Anda di halaman 1dari 33

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ovarium Normal 2.1.1. Anatomi Ovarium

Gambar 1. Struktur anatomi ovarium5

Sepasang ovarium wanita dewasa berukuran sebesar ibu jari tangan dan terletak di rongga pelvis minor, masing-masing berukuran panjang 2,5-5 cm, tebal 1,5-3 cm dan lebar 0,7-1,5 cm dengan berat sekitar 4-8 gram. Ovarium memiliki dua permukaan (medial dan lateral), dua tepi (anterior atau mesovarium dan posterior yang bebas) dan dua kutub (bagian tubal atau atas dan bagian uterus atau bawah).6,7,8 Pada posisi uterus dan adneksa normal, aksis panjang ovarium hampir vertikal tapi terkadang dapat menekuk ke depan berada di depan uterus. Permukaan medialnya licin, sedangkan pada posteriornya terdapat banyak parut atau penonjolan yang menunjukkan posisi perkembangan folikel dan posisi folikel yang ruptur. Permukaan lateral menghadap ke dinding pelvis pada fossa ovarii. Fossa ini dibatasi oleh peritoneum dan pada bagian atasnya dibatasi oleh pembuluh darah iliaka eksterna di bawah nervus dan pembuluh darah obturator, pada batas posterior dibentuk oleh ureter dan pembuluh darah uterus sedangkan di anteriornya melekat pada ligamen. Lipatan yang menghubungkan lapisan belakang ligamentum latum dan ovarium dinamakan mesovarium. Mesovarium merupakan lipatan peritoneum yang membungkus dan melekatkan ovarium pada lapisan posterosuperior ligamen dan tempat masuknya pembuluh darah, saraf dan limfe menuju ovarium. Ovarium berhubungan dengan uterus melalui ligamentum ovarii proprium.6,8 Ovarium terletak pada lapisan belakang ligamentum latum. Sebagian besar ovarium berada intraperitoneal dan tidak dilapisi oleh peritoneum. Bagian

ovarium kecil berada dalam ligamentum latum (hilus ovarii) dimana masuk pembuluh-pembuluh darah dan saraf ke ovarium. Arteri ovarii merupakan ateri utama yang memperdarahi ovarium. Kedua arteri merupakan cabang dari aorta abdominal. Tambahan aliran darah berasal dari anastomosis arteri uterina cabang arteri ovarii sepanjang tepi ovarium. Kapiler dari arteri yang memasuki hilus berbentuk sentrifugal. Perjalanan vena mengikuti arteri, setelah memasuki hilus membentuk pleksus pampiniformis di antara lapisan mesovarium. Sel otot polos tersebar di antara pleksus memberikan gambaran struktur erektil. 6,8 Aliran pembuluh limfe berada pada retroperitoneal, bersama dengan aliran limfe dari tuba dan uterus menuju limfa node lumbal sepanjang aorta inferior yang menuju ginjal. Distribusi saluran limfe pada ovarium sangat luas sehingga dapat menyediakan suplai cairan terhadap perkembangan folikel preovulasi. Sedangkan persarafan ovarium berasal dari jaras simpatik lumbosakral dan melewati gonad bersama arteri ovarii.6

2.1.2. Histologis Ovarium

Gambar 2. Perkembangan folikel ovarium3

Bagian ovarium yang berada di dalam cavum peritonei dilapisi oleh epitel kubik-silindrik yang disebut epithelium germinativum. Di bawah epitel ini terdapat tunika albuginea dan di bawahnya lagi baru ditemukan lapisan tempat folikelfolikel primordial.8 Ovarium terdiri atas korteks dan medula. Medula terdiri dari jaringan ikat, sel otot polos serta sejumlah pembuluh darah, saraf dan limfe. Sedangkan korteks terdiri dari stroma dengan banyak pembuluh darah dan folikel (sel epitel yang di dalamnya terdapat oosit) dalam berbagai tingkat perkembangan. Tiap bulan satu folikel, kadang-kadang dua folikel, berkembang menjadi folikel de Graaf. Semakin matang folikel semakin membesar dan menonjol ke permukaan ovarium yang pada mata telanjang dapat tampak dengan jelas dan disebut sebagai folikel de Graaf. Bila folikel yang telah matang ini terisi dengan likuour folikuli yang mengandung estrogen, folikel akan pecah mengeluarkan sel ovum lalu menjadi korpus luteum yang kemudian digantikan oleh jaringan parut membentuk korpus albikans.6,7,8 2.1.3. Fisiologis Ovarium Dalam endokrinologi reproduksi wanita, ovarium meiliki dua fungsi utama, yaitu: (1) fungsi proliferatif (generatif): sebagai sumber ovum selama masa reproduksi, dimana pada ovarium terjadi perkembangan folikel, ovulasi dan pembentukan korpus luteum; dan (2) fungsi sekretorik (vegetatif): membentuk hormon estrogen, progesteron, dan sedikit androgen.8

2.2. Definisi Kista Ovarium Kista ovarium adalah suatu kantong abnormal yang berisi cairan atau material semicair yang tumbuh pada ovarium. Kista termasuk tumor jinak yang terbungkus oleh selaput semacam jaringan. Kista dapat berisi udara, cairan kental, maupun nanah. Kumpulan sel-sel tumor itu terpisah dengan jaringan normal di sekitarnya dan tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.8,9 2.3. Insidensi Kista Ovarium Di Amerika Serikat, kista ovarium ditemukan lewat pemeriksaan USG transvaginal hampir pada semua wanita premenopause dan mencapai 14,8% pada wanita postmenopause. Kebanyakan kista merupakan kista fungsional dan jinak. Kista ovarium fungsional terjadi pada semua umur, tetapi kebanyakan pada wanita masa reproduksi dan jarang terjadi setelah masa menopouse. Teratoma kistik matur atau dermoid ditemukan pada lebih dari 10% semua neoplasma ovarium. Sedangkan insidensi karsinoma ovarium sekitar 15 kasus tiap 100.000 wanita per tahun. Setiap tahunnya, karsinoma ovarium terdiagnosis pada 22.000 wanita dan menyebabkan 16.000 kematian. Tumor ovarium yang paling ganas adalah kistadenokarsinoma epitel ovarium. 8,9 Kista jinak ovarium jarang menyebabkan kematian namun dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan nyeri akibat tertekannya struktur sekitar, torsi, ruptur, perdarahan (di dalam atau di luar kista) serta perdarahan abnormal uterus. Kistadenoma musin dapat menyebabkan akumulasi cairan musin di dalam abdomen yang dikenal sebagai pseudomyxoma peritonei yang sering bersifat

