).
3. Waktu dengungsub-sekuen (T
sub
) dalam detik.
Waktu dengung sub-sekuen menyatakan waktu dengung efektif untuk medan suara dalam suatu ruang.
Waktu dengung sendiri menggambarkan respon impuls ruang yang berkaitan dengan lamanya bunyi untuk
hidup dalam ruang. Untuk instrumen tunggal, karakteristik ini berhubungan dengan sounds envelope.
4. Korelasi sinyal antar kedua telinga (inter-aural cross correlation, IACC )
IACC merupakan besaran korelasi silang dari respon akustik yang diterima telinga kiri dan kanan. IACC
juga dapat menggambarkan keterarahan sebuah sumber bunyi.

Dari ke-empat parameter tersebut parameter 1,2 dan 3 adalah parameter temporal/spectral yang berdimensi
waktu/frekuensi. Sementara parameter ke-4 merupakan parameter spatialyang berdimensi ruang (dipengaruhi
oleh ruang).

b. Parameter subjektif
Faktor subjektif merupakan besaranyang relatif, bersifat subjektif, yang didasarkan pada selera serta latar
belakan budaya dari pendengar atau sering disebut subjective judgement. Meskipun bersifat subjektif, namun
besaran-besaran ini dapat juga dinyatakan secara kuantitatif berbasis kepada komponen atau kombinasi
komponen-komponen parameter utama medan suara (terutama sekali berbasis kepada respon impuls antara
sumber dan penerima). Secara umum (secara teknis), faktor subjektifitas sebuah pagelaran musik (musik barat)
dapat berupa [2]:
1.Clarity (Kejelasan bunyi)
2.Loudness (kekerasan bunyi)
3.Intimacy (kedekatan dengan sumber)
4.Timbre (kandungan frekuensi)
5.Tempo (cepat lambatnya irama musik yang dimainkan), dll.


c. Karakteristik akustikGamelan Jawa
Karakteristik akustikGamelan Jawa merupakan sifat fisis yang dimiliki oleh instrumen Gamelan yang mampu
mempengaruhi (membentuk) suatu karakter permainan Gamelan Jawa, sedangkan karakter Gamelan Jawa
diartikan sebagai kesan yang muncul dari sebuah instrumenGamelan Jawa. dalam sebuah permainan seperti
lembut, gagah dan dinamis, Karakter Gamelan Jawa merupakan kombinasi dari karakteristik akustik Gamelan
Suyatno, dkk. / Karakteristik Akustik Gamelan Jawa .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 263
Jawa serta unsur akustik ruang. Secara garis besar karaketristik akustik instrumen Gamelan Jawa antara lain
adalah :

a. Frekuensifundamental
Frekuensi adalah jumlah getaran yang terjadi dalam satu detik. Namun frekuensi yang dihasilkan memiliki
frekuensi harmonisa serta overtone yang berbeda-beda.

b. Timbre
Timbre diartikan sebagai warna suara yang dihasilkan oleh sebuah alat musik. Akibat dari timbre maka
telinga manusia mampu membedakan suara yang dihasilkan oleh alat musik meskipun dengan frekuensi
fundamental (f
o
) yang mendekati sama. Timbre terjadi karena pada alat musik akan menghasilkan pula
frekuensi harmonisa yang besarnya nxf
o
atauf
o
, 2f
o
, 3f
o
, 4f
o
, dst. Besarnya frekuensi harmonisa pada
Gamelan Jawa tidak tepat nxf
o
. Nilai ini sering disebut sebagai over tone yang akhirnya menyebabkan
keunikan dari suara yang dihasilkan oleh Gamelan Jawa [3].Gambar 1.menunjukkan komponen timbre dari
sebuah instrumen.



Gambar 1.Komponen timbre instrumen.

c. Tempo
Tempo diartikan sebagai kecepatan atau laju irama dalam memainkan alat musik yang menentukan
keserasian nada yang dihasilkan. Di dalam Gamelan Jawa, ukuran dari tempo ditentukan antara lain oleh
jenis lagu, garap, jumlah ansamble serta laras.

d. Kekerasan (level)
Besarnya energi yang mampu dibangkitkan oleh instrumen Gamelan melalui nada-nada yang dihasilkan,
biasanya identik dengan kekerasan atau level suara. Keras lemahnya level yang dihasilkan tergantung pada
jenis dan kuatnya gaya yang digunakan untuk memukul (memainkan). Dinamika permainan Gamelan yang
berbeda juga akan menghasilkan level suara yang berbeda pula. Hal ini tergantung pada garap serta
gending yang dimainkan.

