Anda di halaman 1dari 6

STUDI PB I STTRII Ina Muljono Hidayat, Th. M.

KANON ALKITAB
I ASAL & ARTI KATA - Yun. , batang; alat pengukur panjang (penggaris) - Arti kiasan: (a) Kaidah, norma, patokan, ideal/pakar ( rule[s]), dipakai dalam berbagai konteks: seni, musik, sastra, etika, hukum, filsafat. Contoh penggunaan: 1. Pliny (abad I M) menulis: Doryphoros adalah kanon (= pakar) dalam seni pahat. 2. Epicurus (342-270 sM): Logika adalah kanon (= norma) pengetahuan sejati. 3. Gal 6:16 Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan (kanwn) ini, turunlah kiranya damai sejahtera ... 4. 2Kor 10:13-16 Kata kanwn dipakai tiga kali untuk menyatakan (a) wilayah pelayanan Paulus yang telah dipatok atau ditentukan baginya; (b) norma-norma pelayanan misi Paulus sesuai dengan mandat yang diterimanya sebagai rasul. 5. Bapa-bapa Gereja (Irenaeus, Tertullian, Clement): kaidah kebenaran ( regula veritatis) atau kaidah iman (regula fidei), yakni rangkuman ajaran (doktrin) kristen yang berasal dari para rasul sebagai pedoman untuk menilai setiap penafsiran tulisan atau ajaran yang akan diterima sebagai ajaran Kristen. (b) Daftar, katalog, berdasarkan tanda-tanda satuan panjang pada alat pengukur. Contoh penggunaan: 1. Untuk katalog hasil-hasil pengamatan astronomi. 2. Untuk kerangka/garis besar peristiwa-peristiwa kronologis. 3. Untuk daftar kitab-kitab dalam Alkitab. Pemakaian ini dijumpai pertama kali dalam tulisan Athanasius, uskup Alexandria, dalam suratnya yang beredar pada tahun 367 M. - Setelah daftar kitab-kitab dalam Alkitab disetujui, Alkitab sendiri dipandang sebagai kaidah iman (rule of faith). 1. Thomas Aquinas (1235-1274): Kitab Suci yang dikanonkan adalah satu-satunya kaidah iman. 2. Westminster Confession of Faith (1647) mencantumkan daftar 66 kitab dalam Alkitab dengan catatan: semuanya yang diberikan oleh ilham dari Allah sebagai kaidah bagi iman dan kehidupan. - Definisi: Kanon Alkitab adalah daftar kitab-kitab yang diakui oleh Gereja sebagai dokumen yang memuat wahyu ilahi (divine revelation). II PROSES KANONISASI A. Adanya kesadaran bahwa telah tiba masanya wahyu ilahi kembali diberikan 1. Yohanes Pembaptis:

Lk 3:2 Datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia. Mk 1:10 Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya.

2. Yesus:
Mk 1:15 Waktunya telah genap. Kerajaan Allah sudah dekat. Lk 4:21 Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya. Lk 22:20 Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku. [diatheke = wasiat (testament); perjanjian antara dua pihak yang tidak setara (covenant)]

3. Paulus:
1Kor 10:11 ... kita, yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba 2Kor 6:2 Waktu ini adalah waktu perkenanan Allah, hari ini adalah hari penyelamatan.

B. Adanya kesadaran penulis bahwa ia berbicara dan menuliskan firman Allah 1. Paulus sadar bahwa apa yang ia katakan dan tuliskan adalah firman Allah:
1Tes 2:13 Kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi dan memang sungguh demikian sebagai firman Allah. 1 Tes 1:5 Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh.