fatal. Mortalitas berhubungan dengan karsinoma ovarium, yakni terhadap stadium pada saat terdiagnosis. 8,9 Tumor kistik ovarium ganas dapat menyebabkan morbiditas yang berat, termasuk nyeri, distesi abdomen, obstruksi usus, mual-muntah, kakeksia, perdarahan uterus abnormal, trombosis vena dalam dan dispnea. Tumor kistik sel granulosa mensekresi estrogen yang menyebabkan perdarahan postmenopausal dan pubertas prekoks pada pasien muda.9 Kistadenokarsinoma ovarium merupakan satu-satunya kista yang

berhubungan dengan perbedaan ras. Wanita dari Eropa barat dan utara serta Amerika utara lebih sering dibandingkan wanita dari Asia, Afrika dan Amerika latin. Di AS, pada surveilans insidensi terkait usia menunjukkan bahwa didapatkan paling banyak pada wanita Amerika Indian, kemudian wanita kulit putih, wanita Vietnam, Hispanik dan Hawaii. Insidensi terendah pada wanita Korea dan China.9 Untuk usia 30-54 tahun, insidensi tertinggi pada wanita kulit putih, diikuti oleh wanita Jepang, Hispanik, dan Filipina. Untuk usia 55-69 tahun, insidensi tertinggi pada wanita kulit putih, diikuti oleh wanita Hispanik dan Jepang. Diantara wanita usia 70 ke atas, insidensi tertinggi pada wanita kulit putih, diikuti oleh keturunan Afrika dan wanita Hispanik.9 Kista fungsional ovarium dapat terjadi pada wanita segala usia (termasuk saat intra uterin), namun paling banyak ditemukan terutama pada usia reproduksi dan jarang terjadi setelah menopause. Kebanyakannya adalah kista fungsional (fisiologis) yang dapat hilang sendiri dalam beberapa minggu tanpa intervensi

khusus. Kista luteal terjadi setelah ovulasi pada wanita usia reproduksi. Insidensi kistadenokarsinoma ovarium, sex cord stromal tumors dan tumor mesenkimal meningkat tajam di usia 60an. Tumor dengan potensi keganasan rendah rata-rata pada usia 44 tahun.8,9,10 2.4. Patofisiologi Kista Ovarium Sampai sekarang ini penyebab dari kista ovarium belum sepenuhnya dimengerti, tetapi beberapa teori menyebutkan adanya gangguan dalam pembentukan estrogen dan dalam mekanisme umpan balik ovarium-hipotalamus. Beberapa dari literatur menyebutkan bahwa penyebab terbentuknya kista pada ovarium adalah gagalnya sel telur (folikel) untuk berovulasi. Fungsi ovarium yang normal tergantung kepada sejumlah hormon dan kegagalan pembentukan salah satu hormon tersebut bisa mempengaruhi fungsi ovarium. Ovarium tidak akan berfungsi secara normal jika tubuh wanita tidak menghasilkan hormon hipofisis dalam jumlah yang tepat. Fungsi ovarium yang abnormal kadang menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di ovarium. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur, karena itu terbentuk kista di dalam ovarium.8 Kista fungsional multipel dapat terjadi akibat berlebihnya stimulasi atau sensitifitas gonadotropin. Pada neoplasia trofoblastik getasional (mola

hidatidiform dan koriokarsinoma) dan jarang pada kehamilan multipel atau diabetik, hCG menstimulasi gonadotropin. Kondisi ini disebut hyperreactio luteinalis. Pasien yang sedang dalam perawatan infertilitas melalui induksi ovulasi dengan gonadotropin atau klomifen sitrat atau letrozole dapat terjadi kista akibat

sindrom hiperstimulasi ovarium. Tamoxifen dapat menyebabkan kista fungsional jinak yang biasanya menghilang setelah penghentian pemberian tamoxifen. Faktor risiko terhadap kistadenokarsinoma ovarium meliputi riwayat keluarga, usia lanjut, ras kulit putih, infertilitas, nuliparitas, riwayat ca-mammae dan mutasi gen BRCA.9 Setiap bulan, pada ovarium normal terjadi perkembangan folikel. Pada pertengahan siklus haid, satu folikel dominan yang berukuran hingga 2,8 cm mengeluarkan oosit matur. Folikel yang ruptur tersebut menjadi korpus luteum yang bila matur berukuran 1,5-2 cm dengan struktur kista di tengahnya. Jika tidak terjadi fertilisasi oosit, korpus tersebut mengalami fibrosis dan ukurannya menyusut. Namun jikaterjadi fertilisasi, korpus luteum awalnya membesar lalu kemudian mengecil selama kehamilan.9 Apabila folikel pada ovarium tidak pecah dan mengeluarkan sel ovum (tidak terjadi ovulasi), maka cairannya akan bertahan dalam kantong folikel dan dapat membentuk kista. Ketika folikel sedang bertumbuh, pada ovarium normal dapat terbentuk kista kecil (<1,5 inchi).10 Kista ovarium yang tumbuh dari proses ovulasi normal disebut sebagai kista fungsional dan bersifat jinak, dapat berupa kista folikular atau luteal dan terkadang disebut kista teka lutein. Kista ini distimulasi oleh gonadotropin termasuk follicle-stimulating hormone (FSH) dan human chorionic gonadotropin (hCG).10 Kista fungsional multipel dapat terbentuk akibat stimulasi atau sensitifitas gonadotropin yang berlebihan. Pada neoplasma trofoblastik gestasional