e. Keterarahan (directivity)
Keterarahan merupakan respon yang dihasilka oleh sumber bunyi untuk bisa merambat mengikuti arah
perambatan tertentu. Nilai keterarahan suara merupakan perbandingan antara level yang terjadi pada sudut
tertentu dengan level pada sudut referensi (0
o
). Secara garis besar, keterahan (direktifitas) Gamelan Jawa
merupakan omnidirectional yang artinya akan merambat dalam segala arah dengan energi yang mendekati
sama [4].

f. Soundenvelope
Sound envelope menyatakan karakter dinamik dari suara yang dihasilkan oleh sumber bunyi. Karakter ini
menyebabkan lamanya bunyi yang dihasilkan hidup (reverb). Gambar 2. menggambarkan proses
terjadinya sound envelope yang merupakan kombinasi dari attack, decay, sustain dan release. Sound
envelope terjadi karena alat musik menghasilkan variansi kekerasan (amplitude) seiring perubahan waktu.
Waktu yang diperlukan sebuah sumber bunyi mulai dari mulai dimainkan sampai energi bunyi tersebut
habis disebut sebagai waktu sounds envelope.

Suyatno, dkk. / Karakteristik Akustik Gamelan Jawa .... SFA 2013

264 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773

Gambar 2.Komponen pembentuk sound envelope


3. METODOLOGI PENELITIAN

Proses penalaan yang masih tradisional (menggunakan kepekaan telinga dan perasaan) berakibat pada
ketergantungan pada kondisi fisik dari penala. Namun kondisi ini menyebabkan karakter akustik Gamelan yang
unik dan tidak pernah ada yang sama antara ricikan yang satu dengan yang lainnya, meskipun jenis dan
notasinya sama, bahkan dari tempat pembuatan yang sama (penala yang sama). Proses karaketisasi Gamelan
Jawa dimaksudkan utuk mengetahui karakteristik akustik dari Gamelan Jawa (meski berbeda untuk jenis
instrumen yang lain) menggunakan alat ukur sesuai kaidah-kaidah pengukuran. Pada pengukuran karakteristik
Gamelan Jawa, mikropon sebagai sensor diletakkan pada posisi 1 m di atas instrumen. Hal ini dimaksudkan
untuk mendapatkan medan bunyi murni (original) serta sesuai dengan karakteristik terbaik mikropon. Gambar
5. menunjukkan skema pengukuran yang dilakukan untuk mendapatkan karakteristik tersebut.



Gambar 3. Set-up pengukuran karakteristik Gamelan

Pengukuran karaketristik akustik Gamelan Jawa dilakukan di ruang dengan noise sekecil mungkin (ruang
anechoic). Data perekaman (recording) yang diperoleh kemudian dilakukan ekstraksi menggunakan Sound
analyzer untuk mendapatkan parameter akustik dari karakteristik Gamelan Jawa diantaranya adalah
ListeningLevel, frekuensi fundamental, harmonic content, timbreserta Soundenvelope.

4. HASIL DAN DISKUSI
Dengan mendasarkan pada ekstraksi data audio hasil perekaman dengan menggunakan sound analyzers,
maka diperoleh parameter akustik yang menggambarkan karakteristik akustik Gamelan Jawa.


4.1 Keker asan (ListeningLevel)
Karakteristik Gamelan Jawa yang dalam permainannya dilakukan dengan jumlah instrumen yang bisa
mencapai 75 instrumen berakibat pada kekerasan (level suara ) yang berbeda-beda. Posisi instrumen di
Suyatno, dkk. / Karakteristik Akustik Gamelan Jawa .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 265
panggung juga akan menyebabkan level suara berbeda pada setiap posisi pendengar terutama bagi pemain.
Sebagai contoh adalah pada permainan garap gambyong pare anom, sumber bunyi (Gamelan) akan
menghasilkan level di panggung sebesar 75 97 dB,pada permainan garap tententu nilai Level dapat
mencapai 105 dB. Nilai ini cukup keras untuk sampai pada pendengar yang berada pada ruang (sebagai
penonton). Sementara untuk pemain, nilai ini merupakan stimulus untuk melakukan permainan (sarana
komunikasi) [5]. Berdasarkan nilai level yang dihasilkan tersebut maka penambahan sistem tata suara
elektronik pada pagelaran Gamelan Jawa cenderung tidak diperlukan.

4.2 Fr ekuensi

Frekuensi diartikan sebagai jumlah osilasi (getaran) yang terjadi setiap detik. Frekuensi merupakan
komponen yang penting dalam instrumen, terutama yang hubungannya dengan batas pendengaran
manusia.Secara teori batas pendengaran manusia pada rentang 20 Hz sampai dengan 20 kHz. Sebagai
contoh hasil pengukuran karakteristik Gamelan Jawa yang ada di PSTK (Perkumpulan Seni Tari dan
Karawitan Jawa) ITB memiliki karakteristik frekuensi antara 60 Hz sampai 2550 Hz. Nilai frekuensi yang
diperoleh merupakan frekuensi dasar (fundamental) yang dibangkitkan. Setiap Gamelan Jawa memiliki
nilai frekuensi fundamental yang tidak persis sama meskipun jenis ricikan dan notasi yang sama. Table
1.dan Tabel 2. menunjukkan nilai frekuensi hasil pengukuran Gamelan Jawa yang ada di PSTK ITB.