2. Surat-surat PB yang ditulis belakangan menekankan karya Roh Kudus dalam mewahyukan tulisan tersebut:
2Tim 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah 2Pet 1:21 Tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

3. Acuan atau sebutan ada tertulis (It is written) atau sebagai Kitab Suci (Scripture):
2 Pet 3:16 Orang memutarbalikkan surat-surat Paulus seperti yang mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain (loipa grafa; the other scriptures)

C. Kanon Perjanjian Lama 1. Alkitab berbahasa Ibrani (Tanakh) terdiri atas 24 kitab yang terbagi dalam 3 kelompok: (a) Torah (hukum): 5 kitab Musa (b) Nabi-nabi : 4 Nabi terdahulu (Yos, Hak, Sam, Raja) 4 Nabi terakhir (Yes, Yer, Yehz, 12 nabi kecil) (c) Karangan-karangan: 11 kitab, yaitu: (i) Mz, Ams, Ayb (ii) Megillot (Scrolls): Kid, Rut, Rat, Pkh, Est (iii) Dan, Ezr-Neh, Taw - Ketiga kelompok ini pertama kali disebut oleh cucu Yeshua ben Sira di dalam Pendahuluan untuk kitab kakeknya, Sirakh (Ecclesiasticus; The Wisdom of benSira), yang ia terjemahkan dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani sesudah ia pindah dari Palestina ke Alexandria pada tahun 132 sM. - Dalam PB: Lk 24:44 menyebutkan kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab
Mazmur.

2. Penerjemahan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) - Alasan penerjemahan: Sesudah Alexander Agung mendirikan kota Alexandria di Mesir pada tahun 331 sM, bahasa Yunani dipakai secara luas, termasuk oleh orang Yahudi yang berada dalam diaspora. Hingga tahun 198 sM, Yudea masih berada di bawah kekuasaan Mesir yang diperintah oleh dinasti Ptolemy. - Penerjemahan ke dalam Septuaginta (LXX) berlangsung antara c. 250-150 sM. - Legenda: 70 (bukan 72) tua-tua Israel menerjemahkan PL dalam 70 hari. - Urutan LXX = urutan PL dalam Alkitab Kristen ditambah dengan Apokrifa. 2

- Otoritas Tanakh yang didasarkan pada wahyu ilahi juga mencakup LXX. D. Kanon Perjanjian Baru 1. Antara tahun 100-150 M, koleksi tulisan-tulisan Kristen sudah mendapat bentuk yang mapan, terutama keempat Injil dan corpus surat-surat Paulus. Sejak awal abad ke-2 dan selanjutnya, surat-surat Paulus beredar bukan sendiri-sendiri melainkan sebagai koleksi (2Pet 3:15). Keempat Injil dianggap memiliki otoritas ilahi karena melestarikan kata-kata Tuhan Yesus. Koleksi surat Paulus berotoritas karena berisi ajaran Paulus, yang otoritasnya sebagai rasul Yesus Kristus untuk orang kafir diakui sebagai kedua di bawah Kristus. Kedua bagian ini dihubungkan dan disatukan oleh Kisah Para Rasul. 2. Beberapa pemicu proses kanonisasi PB: (a) Munculnya bidat2: Marcion, Gnostik, Montanisme. (i) Marcion (lahir c. 100 M) menerbitkan kitab suci yang didasarkan pada Injil Lukas dan 10 surat Paulus (tidak termasuk surat-surat Pastoral). Ajarannya bersifat gnostik; Yesus tidak sungguh-sungguh manusia dan tidak dilahirkan oleh seorang wanita (Gal 4:4). Ia tidak mengakui PL dan membedakan Allah PL dari Allah PB. (ii) Basilides dari Alexandria (130 M), seorang gnostik, mengutip dari Injil Yohanes. Guru-guru gnostik Ptolemaeus dan Heracleon (160-170 M) menulis tafsiran Injil Yohanes, sebuah tafsiran paling tua yang diketahui sampai sekarang. (iii) Montanus (c. 156 M) mengklaim dirinya sebagai juru bicara Roh Kudus. Ia menekankan dan mengembangkan karunia bernubuat, tetapi isi nubuatnya bertentangan dengan iman rasuli. Tantangan bidat2 ini menyadarkan Gereja akan pentingnya dan besarnya nilai tulisan-tulisan para rasul yang diwarisinya, dan akan perlunya membatasi kitabkitab yang dapat diterima sebagai kaidah iman. (b) Terjadinya penganiayaan terhadap umat Kristen mengancam kelestarian Kitab Suci Kristen. (c) Perkembangan teknologi penjilidan buku dalam bentuk lebih tebal (codex) memungkinkan pemuatan sekumpulan karangan dalam satu buku. (d) Konsili-konsili gereja memungkinkan pengambilan keputusan bersama oleh gereja-gereja dan keputusan itu diakui secara resmi. 3. Kanon tertutup: Sekumpulan kitab-kitab anonim, yang isinya menyerang Montanisme (192 M) dan dikutip oleh sejarawan Eusebius, berbicara tentang perkataan perjanjian baru dari Injil, yang kepadanya tidak dapat ditambahkan apa pun oleh siapa saja yang memilih untuk hidup menurut Injil itu, dan yang dari padanya tidak ada apa pun yang dapat diambil (bdk Ul 4:2; 12:32; Wah 22:18). Prinsip kanon tertutup ini sebenarnya sudah dijumpai sekitar akhir abad pertama Masehi dalam tulisan sejarawan Yahudi Josephus (Against Apion) dan dalam kitab Didache (Ajaran ke-12 Rasul), yang berisi pedoman tata gereja. Pada akhir abad ke-2, kedua koleksi yang mula-mula disebut Old Covenant/Old Testament (berdasarkan perjanjian di Sinai) dan New Covenant/New Testament (disahkan oleh Tuhan Yesus dalam Perjamuan Malam), diakui hampir berbarengan dalam karya berbahasa Yunani dari bapa gereja Clement dari Alexandria (c. 200 M) dan karya berbahasa Latin dari bapa gereja Tertullian dari Karthago (196-212 M). Pada tahun 367 Athanasius dalam surat edarannya menyebutkan daftar 27 kitab yang diwariskan oleh tradisi dan diyakini bersifat ilahi, dan yang hanya di dalamnya doktrin yang berasal dari Allah diberitakan. Surat Ibrani dianggapnya 3