10

(koriokarsinoma dan mola hidatidosa) dan terkadang pada kehamilan diabetik dan multipel, hCG menyebabkan kondisi yang disebut hyperreactio luteinalis. Pada pasien yang dalam perawatan infertilitas, induksi ovulasi dengan gonadotropin (FSH dan LH), jarang dengan klomifen sitrat, dapat menyebabkan sindroma hiperstimulasi ovarium khususnya jika bersamaan dengan pemberian hCG.9 Kista neoplastik tumbuh dari sel yang tumbuh secara berlebihan dalam ovarium, baik jinak atau ganas. Neoplasma ganas dapat tumbuh dari semua jenis sel dan jaringan ovarium, paling sering dari epitel permukaan (mesotelium) yang kebanyakannya berbentuk kista. Sedangkan neoplasma jinak ovarium

kebanyakannya berupa kistadenoma musin dan serous. Tumor ganas ovarium lain yang dapat berbentuk kista adalah tumor sel granulosa dari sel stroma sex cord dan tumor sel germinal dari sel germinal primordial. Teratoma merupakan tumor sel germinal yang terdiri dari 3 elemen lapisan germinal embrionik: ektoderm, endoderm dan mesoderm. Endometrioma adalah kista yang berisi darah dari endometrium ektopik.9 2.5. Macam Kista Ovarium 2.5.1. Kista Ovarium Non Neoplastik 1. Kista Fungsional Tipe terbanyak dari kista ovarium adalah kista fungsional, biasa disebut kista fisiologik yang berarti non-patogenik. Kista normal ini akan mengecil dan menghilang dengan sendirinya dalam kurun waktu 2-3 siklus menstruasi. Terdapat 2 macam kista fungsional: kista folikuler dan kista korpus luteum.8 a. Kista Folikuler

11

Kista folikular umum ditemui pada usia reproduksi dan berhubungan dengan abnormalitas penglepasan gonadotropin dari hipofisis anterior. Hormon FSH (follicle-stimulating hormone) bertanggungjawab terhadap perkembangan folikel ovarium, sedangkan hormon LH (luteinezing hormone) terhadap terjadinya ovulasi dan perkembangan folikel menjadi korpus luteum yang nantinya akan memproduksi progesteron.8,9,11 Folikel sebagai penyimpan sel ovum akan mengeluarkan sel ovum pada saat ovulasi bilamana ada rangsangan LH. Pengeluaran hormon diatur oleh kelenjar hipofisis di otak. Bilamana semuanya berjalan lancar sel ovum akan dilepaskan dan memulai perjalanannya ke tuba ovarium untuk dibuahi. Kista folikuler terbentuk jika lonjakan LH tidak terjadi dan reaksi rantai ovulasi tidak dimulai, sehingga folikel tidak pecah atau melepaskan sel ovum dan bahkan folikel tumbuh terus hingga menjadi sebuah kista, atau terjadi involusi pada folikel matur.8,9,10,11,12 Kista folikular dapat tumbuh hingga diameter 2,3 inchi. Kista folikuler biasanya tidak berbahaya dan sering hilang dengan sendirinya antara 2-3 siklus menstruasi. Rupturnya kista ini dapat memberikan gejala nyeri hebat pada sisi ovarium dimana kista tumbuh. Nyeri yang tajam tersebut juga disebut Mittelschmerz (bahasa jerman: pertengahan dan nyeri), nyeri pada pertengahan siklus haid (waktu ovulasi). Hanya sekitar seperempat wanita dengan kista ini yang mengeluh nyeri, biasanya kista ini tidak bergejala.10-12 b. Kista Korpus luteum

12

Bilamana lonjakan LH terjadi dan sel ovum dilepaskan, rantai peristiwa lain dimulai. Folikel kemudian bereaksi terhadap LH dengan menghasilkan hormon estrogen dan progesteron dalam jumlah besar sebagai persiapan untuk pembuahan. Perubahan dalam folikel ini disebut sebagai korpus luteum. Tetapi kadang-kadang setelah sel telur dilepaskan, lubang keluarnya tertutup dan jaringan-jaringan mengumpul di dalamnya,

menyebabkan korpus luteum membesar dan menjadi kista.11 Frekuensi kista korpus luteum lebih jarang dibandingkan kista folikel, namun ukurannya dapat lebih besar dari kista folikel. 13 Meski kista ini biasanya hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu, tetapi kista ini dapat tumbuh hingga 4-9 inci (10 cm) diameternya dan berpotensi untuk berdarah dengan sendirinya atau mendesak ovarium yang menyebabkan nyeri panggul atau nyeri perut. Jika kista ini berisi darah, kista ini dapat pecah dan menyebabkan perdarahan intestinal dan nyeri tajam yang tiba-tiba.10,11 Kista korpus lutein dapat menimbulkan gangguan haid berupa amenore diikuti perdarahan yang tidak teratur. Adanya kista dapat pula menimbulkan rasa berat di perut bawah. Perdarahan berulang dalam kista dapat menyebabkan ruptur. Apabila hal ini terjadi bersamaan (nyeri perut bawah mendadak dengan riwayat amenore) sering meninmbulkan kesulitan dalam diagnosis banding kehamilan ektopik terganggu.13 2. Kista Teka Lutein Biasanya kista korpus lutein ditemukan hanya pada satu sisi, pembesaran ovarium bilateral akibat sejumlah kista folikel lutein umumnya ditemukan pada

13

kista teka lutein. Kondisi ini sering disebabkan oleh meningkatnya kadar hCG di sirkulasi, seperti pada gestasi multipel, penyakit trofoblastik gestasional dan sensitisasi RH dengan hidrops fetalis. ,8,10,11 Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka. Sel granulosa dapat pula menunjukkan luteinisasi tetapi seringkali menghilang karena atresia. Dengan hilangnya penyebab (seperti mola atau koriokarsinoma) ovarium dapat mengecil spontan.13 a. Kista Hemoragik Kista tipe fungsional ini terbentuk apabila terjadi perdarahan di dalam kista. Gejalanya seperti nyeri abdomen pada satu sisi.10 b. Kista Inklusi Germinal Kista inklusi germinal terbentuk dari lipatan ke dalam (invaginasi dan isolasi) bagian-bagian kecil dari epitel germinativum pada permukaan ovarium setelah ovulasi. Kista ini lebih banyak ditemukan pada wanita yang lanjut usianya dan besarnya jarang melebihi 1 cm, namun tidak ada bukti yang mendukung hubungan antara kista inklusi germinal ini dengan neoplasma epitel ovarium baik jinak maupun ganas.11,13 Kista terletak di bawah permukaan ovarium, dindingnya terdiri atas satu lapis epitel kuboid dengan isi cairan jernih dan serous.13 c. Kista Endometrium Merupakan bagian dari endometriosis dimana kista terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan endometrium yang berada di ovarium).8,11,13 Endometriosis merupakan kondisi dimana jaringan dan kelenjar endometrium berada di luar uterus. Kista ini sering terisi darah yang coklat kemerahan