Table 1. Karakteristik akustik frekuensi instrumen GamelanJawalaras Slendro













Table 2. Karakteristik akustik frekuensi instrumen GamelanJawalaras pelog.












Berdasarkan Table 1 dan Tabel 2.diatas terlihat bahwa harmonic content yang diimiliki oleh Gamelan Jawa
tidak sama dengan nxf. Sebagai contoh adalah pada saron dimana untuk nada dengan notasi 1 memiliki
frekuensi dasar adalah 538 Hz sementara untuk nada(1 oktaf diatasnya) memiliki frekuensi dasar 1084 Hz.
Nilai ini juga terlihat pada notasi yang sama namun untuk jenis ricikan yang berbeda serta pada ensemble yang
berbeda pula. Tabel 3. menunjukkan contoh adalah nilai frekuensi antara demung dengan bonang.
Notasi (Nada) 6 1 2 3 5 6 1 2 3 5 6 1 2 3 5 6 1
Ricikan
Saron peking 928 1073 1246 1418 1639 1854 2167
Saron 465 535 621 707 810 928 1084 1246
Demung 271 309 352 405 465 541
Bonang barung 271 320 357 406 465 546 621 702 815 934 1078
Bonang Penerus 538 632 707 815 928 1084 1246 1418 1644 1829 2550
Gambang pl br 153 164 174 218 228 309 325 379 438 471 600 648 697 869 939 1127
Gender penerus 121 153 164 174 223 234 301 325 347 438 465 605 634 697
Slenthem 121 137 158 180 201 234 271
Kempyang 1084
Kethuk 314
Kenong 309 352 406 465 541
Kempul 137 158 180 201 228
Gong suwukan 137 158
Gong ageng 49
Frekuensi (Hz)
Notasi (Nada) 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
Ricikan
Saron peking 1208 1300 1391 1639 1757 1854 2059
Saron 605 643 697 810 874 928 1036
Bonang Penerus 605 648 697 810 874 928 1036 1208 1391 1396 1655 1752 1886 2075
Bonang barung 304 325 352 411 438 465 514 605 643 697 815 880 928 1036
Demung 304 325 347 406 438 465 514
Kenong 223 325 347 406 444 471 514 600 648
Slenthem 153 164 174 201 223 234 255
Kempul 153 164 88 218 131
Kempyang 858
Kethuk 239
Gong suwukan 83
Gong ageng 60
Frekuensi (Hz)
Suyatno, dkk. / Karakteristik Akustik Gamelan Jawa .... SFA 2013

266 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773



Tabel 3.Nilai frekuensi Demung dan Bonang.

Notasi 1 2 3 5 6 1
Demung 271 309 352 405 465 541
Bonang 271 320 357 406 465 546
4.3 Timbr e
Berdasarkan hasil perekaman dan ekstraksi parameter akustik diperoleh diagram timbre pada Demung laras
slendro notasi 1 (a) dan gong Ageng (b) seperti tampak pada Gambar 4. Gambar 4 (a). menunjukkan nilai
frekuensi fundamental dari demung notasi 1 adalah 271 Hz, namun terdapat frekuensi lain yang nilainya
lebih besar dan juga lebih kecil dari 271 Hz. Begitu juga pada Gambar 4 (b) yang menggambarkan
karakteristik timbre dari Gong Ageng























Gambar 4. Spektral / timbre untuk (a) Demung laras slendro notasi 1, (b) Gong Ageng

Nilai frekuensi selain frekuensi fundamental ini menyebabkan timbre (warna bunyi) yang dimiliki oleh
instrumen Gamelan Jawa. Kondisi yang sama juga terjadi pada nada-nada yang lain.

4.4 Soundenvelope

Gamelan Jawa sebagai sumber bunyi yang dimainkan dengan cara dipukul berakibat pada bunyi yang
dihasilkan merupakan mendekati impulse. Sebagai sumber bunyi yang mendekati impulse, maka instrumen
Gamelan Jawa akan memiliki waktu sustain yang sangat kecil. Sehingga bunyi akan langsung meluruh
(release). Lamanya waktu release untuk Gamelan Jawa tergantung jenis ricikan (instrumen) Gamelan.
Gambar 5. menunjukkan diagram Sound envelope dari Demung laras slendro notasi 1 sebesar 3,80 s.

(a)
(b)
Suyatno, dkk. / Karakteristik Akustik Gamelan Jawa .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 267

Gambar 5.Sounds envelope untuk instrumen Demung notasi 1.

