Anda di halaman 1dari 7

1

APLIKASI PROGRAM MATLAB PADA PERANCANGAN SISTEM PEMBUMIAN


GARDU INDUK DENGAN SISTEM GRID
Oleh Umar, Ramly Rasyid
Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Khairun
umarmh@yahoo.com
Abstrak
Sistem pembumian pada suatu Gardu Induk dimaksudkan untuk menjamin keamanan bagi manusia yang ada di dalam
dan disekitar Gardu Induk dari bahaya shock listrik saat terjadi gangguan. Untuk maksud tersebut, suatu sistem
pembumian biasanya disyaratkan agar tahanannya tidak melebihi 1 ohm. Namun ternyata bahwa kriteria tersebut
bukanlah merupakan satu-satunya jaminan bahwa Gardu Induk tersebut sudah aman dari bahaya shock listrik. Masih ada
beberapa kriteria lainnya yang perlu diperhatikan, diantaranya tegangan sentuh dan tegangan langkah yang timbul dalam
gardu induk tersebut. Pada paper ini, Perancangan Sistem Pembumian Grid didasarkan pada tegangan sentuh dan tegangan
langkah dengan menggunakan standar 80 IEEE. Program dibuat dengan menggunakan MATLAB versi 7.04. Hasil
simulasi menunjukkan bahwa hasil perancangan telah memenuhi standar 80 IEEE, yaitu tahanan pembumian 0, 216 ohm,
tegangan langkah maksimum 547,48 volt dan tegangan sentuh maksimum sebesar 511,34 volt. Ketiga indikator tersebut
lebih kecil dari nilai yang dipersyaratkan.
Keywords: Gardu induk, pembumian, shock listrik, tegangan langkah, tegangan sentuh
I. Pendahuluan
Masalah keamanan adalah merupakan salah satu
faktor kunci dalam perencanaan instalasi tenaga listrik,
demikian halnya dengan Gardu Induk. Pada prinsipnya
pembumian mempunyai tujuan untuk menyediakan
jalan bagi arus ketanah pada kondisi abnormal tanpa
melampaui batas-batas kemampuan dari peralatan, dan
menjamin personil yang berada di dalam dan di sekitar
gardu induk supaya terlindung dari bahaya shock listrik.
Secara teknik, suatu gardu induk tidak tertutup dari
kemungkinan terjadinya gangunan, baik akibat
kesalahan manusia, maupun pengaruh alam. Faktor-
faktor yang memungkinkan terjadinya shock listrik,
antara lain:
1. Kemungkinan arus gangguan tanah yang besar
dalam hubungannya dengan tahanan jenis tanah dan
ukuran sistem pembumian.
2. Tahanan jenis tanah dan distribusi arus yang
mengalir dalam tanah yang memungkinkan
terjadinya gradient tegangan yang tinggi pada lebih
dari satu titik pada permukaan tanah.
3. Tidak adanya tahanan kontak atau tahanan seri yang
cukup untuk membatasi arus yang masuk dalam
tubuh pada suatu nilai yang aman.
4. Seseorang berada pada suatu waktu, tempat dan
posisi yang dihubungkan dengan beda potensial
yang tinggi.
5. Terjadinya kontak dan gangguan yang cukup lama,
yang menyebabkan kerusakan pada organ vital
seperti jantung oleh intensitas arus yang mengalir
dalam tubuh.
Kemampuan tubuh manusia terbatas terhadap lama dan
besar arus yang mengalir di dalamnya. Dalam batas-
batas tertentu dimana besarnya arus belum berbahaya
terhadap organ tubuh manusia telah dilakukan berbagai
macam percobaan, yang menghasilkan batasan-batasan
arus sebagai berikut:
1. Arus persepsi (perception current).
Bila orang memegang penghantar yang diberi arus
bolak-balik mulai dari harga nol dan dinaikkan
sedikit demi sedikit, mula-mula arus merangsang
syaraf sehingga akan terasa suatu getaran listrik
yang tidak berbahaya. Tetapi bila dengan arus
searah akan terasa sedikit panas pada telapak
tangan. Pada Electrical Test Laboratory New York
tahun 1933 diperoleh arus ambang persepsi rata-
rata (threshold of perception current) 1,1 mA
untuk laki-laki dan 0,7 mA untuk perempuan.
2. Arus mempengaruhi otot (let-go
current). Bila tegangan yang menyebabkan arus
persepsi dinaikkan lagi, maka akan terasa sakit dan
otot-otot akan terasa kaku sehingga tidak berdaya
untuk melepaskan konduktor yang tersentuh atau
terpegang. Arus rata-rata yang mempengaruhi otot
adalah 16 mA untuk laki-laki dan 10,5 mA untuk
perempuan.
3. Arus vibrasi. Bila arus yang melewati
tubuh manusia lebih besar dari arus yang
mempengaruhi otot, maka arus tersebut dapat
mengakibatkan pingsang bahkan sampai pada
kematian. Arus ini dapat menyebabkan jantung
berhenti bekerja dan peredaran darah tidak jalan.
Dari percobaan yang sama, diperoleh kesimpulan
bahwa ambang arus vibrasi sekitar 100 mA dengan
waktu shock maksimum 3 detik. Penelitian juga
dilakukan oleh Biegelmier tahun 1976. Dari
penelitiannya itu dikemukakan bahwa:
2