14

(kista coklat), berukuran 0,75-8 inchi, didapatkan pada wanita usia reproduksi dan dapat menyebabkan nyeri pelvis kronis yang berhubungan dengan menstruasi. Endometriosis umum ditemukan pada ovarium; ketika siklus perdarahan terjadi terbentuk kista endometriotik atau endometrioma. Nyeri pada endometrioma ovarium sama seperti nyeri pada endometriosis. Pada pemeriksaan endovaginal sonogram tampak karakteristik yang difus, echo yang rendah sehingga memberikan kesan yang padat.,8,11 d. Polycystic-appearing ovary Didiagnosis berdasarkan ukuran pembesarannya (biasanya dua kali normal) dengan kista-kista kecil di sekitar ovarium luar. Hal ini dapat ditemukan pada wanita sehat maupun wanita dengan gangguan hormonal. Kista ini berbeda dari PCOS (Polycystic ovarian syndrome) dimana terdapat risiko kardiovaskular dan metabolik yang berkaitan dengan resistensi insulin termasuk peningkatan toleransi glukosa, diabetes tipe 2 dan hipertensi. PCOS juga berhubungan dengan infertilitas, perdarahan abnormal, keguguran dan peningkatan risiko kanker endometrium.10 e. Kista Stein-Leventhal Ovarium mengandung multipel folikel kista yang berukuran 2-5 mm menyebabkan ovarium membesar dan menciptakan lapisan luar (kapsul) yang tebal yang dapat menghalangi terjadinya ovulasi.8 Kista ini disebut juga sindrom ovarium polikistik.10 Terjadi akibat anovulasi kronik dan ovarium polikistik. Sindroma ovarium polikistik sering pada wanita usia 20 tahunan dengan riwayat obesitas premenars, amenore postmenars, infertilitas dan

15

peningkatan poduksi hormon androgen. Hiperestrogenisme jarang terjadi, ditunjukkan dengan menometroragi dengan atau tanpa hiperplasia

endometrium atau karsinoma endometrium. Penanganan ditujukan untuk menormalkan siklus kadar gonadotropin hipofisis dan melindungi

endometrium dari strogen berlebih.11

2.5.2. Kista Ovarium Neoplastik Jinak 1. Kistoma Ovarii Simpleks Kista dengan permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai dan bilateral. Dinding kista tipis dengan cairan kuning jernih-serous. Karena adanya tangkai, dapat terjadi torsi. Diduga kista ini merupakan kistadenoma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubungan dengan tekanan cairan dalam kista.13 2. Kistadenoma Ovarii Musinosum Asal tumor belum pasti, menurut Meyer mungkin berasal dari suatu teratoma dimana dalam perkembangannya salah satu elemen mengalahkan yang lainnya. Ada juga yang berpendapat bahwa asalnya adalah epitel germinativum. Kista ini merupakan 40% dari seluruh neoplasma ovarium dan sering ditemukan bersama dengan kistadenoma serosum.1 Kista ini biasanya berbentuk multilokuler, 10% dapat tumbuh menjadi besar (berukuran sampai lebih dari 12 inchi) dan mengganggu organ perut lainnya.8,10 3. Kistadenoma Ovarii Serosum Umumnya para penulis berpendapat asalnya adalah epitel permukaan ovarium (sel germinativum) dan ukurannya tidak sebesar kistadenoma

16

musinosum. Lazimnya kista ini berongga satu, namun dapat pula multilokuler. Ciri khas kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista sebesar 50%, dan pertumbuhan ke luar kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning, terkadang coklat karena bercampur darah.8,10 4. Kista Dermoid Merupakan kista tipe tumor jinak yang juga disebut teratoma kistik matur. Kista abnormal ini biasanya tumbuh hingga diameter 6 inchi dan mengenai wanita muda.8 Kista dermoid berisi ragam jenis jaringan seperti lemak, tulang, rambut, kuku, kulit, gigi dan kartilago dimana struktur ektodermal dengan diferensiasi sempurna mendominasi dibandingkan elemen entodermal dan mesodermal.13 Kista inimerupakan 10% dari seluruh neoplasma kistik ovarium. Meskipun paling sering ditemukan pada wanita muda, kista ini dapat terjadi sejak masa kecil, bahkan mungkin sudah dibawa dalam kandungan ibunya. Kista ini biasanya sering tidak membawa gejala, tetapi dapat bertambah besar dan menimbulkan nyeri. Kista ini dapat meradang atau bahkan terputar (torsi ovarium) sehingga menekan aliran darahnya dan menyebabkan nyeri perut hebat.8,13 Terjadi karena jaringan dalam telur yang tidak dibuahi kemudian tumbuh menjadi beberapa jaringan seperti rambut, tulang, lemak. Kista dapat terjadi pada kedua indung telur dan biasanya tanpa gejala. Timbul gejala rasa sakit bila kista terpuntir/ pecah. 1,15

17

Sebenarnya kista dermoid ialah satu teratoma kistik yang jinak dimanastruktur-struktur ektodermal dengan diferensiasi sempurna, seperti epitel kulit,rambut, gigi dan produk glandula sebasea berwarna putih kuning menyerupailemak nampak lebih menonjol daripada elemen-elemen entoderm danmesoderm. Tentang histogenesis kista dermoid, teori yang paling

banyak dianut ialah bahwa tumor berasal dari sel telur melalui proses partenogenesis.1,15 Tumor ini merupakan 10% dari seluruh neoplasma ovarium yangkistik, dan paling sering ditemukan pada wanita yang masih muda. Ditaksir 25% dari semua kista dermoid bilateral, lazimnya dijumpai pada masareproduksi walaupun kista dermoid dapat ditemukan pula pada anak kecil.Tumor ini dapat mencapai ukuran yang sangat besar, sehingga beratnyamencapai beberapa kilogram. 1,15 Frekuensi kista dermoid di beberapa rumah sakit di Indonesia ialahsebagai berikut : Sapardan mencatat angka 16,9%; Djaswadi 15,1%; Hariadidan Gunawan masing-masing 11,1% dan 13,5% di antara penderita dengantumor ovarium. Sebelum perang dunia II, Eerland dan Vos (1935) melaporkanfrekuensi kista dermoid sebesar 3,8% dari 451 tumor ovarium yang diperiksadi Nederlands-