Nilai sound envelope Gamelan Jawa dipengaruhi oleh gaya pukulan yang diberikan, hal ini berpengaruh pada
level (power) yang dihasilkan oleh jenis instrumen, dan kondisi fisik (jenis material, rongga resonansi). Akibat
adannya nilai sound envelope yang berbeda dari instrumen Gamelan Jawa berakibat pada permainan garap
tertentu sehingga perlu dilakukan pemegangan setelah dipukul (pethet) agar dengung (reverb) yang dihasilkan
tidak menyebabkan masking (penutupan) terhadap nada yang lain. Sebagai contoh nilai sounds envelope untuk
gong Ageng sebesar 10,07 s, nilai ini akan mengganggu nada lain jika pada permainan garap yang memiliki
tempo cepat, sehingga perlu dilakukan penghentian dengan dipegang setiap kali setelah dipukul.

Proses karakterisasi Gamelan Jawa yang didasarkan pada subjektifitas Empu (seorang yang ahli)
membuat karakterstik akustik Gamelan Jawa bervariasi (tidak ada yang sama). Namun kondisi karakteristik
akustik tersebut (Level, frekuensi fundamental, timbre dan sound envelope) mampu menunjukkan karakteristik
unik Gamelan Jawa yang mampu membingkai serta membentuk komposisi musik yang unik dan berbeda
dengan musik modern (barat).


5. SIMPULAN
Nilai frekuensi fundamental yang dimiliki oleh Gamelan Jawa cenderung tidak sama untuk notasi yang
sama, sementara nilai frekuensi harmonik juga tidak tepat pada nxf, hal ini menyebabkan panjangnya reverb
(sound envelope) dan timbre Gamelan Jawa yang berbeda-beda, akibatnya membuat mampu saling menguatkan
dan menghadirkan roh (jiwa) dari pagelaran Gamelan Jawa. Nilai karakteristik akustik Gamelan jawa hasil
pengukuran pada Gamelan di PSTK ITB diperoleh frekuensi berada pada rentang 60 Hz 2550 Hz, sound
envelope untuk Gamelan Jawa berada pada kisaran 0,5 s sampai 10.07 s. Nilai ini bisa berbeda untuk jenis
Gamelan Jawa yang lain (selain di PSTK ITB).

6. DAFTAR ACUAN
1. Baranek, Concert Hall Akustiks-2008, Journal Audio Eng. Soc., Vol. 56, No. 7/8, 2008.
2. Suyatno, Harijono A. T., IGN. Merthayasa, Pengaruh Tata Letak Instrumen Gamelan Jawa Di
Panggung Terhadap Parameter Akustik Bagi Pengendang, submit KIM LIPI, 2013
3. IGN. Merthayasa and B. Pratomo, The Temporal and Spectral characteristics of Gamelan Sunda
Musik, Euro noise Forum, Paris, 2008
4. Y. Ando, Architectural Acousticss, Springer, Japan, 1998
5. W. A. Sethares, Tuning, Timbre, Spectrum, Scale, 2
nd
, Springer, 2004
6. F. Okdinursa, Pengukuran Dan Analisis Karakteristik Akustik Alat Musik Gamelan Jawa, ITB, Un-
Publish
7. R. Supanggah, Bothekan - Garap Karawitan, ISI Pers Surakarta, 2011.
Suyatno, dkk. / Karakteristik Akustik Gamelan Jawa .... SFA 2013

268 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
8. Bram palgunadi, Serat Kandha Seni Karawitan Jawa, ITB, 2002
9. Iwan Budi Santosa, Perekaman Gamelan Jawa dengan Teknik Stereofonik, Tesis Magister, ISI
Surakarta, 2010.















Seminar Fisika dan Aplikasinya 2013
ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 269
PEMBUATAN MAGNETOMETER
UNTUK MENENTUKAN KARAKTERISTIK BAHAN
SUPERKONDUKTOR

Bachtera Indarto , Melania S M , Darminto

Jurusan Fisika FMIPA-ITS
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111

ABSTRAK
Dibuat sebuah magnetometer untuk menentukan karakteristik magnetik bahan
superkonduktor. Magnetometer yang dibuat terdiri dari pembangkit intensitas medan
magnet H dan pengukur induksi medan magnet B. Pembangkit intensitas medan magnet
H solenoida inti udara. Sumber arus untuk arus pembangkit berkemampuan 0-12500 mA
Pengukur induksi medan magnet B menggunakan sensor elemen Hall dengan
kemampuan ukur maksimum (25 t 0,1) Gauss. Kalibrasi menggunakan data karakteristik
sensor Hall A-1302. Hasil pengukuran untuk 3 jenis bahan adalah Tc Bi-2212 = [ (84
85 ) t 1 ] K, Tc (Bi,Pb) 2212 = [ (78 79 ) t 1 ] K


1. PENDAHULUAN
Magnetometer terdiri dari dua bagian yaitu pembangkit intensitas medan H, dan pengukur induksi medan B.
Pembangkit intensitas medan magnet H adalah solenoida yang dialiri arus [1], dari sebuah sumber arus [2].
Besar dan pola intensitas medan magnet H diatur komputer dengan memberikan data digital yang dikonversi
menjadi data analog oleh DAC (Digital to Analog Converter) [3].