a. Untuk waktu kontak yang
lebih kecil dari 1 periode denyut jantung
diperoleh ambang arus vibrasi 500 mA
b. Untuk waktu kontak yang
lebih besar dari 1 periode denyut jantung
diperoleh ambang arus vibrasi 50 mA.
4. Arus reaksi. Arus reaksi adalah arus
terkecil yang dapat mengakibatkan orang menjadi
terkejut. Hal ini juga cukup berbahaya karena dapat
mengakibatkan kecelakaan sampingan.
Dengan melihat efek dari besar dan lama arus dan
implikasinya pada kemungkinan terjadinya kecelakaan,
maka penanganan gangguan secara cepat sangat
diperlukan karena kemungkinan shock listrik dapat
dikurangi secara signifikan dengan penanganan ganggun
secara cepat. Dari hasil penyelidikan dan pengalaman
memperlihatkan bahwa kemungkinan kecelakaan yang
besar dapat dikurangi jika lama arus yang mengalir
dalam tubuh sangat singkat. Oleh karena itu arus yang
mengalir dalam tubuh seharusnya menjadi dasar dari
penentuan waktu kerja dari main atau back up protective
relay.
II. Perencanaan Pembumian Sistem Grid
Dalam perencanaan pembumian gardu induk selalu
diupayakan untuk memenuhi tujuan utama yaitu
memperoleh impedansi yang kecil dan memastikan
bahwa aman bagi manusia yang berada di area
switchyard pada keadaan gangguan tanah. Persyaratan
yang harus dipenuhi dalam perencanaan gardu induk
berskala besar menurut standar 80-1986 IEEE/ANSI,
antara lain :
a) Nilai resistansi pembumian 1 Ohm.
b) Tegangan mesh/sentuh (Em) < Kriteria tegangan
sentuh yang diijinkan
c) Tegangan langkah (Es) < Kriteria tegangan langkah
yang diijinkan.
Parameter pembumian yang diperlukan antara lain :
dimensi konduktor, resistans pembumian, arus grid
maksimum, tegangan sentuh dan tegangan langkah.
Dengan memenuhi persyaratan yang dibakukan oleh
Standard 80 IEEE atau ANSI berarti akan menjamin
keamanan bagi orang yang berada di area switcyard.
2.1 Luas Daerah Pembumian
Perencanaan lay out sistem pembumian pada suatu
Gardu Induk sangat ditentukan oleh luas daerah
pembumian, tahanan jenis tanah, dan pentingnya sistem
tersebut terhadap sistem secara keseluruhan.
Sebelum merencanakan sistem pembumian suatu gardu
induk, perlu dilakukan penelitian terhadap tahanan jenis
tanah, dan jenis elektroda yang tepat untuk sistem yang
direncanakan. Untuk pengukuran tahanan pembumian
terdapat berbagai macam metode yang dapat digunakan,
seperti metode dua titik (metode voltmeter -
amperemeter), metode tiga titik, dan metode rasio atau
metode jatuh potensial. Metode yang paling umum
digunakan untuk mengukur tahanan pembumian adalah
metode tegangan jatuh. Menurut HB Dwight (Pabla AS)
tahanan jenis tanah dapat dihitung dengan rumus:

,
_

1
4
2
a
L
Ln
RL


Dengan:
R= Tahanan tanah ()
a= Jari-jari elektroda (Cm)
L= Kedalaman penanaman elektroda (Cm)
II.2 Perhitungan Arus Hubung Singkat
Arus hubung singkat yang terjadi terdiri dari dua
komponen, yaitu komponen arus bolak-balik dan
komponen arus searah. Dalam perhitungan, biasanya
komponen arus searah sangat sulit untuk ditentukan dan
hanya mengalir pada perioda waktu tertentu. Suatu
sistem selalu akan mengadakan perkembangan akibat
pertambahan penduduk dan perkembangan industri yang
menyebabkan arus hubung singkat menjadi lebih besar.
Perkembangan sistem dalam perencanaan pembumian
biasanya diperhitungkan dengan pemberian suatu
konstanta Cp pada perhitungan arus hubung singkat.
Untuk sistem yang tidak mengalami perkembangan nilai
Cp adalah 1.
Tabel 1. Decrement factor
Lama
gangguan ts
(detik)
Cycles(60
Hz AC)
Decrement
factor
0,008 0,5 1,65
0,1 6 1,25
0,25 15 1,10
0,5 atau lebih
besar
30 atau
lebih besar
1,00
Untuk suatu perkembangan sistem yang tidak diketahui,
nilai pendekatan Cp adalah 1,5. Dengan
memperhitungkan kedua faktor tersebut, maka besar arus
hubung singkat sebenarnya adalah:
IG = Cp Df Ig (2)
Dengan:
Ig = Sf If
IG = Arus hubung singkat sebenarnya (A)
Ig = Arus gangguan fasa ketanah (A)
(1)
3

If = 3Io =nilai rms dari arus gangguan tanah
Io = Arus gangguan urutan nol
Df = Decrement factor
Cp = Faktor koreksi perkembangan sistem.
Sf = faktor pembagi arus gangguan; 0,7 (untuk gardu
induk yang berkawat tanah)
II.3 Ukuran Penampang konduktor
Menurut Sverak (IEEE 1986), besar penampang
konduktor minimum elektroda pembumian dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan :
4
0
10
ln 1
s r r
CAP
C f
m a
a
t
T
A I
T T
K T

_ _
+

+
, ,
mm
2
(3)
Dengan:
If = Arus gangguan 3 fasa rms (kA).
Ac = Luas penampang konduktor (mm
2
).
Tm = Temperatur maksimum yang diijinkan.
Ta = Temperatur ambient (
o
C).
Tr = Temperatur referensi untuk material (
o
C).
o = Koefisien termal pada suhu 0
o
C .
r = Koefisien termal pada suhu referensi Tr (
o
C).
r = Tahanan jenis konduktor pada suhu referensi
Tr (/Cm
3
).
Ko = 1/o, atau (1/r) Tr.
ts = Lama arus gangguan (detik).
TCAP = Faktor kapasitas termal (J/Cm
3
/
o
C)
II.4 Tahanan Pembumian
Suatu sistem pembumian biasanya terdiri dari satu
atau beberapa buah elektroda atau merupakan gabungan
dari beberapa jenis elektroda yang digunakan secara
bersama-sama. Ada beberapa jenis elektroda yang sering
digunakan dalam sistem pembumian, antara lain
elektroda batang, elektroda strip, dan elektroda pelat.
Pembumian dengan elektroda strip digunakan pada
tempat dimana penanaman elektroda sangat sukar untuk
dilakukan. Elektroda strip yang biasa digunakan adalah
counterpoise, bentuk cincin, dan sistem grid.
Sistem pembumian grid adalah sistem pembumian yang
terdiri dari jaringan konduktor, dapat berupa bujur
sangkar, persegi panjang, atau bentuk-bentuk lain yang
disesuaikan dengan kondisi lapangan. Bentuk grid sering
digunakan pada sistem pembumian gardu induk karena:
1. Dapat memperkecil gradien tegangan yang timbul
pada permukaan tanah.
2. Untuk mendapatkan tahanan pembumian yang kecil,
sesuai dengan yang dikehendaki tanpa melakukan
penanaman konduktor yang lebih dalam.
3. Hubungan dari konduktor pembumian keperalatan
lebih praktis.
Untuk menghitung tahanan pembumian sistem grid,
dengan kedalaman tertentu, dapat menggunakan rumus
pendekatan yang dikemukakan Sverak (IEEE 1986):
1 1 1
Rg = 1
20 20
1
L A
h
A

1 _
1
1 + +
1
+
1
, ]