18

Indisch Kanker Instituut di Bandung, diantaranya satu kasus pada anak umur 13 tahun. 1,15 Tidak ada ciri-ciri yang khas pada kista dermoid. Dinding kistakelihatan putih, keabu-abuan, dan agak tipis. Konsistensi tumor sebagiankistik kenyal, di bagian lain padat. Sepintas lalu kelihatan seperti kista berongga satu, akan tetapi bila dibelah, biasanya nampak satu kista besar dengan ruangan kecil-kecil dalam dindingnya. Pada umumnya terdapat satudaerah pada dinding bagian dalam yang menonjol dan padat.Tumor mengandung elemen-elemen ektodermal, mesodermal danentodermal. Maka dapat ditemukan kulit, rambut, kelenjar sebasea, gigi(ektodermal), tulang rawan, serat otot jaringan ikat (mesodermal), dan mukosatraktus gastrointestinalis, epitel saluran pernapasan, dan jaringan tiroid(entodermal). Bahan yang terdapat dalam rongga kista ialah produk darikelenjar sebasea berupa massa lembek seperti lemak, bercampur dengan rambut. Rambut ini terdapat beberapa serat saja, tetapi dapat pula

merupakangelondongan seperti konde. 1,5 Pada kista dermoid dapat terjadi torsi tangkai dengan gejala nyeri mendadak di perut bagian bawah. Ada kemungkinan pula terjadinya sobekandinding kista dengan akibat pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum.Perubahan keganasan agak jarang, kira-kira dalam 1,5% dari semua kistadermoid, dan biasanya pada wanita lewat menopause. Yang tersering adalahkarsinoma epidermoid yang tumbuh dari salah satu elemen ektodermal. Adakemungkina pula bahwa satu elemen tumbuh lebih cepat dan

menyebabkanterjadinya tumor yang khas. 1,15

19

2.5.3. Kista Ovarium Neoplastik Ganas 1. Kistadenokarsinoma Musinosum Pada kista kadang ditemukan daerah-daerah padat dengan pertumbuhan papiler yang setelah diteliti tenyata di tempat itu ditemukan tanda-tanda keganasan. Keganasan ini terdapat sekitar 5-10% dari kistadenoma musinosum. Kistadenokarsinoma papiliferum pseudo-musinosa adalah salah satu varian dengan kemungkinan penyebaran lokal yang tinggi.13 2. Kistadenokarsinoma Serosum Secara makroskopik, kistadenoma serosum dengan pertumbuhan papiler tidak dapat dibedakan antara jenis ganas dan jinak, bahkan dengan pemeriksaan mikroskopik pun tidak selalu dapat dipastikan. Pada papil dapat ditemukan endapan kalsium dalam stroma (psamoma) yang menunjukkan bahwa kista tersebut adalah kistadenoma ovarii serosum papiliferum, tetapi tidak dapat mmemastikan bahwa kista itu ganas. Dengan demikian, garis pemisah antara kistadenoa ovarii papiliferum yang ganas dan jinak sukar ditentukan.13 Namun apabila secara mikroskopik ditemukan pertumbuhan papiler, proliferasi dan stratifikasi epitel serta anaplasi dan mitosis pada sel, maka digolongkan ke dalam kista ganas.13 2.6. Manifestasi Klinis Kista Ovarium Kebanyakan kista ovarium bersifat asimptomatik terutama yang berukuran kecil, bahkan kista yang ganas pun umumnya tidak bergejala sampai mencapai stadium lanjut.8,10 Sebagian gejala dan tanda merupakan akibat dari pertumbuhan,

20

aktivitas endokrin atau komplikasi tumor tersebut.1 Kista ovarium menimbulkan gejala nyeri jika terdorong ke struktur sekitarnya, ruptur dan perdarahan. Gejalagejala yang dapat ditimbulkan oleh kista ovarium adalah:8,10 Ketidakaturan siklus haid dan perdarahan abnormal pervaginam. Pada wanita muda dapat terjadi pubertas prekoks dan menars onset dini. Nyeri pinggul, bersifat tumpul yang menetap atau intermittent yang menjalar ke belakang dan paha. Nyeri jika bersenggama khususnya dengan penetrasi yang dalam. Endometrioma berhubungan dengan endometriosis yang menyebabkan trias klasik: nyeri haid dan berat serta dispareunia. Rasa tidak nyaman ataupun nyeri pada perut bawah. Torsi atau ruptur dapat menyebabkan nyeri yang lebih hebat. Nyeri pada pergerakan perut. Mual, muntah, perut terasa penuh. Penekanan pada kandung kemih dapat menyebabkan keluhan miksi begitu juga terhadap usus.

2.7. Pemeriksaan Fisik Kista Ovarium Meskipun ovarium normal dapat teraba pada pemeriksaan pelvik pada wanita premenopause yang kurus, terabanya ovarium harus pula dipertimbangkan sebagai abnormalitas pada wanita postmenopause. Pada pasien gemuk, perabaan kista lebih sulit dilakukan.10 Apabila pada pemeriksaan ditemukan tumor di rongga perut bawah dan atau di rongga panggul, maka setelah diteliti sifatnya (besar,

21

lokalisasi, permukaan, konsistensi, mobilitas) perlu ditentukan jenis tumor tersebut.13 Pada tumor ovarium biasanya uterus dapat diraba tersendiri terpisah dari tumor. Jika tumor ovarium letaknya di garis tengah dalam rongga perut bagian bawah dan konsistensinya kistik, perlu dipikirkan adanya kehamilan ataun kandung kencing yang penuh.13 Terkadang besar kista dapat dengan mudah terlihat dari luar dengan perabaan kenyal, serviks dan uterus terdorong ke salah satu sisi. Kista yang besar dapat teraba pada pemeriksaan abdomen.8 Di negara-negara berkembang, tumor ovarium sering menjadi besar sehingga mengisi seluruh perut. Dalam hal ini tumor itu sendiri atau gross ascites dapat menggangu palpasi massa intraabdominal.9,13 Massa lain dapat teraba, seperti jaringan fibroid dan nodul pada ligamen uterosakral yang menunjukkan endometriosis atau keganasan. Penyakit keganasan berhubungan dengan penurunan berat badan dan kakeksia, limfadenopati leher, nafas pendek dan tanda efusi pleura.9 Apabila sudah ditentukan bahwa tumor yang ditemukan adalah tumor ovarium maka perlu diketahui apakah tumor tersebut bersifat neoplastik atau bukan. Tumor non neoplastik akibat peradangan umumnya dalam anamnesis mengarah kepada gejala peradangan genital, dan pemeiksaan tumor tidak dapat digerakkkan karena perlekatan. Kista non neoplastik umumnya tidak membesar dan dapat menghilang sendiri. Jika tumor ovarium bersifat neoplastik maka harus ditentukan apakan bersifat jinak atau ganas. Tidak jarang hal ini pun tidak dapat