Pengukur besar induksi medan magnet B menggunakan elemen Hall [4]. Keluaran elemen Hall berorde mV
diperkuat menggunakan penguat instrumentasi [5]. Keluaran penguat instrumentasi yang berupa besaran
analog diubah mejadi besaran digital oleh ADC (Analog to Digital Converter) untuk diolah komputer [3].
Bahan superkonduktor, pada kondisi superkonduktivitas bersifat diamagnetik. Pengukuran sifat magnetik saat
kondisi superkondukivitas memberikan informasi besarnya Tc

Perangkat lunak komputer mengolah data intensitas medan magnet H dan induksi medan magnet B
menjadi kurva karakteristik B - H yang memberikan karakteristik bahan yang diuji [6]. Besaran magnet yang
akan diukur adalah besaran skalar maka yang dibuat adalah scalar magnetometer, sedangkan yang
diamati adalah bahan superkonduktor. Maka dari itu batasan masalahnya adalah :

a. Pengamatan bahan superkonduktor:
Pembangkit magnet berupa solenoida dengan aliran arus yang menghasilkan intensitas
magnet 0 - 3.000 A/m.
Pengukur medan magnet menggunakan transduser elemen Hall dengan kemampuan ukur 30
Gauss dengan ketelitian 0,1 Gauss
Sistem pendingin menggunakan nitrogen cair sebagai pendingin

b. Komputer digunakan untuk :
v Mengatur variasi pembangkitan medan magnet
v Merekam hasil pengukuran


Bachtera I., dkk./ Pembuatan Magnetometer .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 270
2. Tinjauan Pustaka
2.1 Pembangkit Medan Magnet H
2.1.1 Sumber Ar us
Sumber arus adalah alat yang dapat mengalirkan / memberikan arus tanpa terpengaruh oleh besarnya beban
yang dipasang [7]. Sebuah sumber arus dapat dibuat dengan konfigurasi op-amp dan transistor dengan beban
ditanahkan seperti Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Rangkaian dasar sumber arus [7].

Pada Gambar 2.1 kedua masukan op-amp dalam keadaan terhubung singkat semu sehingga kedua masukan
mempunyai teganganyang sama. Akibatnya tegangan pada R1 sama dengan Vi , sehingga arus yang mengalir di
R1 adalah :

,
_

1
R
V
I
i ( 2.1 )
Variasi arus I diatur dengan mengatur besarnya Vi sehingga arus yang juga mengalir di R
2
(beban) dapat dibuat
bervariasi.



2.1.2 Solenoida Pembangkit Medan Magnet H
Pembangkit magnet H yang sering digunakan adalah solenoida yaitu kawat lingkaran ditumpuk sehingga
berbentuk silinder seperti Gambar 2.2 [6].

Gambar 2.2 Solenoida pembangkit medan magnet H
Besar medan magnet H di titik tengah kedua solenoida adalah
] }
) ( 2
{ [ 2 ) (
1 1
^
2 / 3 2 2
2
0

M
J
N
i
J
J i
i
r
r a
la
z B

(2.2 )

Distribusi induksi medan magnet B untuk solenoida dengan jari-jari a dan panjang solenoida L = 4 a
seperti pada Gambar 2.3.
Bachtera I., dkk./ Pembuatan Magnetometer .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 271

Gambar 2.3 Pola distribusi induksi medan magnet dalam solenoid

Pada Gambar 2.3 tampak bahwa induksi maksimum di bagian tengah solenoida pada jarak 2a dari tepi
solenoida dan besarnya mendekati nI = NI/L.

2.2 Pengukur Induksi Medan B
2.2.1 Elemen Hall
Elemen Hall adalah keping bahan semi konduktor untuk mengkon versi medan magnet ke tegangan berda
sarkan fenomena efek Hall. Ada 2 jenis bahan semikonduktor yang digunakan yaitu tipe n dan p. Masing
masing tipe berinteraksi dengan medan magnet seperti yang pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Elemen Hall semikonduktor tipe n dan p dalam medan magnet

Pada Gambar 2.4, aliran arus searah sumbu x positif dan medan magnet searah sumbu z positif. Untuk semi
konduktor tipe n, pengaruh gaya Lorentz menyebabkan sisi sumbu y negatif berpolaritas negatif dan sisi sumbu
y positif berpolaritas positif. Hal yang sebaliknya terjadi pada semikonduktor tipe p.