Dengan:
Rg = Tahanan grid ()
A = Luas daerah grid/pembumian (m
2
)
h = Kedalaman grid konduktor (m)
Untuk sistem pembumian grid yang di kombinasi
dengan rod, maka panjang total konduktor adalah :
L = Lc + Lr (5)
Dengan:
L = Panjang total konduktor
Lc= Panjang grid
Lr= Panjang rod
II.5 Disain Awal
Dalam disain awal ini, yang perlu ditentukan adalah:
1. Koduktor pembumian. Konduktor pembumian
terbuat dari kabel tembaga yang dipilin (bare
stranded copper). Panjang total konduktor yang
digunakan termasuk dengan rod bila sistem
pembumian yang direncanakan adalah merupakan
kombinasi sistem grid dengan rod.
2. Jarak (D) dan jumlah konduktor paralel (n).
Ditentukan berdasarkan panjang konduktor total yang
diperlukan dan luas areal pembumian yang tersedia
untuk sistem. Jarak konduktor paralel (IEEE 1986)
adalah 3 m 15 m. Semakin kecil jarak konduktor
paralel, gradient tegangan yang timbul semakin kecil
namun dari segi biaya semakin mahal.
3. Kedalam grid (h). Menurut IEEE (1986),
konduktor sistem pembumian grid ditanam dibawah
permukaaan tanah dengan kedalaman antara 0,5 m
1,5 m.
II.6 Pengaruh Penambahan Lapisan Kerikil
(Crushed Rock)
Penambahan lapisan kerikil pada permukaan tanah
dalam gardu induk akan memberikan tahanan kontak
yang besar antara tanah dengan kaki, mempermudah
untuk memindahkan peralatan yang berada dalam gardu
induk bila terjadi perbaikan maupun penggantian
peralatan. Menurut Langer (IEEE 1986) penambahan
lapisan kerikil akan mengurangi arus yang masuk dalam
tubuh dua puluh kali lebih kecil. Lapisan kerikil dengan
tebal 4 6 inchi (0,1 m 0,15 m) dapat mengurangi
bahaya akibat shock listrik sepuluh kali lebih kecil bila
(4)
4

tanpa lapisan kerikil. Faktor reduksi akibat penambahan
lapisan kerikil adalah:



2
1
1
1 2
0, 96
2
1
0, 08
n
n
s
s
Cs
nhs

1
_
1

+ 1
,
+
1
_ 1
+

1
,
]

(6)
Dengan:
Cs = Faktor reduksi. Untuk tahanan jenis kerikil sama
dengan tahanan jenis tanah, Cs = 1

= Tahanan jenis tanah ( - m).

s = Tahanan jenis permukaan tanah ( - m).


hs = Tebal lapisan kerikil (m).
n = Bilangan bulat positif.
II.7 Tegangann Sentuh dan Tegangan Langkah yang
Diijinkan
Penentuan kriteria tegangan langkah dan tegangan
sentuh pada dasarnya adalah penentuan besar arus vibrasi
yang digunakan sebagai dasar dalam perhitungan. Besar
arus vibrasi ini sangat menentukan efek kecelakaan
akibat shock listrik pada manusia. Arus vibrasi pada
setiap manusia adalah merupakan fungsi dari berat tubuh
masing-masing individu. Nilai yang digunakan adalah
ambang arus vibrasi. Tengan sentuh dan tegangan
langkah yang diijinkan adalah sebagai berikut:
E sentuh 50 =[ ]
0,116
1000 1, 5Cs s
ts
+
Volt (7)
E sentuh 70 =[ ]
0,157
1000 1, 5Cs s
ts
+
Volt (8)
Dan untuk perhitungan tegangan langkah pada
persamaan (6) dan persamaan (7) menjadi:
E langkah 50 =[ ]
0,116
1000 6Cs s
ts
+
Volt (9)
E langkah 70 =[ ]
0,157
1000 6Cs s
ts
+
Volt (10)
Dengan:
Cs = Faktor reduksi.
ts = Lama arus gangguan (detik).
E sentuh 50 = Tegangan sentuh dengan pendekatan berat
manusia adalah 50 Kg
E sentuh 70 = Tegangan sentuh dengan pendekatan berat
manusia adalah 70 Kg
II.8 Koefisien Km, Ks, Ki
Koefisien Km adalah suatu faktor yang digunakan
pada perhitungan tegangan mesh. Koefisien ini diambil
dalam perhitungan karena efek jumlah, jarak, diameter
dan kedalaman penanaman elektroda. Menurut Sverak
(IEEE 1986) untuk kedalaman 0 < h 2,5 m
koefisien Km tersebut dapat dihitung dengan:
( )
( )
2
2
2 1 1 8
2 16 8 4 2 1 1
D h D h
Km Ln Ln
hd Dd d n h
1 _ _ +
1 + +