22

dipastikan sebelum dilakukan operasi, tetapi pemeriksaan yang cermat dapat membantu.13

2.8. Pemeriksaan Penunjang Kista Ovarium 1. Pemeriksaan Lab Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang bersifat diagnostik untuk kista ovarium. Cancer antigen 125 (CA125) merupakan protein yang diekspresikan pada membran sel ovarium normal dan juga karsinoma ovarium. Kadar serum kurang dari 35 U/mL merupakan kadar normal. Sedangkan peningkatan nilai CA125 didapatkan pada 85% pasien dengan karsinoma epitel ovarium. Meskipun demikian, hanya 50% pasien dengan stadium I yang kadar CA125 nya mengalami peningkatan. Kadar CA125 juga dapat meningkat pada pasien dengan keganasan lainnya, dan kelainan ovarium yang jinak bahkan pada 6% populasi sehat. Penemuan peningkatan kadar CA125 dapat bermakna jika dikombinasikan dengan pemeriksaan USG pada wanita postmenopause dengan kista ovarium.9 Tumor marker lainnya yang dapat meningkat antara lain: serum inhibin pada tumor sel granulosa, alpha-fetoprotein pada tumor endodermal sinus, lactic dehydrogenase pada disgerminoma, serta alpha-fetoprotein dan -hCG pada karsinoma embrional.9 2. Pencitraan a. Ultrasonography (USG) Merupakan penunjang utama dalam diagnosis kista ovarium. Pada USG, kista ovarium akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat

23

(kadang-kadang oval) dan terlihat sangat echolucent dengan dinding yang tipis/tegas/licin, dan di tepi belakang kista nampak bayangan echo yang lebih putih dari dinding depannya. Kista ini dapat bersifat unilokuler (tidak bersepta) atau multilokuler (bersepta-septa). Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-halus (internal echoes) di dalam kista yang berasal dari elemen-elemen darah di dalam kista.8,9 Kista simpel berbentuk unilokular dengan dinding tipis dan sebuah cavitas tanpa internal echo. Kebanyakannya merupakan kista fungsional folikular atau luteal, atau kistadenoma serous atau kista inklusi. Kista kompleks memiliki lebih dari satu kompartment (multilokular), dinding lebih tebal, papul menempel ke dalam lumen atau pada permukaan, atau dengan isi kista yang abnormal. Kista hemoragik, endometrioma dan dermoid cenderung memiliki karakteristik khusus pada USG sehingga dapat dibedakan dari kista kompleks ganas.9 Gambaran USG kista dermiod menunjukkan komponen yang padat yang dikelilingi dengan kalsifikasi. Sedangkan pada kista endometriosis menunjukkan karakteristik yang difus, low level echoes pada endometrium yang memberikan gambaran yang padat. Polikistik ovarium menunjukkan jumlah folikel perifer dan hiperechoid stroma. Namun USG tidak dapat membedakan dengan baik hidrosalpinx, paraovarian dan kista tuba dari kista ovarium.8

24

Endovaginal Sonogram: pemeriksaan ini dapat memperlihatkan secara detail struktur pelvis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara endovaginal dan dalam keadaan vesica urinaria kosong.8,9 Transabdominal Sonogram: lebih baik dibandingkan endovaginal ultrasonography untuk mengevaluasi besarnya massa serta struktur intra abdominal lainnya seperti ginjal, hati dan asites. Syarat pemeriksaan transabdominal sonogram dilakukan dalam keadaan vesica urinaria terisi/penuh.8,9 b. Doppler Flow Pemeriksaan ini dapat mendeteksi aliran darah di dalam dinding kista dan sekitarnya, termasuk permukaan tumor, septa, bagian solid di dalam tumor dan stroma peritumor ovarium. Prinsipnya, pembuluh darah baru pada tumor memiliki resistensi yang lebih rendah terhadap aliran darah karena kurangnya sel otot polos pada dindingnya. Hal ini dapat dihitung melalui indeks pulsatilitas atau resistif. Estimasi indeks resistif dibatasi untuk wanita premenopause karena besarnya overlapping aliran dengan resistensi rendah pada tumor dan kanker dini. Penentuan ada tidaknya aliran darah di dalam kista dapat membantu diagnosis, misalnya, kista hemoragik memiliki septa internal tanpa aliran darah.9 c. MRI MRI dengan kontras gadolinium dapat mempertegas gambaran jika pada pemeriksaan USG masih meragukan. Gambaran MRI lebih jelas memperlihatkan jaringan halus dibandingkan dengan CT-scan, serta

25

ketelitian dalam mengidentifikasi lemak dan produk darah. CT-Scan dapat pemberian petunjuk tentang organ asal dari massa yang ada. Namun demikian, MRI tidak terlalu dibutuhkan dalam banyak kasus.8,9

d. CT-scan CT scanning masih kurang efektif dibandingkan USG dan MRI dalam pencitraan kista ovarium dan massa pelvik. CT scan dapat digunakan untuk pemeriksaan intra-abdominal dan retroperitoneum pada kasus keganasan ovarium. USG dan MRI jauh lebih baik dalam mengidentifikasi kista ovarium dan massa/tumor pelvis dibandingkan dengan CT-Scan.8,9 3. Histologik Diagnosis pasti semua kista ovarium dibuat berdasarkan pemeriksaan histologis.9 2.9. Diagnosis Banding Kista Ovarium Diagnosis pasti tidak dapat dilihat dari gejala-gejala saja. Karena banyak penyakit dengan gejala yang sama pada kista ovarium, diantaranya adalah:8 1. Inflamasi Pelvik (PID) Pada pemeriksaan endovaginal sonogram, memperlihatkan secara relatif pembesaran ovarium kiri (pada pasien dengan keluhan nyeri). 2. Endometriosis