2.2.2 Pengkondisi Sinyal
Pengkondisi sinyal yang diguna kan adalah penguat instrumentasi yang merupakan penguat diferensial
dengan CMMR tinggi, untuk menjamin tegang an keluaran penguat hanya bergantung pada perbedaan
sinyal masukan [8]. Konfigurasi penguat instrumentasi yang umum digunakan seperti Gambar 2.9.

Gambar 2.5. Rangkaian Penguat Instrumentasi

,
_

,
_

+
+
4
6
2
3 1
1
R
R
R
R R
m A
V
(2.8)

Tegangan keluaran penguat instrumentasi adalah :

( )
2 1
E E m V
OUT
(2.9)


Bachtera I., dkk./ Pembuatan Magnetometer .... SFA 2013

272 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
2.3 Komputer untuk Pengatur dan Sebagai Pengolah Data
Perangkat lunak komputer mengatur intensitas medan magnet H dengan mengatur sumber arus. Penga turan
dilakukan dengan melalui DAC . Tegangan keluaran dari elemen Hall dan sensor temperatur berupa tegangan
analog. diubah menjadi besaran digital ADC untuk disimpan dan diolah oleh komputer


2.4 Kar akter isasi dan Kalibr asi
Karakterisasi dan kalibrasi dilakukan untuk setiap bagian magnetometer. Pada bagian pembangkit H
dilakukan untuk catu daya, sumber arus dan solenoida pembangkit magnet. Bagian pengukur induksi,
karakterisasi dan kalibrasi dilakukan untuk transduser efek Hall, penguat instrumentasi dan gabungan
keduanya. Karakterisasi dan kalibrasi magnetometer menggunakan 2 cara, yaitui menggunakan Gaussmeter dan
menggunakan bahan magnet uji yang sudah dikalibrasi.

3. PERANCANGAN
3.1 Rancangan Magnetometer
Diagram blok rancangan magnetometer yang akan dibuat seperti Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Blok Diagram Perangkat Keras.

Gambar 3.1 merupakan rancangan magnetometer yang terdiri dari adalah komputer, DAC, sumber arus,
catu daya, lilitan, transduser efek Hall, penguat instrumentasi dan ADC.

3.1.1 Per ancangan Sumber Ar us
Rancangan rangkaian sumber arus yang akan dibuat adalah seperti Gambar 3.2.

Gambar 3.2 Rangkaian sumber arus

Sesuai persamaan (2.1), hambatan R1 merupakan penentu arus maksimum dan sekaligus menjadi pembatas
hambatan maksimum beban R2 yang digunakan

3.1.2 Per ancangan Pengukur Induksi Medan Magnet B
Pengukur induksi terdiri elemen Hall dan penguat instrumentasi dengan konfigurasi seperti Gambar 3.3

Gambar 3.3 . Rangkaian pengukur induksi medan magnet B

Bachtera I., dkk./ Pembuatan Magnetometer .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 273
Pada Gambar 3.3, Resistor R1 berfungsi untuk pembatas arus elemen Hall Faktor penguatan tergantung pada
nilai resistor eksternal yang dipasang. Keluaran V
o
diatur sebesar 5 Volt untuk nilai induksi maksimum
disesuaikan dengan maksi mum masukan ADC.

3.1.3 Magnetometer Bahan Super konduktor

Magnetometer dengan sistem pendingin sampel dibuat seperti Gambar 3.4.


Gambar 3.4 Sistem pendingin sampel
Seperti tampak pada Gambar 3.4, sistem pendingin berupa wadah dari bahan isola si termal, dilengkapi
termokopel untuk pengukuran temperatur. Transduser efek Hall dan termokopel dirangkai menjadi satu kesatuan
dengan wadah untuk memudahkan proses pengamatan. Media pendingin menggunakan nitrogen cair yang
langsung dituang kedalam wadah.bagian pendingin.

3.1.4 Rancangan Per angkat Lunak

Koordinasi pengamatan bahan pada temperatur ruang dengan pola intensitas medan magnet H : 0
maksimum 0 minimum 0 sesuai dengan diagram alir seperti Gambar 3.5.


Gambar 3.5 Diagram alir perangkat lunak pengamatan bahan

Diagram alir pada Gambar 3.5 menunjukkan proses pengamatan bahan dengan sapuan 1 siklus. Pada siklus
awal sapuan dilakukan medan magnet dari 0 sampai maksimum dan dari mak simum ke 0. Kemudian aliran
arus dirubah dengan membalikkan polaritas lilitan sehingga arah medan berbalik arah. Proses siklus diulang
sehingga sapuan lengkap 1 siklus. Pada akhir proses, data direkam dalam format Excel.