ditulis oleh Paulus. 4. Konsili di Hippo (393 M) mungkin adalah konsili pertama yang menetapkan batasbatas kanon Alkitab. Keputusan konsili ini dicantumkan ulang dalam laporan konsili ketiga di Karthago (397 M), yang meresmikan kanon PL (mencakup Apokrifa) dan kanon PB (terdiri atas 27 kitab). Surat-surat Pastoral diakui sebagai karya Paulus, demikian pula surat Ibrani, meski dicantumkan terpisah dari 13 surat Paulus yang lain. III KRITERIA PENERIMAAN DALAM KANON A. Umat Kristen mula-mula tidak mempertanyakan otoritas Kitab Suci (PL). Mereka menerimanya sebagaimana diwariskan kepada mereka. Otoritas PL disahkan oleh ajaran dan teladan hidup Tuhan Yesus serta para rasul. B. Kriteria kanonitas PB: 1. Bersifat apostolik (ditulis oleh rasul-rasul): Otoritas surat-surat Paulus diakui terutama oleh gereja-gereja asal kafir. Surat Ibrani tidak menyebut nama penulisnya, oleh karena itu surat ini tidak diterima oleh gereja-gereja Timur (Mesir, Palestina, Asia Kecil; wilayah ini berbahasa Yunani), tetapi diterima oleh gereja-gereja Barat (Afrika Utara, Roma; wilayah ini berbahasa Latin). Injil Matius dan Yohanes dinyatakan sebagai karya rasul Matius dan Yohanes (abad 2). Injil Markus, menurut Papias (uskup kota Hierapolis di Phrygia, c. 125 M), ditulis oleh Yohanes Markus yang dianggap sebagai penerjemah Petrus (Kis 12:12,25). Lukas diidentifikasi sebagai tabib yang kekasih (Kol 4:14) dan rekan sekerja Paulus, dengan demikian karyanya memiliki otoritas Paulus. Yakobus dianggap adalah saudara Tuhan Yesus (Gal 1:19), Yudas adalah saudara Yakobus (Yud 1; bdk Mk 6:3), sedangkan 1 Pet adalah karya rasul Petrus (1Pet 1:1). 2 Pet diragukan penulisnya, dan surat-surat Yohanes adalah karya rasul Yohanes. 2. Bersifat katolik (umum): artinya, diakui secara lokal maupun secara luas. Kitab Wahyu tidak diakui oleh gereja-gereja Timur. Bapa gereja Vincent of Lerin (abad 5 M) menyebutkan kriteria kitab-kitab yang diterima dalam kanon Alkitab: quod ublique, quod semper, quod ab omnibus creditum est (apa yang telah dipercayai di mana saja, senantiasa, oleh semua). 3. Bersifat ortodoks: Tulisan-tulisan mencerminkan iman rasuli dan mempertahankan ajaran para rasul yang dirumuskan dalam kaidah iman, dan melawan ajaran gnostik. Apa yang diajarkan tentang pribadi dan karya Yesus Kristus? Apakah tulisan tsb menyatakan kesaksian para rasul tentang Yesus dari Nazaret, yang historis, yang disalibkan, bangkit dari kematian, serta ditinggikan oleh Allah sebagai Tuhan? Tulisan yang tidak memenuhi kriteria ini mis. Injil Petrus: Yesus tidak benar-benar menderita dan mati ( docetic). 4. Diilhamkan oleh Roh Kudus (ini ditekankan pada masa Reformasi): Dalam PL, Roh menggerakkan para nabi Israel untuk bernubuat. Pada awal era kekristenan, inspirasi nubuatan para nabi dianggap berlaku bagi seluruh PL (bdk Ibr 3:7-11; 2 Tim 3:15-17). Dalam PB, kesaksian tentang pengilhaman oleh Roh dijumpai di dalam kitab itu sendiri. Misalnya, kitab Wahyu menyatakan bahwa ia berisi nubuat (Wah 1:3; 19:10; 22:19); Paulus menyatakan bahwa ia memiliki pikiran Kristus dan perkataannya bukan diajarkan oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh (1 Kor 2:16,13); otoritas Paulus didasarkan pada keyakinan bahwa Kristus [yang] berkata-kata dengan perantaraan aku 4