26

Pada pemeriksaan endovaginal sonogram tampak karakteristik yang difus, echo yang rendah sehingga memberikan kesan yang padat. 3. Kehamilan Ektopik Pada pemeriksaan endovaginal sonogram memperlihatkan ring sign pada tuba, dengan dinding yang tebal disertai cairan yang bebas disekitarnya. 4. Kanker Ovarium Pada pemeriksaan transvaginal ultrasound didapatkan dinding tebal dan ireguler. 2.10. Penatalaksanaan Kista Ovarium 1 Pendekatan Ekspektatif Dapat dipakai sebagai prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor ovarium non neoplastik tidak. Jika tumor ovarium tidak memberikan keluhan pada pasien dan besarnya kurang dari 5 cm, kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista korpus lutein (tumor ovarium non neoplastik).1 Kebanyakan pasien dengan kista simpel berdasarkan USG tidak memerlukan perawatan.9 Pada pasien postmenopause, kista simpel persisten yang lebih kecil dari 5 cm dengan nilai CA125 normal dimonitor dengan pemeriksaan USG serial. 8,9 Beberapa bukti menunjukkan bahwa hal ini dapat dilakukan bahkan untuk kista ukuran hingga 10 cm. Wanita premenopause tanpa gejala dengan kista simpel ukuran kurang dari 8 cm pada USG dan nilai CA125 normal dimonitor dengan pemeriksaan USG serial dalam 8-12 minggu. Terapi hormon tidak membantu menekan stimulasi ovarium oleh gonadotropin.9

27

Tidak jarang kista tersebut menghilang dimana pada pemeriksaan USG ulang setelah beberapa minggu ditemukan ovarium yang besarnya normal. Oleh sebab itu hendaknya diambil sikap menunggu selama 2-3 bulan sementara dilakukan pemeriksaan ginekologik berulang.13

2. Pil Kontrasepsi Meskipun kebanyakan kista fungsional dapat mengecil sendiri, kontrasepsi oral dapat digunakan untuk mempercepat prosesnya. Pemakaian pil kontrasepsi juga mengurangi peluang pertumbuhan kista.8,11 Kista ovarium dapat direduksi dengan membuat tubuh seolah-olah dalam kondisi hamil. Ketika tubuh dalam keadaan hamil, ovulasi tidak terjadi dan tidak ada folikel yang terbentuk sehingga kista ovarium tidak terbentuk pula. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan hormon progesteron yang oleh tubuh diproduksi untuk mempersiapkan kehamilan setelah terjadi ovulasi (pro berarti untuk, gesteron berarti gestasi). Progesteron secara tidak langsung memberikan sinyal kepada ovarium untuk berhenti memproduksi sel ovum dan menghentikan pertumbuhan kista ovarium dari folikel ovarium yang belum pecah.12 Jika progesteron diberikan sebelum terjadi ovulasi maka kadar LH akan dihambat yang berdampak pada tidak terjadinya ovulasi (sama seperti efek pil kontrasepsi). Pemberian progesteron pada hari ke 10-26 siklus haid dapat menekan kadar LH dan efeknya sehingga tidak terjadi stimulasi perkembangan kista sehingga kista dapat mengecil.12

28

Namun

demikian,

MacKenna

dkk

(2000)

dalam

penelitiannya

menyebutkan bahwa pemberian kontrasepsi oral dalam penanganan kista ovarium fungsional sama efektifnya dengan terapi ekspektatif dimana kista menghilang secara spontan setelah siklus kedua.14

3. Tindakan Operatif Hanya sekitar 10% kista ovarium post menopausal adalah kista fungsional, 90% sisanya adalah tumor dengan kista baik jinak maupun ganas. 11 Pada kista simpel persisten dengan ukuran lebih besar dari 5-10 cm serta kista ovarium kompleks dapat dilakukan tindakan operatif.9 Jika kista tidak menghilang setelah beberapa episode menstruasi, kista semakin besar, nyeri pada masa postmenopouse, dokter harus segera mengangkatnya. Ada 2 tindakan bedah yang utama, yaitu: laparoskopi dan laparotomi.8 Laparoskopi dilakukan untuk pasien tanpa keganasan, yakni pasien dengan dermoid atau endometrioma, kista fungsional atau kista simpel yang bergejala dan tidak berkurang dengan perawatan konservatif, serta kasus dengan gejala akut. Secara umum, kista harus dapat diangkat secara intak. Sedangkan laparotomi dilakukan pada pasien yang dipertimbangkan memiliki risiko keganasan atau untuk pasien dengan kista benign-appearing yang tidak dapat diangkat secara intak dengan laparoskopi.9 Tujuan dari laparoskopi dan laparotomi adalah:9 Untuk memastikan diagnosis kista ovarium

29

Untuk menilai apakah kista ganas atau tidak Untuk mendapatkan cairan dari pencucian peritoneal guna pemeriksaan sitologi

Untuk mengangkat keseluruhan kista secara intak guna pemeriksaan patologik termasuk pemeriksaan frozen section

Untuk menilai ovarium sisi lainnya dan organ abdominal lainnya Tindakan operatif pada tumor ovarium neoplastik jinak adalah

pengangkatan tumor dengan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Bila terlalu besar atau disertai komplikasi, perlu dilakukan pengangkatan ovarium, biasanya disertai pengangkatan tuba (salpingo-ooforektomi). 13 Eksisi kista saja dengan membiarkan ovarium dapat pula dilakukan pada pasien yang menghendaki ovariumnya tidak diangkat untuk alasan tertentu, misalnya pada kasus endometrioma, dermoid dan kista fungsional.9 Jika kista ovarium jinak, pengangkatan ovarium sisi lainnya mesti dipertimbangkan pada wanita postmenopause, perimenopause dan premenopause usia di atas 35 tahun yang tidak berencana memiliki anak lagi dan pasien yang memiliki risiko tinggi keganasan ovarium. Sebelumnya harus dibicarakan dahulu (informed consent) dengan pasien.9 Jika terdapat keganasan, operasi yang tepat adalah histerektomi dan salpingo-ooforektomi bilateral. Tapi untuk wanit muda yang masih ingin hamil dan dengan tingkat keganasan tumor rendah (misalnya tumor sel granulosa) dapat dilakukan operasi yang tidak terlalu radikal.13 4. Diet