Bachtera I., dkk./ Pembuatan Magnetometer .... SFA 2013

274 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
4. PERAKITAN DAN ANALISIS DATA PENGUKURAN
4.1 Per akitan dan Kalibr asi
4.1.1 Digital to Analog Converter (DAC)
Rangkaian DAC 12 bit menggu nakan komponen utama DAC1220 dirakit seperti Gambar 4.3.

Gambar 4.1 Rangkaian DAC1220 (Burr-Brown)

Pada Gambar 4.1 jalur data dihubungkan ke komputer melalui Printer port.
Karakterisasi menunjukkan rata rata setiap data memberikan nilai tegangan setiap bit seperti grafik Gambar
4.2.

Gambar 4.2 Grafik tegangan setiap bit untuk data DAC

Grafik Gambar 4.2 menunjukkan bit terkecil memberikan keluaran sebesar 1,25 mV, dengan minimum 0 volt
dan maksimum 5120 mV.

4.1.2. Analog to Digital Converter (ADC)
Rangkaian ADC menggunakan ICL-7109 (Intersil) yang dibuat seperti Gambar 4.3.

Gambar 4.3 Rangkaian ADC ICL-7109 (Intersil)

Tegangan
keluaran
(mV)
Data DAC
Bachtera I., dkk./ Pembuatan Magnetometer .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 275
Jalur keluaran hasil konversi sinyal analog rangkaian Gambar 4.3 dihubungkan ke komputer melalui Printer
Port. Hasil karakterisasi dan kalibrasi ADC DAC seperti grafik pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4 Grafik masukan ADC terhadap keluaran DAC

Tampak pada Gambar 4.4, masukan yang dikonversi oleh ADC tidak sampai 4096. Dari data yang diperoleh,
daerah kerja linier ADC mulai dari 0 sampai 3800. Sedangkan besar tegangan terkecil yang dapat di konversi
oleh ADC sama dengan keluaran DAC yaitu 1,25 mV.

4.1.3. Sumber Ar us
Perakitan sumber arus hasilnya seperti yang ditunjukkan Gambar 4.5.

Gambar 4.5 Rangkaian sumber arus

Gambar 4.5 menunjukkan konverter tegangan ke arus yang menerima masukan dari DAC, dihubungkan dengan
penguat arus yang terdiri dari 6 buah transistor daya dengan kemampuan masing-masing 10 Amp . Hambatan
referensi sebesar 0,22 Ohm yang menjaga aliran arus selalu tetap.
Uji coba sumber arus dilakukan dengan memberikan data dari DAC dari 0 sampai 3800 dengan perubahan 4
bit. Aliran arus dibaca oleh ADC dan hasilnya seperti yang ditampilkan dalam bentuk grafik pada Gambar 4.6.



Gambar 4.6 Grafik aliran arus dari sumber arus terhadap data DAC(0-3800).

Gambar 4.6 menunjukkan arus maksimum 12644,3 mA untuk data DAC 3800, artinya. arus paling kecil adalah
3,3 mA/bit data DAC.



Data ADC
Data DAC
Arus
(mA )
(mA
Data DAC
Bachtera I., dkk./ Pembuatan Magnetometer .... SFA 2013

276 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
4.1.4. Pembangkit Magnet, Sistem Pendingin dan Pengukur Magnet
Pembangkit magnet dalam sistem pendingin seperti Gambar 4.7.


Gambar 4.7 Magnetometer bahan superkonduktor

Pada Gambar 4.7, dalam sistem pendingin ditempatkan pembangkit magnet jumlah lilitan 200 dan panjang 10
cm, pengukur medan induksi magnet, pengukur temperatur dan wadah sampel.

Pengujian dan kalibrasi pem bang kit medan hasilnya ditampilkan pada Gambar 4.8.



Gambar 4.8 Grafik hasil pengujian pembangkit medan magnet


Gambar 4.8 menunjukkan bahwa pemberian medan dari 0 sampai 3.400 Amp/m memberikan hasil pengukuran
maksimum 22,7 Gauss dengan ketelitian 0,1 Gauss.

Hasil pengukuran karakteristik sistem pendingin seperti Gambar 4.9


Gambar 4.9 Grafik kenaikan dan penurunan temperatur dalam pendingin


Gambar 4.9 menunjukkan perubahan temperatur sistem pendingin mulai diisi nitrogen sampai kembali ke
temperatur ruang. Penambahan nitrogen pada wadah pendingin, temperatur dalam pendingin dapat
dipertahankan sebesar -194,7 C. Penurunan dapat diatur selang waktunya dengan mengatur besarnya lubang
pada bagian penutup pendingin. Adanya diskontinyu pada grafik Gambar 4.18 disebabkan adanya penambahan
nitrogen pada saat pengukuran untuk mencapai temperatur -194,7 C.