(2 Kor 13:3). Injil Markus dan Lukas diakui sebagai hasil pengilhaman ilahi, namun keduanya diterima sebagai karya berotoritas dan kanonik berdasarkan pengakuan umat Kristen bahwa keduanya memberikan kesaksian yang dapat dipercaya tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus. 5. Penggunaan dalam liturgi kebaktian, menggantikan pembacaan hukum Taurat dan kitab para nabi. IV MAKNA TEOLOGIS DARI KANON ALKITAB A. Sebagai antologi normatif 1. Untuk menetapkan kaidah ajaran gerejawi yang diakui secara resmi. 2. Meski masing-masing kitab mempunyai tujuan tertentu untuk waktu tertentu, namun semuanya memiliki relevansi untuk seluruh gereja Kristen pada segala zaman. B. Sebagai alat hermeneutik 1. Rekontekstualisasi: teks dibaca sebagai suatu koleksi tulisan yang melampaui makna historisnya. 2. Urutan kanonik dapat menjadi kunci interpretasi (eksegesis kanonik) a. Kisah Para Rasul merupakan jembatan antara Injil-injil dan surat-surat para rasul, serta mengaitkan ajaran dan otoritas para rasul dengan Yesus sendiri. b. Kisah Para Rasul menjadi pengantar bagi seluruh korpus surat-surat apostolik dan mencerminkan keterpaduan antara ajaran para rasul mula-mula dengan ajaran Paulus. 3. Membentuk kerangka arti teks yang baru berdasarkan hubungan antar-teks (misalnya kebangkitan orang mati dalam Wah 20 dan 1 Kor 15; pandangan tentang negara dalam Rom 13, 1 Pet 2, Wah 18). 4. Memberi pembatasan makna, yaitu menyeimbangkan makna teks sehingga setiap kitab memiliki status dan nilai yang sama (mis. iman dan perbuatan dalam surat Paulus dan Yakobus); membatasi makna-makna yang khas untuk teks-teks tertentu (mis. perceraian dalam Mal 2, Mt 19, 1 Kor 7). Referensi 1. Bruce, F.F. The Canon of Scripture. Downers Grove: InterVarsity Press, 1988. 2. Walker, Williston, and Richard A. Norris, David W. Lotz, Robert T. Handy. A History of the Christian Church. 4th ed. New York: Scribner, 1985.