+ 1
, , ]

Dengan:
h = Kedalaman grid (m)
D = Jarak antar konduktor (m)
d = Diameter konduktor grid (m)
n = Jumlah konduktor paralel
Ks adalah suatu faktor yang diambil dalam perhitungan
tegangan sentuh akibat adanya efek jumlah n, efek jarak
D, dan kedalaman konduktor grid h. Menurut IEEE 1986:
Untuk kedalaman konduktor h kurang dari 0,25
meter, koefisien Ks dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan:
untuk n< 6
1 1 1 1 1 1 1
Ks = ....
2 2 3 1 h D h D n
1 _
+ + + + +
1
+
, ]
(12)
untuk n 6
1 1 1 1 1
( 1) 0, 423
2 2( 1)
Ks Ln n
h D h D n
1 _
+ + +
1
+
, ]
Untuk kedalaman grid 0,25 m < h < 2,5
m
( )
2
1 1 1 1
Ks = 1 0, 5
2
n
h D h D

1
+ +
1
+
]

Faktor koreksi Ki adalah suatu faktor yang diambil dalam
perhitungan tegangan mesh karena tidak seragamnya
rapat arus pada konduktor grid. Faktor koreksi ini dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan:
Ki = 0,656 + 0,172 n (14)
II.9 Tegangan Sentuh dan Tegangan Langkah
sebenarnya
Tegangan mesh/tegangan sentuh maksimum secara
pendekatan sama dengan

i dimana i adalah arus yang


melalui konduktor grid. Tegangan sentuh maksimum
(tegangan mesh) adalah:
Emensh = Esentuh maks =
L
I KmKi
G

(15)
Menurut IEEE (1986):
Tegangan sentuh untuk sistem pembumian grid dengan
rod merata pada grid adalah:
Esentuh =
Lr Lc
I KmKi
G
+

(16)
Tegangan sentuh untuk sistem pembumian grid dengan
rod disekekliling grid adalah:
(11
)
(13)
5

Esentuh =
Lr Lc
I KmKi
G
15 , 1 +

(17)
Dengan:
L = Panjang total konduktor (m)
Lc = Panjang total konduktor grid (m)
Lr = Pangkan total rod (m)
Menurut IEEE, tegangan langkah maksimum dapt
dihitung dengan persamaan:
Tanpa rod disekekliling grid.
Elangkah maks=
Lr Lc
I KsKi
G
+

(18)
Dengan rod disekekliling grid
Elangkah maks =
Lr Lc
I KsKi
G
15 , 1 +

(19)
III. MODEL PERANCANGAN
Sistem pembumian yang dirancang adalah sistem
pembumian grid. Bentuk model rancangan adalah seperti
pada gambar 1
Ga
mbar 1 Model rancangan sistem pembumian grid.
Keterangan gambar:
L1 = Panjang areal pembumian (m)
L2= Lebar Areal pembumian (m)
n1= Konduktor paralel sisi panjang
m1= konduktor paralel sisi lebar
D1= Jarak konduktor paralel sis panjang
D2=Jarak konduktor paralel sisi lebar
Data-data yang digunakan dalam perancangan ini adalah:
Panjang areal pembumian (L1) = 88m
Lebar areal pembumian (L2) = 45,5m
Tahanan jenis tanah () = 28,81 -m
Tahanan jenis kerikil (s) = 3000 -m
Arus gangguan = 17 kA
Jenis konduktor =Bare stranded
Waktu gangguan = 0.5 detik
Kedalaman penanaman konduktor = 0,5m
Tebal lapisan kerikil = 0.15m
Untuk mendapatkan keseluruhan parameter-parameter
rancangan, maka proses perhitungan dilakukan dengan
menggunakan program MATLAB versi 7.04. Menurut
standar 80 IEEE langkah-langkah perencanaan sistem
pembumian pada gardu induk seperti diperlihatkan pada
gambar 2.
I. Rg < E
sentuh
izin
Kriteria Tegangan Sentuh
dan Tegangan Langkah
E
touch 50 or 70
&