30

Tidak ada restriksi diet tertentu untuk pasien dengan kista ovarium (sama seperti wanita normal/ sehat lainnya).9

5. Pencegahan Terhadap Keganasan9 Penggunaan terhadap pil kontrasepsi membantu melindungi terhadap perkembangan kista fungsional. Riwayat penggunaan pil kontrasepsi dalam 15 tahun dapat menurunkan risiko kistadenokarsinoma ovarium. Menjalani pemeriksaan ginekologik tahunan. Belum ada tes skrining untuk kistadenokarsinoma ovarium, tetapi wanita risiko tinggi berdasarkan riwayat penyakit keluarga atau riwayat ca-mammae sebelumnya mesti menjalani pemeriksaan USG tahunan dan pemeriksaan CA125. Wanita risiko tinggi kistadenokarsinoma ovarium dapat ditawarkan tindakan operatif berupa ooforektomi sebagai profilaksis terhadap kanker ovarium (bukan karsinoma peritoneal).

2.11. Komplikasi Kista Ovarium 1. Perdarahan Ke Dalam Kista (Hemoragik) Biasanya terjadi sedikit-sedikit sehingga berangsur-angsur menyebabkan pembesaran kista, dan hanya menimbulkan gejala-gejala minimal. Akan tetapi bila perdarahan terjadi tiba-tiba dan dalam jumlah banyak akan terjadi distensi cepat dari kista yang menimbulkan nyeri perut mendadak.8,9,13

31

2. Putaran Tangkai (Torsi) Dapat terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm akan tetapi yang belum amat besar sehingga gerakan terbatas. Kondisi yang mempermudah terjadi torsi adalah kehamilan, karena uterus yang membesar pada kehamilan dapat mengubah letak tumor dan sesudah persalinan dapat terjadi perubahan mendadak dalam rongga perut.8,9,13 Putaran tangkai dapat menyebabkan gangguan sirkulasi dan menimbulkan tarikan pada ligamentum infundibulum pelvikum terhadap peritoneum parietal dan menimbulkan rasa sakit. Karena vena lebih mudah tertekan, maka akan terjadi bendungan di dalam tumor sehingga tumor membesar dan terjadi perdarahan di dalamnya. Akibatnya dapat timbul nekrosis hemoragik dan robekan dinding kista dengan perdarahan intraabdominal atau peradangan sekunder.8,13 3. Infeksi Sekunder Dapat terjadi bila di dekat tumor ada sumber kuman patogen seperti apendisitis, divertikulitis atau salfingitis akut. Kista dermoid cenderung mengalami peradangan disusul dengan pernanahan.13 4. Robek Dinding Kista (Ruptur) Terjadi pada torsi tangkai atau akibat trauma. Kalau kista hanya mengandung cairan serous, rasa nyeri akibat robekan atau iritasi peritoneum segera berkurang. Tetapi bila robekan pada dinding kista disertai hemoragi yang timbul secara akut, maka perdarahan bebas dapat berlangsung terus-menerus ke dalam rongga peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus-menerus disertai tanda-tanda akut abdomen.8,9,13

32

5. Perubahan Menjadi Keganasan Massa kista ovarium yang berkembang setelah masa menopause besar kemungkinan untuk berubah menjadi kanker (maligna). Faktor inilah yang menyebabkan pemeriksaan pelvik menjadi penting.8 Dapat terjadi pada beberapa kista jinak, seperti kistadenoma ovarii serosum, kistadenoma ovarii mucinosum dan kista dermoid. Oleh sebab itu setelah tumor itu diangkat pada operasi, perlu pemeriksaan mikroskopik yang seksama terhadap kemungkinan perubahan keganasan. Adanya asites dan metastasis dapat memperkuat diagnosis keganasan.1 Meskipun potensi kistadenoma ovarium menjadi malignansi telah diprediksi namun hingga sekarang masih belum terbukti. Perubahan ke arah malignansi terjadi pada sedikit kasus kista dermoid dan endometrioma.9 2.12. Prognosis Kista Ovarium Kista ovarium fungsional dapat hilang sendiri setelah 2-3 siklus. Begitu pula kista ovarium jinak yang memiliki prognosis sangat baik. 8,9 Mortalitas berhubungan dengan karsinoma ovarium yakni terhadap stadium pada saat diagnosis, sedangkan pasien ini kebanyakannya datang dan terdiagnosis dalam keadaan lanjut. Angka rata-rata 5-years survival rate adalah 41,6% bervariasi antara 86,9% untuk stadium Ia FIGO (International Federation of Gynecology and Obstetrics) dan 11,1% untuk stadium IV.9 Kebanyakan tumor sel germinal terdiagnosis pada stadium awal dan memiliki outcome yang sangat baik. Disgerminoma stadium lanjut memiliki outcome yang lebih baik dibandingkan tumor nondisgerminoma. Angka 5-YSR

33

tumor sel granulosa berkisar sekitar 82%, sedangkan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari kista dermoid memiliki outcome yang sangat jelek.9 Walaupun penanganan dan pengobatan kanker ovarium telah dilakukan dengan prosedur yang benar namun hasil pengobatannya sampai sekarang ini belum sangat menggembirakan termasuk pengobatan yang dilakukan di pusat kanker terkemuka di dunia sekalipun. Angka 5-YSR penderita kanker ovarium stadium lanjut hanya kira-kira 20-30%.8 2.13. Kista Ovarium pada Kehamilan Dengan adanya pemeriksaan USG rutin, kista ovarium sering terdiagnosis pada kehamilan. Komplikasi yang dapat terjadi adalah obstruksi pada persalinan nantinya. Evaluasi kista dilakukan sama seperti evaluasi pada wanita tidak hamil, dengan USG dan nilai CA125. MRI lebih dipilih daripada CT-scan, namun keduanya tetap harus dihindari pada kehamilan trimester pertama.9 Kista simpel jinak tetap dimonitor meskipun kebanyakannya menghilang secara spontan. Kista persisten ukuran 5-10 cm atau kista simtomatik atau kista yang dicurigai ganas dapat diangkat pada trimester kedua kehamilan.9

34

35