H (X 2 Amp/m)
B(Gauss)
H (X 2 Amp/m)
Temperatur
pendingin
C
Bachtera I., dkk./ Pembuatan Magnetometer .... SFA 2013

ISSN: 2086-0773 http://www.seminar.physics.its.ac.id 277
4.2. Pengukur an dan Pengolahan Data

Proses pengukuran karakteristik sampel adalah memberi sapuan medan H berbentuk segitiga seperti
Gambar 4.10.dan mengukur medan induksi B.




Gambar 4.10 Pola sapuan medan magnet


Gambar 4.10 besar medan maksimum disesuaikan dengan karakteristik sampel, sedangkan waktu sapuan dapat
diatur dengan memberi delay. Waktu sapuan paling minimum sama dengan besarnya waktu konversi dari ADC.

4.2.1 Pengukur an Kar akter istik Bahan Superkonduktor

Bahan superkonduktor yang diamati adalah Bi-2212 dan (Bi,Pb) 2212 .Hasil pengukuran bahan Bi-2212
ditampilkan dalam bentuk grafik perubahan suseptibilitas terhadap temperatur diperlihatkan pada Gambar 4.11.













Gambar 4.11 Perubahan suseptibilitas Bi-2212 terhadap temperatur


Gambar 4.11 menunjukkan Bi-2212 memiliki temperatur transisi sekitar 84 K sampai dengan 85 K yang
berarti bahan tersebut bersifat superkonduktif sebagian. Sedang diatas 85 K bahan tersebut tidak bersifat
superkonduktif. Karena perlakuan adalah penurunan temperatur, maka temperatur kritis bahan adalah 85 K.


Hasil pengukuran bahan (Bi,Pb)2212 setelah diolah menghasilkan grafik perubahan suseptibilitas terhadap
temperatur seperti Gambar 4.12. Gambar 4.12. menunjukkan (Bi,Pb)2212 memiliki temperatur transisi sekitar
77 K sampai dengan 79 K yang berarti bahan tersebut bersifat superkonduktif sebagian. Sedang diatas 79 K
bahan tersebut tidak bersifat superkonduktor dan Tc bahan adalah 79 K.





100
101
102
103
104
105
106
81 82 83 84 85 86 87 88

(
a
.
u
)

T (Kelvin)
Waktu (detik)

H(Amp/m
Bachtera I., dkk./ Pembuatan Magnetometer .... SFA 2013

278 http://www.seminar.physics.its.ac.id ISSN: 2086-0773
















Gambar 4.12 Perubahan suseptibilitas (Bi,Pb) 2212 terhadap temperatur
5. SIMPULAN
Magnetometer pengukur karakteristik magnetik superkonduktor yang dibuat mempunyai pembangkit
intensitas magnet dengan kemampuan memberi kuat medan maksimum 3.400 Amp/m dan pengukur medan
magnet maksimum (22,7 t 0,1) Gauss. Hasil pengukuran temperatur kritis (Tc) superkonduktor untuk bahan
Bi-2212 adalah (85 t 1) K dan (Bi,Pb) 2212 (78 t 1) K.


DAFTAR PUSTAKA

1. Paul A Tipler, Fisika Untuk Sains dan Teknik, alih bahasa Dr. Bambang Soegiono, Erlangga, Jakarta,
2004
2. Yahya E , Indarto B, 1996, Perencanaan dan Pembuatan Sumber Arus untuk Furnace Bebas medan
Magnet Berubah yang Dapat Dikendalikan dengan Komputer, Lemlit ITS, Surabaya
3. Verlag, Franzis, 1990, Pengukuran, Pengendalian dan Pengaturan dengan PC, alih bahasa Margunadi,
Elex Media Komputindo, Jakarta.
4. Fraden Y, 2003, Hand Book of Modern Sensors, Physics Designs & Applications, Springer, NewYork
5. Indarto B, Rohedi A. Y. , 1995, Automatisasi Pengukuran Arus Kritis Jc Bahan Super Konduktor,
Lemlit ITS , Surabaya
6. Cullity B.D., 1972, Introduction to Magnetic Material, Addison-Wesley Publishing Company, Indiana
7. Sutrisno, 1994, Elektronika Lanjutan, Teori Dasar dan Penerapannya, FMIPA-ITB, Bandung
8. Coughlin F., Robert and Frederick F. Driscoll, 1998, Penguat Operasional dan Rangkaian Terpadu
Linier , Penerbit Erlangga, Jakarta.
9. Honeywell,xxxx, Hall Effect Sensing and Application, MICRO SWITCH Sensing and Control, USA
10. www.wikipedia.com

178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
76 77 78 79 80 81 82 83

(
a
.
u
)

T (Kelvin)