E
touch 50 or 70
Data Lapangan
A,
Ukuran
Konduktor
3Io, tc, diameter
Disain Awal
D, n, L, h
Tahanan Grid
Rg, Lc, Lr
Arus pada Grid
I
G
, t
f
Tegangan sentuh & Tegangan
langkah sebenarnya
Em, Es, Km, Ks, Ki
Em < E
sentuh
izin
Es < E
langkah izin
Detail Disain
Merubah
Disain
D, n, L
Ya
tidak
tidak
tidak
ya
ya
6

Gambar 2. Diagram alir perencanaan pembumian
sistem grid (IEEE, standar 80)
IV. HASIL DAN ANALISA
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan program
MATLAB, diperoleh data-data hasil perancangan
sebagaiman diperlihatkan pada table 2.
Table 2 Hasil Perancangan Sistem Pembumian
Parameter pembumian Simbol Hasil
Panjang areal pembumian (m) L1 88
Lebar areal pembumian (m) L2 45,5
Luas areal pembumian (m
2
) A 4004
Tahanan jenis tanah (ohm-m) 28,81
Tebal lapisan krikil pada permukaan
tanah(m)
s 0,1
Kedalaman konduktor grid (m) h 0,5
Lama gangguan yang diijinkan (detik) ts 0,5
Besar arus hubung singkat
maksimum(kA)
IG 27
Luas penampang konduktor (mm) Ac 75,89
Diameter penampang konduktor (mm) d 9,83
Tahanan pembumian (ohm) Rg 0,216
Jarak konduktor pembumian sisi
panjang(m)
D1 6,769
Jarak konduktor pembumian sisi
lebar(m)
D2 3,792
Jumlah konduktor pembumian sisi
lebar
n 13
Jumlah konduktor pembumian sisi
panjang
m 14
Panjang total konduktor yang
digunakan(m)
L
1781
Tegangan langkah yang diijinkan (V) Es-50 1776.5
Tegangan langkah maksimum(V) Estep 547.5
Tegangan sentuh yang diijinkan(V) Et-50 567,2
Tegangan sentuh maksimum(V) Etouch 511,3
Jenis konduktor yang digunakan Bare Stranded
Kriteria berat manusia yang
digunakan.
50 kg
Dari hasil perencanaan terlihat bahwa tiga kriteria yang
merupakan indikasi tentang keamanan dari sistem
pemubumian terpenuhi:
1. Tahanan pembumian sebesar 0,2163 ohm lebih
kecil dari 1 ohm
2. Tegangan langka maksimum sebesar 547,48 Volt
jauh lebih kecil dari tegangan langkah yang
diijinkan, yaitu 1776, 48 volt.
3. Tegangan sentuh maksimum sebesar 511,34 volt
lebih kecil dari tegangan sentuh yang diijinkan,
yaitu sebesar 567,16 volt.
7

Pemenuhan kriteria tersebut menunjukkan bahwa
parameter-parameter pembumian dari hasil perancangan
tersebut sudah memenuhi aspek keamanan menurut IEEE
standar 80.
V. KESIMPULAN
Perancangan sistem pembumian dengan menggunakan
program MATLAB telah terbukti memenuhi kriteria
aspek keamanan menurut IEEE standar 80:
1. Tahanan pembumian sebesar 0,2163 ohm lebih
kecil dari 1 ohm
2. Tegangan langkah maksimum sebesar 547,48 Volt
jauh lebih kecil dari tegangan langkah yang
diijinkan, yaitu sebesar 1776, 48 volt.
3. Tegangan sentuh maksimum sebesar 511,34 volt
lebih kecil dari tegangan sentuh yang diijinkan,
yaitu sebesar 567,16 volt.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Umar, Baharuddin Rahiko, Evaluasi Sistem
Pembumian Gardu Induk 150 kV Suppa Ditinjau
dari Tegangan Sentuh dan Tegangan Langkah,
Jurusan Elektro Universitas Hasanuddin, Ujung
Pandang , 2000.
[2]. IEEE, Guide For Safety in AC Substation
Grounding, 1986
[3]. AS. Pabla, Sistem Distribusi Tenaga Listrik
[4]. TS. Hutauruk, Pembumian Netral dan Pembumian
Sistem Tenaga, Erlangga
[5]. British Standar Code, for Earthing